Sunday, May 17, 2009

A F F L U E N Z A


REFLEKSI SENIN KE-21 2009; 18/05
.
Obat penawar (penyakit) kerakusan adalah rasa puas dan kerelaan berbagi
(Peter Kreeft )

Penyakit yang satu ini, affluenza, berbeda dengan influenza, yang relatif mudah ditangani oleh dokter pada saat ini. Affluenza adalah ‘penyakit kerakusan’. Ia adalah sikap hidup materialistis yang menekankan bahwa “tujuan utama hidup ini adalah mendapatkan lebih banyak uang dan harta milik”. Kita tahu bahwa penyakit ini sudah merasuki dan merusak hampir semua sendi-sendi kehidupan di seantero bumi ini.

Joshua Harris pernah mengatakan bahwa “rintangan terbesar dalam pertumbuhan spiritual adalah kekayaan material dan pencobaan-pencobaan yang menyertainya.” Salah satu pencobaan terbesar adalah pengagungan ‘pertumbuhan’ ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu ukuran tertinggi keberhasilan sebuah negara. Padahal, pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri adalah ‘tumor ganas’. Mengapa? Untuk mengejar kekayaan material, bumi dan seluruh isinya justru semakin menderita. ‘Harga’ manusia pun ditakar berdasarkan apa yang ia produksi.

Agaknya melihat kenyataan demikianlah Anthoni de Mello berkata, “Anda dan saya sudah begitu terlatih untuk merasa tidak puas dengan diri sendiri. Keadaan seperti itu secara psikologis merupakan sumber kejahatan. Kita selalu merasa tidak puas, kita selalu berusaha untuk memaksa”. Harga yang harus kita bayar amat mahal jika semakin banyak orang terinfeksi affluenza ini. Untuk sementara ini, dari 6,7 miliar penduduk planet ini banyak yang terabaikan dan menderita untuk kesenangan sekelompok kecil orang. Tetapi pada akhirnya, jika tidak terjadi perubahan hidup, kehidupan di bumi ini akan punah sebelum waktunya. Yang menderita affluenza dan korban-korban mereka akan sama-sama mengalami nasib tragis. Perhitungan-perhitungan para ahli menunjukkan bahwa kalau China, misalnya, terus berjuang dan mencapai tingkat ‘kemakmuran’ Amerika (yang paling banyak terserang affluenza ini), maka bahan bakar dunia akan habis selama 34 tahun ke depan. Hutan habis. Air minum menjadi langka (bahkan bisa memicu perang). Suhu bumi kian mendidih. Malapetaka akan tidak terhindarkan.

Keberdosaan kita membuat kita merasa tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa puas. Hal yang sama menggiring kita kepada pementingan diri dan kerakusan.
Edward Brown benar ketika ia mengatakan, “Keberdosaan adalah virus yang mengakibatkan ‘penyakit affluenza’ yang merasuki hidup kita dengan perasaan yang terus-menerus tidak terpuaskan. Itu juga yang membuat orang-orang memenuhi pusat perbelanjaan meskipun mereka sudah memiliki lebih dari yang mereka perlukan dan gunakan dan juga mereka yang membeli lebih dari apa yang dapat mereka bayar.”

Gaya hidup konsumersime dan semua dukungan terhadapnya adalah dosa. Gaya konsumerisme mengakibatkan sumber-sumber alam terkuras deras dan menyisakan sampah yang kian merusak kehidupan. Pabrik-pabrik juga meracuni udara karena tidak peduli pada penanganan limbah atas nama keuntungan. Akibat dari semuanya itu, kehidupan umat manusia dan makhluk ciptaan Tuhan di planet ini menderita dan terancam punah.

Sesungguhnya ‘kerakusan’ berbohong kepada kita, yang mengatakan bahwa hidup ini diukur berdasarkan seberapa banyak yang kita miliki. Kerakusan membutakan kita untuk melihat apa yang terpenting dalam hidup, yakni ketergantungan pada Tuhan. Kerakusan juga membutkan kita akan kebutuhan orang lain. Dan, peringatan yang perlu kita dengarkan adalah bahwa “kerakusan pada akhirnya akan menghancurkan kita”.

Kita sudah berulangkali mendengar bahkan memperdengarkan peristiwa tentang perjumpaan Yesus dengan pemuda yang kaya. Yang masalah di sini, bukanlah ‘kekayaan’ itu sendiri, melainkan justru cinta akan kekayaan dan uang itulah yang menjadi akar persoalan. Itu juga yang Rasul Paulus kemukakan dalam 1 Tim. 6:10, “Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang”. Masalah yang sesungguhnya adalah ‘kerakusan’.

Menurut Bishop Solomon ada dua macam kerakusan: kerakusan untuk mendapatkan apa yang tidak kita miliki dan kerakusan untuk mempertahankan (tanpa kerelaan berbagi) apa yang kita punya. Kerakusan membuat manusia berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuatu dan setelah mendapatkannya berjuang mati-matian mempertahankannya tidak perduli apakah orang lain sekarat bahkan mati.

Yesus sangat menekankan pola hidup kecukupan. Salah satu bagian dari doa yang Ia ajarkan berbunyi, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Terjemahan yang lebih tepat adalah: “berikanlah kepada kami yang kami butuhkan dalam kehidupan sehari-hari”. Kebutuhan mesti mengalahkan keinginan. Kita pun dapat melanjutkan doa kita dengan berkata dan bertekad, “Ya Tuhan, berikanlah kepada kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. Apabila Engkau memberi lebih dari cukup, ajarlah kami untuk berbagi dengan yang berkekurangan.”

Sunday, May 10, 2009

K E H A D I R A N

REFLEKSI SENIN KE-20 2009: 11/05

Setiap kita ditempatkan oleh Tuhan di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita adalah bagian dari sebuah keluarga, gereja dan masyarakat. Sedikitnya ada tiga suasana yang berbeda bagaimana suatu kelompok atau persekutuan menyikapi kehadiran seseorang. Ketiga suasana yang berbeda ini tidak sepenuhnya karena keberadaan (baik atau buruk) seseorang yang hadir, melainkan juga keadaan kelompok atau persekutuan yang menerima ‘kehadiran’ itu sendiri.

1. Kehadiran yang Dirindukan

Kehadiran seseorang amat diharapkan. Terasa ada yang hilang jika ia tidak ada. Kerinduan kehadiran ini umumnya karena seseorang itu memberi sumbangan yang sangat berarti, seperti perlindungan, sumbangan finansial, membuat humor, penghangat suasana, ide-ide cemerlang untuk solusi suatu masalah dan sebagainya. Artinya, karena sebuah kelompok atau persekutuan ‘mengharapkan’ sesuatu dari seseorang untuk kepentingan kelompok atau pribadi-pribadi dalam kelompok itu. Tidak sepenuhnya salah. Tetapi, jika hanya dengan motif demikian, kelompok sesungguhnya hanya memanfaatkan seseorang untuk kepentingan diri sendiri. Mungkin karena keadaan seperti inilah beberapa calon legislatif mengeluh pasca pemilu April 2009. Mereka merasa kehadiran mereka dirindukan, massa berkumpul dan mendengar ‘visi dan misi’ mereka, tetapi jumlah suara yang mereka peroleh jauh dari yang mereka harapkan.

Bagaimana pun juga, keadaan hati kita bisa mempengaruhi suasana di mana dan dengan siapa kita berada. Kasih kita yang mendalam kepada semua dan setiap orang merupakan jembatan penghubung persaudaraan. Kalau kasih kita murni, kehadiran kita di mana pun akan dapat memberi makna. Tetapi kalau kita cenderung menguasai, cenderung menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, sulit dibayangkan orang lain merindukan kehadiran kita.

2. Kehadiran Tanpa Makna

Ada atau tidak ada, sama saja. Begitu kira-kira. Sebagai contoh, saya teringat pada istilah ‘panthom father’ yang disebutkan oleh Les T. Csorba dalam bukunya Trust: The One Thing that takes or Breaks a Leader, untuk menjelaskan kehadiran seorang ayah di tengah keluarga. Setelah kesibukan bekerja keseharian, si ayah memang secara fisik hadir di rumah, tetapi sama saja suasananya tanpa kehadirannya. Anak-anaknya tidak merasakan kehangatan belaian kasihnya.

Ini juga yang bisa terjadi dalam rapat-rapat, yang kehadiran hanya untuk memenuhi ‘quorum’ tetapi sama saja hadir atau tidak. Tetapi, seperti disebutkan di atas, keadaan ini bisa saja tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab seseorang itu, melainkan pemimpin yang perlu mendalami seni kepemimpinan untuk melibatkan semua orang. Atau, bisa juga sebuaha kelompok yang tidak berusaha mendorong seseorang itu memaksimalkan makna kehadiannya.

3. Kehadiran yang Tidak Diharapkan

Sedikitnya ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, seperti disebut di atas, kalau karena seseorang cenderung menguasai, menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, orang cenderung tidak mengharapkan kehadirannya di tengah keluarga atau sebuah persekutuan.

Kedua, kelemahan suatu kelompok atau persekutuan. Para nabi sebagaimana diberitakan di Perjanjian Lama dan murid-murid Yesus, terkadang tidak diharapkan kehadiran mereka, bukan karena kelemahan mereka tetapi karena orang-orang yang mereka temui tidak tahan akan ‘terang kebenaran’ yang dirasa mengganggu kesenangan duniawi mereka. Bahkan, Yesus sendiri pun ditolak di beberapa tempat, padahal Yesus mengasihi setiap dan semua orang.

Jadi, kalau kehadiran kita tidak diharapkan, kita perlu mengenali penyebabnya. Jika karena kelemahan dan sifat-sifat buruk pribadi kita, kita dapat mengubah diri sendiri. Tetapi, jika kehadiran kita tidak diharapkan hanya karena dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap kepentingan pribadi dan kelompok itu sendiri, mereka merasa cemburu dan iri hati, kita menerima kenyataan ini dengan kerendahan hati, kesabaran dan pengampunan. Jika Anda dikucilkan bukan karena kesalahan Anda, tidak perlu berkabung walau tidak dapat bergabung dengan orang lain. Lebih baik sendiri atas nama kebenaran dari pada berada dalam sebuah perkumpulan yang buruk.

Mark Twain benar ketika ia mengatakan, “Lebih baik layak menerima penghormatan dan tidak mendapatnya, ketimbang mendapat kehormatan padahal kita tidak layak menerima-nya.”

Sunday, May 3, 2009

EVALUASI KEHIDUPAN


REFLEKSI SENIN KE-19, 2009: 04/5

Mengevaluasi dan mempercakapkan kehidupan orang lain (khususnya kesalahan-kesalahan mereka) terkesan lebih mudah dan lebih ‘enak’ bagi banyak orang. Tetapi, jika kita mau bertumbuh secara sehat kita membutuhkan ‘evaluasi kehidupan’ diri sendiri. Amat menyedihkan jika usia kita bertambah tetapi kita berhenti bertumbuh.

Marjorie J. Thompson, dalam bukunya Soul Feast: An Invitation to the Christian Spiritual Life, menjelaskan dengan amat baik bagaimana ‘evaluasi kehidupan’ dapat mengubah kehidupan seseorang ke arah yang lebih baik. Ia menganjurkan perlunya seseorang meluangkan waktu khusus untuk memeriksa secara rinci apa saja yang perlu dievaluasi seperti: ketakutan-ketakutan, sakit hati, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah penerimaan sosial, seksualitas, dan iman. Untuk mengevaluasi dengan baik, kita harus fokus mengevaluasi satu hal dalam waktu tertentu.

