Sunday, March 29, 2009

TRANSFORMATION LEADERSHIP[1]


REFLEKSI SENIN KE-14, 2009: 30/3


Saat ini istilah “transformation leadership” digunakan secara luas oleh hampir semua kalangan seperti organisasi, korporasi hingga kekristenan. Kita menemukan begitu banyak literatur dan website yang membahas tema ini dengan pengertian yang beraneka ragam pula.[2] Di kalangan Kristen sendiri pun tidak ada kesepakatan dalam penggunaan istilah ‘leadership’. Ada yang menggunakan istilah transformation servanthood karena dianggap lebih Alkitabiah.

Perbedaan-perbedaan tersebut tidak akan dibahas di sini. Cukup ditegaskan di sini dua hal. Pertama, istilah apa pun yang digunakan --“leadership” atau “servanthood”—yang terpenting adalah maknanya yang merujuk pada ‘fungsi pelayanan’, bukan sebagai ‘posisi’ --apalagi berkaitan dengan masalah ‘gengsi’. Kedua, kekristenan hendaknya tidak begitu saja mengadopsi pengertian, esensi dan cara-cara yang digunakan oleh dunia sekuler berkaitan dengan transformation leadership khsusnya menyangkut subjek (siapa pemeran utama) dan mengukur sukses. Bagi orang Kristen, “Subjek” adalah Allah sendiri; indikator ‘sukses’ sebuah kepemimpinan tidak ditakar dengan kalkulator; kebenaran lebih penting dari pada performance (yang amat kental dalam organisasi sekuler).

Berikut ini ada empat hal pokok berkaitan dengan ‘transformation leadership’ dalam konteks kehidupan bergereja, yakni: (1) Esensi Kepemimpinan Kristen, (2) Pemimpin yang bagaimana, (3) Bagaimana memimpin, (4) Mengalahkan Pencobaan

1. ESENSI KEPEMIMPINAN KRISTEN

Jabatan gerejawi dalam Perjanjian Baru berintikan:
– Sebagai pelayanan bukan kedudukan yang lebih tinggi
– Pemegang jabatan adalah hamba, bukan tuan
– Terutama dalam pengertian fungsi bukan posisi
– Menekankan kualitas kehidupan bukan terutama soal keahlian

Dalam kaitan itu dapat ditekankan hal-hal berikut:

(1) Jabatan gerejawi atau tugas kepemimpinan adalah terutama pemberian Tuhan, bukan “pencapaian”, baik melalui pendidikan formal maupun keahlian yang lahir dari pengalaman, walaupun semuanya itu penting. Para pemimpin yang disebut di dalam Alkitab lebih menekankan peranan ‘hati’ ketimbang keahlian dan pengalaman.
(2) Pelayanan adalah ‘keikutsertaan’, bukan pengalihan dari Yesus. Ia tidak pernah melakukan “serah terima” kepada para murid-Nya dan kita. Ia tetap Pemilik pelayanan dan para pelayan. Ia berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman (Mat 28:20).
(3) Tanpa kita pun, Kerajaan Allah tetetap dapat berjalan. Keasadaran seperti ini merupakan dasar kokoh pentingnya kerendahan hati kita.

Berkaitan dengan itu, 10 prinsip pelayanan sebagaimana disebutkan Warren Wiersbe berikut ini amat penting kita renungkan:

Dasar pelayanan adalah Karakter
Sifat pelayanan adalah Pengabdian
Motif pelayanan adalah Kasih
Ukuran pelayanan adalah Pengorbanan
Kekuatan pelayanan adalah Penyerahan diri
Tujuan pelayanan adalah Kemuliaan Allah
Perangkat-perangkat pelayanan adalah Firman Tuhan dan Doa
‘Hasil’ pelayanan adalah Pertumbuhan
Kuasa pelayanan adalah Roh Kudus
Model pelayanan adalah Kristus

2. PEMIMPIN YANG BAGAIMANA

Salah satu yang sangat mendasar dalam kepemimpinan Kristen adalah ‘panggilan’ Tuhan. Hanya dengan demikian seorang pemimpin dapat memiliki visi dan misi dari Yesus. Jika tidak, pemimpin hanyalah menciptakan visi dan misinya sendiri.

Kita tidak memiliki visi dan misi dari diri kita sendiri. Visi Alkitabiah adalah hadirnya Kerajaan Allah yang berisikan syalom, kebahagiaan, kebenaran, keadilan. Seiring dengan itu, misi Tuhan Yesus yang di dalamnya Gereja dan orang-orang percaya terlibat adalah “memberitakan Injil” dalam kata dan perbuatan (Mat. 5:13 ; Luk 4: 18-19; Mrk 16:15). Di kemudian hari, Gereja merumuskan apa yang disebut dengan Tritugas Panggilan Gereja yang juga berlaku hingga hari ini, yaitu: Koinonia, Marturia, Diakonia.

Tema “Jemaat Misioner” sudah lama diperdengarkan di kalangan gereja-gereja Reformasi, yang intinya bahwa setiap orang percaya adalah “misionaris” melalui kata, sikap dan perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari di mana pun ia berada. Hal ini sejalan dengan apa yang ditekankan dalam Efesus 4:11-12. Yesus memberi: Rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, pengajar-pengajar, yang tugasnya adalah memperlengkapi orang-orang kudus (=setiap orang percaya). Orang percya yang diperlengkapi ini bertugas untuk melayani untuk pembangunan tubuh Kristus. Jadi, semua orang percaya adalah ‘pelayan’. Untuk mengemban missi tersebut, para pemimpin/ pelayan Gereja membutuhkan sedikitnya empat hal berikut:

(1) Spiritualitas yang tangguh

Seorang ‘transformational leader’ adalah pertama dan terutama yang mengalami metamorfose (transformasi). Berikut ini ada beberapa bagian firman Tuhan:

►Yohanes 15:4: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Perubahan hidup kita hanya bisa terjadi ketika undangan Yesus ini kita terima dengan iman, sukacita dan kerendahan hati. Dengan demikian, kitalah menyesuaikan diri dengan kehendak Kristus, bukan Kristus menyesuaikan diri dengan kehendak kita.

►Yeremia 18:6 “seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku”. Kita harus selalu siap dibentuk oleh Tuhan. Kita percaya bahwa rancanganNya adalah rancangan yang baik untuk kita.

►Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”

Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata ‘berubah’ di sini adalah metamorfose (transformasi) yang menunjukkan suatu perubahan kualitas. (Istilah biologi untuk perubahan kepongpong menjadi kupu-kupu juga menggunakan kata ‘metamorfose”.) Jadi, manusia yang mengalami metamorfose adalah perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru di dalam Kristus.

►2 Kor. 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

►Galatia 2:20 “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Berdasarkan firman Tuhan di atas, transformation leadership dapat diartikan sebagai:
“Pemimpin yang mengalami “metamorfose”/ transformasi oleh kasih Kristus
dan melakukan pembaharuan seturut kehendak Kristus dalam pelayanan yang Ia percayakan”


(2) Karakter

‘Karakter” adalah siapa kita di tempat tersembunyi atau di luar pantauan orang. Pikiran dan perbuatan kita terutama ‘antara Dia (Tuhan) dan aku’. Kita tidak berbuat baik supaya menerima kebaikan, ucapan terima kasih atau pujian manusia.

Dalam Kis. 6:3 disebutkan kaulitas seorang yang melayani di jemaat yakni: terkenal baik, penuh Roh, berhikmat. Lebih rinci dalam 1 Timotius 3:1-7 Rasul Paulus mendaftarkan kualitas yang diharapkan dari seorang pelayan yaitu: tak bercacat, monogami, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya, jangan seorang yang baru bertobat, mempunyai nama baik di luar jemaat.

(3) Integritas

Integritas adalah menyatunya iman, kata dan perbuatan. Pemimpin kristiani tidak dapat mengandalkan teori-teori psikologis dan teknik-teknik berkomunikasi (walaupun keduanya diperlukan) dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, tetapi berakar kuat pada firman Tuhan. Dalam Gal. 5:22-23 disebutkan ‘buah-buah Roh’ yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan dan penguasaan diri. Pelayan yang memiliki Spirit-controled temperament!

Untuk hadirnya buah-buah Roh dalam diri kita, maka kita harus membuang segala yang merusak kita dan yang menghalangi Roh berkarya dalam diri kita, di antaranya: sakit hati, kemarahan, kebencian, kekuatiran, kerakusan dan kesombongan.

(4) Keterampilan

Keterampilan di sini mencakup: (1) Kreativitas atau daya cipta yang mendukung terhadap pelayanan. Dalam hal ini seorang pemimpin lebih baik menggunakan yang ada ketimbang menangisi yang sudah tidak ada atau menguatirkan yang belum ada. (2) Memiliki kecerdasan interaksi atau kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan sesama. (3) Kemampuan berkomunikasi secara efektif. (Perlu dicatat bahwa teknik berkomunikasi tidak menjamin hubungan baik). Salah satu ciri komunikator yang baik adalah “mengetahui lebih banyak dari apa yang ia katakan, bukan mengatakan lebih banyak dari yang diketahuinya”

3. BAGAIMANA MEMIMPIN

(1) Memimpin dalam nama Yesus. Pola utama Yesus adalah:

  • Pengaruh bukan kontrol. Ia memanggil orang mengikut Dia, mengundang untuk menentukan pilihan.
  • Penggunaan kuasa: terpusat pada kebutuhan orang lain.
  • Membatalkan hak-haknya dan melayani.
  • Tidak memperkuat kekuasaan pemimpin tetapi membebaskan umat agar memberi diri mereka untuk kebaikan orang yang lain.

(2) Pendelegasian tugas tanpa mengabaikan tanggung jawab (cth. ‘manajemen’ Yitro dalam Keluaran 18:13-27).

(3) Menolak “kekurangan orang” tetapi mengasihi dan menghargai “orangnya” (Bnd. Zakheus: Yesus memebenci dosa tetapi mengasihi Zakheus).
(4) Menerima dan memberi kritik dengan bijaksana. “Kritik, Yes!; Tukang Kritik, No!”[3]
(5) Proses dan tujuan sama-sama penting. Hal ini dapat digambarkan seperti sebuah nasihat berlalu-lintas di salah satu daerah di Sulawesi, “Lebih baik lambat sampai ke rumah dari pada cepat masuk rumah sakit”. Dalam pelayanan di Gereja kita membutuhkan kesabaran.
(6) Memadukan integrasi dan dominasi positif secara seimbang. Integrasi mengandung sikap menghargai, rasa empati dan semangat kebersamaan. Dominasi positif mengandung sikap: konsekuen, kesediaan menggambarkan dengan argumen yang baik, teguh dalam prinsip tetapi luwes dalam bertindak.
(7) Mengambil keputusan dengan pimpinan Roh. Belajar dari para rasul dalam pengambilan keputusan: “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami,…” (Kis. 15).
(8) Finishing Well. Banyak pemimpin yang disebutkan di dalam Alkitab, para pemimpin dunia dan para pemimpin atau pelayan gereja yang tidak finishing well. Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menjalankan tugas pelayanan dan finishing well.

4. MENGALAHKAN PENCOBAAN

Yesus sudah mengalahkan pencobaan: menjadi relevan, menjadi hebat, berkuasa menurut ukuran dunia (bnd. Luk. 4:1-13). Bersama Ia pula kita mampu mengalahkan pencobaan yang terus mengitari kita.

(1) Tidak mencari ‘pengakuan’, memberi kesan, atau menjadi hebat. Pemimpin gerejawi adalah bagaikan ‘bejana tanah liat’ (seperti digambarkan oleh Paulus), bukan selebriti.
(2) Kita ‘membawa’ orang kepada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri. Kita mempromosikan Kerajaan Allah, bukan diri kita.
(3) Melepas beban yang tidak perlu dan non-salib dengan memaksa diri melakukan semua hal. Terlalu banyak kerja, hilangnya sukacita, pudarnya semangat atas nama ‘pelayanan’ bukanlah tanda-tanda hidup di dalam Roh.
(4) Bebas dari dua ekstrim: mengorbankan (memanfaatkan) Gereja untuk ‘altar’ keluarga atau mengorbankan (mengabaikan) keluarga untuk ‘altar’ gereja. Memanfaatkan gereja untuk ‘altar’ keluarga bisa saja mewujud mulai dari bentuknya yang paling halus seperti mendapat ‘medali’, pengakuan, hingga kemewahan materi. Sementara mengorbankan keluarga untuk ‘altar’ gereja tidak saja bisa menimpa para keluarga pelayan fulltimer dengan mengabaikan persekutuan dalam keluarganya karena terlalu sibuk atas nama pelayanan, tetapi bisa juga menjangkiti para aktivis gereja yang mengorbankan seluruh waktu yang tersisa dari pekerjaan sehari-hari untuk pelayanan dan mengabaikan keluarga.
(5) Bebas kekerasan dan pemaksaan, mulai dari pikiran, perkataan hingga tindakan.
(6) Konflik yang tidak terhindarkan, Yes!; Bermusuhan dan saling terkam, No! Orang yang dibaharui oleh Kristus tahu persis bagaimana menangani konflik secara dewasa.

Bagaimana kita dapat dikuatkan mengalahkan pencobaan? Kita hanya dapat mengalahkannya bersama Kristsus yang sudah berhasil mengalahkan semua godaan tersebut. Dalam hal ini kita perlu mengembangkan disiplin rohani: doa, kontemplasi, dan meditasi. Mendisiplinkan diri berdiam diri, melakukana kontemplasi dan meditasi serta menghidupi prinsip-prinsip mendasar spiritual seperti menghindari diri dari kesombongan, mengembangkan kerendahan hati dan mengasihi Allah melebihi segalanya, amat kentara keabsenannya saat ini. Ketika bagian diri kita yang terdalam –jiwa, hati dan pikiran kita—dikunjungi dan didiami oleh Allah, maka transformasi dan pembaharuan Gereja dan perubahan-perubahan revolusioner di dunia ini akan terjadi.

SIAPA YANG MAMPU?

Melihat uraian di atas, kita bisa saja tergoda setengah menggugat: siapa yang mampu? Perasaan tidak layak untuk tugas kepemimpinan/ pelayanan bisa saja memenuhi pikiran kita. Kita tidak sendirian dalam hal ini. Ada juga dari antara para pemimpin yang dipanggil oleh Allah sebagaimana disebut di dalam Alkitab merasakan hal yang sama. Musa, Yeremia, Amos dan lain-lain juga pernah merasakannya. Keasadaran seperti itu sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk bagi kita untuk mengenal betapa besar kasih dan rahmat Tuhan yang memperlengkapi kita. Kita memang tidak layak. Kita dilayakkan. Pada akhirnya, kita dapat dengan rendah hati mengaku bersama Paulus:

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Korintus 3:5).

Ya, kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah.

Untuk mengakhirinya, berikut adalah cerita sebagaimana dicatat oleh Anthoni de Mello yang kiranya dapat meneguhkan kita untuk pertama merelakan diri ditransformasi oleh Tuhan:

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini:

Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa:
“Tuhan berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia”

Ketika aku sudah setengah baya dan sadar bahwa setengah
hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun,
aku mengubah doaku menjadi:
“Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang
berhubungan denganku:
keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas”.

Sekarang ketika aku sudah menjadi tua
dan saat ajal sudah dekat,
aku mulai melihat betapa bodohnya aku.
Doaku satu-satunya sekarang adalah:
“Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri”.
Seandainya sejak semula aku berdoa demikian, maka aku tidak begitu
menyia-nyiakan hidupku



[1] Sebelumnya pernah disampaikan pada “Pembinaan Leadership Majelis Jemaat dan Pengurus Komisi” Gereja Presbyterian Orchard, Singapura, 14 Maret 2009, oleh Pdt Victor Tinambunan
[2] Dalam pengertian umum ‘transformation leadership’ merupakan suatu gaya kepemimpinan yang menekankan kerja sama dimana para pemimpin dan para pengikut atau anggota saling membangun. Transformation leadership fokus pada ‘pentransformasian’ orang lain untuk saling menolong satu sama lain, saling memperhatikan, saling meneguhkan, hidup dalam keharmonisan, dan mengutamakan kepentingan organisasi.
[3] Uraian selengkapnya tentang topik “Kritik, Yes; Tukan Kritik, No”, silahkan mengakses http://hkbps.com/?p=180

Monday, March 23, 2009

MENGATAKAN 'TIDAK'

REFLESI SENIN KE-13 2009: 23/03

Orang-orang yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang dirinya atau yang selalu sibuk memberi kesan kepada orang lain biasanya selalu berusaha untuk ‘menyenangkan’ orang lain. Mereka sangat sulit mengatakan ‘tidak’ atas sebuah permintaan karena mereka terus-menerus mengharapkan pengakuan orang lain. Mereka berpikir bahwa dengan mengatakan ‘ya’ kepada semua permintaan orang lain mereka akan mendapatkan apa yang mereka dambakan. Mereka pun menjadi sangat tegang hari demi hari memikirkan bagaimana supaya orang lain menyenangi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana untuk hidup rileks. Dari bangun tidur hingga berbaring pada malam hari pikiran mereka terus berkelana ke mana-mana. Mereka memikirkan apa yang membuat orang tidak senang akan apa yang sudah mereka katakan dan perbuat serta bagaimana membuat orang lain mendapat kesan baik tentang diri mereka. Di samping tidak sehat, prinsip ini bisa membuat hidup melarat dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Jika seseorang meminta sesuatu kepada Anda, jangan merasa bersalah, sungkan dan enggan mengatakan ‘tidak’. Anda dapat mengatakan ‘tidak’ tanpa harus merusak diri dan hubungan baik Anda dengan orang yang meminta. Katakan ‘tidak’ terhadap suatu permintaan jika:

(1) Anda tidak mampu melakukannya. Jangan memaksa diri. Hasilnya tidak baik, untuk Anda sendiri dan kepada yang meminta. Ini tidak saja yang berkaitan dengan ‘materi’ tetapi juga yang bersifat non-material, seperti nasihat atau jawaban atas suatu pertanyaan. Misalnya, jangan Anda coba-coba memberi nasihat menangani suatu penyakit, yang sama sekali Anda tidak tahu tentang penyakit tersebut. Akibatnya bisa fatal. Anda juga jangan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar doktrin Kristen jika Anda tidak mengetahuinya. Itu tidak akan menjernihkan pemahaman, malah bisa kian membingungkan hingga menyesatkan orang lain. Lebih baik mengatakan ‘tidak’ ketimbang Anda berusaha memberi kesan seolah-olah Anda 'mahatahu' padahal tidak tahu.

(2) Permintaan yang tidak masuk akal atau yang bisa merusak yang bersangkutan. Bayangkan anak Anda yang berusia tujuh tahun meminta sebuah pedang panjang untuk dijadikan mainannya. Permintaan itu tidak muncul dari akal sehat. Mungkin ia pernah melihatnya dalam sebuah film dan ia menginginkannya. Jika Anda memberikannya, Anda secara tidak langsung melukainya bahkan membunuhnya atau membantunya melukai orang lain. Atau, ada seseorang yang meminta uang kepada Anda untuk membeli rokok. Jika Anda bersikap bijaksana, Anda tidak akan memberikannya. Dengan memberikannya, Anda membantunya merusak kesehatannya bahkan melakukan 'bunuh diri kredit'. Sebagai gantinya Anda dapat memberikan jus yang berguna untuk kesehatan tubuhnya.

Memang ada kalanya kita tidak perlu terlalu jauh mengomentari permintaan orang lain. Anthoni de Mello pernah menuliskan sebuah ilustrasi yang intinya kira-kira begini. Seorang pemilik gajah meminta uang kepada seseorang untuk kebutuhan pemeliharaan gajahnya. “Jika engkau tidak mampu memelihara gajah mengapa engkau memeliharanya?”, katanya. Si pemilik gajah menjawab, “Yang saya minta adalah uang, bukan khotbah atau nasihat.” Ya, jangan sampai orang minta nasi justru nasihat yang kita beri; orang meminta sembako justru pidato yang muncul.

(3) Jika yang diminta untuk pementingan diri yang meminta. Ada pasangan suami istri yang bertengkar dengan tetangganya soal batas tanah. Anak-anak mereka ‘berhasil’ di perantauan dan pasangan suami istri ini sering membanggakan (bahkan terkadang menyombongkan) keberhasilan anak-anaknya. Tetangganya pun membencinya karena kesombongannya, apalagi setelah mendengar perkataan suami istri tersebut bahwa anak-anak mereka pasti akan memberikan uang kepadanya dan mereka pasti menang di pengadilan. Benar, pasangan suami-istri tersebut meminta bantuan anak-anaknya untuk menyediakan dana yang akan mereka gunakan untuk berperkara di pengadilan. Tetapi, anak-anak mereka bersepakat tidak akan memberikan uang. Mereka mau membantu agar orangtua mereka berdamai dengan tetangganya.

(4) Jika yang diminta mengorbankan kebenaran. Bagi sebagian orang, mengatakan ‘tidak’ kepada permintaan orang lain yang kelihatannya ‘baik’ (padahal tidak baik) atau yang jelas-jelas tidak baik terkadang amat sulit. Misalnya, karena kedekatan dengan orang lain seseorang merasa sungkan mengatakan ‘tidak’. Ia rela (atau lebih tepatnya ‘tega’) mengorbankan ‘kebenaran’ demi hubungan. Bagaimana memelihara hubungan baik tanpa mengorbankan kebenaran? Memang sulit. Tetapi jika harus memilih, ‘hubungan pertemanan’ harus kita belakangkan. Tidak berarti kita menjadi bermusuhan dengan mereka. Kita mesti tetap mengasihi orang lain meskipun kita menolak perilakunya yang buruk atau pendapatnya yang keliru.

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan:
tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat

(Mat. 5:37).

Sunday, March 15, 2009

MASALAH 'TRIANGULATION' DALAM KOMUNIKASI

REFLEKSI SENIN KE-12 2009: 16/3

Kita semua pasti pernah termasuk dalam suatu 'jaringan' triangulation, entah sebagai pihak pertama, pihak kedua, pihak ketiga atau malah perpaduan ketiganya. Triangulation adalah tindakan menyampaikan keluhan atas diri seseorang kepada pihak ketiga, bukan kepada yang bersangkutan secara langsung. Ini terjadi karena seseorang terlalu kuatir menyampaikan langsung kepada yang bersangkutan, takut akan kemungkinan reaksi yang tidak menyenangkan. Atau, bisa juga karena hal ini sudah merupakan ‘hobbi’. Padahal, melakukan triangulation dapat memicu beredarnya gossip dan rumor. Triangulation juga dapat menimbulkan konflik dan bahkan bisa menimbulkan kekacauan yang tidak terkendali.

Untuk memudahkan membedakan ketiga pihak dalam sebuah proses triangulation dapat disingkat dengan P1, P2, dan P3. P1 adalah sasaran keluhan, P2 adalah yang mengeluhkan P1; dan P3 adalah perantara P1 dan P2. Berikut ini ada empat saran praktis:[1]

1. Hindari Triangulation

Kita perlu mengindari triangulation dalam komunitas kerja, jemaat, dan keluarga. Jika Anda mempunyai masalah dengan seseorang (P1), bicaralah secara langsung kepada yang bersangkutan. Dalam konteks triangulation yang perlu dihindari, berikut ini ada beberapa hal yang kiranya dapat Anda pertimbangkan:
  • Dalam kehidupan sehari-hari hindari terlalu banyak mengeluh dan mempercakapkan hal-hal sepele secara mendalam.
  • Temuilah yang bersangkutan dalam semangat kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan itu sendiri akan mempengaruhi kata-kata dan cara Anda.
  • Carilah waktu dan situasi yang lebih tepat.
  • Mohonlah hikmat kepada Tuhan untuk memperlengkapi Anda untuk menyampaikan isi hati Anda.
  • Jika yang Anda sampaikan berkaitan dengan sebuah kritik, pilihlah kata-kata yang lebih konstruktif bukan ofensif. Misalnya, jika Anda mau membicarakan sifatnya yang pemarah atau pemberang, jangan katakan, “Saya sangat membencimu, karena engkau pemarah”. Katakan dengan tulus, “saya akan sangat menghargai dan berterima kasih jika engkau lebih lemah-lembut dalam bersikap dan berkata-kata!” Isi pesannya sama, tetapi yang kedua lebih meneguhkan dan membuka jalan untuk sebuah perubahan tanpa mengorbankan kebenaran dan persahabatan.

Dalam konteks kehidupan berjemaat, firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Matius 18:15-17 menjadi pedoman kita:

Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.

2. Menghadapi Triangulation Dengan Kasih

Jika seorang P3 menjumpai Anda dan mengatakan, “banyak orang mengeluhkan” atau “ada seseorang yang meminta saya menyampaikan keluhannya tentang Anda”, dengarkanlah dengan sepenuh hati. Kemudian, lanjutkan dengan menanyakan nama-nama (P2) yang dimaksudkan. Sekiranya seseorang itu tidak memberitahukan namanya, Anda tidak perlu bereaksi berlebihan atau bersikap ofensif dan defensif. Anda cukup merenungkannya dan memperbaiki diri jika benar atau melupakannya jika yang dikeluhkan tidak benar.

Jika seseorang memberitahukan nama yang melakukan triangulation terhadap diri Anda, bicaralah secara langsung kepada yang bersangkutan. Tanyakanlah mengapa dia segan atau takut berbicara kepada Anda. Dan yang terpenting adalah Anda memasuki inti masalah dengan kasih persaudaraan. Jika apa yang dikeluhkan tentang diri Anda benar, maka Anda perlu mengekspresikan rasa terima kasih Anda kepada yang bersangkutan yang menolong Anda memperbaiki kelemahan. Jika apa yang dikeluhkan seseorang itu tidak benar, Anda dapat memberi penjelasan secukupnya tanpa menyerang atau memarahi.

3. Memikul Tanggung Jawab

Jika seorang P2 datang kepada Anda dan meminta Anda sebagai pihak ketiga (P3) dalam sebuah triangulation, Anda dapat mendorongnya untuk berbicara langsung kepada yang bersngkutan (P1). Sekiranya seseorang(P2) itu tetap tidak mau atau belum mampu menyampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan, padahal apa yang dikeluhkannya benar dan sangat perlu diketahui yang bersangkutan, Anda dapat mengambil inisiatif menyampaikannya kepada P1. Bukan lagi terutama karena ada orang (P2) yang menyampaikannya kepada Anda, tetapi karena Anda sendiri menyadari bahwa masalah itu perlu disampaikan. Sebelum menyampaikannya kepada yang bersangkutan (P1), Anda mesti pertama sekali ‘menyampaikannya’ kepada Tuhan melalui doa Anda. Mintalah hikmat kepada Tuhan agar ‘misi’ Anda bertemu kepada yang bersangkutan dipimpin oleh Tuhan sendiri.

4. Triangulation yang dibenarkan

Barangkali triangulation yang dibenarkan adalah berkaitan dengan kehidupan berbangsa atau berorganisasi berskala besar, di mana masyarakat atau anggota suatu organisasi tidak memiliki akses langsung kepada para pemimpin selain menyampaikannya melalui jalur perwakilan atau melalui media massa. Dalam hal ini hendaknyalah semua pihak mengutamakan penyelesaian masalah tanpa menambah atau memperparah masalah. Itu bisa terjadi jika semua pihak mengedepankan semangat kehidupan yang lebih baik untuk semua dan dalam koridor kebenaran.
***

[1] Uraian singkat tentang topik ini lihat The Lutheran Handbook for Pastor, (Minneapolis: Augsburg Fortress, 2006), 130-131.

Saturday, March 7, 2009

SENI MENDENGARKAN

REFLEKSI SENIN KE-11 2009
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar,
itulah kebodohan dan kecelaannya
(Amsal 18:13)

Allah adalah komunikator terbaik di dunia, sedihnya,
kita adalah pendengar-pendengar terburuk di dunia
(Jimmy Setiawan)

Kita dapat membedakan sedikitnya empat tipe pendengar[1] yang kiranya berguna bagi kita sebagai wahana refleksi diri untuk pada akhirnya dapatmenjadi seorang pendengar aktif.

Tipe 1: Bukan Pendengar

Tipe ini merupakan tipe pendengar yang paling rendah. Suara atau informasi amat jelas tetapi penerima tidak mendengarkan. Ada dua kemungkinan utama seseorang masuk dalam tipe ini. Pertama, sibuk dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Kedua, tidak tertarik pada apa yang dikatakan si pembicara.

Ciri-ciri tipe bukan pendengar nampak melalui: (1) Pandangan mata yang kosong dan gerak-gerik yang tidak tenang atau malah tidak bergerak sama sekali. (2) Terus menerus memotong pembicaraan orang. (4) Selalu mengatakan kata terakhir. Apa yang sudah dikatakan orang lain seolah tidak ada arti apa-apa. (4) Tidak peka memahami keadaan orang dan situasi.

Ada orang yang kelihatan seperti berdialog, tetapi mereka sebenarnya berbicara kepada diri sendiri. Misalnya seseorang sedang asyik membicarakan tentang anaknya yang sangat pintar dan teman berbicara juga bercerita tentang anaknya yang diterima di perguruan tinggi bergengsi. Kemudian, pembicara pertama menyambung (bahkan memotong pembicaraan) dengan memberitahukan bahwa anaknya diterima bekerja di luar negeri. Demikianlah percakapan bisa berlangsung berjam-jam, dan masing-masing tidak (mau) tahu apa yang dikatakan oleh teman bicaranya karena masing-masing sibuk dengan pikiran dan diri sendiri.

Tipe 2: Pendengar Dangkal

Mengandaikan pesan itu terdiri dari verbal (kata-kata) dan non-verbal (misalnya raut wajah, intonasi kata-kata, tatapan mata, dan gerak-gerik), maka pendengar dangkal dicirikan: (1) Mendengar suara dan kata-kata tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan. (2) Tidak semua kata-kata ditangkap. (3) Tidak masuk lebih dalam kepada pesan yang disampaikan. (4) Mendengar hal-hal yang sepele dan menghindari percakapan serius. (5) Sama sekali tidak menangkap bahasa non-verbal.

Akibatnya, tanggapan yang disampaikan seseorang yang masuk dalam tipe ini akan meleset karena yang verbal saja tidak ditangkap secara lengkap. Bayangkan Anda menyampaikan pergumulan Anda kepada seseorang yang Anda anggap bisa menolong, tetapi ia sedang memikirkan pertemuan yang sangat penting yang harus ia hadiri segera. Ia terlihat hanya berbasa-basi berbicara dengan Anda karena ia sibuk memikirkan dirinya dan jadwal pertemuannya. Dalam hal ini, keadaan seseorang bisa mempengaruhi kemampuannya mendengarkan dengan baik.

Tipe 3: Pendengar Evaluatif

Pendengar evaluatif adalah orang yang mendengarkan dengan konsentrasi dan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan tipe 1 dan tipe 2 di atas.
Tipe ini berusaha mendengarkan apa yang dikatakan teman bicara tetapi belum sepenuhnya mengerti maksud si komunikator.

Pendengar tipe ini lebih menaruh perhatian pada isi dan kurang (atau sama sekali belum) memperhatikan perasaan komunikator. Ia tidak terlibat secara emosional dalam pembicaraan. Memang, tipe ini cakap merumuskan kembali isi percakapan tetapi tidak tahu sisi lain yang sebenarnya dapat ditangkap melalui nada suara, wajah, dan gerak-gerik. Singkatnya, ia tidak mampu menangkap rasa dibalik kata.

Godaan yang mungkin dialami tipe pendengar evaluatif ini adalah perasaan yakin bahwa dirinya mengerti orang yang berbicara dengannya. Dengan demikian, responnya justru biasa merusak hubungannya sendiri dengan rekan bicaranya karena dia membentuk pendapatnya sendiri atas maksud si komunikator.

Tipe 4: Pendengar Aktif

Tipe inilah yang memiliki kemampuan mendengarkan yang terbaik. Kita tergolong pendengar aktif jika kita mampu menahan diri untuk tidak menilai ucapan-ucapan orang yang berbicara. Kita harus melihat dan memahami sebuah pesan dari segi pandangan komunikator. Kita berusaha menahan perasaan dan pikiran kita untuk mendengarkan orang lain.

Di samping itu, kita tidak hanya memberi perhatian pada kata-kata yang diucapkan tetapi berusaha menjadi satu hati dengan si pembicara. Kita mau dan mampu memahami ‘rasa dibalik kata’. Dengan demikian kita pun akan mampu menangkap, memperhatikan dan menjawab dengan baik dan benar.

Lunandi menyebut tiga keterampilan pendengar aktif, yaitu:

1. Dapat menangkap, yaitu: mengenal dan menghargai maksud yang terucapkan lewat nada suara, raut wajah, dan gerak-gerik.
2. Memperhatikan: mampu menyampaikan pesan-pesan kepada si pembicara lewat suara, raut wajah, gerak-gerik yang menunjukkan perhatian dan bersedia menerima.
3. Menjawab dengan bijaksana dengan memberi tanggapan yang tepat terhadap maksud dan perasaan teman bicara, membantu agar teman bicara merasa enak dan bebas, tidak merasa terancam.

Ditabur Pada Tanah Yang Subur

Apa yang diuraikan di atas dapat juga kita hubungkan dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang “benih” yang jatuh pada empat jenis tanah sebagaimana tertulis dalam Matius 13:1-9. Sebenarnya perumpamaan ini tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi. Intinya sudah diberitahukan (ayat 19-23). Kita hanya perlu merenungkannya dalam kehidupan kita. Firman Tuhan terus diperdengarkan kepada kita, melalui bacaan Alkitab, khotbah, peristiwa kehidupan dan sebagainya. Dalam perumpamaan ini, yang masalah bukanlah ‘Penabur’ atau pemberitaan firman itu. Masalahnya adalah dalam diri si pendengar, yang di sini disebut empat tipe. Mungkin dalam kurun waktu tertentu kita bisa saja berpindah dari tipe pendengar yang satu ke tipe yang lain. Tetapi, atas pertolongan Tuhan sendiri kita bisa seperti ‘tanah yang baik’.

