Saturday, November 7, 2009

MENGAPA SAYA HADIR DI DUNIA INI?

REFLEKSI SENIN KE-45
09 Nopember 2009

.
Berikut ini adalah salah satu “cerita bijak” Y. Sumantri dalam bukunya Angin Barat Angin Timur.
.
Dunia membutuhkan orang-orang:

yang tidak bisa dibeli
yang perkataan-perkataannya bisa diandalkan
yang lebih menghargai karakter daripada kekayaan
yang mempunyai pendapat sendiri dan berkemauan keras
yang lebih besar dari jabatannya
yang tidak gentar untuk mengambil risiko
yang tidak kehilangan individualtasnya dalam kumpulan massa
yang jujur terhadap soa-soal yang kecil maupun yang besar
yang tidak mengadakan kompromi dengan yang jahat
yangtidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri
yang tidak mengatakan bahwa mereka melakukan sesuatu karena “tiap orang melakukannya”
yang setia kepada kawan-kawannya dalam keadaan susah dan senang
yang tidak percaya bahwa kelicikan, keras kepala, dan tipu muslihat adalah cara-cara untuk mencapai sukses
yang tidak malu atau takut untuk berpegang pada kebenaran meskipun tidak populer
Dan yang dapat berkata “tidak” dengan tegas, meskipun seluruh dunia berkata “ya”.

Yang inti dari untaian kata-kata amat bermakna di atas adalah pentingnya menjadi diri sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Pribadi yang peka menangkap apa kehendak Tuhan dari hidup ini. Dalam hal ini dibutuhkan nurani yang terbuka mendengarkan sapaan Tuhan dan kehidupan yang bebas dari segala macam belenggu yang melumpuhkan kehidupan.

Gambaran tentang gajah yang dirantai mungkin sudah sering kita dengar. Karena begitu lama dirantai (dan ranatai itu tertanam dalam benak sang gajah), ketika rantai yang kokoh itu diganti dengan tali rafia, sikap gajah tetap sama seperti menghadapi rantai besi. Sebenarnya, ia bisa lepas dan bebas karena kekuatannya jauh melampaui kekuatan tali rafia. Masalahnya, tali pengikat berubah, tetapi pikiran gajah tidak berubah. Lepas dari belenggu rantai, masuk ke belenggu pikiran. Hasilnya sama: tidak menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Gambaran yang sama tidak asing dalam pengalaman kita keseharian, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam sebuah persekutuan atau bahkan dalam kehidupan berbangsa. Bayangkan seorang yang sudah menderita sakit puluhan tahun, yang sudah terbisa atau ‘menyesuaikan diri’ dengan penyakit itu sendiri. Pada saat kondisinya lebih baik atau mendekati sembuh, bisa saja ia tetap merasa sakit. Pembatasan-pembatasan fisik seperti makanan, pergerakan, bahan pemikiran, aktivitas masih tetap seperti ‘pola sakit’. ‘Merasa’ tidak mampu melakukan sesuatu. Padahal, yang masalah hanyalah ‘perasaan’ atau ‘isi pikiran’, bukan sebuah kenyataan.

Begitu juga dalam kehidupan bergereja yang mungkin sejak lama terus menerus dicemari perselisihan (Menyedihkan juga memang. Sebab, justru di gerejalah sebenarnya kita mendapat keteduhan dan sekaligus menjadi alat perdamaian. Sayang sekali, kedagingan, yang mewujud dalam arogansi, pementingan dan penonjolan diri, perasaan hebat, kerakusan akan kuasa dan harta telah menggerogoti tubuh gereja-gereja masakini). Pengalaman-pengalaman nyata sebelumnya, sadar atau tidak, sering mempengaruhi sikap kita terhadap gereja. Kita menjadi apatis dan sinis. “Ah, tidak rahasia lagi kok, memang gereja-gereja tak ada yang beres!” Demikian, misalnya, ungkapan kekecewaan berbaur rasa pesimisme yang mengemuka.

