Saturday, August 8, 2009

MENJUAL 'HARI'



REFLEKSI MINGGU KE-32
09 Agustus 2009


Penetapan suatu hari tertentu sebagai perayaan khusus untuk kelompok usia, status, profesi atau peristiwa penting semakin bertambah. Ada Children’s Day, Youth’s Day, Mother’s Day, Father’s Day, Parents’ Day (bahkan ada pula yang memulai ‘Single Parent Day’). Yang mungkin segera dimasyarakatkan adalah ‘Granpa and Grandma’ Day (Ompung’s Day dalam bahasa Batak!). Kita juga mengenal Valentine Day,Teacher Day, Labour Day dan mungkin akan masih bertambah lagi.
.
Tanpa mengabaikan nilai-nilai luhur di dalam setiap hari khusus tersebut, yang kiranya perlu dihindari adalah kecenderungannya yang sarat dengan --karena beberapa di antaranya juga lahir demi—konsumerisme. “Konsumerisme telah merasuki hari-hari peringatan khusus,” demikian kesimpulan Stearns setelah meniliknya dari kaca mata sejarah.
.
Sengat konsumerisme ini tidak saja meracuni hari-hari khusus yang bersifat profan, tapi juga merasuk dan merusak lingkup keagamaan. Beberapa di antaranya dapat disebut di sini:
  • Hadiah Natal sudah mulai pada 1830 di Amerika Serikat dan masih marak hingga saat ini. Natal di Amerika sendiri dan kota-kota besar di dunia bukan terutama berhubungan dengan gereja melainkan lebih banyak di mall atau pusat-pusat perbelanjaan, restoran dan tempat-tempat hiburan.
  • Kartu komersial untuk Valentine Day diperkenalkan di Inggris pada tahun 1855. Sekarang ini sudah mewabah ke hampir semua negara, walaupun kebanyakan orang tidak memahami maknanya.
  • Perayaan ulang tahun dengan hadiah-hadiah merupakan inovasi lain dari dunia konsumerisme, yang hingga saat ini tetap berlangsung.
  • Sesudah tahun 1900 hari-hari libur mulai diciptakan yang juga bertujuan konsumeris, walaupun dilabeli dengan nilai-nilai keluarga. Mother’s day misalnya, diproklamirkan secara resmi di Amerika Serikat pada 1914, yang akhirnya lebih merupakan alat konsumerisme ketimbang penghargaan dan penghormatan kepada kaum ibu.

Melihat kenyataan ‘penyelewengan’ hari-hari khusus tersebut menjadi ajang penyubur konsumerisme, muncullah apa yang disebut dengan ‘Buy Nothing Day’ sebagai protes terhadap konsumerisme yang dirayakan dimulai di Canada dan sekarang ‘dirayakan’ juga di Amerika setiap Jumat sesudah ‘Thanksgiving’, yang tahun ini jatuh pada 27 Nopember. Para ekologis mengkampanyekan pelaksanaan ‘Buy Nothing Day’ kepada seluruh umat manusia demi lestarinya bumi ini.

Yang paling penting dalam hal ini adalah:

Pertama, perubahan hidup dan komitmen kita menghargai semua dan setiap manusia: anak-anak, remaja, pemuda, ayah, ibu, orangtua, kakek-nenek, guru, pekerja dan sebagainya “setiap hari”, bukan terutama dengan pemberian hadiah kecil sekali setahun. Apalagi hadiah yang kita berikan bukan ‘kebutuhan’ mereka. Pemberian kita sia-sia, padahal setiap barang yang kita beli mempunyai konsekuensi langsung dengan kelestarian alam.

Kedua, ‘buy nothing day’ baik, tapi tidak cukup. Apalagi, kalau sebelum dan sesudah ‘buy nothing day’ orang-orang menumpuk. Yang terpenting adalah: beli kebutuhan (bukan karena ingin), beli sesuai kemampuan, dan beli kepada orang lain yang tidak mampu membeli kebutuhan.

Monday, August 3, 2009

REPOT RAPAT


RAPAT PENDETA HKBP 2009
.
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati" (Lukas 6:36). Inilah tema Rapat Pendeta HKBP (RPH) yang dimulai hari ini (03 Agustus) di Seminarium Sipoholon-Tarutung. Rapat kali ini dihadiri sekitar 1500 pendeta HKBP. Jumlah yang besar untuk menggumuli suatu tema akbar. Website HKBP menyebutkan ada beberapa topik pembahasan, di antaranya: penyeragaman teknis pelayanan pendeta HKBP, teologi persembahan, perkawinan, sakramen, pelayanan holistik dan transformatif. RPH juga akan memilih Ketua Rapat Pendeta (KRP) yang baru. (Melihat pengalaman sebelumnya, KRP menjadi tugas tambahan terhadap suatu tugas pokok, nampaknya sudah saatnya menjadi penuh waktu. Tugas pelayanannya begitu luas. Dan yang terpenting jabatan KRP adalah fungsi pelayanan gembala, bukan posisi atau jabatan bergengsi. Ia tidak terutama berkaitan dengan 'keahlian' melainkan 'keteguhan iman, integritas dan karakter kristiani).
.
Akhir-akhir ini beberapa keprihatinan mengemuka dari beberapa warga jemaat dan pendeta, di antaranya ada yang mengatakan bahwa RPH tidak efektif karena jumlah peserta terlalu banyak, biaya terlalu besar --untuk biaya rapat saja memakan biaya 1.500.000.000 (satu setengah miliar rupiah). Ada pula yang menilai rapat ini menjadi ajang reuni dan sebagainya. Yang lain lagi melihat biaya perongkosan para pendeta ke Tapanuli dan biaya yang harus dikeluarkan mengundang pendeta gereja tetangga untuk pelayanan yang dibutuhkan selama pendeta HKBP berada di Tarutung membuat total pengeluaran RPH amat mahal. Itu sebanya ada beberapa yang mengusulkan agar rapat pendeta HKBP menjadi semacam “Rapat Utusan Pendeta”. (Dapat ditambahkan, barangkali salah satu keunikan HKBP adalah kebiasaannya yang tergolong 'repot rapat'. Di tingkat jemaat, ressort, distrik, pusat lumayan banyak rapat. Tapi, sejauh semua kerepotan rapat ini sebagai bagian dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama atau bagian dari tugas panggilan kita sebagai gereja tidak ada masalah dengan rapat).
..
Perhitungan-perhitungan pengeluaran RPH di atas ada benarnya. Akan tetapi, dalam kehidupan bergereja bukan kalkulator yang paling penting. Sejauh RPH menjadi sarana di tangan Tuhan untuk memperlengkapi para pendeta, semakin meneguhkan komitmen para pendeta untuk melayani-Nya melalui pelayanan gereja-Nya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan rasa kasih, hormat dan takut akan Tuhan, RPH sangat baik dipertahankan (apalagi sekarang sudah berubah menjadi sekali 4 tahun). Artinya, jangan karena pengalaman sebelumnya RPH kurang efektif maka jalan keluarnya ditiadakan atau diciutkan, tetapi dengan membuatnya lebih berkualitas. Mengenai RPH menjadi kesempatan ‘reuni’, sebagaimana sebagian orang memprihatinkannya, tidak ada yang salah di situ. Asal jangan sampai yang pokok menjadi sampingan dan yang sampingan menjadi yang pokok.
.
RPH kali ini merupakan bukti ‘kemurahan hati' Bapa. Kiranya kemurahan hati juga mewarnai seluruh proses rapat dan akan terpancar secara nyata dalam kehidupan dan pelayanan para pendeta sesudah rapat ditutup.
..
Kita doakan bersama kiranya Tuhan, Pemilik HKBP, menguatkan dan memperlengkapi seluruh peserta, panitia dan pemimpin RPH. Kiranya Ia menjauhkan segala ancaman teroris luar-dalam.

Sunday, August 2, 2009

AIR KEMASAN YANG MENCEMASKAN

REFLEKSI MINGGU KE-31
03 AGUSTUS 2009



Air minum kemasan kian deras mengalir ke mana-mana. Bukan saja di kota-kota besar, tetapi juga sudah menjangkau kota kecil hingga desa terpencil. Di Belgia maupun Balige, di Cililitan maupun Parlilitan air kemasan mengalir tanpa rintangan. Dalam skala global industri air kemasan tergolong lahan super-subur. Sepanjang 2008 Singapore, misalnya, mengimpor 135.000 ton air kemasan. Termasuk di dalamnya produk Indonesia. Padahal, National Water Agency PUB Singapura menjamin kualitas air minum yang mengalir di kran rumah-rumah penduduk sangat baik.


Mengapa orang membeli air kemasan? Kelihatannya sedikitnya ada empat alasan. Satu, praktis. Mudah di dapat dan bisa langsung memuaskan rasa dahaga. Dua, anggapan higienis. Pemahaman umum bahwa air kemasan lebih bersih dibandingkan dengan air biasa. Tiga, harga relatif murah dan mudah terjangkau. Ia tersedia di keramaian kota-kota di Indonesia seperti terminal bus dan lain-lain. Para pedagang di Singapur terbilang amat lihai mempengaruhi konsumer. Pusat-pusat perbelanjaan sering menawarkan harga khusus air kemasan merek tertentu dengan harga $1 untuk 3 botol (lebih murah dari Indonesia). Harga sebotol air kemasan tidak terlalu terasa bagi jutaan pembeli, tetapi menjadi lahan basah bagi pihak produsen. Empat, kebanyakan orang tidak tahu dampak buruk plastik kemasannya terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan berkaitan dengan memproduksi dan mendistribusikan air kemasan. Berbagai hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa dalam kondisi tertentu (seperti dalam keadaan panas) bahan kimia plastik kemasan air minum mencemari air tersebut yang dapat menimbulkan kanker.
.
Efek negatif air kemasan terhadap lingkungan hidup di antaranya disebabkan penggunaan minyak bumi dalam memproduksinya. Di Amerika saja 1,5 juta barrel minyak dihabiskan untuk memproduksi ‘botol’ yang digunakan untuk insdustri air kemasan –sama dengan jumlah minyak untuk menjalankan 100.000 mobil selama setahun di sana. Itu berarti bahwa untuk memproduksi botol-botol air kemasan sama dengan menambah karbondioksida yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Itu baru Amerika. Bagaimana dengan total global? Pasti angka yang sangat fantastis. Belum lagi botol-botol bekas air minum kemasan yang berserakan di seluruh dunia yang berdampak buruk terhadap lingkungan hidup.
.Mengacu pada dampak negatif air kemasan dalam kehidupan dan kelestarian alam, maka penduduk kota kecil Bundanoon (Australia) melarang bottled water (air minum kemasan) merupakan sebuah langkah bijak dan bajik. Mereka merupakan yang pertama di dunia melarang peredaran air kemasan. Semoga negara-negara atau kota-kota lain mengikutinya. Tapi sekiranya kota-kota di mana kita tinggal tidak pernah melarangnya, kita dapat melarang diri sendiri. Jika kita semua tidak membeli air minum kemasan, para produsen hanya akan memproduksi untuk kalangaan mereka sendiri. Dan itu tidak akan berpengaruh banyak memperparah pemasan global.
.
.Slogan “Think globally, drink locally” dapat kita jadikan motto keseharian berkaitan dengan air minum. Bagi kita yang keseharian beraktivitas di luar rumah kita dapat menyediakan air minum dalam wadah non-platik. Ini adalah salah satu bagian dari ibadah kita kepada Tuhan: merawat diri kita dan merawat ciptaanNya agar tidak kiamat sebelum waktuNya.


