Sunday, September 13, 2009

GULA 'PAHIT'

REFLEKSI MINGGU KE-37
SENIN, 14 September 2009


“Saya sangat jengkel melihat istri saya akhir-akhir ini,” keluh seorang suami kepada teman dekatnya.
“Apa terjadi?” kata temannya ingin mengetahui penyebabnya.
“Istri saya sering memanggil saya “sweety!” dan “honey!”.
“Lho, bukankah itu hanya persoalan bahasa saja? Sebutan itu sudah umum untuk mengekpresikan kasih sayang, bukan?”
“Bukan begitu. Masalahnya saya menderita ‘diabetes’. Istri saya nyindir!”

Di sini tidak akan dibahas tentang menangani perasaan jengkel atau masalah berkomunikasi yang baik antara suami istri (yang memang sangat penting juga). Yang menjadi fokus kali ini adalah ‘gula’, yang merupakan salah satu produk yang sudah hadir sejak munculnya konsumerisme.

Sejarawan Peter N. Stearns mengatakan bahwa masyarakat konsumer muncul pada abad kedelapan belas di Eropa dan daerah-daerah koloni Inggris di Amerika Utara. Tanda-tanda awal konsumerisme mencakup pertumbuhan pasar gula. Orang kaya di Eropa memanjakan seleranya dengan gula sejak akhir Abad Pertengahan. Hal ini mendorong pengembangan lebih lanjut produksi gula dalam koloni-koloni Eropa yang baru, termasuk di Indonesia. Produksi gula pada gilirannya mendorong pasar yang lebih besar dan membuat gula, dalam istilah antropolog, sebagai barang konsumer pertama di dunia.

Ekspansi perdagangan kolonial meningkatan keuntungan luar biasa khususnya ketika masyarakat mengkonsumsi teh dan kopi. Seiring dengan makin diminatinya gula, kedai kopi/ teh pun menjamur di Eropa pada abad ke delapan belas. Di samping mengkonsumsinya di kedai, orang-orang juga mengkonsumsinya di rumah-rumah mereka.

Gula adalah soal ‘rasa’ dan ‘tenaga’. Ketika ‘rasa’ mengambil alih fungsi ‘gula’ maka ‘tenaga’ akan terganggu. Artinya, kalau dalam batas-batas tertentu (yang dapat kita tanyakan kepada pakar kesehatan) gula adalah sumber tenaga. Masalahnya, kalau atas nama memanjakan ‘rasa’ mulut menjadi tak terkendali muncullah masalah. Lester Brown mencatat bahwa penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, termasuk konsumsi gula, masuk dalam salah satu peringkat tertinggi. Manis rasanya, bisa pahit akibatnya.

Akhir-akhir ini menjadi muncullah ‘pemanis rendah kalori’. Manis rasanya (walaupun rasanya tidak seenak gula) tapi rendah kalorinya. Banyak orang mengindari gula, tetapi banyak juga yang ‘mengagungkan rasa enak’ yang tidak peduli pada akibat buruknya. Tidak sedikit orang usia muda mengkonsumsi gula yang seharusnya dikonsumsi pada masa tua, sehingga pada usia tua sama sekali tidak bisa lagi mengkonsumsi gula.

Umumnya, orang-orang kaya dunia saat ini sudah mengurangi konsumsi gula. Tapi sedikitnya ada tiga masalah yang tersisa.

Satu, banyak orang yang sebenarnya membutuhkan gula asli, seperti mereka yang membanting tulang bekerja seharian, tetapi tidak mampu membeli gula. Semoga kehidupan saling berbagi semakin membudaya pada hari-hari yang akan datang.

Dua, tebu, bahan dasar gula, sebagian sudah beralih dari konsumsi manusia menjadi sumber ethanol. Memang tebu termasuk di antara yang paling efisien dalam penggunaan tanah dan enerji. Masalahnya, Brazil, misalnya melakukan perluasan tanaman tebu yang luar bisa dengan menebang hutan (Lester Brown, Plan B.3). Keadaan ini berdampak buruk terhadap kelestarian alam. Semakin banyak pohon yang terbunuh, semakin tinggi pula demam bumi.

Tiga, bagi banyak petani tebu tradisional rasa gula itu pahit. Mereka mengorbankan lahan dan tenaganya dan yang lebih menikmati hasilnya adalah orang lain. Hal ini diperparah oleh kebijakan negara-negara makamur seperti Eropa dan Amerika yang belakangan ini justru member subsidi besar-besaran untuk penanaman tebu. Akibatnya, tebu mengalami kelebihan produksi dan negara-negara berkembang lebih merasakan pahitnya gula.

Konsumsi manusia dan keadaan lingkungan hidup merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.

"Ya Tuhan, berilah kami pada hari ini apa yang kami butuhkan untuk kehidupan. Kuatkan kami mengalahkan keinginan yang merusak diri kami dan alam ciptaan-Mu. Amin"

Sunday, September 6, 2009

PEHORUS HKBP KEMBALI KE MEDAN

Foto ini diambil sesaat sebelum Ompui Ephorus HKBP berangkat dari Mount Elizabeth Hospital
menuju Changi Airport untuk bertolak ke Medan.


Tuhan terus menerus menyatakan pertolongan dan kuasa penyembuhan-Nya dengan semakin membaiknya kondisi Ompui Ephorus HKBP, Pdt Dr Bonar Napitupulu dan Ibu br Sitanggang. Setelah 17 hari dirawat di Mt Elizabeth Hospital-Singapura, kemarin malam (Minggu, 06 September 2009) mereka berdua bertolak ke Medan dengan pesawat komersil.

Kondisi kesehatan beliau terus membaik. Yang masih dalam tahap pengobatan adalah tulang pinggul beliau yang baru-baru ini dioperasi karena retak. Sampai saat ini beliau sudah berlatih berdiri dan berjalan. Demikian juga Ibu Napitupulu br Sitanggang masih menjalani perawatan pergelangan kakinya yang patah dan sudah dioperasi di Medan sebelum dirawat di Singapura.

Pdt Donald Sipahutar, yang mendampingi beliau sejak awal di RS Mount Elizabeth, mengirim pesan singkat tadi malam (06/9) bawa mereka tiba di Medan dengan baik.

Selama beliau berada di rumah sakit, begitu banyak yang datang mengunjungi beliau dari Indonesia. Di antaranya adalah Pdt WTP Simarmata, MA (Ketua Rapat Pendeta HKBP) dan Ibu br Purba; Pdr Dr Jamilin Sirait (Kadep Koinonia HKBP); Pdt Ramlan Hutahaean (Sekjend HKBP); Pdt Dr Binsar Nainggolan (Kadep Marturia HKBP); Pdt David Sibuea (Praeses Jambi) dan Ibu br Hutagaol, Pdt T. Hasugian (Praeses Jabartengdy), Pdt Ezron Tampubolon (Praeses Jakarta II); Pdt Lundu Simanjuntak (Bandung), Pdt Soaduon Napitupulu (Jakarta), Pdt. Japati Napitupulu (Jakarta); Pdt Marudur Tampubolon (Praeses Kepri) dan Ibu br Pangaribuan; Pdt Rommel Sitorus (Batam); Pdt Sanggam Siahaan (Batam); Pdt Jerry Aruan (Batam) dan istri br SItanggang; Pdt. Hotma Pasaribu (Menteng-Jakarta), Pdt. Dr Martongo Sitinjak (Univ Nommensen Medan); Pdt Sijabat (Batam); Pdt Johnny Sihite (Siantar) dan istri br Simarmata; Bapak Soy Pardede (Jakarta); Bapak Drs WP Simarmata (Jakarta); Gotti Situmorang (Palembang); Pdt Simamora (Sekjend GKPI) dan rombongan 6 Pdt dari GKPI, juga Pdt Basa Rohana Hutabarat (Pdt HKBP Ressort Singapaura) yang lebih sering mengunjungi beliau. Di antara yang berdomisili di Singapura yang beberapa kali berkunjung adalah St Harry P. Sianturi, St Jannes Sibuea, St Sabar Butarbutar, Ramses Butarbutar, Pdt Jones Nainggolan (Methodist), Pdt. Paul Munthe (GKPS). Bapak Ronald Pasaribu sangat berperan dalam segala urusan dengan pihak Rumah Sakit dan transportasi.

Di samping itu, beliau menerima surat ungkapan harapan dan doa untuk kesembuhan dari VEM-Jerman dan Evangelical Lutheran Church in America (ELCA)
.
Kita terus mendoakan pemulihan kesehatan beliau untuk dapat menjalani kehidupan dan mengemban tugas pelayanan di gereja Tuhan HKBP.
Berita terkait:

Saturday, September 5, 2009

MENYIASATI RASA BOSAN


REFLEKSI MINGGU-KE-36
Senin, 07 September 2009

Tak selamanya menunggu itu membosankan. Buktinya? Semua pasien yang hendak menjalani operasi lusa, 48 jam dari sekarang, bisa saja merasa seperti 30 menit. Beda sekali ketika seorang suami yang baru menunggu istrinya 2 menit di mobil merasa 2 jam (Bahkan sampai ke tempat tujuan tidak ‘ngomong’ dengan istrinya karena ia tersulut amarah).