Begini caranya. Pilihlah bagian tertentu dari kehidupan Anda untuk dievaluasi. Kemudian, lihatlah ke masa silam sejauh yang bisa Anda ingat. Misalnya, pikirkanlah rasa sakit hati Anda (kepada orang, situasi dunia sekitar, lembaga atau institusi), mulai dari masa kecil hingga hari ini. Tugas Anda yang paling perlu di sini adalah menuliskan dengan rinci (1) akibat-akibatnya yang Anda rasakan, dan (2) kontribusi Anda terhadap munculnya masalah tersebut. Gunakan kata “Saya” (seperti 'saya merasa', bukan 'mereka melakukan ini kepada saya....") sehingga Anda lebih jelas menggambarkan ‘perasaan’ dan ‘pengalaman’ Anda, bukan ‘mempersalahkan orang lain’. Bagian ini sangat penting. Jadi jangan sampai hal ini terlewatkan.

Sedikitnya ada tiga tahap yang perlu kita lalui dalam evaluasi kehidupan yang kiranya dapat membebaskan kita dan orang lain dari beban yang tidak perlu.

1. Pengenalan akan Masalah dan Kontribusi Kita

Untuk lebih konkret kita dapat mengambil contoh masa anak-anak atau remaja. Ini tidak dimaksudkan hanya sekadar mengungkit masa lalu, tetapi terutama untuk melihat pengaruhnya dalam hidup kita hari ini. Sebab, jika kita tidak berhasil memutus mata rantai kebiasaan masa silam, maka ia bisa juga tetap melekat dalam kita hingga sekarang bahkan hingga usia tua. Artinya, pola berpikir, bersikap dan bereaksi kita bisa saja merupakan kelanjutan dari masa anak-anak. Jadi, kita perlu menuliskan secara rinci pada sehelai kertas setiap detil bidang yang kita evaluasi. Kita dapat mengambil sebuah contoh konkrit berhubungan dengan masalah ‘sakit hati’ berikut ini.

Sakit hati:
Saya merasa sakit hati dan benci kepada teman-teman se-masa SMP dulu.

Penyebab:
Saya merasa tidak diterima dalam pergaulan mulai dari kelas I-III. Saya merasa dikucilkan dalam percakapan dan dalam permainan. (Perhatikan, Anda tidak mengatakan, “mereka tidak menerima saya” atau “mereka mengucilkan saya”. Kata-kata ini bernada mempersalahkan orang lain). Apa yang telah orang lain lakukan terhadap Anda adalah tanggung jawab mereka, bukan tanggung jawab Anda saat ini. Memang ada saatnya kita dapat melihat dan mempercakapkan kekurangan orang lain, dengan motivasi dan tujuan yang baik (di antaranya baca topik “Mengatakan Kesalahan orang lain, Boleh?” dan “Masalah Triangulation dalam Komunikasi Antar Pribadi” dalam blog ini, di bawah topik "Kecerdasan Emosional" dan "Komunikasi").

Akibatnya:
Perasaan terluka, tersisih, hilang percaya diri, mempertahankan diri, benci, menyembunyikan perasaan, berusaha membuktikan diri atau menampilkan diri, mencari perhatian, takut penolakan, kasihan terhadap diri sendiri, dan sebagainya (daftar ini bisa lebih panjang lagi).

Kontribusi (sumbangan) saya:
Saya tidak mengambil prakarsa mencari teman-teman, berharap orang lain lebih dulu bergerak, dan secara umum saya membiarkan diri sendiri menjadi ‘korban’.

Untuk bagian yang terakhir ini biasanya jauh lebih sulit. Ada ungkapan yang mengatakan “Kata-kata yang paling berat dan sulit dalam semua bahasa adalah “Saya sudah bersalah”. Tetapi, demi penyembuhan hidup kita, kita mesti melihat dengan jernih apa yang kita bawa dalam suatu masalah tertentu. Bukan untuk menangisi masa lalu dan membenci diri, tetapi untuk memulai sesuatu yang baru, yang lebih baik.

Kita dapat juga melihat bagaimana keadaan tersebut terbentuk dalam diri kita, khususnya dari lingkungan keluarga. Biasanya pengalaman anak-anak sehari-hari di lingkungan keluarga amat mempengaruhi sikap dan perilakunya berhadapan dengan sesamanya. Seorang anak yang tidak diberi kesempatan mengungkapakan perasaannya dan selalu dicela biasanya akan mengalami hambatan dalam menjalin persahabatan dengan orang lain. Demikian juga anak yang terlalu dimanja sebagai ‘anak mama’, yang selalu menerima apa saja yang dimintanya dari orangtuanya, ia cenderung ‘menguasai’ teman-temannya yang membuat orang lain menjaga jarak. Sekali lagi, pola ini bisa berlanjut hingga usia tua. Kalau Anda cenderung menguasai orang lain dalam percakapan atau sebaliknya terlalu menyembunyikan perasaan padahal Anda sudah merasa benci setengah mati, hal itu mungkin sudah terbentuk sejak lama.

2. Mengenal karunia dan kekuatan kita

Kita tidak berhenti pada pengenalan akan permasalahan dan sumbangan negatif kita terhadap terjadinya masalah. Dengan pimpinan Tuhan, kita juga perlu dengan jernih mengenal karunia dan kekuatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Kita perlu melihat sumbangan positif apa yang kita bawa dalam situasi itu. Bukankah sesuatu yang baik bahwa kita tidak bertindak di luar kendali melampiaskan kebencian kita? Kita punya kesempatan dan kemampuan melakukan kekerasan, tetapi kita tidak melakukannya. Ini merupakan kontribusi positif yang sangat berharga.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa itu? Kita dapat lebih memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain. Kita jadinya menyadari betapa berharganya saling mengasihi dan saling menghargai dengan sesama. Bahkan, kita bisa menolong orang lain yang terhimpit oleh masalah yang relatif sama, yang mereka tidak sadari.

3. Pengakuan dan Penyerahan diri

Setelah semua itu kita lalui dan kita dapat melihat dengan jernih segi positif dan negatif diri kita, kita dapat mengungkapkan pengakuan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang sekaligus berisi komitmen pembaharuan kehidupan kita.

Kita dapat ungkapkan dalam doa, “Ya Allah, hal-hal inilah yang kulihat dalam diriku. Inilah diriku yang kukenal. Inilah pola bagaimana aku bertindak dulu dan sekarang. Tetapi, Engkau mengenal aku lebih baik ketimbang aku mengenal diriku. Pimpinlah aku kepada penglihatan dan pengenalan yang lebih baik akan diriku. Biarlah semua kebenaran yang saya butuhkan Engkau penuhi, setiap luka dan respon menyakitkan Engkau sembuhkan. Terima kasih atas waktu pemberian-Mu ini untuk belajar akan bagian hidupku. Kuatkanlah dan tolonglah aku untuk bertumbuh dan berbuah baik serta membagikannya dengan orang lain.”

Apa yang diuraikan di atas dapat menjadi acuan kita untuk mengevaluasi bagian lain dalam hidup kita pada waktu yang berbeda (seperti yang sudah disebutkan di atas: ketakutan-ketakutan, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah seksualitas, dan iman). Atas pertolongan Tuhan, kita akan menjadi pribadi sebagaimana Tuhan telah rancang sebelum menghadirkan kita ke dunia ini.

Hanya dengan demikian pula kita dapat mengemban tugas pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita di tengah keluarga, lingkungan kerja, gereja dan masyarakat luas. Bersama Tuhan dan untuk keagungan nama-Nya.

Sunday, April 26, 2009

A N G K A


REFLEKSI SENIN KE-18 2009: 27/4

‘Angka’ berperan penting dalam kehidupan manusia. Tidak ada keraguan dalam hal ini. Dapat kita bayangkan betapa kacaunya penanggalan waktu, perekonomian, sistem komunikasi, sistem transportasi, bahkan kehidupan bergereja tanpa ‘angka’. Khusus dalam lingkungan gereja, ‘angka’ dibutuhkan untuk mengorganisasi ayat-ayat Alkitab dan nyanyian, jumlah warga jemaat dan jumlah saldo atau defisit keuangan.

Seiring dengan perkembangan zaman, ada kesan bahwa ‘angka’ kian mendominasi kehidupan umat manusia. Bagi sebagian orang ‘PIN” (Personal Identity Number) sudah merupakan kebutuhan mutlak untuk ATM, email, kunci gerbang, kunci koper dan sebagainya.
.
Kita perlu memikirkan angka dan angka mestinya membuat kita berpikir. Misalnya, dengan statistik jumlah penduduk dunia yang lebih dari 6 miliar (angka yang luar biasa!), mestinya membuat kita ‘berpikir’ bagaimana seharusnya gaya hidup kita agar bumi ini tidak kiamat sebelum waktu yang ditentukan oleh Tuhan. Ada kecenderungan bahwa seluruh penduduk dunia ingin mencapai gaya hidup orang-orang Amerika. Mari kita pikirkan angka-angka ini: Dengan 5% penduduk dunia, AS menghabiskan 40% sumber daya alam di pasar dunia setiap tahun. Kalau seluruh penduduk dunia mau hidup pada taraf kemakmuran di Amerika, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin: mengurangi jumlah penduduk global sebanyak 87,5% atau menemukan delapan bumi baru’.[1] ‘Angka seharusnya membuat kita berpikir –berpikir ulang akan gaya hidup dan cita-cita kita.

Di samping kebutuhan, kita juga menghadapi persoalan seputar angka, mulai dari manipulasi jumlah suara para calon legislatif hingga keyakinan ‘angka keramat’ dan ‘angka keberuntungan’. Banyak orang yang meyakini angka 13 sebagai angka sial. Itu sebabnya di beberapa bagunan bertingkat tidak digunakan angka 13 untuk lantai 13. Penggantinya dibuat angka 12b atau langsung angka 14. Demikian juga kamar hotel-hotel yang tidak membuat kamar 13. Orang-orang Kristen seharusnya melepaskan diri dari keyakinan-keyakinan demikian.

Yang menyesatkan dan paling menyedihkan berkaitan dengan 'angka' sedikitnya ada tiga.

Pertama, angka menggantikan nama manusia. Lihatlah penjara-penjara, kuli pelabuhan atau airport atau antrian. Mereka punya nama, tetapi mereka sering diperlakukan sebagai sekadar angka-angka.

Kedua, segala macam perjudian dengan taruhan. Ketika togel (toto gelap) masih merajalela di berbagai daerah di Indonesia, ‘mimpi’ menjadi sangat penting yang semuanya dianggap sebagai ‘kode alam’ atau petunjuk ke nomor tertentu. Yang mengherankan, ada pula orang yang beribadah di gereja justru pikirannya tertuju pada angka-angka. Melihat banyak 'angka 2' di dalam Tata Ibadah, seseorang menganggapnya sebagai ‘kode alam’ juga. Entah berkelakar atau tidak, pernah ada orang yang mengatakan bahwa dia mendoakan 'angka' tertentu kepada Tuhan agar kiranya Ia memberi kesempatan kepadanya menang undian, dan sebagian hasilnya akan diserahkan ke gereja. Untunglah dia tidak menang, kalau menang mungkin Ia berpikir bahwa Allah juga mengijinkan judi. (Di Singapur, toto atau undian ini legal. Diminati sangat banyak orang. Semoga orang-orang Kristen tidak menyalahgunakan ‘angka’ untuk hal-hal demikian.)

Ketiga, menyuburkan keinginan hingga mengalahkan kebutuhan. Kita bisa perhatikan bagaimana pusat-pusat perbelanjaan menarik perhatian para pembeli. Di Singapaura, misalnya, tidak asing bagi pemandangan kita promosi-promosi sebagai berikut:
  • Up to 70% off (diskon hingga 70%). Angka ini membuat orang tergiur. Padahal, yang menentukan harga sebelum dan sesudah diskon adalah pemilik toko juga. Bisa saja mereka naikkan dulu 70% lalu mereka turunkan sendiri 70%.
  • Last day offer: Only $49.99; UP $100 (Penjualan hari terakhir, hanya $49,00; Usual Price –harga biasanya-- $100. Orang yang tidak berpikir kritis, merasa bahwa itu sudah murah, padahal yang menentukan UP adalah si penjual juga. Angka-angka itu hanyalah untuk menarik perhatian.
  • Buy 3 get 1 free (beli 3 dapat satu gratis). Angka-angka ini juga pasti sekadar mempermainkan pembeli. Harga 4 sudah dimasukkan ke dalam 3. Buy 3 get 1 free, hanya sekadar akal-akalan.