Sunday, July 26, 2009

MENGURUS GEREJA DENGAN HATI

REFLEKSI MINGGU KE-30
26 JULI 2009

‘Rekayasa’ ala pilkada dalam pemilihan kepengurusan gereja terasa agak menggejala akhir-akhir ini, khususnya dalam lingkungan gereja gereja main line (arus utama). Hal ini terjadi dari aras jemaat hingga tingkat sinode atau pusat. Untuk mengangkat majelis, panitia, komisi atau apa pun istilah yang digunakan masing-masing gereja sudah terjadi kasak-kusuk bukan dengan doa khusuk. Lobi untuk menggolkan yang ini dan menjegal yang itu. Amat memprihatinkan dan menyedihkan! Bagaimana mungkin kita memilih pengurus gereja dengan cara yang tidak gerejawi? Apa artinya berjalan apalagi berlari jika kita berada pada jalan yang salah? Maksudnya begini. Sebuah jemaat bisa saja melakukan aneka ‘ragam program’ (seperti outing, lomba, retreat, mission trip) sebagai tambahan terhadap ‘rutinitas’ ibadah, PA, persekutuan kategorial (lanjut usia, Bapak, Ibu, Pemuda/ Remaja, Sekolah Minggu). Ramai dan Sibuk? Mengeluarkan biaya? Ya. Tetapi, semuanya bisa terasa kering. Ada sesuatu yang mengganjal. Gereja ‘dijalankan’ oleh orang-orang yang punya kepala, dompet dan keahlian strategi saja. Kurang menggunakan hati –hati di mana Roh Kudus bertahta. Hati yang beriman.

Keadaan ini tidak lepas dari spiritualitas, integritas dan karakter gembala jemaat. Pengalaman menunjukkan terkadang tidak jelas siapa menggembalakan siapa dalam sebuah jemaat. Tidak jarang seorang gembala justru digembalakan oleh para 'domba'. Gembala digiring seturut keinginan orang-orang atau kelompok tertentu dalam sebuah jemaat. Entah demi mengurangi pekerjaan, entah dalam rangka ‘survive’, atau sekadar mengambil hati. Satu kecenderungan yang mulai kentara belakangan ini ialah seorang gembala tidak merasa bertanggungjawab kepada siapa pun. Pergi ke mana-mana sesuka hati. Menetapkan jam kerja sesuka hati. Mengatakan dan berbuat sesuatu sesuka hati tapa sedikit pun hati-hati.

Horace dengan tepat mengatakan bahwa “Mengawali sesuatu dengan baik sudah setengah selesai”. Masalahnya, kalau sebuah kepengurusan gerejawi dimulai dengan rekayasa duniawi, apakah mungkin mengharapkannya menjadi baik? Meski mungkin tidak dimaksudkan berkaitan dengan kehidupan bergereja, berikut ini ada beberapa amsal yang baik juga kita renungkan dan petik maknanya:

“Anda tidak dapat membuat kepiting berjalan lurus”. (Aristophanes)
“Seekor ikan mati membuat seluruh kolam berbau busuk”. (Pepatah China)
“Jangan mengharapkan musik yang merdu dari gitar yang rusak.” (Pepatah Yunani)
“Jika Anda melemparkan lumpur ke tembok, meski ia tidak melekat, akan menyisakan bekas noda.” (Pepatah Arab)

Berdasarkan ungkapan-ungkapan di atas, suatu awal yang buruk, suatu sikap yang buruk, suatu perilaku busuk, suatu tindakan tercemar akan mengakibatkan aneka persoalan dalam kehidupan khususnya dalam sebuah persekutuan. Pengalaman empiris membuktikan bahwa manusia sulit sekali berubah. Namun demikian, sebagai orang percaya kita tetap berpengharapan. Ketika seseorang berada dalam jalan yang salah, Allah senantiasa memberi kesempatan untuk mengambil jalan kembali.

Bagaimana memilih pengurus gereja? Setiap jemaat pasti memiliki aturan masing-masing. Tetapi, yang lebih mendasar dapat disebutkan sebagai berikut.
  1. Memilih dengan hati nurani. Hati nurani yang dipimpin oleh Tuhan. Hanya dengan demikian kehendak Tuhan dapat mengalahkan setiap kepentingan pribadi sekaligus mengedepankan kehendak Tuhan.
  2. Cara pemilihan dengan suasana doa. Setiap pemilih menyampaikan pilihannya terutama dalam hubungannya dengan Tuhan. Jauh dari sentimen pribadi atau kelompok.
  3. Membantu yang terpilih dalam doa, pikiran, tenaga, teguran dalam kasih, dan dengan apa saja yang Tuhan percayakan.
  4. Di antara yang sangat penting dan mendesak dipahami oleh pengurus gereja adalah: 'apa itu gereja', 'pelayan gereja yang bagaimana' dan 'bagaimana melayani.' Tanpa pemahaman yang jelas dan komitmen yang murni, maka gereja hanyalah organisasi duniawi belaka. Tubuh yang kehilangan roh!
  5. Ketika kita dipercayakan melayani dalam sebuah jemaat, itu lebih merupakan fungsi pelayanan bukan sebuah posisi yang berkaitan dengan gengsi. Kita tahu, kita tetap murid Kristus sampai kesudahan zaman. Kita perlu senanatiasa rendah hati, jauh dari sikap penonjolan diri dan arogan. Kalau kita merasa sebagai orang penting, perlu kita ingat bahwa orang-orang penting yang pernah dikenal dalam sejarah dunia ini, kuburan mereka saat ini ditumbuhi oleh rumput-rumput.

Ada pepatah indah orang Afrika seperti ini: “Sampan tidak dapat maju apalagi melaju menuju tujuan jika setiap orang mendayung menurut arah masing-masing pendayung “. Sangat Alkitabiah bukan? Rasul Paulus sangat menekankan agar dalam jemaat terpelihara kehidupan yang sehati sepikir yang berakar pada kehendak Tuhan.





Sunday, July 19, 2009

BUNGA BERDURI

REFLEKSI MINGGU KE-29
21 JULI 2009


Bayangkan sebuah acara sykuran ulang tahun pernikahan. Seorang undangan menyerahkan setangkai bunga mawar kepada yang berulangtahun dengan mengatakan seperti ini:


Saya akan memotong bunga mawar ini dari tangkainya dan menyerahkan bunganya kepada bapak dengan harapan bahwa bapak akan sukses, termasyhur, dan disenangi banyak orang. Sedangkan tangkai bunga yang berduri ini saya serahkan kepada ibu untuk mengingatkaan bahwa ibu harus menderita. Mempersiapkaan segala sesuatu yang bapak butuhkan untuk bekerja. Ibu harus menguras tenaga mengurus rumah dan merawat anak-anak. Jika anak-anak demam waktu malam, jangan bangunkan bapak, biarkan dia tidur pulas. Ibu harus menanggung derita kurang tidur. Saat bapak pulang kantor atau kerja, siapkan minumannya, letakkan sepatunya pada tempatnya. Jika bapak mau nonton TV, ibu harus menenteramkan anak-anak. Singkatnya, ibu harus menanggung 'duri' atau derita.

Seorang istri yang berpikir 'normal' pasti tidak menerima kata-kata itu. Suami yang berperikemanusiaan pun tidak akan menerima kata-kata itu. Suami-stri adalah satu, yang mestinya bersama-sama mengalami suka-duka kehidupan; sama-sama menanggung beban dan sama-sama merayakana kehidupan.
.
Bunga berduri juga dapat menggambarkan kehidupan ini. Kita mesti melihat kehdiupan secara utuh. Dalam kehidupan ini ada saja 'duri' yang kita alami sejak kecil hingga masa senja. Bentuknya bisa berbeda, tapi semuanya merupakan sesuatu yang tidak enak bahkan menyakitkan: mengerjakan PR untuk lulus ujian, sakit untuk mengingatkan keterbatasan kita; disalahmengerti orang, yang dapat untuk mendewasakan kita; difitnah yang dapat melatih kita untuk lebih bersabar dan tangguh; serta aneka 'duri' kehidupan lainnya. Tetapi, kita perlu memfokuskan diri pada 'keindahan dan keharuman bunga', yaitu anugerah Tuhan dan segala kebaikan-kebaikan yang kita terima dalam hidup ini. Itulah bunga berduri. Jangan hanya berfokus pada duri-duri kehidupan yang hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan orang lain. Fokuslah pada Dia yang sudah menanggung puncak 'duri' kehidupan di kayu salib untuk kesembuhan kita dan sumber keuatan kita menjadi berkat bagi sesama.
.
Satu lagi, jika kita tidak mau (atau tidak mampu) memberi 'bunga' kepada orang lain, paling tidak jangan memberi 'duri'.

Saturday, July 11, 2009

PERASAAN


REFLEKSI MINGGU KE-28

13 JULI 2009


‘Penyedap rasa’ merupakan salah satu di antara yang paling diminati banyak orang saat ini. Tidak hanya dalam makanan, tetapi dalam hampir seluruh ranah kehidupan. TV untuk rasa bosan. Pil tidur untuk rasa ngantuk. Parfum, aksesori, dan pakaian bermerk untuk rasa percaya diri alias pede. Mengapa stimulan kian marak? Karena bagi banyak orang, hidup tidak punya rasa lagi.

Anthony de Mello membedakan dua macam perasaan. Pertama, feeling of the world (perasaan duniawi). Perasaan ini muncul ketika kita: dipuji, ditepuki, unggul dalam argumen, mencapai puncak karir, menjadi juara, menang taruhan, meraih sukses, menjadi bos, memiliki wewenang. Semua ini tidak alami, tetapi diciptakan oleh masyarakat dan ‘keakuan’ kita untuk mengontrol hidup kita. Ini berasal dari pengagungan diri dan promosi diri. Ujungnya adalah kehampaan. Dalam keadaan seperti ini kita mempunyai pilihan: (1) Berpaling ke berbagai ‘penyedap rasa’ yang juga akan berujung pada kesia-siaan dan kehampaan, atau (2) Fokus pada sang Pemberi hidup, yang tetap setia menjaga dan mengasihi kita. Sebab, fokus kita menentukan perasaan kita.

Kedua, feeling of the soul (perasaan jiwa) yaitu perasaan-perasaan ketika kita: menikmati indahnya matahari terbenam; alam yang sejuk dan indah; bunga yang harum dan menawan; sungguh-sungguh menikmati dan menghayati pekerjaan, hobi, membaca buku bagus, berada bersama teman yang kita kasihi, dan terutama menjalani hidup bersama Tuhan yang hidup.

Masih dalam kaiatan itu, pada kesempatan lain Mello mengatakan dengan amat meneguhkan demikian:
.
Hidup ini terlalu berharga diboroskan dalam pengejaran menjadi kaya, terkenal, berpenampilan ‘wah’, populer, kelihatan cantik/ ganteng atau kuatir menjadi miskin, tidak dikenal, dilupakan atau kelihatan berparas jelek. Apakah kita mau menggunakan naskah berharga untuk menyalakan api? Keinginan untuk ‘memberi kesan’ merupakan pemborosan kehidupan kita yang berharga. Sikap seperti inilah yang kebanyakan menyebabkan ketidakbahagiaan di dunia. Jadilah diri sendiri.