Sikap dan reaksi demikian tidak akan pernah membawa kita pada maksud dan tujuan kita diciptakan dan ditempatkan ke dunia ini. Sebab, keadaan demikian membuktikan bahwa kita terbelenggu atau lebih tepatnya membelenggu diri. Kita beranggapan (keliru) bahwa keadaan kita berubah jika keadaan sekitar berubah. Padahal, sebaliknyalah yang terjadi: keadaan sekitar akan berubah jika kita berubah. Berubah dalam artian kembali ke rencana awal kelahiran dan kehadiran kita di dunia ini.

Dalam hal ini, mari kita sungguh-sungguh berpaling pada hati nurani, hati nurani yang dimurnikan dan didiami oleh Roh Tuhan, di mana kita dapat dengan jernih melihat tujuan hidup kita. Dengan demikian, kita akan dapat menerima diri sendiri, bahagia dengan diri sendiri, dan mewujudkan tugas panggilan yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan sukacita. Pada waktu yanga sama, kita juga bahagia dengan karunia Tuhan yang dicurahkan kepada orang lain, tanpa berkeinginan ‘menjadi seperti orang lain’; terbeban dengan kekurangan diri sendiri dan orang lain tanpa menghukum diri dan menghakimi orang lain.

Jika kita iklas memulainya pagi ini, kita akan melihat buahnya mulai nanti sore.

KETERATURAN SINGAPURA

Salah satu yang sangat mengesankan dari kehidupan di Singapaura adalah penataan setiap sudut pulau kecil ini yang begitu baik dan rapi.

Saturday, October 31, 2009

EMPAT PINTU SEBELUM MULUT

REFLEKSI SENIN KE-44
02 NOPEMBER 2009

Banyak persoalan di dunia ini yang disebabkan oleh perpaduan antara
“pikiran sempit” dan “mulut lebar.”

(Anonim)


Dari pengalaman kita belajar bahwa kata-kata dan cara bertutur kita yang buruk sering berujung pada perselisihan bahkan pertengkaran, baik dalam lingkup kecil maupun dalam skala yang lebih luas seperti pertengkaran suami-istri atau perpecahan dalam jemaat. Hubungan baik kita di tengah keluarga dan jemaat biasanya rentan percekcokan jika ada orang yang memiliki hobbi atau kebiasaan membicarakan kekurangan orang lain (baik yang mengandung kebenaran, apalagi banyak pula yang hanya sebagai prasangka dan –lebih buruk lagi-- buatan sendiri secara sengaja). Mungkin ada semacam kelegaan tersendiri dari kebiasaan ini.

Jika kita runut ke akarnya, hal yang paling menentukan kata dan cara bertutur kita adalah ‘suasana hati kita’. Ada kalanya keburukan yang kita lihat pada orang lain sebenarnya mencerminkan keberadaan diri kita. Misalnya, jika seseorang mengatakan si anu itu sombong, kikir, bisa saja karena ia dihinggapi perasaan rendah diri atau tidak ada orang yang memujinya. Dapat dicatat bahwa membicarakan kebobrokan orang lain merupakan cara yang tidak jujur untuk memuji diri kita sendiri.

Berikut ini ada empat pintu yang harus kita lalui sebelum membicarakan kekurangan atau dosa orang lain kepada yang bersangkutan:

Pintu 1: Motivasi jernih

Untuk merefleksikan apa yang ada di luar kita, seperti kekurangan atau keburukan orang lain, kita perlu menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri kita saat itu. Ada kalanya (tidak selamanya): keburukan yang kita lihat dalam diri orang lain, mencerminkan keadaan kita saat itu. Jadi, kalau kita melihat langit mendung, kita harus memastikan bahwa kita tidak sedang mengenakan sunglasses. Kita perlu memeriksa suasana hati kita. Ketika kita sedang gundah, marah, memendam rasa benci, kecewa, biasanya raut wajah, kata-kata dan penampilan kita juga akan tercemar. Penilaian kita juga biasanya tidak objektif. Jadi, kita perlu melakukan “emosional check-up”: memeriksa kesehatan emosi kita. Janganlah kita buru-buru melakukan penilaian atau mengambil sebuah keputusan ketika kita dalam keadaan emosi tercemar.