Justru karena banyaknya orang yang terkecoh dengan angka-angka inilah salah satu penyebab begitu banyak barang-barang yang ada beberapa di rumah yang tidak dibutuhkan. Padahal, gaya hidup konsumerisme seperti itu amat mahal konsekuensinya terutama terhadap kerusakan alam yang sudah sangat parah saat ini.

Jadi, dari pada menyalahgunakan angka atau tertipu oleh angka-angka, lebih baik kita gunakan untuk hal-hal yang membangun iman kita dengan ‘menghitung’ segala berkat Tuhan dan menghitung hari-hari hidup kita sebagaimana dilakukan oleh Pemazmur. Tuhan mengetahui jumlah (dengan angka) rambut kita tapi tidak memperhitungkan dosa kita, asal kita mengaku, memohon pengampunan dan bertobat.





[1] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah

Wednesday, April 22, 2009

DARI ‘MELAYAT POLITIK’ HINGGA ‘KEBAKTIAN POLITIK’

Sebelum pemilu legislatif yang baru saja berlalu, tanpa direncanakan saya pernah berbincang-bincang dengan calon legislatif untuk satu Propinsi. (Saya mendengar beliau masuk menjadi anggota legislatif). Meskipun beliau seorang calon legislatif, dia sendiri amat prihatin melihat keanehan-keanehan para calon legislatif memperkenalkan diri dan menarik perhatian masyarakat pemilih. Dia mengatakan berkembangnya program “melayat politik”, “kebaktian politik” dan “makan politik”

‘Melayat Poltik’, adalah mereka yang mengirimkan ‘bunga papan’ kepada keluarga yang berkabung dengan menulis nama, caleg partai mana, lengkap dengan nomor urut berapa. Anehnya, ada pula di antara yang mengirim papan bunga tersebut yang sama sekali tidak ada pertalian kekeluargaan atau hubungan dekat apa pun dengan orang yang meninggal tersebut.

“Kebaktian Poltik”, adalah pihak partai atau caleg yang gencar mengunjungi gereja-gereja dengan mengikuti kebaktian dan memberi sumbangan (yang di antaranya juga menyebutkan nama partainya). Mereka diberi kesempatan berbicara di sela-sela ibadah, lengkap dengan 'Jaket Partai'. Dan ada ‘pesan sponsor’ supaya calon tersebut didoakan dalam doa syafaat.

“Makan Politik”, adalah mereka yang memberi makan warga masyarakat, baik secara langsung mapun membagi-bagi sembako yang kemudian sang caleg diberi kesempatan berpidato.

Setelah pemilu usai, berbagai komentar bermunculan dari hampir semua kalangan masyarakat seperti tukang ojek, tukang pangkas, pengunjung tetap warung kopi hingga kantor-kantor pemerintah bahkan konsistori gereja. Tentu, sudah pasti komentar-komentar seru dari para caleg yang menang, apalagi yang kalah.

Seorang teman mengirimkan email kepada saya yang berisikan keluhan seorang calon legislatif sebagai berikut:

“Saya juga punya pengalaman yang menyedihkan melihat para pemilih, rakyat Indonesia yang miskin ini. Mereka menerima semua orang, bahkan mengundang untuk datang ke kampungnya, minta ini dan itu, dengan janji akan memberi suara untuk kita. Saya mengunjungi lebihdari 60-70 komunitas untuk memperkenalkan diri, memperkenalkan visi dan misi. Tetapi ternyata mereka banyak yang membohongi saya, dan memilih orang lain yang memberi uang belakangan dan lebih banyak. Termasuk gereja-gereja meminta-minta uang dari banyak calon legislatif (caleg), tapi juga tidak memilihnya. Keadaan Indonesia telah kacau, tidak bermoral lagi, mungkin oleh budaya kemiskinan. Penghitungan suara belum selesai, tapi saya pessimis bisa duduk di DPRD....... Biarlah, saya serahkan saja pada Tuhan.”

Biarlah ini menjadi pelajaran pendewasaan bagi seluruh rakyat Indonesia, para calon legislatif dan lembaga keagamaan.

(1) Calon legislatif hendaknya lebih mengedepankan kualitas diri dan komitmen untuk perbaikan bangsa. Seorang teman mengatakan kepada saya perlunya setiap pribadi ‘berkaca diri’ sebelum mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif, bupati, gubernur dan lain-lain.
(2) Kepada gereja-gereja: Gereja tidak hidup karena uang tetapi Gereja yang hidup pasti punya uang yang cukup untuk pelayanan. Karena itu, Gereja seharusnya tidak menyelewengkan keberadaannya sebagai lembaga gerejawi tidak menjadi ajang politik praktis.
(3) Masyarakat pemilih hendaknya “memilih dengan hati dan secara hati-hati”. Pilihan masyarakat ikut menentukan masa depan bangsa.

Sunday, April 19, 2009

TIGA TIPE 'PROBLEM SOLVER'



REFLEKSI SENIN KE-17 2009: 20/4

Selama hidup di dunia ini ‘masalah’ (khususnya karena kelemahan dan keterbatasan manusia) kelihatannya akan selalu menyertai perjalanan hidup umat manusia. Jadi, pertanyaannya bukanlah terutama, “Bagaimana menyelesaikan masalah?”, melainkan, “Apakah mungkin semua masalah diselesaikan?” Pengalaman empiris kita menunjukkan tidak semua masalah dapat diselesaikan. Yang jelas 'setiap masalah' dapat membuat kita lebih berkembang dan lebih dewasa atau jatuh terkulai, tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.

Agaknya tipe kepribadian dan karakter seseorang serta tingkat kesulitan masalah yang ada turut mempengaruhi bagaimana seseorang itu mendekati atau menangani masalah yang dihadapi. Secara umum dikenal tiga tipe orang dalam penyelesaian masalah sebagai berikut.

1. Assertif

Orang tipe assertif mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya. Jika masalah ini berkaitan dengan ‘hubungan’ dengan orang lain, ia mengambil prakarsa untuk membicarakannya. Tipe ini boleh dikatakan lebih aktif untuk mencari solusi sesegera mungkin, tanpa menunggu.

2. Meditatif

Tipe ini adalah orang yang duduk dan memikirkan terlebih dahulu dengan seksama dan sejernih mungkin masalahnya. Kadang-kadang jawaban datang kepadanya melalui proses ini. Ia tidak mengambil tindakan dengan segera apalagi tergesa-gesa.

3. Kooperatif

Tipe orang kooperatif percaya bahwa cara termudah untuk menyelesaikan masalah sulit adalah dengan meminta pertolongan orang lain. Pendapat orang lain dapat menolongnya ketika ia tidak menemukan solusi.

Karena masing-masing tipe ini memiliki kekuatan dan kelemahan jika ia berdiri sendiri, maka seseorang tidak perlu masuk dalam satu tipe pendekatan saja secara ketat-kaku. Kita dapat menerapkan ketiganya tergantung pada situasi dan keadaan masalah yang kita hadapi.

Yang lebih terpenting kita miliki adalah ‘hikmat’ dari Tuhan dalam menghadapi setiap masalah kehidupan. Itulah yang dimiliki orang-orang yang menyerahakan diri kepada pimpinan Tuhan sebagaimana kita temukan dalam diri tokoh-tokoh Alkitab dan sejarah gereja sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan dan menerima keadaan yang tidak dapat mereka ubah tanpa masalah.

William E. Hulme memahami bagian nyanyian “Ya Tuhan tiap jam ‘ku memerlukan-Mu” demikian:
Aku terus-menerus memohon:
  • hikmat dalam pengambilan keputusan;
  • kedewasaan dalam berhadapan dengan orang lain
  • kesadaran akan kehadiran Allah ketika aku cenderung hanya memikirkan diriku sendiri.

Pemahaman demikian telah berhasil melewati keinginan ‘memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan diri’ menjadi ‘memberi diri dipakai oleh Tuhan sesuai rancangan dan rencana-Nya.

Friday, April 17, 2009

ALKITAB TULISAN TANGAN



St. Tangsiun Tinambunan (67) menyalin "Bibel Padan Naimbaru" (Alkitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Batak) dengan tulisan tangan khas tempoe doeloe'. Sebelumnya beliau sudah membaca seluruh bagian Alkitab. Beliau dapat menulisnya berhubung beberapa tahun belakangan ini tidak dapat berjalan dengan baik karena dua kali mengalami patah tulang di bagian kaki. 'Masalah' membuatnya berkembang dan lebih kreatif.
.
Jika Anda membutuhkan info lebih lanjut atau mempunyai saran untuk penempatan/ penggunaan naskah ini, mohon kesediaannya menyampaikannya kepada kami.
.

Sunday, April 12, 2009

MEMUTUS MATA RANTAI SAKIT HATI MENAHUN


REFLKESI SENIN KE-16 2009: 13/4

Adakah orang yang menyakiti hati Anda teramat dalam selama ini? Pikirkan sejenak sejak masa kecil hingga kemarin sore. Mungkin orangtua Anda sendiri, mungkin keluarga dekat, mungkin rekan sekerja, tetangga atau yang sama sekali tidak Anda kenal. Saya tidak bermaksud mengungkitnya untuk menambah rasa sakit yang Anda rasakan. Saya hanya ingin menawarkan sebuah anjuran untuk melepaskan akar kepahitan itu agar Anda dapat menjalani hidup ini dengan segala keindahannya tanpa beban non-salib. “Bagaimana mungkin saya melupakannya? Tindakannya begitu amat dalam menggores hati saya?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Masalahnya adalah, “Apakah Anda mau bebas dari kepahitan?” Itu sepenuhnya pilihan Anda.

Mungkin lebih baik langsung saja kita bicarakan bagaimana menebas akar kepahitan itu. Ingatlah orang yang menyakiti Anda apa adanya (orangtua, teman, keluarga dekat, guru, pelayan gereja atau siapa saja). Jangan pikirkan semuanya sekaligus. Pikirkan satu orang saja dulu dan lanjutkan kepada orang yang lain nanti atau besok. Ini yang kiranya perlu Anda pertimbangkan:

1. Memahami dengan empati

Sikap dan perilaku seseorang biasanya merupakan hasil dari berbagai ‘pembentukan’ mulai dari masa kecil. Orang yang diperlakukan tidak adil, penuh kekerasan, tidak dihargai, selalu dicela biasanya akan masuk dalam barisan ‘orang-orang sulit’, jika tidak memutus akar kepahitan. (Itu sebabnya kita perlu memutus akar kepahitan ini, supaya kita tidak terjebak dalam perangkap Iblis dengan melakukan dan mewariskan apa yang justru tidak kita sukai). Jadi, kalau ada orang yang menyakiti Anda, berusahalah memahami keberadaan orang itu. Kemingkinan besar ia perlu ditolong. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya. Dengan memahami keberadaan orang yang menyakiti kita, kita akan lebih mudah mengampuninya apakah dia minta maaf atau tidak.

2. Melihat kebaikan

Sejelek-jeleknya manusia, ‘pasti’ ada kebaikannya. Dengan fokus pada kebaikan orang rasa tidak senang bahkan rasa benci akan berkurang jika tidak sirna secara keseluruhan. Kita tidak sempat (mungkin lebih tepat ‘tidak rela’) melihat kebaikan orang karena hati kita begitu kuat dicengkeram kebencian. Dalam keadaan demikian, malah kita ‘membutuhkan’ keburukan orang lain agar dapat kita daftarkan dan sebarkan kepada orang lain sebagai ‘bukti pendukung’ betapa orang itu kejam dan menonjolkan sikap kebinatangbuasannya. Sekali lagi, kali ini lihat dengan jernih kebaikan-kebaikannya. Apalagi kalau orang yang menyakiti Anda adalah orangtua sendiri, Anda tentu lebih mudah melihat kebaikan-kebaikannya meskipun dia memperlakukan Anda dengan keras bahkan kasar di masa lalu dan hingga hari ini setelah Anda berkeluarga masih dianggap anak-anak.