Kita dikondisikan oleh masyarakat, orang tua, keluarga untuk memainkan peran. Seolah hidup kita ini dekandilan oleh sebuah remote control: bagaimana kita harus bersikap, apa yang kita katakan, apa yang kita pakai ditentukan dari ‘luar’. Entah supaya kita diterima, disenangi, disanjung, diakui dan sebagainya. Hidup seperti ini adalah sebuah perbudakan. Kehidupan yang demikian biasanya membuat seseorang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kalau ia merasa lebih baik, ia merasa enak, bahkan bisa menjadi sombong dan gampang menghakimi. Kalau ia merasa lebih rendah dari orang lain, ia menjadi cemburu dan iri hati. Padahal, orang yang cemburu dan iri hati tidak mungkin bahagia.

Hidup yang merdeka adalah hidup yang dipimpin oleh suara hati --hati yang didiami oleh Tuhan sendiri. Hidup di dalam Tuhan memungkinkan kita untuk tidak dikendalikan oleh perasaan duniawi, tetapi sebaliknya hubungan kita dengan Tuhan menentukan perasaan kita. Kita tidak melihat peristiwa kehidupan secara sepotong-sepotong. Kita melihatnya secara utuh. Meyer menggambarkannya dengan baik melalui bahan-bahan kue: tepung, telor mentah, pengembang, garam, gula dan sebagainya, yang jika dimakan sendiri-sendiri rasanya tidak enak. Tetapi ketika semua bahan-bahan ini dicampur sedemikian dan dimasak menjadi kue, rasanya menjadi enak. Apakah Anda sedang mengalami rasa pahit, pedas, asam, hambar, manis saat ini? Anda dianugerahi hikmat untuk mengolahnya sedemikian rupa menjadi ‘kue’ kebahagiaan. Selamat mencoba.

Saturday, July 4, 2009

SUKSES dan RASA MALU

REFLEKSI MINGGU KE-27
06 JULI 2009



Agaknya, semua orang ingin ‘sukses’. Tapi tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang ‘sukses’. Umumnya orang mengukur sukses berdasarkan angka-angka atau pencapaian: meraih gelar sarjana, menduduki jabatan atau posisi tertentu, mendapat keuntungan besar, memiliki 2 perusahaan, mendapat sekian banyak piagam peng-hargaan dan sebagainya. Artinya, ‘sukses’ diukur terutama berdasarkan suatu perolehan atau pencapaian. Kelihatannya, ‘sukses’ seperti inilah yang terutama dikejar kebanyakan orang dari dulu hingga hari ini. Dan justru karena pengejaran ‘sukses’ yang demikianlah dunia ini kehilangan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Sebab, untuk sebuah ‘sukses’ manusia memaksa diri, mengenakan berbagai topeng (untuk menarik perhatian anak gadis, laki-laki misanya tampil kren dan pinjam mobil, berlagak orang ‘sukses’), mengabaikan sesama manusia (dengan persaingan tidak sehat dsb), menghancurkan alam ciptaan Tuhan (dengan polusi dan konsumsi berlabihan).

Jika demikian, yang seharusnya malu bukan mereka yang memiliki cukup pakaian sederhana, tetapi mereka yang berlebihan pakaian dan super-mahal pula dengan berusaha menarik perhatian orang lain kepada diri mereka, bukan memperhatikan orang lain yang sangat membutuhkan pertolongan.

Yang seharusnya malu, bukan orang yang gagal menempati suatu jabatan kepemimpinan walaupun dia lebih layak untuk jabatan itu, melainkan mereka yang ‘berhasil’ menduduki suatau jabatan karena berbagai cara dan rekayasa.

Yang seharusnya malu bukan mereka yang makan ala kadarnya di rumahnya dengan hasil jerih payahnya sendiri, melainkan mereka-mereka yang melahap makanan sambil pamer diri di restoran super-mahal padahal hasil curian dan korupsi.

Yang seharusnya malu, bukan mereka yang tinggal di rumah sederhana hasil perjuangan halal mereka, melainkan para penghuni rumah-rumah mewah dilengkapi perabot serba wah serta dilengkapi dengan kamera pengintai, satpam dan anjing raksasa, padahal hasil curian dan penindasan bawahan.

Tetapi, sekiranya orang-orang 'sukses' seperti itu sudah kehilangan rasa malu, kita tidak boleh ‘mempermalukan’ mereka. Toh mereka adalah saudara-saudara kita. Mereka perlu ditolong melalui doa dan sapaan yang menggugah untuk sebuah perubahan dari dalam diri mereka sendiri. Hanya kasih yang dapat menghasilkan perubahan yang baik. Perlu ditekankan pula di sini bahwa tidak semua yang berpakaian bagus itu yang pamer diri, tidak semua orang yang makan di restoran itu dari hasil curian, tidak semua orang yang memiliki rumah mewah itu tukang korupsi.

Dapat ditambahkan, bahwa Gereja yang sukses bukan diukur berdasarkan ‘keberhasilannya’ membangun gedung gereja miliaran rupiah, berhasil juara 1 sedunia paduan suara, memiliki saldo uang segudang (walaupun semua ini tidak salah pada dirinya). Gereja yang sukses adalah gereja yang mewujudkan kehendak Bapa, Sang Pemilik gereja itu sendiri. Singkatnya apakah jawaban gereja dan warga jemaat atas pertanyaan Yesus, “apakah Engkau mengasihi Aku?” Sedihnya, hingga saat ini, kedagingan, keakuan, kelompoksisme, kehausan akan keberhasilan material dan penampilan fisik begitu kuat menjerat gereja-gereja. Kita membutuhkan pertobataan terus-menerus.

Sukses yang sesungguhnya bukan terutama berkaitan dengan pencapaian sebuah prestasi atau posisi; bukan pula diukur dari jumlah uang yang dikumpulkan. Ada dua unsur hakiki keberhasilan yang kristiani. Satu, menerima dan mensyukuri keberadaan diri sebagaimana Tuhan kehendaki. Dua, mewujudkan tugas panggilan sebagaimana Tuhan amanatkan: menjadi garam dan terang dunia atau menjadi berkat. Jadi, sukses adalah ‘menerima’ dan ‘memberi’ diri seturut rencana dan rancangan Tuhan. Kita dapat melihat bagaiamana Yesus ‘mengukur’ sukses kehadiranNya di dunia ini yang berkata: “Aku datang, bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 6:38). Dalam hal ini John C. Maxwell benar ketika ia menekankan salah satu defenisi SUKSES: ‘menaburkan benih yang membangun sesama'.

Akhirnya, kata-kata Jean Fleming berikut amat tepat kita hidupi:
"Jika kita mengijinkan masyarakat mendefenisikan sukses untuk kita, kita menjadi domba yang digembalakan oleh seorang gembala yang defenisinya 180 derajat dari kehendak Allah. Orang Kristen mestinya tidak memiliki motivasi berdasarkan penampilan, status, harta milik atau pencapaian, melainkan atas kesetiaan akan apa yang Allah firmankan. Tolaklah pengertian umum sukses dan suatu saat Anda akan mendengar Tuhan berkata, “baik sekali perbuatanmu, hambaku yang setia”(Mat 25:21).

Sunday, June 28, 2009

MINYAK HABIS 34 TAHUN LAGI?

REFLEKSI MINGGU KE-26
29 Juni 2009


Saat ini 860 juta mobil lalu-lalang memenuhi jalan-jalan di seluruh dunia. [7] Dan pertambahannya meningkat setiap tahun. Jika suatu hari China memiliki satu mobil untuk 4 orang penduduk (seperti gaya hidup Amerika sekarang), maka China akan memiliki 1,1 miliar mobil. Bayangkan, berapa banyak minyak yang akan dilahapnya. Untuk menyediakan jalan dan tempat parkir saja China membutuhkan lahan setara dengan luas pertanian padi yang ada di sana sekarang. China akan membutuhkan 99 juta barrel minyak per hari (padahal produksi minyak saat ini hanya sekitar 84 juta barrel per hari [8]). Jika ini berlanjut terus, diperkirakan minyaka dunia akan ludes 34 tahun ke depan. Kita belum bicara India yang juga berpenduduk 1 miliaran dan Indonesia yang lebih dari seperempat miliar. Jika semuanya ingin sama seperti gaya hidup Amerika, bumi ini akan punah segera.

Kendaraan bermotor ditambah dengan mesin yang menggunakan minyak merupakan penyebab polusi udara yang saat ini sudah berada pada tahap yang sangat berbahaya. Seluruh dunia menghabiskan minyak 28 miliar barel setiap tahun.[1] Amerika Utara dan Asia merupakan pengguna minyak terbesar, masing-masing 25,3 juta barrel dan 21,4 juta barrel per hari.[2] Lebih khusus lagi, Amerika dan China merupakan dua negara yang merupakan sumber polusi terbesar yang mengancam kehidupan bumi ini hingga sekarang.[3] AS, pelahap minyak terbesar dunia, menghabiskan minyak 20,4 juta barrel per hari[4] –24 persen dari total konsumsi minyak dunia setiap hari[5]; sedangkan di China terdapat beberapa kota terpolusi di dunia .[6]

Di samping mengotori udara, polusi dari kendaraan juga merupakan penyumbang terbesar terjadinya pemanasan global yang sudah sangat mengancam kehidupa saat ini.
Di samping kendaraan bermotor, peswat udara juga merupakan sumber polusi udara dan pemanasan global. Pesawat udara diperkirakan menyumbang 3.5 persen terhadap pemanasan global, yang diperkirakan akan bertambah menjadi 15 persen pada 2050[9] seiring dengan pertambahan penumpang peswat udara. Persentase warga bumi yang menumbang pesawat udara sebenarnya sangat kecil, tetapi mengakibatkan polusi udara dan pemanasan global dalam persentase yang relatif besar.
.
Masih perlu kita tambahkan dua kelompok pesawat udara yang lain. Pertama, pesawat-pesawat militer yang juga menghabiskan luar biasa banyak enerji. Kedua, pesawat atau jet pribadi milik para pebisnis atau pengusaha, politikus, selebriti, termasuk televangelis Benny Hinn. Khusus yang disebut terakhir ini, Benny Hinn, ia memiliki rumah mewah seharga 10 juta US$ (sekitar Rp. 111 miliar), ia mengadakan perjalanan dengan jet pribadi dengan pengeluaran US$ 100.000 per bulan hanya untuk jet pribadinya, ia juga memiliki dua mobil Mercedes baru.[10] (Jika Anda menganggap yang seperti itulah yang diberkati Tuhan, kita perlu berpikir ulang!).
.
Pertambahan pesawat pribadi kelihatannya akan terus melaju. Pada tahun 2006 saja ada 40.000 pesawat pribadi yang dibuat. Pesawat pribadi menyemburkan 4 ton karbondioksida setiap jamnya dan hanya membawa sedikit penumpang. Artinya rasio polusi-per-penumpang lebih tinggi dari pesawat komersial. [11]

Apa hubungannya dengan kita?

