Monday, January 26, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU V 2009: 26/1

MELEPAS KELEKATAN
.
Anthoni de Mello mengartikan ‘kelekatan’ sebagai ketergantungan emosional yang disebabkan oleh keyakinan bahwa tanpa sesuatu atau pribadi tertentu seseorang tidak dapat bahagia. Pada kesempatan lain ia mencontohkan sisi gelap kelekatan sebagai berikut:

Diamlah sejenak untuk melihat bagaimana kelekatan membuat kering simfoni kehidupan anda. Itu pula yang terjadi pada para politisi karena kelekatannya pada kekuasaan, demikian juga pada para pengusaha karena kelekatannya pada uang. Kelekatan telah membuat mereka tidak peka terhadap melodi kehidupan.

Di antara sekian objek kelekatan manusia, di sini dapat disebutkan empat di antaranya.

Pertama, kelekatan kepada manusia. Ingatlah orang-orang yang kepadanya kita sangat tergantung. Kita begitu peduli kepada mereka sebab mereka menyenangkan hati kita, mereka memberi hadiah kepada kita, memuji kita, menolong dan menyemangati kita dan sebagainya. Apa yang biasanya kita sebut ‘kasih’ hanyalah merupakan ‘kelekatan’. Dengan ‘kelekatan’ kita tidak melihat dan memperlakukan orang sebagaimana adanya dan dengan demikian kita menciptakan berbagai harapan untuk mereka penuhi: mereka harus seperti ini, mereka harus melakukan itu dan sebagainya. Lalu ketika mereka tidak hidup sesuai dengan pikiran kita atau yang seharusnya mereka lakukan kita menyakiti, mengecewakan dan mempersalahkan mereka. .
Dengan kasih yang murni, kita peduli dan menolong orang lain dan menghendaki mereka berbahagia bukan karena mereka menyenangkan dengan memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi karena mereka ada sebagaimana mereka ada. Kita menerima orang lain sebagaimana adanya dan terus menolong mereka, tidak dengan mengharapkan apa yang menguntungkan kita dari hubungan itu bahkan yang paling halus sekali pun seperti ‘ucapan terima kasih’. Kasih yang murni tidak mengandung kecemburuan dan perasaan ingin memiliki apalagi menguasai orang lain.

Kedua, kelekatan pada prinsip baku dan kaku. Ada orang yang begitu melekat pada suatu prinsip hidup hingga membuatnya menjadi tertutup pada kebenaran. Keadaan demikian membuatnya semakin mengeraskan hati. Ini bisa terjadi atas dasar keyakinan yang keliru pada ajaran agama, ideologi suatu bangsa, kebudayaan, warisan keluarga dan lain sebagainya. Kelekatan-kelekatan seperti tidak jarang berujung pada perselisihan di tengah keluarga, masyarakat, bahkan dalam lingkungan agama. Dan yang paling menyedihkan kelekatan-kelekatan seperti itu justru melahirkan aneka bentuk peperangan, mulai dari perang urat saraf hingga perang dengan menggunakan pedang dan senapan.

Ketiga, kelekatan pada jabatan atau tempat. Hal ini tidak asing bagi kita. Perhatikanlah sekitar kita, ada begitu banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk tetap bertahan pada jabatan tertentu atau tempat tugas tertentu. Kelekatan seperti ini tidak selalu karena faktor ‘materi’ tetapi bisa juga karena faktor ‘gengsi’. Padahal, semangat menggenggam jabatan atau tempat tugas tertentu tidak pernah memberi kedamaian batin. Kecurigaan kepada orang lain yang dianggap mengambil jabatan tersebut biasanya tumbuh lebih subur. Hubungan dengan orang lain pun jadinya tidak akan sehat. Akhirnya, masa pensiun yang seharusnya suatu perayaan sukacita bisa berubah menjadi saat menegangkan yang mengakibatkan penderitaan batin dan fisik.
.
Keempat, kelekatan pada milik atau materi. Dalam pandangan umum, resep untuk kemajuan amat sederhana: semakin banyak mengkonsumsi, semakin bahagia. Kenyataannya, banyak orang yang semakin mudah mendapat barang-barang, tetapi semakin sulit mendapat kebahagiaan.

Psikolog Tim Kasser dan kawan-kawan telah menunjukkan bagaimana sikap orang yang lebih materialistik: orang yang mengartikan dan mengukur harga diri dengan uang dan harta yang dimiliki memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah. Ada korelasi antara peningkatan konsumsi dan berkurangnya kebahagiaan manusia, khususnya dalam hubungan-hubungan sosial. Hubungan mulai hilang ketika penghasilan bertambah. Sebaliknya, ada kecenderungan suatu peningkatan kepuasan hidup dengan income yang lebih rendah.

Kita menemukan di dalam Alkitab beberapa peringatan buruknya kekayaan. Dalam Amsal 23: 4 dikatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”. Kita juga mendapat peringatan di dalam 1 Tim 6:9 yang mengatakan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Apakah menjadi kaya secara material sebagai sesuatu yang buruk atau dosa? Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat disederhanakan cukup dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’. Sebab, menjadi kaya tidak salah pada dirinya sendiri. Sedikitnya ada tiga pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab dalam hal ini. Pertama, apakah kekayaan itu diperoleh seturut dengan kehendak Tuhan (bukan dicuri atau dikorupsi, bukan dengan jalan mengorbankan bawahan atau karyawan, bukan dengan merusak alam ciptaan Tuhan dan sebagainya). Kedua, apakah kekayaan itu digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain? Ketiga, apakah hati kita melekat pada Tuhan, bukan melekat atau mengandalkan apa yang kita miliki? Jika kita dapat memberi jawaban ‘ya’ pada pertanyaan-pertanyaan ini, 'selamat menjalani hidup kaya!'

.Ketika seseorang melepaskan kelekatan, ia sekaligus melepaskan semua kekuatiran. Seruan ‘jangan takut’ atau ‘jangan kuatir’ memenuhi halaman-halaman kitab suci dan tulisan papra mistikus. Sebab kecemasan atau kekuatiran adalah bentuk halus dari kelekatan.

Monday, January 19, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU IV 2009: 19/01

HUBUNGAN KEHIDUPAN BERGEREJA DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Berbicara tentang hubungan kehidupan bergereja dengan kehidupan sehari-hari, sedikitnya ada lima kelompok orang:

(1) Orang yang tidak perduli terhadap kehidupan bergereja (tidak hadir dalam ibadah Minggu dan PA, tidak mau membaca Alkitab dan berdoa) dan hidupnya sehari-hari pun penuh dengan kebiasaan buruk bahkan tidak bermoral.
(2) Orang yang rajin ke gereja, tidak pernah absen di perkumpulan PA, berdoa setiap kali mau makan, tetapi seolah-olah tidak ada pengaruhnya yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Karakter buruk tetap melekat, seperti suka marah bahkan berang, memendam dendam, melakukan korupsi, pergi kepada dukun dan lain-lain.
(3) Tidak rajin ke gereja dan tidak banyak tahu tentang isi Alkitab, tetapi dalam hidup sehari-hari ia hidup baik, jujur, ramah, bekerja dengan sungguh-sungguh, suka menolong sesama manusia.
(4) Sesekali pergi ke gereja dan hidup biasa-biasa saja, tidak terlalu jahat dan tidak baik sekali. Sungkan menghujat Allah tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tidak mau mengganggu orang lain, tetapi juga tidak bersedia menolong sesama.
(5) Rajin dan terlibat aktif dalam seluruh kehidupan bergereja, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama-sama dan itu juga terpancar dalam hidupnya sehari-hari dalam berbagai perbuatan baik.

Kita boleh melihat di kelompok mana kita dan keluarga kita masing-masing berada. Yang ideal memang adalah nomor 5 ini.

Ibrani 10:24 berbicara tentang hubungan iman dan ibadah dengan kehidupan keseharian: “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. Ayat ini mesti dilihat sebagai satu kesatuan mulai dari ayat 19 yang menegaskan bahwa Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudusNya, menjadi anggota keluarga Allah.

Bertolak dari karya Kristus yang begitu besar dan menentukan, menyusul tiga ajakan ‘marilah’ kepada umat percaya, yakni:

(1) Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh. Oleh karena hati kita telah dibersihkan…. (ay 22)
(2) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia (ay 23)
(3) Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (ay 24).

Oleh karena itu, pusat perhatian kita yang pertama dan terutama adalah ‘pekerjaan Kristus di antara kita’. Ketiga ajakan seperti disebut di atas merupakan buah dari sambutan umat percaya kepada karya Kristus itu sendiri.

Dalam hal ini kita diajak kepada hal-hal yang konkret dan praktis tentang sikap dan gerak hidup sebagai orang percaya. Dengan kata lain, firman Tuhan ini mau menegaskan keterkaitan antara iman, ibadah dan kehidupan yang berbuah.

1. Rintangan Saling Memperhatikan

Saling memperhatikan dalam kasih merupakan sesuatu yang terbilang langka pada zaman ini. Kalaupun ada, ia lebih merupakan ‘pertukaran kepentingan’. Saya menjaga kepentingan Anda, sejauh Anda menjaga kepentingan saya. Saya akan datang ke pesta Anda, kalau Anda datang menghadiri pesta saya. Saya akan datang mengikuti PA di rumah Anda, kalau Anda hadir ketika PA diadakan di rumah saya. Di sini, persahabatan dibelokkan sebagai alat pemenuhan pementingan diri. Bahkan, agama pun bisa saja diperlakukan sebagai alat pemenuhan kepentingan.

Di samping membawa berbagai hal yang baik, salah satu sisi kelam dari era globalisasi ini ialah kecenderungan manusia yang kian dicengkeram individualisme (karena itu menjadi kurang dalam saling memperhatikan) dan materialisme (sehingga yang dipuja adalah Mamon hingga mengorbankan orang lain).

Kehidupan yang serba individualisme dan materialisme sangat mudah membuat orang merasa kuatir dan cemas, yang dapat menekan kehidupan. Bahkan, yang lebih buruk, akan mengakibatkan berbagai penderitaan fisik. Sebab, pikiran dan suasana hati menyalurkan kecemasannya kepada tubuh. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa gangguan fisik seperti pusing kepala, gangguan saluran pernafasan, sakit perut, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan sebagainya diakibatkan oleh tekanan terhadap rasa dan emosi.

Masih dalam hubungan itu, ambisi, menyimpan amarah, dengki, rasa benci, takut, kecewa menimbulkan stress (ketegangan) pada tubuh. Stress seperti itu dapat menyebabkan pernafasan dan detak jantung kita menjadi tidak normal. Kalau pasokan oksigen berkurang dalam tubuh, maka aliran darah juga akan terganggu. Dengan demikian, stress dapat menciptakan ketidakseimbangan kimia yang mengakibatkan kesalahan fungsi kelenjar dan organ-organ lain. Tubuh menjadi tidak mampu memberi perlawanan terhadap kuman-kuman yang biasanya dapat dikendalikan. Selanjutnya akan menimbulkan berbagai gangguan fisik.

Gangguan-gangguan semacam itu semakin membuat perhatian seseorang tertuju dan terpusat pada diri sendiri, cenderung lebih memikirkan keadaan diri sendiri dan amat kurang memberi perhatian terhadap sesama. Untuk itu perlu kita cermati berbagai gangguan kepribadian yang menghambat terciptanya kehidupan yang saling memperhatikan.