Jika kita benar-benar menemukan kekurangan orang lain, maka untuk memberitahukannya mestilah mengalir dari niat hati yang benar-benar murni dan dengan semangat persaudaraan, bukan hanya dengan modal ‘keberanian’. Jika seseorang mengetahui dan merasakan bahwa kita mengasihi seseorang itu, biasanya ia akan menerima apa yang kita sampaikan. Meskipun rasanya pahit, ia akan menelannya sebagai obat penyembuh dirinya sendiri dan pemulih hubungannya dengan orang lain.

Kata-kata kita dapat meneguhkan dan menghancurkan, tergantung pada ‘mesin penggeraknya’ dari dalam diri kita. Sapi meminum air dan ia mengeluarkan susu, ular meminum air dan mengeluarkan bisa berbahaya.

Pintu 2: Tujuan yang jelas

Tujuan utama adalah untuk terjadinya perubahan diri yang bersangkutan dan mencegah agar dosa tidak berkembang. Tidak mencelakakan yang bersangkutan dan tidak menular kepada yang lain. Jadi, tidak ada unsur mempermalukan orang lain atau merendahkannya di hadapan orang lain.

Lagi pula, jika kita benar-benar melihat kekurangan orang lain, kita seharusnya pertama-tama ‘kembali’ ke diri kita sendiri. Seperti pesan sebuah kata bijak, “Melihat kekurangan orang lain, orang berhikmat memperbaiki dirinya sendiri.” Orang yang tergolong ‘sempurna’ pun, membeli pensil yang disertai penghapus juga. Artinya, semua manusia memiliki kelemahan dan selau membutuhkan rahmat pengampunan dan pembaharuan diri.

Dalam hal ini, jika ada seseorang yang memiliki kebiasaan membicarakan kekurangan-kekurangan orang lain kepada kita, kita hendaknya tidak menikmatinya. Bukan saja karena akan ada saatnya kekurangan kita sendiri menjadi pokok percakapannya kepada orang lain, tetapi juga karena secara tidak langsung kita melanggengkan kebiasaannya. Yang lebih celaka, kalau pengungkapan kekurangan orang lain justru menggiring pada perilaku yang lebih berbahaya. Seorang istri, misalnya, mesti waspada ketika seorang laki-laki lain membicarakan kekurangan istrinya sendiri. “Aduh, istri saya itu luar biasa cerewet, tidak bisa mengurus diri, tidak romantis; beda dengan Anda yang lembut, keibuan dan romantis!” Kalimat ini adalah tanda-tanda bahaya!

Pintu 3: Doa

Kita percaya bahwa urusan Tuhan belum selesai kepada setiap orang. Proses pembentukan-Nya masih tetap berlangsung. Dalam hal ini kita hendaknya berserah diri pada Tuhan dan memohon hikmat dan pimpinanNya. Hikmat selalu berisikan semangat penyelesaian masalah tanpa menambah atau memperparah masalah. Kita menyerahkan yang bersangkutan dan menyerahkan masalah yang ada pada Tuhan.

Kehidupan doa dalam hal ini menyadarkan kita bahwa yang mengubah bukan kita, melaiankan kuasa Tuhan sendiri. Di samping itu, sesungguhnya doa juga berperan untuk ‘mengubah diri kita sendiri’.

Pintu 4: Cara dan waktu yang baik

Kita perlu mencari waktu dan situasi yang lebih tepat, seperti saat-saat mood seseorang itu dalam kondisi baik. Orang cenderung menolak kebenaran jika ia sedang menghadapi situasi, kondisi dan cara yang tidak tepat.

Jika kita dapat menemukan cara dan waktu yang tepat, maka untuk menegur suami, misalnya, seorang istri tidak perlu menggunakan jasa ibu mertua. Sebaliknya, untuk mengingatkan istri, seorang suami tidak perlu memakai jasa ibu mertua atau kakak ipar.

Di sini kita dapat merenungkan dan menghidupi firman Tuhan berikut ini:
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah
seperti buah apel emas di pinggan perak.
Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar

( Amsal 25:11-12).

