Monday, March 23, 2009

MENGATAKAN 'TIDAK'

REFLESI SENIN KE-13 2009: 23/03

Orang-orang yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang dirinya atau yang selalu sibuk memberi kesan kepada orang lain biasanya selalu berusaha untuk ‘menyenangkan’ orang lain. Mereka sangat sulit mengatakan ‘tidak’ atas sebuah permintaan karena mereka terus-menerus mengharapkan pengakuan orang lain. Mereka berpikir bahwa dengan mengatakan ‘ya’ kepada semua permintaan orang lain mereka akan mendapatkan apa yang mereka dambakan. Mereka pun menjadi sangat tegang hari demi hari memikirkan bagaimana supaya orang lain menyenangi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana untuk hidup rileks. Dari bangun tidur hingga berbaring pada malam hari pikiran mereka terus berkelana ke mana-mana. Mereka memikirkan apa yang membuat orang tidak senang akan apa yang sudah mereka katakan dan perbuat serta bagaimana membuat orang lain mendapat kesan baik tentang diri mereka. Di samping tidak sehat, prinsip ini bisa membuat hidup melarat dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Jika seseorang meminta sesuatu kepada Anda, jangan merasa bersalah, sungkan dan enggan mengatakan ‘tidak’. Anda dapat mengatakan ‘tidak’ tanpa harus merusak diri dan hubungan baik Anda dengan orang yang meminta. Katakan ‘tidak’ terhadap suatu permintaan jika:

(1) Anda tidak mampu melakukannya. Jangan memaksa diri. Hasilnya tidak baik, untuk Anda sendiri dan kepada yang meminta. Ini tidak saja yang berkaitan dengan ‘materi’ tetapi juga yang bersifat non-material, seperti nasihat atau jawaban atas suatu pertanyaan. Misalnya, jangan Anda coba-coba memberi nasihat menangani suatu penyakit, yang sama sekali Anda tidak tahu tentang penyakit tersebut. Akibatnya bisa fatal. Anda juga jangan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar doktrin Kristen jika Anda tidak mengetahuinya. Itu tidak akan menjernihkan pemahaman, malah bisa kian membingungkan hingga menyesatkan orang lain. Lebih baik mengatakan ‘tidak’ ketimbang Anda berusaha memberi kesan seolah-olah Anda 'mahatahu' padahal tidak tahu.

(2) Permintaan yang tidak masuk akal atau yang bisa merusak yang bersangkutan. Bayangkan anak Anda yang berusia tujuh tahun meminta sebuah pedang panjang untuk dijadikan mainannya. Permintaan itu tidak muncul dari akal sehat. Mungkin ia pernah melihatnya dalam sebuah film dan ia menginginkannya. Jika Anda memberikannya, Anda secara tidak langsung melukainya bahkan membunuhnya atau membantunya melukai orang lain. Atau, ada seseorang yang meminta uang kepada Anda untuk membeli rokok. Jika Anda bersikap bijaksana, Anda tidak akan memberikannya. Dengan memberikannya, Anda membantunya merusak kesehatannya bahkan melakukan 'bunuh diri kredit'. Sebagai gantinya Anda dapat memberikan jus yang berguna untuk kesehatan tubuhnya.

Memang ada kalanya kita tidak perlu terlalu jauh mengomentari permintaan orang lain. Anthoni de Mello pernah menuliskan sebuah ilustrasi yang intinya kira-kira begini. Seorang pemilik gajah meminta uang kepada seseorang untuk kebutuhan pemeliharaan gajahnya. “Jika engkau tidak mampu memelihara gajah mengapa engkau memeliharanya?”, katanya. Si pemilik gajah menjawab, “Yang saya minta adalah uang, bukan khotbah atau nasihat.” Ya, jangan sampai orang minta nasi justru nasihat yang kita beri; orang meminta sembako justru pidato yang muncul.

(3) Jika yang diminta untuk pementingan diri yang meminta. Ada pasangan suami istri yang bertengkar dengan tetangganya soal batas tanah. Anak-anak mereka ‘berhasil’ di perantauan dan pasangan suami istri ini sering membanggakan (bahkan terkadang menyombongkan) keberhasilan anak-anaknya. Tetangganya pun membencinya karena kesombongannya, apalagi setelah mendengar perkataan suami istri tersebut bahwa anak-anak mereka pasti akan memberikan uang kepadanya dan mereka pasti menang di pengadilan. Benar, pasangan suami-istri tersebut meminta bantuan anak-anaknya untuk menyediakan dana yang akan mereka gunakan untuk berperkara di pengadilan. Tetapi, anak-anak mereka bersepakat tidak akan memberikan uang. Mereka mau membantu agar orangtua mereka berdamai dengan tetangganya.

(4) Jika yang diminta mengorbankan kebenaran. Bagi sebagian orang, mengatakan ‘tidak’ kepada permintaan orang lain yang kelihatannya ‘baik’ (padahal tidak baik) atau yang jelas-jelas tidak baik terkadang amat sulit. Misalnya, karena kedekatan dengan orang lain seseorang merasa sungkan mengatakan ‘tidak’. Ia rela (atau lebih tepatnya ‘tega’) mengorbankan ‘kebenaran’ demi hubungan. Bagaimana memelihara hubungan baik tanpa mengorbankan kebenaran? Memang sulit. Tetapi jika harus memilih, ‘hubungan pertemanan’ harus kita belakangkan. Tidak berarti kita menjadi bermusuhan dengan mereka. Kita mesti tetap mengasihi orang lain meskipun kita menolak perilakunya yang buruk atau pendapatnya yang keliru.

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan:
tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat

(Mat. 5:37).

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai komentar Anda yang membangun.


ShoutMix chat widget