Sunday, March 28, 2010

DOKTER

REFLEKSI SENIN KE-13
29 Maret 2010


Profesi dokter menjadi dambaan banyak orang. Anak SMP dan SMU pun ditanya, sudah ada di antara mereka yang bercita-cita menjadi dokter. Alasan mereka? Beragam! “Saya ingin merawat papa dan mama saat mereka sudah tua dan sakit-sakitan”, kata yang satu. “Saya ingin menjadi dokter yang baik, yang menolong orang sakit”, kata yang lain. Keduanya dengan niat mulia. Ada pula yang tergerak oleh materi dengan berkata, “Dokter kan kaya!”. Tentu para dokter lebih tahu motivasi mereka menjadi dokter.

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa suara sumbang tentang dokter sering terdengar. Seseorang pernah berkata, “dokter lebih kejam dari penyakit saya”. Pasalnya, ia hanya menderita penyakit yang tidak parah sebelum ke dokter. Penyakitnya kian parah setelah ditangani oleh dokter. Dengan bayaran tinggi pula. Ia merasa membeli penderitaan dengan harga tinggi. Pengalaman ini mengigatkan saya kepada kisah seorang pasien yang merasa ‘diselamatkan’ oleh dokter, yang ceritanya kira-kira begini:

Pada awalnya saya hanya menderita penyakit sepele. Saya pergi ke dokter Chung. Penyakit saya semakin parah. Kemudian, saya pergi ke dokter Ching. Penyakit saya kian memburuk. Saya hampir mati. Dalam keadaan sekarat saya pergi ke dokter Chang. Untunglah dia tidak ada. Sebab, jika dokter Chang ada, saya sudah tidak ada sekarang. Dokter Chang ‘menyelamatkan’ saya.

Dr Bettin Marpaung (seorang dokter senior di Medan), ketika menjenguk Ompui Ephorus HKBP yang dirawat di Parkway Hospital-Singapore, menguraikan panjang lebar tentang profesi seorang dokter. Menurut beliau, salah satu yang sangat penting dan mendasar yang harus dihidupi oleh seorang dokter adalah ‘niat hati yang murni dan tulus untuk menolong seorang pasien sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya kepada siapa pun, kapan pun dan di mana pun’. Hal ini, menurut dr Marpaung, mengacu pada ajaran dan anjuran bapak medis, Sokrates. Suatu prinsip profesi yang sangat mulia! Tidak diragukan bahwa semua orang sangat mengharapkan kesetiaan dokter akan janji mulia seperti itu.

Pertanyaannya, apakah dokter boleh menjadi kaya dari penderitaan orang lain? Pertanyaan ini bisa saja mengemuka melihat kenyataan bahwa para dokter umumnya makmur secara materi. Ian Sianturi, seorang Batak yang lahir di Singapura dan warga Negara Singapura, mengatakan bahwa dokter-dokter di Gleanagles dan Mount Elizabeth Singapore banyak yang memiliki mobil dengan harga hingga S$1.000.000 (sekitar Rp.7 miliar). Hal ini tidak mengherankan melihat mahalnya biaya pengobatan di Singapura. Orang-orang Indonesia yang opname di Singapura dapat merasakan bagaimana mahalnya biaya yang harus mereka tanggung, yang bisa mencapai miliaran rupiah.

Agaknya soal kekayaan materi para dokter bukan menjadi masalah sejauh para dokter tetap setia pada janjinya untuk menjunjung tinggi harkat manusia, bukan menjunjung tinggi hartanya dan menyanjung dirinya. Jika para dokter menyanjung harta, mereka bisa terjebak dalam empat titik rawan. Pertama, kurang kerjasama dengan sesama dokter. Semua pasien yang datang kepadanya ditangani sendiri, walaupun ia sadar bahwa ada dokter yang lebih tepat menangani penyakit yang diderita si pasien. Hal ini biasanya terjadi di Indonesia. Berbeda dengan dokter-dokter di Penang dan Singapura yang menerapkan kerjasama dokter sebagai suatu tim. Kedua, pemberian resep obat atas dasar pemasukan uang yang lebih besar. Seorang apoteker pernah mengatakan bahwa ada banyak dokter yang punya semacam ‘ikatan tidak resmi’ dengan produsen obat tertentu. Para dokter diberi bonus oleh pihak farmasi untuk berlibur ke luar negeri, rumah, mobil dan lain sebagainya asal sang dokter menulis resep obat kepada pasien-pasiennya yang diproduksi oleh farmasi bersangkutan. Ketiga, mencuri organ tubuh pasien yang baru meninggal dunia untuk dijual kepada orang lain. Kasus seperti ini sudah pernah terjadi. Keempat, para dokter memberi perhatian ekstra kepada pasien berduit dan kurang peduli pada mereka yang miskin.

