Thursday, February 26, 2009
SEMINAR HAGGAI INSTITUTE
Pembicara kali ini adalah Christov Wiloto, Pdt Yusuf Gunawan, dan Pak Decky Lumentut
Peserta
James Tehubijuluw (Gereja Presbyterian)
Rita Kusmiaty
Eliakim Sitorus (HKBP)
Bpk. Wilyanto Deng
Bpk. Tjandra Lineng
Pak Audi Wuisang
Bp. Rudijanto Gunawan
Bp. Hantarto Tjandra
Pdt Rudi Sembiring (GBKP)
Ibu Diana Lie
Pak Indra Darmawan
Ibu Tima Warni Pangaribuan (HKBP)
Pak Bagio Tjandra
Pak Kelvin Wu
Pak Albertus Hendrawan Adiwahono
Pak Sigit Triyono
Pak Wissel P. Siregar (HKBP)
Bpk. Benhard Ambarita (Gereja Presbyterian)
Bapak Yulius Setiawan
Pak Godbless S.V. Lumentut
Susunan panitia:
Ketua : Pr Chandra Koewoso
Wakil Ketua : Pak Subakti
Resident Coordinator (RC) : Philips, Pak Petrus
Sekretaris : Minda
Bendahara : Pak Lee
Fund raising coordinator : Pak Subakti
Sie Acara : Chika, Pak Petrus
Sie Rekrutmen : Stevin
Sie Perlengkapan dan sie IT : Henry Palit
Sie Transportasi : Pak Subakti
Sie Doa : Pak Wisin
Sie Konsumsi : Ibu Novita, Chika
Sie Akomodasi (pembagian kamar) : Minda
Si Dokumentasi : Michael
Sunday, February 22, 2009
YANG ISTIMEWA DARI ORANG PERCAYA

REFLEKSI SENIN KE-9 2009
‘Hukum pemberian berbasalan setimpal’ tidak asing dalam kehidupan kita keseharian. Misalnya, kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Bagi sebagian orang mungkin hadiahnya pun diusahakan agar harganya kurang lebih sama dengan yang pernah diterima. Jika orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa jika kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA berikutnya diadakan di rumahnya. Kalau tidak, kita juga tidak datang mengikuti PA di rumahnya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”. Itu pula yang sudah lama terjadi bahkan pada zaman Yesus.
Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengar-Nya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas dalam teguran Yesus sebagaimana tertulis dalam Lukas 6:
· Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32)
· Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33)
· Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34)
Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat manusia. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......” Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka, apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, bagi sebagian orang untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!” “Itu belum setimpal dengan kesalahanmu”. “Kok tidak mati saja dia sekalian!” dan sebaginya.
Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...” Amat berat, tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan menjadi sahabat bagi semua orang. Kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan melahirkan perdamaian di dunia ini dan itu akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan, sekaligus untuk kedamaian hati dan kebahagiaan kita juga. Sebab, orang yang menyimpan kebencian tidak mungkin berbahagia.
Sedikitnya ada tiga hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita. Ketiga, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah (ayat 36). Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.
Monday, February 16, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU VIII 2009:16/02

Kita dapat menemukan di dalam Alkitab sekitar 365 kali kata “jangan takut”. Hal ini seolah mengingatkan kita setiap kali bangun pagi selama setahun penuh (365 hari): “jangan takut!” Di samping itu, kita juga menemukan 138 kali kata “takut akan Tuhan” di dalam Alkitab. Tetapi, kata ‘takut’ dalam “jangan takut” dan “takut akan Tuhan” tidak sama. “Takut akan Tuhan” berkaitan dengan cara hidup seseorang yang selalu dekat dengan Tuhan dan hidup seturut kehendak-Nya.
Sikap dan keadaan orang ketika menghadapi apa yang ditakuti atau persoalan kehidupan biasanya adalah “tiga F”:
Fight: melawan atau menundukkan. Masalahnya, kalau yang ditakuti jauh lebih kuat, maka sekuat apa pun kita melawannya kita tetap menjadi korban. Kita kehabisan tenaga, bahkan kehabisan segala sesuatu.
Flee: melarikan diri. Banyak orang yang mengambil sikap seperti ini yang terkadang juga tidak menolong. Misalnya, karena takut bertengkar di rumah, ada yang merasa lebih baik melarikan diri. Tidak merasa senang dengan seseorang di gereja, pergi ke tempat lain. Padahal, tindakan seperti itu bisa saja memperburuk keadaan.
Frozen: Lumpuh dan tidak berdaya sebelum melakukan sesuatu. Langsung pasrah dan menyerah. Keadaan seperti ini makin mempermudah kita menjadi korban empuk.
Dalam menghadapi masalah kehidupan ini, biasanya kita juga masuk dalam salah satu keadaan di atas. Hal yang sama terjadi pada murid-murid yang sedang ditekan rasa takut (Baca Matius 14). Karena “hantu” begitu menguasai hati dan pikiran mereka, maka ketika Yesus menampakkan diri mereka menyangkaNya hantu. Dalam keadaan demikian, Yesus membuang ketakutan mereka dengan mengatakan, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Di sini Yesus memberikan yang paling mereka butuhkan, yakni: “ketenangan” ganti ‘ketakutan’. Yesus juga memberikannya kepada kita hingga hari ini.
Sebagai orang percaya, kita mesti menghadapi persoalan kehidupan dengan F yang keempat yakni Faith (iman). Artinya, kita harus mempercayakan diri pada pertolongan dan penyelenggaraan Tuhan. Kita sadar bahwa dari diri kita sendiri kita tidak mampu menjalani hidup ini. Kita juga tidak ahli menangani persoalan hidup kita. Yang menggembirakan kita ialah bahwa Tuhan lebih besar dari segala yang kita takuti di dunia ini. Dan, Ia selalu dekat dan bersedia mendengar dan menolong kita. Dalam Ratapan 3:57 dikatakan, “Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!" Kiranya, pengakuan seperti ini menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini.
.
Sunday, February 8, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU VII 2009: 09/02
Sunday, February 1, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU VI 2009: 02/02
Banyak orang yang menyebut usia 40-an sebagai “usia krisis”. Beberapa alasan di balik pemahaman ini adalah sebagai berikut.
- Muncul tanda-tanda penuan seperti tumbuhnya uban, keriput di wajah, bercak-becak hitam dan berbagai ‘noda’ yang tidak dikehendaki. Bagi sebagian orang ‘tumbuhnya uban’ dianggap sebagai ‘kiamat kecil’. (Mohon dicatat: ketika uban Anda mulai muncul, pakailah kesempatan itu bersyukur karena pemeliharaan Tuhan sekaligus bertanya, “apakah saya makin berhikmat?
- Hasil medical check up menunjukkan adanya kelebihan kolestrol, asam urat, gula darah. Makanya ada pula yang tidak mau melakukan medical check up karena takut mengetahui penyakitnya.
- Pernikahan diuji. Bagi sebagian pasangan, sikap kritis mulai mendominasi. Celakanya, ada pula yang sudah menikah lebih dari 15 tahun masih bertanya-tanya dalam hati, “jangan-jangan ini bukan jodoh saya. Padahal, anak-anaknya sudah remaja!
- Seiring dengan meluasnya lingkaran keluarga, makin terbuka pula kemungkinan konflik. Beruntunglah kalau orangtua atau mertua tidak terlalu campur kepada keluarga anak-anaknya. Ketidakcocokan bisa terjadi kepada keluarga pihak istri atau suami.
- Mengubah pekerjaan sudah jauh lebih sulit, meskipun kebutuhan keluarga melebihi penghasilan. Tanggungan meningkat: anak-anak, orangtua yang sudah lanjut usia, anggota keluarga dari pihaka suami dan istri.
Apakah masalah-masalah itu membenarkan label ‘usia krisis”? Sebenarnya, bagi orang Kristen tidak ada “usia krisis”. Setiap tahapan perjalanan hidup ada di tangan Tuhan.
Benar, kalau tahun bertambah, usia kita pasti bertambah juga. Kalau usia kita bertambah sesudah usia dewasa, akan banyak bula yang berkurang dari kita di samping hal-hal yang bertambah.
YANG BERKURANG SAAT USIA BERTAMBAH
Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Lupa di mana kunci diletakkan. Padahal, baru dia pegang. Tapi (anehnya) kesalahan orang 37 tahun lalu tetap diingat.
Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan boleh dimakan; sudah tua perut sudah malas mencerna. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.
Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.
Dalam Yes. 46:4 dengan sangat jelas dikatakan bagaimana Allah terus campur tangan, yaitu:
Mengendong : Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua.
Menanggung: Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.
Memikul dan Menyelamatkan: Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Keselamatan Tuhan sediakan dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.
Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.
YANG BERTAMBAH SAAT USIA MAKIN BERTAMBAH
(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.
(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu. Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh.
Idealnya, pertambahan usia seirama dengan pertumbuhan iman hingga mencapai kedewasaan iman. Kita juga menyaaksikan bahwa pertambahan usia juga sering diikuti dengan bertambahnya hikmat –sesuatu yang sangat penting dan ditekankan di dalam Alkitab. Apakah kita semakin berhikmat seiring dengan pertambahan usia? Apakah kita bertumbuh ke arah kedewasaan iman seiring dengan pertambahana usia? Semoga.
Monday, January 26, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU V 2009: 26/1
Anthoni de Mello mengartikan ‘kelekatan’ sebagai ketergantungan emosional yang disebabkan oleh keyakinan bahwa tanpa sesuatu atau pribadi tertentu seseorang tidak dapat bahagia. Pada kesempatan lain ia mencontohkan sisi gelap kelekatan sebagai berikut:Diamlah sejenak untuk melihat bagaimana kelekatan membuat kering simfoni kehidupan anda. Itu pula yang terjadi pada para politisi karena kelekatannya pada kekuasaan, demikian juga pada para pengusaha karena kelekatannya pada uang. Kelekatan telah membuat mereka tidak peka terhadap melodi kehidupan.
