Monday, January 26, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU V 2009: 26/1

MELEPAS KELEKATAN
.
Anthoni de Mello mengartikan ‘kelekatan’ sebagai ketergantungan emosional yang disebabkan oleh keyakinan bahwa tanpa sesuatu atau pribadi tertentu seseorang tidak dapat bahagia. Pada kesempatan lain ia mencontohkan sisi gelap kelekatan sebagai berikut:

Diamlah sejenak untuk melihat bagaimana kelekatan membuat kering simfoni kehidupan anda. Itu pula yang terjadi pada para politisi karena kelekatannya pada kekuasaan, demikian juga pada para pengusaha karena kelekatannya pada uang. Kelekatan telah membuat mereka tidak peka terhadap melodi kehidupan.

Di antara sekian objek kelekatan manusia, di sini dapat disebutkan empat di antaranya.

Pertama, kelekatan kepada manusia. Ingatlah orang-orang yang kepadanya kita sangat tergantung. Kita begitu peduli kepada mereka sebab mereka menyenangkan hati kita, mereka memberi hadiah kepada kita, memuji kita, menolong dan menyemangati kita dan sebagainya. Apa yang biasanya kita sebut ‘kasih’ hanyalah merupakan ‘kelekatan’. Dengan ‘kelekatan’ kita tidak melihat dan memperlakukan orang sebagaimana adanya dan dengan demikian kita menciptakan berbagai harapan untuk mereka penuhi: mereka harus seperti ini, mereka harus melakukan itu dan sebagainya. Lalu ketika mereka tidak hidup sesuai dengan pikiran kita atau yang seharusnya mereka lakukan kita menyakiti, mengecewakan dan mempersalahkan mereka. .
Dengan kasih yang murni, kita peduli dan menolong orang lain dan menghendaki mereka berbahagia bukan karena mereka menyenangkan dengan memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi karena mereka ada sebagaimana mereka ada. Kita menerima orang lain sebagaimana adanya dan terus menolong mereka, tidak dengan mengharapkan apa yang menguntungkan kita dari hubungan itu bahkan yang paling halus sekali pun seperti ‘ucapan terima kasih’. Kasih yang murni tidak mengandung kecemburuan dan perasaan ingin memiliki apalagi menguasai orang lain.

Kedua, kelekatan pada prinsip baku dan kaku. Ada orang yang begitu melekat pada suatu prinsip hidup hingga membuatnya menjadi tertutup pada kebenaran. Keadaan demikian membuatnya semakin mengeraskan hati. Ini bisa terjadi atas dasar keyakinan yang keliru pada ajaran agama, ideologi suatu bangsa, kebudayaan, warisan keluarga dan lain sebagainya. Kelekatan-kelekatan seperti tidak jarang berujung pada perselisihan di tengah keluarga, masyarakat, bahkan dalam lingkungan agama. Dan yang paling menyedihkan kelekatan-kelekatan seperti itu justru melahirkan aneka bentuk peperangan, mulai dari perang urat saraf hingga perang dengan menggunakan pedang dan senapan.

Ketiga, kelekatan pada jabatan atau tempat. Hal ini tidak asing bagi kita. Perhatikanlah sekitar kita, ada begitu banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk tetap bertahan pada jabatan tertentu atau tempat tugas tertentu. Kelekatan seperti ini tidak selalu karena faktor ‘materi’ tetapi bisa juga karena faktor ‘gengsi’. Padahal, semangat menggenggam jabatan atau tempat tugas tertentu tidak pernah memberi kedamaian batin. Kecurigaan kepada orang lain yang dianggap mengambil jabatan tersebut biasanya tumbuh lebih subur. Hubungan dengan orang lain pun jadinya tidak akan sehat. Akhirnya, masa pensiun yang seharusnya suatu perayaan sukacita bisa berubah menjadi saat menegangkan yang mengakibatkan penderitaan batin dan fisik.
.
Keempat, kelekatan pada milik atau materi. Dalam pandangan umum, resep untuk kemajuan amat sederhana: semakin banyak mengkonsumsi, semakin bahagia. Kenyataannya, banyak orang yang semakin mudah mendapat barang-barang, tetapi semakin sulit mendapat kebahagiaan.

Psikolog Tim Kasser dan kawan-kawan telah menunjukkan bagaimana sikap orang yang lebih materialistik: orang yang mengartikan dan mengukur harga diri dengan uang dan harta yang dimiliki memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah. Ada korelasi antara peningkatan konsumsi dan berkurangnya kebahagiaan manusia, khususnya dalam hubungan-hubungan sosial. Hubungan mulai hilang ketika penghasilan bertambah. Sebaliknya, ada kecenderungan suatu peningkatan kepuasan hidup dengan income yang lebih rendah.

Kita menemukan di dalam Alkitab beberapa peringatan buruknya kekayaan. Dalam Amsal 23: 4 dikatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”. Kita juga mendapat peringatan di dalam 1 Tim 6:9 yang mengatakan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Apakah menjadi kaya secara material sebagai sesuatu yang buruk atau dosa? Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat disederhanakan cukup dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’. Sebab, menjadi kaya tidak salah pada dirinya sendiri. Sedikitnya ada tiga pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab dalam hal ini. Pertama, apakah kekayaan itu diperoleh seturut dengan kehendak Tuhan (bukan dicuri atau dikorupsi, bukan dengan jalan mengorbankan bawahan atau karyawan, bukan dengan merusak alam ciptaan Tuhan dan sebagainya). Kedua, apakah kekayaan itu digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain? Ketiga, apakah hati kita melekat pada Tuhan, bukan melekat atau mengandalkan apa yang kita miliki? Jika kita dapat memberi jawaban ‘ya’ pada pertanyaan-pertanyaan ini, 'selamat menjalani hidup kaya!'

.Ketika seseorang melepaskan kelekatan, ia sekaligus melepaskan semua kekuatiran. Seruan ‘jangan takut’ atau ‘jangan kuatir’ memenuhi halaman-halaman kitab suci dan tulisan papra mistikus. Sebab kecemasan atau kekuatiran adalah bentuk halus dari kelekatan.

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai komentar Anda yang membangun.


ShoutMix chat widget