Saturday, March 7, 2009

SENI MENDENGARKAN

REFLEKSI SENIN KE-11 2009
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar,
itulah kebodohan dan kecelaannya
(Amsal 18:13)

Allah adalah komunikator terbaik di dunia, sedihnya,
kita adalah pendengar-pendengar terburuk di dunia
(Jimmy Setiawan)

Kita dapat membedakan sedikitnya empat tipe pendengar[1] yang kiranya berguna bagi kita sebagai wahana refleksi diri untuk pada akhirnya dapatmenjadi seorang pendengar aktif.

Tipe 1: Bukan Pendengar

Tipe ini merupakan tipe pendengar yang paling rendah. Suara atau informasi amat jelas tetapi penerima tidak mendengarkan. Ada dua kemungkinan utama seseorang masuk dalam tipe ini. Pertama, sibuk dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Kedua, tidak tertarik pada apa yang dikatakan si pembicara.

Ciri-ciri tipe bukan pendengar nampak melalui: (1) Pandangan mata yang kosong dan gerak-gerik yang tidak tenang atau malah tidak bergerak sama sekali. (2) Terus menerus memotong pembicaraan orang. (4) Selalu mengatakan kata terakhir. Apa yang sudah dikatakan orang lain seolah tidak ada arti apa-apa. (4) Tidak peka memahami keadaan orang dan situasi.

Ada orang yang kelihatan seperti berdialog, tetapi mereka sebenarnya berbicara kepada diri sendiri. Misalnya seseorang sedang asyik membicarakan tentang anaknya yang sangat pintar dan teman berbicara juga bercerita tentang anaknya yang diterima di perguruan tinggi bergengsi. Kemudian, pembicara pertama menyambung (bahkan memotong pembicaraan) dengan memberitahukan bahwa anaknya diterima bekerja di luar negeri. Demikianlah percakapan bisa berlangsung berjam-jam, dan masing-masing tidak (mau) tahu apa yang dikatakan oleh teman bicaranya karena masing-masing sibuk dengan pikiran dan diri sendiri.

Tipe 2: Pendengar Dangkal

Mengandaikan pesan itu terdiri dari verbal (kata-kata) dan non-verbal (misalnya raut wajah, intonasi kata-kata, tatapan mata, dan gerak-gerik), maka pendengar dangkal dicirikan: (1) Mendengar suara dan kata-kata tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan. (2) Tidak semua kata-kata ditangkap. (3) Tidak masuk lebih dalam kepada pesan yang disampaikan. (4) Mendengar hal-hal yang sepele dan menghindari percakapan serius. (5) Sama sekali tidak menangkap bahasa non-verbal.

Akibatnya, tanggapan yang disampaikan seseorang yang masuk dalam tipe ini akan meleset karena yang verbal saja tidak ditangkap secara lengkap. Bayangkan Anda menyampaikan pergumulan Anda kepada seseorang yang Anda anggap bisa menolong, tetapi ia sedang memikirkan pertemuan yang sangat penting yang harus ia hadiri segera. Ia terlihat hanya berbasa-basi berbicara dengan Anda karena ia sibuk memikirkan dirinya dan jadwal pertemuannya. Dalam hal ini, keadaan seseorang bisa mempengaruhi kemampuannya mendengarkan dengan baik.

Tipe 3: Pendengar Evaluatif

Pendengar evaluatif adalah orang yang mendengarkan dengan konsentrasi dan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan tipe 1 dan tipe 2 di atas.
Tipe ini berusaha mendengarkan apa yang dikatakan teman bicara tetapi belum sepenuhnya mengerti maksud si komunikator.

Pendengar tipe ini lebih menaruh perhatian pada isi dan kurang (atau sama sekali belum) memperhatikan perasaan komunikator. Ia tidak terlibat secara emosional dalam pembicaraan. Memang, tipe ini cakap merumuskan kembali isi percakapan tetapi tidak tahu sisi lain yang sebenarnya dapat ditangkap melalui nada suara, wajah, dan gerak-gerik. Singkatnya, ia tidak mampu menangkap rasa dibalik kata.

Godaan yang mungkin dialami tipe pendengar evaluatif ini adalah perasaan yakin bahwa dirinya mengerti orang yang berbicara dengannya. Dengan demikian, responnya justru biasa merusak hubungannya sendiri dengan rekan bicaranya karena dia membentuk pendapatnya sendiri atas maksud si komunikator.

Tipe 4: Pendengar Aktif

Tipe inilah yang memiliki kemampuan mendengarkan yang terbaik. Kita tergolong pendengar aktif jika kita mampu menahan diri untuk tidak menilai ucapan-ucapan orang yang berbicara. Kita harus melihat dan memahami sebuah pesan dari segi pandangan komunikator. Kita berusaha menahan perasaan dan pikiran kita untuk mendengarkan orang lain.

