Friday, January 2, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU II 2009: 05/01

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN
Sebuah Renungan Menjalani 2009

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur
(Kolose 2:7)

PENGANTAR

Setiap hadirnya tahun yang baru, biasanya orang-orang mengajukan aneka pertanyaan dan pernyataan seputar apa yang bakal terjadi sepanjang tahun yang baru. Keragaman pendapat yang mengemuka seturut dengan keragaman latar belakang kehidupan, profesi dan keyakinan anggota masyarakat. Para futurolog hingga para peramal juga angkat bicara. Simbol-simbol tradisi tertentu juga meramaikan suasana, seperti mereka yang menetapkan tahun tertentu sebagai tahun anjing, tahun kambing dan lain-lain yang disertai dengan tafsiran-tafsirannya.

Bagi orang Kristen setiap dan semua tahun adalah ciptaan dan milik Tuhan. Artinya, tiada tahun tanpa Tuhan. Karenanya semua tahun adalah tahun rahmat yang mestinya disambut dengan ucapan syukur. Meski demikian, tidak semuanya akan secara otomatis berjalan baik. Keadaan yang akan terjadi juga sangat tergantung pada tanggapan manusia terhadap rencana Allah.

DUA MUSUH UTAMA

Hingga tahun yang lalu kita masih mengalami dan menghadapi aneka persoalan kehidupan. Di sini dapat disebut dua di antara sekian banyak permasalahan kehidupan yang sedang mengitari kita, yakni masalah ‘kekerasan’ dan masalah ‘hilangnya makna hidup’ bagi banyak orang, yang kiranya dapat dituntaskan atau paling tidak diminimalkan pada tahun 2009 ini.

1. Kekerasan dan Kejahatan

Kita masih berada dalam masa gerakan sedunia yang disebut dengan Decade to Overcome Violence –DOV (dekade mengatasi kekerasan, 2000-2010). Kita sepatutnya amat prihatin karena di tengah perjuangan dunia dan gereja-gereja mengatasi kekerasan, tetapi kekerasan masih tetap merajalela di mana-mana mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, negara, bahkan dalam lingkungan agama juga.

Sudah sejak lama kita diliputi rasa takut karena kebiadaban para teroris yang mengagungkan kematian. Banyak orang yang merasa tidak aman bepergian dan di berbagai tempat banyak yang merasa tidak aman beribadah di gereja dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas kita tidak hanya mengecam tindak teror yang mengancam hidup kita, tetapi benar-benar menyatakan keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Salah satu makna keberadaan kita sebagai garam adalah menciptakan suasana yang enak dan bersahabat dengan semua orang. Janganlah kiranya lagu-lagu kita menggelegar ke sekeliling gereja tetapi kita tidak peduli kepada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.

Di samping prihatin terhadap masalah kekerasan yang mengitari kita, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu, terutama memulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga sendiri. Seorang psikiater pernah mengatakan kepada saya bahwa 75% pembunuh yang meringkuk di penjara-penjara Barat adalah mereka yang mendapat perlakuan tindak kekerasan di dalam lingkungan keluarga sejak masa kecil. Itu berarti bahwa pengalaman anak di tengah keluarga sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya di kemudian hari.

Karena itu, sudah semestinya menjadi tugas mendesak kita (terutama tahun ini) memberi perhatian khusus dan serius untuk mengasihi anak-anak, mendidik mereka dalam ajaran dan kehendak Tuhan, serta meciptakan suasana agar mereka bertumbuh ke arah kedewasaan dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan interaksi dan kecerdasan moral.