Mungkin akan lebih jelas jika kita menyebutkan beberapa perbandingan lain. Perjalanan lewat pesawat udara Medan-Jakarta membutuhkan waktu 2 jam, tetapi terasa lebih lama ketimbang berlibur yang menyenangkan selama 2 hari penuh. Atau kita merasa kotbah di gereja 30 menit sangat panjang atau lama padahal 1,5 jam di bioskop terasa sangat cepat berlalu. Satu setengah jam pelajaran matematika terasa lebih lama ketimbang keliling-keliling di dalam mall selama 4 jam.

Sebenarnya dari segi pergerakan waktu 2 jam sama dengan 2 jam. Di jam merk apa pun; merk Seiko atau Sieko. Tetapi mengapa terkadang 2 jam terasa 4 jam dan sebaliknya 4 jam terasa seperti 4 menit saja? Masalahnya ada di ‘perasaan’. Ketika kita ‘fokus’ pada waktu yang kita butuhkan cuma 15 lagi ke sebuah pertemuan, maka 3 kali lampu merah yang hanya tiga kali setengah menit, bisa ‘terasa’ seperti berjam-jam. Beda kalau kita mau membayar hutang banyak bulan depan (30 x24 jam) terasa 3x2 jam.

Jika masalahnya ada di ‘perasaan’, maka perasaan itulah yang perlu kita periksa dan tangani. Salah satu cara menangani perasaan kita adalah memeriksa ‘pusat perhatian’ kita. Sebab, ‘fokus’ kita menentukan ‘perasaan’ kita. ‘Perasaan’ perlu dikendalikan. Bahkan, ada kalanya perlu ‘dijinakkan’. Sebab, tidak semua yang ‘terasa enak’ itu menyehatkan dan membangun. Gula terasa enak, tetapi tanpa pengendalian diri, gula dapat mencelakakan. Sayur terasa hambar, tetapi ‘wajib’ untuk kesehatan.

Begitu juga dalam mengalami waktu. Ketika ‘perasaan’ berkata bahwa kotbah membosankan, misalnya, fokus mesti diubah: kita mengisi waktu untuk menangkap satu saja yang baik dan benar-benar meresapkannya atau berdoa agar Roh Tuhan memimpin sang pengkotbah. Lamanya khotbah tetap sama, tetapi ‘rasa bosan’ dapat disiasati dengan memikirkan dan melakukan yang lebih bermanfaat. Hati kita pun tetap bisa bening tanpa dicemari rasa dongkol. (Tentu, ini tidak menjadi pembenaran bagi para pengkotbah untuk mempersiapkan dan menyampaikan khotbah setengah hati. Seorang pengkotbah yang baik, di samping menghidupi apa yang ia khotaahkan, juga mempersiapkannya dengan sunguh-sungguh serta menyampaikannya dalam pimpinan Tuhan).

Jadi, ‘menunggu’ itu bukan membosankan. Yang benar adalah: ada orang yang merasa bosan menunggu –yang perlu menangani rasa bosannya dengan menghidupi perjalanan waktu dengan hal-hal yang bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Tetapi, kita juga hendaknya tidak memberi ‘rasa bosan’ kepada orang lain dengan berlama-lama menunggu apa yang perlu kita tunaikan tepat waktu, seperti kehadiran di pertemuan, membayar hutang, dan menepati janji.

Fokuslah pada Tuhan, dengan pertolonganNya kita tidak merasa bosan dan tidak membosankan.

Facebook

Jujur saja, saya baru bergabung di Facebook sejak dua bulan lalu. Belum maksimal dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sana. Ada beberapa hal yang membangun melalui facebook ini, terutama bisa bertegur sapa dengan para sahabat tanpa dibatasi laut, darat, udara dan musim. Juga bisa berbagi berbagai hal yang mencerahkan dan meneguhkan dalam kehidupan.
Mohon masukan teman-teman, apa saja nilai plus dan minus facebook?

Friday, September 4, 2009

PENAWAR 'KECEWA'

Jika Anda dekat dengan Allah,
tidak seorang pun yang mampu menyakiti hati Anda,
dan Anda tidak akan mau menyakiti siapa pun.
**********
Mengapa Anda kecewa kepada orang lain?
Penyebab utama: karena Anda mengharapkan sesuatu dari orang lain.
Berhentilah mengharapkan sesuatu dari orang lain, Anda tidak akan kecewa.
Berharaplah pada Allah yang lebih mengetahui yang terbaik untuk kita.
Jika kita kecewa kepada Allah, bukan Allah yang mengecewakan kita.
Kita membuat diri kita kecewa.
*******

DARI SITUMORANG KE SITUMORANG


Thiolora Lolo Situmorang, siswi Kls 1 SMK di Medan dan dua adiknya, Andre dan Gloria, yang duduk di bangku SD membutuhkan uluran tangan. Ia sebenarnya punya ayah. Sayangnya entah di mana, kurang bertanggungjawab. Ketiga anak ini tinggal bersama ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga honor guru SD, berpenghasilan Rp. 600.000/ bulan. Untuk biaya hidup sehari-hari saja penghasilannya tidak cukup untuk hidup sederhana untuk empat orang.

Terima kasih banyak kepada Bapak Gotti Situmorang, S.Sos, (Palembang) yang sudah bersedia membantu uang sekolah Lolo Rp. 100.000/ bulan dan sudah memberi Rp. 500.000 untuk bulan Agustus-Desember 2009. Untuk kebutuhan Lolo saja memang masih belum cukup, tetapi dana ini sudah berarti banyak bagi Lolo, yang sejak SD sampai SMP tetap juara.

Bapak dan Ibu, khususnya keluarga Situmorang yang terbeban untuk membantu, silahkan menghubungi kami di victor.tinambunan@gmail.com.

Thursday, September 3, 2009

GURU BAHASA INGGRIS

Mulai Oktober 2009, Renata Pardede, lulusan S1 Jurusan bahasa Inggris FKIP HKBP Nommensen, merelakan diri menjadi guru les Bahasa Inggris di Parlilitan. Keadiran Renata di sana diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para siswa dalam berbahasa Inggris. Renata memberitahukan melalui SMSnya bahwa dia sangat senang berada bersama siswa, yang semuanya tinggal di sebuah asrama yang dikelola oleh HKBP Parlilitan. Ia menambahkan bahwa Keluarga Pdt Hutahaean menyambutnya dengan senang hati di sana.

Biaya honor Renata Pardede Rp. 1.000.000/ bulan seluruhnya ditanggung oleh Kel Anthon Simangunsong/ Veronika Manurung (Singaapura).

Penerimaan dari Anthon Simangunsong:

Oktober 2009 S$1000 x IDR 6700 = IDR 6.700.000
Januari 2009 S$200 x IDR 6600 = IDR 1.320.000

Dikirim ke Renata Pardede:

Oktober 2009 IDR 1.000.000
Nop. 2009 IDR 1.000.000
Desember 09 IDR 1.000.000

Monday, August 31, 2009

ZAKHEUS DAN KITA


REFLEKSI MINGGU KE-35
01 SEPTEMBER 2009

Apa yang paling kita ingat dari cerita tentang Zakheus? Banyak orang yang terutama mengingat postur tubuhnya yang pendek. Bahkan, ada yang memberi nama ejekan kepada orang-orang pendek dengan nama Zakheus. Padahal, Yesus sama sekali tidak berbicara tentang ukuran tubuh Zakhesus. Yesus juga tidak mengunjungi Zakheus ke rumahnya dalam rangka menambah tinggi badannya.

Sedikitnya ada dua hambatan bagi Zakheus untuk dapat melihat Yesus. Pertama, hambatan fisik, yaitu karena ia pendek. Jadi, nampaknya karena itulah mengapa ukuran tinggi badannya disebut dalam nats Alkitab ini. Kedua, hambatan sosial. Zakheus dibenci banyak orang. Ia bisa saja tidak diberi kesempatan oleh khalayak ramai untuk mendekati Yesus. Memang Zakheus pendek orangnya; tetapi tebal dompetnya; (Ada pula yang tinggi besar orangnya, tetapi tipis dompetnya).

1. Zakheus ingin melihat Yesus. Lebih dari itu, Yesus menerimanya dan masuk ke rumahnya.

Hasrat hati Zakheus hanya mau melihat Yesus. Tetapi Yesus malah mau mengunjunginya ke rumahnya. Yang jelas, ada kerinduan Zakheus untuk bertemu dengan Yesus. Mengapa Yesus ke rumah Zakaheus? Yesus lebih mengetahui cara yang tepat untuk memenangkannya, untuk menyelamatkannya, untuk mengubah hatinya.

Zakheus menyambut Yesus dengan sukacita. Apa yang tadinya samar, sekarang ia bertemu muka dengan Yesus. Ia mendapat lebih daripada yang dia harapkan.

Hal ini mengingatkan kita bahwa Yesus memberi lebih dari yang diharapkan oleh manusia.