Di samping itu, kita tidak hanya memberi perhatian pada kata-kata yang diucapkan tetapi berusaha menjadi satu hati dengan si pembicara. Kita mau dan mampu memahami ‘rasa dibalik kata’. Dengan demikian kita pun akan mampu menangkap, memperhatikan dan menjawab dengan baik dan benar.

Lunandi menyebut tiga keterampilan pendengar aktif, yaitu:

1. Dapat menangkap, yaitu: mengenal dan menghargai maksud yang terucapkan lewat nada suara, raut wajah, dan gerak-gerik.
2. Memperhatikan: mampu menyampaikan pesan-pesan kepada si pembicara lewat suara, raut wajah, gerak-gerik yang menunjukkan perhatian dan bersedia menerima.
3. Menjawab dengan bijaksana dengan memberi tanggapan yang tepat terhadap maksud dan perasaan teman bicara, membantu agar teman bicara merasa enak dan bebas, tidak merasa terancam.

Ditabur Pada Tanah Yang Subur

Apa yang diuraikan di atas dapat juga kita hubungkan dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang “benih” yang jatuh pada empat jenis tanah sebagaimana tertulis dalam Matius 13:1-9. Sebenarnya perumpamaan ini tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi. Intinya sudah diberitahukan (ayat 19-23). Kita hanya perlu merenungkannya dalam kehidupan kita. Firman Tuhan terus diperdengarkan kepada kita, melalui bacaan Alkitab, khotbah, peristiwa kehidupan dan sebagainya. Dalam perumpamaan ini, yang masalah bukanlah ‘Penabur’ atau pemberitaan firman itu. Masalahnya adalah dalam diri si pendengar, yang di sini disebut empat tipe. Mungkin dalam kurun waktu tertentu kita bisa saja berpindah dari tipe pendengar yang satu ke tipe yang lain. Tetapi, atas pertolongan Tuhan sendiri kita bisa seperti ‘tanah yang baik’.

Pertama, yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Orang seperti ini bukan tuli secara jasmani, tetapi tuli secara rohani. Tipe pendengar “masuk telinga kanan keluar telinga kiri” masih sempat masuk ke kepala. Tetapi tipe pertama ini lebih parah dari itu: masuk telinga kanan keluar dari telinga kanan juga. Firman itu sama sekali tidak sempat berdiam apalagi bekerja dalam kehidupan si pendengar. Hal ini terjadi ketika yang mengendalikan hidup adalah hal-hal duniawi.

Kedua, pendengar dangkal. Mungkin dapat disebut tipe ‘semangat air soda’. Ketika dituangkan ke dalam gelas, busa air soda naik ke atas dan tidak lama kemudian buihnya habis. Dalam ayat 20-21 dikatakan, “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.” Mari kita perhatikan secara khusus kata-kata ‘segera menerimanya dengan gembira’. Baik? Ya. Masalahnya tidah bertahan lama. Mungkin ada kalanya kita begitu bersemangat ketika mendengar firman Tuhan, namun cepat memudar ketika penderitaan karena iman kita terkadang datang menghadang atau karena berbagai pencobaan yang kita alami.

Ketiga, semak duri. Pendengar firman tipe ketiga ini sedikit lebih lama bisa bertahan. Firman itu sempat tumbuh walaupun pada akhirnya terhimpit oleh dua penghimpit utama: (1) kekuatiran dunia dan (2) tipu daya kekayaan. Dalam Matius 6:25 Yesus sudah memperingatkan: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Kedua penghimpit ini masih terus kita hadapi hingga hari ini. Dan kita tahu betapa kekuatiran dunia dan dipu daya kekayaan itu begitu dahsyatnya menghalangi pertumbuhan iman kita. Perlu kita sadari bahwa kekuatiran tidak akan pernah memperbaiki masa depan, malah bisa menghancurkannya. Menjadi kaya bukanlah dosa sejauh (1) diperoleh dengan cara yang benar dan baik, (2) digunakan sesuai kehendak Tuhan, dan (3) tidak membuat kekayaan menjadi ilah.

Keempat, yang berbuah. Dalam ayat 23 dikatakan, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Terkadang penderitaan datang dan godaan bermunculan. Tetapi dengan pertolongan Tuhan kita dapat mengalahkannya. Firman Tuhan berbuah dalam hidup kita yang nampak antara lain melalui ucapan syukur, sukacita, kerelaan untuk saling menolong dan kesetiaan kepada Tuhan.

Kita perlu meluangkan waktu di hadapan Tuhan memeriksa pada tipe mana kita lebih sering berada. Kita juga memohon kiranya Tuhan menguatkan dan melayakkan kita menjadi tipe ‘tanah yang baik’, sehingga kita berbuah karena anugerah Tuhan. Yesus mengundang kita untuk tinggal di dalam Dia supaya kita berbuah lebat: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yohanes 15:4).

[1] Pembagian tipe sebagaimana disebutkan A.G. Lunandi, Komunikasi Mengena. Meningkatkan Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi (Yogyakarta: Kanisius).

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai komentar Anda yang membangun.


ShoutMix chat widget