Di antara sekian objek kelekatan manusia, di sini dapat disebutkan empat di antaranya.
Pertama, kelekatan kepada manusia. Ingatlah orang-orang yang kepadanya kita sangat tergantung. Kita begitu peduli kepada mereka sebab mereka menyenangkan hati kita, mereka memberi hadiah kepada kita, memuji kita, menolong dan menyemangati kita dan sebagainya. Apa yang biasanya kita sebut ‘kasih’ hanyalah merupakan ‘kelekatan’. Dengan ‘kelekatan’ kita tidak melihat dan memperlakukan orang sebagaimana adanya dan dengan demikian kita menciptakan berbagai harapan untuk mereka penuhi: mereka harus seperti ini, mereka harus melakukan itu dan sebagainya. Lalu ketika mereka tidak hidup sesuai dengan pikiran kita atau yang seharusnya mereka lakukan kita menyakiti, mengecewakan dan mempersalahkan mereka. .
Dengan kasih yang murni, kita peduli dan menolong orang lain dan menghendaki mereka berbahagia bukan karena mereka menyenangkan dengan memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi karena mereka ada sebagaimana mereka ada. Kita menerima orang lain sebagaimana adanya dan terus menolong mereka, tidak dengan mengharapkan apa yang menguntungkan kita dari hubungan itu bahkan yang paling halus sekali pun seperti ‘ucapan terima kasih’. Kasih yang murni tidak mengandung kecemburuan dan perasaan ingin memiliki apalagi menguasai orang lain.
Kedua, kelekatan pada prinsip baku dan kaku. Ada orang yang begitu melekat pada suatu prinsip hidup hingga membuatnya menjadi tertutup pada kebenaran. Keadaan demikian membuatnya semakin mengeraskan hati. Ini bisa terjadi atas dasar keyakinan yang keliru pada ajaran agama, ideologi suatu bangsa, kebudayaan, warisan keluarga dan lain sebagainya. Kelekatan-kelekatan seperti tidak jarang berujung pada perselisihan di tengah keluarga, masyarakat, bahkan dalam lingkungan agama. Dan yang paling menyedihkan kelekatan-kelekatan seperti itu justru melahirkan aneka bentuk peperangan, mulai dari perang urat saraf hingga perang dengan menggunakan pedang dan senapan.
Ketiga, kelekatan pada jabatan atau tempat. Hal ini tidak asing bagi kita. Perhatikanlah sekitar kita, ada begitu banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk tetap bertahan pada jabatan tertentu atau tempat tugas tertentu. Kelekatan seperti ini tidak selalu karena faktor ‘materi’ tetapi bisa juga karena faktor ‘gengsi’. Padahal, semangat menggenggam jabatan atau tempat tugas tertentu tidak pernah memberi kedamaian batin. Kecurigaan kepada orang lain yang dianggap mengambil jabatan tersebut biasanya tumbuh lebih subur. Hubungan dengan orang lain pun jadinya tidak akan sehat. Akhirnya, masa pensiun yang seharusnya suatu perayaan sukacita bisa berubah menjadi saat menegangkan yang mengakibatkan penderitaan batin dan fisik.
Psikolog Tim Kasser dan kawan-kawan telah menunjukkan bagaimana sikap orang yang lebih materialistik: orang yang mengartikan dan mengukur harga diri dengan uang dan harta yang dimiliki memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah. Ada korelasi antara peningkatan konsumsi dan berkurangnya kebahagiaan manusia, khususnya dalam hubungan-hubungan sosial. Hubungan mulai hilang ketika penghasilan bertambah. Sebaliknya, ada kecenderungan suatu peningkatan kepuasan hidup dengan income yang lebih rendah.
Kita menemukan di dalam Alkitab beberapa peringatan buruknya kekayaan. Dalam Amsal 23: 4 dikatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”. Kita juga mendapat peringatan di dalam 1 Tim 6:9 yang mengatakan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
Apakah menjadi kaya secara material sebagai sesuatu yang buruk atau dosa? Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat disederhanakan cukup dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’. Sebab, menjadi kaya tidak salah pada dirinya sendiri. Sedikitnya ada tiga pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab dalam hal ini. Pertama, apakah kekayaan itu diperoleh seturut dengan kehendak Tuhan (bukan dicuri atau dikorupsi, bukan dengan jalan mengorbankan bawahan atau karyawan, bukan dengan merusak alam ciptaan Tuhan dan sebagainya). Kedua, apakah kekayaan itu digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain? Ketiga, apakah hati kita melekat pada Tuhan, bukan melekat atau mengandalkan apa yang kita miliki? Jika kita dapat memberi jawaban ‘ya’ pada pertanyaan-pertanyaan ini, 'selamat menjalani hidup kaya!'
.Ketika seseorang melepaskan kelekatan, ia sekaligus melepaskan semua kekuatiran. Seruan ‘jangan takut’ atau ‘jangan kuatir’ memenuhi halaman-halaman kitab suci dan tulisan papra mistikus. Sebab kecemasan atau kekuatiran adalah bentuk halus dari kelekatan.
Monday, January 19, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU IV 2009: 19/01
HUBUNGAN KEHIDUPAN BERGEREJA DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Berbicara tentang hubungan kehidupan bergereja dengan kehidupan sehari-hari, sedikitnya ada lima kelompok orang:
(1) Orang yang tidak perduli terhadap kehidupan bergereja (tidak hadir dalam ibadah Minggu dan PA, tidak mau membaca Alkitab dan berdoa) dan hidupnya sehari-hari pun penuh dengan kebiasaan buruk bahkan tidak bermoral.
(2) Orang yang rajin ke gereja, tidak pernah absen di perkumpulan PA, berdoa setiap kali mau makan, tetapi seolah-olah tidak ada pengaruhnya yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Karakter buruk tetap melekat, seperti suka marah bahkan berang, memendam dendam, melakukan korupsi, pergi kepada dukun dan lain-lain.
(3) Tidak rajin ke gereja dan tidak banyak tahu tentang isi Alkitab, tetapi dalam hidup sehari-hari ia hidup baik, jujur, ramah, bekerja dengan sungguh-sungguh, suka menolong sesama manusia.
(4) Sesekali pergi ke gereja dan hidup biasa-biasa saja, tidak terlalu jahat dan tidak baik sekali. Sungkan menghujat Allah tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tidak mau mengganggu orang lain, tetapi juga tidak bersedia menolong sesama.
(5) Rajin dan terlibat aktif dalam seluruh kehidupan bergereja, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama-sama dan itu juga terpancar dalam hidupnya sehari-hari dalam berbagai perbuatan baik.
Kita boleh melihat di kelompok mana kita dan keluarga kita masing-masing berada. Yang ideal memang adalah nomor 5 ini.
Ibrani 10:24 berbicara tentang hubungan iman dan ibadah dengan kehidupan keseharian: “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. Ayat ini mesti dilihat sebagai satu kesatuan mulai dari ayat 19 yang menegaskan bahwa Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudusNya, menjadi anggota keluarga Allah.
Bertolak dari karya Kristus yang begitu besar dan menentukan, menyusul tiga ajakan ‘marilah’ kepada umat percaya, yakni:
(1) Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh. Oleh karena hati kita telah dibersihkan…. (ay 22)
(2) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia (ay 23)
(3) Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (ay 24).
Oleh karena itu, pusat perhatian kita yang pertama dan terutama adalah ‘pekerjaan Kristus di antara kita’. Ketiga ajakan seperti disebut di atas merupakan buah dari sambutan umat percaya kepada karya Kristus itu sendiri.
Dalam hal ini kita diajak kepada hal-hal yang konkret dan praktis tentang sikap dan gerak hidup sebagai orang percaya. Dengan kata lain, firman Tuhan ini mau menegaskan keterkaitan antara iman, ibadah dan kehidupan yang berbuah.
1. Rintangan Saling Memperhatikan
Saling memperhatikan dalam kasih merupakan sesuatu yang terbilang langka pada zaman ini. Kalaupun ada, ia lebih merupakan ‘pertukaran kepentingan’. Saya menjaga kepentingan Anda, sejauh Anda menjaga kepentingan saya. Saya akan datang ke pesta Anda, kalau Anda datang menghadiri pesta saya. Saya akan datang mengikuti PA di rumah Anda, kalau Anda hadir ketika PA diadakan di rumah saya. Di sini, persahabatan dibelokkan sebagai alat pemenuhan pementingan diri. Bahkan, agama pun bisa saja diperlakukan sebagai alat pemenuhan kepentingan.
Di samping membawa berbagai hal yang baik, salah satu sisi kelam dari era globalisasi ini ialah kecenderungan manusia yang kian dicengkeram individualisme (karena itu menjadi kurang dalam saling memperhatikan) dan materialisme (sehingga yang dipuja adalah Mamon hingga mengorbankan orang lain).
Kehidupan yang serba individualisme dan materialisme sangat mudah membuat orang merasa kuatir dan cemas, yang dapat menekan kehidupan. Bahkan, yang lebih buruk, akan mengakibatkan berbagai penderitaan fisik. Sebab, pikiran dan suasana hati menyalurkan kecemasannya kepada tubuh. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa gangguan fisik seperti pusing kepala, gangguan saluran pernafasan, sakit perut, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan sebagainya diakibatkan oleh tekanan terhadap rasa dan emosi.
Masih dalam hubungan itu, ambisi, menyimpan amarah, dengki, rasa benci, takut, kecewa menimbulkan stress (ketegangan) pada tubuh. Stress seperti itu dapat menyebabkan pernafasan dan detak jantung kita menjadi tidak normal. Kalau pasokan oksigen berkurang dalam tubuh, maka aliran darah juga akan terganggu. Dengan demikian, stress dapat menciptakan ketidakseimbangan kimia yang mengakibatkan kesalahan fungsi kelenjar dan organ-organ lain. Tubuh menjadi tidak mampu memberi perlawanan terhadap kuman-kuman yang biasanya dapat dikendalikan. Selanjutnya akan menimbulkan berbagai gangguan fisik.
Gangguan-gangguan semacam itu semakin membuat perhatian seseorang tertuju dan terpusat pada diri sendiri, cenderung lebih memikirkan keadaan diri sendiri dan amat kurang memberi perhatian terhadap sesama. Untuk itu perlu kita cermati berbagai gangguan kepribadian yang menghambat terciptanya kehidupan yang saling memperhatikan.
- Orang yang terlalu memikirkan diri sendiri kurang memiliki kesempatan memikirkan orang lain
- Orang yang terlalu memperhatikan diri sendiri tidak mempunyai kesempatan memperhatikan orang lain
- Orang yang mengutamakan kenikmatan diri, akan cenderung merampas hak dan kebahagiaan orang lain.
Sunday, January 11, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU III 2009: 12/01
Ketika badai kehidupan silih berganti kita saksikan terjadi pada orang lain atau justru menerpa diri kita sendiri, tidak jarang kita bertanya dalam hati, “mengapa semua ini terjadi?” Apalagi, kita tidak menemukan sesuatu dalam diri kita, seperti kesalahan atau kelalaian kita, yang membuat kita menanggung derita. Kita semakin bingung ketika kita menyaksikan orang-orang jahat justru sehat-sehat saja bahkan kian 'makmur'. Kita pun tergoda untuk terus bertanya setengah menggugat, “mengapa bukan pendosa dan hidup penuh noda itu saja yang porak poranda?” Jika pikiran dan hati kita tidak jernih menilai setiap peristiwa kehidupan, kita bisa saja terjerumus pada kesimpulan keliru seolah Allah tidak adil atau tidak peduli dengan keadaan kita. ..Akan tetapi, dari firman Tuhan sebagaimana dapat kita baca dalam Yakobus 1:2-8, kita disegarkan kembali untuk memaknai persoalan atau pergumulan hidup dengan iman. Dikatakan di situ bahwa “berbagai-bagai pencobaan” ada yang merupakan ujian terhadap iman kita yang akan menghasilkan ketekunan. Ada baiknya kita perhatikan secara khusus kata “ujian” dan “ketekunan”. Di sekolah, semua siswa yang akan naik ke kelas yang lebih tinggi selalu menghadapi ujian. Jadi, ujian-ujian yang kita hadapi dalam kehidupan ini, hendaknya mendorong kita untuk kian tekun dalam doa, penyerahan diri dan ketekunan berkarya mulia. Untuk memurnikan emas, ia mesti dibakar. Sehubungan dengan itu, dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan:
.
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Belajar dari firman Tuhan ini, kita hendaknya lebih memusatkan perhatian kepada Tuhan dan kekuatan yang Ia berikan kepada kita, bukan terutama pada pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, seberat apa pun itu. Sebab, kuasa Allah jauh lebih besar dibandingkan dengan semua beban hidup kita.
Dalam firman Tuhan sebagaimana dalam Yakobus 1 ini juga dinasihatkan agar kita meminta hikmat dari Tuhan. Ayat 5 berkata: “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati...” Hikmat tidak bisa kita hasilkan dari diri kita sendiri. Tidak bisa disekolahkan dan tidak bisa dibeli. Hikmat adalah pemberian Tuhan. Dengan hikmat yang dari Tuhan, kita tidak akan terombang-ambing dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup ini. Sebab hidup yang terombang-ambing atau ‘mendua hati’ (ayat 8) tidak akan pernah tenang dalam hidup. Tetapi dengan hikmat yang dari Tuhan, kita dapat menemukan hikmah dari peristiwa kehidupan yang kita alami.
Dengan memahami dan menerima firman Tuhan ini, kita pun akan dapat menyanyikan Kidung Jemaat 439 dengan penuh keyakinan dan sukacita:
Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
Berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya...
Adakah beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat?
Hitunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia....
UPDATE BEASISWA KE PARLILITAN-JULI 2009
1. Anthon Simangunsong (Singapore) untuk 10 orang -Mulai Ags 08
2. John Sihotang (New York).............. untuk 1 orang - Mulai Ags 08
3. NN (Singapore) ................................ untuk 1 orang -Mulai Ags 08
4. JM (Solo-Jawa Tengah).................. untuk 2 orang - Mulai Sept 08
5. Kel Ramses Butarbutar (S'pore).... untuk 6 orang - Mulai Okt 2008
6. NS (Singapore)................................. untuk 5 orang - Mulai Okt 2008
7. Johnny Tobing............................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 08 (lanjutan)
.
PENERIMAAN:
.
Pembayaran tahunan:
1. Ags 08-Juli 09 : Anthon Simangunsong : Rp. 7.680.000 (S$1,200xIDR 6400)
2. Ags 08-Juli 09 : John Sihotang ...............: Rp. 750.000
3. Ags 08-Juli 09 : NN - Singapore ............: Rp. 600.000
Pembayaran Bulanan:
1. JM - Solo (Jawa Tengah)
Ags-Sept 08 : Rp. 200.000
Okt-Nop 08 : Rp. 200.000
Des 08-Pbr 09: Rp. 300.000
Maret-Mei 09: Rp. 300.000
Juni-Juli 09 : Rp. 200.000
2. NS - Singapore
Okt-Des 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Jan-Maret 2009 : Rp. 900.000 (S$120 x IDR 7500)
April-Juni 2009 : Rp. 1.125.000 (S$150 x IDR 7500)
3. Ramses Butarbutar - Singapore
Okt-Nop 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Des 08-Maret 2009: Rp.1.500.000 (S$200xIDR7500)
April 09-Mei 2009: Rp. 750.000 (S$100 x IDR 7500)
Juni-Agustus 2009 : Rp. 1.035.000 (S$150 x IDR 6900
Total Penerimaan hingga Januari 2009: Rp. 16.040.000
YANG SUDAH DIKIRIM
1. Agustus 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
2. September 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
3. Oktober 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
4. Nopember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
5. Desember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
6. Januari 09................................................ = Rp. 1.300.000
7. Pebruari 09 ........................................... = Rp. 1.350.000
8. Untuk Maret 09..................................... = Rp. 1.350.000
9. Untuk April 09 ...................................... = Rp. 1.350.000
10. Untuk Mei 09........................................ = Rp. 1.350.000
11. Untuk Juni 09..................................... = Rp. 1.350.000
12. Juli 09................................................. = Rp. 1.350.000
1
Total yang sudah dikirim 12 bulan x Rp. 1.350.000 = Rp. 16.200.000
PENERIMA BEASISWA:
1. Candi Tinambunan
2. Helmida Barasa
3. Horas Sihotang
4. Mei Romaida Nahampun
5. Rumonda Siringoringo
6. Firgo Sappetua Barasa
7. Osni Tiurma Hasugian
8. Siti Marini Situmorang
9. Dapid Sinambela
10. Masdani Hasugian
11. Daniel W. Hasugian
12. Sampit Lasniroha Sihotang
13. Rewida Bernadetta Manik
14. Deliana Barutu
15. Herman Harefa
16. Sehat Pardomuan Tumanggor
17. Randi Ramson Silalahi
18. Sisu Susanti Situmorang
19. Ranto Rano Sinaga
20. Eliana Veronika Sihotang
21. Adomangihut Situmorang
22. Herlinda Sinaga
23. Apri Dirjen Barutu
24. Elisabet Tamba
25. Risde Tinambunan
26. Asnita Napitupulu
27. Aladin Sudiomo Manullang
.
Informasi tentang program beasiswa ini silahkan klik di sini:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/memberi-tanpa-mempermiskin.html
.
Untuk informasi penyaluran beasiswa dapat menghubungi kepala SMPN Parlilitan, Bapak Drs Mangansam Sagala, HP +6281376844860
PEMBERI BEASISWA (LANJUTAN GELOMBANG I)
1. Johnny Lumbantobing.................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 2008*)
2. Christi & William............................. untuk 1 orang SD - Mulai 2007
Penerimaan:
1. Johnny Tobing: Okt 08-Pebr 09 .......IDR 750.000 ($100xIDR 7500)
2. Christi and William: Okt 08-June 09 ...IDR 337.500 ($45xIDR 7500)
3. Johnny Tobing: Maret-Mei 2009..... IDR 450.000 (S$60xIDR 7500)
4. Johnny Tobing : Juni-Ags 2009....... IDR 426.000 (S$60xIDR 7100)
Total Penerimaan: IDR 1.963.500
Yang sudah dikirim:
Oktober 08-Jan 09...................... IDR 500.000
Pebruari-Mei................................ IDR 400.000
Juni 09.......................................... IDR 125.000
Juli-Oktober 09.......................... IDR 500.000
Total yang dikirim....................... IDR 1.525.000
Penerima Beasiswa (Lanjutan Gelombang I)
1. Sahat Mangihut Munthe ...... SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
2. Gaberdus Sihotang................ SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
3. Rispan Sihotang.................... SD N Siringoringo Kls IV (IDR 25.000/ bln)
Beasiswa Lanjutan Gelombang I ini disalurkan oleh Bapak St T. Tinambunan HP: +62813700242826
Friday, January 2, 2009
RENUNGAN SENIN - MINGGU II 2009: 05/01
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur
PENGANTAR
Setiap hadirnya tahun yang baru, biasanya orang-orang mengajukan aneka pertanyaan dan pernyataan seputar apa yang bakal terjadi sepanjang tahun yang baru. Keragaman pendapat yang mengemuka seturut dengan keragaman latar belakang kehidupan, profesi dan keyakinan anggota masyarakat. Para futurolog hingga para peramal juga angkat bicara. Simbol-simbol tradisi tertentu juga meramaikan suasana, seperti mereka yang menetapkan tahun tertentu sebagai tahun anjing, tahun kambing dan lain-lain yang disertai dengan tafsiran-tafsirannya.
Bagi orang Kristen setiap dan semua tahun adalah ciptaan dan milik Tuhan. Artinya, tiada tahun tanpa Tuhan. Karenanya semua tahun adalah tahun rahmat yang mestinya disambut dengan ucapan syukur. Meski demikian, tidak semuanya akan secara otomatis berjalan baik. Keadaan yang akan terjadi juga sangat tergantung pada tanggapan manusia terhadap rencana Allah.
DUA MUSUH UTAMA
Hingga tahun yang lalu kita masih mengalami dan menghadapi aneka persoalan kehidupan. Di sini dapat disebut dua di antara sekian banyak permasalahan kehidupan yang sedang mengitari kita, yakni masalah ‘kekerasan’ dan masalah ‘hilangnya makna hidup’ bagi banyak orang, yang kiranya dapat dituntaskan atau paling tidak diminimalkan pada tahun 2009 ini.
1. Kekerasan dan Kejahatan
Kita masih berada dalam masa gerakan sedunia yang disebut dengan Decade to Overcome Violence –DOV (dekade mengatasi kekerasan, 2000-2010). Kita sepatutnya amat prihatin karena di tengah perjuangan dunia dan gereja-gereja mengatasi kekerasan, tetapi kekerasan masih tetap merajalela di mana-mana mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, negara, bahkan dalam lingkungan agama juga.
Sudah sejak lama kita diliputi rasa takut karena kebiadaban para teroris yang mengagungkan kematian. Banyak orang yang merasa tidak aman bepergian dan di berbagai tempat banyak yang merasa tidak aman beribadah di gereja dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas kita tidak hanya mengecam tindak teror yang mengancam hidup kita, tetapi benar-benar menyatakan keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Salah satu makna keberadaan kita sebagai garam adalah menciptakan suasana yang enak dan bersahabat dengan semua orang. Janganlah kiranya lagu-lagu kita menggelegar ke sekeliling gereja tetapi kita tidak peduli kepada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.
Di samping prihatin terhadap masalah kekerasan yang mengitari kita, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu, terutama memulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga sendiri. Seorang psikiater pernah mengatakan kepada saya bahwa 75% pembunuh yang meringkuk di penjara-penjara Barat adalah mereka yang mendapat perlakuan tindak kekerasan di dalam lingkungan keluarga sejak masa kecil. Itu berarti bahwa pengalaman anak di tengah keluarga sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya di kemudian hari.
Karena itu, sudah semestinya menjadi tugas mendesak kita (terutama tahun ini) memberi perhatian khusus dan serius untuk mengasihi anak-anak, mendidik mereka dalam ajaran dan kehendak Tuhan, serta meciptakan suasana agar mereka bertumbuh ke arah kedewasaan dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan interaksi dan kecerdasan moral.
Dalam hal ini, para orangtua harus sungguh-sungguh mengoreksi ulang metode pendidikan terhadap anak-anaknya di tengah keluarga, tidak mengikuti begitu saja apa yang dialaminya dari orangtuanya pada masa kecil. Misalnya, kalau anak-anak secara tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah, orangtua langsung berang, menarik pipinya ke atas seperti mau robek atau malah memukul kepala si anak dengan kayu sampai hampir pecah. Padahal harga gelas hanya Rp. 2000, pipi dan kepala anak-anak (manusia) tidak ada dijual. Yang lebih bijaksana, orangtua mestinya dengan kasih berkata, “Wah gelas kita pecah ya ‘nak, lain kali hati-hati ya sayang? Susah cari uang sekarang”. Kalau dia dipukul, dia akan semakin gugup dan makin banyak gelas yang pecah. Tetapi, jika diberi pengertian, ia merasa dirinya berharga dan ia akan lebih hati-hati.Sebuah pepatah Jerman (yang sudah disebut di atas) berbunyi, ‘jika semua orang menyapu halaman rumahnya, maka seluruh kota akan bersih’. Artinya, keadaan masyarakat sangat ditentukan oleh keadaan keluarga-keluarga yang ada di dalamnya. Kekerasan di masyarakat dapat kita atasi mulai dari keluarga-keluarga yang bebas kekerasan.
Di samping itu, lingkungan sekolah dan gereja juga ikut bertanggungjawab. Sebab, tidak sedikit anak yang mengalami kekerasan di rumah, juga mengalami tindak kekerasan dari gurunya di sekolah, bahkan –amat ironis—guru-guru sekolah Minggu juga ada yang menggunakan tongkat pemukul untuk ‘menenteramkan’ anak-anak. Dalam hal ini para guru di sekolah dan di Sekolah Minggu perlu dengan bijaksana mengasihi, mendidik dan mendampingi anak agar mereka bertumbuh dengan baik.
2. Stres dan Hilangnya Makna Hidup
Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang stres dan depresi. Pengalaman empiris membuktikan bahwa peningkatan pendapatan ekonomi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh era globalisasi ini tidak menjamin kebahagiaan manusia. Kita dapat mengambil contoh negara Jepang, Amerika Serikat dan Singapura yang secara ekonomi termasuk dalam negara-negara termakmur. Akan tetapi justru di ketiga negara inilah tingkat bunuh diri yang tergolong tertinggi di dunia. Mengapa? Banyak manusia yang kehilangan makna diri.
Sebaliknya, kesulitan ekonomi pun dapat juga memicu dan memacu tingginya angka bunuh diri. Kecenderungan semakin banyaknya bunuh diri juga kita alami di Indonesia. Di kota Jakarta, misalnya, tiap tahun jumlah orang yang bunuh diri juga bertambah, yang di antaranya karena kesulitan hidup. Belum lama ini sebuah surat kabar memberitakan bahwa seorang remaja bunuh diri karena malu tidak memiliki handphone dan diejek temannya dengan menggunakan bahasa sebuah iklan TV: “Hari gini, ‘gak punya handphone!”. Ironis memang! Banyak orang-orang Indonesia ‘demam’ handphone, bukan terutama karena kebutuhan tetapi karena gengsi. Jelas, bahwa gengsi biasanya menghancurkan kehidupan.
Berkaitan dengan hilangnya makna diri, tidak sedikit orang sekarang ini yang amat pesimis terhadap masa depan. Mengambil sebuah contoh, saya sering menyaksikan anak-anak remaja siswa SLTP atau SMU yang berkeliaran pada jam sekolah. Ada yang ‘nongkrong’ di internet (khususnya di kota-kota), ada pula yang main judi. Banyak di antara mereka yang merokok, bahkan rokoknya lebih besar dari jari tangannya (padahal merokok adalah tindakan ‘bunuh diri kredit’ alias mengangsur kematian!). Saya pernah memberanikan diri menegor seorang di antara mereka (walaupun saya tahu bahwa sekarang ini agak sulit menegor seseorang atas kekurangannya, karena bisa dengan gampang orang mengatakan ‘apa urusanmu?’). Saya sangat kaget mendengar ketika dia mengatakan, ‘Pak, apa gunanya sekolah. Di Indonesia hanya satu presiden dan tidak mungkin saya untuk itu. Di kota ini pun hanya satu orang walikota, itu juga tidak mungkin untuk saya. Sekarang ini, untuk masuk sekolah polisi saja harus ada uang sogok Rp. 60 juta, untuk menjadi pegawai negeri juga harus ada uang minimal Rp. 50 juta baru bisa masuk’.
Yang saya tangkap dari respon seorang siswa tersebut sedikitnya ada dua hal pokok. Pertama, pesimisme berlebihan dan orientasi yang salah arah. Sebenarnya, ‘makna hidup’ tidak diukur kalau seseorang menjadi presiden, walikota atau memangku jabatan penting lainnya. Makna hidup yang kristiani adalah kalau seseorang menjadi dirinya sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki. Kedua, keprihatinan terhadap situasi riil masyarakat kita terutama masalah sulitnya mencari pekerjaan dan masalah korupsi. (Penting dicatat, bahwa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat atau juara VI sedunia di bidang korupsi). Akan tetapi, sebagai seorang beriman, keprihatinan terhadap situasi masyarakat mestinya tidak direspon dengan sikap pesimis; tidak pasrah dan menyerah pada situasi. Justru dalam kenyataan seperti itulah setiap orang perlu lebih bersungguh-sungguh belajar, berjuang dan berbuat baik untuk memperbaiki situasi bukan malah mengeruhkannya dengan menjadikan diri sebagai bagian dari masalah dan bukan solusi.
Kata-kata Calvin Coolidge pantas direnungkan, “Di dunia ini tidak ada yang dapat menggantikan ketekunan. Tidak juga talenta; tidak ada yang lebih lazim daripada orang yang memiliki talenta tetapi tidak sukses. Tidak juga seorang jenius; kecerdasan yang tidak pernah dihargai hanya merupakan pepatah….Ketekunan dan kemantapan hati itu sendiri bersifat mahakuasa”.[2] Untuk menguatkan pandangan ini Bloch mencatat Thomas Edison membuat lebih dari 2.000 kali percobaan sebelum dia menemukan bola lampu.[3]Kehidupan yang dijalani dengan ketekunan tidak akan pernah mengenal keadaan frustrasi meskipun terkadang mengalami kegagalan. Sebab, sama seperti yang dikatakan oleh Gede Prama bahwa “tidak jarang terjadi, kegagalan membawa dua hadiah terbaik adalah hidup: kearifan dan kesabaran.”[4]
BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN
Apa yang akan terjadi sepanjang tahun 2009 ini, memang tidak seorang pun yang tahu pasti. Tetapi, ada satu hal yang pasti yakni: Tuhan memegang kendali masa depan. Tahun lalu, perekonomian dunia mengalami krisis yang lumayan parah. Sejalan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok pun menjadi naik yang secara merta telah membuat banyak orang menjadi panik. BBM sempat naik, ongkos naik, kebutuhan sehari-hari naik –celakanya ‘darah tinggi’ juga terkadang menjadi naik. Tidak sedikit orang menjadi amat gampang tersinggung dan marah. Ini adalah produk atau bentuk lain dari ketidakbahagiaan. Konsekuensinya, semakin banyak orang menjadi pemarah akan semakin banyak pula perselisihan atau permusuhan.
Kesadaran dan iman kita bahwa Tuhan memegang kendali masa depan akan serta merta menolong kita untuk tetap tenang secara aktif, hati damai dan penuh kelembutan terhadap sesama manusia.Apa yang membuat kita tidak bahagia? Sirgy dengan tepat mengatakan bahwa “Ketika kita memikirkan tentang hidup kita, kita terlalu sering berpikir tentang apa yang belum kita punya dan apa yang belum kita dapat. Tetapi hal-hal seperti itu membuat kita tidak bahagia”.[5]
Kalau kita jujur, sebenarnya kita telah menerima berkat yang berkelimpahan dari Tuhan, baik berkat rohani maupun jasmani. Kita menerima berkat rohani, karena kita diterima sebagai warga kerajaan Allah oleh penyelamatan Yesus Kristus. Kita adalah anak-anakNya, bukan karena kita layak, melainkan karena dilayakkan oleh Tuhan.Secara jasmani kita juga terberkati. Hidup kita hari ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan yang sedang berlangsung. Sebagai tambahan, mari kita lihat contoh ini. Dulu, para orangtua biasanya membeli pakaian yang jauh melampaui ukuran tubuh anaknya. Misalnya, seorang anak kelas VI SD dibelikan baju ukuran Kelas III SMP, dengan maksud agar pakaian itu bisa dipakai lebih lama. Sepatu juga demikian. Untuk anak kecil, dibeli sepatu agak panjang dan kemudian diisi dengan kain yang tidak terpakai di dalamnya supaya sepatunya tidak jatuh ketika dipakai. Tujuannya sama: supaya sepatu itu dapat dipakai sampai kelas III SMP. Mengapa? Mereka hidup dalam situasi perekonomian yang sangat memprihatinkan.
Masalahnya adalah, sekarang ini, dengan berkat Tuhan melalui perbaikan kehidupan ekonomi, yang terjadi justru sebaliknya. Dulu seorang anak SD memakai pakaian seukuran untuk seorang anak SMP, sekarang banyak remaja yang sudah SMU atau mahasiswa justru memakai pakaian SD, kecil, sempit sampai perut dan pusatnya dipamerkan kepada khalayak ramai. Padahal, budaya kita memiliki norma-norma kesopanan dalam berpakaian. Di samping itu, banyak orang sekarang ini tidak puas memiliki satu atau dua sepatu, tetapi berlomba membeli sepuluh atau lebih sepatu padahal sebenarnya tidak dibutuhkan. Mengapa? Banyak orang pada zaman ini berakar dan belajar pada TV, toko atau mall, rumah tetangga dan sebagainya, tidak berakar pada kehendak Tuhan.
Berakar di dalam Tuhan berarti mendapat kehidupan dari pada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Berakar di dalam Tuhan juga berarti bahwa seluruh kehidupan selalu dikaji dan diuji berdasarkan kehendak Tuhan. Hal ini amat penting di tengah dunia yang sedang dilanda oleh konsumerisme (membeli dan memakai barang-barang tidak terutama dengan orientasi ‘kebutuhan’ tetapi ‘keinginan’ dan ‘gengsi’) yang akan menambah penderitaan manusia dan merusak alam ciptaan Tuhan seperti hutan, sungai, danau, dan udara.Dengan berakar di dalam Tuhan, maka hati nurani pun akan bekerja aktif untuk menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Tuhan. Di tengah zaman yang maju ini dengan tingkat intelektualitas manusia yang semakin baik, masih kita temukan orang-orang yang menempuh jalan pintas yang irasional dengan pergi ke dukun untuk pelaris dagangan, agar disegani, agar mendapat jabatan tertentu. Dan, anehnya, seperti kata Eka Darmaputera, orang begitu mudah marah-marah jika merasa dikecewakan Tuhan, tetapi kalau dukun yang mengecewakannya, dia tidak merasa apa-apa.[6]
Pengenalan dan pengalaman kita akan apa yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita hendaknya mendorong kita mengikuti nasihat Paulus yang mengatakan, “hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Hati yang melimpah dengan syukur selalu disertai dengan gerak hidup yang mencerminkan kehendak Tuhan.Mengucap syukur hanya mungkin ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari dan mengimani apa yang Tuhan telah, sedang dan akan lakukan dalam kehidupannya. Kiranya hal ini amat kuat melekat dalam hati kita. Saudara dan saya disapa saat ini, mari menjalani kehidupan tahun ini bersama Tuhan yang hidup dan mengasihi kita. Kebahagiaan kita terletak di situ.
[2] Sebagaimana dikutip oleh Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 59
[3] Ibid.
[4] Gede Prama, Jalan-jalan Penuh Keindahan. Dari Kejernihan untuk Kepemimpinan kehidupan, Jakakarta: Gramedia, 2004, hlm. 156.
[5] Sebagaimana dikutip oleh David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 146
[6] Eka Darmaputera, Iman dan Tantangan Zaman, Jakarta: BPK, 2005, hlm. 62.
Tuesday, December 23, 2008
MENANTI DENGAN HATI DAMAI

.
Satu hal yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana sikap kita pada saat menunggu. Bayangkan petugas bandara udara mengumumkan keberangkatan pesawat akan ditunda 6 jam. Reaksi orang dapat saja amat beragam, tergantung pada suasana hati masing-masing. Mungkin ada yang mengumpat, ada yang membantingkan koper, ada yang protes dan sebagainya (walaupun reaksi seperti itu tidak dapat mengubah jam keberangkatan). Tetapi, bisa saja ada yang tinggal tenang dan menggunakan waktu 6 jam untuk hal-hal yang bermakna seperti membaca, berdoa, menelpon dan apa saja yang bermanfaat.
Ada yang yang istimewa dalam hal 'menanti' sebagaimana diserukan dalam Zakharia 9:9-10. Penantian di sini berkaitan dengan 'siapa' dan 'bagaimana'. Yang dinantikaan adalah Mesias, sang Raja. 'Bagaimana' sikap penanatian? Dikatakan supaya 'bersorak-sorak dengan nyaring', yang artinya dengan penuh sukacita.
Ketika nubuatan ini diperdengarkan, orang-orang Israel sedang menanti-nantikan seorang raja. Mereka sudah memiliki pengalaman beberapa raja sebelumnya dan mereka juga mengalami penaklukan penguasa-penguasa lain. Mereka merindukan keadilan dan kedamaian. Di tengah situasi seperti itulah seruan untuk bersukacita menyambut seorang Raja diperdengarkan. Raja yang datang itu amat berbeda dengan raja-raja atau penguasa dunia. Selengkapnya Zak 9:9-10 berbunyi:
Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.
Nubuatan itu dipenuhi dalam diri Yesus. Yesus megendarai keledai memasuki Yerusalem di mana orang banyak menyambut-Nya dan berseru, "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yohanes 12:13).
Di sini dapat disebut sedikitnya tiga hal untuk kita renungkan.
1. Raja itu yang datang melawat umat-Nya. “Lihat, rajamu datang kepadamu” (ayat 9).
Ia sendiri yang mengambil prakarsa untuk datang karena kasih-Nya. Allah tahu keadaan umat-Nya. Ia peduli pada umatNya. Kenyataan inilah yang boleh meneguhkan kita untuk tetap beriman teguh kepadaNya.
Perlu kita resapkan dalam hati bahwa Tuhan mengetahui setiap detil kehidupan kita, khususnya keadaan kita yang tidak dapat lepas dari kuasa maut karena dosa-dosa kita. Ia tahu yang terbaik dalam hidup kita. Dan, lebih dari itu, Ia menghendaki agar kita selamat dan hidup dalam pemeliharaan-Nya. Itu sebabnya tidak ada kata ‘putus asa’ dalam kamus orang yang percaya kepada Tuhan. Tuhan memberi kesempatan kepada kita bersukacita meskipun gelombang terkadang menghadang.
2. Karekter Raja yang akan datang itu adalah adil, jaya (menyelamatkan), dan lemah lembut. Sempurna! Semuanya ini merupakan kebutuhan umat manusia dari dulu hingga hari ini yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan dengan sempurna. Ia adalah adil, memberikan yang terbaik untuk umat manusia. Kualitas seperti itulah yang semestinya dimiliki oleh seorang raja, bukan memberatkan atau menuntut di luar kemampuan orang lain. Raja itu ‘jaya’ atau ‘menyelamatkan’, bukan mencelakakan. Kita tahu bahwa Yesus memberi diri-Nya menjadi korban untuk menyelamatkan umat manusia. Berbeda dengan penguasa dunia yang dengan mudah mengorbankan orang lain untuk ‘menyelamatkan’ dirinya. Raja itu juga lemah lembut, sesuatu yang bertolak belakang dengan keangkuhan manusia. Raja atau penguasa dunia dan para pengagumnya menghendaki ‘wibawa’ yang identik dengan ‘sedikit seram’ dan ditakuti. Berbeda dengan sang Raja itu yang lemah-lembut. dan kita tahu bahwa kelemahlembutan berulangkali ditekankan di dalam Alkitab. Itu berarti karakter Sang raja itu hendaklah menjadi karakter para pengikut-Nya.
3. Tugas Sang Raja yang akan datang itu adalah melenyapkan perangkat-perangkat perang. Dan yang terpenting, Ia memberitakan damai kepada bangsa-bangsa (ayat 10). Kita melihat bahwa pengajaran dan pelayanan Yesus benar-benar menekankan damai. Puncaknya, Ia mati di kayu salib untuk mendamaikan kita orang-orang berdosa dengan Allah. Damai itu juga yang Ia kehendaki diwujudkan oleh para pengikut-Nya dalam kehidupan di dunia ini. Ia berfirman, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).
Dalam hal ini tugas kita adalah membawa damai. Perlu kita perhatikan bahwa kita bukan ‘membuat’ atau ‘menciptakan’ damai. Kita diutus ‘membawa’ damai. Artinya, kita harus terlebih dahulu memiliki damai itu sebelum membawa damai kepada orang lain. Hal ini juga menegaskan bahwa tugas pemberitaan Injil bukan dengan pedang atau senjata dan sikap arogansi, melainkan dengan kerendahan hati dan semangat damai.
Sunday, December 21, 2008
PEREMPUAN
Saya menerima ‘kisah’ berikut melalui email, yang terjemahannya kira-kira begini.
Ayah dan ibu sedang menonton TV. Kemudian, ibu berkata, “Saya sangat capek, dan sekarang sudah larut malam. Saya mau tidur."
.
Ia pergi ke dapur memeriksa apakah bahan makanan besok tersedia. Ia membersihkan blender, memeriksa persediaan beras, mengisi tempat gula, meletakkan sendok dan garpu di atas meja untuk keperluan sarapan pagi besok.
Kemudian, ia menaruh beberapa pakaian kotor ke dalam mesin cuci, menyeterika pakaian dan memperbaiki kancing baju yang lepas. Ia mengumpulkan potongan-potongan game anaknya yang bertaburan di lantai, mencas handphone dan meletakkan buku telpon pada rak.
.
Ayah berkata, “saya kira mama sudah tidur’. “Ya, saya sudah mau tidur”, jawab ibu.
Ia menaruh air di tempat minum anjing dan menempatkan kucing ke luar rumah. Ia memeriksa apakah pintu sudah terkunci dan lampu luar menyala. Ia melihat anak-anaknya di tempat tidur masing-masing dan mematikan lampu belajar serta menggantikannya dengan lampu tidur, menggantungkan pakaian yang tergeletak di lantai, meletakkan kaus kaki kotor di tempat pakaian kotor, dan ia masih berbicara sejenak dengan seorang anaknya yang masih mengerjakan Pekerjaan Rumahnya.
Di dalam kamar tidurnya, ia menyetel alarm jamnya, meletakkan pakaian yang akan ia dan ayah pakai keesokan harinya. Ia menambahkan tiga hal lagi ke keenam hal terpenting dalam daftar yang akan dikerjakannya. Kemudian, ia berdoa dan memeriksa apakah tujuannya tercapai.
.
Pada saat yang sama, ayah mematikan TV dan mengumumkan tanpa menyebut nama, “Saya akan tidur!” Dan ia memang benar-benar tidur tanpa ada pikiran lain.
*******
Kisah di atas belum seberapa dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya yang dialami kaum ibu. Di desa-desa kaum ibu mempunyai pergumulan tersendiri. Di samping merawat anak dan mengurus suami, mereka harus bekerja keras di ladang, memelihara ternak dan sebagainya.
Rasa sakit yang ditanggung kaum ibu, khususnya yang memiliki anak, tidak terperikan. Saya berada dekat istri saya ketika kedua anak kami lahir. Saya menyaksikan sendiri bagaimana istri saya menanggung rasa sakit yang juga disertai dengan kecemasan. Dia harus menanggung sendiri rasa sakitnya karena tidak bisa dibagi atau diwakilkan. Baru saya mengerti ungkapan seorang ibu yang pernah saya dengar yang ditujukan kepada anaknya yang agak nakal, “Kalau saya mengingat betapa sakitnya melahirkan engkau, saya sangat sedih melihat tingkah lakumu yang tidak menghormati orang tua”.
Saatnya kita merenungkan pengorbanan kasih para ibu. Mari kita terus mendoakan mereka. Juga, menjadi tanggung jawab kita semua mengormati dan mengasihi mereka sepenuh hati.
**********Hari ini, Senin, 22 Desember 2008, bersamaan dengan 'hari ibu', istri saya Tima Warni Pangaribuan genap berusia 38 tahun. 'Kisah' di atas memang berbeda dengan keseharian kami. Bukan karena kami tidak memiliki anjing dan kucing, tetapi saya mencoba menjadi suami yang agak baik dengan membantu hingga membersihkan lantai dan piring di saat mana perlu. Yang jelas, saya tahu persis bagaimana kesungguhan istri saya menguras tenaga mengurus dan merawat keluarga tanpa kenal lelah. Terima kasih banyak, istriku, pemberian Tuhanku, atas kebaikan hatimu. Doa dan harapan kita, Tuhan senantiasa memberkati dan menguatkan kita untuk melayani-Nya dan menjadi berkat bagi yang lain.
Thursday, December 18, 2008
KETABAHAN DALAM SEGALA KEADAAN

- menghemat tanpa harus pelit;
- orientasi kebutuhan bukan dikendalikan oleh keinginan;
- menjaga emosi agar tetap sehat dengan tidak gampang tersinggung dan tersulut amarah yang hanya akan memperkeruh suasana;
- memberi perhatiaan pada yang ada bukan pada yang tiada dan yang mungkin tidak akan ada;
- lebih banyak bersyukur dan berdoa disertai usaha 'halal'. Tidak ada pembenaran kejahatan, penipuan dan pencurian dalam situasi sulit sekalipun. Di Jakarta saya pernah mendengar seseorang mengatakan, "Hidup ini sangat sulit, untuk mendapat yang tidak halal saja sulit apalagi yang halal". Kata-kata seperti ini amat tipis jaraknya untuk membenarkan pendapatan yang haram.
Dalam menjalani hidup ini marilah kita resapkan dalam hati kita kata-kata bernas dari Santa Theresa dari Avila berikut ini:
Jangan biarkan sesuatu pun mengganggumu
Jangan ada sesuatu yang membuatmu takut,
Biarlah semuanya berlalu begitu saja,
Karena Allah tak pernah berubah.
Ketabahan menghasilkan banyak hal.
Barangsiapa yang tidak mempunyai sesuatu dan ia mempunyai Tuhan,
Ia mempunyai harapan.
Allah sendirilah yang akan mencukupi semuanya.
DUKUNGAN UNTUK PARA BURUH DI BATAM
Saya baru menerima kabar dari seorang teman di Batam tentang pemberitaan media seputar kemungkinan PHK bagi sekitar 75.000 pekerja di Batam sebagai imbas krisis global yang menerpa sejumlah perusahaan di kawasan industri ini. Mari kita dukung dalam doa dan upaya konkrit yang dapat kita lakukan masing-masing sesuai kapasitas kita.
Gereja-gereja partner United Evangelical Mission (UEM) telah memulai suatu usaha yang baik untuk membantu saudara-saudara buruh di Batam. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah gambaran umum Perkumpulan Satu Dalam Misi (PSDM) yang didirikan 11 Juni 2008 (sebagaimana terdapat dalam Newsletter PSDM edisi I Desember 2008):
1. Apa itu PSDM?
PSDM adalah sebuah lembaga pelayanan bersama yang dibangun bersama oleh Gereja – Gereja Anggota SEKBER UEM (Sekretariat Bersama UEM – United Evangelical Mission) yang berada di Batam yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Kristen Pak-Pak Dairi (GKPPD). Sebuah Lembaga pelayanan yang berkonsentrasi pada peningkatan ketrampilan dan pemberdayaan Jemaat dan masyarakat melalui pendidikan, konsultasi, dan advokasi terutama kepada buruh.
2. Kenapa PSDM didirikan?
PSDM didirikan dari pergumulan dan atas dorongan Pimpinan Pusat Gereja – Gereja Anggota UEM di Sumatera Utara (HKBP, GKPI, GKPS, HKI, GBKP, GKPA, BNKP, GKPPD), karena keadaan Anggota Jemaat di Batam khususnya buruh memiliki situasi kehidupan: 1. Gaji rendah, Pemukiman minim, Kesehatan buruk, Pendidikan rendah, Keselamatan kerja rendah. 2.Mental/Paradigma pekerja/buruh/pegawai, datang ke Batam dengan mental buruh bukan mental pengusaha/untuk mandiri. 3. Minimnya keterampilan (Skill). 4. Persoalan kebebasan berserikat, dan perhatian yang lebih khusus bagi buruh Perempuan dan Anak.
3. Dimana PSDM?
PSDM bekerja untuk melayani anggota Jemaat Gereja - Gereja Anggota UEM yang berada di Batam. Saat ini Sekretariat PSDM di Perumahan Taman Duta Mas Blok A12 Batam Center – Kepulauan Riau.
4. Untuk Apa itu PSDM ada?
PSDM didirikan sebagai komitmen Gereja-Gereja Anggota UEM di Batam untuk memberdayakan Jemaat dan Masyarakat melalui Pendidikan, Konsultasi dan juga Advokasi dalam Thema Perdamain, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan /Kelestarian Lingkungan Hidup. Sehingga Gereja kita lebih nyata perannya memberikan solusi terhadap keadaan jemaat dan masyarakat.
5. Bagaimana PSDM bekerja?
PSDM akan melakukan Pendidikan Hukum dan Hak Azasi manusia, juga pendampingan dan pembelaan hukum kasus-kasus Perburuhan dan traffiking. Program peningkatan keterampilan berupa Kursus Computer, Menjahit, Bahasa Inggris, dan keterampilan lainnya, penguatan perekonomian melalui Credit Union. Untuk semua ini PSDM akan membagun kerjasama dengan Gereja, Lembaga yang sevisi, dan Pemerintah. Selain melakukannya langsung maka PSDM juga akan melakukan pemotivasian bagi semua element pelayanan Gereja kita untuk melakukan hal yang sama baik secara sendiri, atau saling bekerja sama.
PENGURUS PSDM PERIODE 2008 – 2010
Ketua : Maria Rumahorbo (HKBP) 081364563098
Wakil Ketua : Pdt. P Sinaga, STh. (GKPI) 081364813698
Sekretaris : Pdt. Petrus T Sitio, STh.(HKBP) 081364485875
Wakil Sekretaris : Pdt. H.I Saragih. (GKPS) 081372150606
Bendahara :St. Edward Purba, SH. (GKPS)08127026492
Wakil Bendahara : Pdt. Abednego Silitonga (HKI)081364135777
Anggota :
Pdt. H Nainggolan.(GKPA) 081361506606
Pdt. Ibrahim Barus.(GBKP) 081362445939
St. R Gulo.(BNKP)
Dewan Pengawas Internal:
Pdt. MTH. Tampubolon (Praeses HKBP)085271089489
Pdt. P Purba. (Korwil GKPI) 081270490991
Pdt. A Daely (BNKP) 081361521264
St. Jasarmen Purba.(GKPS) 0811698123
Direktur Program
Pdt. Rudi Sembiring Meliala
Tuesday, December 16, 2008
KUCING atau IBU MERTUA?

Karena si istri kuatir sopir taksi mengetahui bahwa rumahnya tidak berpenghuni (siapa tahu supir taksi itu merangkap sebagai pencuri juga) ia mengatakan, “Maaf, Pak supir, suami saya kembali ke rumah karena ia lupa berpamitan kepada ibu saya”.
Beberapa menit kemudian si suami masuk ke dalam taksi dan berkata kepada supir itu, “Maaf Pak, agak lama sedikit. Makhluk tua bodoh itu bersembunyi di bawah tempat tidur dan saya harus mengusirnya dengan sapu supaya ia keluar”.
Jika Anda pernah mengatakan sesuatu yang tidak benar dan kemudian secara tidak sengaja terungkap oleh orang lain pasti Anda merasa tidak enak, apalagi jika orang yang Anda bohongi itu masih bersama Anda. Mungkin Anda masih berpikir untuk memberi penjelasan dengan kebohongan baru yang bisa saja ‘berhasil’ tetapi bisa juga membuat Anda semakin frustrasi. Atau, Anda berusaha memberi bahasa isyarat --entah kerdipan mata, gerakan tangan dan lain-lain-- agar yang 'membocorkan kebohongan' Anda mengubah topik pembicaraan. Sayangnya, teman Anda berbicara tidak berhasil menangkap sinyal yang Anda berikan. Anda pun kian disesah rasa bersalah. Karena itu, marilah kita pikirkan sebijaksana mungkin kata, sikap dan cara-cara kita dalam menyampaikan suatu pesan bahkan dalam menjalani hidup ini.
Sunday, December 14, 2008
YANG POKOK dan YANG SAMPINGAN
Dalam pengalaman kita keseharian sedikitnya ada empat suasana perjumpaan.Pertama, perjumpaan yang penuh dengan sukacita. Dalam perjumpaan seorang ibu dengan anak yang dikasihinya yang sudah lama merantau dan sudah lama tidak bertemu di situ pasti ada kegembiraan yang meluap-luap. Meskipun disitu ada air mata, ia adalah air mata kegembiraan.
Kedua, perjumpaan yang tidak peduli. Ada begitu banyak orang yang sudah bertetangga puluhan tahun tetapi amat jarang saling menyapa. Mungkin sesekali mereka saling melempar senyum ketika saling berpapasan atau kebetulan ada dalam lift yang sama. Memang mereka tidak saling mengganggu atau bermusuhan, tetapi mereka juga tidak terlalu peduli satu sama lain.
Ketiga, perjumpaan yang menakutkan sepihak. Bagaikan persentuhan durian dengan mentimun. Apakah mentimun yang menyentuh durian atau sebaliknya, selalu mentimun yang terluka. Misalnya perjumpaan bos kejam dengan bawahan, raja lalim dengan hamba dan sebagainya. Pihak yang lebih lemah selalu kalah atau harus mengalah meskipun menang. (Konon, banyak bos yang main tennis atau golf dengan bawahannya 'dimenangkan' oleh sang bos meskipun bawahannya lebih unggul).
Keempat, perjumpaan yang menghancurkan. Ini bisa terjadi dalam lingkungan yang saling mengenal dan tidak mengenal. Ia bahkan bisa terjadi dalam sebuah persekutuan keagamaan. Setiap kali ada pertemuan, ada saja orang yang selalu saling menyindir, perang urat saraf, perang mulut bahkan, ironinya, hingga saling memukul.
Bagaimana perjumpaan kita dengan Allah? Dari pihak Allah sendiri tidak ada masalah. Ia menjumpai kita dengan sukacita karena kasihNya. Karena itu, menjelang perayaan Natal ini kita perlu sungguh-sungguh menyambut Tuhan dengan sukacita. Natal bukan terutama faktor luar tetapi terutama berkaitan dengan ‘hati’. Kita tidak dapat menutup mata dengan kenyataan yang terjadi hingga saat ini dimana begitu banyak orang yang menekankan hal-hal yang sifatnya lahiriah dalam merayakan natal. Itu sebabnya pada bulan Desember tingkat stress lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang lain. Tingkat stress ini berkaitan langsung dengan kesibukan dan pengeluaran yang membengkak. Di sinilah orang-orang merias diri dan mendekorasi rumah, toko, jalan dan gereja. Rambut keriting direbonding dan rambut lurus dikeritingkan; rambut putih dihitamkan dan rambut hitam dijadikan warna pink. Kaum perempuan di Indonesia sibuk di dekat kompor dan oven memasak kue. Pintu-pintu ditutup (yang membuat semakin panas) supaya anak-anak tidak masuk. Kalau anak-anak masuk, maka kue yang masak baru empat yang habis juga langsung empat. sama sekali belum ada yang bisa masuk kaleng untuk disimpan. Celakanya, sesudah kue masak, panas kompor dan oven pindah ke dalam hati. Wajah jadi keriting karena cepat naik darah.
Semua faktor luar seperti itu boleh-boleh saja, asalkan tidak mengabaikan yang terpenting, yaitu menyambut Tuhan dengan hati yang bersukacita. Lebih baiklah rambut keriting dengan hati lurus ketimbang rambut lurus tetapi hati kerting. Jadi, ‘hati’ kitalah yang terutama perlu didekorasi bukan ruang tamu atau toko-toko.
Karena Allah sendiri datang menjumpai kita dan selalu menyertai kita, hendaknya kita meresponinya sedikitnya dengan tiga hal berikut.
1. Mengaku percaya. Kita percaya bahwa Tuhan menyertai kita setiap saat. Kita percaya Ia mengenal kita dan mengetahui kebutuhan kita. Karenanya, orang percaya terhindar dari stress berlebihan, mengeluh dan bersungut-sungut.
2. Berserah kepada Tuhan. Kehendak Tuhan menjadi kehendak kita. Kita menjalani hidup ini dan berjuang dalam iman.
3. Bersaksi melalui kehidupan agar orang lain dapat melihat dan merasakan kehadiran Tuhan melalui kata, senyuman, perbuatan dan seluruh gerak hidup kita.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Jangan kita tinggalkan Dia!