  • Orang yang terlalu memikirkan diri sendiri kurang memiliki kesempatan memikirkan orang lain
  • Orang yang terlalu memperhatikan diri sendiri tidak mempunyai kesempatan memperhatikan orang lain
  • Orang yang mengutamakan kenikmatan diri, akan cenderung merampas hak dan kebahagiaan orang lain.

Sunday, January 11, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU III 2009: 12/01

MEMENANGKAN UJIAN HIDUP
Ketika badai kehidupan silih berganti kita saksikan terjadi pada orang lain atau justru menerpa diri kita sendiri, tidak jarang kita bertanya dalam hati, “mengapa semua ini terjadi?” Apalagi, kita tidak menemukan sesuatu dalam diri kita, seperti kesalahan atau kelalaian kita, yang membuat kita menanggung derita. Kita semakin bingung ketika kita menyaksikan orang-orang jahat justru sehat-sehat saja bahkan kian 'makmur'. Kita pun tergoda untuk terus bertanya setengah menggugat, “mengapa bukan pendosa dan hidup penuh noda itu saja yang porak poranda?” Jika pikiran dan hati kita tidak jernih menilai setiap peristiwa kehidupan, kita bisa saja terjerumus pada kesimpulan keliru seolah Allah tidak adil atau tidak peduli dengan keadaan kita. ..
Akan tetapi, dari firman Tuhan sebagaimana dapat kita baca dalam Yakobus 1:2-8, kita disegarkan kembali untuk memaknai persoalan atau pergumulan hidup dengan iman. Dikatakan di situ bahwa “berbagai-bagai pencobaan” ada yang merupakan ujian terhadap iman kita yang akan menghasilkan ketekunan. Ada baiknya kita perhatikan secara khusus kata “ujian” dan “ketekunan”. Di sekolah, semua siswa yang akan naik ke kelas yang lebih tinggi selalu menghadapi ujian. Jadi, ujian-ujian yang kita hadapi dalam kehidupan ini, hendaknya mendorong kita untuk kian tekun dalam doa, penyerahan diri dan ketekunan berkarya mulia. Untuk memurnikan emas, ia mesti dibakar. Sehubungan dengan itu, dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan:
.
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Belajar dari firman Tuhan ini, kita hendaknya lebih memusatkan perhatian kepada Tuhan dan kekuatan yang Ia berikan kepada kita, bukan terutama pada pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, seberat apa pun itu. Sebab, kuasa Allah jauh lebih besar dibandingkan dengan semua beban hidup kita.

Dalam firman Tuhan sebagaimana dalam Yakobus 1 ini juga dinasihatkan agar kita meminta hikmat dari Tuhan. Ayat 5 berkata: “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati...” Hikmat tidak bisa kita hasilkan dari diri kita sendiri. Tidak bisa disekolahkan dan tidak bisa dibeli. Hikmat adalah pemberian Tuhan. Dengan hikmat yang dari Tuhan, kita tidak akan terombang-ambing dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup ini. Sebab hidup yang terombang-ambing atau ‘mendua hati’ (ayat 8) tidak akan pernah tenang dalam hidup. Tetapi dengan hikmat yang dari Tuhan, kita dapat menemukan hikmah dari peristiwa kehidupan yang kita alami.

Dengan memahami dan menerima firman Tuhan ini, kita pun akan dapat menyanyikan Kidung Jemaat 439 dengan penuh keyakinan dan sukacita:

Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
Berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya...

Adakah beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat?
Hitunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia....

UPDATE BEASISWA KE PARLILITAN-JULI 2009

PEMBERI BEASISWA (GELOMBANG II)

1. Anthon Simangunsong (Singapore) untuk 10 orang -Mulai Ags 08
2. John Sihotang (New York).............. untuk 1 orang - Mulai Ags 08
3. NN (Singapore) ................................ untuk 1 orang -Mulai Ags 08
4. JM (Solo-Jawa Tengah).................. untuk 2 orang - Mulai Sept 08
5. Kel Ramses Butarbutar (S'pore).... untuk 6 orang - Mulai Okt 2008
6. NS (Singapore)................................. untuk 5 orang - Mulai Okt 2008
7. Johnny Tobing............................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 08 (lanjutan)
.
PENERIMAAN:
.
Pembayaran tahunan:

1. Ags 08-Juli 09 : Anthon Simangunsong : Rp. 7.680.000 (S$1,200xIDR 6400)
2. Ags 08-Juli 09 : John Sihotang ...............: Rp. 750.000
3. Ags 08-Juli 09 : NN - Singapore ............: Rp. 600.000

Pembayaran Bulanan:

1. JM - Solo (Jawa Tengah)
Ags-Sept 08 : Rp. 200.000
Okt-Nop 08 : Rp. 200.000
Des 08-Pbr 09: Rp. 300.000
Maret-Mei 09: Rp. 300.000
Juni-Juli 09 : Rp. 200.000

2. NS - Singapore
Okt-Des 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Jan-Maret 2009 : Rp. 900.000 (S$120 x IDR 7500)
April-Juni 2009 : Rp. 1.125.000 (S$150 x IDR 7500)

3. Ramses Butarbutar - Singapore
Okt-Nop 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Des 08-Maret 2009: Rp.1.500.000 (S$200xIDR7500)
April 09-Mei 2009: Rp. 750.000 (S$100 x IDR 7500)
Juni-Agustus 2009 : Rp. 1.035.000 (S$150 x IDR 6900

Total Penerimaan hingga Januari 2009: Rp. 16.040.000

YANG SUDAH DIKIRIM


1. Agustus 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
2. September 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
3. Oktober 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
4. Nopember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
5. Desember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
6. Januari 09................................................ = Rp. 1.300.000
7. Pebruari 09 ........................................... = Rp. 1.350.000
8. Untuk Maret 09..................................... = Rp. 1.350.000
9. Untuk April 09 ...................................... = Rp. 1.350.000
10. Untuk Mei 09........................................ = Rp. 1.350.000
11. Untuk Juni 09..................................... = Rp. 1.350.000
12. Juli 09................................................. = Rp. 1.350.000
1
Total yang sudah dikirim 12 bulan x Rp. 1.350.000 = Rp. 16.200.000

PENERIMA BEASISWA:

1. Candi Tinambunan
2. Helmida Barasa
3. Horas Sihotang
4. Mei Romaida Nahampun
5. Rumonda Siringoringo
6. Firgo Sappetua Barasa
7. Osni Tiurma Hasugian
8. Siti Marini Situmorang
9. Dapid Sinambela
10. Masdani Hasugian
11. Daniel W. Hasugian
12. Sampit Lasniroha Sihotang
13. Rewida Bernadetta Manik
14. Deliana Barutu
15. Herman Harefa
16. Sehat Pardomuan Tumanggor
17. Randi Ramson Silalahi
18. Sisu Susanti Situmorang
19. Ranto Rano Sinaga
20. Eliana Veronika Sihotang
21. Adomangihut Situmorang
22. Herlinda Sinaga
23. Apri Dirjen Barutu
24. Elisabet Tamba
25. Risde Tinambunan
26. Asnita Napitupulu
27. Aladin Sudiomo Manullang
.

Informasi tentang program beasiswa ini silahkan klik di sini:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/memberi-tanpa-mempermiskin.html
.
Untuk informasi penyaluran beasiswa dapat menghubungi kepala SMPN Parlilitan, Bapak Drs Mangansam Sagala, HP +6281376844860

PEMBERI BEASISWA (LANJUTAN GELOMBANG I)

1. Johnny Lumbantobing.................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 2008*)
2. Christi & William............................. untuk 1 orang SD - Mulai 2007

Penerimaan:
1. Johnny Tobing: Okt 08-Pebr 09 .......IDR 750.000 ($100xIDR 7500)
2. Christi and William: Okt 08-June 09 ...IDR 337.500 ($45xIDR 7500)
3. Johnny Tobing: Maret-Mei 2009..... IDR 450.000 (S$60xIDR 7500)
4. Johnny Tobing : Juni-Ags 2009....... IDR 426.000 (S$60xIDR 7100)

Total Penerimaan: IDR 1.963.500

Yang sudah dikirim:
Oktober 08-Jan 09...................... IDR 500.000
Pebruari-Mei................................ IDR 400.000
Juni 09.......................................... IDR 125.000
Juli-Oktober 09.......................... IDR 500.000

Total yang dikirim....................... IDR 1.525.000

Penerima Beasiswa (Lanjutan Gelombang I)
1. Sahat Mangihut Munthe ...... SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
2. Gaberdus Sihotang................ SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
3. Rispan Sihotang.................... SD N Siringoringo Kls IV (IDR 25.000/ bln)

Beasiswa Lanjutan Gelombang I ini disalurkan oleh Bapak St T. Tinambunan HP: +62813700242826

Friday, January 2, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU II 2009: 05/01

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN
Sebuah Renungan Menjalani 2009

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur
(Kolose 2:7)

PENGANTAR

Setiap hadirnya tahun yang baru, biasanya orang-orang mengajukan aneka pertanyaan dan pernyataan seputar apa yang bakal terjadi sepanjang tahun yang baru. Keragaman pendapat yang mengemuka seturut dengan keragaman latar belakang kehidupan, profesi dan keyakinan anggota masyarakat. Para futurolog hingga para peramal juga angkat bicara. Simbol-simbol tradisi tertentu juga meramaikan suasana, seperti mereka yang menetapkan tahun tertentu sebagai tahun anjing, tahun kambing dan lain-lain yang disertai dengan tafsiran-tafsirannya.

Bagi orang Kristen setiap dan semua tahun adalah ciptaan dan milik Tuhan. Artinya, tiada tahun tanpa Tuhan. Karenanya semua tahun adalah tahun rahmat yang mestinya disambut dengan ucapan syukur. Meski demikian, tidak semuanya akan secara otomatis berjalan baik. Keadaan yang akan terjadi juga sangat tergantung pada tanggapan manusia terhadap rencana Allah.

DUA MUSUH UTAMA

Hingga tahun yang lalu kita masih mengalami dan menghadapi aneka persoalan kehidupan. Di sini dapat disebut dua di antara sekian banyak permasalahan kehidupan yang sedang mengitari kita, yakni masalah ‘kekerasan’ dan masalah ‘hilangnya makna hidup’ bagi banyak orang, yang kiranya dapat dituntaskan atau paling tidak diminimalkan pada tahun 2009 ini.

1. Kekerasan dan Kejahatan

Kita masih berada dalam masa gerakan sedunia yang disebut dengan Decade to Overcome Violence –DOV (dekade mengatasi kekerasan, 2000-2010). Kita sepatutnya amat prihatin karena di tengah perjuangan dunia dan gereja-gereja mengatasi kekerasan, tetapi kekerasan masih tetap merajalela di mana-mana mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, negara, bahkan dalam lingkungan agama juga.

Sudah sejak lama kita diliputi rasa takut karena kebiadaban para teroris yang mengagungkan kematian. Banyak orang yang merasa tidak aman bepergian dan di berbagai tempat banyak yang merasa tidak aman beribadah di gereja dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas kita tidak hanya mengecam tindak teror yang mengancam hidup kita, tetapi benar-benar menyatakan keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Salah satu makna keberadaan kita sebagai garam adalah menciptakan suasana yang enak dan bersahabat dengan semua orang. Janganlah kiranya lagu-lagu kita menggelegar ke sekeliling gereja tetapi kita tidak peduli kepada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.