Tetapi, bagaimana pun juga, kita mesti melihat profesi dokter dari sisi lain. Mungkin ada dokter yang tidak setia pada janji dokternya. Mungkin ada dokter yang demi uang melakukan malpraktek. Mungkin ada dokter yang membeda-bedakan pasien berduit dan miskin. Ada juga dokter yang kurang peka menyelami perasaan para pasien ketika mereka menanyakan tentang kondisi penyakitnya. Dokter hanya berbicara seperempat menit dan langsung menulis resep. Keadaan seperti ini merupakan kesalahan yang mestinya ditanggalkan dan ditinggalkan oleh para dokter. Akan tetapi, kita perlu lebih banyak melihat sisi positif keberadaan para dokter. Kita bisa bayangkan betapa runyamnya dunia ini tanpa para dokter. Kehadiran para dokter di tenga-tengah kita, terlepas dari kekurangan mereka, telah membuat hidup ini lebih baik. Mereka adalah alat di tangan Tuhan untuk memberi kesembuhan.

Dalam hal ini, adalah tugas kita untuk menopang para dokter dengan doa; mendukung mereka untuk dapat hidup sejahtera dan bahagia; membantu mereka mengembangkan kemampuan atau kompetensi; mengingatkan mereka untuk tetap setia pada janjinya. Tugas kita pula menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup, pola kerja, pola makan yang baik dan menjaga kelestarian alam, agar kita tidak membebani para dokter dengan terlalu terlalu banyak pasien.

Catatan tambahan:

Sumpah Dokter[1]

Saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan.
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau Kedudukan Sosial.
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

[1] http://wapedia.mobi/id/Sumpah_Dokter, diakses 28 Maret 2010

Sunday, March 21, 2010

SALIB, YA! SILAP dan SULAP, TIDAK!

REFLEKSI SENIN KE 12
22 Maret 2010

Suka atau tidak, setuju atau tidak, selama hidup kita di dunia ini, penderitaan pasti akan ada. Maka hati-hatilah! Jika ada orang yang menjanjikan bahwa kalau kita percaya kepada Tuhan maka jalan hidup kita akan selalu lurus dan mulus, ia bukanlah suruhan Tuhan meskipun ia kelihatan sangat rohani. Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang, langit tanpa awan. Bahkan, Ia berkata bahwa siapa yang mau mengikutNya, ia harus memikul salibnya. Jadi, ada penderitaan salib. Salib adalah penderitaan sebagai konsekuensi kesetiaan kita kepada Tuhan. Ada orang percaya dibenci bahkan disiksa karena imannya kepada Tuhan. Sejauh keadaan ini bukan yang dicari-cari atau bukan karena kesalahan sendiri, penderitaan seperti ini adalah salib.

Kehidupan menjadi runyam ketika kita menderita karena ‘silap': penderitaan karena kesalahan kita sendiri. Kita dibenci orang, gereja kita dibakar orang, bukan karena iman dan kesetiaan kita, tetapi justru karena kita mengabaikan keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Kita gagal mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Kita tidak menjadi berkat.

Akhir-akhir ini, kita mengalami pula penderitaan oleh karena perpaduan salib dan silap. Bumi sedang menderita demam. Krisis ekologi kian mengancam dan mencekam kehidupan. Keadaan ini bukan kehendak Tuhan, tapi karena ulah manusia yang merusak alam. Kita menderita karena ulah mereka yang mengeksploitasi alam secara berlebihan (=salib dari sesama) ditambah dengan gaya hidup dan perilaku kita sendiri yang tidak bersahabat dengan alam ciptaan Tuhan (silap).

Ketika derita mendera, biasanya kita mengharapkan sebuah perubahan. Kita mengharapkan derita berganti sukacita. Masalahnya, kita sering mengharapkan sulap: perubahan keadaan secara instant. Kertas menjadi uang untuk mengatasi kemiskinan; bukan semangat saling menolong. Mengubah bola pingpong menjadi burung merpati untuk dinikmati; bukan bekerja dengan giat. Padahal, ada kalanya yang kita butuhkan bukan perubahan di luar kita. Yang kita butuhkan adalah justru perubahan di dalam diri kita: bagaimana kita menyikapi suatu pengalaman dengan bijaksana. Apa hikmah dan pelajaran yang kita petik dalam suatu peristiwa kehidupan. Apa yang dapat kita lakukan seturut kehendak Tuhan dalam suatu situasi sulit.

Jika penderitaan kita benar-benar berasal dari luar diri kita dan di luar kemampuan kita, kata-kata Frederic Heiler dapat menjadi bahan perenungan bagi kita: "Saat gempa bumi terjadi, ada kalanya mata air segar merekah di tempat-tempat yang kering, yang membuat tanaman dapat tumbuh dengan baik. Dengan cara yang sama pengalaman penderitaan dan menyakitkan dapat menyebabkan air hidup mengalir di dalam hati manusia".

Jika kita menderita karena sebuah kekuatan di luar diri kita, kita perlu mengasah kepekaan untuk menangkap maknanya dalam kehidupan ini. Yang jelas, penderitaan bukanlah pertanda ketidakhadiran atau ketidakpedulian Tuhan. Jika kita tidak merasakan kehangatan sinar mentari, itu sama sekali tidak berarti kekuatan matahari sudah berkurang. Awan dan hujan adalah kebutuhan kita juga. Di saat-saat semua tidak berjalan seperti kita harapkan, itu bukan pertanda kealpaan kuasa dan penyertaan Allah. Ia mengajar kita melihat karya dan pertolonganNya secara baru.

Ada kalanya kita tidak mengerti akan kenyataan yang kita alami atau kita saksikan dialami oleh orang lain. “Mengapa orang-orang baik menerima nasib buruk, sementara orang berkelakuan buruk sehat-sehat saja dan makmur secara ekonomi?” Atau, seseorang berkata, “Ibu saya rajin ke gereja, tidak pernah lupa memberi persembahan, selalu berbuat baik, mengapa penyakit rematiknya saja tak kunjung sembuh padahal sudah bertahun-tahun berdoa meminta kesembuhan?” Daripada ‘menggugat’ Tuhan dengan pertanyaan seperti itu, apalagi berkesimpulan lebih baik jahat daripada menjadi orang baik, kita seharusnya lebih giat untuk memberi keteladanan kepada orang jahat demi pertobatannya dan mengulurkan pertolongan dan perhatian kepada orang-orang yang sakit.

Di tengah aneka pertanyaan yang mungkin memenuhi benak kita, mari kita lihat semua peristiwa kehidupan dalam kerangka kasih sayang Tuhan. Jika kita menderita bukan karena kesalahan kita, kita perlu bersabar sambil terus berseru minta tolong kepada Tuhan. Jika kita menderita karena kesalahan kita, kita harus kembali. Kita harus berubah, sambil tetap berseru meminta pertolongan Tuhan. Misalnya, untuk kesembuhan bumi yang sedang menderita demam karena ulah kita, kita tidak mengobatinya dengan parasetamol, tapi melalui usaha-usaha konkrit seperti hemat enerji, mengurangi travel, konsumsi secukupnya, menanam pohon, mengurangi sampah dan sebagainya.

Allah yang mendengar teriakan minta tolong dari umat Israel karena penindasan di Mesir (Kel 3:7) maupun penderitaan karena kekerasan hati mereka (misalnya lihat Nehemia 9:27) adalah Allah yang sama, yang mendengar seruan kita hingga hari ini. Hindari penderitaan yang tidak perlu –penderitaan non-salib!

Sunday, March 14, 2010

MENANTI JAWABAN

REFLEKSI SENIN KE-11
15 Maret 2010



Seringkali orang bertanya kepada Yesus. Motifnya beragam. Ada karena ketidaktahuan disertai keingin-tahuan, ada pula karena ingin membenarkan diri, bahkan dengan tujuan untuk menjebakNya. Tapi, semua pertanyaan yang diajukan kepadaNya mendapat jawaban. Memang, jawabannya sering tidak seperti diharapkan oleh si penanya. Tapi, yang jelas semua dijawab dengan cara dan tujuanNya sendiri.

Bagimana dengan kita? Barangkali kita semua pernah mengajukan pertanyaan kepada Tuhan melalui doa kita. Hal yang biasa pula kita bertanya kepada hamba Tuhan bagaimana menurut mereka ‘jawaban’ Tuhan terhadap pertanyaan yang mengganjal di benak kita. Ada kalanya kita merasa mendapat ‘jawaban’ Tuhan. Ada juga kalanya kita sama sekali tidak mendapat jawaban seperti apa yang kita mau. Tetapi sebenarnya kita tetap mendapat jawaban, yang biasanya jelas ketika kita tidak fokus pada pertanyaan kita, melainkan dengan menguji kembali pertanyaan kita disertai dengan suatu usaha.

Bayangkan Anda menderita sakit perut. Dalam doa khusuk Anda bertanya, “Tuhan, apakah sakit perut saya ini karena kesalahan saya atau suatu ujian dari padaMu? Dan apakah sakit perut ini karena keracunan makanan atau karena masuk angin?” Anda terus menanti jawaban dari Tuhan, dan Ia tidak ‘menjawab’ sesuai dengan pertanyaan Anda. Berhari-hari, berminggu-minggu tanpa sebuah usaha pengobatan. Anda bisa bayangkan bagaimana keadaan Anda selanjutnya.

Atau, Anda seorang gadis yang mau menetukan pilihan calon suami bertanya dalam doa, “Tuhan berilah tanda kepadaku apakah Ali atau Eli yang Engkau kehendaki menjadi suamiku?” Anda menunggu tanda tapi tidak muncul-muncul. Mungkin Anda tidak akan pernah menerima tanda sebagaimana Anda inginkan. Apakah Tuhan tidak menjawab? Tuhan menjawab! Jawabannya, Tuhan ‘menugaskan’ Anda untuk melihat hati Anda, menguji motivasi Anda, mengenal kedua pilihan Anda lebih baik dan sebagainya. Artinya, ‘tanda’ itu justru muncul dari usaha Anda, bukan dihantar oleh Tuhan ke dalam mimpi Anda.

Ada banyak contoh yang dapat kita sebutkan dari pengalaman orang-orang percaya yang mengajukan pertanyaan kepada Tuhan. Kita dapat melihat beberapa contoh dari Alkitab dan mengambil hikmahnya dalam kehidupan kita. (P=Pertanyaan; J=Jawaban Yesus).

P: “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan?” (Mat. 22: 28). Pertanyaannya adalah “siapa”, yang membutuhkan jawaban ‘nama orang’, bukan?
J: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah” (ay 29). Masalah di sini, si penanya tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Jadi, pertanyaannya pun menjadi salah juga. Yang dibutuhkan oleh si penanya adalah ‘mengerti Kitab Suci dan kuasa Allah’. Pertanyaannya pun akan berbeda. Bahkan, bukan pertanyaan lagi yang muncul, melainkan pernyataan yang meneguhkan.
*********

P: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17). Sebenarnya, pertanyaan ini hanya membutuhkan jawaban “boleh” atau “tidak boleh”.
J: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai kamu orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu” (ay 18-19). Sampai di sini sudah ada dua ‘jawaban’ Yesus. Yang bertanya mencobai Yesus dan meminta mereka menunjukkan mata uang. Dalam hal ini jawaban Yesus adalah untuk (1) Menyadarkan mereka, bahwa mereka salah: mereka mencobai Yesus. (2) Mereka perlu mendapat jawaban dari apa yang mereka punyai, yaitu mata uang. Mereka perlu berpikir, bergerak atau berbuat sesuatu. Artinya, mereka memiliki jawabannya sendiri, jika mereka mau berpikir jernih.
*********

P: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36). Pertanyaannya hanya satu, yakni “hukum yang terutama”.
J: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (37-39). Di sini Yesus memberi jawaban lebih dari yang diminta. Sebuah “jawaban yang lengkap” kepada sebuah “pertanyaan yang kurang lengkap”. Kita juga mengalaminya jika kita memeriksa pengalaman hidup kita.
*********

P: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat 24:3). Di sini juga jelas sekali isi pertanyaan: “kapan” dan “apa tanda” kedatangan Yesus dan kesudahan dunia. Jawaban yang mereka harapkan adalah : 10 tahun, 100 tahun atau ‘pada masa generasi mendatang”. Mereka butuh jawaban konkret.
J: “Waspadalah supaya jangan ada yang menyesatkan kamu!” (ay 4). Lagi-lagi, jika pertanyaannya di sekolahan, jawaban itu salah bukan? Tak ‘nyambung’! Tapi itulah cara Yesus mengarahkan para murid untuk fokus pada apa yang paling perlu bagi mereka. Yang paling penting adalah murid harus ‘berjaga-jaga’. Jangan kita alihkan tanggung jawab kita.
*********

P: “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29). Pertanyaan ini muncul dari seorang ahli Taurat yang mau mencobai Yesus. Pertanyaan ini membutuhkan “daftar nama” yang jelas, apakah nama pribadi atau nama berdasarkan suku, agama dan lain-lain. Pertanyaan ini mengisyaratkan adanya sesama dan yang bukan sesama.
J: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem…..” (ay 30-35). Kita tahu kelanjutan cerita ini. Akhirnya, Yesus balik bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay 36). Di sini, Yesus menjawab pertanyaan dengan (1) Perumpamaan dan (2) Pertanyaan baru. Kita dapat memeriksa pertanyaan kita kepada Tuhan. Bisa saja ada di antaranya yang sebenarnya kita tahu jawabannya, hanya saja kita ingin membenarkan diri dan mau mengalihkan tanggung jawab.
*********

P: (Melihat seorang yang buta sejak lahir, murid-murid bertanya kepada Yesus) “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Dari penggunaan kata ‘atau’ pertanyaan ini membutuhkan satu jawaban pasti dari dua pilihan.
J: “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi ksrena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”. Jawaban Yesus ini menyatakan bahwa pemahaman murid-murid terbatas. Mereka tidak melihat apa yang Tuhan lihat dan Yesus memperlihatkannya kepada mereka. Dalam kasus yang lain kita bisa saja sibuk menanyakan yang mana satu di antara dua kemungkinan, padahal bukan hanya dua kemungkinan. Kita perlu menerobos batas-batas penglihatan kita atau pengetahuan kita dan menerima penglihatan dan pengetahuan Tuhan.
*********

Dari uraian di atas kita pun dapat mengaku:
Tuhan mengenal kita lebih baik ketimbang kita mengenal diri kita sendiri.
Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita ketimbang kita mengetahuinya
Tuhana lebih mengasihi kita ketimbang kita mampu mengasihi diri kita sendiri.

Sunday, March 7, 2010

'CONTENTMENT', OBAT DEMAM BUMI

REFLEKSI SENIN KE-10
08 Maret 2010

Bumi sedang menderita demam. Bebera hari terakhir ini Singapura misalnya, mencapai 35 derajat Celcius. Manusia menderita, rumput mengering, nafas pohon-pohon terasa hangat, tidak segar lagi. Gejala-gejala gangguan kesehatan mulai terasa. Sulit membayangkan bagaimana keadaannya pada bulan Mei dan Juni nanti, yang biasanya lebih panas dibandingkan dengan bulan lainnya.

Perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini sama sekali bukanlah rancangan Tuhan, melainkan karena ulah manusia yang tidak menghormati alam semesta. Pohon-pohon dibabat habis-habisan. Penggunaan enerji berlebihan. Konsumsi sebagian manusia jauh melampui kebutuhan. Hal ini secara khusus dapat dikaitkan dengan ‘kerakusan’ dan ‘rasa tidak puas’ manusia.