3. Tolak sikap dan perilaku buruknya, terima dan kasihi orangnya

Sulit? Tentu! Bahkan, mungkin salah satu yang paling sulit dalam merawat hubungan baik dengan sesama. Tetapi tidak ada jalan lain. Kita ingat bahwa perubahan Zakheus bukan karena dibenci oleh orang-orang disekitarnya, melainkan karena dikasihi oleh Yesus. Kasihi mengubah orang lain. Sifat pemarah, tidak peduli, pelit, pemfitnah, pembohong, penipu harus kita benci, tetapi orangnya tetap kita terima sebagai manusia dan mengasihinya dengan kasih Tuhan. Dalam hubungan dengan orangtua yang menyakiti kita misalnya, kita tetap “menghormati mereka” tanpa ‘menghormati perlakuan buruk mereka”.
..
4. Renungkan kontribusi Anda

Mungkin Anda tidak suka yang satu ini. Tetapi ia merupakan bagian tidak terpisahkan. Sudah sifat alami kita untuk lebih banyak melihat masalah pada orang lain. Dari kepahitan yang kita alami, kita perlu meneliti hidup kita sejauh mana kita memberi ‘sumbangan’ terhadap kepahitan itu sendiri. Ini tidak dimaksudkan agar kita menyalahkan diri sendiri bahkan benci diri. Sedikitnya dua hal penting di sini. Pertama, dengan melihat ‘kontribusi’ kita pada masalah yang kita hadapi, kita lebih toleran kepada orang lain. Kedua, kita bisa mengubah diri mulai saat ini dalam bersikap dan bertindak.
.
5. Mengingat tanpa memikirkan

Kita tidak berkuasa melupakan sesuatu. Sebab, ketika kita berusaha melupakan sesuatu, justru pada saat yang sama kita mengingatnya. Sama halnya dengan perbuatan orang lain yang menyakiti kita, mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin kita lupakan. Tidak apa-apa! Yang penting ialah, jangan ‘pikirkan lebih jauh’. Jangan ulas secara rinci apalagi menambahkan bumbu ke dalamnya sehingga semakin enak dan asyik memikirkannya. Iblis pasti bertepuk tangan jika Anda mengolahnya terus dalam benak Anda. Ketika Anda mengingat sesuatu yang menyakiti Anda, pikirkan yang lebih bermanfaat. Anda punya ‘kuasa’ untuk memilih mana yang Anda pikirkan. Jangan mau menjadi budak masa lalu Anda. Itu akan melumpuhkan kehidupan Anda hari ini dan mengaburkan masa depan.

6. Melayani Tuhan tidak mungkin mengikuti ego

Pikirkan hal ini secara mendalam. Anda mungkin mengklaim diri sebagai pelayan Tuhan. (Sesuai dengan Ef 4:11-12, semua orang percaya terpanggil mengemban tugas pelayanan gereja. Fungsi pelayanan memang berbeda, tetapi semua adalah pelayan). Bagaimana mungkin Anda ‘melayani’ Tuhan dalam waktu yang sama Anda ‘mengikut’ ego sendiri. Pelayan Tuhan mestilah pengikut Tuhan. Agar pelayanan kita berbuah sebagaimana diharapkan oleh Sang Pemilik pelayanan itu, marilah kita minta pertolonganNya untuk ‘menjinakkan’ ego kita yang rewel itu.

7. Nafas pengampunan

Secara teknis, Anda boleh melakukan latihan pernafasan pelepas asap kebencian dan kemarahan. Sadarilah pernafasan Anda. Hirup udara secara perlahan melalui hidung. Rasakan betapa sejuknya pemberian Tuhan yang masih gratis ini (Mudah-mudahan tidak akan pernah kita bayar seperti layaknya listrik dan air). Anda menghirup kebaikan Tuhan yang menghidupkan. Resapkan hal ini dalam hati. Keluarkan udara melalui mulut. Rasanya hangat. Bayangkan yang keluar itu seperti ‘asap’ --asap kebencian, kemarahan dan kepahitan. Dan yang paling penting, mari kita undang Roh Kudus diam dan bertakhta dalam hati kita. Segala kepahitan pun akan dengan sendirinya tidak tahan mendekati kuasa Roh yang berkuasa dan bertahta dalam hidup kita.

Wednesday, April 8, 2009

PEMILU INDONESIA DI SINGAPURA


Pagi ini, 09 April 2009, orang-orang Indonesia (kalau tidak salah total orang Indonesia yang tinggal di Singapura sekitar 165.000) mendatangi Tempat Pemungutan Suara di kompleks Kedutaan RI di Singapaura. Sangat ramai. Ini menunjukkan antusias warga bangsa Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik. Memakan waktu sekitar 45 menit antri hingga memasuki bilik suara. Pagi hari lebih ramai. Ada juga yang hanya 35 menit antri. Kecuali jam 2 siang ke atas, pemilih tidak perlu antri.

Pelaksanaan pemilu di Singapur sangat tertata rapi. Para petugas terkesan melakukan persiapan dengan sangat matang, dibantu dengan penggunaan teknologi canggih. Kita pantas mengacungkan jempol kepada para petugas pemilu. Terima kasih banyak kepada bapak/ibu/sdr yang sudah berlelah. Harapan semua rakyat pemilu ini jujur.

Ada yang sedikit ganjil. Dua orang kenalan yang saya tanya secara terpisah apakah sudah punya pilihan, keduanya menjawab, “SBY lagilah!”. “Tapi sekarang belum pemilihan presiden, bukan?” saya balik bertanya. “Jadi?”, kata mereka. “Setahu saya kita masih memilih anggota DPR”, jawab saya.

Mungkin sosialisasi pemilu tidak sampai ke orang-orang Indonesia. Maklumlah, karena kesibukan masing-masing, mungkin tidak sempat mendapat penjelasan seperlunya.

Bagi wakil-wakil rakyat yang terpilih hari ini, ‘Selamat!’ Tuhan menguatkan dan memperlengkapi Anda semua mengemban tugas yang berat ini untuk kebaikan bangsa Indonesia. Jangan lupa pada janji-janji Anda ketika kampanye.
Bagi Anda yang belum terpilih, “Selamat!” Anda akan menemukan yang terbaik. Tidak perlu stress berlebihan apalagi putus asa. Keluarga dan sahabat-sahabat Anda membutuhkan kehadiran Anda. Anda juga tetap dapat berbuat sesuatu untuk kebaikan bangsa Indonesia dari kursi Anda sendiri tanpa harus dari kursi di parlemen.


Ada Felix Hutabarat yang
bekerja keras mensukseskan pemilu


































DOA UNTUK BANGSA




Ya Allah, Bapa dan Pencipta kami.
Engkau adalah Pencipta dan Pemilik Indonesia.
Engkau adalah Pencipta dan Pemilik semua orang Indonesia.
Kami bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan
telah anugerahkan dan kerjakan untuk bangsa Indonesia.
Sesungguhnya Engkau memberikan cukup untuk kebutuhan kami, cukup untuk setiap orang untuk hidup sejahtera dan bahagia.

Terima kasih karena Engkau menganugerahkan kemerdekaan politik kepada bangsa Indonesia setelah ratusan tahun terjajah.
Terima kasih karena Engkau menyelamatkan bangsa ini dari berbagai bencana yang silih berganti.

Ya Tuhan, peliharalah bangsa ini seturut kemurahanMu
Kuatkanlah setiap komponen bangsa untuk mengedepankan kebaikan bersama, sebagaimana Engkau menghendaki kebaikan bagi umat manusia ciptaan dan milikMu.

Secara khusus dalam pemilihan 9 April 2009, kiranya pemilu ini boleh menjadi alat di tangan Tuhan mewujudkan keadilan, kebenaran, kesejahteraan dan rasa persaudaraan bagi bangsa Indonesia.

Kami tidak tahu motivasi para calon legislatif.
Kami tidak tahu apakah mereka menjalankan kampanye dengan adil dan jujur
Kami tidak tahu semurni apa komitmen mereka
Kami tidak mengenal mereka semuanya.
Tetapi kami percaya Engkau mengenal mereka dengan sangat baik, bahkan Engkau mengenal mereka lebih baik ketimbang mereka mengenal diri mereka sendiri.
Engkau mengetahui dengan jelas motivasi, komitmen dan kekurangan mereka.
Tetapi Engkau adalah Pengasih dan Penyayang, ampuni mereka ya Tuhan.
Murnikan motivasi mereka jika ada yang ternoda dan tergoda untuk pementingan diri.
Perlengkapilah mereka dengan hikmat dan pengetahuan sorgawi.
Kuatkanlah mereka mengemban tugas pelayanan merawat bangsa ini seturut kehendakMu.

Dan, Engkaulah kiranya menghibur dan memberi yang terbaik bagi mereka yang tidak terpilih untuk tidak jemu-jemunya memperjuangkan kebenaran dan keadilan meski mereka hanya duduk di kursi sendiri bukan di kursi parlemen.

Berilah hati yang bijaksana kepada seluruh pemilih untuk memilih dengan hati nurani yang bersih. Sebab, hanya dengan nurani bersihlah kami dapat membersihkan borok-borok bangsa ini untuk kesembuhannya.

Allah yang baik, Engkau tidak akan meninggalkan Indonesia.
Kami berjanji, tidak akan meninggalkan Engkau.
Engkau senantiasa merawat Indonesia. Kuatkanlah kami untuk seirama dengan Tuhan merawat Indonesia dengan segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada kami.

Amin.

Tema serupa “Allah dan Indonesia, silahkan klik di sini: http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/07/allah-dan-indonesia.html

Tuesday, April 7, 2009

SEBUAH ULAH DALAM ACARA ULTAH

Klik tanda panah untuk play video.

Matius 19:14: Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Yang Yesus maksudkan adalah 'ketergantungan orang percaya sepenuhnya kepada Allah, sama seperti ketergantungan anak kepada orangtua". Jadi, bukan sikap kekanak-kanakan: selalu campur atas urusan orang lain, tidak bisa membedakan antara 'keinginan' dan 'kebutuhan'; menangis kalau keinginan tidak terpenuhi dengan caranya sendiri dan waktu yang ditetapkan sendiri".

Lihatlah peristiwa dalam video di atas. Yang ulangtahun sebenarnya adalah Dorothy Christi Lois. Ketika itu, baru tiga bulan di Singapura pada 30 September 2006. Belum tahu di mana mencari lilin. Jadilah lilin raksasa ini dengan menempelkan kertas bertuliskan angka 6 pertanda ultah ke-6.

Ada masalah serius. William merasa dirinya yang berulangtahun. Ketika lilin ditiup oleh kakaknya, William protes dan menangis. Diambillah 'win-win solution'. Lilin akan dinyalakan kembali dan yang akan meniup adalah William. Masalahnya, korek api tidak ada. Ibunya mengambil secarik kertas bekas dan mengambil api dari kompor. Sayang, apinya sudah tewas dalam perjalanan dari dapur sebelum menjangkau lilin. Kali ini justru lilin yang bertemu dengan kompor di dapur. Akhirnya lilin menyala juga. Jadilah William meniup lilinnya.

Apa yang William ambil dan santap dari bawah lilin? Entahlah.....

Saturday, April 4, 2009

R E A K S I


REFLEKSI SENIN KE-15, 2009: 6/4

Jangan relakan diri Anda menjadi mangsa dari keadaan dunia sekitar, jadilah tuan atas situasi (S.I. McMillen)

Ingat “prinsip 90/10” dari Stephen Covey? Prinsip ini mau mengatakan bahwa 10% adalah apa yang terjadi dalam hidup kita dan 90% adalah keputusan kita bagaimana bereaksi atau menyikapi. Kita tidak dapat mengontrol yang 10% --apa yang terjadi kepada kita. Kita tidak dapat menghentikan hujan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa pada tetangga yang ribut berteriak-teriak, kita tidak dapat menghentikan mesin cuci, sterika, kompor gas dari kerusakan, kita tidak dapat mengontrol lampu merah di jalan raya. Kita tidak punya kuasa menghindari PHK. Berbeda dengan yang 90% lagi. Kita yang menentukannya: melalui reaksi kita.

