
Seiring dengan perkembangan zaman, ada kesan bahwa ‘angka’ kian mendominasi kehidupan umat manusia. Bagi sebagian orang ‘PIN” (Personal Identity Number) sudah merupakan kebutuhan mutlak untuk ATM, email, kunci gerbang, kunci koper dan sebagainya.
Di samping kebutuhan, kita juga menghadapi persoalan seputar angka, mulai dari manipulasi jumlah suara para calon legislatif hingga keyakinan ‘angka keramat’ dan ‘angka keberuntungan’. Banyak orang yang meyakini angka 13 sebagai angka sial. Itu sebabnya di beberapa bagunan bertingkat tidak digunakan angka 13 untuk lantai 13. Penggantinya dibuat angka 12b atau langsung angka 14. Demikian juga kamar hotel-hotel yang tidak membuat kamar 13. Orang-orang Kristen seharusnya melepaskan diri dari keyakinan-keyakinan demikian.
Yang menyesatkan dan paling menyedihkan berkaitan dengan 'angka' sedikitnya ada tiga.
Pertama, angka menggantikan nama manusia. Lihatlah penjara-penjara, kuli pelabuhan atau airport atau antrian. Mereka punya nama, tetapi mereka sering diperlakukan sebagai sekadar angka-angka.
Kedua, segala macam perjudian dengan taruhan. Ketika togel (toto gelap) masih merajalela di berbagai daerah di Indonesia, ‘mimpi’ menjadi sangat penting yang semuanya dianggap sebagai ‘kode alam’ atau petunjuk ke nomor tertentu. Yang mengherankan, ada pula orang yang beribadah di gereja justru pikirannya tertuju pada angka-angka. Melihat banyak 'angka 2' di dalam Tata Ibadah, seseorang menganggapnya sebagai ‘kode alam’ juga. Entah berkelakar atau tidak, pernah ada orang yang mengatakan bahwa dia mendoakan 'angka' tertentu kepada Tuhan agar kiranya Ia memberi kesempatan kepadanya menang undian, dan sebagian hasilnya akan diserahkan ke gereja. Untunglah dia tidak menang, kalau menang mungkin Ia berpikir bahwa Allah juga mengijinkan judi. (Di Singapur, toto atau undian ini legal. Diminati sangat banyak orang. Semoga orang-orang Kristen tidak menyalahgunakan ‘angka’ untuk hal-hal demikian.)
Ketiga, menyuburkan keinginan hingga mengalahkan kebutuhan. Kita bisa perhatikan bagaimana pusat-pusat perbelanjaan menarik perhatian para pembeli. Di Singapaura, misalnya, tidak asing bagi pemandangan kita promosi-promosi sebagai berikut:
- Up to 70% off (diskon hingga 70%). Angka ini membuat orang tergiur. Padahal, yang menentukan harga sebelum dan sesudah diskon adalah pemilik toko juga. Bisa saja mereka naikkan dulu 70% lalu mereka turunkan sendiri 70%.
- Last day offer: Only $49.99; UP $100 (Penjualan hari terakhir, hanya $49,00; Usual Price –harga biasanya-- $100. Orang yang tidak berpikir kritis, merasa bahwa itu sudah murah, padahal yang menentukan UP adalah si penjual juga. Angka-angka itu hanyalah untuk menarik perhatian.
- Buy 3 get 1 free (beli 3 dapat satu gratis). Angka-angka ini juga pasti sekadar mempermainkan pembeli. Harga 4 sudah dimasukkan ke dalam 3. Buy 3 get 1 free, hanya sekadar akal-akalan.
Justru karena banyaknya orang yang terkecoh dengan angka-angka inilah salah satu penyebab begitu banyak barang-barang yang ada beberapa di rumah yang tidak dibutuhkan. Padahal, gaya hidup konsumerisme seperti itu amat mahal konsekuensinya terutama terhadap kerusakan alam yang sudah sangat parah saat ini.
[1] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah