Monday, November 24, 2008

FOKUS PADA SANG PEMBERI, BUKAN PEMBERIAN

Kehidupan Yakub masih relevan kita renungkan saat ini. Kita hidup di tengah zaman di mana begitu banyak orang yang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diingankannya tanpa peduli pada kebenaran dan kehendak Tuhan.

Sejak lahir, sudah ada sesuatu yang ganjil dari kehidupan Yakub, yaitu bahwa ia memegang tumit Esau ketika lahir (Kej 25:26). Itu juga mencerminkan kehidupannya yang selalu meraih atau menarik sesuatu dari orang lain untuk dirinya sendiri. Ia mengambil hak kesulungan dari Esau dan kemudian mengambil berkat dari ayahnya. Ia mengambil Rahel dari ayahnya dan kemudian ia mengambil harta milik Laban juga.

Ketika ia menginginkan berkat dari ayahnya, ia berusaha meraihnya dengan kebohongan, bahkan dengan menggunakan nama Allah. Ketika Ishak, ayahnya, meragukan kehadirannya yang begitu cepat, Yakub menjawab: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." (Kej 27:20). Ia sama sekali tidak takut akan Allah, yang penting keinginannya tercapai.

Tuhan sudah menyatakan diri kepada Yakub di Bethel dan memberikan janji seperti yang dijanjikan kepada Abraham. Allah (1) Memberikan tanah tempat mereka berdiam (2) memberikan keturunan yang banyak (3) Membuat mereka menjadi berkat. Tetapi, Yakub malah berpikir seolah dia yang akan ‘memberi’ kepada Tuhan berupa persepuluhan dari pemberian Tuhan (Kej. 28:13-22). Yakub lebih fokus pada pemberian Tuhan dari pada Tuhan sang Pemberi. Nazarnya untuk memberi sepersepuluh dari pemberian Tuhan hanyalah untuk mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Sikap seperti ini tidak jarang kita temukan dalam kehidupan kekristenan sekarang: memberi supaya menerima. Padahal, kita memberi adalah karena kita sadar akan pemberian Tuhan bukan supaya Tuhan memberikan lebih banyak lagi kepada kita.

Sesudah peristiwa di Bethel ini, di mana Yakub tidak bergerak seirama dengan janji Tuhan, tetapi menempuh jalannya sendiri, ia mengalami berbagai peristiwa yang membuatnya merasa terancam. Salah satu di antaranya adalah kedatangan Esau dan pasukannya untuk menyerangnya. Dalam suasana ketakutan ia kembali mengingat janji Tuhan dan ia berdoa memohon kelepasan (32:9-10). Tetapi, ia tidak saja berdoa. Ia juga merancang strategi untuk ‘menjinakkan’ kegeraman Esau. Ia mempersiapkan segala macam pemberian yang akan dipersembahkan kepada Esau sebagai sarana melunakkan hati Esau. Dalam situasi seperti itu, Yakub pasti merasa lelah. Itulah juga yang terjadi dalam hidup ini ketika kita merasa tidak aman dan selalu berjuang dengan cara-cara kita sendiri untuk medapatkan apa yang kita inginkan. Tidak ada ketenangan dan kedamaian.

Berkat yang sesungguhnya ternyata bukan datang dari Ishak, ayahnya. Yakub mendapat berkat yang sesungguhnya dari Allah setelah Yakub berubah. Ia tidak lagi menipu dan berusaha menggenggam atau meraih yang duniawi, tetapi ia ‘bergumul’ dengan Tuhan. Artinya, ia memusatkan perhatian pada Tuhan Sang Pemberi hidup. Ia tidak mau melepaskan Tuhan dalam hidupnya. Yakub melihat Allah dan nyawanya tertolong (ayat 30). Ketika kita melihat atau memusatkan perhatian pada apa yang ada di dunia ini, semuanya itu tidak dapat menolong kita. Tetapi, ketika kita melihat dan berpegang pada Tuhan serta menerima dengan sukacita segala pemberianNya, kita akan mengalami kedamaian meskipun tantangan terkadang masih menghadang. Jika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu yang Ia kehendaki. Sebaliknya, meskipun kita memiliki segala sesuatu tetapi tidak memiliki Allah, semuanya tidak punya arti apa-apa.

1 comment:

  1. Yakub memang melakukan kecurangan ketika merebut berkat kesulungan dari Esau. Untuk mengelabui Ishak, yakub mengenakan pakaian milik Esau, Itu menunjukkan bagaimana Yakub sangat menghargai Hak kesulungan sementara Esau tidak, dia menganggap enteng dan menjual hak kesulungan hanya dengan semangkuk bubur kacang merah. Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengijinkan berkat itu jatuh ketangan Yakub.

    Untuk kecurangannya Yakub telah menerima hukuman ketika dia mendapat perlakuan yang sama dari anak-anaknya. Ketika anak-anak yakub menjual Yusuf ke orang ismael mereka menunjukkan pakaian Yusuf dengan alasan yusuf dibunuh binatang buas (Kej 37:33). yakub sangat menderita ketika kehilangan Yusuf. Dengan memakai baju esau dia menipu ayahnya, maka dengan baju Yusuf dia ditipu anak-anaknya.

    Oh ya, sekarang ini kisah yakub dan esau ada juga terjadi. Ada orang kristen yang menjual hak kesulungannya demi sebuah pekerjaan atau jabatan (bubur merah).

    Tuhan memberkati
    Nelson
    Artikel : "marilah menyelidiki dan memeriksa diri kita" di
    http://www.nelson.4christ.info

    ReplyDelete

Kami sangat menghargai komentar Anda yang membangun.


ShoutMix chat widget