Showing posts with label KECERDASAN EMOSIONAL. Show all posts
Showing posts with label KECERDASAN EMOSIONAL. Show all posts

Sunday, November 28, 2010

T E M P A T

REFLEKSI SENIN KE-48
29 Nopember 2010

Seorang sahabat menuturkan betapa indahnya pengalamannya dua puluh tahun lalu semasih kuliah. Ia mengaku kampusnya begitu indah, teman-temannya sangat baik, dosen-dosennya berkualitas. Padahal, dulu ketika ia menjalani perkuliahannya, kampus itu dirasa bagai penjara yang kalau bisa sesegera mungkin ditinggalkan dan memulai suatu suasana kehidupan yang baru.

Agaknya sahabat saya ini tidak sendirian. Mungkin setiap orang pernah merasa jenuh bahkan membenci suatu tempat atau keadaan dan berusaha keluar dari tempat tersebut tetapi justru berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih tidak mengenakkan. Sering kali suatu keadaan yang kita bayangkan jauh lebih indah pada saat diidam-idamkan dibandingkan dengan ketika mencapai atau menemukannya.

Yang jelas, setiap tempat dan keadaan yang tidak kita sukai adalah penjara bagi kita. Ada dua cara utama untuk keluar dari penjara seperti itu. Pertama, keluar secara fisik. Tanggalkan dan tinggalkan! Langkah ini dapat diambil jika masalahnya terutama pada orang sekitar atau lingkungan itu sendiri. Langkah ini memang tidak selalu mudah, tetapi butuh keberanian dan usaha gigih. Misalkan Anda menyewa rumah atau kost di lingkungan yang terpolusi s atau tempat-tempat mangkalnya para pemabuk, penjudi, pencuri. Memang yang paling ideal adalah kalau kita tidak terkontaminasi oleh lingkungan sekaligus bisa mengubah keadaan. Tetapi, jika keadaan tidak berubah bahkan kita cenderung terkontaminasi oleh lingkungan maka lebih baik meninggalkannya. Rasul Paulus pernah menegaskan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Jika ini yang terjadi, maka keadaan masa lalu bukanlah sesuatu yang kita rinddukan.

Kedua, mengubah sikap dan cara pandang kita terhadap tempat dan keadaan itu. Langkah ini dapat ditempuh terutama jika masalahnya terutama ada dalam diri kita. Mungkin harapan, gengsi, standard kita terlalu tinggi, kita kurang kesabaran dan toleransi dan sebagainya. Maka, mengubah sikap dan cara pandang kita menjadi sebuah keharusan. Orang yang benar-benar meringkuk dalam penjara pun dapat mempunyai sikap yang berbeda satu sama lain. “Dua orang meringkuk dalam penjara yang sama melihat ke luar dari jendela kecil. Yang satu melihat ke lumpur di jalanan, yang lainnya melihat indahnya bintang-bintang di langit”. Jadi, kalau orang yang meringkuk dalam penjara sungguhan pun dapat memaknai keadaan dan pengalamannya, apalagi kita yang bebas melakukan pilihan-pilihan baik kita.

Bercermin pada yang kedua ini, maka kita tidak akan buru-buru angkat kaki meninggalkan pekerjaan, pindah rumah, memisahkan diri dari suatu persekutuan, seperti membuka gereja baru, kelompok baru dan sebagainya. Sebab, dengan menempuh langkah ini mungkin saja kita sedang menciptakan penjara bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Menguji dan mengkaji segala sesuatu dengan hikmat merupakan bagian integral dari iman.

Sunday, November 14, 2010

BERBEDA, BOLEH?

REFLEKSI SENIN KE-46
15 Nopember 2010

Mobil suami-sitri Bapak dan Ibu Sipahutar terhenti sejenak. Seekor ular berwarna-warni melintas di tengah jalan pada malam itu. Sambil menyaksikan ular itu melintas Pak Sipahutar berkata kagum “Wah, cantik sekali”. Sedangkan ibu Sipahutar berkata, “Ah, menjijikkan dan mengerikan”. Dua kesan yang sangat berbeda terhadap suatu objek. Tetapi, mereka tetap menikmati perjalanan dan hidup damai meski berbeda. Si ular juga hidup dengan damai dalam dunianya.

Dua pendapat di atas sebenarnya berpotensi menjadi perdebatan sengit hingga pertengkaran Bapak dan Ibu Sipahutar. Bayangkan jika Ibu Sipahutar mulai mengembangkannya ke topik percakapan lain dengan mengatakan, “Papa kejam sekali, masakan papa bilang ular yang menjijikkan dan menyeramkan itu ‘cantik’, padahal kita sudah menikah 30 tahun satu kali pun papa tidak pernah bilang mama ini cantik”. Apalagi kalau Pak Sipahutar berkata begini, “Lha, mama baru tahu bahwa ular lebih cantik dari mama? Ini seius ma!” Kalau Ibu Sipahutar semakin tak terkendali, bisa-bisa ia berkata, “turunkan saya di sini, nikah sama ular aja kamu!” Pak Sipahutar dan Ibu Sipahutar bisa bertengkar dan ular sudah tenang dalam belukar.

Perbedaan pendapat akan selalu ada. Tetapi perbedaan tidak harus berujung pada pertengkaran. Hal ini bisa terjadi jika setiap orang yang memiliki sebuah pendapat berusaha sebaik-baiknya dan sejernih-jernihnya memahami sudut pandang orang lain. Misalnya, mengapa Pak Sipahutar mengatakan ular itu cantik dan mengapa Ibu Sipahutar mengatakannya menjijikkan dan mengerikan. Dengan mengetahui alasan di balik pernyataan sesama, seseorang paling tidak dapat memahami, meskipun tidak harus menerima atau sependapat dengan mitra bicaranyha.

Di samping itu, perbedaan pendapat harus disikapi dengan argumentasi bukan dengan emosi negatif, apalagi mengaitkannya dengan masalah lain yang tidak relevan. Misalnya, dalam kasus di atas, pernyataan suami bahwa ‘ular itu cantik’ dan tidak pernah mengatakan istrinya cantik itu sama sekali tidak bisa disamakan bahwa suami melihat ular lebih cantik dari istrinya. Persoalan muncul ketika si istri menafsirkan bahkan menyimpulkannya seperti itu. Jadi, perlu menanggapi suatu pendapat atau kesan berdasarkan sudut pandang yang memberi pendapat atau kesan bukan berdasarkan rekaan atau penilaian yang mendengarkannya saja.

Yang paling penting dari semua itu, hubungan antar pribadi sangat menentukan kualitas percakapan. Jika ada saling menerima dan saling mengasihi, percakapan akan mengalir dengan baik. Sebaliknya, kalau hubungan antar pribadi kurang harmonis, kata-kata yang baik pun bisa ditanggapi secara negatif. Maka terapi hubungan diperlukan setiap saat. Hubungan baik itulah yang membuat Bapak dan Ibu Sipahutar menikmati perjalanan dan hidup damai meskipun ada perbedaan pendapat mereka.

Sunday, October 24, 2010

PELAJARAN DARI HUJAN

REFLEKSI SENIN KE-43
25 Oktober 2010

Sudah seminggu lebih hujan tak turun. Debu jalanan mulai berterbangan. Tanaman yang tadinya mekar tampak tak segar. Suhu meningkat dan keringat pun bercucuran. Akhirnya, hujan deras pun turun seperti air ditumpahkan dari langit. Orang-orang berhamburan: menyelamatkan jemuran, menutup dagangan, dan mencari perteduhan. Terlihat ada yang merasa kesal dan sial. Rasa kesal dan sial ini tidak berdasarkan kelompok profesi, tetapi berdasarkan ‘suasana hati yang menyikapinya’. Ada pedagang es dan rujak yang merasa sial karena terpaksa harus pulang berhubung penurunan minat pembeli. Tapi, ada juga pedagang es dan rujak yang lain yang menerima tanpa perubahan raut wajah, karena sudah bersiap untuk menghadapinya dan tidak dapat berbuat apa-apa mencegah hujan. Di sudut yang lain tampak anak-anak telanjang dada berhamburan mandi hujan dengan teriak keceriaan. Berbeda dengan orangtua mereka yang suaranya meninggi menghardik anak-anak mereka untuk masuk ke rumah dan mandi. Beberapa orang dewasa lainnya yang sehari-hari menyiram depan rumahnya yang berdebu merasa lega karena curahan hujan mengambil alih tugas mereka. Lain pula sekelompok orang korban banjir bandang yang keluarga mereka beberapa waktu lalu terhanyut banjir. Kehadiran hujan kali ini membuka kembali memori duka.

Satu peristiwa turunnya hujan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Di sini, masalahnya bukan hujan melainkan keadaan orang-orang yang menerima curahan hujan. Keadaan ini menggambarkan hampir semua peristiwa kehidupuan. Reaksi-reaksi manusia amat teranyam ketat dengan kondisi (emosional) masing-masing. Karenanya, ketika kita bereaksi terhadap sesuatu kita tidak saja memperhatikan peristiwa ‘luar’ yang terjadi tetapi juga (dan terutama) memeriksa ‘ke dalam’, keberadaan, suasana hati atau kondisi emosional kita. Kita bisa saja kecewa, marah, mengutuki, padahal masalahnya bukan terutama suatu peristiwa yang terjadi, melainkan keadaan kita: ingin cepat mencapai sesuatu, merasa agenda pribadi kita terganggu, penghasilan kita menurun, orang lain untung dan kita merasa rugi, dan lain-lain.

Tetapi, kembali kepada hujan, ada yang berbeda sekarang ini. Hujan bukan semuanya lagi ‘alami’ tetapi sering terjadi ketidakteraturan dan curah hujan berlebihan atau malah sangat kurang untuk daerah tertentu karena perubahan iklim global; dan perubahan iklim global disebabkan oleh kerusakan alam ciptaan Tuhan ini. Kerusakan alam terutrama disebabkan oleh kerakusan manusia. Hujan juga sudah tercemar atau terpolusi. Jadi, menyaksikan hujan turun sekarang ini, kita tidak hanya menerimanya sebagai sesuatu yang alamai dan mensyukurinya sebagai pemberian Tuhan, tetapi juga berbuat secara konkrit merawat alam ciptaan Tuhan ini sebaik dan sebijaksana mungkin. Usaha konkrit yang dimaksudkan anatara lain: menghindari diri dari pola hidup konsumerisme, tidak atau sedikitnya sangat membatasi diri menggunakan barang-barang sekali pakai (kemasan minuman, manakan dll), menanam pohon, menggunakan kendaraan hemat bahan bakar dan sebagainya. Jangan sampai bumi ini kiamat sebelum waktu yang Tuhan tentukan.



Sunday, September 26, 2010

CITRA DIRI

REFLEKSI SENIN KE-39
27 September 2010

Yang dimaksudkan dengan ‘citra diri’ di sini adalah ‘bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain’. Kita dapat membedakan tiga bentuk citra diri berdasarkan ‘penggeraknya’.

1. Menurut keinginan sendiri

Seseorang meginginkan dirinya seperti ini atau seperti itu dan sudah tampil seperti yang diinginkan walaupun belum atau bahkan tidak akan pernah mencapai seperti yang diinginkan itu. Ia pun tampil sebagai seseorang yang berbeda dengan dirinya yang sebenarnya. Ia hanya tampil ‘seolah-olah’: seolah-olah pintar, seolah-olah kaya, seolah-olah bintang film, seolah-olah penguasa. Sadar atau tidak, seseorang itu selalu mengenakan ‘topeng’. Menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang asli. Itulah sebabnya mengapa remaja atau pemuda yang baru saja menonton film ‘action’ berjalan seperti jago karate. Baru menonton balab mobil, pulang mengendarai mobilnya merasa seperti Schumacher, padahal mobilnya hanyalah Suzuki Carry. Atau, seseorang yang ingin tampil kaya membeli dompet seharga Rp.1 juta yang didalamnya diselipkan beraneka kartu-kartu “seolah-olah” ATM atau kartu credit tapi isi yanag sebenarnya tidak pernah lebih dari Rp 300.000. Citra diri menurut keinginan ini pulalah yang membuat orang meniru model dan warna rambut orang lain. Tampillah rambut BUCARI –bule cat sendiri. Ada masih banyak contoh yang dapat kita saksikan (atau mungkin kita perankan sendiri) sehari-hari. Biasanya citra diri seperti ini amat melelahkan dan terkadang bisa membawa hingga ke frustrasi.