Dalam hal ini, para orangtua harus sungguh-sungguh mengoreksi ulang metode pendidikan terhadap anak-anaknya di tengah keluarga, tidak mengikuti begitu saja apa yang dialaminya dari orangtuanya pada masa kecil. Misalnya, kalau anak-anak secara tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah, orangtua langsung berang, menarik pipinya ke atas seperti mau robek atau malah memukul kepala si anak dengan kayu sampai hampir pecah. Padahal harga gelas hanya Rp. 2000, pipi dan kepala anak-anak (manusia) tidak ada dijual. Yang lebih bijaksana, orangtua mestinya dengan kasih berkata, “Wah gelas kita pecah ya ‘nak, lain kali hati-hati ya sayang? Susah cari uang sekarang”. Kalau dia dipukul, dia akan semakin gugup dan makin banyak gelas yang pecah. Tetapi, jika diberi pengertian, ia merasa dirinya berharga dan ia akan lebih hati-hati.Sebuah pepatah Jerman (yang sudah disebut di atas) berbunyi, ‘jika semua orang menyapu halaman rumahnya, maka seluruh kota akan bersih’. Artinya, keadaan masyarakat sangat ditentukan oleh keadaan keluarga-keluarga yang ada di dalamnya. Kekerasan di masyarakat dapat kita atasi mulai dari keluarga-keluarga yang bebas kekerasan.

Di samping itu, lingkungan sekolah dan gereja juga ikut bertanggungjawab. Sebab, tidak sedikit anak yang mengalami kekerasan di rumah, juga mengalami tindak kekerasan dari gurunya di sekolah, bahkan –amat ironis—guru-guru sekolah Minggu juga ada yang menggunakan tongkat pemukul untuk ‘menenteramkan’ anak-anak. Dalam hal ini para guru di sekolah dan di Sekolah Minggu perlu dengan bijaksana mengasihi, mendidik dan mendampingi anak agar mereka bertumbuh dengan baik.

2. Stres dan Hilangnya Makna Hidup

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang stres dan depresi. Pengalaman empiris membuktikan bahwa peningkatan pendapatan ekonomi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh era globalisasi ini tidak menjamin kebahagiaan manusia. Kita dapat mengambil contoh negara Jepang, Amerika Serikat dan Singapura yang secara ekonomi termasuk dalam negara-negara termakmur. Akan tetapi justru di ketiga negara inilah tingkat bunuh diri yang tergolong tertinggi di dunia. Mengapa? Banyak manusia yang kehilangan makna diri.

Sebaliknya, kesulitan ekonomi pun dapat juga memicu dan memacu tingginya angka bunuh diri. Kecenderungan semakin banyaknya bunuh diri juga kita alami di Indonesia. Di kota Jakarta, misalnya, tiap tahun jumlah orang yang bunuh diri juga bertambah, yang di antaranya karena kesulitan hidup. Belum lama ini sebuah surat kabar memberitakan bahwa seorang remaja bunuh diri karena malu tidak memiliki handphone dan diejek temannya dengan menggunakan bahasa sebuah iklan TV: “Hari gini, ‘gak punya handphone!”. Ironis memang! Banyak orang-orang Indonesia ‘demam’ handphone, bukan terutama karena kebutuhan tetapi karena gengsi. Jelas, bahwa gengsi biasanya menghancurkan kehidupan.

Berkaitan dengan hilangnya makna diri, tidak sedikit orang sekarang ini yang amat pesimis terhadap masa depan. Mengambil sebuah contoh, saya sering menyaksikan anak-anak remaja siswa SLTP atau SMU yang berkeliaran pada jam sekolah. Ada yang ‘nongkrong’ di internet (khususnya di kota-kota), ada pula yang main judi. Banyak di antara mereka yang merokok, bahkan rokoknya lebih besar dari jari tangannya (padahal merokok adalah tindakan ‘bunuh diri kredit’ alias mengangsur kematian!). Saya pernah memberanikan diri menegor seorang di antara mereka (walaupun saya tahu bahwa sekarang ini agak sulit menegor seseorang atas kekurangannya, karena bisa dengan gampang orang mengatakan ‘apa urusanmu?’). Saya sangat kaget mendengar ketika dia mengatakan, ‘Pak, apa gunanya sekolah. Di Indonesia hanya satu presiden dan tidak mungkin saya untuk itu. Di kota ini pun hanya satu orang walikota, itu juga tidak mungkin untuk saya. Sekarang ini, untuk masuk sekolah polisi saja harus ada uang sogok Rp. 60 juta, untuk menjadi pegawai negeri juga harus ada uang minimal Rp. 50 juta baru bisa masuk’.