  1. Keadaan alam ciptaan Tuhan dan milik Tuhan ini, sudah amat tercemar. Yang membuat, bukan hanya ‘mereka’ tetapi 'kita' secara keseluruhan. Sebab, semua yang kita konsumsi atau gunakan (kendaraan, pakaian, peralatan elektronik dsb) juga menyumbang terhadap polusi. Mungkin persentasenya berbeda-beda dari orang yang satu ke yang lain, tetapi pada dasarnya kita semuanya ikut bertanggungungjawab.
  2. .
  3. Sudah saatnya kita secara serius mempertimbangkan pola pikir dan pola hidup kita. Misalnya, kalau dulu jalan-jalan ke luar negeri merupakan sebuah simbol status yang dapat menjadi suatu kebanggaan, saat ini merupakan sesuatu yang perlu dihindari. Lain halnya karena tugas yang tidak bisa terelakkan. Atau, ketika usia sudah ujur, yang merupakan kesempatan terakhir. Ketika kita menumpang pesawat udara, kita ikut menambah polusi dan pemanasan global. Apalagi kalau jalan-jalan malah bukan sebuah refreshing. Saya pernah mendengar satu keluarga berbulan-bulan mempersiapkan perjalanan ke luar negeri hanhya seminggu. Selama seminggu berada di tempat yang dituju, mereka lelah, terkadang bingung dan juga sibuk mengambil foto-foto yang akan ditunjukkan kepada teman-temannya. Liburan pun berlalu tanpa sesuatu yang bermakna. Dalam hidup ini mungkin akan semakin banyak yang dapat kita lakukan, tetapi tidak semuanya perlu kita lakukan. Tidak semua yang mampu kita lakukan baik kita lakukan.
  4. .
  5. Ketika Allah menciptakan manausia pertama dan menghembuskan nafas kehidupan melalui lubang hidungnya, kandungan oksigen segar ada di situ. Allah memberi yang terbaik untuk kita dan kita dipanggil untuk memberi yang terbaik bagi sesama --di antaranya memberi kesempatan kepada sesama untuk menghirup udara segar.

Catatan:

Anda yang ingin mendalami masalah krisis ekologi saat ini, buku-buku dan website berikut merupakan beberapa di antara sekian banyak sumber yang baik.




[1] Colin Mason, The 2030 Spike: Countdown to Global Catastrophe, London: EarthScan, 2003, p. 11.
[2] The Worldwatch Institute, Vital Signs 2007-2008. The Trends That Are Shaping Our Future, New York: The Worldwatch Institute, 2007, p. 32.
[3] Per Larson, Your Will Be Done on Earth: Ecological Theology for Asia. An Ecumenical Textbook for Theological School, Hong Kong: CCA, 2004, p. 16.
[4] http://www.ecobridge.org/content/g_cse.htm, accessed 14 September 2007.
[5] The Worldwatch Institute ,Vital Signs, p. 32.
[6] UN-HABITAT, State of the World’s Cities 2006/2007, Sterling: Earthscan, 2007, p. 15.
[7] Lester R. Brown, Plan B 3.0: Mobilizing to Save Civilization, New York: W.W. Norton & Company, 2008, p. 13.
[8] Brown, Plan B 3.0, p. 13.
[9] http://www.ecobridge.org/content/g_cse.htm, accessed 14 September 2007.
[10] http://www.bible.ca/tongues-benny-hinn-ministries-fake-fraud-miracles-healing-prayer.htm, accessed 23 June 2009
[11] The Worldwatch Institute, Vital Signs, p. 70.

Sunday, June 21, 2009

H U T A N


REFLEKSI MINGGU KE-25
21/06/2009

Salah satu ancaman terbesar dalam kehidupan kita saat ini adalah penghancuran hutan dunia secara besar-besaran. Masalah kemiskinan dan hegemoni kekayaan dua-duanya ada di balik kehancuran hutan. Karena kemiskinan, banyak peladang berpindah yang menebang dan membakar hutan untuk bercocok tanam atau untuk kayu bakar. Orang-orang kaya yang umumnya tinggal di kota-kota memburu komoditi yang berkaitan langsung dengan hutan seperti minyak kelapa sawit, kacang kedele, coklat, daging sapi (untuk membesarkan sapi, hutan juga korban), perabot, kertas dan lain-lain.

Total luas hutan dunia adalah sekiar 4 miliar hektar (sekitar 1/3 dari total daratan). FAO memperkirakan (2000) hutan dunia lenyap seluas 9 juta hektar setiap tahun pada akhir decade abad ke-20 (pengurangan 2,4 persen) Dan antara 1990-2005, hutan dunia lenyap 3 persen dari total luas hutan (berkurang rata-rata 0.2 persen setiap tahun). Penebangan dan penggunaan pohon setiap tahun dalam tingkat dunia diperkirakan: 2,25 miliarton sebagai bahan bakar di negara-negara berkembang; 1,25 miliar ton untuk pembuatan kertas; belum termasuk untuk perabot, bahan bangunan dan sebagainya.

Pengurangan hutan dunia berdampak langsung sedikitnya pada perubahan iklim dan berkurangnya pasokan air tawar. Misalnya, hutan Amazon di Amerika Selatan, yang merupakan hutan terluas di dunia, merupakan sumber seperlima dari total air dunia, semakin menurun tahun demi tahun. Masalahnya bukan hanya berkurangnya hutan secara kuantitas, tetapi juga dari segi kualitas. Itu sebabnya di berbagai negara maju sekarang ini percakapan seputar hutan telah beralih dari “berapa banyak” hutan yang kita butuhkan ke “jenis hutan apa” yang masih tersisa dan yang dapat diciptakan.

Sayangnya, negara-negara maju tersebut sebenarnya mengabaikan kuantitas dan kualitas hutan. Semua Negara-negara kaya dapat memelihara hutannya sendiri tetapi mereka lebih bertanggungjawab dalam hal pemunahan hutan dunia. Edward Brown, misalnya, berkata, “Jepang tidak mungkin memelihara standar lingkungan dan ekonominya jika ia tidak mengambil sumber-sumber alam dari –dan mengekspor masalah-masalah lingkungan ke – negara lain. Jepang dapat mempertahankan hutannya, tetapi ia adalah salah satu pemeran utama pengabisan hutan di Negara-negara lain, seperti Indonesia.” Hal yang sama juga terjadi di negara-negara maju lainnya seperti Eropa, Amerika Serikat, Singapura dan sebagainya.

Di antara sekian akibat berkurangnya hutan adalah sebagai berikut:
  • Terancamnya kehidupan. Hutan ‘memelihara’ lebih dari setengah spesies dunia. Semakin berkurang hutan semakin banyak pula tumbuhan dan binatang yang punah.
    Peranan hutan sangat menentukan curah hujan. Artinya, semakin banyak pohon yang tumbang, iklim juga semakin kacau. Akibatnya, pertanian juga akan mengalami masalah.
  • Pohon-pohon adalah ‘pemakan’ alami karbondioksida (sekitar 20% karbondioksida global menjadi tanggung jawab pohon-pohon untuk ‘mengamankannya). Maka dengan berkurangnya pohon, semakin banyak karbondioksida yang tidak dapat ditangani, pemanasan global pun tidak terelakkan. Dan pemanasan global berarti ‘angsuran neraka’.

Sikap dan tindakan apa yang bisa kita lakukan sebagai orang Kristen?

1. Berangkat dari kesadaran bahwa Allah menciptakan hutan, bukan hanya untuk kebutuhan manusia (apalagi untuk ‘keinginan dan kerakusan manusia). Allah menciptakan bumi, termasuk pohon di dalamnya, karena Ia menganggapnya baik. Lagi pula, semua yang bernafas memuji Tuhan (Mzm 150:6). Ini tidak berarti bahwa kita harus menyembah pohon, sama seperti keyakinan yang pernah ada di beberapa tempat, tetapi menghormati Allah dengan menghargai ciptaan-Nya.
2. Mengaurangi segala sesuatu yang berkaitan dengan perusakan hutan baik secara langsung (menebang dan membakar) maupun tidak langsung (menggunakan secara berlebihan produk hutan, dan yang dapat merusak hutan). Singkatnya, gaya hidup perlu menjadi perhatian serius. Pakaian dan perabot secukupnya. Berkendara seperlunya. Dan sebagainya.
3. Menam pohon di lingkungan rumah, gereja, dan tempat-tempat di mana memungkinkan.

Sunday, June 14, 2009

A I R


REFLEKSI SENIN KE-24

16/6/2009


Ketersediaan air tawar dunia semakin terbatas dan pendistribusiannya juga tidak merata. Sekitar satu miliar penduduk dunia saat ini mengalami kekurangan air minum yang bersih. Masih ada air, tapi tidak bersih. The International Water Management Institute memperkirakan bahwa sekitar satu miliar penduduk akan benar-benar mengalami kekurangan air pada tahun 2025. Yang kurang bersih pun tidak tersedia! Bahkan ada yang memperkirakan 3 miliar akan menghadapi ketegangan berkaitan dengan ketersediaan air pada tahun 2025. PBB memperingatkan kemungkinan perang pada tahun 2032 untuk memperebutkan sungai sebagai sumber air.[1] Banyak yang memperkirakan bahwa perang ke depan bukan terutama memperebutkan minyak, tetapi justru memperebutkan air. Kemungkinan ini sangat terbuka khususnya di Timur Tengah.[2]

Mengapa pasokan air bersih berkurang? (1) Karena penggundulan hutan yang sudah melampaui batas, baik karena ulah mereka-mereka yang kaya dan berkuasa, maupun karena pembukaan lahan baru dengan menebang dan membakar hutan oleh para peladang berpindah. (2) Banyak sumber air yang tercemar oleh limbah dari berbagai industri. (3) Dengan mencairnya es di kutub bumi (karena pemanasan global), maka air laut pun naik yang dapat mengganggu ketersediaan air tawar.

Persentase penggunaan air dalam tingkat dunia adalah: untuk rumah tangga 8%; industri 22%, dan pertanian 70%.[3] Masalah kelangkaan air sudah semakin meningkat di 26 negara yang total penduduknya sekitar 200-300 juta . (Kekurangan air diartikan: kurang dari 1000 m3/ orang/ tahun.) Sejak awal tahun 2000, sepertiga dari total penduduk Afrika berada dalam keadaan kekurangan air. Air bersih sudah semkain menurun juga di China, India, Mexico, bagian Timur AS, Afrika Utara dan Timur Tengah. Seiring dengan berkurangnya pasokan air, hasil pertanian juga akan menurun sebagaimana sudah terjadi di sebagian besar Afrika.[4]

Dalam hal ini ada beberapa hal yang kiranya perlu kita sikapi, hindari dan lakukan dengan sepenuh hati:
  1. Air adalah pemberian Tuhan untuk kehidupan seluruh ciptaan-Nya. Seringkali kita kurang memberi perhatian pada pemberian yang sangat berharga ini. Mungkin karena kita sudah terbiasa setiap hari menggunakan air, apakah kita beli atau tidak, seolah-olah kita tidak perlu mensyukurinya, menggunakannya sebaik-baiknya, dan menjaga kelangsungannya, baik dari segi kecukupan maupun kebersihannya.

  2. Sudah saatnya kita melakukan penghematan air. Memang, sebagian dari kita yang ekonomi pas-pasan mungkin kontrol yang kita lakukan terhadap kran-kran air di rumah lebih ketat. Berbeda dengan mereka yang tidak mempersoalkan pembayaran air karena cukup uang (atau --yang lebih celaka-- mereka-mereka yang tinggal di rumah dinas, yang airnya ditanggung kantor) air banyak yang terbuang.

  3. Kita perlu memperhatikan konsumsi kita, baik makanan maupun barang-barang yang kita gunakan. “Kecerdasan Ekologi” yang disebutkan oleh Daniel Golemann (2009) hendaknya menjadi salah satu panduan kita yang hidup pada zaman ini. Kecerdasan Ekologi juga menyangkut bagaimana kita memilih makanan yanag kita konsumsi dan barang-barang yang kita gunakan. Mengurangi konsumsi daging, dapat menghemat air. Karena untuk memelihara sapi misalnya, hutan berkurang dan air yang dibutuhkan juga sangat banyak untuk menghasilkan 1 kg daging sapi saja. Lemari dan kursi kayu yang berlebihan, pakaian dsb. pasti akan menghabiskan hutan, yang ujung-ujungnya berdampak kepada berkurangnya air tawar.