Di samping prihatin terhadap masalah kekerasan yang mengitari kita, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu, terutama memulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga sendiri. Seorang psikiater pernah mengatakan kepada saya bahwa 75% pembunuh yang meringkuk di penjara-penjara Barat adalah mereka yang mendapat perlakuan tindak kekerasan di dalam lingkungan keluarga sejak masa kecil. Itu berarti bahwa pengalaman anak di tengah keluarga sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya di kemudian hari.

Karena itu, sudah semestinya menjadi tugas mendesak kita (terutama tahun ini) memberi perhatian khusus dan serius untuk mengasihi anak-anak, mendidik mereka dalam ajaran dan kehendak Tuhan, serta meciptakan suasana agar mereka bertumbuh ke arah kedewasaan dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan interaksi dan kecerdasan moral.

Dalam hal ini, para orangtua harus sungguh-sungguh mengoreksi ulang metode pendidikan terhadap anak-anaknya di tengah keluarga, tidak mengikuti begitu saja apa yang dialaminya dari orangtuanya pada masa kecil. Misalnya, kalau anak-anak secara tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah, orangtua langsung berang, menarik pipinya ke atas seperti mau robek atau malah memukul kepala si anak dengan kayu sampai hampir pecah. Padahal harga gelas hanya Rp. 2000, pipi dan kepala anak-anak (manusia) tidak ada dijual. Yang lebih bijaksana, orangtua mestinya dengan kasih berkata, “Wah gelas kita pecah ya ‘nak, lain kali hati-hati ya sayang? Susah cari uang sekarang”. Kalau dia dipukul, dia akan semakin gugup dan makin banyak gelas yang pecah. Tetapi, jika diberi pengertian, ia merasa dirinya berharga dan ia akan lebih hati-hati.Sebuah pepatah Jerman (yang sudah disebut di atas) berbunyi, ‘jika semua orang menyapu halaman rumahnya, maka seluruh kota akan bersih’. Artinya, keadaan masyarakat sangat ditentukan oleh keadaan keluarga-keluarga yang ada di dalamnya. Kekerasan di masyarakat dapat kita atasi mulai dari keluarga-keluarga yang bebas kekerasan.

Di samping itu, lingkungan sekolah dan gereja juga ikut bertanggungjawab. Sebab, tidak sedikit anak yang mengalami kekerasan di rumah, juga mengalami tindak kekerasan dari gurunya di sekolah, bahkan –amat ironis—guru-guru sekolah Minggu juga ada yang menggunakan tongkat pemukul untuk ‘menenteramkan’ anak-anak. Dalam hal ini para guru di sekolah dan di Sekolah Minggu perlu dengan bijaksana mengasihi, mendidik dan mendampingi anak agar mereka bertumbuh dengan baik.

2. Stres dan Hilangnya Makna Hidup

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang stres dan depresi. Pengalaman empiris membuktikan bahwa peningkatan pendapatan ekonomi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh era globalisasi ini tidak menjamin kebahagiaan manusia. Kita dapat mengambil contoh negara Jepang, Amerika Serikat dan Singapura yang secara ekonomi termasuk dalam negara-negara termakmur. Akan tetapi justru di ketiga negara inilah tingkat bunuh diri yang tergolong tertinggi di dunia. Mengapa? Banyak manusia yang kehilangan makna diri.

Sebaliknya, kesulitan ekonomi pun dapat juga memicu dan memacu tingginya angka bunuh diri. Kecenderungan semakin banyaknya bunuh diri juga kita alami di Indonesia. Di kota Jakarta, misalnya, tiap tahun jumlah orang yang bunuh diri juga bertambah, yang di antaranya karena kesulitan hidup. Belum lama ini sebuah surat kabar memberitakan bahwa seorang remaja bunuh diri karena malu tidak memiliki handphone dan diejek temannya dengan menggunakan bahasa sebuah iklan TV: “Hari gini, ‘gak punya handphone!”. Ironis memang! Banyak orang-orang Indonesia ‘demam’ handphone, bukan terutama karena kebutuhan tetapi karena gengsi. Jelas, bahwa gengsi biasanya menghancurkan kehidupan.

Berkaitan dengan hilangnya makna diri, tidak sedikit orang sekarang ini yang amat pesimis terhadap masa depan. Mengambil sebuah contoh, saya sering menyaksikan anak-anak remaja siswa SLTP atau SMU yang berkeliaran pada jam sekolah. Ada yang ‘nongkrong’ di internet (khususnya di kota-kota), ada pula yang main judi. Banyak di antara mereka yang merokok, bahkan rokoknya lebih besar dari jari tangannya (padahal merokok adalah tindakan ‘bunuh diri kredit’ alias mengangsur kematian!). Saya pernah memberanikan diri menegor seorang di antara mereka (walaupun saya tahu bahwa sekarang ini agak sulit menegor seseorang atas kekurangannya, karena bisa dengan gampang orang mengatakan ‘apa urusanmu?’). Saya sangat kaget mendengar ketika dia mengatakan, ‘Pak, apa gunanya sekolah. Di Indonesia hanya satu presiden dan tidak mungkin saya untuk itu. Di kota ini pun hanya satu orang walikota, itu juga tidak mungkin untuk saya. Sekarang ini, untuk masuk sekolah polisi saja harus ada uang sogok Rp. 60 juta, untuk menjadi pegawai negeri juga harus ada uang minimal Rp. 50 juta baru bisa masuk’.

Yang saya tangkap dari respon seorang siswa tersebut sedikitnya ada dua hal pokok. Pertama, pesimisme berlebihan dan orientasi yang salah arah. Sebenarnya, ‘makna hidup’ tidak diukur kalau seseorang menjadi presiden, walikota atau memangku jabatan penting lainnya. Makna hidup yang kristiani adalah kalau seseorang menjadi dirinya sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki. Kedua, keprihatinan terhadap situasi riil masyarakat kita terutama masalah sulitnya mencari pekerjaan dan masalah korupsi. (Penting dicatat, bahwa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat atau juara VI sedunia di bidang korupsi). Akan tetapi, sebagai seorang beriman, keprihatinan terhadap situasi masyarakat mestinya tidak direspon dengan sikap pesimis; tidak pasrah dan menyerah pada situasi. Justru dalam kenyataan seperti itulah setiap orang perlu lebih bersungguh-sungguh belajar, berjuang dan berbuat baik untuk memperbaiki situasi bukan malah mengeruhkannya dengan menjadikan diri sebagai bagian dari masalah dan bukan solusi.

Kata-kata Calvin Coolidge pantas direnungkan, “Di dunia ini tidak ada yang dapat menggantikan ketekunan. Tidak juga talenta; tidak ada yang lebih lazim daripada orang yang memiliki talenta tetapi tidak sukses. Tidak juga seorang jenius; kecerdasan yang tidak pernah dihargai hanya merupakan pepatah….Ketekunan dan kemantapan hati itu sendiri bersifat mahakuasa”.[2] Untuk menguatkan pandangan ini Bloch mencatat Thomas Edison membuat lebih dari 2.000 kali percobaan sebelum dia menemukan bola lampu.[3]Kehidupan yang dijalani dengan ketekunan tidak akan pernah mengenal keadaan frustrasi meskipun terkadang mengalami kegagalan. Sebab, sama seperti yang dikatakan oleh Gede Prama bahwa “tidak jarang terjadi, kegagalan membawa dua hadiah terbaik adalah hidup: kearifan dan kesabaran.”[4]

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN

Apa yang akan terjadi sepanjang tahun 2009 ini, memang tidak seorang pun yang tahu pasti. Tetapi, ada satu hal yang pasti yakni: Tuhan memegang kendali masa depan. Tahun lalu, perekonomian dunia mengalami krisis yang lumayan parah. Sejalan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok pun menjadi naik yang secara merta telah membuat banyak orang menjadi panik. BBM sempat naik, ongkos naik, kebutuhan sehari-hari naik –celakanya ‘darah tinggi’ juga terkadang menjadi naik. Tidak sedikit orang menjadi amat gampang tersinggung dan marah. Ini adalah produk atau bentuk lain dari ketidakbahagiaan. Konsekuensinya, semakin banyak orang menjadi pemarah akan semakin banyak pula perselisihan atau permusuhan.

Kesadaran dan iman kita bahwa Tuhan memegang kendali masa depan akan serta merta menolong kita untuk tetap tenang secara aktif, hati damai dan penuh kelembutan terhadap sesama manusia.Apa yang membuat kita tidak bahagia? Sirgy dengan tepat mengatakan bahwa “Ketika kita memikirkan tentang hidup kita, kita terlalu sering berpikir tentang apa yang belum kita punya dan apa yang belum kita dapat. Tetapi hal-hal seperti itu membuat kita tidak bahagia”.[5]

Kalau kita jujur, sebenarnya kita telah menerima berkat yang berkelimpahan dari Tuhan, baik berkat rohani maupun jasmani. Kita menerima berkat rohani, karena kita diterima sebagai warga kerajaan Allah oleh penyelamatan Yesus Kristus. Kita adalah anak-anakNya, bukan karena kita layak, melainkan karena dilayakkan oleh Tuhan.Secara jasmani kita juga terberkati. Hidup kita hari ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan yang sedang berlangsung. Sebagai tambahan, mari kita lihat contoh ini. Dulu, para orangtua biasanya membeli pakaian yang jauh melampaui ukuran tubuh anaknya. Misalnya, seorang anak kelas VI SD dibelikan baju ukuran Kelas III SMP, dengan maksud agar pakaian itu bisa dipakai lebih lama. Sepatu juga demikian. Untuk anak kecil, dibeli sepatu agak panjang dan kemudian diisi dengan kain yang tidak terpakai di dalamnya supaya sepatunya tidak jatuh ketika dipakai. Tujuannya sama: supaya sepatu itu dapat dipakai sampai kelas III SMP. Mengapa? Mereka hidup dalam situasi perekonomian yang sangat memprihatinkan.

Masalahnya adalah, sekarang ini, dengan berkat Tuhan melalui perbaikan kehidupan ekonomi, yang terjadi justru sebaliknya. Dulu seorang anak SD memakai pakaian seukuran untuk seorang anak SMP, sekarang banyak remaja yang sudah SMU atau mahasiswa justru memakai pakaian SD, kecil, sempit sampai perut dan pusatnya dipamerkan kepada khalayak ramai. Padahal, budaya kita memiliki norma-norma kesopanan dalam berpakaian. Di samping itu, banyak orang sekarang ini tidak puas memiliki satu atau dua sepatu, tetapi berlomba membeli sepuluh atau lebih sepatu padahal sebenarnya tidak dibutuhkan. Mengapa? Banyak orang pada zaman ini berakar dan belajar pada TV, toko atau mall, rumah tetangga dan sebagainya, tidak berakar pada kehendak Tuhan.