Celakanya, ada orang yang reaksi negatifnya sudah otomatis untuk setiap kenyataan yang dihadapinya, tanpa pernah mengubahnya. Misalnya:

  • Anak menangis – reaksi: berteriak dan memukul
  • Majikan cerewet – reaksi: diam, wajah cemberut dan langsung sakit perut
  • Pengendara sepeda motor menyalip di jalan –reakasi: mengumpat
  • Orang yang dibenci muncul di layar TV –reaksi: taruh kaki di layar TV, persis di mulut orangnya.
  • Orang terlambat datang –reaksi: diam dan menunjukkan rasa sebal melalui raut wajah.
  • Jalan macet dan banyak berhenti di lampu merah –reaksi: ‘aahhhh’, sambil gelisah!
  • Hujan turun, --reaksi: mengatakan, ‘sial!
  • Guru matematika masuk ruang kelas –rekasi: mengutuki dalam hati dan langsung pusing kepala.

Meyer menyebutnya sebagai adiksi emosional: reaksi seseorang yang sudah terformat atau tidak berpikir lagi untuk merespon sesuatu. Sekiranya ‘otomatisasi reaksi’ ini bersifat positif, tentu masih ada harapan akan keadaan yang lebih baik. Misalnya:

  • Reaksi saat seorang anak menangis: “Ada yang bisa saya bantu?”
  • Reaksi kepada majikan yang cerewet: “Saya lebih tenang bekerja kalau ibu mengatakan sesuatu dengan ramah”.
  • Reaksi ketika pengendara sepeda motor menyalip di jalan: Mengatakan dalam hati “Semoga engkau selamat sampai di rumah”.
  • Reaksi ketika melihat seseorang muncul di layar TV yang perilaku dan janji-janjinya tidak kita sukai: mengatakan dalam hati, “Saya akan berusaha memperbaiki diri dan menepati janji”. Daripada marah dan menyalahkan orang, lebih baik membaharui komitmen pribadi.
  • Reaksi saat jalan macet dan banyak berhenti di lampu merah: tenang dan menggunakan waktu untuk ‘meditasi’ singkat.
  • Saat hujan turun tiba-tiba, “bersyukur atas pemberian Tuhan”.
  • Menyambut guru atau pengkotbah yang pengajarannya dan kata-katanya sulit kita mengerti, ‘lebih konsentrasi’.

Dengan reaksi seperti ini, Anda lebih menikmati kedamaian dan juga akan mampu membagikan keteduhan di mana pun Anda berada.

Dalam Amsal 15:1 dikatakan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”. Firman Tuhan ini secara khusus berkaitan dengan ‘reaksi’ melalui kata-kata. Di sini dikontraskan reaksi yang ‘lemah lebut’ dengan yang ‘pedas’. Tidak sulit kita mengertinya. Kelemah-lembutan memang sangat penting dalam kehidupan ini. Jika seseorang mengatakan yang tidak mengenakkan atau yang mungkin melukai perasaan kita, itu masuk dalam yang 10%. Kita tidak dapat mengontrolnya, karena sudah terjadi. Yang paling penting adalah pilihan ‘reakasi’ kita. Apakah kita balik memaki dan menyakiti? Atau, kita diam tetapi mengutuki di dalam hati? Orang yang disakiti cenderung bereaksi dari luka hati mereka ketimbang bertindak sesuai dengan hikmat dan firman Tuhan. Kalau kita marah atau mengutuki, hari kita akan kelam sepanjang hari meski matahari bersinar terang. Kita akan murung sepanjang hari bahkan hingga terbawa tidur. Tidak ada gairah. Berjumpa dengan orang lain pun kita menjadi berbeda. Mereka kena imbasnya. Singkatnya, kita kehilangan sukacita.

Akan tetapi, jika kita menyikapi dengan pikiran jernih, hati damai dan kata-kata lembut, kita akan tetap menjalani hidup tanpa gangguan emosional. Kalaupun yang menyakiti kita tidak berubah, paling tidak kita tetap tenang dan bebas dari beban yang tidak perlu. Hal yang sama juga berlaku pada saat-saat menghadapi berbagai kesulitan atau hal-hal yang tidak kita inginkan dan tidak dapat kita kontrol. Tetapi ‘reaksi’ kita yang selalu bertolak dari hubungan yang baik dengan Tuhan akan memungkinkan kita tidak kehilangan kedamaian dan kegembiraan.








Wednesday, April 1, 2009

MENGHADAPI ORANG-ORANG SULIT

Untuk sementara, saya berharap Anda memikirkan masalah ini lebih dahulu. Terus terang saya masih bergumul dalam soal yang satu ini. Yang dimaksud dengan 'orang-orang sulit' pun saya belum begitu jelas. Saya memang sudah pernah mendengarnya. Bahkan, kalau tidak salah, ada buku khusus membahas masalah ini. Intinya, 'orang-orang sulit' merupakan sebuah label 'negatif', yang sulit dihadapi, sulit diajak bersepakat, sulit berubah, sulit dipercaya dan sebagainya.

Sekiranya Anda mempunyai pemikiran seputar masalah ini, atau Anda mengetahui sumber yang dapat digali untuk memahami dan mengatasi masalah ini, mohonlah kesediaan Anda memberi masukan. Sampai ketemu minggu depan.

===========
Hari ini, Rabu, 8 April 2009 'topik sulit' ini belum bisa saya masuki. Untunglah ada masukan dari Pdt Wissel Siregar dari Duri yang mengatakan seperti ini:

Judulnya saja menghadapi orang sulit. Karena itu menjelaskannya juga sangat sulit. Tidak mudah melakukan survey tentang topik ini karena menemui orang-orang seperti ini juga sangat sulit. Pokoknya serba sulit deh semuanya. Jadi daripada susah karena orang-orang ini lebih baik kita mengalah saja kepada orang sulit. Dan tidak usah memperpanjang lebar membicarakan mereka. Karena biasanya orang-orang sulit juga sangat mudah tersinggung.

Masih ada pendapat yang lain? Sambil menunggu pendapat Anda, cobalah pikirkan:
- Apa ciri-ciri orang sulit?
- Bagaimana menghadapi orang sulit?
- Jangan-jangan kita termasuk orang sulit!

Sunday, March 29, 2009

TRANSFORMATION LEADERSHIP[1]


REFLEKSI SENIN KE-14, 2009: 30/3


Saat ini istilah “transformation leadership” digunakan secara luas oleh hampir semua kalangan seperti organisasi, korporasi hingga kekristenan. Kita menemukan begitu banyak literatur dan website yang membahas tema ini dengan pengertian yang beraneka ragam pula.[2] Di kalangan Kristen sendiri pun tidak ada kesepakatan dalam penggunaan istilah ‘leadership’. Ada yang menggunakan istilah transformation servanthood karena dianggap lebih Alkitabiah.

Perbedaan-perbedaan tersebut tidak akan dibahas di sini. Cukup ditegaskan di sini dua hal. Pertama, istilah apa pun yang digunakan --“leadership” atau “servanthood”—yang terpenting adalah maknanya yang merujuk pada ‘fungsi pelayanan’, bukan sebagai ‘posisi’ --apalagi berkaitan dengan masalah ‘gengsi’. Kedua, kekristenan hendaknya tidak begitu saja mengadopsi pengertian, esensi dan cara-cara yang digunakan oleh dunia sekuler berkaitan dengan transformation leadership khsusnya menyangkut subjek (siapa pemeran utama) dan mengukur sukses. Bagi orang Kristen, “Subjek” adalah Allah sendiri; indikator ‘sukses’ sebuah kepemimpinan tidak ditakar dengan kalkulator; kebenaran lebih penting dari pada performance (yang amat kental dalam organisasi sekuler).

Berikut ini ada empat hal pokok berkaitan dengan ‘transformation leadership’ dalam konteks kehidupan bergereja, yakni: (1) Esensi Kepemimpinan Kristen, (2) Pemimpin yang bagaimana, (3) Bagaimana memimpin, (4) Mengalahkan Pencobaan

1. ESENSI KEPEMIMPINAN KRISTEN

Jabatan gerejawi dalam Perjanjian Baru berintikan:
– Sebagai pelayanan bukan kedudukan yang lebih tinggi
– Pemegang jabatan adalah hamba, bukan tuan
– Terutama dalam pengertian fungsi bukan posisi
– Menekankan kualitas kehidupan bukan terutama soal keahlian

Dalam kaitan itu dapat ditekankan hal-hal berikut:

(1) Jabatan gerejawi atau tugas kepemimpinan adalah terutama pemberian Tuhan, bukan “pencapaian”, baik melalui pendidikan formal maupun keahlian yang lahir dari pengalaman, walaupun semuanya itu penting. Para pemimpin yang disebut di dalam Alkitab lebih menekankan peranan ‘hati’ ketimbang keahlian dan pengalaman.
(2) Pelayanan adalah ‘keikutsertaan’, bukan pengalihan dari Yesus. Ia tidak pernah melakukan “serah terima” kepada para murid-Nya dan kita. Ia tetap Pemilik pelayanan dan para pelayan. Ia berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman (Mat 28:20).
(3) Tanpa kita pun, Kerajaan Allah tetetap dapat berjalan. Keasadaran seperti ini merupakan dasar kokoh pentingnya kerendahan hati kita.

Berkaitan dengan itu, 10 prinsip pelayanan sebagaimana disebutkan Warren Wiersbe berikut ini amat penting kita renungkan:

Dasar pelayanan adalah Karakter
Sifat pelayanan adalah Pengabdian
Motif pelayanan adalah Kasih
Ukuran pelayanan adalah Pengorbanan
Kekuatan pelayanan adalah Penyerahan diri
Tujuan pelayanan adalah Kemuliaan Allah
Perangkat-perangkat pelayanan adalah Firman Tuhan dan Doa
‘Hasil’ pelayanan adalah Pertumbuhan
Kuasa pelayanan adalah Roh Kudus
Model pelayanan adalah Kristus

2. PEMIMPIN YANG BAGAIMANA

Salah satu yang sangat mendasar dalam kepemimpinan Kristen adalah ‘panggilan’ Tuhan. Hanya dengan demikian seorang pemimpin dapat memiliki visi dan misi dari Yesus. Jika tidak, pemimpin hanyalah menciptakan visi dan misinya sendiri.

Kita tidak memiliki visi dan misi dari diri kita sendiri. Visi Alkitabiah adalah hadirnya Kerajaan Allah yang berisikan syalom, kebahagiaan, kebenaran, keadilan. Seiring dengan itu, misi Tuhan Yesus yang di dalamnya Gereja dan orang-orang percaya terlibat adalah “memberitakan Injil” dalam kata dan perbuatan (Mat. 5:13 ; Luk 4: 18-19; Mrk 16:15). Di kemudian hari, Gereja merumuskan apa yang disebut dengan Tritugas Panggilan Gereja yang juga berlaku hingga hari ini, yaitu: Koinonia, Marturia, Diakonia.

Tema “Jemaat Misioner” sudah lama diperdengarkan di kalangan gereja-gereja Reformasi, yang intinya bahwa setiap orang percaya adalah “misionaris” melalui kata, sikap dan perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari di mana pun ia berada. Hal ini sejalan dengan apa yang ditekankan dalam Efesus 4:11-12. Yesus memberi: Rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, pengajar-pengajar, yang tugasnya adalah memperlengkapi orang-orang kudus (=setiap orang percaya). Orang percya yang diperlengkapi ini bertugas untuk melayani untuk pembangunan tubuh Kristus. Jadi, semua orang percaya adalah ‘pelayan’. Untuk mengemban missi tersebut, para pemimpin/ pelayan Gereja membutuhkan sedikitnya empat hal berikut:

(1) Spiritualitas yang tangguh

Seorang ‘transformational leader’ adalah pertama dan terutama yang mengalami metamorfose (transformasi). Berikut ini ada beberapa bagian firman Tuhan:

►Yohanes 15:4: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Perubahan hidup kita hanya bisa terjadi ketika undangan Yesus ini kita terima dengan iman, sukacita dan kerendahan hati. Dengan demikian, kitalah menyesuaikan diri dengan kehendak Kristus, bukan Kristus menyesuaikan diri dengan kehendak kita.