Dari firman Tuhan ini kita bisa belajar akan pentingnya perpaduan ‘isi’ dan ‘cara:’ (1) Kita bertanggungjawab mengingatkan sesama akan kekurangan dan dosa-dosanya. (2) Dalam penyampaiannya, kita mesti mempertimbangkan berbagai hal. Salah satu di antaranya adalah “menyampaikan tepat pada waktunya”. Itu yang digambarkan sebagai buah apel emas di pinggan perak, yang artinya berharga, bermanfaat dan memungkinkan sebuah perubahan ke keadaan yang lebih baik.

BEASISWA T.A. 2009-2010

Terima kasih banyak kepada para donatur yang sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan menolong siswa-siswa SMP di Parlilitan pada tahun ajaran 2008/2009. Untuk tahun ajaran 2009/2010 ada banyak siswa yang tetap membutuhkan bantuan agar mereka dapat menjalani studinya dengan baik. Yang tergerak oleh Roh untuk membantu, mohon menghubungi kami di victor.tinambunan@gmail.com

Yang sudah menyatakan komitmen membantu adalah:

Anthon Simangunsong (Singapura) S$1200/ tahun untuk 10 orang
JM (Solo)……………………… Rp. 100.000/ bulan untuk dua orang
NS (Singapore)…………….. Rp. 250.000/ bulan untuk 5 orang

PENERIMAAN

NS (Singapore) Oktober 09 ....... Rp. 1.670.000 (S$250xRp. 6700)


****************************************************
Yang sudah membantu dan sudah disalurkan kepada para siswa selama tahun ajaran 2008/2009 adalah

1. Anthon Simangunsong (Singapore) - Ags 08-Juli 09 :Rp.7.680.000
2. JM (Solo-Jawa Tengah)- Ags 08-Juli 09 …………… :Rp. 1.500.000
3. John Sihotang (New York) – Ags 08 – Juli 09…….. : Rp. 750.000
4. Johnny Tobing (Singapore)………………………………. : Rp.1.626.000
5. NN (Singapore) – Ags 08-Juli 09 .......................... : Rp. 600.000
6. NS (Singapore – Ags 08 – Juni 09……………………. : Rp. 2.725.000
7. Ramses Butarbutar (Spore) – Okt 08-Ags 09……… : Rp. 3.085.000

TOTAL.......................................... Rp. 17.966.000

Friday, October 30, 2009

LAPORAN AKHIR TA 2008-2009

LAPORAN AKHIR PENYALURAN DANA BEASISWA
KEPADA 27 SISWA SMP NEGERI PARLILITAN
T.A. 2008/2009

I. UNTUK SMPN 2 PARLILITAN
.
PENERIMAAN:

1. Anthon Simangunsong (Singapore) - Ags 08-Juli 09 :Rp.7.680.000
2. JM (Solo-Jawa Tengah)- Ags 08-Juli 09 …………….... :Rp. 1.500.000
3. John Sihotang (New York) – Ags 08 – Juli 09…….... : Rp. 750.000
4. NN (Singapore) – Ags 08-Juli 09 ............................ : Rp. 600.000
5. NS (Singapore – Ags 08 – Juni 09……………………..... : Rp. 2.725.000
6. Ramses Butarbutar (Spore) – Okt 08-Ags 09……….. : Rp. 3.085.000
7. Johnny Tobing (untuk SMPN 3, lihat di bawah)

Total Penerimaan………………………………………… : Rp. 16.340.000

PENGIRIMAN/ PEMBAYARAN

1. 12 bulan x Rp. 1.350.000 …………............................ = Rp. 16.200.000
(27 siswa x Rp. 50.000/ bulan = Rp. 1.350.000)
2. Biaya transfer 12 x Rp. 5000………………………………… = Rp. 60.000

Total pengeluaran………………………………………. = Rp. 16.260.000

Untuk informasi penyaluran beasiswa dapat menghubungi kepala SMPN Parlilitan, Bapak Drs Mangansam Sagala, HP +6281376844860
.
.
II. SMPN 3 PARLILITAN dan SDN Siringoringo
.
Penerimaan dari:
1. Bpk Johnny Tobing....................... Rp. 1.626.000
2. Christi dan William....................... Rp. 337.500
.
Jumlah Penerimaan ........................ Rp. 1.963.500
Pengiriman:...................................... Rp. 1.525.000

Sunday, October 25, 2009

H O R M A T

REFLEKSI SENIN KE-43
26 OKTOBER 2009

Untaian kata-kata bijak Mark Twain berikut amat mencerahkan nurani: “Lebih baik berhak mendapat kehormatan dan tidak memilikinya, ketimbang memiliki kehormatan tetapi tidak layak memilikinya”.