2. Orang banyak membenci Zakheus. Yesus membenci dosa tetapi mengasihi Zakheus.

Di sini Yesus menyatakan kasihNya. Tetapi orang banyak justru bersungut-sungut. Mereka tidak menyadari bahwa jika Yesus tidak menemui Zakheus, ia tidak akan pernah berubah. Dikatakan dalam ayat 10: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Jika Yesus mengikuti pendapat orang banyak, Zakheus tidak akan pernah bertobat.

Lagi pula kehadiran Yesus di rumah Zakheus pada akhirnya adalah demi kebaikan orang banyak itu, karena mungkin saja dari antara mereka atau saudara mereka yang akan mendapat pemberian Zakheus yang dijanjikannya itu.

Yesus lebih peduli pada diri kita daripada dosa-dosa kita. Mengubah orang, tidak dengan membencinya tetapi mengasihinya.

3. Kasih dan penerimaan Yesus mengubah kehidupan dan perbuatan Zakheus.

Dengan hubungan yang baru dengan Allah, Zakheus melakukan dua hal: (1) setengah hartanya diberikan ke orang miskin. Biasanya, waktu itu memberi 20% dianggap sebagai orang yang sangat baik. Zakheus lebih dari stadandard rata-rata masyarakat pada zamannya. (2) sekiranya ada yang ia peras dari seseorang akan dikembalikan empat kali lipat. Kini, kasihnya kepada Allah dinyatakan dengan kasihnya kepada orang lain. Ia berubah dari semangat mengumpul ke memberi. Zakheus menunjukkan bagaimana harus merespon kepada Injil. Keterbukaan hatinya kepada Tuhan, membukan tangannya kepada orang yang berkekurangan.

Tuhan Yesus menerima kita apa adanya dan mengampuni dosa kita. Kiranya kasih-Nya mendorong kita untuk berbuat yang terbaik dalam hidup ini kepada Tuhan dan sesama manusia.

Apa yang kita harapkan dari Yesus dan orang lain ketika kita berada dalam keadaan seperti Zakheus?

Sunday, August 23, 2009

JEJAK BIJAK PENSIL KECIL


REFLEKSI MINGGU KE-34
23 Agustus 2009

Perumpamaan tentang Pensil[1]

Pembuat pensil berpesan kepada pensil buatannya sesaat sebelum memasukkannya ke dalam kotak. “Ada 5 hal penting yang perlu kau ketahui,” katanya kepada pensil, “Sebelum aku mengutus engkau ke dunia. Ingatlah selalu pesan ini dan jangan pernah lupakan, sehingga kau dapat menjadi pensil yang baik dan berguna”.

Satu: Engkau akan dapat melakukan banyak perkara besar, tapi hanya jika engkau merelakan dirimu berada di tangan seseorang”.

Dua: Engkau akan mengalami penajaman yang menyakitkan, tapi engkau membutuhkannya untuk menjadi pensil yang baik”.

Tiga: Engkau akan dapat memperbaiki setiap kesalahan yang mungkin engkau lakukan”

Empat: Bagian yang selalu terpenting dari dirimu adalah bagian yang ada di dalam.”

“Dan lima: Pada setiap permukaan apa pun engkau digunakan, engkau mesti selalu meninggalkan jejak. Apa pun yang terjadi, engkau mesti terus menulis.
.
Pensil itu mengerti pesan tersebut dan berjanji akan terus mengingatnya. Kemudian, ia masuk ke dalam kotak dengan memelihara tujuan hidupnya di dalam hatinya.

*************

Sekarang gantikan tempat pensil ini dengan diri Anda. Ingatlah selalu dan jangan pernah lupakan, dan Anda akan menjadi pribadi sebagaimana yang Tuhan rencanakan sebelum menghadirkan Anda ke dunia ini.

Satu: Anda akan dapat melakukan banyak perkara besar, tapi hanya jika Anda merelakan diri berada di tangan Allah. Dan bukalah diri Anda untuk kehadiran orang lain untuk menerima karunia-karunia yang dipercayakan kepada Anda.”

Dua: Anda akan mengalami proses penajaman yang menyakitkan dari waktu ke waktu dengan mengalami aneka masalah dalam hidup, tapi Anda membutuhkannya untuk menjadi pribadi yang tangguh dan utuh.

Tiga: Anda akan dapat memperbaiki setiap kesalahan yang mungkin Anda lakukan.”

Empat: Bagian yang selalu terpenting dari diri Anda adalah bagian yang ada di dalam, bukan faktor luar atau penampilan.”

“Dan lima: Di mana pun Anda berada, Anda mesti selalu meninggalkan jejak. Apa pun yang terjadi dan dalam situasi apa pun Anda mesti terus menunaikan tugas panggilan.

Gunakan perumpamaan tentang pensil ini meneguhkan keyakinan bahwa Anda adalah seorang pribadi yang spesial di mata Tuhan dan Anda sendiri yang dapat memenuhi rencana-Nya yang menghadirkan Anda ke dunia ini. Jangan biarkan diri Anda menjadi tawar hati dan berpikir bahwa hidup Anda tidak punya arti apa-apa dan tidak dapat membuat perubahan. Sebaliknya, jangan pernah kita menjadi sombong, sebab hidup dan pekerjaan kita hanya bermakna oleh Dia Pencipta dan Pemelihara kita.


[1] Diterjemahkan secara bebas dari http://www.spirituality.org/is/136/page05.asp, diakses 11/12/2006

Friday, August 21, 2009

KESEHATAN OMPUI EPHORUS HKBP MEMBAIK


Mujizat itu nyata. Ompui Ephorus HKBP, Pdt Dr Bonar Napitupulu berserta dengan Ompung boru, br Sitanggang mengalami kecelakaan pada Minggu, 16 Agustus 2008. Mobil yang dikendarai langsung oleh Ompui Ephorus jatuh ke jurang sedalam 200 meter di Sipintupintu (antara Balige dan Siborongborong). Dari penuturan langsung Ompui dan Ompung boru, di RS Mt Elizabeth, kejadian ini berlangsung jam 5 sore sepulang pelayanan dari Medan. Ketika itu hujan rintik-rintik turun, dan entah bagaimana (Ompui menginjak rem dan mobil tergelincir) mobil masuk jurang.

Syukur kepada Tuhan, mereka selamat, meski mengalami luka dan patah tulang. Pertolongan pertama dilakukan di RS HKBP Balige dan selanjutnya dibawa ke RS Gleanagle-Medan. Pada Rabu, 19 Agustus beliau diterbangkan ke Singapura untuk menjalani pengobatan lanjutan di Mount Elizabeth Hospital. Hari ini, 21 Ags, Ompui i Ephorus menjalani operasi tulang pinggul selama 3 jam yang dipimpin oleh Dr Jeffree dan berjalan dengan baik.

Pada saat mobil masuk jurang, ada dua orang yang melihatnya. Kemudian, Pdt Martin Simanullang yang pada waktu itu lewat berhenti dan mengetahui bahwa ada mobil yang masuk jurang. Pdt Martin juga melihat serpihan mobil 'Ford'. Ia turun langsung ke jurang dan menjumpai Ompui ada di dalam mobil. Karena sinyal HP tidak ada di lokasi, ia terpaksa naik sekitar 100 meter ke atas untuk menguhubungi Sekjen HKBP dan Bupati Tapanuli Utara. Pertolongan pun datang dan evakuasi dilakaukan sekitar 1 jam.

Ada lumayan banyak komentar atau pendapat yang mengemuka terhadap peristiwa ini. Tetapi tugas kita sekarang adalah:
1. Bersyukur atas perlindungan Tuhan.
2. Berdoa terus untuk kesembuhan beliau
3. Mendoakan semua yang terlibat sebagai perpanjangan tangan Tuhan menolong beliau sejak evakuasi hingga saat ini di RS.
4. Memberi pertolongan konkret, khususnya yang mendapat titipan berkat khusus dari Tuhan.

Saturday, August 15, 2009

BUMI SEDANG MENDERITA DEMAM


REFLEKSI MINGGU KE-33
13 AGUSTUS 2009

Apa hubungan antara perumpamaan tentang ‘orang Samaria yang baik hati’ dan ‘the Golden Rule’ dengan lingkungan hidup? Bukankah pilihan-pilihan kita akan rumah, mobil, pakaian, peralatan atau barang-barang yang kita gunakan hanyalah masalah gaya hidup, dan karena itu bukan sesuatu yang berkaitan dengan masalah moral dan spiritual? Apakah Allah mempersoalkan saya mengenderai SUV, membiarkan TV menyala sepanjang malam, atau terbang keliling dunia? Demikian untaian pertanyaan dari J. Matthew Sleeth. Ia juga memberi jawaban lugas bahwa memang Alkitab tidak berbicara langsung tentang hal-hal ini. Semuanya itu belum ada pada zaman Yesus dulu. Akan tetapi, Yesus mengajarkan dan memberi contoh yang sempurna dalam hal kasih. Ajaran kasih dan contoh mengasihi yang Ia beri merupakan dasar moral perilaku dan tindakan kita.

Perampok dan pembunuh saat ini tidak saja mereka yang menggunakan kekerasan fisik atau senjata, tetapi juga dalam bentuk yang lain. Misalnya:

- Mereka yang merokok di tempat umum atau di rumah sendiri yang secara langsung melakukan ‘bunuh diri kredit’ dan secara tidak langsung membunuh orang lain melalui polusi udara yang mereka semburkan.

- Para pemilik industri besar, industri kecil atau rumah-rumah tangga yang mencemari udara, tanah dan air oleh limbah mereka, yang membunuh mahkluk hidup, mengakibatkan ketidakseimbangan dalam alam dan menyebabkan aneka peneyakit kepada orang lain.

- Yang memboroskan bahan bakar untuk hal-hal yang tidak perlu yang mengakibatkan polusi dan pemanasan global. Bukan saja dengan mengendarai kendaraan boros bahan bakar atau penerbangan yang tidak kebutuhan, tetapi juga yang menggunakan barang-barang (pakaian, perhiasan, alat-alat, kertas, kantong plastik secara berlebihan) yang semuanya menguras enerji, merusak ekosistem dan menyisakan banyak penderitaan dan penyakit kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sebagai pengikut Kristus, terlalu pendek jarak yang kita tempuh mengikut-Nya sampai di gereja saja. Kita mesti mengikut-Nya dalam seluruh gerak hidup kita: di rumah, di jalan, di lingkungan kerja, di meja makan, di lingkungan bersantai atau beristirahat. Gaya hidup kita penghuni bumi ini amat menentukan keberadaannya, yang saat ini sudah menderita demam karena tingkat konsumsi berlebihan sebagian umat manusia. Secara konkret kita dapat pertimbangkan dan hidupi:

  1. Allah menciptakan bumi ini dan Ia melihatnya baik adanya. Ia tetap menghendakinya baik hingga hari ini bahkan sampai waktu yang Ia tetapkan untuk kesudahannya. Tuhan tidak menghendaki terjadinya ‘kiamat’ sebelum waktu yang Ia tetapkan hanya karena kita umat manusia menghancurkannya.
  2. Yesus mengamanatkan kepada kita untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk (Mrk 16:15). Itu tidak berarti bahwa kita mengkotbahi monyet atau kecoa, tetapi memelihara alam dan mahluk ciptaan-Nya.
  3. Hukum keenam “Jangan membunuh” bukan hanya larangan membunuh manausia secara langsung tetapi juga larangan membunuh manusia secara tidak langsung bahkan mencakup larangan membunuh bumi dengan membunuh hutan, membunuh danau, membunuh sungai milik Tuhan.
  4. Kata ‘cukup’ dalam bagian dari doa Bapa Kami “Berikanlah kepada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, perlu mendapat perhatian kita secara khusus. Kecukupan merupakan patokan kita mengkonsumsi segala sesuatu. Hal ini juga mengingatkan kita pada pernyataan meneguhkan dari Mahatma Gandhi, “The earth is sufficient for everyone’s needs but not for everyone’s greed.” (Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan setiap orang tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang).
  5. Kita perlu dengan rendah hati di hadapan Tuhan, saat ini, mengenali hidup kita. Mungkin kita tidak merasa membunuh siapa-siapa, padahal gaya hidup kita yang tidak ramah lingkungan sesungguhnya menyatakan bahwa kita ‘pembunuh’. Kita mungkin tidak kena hukuman pidana karenanya. Tetapi kita berdosa di hadapan Tuhan, dan kita membutuhkan pengampunanNya serta pembaharuan tekad dan kehidupan keseharian.

Saturday, August 8, 2009

MENJUAL 'HARI'



REFLEKSI MINGGU KE-32
09 Agustus 2009


Penetapan suatu hari tertentu sebagai perayaan khusus untuk kelompok usia, status, profesi atau peristiwa penting semakin bertambah. Ada Children’s Day, Youth’s Day, Mother’s Day, Father’s Day, Parents’ Day (bahkan ada pula yang memulai ‘Single Parent Day’). Yang mungkin segera dimasyarakatkan adalah ‘Granpa and Grandma’ Day (Ompung’s Day dalam bahasa Batak!). Kita juga mengenal Valentine Day,Teacher Day, Labour Day dan mungkin akan masih bertambah lagi.
.
Tanpa mengabaikan nilai-nilai luhur di dalam setiap hari khusus tersebut, yang kiranya perlu dihindari adalah kecenderungannya yang sarat dengan --karena beberapa di antaranya juga lahir demi—konsumerisme. “Konsumerisme telah merasuki hari-hari peringatan khusus,” demikian kesimpulan Stearns setelah meniliknya dari kaca mata sejarah.
.
Sengat konsumerisme ini tidak saja meracuni hari-hari khusus yang bersifat profan, tapi juga merasuk dan merusak lingkup keagamaan. Beberapa di antaranya dapat disebut di sini:
  • Hadiah Natal sudah mulai pada 1830 di Amerika Serikat dan masih marak hingga saat ini. Natal di Amerika sendiri dan kota-kota besar di dunia bukan terutama berhubungan dengan gereja melainkan lebih banyak di mall atau pusat-pusat perbelanjaan, restoran dan tempat-tempat hiburan.
  • Kartu komersial untuk Valentine Day diperkenalkan di Inggris pada tahun 1855. Sekarang ini sudah mewabah ke hampir semua negara, walaupun kebanyakan orang tidak memahami maknanya.
  • Perayaan ulang tahun dengan hadiah-hadiah merupakan inovasi lain dari dunia konsumerisme, yang hingga saat ini tetap berlangsung.
  • Sesudah tahun 1900 hari-hari libur mulai diciptakan yang juga bertujuan konsumeris, walaupun dilabeli dengan nilai-nilai keluarga. Mother’s day misalnya, diproklamirkan secara resmi di Amerika Serikat pada 1914, yang akhirnya lebih merupakan alat konsumerisme ketimbang penghargaan dan penghormatan kepada kaum ibu.

Melihat kenyataan ‘penyelewengan’ hari-hari khusus tersebut menjadi ajang penyubur konsumerisme, muncullah apa yang disebut dengan ‘Buy Nothing Day’ sebagai protes terhadap konsumerisme yang dirayakan dimulai di Canada dan sekarang ‘dirayakan’ juga di Amerika setiap Jumat sesudah ‘Thanksgiving’, yang tahun ini jatuh pada 27 Nopember. Para ekologis mengkampanyekan pelaksanaan ‘Buy Nothing Day’ kepada seluruh umat manusia demi lestarinya bumi ini.

Yang paling penting dalam hal ini adalah:

Pertama, perubahan hidup dan komitmen kita menghargai semua dan setiap manusia: anak-anak, remaja, pemuda, ayah, ibu, orangtua, kakek-nenek, guru, pekerja dan sebagainya “setiap hari”, bukan terutama dengan pemberian hadiah kecil sekali setahun. Apalagi hadiah yang kita berikan bukan ‘kebutuhan’ mereka. Pemberian kita sia-sia, padahal setiap barang yang kita beli mempunyai konsekuensi langsung dengan kelestarian alam.

Kedua, ‘buy nothing day’ baik, tapi tidak cukup. Apalagi, kalau sebelum dan sesudah ‘buy nothing day’ orang-orang menumpuk. Yang terpenting adalah: beli kebutuhan (bukan karena ingin), beli sesuai kemampuan, dan beli kepada orang lain yang tidak mampu membeli kebutuhan.

Monday, August 3, 2009

REPOT RAPAT


RAPAT PENDETA HKBP 2009
.
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati" (Lukas 6:36). Inilah tema Rapat Pendeta HKBP (RPH) yang dimulai hari ini (03 Agustus) di Seminarium Sipoholon-Tarutung. Rapat kali ini dihadiri sekitar 1500 pendeta HKBP. Jumlah yang besar untuk menggumuli suatu tema akbar. Website HKBP menyebutkan ada beberapa topik pembahasan, di antaranya: penyeragaman teknis pelayanan pendeta HKBP, teologi persembahan, perkawinan, sakramen, pelayanan holistik dan transformatif. RPH juga akan memilih Ketua Rapat Pendeta (KRP) yang baru. (Melihat pengalaman sebelumnya, KRP menjadi tugas tambahan terhadap suatu tugas pokok, nampaknya sudah saatnya menjadi penuh waktu. Tugas pelayanannya begitu luas. Dan yang terpenting jabatan KRP adalah fungsi pelayanan gembala, bukan posisi atau jabatan bergengsi. Ia tidak terutama berkaitan dengan 'keahlian' melainkan 'keteguhan iman, integritas dan karakter kristiani).
.
Akhir-akhir ini beberapa keprihatinan mengemuka dari beberapa warga jemaat dan pendeta, di antaranya ada yang mengatakan bahwa RPH tidak efektif karena jumlah peserta terlalu banyak, biaya terlalu besar --untuk biaya rapat saja memakan biaya 1.500.000.000 (satu setengah miliar rupiah). Ada pula yang menilai rapat ini menjadi ajang reuni dan sebagainya. Yang lain lagi melihat biaya perongkosan para pendeta ke Tapanuli dan biaya yang harus dikeluarkan mengundang pendeta gereja tetangga untuk pelayanan yang dibutuhkan selama pendeta HKBP berada di Tarutung membuat total pengeluaran RPH amat mahal. Itu sebanya ada beberapa yang mengusulkan agar rapat pendeta HKBP menjadi semacam “Rapat Utusan Pendeta”. (Dapat ditambahkan, barangkali salah satu keunikan HKBP adalah kebiasaannya yang tergolong 'repot rapat'. Di tingkat jemaat, ressort, distrik, pusat lumayan banyak rapat. Tapi, sejauh semua kerepotan rapat ini sebagai bagian dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama atau bagian dari tugas panggilan kita sebagai gereja tidak ada masalah dengan rapat).
..
Perhitungan-perhitungan pengeluaran RPH di atas ada benarnya. Akan tetapi, dalam kehidupan bergereja bukan kalkulator yang paling penting. Sejauh RPH menjadi sarana di tangan Tuhan untuk memperlengkapi para pendeta, semakin meneguhkan komitmen para pendeta untuk melayani-Nya melalui pelayanan gereja-Nya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan rasa kasih, hormat dan takut akan Tuhan, RPH sangat baik dipertahankan (apalagi sekarang sudah berubah menjadi sekali 4 tahun). Artinya, jangan karena pengalaman sebelumnya RPH kurang efektif maka jalan keluarnya ditiadakan atau diciutkan, tetapi dengan membuatnya lebih berkualitas. Mengenai RPH menjadi kesempatan ‘reuni’, sebagaimana sebagian orang memprihatinkannya, tidak ada yang salah di situ. Asal jangan sampai yang pokok menjadi sampingan dan yang sampingan menjadi yang pokok.
.
RPH kali ini merupakan bukti ‘kemurahan hati' Bapa. Kiranya kemurahan hati juga mewarnai seluruh proses rapat dan akan terpancar secara nyata dalam kehidupan dan pelayanan para pendeta sesudah rapat ditutup.
..
Kita doakan bersama kiranya Tuhan, Pemilik HKBP, menguatkan dan memperlengkapi seluruh peserta, panitia dan pemimpin RPH. Kiranya Ia menjauhkan segala ancaman teroris luar-dalam.

Sunday, August 2, 2009

AIR KEMASAN YANG MENCEMASKAN

REFLEKSI MINGGU KE-31
03 AGUSTUS 2009



Air minum kemasan kian deras mengalir ke mana-mana. Bukan saja di kota-kota besar, tetapi juga sudah menjangkau kota kecil hingga desa terpencil. Di Belgia maupun Balige, di Cililitan maupun Parlilitan air kemasan mengalir tanpa rintangan. Dalam skala global industri air kemasan tergolong lahan super-subur. Sepanjang 2008 Singapore, misalnya, mengimpor 135.000 ton air kemasan. Termasuk di dalamnya produk Indonesia. Padahal, National Water Agency PUB Singapura menjamin kualitas air minum yang mengalir di kran rumah-rumah penduduk sangat baik.


Mengapa orang membeli air kemasan? Kelihatannya sedikitnya ada empat alasan. Satu, praktis. Mudah di dapat dan bisa langsung memuaskan rasa dahaga. Dua, anggapan higienis. Pemahaman umum bahwa air kemasan lebih bersih dibandingkan dengan air biasa. Tiga, harga relatif murah dan mudah terjangkau. Ia tersedia di keramaian kota-kota di Indonesia seperti terminal bus dan lain-lain. Para pedagang di Singapur terbilang amat lihai mempengaruhi konsumer. Pusat-pusat perbelanjaan sering menawarkan harga khusus air kemasan merek tertentu dengan harga $1 untuk 3 botol (lebih murah dari Indonesia). Harga sebotol air kemasan tidak terlalu terasa bagi jutaan pembeli, tetapi menjadi lahan basah bagi pihak produsen. Empat, kebanyakan orang tidak tahu dampak buruk plastik kemasannya terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan berkaitan dengan memproduksi dan mendistribusikan air kemasan. Berbagai hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa dalam kondisi tertentu (seperti dalam keadaan panas) bahan kimia plastik kemasan air minum mencemari air tersebut yang dapat menimbulkan kanker.
.
Efek negatif air kemasan terhadap lingkungan hidup di antaranya disebabkan penggunaan minyak bumi dalam memproduksinya. Di Amerika saja 1,5 juta barrel minyak dihabiskan untuk memproduksi ‘botol’ yang digunakan untuk insdustri air kemasan –sama dengan jumlah minyak untuk menjalankan 100.000 mobil selama setahun di sana. Itu berarti bahwa untuk memproduksi botol-botol air kemasan sama dengan menambah karbondioksida yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Itu baru Amerika. Bagaimana dengan total global? Pasti angka yang sangat fantastis. Belum lagi botol-botol bekas air minum kemasan yang berserakan di seluruh dunia yang berdampak buruk terhadap lingkungan hidup.
.Mengacu pada dampak negatif air kemasan dalam kehidupan dan kelestarian alam, maka penduduk kota kecil Bundanoon (Australia) melarang bottled water (air minum kemasan) merupakan sebuah langkah bijak dan bajik. Mereka merupakan yang pertama di dunia melarang peredaran air kemasan. Semoga negara-negara atau kota-kota lain mengikutinya. Tapi sekiranya kota-kota di mana kita tinggal tidak pernah melarangnya, kita dapat melarang diri sendiri. Jika kita semua tidak membeli air minum kemasan, para produsen hanya akan memproduksi untuk kalangaan mereka sendiri. Dan itu tidak akan berpengaruh banyak memperparah pemasan global.
.
.Slogan “Think globally, drink locally” dapat kita jadikan motto keseharian berkaitan dengan air minum. Bagi kita yang keseharian beraktivitas di luar rumah kita dapat menyediakan air minum dalam wadah non-platik. Ini adalah salah satu bagian dari ibadah kita kepada Tuhan: merawat diri kita dan merawat ciptaanNya agar tidak kiamat sebelum waktuNya.


Sunday, July 26, 2009

MENGURUS GEREJA DENGAN HATI

REFLEKSI MINGGU KE-30
26 JULI 2009

‘Rekayasa’ ala pilkada dalam pemilihan kepengurusan gereja terasa agak menggejala akhir-akhir ini, khususnya dalam lingkungan gereja gereja main line (arus utama). Hal ini terjadi dari aras jemaat hingga tingkat sinode atau pusat. Untuk mengangkat majelis, panitia, komisi atau apa pun istilah yang digunakan masing-masing gereja sudah terjadi kasak-kusuk bukan dengan doa khusuk. Lobi untuk menggolkan yang ini dan menjegal yang itu. Amat memprihatinkan dan menyedihkan! Bagaimana mungkin kita memilih pengurus gereja dengan cara yang tidak gerejawi? Apa artinya berjalan apalagi berlari jika kita berada pada jalan yang salah? Maksudnya begini. Sebuah jemaat bisa saja melakukan aneka ‘ragam program’ (seperti outing, lomba, retreat, mission trip) sebagai tambahan terhadap ‘rutinitas’ ibadah, PA, persekutuan kategorial (lanjut usia, Bapak, Ibu, Pemuda/ Remaja, Sekolah Minggu). Ramai dan Sibuk? Mengeluarkan biaya? Ya. Tetapi, semuanya bisa terasa kering. Ada sesuatu yang mengganjal. Gereja ‘dijalankan’ oleh orang-orang yang punya kepala, dompet dan keahlian strategi saja. Kurang menggunakan hati –hati di mana Roh Kudus bertahta. Hati yang beriman.

Keadaan ini tidak lepas dari spiritualitas, integritas dan karakter gembala jemaat. Pengalaman menunjukkan terkadang tidak jelas siapa menggembalakan siapa dalam sebuah jemaat. Tidak jarang seorang gembala justru digembalakan oleh para 'domba'. Gembala digiring seturut keinginan orang-orang atau kelompok tertentu dalam sebuah jemaat. Entah demi mengurangi pekerjaan, entah dalam rangka ‘survive’, atau sekadar mengambil hati. Satu kecenderungan yang mulai kentara belakangan ini ialah seorang gembala tidak merasa bertanggungjawab kepada siapa pun. Pergi ke mana-mana sesuka hati. Menetapkan jam kerja sesuka hati. Mengatakan dan berbuat sesuatu sesuka hati tapa sedikit pun hati-hati.

Horace dengan tepat mengatakan bahwa “Mengawali sesuatu dengan baik sudah setengah selesai”. Masalahnya, kalau sebuah kepengurusan gerejawi dimulai dengan rekayasa duniawi, apakah mungkin mengharapkannya menjadi baik? Meski mungkin tidak dimaksudkan berkaitan dengan kehidupan bergereja, berikut ini ada beberapa amsal yang baik juga kita renungkan dan petik maknanya:

“Anda tidak dapat membuat kepiting berjalan lurus”. (Aristophanes)
“Seekor ikan mati membuat seluruh kolam berbau busuk”. (Pepatah China)
“Jangan mengharapkan musik yang merdu dari gitar yang rusak.” (Pepatah Yunani)
“Jika Anda melemparkan lumpur ke tembok, meski ia tidak melekat, akan menyisakan bekas noda.” (Pepatah Arab)

Berdasarkan ungkapan-ungkapan di atas, suatu awal yang buruk, suatu sikap yang buruk, suatu perilaku busuk, suatu tindakan tercemar akan mengakibatkan aneka persoalan dalam kehidupan khususnya dalam sebuah persekutuan. Pengalaman empiris membuktikan bahwa manusia sulit sekali berubah. Namun demikian, sebagai orang percaya kita tetap berpengharapan. Ketika seseorang berada dalam jalan yang salah, Allah senantiasa memberi kesempatan untuk mengambil jalan kembali.