►Yeremia 18:6 “seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku”. Kita harus selalu siap dibentuk oleh Tuhan. Kita percaya bahwa rancanganNya adalah rancangan yang baik untuk kita.

►Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”

Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata ‘berubah’ di sini adalah metamorfose (transformasi) yang menunjukkan suatu perubahan kualitas. (Istilah biologi untuk perubahan kepongpong menjadi kupu-kupu juga menggunakan kata ‘metamorfose”.) Jadi, manusia yang mengalami metamorfose adalah perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru di dalam Kristus.

►2 Kor. 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

►Galatia 2:20 “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Berdasarkan firman Tuhan di atas, transformation leadership dapat diartikan sebagai:
“Pemimpin yang mengalami “metamorfose”/ transformasi oleh kasih Kristus
dan melakukan pembaharuan seturut kehendak Kristus dalam pelayanan yang Ia percayakan”


(2) Karakter

‘Karakter” adalah siapa kita di tempat tersembunyi atau di luar pantauan orang. Pikiran dan perbuatan kita terutama ‘antara Dia (Tuhan) dan aku’. Kita tidak berbuat baik supaya menerima kebaikan, ucapan terima kasih atau pujian manusia.

Dalam Kis. 6:3 disebutkan kaulitas seorang yang melayani di jemaat yakni: terkenal baik, penuh Roh, berhikmat. Lebih rinci dalam 1 Timotius 3:1-7 Rasul Paulus mendaftarkan kualitas yang diharapkan dari seorang pelayan yaitu: tak bercacat, monogami, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya, jangan seorang yang baru bertobat, mempunyai nama baik di luar jemaat.

(3) Integritas

Integritas adalah menyatunya iman, kata dan perbuatan. Pemimpin kristiani tidak dapat mengandalkan teori-teori psikologis dan teknik-teknik berkomunikasi (walaupun keduanya diperlukan) dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, tetapi berakar kuat pada firman Tuhan. Dalam Gal. 5:22-23 disebutkan ‘buah-buah Roh’ yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan dan penguasaan diri. Pelayan yang memiliki Spirit-controled temperament!

Untuk hadirnya buah-buah Roh dalam diri kita, maka kita harus membuang segala yang merusak kita dan yang menghalangi Roh berkarya dalam diri kita, di antaranya: sakit hati, kemarahan, kebencian, kekuatiran, kerakusan dan kesombongan.

(4) Keterampilan

Keterampilan di sini mencakup: (1) Kreativitas atau daya cipta yang mendukung terhadap pelayanan. Dalam hal ini seorang pemimpin lebih baik menggunakan yang ada ketimbang menangisi yang sudah tidak ada atau menguatirkan yang belum ada. (2) Memiliki kecerdasan interaksi atau kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan sesama. (3) Kemampuan berkomunikasi secara efektif. (Perlu dicatat bahwa teknik berkomunikasi tidak menjamin hubungan baik). Salah satu ciri komunikator yang baik adalah “mengetahui lebih banyak dari apa yang ia katakan, bukan mengatakan lebih banyak dari yang diketahuinya”

3. BAGAIMANA MEMIMPIN

(1) Memimpin dalam nama Yesus. Pola utama Yesus adalah:

  • Pengaruh bukan kontrol. Ia memanggil orang mengikut Dia, mengundang untuk menentukan pilihan.
  • Penggunaan kuasa: terpusat pada kebutuhan orang lain.
  • Membatalkan hak-haknya dan melayani.
  • Tidak memperkuat kekuasaan pemimpin tetapi membebaskan umat agar memberi diri mereka untuk kebaikan orang yang lain.

(2) Pendelegasian tugas tanpa mengabaikan tanggung jawab (cth. ‘manajemen’ Yitro dalam Keluaran 18:13-27).

(3) Menolak “kekurangan orang” tetapi mengasihi dan menghargai “orangnya” (Bnd. Zakheus: Yesus memebenci dosa tetapi mengasihi Zakheus).
(4) Menerima dan memberi kritik dengan bijaksana. “Kritik, Yes!; Tukang Kritik, No!”[3]
(5) Proses dan tujuan sama-sama penting. Hal ini dapat digambarkan seperti sebuah nasihat berlalu-lintas di salah satu daerah di Sulawesi, “Lebih baik lambat sampai ke rumah dari pada cepat masuk rumah sakit”. Dalam pelayanan di Gereja kita membutuhkan kesabaran.
(6) Memadukan integrasi dan dominasi positif secara seimbang. Integrasi mengandung sikap menghargai, rasa empati dan semangat kebersamaan. Dominasi positif mengandung sikap: konsekuen, kesediaan menggambarkan dengan argumen yang baik, teguh dalam prinsip tetapi luwes dalam bertindak.
(7) Mengambil keputusan dengan pimpinan Roh. Belajar dari para rasul dalam pengambilan keputusan: “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami,…” (Kis. 15).
(8) Finishing Well. Banyak pemimpin yang disebutkan di dalam Alkitab, para pemimpin dunia dan para pemimpin atau pelayan gereja yang tidak finishing well. Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menjalankan tugas pelayanan dan finishing well.

4. MENGALAHKAN PENCOBAAN

Yesus sudah mengalahkan pencobaan: menjadi relevan, menjadi hebat, berkuasa menurut ukuran dunia (bnd. Luk. 4:1-13). Bersama Ia pula kita mampu mengalahkan pencobaan yang terus mengitari kita.

(1) Tidak mencari ‘pengakuan’, memberi kesan, atau menjadi hebat. Pemimpin gerejawi adalah bagaikan ‘bejana tanah liat’ (seperti digambarkan oleh Paulus), bukan selebriti.
(2) Kita ‘membawa’ orang kepada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri. Kita mempromosikan Kerajaan Allah, bukan diri kita.
(3) Melepas beban yang tidak perlu dan non-salib dengan memaksa diri melakukan semua hal. Terlalu banyak kerja, hilangnya sukacita, pudarnya semangat atas nama ‘pelayanan’ bukanlah tanda-tanda hidup di dalam Roh.
(4) Bebas dari dua ekstrim: mengorbankan (memanfaatkan) Gereja untuk ‘altar’ keluarga atau mengorbankan (mengabaikan) keluarga untuk ‘altar’ gereja. Memanfaatkan gereja untuk ‘altar’ keluarga bisa saja mewujud mulai dari bentuknya yang paling halus seperti mendapat ‘medali’, pengakuan, hingga kemewahan materi. Sementara mengorbankan keluarga untuk ‘altar’ gereja tidak saja bisa menimpa para keluarga pelayan fulltimer dengan mengabaikan persekutuan dalam keluarganya karena terlalu sibuk atas nama pelayanan, tetapi bisa juga menjangkiti para aktivis gereja yang mengorbankan seluruh waktu yang tersisa dari pekerjaan sehari-hari untuk pelayanan dan mengabaikan keluarga.
(5) Bebas kekerasan dan pemaksaan, mulai dari pikiran, perkataan hingga tindakan.
(6) Konflik yang tidak terhindarkan, Yes!; Bermusuhan dan saling terkam, No! Orang yang dibaharui oleh Kristus tahu persis bagaimana menangani konflik secara dewasa.

Bagaimana kita dapat dikuatkan mengalahkan pencobaan? Kita hanya dapat mengalahkannya bersama Kristsus yang sudah berhasil mengalahkan semua godaan tersebut. Dalam hal ini kita perlu mengembangkan disiplin rohani: doa, kontemplasi, dan meditasi. Mendisiplinkan diri berdiam diri, melakukana kontemplasi dan meditasi serta menghidupi prinsip-prinsip mendasar spiritual seperti menghindari diri dari kesombongan, mengembangkan kerendahan hati dan mengasihi Allah melebihi segalanya, amat kentara keabsenannya saat ini. Ketika bagian diri kita yang terdalam –jiwa, hati dan pikiran kita—dikunjungi dan didiami oleh Allah, maka transformasi dan pembaharuan Gereja dan perubahan-perubahan revolusioner di dunia ini akan terjadi.

SIAPA YANG MAMPU?

Melihat uraian di atas, kita bisa saja tergoda setengah menggugat: siapa yang mampu? Perasaan tidak layak untuk tugas kepemimpinan/ pelayanan bisa saja memenuhi pikiran kita. Kita tidak sendirian dalam hal ini. Ada juga dari antara para pemimpin yang dipanggil oleh Allah sebagaimana disebut di dalam Alkitab merasakan hal yang sama. Musa, Yeremia, Amos dan lain-lain juga pernah merasakannya. Keasadaran seperti itu sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk bagi kita untuk mengenal betapa besar kasih dan rahmat Tuhan yang memperlengkapi kita. Kita memang tidak layak. Kita dilayakkan. Pada akhirnya, kita dapat dengan rendah hati mengaku bersama Paulus:

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Korintus 3:5).

Ya, kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah.

Untuk mengakhirinya, berikut adalah cerita sebagaimana dicatat oleh Anthoni de Mello yang kiranya dapat meneguhkan kita untuk pertama merelakan diri ditransformasi oleh Tuhan:

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini:

Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa:
“Tuhan berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia”

Ketika aku sudah setengah baya dan sadar bahwa setengah
hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun,
aku mengubah doaku menjadi:
“Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang
berhubungan denganku:
keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas”.

Sekarang ketika aku sudah menjadi tua
dan saat ajal sudah dekat,
aku mulai melihat betapa bodohnya aku.
Doaku satu-satunya sekarang adalah:
“Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri”.
Seandainya sejak semula aku berdoa demikian, maka aku tidak begitu
menyia-nyiakan hidupku



[1] Sebelumnya pernah disampaikan pada “Pembinaan Leadership Majelis Jemaat dan Pengurus Komisi” Gereja Presbyterian Orchard, Singapura, 14 Maret 2009, oleh Pdt Victor Tinambunan
[2] Dalam pengertian umum ‘transformation leadership’ merupakan suatu gaya kepemimpinan yang menekankan kerja sama dimana para pemimpin dan para pengikut atau anggota saling membangun. Transformation leadership fokus pada ‘pentransformasian’ orang lain untuk saling menolong satu sama lain, saling memperhatikan, saling meneguhkan, hidup dalam keharmonisan, dan mengutamakan kepentingan organisasi.
[3] Uraian selengkapnya tentang topik “Kritik, Yes; Tukan Kritik, No”, silahkan mengakses http://hkbps.com/?p=180

Monday, March 23, 2009

MENGATAKAN 'TIDAK'

REFLESI SENIN KE-13 2009: 23/03

Orang-orang yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang dirinya atau yang selalu sibuk memberi kesan kepada orang lain biasanya selalu berusaha untuk ‘menyenangkan’ orang lain. Mereka sangat sulit mengatakan ‘tidak’ atas sebuah permintaan karena mereka terus-menerus mengharapkan pengakuan orang lain. Mereka berpikir bahwa dengan mengatakan ‘ya’ kepada semua permintaan orang lain mereka akan mendapatkan apa yang mereka dambakan. Mereka pun menjadi sangat tegang hari demi hari memikirkan bagaimana supaya orang lain menyenangi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana untuk hidup rileks. Dari bangun tidur hingga berbaring pada malam hari pikiran mereka terus berkelana ke mana-mana. Mereka memikirkan apa yang membuat orang tidak senang akan apa yang sudah mereka katakan dan perbuat serta bagaimana membuat orang lain mendapat kesan baik tentang diri mereka. Di samping tidak sehat, prinsip ini bisa membuat hidup melarat dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Jika seseorang meminta sesuatu kepada Anda, jangan merasa bersalah, sungkan dan enggan mengatakan ‘tidak’. Anda dapat mengatakan ‘tidak’ tanpa harus merusak diri dan hubungan baik Anda dengan orang yang meminta. Katakan ‘tidak’ terhadap suatu permintaan jika:

(1) Anda tidak mampu melakukannya. Jangan memaksa diri. Hasilnya tidak baik, untuk Anda sendiri dan kepada yang meminta. Ini tidak saja yang berkaitan dengan ‘materi’ tetapi juga yang bersifat non-material, seperti nasihat atau jawaban atas suatu pertanyaan. Misalnya, jangan Anda coba-coba memberi nasihat menangani suatu penyakit, yang sama sekali Anda tidak tahu tentang penyakit tersebut. Akibatnya bisa fatal. Anda juga jangan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar doktrin Kristen jika Anda tidak mengetahuinya. Itu tidak akan menjernihkan pemahaman, malah bisa kian membingungkan hingga menyesatkan orang lain. Lebih baik mengatakan ‘tidak’ ketimbang Anda berusaha memberi kesan seolah-olah Anda 'mahatahu' padahal tidak tahu.