Yang saya tangkap dari respon seorang siswa tersebut sedikitnya ada dua hal pokok. Pertama, pesimisme berlebihan dan orientasi yang salah arah. Sebenarnya, ‘makna hidup’ tidak diukur kalau seseorang menjadi presiden, walikota atau memangku jabatan penting lainnya. Makna hidup yang kristiani adalah kalau seseorang menjadi dirinya sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki. Kedua, keprihatinan terhadap situasi riil masyarakat kita terutama masalah sulitnya mencari pekerjaan dan masalah korupsi. (Penting dicatat, bahwa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat atau juara VI sedunia di bidang korupsi). Akan tetapi, sebagai seorang beriman, keprihatinan terhadap situasi masyarakat mestinya tidak direspon dengan sikap pesimis; tidak pasrah dan menyerah pada situasi. Justru dalam kenyataan seperti itulah setiap orang perlu lebih bersungguh-sungguh belajar, berjuang dan berbuat baik untuk memperbaiki situasi bukan malah mengeruhkannya dengan menjadikan diri sebagai bagian dari masalah dan bukan solusi.

Kata-kata Calvin Coolidge pantas direnungkan, “Di dunia ini tidak ada yang dapat menggantikan ketekunan. Tidak juga talenta; tidak ada yang lebih lazim daripada orang yang memiliki talenta tetapi tidak sukses. Tidak juga seorang jenius; kecerdasan yang tidak pernah dihargai hanya merupakan pepatah….Ketekunan dan kemantapan hati itu sendiri bersifat mahakuasa”.[2] Untuk menguatkan pandangan ini Bloch mencatat Thomas Edison membuat lebih dari 2.000 kali percobaan sebelum dia menemukan bola lampu.[3]Kehidupan yang dijalani dengan ketekunan tidak akan pernah mengenal keadaan frustrasi meskipun terkadang mengalami kegagalan. Sebab, sama seperti yang dikatakan oleh Gede Prama bahwa “tidak jarang terjadi, kegagalan membawa dua hadiah terbaik adalah hidup: kearifan dan kesabaran.”[4]

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN

Apa yang akan terjadi sepanjang tahun 2009 ini, memang tidak seorang pun yang tahu pasti. Tetapi, ada satu hal yang pasti yakni: Tuhan memegang kendali masa depan. Tahun lalu, perekonomian dunia mengalami krisis yang lumayan parah. Sejalan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok pun menjadi naik yang secara merta telah membuat banyak orang menjadi panik. BBM sempat naik, ongkos naik, kebutuhan sehari-hari naik –celakanya ‘darah tinggi’ juga terkadang menjadi naik. Tidak sedikit orang menjadi amat gampang tersinggung dan marah. Ini adalah produk atau bentuk lain dari ketidakbahagiaan. Konsekuensinya, semakin banyak orang menjadi pemarah akan semakin banyak pula perselisihan atau permusuhan.

Kesadaran dan iman kita bahwa Tuhan memegang kendali masa depan akan serta merta menolong kita untuk tetap tenang secara aktif, hati damai dan penuh kelembutan terhadap sesama manusia.Apa yang membuat kita tidak bahagia? Sirgy dengan tepat mengatakan bahwa “Ketika kita memikirkan tentang hidup kita, kita terlalu sering berpikir tentang apa yang belum kita punya dan apa yang belum kita dapat. Tetapi hal-hal seperti itu membuat kita tidak bahagia”.[5]