Salah satu upaya menurunkan sakit demam bumi ini, kita perlu mengambil obat contentment. Kata contentment dapat diartikan sebagai “kebahagiaan yang dirasakan oleh seserorang dengan apa yang dimiliki”. Jadi ada rasa puas, senang, gembira, dan tenang. Bagi orang Kristen, rasa puas dan rasa cukup datang dari keyakinan yang teguh akan kemampuan Allah menyediakan segala kebutuhan kita (Matius 6:25-34). Contentment dapat kita lihat dalam diri Paulus, “aku telah belajar dari mencukupkan diri dalam segala hal” (Flp 4:11). Di bagian lain, Paulus mengatakan, “Memang Ibadah itu kalau disertai dengan rasa cukup, memberi keuntungan besar (1Tim 6:6). Jika tidak, ibadah dibelokkan untuk mencari kepuasan atau mengambil hati Allah untuk memenuhi keinginan-keinginan kita, yang belum tentu kebutuhan kita.

Tapi, berapa banyak ‘cukup’? Alkitab tidak memberi jawaban langsung atau angka konkret ‘berapa cukup’. Alkitab tidak menetapkan satu rumah, satu kendaraan, satu miliar uang sebagai ‘ukuran cukup’. Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah, “apakah kita yang memiliki harta, atau justru harta yang memiliki kita?” Satu tanda bahwa harta benda yang memiliki kita adalah: harta menuntut sebagian besar waktu, enerji, minat dan perhatian kita. Yang jelas, tidak ada alat ukur yang mengukur berapa banyak terlalu banyak. Tetapi ia dapat diukur dengan sikap kita terhadap harta milik. Jika Allah adalah pusat kehidupan kita, bahwa kita dimiliki oleh Tuhan dan bukan dimiliki oleh harta milik kita, maka rasa puas dan rasa cukup akan terjadi dengan sendirinya.

Untuk tiba pada keadaan seperti itu, kita tidak boleh meremehkan pengaruh kekuatan budaya di sekitar kita. Kita mesti waspada terhadap dahsyatnya cengkeraman materialisme yang menggerogoti masyarakat kita sekarang. Tidak diragukan bahwa mayoritas umat manusia, dalam kurun waktu tertentu (atau bahkan seumur hidup), menempatkan harta milik menjadi pusat kehidupan.

Apakah mungkin menjadi kaya tanpa rakus? Dari pengalaman empiris, hal ini jarang kita temukan. Bishop Robert Solomon menyebutkan adanya dua macam kerakusan: kerakusan untuk mendapatkan apa yang tidak kita miliki dan kerakusan menumpuk atau menggenggam yang kita miliki.

Tidak diragukan bahwa kerakusan merusak diri, menghalangi orang hidup berkecukupan, dan menghancurkan alam semesta. Ambillah kerakusan makan sebagai contoh. Kerakusan akan makanan membuat kesehatan kita terganggu (itu sebabnya Martin Fischer berkata bahwa alat bunuh diri yang paling umum adalah sendok dan garpu); orang lain terhalang mendapat makanan secukupnya; terjadi kerusakan alam, baik untuk mendapat bahan makanan, proses pembuatannya, pengangkutan dan kemasan makanan yang merusak alam ciptaan Tuhan. Demikian juga halnya dengan kerakusan dalam bisnis, yang hanya mencari keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak ekologis, telah menambah penderitaan umat manusia, makhluk hidup dan alam semesta.

Jalan keluarnya? Membuang apa yang kita miliki atau memberikannya kepada orang miskin bukanlah jawaban lengkap --meskipun pada saat tertentu hal ini merupakan cara yang baik. Langkah pertama dan terutama adalah sepenuhnya berserah kepada penyelenggaraan Tuhan. Kita adalah milik Tuhan. Kemudian, dari situ akan jelas langkah berikut yang harus kita tempuh: berbagi dengan orang lain, berhenti berusaha (supaya alam dan makhluk lain dapat menikmati hidupnya), menikmati berkat kecukupan dari Tuhan dan sebagainya. Jadinya, rasa puas tidak hanya berhenti pada saat ‘menerima’ dari Tuhan, tetapi rasa puas ‘menikmati’ kecukupan dan ‘memberi’ apa yang kita terima, serta ‘mempertimbangkan’ dampak setiap tindakan dan pola hidup kita terhadap ekosistem.