(2) Permintaan yang tidak masuk akal atau yang bisa merusak yang bersangkutan. Bayangkan anak Anda yang berusia tujuh tahun meminta sebuah pedang panjang untuk dijadikan mainannya. Permintaan itu tidak muncul dari akal sehat. Mungkin ia pernah melihatnya dalam sebuah film dan ia menginginkannya. Jika Anda memberikannya, Anda secara tidak langsung melukainya bahkan membunuhnya atau membantunya melukai orang lain. Atau, ada seseorang yang meminta uang kepada Anda untuk membeli rokok. Jika Anda bersikap bijaksana, Anda tidak akan memberikannya. Dengan memberikannya, Anda membantunya merusak kesehatannya bahkan melakukan 'bunuh diri kredit'. Sebagai gantinya Anda dapat memberikan jus yang berguna untuk kesehatan tubuhnya.

Memang ada kalanya kita tidak perlu terlalu jauh mengomentari permintaan orang lain. Anthoni de Mello pernah menuliskan sebuah ilustrasi yang intinya kira-kira begini. Seorang pemilik gajah meminta uang kepada seseorang untuk kebutuhan pemeliharaan gajahnya. “Jika engkau tidak mampu memelihara gajah mengapa engkau memeliharanya?”, katanya. Si pemilik gajah menjawab, “Yang saya minta adalah uang, bukan khotbah atau nasihat.” Ya, jangan sampai orang minta nasi justru nasihat yang kita beri; orang meminta sembako justru pidato yang muncul.

(3) Jika yang diminta untuk pementingan diri yang meminta. Ada pasangan suami istri yang bertengkar dengan tetangganya soal batas tanah. Anak-anak mereka ‘berhasil’ di perantauan dan pasangan suami istri ini sering membanggakan (bahkan terkadang menyombongkan) keberhasilan anak-anaknya. Tetangganya pun membencinya karena kesombongannya, apalagi setelah mendengar perkataan suami istri tersebut bahwa anak-anak mereka pasti akan memberikan uang kepadanya dan mereka pasti menang di pengadilan. Benar, pasangan suami-istri tersebut meminta bantuan anak-anaknya untuk menyediakan dana yang akan mereka gunakan untuk berperkara di pengadilan. Tetapi, anak-anak mereka bersepakat tidak akan memberikan uang. Mereka mau membantu agar orangtua mereka berdamai dengan tetangganya.

(4) Jika yang diminta mengorbankan kebenaran. Bagi sebagian orang, mengatakan ‘tidak’ kepada permintaan orang lain yang kelihatannya ‘baik’ (padahal tidak baik) atau yang jelas-jelas tidak baik terkadang amat sulit. Misalnya, karena kedekatan dengan orang lain seseorang merasa sungkan mengatakan ‘tidak’. Ia rela (atau lebih tepatnya ‘tega’) mengorbankan ‘kebenaran’ demi hubungan. Bagaimana memelihara hubungan baik tanpa mengorbankan kebenaran? Memang sulit. Tetapi jika harus memilih, ‘hubungan pertemanan’ harus kita belakangkan. Tidak berarti kita menjadi bermusuhan dengan mereka. Kita mesti tetap mengasihi orang lain meskipun kita menolak perilakunya yang buruk atau pendapatnya yang keliru.

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan:
tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat

(Mat. 5:37).

Sunday, March 15, 2009

MASALAH 'TRIANGULATION' DALAM KOMUNIKASI

REFLEKSI SENIN KE-12 2009: 16/3

Kita semua pasti pernah termasuk dalam suatu 'jaringan' triangulation, entah sebagai pihak pertama, pihak kedua, pihak ketiga atau malah perpaduan ketiganya. Triangulation adalah tindakan menyampaikan keluhan atas diri seseorang kepada pihak ketiga, bukan kepada yang bersangkutan secara langsung. Ini terjadi karena seseorang terlalu kuatir menyampaikan langsung kepada yang bersangkutan, takut akan kemungkinan reaksi yang tidak menyenangkan. Atau, bisa juga karena hal ini sudah merupakan ‘hobbi’. Padahal, melakukan triangulation dapat memicu beredarnya gossip dan rumor. Triangulation juga dapat menimbulkan konflik dan bahkan bisa menimbulkan kekacauan yang tidak terkendali.

Untuk memudahkan membedakan ketiga pihak dalam sebuah proses triangulation dapat disingkat dengan P1, P2, dan P3. P1 adalah sasaran keluhan, P2 adalah yang mengeluhkan P1; dan P3 adalah perantara P1 dan P2. Berikut ini ada empat saran praktis:[1]

1. Hindari Triangulation

Kita perlu mengindari triangulation dalam komunitas kerja, jemaat, dan keluarga. Jika Anda mempunyai masalah dengan seseorang (P1), bicaralah secara langsung kepada yang bersangkutan. Dalam konteks triangulation yang perlu dihindari, berikut ini ada beberapa hal yang kiranya dapat Anda pertimbangkan:
  • Dalam kehidupan sehari-hari hindari terlalu banyak mengeluh dan mempercakapkan hal-hal sepele secara mendalam.
  • Temuilah yang bersangkutan dalam semangat kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan itu sendiri akan mempengaruhi kata-kata dan cara Anda.
  • Carilah waktu dan situasi yang lebih tepat.
  • Mohonlah hikmat kepada Tuhan untuk memperlengkapi Anda untuk menyampaikan isi hati Anda.
  • Jika yang Anda sampaikan berkaitan dengan sebuah kritik, pilihlah kata-kata yang lebih konstruktif bukan ofensif. Misalnya, jika Anda mau membicarakan sifatnya yang pemarah atau pemberang, jangan katakan, “Saya sangat membencimu, karena engkau pemarah”. Katakan dengan tulus, “saya akan sangat menghargai dan berterima kasih jika engkau lebih lemah-lembut dalam bersikap dan berkata-kata!” Isi pesannya sama, tetapi yang kedua lebih meneguhkan dan membuka jalan untuk sebuah perubahan tanpa mengorbankan kebenaran dan persahabatan.

Dalam konteks kehidupan berjemaat, firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Matius 18:15-17 menjadi pedoman kita:

Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.

2. Menghadapi Triangulation Dengan Kasih

Jika seorang P3 menjumpai Anda dan mengatakan, “banyak orang mengeluhkan” atau “ada seseorang yang meminta saya menyampaikan keluhannya tentang Anda”, dengarkanlah dengan sepenuh hati. Kemudian, lanjutkan dengan menanyakan nama-nama (P2) yang dimaksudkan. Sekiranya seseorang itu tidak memberitahukan namanya, Anda tidak perlu bereaksi berlebihan atau bersikap ofensif dan defensif. Anda cukup merenungkannya dan memperbaiki diri jika benar atau melupakannya jika yang dikeluhkan tidak benar.

Jika seseorang memberitahukan nama yang melakukan triangulation terhadap diri Anda, bicaralah secara langsung kepada yang bersangkutan. Tanyakanlah mengapa dia segan atau takut berbicara kepada Anda. Dan yang terpenting adalah Anda memasuki inti masalah dengan kasih persaudaraan. Jika apa yang dikeluhkan tentang diri Anda benar, maka Anda perlu mengekspresikan rasa terima kasih Anda kepada yang bersangkutan yang menolong Anda memperbaiki kelemahan. Jika apa yang dikeluhkan seseorang itu tidak benar, Anda dapat memberi penjelasan secukupnya tanpa menyerang atau memarahi.

3. Memikul Tanggung Jawab

Jika seorang P2 datang kepada Anda dan meminta Anda sebagai pihak ketiga (P3) dalam sebuah triangulation, Anda dapat mendorongnya untuk berbicara langsung kepada yang bersngkutan (P1). Sekiranya seseorang(P2) itu tetap tidak mau atau belum mampu menyampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan, padahal apa yang dikeluhkannya benar dan sangat perlu diketahui yang bersangkutan, Anda dapat mengambil inisiatif menyampaikannya kepada P1. Bukan lagi terutama karena ada orang (P2) yang menyampaikannya kepada Anda, tetapi karena Anda sendiri menyadari bahwa masalah itu perlu disampaikan. Sebelum menyampaikannya kepada yang bersangkutan (P1), Anda mesti pertama sekali ‘menyampaikannya’ kepada Tuhan melalui doa Anda. Mintalah hikmat kepada Tuhan agar ‘misi’ Anda bertemu kepada yang bersangkutan dipimpin oleh Tuhan sendiri.

4. Triangulation yang dibenarkan

Barangkali triangulation yang dibenarkan adalah berkaitan dengan kehidupan berbangsa atau berorganisasi berskala besar, di mana masyarakat atau anggota suatu organisasi tidak memiliki akses langsung kepada para pemimpin selain menyampaikannya melalui jalur perwakilan atau melalui media massa. Dalam hal ini hendaknyalah semua pihak mengutamakan penyelesaian masalah tanpa menambah atau memperparah masalah. Itu bisa terjadi jika semua pihak mengedepankan semangat kehidupan yang lebih baik untuk semua dan dalam koridor kebenaran.
***

[1] Uraian singkat tentang topik ini lihat The Lutheran Handbook for Pastor, (Minneapolis: Augsburg Fortress, 2006), 130-131.

Saturday, March 7, 2009

SENI MENDENGARKAN

REFLEKSI SENIN KE-11 2009
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar,
itulah kebodohan dan kecelaannya
(Amsal 18:13)

Allah adalah komunikator terbaik di dunia, sedihnya,
kita adalah pendengar-pendengar terburuk di dunia
(Jimmy Setiawan)

Kita dapat membedakan sedikitnya empat tipe pendengar[1] yang kiranya berguna bagi kita sebagai wahana refleksi diri untuk pada akhirnya dapatmenjadi seorang pendengar aktif.

Tipe 1: Bukan Pendengar

Tipe ini merupakan tipe pendengar yang paling rendah. Suara atau informasi amat jelas tetapi penerima tidak mendengarkan. Ada dua kemungkinan utama seseorang masuk dalam tipe ini. Pertama, sibuk dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Kedua, tidak tertarik pada apa yang dikatakan si pembicara.

Ciri-ciri tipe bukan pendengar nampak melalui: (1) Pandangan mata yang kosong dan gerak-gerik yang tidak tenang atau malah tidak bergerak sama sekali. (2) Terus menerus memotong pembicaraan orang. (4) Selalu mengatakan kata terakhir. Apa yang sudah dikatakan orang lain seolah tidak ada arti apa-apa. (4) Tidak peka memahami keadaan orang dan situasi.

Ada orang yang kelihatan seperti berdialog, tetapi mereka sebenarnya berbicara kepada diri sendiri. Misalnya seseorang sedang asyik membicarakan tentang anaknya yang sangat pintar dan teman berbicara juga bercerita tentang anaknya yang diterima di perguruan tinggi bergengsi. Kemudian, pembicara pertama menyambung (bahkan memotong pembicaraan) dengan memberitahukan bahwa anaknya diterima bekerja di luar negeri. Demikianlah percakapan bisa berlangsung berjam-jam, dan masing-masing tidak (mau) tahu apa yang dikatakan oleh teman bicaranya karena masing-masing sibuk dengan pikiran dan diri sendiri.