Berakar di dalam Tuhan berarti mendapat kehidupan dari pada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Berakar di dalam Tuhan juga berarti bahwa seluruh kehidupan selalu dikaji dan diuji berdasarkan kehendak Tuhan. Hal ini amat penting di tengah dunia yang sedang dilanda oleh konsumerisme (membeli dan memakai barang-barang tidak terutama dengan orientasi ‘kebutuhan’ tetapi ‘keinginan’ dan ‘gengsi’) yang akan menambah penderitaan manusia dan merusak alam ciptaan Tuhan seperti hutan, sungai, danau, dan udara.Dengan berakar di dalam Tuhan, maka hati nurani pun akan bekerja aktif untuk menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Tuhan. Di tengah zaman yang maju ini dengan tingkat intelektualitas manusia yang semakin baik, masih kita temukan orang-orang yang menempuh jalan pintas yang irasional dengan pergi ke dukun untuk pelaris dagangan, agar disegani, agar mendapat jabatan tertentu. Dan, anehnya, seperti kata Eka Darmaputera, orang begitu mudah marah-marah jika merasa dikecewakan Tuhan, tetapi kalau dukun yang mengecewakannya, dia tidak merasa apa-apa.[6]

Pengenalan dan pengalaman kita akan apa yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita hendaknya mendorong kita mengikuti nasihat Paulus yang mengatakan, “hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Hati yang melimpah dengan syukur selalu disertai dengan gerak hidup yang mencerminkan kehendak Tuhan.Mengucap syukur hanya mungkin ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari dan mengimani apa yang Tuhan telah, sedang dan akan lakukan dalam kehidupannya. Kiranya hal ini amat kuat melekat dalam hati kita. Saudara dan saya disapa saat ini, mari menjalani kehidupan tahun ini bersama Tuhan yang hidup dan mengasihi kita. Kebahagiaan kita terletak di situ.

[2] Sebagaimana dikutip oleh Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 59
[3] Ibid.
[4] Gede Prama, Jalan-jalan Penuh Keindahan. Dari Kejernihan untuk Kepemimpinan kehidupan, Jakakarta: Gramedia, 2004, hlm. 156.
[5] Sebagaimana dikutip oleh David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 146
[6] Eka Darmaputera, Iman dan Tantangan Zaman, Jakarta: BPK, 2005, hlm. 62.









Tuesday, December 23, 2008

MENANTI DENGAN HATI DAMAI


Apa benar “menunggu itu membosankan”? Nampaknya tidak sedikit orang menerimanya sebagai kebenaran. Tetapi, ‘menunggu’ itu sebenarnya adalah sebuah ‘ujian’. Ia adalah suatu kesempatan untuk memilih apa yang terbaik untuk dipikirkan dan dilakukan. Memang suasana hati kita dalam menanti sangat dipengaruhi oleh apa yang kita tunggu. Jika yang kita tunggu itu adalah sesuatu yang sangat kita dambakan, tentu kita bisa saja tidak sabar menunggunya. Satu jam bisa terasa seperti seminggu. Tapi jika yang kita tunggu itu adalah batas waktu membayar hutang –padahal belum dapat kita bayar—satu minggu terasa seperti sehari, bukan? Selain itu, agak aneh juga kalau terpidana hukum gantung misalnya merasa bosan menunggu eksekusi.
.
Satu hal yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana sikap kita pada saat menunggu. Bayangkan petugas bandara udara mengumumkan keberangkatan pesawat akan ditunda 6 jam. Reaksi orang dapat saja amat beragam, tergantung pada suasana hati masing-masing. Mungkin ada yang mengumpat, ada yang membantingkan koper, ada yang protes dan sebagainya (walaupun reaksi seperti itu tidak dapat mengubah jam keberangkatan). Tetapi, bisa saja ada yang tinggal tenang dan menggunakan waktu 6 jam untuk hal-hal yang bermakna seperti membaca, berdoa, menelpon dan apa saja yang bermanfaat.

Ada yang yang istimewa dalam hal 'menanti' sebagaimana diserukan dalam Zakharia 9:9-10. Penantian di sini berkaitan dengan 'siapa' dan 'bagaimana'. Yang dinantikaan adalah Mesias, sang Raja. 'Bagaimana' sikap penanatian? Dikatakan supaya 'bersorak-sorak dengan nyaring', yang artinya dengan penuh sukacita.

Ketika nubuatan ini diperdengarkan, orang-orang Israel sedang menanti-nantikan seorang raja. Mereka sudah memiliki pengalaman beberapa raja sebelumnya dan mereka juga mengalami penaklukan penguasa-penguasa lain. Mereka merindukan keadilan dan kedamaian. Di tengah situasi seperti itulah seruan untuk bersukacita menyambut seorang Raja diperdengarkan. Raja yang datang itu amat berbeda dengan raja-raja atau penguasa dunia. Selengkapnya Zak 9:9-10 berbunyi:

Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Nubuatan itu dipenuhi dalam diri Yesus. Yesus megendarai keledai memasuki Yerusalem di mana orang banyak menyambut-Nya dan berseru, "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yohanes 12:13).

Di sini dapat disebut sedikitnya tiga hal untuk kita renungkan.

1. Raja itu yang datang melawat umat-Nya. “Lihat, rajamu datang kepadamu” (ayat 9).
Ia sendiri yang mengambil prakarsa untuk datang karena kasih-Nya. Allah tahu keadaan umat-Nya. Ia peduli pada umatNya. Kenyataan inilah yang boleh meneguhkan kita untuk tetap beriman teguh kepadaNya.

Perlu kita resapkan dalam hati bahwa Tuhan mengetahui setiap detil kehidupan kita, khususnya keadaan kita yang tidak dapat lepas dari kuasa maut karena dosa-dosa kita. Ia tahu yang terbaik dalam hidup kita. Dan, lebih dari itu, Ia menghendaki agar kita selamat dan hidup dalam pemeliharaan-Nya. Itu sebabnya tidak ada kata ‘putus asa’ dalam kamus orang yang percaya kepada Tuhan. Tuhan memberi kesempatan kepada kita bersukacita meskipun gelombang terkadang menghadang.

2. Karekter Raja yang akan datang itu adalah adil, jaya (menyelamatkan), dan lemah lembut. Sempurna! Semuanya ini merupakan kebutuhan umat manusia dari dulu hingga hari ini yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan dengan sempurna. Ia adalah adil, memberikan yang terbaik untuk umat manusia. Kualitas seperti itulah yang semestinya dimiliki oleh seorang raja, bukan memberatkan atau menuntut di luar kemampuan orang lain. Raja itu ‘jaya’ atau ‘menyelamatkan’, bukan mencelakakan. Kita tahu bahwa Yesus memberi diri-Nya menjadi korban untuk menyelamatkan umat manusia. Berbeda dengan penguasa dunia yang dengan mudah mengorbankan orang lain untuk ‘menyelamatkan’ dirinya. Raja itu juga lemah lembut, sesuatu yang bertolak belakang dengan keangkuhan manusia. Raja atau penguasa dunia dan para pengagumnya menghendaki ‘wibawa’ yang identik dengan ‘sedikit seram’ dan ditakuti. Berbeda dengan sang Raja itu yang lemah-lembut. dan kita tahu bahwa kelemahlembutan berulangkali ditekankan di dalam Alkitab. Itu berarti karakter Sang raja itu hendaklah menjadi karakter para pengikut-Nya.

3. Tugas Sang Raja yang akan datang itu adalah melenyapkan perangkat-perangkat perang. Dan yang terpenting, Ia memberitakan damai kepada bangsa-bangsa (ayat 10). Kita melihat bahwa pengajaran dan pelayanan Yesus benar-benar menekankan damai. Puncaknya, Ia mati di kayu salib untuk mendamaikan kita orang-orang berdosa dengan Allah. Damai itu juga yang Ia kehendaki diwujudkan oleh para pengikut-Nya dalam kehidupan di dunia ini. Ia berfirman, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Dalam hal ini tugas kita adalah membawa damai. Perlu kita perhatikan bahwa kita bukan ‘membuat’ atau ‘menciptakan’ damai. Kita diutus ‘membawa’ damai. Artinya, kita harus terlebih dahulu memiliki damai itu sebelum membawa damai kepada orang lain. Hal ini juga menegaskan bahwa tugas pemberitaan Injil bukan dengan pedang atau senjata dan sikap arogansi, melainkan dengan kerendahan hati dan semangat damai.

Sunday, December 21, 2008

PEREMPUAN


Hari ini, 22 Desember --yang merupakan ‘hari Ibu'-- Tuhan memberi kesempatan kepada kita secara khusus mengingat para ibu. Mudah-mudahan Anda sepakat dengan saya bahwa tidak ada kata seindah dan sebaik apa pun yang dapat menggambarkan isi hati kita dan mengungkapkan rasa terima kasih kita akan perjuangan kasih para ibu sejak ibu yang pertama ada di dunia ini.

Saya menerima ‘kisah’ berikut melalui email, yang terjemahannya kira-kira begini.

Ayah dan ibu sedang menonton TV. Kemudian, ibu berkata, “Saya sangat capek, dan sekarang sudah larut malam. Saya mau tidur."
.
Ia pergi ke dapur memeriksa apakah bahan makanan besok tersedia. Ia membersihkan blender, memeriksa persediaan beras, mengisi tempat gula, meletakkan sendok dan garpu di atas meja untuk keperluan sarapan pagi besok.

Kemudian, ia menaruh beberapa pakaian kotor ke dalam mesin cuci, menyeterika pakaian dan memperbaiki kancing baju yang lepas. Ia mengumpulkan potongan-potongan game anaknya yang bertaburan di lantai, mencas handphone dan meletakkan buku telpon pada rak.
.
Ia menyiram tanaman di pot, mengosongkan keranjang sampah dan menggantungkan anduk basah. Sambil menguap ia melangkah menuju kamar tidur. Ia berhenti sejenak di meja dan menulis pesan singkat kepada guru anaknya, mengitung uang recehan keperluan anaknya dalam perjalanan bersama teman sekelasnya ke suatu kebun, ia mengambil buku yang terselip di bawah kursi. Ia menandatangani kartu ucapan selamat ulang tahun kepada seorang temannya, menulis alamatnya dan menempelkan perangko pada amplopnya. Ia juga menulis daftar keperluan yang akan dibelinya. Ia menempatkan keduanya dekat dompetnya.Selanjutnya, ibu membersihkan wajahnya dengan pembersih three in one dan mengolesi dengan pelembab, menggosok gigi dan merapikan kukunya.

Ayah berkata, “saya kira mama sudah tidur’. “Ya, saya sudah mau tidur”, jawab ibu.
Ia menaruh air di tempat minum anjing dan menempatkan kucing ke luar rumah. Ia memeriksa apakah pintu sudah terkunci dan lampu luar menyala. Ia melihat anak-anaknya di tempat tidur masing-masing dan mematikan lampu belajar serta menggantikannya dengan lampu tidur, menggantungkan pakaian yang tergeletak di lantai, meletakkan kaus kaki kotor di tempat pakaian kotor, dan ia masih berbicara sejenak dengan seorang anaknya yang masih mengerjakan Pekerjaan Rumahnya.

Di dalam kamar tidurnya, ia menyetel alarm jamnya, meletakkan pakaian yang akan ia dan ayah pakai keesokan harinya. Ia menambahkan tiga hal lagi ke keenam hal terpenting dalam daftar yang akan dikerjakannya. Kemudian, ia berdoa dan memeriksa apakah tujuannya tercapai.
.

Pada saat yang sama, ayah mematikan TV dan mengumumkan tanpa menyebut nama, “Saya akan tidur!” Dan ia memang benar-benar tidur tanpa ada pikiran lain.

*******

Kisah di atas belum seberapa dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya yang dialami kaum ibu. Di desa-desa kaum ibu mempunyai pergumulan tersendiri. Di samping merawat anak dan mengurus suami, mereka harus bekerja keras di ladang, memelihara ternak dan sebagainya.

Rasa sakit yang ditanggung kaum ibu, khususnya yang memiliki anak, tidak terperikan. Saya berada dekat istri saya ketika kedua anak kami lahir. Saya menyaksikan sendiri bagaimana istri saya menanggung rasa sakit yang juga disertai dengan kecemasan. Dia harus menanggung sendiri rasa sakitnya karena tidak bisa dibagi atau diwakilkan. Baru saya mengerti ungkapan seorang ibu yang pernah saya dengar yang ditujukan kepada anaknya yang agak nakal, “Kalau saya mengingat betapa sakitnya melahirkan engkau, saya sangat sedih melihat tingkah lakumu yang tidak menghormati orang tua”.

Saatnya kita merenungkan pengorbanan kasih para ibu. Mari kita terus mendoakan mereka. Juga, menjadi tanggung jawab kita semua mengormati dan mengasihi mereka sepenuh hati.

**********
Hari ini, Senin, 22 Desember 2008, bersamaan dengan 'hari ibu', istri saya Tima Warni Pangaribuan genap berusia 38 tahun. 'Kisah' di atas memang berbeda dengan keseharian kami. Bukan karena kami tidak memiliki anjing dan kucing, tetapi saya mencoba menjadi suami yang agak baik dengan membantu hingga membersihkan lantai dan piring di saat mana perlu. Yang jelas, saya tahu persis bagaimana kesungguhan istri saya menguras tenaga mengurus dan merawat keluarga tanpa kenal lelah. Terima kasih banyak, istriku, pemberian Tuhanku, atas kebaikan hatimu. Doa dan harapan kita, Tuhan senantiasa memberkati dan menguatkan kita untuk melayani-Nya dan menjadi berkat bagi yang lain.


Foto: Christi dan William mengucapkan selamat
ulang tahun kepada mamanya.

Thursday, December 18, 2008

KETABAHAN DALAM SEGALA KEADAAN



Bagaimana mungkin kita memberi nasihat kepada seseorang untuk mengencangkan ikat pingang, ikat pinggang saja dia tidak punya?


Pimpinan Bank Dunia, Robert Zoellick, baru saja menyatakan bahwa 6 bulan ke depan merupakan ujian berat bagi perekenomian global. Ada apa lagi ini? Yang sedang terjadi sekarang pun sudah terasa dampaknya hampir di semua lini. Begitu banyak yang sudah mengalami PHK dan lebih banyak lagi yang dirundung kekuatiran menunggu kepastian PHK atau tidak.
.
Seperti disebutkan sebelumnya (baca “Menyikapi Krisis Ekonomi”) dalam blog ini, saya sendiri sama sekali tidak tahu seluk-beluk perekonomian. Yang saya tahu adalah keluhan bahkan jeritan banyak kalangan akhir-akhir ini. Dan, yang paling penting, Anda dan saya tahu bahwa kita tidak tahu apa yang terjadi pada masa mendatang tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan, yaitu Tuhan kita. Seseorang pernah mengatakannya dengan indah begini: I do not know what the future holds but I know who holds the future. Ya, iman kita bahwa Tuhan memegang masa kini dan dan masa depan, menolong kita untuk menyikapi keadaan ini dengan jernih dan melakukan usaha-usaha yang bisa kita lakukan, seperti:
  • menghemat tanpa harus pelit;
  • orientasi kebutuhan bukan dikendalikan oleh keinginan;
  • menjaga emosi agar tetap sehat dengan tidak gampang tersinggung dan tersulut amarah yang hanya akan memperkeruh suasana;
  • memberi perhatiaan pada yang ada bukan pada yang tiada dan yang mungkin tidak akan ada;
  • lebih banyak bersyukur dan berdoa disertai usaha 'halal'. Tidak ada pembenaran kejahatan, penipuan dan pencurian dalam situasi sulit sekalipun. Di Jakarta saya pernah mendengar seseorang mengatakan, "Hidup ini sangat sulit, untuk mendapat yang tidak halal saja sulit apalagi yang halal". Kata-kata seperti ini amat tipis jaraknya untuk membenarkan pendapatan yang haram.

Dalam menjalani hidup ini marilah kita resapkan dalam hati kita kata-kata bernas dari Santa Theresa dari Avila berikut ini:

Jangan biarkan sesuatu pun mengganggumu
Jangan ada sesuatu yang membuatmu takut,
Biarlah semuanya berlalu begitu saja,
Karena Allah tak pernah berubah.
Ketabahan menghasilkan banyak hal.
Barangsiapa yang tidak mempunyai sesuatu dan ia mempunyai Tuhan,
Ia mempunyai harapan.
Allah sendirilah yang akan mencukupi semuanya.

.
Kata-kata ini sama sekali tidak membenarkan 'kesabaran pasif', yang hanya menunggu dengan berpangku tangan. Ia menekankan penyerahan diri secara total kepada Allah dalam menjalani hidup ini. Di samping itu, kita perlu jeli melihat keadaan dan tugas panggilan kita. Mungkin saja kita saat ini diutus oleh Tuhan menjadi alat di tangan-Nya untuk mencukupkan saudar-saudara kira yang lebih menderita. Bukan terutama dengan nasihat untuk mengencangkan ikat pinggang. Sebab, bagaimana mungkin kita memberi nasihat kepada seseorang untuk mengencangkan ikat pingang, ikat pinggang saja dia tidak punya?

DUKUNGAN UNTUK PARA BURUH DI BATAM

Kota Batam


Saya baru menerima kabar dari seorang teman di Batam tentang pemberitaan media seputar kemungkinan PHK bagi sekitar 75.000 pekerja di Batam sebagai imbas krisis global yang menerpa sejumlah perusahaan di kawasan industri ini. Mari kita dukung dalam doa dan upaya konkrit yang dapat kita lakukan masing-masing sesuai kapasitas kita.

Gereja-gereja partner United Evangelical Mission (UEM) telah memulai suatu usaha yang baik untuk membantu saudara-saudara buruh di Batam. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah gambaran umum Perkumpulan Satu Dalam Misi (PSDM) yang didirikan 11 Juni 2008 (sebagaimana terdapat dalam Newsletter PSDM edisi I Desember 2008):

1. Apa itu PSDM?

PSDM adalah sebuah lembaga pelayanan bersama yang dibangun bersama oleh Gereja – Gereja Anggota SEKBER UEM (Sekretariat Bersama UEM – United Evangelical Mission) yang berada di Batam yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Kristen Pak-Pak Dairi (GKPPD). Sebuah Lembaga pelayanan yang berkonsentrasi pada peningkatan ketrampilan dan pemberdayaan Jemaat dan masyarakat melalui pendidikan, konsultasi, dan advokasi terutama kepada buruh.

2. Kenapa PSDM didirikan?

PSDM didirikan dari pergumulan dan atas dorongan Pimpinan Pusat Gereja – Gereja Anggota UEM di Sumatera Utara (HKBP, GKPI, GKPS, HKI, GBKP, GKPA, BNKP, GKPPD), karena keadaan Anggota Jemaat di Batam khususnya buruh memiliki situasi kehidupan: 1. Gaji rendah, Pemukiman minim, Kesehatan buruk, Pendidikan rendah, Keselamatan kerja rendah. 2.Mental/Paradigma pekerja/buruh/pegawai, datang ke Batam dengan mental buruh bukan mental pengusaha/untuk mandiri. 3. Minimnya keterampilan (Skill). 4. Persoalan kebebasan berserikat, dan perhatian yang lebih khusus bagi buruh Perempuan dan Anak.

3. Dimana PSDM?

PSDM bekerja untuk melayani anggota Jemaat Gereja - Gereja Anggota UEM yang berada di Batam. Saat ini Sekretariat PSDM di Perumahan Taman Duta Mas Blok A12 Batam Center – Kepulauan Riau.

4. Untuk Apa itu PSDM ada?

PSDM didirikan sebagai komitmen Gereja-Gereja Anggota UEM di Batam untuk memberdayakan Jemaat dan Masyarakat melalui Pendidikan, Konsultasi dan juga Advokasi dalam Thema Perdamain, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan /Kelestarian Lingkungan Hidup. Sehingga Gereja kita lebih nyata perannya memberikan solusi terhadap keadaan jemaat dan masyarakat.

5. Bagaimana PSDM bekerja?

PSDM akan melakukan Pendidikan Hukum dan Hak Azasi manusia, juga pendampingan dan pembelaan hukum kasus-kasus Perburuhan dan traffiking. Program peningkatan keterampilan berupa Kursus Computer, Menjahit, Bahasa Inggris, dan keterampilan lainnya, penguatan perekonomian melalui Credit Union. Untuk semua ini PSDM akan membagun kerjasama dengan Gereja, Lembaga yang sevisi, dan Pemerintah. Selain melakukannya langsung maka PSDM juga akan melakukan pemotivasian bagi semua element pelayanan Gereja kita untuk melakukan hal yang sama baik secara sendiri, atau saling bekerja sama.

PENGURUS PSDM PERIODE 2008 – 2010

Ketua : Maria Rumahorbo (HKBP) 081364563098
Wakil Ketua : Pdt. P Sinaga, STh. (GKPI) 081364813698
Sekretaris : Pdt. Petrus T Sitio, STh.(HKBP) 081364485875
Wakil Sekretaris : Pdt. H.I Saragih. (GKPS) 081372150606
Bendahara :St. Edward Purba, SH. (GKPS)08127026492
Wakil Bendahara : Pdt. Abednego Silitonga (HKI)081364135777

Anggota :
Pdt. H Nainggolan.(GKPA) 081361506606
Pdt. Ibrahim Barus.(GBKP) 081362445939
St. R Gulo.(BNKP)

Dewan Pengawas Internal:
Pdt. MTH. Tampubolon (Praeses HKBP)085271089489
Pdt. P Purba. (Korwil GKPI) 081270490991
Pdt. A Daely (BNKP) 081361521264
St. Jasarmen Purba.(GKPS) 0811698123

Direktur Program
Pdt. Rudi Sembiring Meliala

Tuesday, December 16, 2008

KUCING atau IBU MERTUA?


Sepasang suami istri sedang bersiap-siap ke sebuah pesta pada suatu malam. Setelah mengenakan pakaian rapi sebagaimana layaknya ke pesta, mereka mengeluarkan kucingnya dari rumah. Mereka mengunci pintu rumah baik-baik karena tidak ada orang yang mereka tinggalkan di sana. Setelah berhasil mendapat taksi, sang suami kembali lagi ke rumah untuk menghalau kucing mereka yang berhasil kembali masuk rumah.

Karena si istri kuatir sopir taksi mengetahui bahwa rumahnya tidak berpenghuni (siapa tahu supir taksi itu merangkap sebagai pencuri juga) ia mengatakan, “Maaf, Pak supir, suami saya kembali ke rumah karena ia lupa berpamitan kepada ibu saya”.

Beberapa menit kemudian si suami masuk ke dalam taksi dan berkata kepada supir itu, “Maaf Pak, agak lama sedikit. Makhluk tua bodoh itu bersembunyi di bawah tempat tidur dan saya harus mengusirnya dengan sapu supaya ia keluar”.