Bagaimana memilih pengurus gereja? Setiap jemaat pasti memiliki aturan masing-masing. Tetapi, yang lebih mendasar dapat disebutkan sebagai berikut.
  1. Memilih dengan hati nurani. Hati nurani yang dipimpin oleh Tuhan. Hanya dengan demikian kehendak Tuhan dapat mengalahkan setiap kepentingan pribadi sekaligus mengedepankan kehendak Tuhan.
  2. Cara pemilihan dengan suasana doa. Setiap pemilih menyampaikan pilihannya terutama dalam hubungannya dengan Tuhan. Jauh dari sentimen pribadi atau kelompok.
  3. Membantu yang terpilih dalam doa, pikiran, tenaga, teguran dalam kasih, dan dengan apa saja yang Tuhan percayakan.
  4. Di antara yang sangat penting dan mendesak dipahami oleh pengurus gereja adalah: 'apa itu gereja', 'pelayan gereja yang bagaimana' dan 'bagaimana melayani.' Tanpa pemahaman yang jelas dan komitmen yang murni, maka gereja hanyalah organisasi duniawi belaka. Tubuh yang kehilangan roh!
  5. Ketika kita dipercayakan melayani dalam sebuah jemaat, itu lebih merupakan fungsi pelayanan bukan sebuah posisi yang berkaitan dengan gengsi. Kita tahu, kita tetap murid Kristus sampai kesudahan zaman. Kita perlu senanatiasa rendah hati, jauh dari sikap penonjolan diri dan arogan. Kalau kita merasa sebagai orang penting, perlu kita ingat bahwa orang-orang penting yang pernah dikenal dalam sejarah dunia ini, kuburan mereka saat ini ditumbuhi oleh rumput-rumput.

Ada pepatah indah orang Afrika seperti ini: “Sampan tidak dapat maju apalagi melaju menuju tujuan jika setiap orang mendayung menurut arah masing-masing pendayung “. Sangat Alkitabiah bukan? Rasul Paulus sangat menekankan agar dalam jemaat terpelihara kehidupan yang sehati sepikir yang berakar pada kehendak Tuhan.





Sunday, July 19, 2009

BUNGA BERDURI

REFLEKSI MINGGU KE-29
21 JULI 2009


Bayangkan sebuah acara sykuran ulang tahun pernikahan. Seorang undangan menyerahkan setangkai bunga mawar kepada yang berulangtahun dengan mengatakan seperti ini:


Saya akan memotong bunga mawar ini dari tangkainya dan menyerahkan bunganya kepada bapak dengan harapan bahwa bapak akan sukses, termasyhur, dan disenangi banyak orang. Sedangkan tangkai bunga yang berduri ini saya serahkan kepada ibu untuk mengingatkaan bahwa ibu harus menderita. Mempersiapkaan segala sesuatu yang bapak butuhkan untuk bekerja. Ibu harus menguras tenaga mengurus rumah dan merawat anak-anak. Jika anak-anak demam waktu malam, jangan bangunkan bapak, biarkan dia tidur pulas. Ibu harus menanggung derita kurang tidur. Saat bapak pulang kantor atau kerja, siapkan minumannya, letakkan sepatunya pada tempatnya. Jika bapak mau nonton TV, ibu harus menenteramkan anak-anak. Singkatnya, ibu harus menanggung 'duri' atau derita.

Seorang istri yang berpikir 'normal' pasti tidak menerima kata-kata itu. Suami yang berperikemanusiaan pun tidak akan menerima kata-kata itu. Suami-stri adalah satu, yang mestinya bersama-sama mengalami suka-duka kehidupan; sama-sama menanggung beban dan sama-sama merayakana kehidupan.
.
Bunga berduri juga dapat menggambarkan kehidupan ini. Kita mesti melihat kehdiupan secara utuh. Dalam kehidupan ini ada saja 'duri' yang kita alami sejak kecil hingga masa senja. Bentuknya bisa berbeda, tapi semuanya merupakan sesuatu yang tidak enak bahkan menyakitkan: mengerjakan PR untuk lulus ujian, sakit untuk mengingatkan keterbatasan kita; disalahmengerti orang, yang dapat untuk mendewasakan kita; difitnah yang dapat melatih kita untuk lebih bersabar dan tangguh; serta aneka 'duri' kehidupan lainnya. Tetapi, kita perlu memfokuskan diri pada 'keindahan dan keharuman bunga', yaitu anugerah Tuhan dan segala kebaikan-kebaikan yang kita terima dalam hidup ini. Itulah bunga berduri. Jangan hanya berfokus pada duri-duri kehidupan yang hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan orang lain. Fokuslah pada Dia yang sudah menanggung puncak 'duri' kehidupan di kayu salib untuk kesembuhan kita dan sumber keuatan kita menjadi berkat bagi sesama.
.
Satu lagi, jika kita tidak mau (atau tidak mampu) memberi 'bunga' kepada orang lain, paling tidak jangan memberi 'duri'.

Saturday, July 11, 2009

PERASAAN


REFLEKSI MINGGU KE-28

13 JULI 2009


‘Penyedap rasa’ merupakan salah satu di antara yang paling diminati banyak orang saat ini. Tidak hanya dalam makanan, tetapi dalam hampir seluruh ranah kehidupan. TV untuk rasa bosan. Pil tidur untuk rasa ngantuk. Parfum, aksesori, dan pakaian bermerk untuk rasa percaya diri alias pede. Mengapa stimulan kian marak? Karena bagi banyak orang, hidup tidak punya rasa lagi.

Anthony de Mello membedakan dua macam perasaan. Pertama, feeling of the world (perasaan duniawi). Perasaan ini muncul ketika kita: dipuji, ditepuki, unggul dalam argumen, mencapai puncak karir, menjadi juara, menang taruhan, meraih sukses, menjadi bos, memiliki wewenang. Semua ini tidak alami, tetapi diciptakan oleh masyarakat dan ‘keakuan’ kita untuk mengontrol hidup kita. Ini berasal dari pengagungan diri dan promosi diri. Ujungnya adalah kehampaan. Dalam keadaan seperti ini kita mempunyai pilihan: (1) Berpaling ke berbagai ‘penyedap rasa’ yang juga akan berujung pada kesia-siaan dan kehampaan, atau (2) Fokus pada sang Pemberi hidup, yang tetap setia menjaga dan mengasihi kita. Sebab, fokus kita menentukan perasaan kita.

Kedua, feeling of the soul (perasaan jiwa) yaitu perasaan-perasaan ketika kita: menikmati indahnya matahari terbenam; alam yang sejuk dan indah; bunga yang harum dan menawan; sungguh-sungguh menikmati dan menghayati pekerjaan, hobi, membaca buku bagus, berada bersama teman yang kita kasihi, dan terutama menjalani hidup bersama Tuhan yang hidup.

Masih dalam kaiatan itu, pada kesempatan lain Mello mengatakan dengan amat meneguhkan demikian:
.
Hidup ini terlalu berharga diboroskan dalam pengejaran menjadi kaya, terkenal, berpenampilan ‘wah’, populer, kelihatan cantik/ ganteng atau kuatir menjadi miskin, tidak dikenal, dilupakan atau kelihatan berparas jelek. Apakah kita mau menggunakan naskah berharga untuk menyalakan api? Keinginan untuk ‘memberi kesan’ merupakan pemborosan kehidupan kita yang berharga. Sikap seperti inilah yang kebanyakan menyebabkan ketidakbahagiaan di dunia. Jadilah diri sendiri.

Kita dikondisikan oleh masyarakat, orang tua, keluarga untuk memainkan peran. Seolah hidup kita ini dekandilan oleh sebuah remote control: bagaimana kita harus bersikap, apa yang kita katakan, apa yang kita pakai ditentukan dari ‘luar’. Entah supaya kita diterima, disenangi, disanjung, diakui dan sebagainya. Hidup seperti ini adalah sebuah perbudakan. Kehidupan yang demikian biasanya membuat seseorang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kalau ia merasa lebih baik, ia merasa enak, bahkan bisa menjadi sombong dan gampang menghakimi. Kalau ia merasa lebih rendah dari orang lain, ia menjadi cemburu dan iri hati. Padahal, orang yang cemburu dan iri hati tidak mungkin bahagia.