Tipe 2: Pendengar Dangkal

Mengandaikan pesan itu terdiri dari verbal (kata-kata) dan non-verbal (misalnya raut wajah, intonasi kata-kata, tatapan mata, dan gerak-gerik), maka pendengar dangkal dicirikan: (1) Mendengar suara dan kata-kata tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan. (2) Tidak semua kata-kata ditangkap. (3) Tidak masuk lebih dalam kepada pesan yang disampaikan. (4) Mendengar hal-hal yang sepele dan menghindari percakapan serius. (5) Sama sekali tidak menangkap bahasa non-verbal.

Akibatnya, tanggapan yang disampaikan seseorang yang masuk dalam tipe ini akan meleset karena yang verbal saja tidak ditangkap secara lengkap. Bayangkan Anda menyampaikan pergumulan Anda kepada seseorang yang Anda anggap bisa menolong, tetapi ia sedang memikirkan pertemuan yang sangat penting yang harus ia hadiri segera. Ia terlihat hanya berbasa-basi berbicara dengan Anda karena ia sibuk memikirkan dirinya dan jadwal pertemuannya. Dalam hal ini, keadaan seseorang bisa mempengaruhi kemampuannya mendengarkan dengan baik.

Tipe 3: Pendengar Evaluatif

Pendengar evaluatif adalah orang yang mendengarkan dengan konsentrasi dan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan tipe 1 dan tipe 2 di atas.
Tipe ini berusaha mendengarkan apa yang dikatakan teman bicara tetapi belum sepenuhnya mengerti maksud si komunikator.

Pendengar tipe ini lebih menaruh perhatian pada isi dan kurang (atau sama sekali belum) memperhatikan perasaan komunikator. Ia tidak terlibat secara emosional dalam pembicaraan. Memang, tipe ini cakap merumuskan kembali isi percakapan tetapi tidak tahu sisi lain yang sebenarnya dapat ditangkap melalui nada suara, wajah, dan gerak-gerik. Singkatnya, ia tidak mampu menangkap rasa dibalik kata.

Godaan yang mungkin dialami tipe pendengar evaluatif ini adalah perasaan yakin bahwa dirinya mengerti orang yang berbicara dengannya. Dengan demikian, responnya justru biasa merusak hubungannya sendiri dengan rekan bicaranya karena dia membentuk pendapatnya sendiri atas maksud si komunikator.

Tipe 4: Pendengar Aktif

Tipe inilah yang memiliki kemampuan mendengarkan yang terbaik. Kita tergolong pendengar aktif jika kita mampu menahan diri untuk tidak menilai ucapan-ucapan orang yang berbicara. Kita harus melihat dan memahami sebuah pesan dari segi pandangan komunikator. Kita berusaha menahan perasaan dan pikiran kita untuk mendengarkan orang lain.

Di samping itu, kita tidak hanya memberi perhatian pada kata-kata yang diucapkan tetapi berusaha menjadi satu hati dengan si pembicara. Kita mau dan mampu memahami ‘rasa dibalik kata’. Dengan demikian kita pun akan mampu menangkap, memperhatikan dan menjawab dengan baik dan benar.

Lunandi menyebut tiga keterampilan pendengar aktif, yaitu:

1. Dapat menangkap, yaitu: mengenal dan menghargai maksud yang terucapkan lewat nada suara, raut wajah, dan gerak-gerik.
2. Memperhatikan: mampu menyampaikan pesan-pesan kepada si pembicara lewat suara, raut wajah, gerak-gerik yang menunjukkan perhatian dan bersedia menerima.
3. Menjawab dengan bijaksana dengan memberi tanggapan yang tepat terhadap maksud dan perasaan teman bicara, membantu agar teman bicara merasa enak dan bebas, tidak merasa terancam.

Ditabur Pada Tanah Yang Subur

Apa yang diuraikan di atas dapat juga kita hubungkan dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang “benih” yang jatuh pada empat jenis tanah sebagaimana tertulis dalam Matius 13:1-9. Sebenarnya perumpamaan ini tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi. Intinya sudah diberitahukan (ayat 19-23). Kita hanya perlu merenungkannya dalam kehidupan kita. Firman Tuhan terus diperdengarkan kepada kita, melalui bacaan Alkitab, khotbah, peristiwa kehidupan dan sebagainya. Dalam perumpamaan ini, yang masalah bukanlah ‘Penabur’ atau pemberitaan firman itu. Masalahnya adalah dalam diri si pendengar, yang di sini disebut empat tipe. Mungkin dalam kurun waktu tertentu kita bisa saja berpindah dari tipe pendengar yang satu ke tipe yang lain. Tetapi, atas pertolongan Tuhan sendiri kita bisa seperti ‘tanah yang baik’.

Pertama, yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Orang seperti ini bukan tuli secara jasmani, tetapi tuli secara rohani. Tipe pendengar “masuk telinga kanan keluar telinga kiri” masih sempat masuk ke kepala. Tetapi tipe pertama ini lebih parah dari itu: masuk telinga kanan keluar dari telinga kanan juga. Firman itu sama sekali tidak sempat berdiam apalagi bekerja dalam kehidupan si pendengar. Hal ini terjadi ketika yang mengendalikan hidup adalah hal-hal duniawi.

Kedua, pendengar dangkal. Mungkin dapat disebut tipe ‘semangat air soda’. Ketika dituangkan ke dalam gelas, busa air soda naik ke atas dan tidak lama kemudian buihnya habis. Dalam ayat 20-21 dikatakan, “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.” Mari kita perhatikan secara khusus kata-kata ‘segera menerimanya dengan gembira’. Baik? Ya. Masalahnya tidah bertahan lama. Mungkin ada kalanya kita begitu bersemangat ketika mendengar firman Tuhan, namun cepat memudar ketika penderitaan karena iman kita terkadang datang menghadang atau karena berbagai pencobaan yang kita alami.

Ketiga, semak duri. Pendengar firman tipe ketiga ini sedikit lebih lama bisa bertahan. Firman itu sempat tumbuh walaupun pada akhirnya terhimpit oleh dua penghimpit utama: (1) kekuatiran dunia dan (2) tipu daya kekayaan. Dalam Matius 6:25 Yesus sudah memperingatkan: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Kedua penghimpit ini masih terus kita hadapi hingga hari ini. Dan kita tahu betapa kekuatiran dunia dan dipu daya kekayaan itu begitu dahsyatnya menghalangi pertumbuhan iman kita. Perlu kita sadari bahwa kekuatiran tidak akan pernah memperbaiki masa depan, malah bisa menghancurkannya. Menjadi kaya bukanlah dosa sejauh (1) diperoleh dengan cara yang benar dan baik, (2) digunakan sesuai kehendak Tuhan, dan (3) tidak membuat kekayaan menjadi ilah.

Keempat, yang berbuah. Dalam ayat 23 dikatakan, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Terkadang penderitaan datang dan godaan bermunculan. Tetapi dengan pertolongan Tuhan kita dapat mengalahkannya. Firman Tuhan berbuah dalam hidup kita yang nampak antara lain melalui ucapan syukur, sukacita, kerelaan untuk saling menolong dan kesetiaan kepada Tuhan.

Kita perlu meluangkan waktu di hadapan Tuhan memeriksa pada tipe mana kita lebih sering berada. Kita juga memohon kiranya Tuhan menguatkan dan melayakkan kita menjadi tipe ‘tanah yang baik’, sehingga kita berbuah karena anugerah Tuhan. Yesus mengundang kita untuk tinggal di dalam Dia supaya kita berbuah lebat: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yohanes 15:4).

[1] Pembagian tipe sebagaimana disebutkan A.G. Lunandi, Komunikasi Mengena. Meningkatkan Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi (Yogyakarta: Kanisius).

Monday, March 2, 2009

SEKALI LAGI TENTANG "MEMADAMKAN AMARAH"


REFLEKSI SENIN KE-10 2009 - 02/03

Ada sebuah ungkapan yang amat mencerahkan seperti ini: Sebagian mahkluk hidup hanya dapat melihat pada siang hari. Sebagian lagi hanya dapat melihat pada malam hari. Tetapi, orang yang begitu kuat dikendalikan oleh amarah tidak dapat melihat siang maupun malam.

Dalam kehidupan keseharian kita menemukan berbagai cara bagaimana orang mengekspresikan amarahnya.
  • Ada orang yang gampang sekali tersulut amarah dan meledakkannya kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Dengan meledakkan amarahnya, mungkin ia merasa lega untuk sementara. Tetapi, yang marah dan sasaran amarah biasanya sama-sama terluka. Sebab, orang yang marah menyemburkan ‘racun’ yang menyakiti dirinya sendiri dan orang lain.
  • Ada yang suka menyimpan kemarahannya, tetapi mempengaruhi seluruh gerak hidupnya. Kata-katanya pahit dan sikapnya dingin. Dalam waktu yang lama tumpukan simpanan kemarahan bisa juga lebih dahsyat ‘ledakannya’.
  • Ada pula yang tidak mau marah kepada orang lain melainkan selalu memarahi atau menyalahkan diri sendiri, hingga membuatnya ‘makan hati’ atau sengsara sendiri.

Dalam Amsal 20:3 dikatakan, "Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan,
tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak
." Ini menegaskan sebuah perbedaan mencolok anatara ‘orang terhormat’ dan ‘orang bodoh’ berkaitan dengan penguasaan diri. Kiranya pilihan dan tekad kita sekarang menjadi orang terhormat (dengan menjauhi perbantahan) bukan orang bodoh (yang meledakkan amarah).

Jika ada yang marah kepada kita, kita perlu berusaha memahaminya sebaik-baiknya dan mengambil langkah bijaksana mengatasinya. Sedikitnya ada tiga kemungkinan penyulut amarah seseorang yang dapat kita sikapi dengan hati damai.

Pertama, mungkin kemarahan seseorang itu dipicu oleh kesalahan kita. Kita perlu memeriksa dengan seksama. Jika memang karena kesalahan kita, maka tugas kita untuk mengakuinya dan dengan kerelaan meminta maaf. Agar permintaan maaf kita sungguh-sungguh menyembuhkan, kita perlu mencari cara dan waktu terbaik untuk menyampaikan permintaan maaf. Ada kalanya seseorang itu tidak menerima permintaan maaf kita. Dalam keadaan seperti itu kita hendaknya memupuk kesabaran dalam suasana doa dan tidak jemu-jemunya mengusahakan perdamaian.

Kedua, mungkin kemarahan itu hanyalah akibat kesalah-pengertian. Dalam hal ini kita dapat memberi klarifikasi dengan cara-cara yang baik. Yang perlu diperhatikan dalam situasi ini, jangan sampai klarifikasi yang kita lakukan justru kian memperburuk keadaan.

Ketiga, mungkin kemarahan orang lain disebabkan oleh perasaan cemburu atau iri hati kepada kita. Tugas kita adalah menolong mereka dengan mengasihi mereka sepenuh hati. Kita tidak perlu membuktikan diri sebagai yang benar. Ada baiknya kita memeriksa sikap kita juga yang bisa saja membuat orang menjadi cemburu atau iri hati kepada kita. Jika kecemburuan dan iri hari tersebut sepenuhnya karena kelemahan seseorang itu (bukan karena kita sendiri), kita perlu menolongnya dalam berbagai cara yang dapat kita lakukan seperti mendoakan, menunjukkan sikap bersahabat, membantu mengembangkan talenta dan bakatnya, menghargai nilai-nilai positif dalam diri dan karyanya dan sebagainya.

Dengan sikap seperti itu kita sudah menghindari perpantahan tetapi mengusahakan persaudaraan yang diikat oleh kasih. Dunia ini dan hidup kita akan jauh lebih indah, bermartabat dan penuh damai ketika kemarahan digantikan dengan belas kasihan.


ShoutMix chat widget