Dengan rasa malu tanpa malu-malu saya ingin mengungkapkan disini beberapa ‘penilaian’ yang disertai dengan kerinduan yang saya dengar baru-baru ini dalam perjalanan ke Sumatra. Intinya adalah krisis karakter para pemimpin dan pelayan masyarakat dan gereja. Terlepas dari objektif tidaknya penilaian mereka, yang jelas kesan dan harapan mereka perlu direnungkan dengan sungguh-sungguh demi sebuah perubahan menuju kebaikan.

Di antara ungkapan hati yang terdengar adalah menyangkut tata krama, estetika, kepantasan berpakaian dan kemampuan memimpin para pendeta muda. Seorang pentua misalnya, mengisahkan seorang pendeta yang ‘brewokan’ mengenakan singlet dan celana pendek sambil menyuapi anaknya di depan gereja ketika sebuah acara berlangsung di gereja dan banyak orang yang meyaksikannya. Setahu saya memang tidak ada peraturan tertulis yang mengatur jenggot dan pakaian pendeta dan argumentasi bisa saja tak kunjung usai soal boleh tidaknya seorang pendeta mengenakan celana pendek atau buka baju di depan umum. Tetapi masalahnya bukan hanya soal ‘boleh’ dan ‘tidak boleh’. Kita juga perlu mempertimbangakan soal ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’. Keteladanan pelayan gereja akan memperkuat ajakan kepada warga jemaat yang akhir-akhir ini ada kecenderungan sulit membedakan orang mau ke gereja atau mau tidur atau bahkan ke kolam renang.

Masyarakat juga mempercakapkan kenyataan begitu banyaknya para pejabat pemerintahan di Indonesia yang saat ini meringkuk di penjara yang umumnya karena korupsi. Umumnya yang menjadi sorotan adalah perilaku para koruptor. Jarang sekali terdengar sorotan kepada masyarakat sendiri yang dalam artian tertentu juga berperan menyuburkannya: (1) Menginginkan anak-anaknya menjadi pejabat, tidak peduli apakah mereka jujur atau tidak. (2) Memberi suap untuk urusan tertentu; (3) Meminta bantuan dana untuk pembangunan sarana ibadah agama tertentu; (4) Mengelu-elukan dan memuja-muji ketika menyambut mereka; (5) Merasa bangga kalau punya kesempatan berfoto dengan mereka, dan sebagainya. Mohon tidak disalahmengerti seolah menyambut pejabat dan berfoto bersama mereka sesuatu yang salah. Yang salah adalah menganggap lumrah bahkan setuju terhadap tindak korupsi ketika dekat dengan mereka.

Sejatinya, orang terhormat adalah orang-orang yang benar-benar melakukan hal-hal yang terhormat. Sayangnya, pengalaman kita menunjukkan begitu banyak orang yang dihormati hanya karena jabatan atau posisinya, bukan karena karakter pribadinya.

Jika demikian, apakah kita tidak perlu menghormati pejabat pemerintahan, pelayan gereja yang tidak menunjukkan perilaku terhormat? Begini saja. Semua dan setiap orang harus kita hormati sebagai manusia yang berharkat. Hormati dan kasihi orangnya, tolak perilaku buruknya. Kunjungan Yesus kepada Zakheus menunjukkan hal ini. Yesus membenci dosa tapi mengasihi Zakaheus yang adalah orang berdosa. Berbeda dengan sikap orang banyak yang membenci Zakheus. Dan, justru pendekatan Yesus yang seperti itulah yang mengubah Zakheus.