  4. Yesus adalah air hidup. Tuhan juga meberikan air untuk kehidupan kita di dunia ini. Menghemat air tidak berarti bahwa kita harus mengurangi minum air. Untuk kebutuhan minum, air pasti cukup untuk kita semua. Karena itu, minumlah air sesuai anjuran pakar kesehatan untuk membuat tubuh kita sehat. Di samping mensyukurinya setiap kali kita meminumnya, kita juga hendaknya tergerak untuk menjaga ketersediaannya dan kebersihannya.




[1] Colin Mason, The 2030 Spike: Countdown to Global Catastrophe (London: EarthScan, 2003), 44-45
[2] Edward Brown, Our Father’s World. Mobilizing the Church to Care for Creation, (South Hadley: Doorlight Publications, 2006), 27
[3] I. John Mohan Razu, “Water for People, Water for Life: An Ethical (Christian) Response”, in Sam P. Mathew and Chandran Paul Martin (eds.), Waters of Life and Death. Ethical and Theological Responses to Contemporary Water Crisis, (Kashmere Gate, India: UELCI/ ISPCK, 2005), 24.
[4] Karolyn M. King, Habitat of Grace: Biology, Christianity and the Global Environmental Crisis, (Adelaide: Australian Theological Forum, 2002), 4.

Friday, June 12, 2009

NOVI DAN FINA TINAMBUNAN


Nofi Tinambunan dan Fina Tinambunan, putri kembar St. Amry T. Tinambunan/ R br Sihotang (Duri).
*********
NOFI GLORIA TINAMBUNAN (kakak) dan FINA KARISMA TINAMBUNAN (adek), lahir 10 Desember 2008. Saat ini sudah berumur 6 bulan lebih . Pertumbuhan keseharian sangat baik. Keduanya suka tertawa, sudah mengenal orang tuanya, mengeti dan mengetahui jika mau dikasih minum dan makan, suka minum air putih dari gelas bukan dari dot, tahu jika dipanggil namanya. Lebih suka dibaringkan di tempat tidur daripada digendong.

Saturday, June 6, 2009

PERSEMBAHAN DI HKBP: PERPULUHAN ATAU PERSERATUSAN?

REFLEKSI SENIN KE-23 2009
08 Juni
Perbedaan-perbedaan sebutan dan pelaksanaan penyerahan persembahan dalam kekristenan barangkali masih relevan untuk dikaji dan diuji. Kita sering mendengar sebutan persembahan minggu, persembahan bulanan, persembahan perpuluhan, persembahan syukur dan sebagainya, yang dapat saja memunculkan pertanyaan, “berapa macam bentuk persembahan dan berapa seharusnya jumlah persembahan?”

Sebenarnya, Alkitab tidak menempatkan persembahan sebagai sesuatu yang terpenting. Hal ini dapat kita mengerti, karena Tuhan tidak kekurangan apapun termasuk uang. Segala sesuatu adalah milikNya. Pada hakikatnya, pemberian persembahan merupakan bukti penyerahan diri kita kepada Tuhan, bukan bersandar pada milik kita. Itu adalah juga bagian dari kerelaan kita melayani dengan apa yang kita miliki untuk kebaikan sesama.

Sehubungan dengan itu, kita dapat melihat beberapa hal menyangkut persembahan perpuluhan di dalam Alkitab, di antaranya:

1. Persembahan perpuluhan berawal dari nazar Yakub (Kej. 28:20-22), bukan perintah Allah. Jadi, kalau mau memberi persembahan perpuluhan boleh dan baik, tetapi bukan kewajiban dari Allah, melainkan kerinduan kita.

Ada yang merujuk pada Abraham sebagai awal pemberian persembahan perpuluhan. Memang dalam Kej 14:17-20 dikatakan bahwa Abram memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari harta benda yang berhasial ‘diselamatkan’ dari musuh. Tetapi agaknya hal ini tidak dapat dijadikan sebagai dasar alkitabiah pemberian persembahan. Selengkapnya Kej. 14:17-20 berbunyi demikian:

Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.

2. Dalam kitab Ulangan kita menemukan dua jenis perpuluhan. Pertama, dalam Ulangan 12:6-9 dikatakan bahwa masing-masing keluarga membawa perpuluhan dan persembahan yang lain ke bait suci. Mereka bersama-sama makan dengan para imam dengan sukaria. Kedua, setiap akhir tahun ketiga, persembahan juga dibawa kepada orang-orang miskin --bukan mau menyembah orang miskin, tetapi agar mereka beroleh makanan (ayat 26-27). Hal ini bisa kita bandingan dengan Ulangan 26:12: “Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang.” Jadi, menolong orang miskin adalah bagian dari persembahan.

Dalam kaitan ini, ada satu peringatan penting dari Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 6:2:

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.

3. Dalam Maleaki 3:10 juga disebut tentang perpuluhan, yang tujuannya adalah untuk persediaan makanan di bait suci. ‘Curahan berkat’ yang disebutkan di situ bukan akibat dari perpuluhan itu, tetapi justru sebaliknya: seseorang dapat memberi perpuluhan karena sudah menerimanya dari Tuhan dan Ia akan terus menerus mencurahkan berkatnya yang tidak tergantung pada permintaan dan perbuatan manusia. Dengan kata lain, persembahan adalah “persembahan karena” bukan “persembahan supaya”. Kita memeberi persembahan karena kita bersyukur atas pemberian Tuhan bukan supaya Allah memberi berkat-Nya atau supaya dipuji orang seperti disebut dalam Matius 6:2 tadi.

4. Dalam Mzm. 51:19 dikatakan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk....” Artinya, Allah lebih melihat hati dan jiwa yang sepenuhnya berserah kepada Tuhan daripada segala bentuk persembahan bahkan dengan jumlah yang sangat besar sekalipun.

5. Yesus sendiri sangat tegas menolak segala bentuk persembahan yang tidak disertai keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Selengkapnya dalam Matius 23:23 dikatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Hal yang sama sudah diperingatkan oleh Nabi Amos (lihat Amos 5:22 yang menyatakan bahwa Allah tidak menyukai persembahan tanpa keadilan).

6. Rasul Paulus menasihatkan demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Persembahan di sini melampaui yang sifatnya materi, tetapi hidup itu sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, persembahan tidak saja perpuluhan (10 persen dari pendapatan) tetapi perseratusan (seluruhnya diri dan kepunyaan kita). Semuanya adalah milik-Nya: hidup kita dan apa yang kita miliki. Inilah semuanya yang kita persembahkan kepadaNya. Hal ini jelas terungkap dalam nyanyian doa persembahan dalam tata ibadah HKBP yang berbunyi, “Tuhan, karuniaMu, roh dan jiwaku semua, nyawa juga hidupku, harta milikku semua, kuserahkan padaMu untuk selama-lamanya.”

Persembahan di HKBP

Dua tahun belakangan ini, di dalam Almanak HKBP dicantumkan mengenai pemberlakuan pengumpulan dan penatalayanan persembahan di HKBP, merujuk pada keputusan Sinode Agung HKBP 1970. Pada waktu itu hampir semua jemaat HKBP mengumpulkan dua kali persembahan setiap ibadah Minggu (sebelum dan sesudah khotbah berlangsung). Kemudian, bertambah menjadi 3 kali pengumpulan persembahan yang disebut dengan pesesembahan IA, IB dan persembahan II. Persembahan II seharusnya diserahkan ke kantor Pusat HKBP untuk keperluan pelayanan di lingkungan kantor pusat HKBP, Kantor distrik-distrik HKBP (termasuk para praeses), lembaga pendidikan STT HKBP, Sekolah Guru Huria, Pendidikan Diakones, Sekolah Bibelvrouw, Diakoni Sosial dan sebagainya. Biaya untuk pelayanan ini tergolong amat besar.

Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa jemaat mengambil ‘kebijakan’ masing-masing. Tidak ada data akurat berapa jemaat yang masih menyerahkan seluruh persembahan II ke kantor pusat. Yang jelas ada beberapa jemaat HKBP yang tetap mengumpulkan tiga kali persembahan Minggu tetapi tidak sepenuhnya menyerahkan ke kantor pusat. Itu sebabnya di beberapa jemaat kita mendengar warta jemaat yang mengatakan misalnya Persembahan I Rp. 600.000, persembahan II, Rp. 51.000. Jumlah ini sebenarnya sudah ‘disesuaikan’ oleh parhalado jemaat setempat. Di salah satu jemaat HKBP di luar negeri misalnya, persembahan Minggu tetap dilakukan 3 kali. Tetapi keadaan keuangan 2008, dari sekitar 18% persembahan II –yang seharusnya diserahkan ke kantor pusat—yang diserahkan tidak sampai 2%. Keadaan ini sudah berjalan sejak lama.

HKBP ke Depan:

1. HKBP belum merumuskan dengan baik ‘teologi persembahan’ atau ‘teologi uang’. Rumusan seperti ini dibutuhkan agar jemaat-jemaat dan warga HKBP memahaminya dan memberikan persembahan sebagaimana Tuhan kehendaki. Intinya, HKBP menganut ajaran persembahan ‘perseratusan’. Artinya hidup dan semua milik orang percaya dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau HKBP mau menekankan lagi soal perpuluhan, itu seolah-olah HKBP memberi diskon 90%. Yang penting sekarang adalah bagaimana warga jemaat melakukan yang terbaik atas dasar iman dan kasihnya kepada Tuhan. Juga, bagaiamana Gereja ‘mengelola’ persembahan itu sesuai kehendak Tuhan.

2. Sebaiknya pengumpulan persembahan dalam ibadah Minggu, hari raya gerejawi dan di ‘partangiangan’ (persekutuan PA) dilakukan sekali saja. Pengumpulan persembahan lebih baik di tempat duduk, tidak harus ke depan. Dengan sekali pengumpulan persembahan dan tidak ke depan, diharapkan jalannya ibadah akan lebih khusuk dan setiap warga jemaat memberikan persembahan terutama dengan prinsip ‘antara aku dan Dia (Tuhan)’. Tidak ada kesan unsur ‘pemaksaan’ halus. Seingat saya ada satu jemaat GKJ di Yogyakarta yang mengubah 3 kali pengumpulan persembahan menjadi sekali saja, ternyata jumlah persembahan malah lebih banyak. Perubahan 3 kali menjadi sekali, tidak dimaksudkan ‘supaya’ persembahan lebih banyak (walaupun hal itu tidak salah), tetapi agaknya sekali pengumpulan persembahan lebih praktis dan teologis.

3. Pelaksanaan lelang dalam rangka penggalangan dana seharusnya ditiadakan di dalam gereja. Dana yang terkumpul mungkin saja lebih banyak dengan cara ini, tetapi jelas sekali ada hal-hal yang tidak sehat dan tidak membangun dalam praktek lelang di gereja. Di beberapa jemaat sudah ada yang menerapkan ‘janji iman’, yang perlu dikaji dan diteladani jemaat-jemaat yang lain.