2. Menurut pendapat orang lain

Bayangkan seorang dosen mendengar orang lain menilainya sebagai seorang jenius. Dari penilaian objektif, dia sadar betul bahwa dia bukan seorang jenius. Tetapi karena ada orang yang mengatakannya seorang jenius, ia pun meampilkan diri seperti jenius: menyampaikan ide-ide yang sulit dicerna dan membuat orang bingung, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, memberi pendapat dan argumentasi untuk semua topik percakapan, mulai dari soal pilkada, politik luar negeri, hingga masalah ruang angkasa. Orang seperti ini biasanya sulit mengatakan ‘tidak’ terhadap permintaan orang lain walaupun ia tidak sanggup melakukannya. Ia pun sering memaksa diri supaya cocok dengan ‘citra diri’ seperti yang dicitrakan orang lain. Artinya, memakai citra diri seperti ini juga amat melelahkan dan dapat menjadi sumber ketegangan berkepanjangan.

3. Menurut keadaan sebenarnya dan seharusnya

Citra diri seperti ini lahir dari pemahaman objektif dan realistis terhadap diri sendiri serta berorientasi pada dampak positif setiap gerak hidup terhadap orang lain. Jika dalam ‘citra diri menurut yang diinginkan’ (nomor 1) seseorang yang ekonominya pas-pasan tapi tampil seperti konglomerat, sebaliknya dalam citra diri menurut keadaan yang sebenarnya seorang kaya raya justru tampil bersahaja. Dengan kebersahajaannya, seseorang itu menunjukkan bahwa dirinya tidak identik dengan yang dia miliki sekaligus meruntuhkan tembok pemisah kepada orang lain. Sebab, kesederhanaan dapat merupakan jembatan persaudaraan sejati. Dengan citra diri seperti ini pula seseorang tidak akan pernah meaksa diri. Ia bebas tanpa beban mengatakan ‘tidak’ terhadap sesuatu yang tidak mampu ia lakukan dan mengatakan ‘ya’ dengan sukacita jika memang mampu dan baik melakukan sesuatu tanpa memaksa diri. Ia tidak bergerak oleh celaan, pujian, amarah, paksanaan. Di sini, hati nurani lebih banyak bicara. Mereka yang hidup dengan citra diri menurut keadaan sebenarnya dan seharusnya adalah orang-orang merdeka dan mampu memerdekakan.



Sunday, September 5, 2010

B A R U

REFLEKSI SENIN KE-36
06 September 2010

Drg Theresa memncabut gigi kedua anak saya, Christi dan William, masing-masing dua buah. Gigi ‘asli’ mereka belum copot, sementara yang baru –yang juga ‘asli’-- sudah mulai muncul. Anak-anak saya merasa kesakitan. Mereka kelihatan lebih jelek dari biasanya. Istri saya harus membayar mahal pula. Sakit, jelek dan membayar berpadu sedemikian rupa melengkapi sebuah ‘pengorbanan’.

Mengapa pencabutan ini dilakukan? Yang pasti bukan bertujuan untuk melukai anak. Bukan memberi hukuman dengan membuat mereka kelihatan sedikit lebih jelek. Bukan pula membantu drg Theresa secara finansial (uangnya jauh lebih banyak!). Alasan dan tujuannya jelas: agar gigi mereka tumbuh normal, sehat dan kelihatan bagus.

‘Cabut-mencabut’ ini menyatakan hal-hal yang secara alami harus berlangsung dalam hidup ini yang tidak bisa ditolak jika kita mau hidup ini semakin lebih baik. Selain berkaitan dengan fisik, dalam beberapa hal ‘cabut-mencabut’ ini juga menggambarkan aneka segi kehidupan lainnya. Ada kalanya kita harus ‘mengorbankan’ sesuatu untuk keadaan yang lebih baik. Bertahan menghindari sedikit rasa sakit, tenaga maupun biaya bisa mengakibatkan penderitaan yang lebih parah dan lebih lama. Itu sebabnya, misalnya, anak sekolah rela berlelah dan orangtua tabah melangkah memperjuangkan anak-anaknya. Itu pula yang terjadi ketika operasi harus terjadi mengatasi suatu penyakit.

Di samping itu, dalam batas-batas tertentu ini juga dapat mengingatkan kita pada pergantian sebuah fungsi, jabatan atau tempat tugas seseorang. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi jika seseorang tidak mau meninggalkan tempat tugasnya padahal sudah ada yang menggantikannya. Perbedaan paling hakiki antara manusia dengan gigi adalah ‘kesadaran’. Jika gigi lama masih bertahan sementara yang baru sudah tumbuh, maka gigi lama harus dicabut. Manusia seharusnya tidak perlu ‘dicabut’ karena ia dapat melangkah –dengan kesadaran—untuk kebaikan dirinya dan kebaikan yang lebih luas.

Alm Eka Darmaputera benar ketika ia berkata, “Lebih baik kehilangan sesuatu daripada kehilangan segala sesuatu”.

Sunday, July 4, 2010

PENJARA MEMORI

REFLEKSI SENIN KE-27
05 Juli 2010

Seorang bekas tahanan di kamp konsentrasi Nazi mengunjungi seorang kawan yang juga mengalami malapetaka itu bersamanya.
“Apakah engkau sudah melupakan orang-orang Nazi?” tanya kawannya.

“Ya, sudah.”
“Saya belum. Saya masih dikuasai rasa benci terhadap mereka.”
“Kalau begitu,” kata kawan itu dengan tenang, “mereka masih memenjara dirimu.”
…..(musuh kita bukanlah mereka yang membenci kita tetapi mereka yang kita benci)…
(Anthony de Mello)


Tidak ada orang berpikiran normal ingin meringkuk di penjara. Bukan saja karena label ‘sampah masyarakat’ yang kerap ditempelkan ke identitas mereka tetapi juga karena berbagai kekangan. Itu sebabnya penghuni penjara selalu dengan segala usaha untuk keluar, melalui usaha halal bahkan penyogokan hingga melarikan diri.

Berbeda dengan pemenjaraan pikiran. Sebenarnya, manusia sepenuhnya punya pilihan untuk terpenjara atau bebas. Tetapi sadar atau tidak seringkali manusia lebih memilih terpenjara oleh olahan memorinya sendiri. Sebutlah sebuah pengalaman peristiwa pahit atau kata-kata orang lain yang menggores hati. Tidak sedikit orang yang begitu kuat dipengaruhi oleh pengalaman pahit di masa lalu dalam berpikir, bersikap dan bertindak hari ini. Bukan saja mempengaruhi sikap kepada pelakunya sendiri, tetapi –sedihnya—juga terhadap orang-orang yang berhubungan dengan pelakunya, bahkan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan si pelaku. Bukankah rasa gundah kita karena perlakuan orang lain mempengaruhi raut wajah kita yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain?

Di samping itu, ada pula pemenjaraan oleh pinjaman memori orang lain. Ketika tim Belanda bemain sepak bola beberapa waktu lalu, muncul berbagai komentar bernada tidak mendukung tim Belanda karena melabeli mereka sebagai ‘penjajah’. Padahal, yang mengalami langsung penjajahan Belanda di Indonesia sudah hampir tidak ada lagi. Para pemain sebak bola Belanda pasti tidak ikut menjajah Indonesia. Ketidaksenangan kepada tim Belanda merupakan buah dari pemenjaraan pinjaman memori --suatu penghalang menikmati pertandingan sepak bola.

Yang lebih memprihatinkan adalah pemenjaraan oleh suntikan fitnahan orang lain. Si A tidak suka si B. Kemudian A menyebarkan fitnahan tentang B kepada C. Sebenarnya C tidak ada masalah apa-apa dengan B. Tetapi, celakanya, C percaya pada A dan merelakan diri terpenjara oleh pikirannya hingga menutup pintu hatinya ke B.

Apa pun penyebab dan bentuknya, setiap pemenjaraan menghalangi pertumbuhan emosional dan spiritual seseorang. Pemenjaraan pikiran menghalangi kita bergerak mewujudkan keberadaan kita, membelokkan arah perjalanan hidup kita, meredupkan rasa takjub kita, hingga melumpuhkan kehidupan itu sendiri. Kata-kata “rasa benci kita kepada musuh lebih melukai kebahagiaan kita ketimbang mereka” mengandung kebenaran yang tidak membutuhkan perdebatan.

Monday, June 28, 2010

PENCERAHAN DAN KESEGARAN DARI LIBURAN

REFLEKSI SENIN KE-26
28 JUNI 2010

Menurut James W. More tiga pembunuh terbesar saat ini adalah: jam, kalender dan telepon. Salah satu antidotenya adalah liburan –yang menyegarkan dan mencerahkan, bukan jadi beban pikiran.

Tidak jarang orang mempersiapkan liburan berbulan-bulan, tetapi saat liburan ia hanya sibuk mengambil foto-foto untuk ditunjukkan kepada orang lain. Ia gagal menangkap misteri dan inspirasi dari tempat dan peristiwa yang dialami. Agar liburan sungguh-sungguh bermanfaat, beberapa hal perlu dipertimbangkan.

Bagaimanakah kita menetapkan tujuan? penetapan tujuan. Proses penetapan tempat liburan tidak selalu berjalan mulus. Kadang, liburan keluarga bisa diawali dengan perang mulut karena perbedaan selera masing-masing anggotanya. Selaraskan dulu inti tujuan berlibur, yaitu “apa yang diharapkan terjadi dalam hidup ini melalui liburan”.

Sudahkah kita melepas beban yang tidak perlu? Ada orang yang pada saat ia bekerja selalu membayangkan betapa menyenangkan liburan, tetapi saat liburan pikirannya justru digempur oleh beban pekerjaan. Khusus liburan ke luar negeri beban kian sarat oleh kalkulator saat belanja. Belum lagi perasaan sial dan kecewa berat jika yang dibeli justru produk negeri sendiri. Ini bisa dihindari dengan fokus pada ‘perayaan’ liburan itu sendiri tanpa dikendalikan oleh kalkulator, handphone, laptop, dan kamera.

Liburan merupakan peluang emas untuk mengamati diri sendiri dari kejauhan. Seseorang dapat melihat bagaimana hidup keseharian dijalani. Bagaimana aksi dan reaksi berlangsung. Bagaimana keputusan diambil. Bagaimana hubungan dibangun. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui mana yang perlu dikembangkan, mana yang harus ditanggalkan dan ditinggalkan. Pencerahan baru akan terjadi saat liburan.

Akhirnya, apakah liburan kita bersahabat dengan alam? Kita perlu mempertimbangkan carbon footprint (total karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan oleh suatu produk atau jasa) aktivitas dan gaya hidup kita. Pesawat yang kita tumpangi, barang-barang yang kita beli semuanya punya carbon footprint. Bumi sedang menderita demam. Liburan kita hendaknya tidak memperparah masalah.



Sumber: INDOCONNEX edisi Juni 2010
Publisher: Wanhope Vista Media, Singapore
www.indoconnex.com
Penulis: Victor Tinambunan

Sunday, June 13, 2010

T I M

REFLELSI SENIN KE-24
14 June 2010

Towers Watson, konsultan sumber daya manusia, yang melakukan jajak pendapat kepada 20.000 pekerja di 22 negara dari Nopember 2009 hingga Januari 2010, menemukan bahwa 2/3 responden menempatkan ‘kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain’ sebagai karakter yang paling diinginkan dari seorang pimpinan. Menyusul sesudahnya sifat dapat dipercaya, mendorong pengembangan bakat. Hasil survey yang sama juga menunjukkan bahwa di Singapura, misalnya, banyak penekanan pada kemampuan individual, yang membuat orang sangat kompetitif secara individual tetapi mengalami kesulitan dalam kerja tim dan bekerjasama dengan unit-unit kerja yang lain (Straits Times 24 April 2010).

Kerjasama dalam sebuah tim bukan hanya merupakan tuntutan masyarakat atau lingkungan kerja tetapi sesuatu yang amat hakiki dalam iman dan tugas panggilan orang Kristen. Sayang sekali, kehidupan dan kerjasama sebuah tim sering mengalami aneka benturan hingga perseteruan. Penyebabnya? Di antara sekian banyak penyebab macetnya kerjasama suatu tim terkait dengan masih tingginya tingkat kadar kekanak-kanakan anggota tim. Dan seberapa kental kadar kekanak-kanakan dalam diri orang seorang dewasa sangat tergantung pada kesediaan seseorang itu melihat sedikitnya dua pembentukan sejak masa kecil.

Pertama, mental juara. Agaknya keinginan menjadi juara terbentuk sedemikian rupa melalui pengaruh hampir semua bidang kehidupan seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Akibatnya? Berikut sebuah contoh faktual. Ada seorang anak yang berhasil tenjadi juara di sekolahnya. Sayang sekali, kemampuannya berelasi dengan sesamanya amat rendah. Suatu ketika dia main game dengan teman-temannnya. Setelah beberapa kali kalah, dia marah dan berkata, “Aku tidak mau main lagi dengan kalian. Ini adalah permainan bodoh”. Inilah yang terjadi jika ‘mental juara’ begitu mendominasi. Ada keinginan untuk menjadi juara dalam segala hal. Jika tidak tercapai menjadi menarik diri sambil mengkambinghitamkan orang lain atau kegiatan itu sendiri.

Dalam peristiwa dan bentuknya yang berbeda, hal yang sama tidak jarang terjadi dalam kelompok orang-orang dewasa. Gagal menguasai, beralih ke marah, menarik diri dan mengkambinghitamkan.

Kedua, pemanjaan. Thubten Chodron mengatakan, “Menyayangi anak tidak berarti Anda membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau atau memberikan semua yang mereka inginkan. Perlakuan seperti ini merusak anak-anak. Kebiasaan seperti itu secara serta merta mengembangkan kebiasaan buruk membuat mereka mengalami kesulitan menjalin hubungan sehat dengan orang lain. Salah satu keahlian yang paling perlu dimiliki oleh orang tua adalah mengajar anak mereka menghadapi rasa frustrasi karena tidak mendapat apa yang merekeka inginkan. Jika keinginan-keinginan anak-anak tidak dipenuhi dan mereka tidak belajar bahagia ketika keinginannya tidak dikabulkan, mereka akan mengalami kesulitan membangun berhubungan dengan orang lain saat mereka dewasa. Tentu, orangtua juga perlu memberi contoh dengan sikap mereka sendiri pada saat keinginan mereka tidak terpenuhi.”

Mengapa orangtua memberikan semua keinginan anak? Sedikitnya ada tiga keungkinan. Satu, orangtua mampu memberikannya. Apalagi, hal ini dipadu dengan tujuan untuk ‘menjinakkan’ anak yang aktif dan mengganggu pekerjaan. Dua, sebagai kompensasi kebersamaan yang hilang. Tiga, menunjukkan nilai ‘lebih’ kepada anak-anak orang lain. Hal ini nampak khususnya orangtua yang sangat tanggap melihat apa yang dimiliki anak-anak orang lain atau bahkan mencari apa yang belum dimiliki oleh anak orang lain. Semua langkah ini merupakan proses ‘pemanjaan’ anak, yang dapat menjadi penghalang pembentukan kemampuan menjalin hubungan sehat dengan sesama.

Perasaan tidak kekurangan apa-apa dapat menumbuh-kembangkan sikap ketidakpedulian bahkan anti-sosial. Perasaan aman dengan apa dan siapa yang dimiliki bisa saja membawa seseorang menikmati dirinya dan miliknya sendiri.

Bagaimana mengembangkan kemampuan menjalin hubungan yang sehat dan bekerjasama dengan orang lain? Memutus mata rantai kekanak-kanakan dan memulai sesuatu yang baru! Bertambah usia dan bertambah tua tidak terhindarkan. Tetapi, bertumbuh dewasa (dalam berpikir, bersikap, berperilaku) sepenuhnya pilihan dan kemauan kita.

Sunday, June 6, 2010

MERAYAKAN KEBERSAMAAN

REFLEKSI SENIN KE-23
07 Juni 2010

Berikut ini adalah sebuah ‘kisah’ dari penulis anonim yang saya temukan dalam selipan warta jemaat sebuah gereja baru-baru ini:

Ketika saya masih kecil, ibu saya sering menyajikan makanan yang seharusnya sarapan menjadi makan malam. Saya ingat pada suatu malam ketika dia membuat makan malam setelah hari yang melelahkan. Pada malam itu, ibu saya menyediakan telur, sosis dan roti bakar gosong di hadapan ayah. Saya menunggu untuk melihat apa yang bakal terjadi. Namun, apa yang ayah saya lakukan adalah meraih roti bakar gosong itu, tersenyum pada ibu saya dan menanyakan bagaimana sekolah saya hari itu. Saya tidak ingat apa yang saya katakan malam itu, tapi ingat persis bahwa dia mengolesi roti gosong itu dengan mentega dan selai dan nampak bahwa ia menikmatinya.

Ketika saya hendak beranjak dari meja makan, ibu saya meminta maaf kepada ayah atas roti bakar yang gosong itu. Dan saya tidak akan pernah melupakan apa yang ayah katakan, "Sayang, aku suka roti bakar gosong."

Sebelum tidur malam itu, saya pergi mencium ayah dan saya bertanya apakah dia benar-benar menyukai roti gosong. Dia meraihku ke dalam pelukannya dan berkata, "Ibumu sangat lelah bekerja hari ini. Lagi pula, sepotong roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun!"

Dari kisah ini, penulis menyimpulkan pesannya sebagai berikut:

Anda tahu, hidup ini penuh dengan hal-hal tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna juga. Apa yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun adalah bahwa belajar saling menerima dan memilih untuk merayakan perbedaan masing-masing adalah salah satu hal yang paling penting untuk menciptakan hubungan yang bertumbuh sehat dan langgeng.

Dan itu harapan dan doa saya untuk Anda hari ini. Bahwa Anda akan belajar untuk mengambil yang baik, yang buruk, dan bagian-bagian jelek dari kehidupan Anda dan meletakkannya di kaki Tuhan. Karena pada akhirnya, hanya Dialah satu-satunya yang dapat memberikan suatu hubungan di mana roti gosong tidak mampu menjadi perusak suasana dan hubungan baik.

Kisah ini bertolak belakang dengan sikap Robert dalam film 70x07. Ketika anaknya yang masih kecil minta disuap (yang bisa saja tanda kerinduan dan kasihnya kepada ayahnya), Robert malah membanting meja makan dan meninggalkannya dengan marah. Istrinya, Naomi, sudah mempersiapkan makanan dengan baik sambil menjaga dua anaknya yang masih kecil. Sedangkan Robert asyik dengan dunianya di bar dan berselingkuh pula.

Dalam kisah pertama di atas: istri lelah bekerja, mempersiapkan roti gosong, suami tidak marah. Sedangkan kisah 70x07: istri capek bekerja, mempersiapkan makanan dengan baik, suami marah.

Dua kisah di atas tidak saja menggambarkan kehidupan keluarga. Ia juga dapat menggambarkan kehidupan suatu persekutuan jemaat. ‘Roti gosong’ dalam sebuah persekutuan bisa terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Seseorang yang bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu dalam sebuah persekutuan jemaat bisa saja tidak menjalankan tugasnya dengan sempurna. Ada kekurangan yang bisa dimengerti penyebabnya. Memang, ada juga orang yang sulit menerima kenyataan seperti itu, dan terus mengomentari, apalagi dengan marah-marah pula, kekurangan yang hanya sepele itu. Tidak jarang sebuah persekutuan menjadi rusak, hanya gara-gara sedikit kesalahan. Dengan kerelaan memahami keadaan sesama dan fokus ke yang baik yang dilakukan orang (karena telur dan sosis tidak gosong), maka ‘roti gosong’ tidak akan merusak kehidupan jemaat.

Yang lebih sulit dan rumit adalah ketika sebuah persekutuan jemat diterpa mirip kasus Robert: yang melakukan yang baik dan lelah menjadi sasaran amarah dan yang bersalah malah marah-marah pula. Amat menyedihkan jika hal seperti ini justru terjadi dalam sebuah jemaat. Marah-marah karena sudah merasa melakukan yang baik saja pun di gereja tidak dibenarkan. Apalagi, yang marah-marah justru hanya menyembunyikan ketidaksetiaanya pada tugas panggilannya. Marah-marah untuk menyembunyikan kesalahan.

Naomi meminta maaf kepada Robert dalam film 70x07. Beberapa penonton protes keras. “Masakan Robert, yang mengkhianati pernikahannya, justru Naomi yang meminta maaf?”, demikian dasar pertimbangan mereka. Dalam hal ini, perlu diperhatikan lebih seksama apa yang Naomi katakan. Naomi tidak mengatakan bahwa “sayalah yang bersalah dan Robert tidak salah”. Naomi tahu persis bahwa Robert salah. Naomi juga tidak meminta Robert untuk meminta maaf. Yang Naomi katakan adalah kira-kira begini, “maafkan aku kalau aku kurang memperhatikanmu….”. Artinya, Naomi terbuka pada kemungkinan adanya kelemahannya. Jadi, ia ‘mengurusi’ yang menjadi bagiannya.

Dalam sebuah persekutuan jemaat yang terancam retak ada kalanya mereka yang menjadi sumber utama masalah tidak mau meminta maaf, malah menutupi kekurangannya dengan marah-marah sambil melempar kesalahan atau mengkambinghitamkan orang lain dan bahkan menebar kebohongan. Tidak jarang orang, atas nama gengsi, ingin tampil bersih, dan jaga image (secara keliru) sama sekali tidak mau mengaku bersalah. Dalam merajut kembali keutuhan persekutuan, ‘yang korban’ dapat juga memohon ampun “kalau saja” ada dari diri mereka yang membuat keadaan memburuk. Kita tahu bahwa melakukan ini berat. Malahan, mungkin amat berat. Tetapi, dengan memilih langkah bijak ini, kita tidak terhalang menerima berkat, yaitu: damai sejahtera.

Sunday, May 30, 2010

MEMINTA DAN MENERIMA MAAF

REFLEKSI SENIN KE-22
31 Mei 2010

Pengalaman menunjukkan bahwa manusia sulit meminta maaf. Mengapa? Sedikitnya ada tiga kemungkinan. (1) Seseorang benar-benar bersalah tetapi ‘merasa’ tidak bersalah. Dalam hal ini seseorang perlu lebih sadar diri baik melalui usaha sendiri maupun dengan keterbukaan pada orang lain. (2) Merasa bersalah tetapi mengganggap tidak terlalu masalah. Mungkin ada perasaan bahwa kesalahan yang sama dilakukan oleh orang lain. Bahkan, orang lain yang mempunyai kesalahan jauh lebih besar dan tidak meminta maaf. (3) Sadar bersalah tetapi sengaja tidak mengaku bersalah dan tidak mau meminta maaf.

Apa pun di balik ketidaksediaan meminta maaf, yang jelas semuanya tidak dapat dibenarkan. Permohonan maaf atas suatu kesalahan merupakan keharusan. Agaknya, rasa ‘harga diri’ yang keliru merupakan penghalang besar untuk meminta maaf atas suatu kesalahan. Ada semacam sikap alamiah bagi banyak orang bahwa mengaku bersalah dan meminta maaf itu menurunkan harga diri. Apalagi bagi seseorang yang terpandang menurut ukuran dunia seperti karena kedudukan atau jabatan, kekayaan dan sebagainya. Sekadar contoh, ada satu ungkapan dalam bahasa Batak: Mardasar mardosor, tutungon porapora. Na sala i gabe sintong, molo hata ni na mora. (Yang salah menjadi benar, jika yang mengatakannya orang kaya).

Cara yang paling umum bagi orang yang mengagungkan ‘harga diri’ untuk menutupi kesalahan dan menolak meminta maaf adalah: mencari kesalahan orang dan mencari kambing hitam. Hal ini bukan pengalaman yang asing bagi kita di lingkungan masyarakat, pemerintahan, bahkan –sedihnya—di lingkungan agama juga. Padahal, kebesaran seseorang nampak saat ia menyadari kekurangan dan kelemahannya yang disertai dengan usaha perbaikan diri secara terus-menerus.

Meminta maaf atas suatu kesalahan adalah sebuah keharusan. Caranya bisa secara langsung atau melalui orang lain (karena kondisi tertentu). Selain itu, meskipun kurang sempurna, permintaan maaf tanpa kata juga dapat dilakukan, yaitu dengan memperbaiki kesalahan dan menunjukkan perbaikan diri. Meski kata maaf tidak terucap, tetapi perubahan hidup seseorang telah mencerminkan permintaan maaf. Cara ini jauh lebih baik ketimbang kata maaf yang terlontar yang hanya memenuhi persyaratan tertentu atau karena desakan dari luar tanpa disertai perubahan hidup.

Memang, usaha permintaan maaf tidak selalu mulus, meskipun bertolak dari hati yang tulus. Bisa saja korban atau sasaran suatu kesalahan menolak memaafkan atau bahkan menjadi mengeras. Tetapi, di samping kita sudah menunaikan tanggung jawab, kita juga harus memaafkan orang-orang yang tidak menerima permohonan maaf kita. Lebih dari itu, ada kalanya kita menanggung akibat sebuah kesalahan.

Bagaimana sikap menerima permintaan maaf? Sedikitnya ada dua sikap yang salah. Pertama, menolak. Alasannya bisa beragam. Ada yang membenarkan penolakan memberi maaf karena kesalahan seseorang itu terlalu menyakitkan. Tetapi, jika dirunut hingga ke akarnya, penolakan memberi maaf bisa juga karena ada perasaan cemburu, iri hati, semangat pembalasan dendam atau motif negatif lain. Dalam keadaan seperti ini, kesalahan orang lain menjadi sebuah ‘kebutuhan’ untuk merendahkan orang lain sambil mendongkrak harga diri.

Kedua, memberi syarat. Kata-kata, “saya akan memaafkanmu jika……” menunjukkan hal ini. Kata “jika” biasanya diisi dengan syarat seperti menuntut perubahan terlebih dahulu, kompensasi tertentu, melakukan sesuatu terlebih dahulu (seperti mengumumkan secara publik) dan lain-lain. Ada faktor ‘menguasai’ dalam hal ini, yang tidak sehat dalam membangun hubungan.

Bagaimana seharusnya? Memberi maaf, diminta atau tidak diminta. Ketika kita berada pada posisi korban kesalahan orang lain, pengampunan adalah keharusan bagi kita. Kita harus mengampuni yang bersalah apakah ia minta maaf atau tidak. Dari perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15) kita dapat mengetahui bahwa pengampunan sudah terjadi sebelum anak yang hilang itu kembali. Zakheus berubah setelah ia tahu bahwa Yesus menolak dosanya tetapi menerima dirinya (Lihat Lukas 19). Apa yang Tuhan berlakukan dan lakukan kepada kita, itu juga yang seharusnya kita hidupi.

“Wah ini sulit. Kita masih di dunia!”, Anda berkata. Benar, ini sulit. Bahkan, sangat sulit. Tetapi tidak mustahil. Benar juga bahwa kita masih di dunia. Tetapi, pengampunan hanya berlaku di dunia nyata ini. Di sorga manusia tidak berdosa lagi dan tidak perlu meminta atau memberi maaf lagi. Di dunia ini sudah terlalu banyak kebencian, kita tidak perlu menambahnya lagi.

Sunday, May 16, 2010

MEMIMPIN DAN DIPIMPIN DENGAN HATI

Reflkesi Senin ke-20
17 Mei 2010

Semua kita terkait dengan kepemimpinan. Ada kalanya kita memimpin (seperti dalam sebuah kelompok kecil hingga organisasi besar) dan selama hidup kita berada di bawah kepemimpinan orang lain. Uraian berikut menjawab dua pertanyaan yaitu, “pemimpin yang bagaimana” dan “pengikut yang bagaimana”.

Berkaitan dengan ‘pemimpin yang bagaimana’, ada dua kelebihan utama seorang pemimpin: (1) Karakter dan integritasnya lebih tinggi dari bakat atau keahlian memimpin. (2) Karakter dan integritas atau kualitas hidupnya lebih tinggi dari kehidupan rata-rata yang dipimpin.

Kebanyakan kekacauan sebuah organisasi terjadi karena yang ada adalah kebalikan dari kedua kelebihan seeorang pemimpin tersebut di atas.

1. Karakter dan integritas lebih tinggi dari bakat atau keahlian memimpin

Ada yang mengatakan bahwa ikan, yang pertama busuk adalah kepalanya. Kemudian, menjalar ke badannya. Bagaimana dengan sebuah organisasi duniawi dan gereja? Ada kalanya hal yang sama terjadi. Pemimpin yang busuk membuat organisasi dan yang dipimpin menjadi busuk.

Karakter adalah cerminan dari ‘siapa kita di tempat tersembunyi atau tidak terpantau orang lain’. Integritas berarti ‘menyatunya kata dan perbuatan’. Jadi, karakter dan integritas merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin yang mengajarkan disiplin adalah yang berdisiplin juga, dilihat atau tidak dilihat orang lain. Pemimpin yang mengajarkan dan menganjurkan kejujuran adalah yang jujur juga, di semua tempat dan di semua waktu. Pemimpin yang mengagungkan kasih dalam perkataan-perkataannya adalah yang mengasihi juga. Singkatnya, kepemimpinan adalah masalah keteladanan. Sebab, karakter dan integritas seorang pemimpin akan secara langsung menentukan pengaruhnya.

Dengan demikian, kepemimpinan bukanlah terutama masalah teknik. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Tidak sedikit pemimpimpin yang benar-benar memiliki bakat dan kemampuan luar biasa dalam memimpin yang gagal karena tidak memberi keteladanan. Albert Schweitzer mengatakannya begini, “Keteladanan bukanlah syarat utama dalam mempengaruhi orang lain --ia adalah satu-satunya.”

Bayangkan seorang bapak berkata kepada anak-anaknya, "lakukan apa yang saya katakan", bukan "lakukan apa yang saya teladankan". Anaknya mungkin 'patuh', bukan karena wibawa ayahnya tapi karena kuasanya. Dalam hal ini, seorang bapak dihormati dan ditakuti karena kuasanya, bukan karena wibawa dan kualitas pribadinya.

Hal yang sama bisa juga terjadi dalam suatu persekutuan. Pemimpin yang ditakuti biasanya dikelilingi oleh orang-orang munafik dan penjilat. Pemimpin seperti ini mungkin masih dihormati, tetapi ia dihormati karena jabatannya, bukan karena kualitas hidupnya. Padahal, lebih baik berhak mendapat kehormatan dan tidak memilikinya, ketimbang memiliki kehormatan tetapi tidak layak memilikinya (Mark Twain). Pemimpin sejati adalah pemimpin yang dihormati bukan karena jabatan atau posisinya, melainkan karena kualitas hidup, karakter dan inegritasnya.

Bukan berarti keahlian memimpin tidak penting. Hanya saja ia tidak menempati tempat utama. Justru karena penempatan keahlian memimpin inilah pada tempat terpenting, persoalan timbul dalam sebuah organisasi. Saat ini banyak yang dengan mudah dapat menjadi ‘ahli dalam teknik memimpin’. Kini buku-buku bertemakan ‘teknik’ kepemimpinan membanjir.

Tetapi, yang lebih dibutuhkan adalah pembangunan karakter. Pohon yang tumbuh tinggi punya akar yang dalam. Ketinggian tanpa kedalaman besar berbahaya. Para pemimpin besar dunia ini seperti St Fransiskus, Gandhi, dan Martin Luther King, Jr, - semua orang yang hidup dengan ketenaran publik, pengaruh, dan kekuasaan dalam sebuah cara yang sederhana karena akar spiritual mereka yang mendalam. Tanpa akar yang dalam dan kuat dengan mudah kita membiarkan orang lain menentukan siapa kita. Ketika kita berakar dalam kasih Allah, hidup kita dan kepemimpinan kita akan dipimpin oleh Allah.

2. Kualitas hidup lebih tinggi dari kehidupan rata-rata yang dipimpin

Kualitas hidup seorang pemimpin nampak sedikitnya dalam empat hal. Pertama, kerendahan hati. “Semakin dewasa seorang pemimpin, semakin rendah hati pula mereka”, demikian kata-kata dari Maxwell. Kerendahan hati ini mewujud dari kemauan dan kemampuan seorang pemimpin mengekang dirinya dari godaan menempatan diri, pengalaman dan pencapaiannya sebagai yang paling istimewa sambil merendahkan orang lain. Salah satu alat ukurnya adalah menyikapi pujian tanpa melekat pada pujian itu sendiri. Kerendahan hati juga nampak dari rasa hormatnya kepada semua dan setiap orang terlepas dari kemampuan dan latarbelakangnya.

Kedua, kata-katanya yang membangun dan meneguhkan. Seorang pemimpin tidak saja dilihat tetapi didengarkan. Kata-katanya sering menjadi acuan dalam berpikir, berskap dan bertindak. Lisa Kirk pernah berkata, “Seorang penggossip adalah ia yang berbicara padamu tentang orang lain. Seorang pembual adalah ia yang berbicara padamu tentang dirinya sendiri. Seorang pembicara handal adalah ia yang berbicara padamu tentang dirimu.” Hal ini perlu direnungkan oleh seorang pemimpin agar ia terhindar dari kebiasaan mengedarkan gossip dan membual, tetapi mengatakan kebenaran dengan cara-cara yang benar pula.

Ketiga, menghargai perbedaan. Jika kita mengharapkan kebersamaan hanya dengan orang-orang yang kita sukai, kita harus berada di 'planet' lain, bukan di bumi ini. Seorang pemimpin, bahkan kita semua, tidak akan pernah berhenti belajar bagaimana membangun 'jembatan'. Yang menyedihkan adalah hadirnya para pemimpin yang justru menciptakan jurang atau tembok pemisah di antara yang dipimpinnya. Hal ini biasanya terjadi demi kepentingan pribadi si pemimpin.

Keempat, moralitas. Bagaimana mungkin seorang pembohong, tukang korupsi, pelaku pelecehan seksual dan sebagainya layak memimpin? William Makepeace Thackeray benar sekali ketika ia berkata, “orang-orang berkelakuan buruk bagaikan jendela kaca yang kotor, mereka menghalangi cahaya matahari bersinar ke dalam ruangan.” Dunia membutuhkan para pemimpin dengan moralitas teruji.

Benar, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Tidak ada pula pemimpin yang sempurna. Keadaan ini hendaknya tidak menjadi alasan pembenaran diri, tetapi menjadi pengingat bagi seorang pemimpin untuk tetap rendah hati dan membaharui diri agar kepemimpinan seseorang itu layak dijalani.

Memimpin pemimpin

Bagaimana kalau kita sedang dipimpin oleh seorang pemimpin yang karakter, integritas dan kualitas hidupnya rendah? Kita terpanggil untuk ‘memimpin sang pemimpin’, tidak dengan mengambil alih kepemimpinan dengan halus maupaun dengan ‘kudeta’, melainkan dengan karakter, integritas dan kualitas hidup teruji pula. Sebab, jika kata-kata, sikap dan kehidupan Anda memberi inspirasi kepada orang lain untuk berbuat yang terbaik, Anda adalah pemimpin sejati meskipun Anda tidak punya jabatan. Jadi dalam hal ini, yang terpenting bukan seberapa tinggi posisi yang kita tempati (dan komisi yang kita kantongi!), melainkan seberapa dalam kasih kita kepada Pencipta dan ciptaanNya yang dipercayakan kepada kita.

Dengan karakter, integritas dan kualitas hidup yang teruji itu pula kita dapat memberi masukan bahkan kritik membangun kepada seorang pemimpin, baik secara langsung maupun dengan cara yang lain yang lebih sesuai.

Sunday, May 9, 2010

HARGA DIRI

REFLEKSI SENIN KE-19
10 Mei 2010

Yoh. Rohmadi Mulyono mencatat cerita yang sarat makna berikut:

……temanku mati digigit ular.
Sebenarnya temanku itu pawang ular.
Terkenal kebal oleh bisa ular.
Tak tahulah mengapa hari naas itu datang padanya.
Ia digigit ular berbisa peliharaannya.
Kepercayaan dan harga diri membuatnya enggan ke dokter
Semakin hari tubuhnya semakin tak berdaya.
Dan akhirnya dia wafat.

Aku teringat kata para leluhur:
Sehebat-hebatnya akal dan kekuatan manusia,
Pada suatu saat manusia itu mengalami lemah juga.

Dari cerita ini sedikitnya ada dua hal yang dapat kita tarik maknanya. Pertama, yang digigit ular. Cerita ini memberitahu sang pawang –karena kepercayaan dan harga dirinya-- enggan ke dokter. Akhirnya dia wafat. Dalam bentuknya yang lain, rasa percaya diri dan pemahaman ‘harga diri’ yang keliru membuat banyak orang ‘tewas’. Demi gengsi, supaya kelihatan kren dan ngetrend, keuangan keluarga ‘tewas’. Itulah yang terjadi jika penghasilan yang pas-pasan --yang seharusnya untuk kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi dan biaya pendidikan anak-anak-- dibelokkan untuk membeli perhiasan, pakaian dan aksesori bermerk, perabot rumah yang mahal dan sebagainya. Atau, untuk menampilkan diri sebagai pemikir, ada orang yang bicara tentang semua hal dari pembuatan nuklir hingga politikus yang dianulir. Kemampuaan mengenali dan mengembangkan diri pun ‘tewas’. Merasa diri ahli, menewaskan minat belajar dan kemauan bertanya kepada orang lain.

Salah satu ciri yang paling kentara dari gengsi adalah kecenderungan menampilkan diri berbeda atau melampui kemampuan. Ada unsur memaksa diri di dalamnya. Padahal, setiap yang ‘dipaksa’ tidak baik akibatnya (kecuali paku dan tiang penyangga bangunan). Mungkin pada awalnya kelihatan menawan. Tetapi, karena dibangun di atas dasar yang keropos hasilnya tidak akan bertahan lama. Bayangkan seorang pemuda pengangguran dan baru kena penggusuran dari “Ruli Permai” alias rumah liar, yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Untuk menarik perhatian sang gadis, si pemuda meminjam uang untuk membeli pakaian mahal, Nokia seri terakhir, merental mobil agar kelihatan seperti seorang eksekutif muda. Celakanya, si gadis langsung terpesona dan jatuh cinta pula. Bukan pada orangnya, tetapi pada mobilnya. (Mungkin tipe ini yang disebut dengan cewek matre). Jika mobilnya ditarik perusahaan rental mobil, apakah si gadis tertarik kepada si pria ‘bergengsi’ itu?

Dalam hidup ini, kita membutuhkan kejujuran dan kebersahajaan. Yang paling penting bukan penampilan luarnya, tetapi isi di dalamnya: inti kemanusiaan kita. Hati nurani kita. Hati tempat bertahtanya Roh Tuhan. Tidak ada yang melampaui keindahan yang mengalir dari dalam hati. Tidak berlu terpaku pada gengsi. Tidak perlu melebihkan diri. Tidak perlu memaksa diri. Hidup pun akan berlangsung dengan segala keindahannya.

Kedua, ular itu sendiri. Dalam tubuh ular berbisa pasti ada bisa atau racun mematikan. Tetapi, mengapa ular itu tidak mati oleh bisanya sendiri? Sulit menjawabnya. Yang jelas, ia ‘kebal’ dengan bisanya sendiri, sedangkan manusia dan binatang lain, bisa tewas oleh bisanya.

Terus terang, saya tidak suka ular. Hanya saja, saya percaya Allah menciptakannya pasti Ia punya tujuan. Bisa ular itu sendiri pun adalah ciptaan Tuhan. Satu paket dengan penciptaan ular itu! Jadi, pertanyaan kita bukan ‘mengapa Tuhan menciptakan ular berbisa?’ melainkan tugas kita adalah ‘bersyukur bahwa Allah tidak menciptakannya sebesar batang kelapa.’ Jika demikian, habislah kita semua!

Berbeda dengan manusia. Allah menciptakan manusia bebas dari bisa atau racun mematikan. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Artinya, ada kualitas ke-Allahan dalam diri kita ini: kemampuan mengasihi, kemampuan berpikri jernih, kemampuan berbuah lebat dan menjadi berkat. Namun, pengalaman empiris kita menunjukkan adanya orang-orang yang mengalirkan bisa berbahaya kepada orang lain, tetapi mereka sendiri kelihatan tidak merasa apa-apa. Mereka kebal dengan bisa yang ada dalam dirinya sendiri. Kita menyaksikan sendiri sesama kita yang menderita karena perlakuan orang lain dan pelakunya terkesan tidak merasa apa-apa. Mereka kebal dengan bisa yang ada dalam diri mereka sendiri.

Bagaimana seharusnya sikap kita dalam keadaan seperti ini? Di satu segi, kita harus memastikan diri bahwa kita bebas dari ‘bisa mematikan’. Caranya? Kita hendaknya hari demi hari menempatkan diri diperiksa oleh Tuhan. Kita merelakan diri dideteksi, apakah kita berbisa. Kemudian, kita memohon dan bersedia dimurnikan oleh Roh Tuhan. Jangan sampai hidup kita, kata-kata kita, tindakan kita menghancurkan kehidupan orang lain. Di segi lain, kita mesti kuat bertahan terhadap segala bentuk ‘bisa’ yang dialirkan ke dalam hidup kita. Mungkin ada kalanya kita menjadi sasaran amarah, fitnah, ajaran sesat dan sebagainya. Kita harus menerima ‘penawar bisa’ dari Tuhan agar kita bertahan menghadapi segala macam yang menyesatkan. Itulah antara lain cakupan dari amanat firman Tuhan untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Selengkapnya dalam Efesus 6:11-18 berbunyi:

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.

Mengapa Tuhan memperlengkapi kita dengan semua ini? Kita berharga di mata-Nya. Mari kita hargai hidup ini, tidak dengan ‘harga diri’ menurut ukuran dan definisi dunia, melainkan atas dasar kepemilikan Allah atas hidup kita.

Sunday, April 18, 2010

MENATA KEMBALI PERSEKUTUAN YANG 'FALS'

REFLEKSI SENIN KE-16
19 April 2010


“Jangan hanya mengkritik, tetapi beri solusi!” Kalimat yang biasa kita dengar, bukan? Masalahnya adalah, “Apakah kita dapat memberi solusi terhadap seluruh masalah?” Tidak mungkin! Seringkali kita bisa merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dalam hidup ini, tetapi kita tidak tahu letak masalahnya dan tidak ada solusi langsung yang dapat kita tawarkan. Yang dibutuhkan dalam hal ini adalah orang yang mengetahui sumber masalah dan mau memberitahukannya demi penyelesaian yang baik.

Bayangkan sebuah koor sedang dikumandangkan. Semua kita dapat merasakan jika koor itu fals, tetapi tidak semua kita tahu di mana masalahnya. Tidak tahu di grup suara mana (tenor, alto, bariton, bas) atau, lebih spesifiknya lagi, suara siapa yang tidak pas dan membuat fals. Bahkan, anggota paduan suara itu sendiri tidak semua tahu suara siapa yang fals. Yang jelas, koor itu tidak pas alias fals. Mengandaikan masalahnya bukan pada lagu itu sendiri, sedikitnya ada dua cara untuk bisa memperbaikinya. Pertama, orang yang suaranya fals itu sendiri tahu bahwa suaranya yang membuat fals. Ia bisa langsung belajar untuk memperbaiki. Jika ini terjadi, maka proses perbaikan pun akan lebih cepat. Sebab, tidak membutuhkan ‘campur tangan’ pelatih dan anggota paduan suara lainnya. Kedua, pelatih paduan suara sendiri mengetahui mana yang perlu diperbaiki. Dengan caranya sendiri, sang pelatih dapat memberitahukan dan memperbaikinya.

Akan tetapi, koor fals seperti itu tidak akan pernah dapat menjadi baik jika (1) Yang fals tidak tahu bahwa suaranya atau suara kelompoknya yang fals dan tidak mau pula diberitahu bahwa suaranya membuat fals. Yang lebih repot adalah jika yang bersuara fals ngotot bahwa mereka benar dan sumber masalah ada pada suara orang lain. (2) Masalahnya justru adalah si Pelatih sendiri. Pelatih tidak tahu suara mana yang belum benar. Atau, pelatih tahu mana yang fals, tetapi justru mereka yang sudah benar yang terus dilatih, sedangkan yang membutuhkan bantuan diabaikan. Yang lebih parah si pelatih mengajarkan yang salah atau suara pelatih sendiri yang fals. Repot!

Dengan menggunakan paduan suara ini sebagai contoh, maka kita tidak bisa mengatakan, “Anda jangan hanya mengkritik, tetapi berilah solusi!” Kita tidak selamanya tahu suara siapa yang fals dalam suatu paduan suara. Yang dapat kita katakan bahwa sesuai pendengaran kita paduan suara itu fals. Dan kita dapat memastikan bahwa masalah bukan di telinga kita.

Dalam hidup sebuah persekutuan, kita bisa merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Kurang harmoni. Kurang kehangatan. Hilang keceriaan. Singkatnya, sebuah persekutuan itu ‘fals’. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa dalam kebersamaan hidup di dunia ini kita selalu membutuhkan perbaikan. Kita tinggal bersama dengan orang-orang sulit. Kita berhadapan dengan orang-orang yang memaksakan keinginan, dan sebagainya.

Stanley Hauerwas dan Jean Vanier pernah berkata, “persekutuan terbentuk dengan adanya kehidupan saling memperhatikan dan adanya kelemah-lembutan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Di situ terdapat gerak-gerik yang bersahabat, pelayanan dan pengorbanan. Di situ terungkap kata-kata “Saya mengasihi Anda dan saya bahagia bersama Anda”. Yang terjadi di sini adalah membiarkan orang lain di depan Anda, tidak berusaha membuktikan bahwa Anda yang paling benar dalam sebuah diskusi. Persekutuan yang indah adalah di mana seorang mengangkat beban orang lain”.

Jika persdekutuan kita terasa fals, sedikitnya tiga hal yang secara mendasar perlu kita perhatikan. Pertama, memeriksa diri sendiri. Apakah saya memberi andil dalam keadaan ini? Mungkin bukan hanya kita sendiri, tetapi yang paling penting kita dengan jujur dan rendah hati melihat dengan jernih keberadaan kita. Jika memang ternyata kita menemukan diri masuk dalam kategori ‘sumber masalah’, kita dapat memperbaiki diri. Jika orang lain yang menemukan bahwa tindakan kita atau kata-kata kita menjadi sumber masalah, kita mesti menerimanya secara dewasa tanpa disesah rasa bersalah. Kita tidak perlu membela diri. Kita juga tidak perlu menghukum diri sendiri hingga tidak bisa tidur. Kita bisa belajar dari pengalaman itu untuk lebih baik di masa depan. Singkatnya, kita tidak perlu larut berkata dengan hati terluka, “kok saya begitu ya, aduh....” tetapi dengan hati terbuka berkata, “saya akan begini (yang lebih baik) ke depan ini.”

Kedua, jika kita bukan sumber masalah dan tidak mengetahui tindakan siapa yang mengakibatkan suatu permasalahan, kita dapat mengungkapkan apa yang kita rasakan. Kita katakan saja ada yang tidak beres, seperti yang disebut tadi: kurang adanya harmoni, kurang kehangatan, hilang keceriaan, persekutuan kita dalam keadaan ‘fals’. Tetapi, jika kita mengetahui sumber masalahnya, kita dapat menyampaikannya dan memberi masukan untuk perbaikannya. Yang paling penting di sini, agar kita tetap dalam semangat kasih dan ‘orisentasi solusi’. Di sini, kita tidak menyerang orang tetapi memperbaiki kesalahan. Tujuan kita bukan untuk larut di masa lalu, tetapi bergerak ke depan dengan lebih baik. Misalnya, kita menghindari kata-kata, “Gara-gara kau! Dasar tak tahu diri, goblok!”. Itu tidak memberi solusi tetapi malah dapat memperparah masalah. Kita bisa berkata, “menurut saya Anda harus menghentikan kata-kata ini atau perbuatan ini demi kebaikan kita bersama”.

Ketiga, membiarkan pemimpin mengambil tindakan: memberi penilaian dan langkah yang perlu ditempuh. Pemimpin sudah dipercayakan untuk melakukan yang terbaik dalam sebuah persekutuan. Memang, menjadi masalah besar jika justru ‘suara pemimpin sendiri yang fals’, atau si pemimpin mengajarkan yang salah. Ada yang mengatakan bahwa ikan, yang pertama busuk adalah kepalanya. Kemudian, menjalar ke badannya. Hal yang sama sering terjadi dalam sebuah persekutuan. Dalam hal ini para pemimpin mesti memelihara kehidupan spiritualitas yang nampak dalam karakter dan integritasnya. Jika pemimpin ‘fals’, apakah anggota bisa menegurnya? Suatu tugas panggilan! Suatu keharusan!

Satu hal yang sangat penting diperhatikan adalah: proses. Kecenderungan dunia ini adalah menekankan ‘hasil’ yang kerap dibungkus dengan berbagai penyelewengan hingga kekerasan. Yang kita kagumi adalah kemegahan candi Borobudur. Jarang kita bertanya, adakah orang-orang yang dikorbankan untuk kemegahan seperti itu? Untuk bisa tampil hebat dalam koor, dalam kemajuan organisasi, dalam pembangunan suatu proyek, ada saja orang yang ditindas, dihina, disepelekan, diejek, direndahkan, dibunuh. Itulah tujuan yang mengabaikan proses. Jadi, proses itu sangat penting. Dalam pencapaian apa pun, kita harus menghargai manusia sebagai manusia yang berharkat sejak perencanaan hingga penyelesaian suatu program.

Sunday, April 11, 2010

HUBUNGAN RASA SYUKUR DENGAN KESEHATAN

REFLEKSI SENIN KE-15
12 APRIL 2010



Beberapa tahun terakhir para peneliti telah mencoba melihat hubungan rasa syukur dengan kesehatan manusia. Dr. DeSteno, (Northwestern Universitity) berkata, "rasa syukur membuat orang berbuat kebajikan, tidak mementingkan diri sendiri dan mendukung kehidupan sosial yang baik, yang berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan kesehatan psikologis”. Dr. Robert Emmon, profesor psikologi di Universitas California mengatakan bahwa mereka yang memiliki rasa syukur mengurangi tingkat iri hati, rasa kesal, dan kebencian. Mereka dapat tidur lebih baik, berolah raga lebih banyak (catatan: di Parlilitan dan Cililitan olah raga termasuk dalam bekerja di ladang dan tempat dagang) dan membuat tekanan darah normal. Senada dengan itu Dr Brenda Shoshanna, seorang psikolog New York mengatakan, “Anda tidak dapat depresi dan bersyukur pada saat yang sama". (Strait Times, 27 November 2009).

Meskipun penelitian ini dilakukan dalam konteks Barat, apa yang disingkapkan para peneliti di atas dapat menjadi pegangan kita: rasa syukur mendukung kesehatan tubuh dan emosi kita. Namun kita tidak dapat berkata bahwa orang yang sakit itu sudah pasti karena kurang bersyukur. Itu tindakan menghakimi. Juga bukan suatu kepastian bahwa orang yang sehat adalah orang-orang yang bersyukur. Banyak faktor yang membuat seseorang sakit. Banyak pula orang yang sehat yang tidak bersyukur.

Bagaimana rasa syukur memberi sumbangan terhadap kesehatan emosi dan tubuh? Sedikitnya empat hal dapat disebutkan di sini.

Pertama, rasa syukur satu paket dengan ‘sukacita’. Dalam hal ini kita dapat mengaminkan Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” Dan 15:13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” Para pasien penderita kanker biasanya selalu dinasihatkan supaya mereka ‘beremangat’ (yang unsur ‘sukacita’ ada di dalamnya) yang mendapat porsi 50% dalam memberi kesembuhan.

Kedua, orang yang memiliki rasa syukur tidak akan terbelenggu oleh ketegangan yang tidak perlu. Orang yang bersyukur dapat menjalani hidup apa adanya –tanpa menangisi masa lalu atau menguatirkan masa depan-- dengan kesadaran bahwa penyelenggaraan Allah masih tetap berjalan. Hidup yang bebas dari ketegangan yang tidak perlu atau stress berlebihan sangat mendukung kesehatan tubuh.

Rasul Paulus menasihatkan: “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing (Roma 12:3). Memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kita pikirkan dapat menjadi sumber ketegangan yang tidak perlu, yang pada akhirnya dapat memperburuk kesehatan emosi dan tubuh kita.

Ketiga, orang yang bersyukur beribadah dengan benar. Kehidupan doanya terpelihara. Mereka bersahabat dengan firman Tuhan melalui disiplin membaca Alkitab. Semua ini dilakukan tanpa dipaksa atau terpaksa. Setiap aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan kerelaan, bebas dari paksaan, memberi sumbangan yang sangat bersar terhadap kualitas kehidupan.

Keempat, bertemu dengan orang yang dipenuhi rasa syukur sungguh memberi keteduhan. Kita tidak merasa terancam. Sebab, orang yang memiliki rasa syukur tidak mungkin menyombongkan diri dan tidak mungkin menonjolkan diri. Orang yang bersyukur tidak hadir sebagai ancaman kepada orang lain dan tidak memperlakukan orang lain sebagai ancaman terhadap dirinya. Dengan demikian tercipta suatu hubungan yang sehat; dan hubungan yang sehat juga menentukan kesehatan emosi dan tubuh.

Apa penghalang ‘rasa syukur?’ Yang utama adalah rasa tidak puas atau keinginan tanpa batas. Perlu kita sadari bahwa seringkali kita tidak bersyukur bukan karena kita tidak memiliki cukup tetapi karena orang lain memiliki lebih banyak. Kita dapat melihat korupsi dan yang sejenisnya dari keadaan seperti ini. Orang yang dikuasai rasa tidak puas akan memperlakukan Allah dan sesama hanya sebagai alat untuk mencapai keinginannya. Ia memaksa. Memaksa diri sendiri, memaksa orang lain dan juga memaksa Tuhan. Kita tahu bahwa semua ‘dipaksa’ berdampak buruk terhadap kehidupan (menjadi kekecualian paku dan tiang penyangga bangunan).

Dengan mengetahui penghalang rasa syukur dan dampak buruknya terhadap kehidupan, kiranya kita dapat melangkah dalam sikap dan cara yang baru. Melangkah dengan pengucapan syukur; pengucapan syukur yang lahir dari pengakuan iman bahwa ketika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu yang Ia kehendaki demi kebaikan kita.

Sunday, April 4, 2010

SARINGAN

REFLEKSI SENIN KE-14
05 APRIL 2010

Di jaman Yunani kuno Dr.Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi. Cerita mencerahkan berikut dituturkan oleh K. Suheimi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul" lanjut Dr.Socrates. "Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?"

"Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan
ingin memberitahukannya kepada anda."

"Baiklah," kata Socrates. "Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar
atau tidak. Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu: KEBAIKAN. Apakah
yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang
baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk"

"Jadi," lanjut Socrates, "anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang
buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin
masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN. “Apakah yang anda
ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat
saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Dr.Socrates, "jika apa yang anda ingin beritahukan
kepada saya: tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya,
kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

Untuk kasus seperti itu, memang tidak membangun. Tetapi bagaimana kalau 'saringan' pertama BENAR, saringan kedua YANG BURUK, saringan ketiga BERGUNA? Keadaan seperti ini tidak jarang kita alami. Misalnya: Teman Anda seorang yang homoseksual. Anda sendiri tidak mengetahuinya. Saringan pertama sudah pasti BENAR. Saringan kedua: HAL YANG BURUK. Saringan Ketiga: BERGUNA. Anda bisa mencegah adanya korban. Contoh lain: Bawahan Anda pecandu narkoba; di luar pengetahuan Anda. Padahal Anda ingin mengangkatnya menduduki suatu jabatan penting di lingkungan pekerjaan Anda. Seseorang memberitahukannya kepada Anda. Anda memberi Ujian Saringan Tiga Kali. Hasilnya? Saringan pertama: BENAR. Saringan kedua: HAL YANG BURUK. Ia pecandu narkoba. Saringan ketiga: BERGUNA. Anda memilih the right person for the right position.

Yang perlu dihindari dalam hal ini adalah ‘memburuk-burukkan’ orang lain. Itu berbeda dengan ‘mengatakan tentang keburukan’ orang lain. Mengatakan keburukan orang lain demi perbaikan dan kebaikan adalah bagian dari kasih. Memburuk-burukkan orang lain adalah fitnah.

Uraian lebih rinci tentang boleh tidaknya mengatakan ‘keburukan orang lain’ silahkan klik di sini: http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/mengatakan-keburukan-orang-boleh.html

Sunday, February 28, 2010

'GERAKAN DALAM' DAN 'GERAKAN LUAR'

REFLEKSI SENIN KE-9
01 Maret 2010


Amatilah kehidupan Anda sejenak. Ada dua ‘gerakan’—yakni: gerakan dalam dan gerakan luar-- yang mempengaruhi bagaimana Anda mengambil keputusan, bagaimana berkata-kata, bereaksi, bertindak dan termasuk bagaimana Anda berhubungan dengan Allah, orang lain dan alam ciptaan Tuhan. Orang-orang yang memperhatikan gerakan-gerakan ini dengan baik akan lebih mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Bagi Joan Mueller ‘gerakan luar’ mencakup fakta-fakta kejadian sehari-hari, keadaan keuangan, pendapat umum, kesehatan, kesempatan, jenjang pendidikan, deadline tugas, suhu politik, dan sebagainya. Sedangkan ‘gerakan dalam’ antara lain suasana hati, kecenderungan, keinginan, perasaan, yang memikat hati dan sebagainya. Kedua gerakan ini mempengaruhi orang-orang dalam hubungan mereka dengan Tuhan, orang lain dan alam milik Tuhan.

Untuk lebih praktis dan memudahkan, di sini digambarkan dua contoh untuk melihat bagaimana ‘gerakan luar’ dan ‘gerakan dalam’ itu bertemu.

Contoh 1: Fakta - orang sombong
Misalkan kita menyikapi fakta orang sombong. Sedikitnya ada 3 sikap yang berbeda menghadapi seorang yang sombong. (1) Jika orang yang rendah hati berhadapan dengan orang sombong, mungkin tidak terlalu banyak menmbulkan masalah. Yang rendah hati lebih sabar dan lebih toleran. Komunikasi bisa berjalan relatif lebih mulus. Hal ini memang tidak menjadi jaminan bisa mengubah yang sombong menjadi rendah hati, khususnya kalau yang rendah hati sama sekali tidak menyinggung masalah kesombongan mitra bicaranya. Kemungkinan terjadinya perubahan orang sombong menjadi rendah hati dalam hubungannya dengan seorang rendah hati adalah jika yang rendah hati dengan caranya yang bersahabat mengingatkan yang sombong. Atau, yang sombong itu sendiri tergerak hatinya meneladani yang rendah hati. (2) Orang yang ‘rendah diri’ berhadapan dengan orang sombong. Perjumpaan seperti ini amat rawan terhadap pertentangan hingga permusuhan. Dalam bidang matematika, negatif dikali negatif memang menjadi positif. Tetapi ‘rendah diri’ (negatif) berhadap dengan ‘kesombongan’ (negatif) menimbulkan negatif ganda. Pembicaraan mereka tidak ‘nyambung’. (3) Lain lagi jika orang sombong dengan orang sombong berhadapan. Keduanya negatif. Perjumpaan mereka bisa seperti api yang menghanguskan bereka berdua. Mereka sama-sama saling menaikkantingkat kesombongannya dan sama-sama jatuh berkeping-keping dan terbakar pula. Tetapi, celakanya, bisa kekuatan mereka berdua menghanguskan orang lain, jika mereka menjadi satu tim yang kompak dan menyatu. Kekuatan mereka menjadi api raksasa menghancurkan orang lain. Mudah-mudahan tidak akan ada “Persekutuan Orang-orang Sombong Sedunia” --suhu panas sekarang saja sudah tidak tertahankan.

Jadi, untuk lebih praktisnya, jika kita melihat seorang sombong (gerakan luar), pertama harus kita lihat ke dalam: apakah kita seorang rendah hati, rendah diri, atau sombong. Reaksi kita akan ditentukan oleh keadaan kita (gerakan dalam).

Contoh 2: Kejadian dan opini tentang kasus pelecehan seksual.

Hal yang sama bisa kita terapkan juga dalam menyikapi suatu pergerakan penegakan hak asasi manusia. Misalnya, pergerakan yang memperjuangkan pembelaan terhadap korban pelecehan seksual dan penerapan hukuman kepada pelakunya. Tidak ada keragukan bahwa pelecehan seksual itu adalah tindakan tidak berperikemanusiaan, tindakan amoral, harus dihapuskan, harus dicegah. Korban-korban harus dilindungi, harus ditolong, harus dibela. Itu satu hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar. Satu hal lain, adalah yang memperjuangkan pembelaan korban dan penghukuman pelaku. Di antara berbagai kemungkinan adalah: (1) Gerakan dari mereka yang bebas dari kesalahan yang sama: tidak pernah melakukan pelecehan seksual. Bahkan bebas dari kesalahan-kesalahan lain: mereka tidak pemabuk, tidak penjudi, tidak perusak lingkungan, tidak pemarah, tidak pembunuh, tidak pencuri dan pelaku korupsi, selalu berbuat baik kepada semua orang, dan beriman teguh kepada Tuhan. Jika demikian, gerakan penghapusan pelecehan seksual akan jauh lebih baik, apakah dilakukan secara bersama dan terang-terangan maupun melalui pendekatan pribadi tanpa media massa. (2) Gerakan dari orang-orang yang terbebas dari pelecehan seksual, tetapi terjatuh dalam keburukan lain, mulai dari yang amat halus hingga yang sangat kasat mata dan berat: pencemburu, pemarah, haus popularitas, sok bersih, punya agenda dalam pemilihan jabatan tertentu, menggunakan pergerakan sebagai mata pencaharian. Gerakan seperti ini bisa mengubah orang lain (artinya kasus pelecehaan diselesaikan) tetapi tidak mengubah diri mereka. Malah, gerakan seperti dapat masuk dalam kategori kemunafikan. Sebab, tidak lebih besar dosa pelaku pelecehan seksual dengan kesombongan, iri hati, amarah dan sebagainya. (3) Gerakan yang dilakukan oleh para pelaku pelecehan seksual. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari gerakan mereka. Kemungkinan besar, mereka akan melindungi pelakunya.

Jadi, sekali lagi, sikap, reaksi, kata-kata, tindakan kita dalam setiap peristiwa atau kejadian atau berhadapan dengan orang lain (gerakan luar) sangat ditentukan ‘gerakan dalam’ diri kita.

Apa yang kita butuhkan adalah: membiarkan ‘gerakan dalam’ ini bersumber dari Roh Tuhan. Hati kita adalah ciptaan dan milik Tuhan. Pergerakannya juga mestinya dari Dia. Maka sebelum bersikap, berkata-kata, bertindak, bergabung dalam sebuah pergerakan (merespon gerakan luar) kita harus memeriksa hati. Mueller menegaskan, “membuat keputusan ketika seseorang sedang gundah, depresi, kurang iman, harapan dan kasih merupakan tindakan tidak bijaksana”. Mengapa? Karena perasaan gundah, depresi, tanpa kasih adalah tanda-tanda tidak bekerjanya Roh Kudus dalam hidup kita. Dan motivasi dan buah dari perjuangan yang lahir dari hal-hal negatif ini tidak mendatangkan keadilan dan damai sejahtera.

Saatnya kita relakan hati dan hidup kita dimurnikan, diisi dan dipimpin oleh Roh Tuhan, sehingga kehidupan kita, yang mencakup suasana hati, sikap, kata-kata dan perilaku kita, membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Sunday, February 14, 2010

BERPIKIR DENGAN HATI

REFLEKSI SENIN KE-7
15 Pebruari 2010

Pikiran kita bagaikan air yang amat mudah dan cepat mengalir ke mana-mana. Tetapi, sama seperti air yang dapat kita salurkan, pikiran juga dapat kita alirkan agar ia teratur, terarah dan berguna. Atau, pikiran juga digambarkan seperti monyet liar yang cepat melompat ke sana ke mari. Berbeda dengan monyet yang sudah dijinakkan, ia relatif lebih tenang. Pikiran juga bisa liar, tetapi kita 'berkuasa' menjinakkannya.

Biasanya, pikiran kita mengarlir atau terpencar sedikitnya ke tiga tempat (1) masa lalu, (2) masa depan, (3) angan-angan atau ilusi. Dengan demikian, sebenarnya kita jarang ‘hidup’ pada ‘saat ini’. Hidup kita terpaut pada masa lalu, masa depan, dan ilusi-ilusi kita. Tiga tempat atau keadaan itu pun masih dapat dibedakan antara yang baik (seperti yang menyenangkan, mengembirakan dan meneguhkan) dan yang buruk (seperti yang menakutkan, mengecewakan, menggeramkan dan menenggelamkan).

Pikiran itu sendiri adalah baik dan sangat bermanfaat. Jadi kata-kata “jangan gunakan otakmu dalam hal-hal yang berhubungan dengan iman” adalah nasihat menyesatkan. Tuhan menganugerahkan pikiran untuk kita gunakan menimbang kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tugas kita adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap menjadi sumber ‘air tawar’ yang menyejukkan dan menghidupkan.

Dalam Yakobus 3:11-12 dikatakan “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?.... Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar”. Jika pikiran kita terpelihara dengan baik, bebas dari segala macam polusi yang merusak kehidupan, keadaan itu akan memancarkan keindahan dan segala buah-buah yang baik. Sebaliknya, jika pikiran kita terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk, itu pula yang akan memperkeruh kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Paus Yohanes XXII benar ketika ia berkata, “Kebiasaan berpikiran buruk kepada segala sesuatu dan setiap orang amat melelahkan diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.”

Berkaitan dengan itu, George Ong pernah mengatakan, “Banyak persoalan di dunia ini disebabkan oleh perpaduan “pikiran sempit” dengan “mulut lebar dan bocor”. Tidak jarang kita bertemu dengan yang mengatakan lebih banyak dari yang diketahuinya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang selalu punya ‘keahlian’ tentang apa saja topik pembicaraan, mulai dari politik luar negeri hingga soal-soal luar angkasa, jenis mobil, gempa bumi, psikologi dan lain-lain. Bukan karena ia benar-benar mengetahuinya, tapi ia ingin tampil sebagai seorang yang serba-tahu. Idealnya, kita mengetahui lebih banyak dari apa yang kita katakan. Jadi, satu di antara sekian cara mengurangi masalah di dunia ini adalah perpaduan “pikiran luas” dan “mulut proporsional”.

Allah, dalam rancanganNya yang agung, menempatkan otak lebih tinggi dari mulut kita. Salah satu makna yang dapat kita petik dari rancangan ini adalah keharusan kita memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Ironisnya, banyak sekali kata-kata yang beredar di dunia ini yang bukan hasil pemikiran matang. Lebih celaka lagi, kata-kata yang sudah sempat berkeliaran tanpa hasil olah pikir dibiarkan begitu saja dan tidak ada kemauan untuk memikirkan ulang walaupun sudah jelas-jelas berakibat buruk terhadap sesama. Dalam hal ini firman Tuhan bernar adanya, "setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata" (Yak 1:19).

Untuk itulah kita mesti berpikir dengan hati. Artinya, pikiran harus bertemu dengan hati sebelum segala keputusan diambil, baik keputusan untuk berkata-kata, berdiam, bereaksi, berbuat, beristirahat dan sebagainya. "Hikmat mengandung pengetahuan kapan dan bagaimana berbicara serta kapan dan di mana berdiam diri" (Jean Pierre Camus).

Sunday, January 24, 2010

RASA DI BALIK KATA

REFLEKSI SENIN KE-4
25 Januari 2010


Kata-kata punya power, konstruktif atau destruktif. Tergantung pada yang mengatakannya atau yang meresponinya. Kata-kata bisa membuat hati berbunga-bunga, tetapi bisa juga membuat hati terluka amat dalam. Bisa membuat orang bangkit dari keterpurukan, tetapi bisa menjatuhkan semangat. Bisa membuat tidur nyenyak dengan mimpi indah, tetapi bisa juga sampai membuat orang tak bisa tidur hingga bunuh diri. (Ingat kisah seorang remaja di Jakarta yang bunuh diri hanya gara-gara temannya mengalamatkan kata-kata sebuah iklan “hari gini gak punya henpon?” kepadanya).

Tidak asing dalam pengalaman keseharian kita adanya orang-orang yang mulai hari Senin hingga Sabtu, kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk dalam kategori 3K :keras, kasar, kotor. Senin sampai Jumat mulai dari perjalanan menuju hingga di tempat kerja kata-kata yang keluar adalah ‘brengsek kamu’, ‘dasar begu elo’, ‘kampungan banget kamu’, ‘kurang ajar kau’, ‘gila/ sinting/ edan elo’, 'biar disambar gledek aja kamu sekalian', dan semua jenis makhluk yang ada di kebun binatang atau binatang peliharaan bahkan yang ada di toilet. Pada hari Sabtu, mereka tidak bekerja, tetapi kata-kata yang sama ditujukan kepada anggota keluarganya di rumah. Seorang ayah misalnya berkata kepada anaknya, “dasar anak setan!” (Lha, siapa dulu dong, bapaknya?). Baru hari Minggu kata-kata 3K-nya berhenti. Bukan karena beribadah di gereja, tapi karena tidur seharian. Mungkin mimpinya masuk 3K juga.

Orang-orang seperti itu juga sangat bermasalah dalam bereaksi terhadap suatu kejadian. Bayangkan seseorang menerima telpon salah sambung. (Mudah-mudahan Anda bebas dari 'kasus' seperti ini). Ketika telpon berdering dan ternyata salah sambung ia sudah mulai marah. Hal ini kedengaran dari nada suaranya yang ketus: ‘salah sambung!’ Ketika telpon birdering keduakalinya, pikirannya masih ke telepon sebelumnya. Jika ternyata masih salah sambung (apakah orang yang sama atau orang yang berbeda) amarahnya semakin meninggi, “Salah sambung!”, sambil membantingkan gagang telpon. Celakanya, kalau berselang beberapa saat lagi telpon berdering ketiga kalinya, ia sudah memvonis bahwa itu tetap salah sambung dari orang yang sama. Ia tidak berpikir panjang dan langsung merespon dengan kata-kata keras dan kasar, “Sekali lagi kau telpon, kucari kau sampai ke ujung dunia dan kuhajar kau!” Bayangkan kalau di ujung sana si penelpon berkata, “jangan main hajar gitu dong Pak?” saya hanya mau mengucapkan ‘selamat ulang tahun’. Ketika hatinya mulai melunak bercampur malu ia bertanya (walau sudah sangat terlambat), “Dengan siapa ini Pak?”. “Saya Pendeta Nonhajar, Pak!”. Bayangkanlah percakapan selanjutnya.

Manusia cenderung memiliki ‘otomatisasi reaksi’. Reaksi sudah terformat sedemikian rupa untuk setiap kejadian. Jika seseorang berbuat begini, reaksinya begini. Jika seorang mengatakan seperti ini, balasannya seperti ini. Reaksi-reaksi ini sebenarnya selalu ditentukan oleh apa yang ada ‘di dalam’, di pusat diri kita yang terdalam. Sama seperti jeruk yang diperas, yang keluar pastilah air jeruk, tidak mungkin jus apel. Sia pun memerasnya, di mana pun diperas, kapan pun diperas, dengan alat apa pun diperas, yang keluar sama: air jeruk. Kata-kata manusia juga seperti itu. Jika kata-kata keras, kasar, kotor yang keluar, itulah yang ada di dalam. Kata-kata kita mencerminkan keberadaan kita.

Memang ada sedikit kekecualian. Ada kalanya kata-kata ‘manis’ yang keluar dari hati yang pahit. Tetapi pada saatnya yang tepat akan terasa juga aslinya. Pasangan suami-istri menghadiri suatu jamuan makan. Hidangan lezat, bergizi, berlemak, mengandung banyak kolerstrol. Si istri dengan lembut menyapa suaminya yang sedang makan agak lahap, “Honey, Sweety!”, sambil melambaikan tangan. Wajah sang suami memerah dan mengungkapkan kata-kata amarah kepada istrinya. Yang menyaksikan kejadian itu heran dan berkata, “kok bapak marah? Kata-kata itu ‘kan ungkapan cinta dan rasa hormat seorang istri kepada suami?” Si suami berkata, “Bukan begitu. Saya menderita penyakit diabetes dan harus membatasi makanan. Ia tidak mengatakan ‘sweety’ sebagai bahasa cinta, tetapi menyindir!”. Tapi yang ini hanyalah ‘kasus’ langka. Yang jelas, isi hati menentukan kata-kata: membangun atau merusak.

Saat ini sudah banyak tersedia buku, kursus bahkan jurusan di perguruan tinggi yang mengkhuskan diri dalam hal ‘berkata-kata’. Secara teknis, hal itu dapat menolong. Di berbagai studio televisi tersedia salon khusus untuk para pembicara yang diundang ke studio. Laki-laki juga diberi pewarna bibir atau lipstick warna alami. Sayangnya lipstik tak menolong agar terhindar dari salah bicara. Tetap saja ada yang ngawur. Sebab, di dalam memang ngawur.

Untuk itulah kita membutuhkan jamahan Tuhan. Ketika hati dan mulut kita dimurnikan oleh Tuhan, reaksi kita terhadap segala situasi selalu dalam pimpinan Tuhan. Kata-kata kita menjadi lain. Body language kita beda. Semuanya meneguhkan dan membangun. Awasi kata-kata Anda mulai hari ini dan sikapi kata-kata yang ditujukan kepada Anda dengan hati bijaksana.

Sunday, January 17, 2010

ANTI-VIRUS HUBUNGAN TERINFEKSI

REFLEKSI SENIN KE-3
18 Januari 2010


Berikut ini adalah kisah seorang yang merasa menanggung 'beban ganda'.

“Seorang teman meminjam uangku lebih dari setahun. Pada saat mau meminjam ia datang setengah ‘menyembah’ dan dengan alasan yang benar-benar masuk akal untuk meminjam. Ia juga dengan kata-kata yang sangat meyakinkan berjanji janji untuk mengembalikannya paling lama tiga bulan. Bulan dan tahun pun telah berlalu, tetapi pinjaman tak kunjung kembali. Kini aku tidak hanya terbeban karena uang saja tetapi juga terbeban dengan ‘body language’ dan sikapnya yang tidak bersahabat. Padahal, hampir setiap hari saya harus bertemu dengan dia karena berada dalam satu kantor. Aku kehilangan uangku dan kehilangan pertemananku dan sekaligus kehilangan ketenangan batinku”.

Dalam kisah di atas kita melihat bahwa ‘hubungan’ pertemanan sedang menuju pada ke suatu bahaya. Proses peminjaman yang didasarkaan pada trust (rasa percaya) mulai memudar ketika penangguhan bahkan tanda-tanda pembatalan janji sedang terjadi. Akal sehat kita berkata bahwa si peminjam mengalami ‘pengorbanan ganda’, uangnya dan ketengan jiwanya. Hubungan terganggu seiring dengan pudarnya rasa percaya.

Di samping itu, hubungan juga bisa terancam oleh perbedaan pendapat. Padahal, dalam perjalanan hidup ini, kita pasti pernah berbeda pendapat dengan orang lain. Masalahnya, ada orang yang menyamakan saja perbedaan pendapat dengan pertengkaran. Padahal, tidak harus demikian. Perbedaan merupakan yang wajar-wajar saja dalam kehidupan ini. Terganggunya hubungan baik hanya karena perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak sehat. Lebih celaka lagi, perbedaan yang berujung pada perselisihan itu merembes dan merambat ke mana-mana. Bayangkan Anda berbeda pendapat dengan seseorang, dan seseorang itu menanggapinya secara negatif hingga memicu permusuhan hingga teman dekatnya pun memusuhi Anda. Padahal Anda tidak ada masalah sama sekali dengan yang bersangkutan.

Ada begitu banyak virus yang menggerogoti hubungan sehat dengan sesama. Kita tidak mampu memproduksi anti-virus ampuh mengatasinya. Hal-hal berikut kiranya dapat menjadi acuan kita:

1. Kesediaan kita terhubung dengan Tuhan. Sebab, semakin kita terhubung dengan Tuhan, semakin terhubung pula kita dengan orang lain. Semakin kita terhubung dengan orang lain semakin sehat pula emosi dan fisik kita.

2. Sebuah keharusan untuk ‘memahami diri kita sendiri’ dan ‘memahami orang lain’. Lihatlah bagaimana Anda berhubungan dengan orang lain. Misalnya, kita perlu mengenali apakah kita lebih ektrovert atau introvert. Sebuah masalah hubungan biasanya dimulai dari yang ekstrovert dan menjadi langgeng karena ‘reaksi’ mereka yang introvert. Yang ektrovert “memulai” dan yang introvert “menyambut dan melanjutkannya”. Yang lebih menderita biasanya adalah yang introvert. Sebab, yang ekstrovert cenderung memiliki dua kekurangan. Di satu segi kurang peduli apakah kata-kata dan tindakannya melukai atau menyakiti orang lain dan di segi lain kurang peduli terhadap kesalahan atau kekurangannya sendiri. Mereka bisa tidur nyenyak meskipun ia tahu sendiri dia bersalah. Yang introvert bisanya menderita dua ‘luka’: (1) Merasa terluka karena sikap, kata-kata dan tindakan orang lain dan (2) Merasa terbeban dengan reaksinya sendiri. Dalam hal ini, bertumbuhlah dari kesalahan-kesalahan, apakah Anda seorang ekstrovert (yang biasanya memulai masalah) atau apakah Anda seorang introvert (yang biasanya lebih merasa tersiksa dan bereaksi kurang sehat). Ketika Anda secara perlahan membuka hati, pertumbuhan dimulai seperti suatu sumber mata air yang baru.

3. Kita perlu mengembangkan sikap menerima perbedaan tanpa berujung pada parbadaan (Bahasa Batak yang berarti “Pertengkaran”). Caranya, kita harus membedakan antara ‘pendapat’ dan ‘si pemberi pendapat’. Kalau pendapatnya tidak kita terima, bahkan kita tolak, kita tetap dapat menerima ‘orangnya’. Membenci ide-ide buruknya, tetapi menerima dan mengasihi orangnya. Hal ini memang sulit, tetapi dengan proses pembiasaan semuanya bisa terjadi.

4. Indikator yang paling baik menunjukkan kepribadian dan kemampuan kita membangun hubungan yang sehat secara kristiani adalah buah-buah Roh (KSD 5KP): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23).



Hubungan yang sehat tercipta
seiring dengan berkembangnya kedamaian hati

Sunday, January 10, 2010

S T A T U S

REFLEKSI SENIN KE-2
12 januari 2010


Poles-memoles sudah menjadi hal yang sangat biasa dalam kehidupan ini. Mobil tua dipoles dengan cat metalik. Jadilah, mobil yang eksteriornya mengkilat, tapi interior dan mesinnya keropos. Nama juga dipoles dengan penempatan aneka gelar di depan dan di belakang nama. Dan, tentu, wajah dan penampilan juga tidak ketinggalan. Operasi plastik masih terus diminati orang saat ini, walaupun harganya amat mahal. Bukan hanya dengan nilai uangnya, tetapi juga menjadi taruhan nyawa. (Minggu lalu seorang CEO meninggal karena operasi plastik, belum lama berselang seorang artis usia belia meninggal karena kasus yang sama).

Mengapa semua ini diminati banyak orang? Pemolesan ini dianggap sebagai bagian usaha naik kelas status. Biasanya status seseorang diukur berdasarkan jadwal sibuk, label, kartu dan koneksi.

Sibuk
Ada sebuah pemahaman keliru yang kian merambah dalam era posmo ini, yakni: “Semakin sibuk seseorang semakin bergengsi dia.” Kata-kata “Saya tahu Anda sibuk” biasanya orang telan sebagai sebuah pengakuan kekaguman. Padahal, ketika pusat perhatian hanyalah pada ‘kesibukan’, bukan pada apa dan bagaimana kualitas hasil ‘kesibukan’ itu sendiri, maka kesibukan hanyalah sebuah kekerasan: terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesibukan yang tidak sehat sering menjadi pembenaran pengabaian kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Kesibukan juga disalahgunakan menjadi sebuah SIM (Surat Izin Marah). Kita ingat cerita Marta yang menyalahkan Maria yang duduk mendengarkan Yesus. Marta malah mencari pembenaran dan pembelaan dari Yesus.

Hadirnya alat-alat seperti komputer, telepon, kendaraan dll seharusnya membantu manusia untuk tidak menguras tenaga habis-habisan. Sayang sekali bahwa kelihatannya bukan manusia yang ‘memakai’ komputer, handphone, dan berbagai alat-alat canggih itu, tetapi justru alat-alat itu yang ‘memakai’ (=menguasai) manusia. Manusia semakin sibuk dengan komputer, telepon, kendaraan, dan alat-alat canggih.

Label
'Merek' barang merupakan ilah baru yang menguasai banyak orang pada zaman ini. Labal-label (merek) pakaian, tas, sepatu, jam tangan, mobil, aksesoris biasanya ikut berperan dalam menentukan status seseorang. Foto-foto yang terpajang di ruang tamu, facebook, website bagi sebagian orang dianggap sebagai sarana menaikkan status. Ada foto liburan di pegunungan bersalju atau berlatar bangunan pencakar langit kota megapolitan. Ada pula foto bersama dengan 'orang penting' (apakah karena ada hubungan dekat atau hanya kebetulan bisa permisi berfoto bersama) dianggap bisa ‘mendongkrak’ status. Pada dirinya sendiri, sebenarnya tak ada yang salah dengan semuanya itu sejauh pengalaman-pengalaman seperti ini semakin memurnikan hati, semakin memperdalam pemahaman akan makna kehidupan, semakin membuka diri dan tangan demi kebutuhan dan kebaikan orang lain. Yang celaka adalah kalau label-label seperti itu berubah menjadi ‘senjata’ penobatan diri pada posisi superior sambil menindas orang lain melalui kata dan sikap menghakimi. Jadi, tak perlu menurunkan semua foto-foto dari ruang tamu. Yang penting adalah menurunkan semua penggerak negatifnya atau motivasi terpolusi.

Kartu
Dunia ini mengukur status dari penghuni tetap dompet: berapa jenis kartu ATM, apakah dilengkapi dengan Amex, Visa, MarterCard, kartu keanggotaan golf, dan lain-lain. Bagaimana dengan kartu nama? Orang menilai status dengan gelar di depan atau belakang nama. Alamat juga sering dianggap membedakan status. Orang yang beralamat di Jln. Sudirman No 212, amat berbeda dengan yang beralamat di Jln Sudirman Gg. Buntu No 212. Sama-sama ‘Sudirman’ tetapi Gg. Buntu ini yang membedakan status.

Koneksi
Hubungan seseorang, entah hubungan keluarga, satu RT, teman satu SD dulu, dengan seorang pejabat atau publik figur biasanya ikut mendongkrak status seseorang. Tidak heran urusannya bisa lebih mulus. Permintaannya gampang dikabulkan.

Semua yang disebutkan di atas, tidak ada yang salah pada dirinya. Kartu kredit sah-sah saja. Anda tak perlu merasa bersalah memilikinya (kesalahan biasanya ada pada menyikapi dan menggunakannya). Tidak salah berlibur (bahkan suatu kebutuhan). Tidak ada yang jelek kalau berfoto dengan publik figur. Intinya adalah ini: status kita bukan diukur berdasarkan ‘apa yang kita miliki’ tetapi terutama ‘siapa Pemilik kita’. Dalam hal ini secara singkat dapat disebut tentang ‘status kristiani seperti berikut ini.

Status Kristiani

Penggerak paling umum cita-cita dan aktivitas adalah ‘motivasi sukses’ dan ‘inspirational stories’. Misalnya, bagaimana seorang tukang sapu menjadi milioner, seorang muntir upah harian menjadi pemilik berusahaan mobil raksasa. Kita tidak sadar bahwa setiap kita unik, mendapat pemberian khusus. Artinya, ‘status’ biasanya diukur berdasarkan sukses ‘angka’ berhubungan dengan timbangan atau kalkulator.

Kita membutuhkan transformasi. Status dasar kita sebagai orang Kristen adalah: keberadaan kita sebagai anak-anak Allah, yang sudah ditebus, yang adalah rekan sekerja Allah. Karena itu, sibuk, label, kartu, dan koneksi juga menentukan ‘status’ kita. Hanya saja keempat hal itu tidak berdasarkan ukuran dunia. Kita harus ‘sibuk’, sama seperti Tuhan Yesus juga sibuk dulu hingga hari ini. Hanya saja kesibukan kita bukan mendongkrak status kita di mata dunia, tetapi agar kita semakin serupa dengan Kristus. Kita sibuk bukan memaksa diri, memaksa orang lain, memaksa sebuah kejadian. Kata-kata bijak ini mengandung kebenaran: “Siapa menjual masa mudanya untuk sebuah kekayaan, ia harus bersiap-siap menjual kekayaannya untuk kesehatan, yang belum tentu berhasil.”

Di samping itu, sebuah pepatah Denmark berbunyi, "Membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama". Gambaran hidup supersibuk memaksa diri. Lilin memang harus dibakar pada saatnya dibutuhkan, itupun hanya dari bagian atasnya. Lilin yang tidak dibakar tidak melakukan fungsinya. Jadi, hidup seimbang itu perlu, dengan lima "si": meditasi, kreasi, aksi, rekreasi, dan refleksi". Meditasi, misalnya, merupakan kebutuhan kita untuk bisa bertumbuh. Dalam meditasi kita meneduhkan diri di hadapan Tuhan. Dalam meditasi kita tidak meminta kepada Tuhan. Kita hanya menyadari bersama dengan Allah (apa dan bagaimana meditasi Kristen silahkan lihat di dalam blog ini di bagian “MEDITASI KRISTEN).

Label yang kita kenakan adalah salib Kristus. Kartu-kartu kita tidak terutama dalam bentuk kertas atau plastik, tetapi keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Kartu-kartu dunia ini adalah alat akses untuk menarik sesuatu kepada diri kita sendiri. Kartu kristiani adalah kerelaan kita menjadi berkat bagi sesama.

Sehubungan dengan ini, koneksi kita dengan apa dan siapa pun selalu ditentukan oleh koneksi kita dengan Tuhan, Pemilik kita. Kita tidak menunjukkan “foto bersama” kita dengan Tuhan, tetapi bagaimana orang lain dapat melihat ‘gambar Tuhan’ melalui seluruh kehidupan kita. Sebab, kita adalah gambar Allah. Kiranya orang lain bisa melihat dan mengalami kasih Allah melalui kasih kita.

Ternyata, dengan demikian, ‘status’ kita bukan sesuatu yang kita raih melalui segala usaha kita, melainkan apa yang kita terima dari Tuhan: Tuhan sendiri dan pemberianNya. Atau, Pemberi dan pemberianNya sekaligus.


ShoutMix chat widget