Kalau kita jujur, sebenarnya kita telah menerima berkat yang berkelimpahan dari Tuhan, baik berkat rohani maupun jasmani. Kita menerima berkat rohani, karena kita diterima sebagai warga kerajaan Allah oleh penyelamatan Yesus Kristus. Kita adalah anak-anakNya, bukan karena kita layak, melainkan karena dilayakkan oleh Tuhan.Secara jasmani kita juga terberkati. Hidup kita hari ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan yang sedang berlangsung. Sebagai tambahan, mari kita lihat contoh ini. Dulu, para orangtua biasanya membeli pakaian yang jauh melampaui ukuran tubuh anaknya. Misalnya, seorang anak kelas VI SD dibelikan baju ukuran Kelas III SMP, dengan maksud agar pakaian itu bisa dipakai lebih lama. Sepatu juga demikian. Untuk anak kecil, dibeli sepatu agak panjang dan kemudian diisi dengan kain yang tidak terpakai di dalamnya supaya sepatunya tidak jatuh ketika dipakai. Tujuannya sama: supaya sepatu itu dapat dipakai sampai kelas III SMP. Mengapa? Mereka hidup dalam situasi perekonomian yang sangat memprihatinkan.

Masalahnya adalah, sekarang ini, dengan berkat Tuhan melalui perbaikan kehidupan ekonomi, yang terjadi justru sebaliknya. Dulu seorang anak SD memakai pakaian seukuran untuk seorang anak SMP, sekarang banyak remaja yang sudah SMU atau mahasiswa justru memakai pakaian SD, kecil, sempit sampai perut dan pusatnya dipamerkan kepada khalayak ramai. Padahal, budaya kita memiliki norma-norma kesopanan dalam berpakaian. Di samping itu, banyak orang sekarang ini tidak puas memiliki satu atau dua sepatu, tetapi berlomba membeli sepuluh atau lebih sepatu padahal sebenarnya tidak dibutuhkan. Mengapa? Banyak orang pada zaman ini berakar dan belajar pada TV, toko atau mall, rumah tetangga dan sebagainya, tidak berakar pada kehendak Tuhan.

Berakar di dalam Tuhan berarti mendapat kehidupan dari pada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Berakar di dalam Tuhan juga berarti bahwa seluruh kehidupan selalu dikaji dan diuji berdasarkan kehendak Tuhan. Hal ini amat penting di tengah dunia yang sedang dilanda oleh konsumerisme (membeli dan memakai barang-barang tidak terutama dengan orientasi ‘kebutuhan’ tetapi ‘keinginan’ dan ‘gengsi’) yang akan menambah penderitaan manusia dan merusak alam ciptaan Tuhan seperti hutan, sungai, danau, dan udara.Dengan berakar di dalam Tuhan, maka hati nurani pun akan bekerja aktif untuk menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Tuhan. Di tengah zaman yang maju ini dengan tingkat intelektualitas manusia yang semakin baik, masih kita temukan orang-orang yang menempuh jalan pintas yang irasional dengan pergi ke dukun untuk pelaris dagangan, agar disegani, agar mendapat jabatan tertentu. Dan, anehnya, seperti kata Eka Darmaputera, orang begitu mudah marah-marah jika merasa dikecewakan Tuhan, tetapi kalau dukun yang mengecewakannya, dia tidak merasa apa-apa.[6]

Pengenalan dan pengalaman kita akan apa yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita hendaknya mendorong kita mengikuti nasihat Paulus yang mengatakan, “hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Hati yang melimpah dengan syukur selalu disertai dengan gerak hidup yang mencerminkan kehendak Tuhan.Mengucap syukur hanya mungkin ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari dan mengimani apa yang Tuhan telah, sedang dan akan lakukan dalam kehidupannya. Kiranya hal ini amat kuat melekat dalam hati kita. Saudara dan saya disapa saat ini, mari menjalani kehidupan tahun ini bersama Tuhan yang hidup dan mengasihi kita. Kebahagiaan kita terletak di situ.

[2] Sebagaimana dikutip oleh Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 59
[3] Ibid.
[4] Gede Prama, Jalan-jalan Penuh Keindahan. Dari Kejernihan untuk Kepemimpinan kehidupan, Jakakarta: Gramedia, 2004, hlm. 156.
[5] Sebagaimana dikutip oleh David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 146
[6] Eka Darmaputera, Iman dan Tantangan Zaman, Jakarta: BPK, 2005, hlm. 62.









No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai komentar Anda yang membangun.


ShoutMix chat widget