4. Ressort-ressort seharusnya mengirimkan tanggungjawabnya ke pusat. Jika persembahan Minggu hanya sekali saja, maka perlu ditetapkan berapa persen yang dikirimkan ke kantor pusat, tergantung pada kebutuhan pelayanan pusat dan keadaan jemaat-jemaat HKBP. Ada yang mengatakan bahwa persembahana tidak dikirimkan ke pusat karena pusat tidak menggunakan dengan baik atau pusat tidak berbuat apa-apa kepada jemaat. Tentu, kita berharap bahwa kantor pusat HKBP akan tetap berkomitmen sebagai ‘kantor pusat’ pelayanan, bukan tahta kekuasaan duniawi. Tetapi menahan atau tidak menerahkan persembahan yang seharusnya dikirimkan ke kantor pusat tidak dapat dibenarkan. Biarkan Pusat bertanggung jawab kepada Tuhan dan kepada Sinode Agung. Tentu kita semua berharap dan berdoa agar uang persembahan itu digunakan sesuai kehendak Tuhan.

5. Sebagian besar ressort-ressort yang mendapat berkat Tuhan lebih banyak terkesan memikirkan ressort/ jemaat sendiri. Para pelayan juga ada yang terlalu kenyang makan dan ada yang agak lapar. Ada yang berhasil deposito tapi banyak yang selalu defisit. Yang terjadi sekarang adalah: Ressort/ Jemaat A misalnya 300 KK, tetapi disitu 2 atau 3 pendeta. Mengapa? Mereka punya uang lebih banyak. Ressort/Jemaat B, 700 KK, pendeta hanya satu. Mengapa? Jemaat ‘tidak mampu’ membiayai. Kalau HKBP benar-benar satu, Ressort/jemaat A yang mempunyai lebih banyak uang sepantasnya membiayai belanja satu pendeta di ressort/ jemaat B. Ressort/ jemaat mana yang mau memulai? Di Parlilitan ada 26 jemaat pagaran, dengan anggota jemaaat sekitar 1000 KK dilayani hanya satu orang Pendeta. Mengapa? Itu tadi: Parlilitan terlilit kemiskinan. Sudah saatnya jemaat-jemaat benar-benar mempraktekkan bahwa HKBP adalah satu, termasuk dalam penatalayanan keuangan. Jemaat-jemaat yang memegang lebih banyak uang Tuhan (persembahan) dapat membiayai belanja dua orang pendeta, misalnya, di Ressort Parlilitan dan di ressort-ressort lain.

Lebih dari semua itu, uang adalah sebuah sarana, bukan tuan dan tujuan.

Sunday, May 31, 2009

YANG UTAMA DAN YANG SAMPINGAN


REFLEKSI SENIN KE-22, 2009: 01/06


Berikut sebuah gambaran menyangkut ‘filsafat kehidupan’. [1]

Bayangkan sebuah bejana kosong yang agak besar. Anda mengisinya dengan bola-bola tennis, sampai ‘penuh’. Kemudian ambil beberapa kotak kelereng, dan tuangkan ke dalam bejana itu. Dengan menggoyang-goyangkan bejana itu perhatikan kelereng-kelereng itu menyelusup di antara bola-bola tennis. Apakah bejana ‘penuh’? Ya. Baik, tuangkan pasir ke dalam bejana dan menggoyang-goyangkannya. Apakah pasir masih bisa masuk? Pasti! Ia sudah penuh? Mungkin kelihatannya sudah ‘penuh’. Tetapi coba tuangkan 2 gelas teh. Pasti masih bisa masuk.
.
Bejana ini menggambarkan kehidupan kita. Bola-bola tennis adalah hal-hal yang penting, iman, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman-teman, tugas panggilan. Semuanya itu akan membuat hidup Anda menjadi penuh, meskipun tidak ada hal-hal yang lain. Kelereng-kelereng menggambarkan hal-hal lain, pekerjaan, rumah, mobil, sepeda motor. Pasir adalah adalah barang yang kecil, tetapi jika Anda mengisinya di awal, maka tidak akan ada ruang untuk kelereng atau untuk bola-bola tennis.
.
Begitu juga di dalam hidup Anda, jika Anda menghabiskan waktu dan energi Anda untuk hal-hal yang remeh, maka Anda tidak akan punya ruang untuk hal-hal yang penting. Taruhlah perhatian Anda kepada hal-hal yang paling penting bagi damai sejahtera Anda. Bermainlah dengan anak-anak Anda, lakukanlah medical checkup. Pergilah keluar dengan pasangan Anda, luangkanlah waktu sendirian dengan Tuhan, sebab selalu ada waktu untuk pekerjaan-perkerjaan penting (yang bukan terpenting) lainnya. Isilah bejana Anda dengan bola-bola tennis terlebih dahulu, yaitu hal-hal yang sangat penting. Buatlah prioritas, sisanya hanya pasir, dan jika kita membangun rumah kita di atas pasir, maka risikonya akan terlalu besar.

Perkataan Yesus dalam Matius 7:24-27 berikut kiranya menjadi lebih mudah kita pahami, terima dan wujudkan dalam kehidupan kita:

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Bagi kita yang sibuk ‘membangun’ (bekerja, memprogram, melakukan perjalanan panjang dll) sepanjang hari ini, perlu kita pastikan bahwa semuanya adalah bagian dari ‘bola-bola tennis’ --bagian dari yang terutama. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi ‘orang yang sibuk’ tetapi tetap bersukacita, berlelah tetapi tidak gampang tersulut amarah dan hidup kita menjadi berkat.


[1] Daidaptasi dari http://www.dci.org.uk/indonesian/ind-surat.htm, akses 18/5/09

Thursday, May 28, 2009

BUKU: BERKOMUNIKASI DENGAN HATI


Dengan mengucap syukur kepada Tuhan saya dengan gembira memperkenalkan buku sederhana yang baru saja terbit (Mei 2009) Berkomunikasi Dengan Hati: Kumpulan Refleksi Seputar Diri Sendiri, Motivasi dan Komunikasi. Buku ini berisi 33 kumpulan tulisan yang disertai kata pengantar dari Pdt Ayub Yahya.


Kata Pengantar
Ayub Yahya

“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih.
Suci lahir dan di dalam batin.
Tengoklah ke dalam sebelum bicara.
Singkirkan debu yang masih melekat.”
(Ebiet G. Ade)

Zaman ini adalah “zaman mata dan telinga”; orang cenderung mengutamakan apa yang “terlihat” dan “terdengar”. Lalu abai terhadap kedalaman hati. Tidak heran kalau kemudian orang lebih peduli dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Lebih peduli dengan kemasan. Mereka lupa, bahwa apa yang “terlihat” dan “terdengar” itu berawal dari hati. Dari hati yang “jernih dan bening” akan terlihat dan terdengar hal-hal yang jernih dan bening. Sebaliknya dari hati yang “buram dan kusam”, akan terlihat dan terdengar pula hal-hal yang buram dan kusam.

Maka, sebetulnya untuk menata agar apa yang kita perlihatkan dan perdengarkan itu bukan saja “enak disimak”, tetapi juga “baik dan benar”, terlebih dahulu kita harus menata hati. Begini saja. Bayangkan sebuah rumah yang megah dan mewah, terletak di pemukiman elite, tetapi kotor; debu dimana-mana, sampah ber-serakan. Pasti akan menimbulkan ketidak-nyamanan, bahkan penyakit. Sebaliknya sebuah rumah yang sederhana, tidak luas, terletak di pemukiman biasa, tetapi ber-sih dan asri; tetanaman tertata apik, dan halaman terawat ba-ik. Pasti akan membuat kita merasa tentram dan nyaman. Lebih dari itu menyehatkan.

Seperti itulah hati kita. Dari hati yang bersih dari segala debu kotoran –dengki, iri hati, kepalsuan, dendam, prasangka busuk-- akan bermunculan hal-hal yang indah dan memba-ngun. Sebaliknya dari hati yang dipenuhi oleh segala debu ko-toran itu, akan bermunculan hal-hal yang buruk dan merusak.

Realitas inilah yang hendak disampaikan penulis melalui bukunya, “Berkomunikasi dengan Hati”. Melalui keseder-hanaannya bertutur, secara jernih ia menyampaikan pesan demi pesannya, tanpa kesan mengkhotbahi atau menggurui. Karenanya buku ini enak dibaca dan asyik disimak. Bagai kita tengah menikmati perjalanan panjang dengan teman yang cerdas dan menyenangkan. Tidak terasa, tahu-tahu kita sudah sampai di tempat tujuan. Sungguh, saya merasa terhormat mendapat kesempatan memberi sedikit kata pengantar di sini. Selamat membaca.


Ayub Yahya
Bukit Batok, Sabtu Sunyi 2009

---------------------------------------------------


DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Ayub Yahya...............................................................
Prawacana: Tiga Pilar Komunikasi...........................

Bagian 1
Merawat Hati Menata Hidup

1. Krisis Tanpa Tangis
2. Mengalami Waktu
3. Temperamen ‘Plus’
4. Hati-hati Dengan Hati
5. Hikmat
6. Ketika Jalan Hidup Tak Lurus dan Mulus
7. Kala Tertunda di Kauda
8. Melepas Kelekatan
9. Memilih Penghuni Pikiran
10. Menghalau Kekuatiran
11. Memilah dan Memilih dengan Bijaksana
12. Mengutamakan Yang Tuhan Utamakan
13. Bejana Tanah Liat, bukan Selebriti
14. Bebas Narsis Spiritual
15. Tambah Usia Tanpa Gelisah
16. Kesuksesan Yang Gagal

Bagian 2
Komunikasi Yang Mengalir dari Hati Damai

17. Antara Dia dan Aku
18. Cara
19. Harga Manusia: Tidak Pernah Diskon
20. Khasiat Senyum dan Tawa
21. Kritik, Yes! Tukang Kritik, No!
22. Seni Mendengarkan
23. Bereaksi Dengan Cerdas
24. Mengatakan ‘Tidak’
25. Sekali Lagi Tentang Memadamkan Amarah
26. Mengatakan Keburukan Orang Lain, Boleh?
27. Masalah Memberi Kesan
28. Menabur Kesabaran Menuai Kedamaian
29. Pengampunan
30. Menyikapi Kesalahpengertian
31. Surat Yang Menyembuhkan
32. Masalah Triangulation dalam Komunikasi
33. Menghindari Polusi Televisi

Sekiranya Anda membutuhkan buku ini, silahkan menghubungi Ibu Warni di warni.pangaribuan@gmail.com

SEMINAR ANGKATAN IV

Hari ini, 28 Mei 2009, Seminar Kepemimpinan yang diselenggarakan Haggai Institute dimulai. Peserta berjumlah 11 orang. Ada dua pendeta HKBP yang mengikutinya kali ini: Pdt Timbul Hutahaean (HKBP Ressort Parlilitan) dan Pdt Sanggam Siahaan (Pendeta NHKBP Ressort Batam). Seminar diawali dengan Ibadah Pembukaan dengan renungan dari Mat. 28:16-20 yang disampaikan oleh Pdt Petrus (FES Singapura). Seminar ini berlangsung selama 3 hari.

Seminar angkatan ke-5 akan berlangsung akhir Agustus 2009 nanti. Anda yang merasa terpanggil mengikuti seminar ini silahkan mengubungi kami di victor.tinambunan@gmail.com

Saturday, May 23, 2009

MEMBERI 'KARENA' BUKAN 'SUPAYA'


REFLEKSI SENIN KE-21 2009; 25/05


‘Hukum pemberian berbalasan setimpal’ tidak asing dalam kehidupan kita keseharian. Misalnya, kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Bagi sebagian orang mungkin hadiahnya pun diusahakan agar harganya kurang lebih sama dengan yang pernah diterima. Jika orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa jika kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA berikutnya diadakan di rumahnya. Kalau tidak, kita juga tidak datang mengikuti PA di rumahnya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”.