Hidup yang merdeka adalah hidup yang dipimpin oleh suara hati --hati yang didiami oleh Tuhan sendiri. Hidup di dalam Tuhan memungkinkan kita untuk tidak dikendalikan oleh perasaan duniawi, tetapi sebaliknya hubungan kita dengan Tuhan menentukan perasaan kita. Kita tidak melihat peristiwa kehidupan secara sepotong-sepotong. Kita melihatnya secara utuh. Meyer menggambarkannya dengan baik melalui bahan-bahan kue: tepung, telor mentah, pengembang, garam, gula dan sebagainya, yang jika dimakan sendiri-sendiri rasanya tidak enak. Tetapi ketika semua bahan-bahan ini dicampur sedemikian dan dimasak menjadi kue, rasanya menjadi enak. Apakah Anda sedang mengalami rasa pahit, pedas, asam, hambar, manis saat ini? Anda dianugerahi hikmat untuk mengolahnya sedemikian rupa menjadi ‘kue’ kebahagiaan. Selamat mencoba.

Saturday, July 4, 2009

SUKSES dan RASA MALU

REFLEKSI MINGGU KE-27
06 JULI 2009



Agaknya, semua orang ingin ‘sukses’. Tapi tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang ‘sukses’. Umumnya orang mengukur sukses berdasarkan angka-angka atau pencapaian: meraih gelar sarjana, menduduki jabatan atau posisi tertentu, mendapat keuntungan besar, memiliki 2 perusahaan, mendapat sekian banyak piagam peng-hargaan dan sebagainya. Artinya, ‘sukses’ diukur terutama berdasarkan suatu perolehan atau pencapaian. Kelihatannya, ‘sukses’ seperti inilah yang terutama dikejar kebanyakan orang dari dulu hingga hari ini. Dan justru karena pengejaran ‘sukses’ yang demikianlah dunia ini kehilangan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Sebab, untuk sebuah ‘sukses’ manusia memaksa diri, mengenakan berbagai topeng (untuk menarik perhatian anak gadis, laki-laki misanya tampil kren dan pinjam mobil, berlagak orang ‘sukses’), mengabaikan sesama manusia (dengan persaingan tidak sehat dsb), menghancurkan alam ciptaan Tuhan (dengan polusi dan konsumsi berlabihan).

Jika demikian, yang seharusnya malu bukan mereka yang memiliki cukup pakaian sederhana, tetapi mereka yang berlebihan pakaian dan super-mahal pula dengan berusaha menarik perhatian orang lain kepada diri mereka, bukan memperhatikan orang lain yang sangat membutuhkan pertolongan.

Yang seharusnya malu, bukan orang yang gagal menempati suatu jabatan kepemimpinan walaupun dia lebih layak untuk jabatan itu, melainkan mereka yang ‘berhasil’ menduduki suatau jabatan karena berbagai cara dan rekayasa.

Yang seharusnya malu bukan mereka yang makan ala kadarnya di rumahnya dengan hasil jerih payahnya sendiri, melainkan mereka-mereka yang melahap makanan sambil pamer diri di restoran super-mahal padahal hasil curian dan korupsi.

Yang seharusnya malu, bukan mereka yang tinggal di rumah sederhana hasil perjuangan halal mereka, melainkan para penghuni rumah-rumah mewah dilengkapi perabot serba wah serta dilengkapi dengan kamera pengintai, satpam dan anjing raksasa, padahal hasil curian dan penindasan bawahan.

Tetapi, sekiranya orang-orang 'sukses' seperti itu sudah kehilangan rasa malu, kita tidak boleh ‘mempermalukan’ mereka. Toh mereka adalah saudara-saudara kita. Mereka perlu ditolong melalui doa dan sapaan yang menggugah untuk sebuah perubahan dari dalam diri mereka sendiri. Hanya kasih yang dapat menghasilkan perubahan yang baik. Perlu ditekankan pula di sini bahwa tidak semua yang berpakaian bagus itu yang pamer diri, tidak semua orang yang makan di restoran itu dari hasil curian, tidak semua orang yang memiliki rumah mewah itu tukang korupsi.

Dapat ditambahkan, bahwa Gereja yang sukses bukan diukur berdasarkan ‘keberhasilannya’ membangun gedung gereja miliaran rupiah, berhasil juara 1 sedunia paduan suara, memiliki saldo uang segudang (walaupun semua ini tidak salah pada dirinya). Gereja yang sukses adalah gereja yang mewujudkan kehendak Bapa, Sang Pemilik gereja itu sendiri. Singkatnya apakah jawaban gereja dan warga jemaat atas pertanyaan Yesus, “apakah Engkau mengasihi Aku?” Sedihnya, hingga saat ini, kedagingan, keakuan, kelompoksisme, kehausan akan keberhasilan material dan penampilan fisik begitu kuat menjerat gereja-gereja. Kita membutuhkan pertobataan terus-menerus.

Sukses yang sesungguhnya bukan terutama berkaitan dengan pencapaian sebuah prestasi atau posisi; bukan pula diukur dari jumlah uang yang dikumpulkan. Ada dua unsur hakiki keberhasilan yang kristiani. Satu, menerima dan mensyukuri keberadaan diri sebagaimana Tuhan kehendaki. Dua, mewujudkan tugas panggilan sebagaimana Tuhan amanatkan: menjadi garam dan terang dunia atau menjadi berkat. Jadi, sukses adalah ‘menerima’ dan ‘memberi’ diri seturut rencana dan rancangan Tuhan. Kita dapat melihat bagaiamana Yesus ‘mengukur’ sukses kehadiranNya di dunia ini yang berkata: “Aku datang, bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 6:38). Dalam hal ini John C. Maxwell benar ketika ia menekankan salah satu defenisi SUKSES: ‘menaburkan benih yang membangun sesama'.

Akhirnya, kata-kata Jean Fleming berikut amat tepat kita hidupi:
"Jika kita mengijinkan masyarakat mendefenisikan sukses untuk kita, kita menjadi domba yang digembalakan oleh seorang gembala yang defenisinya 180 derajat dari kehendak Allah. Orang Kristen mestinya tidak memiliki motivasi berdasarkan penampilan, status, harta milik atau pencapaian, melainkan atas kesetiaan akan apa yang Allah firmankan. Tolaklah pengertian umum sukses dan suatu saat Anda akan mendengar Tuhan berkata, “baik sekali perbuatanmu, hambaku yang setia”(Mat 25:21).

Sunday, June 28, 2009

MINYAK HABIS 34 TAHUN LAGI?

REFLEKSI MINGGU KE-26
29 Juni 2009


Saat ini 860 juta mobil lalu-lalang memenuhi jalan-jalan di seluruh dunia. [7] Dan pertambahannya meningkat setiap tahun. Jika suatu hari China memiliki satu mobil untuk 4 orang penduduk (seperti gaya hidup Amerika sekarang), maka China akan memiliki 1,1 miliar mobil. Bayangkan, berapa banyak minyak yang akan dilahapnya. Untuk menyediakan jalan dan tempat parkir saja China membutuhkan lahan setara dengan luas pertanian padi yang ada di sana sekarang. China akan membutuhkan 99 juta barrel minyak per hari (padahal produksi minyak saat ini hanya sekitar 84 juta barrel per hari [8]). Jika ini berlanjut terus, diperkirakan minyaka dunia akan ludes 34 tahun ke depan. Kita belum bicara India yang juga berpenduduk 1 miliaran dan Indonesia yang lebih dari seperempat miliar. Jika semuanya ingin sama seperti gaya hidup Amerika, bumi ini akan punah segera.

Kendaraan bermotor ditambah dengan mesin yang menggunakan minyak merupakan penyebab polusi udara yang saat ini sudah berada pada tahap yang sangat berbahaya. Seluruh dunia menghabiskan minyak 28 miliar barel setiap tahun.[1] Amerika Utara dan Asia merupakan pengguna minyak terbesar, masing-masing 25,3 juta barrel dan 21,4 juta barrel per hari.[2] Lebih khusus lagi, Amerika dan China merupakan dua negara yang merupakan sumber polusi terbesar yang mengancam kehidupan bumi ini hingga sekarang.[3] AS, pelahap minyak terbesar dunia, menghabiskan minyak 20,4 juta barrel per hari[4] –24 persen dari total konsumsi minyak dunia setiap hari[5]; sedangkan di China terdapat beberapa kota terpolusi di dunia .[6]

Di samping mengotori udara, polusi dari kendaraan juga merupakan penyumbang terbesar terjadinya pemanasan global yang sudah sangat mengancam kehidupa saat ini.
Di samping kendaraan bermotor, peswat udara juga merupakan sumber polusi udara dan pemanasan global. Pesawat udara diperkirakan menyumbang 3.5 persen terhadap pemanasan global, yang diperkirakan akan bertambah menjadi 15 persen pada 2050[9] seiring dengan pertambahan penumpang peswat udara. Persentase warga bumi yang menumbang pesawat udara sebenarnya sangat kecil, tetapi mengakibatkan polusi udara dan pemanasan global dalam persentase yang relatif besar.
.
Masih perlu kita tambahkan dua kelompok pesawat udara yang lain. Pertama, pesawat-pesawat militer yang juga menghabiskan luar biasa banyak enerji. Kedua, pesawat atau jet pribadi milik para pebisnis atau pengusaha, politikus, selebriti, termasuk televangelis Benny Hinn. Khusus yang disebut terakhir ini, Benny Hinn, ia memiliki rumah mewah seharga 10 juta US$ (sekitar Rp. 111 miliar), ia mengadakan perjalanan dengan jet pribadi dengan pengeluaran US$ 100.000 per bulan hanya untuk jet pribadinya, ia juga memiliki dua mobil Mercedes baru.[10] (Jika Anda menganggap yang seperti itulah yang diberkati Tuhan, kita perlu berpikir ulang!).
.
Pertambahan pesawat pribadi kelihatannya akan terus melaju. Pada tahun 2006 saja ada 40.000 pesawat pribadi yang dibuat. Pesawat pribadi menyemburkan 4 ton karbondioksida setiap jamnya dan hanya membawa sedikit penumpang. Artinya rasio polusi-per-penumpang lebih tinggi dari pesawat komersial. [11]

Apa hubungannya dengan kita?