Pertama, yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Orang seperti ini bukan tuli secara jasmani, tetapi tuli secara rohani. Tipe pendengar “masuk telinga kanan keluar telinga kiri” masih sempat masuk ke kepala. Tetapi tipe pertama ini lebih parah dari itu: masuk telinga kanan keluar dari telinga kanan juga. Firman itu sama sekali tidak sempat berdiam apalagi bekerja dalam kehidupan si pendengar. Hal ini terjadi ketika yang mengendalikan hidup adalah hal-hal duniawi.

Kedua, pendengar dangkal. Mungkin dapat disebut tipe ‘semangat air soda’. Ketika dituangkan ke dalam gelas, busa air soda naik ke atas dan tidak lama kemudian buihnya habis. Dalam ayat 20-21 dikatakan, “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.” Mari kita perhatikan secara khusus kata-kata ‘segera menerimanya dengan gembira’. Baik? Ya. Masalahnya tidah bertahan lama. Mungkin ada kalanya kita begitu bersemangat ketika mendengar firman Tuhan, namun cepat memudar ketika penderitaan karena iman kita terkadang datang menghadang atau karena berbagai pencobaan yang kita alami.

Ketiga, semak duri. Pendengar firman tipe ketiga ini sedikit lebih lama bisa bertahan. Firman itu sempat tumbuh walaupun pada akhirnya terhimpit oleh dua penghimpit utama: (1) kekuatiran dunia dan (2) tipu daya kekayaan. Dalam Matius 6:25 Yesus sudah memperingatkan: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Kedua penghimpit ini masih terus kita hadapi hingga hari ini. Dan kita tahu betapa kekuatiran dunia dan dipu daya kekayaan itu begitu dahsyatnya menghalangi pertumbuhan iman kita. Perlu kita sadari bahwa kekuatiran tidak akan pernah memperbaiki masa depan, malah bisa menghancurkannya. Menjadi kaya bukanlah dosa sejauh (1) diperoleh dengan cara yang benar dan baik, (2) digunakan sesuai kehendak Tuhan, dan (3) tidak membuat kekayaan menjadi ilah.

Keempat, yang berbuah. Dalam ayat 23 dikatakan, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Terkadang penderitaan datang dan godaan bermunculan. Tetapi dengan pertolongan Tuhan kita dapat mengalahkannya. Firman Tuhan berbuah dalam hidup kita yang nampak antara lain melalui ucapan syukur, sukacita, kerelaan untuk saling menolong dan kesetiaan kepada Tuhan.

Kita perlu meluangkan waktu di hadapan Tuhan memeriksa pada tipe mana kita lebih sering berada. Kita juga memohon kiranya Tuhan menguatkan dan melayakkan kita menjadi tipe ‘tanah yang baik’, sehingga kita berbuah karena anugerah Tuhan. Yesus mengundang kita untuk tinggal di dalam Dia supaya kita berbuah lebat: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yohanes 15:4).

[1] Pembagian tipe sebagaimana disebutkan A.G. Lunandi, Komunikasi Mengena. Meningkatkan Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi (Yogyakarta: Kanisius).

Monday, March 2, 2009

SEKALI LAGI TENTANG "MEMADAMKAN AMARAH"


REFLEKSI SENIN KE-10 2009 - 02/03

Ada sebuah ungkapan yang amat mencerahkan seperti ini: Sebagian mahkluk hidup hanya dapat melihat pada siang hari. Sebagian lagi hanya dapat melihat pada malam hari. Tetapi, orang yang begitu kuat dikendalikan oleh amarah tidak dapat melihat siang maupun malam.

Dalam kehidupan keseharian kita menemukan berbagai cara bagaimana orang mengekspresikan amarahnya.
  • Ada orang yang gampang sekali tersulut amarah dan meledakkannya kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Dengan meledakkan amarahnya, mungkin ia merasa lega untuk sementara. Tetapi, yang marah dan sasaran amarah biasanya sama-sama terluka. Sebab, orang yang marah menyemburkan ‘racun’ yang menyakiti dirinya sendiri dan orang lain.
  • Ada yang suka menyimpan kemarahannya, tetapi mempengaruhi seluruh gerak hidupnya. Kata-katanya pahit dan sikapnya dingin. Dalam waktu yang lama tumpukan simpanan kemarahan bisa juga lebih dahsyat ‘ledakannya’.
  • Ada pula yang tidak mau marah kepada orang lain melainkan selalu memarahi atau menyalahkan diri sendiri, hingga membuatnya ‘makan hati’ atau sengsara sendiri.

Dalam Amsal 20:3 dikatakan, "Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan,
tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak
." Ini menegaskan sebuah perbedaan mencolok anatara ‘orang terhormat’ dan ‘orang bodoh’ berkaitan dengan penguasaan diri. Kiranya pilihan dan tekad kita sekarang menjadi orang terhormat (dengan menjauhi perbantahan) bukan orang bodoh (yang meledakkan amarah).

Jika ada yang marah kepada kita, kita perlu berusaha memahaminya sebaik-baiknya dan mengambil langkah bijaksana mengatasinya. Sedikitnya ada tiga kemungkinan penyulut amarah seseorang yang dapat kita sikapi dengan hati damai.

Pertama, mungkin kemarahan seseorang itu dipicu oleh kesalahan kita. Kita perlu memeriksa dengan seksama. Jika memang karena kesalahan kita, maka tugas kita untuk mengakuinya dan dengan kerelaan meminta maaf. Agar permintaan maaf kita sungguh-sungguh menyembuhkan, kita perlu mencari cara dan waktu terbaik untuk menyampaikan permintaan maaf. Ada kalanya seseorang itu tidak menerima permintaan maaf kita. Dalam keadaan seperti itu kita hendaknya memupuk kesabaran dalam suasana doa dan tidak jemu-jemunya mengusahakan perdamaian.

Kedua, mungkin kemarahan itu hanyalah akibat kesalah-pengertian. Dalam hal ini kita dapat memberi klarifikasi dengan cara-cara yang baik. Yang perlu diperhatikan dalam situasi ini, jangan sampai klarifikasi yang kita lakukan justru kian memperburuk keadaan.

Ketiga, mungkin kemarahan orang lain disebabkan oleh perasaan cemburu atau iri hati kepada kita. Tugas kita adalah menolong mereka dengan mengasihi mereka sepenuh hati. Kita tidak perlu membuktikan diri sebagai yang benar. Ada baiknya kita memeriksa sikap kita juga yang bisa saja membuat orang menjadi cemburu atau iri hati kepada kita. Jika kecemburuan dan iri hari tersebut sepenuhnya karena kelemahan seseorang itu (bukan karena kita sendiri), kita perlu menolongnya dalam berbagai cara yang dapat kita lakukan seperti mendoakan, menunjukkan sikap bersahabat, membantu mengembangkan talenta dan bakatnya, menghargai nilai-nilai positif dalam diri dan karyanya dan sebagainya.

Dengan sikap seperti itu kita sudah menghindari perpantahan tetapi mengusahakan persaudaraan yang diikat oleh kasih. Dunia ini dan hidup kita akan jauh lebih indah, bermartabat dan penuh damai ketika kemarahan digantikan dengan belas kasihan.

Thursday, February 26, 2009

SEMINAR HAGGAI INSTITUTE

Hari ini, Kamis 25 Pebruari 2009, Seminar Kepemimpinan yang diselenggarakan Ikatan Haggai Institute Indonesia di Singapura dimulai dengan Ibadah Pembukaan yang dipimpin oleh Pdt Petrus. Seminar ini akan berlangsung hingga Sabtu, 28 Pebruari. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 20 orang dari berbagai daerah di Indonesia (Jakarta, Medan, Riau, Batam) dan juga dari Singapura. Seminar serupa akan dilaksanakan di Singapura 28-30Mei 2009. Bapak, Ibu dan Saudara yang berhalangan mengikutinya kali ini, silahkan mengikuti seminar berikutnya. Kami akan dengan senang hati menyampaikan info seputar seminar dimaksud kepada Anda yang membutuhkan informasi lebih lanjut.

Pembicara kali ini adalah Christov Wiloto, Pdt Yusuf Gunawan, dan Pak Decky Lumentut

Peserta

James Tehubijuluw (Gereja Presbyterian)
Rita Kusmiaty
Eliakim Sitorus (HKBP)
Bpk. Wilyanto Deng
Bpk. Tjandra Lineng
Pak Audi Wuisang
Bp. Rudijanto Gunawan
Bp. Hantarto Tjandra
Pdt Rudi Sembiring (GBKP)
Ibu Diana Lie
Pak Indra Darmawan
Ibu Tima Warni Pangaribuan (HKBP)
Pak Bagio Tjandra
Pak Kelvin Wu
Pak Albertus Hendrawan Adiwahono
Pak Sigit Triyono
Pak Wissel P. Siregar (HKBP)
Bpk. Benhard Ambarita (Gereja Presbyterian)
Bapak Yulius Setiawan
Pak Godbless S.V. Lumentut

Susunan panitia:

Ketua : Pr Chandra Koewoso
Wakil Ketua : Pak Subakti
Resident Coordinator (RC) : Philips, Pak Petrus
Sekretaris : Minda
Bendahara : Pak Lee
Fund raising coordinator : Pak Subakti
Sie Acara : Chika, Pak Petrus
Sie Rekrutmen : Stevin
Sie Perlengkapan dan sie IT : Henry Palit
Sie Transportasi : Pak Subakti
Sie Doa : Pak Wisin
Sie Konsumsi : Ibu Novita, Chika
Sie Akomodasi (pembagian kamar) : Minda
Si Dokumentasi : Michael

Sunday, February 22, 2009

YANG ISTIMEWA DARI ORANG PERCAYA


REFLEKSI SENIN KE-9 2009


‘Hukum pemberian berbasalan setimpal’ tidak asing dalam kehidupan kita keseharian. Misalnya, kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Bagi sebagian orang mungkin hadiahnya pun diusahakan agar harganya kurang lebih sama dengan yang pernah diterima. Jika orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa jika kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA berikutnya diadakan di rumahnya. Kalau tidak, kita juga tidak datang mengikuti PA di rumahnya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”. Itu pula yang sudah lama terjadi bahkan pada zaman Yesus.

Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengar-Nya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas dalam teguran Yesus sebagaimana tertulis dalam Lukas 6:

· Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32)
· Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33)
· Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34)

Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat manusia. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......” Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka, apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, bagi sebagian orang untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!” “Itu belum setimpal dengan kesalahanmu”. “Kok tidak mati saja dia sekalian!” dan sebaginya.

Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...” Amat berat, tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan menjadi sahabat bagi semua orang. Kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan melahirkan perdamaian di dunia ini dan itu akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan, sekaligus untuk kedamaian hati dan kebahagiaan kita juga. Sebab, orang yang menyimpan kebencian tidak mungkin berbahagia.

Sedikitnya ada tiga hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita. Ketiga, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah (ayat 36). Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.

Monday, February 16, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU VIII 2009:16/02


JANGAN TAKUT

Kita dapat menemukan di dalam Alkitab sekitar 365 kali kata “jangan takut”. Hal ini seolah mengingatkan kita setiap kali bangun pagi selama setahun penuh (365 hari): “jangan takut!” Di samping itu, kita juga menemukan 138 kali kata “takut akan Tuhan” di dalam Alkitab. Tetapi, kata ‘takut’ dalam “jangan takut” dan “takut akan Tuhan” tidak sama. “Takut akan Tuhan” berkaitan dengan cara hidup seseorang yang selalu dekat dengan Tuhan dan hidup seturut kehendak-Nya.

Sikap dan keadaan orang ketika menghadapi apa yang ditakuti atau persoalan kehidupan biasanya adalah “tiga F”:

Fight: melawan atau menundukkan. Masalahnya, kalau yang ditakuti jauh lebih kuat, maka sekuat apa pun kita melawannya kita tetap menjadi korban. Kita kehabisan tenaga, bahkan kehabisan segala sesuatu.