Selain itu, ada pula ‘pemberian berbalasan’ yang berbeda bentuknya. Misalnya, suatu pemberian dalam bentuk materi tidak harus dibalas dengan materi, tetapi dengan ucapan terima kasih, pengakuan, pujian, atau ‘suara’ dalam suatu pemilihan. Celakanya, ada pula yang berprinsip: “Jika gereja ‘memberi’ pelayanan yang baik (khotbah yang enak, tata ibadah yang semarak) ia memberi persembahan.” Jika demikian, apa bedanya gereja dengan bioskop dan restoran? Pemberian-pemberian yang bersifat duniawi biasanya selalu menggunakan perhitungan untung-rugi.

Yang sangat perlu kita kaji dan uji dalam memberi adalah ‘motivasi’ –yang menggerakkan dari dalam diri kita. Memberi secara kristiani adalah memberi karena bukan memberi supaya. Memberi ‘supaya’ adalah memberi dengan motivasi mengharapkan basalan mulai dari yang amat halus (seperti ucapan terima kasih atau memoles nama baik) hingga yang amat kentara seperti menuntut balasan setara atau malah lebih banyak dari apa yang diberikan. Memberi ‘karena’ adalah memberi karena kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita miliki bersumber dari Allah. Memberi, ‘karena’ itu baik menurut kehendak Tuhan.

Alkitab bersaksi bahwa Allah memberikan segala sesuatu yang baik yang kita butuhkan dalam hidup ini. Di antaranya: Tuhan ‘memberi makanan’ (Mat. 14 :16); ‘memberikan hikmat’ (Ams. 2:6); memberi kelegaan (Mat.11:28); ‘memberi kuasa’ dalam mengemban tugas panggilan (Mat. 10:1); bahkan Ia ‘memberikan’ nyawa-Nya untuk keselamatan dunia (Mat. 20:28). Jadi, sesungguhnya tidak ada yang kita miliki yang tidak kita terima. Hanya dengan kesadaran seperti itulah kita dapat ‘memberi’ dengan tulus.

Di antara sekian banyak yang baik yang dapat kita berikan kepada orang lain (seperti waktu, tenaga, nasihat, pertolongan), dalam Mat 6:1-4 kita menemukan perintah Yesus khusus tentang ‘memberi sedekah’. Yesus dengan tegas memperingatkan agar dalam memberi sedekah janganlah supaya dilihat orang (ay. 1) dan jangan supaya dipuji orang (ayat 2). Yesus mengatakan agar apa yang diberikan tangan kanan tidak diketahui tangan kiri. Artinya adalah seperti yang disebutkan dalam ayat 4: ‘tersembunyi’. Ini adalah pemberian yang terutama ‘antara kita dengan Tuhan’. Ini juga mengingatkan kita bahwa pemberian kepada orang yang berkekurangan adalah memberikan kepada Tuhan. Pada kesempatan lain Yesus berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kata ‘kamu lakukan’ di sini adalah memberikan pertolongan kepada mereka yang disebut Yesus sebagai saudara-saudara-Nya yang paling hina, yaitu orang yang kekurangan makanan, kekurangan pakaian, yang sakit, yang terpenjara (karena kebenaran).

Itu jugalah yang dihidupi oleh Rasul Paulus serta menasihatkannya kepada orang percaya: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kis. 20:35). Dunia ini mengajarkan bahwa kebahagiaan diperoleh dengan menambahkan semakin banyak untuk diri sendiri. Semangat dunia berbeda dengan firman Tuhan ini. Ada kebahagiaan dalam memberi.

Akhirnya, hendaklah kita senantiasa fokus pada Sang Pemberi, bukan pada pemberian-Nya. Ketika kita fokus pada ‘pemberian’, kita akan sulit memberi dengan tulus. Tetapi ketika kita fokus pada Allah, Sang Pemberi, segala pemberian kita akan menjadi berkat bagi orang lain, kebahagiaan bagi kita sendiri, dan kesukaan bagi Allah.

Sunday, May 17, 2009

A F F L U E N Z A


REFLEKSI SENIN KE-21 2009; 18/05
.
Obat penawar (penyakit) kerakusan adalah rasa puas dan kerelaan berbagi
(Peter Kreeft )

Penyakit yang satu ini, affluenza, berbeda dengan influenza, yang relatif mudah ditangani oleh dokter pada saat ini. Affluenza adalah ‘penyakit kerakusan’. Ia adalah sikap hidup materialistis yang menekankan bahwa “tujuan utama hidup ini adalah mendapatkan lebih banyak uang dan harta milik”. Kita tahu bahwa penyakit ini sudah merasuki dan merusak hampir semua sendi-sendi kehidupan di seantero bumi ini.

Joshua Harris pernah mengatakan bahwa “rintangan terbesar dalam pertumbuhan spiritual adalah kekayaan material dan pencobaan-pencobaan yang menyertainya.” Salah satu pencobaan terbesar adalah pengagungan ‘pertumbuhan’ ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu ukuran tertinggi keberhasilan sebuah negara. Padahal, pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri adalah ‘tumor ganas’. Mengapa? Untuk mengejar kekayaan material, bumi dan seluruh isinya justru semakin menderita. ‘Harga’ manusia pun ditakar berdasarkan apa yang ia produksi.

Agaknya melihat kenyataan demikianlah Anthoni de Mello berkata, “Anda dan saya sudah begitu terlatih untuk merasa tidak puas dengan diri sendiri. Keadaan seperti itu secara psikologis merupakan sumber kejahatan. Kita selalu merasa tidak puas, kita selalu berusaha untuk memaksa”. Harga yang harus kita bayar amat mahal jika semakin banyak orang terinfeksi affluenza ini. Untuk sementara ini, dari 6,7 miliar penduduk planet ini banyak yang terabaikan dan menderita untuk kesenangan sekelompok kecil orang. Tetapi pada akhirnya, jika tidak terjadi perubahan hidup, kehidupan di bumi ini akan punah sebelum waktunya. Yang menderita affluenza dan korban-korban mereka akan sama-sama mengalami nasib tragis. Perhitungan-perhitungan para ahli menunjukkan bahwa kalau China, misalnya, terus berjuang dan mencapai tingkat ‘kemakmuran’ Amerika (yang paling banyak terserang affluenza ini), maka bahan bakar dunia akan habis selama 34 tahun ke depan. Hutan habis. Air minum menjadi langka (bahkan bisa memicu perang). Suhu bumi kian mendidih. Malapetaka akan tidak terhindarkan.

Keberdosaan kita membuat kita merasa tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa puas. Hal yang sama menggiring kita kepada pementingan diri dan kerakusan.
Edward Brown benar ketika ia mengatakan, “Keberdosaan adalah virus yang mengakibatkan ‘penyakit affluenza’ yang merasuki hidup kita dengan perasaan yang terus-menerus tidak terpuaskan. Itu juga yang membuat orang-orang memenuhi pusat perbelanjaan meskipun mereka sudah memiliki lebih dari yang mereka perlukan dan gunakan dan juga mereka yang membeli lebih dari apa yang dapat mereka bayar.”

Gaya hidup konsumersime dan semua dukungan terhadapnya adalah dosa. Gaya konsumerisme mengakibatkan sumber-sumber alam terkuras deras dan menyisakan sampah yang kian merusak kehidupan. Pabrik-pabrik juga meracuni udara karena tidak peduli pada penanganan limbah atas nama keuntungan. Akibat dari semuanya itu, kehidupan umat manusia dan makhluk ciptaan Tuhan di planet ini menderita dan terancam punah.

Sesungguhnya ‘kerakusan’ berbohong kepada kita, yang mengatakan bahwa hidup ini diukur berdasarkan seberapa banyak yang kita miliki. Kerakusan membutakan kita untuk melihat apa yang terpenting dalam hidup, yakni ketergantungan pada Tuhan. Kerakusan juga membutkan kita akan kebutuhan orang lain. Dan, peringatan yang perlu kita dengarkan adalah bahwa “kerakusan pada akhirnya akan menghancurkan kita”.

Kita sudah berulangkali mendengar bahkan memperdengarkan peristiwa tentang perjumpaan Yesus dengan pemuda yang kaya. Yang masalah di sini, bukanlah ‘kekayaan’ itu sendiri, melainkan justru cinta akan kekayaan dan uang itulah yang menjadi akar persoalan. Itu juga yang Rasul Paulus kemukakan dalam 1 Tim. 6:10, “Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang”. Masalah yang sesungguhnya adalah ‘kerakusan’.

Menurut Bishop Solomon ada dua macam kerakusan: kerakusan untuk mendapatkan apa yang tidak kita miliki dan kerakusan untuk mempertahankan (tanpa kerelaan berbagi) apa yang kita punya. Kerakusan membuat manusia berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuatu dan setelah mendapatkannya berjuang mati-matian mempertahankannya tidak perduli apakah orang lain sekarat bahkan mati.

Yesus sangat menekankan pola hidup kecukupan. Salah satu bagian dari doa yang Ia ajarkan berbunyi, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Terjemahan yang lebih tepat adalah: “berikanlah kepada kami yang kami butuhkan dalam kehidupan sehari-hari”. Kebutuhan mesti mengalahkan keinginan. Kita pun dapat melanjutkan doa kita dengan berkata dan bertekad, “Ya Tuhan, berikanlah kepada kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. Apabila Engkau memberi lebih dari cukup, ajarlah kami untuk berbagi dengan yang berkekurangan.”

Sunday, May 10, 2009

K E H A D I R A N

REFLEKSI SENIN KE-20 2009: 11/05

Setiap kita ditempatkan oleh Tuhan di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita adalah bagian dari sebuah keluarga, gereja dan masyarakat. Sedikitnya ada tiga suasana yang berbeda bagaimana suatu kelompok atau persekutuan menyikapi kehadiran seseorang. Ketiga suasana yang berbeda ini tidak sepenuhnya karena keberadaan (baik atau buruk) seseorang yang hadir, melainkan juga keadaan kelompok atau persekutuan yang menerima ‘kehadiran’ itu sendiri.

1. Kehadiran yang Dirindukan

Kehadiran seseorang amat diharapkan. Terasa ada yang hilang jika ia tidak ada. Kerinduan kehadiran ini umumnya karena seseorang itu memberi sumbangan yang sangat berarti, seperti perlindungan, sumbangan finansial, membuat humor, penghangat suasana, ide-ide cemerlang untuk solusi suatu masalah dan sebagainya. Artinya, karena sebuah kelompok atau persekutuan ‘mengharapkan’ sesuatu dari seseorang untuk kepentingan kelompok atau pribadi-pribadi dalam kelompok itu. Tidak sepenuhnya salah. Tetapi, jika hanya dengan motif demikian, kelompok sesungguhnya hanya memanfaatkan seseorang untuk kepentingan diri sendiri. Mungkin karena keadaan seperti inilah beberapa calon legislatif mengeluh pasca pemilu April 2009. Mereka merasa kehadiran mereka dirindukan, massa berkumpul dan mendengar ‘visi dan misi’ mereka, tetapi jumlah suara yang mereka peroleh jauh dari yang mereka harapkan.

Bagaimana pun juga, keadaan hati kita bisa mempengaruhi suasana di mana dan dengan siapa kita berada. Kasih kita yang mendalam kepada semua dan setiap orang merupakan jembatan penghubung persaudaraan. Kalau kasih kita murni, kehadiran kita di mana pun akan dapat memberi makna. Tetapi kalau kita cenderung menguasai, cenderung menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, sulit dibayangkan orang lain merindukan kehadiran kita.