Jangan kita minta orang lain menghormati kita. Tugas kita adalah menghormati dan menghargai sesama serta menunjukkan perilaku terhormat.

Saturday, October 24, 2009

TERIMA KASIH

Dari ketulusan hati, kami mengucapkan terima kasih banyak atas doa dan kata penghiburan (melaui kunjungan, email, FB, SMS, telepon, bunga), serta bantuan dana yang kami terima pada saat bapak mertua saya, Kapt (Purn) Pondang Pangaribuan meninggalkan kami pada tanggal 15 Oktober lalu. Kebaikan hati bapak dan ibu sungguh-sungguh meneguhkan hati kami.

Nama-nama yang kami sebutkan dibawah ini adalah mewakili semua yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan menyapa dan menolong kami dalam berbagai cara:

Gereja Presbyterian Orchard-Singapura
Gereja Presbyterian Bukit Batok-Singapura
HKBP Sidorejo-Medan
HKBP Singapura
Ikatan Alumni Haggai Institute Indonesia di Singapore (IAHII-Singapaura)
Komunitas Indonesia di Trinity Theological College - Singapore
Komisi Wanita GPO - Singapore

Pdt. A. A. Zaitun Sihite - Pekanbaru
Pdt Adolv Bastian Marpaung - Pematangsiantar
Allen Bintang/ Mama Pasha - Singapore
Anthon Simangunsong/ Veronika manurung - Singapore
Pdt Ayub Yahya - Singapore
Pdt Basa Hutabarat - Singapore
Benhard Ambarita/ br Pangaribuan - Singapore
Bontor Panjaitan/ br Simbolon - Singapore
Christovita Wiloto/ Novita Saragih - Singapore
Dr. Darwin Tobing - Pematangsiantar
Dolf/ Debora Situmeang - Singapore
Edwin saragih - Medan
Eliakim Sitorus - Medan
Dr. Ferdinand Nainggolan - Singapore
Hamonangan Sitorus/ Lasma Saragih - Singapore
St Harry P. Sianturi/ br Lubis - Singapore
Helena Simatupang - Singapore
Pdt. Johny Hermawan - Singapore
St. J. Sibuea/ br Simanjuntak - Singapore
Pdt Jones Nainggolan/ br Pangaribuan - Medan
Johny L. Tobing /Christianti Hutagalung – Singapore
Jonny Simanjuntak/ br Silitonga - Singapore
Maria Lumbantobing (Mama Daniel) - Singapore
Mama Ramoti - Singapore
AKBP Drs M.P. Nainggolan - Medan
Praeses MTH Tampubolon - Batam
Kel. Op. Mikhael Manik br Gultom - Singapore
Pdt Paul Munthe/ br Purba - Singapore
Ramses Butarbutar/ br Hutabarat - Singapore
Dr. Renhard Silalahi/ br Sihombing - Singapore
Roma Lumbantobing - Medan
Ronald Hutagalung - Medan
St Sabar Halomoan Butarbutar - Singapore
Sahala Sianipar/ Natasha Napitupulu - Singapore
Sahat Lubis/ br Hutabarat - Singapore
Sahat P. Gultom/ Gloria Sinaga - Singapore
Pdt Sanggam Siahaan - Batam
Suwardi Nahampun - Surabaya
U.P. Sihaloho/ br Saragi – Batam
Kel. Tambunan/ br Simatupang (Mama Matayas) - Singapore
Toga Sihombing/ br Simanjuntak - Singapore
Ibu Zega-br Aritonang - Batam

Doa dan harapan kami, kiranya Tuhan sumber segala kebaikan dan berkat, senantiasa menyertai dan memberkati bapak dan ibu hari demi hari.

Riwayat Singkat Bapak Kapt (Purn) Pondang Pangaribuan.
Lahir 23 Maret 1929 di Laguboti
Masuk sekolah Polisi tahun 1953 dan tugas pertama di Aceh
Menikah dengan Moinar Matondang; dikaruniai Tuhan 8 anak (4 laki-laki dan 4 perempuan)
Pensiun dari tugas Polisi di Polda Sumatra Utara-Medan tahun 1989

ShoutMix chat widget