Jika Anda pernah mengatakan sesuatu yang tidak benar dan kemudian secara tidak sengaja terungkap oleh orang lain pasti Anda merasa tidak enak, apalagi jika orang yang Anda bohongi itu masih bersama Anda. Mungkin Anda masih berpikir untuk memberi penjelasan dengan kebohongan baru yang bisa saja ‘berhasil’ tetapi bisa juga membuat Anda semakin frustrasi. Atau, Anda berusaha memberi bahasa isyarat --entah kerdipan mata, gerakan tangan dan lain-lain-- agar yang 'membocorkan kebohongan' Anda mengubah topik pembicaraan. Sayangnya, teman Anda berbicara tidak berhasil menangkap sinyal yang Anda berikan. Anda pun kian disesah rasa bersalah. Karena itu, marilah kita pikirkan sebijaksana mungkin kata, sikap dan cara-cara kita dalam menyampaikan suatu pesan bahkan dalam menjalani hidup ini.

Sunday, December 14, 2008

YANG POKOK dan YANG SAMPINGAN

Dalam pengalaman kita keseharian sedikitnya ada empat suasana perjumpaan.

Pertama, perjumpaan yang penuh dengan sukacita. Dalam perjumpaan seorang ibu dengan anak yang dikasihinya yang sudah lama merantau dan sudah lama tidak bertemu di situ pasti ada kegembiraan yang meluap-luap. Meskipun disitu ada air mata, ia adalah air mata kegembiraan.

Kedua, perjumpaan yang tidak peduli. Ada begitu banyak orang yang sudah bertetangga puluhan tahun tetapi amat jarang saling menyapa. Mungkin sesekali mereka saling melempar senyum ketika saling berpapasan atau kebetulan ada dalam lift yang sama. Memang mereka tidak saling mengganggu atau bermusuhan, tetapi mereka juga tidak terlalu peduli satu sama lain.

Ketiga, perjumpaan yang menakutkan sepihak. Bagaikan persentuhan durian dengan mentimun. Apakah mentimun yang menyentuh durian atau sebaliknya, selalu mentimun yang terluka. Misalnya perjumpaan bos kejam dengan bawahan, raja lalim dengan hamba dan sebagainya. Pihak yang lebih lemah selalu kalah atau harus mengalah meskipun menang. (Konon, banyak bos yang main tennis atau golf dengan bawahannya 'dimenangkan' oleh sang bos meskipun bawahannya lebih unggul).

Keempat, perjumpaan yang menghancurkan. Ini bisa terjadi dalam lingkungan yang saling mengenal dan tidak mengenal. Ia bahkan bisa terjadi dalam sebuah persekutuan keagamaan. Setiap kali ada pertemuan, ada saja orang yang selalu saling menyindir, perang urat saraf, perang mulut bahkan, ironinya, hingga saling memukul.

Bagaimana perjumpaan kita dengan Allah? Dari pihak Allah sendiri tidak ada masalah. Ia menjumpai kita dengan sukacita karena kasihNya. Karena itu, menjelang perayaan Natal ini kita perlu sungguh-sungguh menyambut Tuhan dengan sukacita. Natal bukan terutama faktor luar tetapi terutama berkaitan dengan ‘hati’. Kita tidak dapat menutup mata dengan kenyataan yang terjadi hingga saat ini dimana begitu banyak orang yang menekankan hal-hal yang sifatnya lahiriah dalam merayakan natal. Itu sebabnya pada bulan Desember tingkat stress lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang lain. Tingkat stress ini berkaitan langsung dengan kesibukan dan pengeluaran yang membengkak. Di sinilah orang-orang merias diri dan mendekorasi rumah, toko, jalan dan gereja. Rambut keriting direbonding dan rambut lurus dikeritingkan; rambut putih dihitamkan dan rambut hitam dijadikan warna pink. Kaum perempuan di Indonesia sibuk di dekat kompor dan oven memasak kue. Pintu-pintu ditutup (yang membuat semakin panas) supaya anak-anak tidak masuk. Kalau anak-anak masuk, maka kue yang masak baru empat yang habis juga langsung empat. sama sekali belum ada yang bisa masuk kaleng untuk disimpan. Celakanya, sesudah kue masak, panas kompor dan oven pindah ke dalam hati. Wajah jadi keriting karena cepat naik darah.

Semua faktor luar seperti itu boleh-boleh saja, asalkan tidak mengabaikan yang terpenting, yaitu menyambut Tuhan dengan hati yang bersukacita. Lebih baiklah rambut keriting dengan hati lurus ketimbang rambut lurus tetapi hati kerting. Jadi, ‘hati’ kitalah yang terutama perlu didekorasi bukan ruang tamu atau toko-toko.

Karena Allah sendiri datang menjumpai kita dan selalu menyertai kita, hendaknya kita meresponinya sedikitnya dengan tiga hal berikut.

1. Mengaku percaya. Kita percaya bahwa Tuhan menyertai kita setiap saat. Kita percaya Ia mengenal kita dan mengetahui kebutuhan kita. Karenanya, orang percaya terhindar dari stress berlebihan, mengeluh dan bersungut-sungut.

2. Berserah kepada Tuhan. Kehendak Tuhan menjadi kehendak kita. Kita menjalani hidup ini dan berjuang dalam iman.

3. Bersaksi melalui kehidupan agar orang lain dapat melihat dan merasakan kehadiran Tuhan melalui kata, senyuman, perbuatan dan seluruh gerak hidup kita.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Jangan kita tinggalkan Dia!

Tuesday, December 9, 2008

MENYIKAPI KRISIS EKONOMI

Terus terang saya sangat awam soal perekonomian dunia yang hingga hari ini masih termasuk topik utama ulasan media massa dan menjadi bahan percakapan dalam forum formal dan non-formal. Mohon dimaklumi karena di sini tidak dapat ditawarkan solusi bagaimana langkah terbaik mengatur keuangan Anda dan tidak ada nasihat praktis bagaimana mengambil langkah yang lebih tepat untuk Anda yang harus mengalami PHK. Bukan berarti saya tidak prihatin dengan keadaan masyarakat pada umumnya dan teman, kerabat serta keluarga dekat secara khusus. Apalagi krisis ini benar-benar berdampak langsung pada keluarga dekat dan diri saya sendiri. Seorang keluarga dekat saya berkeluh karena ia kehilangan sekitar Rp 700 juta dengan turunnya harga saham. Kenyataan yang lebih dekat untuk disebutkan adalah berhentinya dukungan dana dari salah satu sponsor studi saya karena badan itu juga terkena dampak krisis ekonomi. (Saya sangat berterima kasih dan menghargai sekiranya Anda bisa memberi jalan keluar kepada saya).

Di tengah krisis seperti ini, saya teringat pada khotbah Pdt Ayub Yahya yang menyoroti seputar ‘fokus’ dalam kehidupan. Pdt Ayub mengajak jemaat untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang menjadi fokus Anda sekarang?” Pertanyaan ini sangat mendasar dan penting kita jawab. Sebab, fokus kita menentukan pikiran, sikap, keputusan dan tindakan kita. Jika ‘uang’ menjadi fokus kita, maka pikiran dan enerji kita akan terkuras deras untuk mendapatkan uang. Keberhasilan kita diukur berdasarkan uang yang kita kumpulkan. Persahabatan kita juga akan diukur berdasarkan keuntungan material yang dapat kita peroleh dari sebuah persahabatan. Dan, celakanya, ketika uang menjadi fokus dalam kehidupan, hidup kita akan ambruk seiring dengan ambruknya perekonomian. Kenyataan seperti ini sudah terjadi dimana begitu banyak orang yang stress, depresi, tidak peduli dengan sesama, menjadi pemberang, hingga mengakhiri hidup dengan amat tragis.

Dalam keadaan krisis yang melanda dunia sekarang --yang kita tidak tahu apakah keadaan ini bertambah baik atau semakin memburuk-- kita perlu mengubah fokus kita. Fokus pada Tuhan! “Ah, ini sudah sering saya dengar!” Anda mungkin berkata. Tidak masalah seberapa sering hal ini Anda dengar. Yang paling penting adalah seberapa teguh Anda berpegang pada kebenaran ini. Kita perlu sadari bahwa sesungguhnya Allah fokus pada kita anak-anakNya. Allah menghendaki kita bahagia saat ini juga. Dalam hal ini Tuhan menghendaki kita melihat pada apa yang ada, tidak menangisi yang sudah tidak ada dan mencemaskan apa yang mungkin tidak ada dan tersedia.

Ada orang yang keluar dari rasa frustrasi dan depresi setelah mengubah fokus dari penderitaannya menjadi fokus pada apa yang bisa dilakukannya untuk menolong orang yang menderita. Hal ini dapat kita pahami karena di dalam doa kita bertemu dengan Kristus dan di dalam pelayanan kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang juga dikasihi oleh Kristus.

Apakah Anda sedang dalam puncak kegembiraan karena berkat-berkat Tuhan? Dengan fokus pada Tuhan, inilah saatnya Anda lebih banyak bersyukur. Sejalan dengan pengucapan syukur itu, inilah saatnya Anda menyatakan kasih Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkan uluran hati dan uluran tangan.

Apakah Anda merasa sedih amat dalam karena kerugian materi di tengah krisis ekonomi ini? Dengan fokus pada Tuhan, kiranya Anda mendapat kekuatan dari padaNya untuk melakukan apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya atau ketabahan untuk menerimanya jika tidak dapat diatasi, serta pikiran jernih melihat apa yang masih ada pada Anda. Dengan keadaan Anda seperti sekarang ini pun barangkali Anda masih dapat menjadi perpanjangan tangan Allah menjangkau dan membantu yang lebih menderita dari Anda.

Apakah Anda amat merisaukan kemungkinan Anda di PHK karena tempat Anda bekerja terimbas dampak krisis ekonomi? Fokuslah pada Tuhan. Tuhan kita begitu kaya dalam cara memenuhi kebutuhan anak-anakNya. Jika pintu yang satu tertutup, pintu lain toh masih terbuka untuk Anda. Jangan pikirkan apa kata orang terhadap Anda. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Cukup pikirkan kasih Tuhan dan usaha yang dapat Anda lakukan.

Jika Anda merasa biasa-biasa saja –tidak rugi dan tidak beruntung—dalam masa krisis ini, fokuslah pada Tuhan. Kita bertemu dengan Tuhan dalam segala bentuk penegalaman hidup meskipun kehidupan terasa biasa-biasa saja. Dengan hidup yang biasa-biasa saja Anda dapat melakukan perkara yang luar biasa oleh karya Tuhan.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya,
dan Ia akan bertindak.
(Mazmur 37:5)

Sunday, December 7, 2008

LIDAH IBADAH dan LIDAH LIMBAH

Hidup kita sedikit banyak tergambar dari kata-kata yang kita ucapkan dan kata-kata yang diucapkan kepada kita. Kata-kata bijak berikut dapat menolong kita untuk sungguh-sungguh memperhatikan penggunaan lidah dalam berkomunikasi:[1]

(1) Jangan katakan semua yang Anda pikirkan. Sebab, mengatakan semuanya mungkin tidak menolong, menyembuhkan dan mendidik.
(2) Ujian yang harus dilalui sebelum mengucapkan kata-kata adalah: apakah itu benar, apakah itu ungkapan kasih, apakah itu penting dan berguna?
(3) Mengubah satu hal menjadi lebih baik lebih bermanfaat dari pada membuktikan seribu kesalahan.
(4) Meniup lilin orang lain tidak membuat lilin Anda bersinar lebih terang. Tetapi jika Anda menggunakan lilin Anda menyalakan lilin orang lain, Anda akan memiliki lebih banyak terang.
(5) Tingkat perbandingan antara doa dan kritik seharusnya 100:1.
(6) Mengatakan kejelekan orang lain merupakan suatu cara yang tidak jujur memuji diri sendiri.
(7) Seseorang yang memiliki ‘lidah tajam’ (yang kerap menyakiti) biasanya akan kesepian, sebab orang-orang biasanya mengindarinya.

