Sunday, February 28, 2010

'GERAKAN DALAM' DAN 'GERAKAN LUAR'

REFLEKSI SENIN KE-9
01 Maret 2010


Amatilah kehidupan Anda sejenak. Ada dua ‘gerakan’—yakni: gerakan dalam dan gerakan luar-- yang mempengaruhi bagaimana Anda mengambil keputusan, bagaimana berkata-kata, bereaksi, bertindak dan termasuk bagaimana Anda berhubungan dengan Allah, orang lain dan alam ciptaan Tuhan. Orang-orang yang memperhatikan gerakan-gerakan ini dengan baik akan lebih mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Bagi Joan Mueller ‘gerakan luar’ mencakup fakta-fakta kejadian sehari-hari, keadaan keuangan, pendapat umum, kesehatan, kesempatan, jenjang pendidikan, deadline tugas, suhu politik, dan sebagainya. Sedangkan ‘gerakan dalam’ antara lain suasana hati, kecenderungan, keinginan, perasaan, yang memikat hati dan sebagainya. Kedua gerakan ini mempengaruhi orang-orang dalam hubungan mereka dengan Tuhan, orang lain dan alam milik Tuhan.

Untuk lebih praktis dan memudahkan, di sini digambarkan dua contoh untuk melihat bagaimana ‘gerakan luar’ dan ‘gerakan dalam’ itu bertemu.

Contoh 1: Fakta - orang sombong
Misalkan kita menyikapi fakta orang sombong. Sedikitnya ada 3 sikap yang berbeda menghadapi seorang yang sombong. (1) Jika orang yang rendah hati berhadapan dengan orang sombong, mungkin tidak terlalu banyak menmbulkan masalah. Yang rendah hati lebih sabar dan lebih toleran. Komunikasi bisa berjalan relatif lebih mulus. Hal ini memang tidak menjadi jaminan bisa mengubah yang sombong menjadi rendah hati, khususnya kalau yang rendah hati sama sekali tidak menyinggung masalah kesombongan mitra bicaranya. Kemungkinan terjadinya perubahan orang sombong menjadi rendah hati dalam hubungannya dengan seorang rendah hati adalah jika yang rendah hati dengan caranya yang bersahabat mengingatkan yang sombong. Atau, yang sombong itu sendiri tergerak hatinya meneladani yang rendah hati. (2) Orang yang ‘rendah diri’ berhadapan dengan orang sombong. Perjumpaan seperti ini amat rawan terhadap pertentangan hingga permusuhan. Dalam bidang matematika, negatif dikali negatif memang menjadi positif. Tetapi ‘rendah diri’ (negatif) berhadap dengan ‘kesombongan’ (negatif) menimbulkan negatif ganda. Pembicaraan mereka tidak ‘nyambung’. (3) Lain lagi jika orang sombong dengan orang sombong berhadapan. Keduanya negatif. Perjumpaan mereka bisa seperti api yang menghanguskan bereka berdua. Mereka sama-sama saling menaikkantingkat kesombongannya dan sama-sama jatuh berkeping-keping dan terbakar pula. Tetapi, celakanya, bisa kekuatan mereka berdua menghanguskan orang lain, jika mereka menjadi satu tim yang kompak dan menyatu. Kekuatan mereka menjadi api raksasa menghancurkan orang lain. Mudah-mudahan tidak akan ada “Persekutuan Orang-orang Sombong Sedunia” --suhu panas sekarang saja sudah tidak tertahankan.

Jadi, untuk lebih praktisnya, jika kita melihat seorang sombong (gerakan luar), pertama harus kita lihat ke dalam: apakah kita seorang rendah hati, rendah diri, atau sombong. Reaksi kita akan ditentukan oleh keadaan kita (gerakan dalam).

Contoh 2: Kejadian dan opini tentang kasus pelecehan seksual.

Hal yang sama bisa kita terapkan juga dalam menyikapi suatu pergerakan penegakan hak asasi manusia. Misalnya, pergerakan yang memperjuangkan pembelaan terhadap korban pelecehan seksual dan penerapan hukuman kepada pelakunya. Tidak ada keragukan bahwa pelecehan seksual itu adalah tindakan tidak berperikemanusiaan, tindakan amoral, harus dihapuskan, harus dicegah. Korban-korban harus dilindungi, harus ditolong, harus dibela. Itu satu hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar. Satu hal lain, adalah yang memperjuangkan pembelaan korban dan penghukuman pelaku. Di antara berbagai kemungkinan adalah: (1) Gerakan dari mereka yang bebas dari kesalahan yang sama: tidak pernah melakukan pelecehan seksual. Bahkan bebas dari kesalahan-kesalahan lain: mereka tidak pemabuk, tidak penjudi, tidak perusak lingkungan, tidak pemarah, tidak pembunuh, tidak pencuri dan pelaku korupsi, selalu berbuat baik kepada semua orang, dan beriman teguh kepada Tuhan. Jika demikian, gerakan penghapusan pelecehan seksual akan jauh lebih baik, apakah dilakukan secara bersama dan terang-terangan maupun melalui pendekatan pribadi tanpa media massa. (2) Gerakan dari orang-orang yang terbebas dari pelecehan seksual, tetapi terjatuh dalam keburukan lain, mulai dari yang amat halus hingga yang sangat kasat mata dan berat: pencemburu, pemarah, haus popularitas, sok bersih, punya agenda dalam pemilihan jabatan tertentu, menggunakan pergerakan sebagai mata pencaharian. Gerakan seperti ini bisa mengubah orang lain (artinya kasus pelecehaan diselesaikan) tetapi tidak mengubah diri mereka. Malah, gerakan seperti dapat masuk dalam kategori kemunafikan. Sebab, tidak lebih besar dosa pelaku pelecehan seksual dengan kesombongan, iri hati, amarah dan sebagainya. (3) Gerakan yang dilakukan oleh para pelaku pelecehan seksual. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari gerakan mereka. Kemungkinan besar, mereka akan melindungi pelakunya.

Jadi, sekali lagi, sikap, reaksi, kata-kata, tindakan kita dalam setiap peristiwa atau kejadian atau berhadapan dengan orang lain (gerakan luar) sangat ditentukan ‘gerakan dalam’ diri kita.

Apa yang kita butuhkan adalah: membiarkan ‘gerakan dalam’ ini bersumber dari Roh Tuhan. Hati kita adalah ciptaan dan milik Tuhan. Pergerakannya juga mestinya dari Dia. Maka sebelum bersikap, berkata-kata, bertindak, bergabung dalam sebuah pergerakan (merespon gerakan luar) kita harus memeriksa hati. Mueller menegaskan, “membuat keputusan ketika seseorang sedang gundah, depresi, kurang iman, harapan dan kasih merupakan tindakan tidak bijaksana”. Mengapa? Karena perasaan gundah, depresi, tanpa kasih adalah tanda-tanda tidak bekerjanya Roh Kudus dalam hidup kita. Dan motivasi dan buah dari perjuangan yang lahir dari hal-hal negatif ini tidak mendatangkan keadilan dan damai sejahtera.

Saatnya kita relakan hati dan hidup kita dimurnikan, diisi dan dipimpin oleh Roh Tuhan, sehingga kehidupan kita, yang mencakup suasana hati, sikap, kata-kata dan perilaku kita, membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Sunday, February 21, 2010

YANG BENAR TAPI TAK BAIK?

REFLEKSI SENIN KE-8
22 Pebruari 2010

Di jalan raya, seorang pengendara sepeda motor berada pada posisi yang benar: berkendara di sebelah kiri jalan. Dari depan sebuah mobil datang menghampiri. Pengemudi mobil jelas salah. Pengemudi sepeda motor bertahan dalam ‘kebenarannya’. Ia tidak mau menyingkir. Padahal, masih ada peluang untuk lepas dari celaka. Ia pun tewas tergilas. Tergilas dalam ‘kebenarannya’ sendiri. Ia benar tetapi tidak baik.
******
Seorang warga jemaat menumpahkan isi hatinya, termasuk rahasia peribadi kepada gembala jemaatnya, dengan harapan mendapat jalan keluar dari beban hidup yang sedang menghimpitnya. Gembala jemaat tidak dapat memberi jalan keluar, tetapi ia mendoakannya pada saat itu. Hari Minggu berikutnya, dalam kotbahnya, gembala jemaat memberitahukan seluruh percakapannya itu. Warga jemaat tadi merasa dikhianati dan dipermainkan. Hatinya terluka. Memang gembala jemaat itu tidak menyebut namanya. Ia juga tidak meminta sebelumnya kepada yang bersangkutan agar pergumulannya itu dapat disebut di dalam kotbahnya. Apa yang diungkapkan oleh gembala jemaat itu ‘benar’ tetapi ‘tidak baik’.
******
Satu pasangan suami istri dan seorang anak mereka berusia 12 tahun mengunjungi teman mereka yang sudah lama tidak bertemu. Setelah berbincang-bincang agak lama, tibalah saatnya membicarakan anak-anak. Setelah memperhatikan dengan seksama wajah dan postur tubuh anak temannya itu, sang tamu melihat tidak ada sama sekali kemiripannya dengan kedua orangtuanya. Ia pun berkata kepada temannya, “Anakmu kok beda sekali dengan kalian berdua. Sedikit pun tidak ada miripnya”. Wajah pasangan suami istri itu secara spontan menunjukkan perasaan tidak enak dan cepat-cepat mengalihkan topik percakapan, walaupun mereka tahu persis bahwa anak itu 100% anak mereka. Sekali lagi, “benar” tetapi tidak “baik”.
********
Dalam sebuah rapat, seorang pimpinan jemaat dengan suara agak meninggi mengatakan, “saya pimpinan di sini, saya berhak………………” Ia benar. Semua orang tahu. Tapi, menunjukkan ‘berhak’ tidak baik. Lebih baik menunjukkan diri sebagai pimpinan melalui keteladanan, kualitas kehidupan dan visi yang jelas, maka yang dipimpin akan menyadari fungsi dan tugas masing-masing.
********
Seorang warga jemaat ‘pendiri’ sebuah jemaat berkata dengan nada marah, “kami dulu yang mendirikan gereja ini, kalian yang baru anggota jemaat di sini tinggal menerima yang enaknya saja. Jangan ‘macam-macam’ kalian di sini”. Fakta membuktikan, ia ‘benar’ ikut menggagasi dan membangun gedung gereja, tetapi perkataannya dan nada suaranya ‘tidak baik’ untuk pertumbuhan spiritualitas yang sehat dan membangun kehidupan.
********
Kita dapat membuat daftar panjang “yang benar” tetapi “tidak baik”.

Apakah kita berada dalam posisi ‘yang benar’ dan ingin menyatakannya? Kita perlu memadukannya dengan “yang baik” juga. Bahkan, ada kalanya ‘yang baik’ lebih berguna dari ‘yang benar’. Lebih ‘baik’ lepas dari kecelakaan ketimbang tewas mengenaskan mempertahankan yang benar di jalan raya. Lebih baik menyimpan dalam hati sambil berdoa atas suatu pergumulan orang lain, ketimbang memberitahukannya dan menimbulkan pergumulan baru.

Persoalan seringkali timbul dalam hubungan antar-sesama dan dalam sebuah persekutuan ketika ‘yang benar’ tidak dipadukan dengan ‘yang baik’. Salah satu cara memastikan ‘apa’ yang kita lakukan atau katakan itu ‘benar’ dan ‘baik’ adalah dengan menjawab ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ kita mengatakan atau melakukan sesuatu.

Pertanyaan 'mengapa’ bertalian dengan motivasi –yang menggerakkan dari dalam diri kita. Jika motivasi kita jelas-jelas berisi kasih, maka kata-kata dan tindakan kita akan membangun dan meneguhkan. Dalam hal ini kita perlu memeriksa terlebih dahulu suasana hati kita, kecenderungan-kecenderungan kita, harapan-harapan kita. Semua ini dapat menjelaskan ‘mengapa’ kita mengatakan atau berbuat sesuatu. Sedangkan pertanyaan ‘bagaimana’ bekaitan dengan ‘cara’ yang kita tempuh mengatakan atau melakukan sesuatu. Jika motivasi jernih (motivasi kasih), cara-cara yang kita tempuh pun akan memancarkan kasih juga.

Dunia ini, jemaat, keluarga, hubungan antar sesama dapat lebih baik ke depan ini jika kita senantiasa memadukan yang benar dan baik.

Saturday, February 20, 2010

GURU SEKOLAH MINGGU PENUH WAKTU

Bicara tentang anggapan perlunya pelayanan kepada anak-anak Sekolah Minggu dan langkah-langkah konret yang ditempuh oleh jemaat-jemaat dapat terlihat dari ‘percakapan’ berikut:

Majelis Jemaat: Pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu, harus diprioritaskan. Bukan yang sampingan dalam pelayanaan.
Warga jemaat: Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Majelis Jemaat: Terima kasih. Terima kasih.
Warga Jemaat: “Anggaran untuk pelayanan anak-anak sekolah Minggu harus ditingkatkan menjadi 30% dari total anggaran tahunan”
Majelis Jemaat: Tunggu dulu……. sabar, sabar. Tahun ini kita banyak pengeluaran: akan ada retreat, kunjungan jemaat, pemasangan AC baru, untuk sewa rumah dan pengeluaran rutin gembala jemaat.
Warga Jemaat: Kualitas guru-guru sekolah Minggu harus terus ditingkatkan.
Majelis Jemaat: Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Sekolah Minggu: Kami butuh guru sekolah Minggu yang penuh waktu, yang disekolahkan secara khusus, yang bertumbuh dalam iman dan mengasihi kami anak-anak.
Majelis Gereja + Warga Jemaat: Ssssssssssssssssssstttt, anak-anak jangan ‘berisik’, ini urusan orang tua!

Gereja-gereja kita aneh. Tak ada masalah soal kesepahaman dalam prioritas pelayanan anak-anak Sekolah Minggu. Tidak ada perdebatan soal pentingnya kualitas guru-guru sekolah Minggu. Sama sekali tidak ada keraguan bahwa pendidikan anak-anak Sekolah Minggu sekarang amat menentukan kualitas kekristenan mereka di masa depan. Tetapi, ketika tiba pada upaya konkrit, ada yang diam, ada yang berpikir panjang, ada menolak dengan tegas.

Jika gereja sungguh-sungguh memberi perhatian pada pelayanan anak-anak SM, maka sebagian besar jemaat (yang memiliki warga 200 KK ke atas, misalnya), sudah seharusnya memiliki guru sekolah Minggu penuh waktu. Bagaimana caranya?

1. Untuk sementara ini, para lulusan S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK) dapat dipersiapkan secara khusus. Misalnya, kursus selama 6 bulan mendalami metodologi pendidikan anak.

2. Untuk jangka panjang dan dilakukan secara kontinu, membuka salah satu jurusan di STT khusus untuk guru-guru sekolah Minggu. Entash D3, atau apa pun nama dan programnya. Mungkin selama 3 tahun perkuliahan sebagaimana layaknya kuliah-kuliah di STT dan 1 tahun khusus mendalami metode pengajaran Sekolah Minggu dan pendampingan pastoral kepada anak-anak. Mereka ditahbiskan menjadi guru sekolah Minggu dan ditempatkan sebagai pelayan penuh waktu.

3. Untuk gereja-gereja partner UEM, bisa juga di antara para pendeta atau bibelvrouw, yang memiliki talenta khusus untuk mendampingi dan mengajar anak-anak, dipersiapkan secara khusus melalui sebuah pelatihan. Mungkin masalahnya adalah: mereka tetap melakukan pelayanan lainnya, tidak fokus sepenuhnya pada pelayanan anak-anak. Tetapi, hal ini bisa diatasi kalau ada saling pengertian dalam sebuah jemaat.

4. Tugas mereka adalah mengajar sekolah Minggu, memperlengkapi guru-guru sekolah Minggu yang tidak penuh waktu, memberi mimbingan pastoral kepada anak-anak sekolah Minggu.

5. Mungkin jemaat-jemaat yang di kota bisa memulainya.


Jika demikian, percakapan akan berubah menjadi begini:

Sekolah Minggu: “Kami butuh guru sekolah Minggu yang penuh waktu, yang disekolahkan secara khusus, yang menolong kami bertumbuh dalam iman dan mengasihi kami anak-anak!”

Majelis Gereja + Warga Jemaat: “Benar, benar, anak-anak. Kita akan mulai!”

----------
Kepada jutaan guru-guru sekolah Minggu sukarela di seluruh dunia, terima kasih atas atas dedikasi Anda semua. Kiranya Tuhan mencurahkan berkatnya melimpah dalam hidup Anda semuanya.

Tuesday, February 16, 2010

CALON PENDETA HKBP: Dari STh Menjadi MDiv

Sekitar delapan tahun yang lalu, saya pernah mengusulkan melalui sebuah artikel di Majalah Immanuel HKBP, agar syarat menjadi mahasiswa STT bukan lagi lulusan SMU tetapi dari sarjana. Sebelumnya memang sudah ada program Master of Divinity (MDiv), tetapi jumlahnya masih relatif kecil dan ada pula yang meragukan kualitas kesarjanaan mereka. Dalam rangka peningkatan kualitas lulusan STT, sudah saatnya program MDiv menggantikan program Sarjana Theologia (STh) dan mahasiswa mendapat beasiswa penuh selama kuliah. Beberapa pertimbangan adalah sebagai berikut.

1. Sedikitnya ada dua hal yang sangat menolong dalam mempersiapkan/ memperlengkapi mahasiswa lulusan sarjana. Pertama, lulusan sarjana sudah lebih dewasa dari segi usia dan lebih matang secara psikologis. Keadaan selama ini, STT masih banyak mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian mahasiswa. Hal ini dapat dimengerti, karena usia mereka baru beranjak dari remaja. Tidak realistis memaksa mereka menjadi 'dewasa'. Kedua, mereka lebih mudah mengikuti perkuliahan dengan pengalaman perkuliahan mereka sebelumnya.

2. Dulu, syarat untuk menjadi siswa Sekolah Guru Jemaat dan Sekolah Bibelvrouw adalah lulusan SMP. Sekarang, syarat untuk memasuki kedua pendidikan teologi ini adalah dari SMU, sama dengan STT. Jadi, kalau syarat untuk memasuki Pendidikan Guru Jemaat, Bibelvrouw dan Diakones ditingkatkan dari SMP menjadi SMU, maka sudah saatnya juga syarat untuk diterima menjadi mahasiswa STT ditingkatkan juga dari SMU menjadi lulusan Perguruan Tinggi. Tingkat pendidikan warga jemaat juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

3. Jangka waktu perkuliahan di STT dapat diselesaikan dalam 4 tahun (selama ini biasanya rata-rata 5 tahun). Hal ini dimungkinkan karena Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) tidak perlu dipelajari lagi, dan mata kuliah wajib di STT sudah lebih mudah diikuti berdasarkan pengalaman perkuliahan di Perguruan Tinggi sebelumnya. Bagaimana kalau mereka mau menikah semasa kuliah? STT dapat mengaturnya. Yang penting, jangan dihalangi. Mereka harus diberi kesempatan menikah, entah memberi cuti setengah tahun, atau melangsungkan pada awal libur semester supaya ada kesempatan mengawali pernikahannya selama dua bulan sebelum melanjutkan perkuliahan.

4. Saat ini sudah banyak anak-anak warga HKBP yang sarjana, baik yang bekerja tetapi bisa saja terpanggil untuk menjadi pendeta, maupun yang belum bekerja dan bersedia memenuhi panggilan untuk menjadi pendeta.

5. Seluruh mahasiswa hendaknya mendapat beasiswa penuh (paling tidak uang asrama, uang kuliah). Beasiswa kepada mereka bisa dari jemaat, dari pribadi-pribadi warga jemaat yang terbeban dengan tugas pelayanan ini, atau bisa diorganisir oleh distrik-distrik HKBP. Jemaat HKBP yang begini besar harusnya mampu melakukannya. Mengapa mereka menerima beasiswa penuh? Pertama, mereka sudah pasti mengeluarkan banyak uang untuk kuliah sebelumnya. Kedua, agar para amahasiswa lebih fokus pada perkuliahan dan pengembangan spiritual tanpa diganggu oleh masalah dana. Ketiga, para pendeta tidak dipersiapkan untuk menjadi kaya, mereka dipersiapkan untuk melayani. Kecuali, ada mahasiswa yang tidak bersedia menerima beasiswa, keputusan mereka harus dihargai dan diberi kesempatan membayar uang kuliah dan uang asramanya sebagai bagian dari persembahannya.

6. Seminari-seminari di Amerika Serikat dan Theological College di Singapura sudah melakukan hal seperti ini. Tidak berarti HKBP harus meniru dari gereja-gereja di Negara lain, tetapi berdasarkan kebutuhan jemaat-jemaat kita yang tingkat pendidikan warganya juga semakin meningkat.

Sebagai tambahan, ada pernyataan baik dan menarik dari Darrel L. Bock soal ‘kematangan’ seorang pelayan gereja sebagai berikut.

Since Jesus’ ministry was build around his teaching and since he showed that God’s will was not what the religious culture was delivering, then how careful should we be to make sure that our communities are well instructed and grounded in God’s truth! Such instruction means careful pastoral preparation of messages, including giving the pastor enough time to do it as well as developing training institutions that focus on substance. Encouragement should be given to underwrite students who seek to train for ministry, not by seeing how quickly the can complete their training, but how deeply grounded they will be when they emerge to enter ministry. A colleague of mine has asked how many of us would be proud and comforted to hear from a heart surgeon before we are wheeled into the operating theater that he got his degree in a year or two! How much more for those who minister to the soul! If teaching is central to effective ministry of the church, then solid training should be at the top of the list.[1]


[1] Darrel L. Bock, Luk. The NIV Application Commentary: From Biblical Text to Contemporary Life, Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1996, p 141.

Sunday, February 14, 2010

BERPIKIR DENGAN HATI

REFLEKSI SENIN KE-7
15 Pebruari 2010

Pikiran kita bagaikan air yang amat mudah dan cepat mengalir ke mana-mana. Tetapi, sama seperti air yang dapat kita salurkan, pikiran juga dapat kita alirkan agar ia teratur, terarah dan berguna. Atau, pikiran juga digambarkan seperti monyet liar yang cepat melompat ke sana ke mari. Berbeda dengan monyet yang sudah dijinakkan, ia relatif lebih tenang. Pikiran juga bisa liar, tetapi kita 'berkuasa' menjinakkannya.

Biasanya, pikiran kita mengarlir atau terpencar sedikitnya ke tiga tempat (1) masa lalu, (2) masa depan, (3) angan-angan atau ilusi. Dengan demikian, sebenarnya kita jarang ‘hidup’ pada ‘saat ini’. Hidup kita terpaut pada masa lalu, masa depan, dan ilusi-ilusi kita. Tiga tempat atau keadaan itu pun masih dapat dibedakan antara yang baik (seperti yang menyenangkan, mengembirakan dan meneguhkan) dan yang buruk (seperti yang menakutkan, mengecewakan, menggeramkan dan menenggelamkan).

Pikiran itu sendiri adalah baik dan sangat bermanfaat. Jadi kata-kata “jangan gunakan otakmu dalam hal-hal yang berhubungan dengan iman” adalah nasihat menyesatkan. Tuhan menganugerahkan pikiran untuk kita gunakan menimbang kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tugas kita adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap menjadi sumber ‘air tawar’ yang menyejukkan dan menghidupkan.

Dalam Yakobus 3:11-12 dikatakan “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?.... Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar”. Jika pikiran kita terpelihara dengan baik, bebas dari segala macam polusi yang merusak kehidupan, keadaan itu akan memancarkan keindahan dan segala buah-buah yang baik. Sebaliknya, jika pikiran kita terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk, itu pula yang akan memperkeruh kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Paus Yohanes XXII benar ketika ia berkata, “Kebiasaan berpikiran buruk kepada segala sesuatu dan setiap orang amat melelahkan diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.”

Berkaitan dengan itu, George Ong pernah mengatakan, “Banyak persoalan di dunia ini disebabkan oleh perpaduan “pikiran sempit” dengan “mulut lebar dan bocor”. Tidak jarang kita bertemu dengan yang mengatakan lebih banyak dari yang diketahuinya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang selalu punya ‘keahlian’ tentang apa saja topik pembicaraan, mulai dari politik luar negeri hingga soal-soal luar angkasa, jenis mobil, gempa bumi, psikologi dan lain-lain. Bukan karena ia benar-benar mengetahuinya, tapi ia ingin tampil sebagai seorang yang serba-tahu. Idealnya, kita mengetahui lebih banyak dari apa yang kita katakan. Jadi, satu di antara sekian cara mengurangi masalah di dunia ini adalah perpaduan “pikiran luas” dan “mulut proporsional”.

Allah, dalam rancanganNya yang agung, menempatkan otak lebih tinggi dari mulut kita. Salah satu makna yang dapat kita petik dari rancangan ini adalah keharusan kita memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Ironisnya, banyak sekali kata-kata yang beredar di dunia ini yang bukan hasil pemikiran matang. Lebih celaka lagi, kata-kata yang sudah sempat berkeliaran tanpa hasil olah pikir dibiarkan begitu saja dan tidak ada kemauan untuk memikirkan ulang walaupun sudah jelas-jelas berakibat buruk terhadap sesama. Dalam hal ini firman Tuhan bernar adanya, "setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata" (Yak 1:19).

Untuk itulah kita mesti berpikir dengan hati. Artinya, pikiran harus bertemu dengan hati sebelum segala keputusan diambil, baik keputusan untuk berkata-kata, berdiam, bereaksi, berbuat, beristirahat dan sebagainya. "Hikmat mengandung pengetahuan kapan dan bagaimana berbicara serta kapan dan di mana berdiam diri" (Jean Pierre Camus).

Sunday, February 7, 2010

KETIKA HATI TERLUKA

REFLEKSI SENIN KE-6
08 Pebruari 2010
.
Jika kita dekat dengan Tuhan, tidak akan ada orang yang mampu menyakiti hati kita; dan kita tidak akan mau --meskipun mampu-- dengan sengaja menyakiti hati sesama.
.
Tidak ada orang (normal) yang girang merasa senang dioperasi. Mereka selalu bertanya apakah masih ada kemungkinan lain. Operasi selalu ditempuh sebagai jalan terakhir yang tidak bisa dihindari. Mengapa orang tidak mempersoalkan sayatan pisau operasi dokter yang ‘menyakiti’ dan dengan bayaran mahal, bahkan hingga meminjam uang untuk operasi? Rasa enak dan uang simpanan harus dikorbankan untuk sementara demi kesembuhan.

Bagaimana dengan operasi ‘penyakit karakter', seperti kesombongan, kerakusan, pementingan diri, dan kejahatan? Jika masih dalam ‘stadium 1’ penyakit-penyakit ini masih bisa diatasi dengan ‘obat-obatan’ seperti nasihat lembut dan cerita-cerita anekdot. Tetapi, jika penyakit itu sudah berada pada tahap ‘stadium 3’, ia membutuhkan operasi dan kemoterapi: untuk mengangkat sel-sel tumor dan membasmi akar-akarnya. Operasi dan kemoterapinya memang bisa antara si pasien dan Sang Dokter Agung, Tuhan sendiri. Tetapi, rasa sakit pasti ada di situ. Apalagi, kalau operasi dilakukan oleh orang lain –yang bisa saja dilakukan tanpa obat bius—pasti jauh lebih sakit.

Dalam hal ini sedikitnya ada tiga kemungkinan 'posisi' kita yang kiranya kita sikapi sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Sebagai yang membutuhkan operasi

Jika kita benar-benar sebagai pasien penderita aneka penyakit karakter yang harus dioperasi, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Tidak perlu menolak apalagi memberontak. Mengapa kalau operasi ke dokter seorang pasien rela menanggung rasa sakit dan membayar pula, sementara menerima ‘operasi’ penyakit karakter yang gratis tidak diterima dengan lapang dada? Masalah yang mungkin mengganjal kerelaan kita adalah: bertakhtanya keakuan. Hal ini secara serta merta membawa perasaan harga diri ambruk. Berhadapan dengan kekurangan diri sendiri itu terkadang menyakitkan. Celakanya, ada orang yang baru saja mengalami ‘operasi’ dengan teganya mencari ‘obat penenang’ dengan menyakiti si tukang operasinya sendiri dengan melukainya dengan menebar fitnah dan menabur kebencian.

Sebagai tukang operasi

Jika kita merasa terpanggil menyembuhkan penyakit sesama, kita hendaknya datang sebagai ‘dokter’ bukan buldoser. Kita harus memastikan bahwa kita menanganinya dengan baik. Jika ternyata kita salah melakukan operasi, dengan rendah hati kita mesti mengakuinya. Kita harus senantiasa terhubung dengan Tuhan dalam melakukan tugas panggilan kita. Hal ini perlu, tidak untuk mempersoalkan dan terikat ke masa lalu sambil mengutuki bahkan menghukum diri sendiri tetapi untuk menjadi pelajaran dan tekad perbaikan di masa datang.

Sebagai korban malpraktek

Bayangkan kalau ada orang yang menyatakan diri sudah mendiagnosa penyakit Anda dan ia cepat-cepat melakukan ‘operasi’. Padahal, ia salah mendiagnosa. Ia menuduhkan yang tidak benar tentang Anda dan mengumumkannya kepada orang lain atas dasar kebencian. Luka bisa saja terjadi dalam sanubari Anda dan dalam hati sahabat-sahabat Anda. Dalam keadaan seperti ini perlu kita renungkan apa yang dikatakan oleh Augustinus, "Jika Anda menderita karena perlakuan tidak adil seseorang yang jahat, ampunilah dia, kalau tidak, akan ada dua orang yang jahat".

Barangkali, hal ini masuk dalam salah satu kategori paling sulit dalam kehidupan. Lebih sulit lagi, ketika orang lain ikut-ikutan pula menekan dan mempersalahkan kita. Semua bisa semakin memperparah luka hati. Lihatlah bagaimana reaksi orang menghadapi kenyataan seperti ini, mulai dari yang mendiamkannya tetapi tetap membiarkannya membara di dada, sampai memakai jasa orang lain untuk membalas, hingga menghadapi dengan gagah berari hingga titik darah penghabisan. Untuk pembenarannya mungkin dilabeli dengan “Mereka harus diberi pelajaran”. Semua ini tidak menyembuhkan. Malahan, justru membuat orang semakin banyak terluka.Tidak berarti bahwa kita tidak boleh ‘membela diri’ dengan memberi klarifikasi. Itu malah sebuah kebutuhan. Yang penting jangan terlarut mempersoalkannya hingga menimbulkan persoalan baru.

Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang terluka, kita tidak perlu menambahkannya. Dalam situasi ketika kita mengalami korban malpraktek, Mzm 31:10 kiranya menjadi mazmur kita juga:

Kasihanilah aku, ya Tuhan,
Sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku,
meranalah jiwa dan tubuhku.

Sunday, January 31, 2010

JALAN MANA YANG AKAN KUTEMPUH?

REFLEKSI SENIN KE-5
01 Pebruari 2010


Seorang turis berdiri di sebuah persimpangan jalan di Samosir dan bertanya kepada seorang warga setempat.

Turis: Jalan mana sebaiknya saya tempuh?
Warga: Anda mau ke mana?
Turis: Saya tidak tahu. Saya hanya mau jalan saja.
Warga: Kalau begitu, jalani yang mana saja.


Cerita yang kurang lebih sama dicatat oleh Anthoni de Mello kira-kira begini.
Seorang penunggang kuda sedang melewati sebuah desa. Seseorang bertanya kepadanya, “Anda mau ke mana?” “Saya tidak tahu, tanyakanlah kepada kuda saya!”, demikian si penunggang kuda menjawabnya.

Kedua cerita di atas sedikit banyak mencerminkan keadaan masyarakat dunia saat ini. Banyak orang kehilangan ‘tujuan’ hidup. Atau, menyerahkan tujuan hidupnya ditentukan oleh orang lain. Keadaan ini dicirakan oleh dua sikap hidup dalam hal kerja. Pertama, orang-orang yang luar biasa santai. Begitu dalam studi, begitu juga dalam bekerja, apalagi dalam hidup bergereja. Hidup mengalir begitu saja sesuai kecenderungan hati tanpa sebuah perencanaan. Kedua, orang-orang yang super-sibuk baik dalam pikiran maupun dalam pergerakan fisik. Kalander penuh dengan agenda kegiatan dan pertemuan. Mereka duduk di gereja, namun pikiran mereka berkeliaran ke perusahaan. Mereka mendengar khotbah sambil mengutak-atik handphone. Mereka berlibur bersama keluarga, tapi otak mereka tertancap di pekerjaan. Orang-orang seperti ini dapat digambarkan dengan lilin yang dibakar di kedua ujungnya. Padahal, "membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama", demikian sebuah pepatah Denmark.

Kehilangan ‘tujuan hidup’, biasanya seiring dengan kehilangan jejak ‘awal hidup’. Firman Tuhan dalam Efesus 1:4-5 menyatakan bahwa “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” dan “dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya.” Artinya kita ada di sini bukan secara kebetulan atau karena kecelakaan sejarah. Kita ada dan hadir di bumi ini dengan sengaja. Sesuai rencana Allah. Dan pekerjaan Tuhan belum selesai atas diri kita.

Karena itu hendaknyalah kita menjalani hidup tidak sekadar ‘asal-asalan’ saja: asal hidup, asal bekerja, asal menabung, asal menikah, asal punya anak, asal bergereja, asal melayani. Asal….asal…... Kita hendaknya menjalani hidup seturut dengan kehendak Bapa kita. Ini tidak berarti bahwa Allah sudah ‘menetapkan’ kita untuk menjadi ‘apa’ dalam hal pekerjaan atau profesi: tukang pangkas, notaris, pilot, programmer komputer, tukang jahit, guru dan sebagainya. Ia memberi ‘kebebasan’ kepada anak-anakNya untuk memilih, sesuai dengan kemampuan atau bakat dan talenta yang Ia anugerahkan dipadu dengan kesediaan kita mengembangkan dan menekuninya. Yang penting adalah bagaimana kita hidup dan menjalankan pekerjaan kita: untuk kemuliaanNya, untuk kebaikan sesama, dan demi kebaikan kita. Pekerjaan kita bukan hanya sekadar lahan ‘cari makan’ tetapi sekaligus sebagai ladang pelayanan di mana kita menjadi murid dan saksi-Nya. Jika Anda penjahit, jadilah penjahit yang baik, bukan penjahit merangkap penjahat.

Agar kita dapat mewujudkan keberadaan kita sebagai anak-anak Allah, kita membutuhkan discernment, yaitu: kemauan dan kemampuan memahami kehendak Allah dalam kenyataan kehidupan termasuk pilihan-pilihan yang tersedia. Discernment dapat juga berarti proses di mana kita membedakan mana suasana hati, emosi, kecenderungan-kecenderungan kita dan kejadian keseharian yang “mendekatkan diri kita kepada Allah” dan mana “yang membawa kita jauh dari pada-Nya” (Joan Mueller). Jadi, discernment adalah sebuah karunia atau pemberian Tuhan. Kita tidak dapat meproduksinya dari diri kita. Namun, kita dapat bertumbuh dalam karunia discernment dengan menjadikannya sebagai sebuah “pola hidup” melalui kesetiaan dalam refleksi pribadi dan doa. Di sinilah kita berjumpa dengan Tuhan yang memberi diri kita dan memberi tujuan hidup kita.

Sunday, January 24, 2010

RASA DI BALIK KATA

REFLEKSI SENIN KE-4
25 Januari 2010


Kata-kata punya power, konstruktif atau destruktif. Tergantung pada yang mengatakannya atau yang meresponinya. Kata-kata bisa membuat hati berbunga-bunga, tetapi bisa juga membuat hati terluka amat dalam. Bisa membuat orang bangkit dari keterpurukan, tetapi bisa menjatuhkan semangat. Bisa membuat tidur nyenyak dengan mimpi indah, tetapi bisa juga sampai membuat orang tak bisa tidur hingga bunuh diri. (Ingat kisah seorang remaja di Jakarta yang bunuh diri hanya gara-gara temannya mengalamatkan kata-kata sebuah iklan “hari gini gak punya henpon?” kepadanya).

Tidak asing dalam pengalaman keseharian kita adanya orang-orang yang mulai hari Senin hingga Sabtu, kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk dalam kategori 3K :keras, kasar, kotor. Senin sampai Jumat mulai dari perjalanan menuju hingga di tempat kerja kata-kata yang keluar adalah ‘brengsek kamu’, ‘dasar begu elo’, ‘kampungan banget kamu’, ‘kurang ajar kau’, ‘gila/ sinting/ edan elo’, 'biar disambar gledek aja kamu sekalian', dan semua jenis makhluk yang ada di kebun binatang atau binatang peliharaan bahkan yang ada di toilet. Pada hari Sabtu, mereka tidak bekerja, tetapi kata-kata yang sama ditujukan kepada anggota keluarganya di rumah. Seorang ayah misalnya berkata kepada anaknya, “dasar anak setan!” (Lha, siapa dulu dong, bapaknya?). Baru hari Minggu kata-kata 3K-nya berhenti. Bukan karena beribadah di gereja, tapi karena tidur seharian. Mungkin mimpinya masuk 3K juga.

Orang-orang seperti itu juga sangat bermasalah dalam bereaksi terhadap suatu kejadian. Bayangkan seseorang menerima telpon salah sambung. (Mudah-mudahan Anda bebas dari 'kasus' seperti ini). Ketika telpon berdering dan ternyata salah sambung ia sudah mulai marah. Hal ini kedengaran dari nada suaranya yang ketus: ‘salah sambung!’ Ketika telpon birdering keduakalinya, pikirannya masih ke telepon sebelumnya. Jika ternyata masih salah sambung (apakah orang yang sama atau orang yang berbeda) amarahnya semakin meninggi, “Salah sambung!”, sambil membantingkan gagang telpon. Celakanya, kalau berselang beberapa saat lagi telpon berdering ketiga kalinya, ia sudah memvonis bahwa itu tetap salah sambung dari orang yang sama. Ia tidak berpikir panjang dan langsung merespon dengan kata-kata keras dan kasar, “Sekali lagi kau telpon, kucari kau sampai ke ujung dunia dan kuhajar kau!” Bayangkan kalau di ujung sana si penelpon berkata, “jangan main hajar gitu dong Pak?” saya hanya mau mengucapkan ‘selamat ulang tahun’. Ketika hatinya mulai melunak bercampur malu ia bertanya (walau sudah sangat terlambat), “Dengan siapa ini Pak?”. “Saya Pendeta Nonhajar, Pak!”. Bayangkanlah percakapan selanjutnya.

Manusia cenderung memiliki ‘otomatisasi reaksi’. Reaksi sudah terformat sedemikian rupa untuk setiap kejadian. Jika seseorang berbuat begini, reaksinya begini. Jika seorang mengatakan seperti ini, balasannya seperti ini. Reaksi-reaksi ini sebenarnya selalu ditentukan oleh apa yang ada ‘di dalam’, di pusat diri kita yang terdalam. Sama seperti jeruk yang diperas, yang keluar pastilah air jeruk, tidak mungkin jus apel. Sia pun memerasnya, di mana pun diperas, kapan pun diperas, dengan alat apa pun diperas, yang keluar sama: air jeruk. Kata-kata manusia juga seperti itu. Jika kata-kata keras, kasar, kotor yang keluar, itulah yang ada di dalam. Kata-kata kita mencerminkan keberadaan kita.

Memang ada sedikit kekecualian. Ada kalanya kata-kata ‘manis’ yang keluar dari hati yang pahit. Tetapi pada saatnya yang tepat akan terasa juga aslinya. Pasangan suami-istri menghadiri suatu jamuan makan. Hidangan lezat, bergizi, berlemak, mengandung banyak kolerstrol. Si istri dengan lembut menyapa suaminya yang sedang makan agak lahap, “Honey, Sweety!”, sambil melambaikan tangan. Wajah sang suami memerah dan mengungkapkan kata-kata amarah kepada istrinya. Yang menyaksikan kejadian itu heran dan berkata, “kok bapak marah? Kata-kata itu ‘kan ungkapan cinta dan rasa hormat seorang istri kepada suami?” Si suami berkata, “Bukan begitu. Saya menderita penyakit diabetes dan harus membatasi makanan. Ia tidak mengatakan ‘sweety’ sebagai bahasa cinta, tetapi menyindir!”. Tapi yang ini hanyalah ‘kasus’ langka. Yang jelas, isi hati menentukan kata-kata: membangun atau merusak.

Saat ini sudah banyak tersedia buku, kursus bahkan jurusan di perguruan tinggi yang mengkhuskan diri dalam hal ‘berkata-kata’. Secara teknis, hal itu dapat menolong. Di berbagai studio televisi tersedia salon khusus untuk para pembicara yang diundang ke studio. Laki-laki juga diberi pewarna bibir atau lipstick warna alami. Sayangnya lipstik tak menolong agar terhindar dari salah bicara. Tetap saja ada yang ngawur. Sebab, di dalam memang ngawur.

Untuk itulah kita membutuhkan jamahan Tuhan. Ketika hati dan mulut kita dimurnikan oleh Tuhan, reaksi kita terhadap segala situasi selalu dalam pimpinan Tuhan. Kata-kata kita menjadi lain. Body language kita beda. Semuanya meneguhkan dan membangun. Awasi kata-kata Anda mulai hari ini dan sikapi kata-kata yang ditujukan kepada Anda dengan hati bijaksana.

Sunday, January 17, 2010

ANTI-VIRUS HUBUNGAN TERINFEKSI

REFLEKSI SENIN KE-3
18 Januari 2010


Berikut ini adalah kisah seorang yang merasa menanggung 'beban ganda'.

“Seorang teman meminjam uangku lebih dari setahun. Pada saat mau meminjam ia datang setengah ‘menyembah’ dan dengan alasan yang benar-benar masuk akal untuk meminjam. Ia juga dengan kata-kata yang sangat meyakinkan berjanji janji untuk mengembalikannya paling lama tiga bulan. Bulan dan tahun pun telah berlalu, tetapi pinjaman tak kunjung kembali. Kini aku tidak hanya terbeban karena uang saja tetapi juga terbeban dengan ‘body language’ dan sikapnya yang tidak bersahabat. Padahal, hampir setiap hari saya harus bertemu dengan dia karena berada dalam satu kantor. Aku kehilangan uangku dan kehilangan pertemananku dan sekaligus kehilangan ketenangan batinku”.

Dalam kisah di atas kita melihat bahwa ‘hubungan’ pertemanan sedang menuju pada ke suatu bahaya. Proses peminjaman yang didasarkaan pada trust (rasa percaya) mulai memudar ketika penangguhan bahkan tanda-tanda pembatalan janji sedang terjadi. Akal sehat kita berkata bahwa si peminjam mengalami ‘pengorbanan ganda’, uangnya dan ketengan jiwanya. Hubungan terganggu seiring dengan pudarnya rasa percaya.

Di samping itu, hubungan juga bisa terancam oleh perbedaan pendapat. Padahal, dalam perjalanan hidup ini, kita pasti pernah berbeda pendapat dengan orang lain. Masalahnya, ada orang yang menyamakan saja perbedaan pendapat dengan pertengkaran. Padahal, tidak harus demikian. Perbedaan merupakan yang wajar-wajar saja dalam kehidupan ini. Terganggunya hubungan baik hanya karena perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak sehat. Lebih celaka lagi, perbedaan yang berujung pada perselisihan itu merembes dan merambat ke mana-mana. Bayangkan Anda berbeda pendapat dengan seseorang, dan seseorang itu menanggapinya secara negatif hingga memicu permusuhan hingga teman dekatnya pun memusuhi Anda. Padahal Anda tidak ada masalah sama sekali dengan yang bersangkutan.

Ada begitu banyak virus yang menggerogoti hubungan sehat dengan sesama. Kita tidak mampu memproduksi anti-virus ampuh mengatasinya. Hal-hal berikut kiranya dapat menjadi acuan kita:

1. Kesediaan kita terhubung dengan Tuhan. Sebab, semakin kita terhubung dengan Tuhan, semakin terhubung pula kita dengan orang lain. Semakin kita terhubung dengan orang lain semakin sehat pula emosi dan fisik kita.

2. Sebuah keharusan untuk ‘memahami diri kita sendiri’ dan ‘memahami orang lain’. Lihatlah bagaimana Anda berhubungan dengan orang lain. Misalnya, kita perlu mengenali apakah kita lebih ektrovert atau introvert. Sebuah masalah hubungan biasanya dimulai dari yang ekstrovert dan menjadi langgeng karena ‘reaksi’ mereka yang introvert. Yang ektrovert “memulai” dan yang introvert “menyambut dan melanjutkannya”. Yang lebih menderita biasanya adalah yang introvert. Sebab, yang ekstrovert cenderung memiliki dua kekurangan. Di satu segi kurang peduli apakah kata-kata dan tindakannya melukai atau menyakiti orang lain dan di segi lain kurang peduli terhadap kesalahan atau kekurangannya sendiri. Mereka bisa tidur nyenyak meskipun ia tahu sendiri dia bersalah. Yang introvert bisanya menderita dua ‘luka’: (1) Merasa terluka karena sikap, kata-kata dan tindakan orang lain dan (2) Merasa terbeban dengan reaksinya sendiri. Dalam hal ini, bertumbuhlah dari kesalahan-kesalahan, apakah Anda seorang ekstrovert (yang biasanya memulai masalah) atau apakah Anda seorang introvert (yang biasanya lebih merasa tersiksa dan bereaksi kurang sehat). Ketika Anda secara perlahan membuka hati, pertumbuhan dimulai seperti suatu sumber mata air yang baru.

3. Kita perlu mengembangkan sikap menerima perbedaan tanpa berujung pada parbadaan (Bahasa Batak yang berarti “Pertengkaran”). Caranya, kita harus membedakan antara ‘pendapat’ dan ‘si pemberi pendapat’. Kalau pendapatnya tidak kita terima, bahkan kita tolak, kita tetap dapat menerima ‘orangnya’. Membenci ide-ide buruknya, tetapi menerima dan mengasihi orangnya. Hal ini memang sulit, tetapi dengan proses pembiasaan semuanya bisa terjadi.

4. Indikator yang paling baik menunjukkan kepribadian dan kemampuan kita membangun hubungan yang sehat secara kristiani adalah buah-buah Roh (KSD 5KP): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23).



Hubungan yang sehat tercipta
seiring dengan berkembangnya kedamaian hati

Sunday, January 10, 2010

S T A T U S

REFLEKSI SENIN KE-2
12 januari 2010


Poles-memoles sudah menjadi hal yang sangat biasa dalam kehidupan ini. Mobil tua dipoles dengan cat metalik. Jadilah, mobil yang eksteriornya mengkilat, tapi interior dan mesinnya keropos. Nama juga dipoles dengan penempatan aneka gelar di depan dan di belakang nama. Dan, tentu, wajah dan penampilan juga tidak ketinggalan. Operasi plastik masih terus diminati orang saat ini, walaupun harganya amat mahal. Bukan hanya dengan nilai uangnya, tetapi juga menjadi taruhan nyawa. (Minggu lalu seorang CEO meninggal karena operasi plastik, belum lama berselang seorang artis usia belia meninggal karena kasus yang sama).

Mengapa semua ini diminati banyak orang? Pemolesan ini dianggap sebagai bagian usaha naik kelas status. Biasanya status seseorang diukur berdasarkan jadwal sibuk, label, kartu dan koneksi.

Sibuk
Ada sebuah pemahaman keliru yang kian merambah dalam era posmo ini, yakni: “Semakin sibuk seseorang semakin bergengsi dia.” Kata-kata “Saya tahu Anda sibuk” biasanya orang telan sebagai sebuah pengakuan kekaguman. Padahal, ketika pusat perhatian hanyalah pada ‘kesibukan’, bukan pada apa dan bagaimana kualitas hasil ‘kesibukan’ itu sendiri, maka kesibukan hanyalah sebuah kekerasan: terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesibukan yang tidak sehat sering menjadi pembenaran pengabaian kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Kesibukan juga disalahgunakan menjadi sebuah SIM (Surat Izin Marah). Kita ingat cerita Marta yang menyalahkan Maria yang duduk mendengarkan Yesus. Marta malah mencari pembenaran dan pembelaan dari Yesus.

Hadirnya alat-alat seperti komputer, telepon, kendaraan dll seharusnya membantu manusia untuk tidak menguras tenaga habis-habisan. Sayang sekali bahwa kelihatannya bukan manusia yang ‘memakai’ komputer, handphone, dan berbagai alat-alat canggih itu, tetapi justru alat-alat itu yang ‘memakai’ (=menguasai) manusia. Manusia semakin sibuk dengan komputer, telepon, kendaraan, dan alat-alat canggih.

Label
'Merek' barang merupakan ilah baru yang menguasai banyak orang pada zaman ini. Labal-label (merek) pakaian, tas, sepatu, jam tangan, mobil, aksesoris biasanya ikut berperan dalam menentukan status seseorang. Foto-foto yang terpajang di ruang tamu, facebook, website bagi sebagian orang dianggap sebagai sarana menaikkan status. Ada foto liburan di pegunungan bersalju atau berlatar bangunan pencakar langit kota megapolitan. Ada pula foto bersama dengan 'orang penting' (apakah karena ada hubungan dekat atau hanya kebetulan bisa permisi berfoto bersama) dianggap bisa ‘mendongkrak’ status. Pada dirinya sendiri, sebenarnya tak ada yang salah dengan semuanya itu sejauh pengalaman-pengalaman seperti ini semakin memurnikan hati, semakin memperdalam pemahaman akan makna kehidupan, semakin membuka diri dan tangan demi kebutuhan dan kebaikan orang lain. Yang celaka adalah kalau label-label seperti itu berubah menjadi ‘senjata’ penobatan diri pada posisi superior sambil menindas orang lain melalui kata dan sikap menghakimi. Jadi, tak perlu menurunkan semua foto-foto dari ruang tamu. Yang penting adalah menurunkan semua penggerak negatifnya atau motivasi terpolusi.

Kartu
Dunia ini mengukur status dari penghuni tetap dompet: berapa jenis kartu ATM, apakah dilengkapi dengan Amex, Visa, MarterCard, kartu keanggotaan golf, dan lain-lain. Bagaimana dengan kartu nama? Orang menilai status dengan gelar di depan atau belakang nama. Alamat juga sering dianggap membedakan status. Orang yang beralamat di Jln. Sudirman No 212, amat berbeda dengan yang beralamat di Jln Sudirman Gg. Buntu No 212. Sama-sama ‘Sudirman’ tetapi Gg. Buntu ini yang membedakan status.

Koneksi
Hubungan seseorang, entah hubungan keluarga, satu RT, teman satu SD dulu, dengan seorang pejabat atau publik figur biasanya ikut mendongkrak status seseorang. Tidak heran urusannya bisa lebih mulus. Permintaannya gampang dikabulkan.

Semua yang disebutkan di atas, tidak ada yang salah pada dirinya. Kartu kredit sah-sah saja. Anda tak perlu merasa bersalah memilikinya (kesalahan biasanya ada pada menyikapi dan menggunakannya). Tidak salah berlibur (bahkan suatu kebutuhan). Tidak ada yang jelek kalau berfoto dengan publik figur. Intinya adalah ini: status kita bukan diukur berdasarkan ‘apa yang kita miliki’ tetapi terutama ‘siapa Pemilik kita’. Dalam hal ini secara singkat dapat disebut tentang ‘status kristiani seperti berikut ini.

Status Kristiani

Penggerak paling umum cita-cita dan aktivitas adalah ‘motivasi sukses’ dan ‘inspirational stories’. Misalnya, bagaimana seorang tukang sapu menjadi milioner, seorang muntir upah harian menjadi pemilik berusahaan mobil raksasa. Kita tidak sadar bahwa setiap kita unik, mendapat pemberian khusus. Artinya, ‘status’ biasanya diukur berdasarkan sukses ‘angka’ berhubungan dengan timbangan atau kalkulator.

Kita membutuhkan transformasi. Status dasar kita sebagai orang Kristen adalah: keberadaan kita sebagai anak-anak Allah, yang sudah ditebus, yang adalah rekan sekerja Allah. Karena itu, sibuk, label, kartu, dan koneksi juga menentukan ‘status’ kita. Hanya saja keempat hal itu tidak berdasarkan ukuran dunia. Kita harus ‘sibuk’, sama seperti Tuhan Yesus juga sibuk dulu hingga hari ini. Hanya saja kesibukan kita bukan mendongkrak status kita di mata dunia, tetapi agar kita semakin serupa dengan Kristus. Kita sibuk bukan memaksa diri, memaksa orang lain, memaksa sebuah kejadian. Kata-kata bijak ini mengandung kebenaran: “Siapa menjual masa mudanya untuk sebuah kekayaan, ia harus bersiap-siap menjual kekayaannya untuk kesehatan, yang belum tentu berhasil.”

Di samping itu, sebuah pepatah Denmark berbunyi, "Membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama". Gambaran hidup supersibuk memaksa diri. Lilin memang harus dibakar pada saatnya dibutuhkan, itupun hanya dari bagian atasnya. Lilin yang tidak dibakar tidak melakukan fungsinya. Jadi, hidup seimbang itu perlu, dengan lima "si": meditasi, kreasi, aksi, rekreasi, dan refleksi". Meditasi, misalnya, merupakan kebutuhan kita untuk bisa bertumbuh. Dalam meditasi kita meneduhkan diri di hadapan Tuhan. Dalam meditasi kita tidak meminta kepada Tuhan. Kita hanya menyadari bersama dengan Allah (apa dan bagaimana meditasi Kristen silahkan lihat di dalam blog ini di bagian “MEDITASI KRISTEN).

Label yang kita kenakan adalah salib Kristus. Kartu-kartu kita tidak terutama dalam bentuk kertas atau plastik, tetapi keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Kartu-kartu dunia ini adalah alat akses untuk menarik sesuatu kepada diri kita sendiri. Kartu kristiani adalah kerelaan kita menjadi berkat bagi sesama.

Sehubungan dengan ini, koneksi kita dengan apa dan siapa pun selalu ditentukan oleh koneksi kita dengan Tuhan, Pemilik kita. Kita tidak menunjukkan “foto bersama” kita dengan Tuhan, tetapi bagaimana orang lain dapat melihat ‘gambar Tuhan’ melalui seluruh kehidupan kita. Sebab, kita adalah gambar Allah. Kiranya orang lain bisa melihat dan mengalami kasih Allah melalui kasih kita.

Ternyata, dengan demikian, ‘status’ kita bukan sesuatu yang kita raih melalui segala usaha kita, melainkan apa yang kita terima dari Tuhan: Tuhan sendiri dan pemberianNya. Atau, Pemberi dan pemberianNya sekaligus.

Sunday, January 3, 2010

2 0 1 0

REFLEKSI SENIN KE-1
04 Januari 2010


Kita tidak ikut merencanakan kehadiran kita di dunia ini. Kita juga tidak ikut merencanakan adanya tahun 2010. Kenyataan ini sedikitnya membuat kita sadar diri: kita hidup dan berada oleh dan di dalam Pencipta kita. Bayangkan kita sedang tinggal di rumah orang lain. Kita adalah tamu. Sebagai tamu yang tahu diri pasti kita tidak berbuat sesuka hati kita, bukan? Tuan rumah mungkin saja mengatakan “anggap seperti rumah sendiri”. Akan atetapi, sekali lagi, sebagai tamu yang tahu diri kita seharusnya menyesuaikan diri dengan tradisi tuan rumah.

Memang kita bukanlah tamu di hadapan Allah. Ia adalah Bapa kita. Tetapi, sebagai anak yang sadar diri, kita yang menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa, bukan sebaliknya Bapa yang kita paksakan menyesuaikan diri dengan kehendak kita. Apalagi, Bapa lebih tahu yang terbaik bagi kita anak-anakNya. Dalam hal ini kita dapat dengan mudah memahami mengapa Yesus berfirman, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…..” (Yoh 10:15). Kita yang menyesuaikan diri dengan Tuhan, supaya kita dapat berbuah. Buah yang baik!

Pertanyaan yang perlu kita jawab bukan “Apa yang terjadi sepanjang tahun 2010?” melainkan "Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita agar sesuatu terjadi dan tidak terjadi?" Kita dilibatkan Tuhan untuk memungkinkan sesuatu yang baik dan benar terjadi. Tuhan juga menghendaki kita terlibat dalam pekerjaanNya agar tidak terjadi yang ia tidak kehendaki: ketidakadilan, permusuhan, peperangan, kehancuran alam ciptaanNya dan sebagainya. Tuhan memang bisa melakukan segala sesuatu. Tanpa kita! Tetapi kita dirancang bukan seperti robot. Kita diciptakan memiliki hati, pikiran, kemauan, yang hendaknya semuanya itu kita tempatkan di bawah pimpinan RohNya.

Sedikitnya ada empat yang sangat penting kita hayati sepanjang tahun 2010 ini:

Pertama, dasar bangunan. Program dan rencana kita mungkin sudah ada. Kita hendaknya mengujinya berdasarkan kehendak Tuhan. Kita tidak hidup hanya kebetulan. Kita ada dan hidup atas rancangan Allah. PekerjaanNya belum selesai atas kita. Proses masih sedang berjalan. Jadi, apakah kita menekuni pekerjaan, pelayanan, studi, bisnis kita harus mencari kehendak Tuhan dalam semua itu. Kita tidak mengukur sukses berdasarkan standar dan kalkulator dunia. Kita mengujinya sejauh mana semua itu berkenan kepada Tuhan, membawa berkat bagi kita dan orang lain, hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah. Jangan sampai pekerjaan yang memiliki kita. Jangan sampai uang yang memiliki kita. Jangan sampai jabatan yang memiliki kita. Keadaan seperti ini akan membawa ketegangan yang tidak perlu. Dan, biasanya obsesi demikian menjerusmuskan kita menghalalkan segala cara dan memaksa diri. Itu yang membuat banyak orang kehilangan kebahagiaan, sukacita dan damai sejahtera.

Kedua, mengingat tanpa memikirkan secara mendalam. Untuk beberapa hari ke depan ini, dalam menuliskan tanggal ada kalanya kita masih menulisnya dengan tahun 2009. Hal ini dapat dimengerti karena selama 12 bulan kita menggunakan angka 2009. Agak aneh kalau hingga bulan Pebruari kita masih menulis angka 2009 untuk 2010. Kenyataan ini mengingatkan kita untuk tidak mengingat yang tidak perlu yang sudah berlalu, apalagi yang merusak, di tahun yang lalu. Sekiranya peristiwa menyakitkan masa lalu singgah kembali dalam ingatan kita, kita tidak perlu mengulasnya lebih jauh. Sebab, dengan demikian kita memberi kekuatan padanya menguasai bahkan melumpukan hidup kita. Kita bisa membiarkannya berlalu atau menggantikannya dengan pikiran yang membangun. Kita adalah ‘tuan’ dari pikiran kita. Dengan tepaku pada masa lalu yang kelabu kita terhalang ‘mengalami’ hari ini dengan segala keindahannya dan tanggung jawab kita memaknainya.

Ketiga, siuman. Berjaga-jaga. Dunia ini akan semakin gencar mempromosikan diri sebagai pengganti Allah. Iklan akan tetap gencar menggoda dan menodai nurani kita. Umumnya, iklan menggiring kita untuk hanya memikirkan diri sendiri: bagaimana supaya ‘lebih’ keren, lebih sukses, lebih ganteng, lebih cantik dengan bayaran uang, tenaga, waktu yang tidak habis-habisnya. Godaan terbesar dalam zaman ini adalah keinginan untuk meng-upgrade ‘status’ di mata orang, bukan meng-upgrade iman dan kesetiaan kepada Tuhan. Di sinilah kita kehilangan jati diri sebagaimana dirancang dan dianugerahkan Tuhan. Kita ada di sini bukan untuk mengumpulkan barang-barang dan mainan dengan mempermaikan Tuhan. Kita ada di sini untuk menjalani hidup bersama dengan Allah dan mengemban misi-Nya demi damai sejahtera.

Keempat, bersiap pada yang terburuk tanpa mengutuk dan mengantuk. Tantangan pasti akan ada pada tahun 2010 ini. Di satu segi oleh kajahatan manusia (teroris, ekstrimis, konsumeris dan is is yang lain) dan di segi lain bencana alam berkaitan dengan krisis ekologi yang mungkin saja terjadi. Di dalam ancaman seperti ini, tidak sedikit orang yang ‘mengantuk’, pasrah passif. Memahaminya sebagai suratan tangan yang tidak bisa diedit (padahal kebanyakan karena ulah manusia yang harus ditolak). Ada pula yang hanya mengutuk dalam hati, perkataan dan perbuatan. Keduanya bukan solusi.

Mengandalkan Tuhan, kita dapat berbuat sesuatu: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai hari ini.

Wednesday, December 30, 2009

KEPERGIAN GUS DUR



Gus Dur telah pergi kepada pencipta dan pemiliknya (Rabu, 30 Desember 2009) pada usia 69 tahun.
Ketokohan beliau tidak diragukan. Pemikiran-pemikirannya dan kehidupannya sendiri telah memberi sumbangan yang sangat berarti dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan antar umat beragama di Indonesia.
Kiranya Tuhan menganugerahkan penghiburan kepada keluarga Bapak KH Abdurrahman Wahid dan memberi kekuatan untuk melanjutkan keteladanan beliau pada hari-hari yang akan datang.

Monday, December 28, 2009

PASRAH TANPA MENYERAH

REFLEKSI SENIN KE-52
28 DESEMBER 2009



Lebih dari seribu orang anak dibaptis tanggal 26 Desember 2009 lalu, hanya di lingkungan HKBP. Ada satu pertanyaan mengganjal: “Bagaimana keadaan bumi ini pada saat mereka menjadi pemuda 20 tahun mendatang?” Jika bumi ini masih ada, yang pasti keadaan suhu akan lebih panas. Akibatnya, keadaan cuaca akan tidak menentu; kekeringana di berbagai tempat dan banjir di tempat lain; akan lebih banyak angin puting beliung. Akibat lanjutannya adalah semakin banyaknya bencana alam.

Jika Tuhan berkenan, persis 20 tahun mendatang saya akan pensiun dari pendeta dan bersiap-siap untuk pensiun dari dunia ini. Jadi, kalau hanya memikirkan diri saya sendiri tidak terlalu masalah apakah bumi ini hancur lebur atau tidak. Tetapi sebagai bagian dari umat manusia dan ciptaan Allah, saya terbeban dengan nasib ribuan anak-anak yang dibabtis dua hari lalu dan jutaan anak-anak yang lahir beberapa hari ini di seluruh dunia, termasuk dua anak saya yang baru berusia 9 dan 6,5 tahun.

Bagaimana anak-anak tersebut memahami dan mengalami sukacita dan damai sejahtera (sebagaimana yang inti dalam perayaan natal) di tengah kondisi krisis ekologi ke depan ini? Itulah keprihatinan kita sekarang. Kegagalan negara-negara dunia mencapai kesepakatan dan komitmen nyata di Kopenhagen awal Desember 2009 amat mendukakan hati. Kesimpulan para ahli sudah meyakinkan bahwa krisis ekologi akan kian mencekam jika tidak ada langkah dan usaha konkrit dan segera. Tetapi, Kopenhagen berakhir dengan kesepakatan yang tidak meyakinkan.

Di tengah keadaan seperti ini dan ancaman kehidupan yang bakal terjadi, sedikitnya ada tiga yang perlu kita persiapkan. Pertama, bersiap menderita karena bencana. Dalam penderitaan yang bakal terjadi, perlu ditekankan bahwa itu bukan berasal dari Allah. Bukan hukuman dari Allah. Bencana yang mengancam kehidupan ini adalah karena kerakusan dan kekerasan hati umat manusia.

Kedua, bersiap menolong orang yang menderita. Tingkat keparahan bencana dan musibah mungkin berbeda berdasarkan lokasi dan keadaan usia dan fisik masing-masing orang. Yang tidak (atau lebih tepat “belum”) mengalami musibah hendaknya bersiap untuk memberi bantuan.

Ketiga, tetap melakukan sesuatu. Kita pasrah menerima segala kemungkinan, tetapi kita tidak boleh menyerah. Reformator Martin Luther pernah berkata, “Meskipun besok aku kembali kepada Bapa, aku tetap menanam apel hari ini”. Benar sekali bukan? Mangga dan durian yang kita makan sekarang berasal dari pohon yang ditanam oleh mereka yang sudah tidak bersama kita lagi. Jadi, kita bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu menurut keberadaan dan kemampuan kita masing-masing: menanam dan memelihara pohon; menjaga kebersihan tanah, air dan udara; menghemat bahan bakar, air, kertas, plastik; mengurangi sampah dan menangani sampah yang sudah terlanjur ada dan sebagainya. Intinya: menerapkan pola hidup sederhana dan bersahabat dengan alam ciptaan Tuhan. Setiap tindakan kita mempunyai konsekuensi langsung terhadap ekologi. Gandhi benar sekali ketika ia aberkata, “Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang”.

Bagaimana caranya? Jangan percaya iklan dan berbagai promosi produk yang kian gencar menggoda kita saat ini. Mereka satu bahasa mengatakan, “Jalan kebahagiaan dan kunci jaminan PD adalah dengan membeli dan memiliki barang ini!” Mereka berbohong! Kebahagiaan tidak terutama datang dari luar diri kita. Kedbahagiaan tidak terjadi terutama dengan menambah banyak hal atau barang-barang ke dalam kehidupan ini. Malahan, kebahagiaan bisa terjadi jika kita membuang banyak hal dari hidup ini: membuang kebencian, sakit hati, dedndam, amarah, kekuatiran, kesombongan, iri hati. Sebab, kebahagiaan sudah ditempatkan Tuhan di hati kita. Kita hanya perlu menyadari dan menerimanya. Dapat dicatat, bahwa tingkat kebahagiaan orang yang memiliki HP seri terakhir dengan harga tinggi pula tidak jaminan menjadi lebih bahagia dari orang yang memiliki HP murah dan sederhana. “Siapa memiliki Tuhan, ia memiliki segala sesuatu yang membuatnya berbahagia dan hidup dalam damai sejahtera. Tetapi siapa memiliki segala sesuatu tanpa memiliki Tuhan, semuanya tidak punya arti apa-apa”.

Tuhan adalah Pemilik kita; jangan kita memberi diri menjadi milik apalagi budak barang-barang dan gengsi, yang adalah akar dari kerusakan alam ciptaan dan milik Tuhan.

Tuesday, December 22, 2009

LAPORAN PEAYANAN TAHUNAN GEREJA YANG BAGAIMANA?

Beberapa gereja mentradisikan penyampaian Laporan Pelayanan Tahunan atau Berita Pelayanan Tahunan pada akhir tahun. Masing-masing gembala jemaat kelihatannya punya kekhasan masing-masing dalam hal isi dan durasi. Tetapi, umumnya lebih merupakan ‘daftar kegiatan’ yang disertai dengan tanggal pelaksanaannya. Dengan kata lain, penyusun Laporan atau Berita Pelayanan Tahunan terutama merujuk pada agenda pelayan atau warta jemaat. Di antara rumusan kata-kata laporan biasanya berbunyi, “Pelaksanaan kegitanan ini…. berlangsung dengan baik pada tanggal…..”. Terkadang distempel dengan kalimat “Syukur kepada Tuhan”.

Waktu dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh gereja sebenarnya sah-sah saja masuk dalam laporan pelayanan. Namun, keduanya merupakan pendukung terhadap berita pelayanan, bukan yang inti. Apalagi, kita terkadang mendapat kesan bahwa laporan pelayanan lebih merupakan (1) Upaya memebuktikan bahwa pelayan atau gembala jemaat ‘bekerja’. (2) Menunjukkan bahwa pelayan/ gembala jemaat mampu membuat sebuah naskah laporan yang lengkap dan sistematis. (3) Membuktikan bahwa jemaat ‘sukses’ secara organisasi. Atau membela diri: kalau ada orang yang mengatakan jemaat ini gagal mengemban misinya sebagai gereja, itu diragukan kebenarannya.

Agar Berita Pelayanan terhindar dari pengagungan, prmosi dan pembelaan diri secara pribadi maupun secara persekutuan jemaat, tetapi sungguh-sungguh membangun jemaat dalam artian mensyukuri apa yang Tuhan lakukan dan membaharui diri dalam hal-hal yang belum berpadanan dengan kehendakNya dalam pelayanan, berikut ini sedikitnya ada empat hal yang kiranya menjadi acuan dalam penyusunan dan penyampaian Berita Pelayanan Tahunan jemaat.

1. Penyusun Berita Pelayanan perlu mempersiapkannya dalam suasana ibadah. Ia tidak saja mencari file-file (catatan pribadi, warta jemaat, notulen rapat dan sebagainya –meskipun semua itu dibutuhkan), tetapi pertama dan terutama “mencari kehendak Tuhan”. Melihat peristiwa satu tahun yang berlalu dengan penglihatan Tuhan sendiri. Dalam hal ini, sedapat-dapatnya, pelayan/ gembala jemaat melakukan retreat pribadi. Menghadirkan diri di hadapan Tuhan. Dengan demikian, ia akan terhindar dari godaan seperti disebutkan di atas: membuktikan diri. Sebab, seorang pelayan yang setia tidak perlu membuktikan diri, tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Maxwell benar sekali ketika ia berkata, “The more leader mature, the more humble they are”.

2. Berpaling pada sumber penting untuk mengevaluasi kehidupan bergereja, yaitu firman Tuhan. Di tengah semua aktivitas pelayan dan kehidupan bergereja adakah terdapat buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri? (Galatia 5:22-23). Sesibuk apa pun gereja, sebanyak apa pun yang dia hasilkan secara material, dan sesukses apa pun dia menurut ukuran dunia, tanpa adanya buah-buah Roh, semuanya tidak punya arti apa-apa. Jadi, dalam berita pelayanan perlu dirumuskan dengan jelas bagaimana buah-buah Roh ini nampak dalam kehidupan berjemaat. Dengan demikian, jemaat mengetahui karena apa dia bersykur dan dalam hal apa dia membutuhkan pertobatan, dan pembaharuan komitmen.

3. Bagaimana keputusan diambil? Setiap jemaat memiliki kebijakan masing-masing bagaimana pengambilan keputusan dilakukan dalam kehidupan berjemaat. Tidak rahasia, bahwa di hampir semua jemaat ada saja perbedaan pendapat bahkan pertentangan dalam sidang-sidangnya. Karena pengambilan keputusan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan gereja, maka ‘proses’ dan ‘isi’ keputusan seharusnya dirumuskan sedemikian rupa dalam laporan atau berita pelayanan. Dalam pengambilan suatu keputusan para Rasul pernah mengatakan, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…..” (Kis. 15:28). Keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…… Oh, indahnya kehidupan gereja yang seperti itu.

4. Bagaimana penatalayanan keuangan? Keadaan keuangan gereja sedikit banyak dapat menjelaskan keberadaan gereja tersebut. Jadi, laporan keadaan keuangan dalam Berita Pelayanan sebaiknya bukan hanya jumlah pemasukan dan pengeluaran yang akhirnya menunjukkan saldo atau defisit, tetapi bagaimana dan dengan dasar pertimbangan teologis apa penggunaan keuangan gereja. Gereja seharusnya menggunakan uangnya ‘bersama’ dan ‘di dalam’ Allah, sang Pemilik Gereja dan yang ada di dalamnya.


Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).

Saturday, December 19, 2009

DESEMBER, BULAN STRESS?

REFLEKSI SENIN KE-51
20 Desember 2009


Hasil sebuah survey menunjukkan bahwa tingkat stress meningkat pada bulan Desember dibanding sebelas bulan lainnya. Ironisnya, peningkatan tingkat stress ini ada hubungannya dengan Natal. Mengapa? Masalah paling mendasar adalah perubahan “yang pokok menjadi sampingan dan yang sampingan menjadi pokok”.

Yang pokok atau yang paling inti dari perayaan natal adalah merayakan kasih Tuhan yang sangat besar akan dunia ini. Natal adalah peristiwa sukacita, bukan karena hal-hal lahiriah, tetapi karena peristiwa Imanuel “Allah menyertai kita”. Natal adalah soal pertobatan dan pembaharuan hidup di dalam Tuhan. Sejak awal (natal pertama di Mesir [tahun 250], di Galiela [tahun 380] dan natal pertama di Indonesia [tahun 1500-an]) perayaan natal berisi penyembahan dan ibadah, bukan pesta makan, hiasan, hiburan, dan undian yang akhir-akhir ini kian menggejala bahkan merajalela.

Yang “sampingan” adalah reuni keluarga, makanan, pakaian, hadiah, merias diri, dan dekorasi. Celakanya, justru yang sampingan inilah yang sudah mendominasi sekaligus menciptakan aneka ketegangan. Dinas “Pegadaian” di beberapa kota di Indonesia ekstra sibuk menerima barang gadaian seperti TV, perhiasan, dan kendaraan. Untuk apa? Uang untuk “natalan”.

Kaum perempuan antrian di salon. Rambut lurus dikeritingkan, dan yang keriting direbonding. Padahal, hatilah yang perlu ‘direbonding’ –diluruskan dan dibersihkan. Apalah artinya rambut lurus kalau wajah dan hati keriting? Lebih baik rambut keriting tapi hati lurus dan tulus. Banyak pula yang sibuk memikirkan sofa dan gordin. Malu, tamu datang dan melihat sofa dan gordin yang itu-itu lagi! Belum lagi mereka yang berhari-hari duduk di dekat kompor dan oven, sambil mengunci pintu dan jendela (takut anak-anak mengambil kue yang dimasak). Sayangnya, setelah kompor dan oven padam, panasnya pindah ke hati: gampang tersulut amarah. Wajah pun menjadi keriting.

Jika demikian, boleh atau tidak semua yang sampingan ini? Pertanyaannya adalah, “Apakah semua itu membantu untuk menghayati kasih Allah? Apakah semua itu semakin mendorong kita berserah diri pada Tuhan? Apakah dengan semua itu memungkinkan kita untuk bertobat?

Orang-orang Kristen di Indonesia punya kekhasan tersendiri soal perayaan natal, khususnya dalam hal “jumlah perayaan natal” yang diikuti. Lebih khusus lagi, orang-orang Kristen Batak bisa saja mengikuti perayaan natal lebih dari sepuluh kali: mulai dari natal oikumene, natal marga (empat marga), natal anak-anak di sekolah, natal kantor lingkungan kerja, natal lorong, dan empat sampai lima perayaan natal di gereja. Ramai memang! Capek? Ya. Ada pula yang merayakannya di siang hari. Lagu “Malam Kudus” dinyanyikan sambil menyalakan lilin dan memadamkan lampu, tetapi tetap terang benderang. Karena merias rambut di salon butuh waktu lama dan biaya, ada pula di antara kaum perempuan yang tidur telungkup agar riasan rambutnya tidak rusak dan bisa digunakan lagi untuk perayaan natal tiga malam berturut-turut.

Sekali lagi, apakah ini salah? Secara tahun liturgi, merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember jelas tidak mengikuti tahun liturgi. Karena itu, ke depan ada dua yhal ang sangat penting mendapat perhataian orang-orang Kristen.

Pertama, kembali kepada tradisi gereja yang merupakan pergumulan iman yang menetapkan tahun gerejawi untuk diikuti oleh Gereja. Singkatnya, merayakan natal mulai tanggal 25 Desember hingga sebelum Minggu Ephipanias pada bulan Januari. Jika kumpulan marga, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan lain-lain mau bersekutu bersama sebelum 25 Desember, dapat merayakan “Advent” atau persiapan Natal. Atau, merayakan Natal sesudah 25 Desember.

Seingat saya Ephorus Emiritus Pdt Dr SAE Nababan pernah dengan sangat gencar menyerukan agar tidak merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember. Tapi, entah dengan pertimbangan apa tanggal 18 Desember 2009 beliau berkhotbah dalam "perayaan natal" yang dilakukan Pemko dan DPRD Medan. Yang jelas, tahun liturgi gereja belum berubah meskipun Bapak Nababan berubah pikiran.

Kedua, mengembalikan natal sebagai peristiwa iman yang nampak melalui kesederhanaan, sukacita sorgawi, kepedulian dengan sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Dua peristiwa yang disaksikan di dalam Alkitab, yaitu gerak hidup para gembala (Lukas 2) dan orang-orang Majus (Matius 2) sangat jelas menunjukkan bahwa peristiwa natal itulah yang memimpin langkah mereka, yang menentukan gerak hidup mereka; bukan sebaliknya seperti kecenderungan saat ini justru kita yang mendisain natal. Kita mengundang Tuhan pada perayaan natal yang kita disain sendiri dengan waktu, lampu, catering, selebriti, santa claus, lucky draw, sebelum kita mau diundang ke hadiratNya untuk mendengar kehendakNya. Anggaran pun mencapai jutaan rupiah. Perayaan seperti ini hanya akan menyisakan yang tidak perlu: sampah, penyakit, hutang, perselirihan, dan dosa. Saatnya kita bertobat. Sebelum amat terlambat.

Sunday, December 13, 2009

KATOLIK DAN HKBP

REFLEKSI SENIN KE-50
14 DESEMBER 2009

Berikut ini adalah salah satu cerita bijak dari Yustinus Sumantri,[1] yang agaknya relevan juga untuk direnungkan oleh gereja-gereja reformasi, termasuk HKBP.

Suatu hari, seorang Uskup didatangi sekelompok umat yang ternyata para anggota dewan sebuah paroki. Mereka menyatakan tak tahan lagi dengan pastor paroki mereka. “Kami mohon, Bapak Uskup,” kata mereka, “memindahkannya ke tempat lain.”

Dengan penuh perhatian Bapak Uskup mendengarkan macam-macam alasan yang mereka kemukakan. Lalu ia berkata, “Kalau nanti saya mengirim seorang imam untuk menggantikannya, sifat-sifat seperti apa yang Anda-Anda harapkan darinya?”

“Kami mengharapkan ia arif, ramah, terbuka, dan suka mendengarkan,” kata seorang bapak yang tampak paling tua di antara mereka.

“Kalau bisa imam yang tidak pilih kasih!” seorang yang lain menimbrung.

Pendapat lain menyusul cepat, “Jangan imam yang suka marah dan membentak-bentak.”

“Kami mengharapkan pastor yang tidak birokratis dan punya empati kepada kaum lemah,” ucap seorang yang tampak termuda di antara mereka dengan penuh semangat.

Suara lirih seorang ibu menyambung, “Monsinyur, beri kami gembala yang tindak-tanduknya mencerminkan tingkat kerohanian yang tinggi.”

Setelah diam sesaat, ada lagi yang mengacungkan tangan seraya berkata, “Di zaman sekarang ini diperlukan imam yang bisa menjadi motivator, organisator, dan inspirator hidup menggereja.”

“Juga tolong, Bapak Uskup, beri kami romo yang kotbahnya tidak membosankan,” cetus seorang yang lain.

Uskup mengangguk-angguk mendengarkan umatnya yang kaya ide tentang imam yang ideal.

Seorang Bapak tampak ragu-ragu sebentar. Akhirnya terucap dari bibirnya, “Harapan kami….,” katanya agak terbata-bata, “harapan kami, paroki kami nanti mendapat imam yang dapat menjaga diri dalam bergaul dengan umat, sehingga tidak tergelincir….”

Semua diam. Terdengar ada yang batuk-batuk kecil.

Bapak Uskup memandangi mereka satu per satu, “Sudah semua?”

Tak seorang pun menjawab.

Akhirnya, Uskup berkata, “harapan Anda sekalian bagus. Sebaiknya para pastor kita mempunyai kualitas seperti itu. Namun, saya khawatir, saya tidak mempunyai imam yang dapat memenuhi semua harapan tersebut.”

Hening. Dari luar terdengar sayup-sayup kenderaan di jalan raya.

“Bagaimana? Kalian tetap mau agar pastor kalian saya pindah, sementara tak ada penggantinya yang sesuai dengan tuntutan kalian?”

Para anggota dewan paroki itu saling pandang. Kemudian yang seorang berbisik kepada yang lain. Tampak mereka sedang mencari kesepakatan.

Selang beberapa menit mereka menyampaikan kepada Bapak Uskup keputusan mereka. Mereka tidak jadi menuntut agar pastor paroki mereka dipindah ke tempat lain.

Dari kisah tersebut (menurut penulisnya) setidaknya dua hal bisa kita petik. Pertama, betapapun besar rahmat dan anugerah Allah yang diterima oleh seorang imam berkat tahbisan imamatnya, ia tetap seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Karenanya, umat juga harus toleran terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada gembalanya. Kedua, kisah tersebut dapat menjadi suatu peringatan bagi para pastor untuk menjaga jangan sampai dirinya menjadi batu sandungan bagi umatnya.

Apa relevansinya bagi HKBP? Mohon komentar Anda. Yang jelas, masalah mutasi pendeta merupakan salah satu persoalan klasik di HKBP.


[1] Yustinus Sumantri, Litani Serba Salah Pastor. 100 Cerita Bijak, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Sunday, December 6, 2009

OBAT PENAWAR RASA JENGKEL

REFLEKSI SENIN KE-49
07 Desember 2009



Ada sebuah biara di mana para penghuninya merasa jengkel mengeluh karena ada satu orang di antara mereka yang hidupnya benar-benar tidak sesuai sebagai seorang biarawan. Mereka merasa terganggu dengan yang satu orang ini. Sikap mereka pun menjadi sinis, tidak peduli bahkan membencinya. Mungkin karena tidak tahan, biarawan yang mengecewakan ini memutuskan untuk keluar dari biara. Anehnya, pimpinan biara mencari dan memintanya kembali ke biara dan ia akan mendapat gaji tetap. Mendengar itu para biarawan yang lain keberatan dan protes. Bagaimana mungkin seorang yang tidak punya itikad baik dan yang sudah keluar dari biara diajak kembali dan diberi gaji pula? Dengan tenang pimpinan biara berkata, “Sebab, dengan tinggalnya dia di sini bersama kalian semua, kalian dapat belajar kesabaran”.

Mungkin ada kalanya kita hidup bersama dengan orang yang kita anggap menjengkelkan, mengganggu ketenangan, apakah itu di tengah keluarga, di lingkungan kerja, di tengah masyarakat, bahkan --celakanya-- bisa saja di dalam gereja pula. Perasaan kita semakin tidak enak, apalagi kalau yang bersangkutan sehat-sehat saja atau makmur secara ekonomi.

Cerita di atas sama sekali tidak dimaksudkan untuk membenarkan dua hal: (1) Tidak membenarkan orang-orang yang menjengkelkan, mengecewakan, menimpakan beban yang tidak perlu terhadap sesama untuk terus-menerus mempertahankan sikap dan perilakunya. (2) Tidak membenarkan perilaku buruk, dengan alasan bahwa keburukan dibutuhkan untuk 'mendidik' orang lain, dan bisa menjadi sarana mendapat 'penghasilan' esktra.

Cerita di atas terutama berlaku dalam konteks 'latihan kesabaran'. Bagaimana bersikap dalam menghadapi orang-orang yang menjengkelkan? Pertama, kita perlu memeriksa ‘ke dalam’; ke dalam hati kita sendiri. Mungkin perilaku buruk seseorang itu benar dan berdasarkan fakta yang tidak bisa disangkal. Tetapi, kita ‘merasa jengkel’ adalah masalah lain. Itu adalah pilihan kita sendiri. Artinya, kita sendirilah yang memutuskan apakah kita mau merasa jengkel atau tidak. Keadaan atau suasana hati kita sangat menentukan sikap dan reaksi kita terhadap orang lain dan situasi tertentu. Jadi, kalau kita merasa jengkel, dongkol, atau bahkan berang, itu semua bukan 'karena' orang lain, tetapi 'karena' kita sendiri.

Kedua, kita berusaha dengan segenap hati dan pikiran untuk memahami orang lain. Hanya dengan kerelaan seperti inilah kita bisa menerima diri seseorang meskipun kita menolak kebiasaan dan keburukannya. Jika ada seseorang yang selalu mendaftarkan ‘kehebatannya’ atau koneksinya dengan ‘orang-orang penting’, misalnya, kita tidak perlu merasa benci dan mencapnya sebagai seorang yang sombong. Mungkin seseorang itu sedang ditekan rasa rendah diri, yang sejak kecil hingga dewasa orang lain tidak pernah menghargainya. Untuk menutupi rasa rendah diri, ia tampil seperti orang hebat. Dengan memahami latar belakang seseorang dan kenyataan hidupnya saat ini, kita lebih mudah menerima dirinya. Sikap ini juga mengindari kita untuk menyebarluaskan kekurangan seseorang kepada orang lain, yang biasanya akan membentuk tembok pemisah bahkan perselisihan.

Ketiga, setiap peristiwa kehidupan menjadi pelajaran berharga asal kita terbuka menerimanya. Keinginan untuk mengubah orang lain bisa saja menghambat perubahan diri kita sendiri. Kata-kata mutiara “dari kesalahan orang lain, seorang berhikmat mengubah dirinya sendiri”, sangat tepat dalam konteks ini. "Saya berubah kalau orang lain berubah" seharusnsya diganti dengan "Saya berubah, semoga orang lain juga berubah".

Keempat, perlu kita sadari bahwa merasa jengkel, muak, benci (kata-kata yang sering digunakan orang untuk menggambarkan perasaan) lebih merusak kebahagiaan kita ketimbang mereka yang kita benci. Jangan kita biarkan apa pun mengeruhkan batin kita dan merampas kebahagiaan kita, tetapi biarlah kejernihan hati dan kebahagiaan kita terpancar dan menjadi berkat bagi orang lain.

Sunday, November 29, 2009

BERTOBAT ATAU KIAMAT

REFLEKSI SENIN KE-48
30 NOPEMBER 2009


Hari-hari ini kita dihentakkan oleh pemberitaan media akan ancaman musibah yang bakal terjadi sebagai akibat dari pemanasan global seperti perubahan cuaca, kenaikan permukaan laut, dan aneka bencana alam sebagai konsekuensinya. Di samping tanggung jawab negara-negara untuk mengurangi tingkat pencemaran, sebenarnya setiap warga bumi ini harus mengambil bagian dalam suatu perubahan radikal, khususnya dalam hal gaya hidup.

Keadaan lingkungan hidup semakin menguatirkan terutama karena dua penyebab (1) Pertambahan penduduk dunia, yang sampai saat ini berkisar 6,5 miliar, dan (2) Konsumsi berlebihan sebagian orang. Sekiranya, semua manusia hidup atas dasar ‘kebutuhan’, sebenarnya bumi ini masih mampu menghasilkannya. Mahatma Gandhi benar ketika ia berkata, “bumi ini cukup menyediakan untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang”.

Celakanya, justru ketamakanlah yang kian kuat merasuk dan merusak kehidupan pada azaman ini. Menurut pengamatan Simmel, begitu kelas bawah mulai mengenakan busana tertentu, yang tadinya hanya dimiliki kelas atas, mereka menghancurkan perbedaan antara kelas-kelas. Kemudian, kalangan atas membuang pakaian lama dan memakai mode baru untuk mempertahankan perbedaan. Begitulah terus berjalan tanpa ujung.[1] Di Negara-negara kaya seperti Amerika, Jerman, Singapura dan lain-lain kita dapat menyaksikan begitu banyak barang-barang yang sebenarnya masih layak pakai (tempat tidur, sofa, pakaian, peralatan olahraga, alat-alat elektonik, mainan anak-anak) di depan rumah atau di pinggir jalan, atau ditumpuk di tempat penampungan yang disediakan oleh gereja Salvation Army (Bala Keselamatan). Di salah satu tempat penampungan barang-barang bekas di Salvation Army, Singapura, mereka mengangkut sedikitnhya satu truk setiap hari. Kemudian, pihak Salvation Army menjualanya dengan harga murah. Orang-orang berpenghasilan pas-pasan pun mengenakan pakaian bermerk yang dibuang oleh orang-orang kaya.

Bagaiamana barang-barang mewah merusak alam? Sombart mengemukakan beberapa alasan mengapa barang-barang mewah diproduksi untuk kelas atas. Satu faktor terletak pada sifat dari proses produksi itu sendiri. Sebagian besar bahan baku berasal dari negara lain, sehingga waktu dan biaya harus diinvestasikan untuk mengimpornya. Pembuatan barang-barang mewah itu juga umumnya lebih rumit, memakan waktu lama, dan singkatnya mahal: membutuhkan keahlian dan spesialisasi tingkat tinggi para pekerja. Fator lain adalah sifat distribusi dan penjualan barang-barang yang eksklusif. Perdagangan mewah tidak hanya tergantung pada tetapi juga sangat rentan terhadap perubahan dalam mode. Untuk bisa sukses diperlukan modal untuk bertahan hidup di tengah pasar yang berubah-ubah dan fleksibilitas dalam menyesuaikan proses produksi agar sesuai dengan perubahan permintaan pasar.[2] Jadi, mulai dari proses pembuatan, import bahan baku dan ekspor bahan jadi, hingga pembuangannya yang masih dalam kondisi layak pakai, menguras enerji yang sangat banyak dan menghasilkan polusi.

Sebagai umat beriman, sikap hormat kita kepada Allah mestinya ampak dari sikap hormat kita kepada kehidupan. Sikap hormat kita kepada ciptaan Allah dan sesama manusia. Hal ini hendaknya nampak sedikitnya dalam dua perubahan radikal.

Pertama, pola pikir. Erich Fromm pernah mengatakan, “Jika aku adalah apa yang kumiliki, siapakah aku kalau yang kumiliki hilang?”[3] Kita hendaknya tidak mengidentifikasikan diri dengan apa ayang kita miliki, tetapi siapa Pemilik kita, yaitu Allah sendiri. Dalam hal ini, sudah saatnya kita lebih berpaling ke dalam hati nurani untuk membeli dan melakukan sesuatu, yang semuanya pasti berdampak terhadap kelestarian alam ciptaan Tuhan. Kita tidak perlu terlalu banyak menggunakan “pikiran orang lain” soal barang yang kita pakai. Saatnya ‘gengsi’ harus dikaji dan diuji. Sebab, tidak jarang terjadi, atas nama ‘tampil kren’, seseorang memakasa diri. Ada orang yang penghasilnanya pas-pasan, ingin terlihat seperti orang kaya. Ini terjadi karena ada suatu pemahaman keliru bahwa harga diri diukur berdasarkan jenis dan harga barang yang digunakan. Agaknya tidak berlebihan mengatakan tidak logis dan tidak etis seorang yang tidak memiliki pekerjaan, tetapi menggunakan handphone seharga Rp. 4 juta rupiah, dan belum dua tahun sudah ‘dipaksa’ oleh iklan untuk ditinggalkan.

Kedua, pola hidup. Setiap orang mesti menyadari dan terutama mengurangi apa yang disebut dengan carbon footprint.Carbon Footprint sama dengan jumlah total karbon dioksida (CO2) dan gas-gas pemicu pemanasan global lainnya yang dihasilkan oleh suatu produk atau jasa. Misalnya, jika kita membeli sepasang pakaian, carbon footprintnya dihitung mulai dari memproduksi bahan baku pakaian, menjahit, mengemas, mengangkutnya ke toko atau mall, memajang di toko yang membutuhkan listrik, dan seterusnya. Demikian juga untuk barang-barang lain yang kita pakai seperti sepatu, perlengkapan mandi, alat-alat masak, alat-alat kantor, komputer, kendaraan dan lain-lain.

Mereka yang mampu membeli segala sesuatu, justru membutuhkan pertobatan radikal. Tidak sedikit orang kaya yang merasa malu memiliki sepuluh pakaian mewah, tas mewah, sepatu mewah (dan merasa malu memakainya tiga kali berturut-turut), ditambah lagi lima mobil mewah. Tanpa ada niat untuk mengurusi harta kekayaan mereka yang kaya, mereka perlu ditolong untuk bisa menjadi orang kaya yang bertanggungjawab. Saat ini, kelihatannya orang-orang sederhana lebih hormat kepada orang-orang kaya bukan karena apa yang mereka punyai tetapi dengan apa yang mereka sumbangkan untuk kebaikan sesama manusia. Sikap seperti ini perlu ditumbuh-kembangkan oleh setiap orang.


Doa:
Bapa Kami yang di sorga, berikanlah kami pada hari ini yang kami butuhkan untuk kehidupan, dan ketika kami memiliki lebih dari cukup kami dapat mengendalikan diri dan menolong mereka yang berkekurangan.





[1] Ulrich Lehmann, Tigersprung. Fashion in Modernity, Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology, 2000, p. 169.
[2] Ulrich Lehmann, Tigersprung, p. 170.
[3] Cited by Stan J. Katz and Aimee E. Liu, Success Trap: Rethink your ambitions to achieve greater personal and professional fulfillment, New York: Ticknor & Fields, 1990, p. 185

Sunday, November 22, 2009

MASALAH TANPA BERUJUNG MUSIBAH

REFLEKSI SENIN KE-47
23 Nopember 2009


Seorang penjaga gawang sepakbola Jerman beberapa hari lalu bunuh diri. Media Singapura juga memberitakan seorang ayah yang tega membunuh dua anaknya sebelum ia bunuh diri dengan menerjunkan diri dari lantai 12 apartemennya. Mengapa? Jawabannya: mereka punya ‘masalah’.

Sebenarnya, penyakit, penderitaan, kegagalan mendapat keinginan, penolakan orang lain, dan sebagainya yang biasanya kita sebuat dengan ‘masalah kehidupan’ tidak akan pernah lepas dari kehidupan di dunia ini. Hal ini di satu segi karena kita punya kelemahan dan keterbatanan. Di segi lain, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan jalan hidup yang selalu lurus dan mulus saja. Yang Yesus janjikan adalah ‘penyertaan-Nya’ setiap saat. Itu sebabnya kebenaran ini perlu kita pegang: “Jangan minta supaya laut tidak bergelombang, tetapi mintalah agar Tuhan menyertai kita dalam mengarunginya”.

Dalam hal ini kita dapat menyikapi ‘masalah dalam’ dan ‘masalah luar’ dalam hubungan dengan Tuhan.

Masalah dalam

Masalah terbesar dalam diri kita adalah ‘keinginan untuk lebih’: lebih kaya, lebih ganteng/ cantik, lebih populer, lebih dari orang rata-rata dan sebagainya. Untuk mencapai keinginan-keinginan seperti itu kita tergoda bahkan terjatuh ‘memanafaatkan orang lain’ bahkan memanfaatkan Tuhan. Jika suatu keinginan terpenuhi, mungkin ia dapat member kelegaan sementara yang pada gilirannya akan menciptakan kehausan baru. Jika keinginan tidak terpenuhi, kita kecewa, murung, serba negatif, bersikap pahit atau sinis, mempersalahkan, stress bahkan depresi. Jika hal ini tidak ditangani dengan iman, maka ia bisa berujung pada musibah pada diri sendiri bahkana orang lain.

Untuk menghadapi kenyataan demikian, saya teringat pada dua nasihat bernas sebagai berikut:

Anda ada di sini bukan secara kebetulan, melainkan karena rencana dan pilihan Allah.
Tangan-Nya membentuk Anda dan meciptakan Anda sebagai pribadi sebagaiamana Anda ada.
Ia tidak membandingkan Anda dengan siapa pun. Anda unik.
Anda tidak kekurangan apa pun, yang anugerahNya tidak dapat memberikannya kepada Anda.
Allah mengijinkan Anda berada di sini, dalam perjalanan sejarah yang ada di tangan-Nya untuk mewujudkan rencanaNya kepada generasi sekarang
(Roy Lessin).

Setiap kali kita mencoba untuk menghindari atau melarikan diri dari kesulitan hidup, kita mengambil jalan pintas sebuah proses, menunda pertumbuhan kita, dan akan berakhir dengan kepedihan yang lebih buruk. Bila Anda memahami konsekuensi dari pengembangan karakter Anda, Anda akan berdoa lebih sedikit dengan doa "comfort me" (tolong aku merasa baik) dan lebih banyak doa “conform me" (pakailah masalah ini untuk membuat saya semakin serupa dengan Engkau) (Rick Warren).

Kadang-kadang kita merasa terlalu lama mengetuk pintu dan seolah Allah tidak membuka pintu. Kita tidak menyadari bahwa kita berada di dalam rumah, di hadapan Allah. Sering terjadi bahwa kita menganggap bahwa ‘pintu’ rahmat Allah yang tertup, padahal justru pintu hati kitalah yang tertutup karena terganjal oleh keinginan kita. Kita menginginkan itu, tetapi yang terjadi adalah ini. Jika kita hidup di hadapan Allah, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Kita dapat menempatkan keinginan kita di hadapanNya agar kita dapat melihat mana di antara keinginan itu yang benar-benar kebutuhan untuk selanjutnya kita perjuangkan mengandalkan pertolongan-Nya.

Selanjutnya, di samping kita dapat melampaui masalah yang kita hadapi, kita dapat menolong orang lain yang sedang dalam masalah kehidupan. Dalam hal ini kita perlu memegang nasihat P.T. Forsyth: “Anda harus hidup bersama dengan orang untuk memahami persoalan hidupnya, dan hidup di dalam Tuhan untuk dapat menyelesaikanya”

Masalah luar

Kemarin, sebuah ferry tenggelam dalam perjalanan Batam-Dumai, yang menelan korban jiwa. Musibah ini terjadi karena perpaduan dua masalah: masalah luar (tinggi gelombang sekitar enam meter) dan ‘masalah dalam’: jumlah penumpang lebih banyak dari kapasitas kapal dan tidak semuanya terdaftar (suatu masalah kronis dalam perhubungan Indonesia).

Sampai saat ini kita tidak punya ‘kuasa’ untuk mengurangi ketinggian gelombang dari 6 meter menjadi 1 meter agar perjalanan ferry mulus. Tetapi, pola hidup manusia sebenarnya bisa mengurangi tingkat bencana alam. Sebab, banyak ketidakteraturan cuaca saat ini terjadi karena pemanasan global; dan pemanasan global terjadi karena ulah manusia yang mengekploitasi dan merusak alam ini dengan penebangan hutan, polusi kendaraan dan industri, konsumsi berlebihan dan lain-lain.

Mungkin kita sedang mengamban tanggung jawab untuk kesejahteraan dan keselamatan orang lain karena kita bekerja di bidang pengangkutan darat, laut, atau udara. Mungkin kita bekerja dalam lingkungan produksi makanan, pedagang, di rumah sakit dan di mana pun. Di situlah Tuhan memakai kita untuk kebaikan orang lain, bukan menambah masalah apalagi membuat musibah.

ShoutMix chat widget