Tuesday, December 9, 2008
MENYIKAPI KRISIS EKONOMI
Terus terang saya sangat awam soal perekonomian dunia yang hingga hari ini masih termasuk topik utama ulasan media massa dan menjadi bahan percakapan dalam forum formal dan non-formal. Mohon dimaklumi karena di sini tidak dapat ditawarkan solusi bagaimana langkah terbaik mengatur keuangan Anda dan tidak ada nasihat praktis bagaimana mengambil langkah yang lebih tepat untuk Anda yang harus mengalami PHK. Bukan berarti saya tidak prihatin dengan keadaan masyarakat pada umumnya dan teman, kerabat serta keluarga dekat secara khusus. Apalagi krisis ini benar-benar berdampak langsung pada keluarga dekat dan diri saya sendiri. Seorang keluarga dekat saya berkeluh karena ia kehilangan sekitar Rp 700 juta dengan turunnya harga saham. Kenyataan yang lebih dekat untuk disebutkan adalah berhentinya dukungan dana dari salah satu sponsor studi saya karena badan itu juga terkena dampak krisis ekonomi. (Saya sangat berterima kasih dan menghargai sekiranya Anda bisa memberi jalan keluar kepada saya).Di tengah krisis seperti ini, saya teringat pada khotbah Pdt Ayub Yahya yang menyoroti seputar ‘fokus’ dalam kehidupan. Pdt Ayub mengajak jemaat untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang menjadi fokus Anda sekarang?” Pertanyaan ini sangat mendasar dan penting kita jawab. Sebab, fokus kita menentukan pikiran, sikap, keputusan dan tindakan kita. Jika ‘uang’ menjadi fokus kita, maka pikiran dan enerji kita akan terkuras deras untuk mendapatkan uang. Keberhasilan kita diukur berdasarkan uang yang kita kumpulkan. Persahabatan kita juga akan diukur berdasarkan keuntungan material yang dapat kita peroleh dari sebuah persahabatan. Dan, celakanya, ketika uang menjadi fokus dalam kehidupan, hidup kita akan ambruk seiring dengan ambruknya perekonomian. Kenyataan seperti ini sudah terjadi dimana begitu banyak orang yang stress, depresi, tidak peduli dengan sesama, menjadi pemberang, hingga mengakhiri hidup dengan amat tragis.
Dalam keadaan krisis yang melanda dunia sekarang --yang kita tidak tahu apakah keadaan ini bertambah baik atau semakin memburuk-- kita perlu mengubah fokus kita. Fokus pada Tuhan! “Ah, ini sudah sering saya dengar!” Anda mungkin berkata. Tidak masalah seberapa sering hal ini Anda dengar. Yang paling penting adalah seberapa teguh Anda berpegang pada kebenaran ini. Kita perlu sadari bahwa sesungguhnya Allah fokus pada kita anak-anakNya. Allah menghendaki kita bahagia saat ini juga. Dalam hal ini Tuhan menghendaki kita melihat pada apa yang ada, tidak menangisi yang sudah tidak ada dan mencemaskan apa yang mungkin tidak ada dan tersedia.
Ada orang yang keluar dari rasa frustrasi dan depresi setelah mengubah fokus dari penderitaannya menjadi fokus pada apa yang bisa dilakukannya untuk menolong orang yang menderita. Hal ini dapat kita pahami karena di dalam doa kita bertemu dengan Kristus dan di dalam pelayanan kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang juga dikasihi oleh Kristus.
Apakah Anda sedang dalam puncak kegembiraan karena berkat-berkat Tuhan? Dengan fokus pada Tuhan, inilah saatnya Anda lebih banyak bersyukur. Sejalan dengan pengucapan syukur itu, inilah saatnya Anda menyatakan kasih Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkan uluran hati dan uluran tangan.
Apakah Anda merasa sedih amat dalam karena kerugian materi di tengah krisis ekonomi ini? Dengan fokus pada Tuhan, kiranya Anda mendapat kekuatan dari padaNya untuk melakukan apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya atau ketabahan untuk menerimanya jika tidak dapat diatasi, serta pikiran jernih melihat apa yang masih ada pada Anda. Dengan keadaan Anda seperti sekarang ini pun barangkali Anda masih dapat menjadi perpanjangan tangan Allah menjangkau dan membantu yang lebih menderita dari Anda.
Apakah Anda amat merisaukan kemungkinan Anda di PHK karena tempat Anda bekerja terimbas dampak krisis ekonomi? Fokuslah pada Tuhan. Tuhan kita begitu kaya dalam cara memenuhi kebutuhan anak-anakNya. Jika pintu yang satu tertutup, pintu lain toh masih terbuka untuk Anda. Jangan pikirkan apa kata orang terhadap Anda. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Cukup pikirkan kasih Tuhan dan usaha yang dapat Anda lakukan.
Jika Anda merasa biasa-biasa saja –tidak rugi dan tidak beruntung—dalam masa krisis ini, fokuslah pada Tuhan. Kita bertemu dengan Tuhan dalam segala bentuk penegalaman hidup meskipun kehidupan terasa biasa-biasa saja. Dengan hidup yang biasa-biasa saja Anda dapat melakukan perkara yang luar biasa oleh karya Tuhan.
Sunday, December 7, 2008
LIDAH IBADAH dan LIDAH LIMBAH
Hidup kita sedikit banyak tergambar dari kata-kata yang kita ucapkan dan kata-kata yang diucapkan kepada kita. Kata-kata bijak berikut dapat menolong kita untuk sungguh-sungguh memperhatikan penggunaan lidah dalam berkomunikasi:[1](1) Jangan katakan semua yang Anda pikirkan. Sebab, mengatakan semuanya mungkin tidak menolong, menyembuhkan dan mendidik.
(2) Ujian yang harus dilalui sebelum mengucapkan kata-kata adalah: apakah itu benar, apakah itu ungkapan kasih, apakah itu penting dan berguna?
(3) Mengubah satu hal menjadi lebih baik lebih bermanfaat dari pada membuktikan seribu kesalahan.
(4) Meniup lilin orang lain tidak membuat lilin Anda bersinar lebih terang. Tetapi jika Anda menggunakan lilin Anda menyalakan lilin orang lain, Anda akan memiliki lebih banyak terang.
(5) Tingkat perbandingan antara doa dan kritik seharusnya 100:1.
(6) Mengatakan kejelekan orang lain merupakan suatu cara yang tidak jujur memuji diri sendiri.
(7) Seseorang yang memiliki ‘lidah tajam’ (yang kerap menyakiti) biasanya akan kesepian, sebab orang-orang biasanya mengindarinya.
Kita menemukan lumayan banyak kata ‘lidah’ di dalam Alkitab. Kata ini terutama berhubungan dengan fungsinya untuk berbicara. Berikut ini ada tiga hal yang dapat kita perhatikan dalam hubungannya dengan peranan lidah.
Pertama, lidah sering dihubungkan dengan hati manusia. Baik buruknya kata-kata yang terucap berkaitan langsung dengan hati. Misalnya dalam Mzm. 45:2 dikatakan “hatiku meluap dengan kata-kata indah.” Keindahan meluap dari hati dalam kata-kata. Berbeda dengan apa yang disebut dalam Amsal 17:20 "orang yang serong hatinya.....memutar-mutar lidahnya akan jatuh”. Hati yang serong membuat lidah serong juga --yang pada gilirannya akan mengakibatkan kejatuhan.
Kedua, lidah berperan dalam mewujudkan kebaikan, seperti untuk menyebut-nyebut keadilan Tuhan (Mzm 35:28); Tuhan memberikan ‘lidah’ seorang murid (Yes 50:4); lidah juga berperan untuk mengaku bahwa "Yesus Kristus adalah Tuhan” (Fil 2:11).
Ketiga, Alkitab juga menegaskan begitu pentingnya menjaga lidah atau kata-kata:
- Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu (Mzm 34:14).
- Lidah harus dikekang (Yak 1:26)
- Jangan bercabang lidah (1 Tim 3:8).
Berkaitan dengan 'ukuran' pikiran dengan penggunaan lidah atau kata-kata, Charles Allen pernah mengatakan begini:
Orang-orang yang berpikiran luas membicarakan ide-ide yang bagus dan ideal-ideal dalam kehidupan.
Orang-orang yang berpikiran sedang membicarakan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.
Orang-orang yang berpikiran sempit membicarakan (kekurangan) orang lain.
Apakah kita lebih banyak membicarakan ide-ide yang bagus, atau peristiwa-peristiwa, atau kelemahan orang lain? Biarlah kata-kata kita menyembuhkan, meneguhkan dan menjadi berkat kepada orang lain dan diri kita sendiri serta kemuliaan bagi Tuhan. Inilah bukti bahwa kita memiliki ‘lidah ibadah’ bukan ‘lidah limbah’ (yang mengumpat, mengejek, menyakiti, mengutuk).
[1] Uraian lebih rinci baca “Tongues” dalam Rowland Croucher (ed.), Gentle Darkness, (Sutherland, Australia, 1994), 226-238
Sunday, November 30, 2008
SURAT YANG MENYEMBUHKAN
Mungkin Anda pernah merasa disakiti karena kata-kata atau perbuatan orang lain yang menyebabkan Anda terdorong untuk menumpahkan amarah melalui surat atau email. Ketika Anda mengalami hal demikian, nasihat Henri J. Nouwen untuk menunda mengirimkannya, membacanya berulang-ulang dan menulis surat yang baru, merupakan nasihat yang sangat tepat dan bermanfaat.Jika Anda menulis sebuah surat atau email yang bernada sangat marah kepada seorang teman yang begitu amat dalam menyakiti hati Anda, jangan kirim surat itu. Biarkan surat itu 'berbaring' di meja atau di dalam komputer Anda sebagai draft untuk beberapa hari dan baca kembali berulangkali. Kemudian, tanyakan diri Anda, “Apakah surat atau email ini membawa kebaikan bagi saya dan teman saya itu? Apakah surat ini membawa kesembuhan dan menjadi berkat?" Anda tidak perlu mengabaikan kenyataan bahwa Anda benar-benar merasa disakiti. Anda tidak perlu menyembunyikan perasaan terluka yang Anda rasakan karena perbuatan teman Anda. Tetapi Anda dapat merespon dengan suatu cara yang dapat membawa penyembuhan dan pengampunan serta membuka jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Setelah itu, tuliskanlah surat yang baru menggantikan yang pertama jika Anda merasa bahwa surat yang baru itu akan meneguhkan dan menjadi berkat. Krimkanlah itu disertai doa. Dengan demikian, Anda telah menambahkan kebaikan dalam dunia yang dicemari perselisihan ini. Anda pun akan lebih lega dan berbahagia dengan cara demikian.