Flee: melarikan diri. Banyak orang yang mengambil sikap seperti ini yang terkadang juga tidak menolong. Misalnya, karena takut bertengkar di rumah, ada yang merasa lebih baik melarikan diri. Tidak merasa senang dengan seseorang di gereja, pergi ke tempat lain. Padahal, tindakan seperti itu bisa saja memperburuk keadaan.

Frozen: Lumpuh dan tidak berdaya sebelum melakukan sesuatu. Langsung pasrah dan menyerah. Keadaan seperti ini makin mempermudah kita menjadi korban empuk.

Dalam menghadapi masalah kehidupan ini, biasanya kita juga masuk dalam salah satu keadaan di atas. Hal yang sama terjadi pada murid-murid yang sedang ditekan rasa takut (Baca Matius 14). Karena “hantu” begitu menguasai hati dan pikiran mereka, maka ketika Yesus menampakkan diri mereka menyangkaNya hantu. Dalam keadaan demikian, Yesus membuang ketakutan mereka dengan mengatakan, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Di sini Yesus memberikan yang paling mereka butuhkan, yakni: “ketenangan” ganti ‘ketakutan’. Yesus juga memberikannya kepada kita hingga hari ini.

Sebagai orang percaya, kita mesti menghadapi persoalan kehidupan dengan F yang keempat yakni Faith (iman). Artinya, kita harus mempercayakan diri pada pertolongan dan penyelenggaraan Tuhan. Kita sadar bahwa dari diri kita sendiri kita tidak mampu menjalani hidup ini. Kita juga tidak ahli menangani persoalan hidup kita. Yang menggembirakan kita ialah bahwa Tuhan lebih besar dari segala yang kita takuti di dunia ini. Dan, Ia selalu dekat dan bersedia mendengar dan menolong kita. Dalam Ratapan 3:57 dikatakan, “Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!" Kiranya, pengakuan seperti ini menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini.
.
Jika Tuhan bersama kita, tidak ada alasan kita untuk takut. Mata-Nya tertuju pada kita, tangan-Nya menjangkau kita, telinga-Nya terbuka terhadap doa-doa kita, anugerah-Nya cukup bagi kita dan janji-Nya tidak pernah berubah

Sunday, February 8, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU VII 2009: 09/02

MEMECAH KERAGUAN AKAN TUHAN


‘Keraguan’ amat mengganggu dalam kehidupan. Keraguan membuat kita melangkah dengan setengah hati atau dengan tujuan yang tak jelas. Keraguan membuat kita mempertanyakan apa yang sudah kita lakukan. Bahkan, keraguan dapat membuat kita putus asa. Saat ini, saya ingin mengajak kita secara khusus memberi perhatian pada pengalaman Yohanes Pembaptis dan kaitannya dengan kehidupan keseharian kita.
.
Dari dalam penjara, Yohanes menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Ada keraguan dalam diri Yohanes. Tetapi ia tidak mau tinggal dalam keraguan. Ia menginginkan kepastian dari Yesus. Check and recheck ada benarnya!
Ada apa dibalik munculnya ‘keraguan’ kita kepada Tuhan? Berdasarkan pengalaman Yohanes Pembaptis –dan mungkin saja terjadi bagi kita—sedikitnya ada tiga penyebab munculnya keraguan.
.
Pertama, keraguan muncul dari harapan yang tidak terpenuhi. Yohanes mengharapkan Yesus melakukan beberapa hal tetapi Yesus tidak melakukannya. Misalnya, Yohanes wajar saja mengharapkan Yesus menghukum mereka-mereka yang melakukan kejahatan. Yohanes sudah memberitakan sebelumnya apa yang akan Yesus lakukan: “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." (Mat 3:12). Padahal jelas-jelas Yohanes mendapat perlakuan tidak adil dari Herodes yang memenjarakannya (bahkan akhirnya kepalanya dipenggal atas permintaan Herodias). Herodes tetap berkuasa dan bertindak leluasa. Keraguan Yohanes pun muncul. Apakah ada harapan kita yang tidak terpenuhi yang membuat kita ragu akan kuasa Tuhan Yesus? Mohon luangkan waktu sejenak memikirkan hal ini dengan jernih......
.
Mungkin itu berkaitan dengan keadaan masyarakat, keadaan gereja, keadaan keluarga dan sebagainya. Kita mengharapkan Tuhan melakukan ini, tetapi yang terjadi adalah itu. Semuanya membuat kita ragu, apakah Tuhan benar-benar di sini, apakah Dia benar-benar berkuasa? Mohon teruskan perenungan Anda.
.
Kedua, keraguan muncul dari situasi-situasi sulit. Ketika kita berada dalam situasi sulit, emosi atau perasaan menguasai pikiran kita. Apa yang kita percayai diredupkan oleh perasaan kita. Yohanes, yang adalah hamba Tuhan, tidak bersalah apa-apa tetapi ia meringkuk di penjara. Itu adalah situasi sulit yang bisa menimbulkan keraguan. Ketika kita menghadapi keadaan sulit dan emosi kita tidak stabil, kita perlu membiasakan diri untuk tidak menghakimi diri kita, orang lain, bahkan Tuhan sendiri. Keadaan kurang tidur, stress, keadaan kurang sehat badan, bahkan keadaan menjelang atau masa haid (bagi perempuan) dapat mempengaruhi keadaan emosi kita yang sekaligus dapat menimbulkan keraguan terhadap apa yang kita sudah percayai dalam hubungan kita dengan Tuhan.
.
Ketiga, keraguan muncul dari kesombongan manusia. Yang satu ini tidak ada hubungannya dengan Yohanes Pembaptis. Tetapi kesombongan manusia selalu mengganggu hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini nampak dalam bentuk ‘rasa kasihan terhadap diri sendiri’ (self-pity) dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin Tuhan tidak peduli pada keadaan saya yang menderita seperti ini.” Ia bisa munacul melalui ‘pengagungan diri sendiri’ (self-glory): “Apa yang akan terjadi pada nama baik saya, apa kata orang nanti tentang saya dengan kenyataan ini?” Keraguan yang muncul dari kesombongan biasanya nampak dari perasaan dan kata-kata seperti: “Saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan”. “Saya mendapat apa yang tidak pantas saya terima”. “Bagaimana mungkin saya mengalami penderitaan ini padahal saya sebenarnya lebih baik dari kebanyakan orang?” Yesus menghendaki Yohanes Pembaptis dan kita untuk tidak ragu akan kedaulatanNya, meskipun semuanya tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
.
Ketika keraguan muncul, marilah kita bertanya kepada Tuhan, tidak mempertanyakan Tuhan dan terlarut dalam keadaan emosi kita, tidak dikuasai oleh situasi sulit dan kesombongan kita. Hidup kita pun akan tetap damai dan penuh sukacita, sebab Tuhan berkuasa.

Sunday, February 1, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU VI 2009: 02/02

USIA 40-AN: USIA KRISIS?



Banyak orang yang menyebut usia 40-an sebagai “usia krisis”. Beberapa alasan di balik pemahaman ini adalah sebagai berikut.

  • Muncul tanda-tanda penuan seperti tumbuhnya uban, keriput di wajah, bercak-becak hitam dan berbagai ‘noda’ yang tidak dikehendaki. Bagi sebagian orang ‘tumbuhnya uban’ dianggap sebagai ‘kiamat kecil’. (Mohon dicatat: ketika uban Anda mulai muncul, pakailah kesempatan itu bersyukur karena pemeliharaan Tuhan sekaligus bertanya, “apakah saya makin berhikmat?
  • Hasil medical check up menunjukkan adanya kelebihan kolestrol, asam urat, gula darah. Makanya ada pula yang tidak mau melakukan medical check up karena takut mengetahui penyakitnya.
  • Pernikahan diuji. Bagi sebagian pasangan, sikap kritis mulai mendominasi. Celakanya, ada pula yang sudah menikah lebih dari 15 tahun masih bertanya-tanya dalam hati, “jangan-jangan ini bukan jodoh saya. Padahal, anak-anaknya sudah remaja!
  • Seiring dengan meluasnya lingkaran keluarga, makin terbuka pula kemungkinan konflik. Beruntunglah kalau orangtua atau mertua tidak terlalu campur kepada keluarga anak-anaknya. Ketidakcocokan bisa terjadi kepada keluarga pihak istri atau suami.
  • Mengubah pekerjaan sudah jauh lebih sulit, meskipun kebutuhan keluarga melebihi penghasilan. Tanggungan meningkat: anak-anak, orangtua yang sudah lanjut usia, anggota keluarga dari pihaka suami dan istri.

Apakah masalah-masalah itu membenarkan label ‘usia krisis”? Sebenarnya, bagi orang Kristen tidak ada “usia krisis”. Setiap tahapan perjalanan hidup ada di tangan Tuhan.

Benar, kalau tahun bertambah, usia kita pasti bertambah juga. Kalau usia kita bertambah sesudah usia dewasa, akan banyak bula yang berkurang dari kita di samping hal-hal yang bertambah.

YANG BERKURANG SAAT USIA BERTAMBAH

Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Lupa di mana kunci diletakkan. Padahal, baru dia pegang. Tapi (anehnya) kesalahan orang 37 tahun lalu tetap diingat.

Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan boleh dimakan; sudah tua perut sudah malas mencerna. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.

Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.

Dalam Yes. 46:4 dengan sangat jelas dikatakan bagaimana Allah terus campur tangan, yaitu:

Mengendong : Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua.
Menanggung: Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.
Memikul dan Menyelamatkan: Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Keselamatan Tuhan sediakan dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.

Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.

YANG BERTAMBAH SAAT USIA MAKIN BERTAMBAH

(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.

(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu. Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh.

Idealnya, pertambahan usia seirama dengan pertumbuhan iman hingga mencapai kedewasaan iman. Kita juga menyaaksikan bahwa pertambahan usia juga sering diikuti dengan bertambahnya hikmat –sesuatu yang sangat penting dan ditekankan di dalam Alkitab. Apakah kita semakin berhikmat seiring dengan pertambahan usia? Apakah kita bertumbuh ke arah kedewasaan iman seiring dengan pertambahana usia? Semoga.


Monday, January 26, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU V 2009: 26/1

MELEPAS KELEKATAN
.
Anthoni de Mello mengartikan ‘kelekatan’ sebagai ketergantungan emosional yang disebabkan oleh keyakinan bahwa tanpa sesuatu atau pribadi tertentu seseorang tidak dapat bahagia. Pada kesempatan lain ia mencontohkan sisi gelap kelekatan sebagai berikut:

Diamlah sejenak untuk melihat bagaimana kelekatan membuat kering simfoni kehidupan anda. Itu pula yang terjadi pada para politisi karena kelekatannya pada kekuasaan, demikian juga pada para pengusaha karena kelekatannya pada uang. Kelekatan telah membuat mereka tidak peka terhadap melodi kehidupan.

Di antara sekian objek kelekatan manusia, di sini dapat disebutkan empat di antaranya.

Pertama, kelekatan kepada manusia. Ingatlah orang-orang yang kepadanya kita sangat tergantung. Kita begitu peduli kepada mereka sebab mereka menyenangkan hati kita, mereka memberi hadiah kepada kita, memuji kita, menolong dan menyemangati kita dan sebagainya. Apa yang biasanya kita sebut ‘kasih’ hanyalah merupakan ‘kelekatan’. Dengan ‘kelekatan’ kita tidak melihat dan memperlakukan orang sebagaimana adanya dan dengan demikian kita menciptakan berbagai harapan untuk mereka penuhi: mereka harus seperti ini, mereka harus melakukan itu dan sebagainya. Lalu ketika mereka tidak hidup sesuai dengan pikiran kita atau yang seharusnya mereka lakukan kita menyakiti, mengecewakan dan mempersalahkan mereka. .
Dengan kasih yang murni, kita peduli dan menolong orang lain dan menghendaki mereka berbahagia bukan karena mereka menyenangkan dengan memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi karena mereka ada sebagaimana mereka ada. Kita menerima orang lain sebagaimana adanya dan terus menolong mereka, tidak dengan mengharapkan apa yang menguntungkan kita dari hubungan itu bahkan yang paling halus sekali pun seperti ‘ucapan terima kasih’. Kasih yang murni tidak mengandung kecemburuan dan perasaan ingin memiliki apalagi menguasai orang lain.

Kedua, kelekatan pada prinsip baku dan kaku. Ada orang yang begitu melekat pada suatu prinsip hidup hingga membuatnya menjadi tertutup pada kebenaran. Keadaan demikian membuatnya semakin mengeraskan hati. Ini bisa terjadi atas dasar keyakinan yang keliru pada ajaran agama, ideologi suatu bangsa, kebudayaan, warisan keluarga dan lain sebagainya. Kelekatan-kelekatan seperti tidak jarang berujung pada perselisihan di tengah keluarga, masyarakat, bahkan dalam lingkungan agama. Dan yang paling menyedihkan kelekatan-kelekatan seperti itu justru melahirkan aneka bentuk peperangan, mulai dari perang urat saraf hingga perang dengan menggunakan pedang dan senapan.

Ketiga, kelekatan pada jabatan atau tempat. Hal ini tidak asing bagi kita. Perhatikanlah sekitar kita, ada begitu banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk tetap bertahan pada jabatan tertentu atau tempat tugas tertentu. Kelekatan seperti ini tidak selalu karena faktor ‘materi’ tetapi bisa juga karena faktor ‘gengsi’. Padahal, semangat menggenggam jabatan atau tempat tugas tertentu tidak pernah memberi kedamaian batin. Kecurigaan kepada orang lain yang dianggap mengambil jabatan tersebut biasanya tumbuh lebih subur. Hubungan dengan orang lain pun jadinya tidak akan sehat. Akhirnya, masa pensiun yang seharusnya suatu perayaan sukacita bisa berubah menjadi saat menegangkan yang mengakibatkan penderitaan batin dan fisik.
.
Keempat, kelekatan pada milik atau materi. Dalam pandangan umum, resep untuk kemajuan amat sederhana: semakin banyak mengkonsumsi, semakin bahagia. Kenyataannya, banyak orang yang semakin mudah mendapat barang-barang, tetapi semakin sulit mendapat kebahagiaan.

Psikolog Tim Kasser dan kawan-kawan telah menunjukkan bagaimana sikap orang yang lebih materialistik: orang yang mengartikan dan mengukur harga diri dengan uang dan harta yang dimiliki memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah. Ada korelasi antara peningkatan konsumsi dan berkurangnya kebahagiaan manusia, khususnya dalam hubungan-hubungan sosial. Hubungan mulai hilang ketika penghasilan bertambah. Sebaliknya, ada kecenderungan suatu peningkatan kepuasan hidup dengan income yang lebih rendah.

Kita menemukan di dalam Alkitab beberapa peringatan buruknya kekayaan. Dalam Amsal 23: 4 dikatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”. Kita juga mendapat peringatan di dalam 1 Tim 6:9 yang mengatakan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Apakah menjadi kaya secara material sebagai sesuatu yang buruk atau dosa? Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat disederhanakan cukup dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’. Sebab, menjadi kaya tidak salah pada dirinya sendiri. Sedikitnya ada tiga pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab dalam hal ini. Pertama, apakah kekayaan itu diperoleh seturut dengan kehendak Tuhan (bukan dicuri atau dikorupsi, bukan dengan jalan mengorbankan bawahan atau karyawan, bukan dengan merusak alam ciptaan Tuhan dan sebagainya). Kedua, apakah kekayaan itu digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain? Ketiga, apakah hati kita melekat pada Tuhan, bukan melekat atau mengandalkan apa yang kita miliki? Jika kita dapat memberi jawaban ‘ya’ pada pertanyaan-pertanyaan ini, 'selamat menjalani hidup kaya!'

.Ketika seseorang melepaskan kelekatan, ia sekaligus melepaskan semua kekuatiran. Seruan ‘jangan takut’ atau ‘jangan kuatir’ memenuhi halaman-halaman kitab suci dan tulisan papra mistikus. Sebab kecemasan atau kekuatiran adalah bentuk halus dari kelekatan.

Monday, January 19, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU IV 2009: 19/01

HUBUNGAN KEHIDUPAN BERGEREJA DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Berbicara tentang hubungan kehidupan bergereja dengan kehidupan sehari-hari, sedikitnya ada lima kelompok orang:

(1) Orang yang tidak perduli terhadap kehidupan bergereja (tidak hadir dalam ibadah Minggu dan PA, tidak mau membaca Alkitab dan berdoa) dan hidupnya sehari-hari pun penuh dengan kebiasaan buruk bahkan tidak bermoral.
(2) Orang yang rajin ke gereja, tidak pernah absen di perkumpulan PA, berdoa setiap kali mau makan, tetapi seolah-olah tidak ada pengaruhnya yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Karakter buruk tetap melekat, seperti suka marah bahkan berang, memendam dendam, melakukan korupsi, pergi kepada dukun dan lain-lain.
(3) Tidak rajin ke gereja dan tidak banyak tahu tentang isi Alkitab, tetapi dalam hidup sehari-hari ia hidup baik, jujur, ramah, bekerja dengan sungguh-sungguh, suka menolong sesama manusia.
(4) Sesekali pergi ke gereja dan hidup biasa-biasa saja, tidak terlalu jahat dan tidak baik sekali. Sungkan menghujat Allah tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tidak mau mengganggu orang lain, tetapi juga tidak bersedia menolong sesama.
(5) Rajin dan terlibat aktif dalam seluruh kehidupan bergereja, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama-sama dan itu juga terpancar dalam hidupnya sehari-hari dalam berbagai perbuatan baik.

Kita boleh melihat di kelompok mana kita dan keluarga kita masing-masing berada. Yang ideal memang adalah nomor 5 ini.

Ibrani 10:24 berbicara tentang hubungan iman dan ibadah dengan kehidupan keseharian: “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. Ayat ini mesti dilihat sebagai satu kesatuan mulai dari ayat 19 yang menegaskan bahwa Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudusNya, menjadi anggota keluarga Allah.

Bertolak dari karya Kristus yang begitu besar dan menentukan, menyusul tiga ajakan ‘marilah’ kepada umat percaya, yakni:

(1) Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh. Oleh karena hati kita telah dibersihkan…. (ay 22)
(2) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia (ay 23)
(3) Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (ay 24).

Oleh karena itu, pusat perhatian kita yang pertama dan terutama adalah ‘pekerjaan Kristus di antara kita’. Ketiga ajakan seperti disebut di atas merupakan buah dari sambutan umat percaya kepada karya Kristus itu sendiri.

Dalam hal ini kita diajak kepada hal-hal yang konkret dan praktis tentang sikap dan gerak hidup sebagai orang percaya. Dengan kata lain, firman Tuhan ini mau menegaskan keterkaitan antara iman, ibadah dan kehidupan yang berbuah.

1. Rintangan Saling Memperhatikan

Saling memperhatikan dalam kasih merupakan sesuatu yang terbilang langka pada zaman ini. Kalaupun ada, ia lebih merupakan ‘pertukaran kepentingan’. Saya menjaga kepentingan Anda, sejauh Anda menjaga kepentingan saya. Saya akan datang ke pesta Anda, kalau Anda datang menghadiri pesta saya. Saya akan datang mengikuti PA di rumah Anda, kalau Anda hadir ketika PA diadakan di rumah saya. Di sini, persahabatan dibelokkan sebagai alat pemenuhan pementingan diri. Bahkan, agama pun bisa saja diperlakukan sebagai alat pemenuhan kepentingan.

Di samping membawa berbagai hal yang baik, salah satu sisi kelam dari era globalisasi ini ialah kecenderungan manusia yang kian dicengkeram individualisme (karena itu menjadi kurang dalam saling memperhatikan) dan materialisme (sehingga yang dipuja adalah Mamon hingga mengorbankan orang lain).

Kehidupan yang serba individualisme dan materialisme sangat mudah membuat orang merasa kuatir dan cemas, yang dapat menekan kehidupan. Bahkan, yang lebih buruk, akan mengakibatkan berbagai penderitaan fisik. Sebab, pikiran dan suasana hati menyalurkan kecemasannya kepada tubuh. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa gangguan fisik seperti pusing kepala, gangguan saluran pernafasan, sakit perut, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan sebagainya diakibatkan oleh tekanan terhadap rasa dan emosi.

Masih dalam hubungan itu, ambisi, menyimpan amarah, dengki, rasa benci, takut, kecewa menimbulkan stress (ketegangan) pada tubuh. Stress seperti itu dapat menyebabkan pernafasan dan detak jantung kita menjadi tidak normal. Kalau pasokan oksigen berkurang dalam tubuh, maka aliran darah juga akan terganggu. Dengan demikian, stress dapat menciptakan ketidakseimbangan kimia yang mengakibatkan kesalahan fungsi kelenjar dan organ-organ lain. Tubuh menjadi tidak mampu memberi perlawanan terhadap kuman-kuman yang biasanya dapat dikendalikan. Selanjutnya akan menimbulkan berbagai gangguan fisik.

Gangguan-gangguan semacam itu semakin membuat perhatian seseorang tertuju dan terpusat pada diri sendiri, cenderung lebih memikirkan keadaan diri sendiri dan amat kurang memberi perhatian terhadap sesama. Untuk itu perlu kita cermati berbagai gangguan kepribadian yang menghambat terciptanya kehidupan yang saling memperhatikan.

  • Orang yang terlalu memikirkan diri sendiri kurang memiliki kesempatan memikirkan orang lain
  • Orang yang terlalu memperhatikan diri sendiri tidak mempunyai kesempatan memperhatikan orang lain
  • Orang yang mengutamakan kenikmatan diri, akan cenderung merampas hak dan kebahagiaan orang lain.

Sunday, January 11, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU III 2009: 12/01

MEMENANGKAN UJIAN HIDUP
Ketika badai kehidupan silih berganti kita saksikan terjadi pada orang lain atau justru menerpa diri kita sendiri, tidak jarang kita bertanya dalam hati, “mengapa semua ini terjadi?” Apalagi, kita tidak menemukan sesuatu dalam diri kita, seperti kesalahan atau kelalaian kita, yang membuat kita menanggung derita. Kita semakin bingung ketika kita menyaksikan orang-orang jahat justru sehat-sehat saja bahkan kian 'makmur'. Kita pun tergoda untuk terus bertanya setengah menggugat, “mengapa bukan pendosa dan hidup penuh noda itu saja yang porak poranda?” Jika pikiran dan hati kita tidak jernih menilai setiap peristiwa kehidupan, kita bisa saja terjerumus pada kesimpulan keliru seolah Allah tidak adil atau tidak peduli dengan keadaan kita. ..
Akan tetapi, dari firman Tuhan sebagaimana dapat kita baca dalam Yakobus 1:2-8, kita disegarkan kembali untuk memaknai persoalan atau pergumulan hidup dengan iman. Dikatakan di situ bahwa “berbagai-bagai pencobaan” ada yang merupakan ujian terhadap iman kita yang akan menghasilkan ketekunan. Ada baiknya kita perhatikan secara khusus kata “ujian” dan “ketekunan”. Di sekolah, semua siswa yang akan naik ke kelas yang lebih tinggi selalu menghadapi ujian. Jadi, ujian-ujian yang kita hadapi dalam kehidupan ini, hendaknya mendorong kita untuk kian tekun dalam doa, penyerahan diri dan ketekunan berkarya mulia. Untuk memurnikan emas, ia mesti dibakar. Sehubungan dengan itu, dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan:
.
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Belajar dari firman Tuhan ini, kita hendaknya lebih memusatkan perhatian kepada Tuhan dan kekuatan yang Ia berikan kepada kita, bukan terutama pada pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, seberat apa pun itu. Sebab, kuasa Allah jauh lebih besar dibandingkan dengan semua beban hidup kita.

Dalam firman Tuhan sebagaimana dalam Yakobus 1 ini juga dinasihatkan agar kita meminta hikmat dari Tuhan. Ayat 5 berkata: “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati...” Hikmat tidak bisa kita hasilkan dari diri kita sendiri. Tidak bisa disekolahkan dan tidak bisa dibeli. Hikmat adalah pemberian Tuhan. Dengan hikmat yang dari Tuhan, kita tidak akan terombang-ambing dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup ini. Sebab hidup yang terombang-ambing atau ‘mendua hati’ (ayat 8) tidak akan pernah tenang dalam hidup. Tetapi dengan hikmat yang dari Tuhan, kita dapat menemukan hikmah dari peristiwa kehidupan yang kita alami.

Dengan memahami dan menerima firman Tuhan ini, kita pun akan dapat menyanyikan Kidung Jemaat 439 dengan penuh keyakinan dan sukacita:

Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
Berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya...

Adakah beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat?
Hitunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia....

UPDATE BEASISWA KE PARLILITAN-JULI 2009

PEMBERI BEASISWA (GELOMBANG II)

1. Anthon Simangunsong (Singapore) untuk 10 orang -Mulai Ags 08
2. John Sihotang (New York).............. untuk 1 orang - Mulai Ags 08
3. NN (Singapore) ................................ untuk 1 orang -Mulai Ags 08
4. JM (Solo-Jawa Tengah).................. untuk 2 orang - Mulai Sept 08
5. Kel Ramses Butarbutar (S'pore).... untuk 6 orang - Mulai Okt 2008
6. NS (Singapore)................................. untuk 5 orang - Mulai Okt 2008
7. Johnny Tobing............................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 08 (lanjutan)
.
PENERIMAAN:
.
Pembayaran tahunan:

1. Ags 08-Juli 09 : Anthon Simangunsong : Rp. 7.680.000 (S$1,200xIDR 6400)
2. Ags 08-Juli 09 : John Sihotang ...............: Rp. 750.000
3. Ags 08-Juli 09 : NN - Singapore ............: Rp. 600.000

Pembayaran Bulanan:

1. JM - Solo (Jawa Tengah)
Ags-Sept 08 : Rp. 200.000
Okt-Nop 08 : Rp. 200.000
Des 08-Pbr 09: Rp. 300.000
Maret-Mei 09: Rp. 300.000
Juni-Juli 09 : Rp. 200.000

2. NS - Singapore
Okt-Des 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Jan-Maret 2009 : Rp. 900.000 (S$120 x IDR 7500)
April-Juni 2009 : Rp. 1.125.000 (S$150 x IDR 7500)

3. Ramses Butarbutar - Singapore
Okt-Nop 08 : Rp. 700.000 (S$100xIDR 7000)
Des 08-Maret 2009: Rp.1.500.000 (S$200xIDR7500)
April 09-Mei 2009: Rp. 750.000 (S$100 x IDR 7500)
Juni-Agustus 2009 : Rp. 1.035.000 (S$150 x IDR 6900

Total Penerimaan hingga Januari 2009: Rp. 16.040.000

YANG SUDAH DIKIRIM


1. Agustus 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
2. September 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
3. Oktober 08: 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
4. Nopember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
5. Desember 08 : 27 orang x Rp. 50.000 = Rp. 1.350.000
6. Januari 09................................................ = Rp. 1.300.000
7. Pebruari 09 ........................................... = Rp. 1.350.000
8. Untuk Maret 09..................................... = Rp. 1.350.000
9. Untuk April 09 ...................................... = Rp. 1.350.000
10. Untuk Mei 09........................................ = Rp. 1.350.000
11. Untuk Juni 09..................................... = Rp. 1.350.000
12. Juli 09................................................. = Rp. 1.350.000
1
Total yang sudah dikirim 12 bulan x Rp. 1.350.000 = Rp. 16.200.000

PENERIMA BEASISWA:

1. Candi Tinambunan
2. Helmida Barasa
3. Horas Sihotang
4. Mei Romaida Nahampun
5. Rumonda Siringoringo
6. Firgo Sappetua Barasa
7. Osni Tiurma Hasugian
8. Siti Marini Situmorang
9. Dapid Sinambela
10. Masdani Hasugian
11. Daniel W. Hasugian
12. Sampit Lasniroha Sihotang
13. Rewida Bernadetta Manik
14. Deliana Barutu
15. Herman Harefa
16. Sehat Pardomuan Tumanggor
17. Randi Ramson Silalahi
18. Sisu Susanti Situmorang
19. Ranto Rano Sinaga
20. Eliana Veronika Sihotang
21. Adomangihut Situmorang
22. Herlinda Sinaga
23. Apri Dirjen Barutu
24. Elisabet Tamba
25. Risde Tinambunan
26. Asnita Napitupulu
27. Aladin Sudiomo Manullang
.

Informasi tentang program beasiswa ini silahkan klik di sini:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/memberi-tanpa-mempermiskin.html
.
Untuk informasi penyaluran beasiswa dapat menghubungi kepala SMPN Parlilitan, Bapak Drs Mangansam Sagala, HP +6281376844860

PEMBERI BEASISWA (LANJUTAN GELOMBANG I)

1. Johnny Lumbantobing.................... untuk 2 orang - Mulai Oktober 2008*)
2. Christi & William............................. untuk 1 orang SD - Mulai 2007

Penerimaan:
1. Johnny Tobing: Okt 08-Pebr 09 .......IDR 750.000 ($100xIDR 7500)
2. Christi and William: Okt 08-June 09 ...IDR 337.500 ($45xIDR 7500)
3. Johnny Tobing: Maret-Mei 2009..... IDR 450.000 (S$60xIDR 7500)
4. Johnny Tobing : Juni-Ags 2009....... IDR 426.000 (S$60xIDR 7100)

Total Penerimaan: IDR 1.963.500

Yang sudah dikirim:
Oktober 08-Jan 09...................... IDR 500.000
Pebruari-Mei................................ IDR 400.000
Juni 09.......................................... IDR 125.000
Juli-Oktober 09.......................... IDR 500.000

Total yang dikirim....................... IDR 1.525.000

Penerima Beasiswa (Lanjutan Gelombang I)
1. Sahat Mangihut Munthe ...... SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
2. Gaberdus Sihotang................ SMP Negeri 3 Parlilitan (IDR 50.000/ bln)
3. Rispan Sihotang.................... SD N Siringoringo Kls IV (IDR 25.000/ bln)

Beasiswa Lanjutan Gelombang I ini disalurkan oleh Bapak St T. Tinambunan HP: +62813700242826

Friday, January 2, 2009

RENUNGAN SENIN - MINGGU II 2009: 05/01

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN
Sebuah Renungan Menjalani 2009

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur
(Kolose 2:7)

PENGANTAR

Setiap hadirnya tahun yang baru, biasanya orang-orang mengajukan aneka pertanyaan dan pernyataan seputar apa yang bakal terjadi sepanjang tahun yang baru. Keragaman pendapat yang mengemuka seturut dengan keragaman latar belakang kehidupan, profesi dan keyakinan anggota masyarakat. Para futurolog hingga para peramal juga angkat bicara. Simbol-simbol tradisi tertentu juga meramaikan suasana, seperti mereka yang menetapkan tahun tertentu sebagai tahun anjing, tahun kambing dan lain-lain yang disertai dengan tafsiran-tafsirannya.

Bagi orang Kristen setiap dan semua tahun adalah ciptaan dan milik Tuhan. Artinya, tiada tahun tanpa Tuhan. Karenanya semua tahun adalah tahun rahmat yang mestinya disambut dengan ucapan syukur. Meski demikian, tidak semuanya akan secara otomatis berjalan baik. Keadaan yang akan terjadi juga sangat tergantung pada tanggapan manusia terhadap rencana Allah.

DUA MUSUH UTAMA

Hingga tahun yang lalu kita masih mengalami dan menghadapi aneka persoalan kehidupan. Di sini dapat disebut dua di antara sekian banyak permasalahan kehidupan yang sedang mengitari kita, yakni masalah ‘kekerasan’ dan masalah ‘hilangnya makna hidup’ bagi banyak orang, yang kiranya dapat dituntaskan atau paling tidak diminimalkan pada tahun 2009 ini.

1. Kekerasan dan Kejahatan

Kita masih berada dalam masa gerakan sedunia yang disebut dengan Decade to Overcome Violence –DOV (dekade mengatasi kekerasan, 2000-2010). Kita sepatutnya amat prihatin karena di tengah perjuangan dunia dan gereja-gereja mengatasi kekerasan, tetapi kekerasan masih tetap merajalela di mana-mana mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, negara, bahkan dalam lingkungan agama juga.

Sudah sejak lama kita diliputi rasa takut karena kebiadaban para teroris yang mengagungkan kematian. Banyak orang yang merasa tidak aman bepergian dan di berbagai tempat banyak yang merasa tidak aman beribadah di gereja dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas kita tidak hanya mengecam tindak teror yang mengancam hidup kita, tetapi benar-benar menyatakan keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Salah satu makna keberadaan kita sebagai garam adalah menciptakan suasana yang enak dan bersahabat dengan semua orang. Janganlah kiranya lagu-lagu kita menggelegar ke sekeliling gereja tetapi kita tidak peduli kepada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.

Di samping prihatin terhadap masalah kekerasan yang mengitari kita, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu, terutama memulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga sendiri. Seorang psikiater pernah mengatakan kepada saya bahwa 75% pembunuh yang meringkuk di penjara-penjara Barat adalah mereka yang mendapat perlakuan tindak kekerasan di dalam lingkungan keluarga sejak masa kecil. Itu berarti bahwa pengalaman anak di tengah keluarga sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya di kemudian hari.

Karena itu, sudah semestinya menjadi tugas mendesak kita (terutama tahun ini) memberi perhatian khusus dan serius untuk mengasihi anak-anak, mendidik mereka dalam ajaran dan kehendak Tuhan, serta meciptakan suasana agar mereka bertumbuh ke arah kedewasaan dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan interaksi dan kecerdasan moral.

Dalam hal ini, para orangtua harus sungguh-sungguh mengoreksi ulang metode pendidikan terhadap anak-anaknya di tengah keluarga, tidak mengikuti begitu saja apa yang dialaminya dari orangtuanya pada masa kecil. Misalnya, kalau anak-anak secara tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah, orangtua langsung berang, menarik pipinya ke atas seperti mau robek atau malah memukul kepala si anak dengan kayu sampai hampir pecah. Padahal harga gelas hanya Rp. 2000, pipi dan kepala anak-anak (manusia) tidak ada dijual. Yang lebih bijaksana, orangtua mestinya dengan kasih berkata, “Wah gelas kita pecah ya ‘nak, lain kali hati-hati ya sayang? Susah cari uang sekarang”. Kalau dia dipukul, dia akan semakin gugup dan makin banyak gelas yang pecah. Tetapi, jika diberi pengertian, ia merasa dirinya berharga dan ia akan lebih hati-hati.Sebuah pepatah Jerman (yang sudah disebut di atas) berbunyi, ‘jika semua orang menyapu halaman rumahnya, maka seluruh kota akan bersih’. Artinya, keadaan masyarakat sangat ditentukan oleh keadaan keluarga-keluarga yang ada di dalamnya. Kekerasan di masyarakat dapat kita atasi mulai dari keluarga-keluarga yang bebas kekerasan.

Di samping itu, lingkungan sekolah dan gereja juga ikut bertanggungjawab. Sebab, tidak sedikit anak yang mengalami kekerasan di rumah, juga mengalami tindak kekerasan dari gurunya di sekolah, bahkan –amat ironis—guru-guru sekolah Minggu juga ada yang menggunakan tongkat pemukul untuk ‘menenteramkan’ anak-anak. Dalam hal ini para guru di sekolah dan di Sekolah Minggu perlu dengan bijaksana mengasihi, mendidik dan mendampingi anak agar mereka bertumbuh dengan baik.

2. Stres dan Hilangnya Makna Hidup

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang stres dan depresi. Pengalaman empiris membuktikan bahwa peningkatan pendapatan ekonomi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh era globalisasi ini tidak menjamin kebahagiaan manusia. Kita dapat mengambil contoh negara Jepang, Amerika Serikat dan Singapura yang secara ekonomi termasuk dalam negara-negara termakmur. Akan tetapi justru di ketiga negara inilah tingkat bunuh diri yang tergolong tertinggi di dunia. Mengapa? Banyak manusia yang kehilangan makna diri.

Sebaliknya, kesulitan ekonomi pun dapat juga memicu dan memacu tingginya angka bunuh diri. Kecenderungan semakin banyaknya bunuh diri juga kita alami di Indonesia. Di kota Jakarta, misalnya, tiap tahun jumlah orang yang bunuh diri juga bertambah, yang di antaranya karena kesulitan hidup. Belum lama ini sebuah surat kabar memberitakan bahwa seorang remaja bunuh diri karena malu tidak memiliki handphone dan diejek temannya dengan menggunakan bahasa sebuah iklan TV: “Hari gini, ‘gak punya handphone!”. Ironis memang! Banyak orang-orang Indonesia ‘demam’ handphone, bukan terutama karena kebutuhan tetapi karena gengsi. Jelas, bahwa gengsi biasanya menghancurkan kehidupan.

Berkaitan dengan hilangnya makna diri, tidak sedikit orang sekarang ini yang amat pesimis terhadap masa depan. Mengambil sebuah contoh, saya sering menyaksikan anak-anak remaja siswa SLTP atau SMU yang berkeliaran pada jam sekolah. Ada yang ‘nongkrong’ di internet (khususnya di kota-kota), ada pula yang main judi. Banyak di antara mereka yang merokok, bahkan rokoknya lebih besar dari jari tangannya (padahal merokok adalah tindakan ‘bunuh diri kredit’ alias mengangsur kematian!). Saya pernah memberanikan diri menegor seorang di antara mereka (walaupun saya tahu bahwa sekarang ini agak sulit menegor seseorang atas kekurangannya, karena bisa dengan gampang orang mengatakan ‘apa urusanmu?’). Saya sangat kaget mendengar ketika dia mengatakan, ‘Pak, apa gunanya sekolah. Di Indonesia hanya satu presiden dan tidak mungkin saya untuk itu. Di kota ini pun hanya satu orang walikota, itu juga tidak mungkin untuk saya. Sekarang ini, untuk masuk sekolah polisi saja harus ada uang sogok Rp. 60 juta, untuk menjadi pegawai negeri juga harus ada uang minimal Rp. 50 juta baru bisa masuk’.

Yang saya tangkap dari respon seorang siswa tersebut sedikitnya ada dua hal pokok. Pertama, pesimisme berlebihan dan orientasi yang salah arah. Sebenarnya, ‘makna hidup’ tidak diukur kalau seseorang menjadi presiden, walikota atau memangku jabatan penting lainnya. Makna hidup yang kristiani adalah kalau seseorang menjadi dirinya sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki. Kedua, keprihatinan terhadap situasi riil masyarakat kita terutama masalah sulitnya mencari pekerjaan dan masalah korupsi. (Penting dicatat, bahwa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat atau juara VI sedunia di bidang korupsi). Akan tetapi, sebagai seorang beriman, keprihatinan terhadap situasi masyarakat mestinya tidak direspon dengan sikap pesimis; tidak pasrah dan menyerah pada situasi. Justru dalam kenyataan seperti itulah setiap orang perlu lebih bersungguh-sungguh belajar, berjuang dan berbuat baik untuk memperbaiki situasi bukan malah mengeruhkannya dengan menjadikan diri sebagai bagian dari masalah dan bukan solusi.

Kata-kata Calvin Coolidge pantas direnungkan, “Di dunia ini tidak ada yang dapat menggantikan ketekunan. Tidak juga talenta; tidak ada yang lebih lazim daripada orang yang memiliki talenta tetapi tidak sukses. Tidak juga seorang jenius; kecerdasan yang tidak pernah dihargai hanya merupakan pepatah….Ketekunan dan kemantapan hati itu sendiri bersifat mahakuasa”.[2] Untuk menguatkan pandangan ini Bloch mencatat Thomas Edison membuat lebih dari 2.000 kali percobaan sebelum dia menemukan bola lampu.[3]Kehidupan yang dijalani dengan ketekunan tidak akan pernah mengenal keadaan frustrasi meskipun terkadang mengalami kegagalan. Sebab, sama seperti yang dikatakan oleh Gede Prama bahwa “tidak jarang terjadi, kegagalan membawa dua hadiah terbaik adalah hidup: kearifan dan kesabaran.”[4]

BERBAHAGIA DI TAHUN TUHAN

Apa yang akan terjadi sepanjang tahun 2009 ini, memang tidak seorang pun yang tahu pasti. Tetapi, ada satu hal yang pasti yakni: Tuhan memegang kendali masa depan. Tahun lalu, perekonomian dunia mengalami krisis yang lumayan parah. Sejalan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok pun menjadi naik yang secara merta telah membuat banyak orang menjadi panik. BBM sempat naik, ongkos naik, kebutuhan sehari-hari naik –celakanya ‘darah tinggi’ juga terkadang menjadi naik. Tidak sedikit orang menjadi amat gampang tersinggung dan marah. Ini adalah produk atau bentuk lain dari ketidakbahagiaan. Konsekuensinya, semakin banyak orang menjadi pemarah akan semakin banyak pula perselisihan atau permusuhan.

Kesadaran dan iman kita bahwa Tuhan memegang kendali masa depan akan serta merta menolong kita untuk tetap tenang secara aktif, hati damai dan penuh kelembutan terhadap sesama manusia.Apa yang membuat kita tidak bahagia? Sirgy dengan tepat mengatakan bahwa “Ketika kita memikirkan tentang hidup kita, kita terlalu sering berpikir tentang apa yang belum kita punya dan apa yang belum kita dapat. Tetapi hal-hal seperti itu membuat kita tidak bahagia”.[5]

Kalau kita jujur, sebenarnya kita telah menerima berkat yang berkelimpahan dari Tuhan, baik berkat rohani maupun jasmani. Kita menerima berkat rohani, karena kita diterima sebagai warga kerajaan Allah oleh penyelamatan Yesus Kristus. Kita adalah anak-anakNya, bukan karena kita layak, melainkan karena dilayakkan oleh Tuhan.Secara jasmani kita juga terberkati. Hidup kita hari ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan yang sedang berlangsung. Sebagai tambahan, mari kita lihat contoh ini. Dulu, para orangtua biasanya membeli pakaian yang jauh melampaui ukuran tubuh anaknya. Misalnya, seorang anak kelas VI SD dibelikan baju ukuran Kelas III SMP, dengan maksud agar pakaian itu bisa dipakai lebih lama. Sepatu juga demikian. Untuk anak kecil, dibeli sepatu agak panjang dan kemudian diisi dengan kain yang tidak terpakai di dalamnya supaya sepatunya tidak jatuh ketika dipakai. Tujuannya sama: supaya sepatu itu dapat dipakai sampai kelas III SMP. Mengapa? Mereka hidup dalam situasi perekonomian yang sangat memprihatinkan.

Masalahnya adalah, sekarang ini, dengan berkat Tuhan melalui perbaikan kehidupan ekonomi, yang terjadi justru sebaliknya. Dulu seorang anak SD memakai pakaian seukuran untuk seorang anak SMP, sekarang banyak remaja yang sudah SMU atau mahasiswa justru memakai pakaian SD, kecil, sempit sampai perut dan pusatnya dipamerkan kepada khalayak ramai. Padahal, budaya kita memiliki norma-norma kesopanan dalam berpakaian. Di samping itu, banyak orang sekarang ini tidak puas memiliki satu atau dua sepatu, tetapi berlomba membeli sepuluh atau lebih sepatu padahal sebenarnya tidak dibutuhkan. Mengapa? Banyak orang pada zaman ini berakar dan belajar pada TV, toko atau mall, rumah tetangga dan sebagainya, tidak berakar pada kehendak Tuhan.

Berakar di dalam Tuhan berarti mendapat kehidupan dari pada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Berakar di dalam Tuhan juga berarti bahwa seluruh kehidupan selalu dikaji dan diuji berdasarkan kehendak Tuhan. Hal ini amat penting di tengah dunia yang sedang dilanda oleh konsumerisme (membeli dan memakai barang-barang tidak terutama dengan orientasi ‘kebutuhan’ tetapi ‘keinginan’ dan ‘gengsi’) yang akan menambah penderitaan manusia dan merusak alam ciptaan Tuhan seperti hutan, sungai, danau, dan udara.Dengan berakar di dalam Tuhan, maka hati nurani pun akan bekerja aktif untuk menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Tuhan. Di tengah zaman yang maju ini dengan tingkat intelektualitas manusia yang semakin baik, masih kita temukan orang-orang yang menempuh jalan pintas yang irasional dengan pergi ke dukun untuk pelaris dagangan, agar disegani, agar mendapat jabatan tertentu. Dan, anehnya, seperti kata Eka Darmaputera, orang begitu mudah marah-marah jika merasa dikecewakan Tuhan, tetapi kalau dukun yang mengecewakannya, dia tidak merasa apa-apa.[6]

Pengenalan dan pengalaman kita akan apa yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita hendaknya mendorong kita mengikuti nasihat Paulus yang mengatakan, “hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Hati yang melimpah dengan syukur selalu disertai dengan gerak hidup yang mencerminkan kehendak Tuhan.Mengucap syukur hanya mungkin ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari dan mengimani apa yang Tuhan telah, sedang dan akan lakukan dalam kehidupannya. Kiranya hal ini amat kuat melekat dalam hati kita. Saudara dan saya disapa saat ini, mari menjalani kehidupan tahun ini bersama Tuhan yang hidup dan mengasihi kita. Kebahagiaan kita terletak di situ.

[2] Sebagaimana dikutip oleh Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 59
[3] Ibid.
[4] Gede Prama, Jalan-jalan Penuh Keindahan. Dari Kejernihan untuk Kepemimpinan kehidupan, Jakakarta: Gramedia, 2004, hlm. 156.
[5] Sebagaimana dikutip oleh David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 146
[6] Eka Darmaputera, Iman dan Tantangan Zaman, Jakarta: BPK, 2005, hlm. 62.










ShoutMix chat widget