2. Kehadiran Tanpa Makna

Ada atau tidak ada, sama saja. Begitu kira-kira. Sebagai contoh, saya teringat pada istilah ‘panthom father’ yang disebutkan oleh Les T. Csorba dalam bukunya Trust: The One Thing that takes or Breaks a Leader, untuk menjelaskan kehadiran seorang ayah di tengah keluarga. Setelah kesibukan bekerja keseharian, si ayah memang secara fisik hadir di rumah, tetapi sama saja suasananya tanpa kehadirannya. Anak-anaknya tidak merasakan kehangatan belaian kasihnya.

Ini juga yang bisa terjadi dalam rapat-rapat, yang kehadiran hanya untuk memenuhi ‘quorum’ tetapi sama saja hadir atau tidak. Tetapi, seperti disebutkan di atas, keadaan ini bisa saja tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab seseorang itu, melainkan pemimpin yang perlu mendalami seni kepemimpinan untuk melibatkan semua orang. Atau, bisa juga sebuaha kelompok yang tidak berusaha mendorong seseorang itu memaksimalkan makna kehadiannya.

3. Kehadiran yang Tidak Diharapkan

Sedikitnya ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, seperti disebut di atas, kalau karena seseorang cenderung menguasai, menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, orang cenderung tidak mengharapkan kehadirannya di tengah keluarga atau sebuah persekutuan.

Kedua, kelemahan suatu kelompok atau persekutuan. Para nabi sebagaimana diberitakan di Perjanjian Lama dan murid-murid Yesus, terkadang tidak diharapkan kehadiran mereka, bukan karena kelemahan mereka tetapi karena orang-orang yang mereka temui tidak tahan akan ‘terang kebenaran’ yang dirasa mengganggu kesenangan duniawi mereka. Bahkan, Yesus sendiri pun ditolak di beberapa tempat, padahal Yesus mengasihi setiap dan semua orang.

Jadi, kalau kehadiran kita tidak diharapkan, kita perlu mengenali penyebabnya. Jika karena kelemahan dan sifat-sifat buruk pribadi kita, kita dapat mengubah diri sendiri. Tetapi, jika kehadiran kita tidak diharapkan hanya karena dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap kepentingan pribadi dan kelompok itu sendiri, mereka merasa cemburu dan iri hati, kita menerima kenyataan ini dengan kerendahan hati, kesabaran dan pengampunan. Jika Anda dikucilkan bukan karena kesalahan Anda, tidak perlu berkabung walau tidak dapat bergabung dengan orang lain. Lebih baik sendiri atas nama kebenaran dari pada berada dalam sebuah perkumpulan yang buruk.

Mark Twain benar ketika ia mengatakan, “Lebih baik layak menerima penghormatan dan tidak mendapatnya, ketimbang mendapat kehormatan padahal kita tidak layak menerima-nya.”

Sunday, May 3, 2009

EVALUASI KEHIDUPAN


REFLEKSI SENIN KE-19, 2009: 04/5

Mengevaluasi dan mempercakapkan kehidupan orang lain (khususnya kesalahan-kesalahan mereka) terkesan lebih mudah dan lebih ‘enak’ bagi banyak orang. Tetapi, jika kita mau bertumbuh secara sehat kita membutuhkan ‘evaluasi kehidupan’ diri sendiri. Amat menyedihkan jika usia kita bertambah tetapi kita berhenti bertumbuh.

Marjorie J. Thompson, dalam bukunya Soul Feast: An Invitation to the Christian Spiritual Life, menjelaskan dengan amat baik bagaimana ‘evaluasi kehidupan’ dapat mengubah kehidupan seseorang ke arah yang lebih baik. Ia menganjurkan perlunya seseorang meluangkan waktu khusus untuk memeriksa secara rinci apa saja yang perlu dievaluasi seperti: ketakutan-ketakutan, sakit hati, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah penerimaan sosial, seksualitas, dan iman. Untuk mengevaluasi dengan baik, kita harus fokus mengevaluasi satu hal dalam waktu tertentu.

Begini caranya. Pilihlah bagian tertentu dari kehidupan Anda untuk dievaluasi. Kemudian, lihatlah ke masa silam sejauh yang bisa Anda ingat. Misalnya, pikirkanlah rasa sakit hati Anda (kepada orang, situasi dunia sekitar, lembaga atau institusi), mulai dari masa kecil hingga hari ini. Tugas Anda yang paling perlu di sini adalah menuliskan dengan rinci (1) akibat-akibatnya yang Anda rasakan, dan (2) kontribusi Anda terhadap munculnya masalah tersebut. Gunakan kata “Saya” (seperti 'saya merasa', bukan 'mereka melakukan ini kepada saya....") sehingga Anda lebih jelas menggambarkan ‘perasaan’ dan ‘pengalaman’ Anda, bukan ‘mempersalahkan orang lain’. Bagian ini sangat penting. Jadi jangan sampai hal ini terlewatkan.

Sedikitnya ada tiga tahap yang perlu kita lalui dalam evaluasi kehidupan yang kiranya dapat membebaskan kita dan orang lain dari beban yang tidak perlu.

1. Pengenalan akan Masalah dan Kontribusi Kita

Untuk lebih konkret kita dapat mengambil contoh masa anak-anak atau remaja. Ini tidak dimaksudkan hanya sekadar mengungkit masa lalu, tetapi terutama untuk melihat pengaruhnya dalam hidup kita hari ini. Sebab, jika kita tidak berhasil memutus mata rantai kebiasaan masa silam, maka ia bisa juga tetap melekat dalam kita hingga sekarang bahkan hingga usia tua. Artinya, pola berpikir, bersikap dan bereaksi kita bisa saja merupakan kelanjutan dari masa anak-anak. Jadi, kita perlu menuliskan secara rinci pada sehelai kertas setiap detil bidang yang kita evaluasi. Kita dapat mengambil sebuah contoh konkrit berhubungan dengan masalah ‘sakit hati’ berikut ini.

Sakit hati:
Saya merasa sakit hati dan benci kepada teman-teman se-masa SMP dulu.

Penyebab:
Saya merasa tidak diterima dalam pergaulan mulai dari kelas I-III. Saya merasa dikucilkan dalam percakapan dan dalam permainan. (Perhatikan, Anda tidak mengatakan, “mereka tidak menerima saya” atau “mereka mengucilkan saya”. Kata-kata ini bernada mempersalahkan orang lain). Apa yang telah orang lain lakukan terhadap Anda adalah tanggung jawab mereka, bukan tanggung jawab Anda saat ini. Memang ada saatnya kita dapat melihat dan mempercakapkan kekurangan orang lain, dengan motivasi dan tujuan yang baik (di antaranya baca topik “Mengatakan Kesalahan orang lain, Boleh?” dan “Masalah Triangulation dalam Komunikasi Antar Pribadi” dalam blog ini, di bawah topik "Kecerdasan Emosional" dan "Komunikasi").

Akibatnya:
Perasaan terluka, tersisih, hilang percaya diri, mempertahankan diri, benci, menyembunyikan perasaan, berusaha membuktikan diri atau menampilkan diri, mencari perhatian, takut penolakan, kasihan terhadap diri sendiri, dan sebagainya (daftar ini bisa lebih panjang lagi).

Kontribusi (sumbangan) saya:
Saya tidak mengambil prakarsa mencari teman-teman, berharap orang lain lebih dulu bergerak, dan secara umum saya membiarkan diri sendiri menjadi ‘korban’.

Untuk bagian yang terakhir ini biasanya jauh lebih sulit. Ada ungkapan yang mengatakan “Kata-kata yang paling berat dan sulit dalam semua bahasa adalah “Saya sudah bersalah”. Tetapi, demi penyembuhan hidup kita, kita mesti melihat dengan jernih apa yang kita bawa dalam suatu masalah tertentu. Bukan untuk menangisi masa lalu dan membenci diri, tetapi untuk memulai sesuatu yang baru, yang lebih baik.

Kita dapat juga melihat bagaimana keadaan tersebut terbentuk dalam diri kita, khususnya dari lingkungan keluarga. Biasanya pengalaman anak-anak sehari-hari di lingkungan keluarga amat mempengaruhi sikap dan perilakunya berhadapan dengan sesamanya. Seorang anak yang tidak diberi kesempatan mengungkapakan perasaannya dan selalu dicela biasanya akan mengalami hambatan dalam menjalin persahabatan dengan orang lain. Demikian juga anak yang terlalu dimanja sebagai ‘anak mama’, yang selalu menerima apa saja yang dimintanya dari orangtuanya, ia cenderung ‘menguasai’ teman-temannya yang membuat orang lain menjaga jarak. Sekali lagi, pola ini bisa berlanjut hingga usia tua. Kalau Anda cenderung menguasai orang lain dalam percakapan atau sebaliknya terlalu menyembunyikan perasaan padahal Anda sudah merasa benci setengah mati, hal itu mungkin sudah terbentuk sejak lama.

2. Mengenal karunia dan kekuatan kita

Kita tidak berhenti pada pengenalan akan permasalahan dan sumbangan negatif kita terhadap terjadinya masalah. Dengan pimpinan Tuhan, kita juga perlu dengan jernih mengenal karunia dan kekuatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Kita perlu melihat sumbangan positif apa yang kita bawa dalam situasi itu. Bukankah sesuatu yang baik bahwa kita tidak bertindak di luar kendali melampiaskan kebencian kita? Kita punya kesempatan dan kemampuan melakukan kekerasan, tetapi kita tidak melakukannya. Ini merupakan kontribusi positif yang sangat berharga.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa itu? Kita dapat lebih memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain. Kita jadinya menyadari betapa berharganya saling mengasihi dan saling menghargai dengan sesama. Bahkan, kita bisa menolong orang lain yang terhimpit oleh masalah yang relatif sama, yang mereka tidak sadari.

3. Pengakuan dan Penyerahan diri

Setelah semua itu kita lalui dan kita dapat melihat dengan jernih segi positif dan negatif diri kita, kita dapat mengungkapkan pengakuan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang sekaligus berisi komitmen pembaharuan kehidupan kita.

Kita dapat ungkapkan dalam doa, “Ya Allah, hal-hal inilah yang kulihat dalam diriku. Inilah diriku yang kukenal. Inilah pola bagaimana aku bertindak dulu dan sekarang. Tetapi, Engkau mengenal aku lebih baik ketimbang aku mengenal diriku. Pimpinlah aku kepada penglihatan dan pengenalan yang lebih baik akan diriku. Biarlah semua kebenaran yang saya butuhkan Engkau penuhi, setiap luka dan respon menyakitkan Engkau sembuhkan. Terima kasih atas waktu pemberian-Mu ini untuk belajar akan bagian hidupku. Kuatkanlah dan tolonglah aku untuk bertumbuh dan berbuah baik serta membagikannya dengan orang lain.”

Apa yang diuraikan di atas dapat menjadi acuan kita untuk mengevaluasi bagian lain dalam hidup kita pada waktu yang berbeda (seperti yang sudah disebutkan di atas: ketakutan-ketakutan, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah seksualitas, dan iman). Atas pertolongan Tuhan, kita akan menjadi pribadi sebagaimana Tuhan telah rancang sebelum menghadirkan kita ke dunia ini.

Hanya dengan demikian pula kita dapat mengemban tugas pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita di tengah keluarga, lingkungan kerja, gereja dan masyarakat luas. Bersama Tuhan dan untuk keagungan nama-Nya.

ShoutMix chat widget