Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Monday, October 18, 2010

DOA DAN PENDERITAAN

REFLEKSI SENIN KE-42
18 Oktober 2010

Adik perempuan saya, Bibelvrouw Nurmala Tinambunan, pergi untuk selamanya memasuki kumpulan yang dimenangkan dan ditebus oleh Tuhan pada Selasa, 14 Oktober lalu pada usianya yang ke-42. Sangat muda menurut ukuran rata-rata harapan hidup orang Indonesia. Memang sudah beberapa tahun ia menderita suatu penyakit. Karena pengobatan belum membawa kesembuhan, ia berobat ke Penang. Ia pun keracunan obat, yang membuat sekujur tubuhnya seperti terbakar. Empat hari dirawat di RS Horas Insani, Pematangsiantar yang kemudian, atas rujukan dokter, dipindahkan ke RS Herna, Medan. Sepuluh hari menahan beratnya derita di RS, ia pun pergi untuk selamanya.


Banyak yang berdoa memohon kesembuhan. Usaha sudah dilakukan sesuai dengan kemampuan keluarga. Di tengah duka seperti ini pertanyaan pun mengemuka: “Mengapa Tuhan tidak mendengarkan doa?” Tetapi sesungguhnya, Tuhan menjawab semua doa. Ada kalanya Tuhan memberi jauh melampaui apa yang kita harapkan. Terkadang kita menerima persis seperti apa yang kita dambakan. Tetapi ada kalanya kita menerima tidak seperti yang kita inginkan. Yang pasti, rancangan Tuhan selalu rancangan yang baik kepada anak-anakNya.

Di tengah duka karena kehilangan seperti ini, kesadaran seperti itulah yang menguatkan hati saya menerima kenyataan ini di dalam Tuhan. Hati saya terhibur juga mendengar banyak ungkapan turut berduka dan doa teman-teman dan banyak sahabat. Secara khusus, kotbah yang disampaikan Praeses Pdt B. Sidabutar dalam acara pemberangkatan jenazah di HKBP Parsaoran yang mengatakan, “Tuhan lebih mengasihi kedua anak Bvr Nurmala Tinambunan, Cintya dan Sahat Martua, daripada orangtuanya dan kita semua”. Ya, Tuhan lebih mengasihi Bvr Nurmala Tinambunan, Tuhan lebih mengasihi suaminya Charles Simanjuntak, Tuhan lebih mengasihi kedua anak mereka.

Kini, kami menjadi alat perpanjangan tangan Tuhan menyatakan kasihNya merawat dan membantu Cintya dan Sahat Martua menjalani hidup dan sekolahnya. Bvr Nurmala Tinambunan telah meninggalkan mereka, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda.



Wednesday, July 21, 2010

ANAK: TITIPAN SANG PENCIPTA

Refleksi Senin Ke-29
19 Juli 2010

Ketika berusia lima tahun, anak saya, William, ingin menjadi sapi. Dia pun bertanya, “Apakah bapak tetap menyayangiku kalau aku menjadi sapi?” Tanpa berpikir panjang saya menjawab, “Tidak!” “Tapi aku ‘kan’ tetap anak bapak? Bapak tidak adil!”, protesnya sambil menangis.

Sampai hari ini, pertanyaan itu terus mengunjungi benak saya. Memang, menjadi manusia atau menjadi sapi bukan sebuah pilihan melainkan ketetapan Sang Pencipta. Akan tetapi, keinginan dan pertanyaan itu berkembang. Pertama, bagaimana jika William bermental sapi? Ia hanya merumput dan tidur.Tidak belajar, tidak mengikuti perkembangan iptek, tidak menggunakan internet, tidak masuk dalam persekutuan sosial dan agama. Apakah saya tetap menyayanginya? Kini pertanyaan William mendorong saya di satu segi berusaha sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya agar kelak dia terhindar dari pola hidup sapi. Di segi lain, saya perlu terus menerus melatih diri untuk menerima dan mengasihinya sebagai anak meskipun terkadang hidupnya tidak sepenuhnya berpadanan dengan keinginan saya.

Kedua, keinginan William menjadi ‘sapi’, mengingatkan saya menghindari diri dari keinginan menjadikannya menjadi ‘sapi’: sekadar untuk menghasilkan susu dan daging. Mengharapkannya untuk memenuhi kepentingan dan selera saya. Kata-kata penulis James Dobson berikut amat mencerahkan nurani, “while the baby is on the way, we profess only to want a child who is normal. But from birth on, we want a super-kid! We want for him either the life we didn’t have or a replay of the life we did have. Somehow, their grades, their friends, their style are never good enough. We focus on what they need to improve, seldom on what they have achieved.”

Saya masih terus dalam proses belajar bagaimana mendampingi dan mendidik William. Hanya saja, tugas saya semakin jelas: membuatnya bahagia tanpa memanjakan dan memaksa. Dengan begitu saya dapat memiliki rasa takjub dan syukur kepada Sang Pencipta yang menitipkannya. Dan saya bahagia William menjadi dirinya sendiri seturut rancangan Sang Khalik.

Sumber: Indoconnex Edisi Juli 2010
Penulis: Victor Tinambunan

Monday, September 29, 2008

MEMBUAT BAHAGIA TANPA MEMANJAKAN


Di bawah ini adalah ungkapan hati kami kepada putri kami Dorothy Christi Lois pada ulang tahunnya yang kedelapan. Semoga ada manfaatnya bagi Anda.
***************************
Christi yang baik,
Hari ini 30 September 2008, kami mengingat dan mensyukuri peristiwa yang amat bersejarah dalam hidup kami orangtuamu. Delapan tahun yang lalu, engkau lahir ke dunia ini, oleh kasih dan rahmat Tuhan. Ibumu mengandung engkau selama sembilan bulan. Dr. Silitonga adalah tangan Tuhan untuk membantu engkau lahir di Pematangsiantar.

Christi yang kami kasihi, engkau adalah anak kami, tetapi engkau bukanlah milik kami. Victor Tinambunan memang bapakmu dan Tima Warni adalah ibumu. Tetapi ada satu persamaan mendasar dalam diri kita, yakni: kita adalah sama-sama anak Allah. Kita sama-sama milik-Nya. Dia memelihara hidup kita sama seperti seorang ibu memelihara anaknya.

Dalam ulang tahunmu ini, kami tidak terutama mengingat bagaimana perilakumu yang lumayan banyak juga yang tidak menyenangkan orangtua. Semuanya itu bukan kesalahanmu saja, ada juga karena keterbatasan dan kelemahan orangtuamu. Ada kalanya kami terlalu menuntutmu bertingkah sebagaimana layaknya orang dewasa, padahal engkau masih anak-anak. Hari ini kami lebih memusatkan perhatian pada apa yang Tuhan anugerahakan dan bagaimana Ia dengan kasihNya yang besar terus menuntun engkau hingga hari ini. Mari kita jalani hari-hari pemberian Tuhan ke depan ini dengan lebih baik lagi dengan tetap bersandar pada pimpinan-Nya.

Jadilah dirimu sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Jangan memaksa diri menjadi seperti orang lain yang pasti akan membawa ketegangan. Banyak yang mengasihi kita yang amat berharap agar Christi berbeda atau lebih baik dari anak-anak yang lain, karena --kata mereka-- Christi adalah ‘anak pendeta’. Tetapi saya baru sadar bahwa sesungguhnya, engkau bukan ‘anak pendeta’ karena pendeta tidak punya anak, sama seperti presiden, ephorus dan lain lain tidak punya anak. Engkau adalah anak Victor Tinambunan dan Tima Warni Pangaribuan. Memang bapakmu seorang pendeta, tetapi engkau lahir bukan karena bapakmu pendeta. Jadi, jadilah anak yang baik, bukan karena engkau anak pendeta, tetapi karena engkau adalah anak Tuhan. Jangan menjadi baik supaya 'berbeda' dengan anak-anak lain, tetapi jadilah baik karena itu dorongan suara Tuhan dari dalam dirimu. Kami mengharapkan engkau anak yang baik, bukan supaya kami dipuji orang sebagai yang 'berhasil' mendidik anak, tetapi supaya setiap orang memuji Tuhan Sang Pemberi hidup.

Dorothy Christi Lois yang kami kasihi di dalam Tuhan, mari kita syukuri bersama ulang tahunmu pemberian Tuhan ini dan kita memohon kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan dan panjang umur buat Christi.

Dari yang mengasihimu: Bapak, Mama dan William

Christi di depan Rumah Keluarga Amang dr Silalahi/ br Sihombing
Perum Duta Mas-Batam (awal 2008)



Saturday, May 19, 2007

Pengampunan yang menyembuhkan

(Tulisan berikut diambil dari buku: Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat)

Pengampunan yang Menyembuhkan[1]
(Bacaan: Kejadian 50:15-21)

Perang kepentingan telah meletus ribuan tahun silam dan “gencatan” senjata tak kunjung tiba. Dampaknya amat kentara di tengah-tengah kita: Bangsa ini telah berulangkali dirundung duka! Setidaknya kalau kita sadar bahwa belum lama ini ribuan orang telah mati tragis dalam perang antar agama di berbagai wilayah di tanah air. (Jadi, tidak tepat kalau disebut hanya konflik antar etnis!). Yang terjadi adalah pertumpahan darah. Persatuan kian terancam menjadi persatean, dimana manusia seolah kesetanan saling bunuh.

Para pelaku kejahatan barangkali masih menganggap dirinya sebagai manusia, namun sesungguhnya mereka telah memerankan dan memamerkan kebinatangbuasannya. Kersajama dan hidup bersama yang sudah pernah mulai tumbuh berulangkali pula layu oleh panasnya geram berbagai pihak. Ini amat memilukan hati dan juga sangat memalukan. Bangsa yang tadinya terkenal santun berubah menjadi sangar dan kasar.

Dalam lingkup global kita juga berhadapan dengan aneka derita yang menerpa umat manusia. Di banyak tempat, penghargaan terhadap hak asasi manusia menciut dan alam pun turut menanggung sengsara yang tidak tangung-tanggung. Berbagai roh zaman kian mencengkram dan mencabik-cabik kehidupan. Berbagai penyakit sosial telah menjangkit ke seantero bumi.

Satu hal yang kiranya menyejukkan hati serta memberi pengharapan kepada kita di tengah suasana seperti ini adalah kenyataan bahwa: Allah yang menyapa dan menolong Yusuf ribuan tahun yang lalu adalah Allah yang hidup, menyapa, berkarya dan menolong kita sampai detik ini –sampai pada saat Anda membaca renungan ini. Sekiranya pengakuan demikian amat sulit bagi kita, marilah kita mohon kiranya Tuhan menumbuhkan kesadaran demikian dalam hati kita.
Barangkali pertanyaan kita (dan mungkin merupakan pertanyaan banyak orang ) dewasa ini adalah: jika Ia adalah Allah yang berkuasa mengapa Ia tidak mengubah keadaan ini, padahal Ia mampu berbuat sesuatu? Saat ini kiranya kita bersedia mengubah pertanyaannya menjadi demikian, “Mengapa manusia membiarkan permusuhan, kesadisan dan peperangan terjadi, padahal Tuhan telah menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk mengubah situasi? Artinya, daripada meragukan kuasa Allah lebih baik menggugat diri kita sendiri dan menggugat tindak kekejaman anak-anak zaman ini.

Saudara-saudara Yusuf tiba pada suasana penyesalan berbaur rasa takut. Rasa takut ini bersumber pada asumsi mereka bahwa Yusuf membenci mereka dan ingin membalas dendam. Nampak jelas di sini bahwa kebencian mereka terhadap Yusuf ketika mereka menjualnya sangat nyata, tetapi “kebencian” Yusuf kepada mereka hanyalah angan-angan mereka saja.

Inilah pertama kali saudara-saudara Yusuf menyadari kesalahan mereka. Sepintas lalu nampaknya mereka menyesal hanya karena terpaksa dan terdesak. Namun yang terpenting kita simak adalah kenyataan bahwa mereka (1) mau mengaku bersalah (2) mau menyesali perbuatannya (3) mengusahakan rekonsiliasi (perdamaian).

Yusuf bertindak dengan sangat bijaksana. Ingatlah juga bahwa ia telah melewati dua pencobaan besar dengan gemilang, yang tidak semua orang berhasil menghadapi godaan serupa. Pertama, menolak godaan istri Potifar. Kedua, menolak penyalahgunaan kuasa. Hal ini akan lebih jelas bagi kita dengan memahami bagaimana Yusuf berhadapan dengan tiga “masa”:

(1) Masa silam: kejahatan saudara-saudaranya yang mungkin saja menggores hatinya. Tetapi, di samping itu, ia juga melihat karya Allah dalam setiap peristiwa masa lalu, yang menuntun hidupnya ke arah yang baik. Artinya, perbuatan Tuhan terukir indah dalam sanubarinya. Ketika luka lama (berupa sakit hati, amarah terpendam rasa dendam, dan sebagainya yang menguasai kehidupan, maka hidup pun akan macet dan tidak akan berbuah. Tetapi ketika luka lama sembuh oleh kesabaran, pengampunan dan semangat persaudaraan sejati maka kebahagiaan pun dengan segala buah-buah yang baik akan menjadi bahagian dari kehidupan.
(2) Masa kini: Ia berhadapan dengan saudara-saudaranya secara langsung, yang datang dengan rasa takut. Tetapi Yusuf adalah orang yang takut akan Allah dan ia sedang berhadapan denganNya. Orang yang takut akan Allah tidak perlu ditakuti! “Allahkah aku?”, kata Yusuf. Ia tidak mau mengambil alih hak khusus Allah, yakni: pembalasan. Sebab, pembalasan hanya hak ‘prerogatif’ Allah.
(3) Masa depan: Ia mengatakan, “Aku akan menanggung makananmu dan makanan anak-anakmu” (ay 2). Yang tadinya ditodong, kini berperan sebagai penolong! Hal ini harus kita lihat dalam rangkaian kesadarannya akan pertolongan Allah, bukan atas kekuasaannya pribadi. Dengan demikian, Allah tetap menjadi pusat perhatiannya dalam menghadapi apa dan siapa pun.

Dulu, saudara-saudara Yusuf mengukur kemanusiaan Yusuf sekadar barang “komoditi” yang dapat dijual untuk mendapatkan uang. Tetapi, sekarang Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya sebagai manusia yang berharkat. Ia tidak memendam dendam mentang-mentang ia berkuasa. Memang kesempatan untuk membalas dendam sangat terbuka dan mudah baginya. Ia punya kuasa, harta, dan senjata. Hal ini mengingatkan kita bahwa ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kuasa yang dimilikinya bersumber dari Tuhan, ia akan menjalankannya atas dasar takut akan Tuhan. Yusuf menempatkan diri pada jalan Allah. Kalau Allah mau mengampuni, apakah hak kita memendam dendam? Rasa dendam menghancurkan tetapi pengampunan menyembuhkan dan merawat kehidupan.

Pengampunan Yusuf kepada saudara-saudaranya nampaknya tidak tergerak terutama karena hubungan darah selaku anak-anak Yakub, dan bukan pula atas rumusan kata-kata penyesalan saudara-saudaranya, melainkan terutama, ya terutama, karena kesetiannya kepada Allah. Pengampunan itu bahkan sudah terjadi sebelum saudara-saudaranya memintanya.

Sapaan Yusuf sangat meneguhkan hati, “jangan takut!”. Sapaan yang sangat tepat waktu di kala saudara-saudaranya disesah rasa bersalah dan dibelenggu rasa malu dan takut. Ia bahkan sudah mengatakan hal yang sama sebelumnya (Baca Kej 43:23). Yusuf menunjukkan sikap sebagai sahabat dan bukan sebagai musuh yang siap membabat. Saudara-saudara Yusuf siap akan kemungkinan mendapat hukuman, sebaliknya Yusuf siap dengan perdamaian.

Perhatikan bahwa ia tidak mengatakan, “jangan minta!” atau “jangan katakan kamu bersalah!” –seolah-olah Allah membenarkan dan memakai kejahatan saudara-saudaranya itu untuk tujuan baik. Allah dapat saja mengangkat Yusuf menjadi pengurus kerajaan tanpa tindakan jahat saudara-saudaranya. Tetapi, mereka benar-benar telah bersalah! Yusuf sama sekali tidak membenarkan tindakan itu. Kesalahan harus diakui sebagai kesalahan! Perkataan “jangan takut” berarti, “kamu memang bersalah, tetapi saya tidak akan membalaskannya!” Mengapa? Yusuf tidak sama dengan Allah. Pembalasan hanya ada pada Allah (Ul 32:35). Allah juga beberapa kali berfirman, “jangan takut!” (Lihat 15:1; 21:7; 26:24; 46:3). Yusuf hanya sebagai alat Allah dan tidak pernah menjadi pengganti Allah. Karena itu, percaya kepada Allah berarti hidup seturut dengan kehendakNya.

Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan merupakan keteladanan yang sangat berharga dari Yusuf. Ia akan menyediakan kebutuhan saudara-saudaranya. Yusuf betul-betul menggantikan ketakutan mereka menjadi kecukupan dan kegembiraan. Ini terkait erat dengan iman Yusuf kepada Allah. Jaminan ini tidak mengemuka berdasarkan kemampuannya sendiri, melainkan atas keyakinan akan pemeliharaan Allah.

Dalam dunia yang penuh kelaliman hal ini di luar kelaziman. Sejarah amat sarat dengan peristiwa di mana para penguasa secara leluasa memangsa setiap orang yang dianggap “saingan”. Kita mendengar bahkan menyaksikan orang yang mabuk kuasa yang tidak saja memangsa musuh-musuhnya tetapi juga menghabisi orang-orang lemah yang berjuang hanya untuk sesuap nasi. Untuk meraih kekuasaan seringkali calon penguasa begitu menghormati masyarakat melalui kata-kata manis tetapi setelah mendapat kursi dan posisi, akhirnya korupsi dan kolusi menjadi prioritas utama. Anggota masyarakat yang tadinya dihormati dengan kata-kata manis berubah menjadi sekedar “barang dagangan”.

Belajar dari firman Tuhan ini kiranya pantas kita simak bahwa ketika Allah mengisi dan menguasai hati kita –sama seperti Yusuf-- maka pengampunan akan mengalir seperti air yang menyejukkan dan menghidupkan. Ini perlu mendapat perhatian kita secara khusus karena perdamaian dan persaudaraan sejati hanya dapat terbangun atas dasar “pengampunan yang aktif”. Pengampunan yang aktif dimaksudkan sebagai pengampunan yang tidak membenarkan apalagi membiarkan segala tindak kejahatan. Tetapi juga merupakan tanggung jawab kita untuk memberi tempat bertumbuhnya kesadaran dan persaudaraan. Kebencian membunuh kreativitas, memandulkan rasa persaudaraan dan menghambat pertobatan.

Peristiwa ini sama sekali tidak mengabsahkan berbagai tindakan “menjual” sesama pada zaman ini dengan harapan bahwa Tuhan akan memakai kesempatan itu sebagai proses pelatihan seseorang menjadi pemimpin yang tangguh. Juga, tidak menganjurkan agar kita merelakan diri dijual, dengan harapan bahwa pada akhirnya toh kita akan mempunyai tahta dan harta. Malah kita harus menentang setiap praktek memperjual-belikan sesama manusia dengan tujuan apa pun.
Sekarang dan di masa depan peran kita akan amat beragam. Perlu kiranya disadari bahwa masa depan hanya dapat terbangun melalui ketaatan total kepada Allah. Karena itu, setiap saat mestinya merupakan kesempatan yang penuh rahmat bagi kita untuk memperlengkapi diri kita dengan memperteguh iman, mempertajam kepekaan sosial, dan berjuang dengan sungguh-sungguh.

REFLEKSI PRIBADI ATAU DISKUSI BERSAMA

1. Setelah mengamati kenyataan kehidupan di sekitar kita:
? Sebutkanlah bentuk-bentuk penghianatan dan praktek “penjualan” sesama yang terjadi dalam masyarakat kita?
? Dalam situasi konkret yang kita hadapi, apa saja yang memberi pengharapan kepada kita berdasarkan iman dan kesadaran kita bahwa Allah sedang melakukan sesuatu untuk mendatangkan kebaikan?
? Pengampunan Yusuf kepada saudara-saudaranya menyembuhkan dan memulihkan persaudaraan. Dalam keadaan masyarakat kita yang sedang menderita penyakit sosial yang sangat parah (karena permusuhan dan peperangan), bagaimana pengampunan kita pahami dan terapkan secara konkret?
2. Dalam kondisi masyarakat kita yang diwarnai oleh berbagai ketidakadilan, ada beberapa kemungkinan posisi kita, di antaranya adalah: (1) Korban ketidakadilan, dimana hak-hak kita diabaikan, ada yang berjuang atetapi ada juga yang pasrah; (2) Pelaku langsung ketidakadilan: pelaku Korupsi, Kolusi, Kekerasan dan Nepotisme (K3N), menjual sesama, dan sebagainya. (3) Pelaku tidak langsung ketidakadilan, tetapi dibesarkan oleh hasil ketidakadilan, misalnya orangtua kita pelaku K3N, menindas dan ‘menjual’ orang lain. (4) Bukan korban dan bukan pelaku ketidakadilan, tetapi tidak perduli terhadap masalah ketidakdilan, atau hanya sebatas penonton yang setia. (5) Bukan korban dan bukan pelaku ketidakadilan serta terlibat dalam usaha-usaha advokasi.
Dengan pertolongan Tuhan, temukan dan renungkanlah posisi Anda, kemudian diskusikan bagaimana peran kita melawan ketidakadilan.
[1] Pernah disampaikan pada Pemahaman Alkitab Konferensi Pemuda HKBP (2000) di Sidikalang

Comment:
Ferdinand Nainggolan said:

Amang Pdt. Victor Tinambunan, PhD ( Candidate ) Yth. Sepakat penghinaan dan penindasan menghancurkan perasaan, tetapi pengampunan menyejukkan hati. Tuhan memakai Amang melalui tulisan dan pemberitaan firman Tuhan. Tuhan memberkati
August 8, 2007 11:30 PM

Terima kasih amang Dr Nainggolan atas comment, dorongan dan doanya. Salam

Orangtua dan Anak


Orangtua dan Anak:
Kuasa atau Kasih?
[1]

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)

Kelahiran dan kehadiran seorang anak dalam keluarga merupakan salah satu peristiwa dimana Allah menyatakan kehadiran dan karyaNya yang masih sedang berlangsung. (Tidak berarti bahwa Allah tidak bekerja di tengah keluarga yang tidak atau belum memiliki anak.) Karena itu, menyambut seorang anak adalah menyambut anugerah Tuhan dengan sukacita dan ucapan syukur. Sebagai anugerah, mereka harus dibesarkan dalam keramahan dan bukan kemarahan.

Sekilas pandang, ada yang aneh di sini. Mengapa Paulus berbicara tentang hubungan orangtua dan anak? Jelas, tidak menjadi soal apakah Paulus mempunyai pengalaman mendidik anak atau tidak. Yang paling penting adalah bahwa Paulus mengingat anak-anak yang tidak dilupakan oleh Kristus. Paulus peduli kepada anak-anak karena Kristus peduli kepada mereka. Paulus benar-benar mengikut Kristus dan karena itu ia sungguh-sungguh bergerak seirama dengan gerak Kristus. Tuhan Yesus telah dan sedang menunjukkan kepedulian dan kasihNya kepada anak-anak. RangkulanNya yang begitu hangat dan bersahabat memungkinkan anak-anak bertumbuh dalam suasana rahmat. Dalam hal ini, anak-anak tidak terutama dilihat dari segi “kepemilikan” orangtuanya tetapi dari kepemilikan Kristus; tidak terutama dilihat sebagai tanggungan orangtua tetapi tanggungan dan pemeliharaan Kristus.

Dalam kaitan itu, keluarga merupakan persekutuan iman dengan segala perwujudannya. Artinya, keluarga merupakan jemaat; dan jemaat –sebagaimana disebut oleh Paulus—merupakan satu tubuh dan Kristus adalah kepala. Ketika Kristus menjanjikan dan menjamin: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, itu berlaku juga untuk keluarga; sampai pada hari ini!

PANGGILAN ORANGTUA: TERBUKA KEPADA KRISTUS

Ayat 4 dimulai dengan “jangan membangkitkan amarah…”, tidak dimulai dengan pernyataan positif “didiklah mereka”. Berbeda dengan ayat sebelum dan sesudahnya, yang dimulai dengan pernyataan: “hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan” (ay 1); hai hamba-hamba, taatilah tuanmu…” (ay 5) ”. Perlakuan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak seperti itu mungkin sedang menggejala atau bahkan merajalela ketika itu, sehingga seruan “jangan” lebih mengemuka.

Kepemimpinan seorang bapak yang otoriter biasanya ditandai dengan dua pasal “undang-undang dasar” yang berlaku dalam keluarga.

Pasal 1: Bapak tidak pernah salah.
Pasal 2: Jika bapak salah, berlakukan
pasal 1: bapak tidak pernah salah.

Itu sebabnya ada orangtua yang tidak pernah bersedia meminta maaf kepada anaknya. Tidak heran juga, jika ada anak-anak yang lebih bergembira dan merasa bebas kalau mereka berpisah dengan orangtuanya untuk sementara waktu. Ini merupakan salah satu pertanda pudarnya keakraban di tengah keluarga.

Generasi muda yang memendam amarah dan kebencian dalam hatinya --dan karena itu hidupnya dikendalikan oleh amarah dan kebencian-- menjadikan mereka tertutup kepada Allah, tertutup kepada kebenaran, dan –celakanya—tertutup terhadap kehidupan itu sendiri. Mereka akan cenderung mencari “keakraban” di luar rumah seiring dengan lenyapnya keakraban di dalam keluarga. “Keakraban” di luar rumah ini sering mewujud dengan mengkonsumsi narkotik dan obat terlarang. Ini merupakan semacam “bunuh diri kredit” (angsuran kematian) yang menghancurkan masa depan mereka.

“Jangan membangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu”! Mengapa? Bisa saja anak-anak tidak mengungkapkan kemarahannya tetapi menyimpannya dalam hatinya yang pada gilirannya berkembang menjadi kebencian dan penolakan kepada orangtuanya. Jika kemarahan bersarang dalam hati anak-anak, maka kepatuhan mereka terhadap orangtuanya pun tidak akan tergerak oleh kesadaran dan ketulusan. Mereka berhadapan dengan orangtua yang ‘ditakuti’ karena ‘kuasa’ bukan orangtua yang disegani dan dihormati karena wibawa: yaitu wibawa karena meneladani Kristus dalam kasih dan kepedulianNya kepada anak-anak.

Keluar an 20:12 yang berbunyi, “hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu”, merupakan “standar sosial” umat Israel. Bedanya, pada zaman Paulus, peranan kasih orangtua sangat ditekankan. Sebab, sangat sulit (kalau tidak mustahil) ‘menuntut’ anak-anak menghormati orangtuanya, jika ia tidak mendapat kasih sayang orangtuanya. Orangtua, sebagaimana dinasihatkan disini, adalah orangtua yang tidak terutama menuntut rasa hormat dari anak-anak tetapi menuntut diri sendiri untuk mengasihi dan memberi teladan kepada anak-anaknya.

Salah satu godaan yang bisa saja menghinggapi orangtua adalah menuntut anak-anak dengan mengatakan “lakukan seperti yang saya katakan!” bukan “lakukan seperti yang saya lakukan!” (teladani apa yang saya lakukan!). Kepatuhan yang tulus dari seorang anak kepada orangtuanya dimungkinkan dalam suasana penuh kasih antara orangtua dan anaknya.

Nasihat yang segar hanya dapat mengalir dari hati yang tenteram dan sejuk. Dalam hal ini, orangtua perlu memohon agar Tuhan menganugerahkan “lidah seorang murid” (Yes 50:4). Menyampaikan nasihat memang sulit, tetapi dengan ‘lidah seorang murid’ orangtua dapat mengkomunikasikan sesuatu dengan baik kepada anak-anaknya. Yang jauh lebih sulit adalah memberikan keteladanan. Sebab, seribu nasihat bisa saja tidak bermakna apa-apa tanpa satu keteladanan. Artinya, nasihat tidak terbatas pada kata-kata saja tetapi hidup yang meneladani Kristus, yakni: meneladani Kristus yang lemah lembut dan ramah (2 Kor 10:1), mengasihi, mengampuni, memberi perhatian kepada orang-orang kecil; memberi hidup, dan juga bersikap tegas dan keras menentang kemunafikan dan ketidakadilan.

Orangtua yang tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak adalah orangtua yang membuka hatinya untuk ditenteramkan oleh Tuhan; hati yang diisi dengan hukum kasih yang dari Tuhan; orangtua yang meneduhkan dirinya dalam perlindungan Tuhan. Dalam hal ini posisi anak dan orangtua sama, yakni: sama-sama sebagai anak dan murid Tuhan Yesus. Karena itu, semua orang pantas dihargai dan dihormati.

Mendidik “dalam ajaran dan nasihat Tuhan”, juga berarti “bersama-sama dengan Tuhan”. Tuhan tetap pemilik anak. Tuhan tetap berperan sebagai pemelihara anak. Disini, orangtua berperan sebagai “rekan sekerja Tuhan”.

Tugas panggilan orangtua tidak hanya sekadar mengajar “tentang” Kristus kepada anak-anak, tetapi (dan terutama) bersama-sama datang kepada Kristus. Orangtua dan anak-anak bersama-sama terbuka kepada Kristus! Hanya dengan demikian orangtua dapat menasihati dari kedalaman hati: hati yang disentuh dan didiami oleh Kristus. Sebab, sesungguhnya orangtua yang layak didengar adalah orangtua yang mau dan mampu mendengar Kristus dalam hidupnya. Yang layak ditaati adalah orangtua yang taat kepada Allah.

Nasihat “didiklah” (tidak dikatakan “ajarlah!”), juga berarti “bawa atau arahkan meneladani Kristus”. Dan nasihat ini terkait erat dengan disiplin, baik dalam “kata” maupun “perbuatan”. Disiplin (ada hubungannya dengan disciple) artinya: hidup sebagai seorang murid, yang dalam hal ini sebagai seorang murid Kristus. Sosok orangtua yang layak mendidik anaknya, sebagaimana digambarkan Paulus di sini, adalah orangtua yang berdisiplin, yang bertindak sebagai murid Kristus juga. Jadi, didikan orangtua tidak sebatas agar anak berdisiplin soal waktu, tahu tata krama dsb, tetapi terutama menyangkut iman dan ketaatannya kepada Tuhan. Jika demikian, anak-anak pun akan terbimbing untuk melihat dan memperlakukan orangtuanya sebagai “tangan” Allah. Kepatuhannya juga akan senantiasa digerakkan oleh kepatuhan kepada Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru peranan “pendidik” (paedagogos) umumnya berperan mendampingi seorang anak ke sekolah, menjaga agar terhindar dari bahaya, mengawasi tingkah lakunya di sekolah, di jalan, mengajar soal moral dan sebaginya. Paedagogos yang baik adalah perpaduan fungsi seorang perawat, pendamping dan pembimbing. Inilah salah satu tugas utama orangtua seirama dengan karya Kristus yang merawat, mendampingi dan membimbing anak-anak.

Hal ini mengingatkan kita kepada salah satu pertanyaan yang harus dijawab orangtua ketika membawa anaknya untuk dibaptiskan yang berbunyi: “Apakah saudara-saudara bersedia membimbing anak-anak ini agar mereka mengetahui dan melakukan firman Allah?” Orangtua menjawab, “ya saya bersedia”. “Mengetahui” dalam konteks ini, juga dimaksudkan agar anak-anak “merasakan karya Allah melalui seluruh kehidupan orangtuanya”. Anak-anak merasakan kasih Kristus melalui kasih orangtuanya.

PENDIDIKAN: MENELADANI KRISTUS

Ajaran dan nasihat Tuhan sebenarnya menyatu dalam “kasih”. Kasih di sini tidak saja sebatas hubungan interpersonal “aku-engkau”, tetapi kasih yang menjangkau setiap dan semua manusia. Dapat kita catat bahwa Hitler, yang sadis itu, misalnya sangat ‘mengasihi’ keluarganya. Ia bahkan berdoa dan membaca Alkitab secara rutin bersama keluarganya. Tetapi ia begitu sadis hingga membunuh banyak orang. Inilah bentuk “kasih” yang tidak menjangkau orang lain. Orang yang terbuka kepada Kristus selalu anti terhadap segala sesuatu yang merusak kehidupan. Orang yang terbuka kepada Kristus, selalu terbuka kepada sesama manusia yang di tengah-tengah mereka Kristus berkarya.

Mendidik dalam ajaran dan nasihat Tuhan, mencakup pendidikan kepekaan anak terhadap karya Kristus menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini. Dalam kerangka kepedulian ini juga dibutuhkan sikap “kritis” yaitu menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Kristus.

Pertanyaannya adalah, “apakah gerak keluarga kita memang sesuai dengan gerak pembebasan Kristus?” Pengakuan keluarga akan tindakan Kristus yang adil, mejadi dasar bagi kemampuan keluarga memihak kepada keadilan dan kebenaran. Jika satu keluarga sungguh-sungguh berhadapan dengan Kristus yang memberi diriNya bagi kehidupan manusia, maka keluarga itu juga akan bertindak seturut dengan pembebasan Kristus di dunia ini.

Dari keseluruhan perenungan di atas, yang kita pahami bersama Rasul Paulus adalah bahwa didikan kita mesti bertolak dari keterbukaan akan Kristus. Keterbukaan ini, akan nyata dalam kesediaan orangtua memperlakukan anak-anak sebagaimana Kristus memperlakukan mereka. Di situlah seluruh kehidupan keluarga bergerak dan punya arti!

Akhirnya, ijinkanlah saya mengajak pembaca yang budiman untuk berbicara dalam keterbukaan akan Kristus, merenungkan di hadapanNya beberapa pertanyaan ini.

1. Apakah dalam hidup bapak dan ibu pernah mengalami seolah-olah peristiwa pendidikan Tuhan tidak terjadi dalam keluarga kita? Mengapa!
2. Pernahkan terjadi, bahwa bapak dan ibu begitu bergairah atau bersemangat menasihati anak-anak atau generasi muda, tetapi jauh dari Kristus?
3. Apakah ada gerak dalam keluarga kita yang menyuburkan sikap di mana kita tidak terlibat dalam gerak Kristus yang peduli terhadap kehidupan sesama kita?
4. Apakah kita terbuka pada penyegaran kembali akan kasih, nasihat dan ajaran Kristus? Bila demikian, penyegaran ini akan kita temukan di saat kita mengasihi anak-anak dan generasi muda.
[1] Sebelumnya pernah disajikan sebagai pengantar Pemahaman Alkitab pada Sinode Agung HKBP (2000)

Masalah Kekerasan

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)
Ditinjau dari Ajaran Martin Luther
[1]


Jika setiap keluarga menyapu halaman rumahnya,
Maka seluruh kota akan bersih.

(Pepatah Jerman)

PENGANTAR

Reformator Luther amat prihatin terhadap masalah para orangtua dan kaum muda pada zamannya, yang ia sebut tidak terkendalikan. Luther berkata, “Orangtua juga tak banyak gunanya. Orang tolol justru mendidik orang tolol. Anak-anak mereka hidup sama seperti orangtuanya”[2] Berkaitan dengan keprihatinan itu Luther berusaha mengajak para orangtua dan anak-anak untuk sungguh-sungguh berpaling pada Allah dan menghayati firmanNya dengan benar.
Luther tidak saja mengajak atau menasihatkan, tetapi ia menghidupi apa yang ia imani dan melakukan apa yang ia katakan. Ia berdoa setiap pagi dan setiap ada kesempatan, dengan Doa Bapa kami, Kesepuluh Firman, Pengakuan Iman Rasuli, membaca mazmur, bahkan membaca katekismus juga.

PERNIKAHAN

Akhir-akhir ini tidak sedikit keluarga yang kandas pada perceraian. Kenyataan ini lebih parah di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan lain-lain yang tingkat perceraiannya sangat tinggi. Di negara-negara tersebut terdapat banyak single parent yang berdampak buruk pada perkembangan dan kepribadian anak-anak di tengah keluarga. Pengalaman serupa sudah mulai melanda Indonesia, terutama di kota-kota termasuk di dalamnya keluarga-keluarga Kristen.

Dalam sebuah ‘kotbah pernikahan’ yang disampaikan oleh Luther, ia menekankan ‘kasih’ sebagai nilai dan pengikat tertinggi sebuah pernikahan. Pernikahan adalah sebuah perjanjian kesetiaan.[3] Luther menekankan perlunya pendampingan pra-nikah, baik dari orangtua maupun dari Gereja. “Janganlah seseorang buru-buru menikah sebelum memahami hukum Tuhan dan sebelum dapat berdoa dengan baik.”[4]

Seperti sudah disinggung sebelumnya, bahwa seluruh uraian Luther tentang pernikahan mencerminkan bahwa ia menjungjung tinggi kesetaraan. Hal ini terlihat misalnya dengan kata kunci saling. Di antaranya:

- “Sungguh penting suami dan istri hidup bersama-sama dalam kasih dan kerukunan, sehingga mereka saling memperhatikan dengan sepenuh hati dan benar-benar setia satu sama lain (saling setia)”[5]
- Luther menegaskan bahwa “Paulus terus menerus mengingatkan para suami dan istri untuk saling mengasihi dan menghormati”.[6]

Apa yang diungkapkan oleh Luther perlu mendapat perhatian khusus keluarga Kristen dewasa ini. Data-data menunjukkan bahwa tingkat perceraian keluarga Kristen meningkat dari tahun ke tahun (terutama di kota-kota).

ORANGTUA TERHADAP ANAK

Tidak diragukan bahwa Martin Luther sangat memberi perhatian pada anak-anak. Ia menyusun Katekismus untuk mengajar anak-anak dan orang awam agar bertumbuh dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan.

(1) Tugas Orangtua

Usaha utama para orangtua adalah menasihati dan membina anak-anak untuk menjunjung tinggi Firman Tuhan. Tugas ini sudah ditegaskan secara khusus ketika orangtua membawa anaknya untuk dibaptiskan.

Luther menegaskan, hendaknya orangtua tidak mempersiapkan anak-anaknya hanya untuk menyenangkan dunia dan menjadi kaya, tetapi sejak dini harus dipersiapkan menjadi seorang Kristen yang baik.[7] Penegasan Luther ini perlu mendapat perhatian khusus para orangtua dewasa ini di tengah kecenderungan banyak orangtua yang lebih memikirkan pendidikan anaknya supaya kelak mendapat pekerjaan, jabatan dan menjadi kaya, tetapi kurang menekankan pendidikan karakter dan nurani. Hal ini amat kentara dengan hilangnya persekutuan doa di keluarga dan kurangnya keaktifan kaum muda dalam mengikuti ibadah di gereja.

Dengan tegas Luther mengatakan, “Setiap kepala keluarga harus mengingat bahwa oleh pesan dan perintah Allah mereka wajib mengajar dan mengusahakan agar anak-anak mereka mempelajari apa yang seharusnya mereka ketahui. Mereka hendaknya aktif dalam perayaan Perjamuan Kudus.[8]

Para orangtua juga hendaknya mengharuskan anak-anak dan pemuda untuk aktif dalam ibadah Minggu. Sebab, hari Minggu dimaksudkan juga untuk memberitakan firman Allah kepada kaum muda dan orang banyak (Penjelasan Hukum Taurat IV). Seruan Luther tidak mendapat tempat sepantasnya pada orang-orang Jerman hingga hari ini, terbukti dengan kehadiran peserta kebaktian di gereja-gereja Jerman yang sangat sedikit jumlahnya. Kenyataan ini hendaknya tidak terjadi pada gereja-gereja di Indonesia.

Sebuah hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa rata-rata Kecerdasan Intelektual (IQ) generasi sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan satu generasi sebelumnya, tetapi Kecerdasan Emosional (EQ) generasi sebelumnya lebih baik ketimbang generasi sekarang. Hal ini dapat dimengerti mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan fasilitas generasi sekarang lebih baik seperti adanya komputer, internet dan sebagainya yang sebelumnya umumnya tidak digunakan oleh orangtua mereka. Tetapi perbaikan berbagai fasilitas yang ada itu tidak serta merta diimbangi dengan pendidikan karakter generasi muda. Itu sebabnya ada kesan bahwa anak-anak atau pemuda sekarang lebih tidak peduli, memiliki tata krama yang rendah dan sebagainya dibandingkan dengan orangtua mereka.

(2) Metode Pendidikan Anak

Ada begitu banyak kasus kekerasan terhadap anak, walaupun terkadang dikemas dalam slogan demi pendidikan anak. Tidak sedikit anak yang mengalami tindak kekerasan di tengah keluarga, mengalami kekerasan juga di lingkungan sekolah oleh guru, bahkan –ironisnya—ada pula anak-anak sekolah Minggu yang dipukul oleh guru Sekolah Minggu supaya diam dan tenteram. Di manakah tempat yang aman bagi seorang anak yang mengalami hal demikian setiap hari?

Luther menekankan bahwa cara pendidikan anak-anak dan kaum muda hendaknyalah dengan cara sederhana, ramah, gembira dan bergurau (Lihat uraian Luther tentang Hukum Taurat II). Itu artinya menghindari segala bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik (memukul, menjewer dan sebagainya) dan kekerasan psikologis: mengancam, menakut-nakuti, menghina, merendahkan dan sebagainya).

Luther menganjurkan agar setiap kepala keluarga wajib menanya anak-anaknya sekurang-kurangnya sekali seminggu untuk melihat apakah mereka telah mempelajari katekismus dan sejauh mana mereka mengetahuinya. Orangtua perlu melatih anak-anak untuk mengulangi setiap hari, ketika mereka bangun tidur, ketika mereka hendak makan dan ketika mereka hendak tidur malam.[9] Luther sendiri menerapkannya kepada anaknya.[10]

Sebagai tambahan, orangtua dapat mengajar anak-anak dengan mazmur dan kidung pujian yang didasarkan pada Katekismus, untuk meresapkan apa yang telah mereka pelajari, supaya kaum muda dituntun kepada Kitab Suci dan makin berkembang setiap hari.

Jika orangtua gagal mendidik anaknya, Luther menganjurkan agar orangtua meminta pertolongan orang lain. Semua usaha perlu ditempuh karena, seperti Luther katakan, ‘anak-anakmu adalah gereja, mimbar, dan perjanjian”.[11]

Apa yang dikemukakan oleh Luther secara tidak langsung berpadanan dengan kerinduan Mahatma Gandhi yang dengan amat mengesankan mengatakan sebagai berikut.

Kalau kita berusaha untuk menciptakan damai di dunia ini, kita harus mulai dengan anak-anak. Dan kalau mereka bertumbuh dalam keluguan alaminya, kita akan memperoleh buah-buah yang dicita-citakan dan kita akan hidup dengan memiliki semangat kasih agar mampu menjadi mengasihi dan memiliki semangat damai sehingga mampu menjadi pencipta perdamaian, hingga akhirnya semua sudut penjuru dunia diliputi oleh perdamaian dan kasih, yang entah disadari atau tidak disadari merupakan kehausan seluruh jagat raya ini.[12]

Dapat ditambahkan bahwa keberadaan anak di tengah keluarga, bukanlah sebagai aset atau sebuah alat pencapaian cita-cita orangtua semata. Sebagai yang demikian, segala unsur pemaksaan ‘memformat’ anak sepenuhnya menurut kehendak orangtua (biasanya disebut dengan mental pigmalion) mesti dihapus dari kamus keluarga.

Seorang pakar dan pemerhati pendidikan terkemuka di Indonesia, D. Drost, SJ., misalnya menyebut beberapa kesalahan yang cukup sering dibuat orangtua, yakni:[13]
¨ Menuntut Sekolah TK mengajarkan berhitung dan membaca, dan menuntut SD mengajarkan bahasa Inggris.
¨ Menyuruh anak SD yang peringkatnya biasa-biasa saja mengikuti bimbingan belajar dan mencarikan guru les untuk meningkatkan peringkatnya.
¨ Memaksa anak TK dan SD masuk les musik dan tari, padahal anak tidak berbakat.
¨ Mencarikan anak SLTP guru-guru les supaya peringkatnya tinggi.
¨ Memaksa anak SLTP masuk SLTA yang terlalu berat.

Semuanya itu, masih menurut Drost, memperlihatkan bahwa orangtua tidak menerima anak apa adanya. Anak bukan anak itu lagi, tetapi rekaan orangtua. Tidak lagi demi kebahagiaan anak, tetapi demi kepuasan orangtua. Itu bukan bimbingan, melainkan penggiringan.
Dapat dibayangkan bagaimana seorang anak akan merasa tertekan bahkan frustrasi dengan penggiringan demikian. Konsekuensinya, anak akan bertumbuh dalam suasana tertekan dan kehilangan kegembiraan sebagai salah satu penghambat pertumbuhan kepribadian dan karakter yang sehat.

Dapat ditambahkan bahwa apa yang diungkapkan oleh Dorothy Nolte berikut dapat menjadi pertimbangan bagi para orangtua dalam pendidikan anak:[14]
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dalam permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.
Jika anak diajarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,
Ia belajar menemukan cinta dan keadilan.

Yang hendak dikemukakan di sini ialah pentingnya orangtua memohon hikmat dari Tuhan untuk memampukan mereka mendidik dan mengasihi anak-anak sebagaimana Tuhan sangat mengasihi anak-anak.[15]

(3) Masalah Kekerasan Terhadap Anak

Amat tegas dan jelas bahwa Luther anti-kekerasan terhadap anak. Ia mengatakan, “kalau kita harus memaksa mereka dengan rotan dan tamparan, kita tidak akan membuat mereka menjadi orang yang berbudi; paling-paling mereka baik selama mereka diancam dengan rotan. Pendidikan yang saya maksudkan berakar dalam hati dan melatih anak-anak dan kaum muda untuk menghormati Allah, bukan rotan dan pentung.”

Luther berpendapat bahwa sesuatu yang baik akan berakar, bertumbuh dan berbuah dan akan berkembang menjadi orang-orang yang dapat memberi kegembiraan dan kesukaan bagi seluruh negeri.

Karena itu, masih menurut Luther, hendaknya kita menghimbau dan mendorong anak-anak untuk menghormati nama Allah serta terus menggunakannya dalam hal apa pun yang terjadi atas mereka atau apa pun yang mereka perhatikan. (Lihat Penjelasan tentang Hukum Taurat II)

Dapat ditambahkan bahwa Luther dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak dapat memaksa seseorang untuk beriman (termasuk orang tua tidak dapat memaksa anak-anaknya untuk beriman), (Pengantar Katekismus Kecil). Kata ‘memaksa’ di sini identik dengan kekerasan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak dalam bentuk kekerasan psikologis (mengancam, menakut-nakuti, merendahkan, menghina dll.), kekerasan fisik (memukul, melukai, memaksa bekerja melampaui kemampuan anak dsb) serta kekerasan non-fisik (seperti pengabaian dengan tidak memberikan pengobatan jika anak sakit) harus dihindari.

ANAK TERHADAP ORANGTUA

Dalam berbagai kesempatan, Luther menekankan sikap baik anak terhadap orangtua seperti mengasihi, menghormati, memperhatikan kebutuhan mereka ketika mereka tua atau sakit dan sebagainya.

(1) Sikap Anak terhadap Orangtua

Luther menekankan bahwa Allah tidak hanya menyuruh kita ‘mengasihi’ orangtua tetapi juga menghormatinya.[16] Hal ini dapat dimengerti karena anak-anak mendapat kasih Allah melalui kasih orang tua. Pemeliharaan Allah nyata melalui pemeliharaan orangtua terhadap anak. “Mereka (anak-anak) memperoleh tubuh dan hidup dari orangtuanya, serta dipelihara dan diasuh oleh mereka. Jika tidak, tentu sudah ratusan kali mereka mati lemas dalam kotorannya sendiri”.[17]

Karena itu, menurut Luther, anak-anak harus mengasihi dan menghormati orangtuanya yang mewujud dalam sikap sopan, rendah hati, berbicara kepada mereka dengan penuh kasih dan kelembutan, tidak menghardik. Luther menambahkan, anak harus mengormati orangtua mereka kendatipun mereka sangat hina, miskin, lemah dan aneh, mereka tetaplah ayah dan ibu yang diberikan Allah.[18]
[1] Merupakan pengembangan dari ceramah yang disampaikan pada Lokakarya Theologia bagi Warga Gereja, Toledo Inn, Ambarita-Samosir, 11 Nopember 2005
[2] Martin Luther, 1996, hlm. 56
[3] Timothy F. Lull (Ed.), Op.Cit., hlm. 633
[4] Ibid., hlm. 635
[5] Martin Luther, 1996, hlm. 82
[6] Ibid., hlm 83
[7] Timothy F. Lull, op.cit., hlm. .636
[8] Martin Luther, 1996, hlm. 227-228
[9] Martin Luther, 1996, hlm 9
[10] John Bidel Pasaribu (Penerj.), Katekismus Dr Martin Luther, Jakarta: Yayasan Borbor, 2004, hlm. 30.
[11] Timothy F. Lull, Op.Cit., hlm. 637
[12] Dikutip oleh Paskalis Bruno Syukur, “Pendidikan dan Sekolah Berwawasan Ekologis dalam Terang Pemikiran Bonaventura”, dalam Eddy Kristiyanto, (Ed.), Spiritualitas dan Masalah Sosial, Jakarta: Obor, 2005, hlm. 139
[13] J. Drost, Dari KBK sampai MBS. Esai-esai Pendidikan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005, hlm. 103
[14] Sebagaimana dikutip oleh Agustinus Alibata, “Anak-anak Korban Pola Asuh Orangtua” dalam KOMPAS, edisi Minggu, 7 April 2002, hlm. 27
[15] Uraian lebih rinci tentang hal ini lihat Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat, Gunungsitoli: STT BNKP, 2004, khususnya bagian “Orangtua dan Anak: Kuasa atau kasih”, hlm. 79
[16] Martin Luther, 1996, hlm. 51
[17] Ibid., hlm. 58
[18] Ibid., hlm. 51

ShoutMix chat widget