Kita menemukan lumayan banyak kata ‘lidah’ di dalam Alkitab. Kata ini terutama berhubungan dengan fungsinya untuk berbicara. Berikut ini ada tiga hal yang dapat kita perhatikan dalam hubungannya dengan peranan lidah.

Pertama, lidah sering dihubungkan dengan hati manusia. Baik buruknya kata-kata yang terucap berkaitan langsung dengan hati. Misalnya dalam Mzm. 45:2 dikatakan “hatiku meluap dengan kata-kata indah.” Keindahan meluap dari hati dalam kata-kata. Berbeda dengan apa yang disebut dalam Amsal 17:20 "orang yang serong hatinya.....memutar-mutar lidahnya akan jatuh”. Hati yang serong membuat lidah serong juga --yang pada gilirannya akan mengakibatkan kejatuhan.

Kedua, lidah berperan dalam mewujudkan kebaikan, seperti untuk menyebut-nyebut keadilan Tuhan (Mzm 35:28); Tuhan memberikan ‘lidah’ seorang murid (Yes 50:4); lidah juga berperan untuk mengaku bahwa "Yesus Kristus adalah Tuhan” (Fil 2:11).

Ketiga, Alkitab juga menegaskan begitu pentingnya menjaga lidah atau kata-kata:
- Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu (Mzm 34:14).
- Lidah harus dikekang (Yak 1:26)
- Jangan bercabang lidah (1 Tim 3:8).

Berkaitan dengan 'ukuran' pikiran dengan penggunaan lidah atau kata-kata, Charles Allen pernah mengatakan begini:
Orang-orang yang berpikiran luas membicarakan ide-ide yang bagus dan ideal-ideal dalam kehidupan.
Orang-orang yang berpikiran sedang membicarakan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.
Orang-orang yang berpikiran sempit membicarakan (kekurangan) orang lain.

Apakah kita lebih banyak membicarakan ide-ide yang bagus, atau peristiwa-peristiwa, atau kelemahan orang lain? Biarlah kata-kata kita menyembuhkan, meneguhkan dan menjadi berkat kepada orang lain dan diri kita sendiri serta kemuliaan bagi Tuhan. Inilah bukti bahwa kita memiliki ‘lidah ibadah’ bukan ‘lidah limbah’ (yang mengumpat, mengejek, menyakiti, mengutuk).

[1] Uraian lebih rinci baca “Tongues” dalam Rowland Croucher (ed.), Gentle Darkness, (Sutherland, Australia, 1994), 226-238

Sunday, November 30, 2008

SURAT YANG MENYEMBUHKAN

Mungkin Anda pernah merasa disakiti karena kata-kata atau perbuatan orang lain yang menyebabkan Anda terdorong untuk menumpahkan amarah melalui surat atau email. Ketika Anda mengalami hal demikian, nasihat Henri J. Nouwen untuk menunda mengirimkannya, membacanya berulang-ulang dan menulis surat yang baru, merupakan nasihat yang sangat tepat dan bermanfaat.

Jika Anda menulis sebuah surat atau email yang bernada sangat marah kepada seorang teman yang begitu amat dalam menyakiti hati Anda, jangan kirim surat itu. Biarkan surat itu 'berbaring' di meja atau di dalam komputer Anda sebagai draft untuk beberapa hari dan baca kembali berulangkali. Kemudian, tanyakan diri Anda, “Apakah surat atau email ini membawa kebaikan bagi saya dan teman saya itu? Apakah surat ini membawa kesembuhan dan menjadi berkat?" Anda tidak perlu mengabaikan kenyataan bahwa Anda benar-benar merasa disakiti. Anda tidak perlu menyembunyikan perasaan terluka yang Anda rasakan karena perbuatan teman Anda. Tetapi Anda dapat merespon dengan suatu cara yang dapat membawa penyembuhan dan pengampunan serta membuka jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Setelah itu, tuliskanlah surat yang baru menggantikan yang pertama jika Anda merasa bahwa surat yang baru itu akan meneguhkan dan menjadi berkat. Krimkanlah itu disertai doa. Dengan demikian, Anda telah menambahkan kebaikan dalam dunia yang dicemari perselisihan ini. Anda pun akan lebih lega dan berbahagia dengan cara demikian.

Monday, November 24, 2008

FOKUS PADA SANG PEMBERI, BUKAN PEMBERIAN

Kehidupan Yakub masih relevan kita renungkan saat ini. Kita hidup di tengah zaman di mana begitu banyak orang yang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diingankannya tanpa peduli pada kebenaran dan kehendak Tuhan.

Sejak lahir, sudah ada sesuatu yang ganjil dari kehidupan Yakub, yaitu bahwa ia memegang tumit Esau ketika lahir (Kej 25:26). Itu juga mencerminkan kehidupannya yang selalu meraih atau menarik sesuatu dari orang lain untuk dirinya sendiri. Ia mengambil hak kesulungan dari Esau dan kemudian mengambil berkat dari ayahnya. Ia mengambil Rahel dari ayahnya dan kemudian ia mengambil harta milik Laban juga.

Ketika ia menginginkan berkat dari ayahnya, ia berusaha meraihnya dengan kebohongan, bahkan dengan menggunakan nama Allah. Ketika Ishak, ayahnya, meragukan kehadirannya yang begitu cepat, Yakub menjawab: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." (Kej 27:20). Ia sama sekali tidak takut akan Allah, yang penting keinginannya tercapai.

Tuhan sudah menyatakan diri kepada Yakub di Bethel dan memberikan janji seperti yang dijanjikan kepada Abraham. Allah (1) Memberikan tanah tempat mereka berdiam (2) memberikan keturunan yang banyak (3) Membuat mereka menjadi berkat. Tetapi, Yakub malah berpikir seolah dia yang akan ‘memberi’ kepada Tuhan berupa persepuluhan dari pemberian Tuhan (Kej. 28:13-22). Yakub lebih fokus pada pemberian Tuhan dari pada Tuhan sang Pemberi. Nazarnya untuk memberi sepersepuluh dari pemberian Tuhan hanyalah untuk mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Sikap seperti ini tidak jarang kita temukan dalam kehidupan kekristenan sekarang: memberi supaya menerima. Padahal, kita memberi adalah karena kita sadar akan pemberian Tuhan bukan supaya Tuhan memberikan lebih banyak lagi kepada kita.

Sesudah peristiwa di Bethel ini, di mana Yakub tidak bergerak seirama dengan janji Tuhan, tetapi menempuh jalannya sendiri, ia mengalami berbagai peristiwa yang membuatnya merasa terancam. Salah satu di antaranya adalah kedatangan Esau dan pasukannya untuk menyerangnya. Dalam suasana ketakutan ia kembali mengingat janji Tuhan dan ia berdoa memohon kelepasan (32:9-10). Tetapi, ia tidak saja berdoa. Ia juga merancang strategi untuk ‘menjinakkan’ kegeraman Esau. Ia mempersiapkan segala macam pemberian yang akan dipersembahkan kepada Esau sebagai sarana melunakkan hati Esau. Dalam situasi seperti itu, Yakub pasti merasa lelah. Itulah juga yang terjadi dalam hidup ini ketika kita merasa tidak aman dan selalu berjuang dengan cara-cara kita sendiri untuk medapatkan apa yang kita inginkan. Tidak ada ketenangan dan kedamaian.

Berkat yang sesungguhnya ternyata bukan datang dari Ishak, ayahnya. Yakub mendapat berkat yang sesungguhnya dari Allah setelah Yakub berubah. Ia tidak lagi menipu dan berusaha menggenggam atau meraih yang duniawi, tetapi ia ‘bergumul’ dengan Tuhan. Artinya, ia memusatkan perhatian pada Tuhan Sang Pemberi hidup. Ia tidak mau melepaskan Tuhan dalam hidupnya. Yakub melihat Allah dan nyawanya tertolong (ayat 30). Ketika kita melihat atau memusatkan perhatian pada apa yang ada di dunia ini, semuanya itu tidak dapat menolong kita. Tetapi, ketika kita melihat dan berpegang pada Tuhan serta menerima dengan sukacita segala pemberianNya, kita akan mengalami kedamaian meskipun tantangan terkadang masih menghadang. Jika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu yang Ia kehendaki. Sebaliknya, meskipun kita memiliki segala sesuatu tetapi tidak memiliki Allah, semuanya tidak punya arti apa-apa.

Friday, November 21, 2008

BUKAN KITA, TAPI DIA*)

Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis takut dan takluk kepada Kristus yang diam dalam diri orang percaya.


Ada satu pernyataan para murid yang diutus sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 10:17-20 yang mudah terluput dari perhatian kita. Mari kita perhatikan isi ‘laporan’ mereka kepada Yesus. Para murid itu berkata, "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Kata-kata: “takluk kepada kami demi nama-Mu” telah menggeser pelaku utama dari Yesus menjadi murid-murid. Mereka merasa berhasil ‘memakai’ nama Yesus. Mereka bergembira mengagumi keberhasilan mereka.

Yang indah dan meneguhkan dari cara Yesus ialah bahwa Ia tidak membiarkan mereka menjadi sombong. Yesus tidak membiarkan mereka fokus pada diri dan keberhasilan mereka. Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh dari langit”. Artinya: Yesus ada di situ. Ia tahu dan melihat persis apa yang terjadi. Dan, yang paling penting, yang melakukannya bukan murid-murid itu, tetapi Yesus sendiri. Dari pernyataan Yesus tersebut sudah seharusnya murid-murid itu mengubah pernyataan mereka menjadi, “juga setan-setan tunduk kepada-Mu”. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Sebab, Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis takut dan takluk kepada Kristus yang diam dalam diri orang percaya.

Selanjutnya, Yesus mengarahkan para murid dan kita juga kepada yang bernilai kekal, bukan kegembiraan yang bersifat sementara saja. Murid-murid gembira karena keberhasilan mereka. Ini adalah semacam perasaan senang yang tidak bernilai kekal. Dalam hal ini Yesus mengatakan, “bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga" (ayat 21). Yesus menawarkan sukacita yang bernilai sorgawi atau bernilai kekal. Bukankah sesuatu pemberian yang luar biasa berharga bahwa kita satu kewargaan dengan Kritus sendiri? Kita hidup, bekerja dan melayani di dunia sebagai warga sorga. Anugerah yang luar biasa!

‘Status’ kita sebagai warga kerajaan sorga mengubah hidup kita, mengubah pemahaman kita akan pekerjaan dan pelayanan, mengubah cara kita memperlakukan dan menghadapi orang lain. Salah satu di antaranya adalah kuasa untuk “menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kita”. Ini adalah gambaran. Jangan kita coba-coba memegang kalajengking atau ular dan sejenisnya. (Ular dan kalajengking yang mau menggigit tidak pernah lebih dulu bertanya apakah seseorang itu Kristen atau bukan!). Ular dan kalajengking menggambarkan berbagai godaan licik dan bahaya-bahaya yang ditabur dan ditebarkan oleh Iblis dan orang-orang yang menyerahkan dirinya pada pekerjaan Iblis.
.
Hidup kita tidak lagi ditentukan oleh faktor-faktor luar, baik yang kelihatan seolah-olah baik dan menjanjikan seperti pujian, pengakuan, kesuksesan menurut ukuran dunia dan lain-lain maupun yang jelas-jelas menyesatkan seperti menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Rekasi kita juga akan berbeda. Kita tidak begitu gampang tersulut amarah, tidak cepat menghakimi, tidak memendam dendam, tidak gampang bersungut-sungut, tidak suka mengeluh. Mengapa? Kerajaan sorga tidak memiliki itu semua. Karena itu, sebagai warga sorga kita hidup dan bekerja dalam sukacita sorgawi.