  1. Keadaan alam ciptaan Tuhan dan milik Tuhan ini, sudah amat tercemar. Yang membuat, bukan hanya ‘mereka’ tetapi 'kita' secara keseluruhan. Sebab, semua yang kita konsumsi atau gunakan (kendaraan, pakaian, peralatan elektronik dsb) juga menyumbang terhadap polusi. Mungkin persentasenya berbeda-beda dari orang yang satu ke yang lain, tetapi pada dasarnya kita semuanya ikut bertanggungungjawab.
  2. .
  3. Sudah saatnya kita secara serius mempertimbangkan pola pikir dan pola hidup kita. Misalnya, kalau dulu jalan-jalan ke luar negeri merupakan sebuah simbol status yang dapat menjadi suatu kebanggaan, saat ini merupakan sesuatu yang perlu dihindari. Lain halnya karena tugas yang tidak bisa terelakkan. Atau, ketika usia sudah ujur, yang merupakan kesempatan terakhir. Ketika kita menumpang pesawat udara, kita ikut menambah polusi dan pemanasan global. Apalagi kalau jalan-jalan malah bukan sebuah refreshing. Saya pernah mendengar satu keluarga berbulan-bulan mempersiapkan perjalanan ke luar negeri hanhya seminggu. Selama seminggu berada di tempat yang dituju, mereka lelah, terkadang bingung dan juga sibuk mengambil foto-foto yang akan ditunjukkan kepada teman-temannya. Liburan pun berlalu tanpa sesuatu yang bermakna. Dalam hidup ini mungkin akan semakin banyak yang dapat kita lakukan, tetapi tidak semuanya perlu kita lakukan. Tidak semua yang mampu kita lakukan baik kita lakukan.
  4. .
  5. Ketika Allah menciptakan manausia pertama dan menghembuskan nafas kehidupan melalui lubang hidungnya, kandungan oksigen segar ada di situ. Allah memberi yang terbaik untuk kita dan kita dipanggil untuk memberi yang terbaik bagi sesama --di antaranya memberi kesempatan kepada sesama untuk menghirup udara segar.

Catatan:

Anda yang ingin mendalami masalah krisis ekologi saat ini, buku-buku dan website berikut merupakan beberapa di antara sekian banyak sumber yang baik.




[1] Colin Mason, The 2030 Spike: Countdown to Global Catastrophe, London: EarthScan, 2003, p. 11.
[2] The Worldwatch Institute, Vital Signs 2007-2008. The Trends That Are Shaping Our Future, New York: The Worldwatch Institute, 2007, p. 32.
[3] Per Larson, Your Will Be Done on Earth: Ecological Theology for Asia. An Ecumenical Textbook for Theological School, Hong Kong: CCA, 2004, p. 16.
[4] http://www.ecobridge.org/content/g_cse.htm, accessed 14 September 2007.
[5] The Worldwatch Institute ,Vital Signs, p. 32.
[6] UN-HABITAT, State of the World’s Cities 2006/2007, Sterling: Earthscan, 2007, p. 15.
[7] Lester R. Brown, Plan B 3.0: Mobilizing to Save Civilization, New York: W.W. Norton & Company, 2008, p. 13.
[8] Brown, Plan B 3.0, p. 13.
[9] http://www.ecobridge.org/content/g_cse.htm, accessed 14 September 2007.
[10] http://www.bible.ca/tongues-benny-hinn-ministries-fake-fraud-miracles-healing-prayer.htm, accessed 23 June 2009
[11] The Worldwatch Institute, Vital Signs, p. 70.

Sunday, June 21, 2009

H U T A N


REFLEKSI MINGGU KE-25
21/06/2009

Salah satu ancaman terbesar dalam kehidupan kita saat ini adalah penghancuran hutan dunia secara besar-besaran. Masalah kemiskinan dan hegemoni kekayaan dua-duanya ada di balik kehancuran hutan. Karena kemiskinan, banyak peladang berpindah yang menebang dan membakar hutan untuk bercocok tanam atau untuk kayu bakar. Orang-orang kaya yang umumnya tinggal di kota-kota memburu komoditi yang berkaitan langsung dengan hutan seperti minyak kelapa sawit, kacang kedele, coklat, daging sapi (untuk membesarkan sapi, hutan juga korban), perabot, kertas dan lain-lain.

Total luas hutan dunia adalah sekiar 4 miliar hektar (sekitar 1/3 dari total daratan). FAO memperkirakan (2000) hutan dunia lenyap seluas 9 juta hektar setiap tahun pada akhir decade abad ke-20 (pengurangan 2,4 persen) Dan antara 1990-2005, hutan dunia lenyap 3 persen dari total luas hutan (berkurang rata-rata 0.2 persen setiap tahun). Penebangan dan penggunaan pohon setiap tahun dalam tingkat dunia diperkirakan: 2,25 miliarton sebagai bahan bakar di negara-negara berkembang; 1,25 miliar ton untuk pembuatan kertas; belum termasuk untuk perabot, bahan bangunan dan sebagainya.

Pengurangan hutan dunia berdampak langsung sedikitnya pada perubahan iklim dan berkurangnya pasokan air tawar. Misalnya, hutan Amazon di Amerika Selatan, yang merupakan hutan terluas di dunia, merupakan sumber seperlima dari total air dunia, semakin menurun tahun demi tahun. Masalahnya bukan hanya berkurangnya hutan secara kuantitas, tetapi juga dari segi kualitas. Itu sebabnya di berbagai negara maju sekarang ini percakapan seputar hutan telah beralih dari “berapa banyak” hutan yang kita butuhkan ke “jenis hutan apa” yang masih tersisa dan yang dapat diciptakan.

Sayangnya, negara-negara maju tersebut sebenarnya mengabaikan kuantitas dan kualitas hutan. Semua Negara-negara kaya dapat memelihara hutannya sendiri tetapi mereka lebih bertanggungjawab dalam hal pemunahan hutan dunia. Edward Brown, misalnya, berkata, “Jepang tidak mungkin memelihara standar lingkungan dan ekonominya jika ia tidak mengambil sumber-sumber alam dari –dan mengekspor masalah-masalah lingkungan ke – negara lain. Jepang dapat mempertahankan hutannya, tetapi ia adalah salah satu pemeran utama pengabisan hutan di Negara-negara lain, seperti Indonesia.” Hal yang sama juga terjadi di negara-negara maju lainnya seperti Eropa, Amerika Serikat, Singapura dan sebagainya.

Di antara sekian akibat berkurangnya hutan adalah sebagai berikut:
  • Terancamnya kehidupan. Hutan ‘memelihara’ lebih dari setengah spesies dunia. Semakin berkurang hutan semakin banyak pula tumbuhan dan binatang yang punah.
    Peranan hutan sangat menentukan curah hujan. Artinya, semakin banyak pohon yang tumbang, iklim juga semakin kacau. Akibatnya, pertanian juga akan mengalami masalah.
  • Pohon-pohon adalah ‘pemakan’ alami karbondioksida (sekitar 20% karbondioksida global menjadi tanggung jawab pohon-pohon untuk ‘mengamankannya). Maka dengan berkurangnya pohon, semakin banyak karbondioksida yang tidak dapat ditangani, pemanasan global pun tidak terelakkan. Dan pemanasan global berarti ‘angsuran neraka’.

Sikap dan tindakan apa yang bisa kita lakukan sebagai orang Kristen?

1. Berangkat dari kesadaran bahwa Allah menciptakan hutan, bukan hanya untuk kebutuhan manusia (apalagi untuk ‘keinginan dan kerakusan manusia). Allah menciptakan bumi, termasuk pohon di dalamnya, karena Ia menganggapnya baik. Lagi pula, semua yang bernafas memuji Tuhan (Mzm 150:6). Ini tidak berarti bahwa kita harus menyembah pohon, sama seperti keyakinan yang pernah ada di beberapa tempat, tetapi menghormati Allah dengan menghargai ciptaan-Nya.
2. Mengaurangi segala sesuatu yang berkaitan dengan perusakan hutan baik secara langsung (menebang dan membakar) maupun tidak langsung (menggunakan secara berlebihan produk hutan, dan yang dapat merusak hutan). Singkatnya, gaya hidup perlu menjadi perhatian serius. Pakaian dan perabot secukupnya. Berkendara seperlunya. Dan sebagainya.
3. Menam pohon di lingkungan rumah, gereja, dan tempat-tempat di mana memungkinkan.


ShoutMix chat widget