Peter Kreeft dengan tepat mengatakan bahwa “obat penawar kerakusan adalah rasa puas dan kemurahan hati." Berkaiatan ini, kita perlu mendefenisikan ulang 'sukses', yang di antaranya mengacu pada firman Tuhan:

Dua hal aku mohon kepadaMu, jangan itu kautolak sebelum aku mati, yakni:
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan.
Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata:
Siapa Tuhan itu?
Atau, kalau aku miskin, aku mencemarkan nama Allahku.
(Amsal 30:7-9)

Sunday, February 28, 2010

'GERAKAN DALAM' DAN 'GERAKAN LUAR'

REFLEKSI SENIN KE-9
01 Maret 2010


Amatilah kehidupan Anda sejenak. Ada dua ‘gerakan’—yakni: gerakan dalam dan gerakan luar-- yang mempengaruhi bagaimana Anda mengambil keputusan, bagaimana berkata-kata, bereaksi, bertindak dan termasuk bagaimana Anda berhubungan dengan Allah, orang lain dan alam ciptaan Tuhan. Orang-orang yang memperhatikan gerakan-gerakan ini dengan baik akan lebih mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Bagi Joan Mueller ‘gerakan luar’ mencakup fakta-fakta kejadian sehari-hari, keadaan keuangan, pendapat umum, kesehatan, kesempatan, jenjang pendidikan, deadline tugas, suhu politik, dan sebagainya. Sedangkan ‘gerakan dalam’ antara lain suasana hati, kecenderungan, keinginan, perasaan, yang memikat hati dan sebagainya. Kedua gerakan ini mempengaruhi orang-orang dalam hubungan mereka dengan Tuhan, orang lain dan alam milik Tuhan.

Untuk lebih praktis dan memudahkan, di sini digambarkan dua contoh untuk melihat bagaimana ‘gerakan luar’ dan ‘gerakan dalam’ itu bertemu.

Contoh 1: Fakta - orang sombong
Misalkan kita menyikapi fakta orang sombong. Sedikitnya ada 3 sikap yang berbeda menghadapi seorang yang sombong. (1) Jika orang yang rendah hati berhadapan dengan orang sombong, mungkin tidak terlalu banyak menmbulkan masalah. Yang rendah hati lebih sabar dan lebih toleran. Komunikasi bisa berjalan relatif lebih mulus. Hal ini memang tidak menjadi jaminan bisa mengubah yang sombong menjadi rendah hati, khususnya kalau yang rendah hati sama sekali tidak menyinggung masalah kesombongan mitra bicaranya. Kemungkinan terjadinya perubahan orang sombong menjadi rendah hati dalam hubungannya dengan seorang rendah hati adalah jika yang rendah hati dengan caranya yang bersahabat mengingatkan yang sombong. Atau, yang sombong itu sendiri tergerak hatinya meneladani yang rendah hati. (2) Orang yang ‘rendah diri’ berhadapan dengan orang sombong. Perjumpaan seperti ini amat rawan terhadap pertentangan hingga permusuhan. Dalam bidang matematika, negatif dikali negatif memang menjadi positif. Tetapi ‘rendah diri’ (negatif) berhadap dengan ‘kesombongan’ (negatif) menimbulkan negatif ganda. Pembicaraan mereka tidak ‘nyambung’. (3) Lain lagi jika orang sombong dengan orang sombong berhadapan. Keduanya negatif. Perjumpaan mereka bisa seperti api yang menghanguskan bereka berdua. Mereka sama-sama saling menaikkantingkat kesombongannya dan sama-sama jatuh berkeping-keping dan terbakar pula. Tetapi, celakanya, bisa kekuatan mereka berdua menghanguskan orang lain, jika mereka menjadi satu tim yang kompak dan menyatu. Kekuatan mereka menjadi api raksasa menghancurkan orang lain. Mudah-mudahan tidak akan ada “Persekutuan Orang-orang Sombong Sedunia” --suhu panas sekarang saja sudah tidak tertahankan.