Sebagai warga kerajaan sorga kita akan memasuki kehidupan kita: pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari. Mari kita resapkan dalam hati kita:

(1) Tuhan sudah lebih dulu ada di tempat di mana kita berada. Bukan kita membawa Kristus atau membawa kuasaNya. KuasaNya lebih besar dari kita. Karenanya, kita tidak pergi ‘membawa’ kuasa Yesus, tetapi kita pergi, melayani, menjadi saksi oleh kuasaNya.
.
(2) Kita tidak menggunakan Tuhan untuk rencana-rencana kita, meskipun kelihatan sangat ‘rohani’. Tuhanlah yang memakai kita untuk pekerjaan-Nya. Tanpa kita pun sebenarnya kerajaan dan pekerjaan-Nya dapat berjalan terus. Dengan kerendahan hati kita bersyukur karena kita diiuktsertakan dalam pekerjaan-Nya.
.
(3) Setiap kali Tuhan mengutus Ia selalu menyertai. Ia yang mengutus kita menjadi saksi-Nya, Ia juga yang menyertai kita.
.
(4) Kita harus melepaskan ketergantungan kita pada indikator atau tolok ukur keberhasilan dengan prestasi yang kita capai.
.
(5) Yang memenuhi visi kita bukanlah talenta, bakat, ketrampilan, kemampuan, materi, atau pemberian-Nya melainkan Kristus sang Pemberi itu. Zac Poonen benar ketika ia mengatakan, “Ketika sang Pemberi memenuhi hati kita dan visi kita, maka kita akan dapat menggunakan talenta, bakat dan milik kita dengan baik. Jika tidak, kita akan menyalahgunakannya untuk untuk pementingan dan pengagungan diri”.
.
*) Rangkuman renungan yang saya sampaikan pada Penutupan Seminar Haggai Institute, Singapore, 15 Nopember 2008

Sunday, November 16, 2008

ADA KEKUATAN DALAM KELEMAHLEMBUTAN

Satu di antara sekian banyak pemberian yang sangat berharga yang dapat kita berikan dalam hidup ini tanpa mengeluarkan biaya adalah 'kelemahlembutan'. Ia hanya membuthukan 'modal' kerelaan.

Kelemahlembutan kepada orang lain

Kita menemukan beberapa kali dalam Kejadian 1 yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan Allah itu baik. Puncaknya, setelah semua diciptakan Allah, dikatakan dalam
Kej. 1:31: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Dengan kelemahlembutan kita mengalami kembali betapa baiknya ciptaan dan rancangan Allah itu. Dunia ini menjadi kacau seiring dengan hilangnya kelemahlembutan dan digantikan dengan kekasaran dan kekerasan. Dunia ini akan kembali kepada keadaan ‘baik’ sebagaimana dikehendaki Allah sejak penciptaan ketika kelemahlembutan mewarnai kehidupan keseharian.

Lemah lembut tidak sama dengan ‘lembek’. Malahan, kelemahlembutan adalah merupakan kekuatan. Itu sebabnya Padovano dengan tepat berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah hati kami lemah lembut supaya kami dapat menjadi kuat.” Hanya dengan kelemahlembutan kita dapat memberi yang terbaik bagai orang lain. Bukan terutama melalui tekanan suara (walaupun itu penting) tetapi yang paling penting adalah kelemahlembutan ‘dari dalam’ –hati nurani yang murni. Lemah-lembut berarti kita tidak pernah memaksa orang lain termasuk pada hal-hal yang kelihatan mulia menurut ukuran kita sendiri. Kelemah-lembutan yang dimaksud di sini bukanlah terutama masalah ‘teknis’ atau ‘faktor luar’ (yang dapat dipelajari) seperti biasanya diterapkan oleh mereka-mereka yang mempromosikan produk tertentu yang hanya bertujuan untuk menjual produknya. Kelemahlembutan kristiani mengalir dari dalam hati, hati yang didiami oleh Roh Tuhan, yang ditujukan kepada semua orang dengan tulus.

Kelemahlembutan terhadap diri sendiri

Kelemahlembutan nampak melalui hidup yang bebas dari kekerasan (pikiran, perkataan dan perbuatan), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan baru, meskipun kita mempunyai kesempatan dan kemampuan melakukan pembalasan. Kelemahlembutan adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal. 5:22-23).

Lemah lembut terhadap diri sendiri dapat juga kita artikan ‘ramah terhadap diri sendiri’.
Ada kesan bahwa pada umumnya budaya dan ajaran kekristenan lebih banyak menekankan keramahan kepada orang lain. Jarang sekali kita dengar nasihat untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri. Ramah terhadap diri sendiri tidak sama dengan ’cinta diri’ atau 'pementingan diri'. Ramah terhadap diri sendiri adalah bagian dari ’mengasihi diri’. Bagi orang Kristen, ’mengasihi diri’ bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah self-pity (rasa kasihan terhadap diri sendiri, yang nampak misalnya dengan banyak mengeluh dan bersungut-sungut), selfishness (pementingan diri sendiri). Allah sendiri mengasihi kita, karenanya kita harus mengasihi apa yang Tuhan kasihi.

Keramahan terhadap diri sendiri mewujud dalam sikap menerima diri dengan segala keberadaannya, tidak memaksa diri menjadi seperti orang lain (karena kita akan stress dan bahkan frustrasi), mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada orang lain; tidak cemburu pada keberhasilan orang, tidak memendam dendam dalam hati. Jadi, ketika kita menerima segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan di dunia ini dan bersikap serta berbuat sebagaimana Tuhan kehendaki dalam kehidupan keseharian, di situlah terjadi kebahagiaan sejati. Kebahagiaan seperti itu dapat kita peroleh saat ini juga dengan pertolongan Tuhan.

Monday, November 10, 2008

MENGAPA ANDA KE GEREJA?

Ada kisah tentang seekor anjing yang ‘religius’. Preta, seekor anjing di Portugal, sanggup berjalan menempuh jarak 26 kilometer setiap minggu untuk bisa mengikuti ibadah. Setiap hari Minggu Preta pergi meninggalkan rumah tuannya pada jam lima pagi. Bekas anjing jalanan ini berjalan sendirian menuju ke sebuah gereja untuk mengikuti ibadah pada pukul 07.30 dan berada di tempat favoritnya di dalam gereja yakni di samping altar. Pada saat jemaat berdiri atau duduk, Preta juga melakukan hal yang serupa. Ketika ibadah usai, biasanya ia kembali berjalan kaki, namun kadangkala ia menumpang naik mobil orang-orang yang dikenalnya. Jumlah jemaat gereja tersebut meningkat karena banyak orang yang ingin melihat kehadiran anjing tersebut (Dikutip oleh Yustinus Sumantri dari Harian Surabaya Post Rabu, 11 Juli 2001).

Mengapa orang-orang Kristen datang ke gereja pada hari Minggu? Nampaknya, masing-masing punya alasan tersendiri. Ada yang mau melihat sesuatu yang menarik, ada yang mungkin merasa takut dihukum Tuhan, ada yang merasa malu jika orang lain tahu ia tidak pergi ke gereja, ada yang mau bertemu dengan teman-teman, bahkan bisa saja ada yang hanya sekadar kebiasaan saja tanpa mengerti makannya (seperti Preta).

Hukum Taurat berbunyi, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.” (Kel 20:8). Kata sabat berasal dari kata Ibrani ‘Sabbath’ yang artinya: istrirahat, yaitu istirahat dari pekerjaan sekaligus beribadah kepada Tuhan. Perubahan waktu istirahat dan ibadah dari hari Sabtu menjadi hari Minggu, dimulai oleh jemaat mula-mula, terutama mengacu pada hari kebangkitan Tuhan Yesus dan karena faktor kebijakan pemerintahan Romawi yang membuat hari Minggu menjadi hari libur resmi dalam wilayah kekuasaannya. Perubahan ini tidak menjadi masalah, karena yang penting adalah ‘isinya’ yaitu mengkhususkan hari untuk istirahat dan beribadah secara khusus. Dalam hal ini sedikitnya ada empat hal yang perlu kita renungkan berkaitan dengan hari Sabat (Minggu).

Pertama, bersekutu secara khusus dan khusuk dengan Tuhan melalui pujian, doa dan terutama mendengarkan firmanNya. Inilah waktu untuk memuliakan Tuhan yang akan berlanjut pada hari Senin sampai Sabtu untuk tidak menyembah dan mengabdi kepada Mamon atau ilah materialisme yang banyak dipuja oleh orang pada zaman konsumerisme ini. Pada hari Minggu, kita merayakan keselamatan kita oleh penebusan Tuhan Yesus yang sudah mengalahkan maut melalui kebangkitanNya.

Kedua, beristirahat secara fisik, intelektual, dan emosional. Sabat mengingatkan kita untuk tidak mengandalkan pikiran kita dengan berbagai rencana dan cara kita mencapai keinginan-keinginan kita tetapi sepenuhnya mengandalkan Allah. Sabat adalah juga kesempatan untuk istirahat memikirkan pekerjaan. Sayangnya, ada orang Kristen yang mendambakan untuk beribadah di gereja pada saat dia bekerja, tetapi membayangkan pekerjaannya ketika dia berada di gereja. Sabat hendaknya memberi kedamaian hati dan pikiran dengan membuang segala macam yang mengganggu pikiran, ambisi, dan aneka keinginan.

Ketiga, bersekutu dengan sesama umat percaya. Dalam berbagai jemaat hal ini sangat sulit karena banyak orang yang tidak saling mengenal. Orang datang, duduk, dan pulang tanpa saling menyapa dengan yang lain. Jemaat-jemaat masakini hendaknya berusaha mempererat persaudaraan di antara sesama anggota jemaat.

Keempat, memberi kesempatan kepada ciptaan atau makhluk lain merayakan hidupnya. Dulu, banyak ternak dipekerjakan dalam pertanian dan pada hari Sabat mereka juga diberi kesempatan beristirahat. Saat ini makhluk ciptaan Tuhan banyak yang terganggu oleh aktivitas manusia dan deru suara berbagai peralatannya yang memekakkan telinga. Sabat dapat juga sebagai sarana menerapkan pola hidup sederhana dengan tidak melahap makanan berlebihan dan memboroskan enerji dan benda-benda yang merusak lingkungan.

Singkatnya, dengan istirahat dan beribadah pada hari Minggu dapat membawa kedamaian di dalam hati kita secara pribadi, damai dengan sesama umat dan damai dengan makhluk dan alam ciptaan Tuhan. Sebab, Tuhan telah mendamaikan diri-Nya dengan kita.

Perlu ditambahkan bahwa kita harus menjaga agar Sabat tidak dibelokkan menjadi alasan ketidakpedulian terhadap sesama. Hal ini terjadi dalam kehidupan orang-orang Yahudi, yang membuat peraturan dengan sangat kaku hingga mereka menganggap bersalah melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Itu sebabnya Yesus dengan tegas menolak pandangan itu dengan mengatakan, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Markus 2:27-28).

ShoutMix chat widget