Jadi, untuk lebih praktisnya, jika kita melihat seorang sombong (gerakan luar), pertama harus kita lihat ke dalam: apakah kita seorang rendah hati, rendah diri, atau sombong. Reaksi kita akan ditentukan oleh keadaan kita (gerakan dalam).

Contoh 2: Kejadian dan opini tentang kasus pelecehan seksual.

Hal yang sama bisa kita terapkan juga dalam menyikapi suatu pergerakan penegakan hak asasi manusia. Misalnya, pergerakan yang memperjuangkan pembelaan terhadap korban pelecehan seksual dan penerapan hukuman kepada pelakunya. Tidak ada keragukan bahwa pelecehan seksual itu adalah tindakan tidak berperikemanusiaan, tindakan amoral, harus dihapuskan, harus dicegah. Korban-korban harus dilindungi, harus ditolong, harus dibela. Itu satu hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar. Satu hal lain, adalah yang memperjuangkan pembelaan korban dan penghukuman pelaku. Di antara berbagai kemungkinan adalah: (1) Gerakan dari mereka yang bebas dari kesalahan yang sama: tidak pernah melakukan pelecehan seksual. Bahkan bebas dari kesalahan-kesalahan lain: mereka tidak pemabuk, tidak penjudi, tidak perusak lingkungan, tidak pemarah, tidak pembunuh, tidak pencuri dan pelaku korupsi, selalu berbuat baik kepada semua orang, dan beriman teguh kepada Tuhan. Jika demikian, gerakan penghapusan pelecehan seksual akan jauh lebih baik, apakah dilakukan secara bersama dan terang-terangan maupun melalui pendekatan pribadi tanpa media massa. (2) Gerakan dari orang-orang yang terbebas dari pelecehan seksual, tetapi terjatuh dalam keburukan lain, mulai dari yang amat halus hingga yang sangat kasat mata dan berat: pencemburu, pemarah, haus popularitas, sok bersih, punya agenda dalam pemilihan jabatan tertentu, menggunakan pergerakan sebagai mata pencaharian. Gerakan seperti ini bisa mengubah orang lain (artinya kasus pelecehaan diselesaikan) tetapi tidak mengubah diri mereka. Malah, gerakan seperti dapat masuk dalam kategori kemunafikan. Sebab, tidak lebih besar dosa pelaku pelecehan seksual dengan kesombongan, iri hati, amarah dan sebagainya. (3) Gerakan yang dilakukan oleh para pelaku pelecehan seksual. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari gerakan mereka. Kemungkinan besar, mereka akan melindungi pelakunya.

Jadi, sekali lagi, sikap, reaksi, kata-kata, tindakan kita dalam setiap peristiwa atau kejadian atau berhadapan dengan orang lain (gerakan luar) sangat ditentukan ‘gerakan dalam’ diri kita.

Apa yang kita butuhkan adalah: membiarkan ‘gerakan dalam’ ini bersumber dari Roh Tuhan. Hati kita adalah ciptaan dan milik Tuhan. Pergerakannya juga mestinya dari Dia. Maka sebelum bersikap, berkata-kata, bertindak, bergabung dalam sebuah pergerakan (merespon gerakan luar) kita harus memeriksa hati. Mueller menegaskan, “membuat keputusan ketika seseorang sedang gundah, depresi, kurang iman, harapan dan kasih merupakan tindakan tidak bijaksana”. Mengapa? Karena perasaan gundah, depresi, tanpa kasih adalah tanda-tanda tidak bekerjanya Roh Kudus dalam hidup kita. Dan motivasi dan buah dari perjuangan yang lahir dari hal-hal negatif ini tidak mendatangkan keadilan dan damai sejahtera.

Saatnya kita relakan hati dan hidup kita dimurnikan, diisi dan dipimpin oleh Roh Tuhan, sehingga kehidupan kita, yang mencakup suasana hati, sikap, kata-kata dan perilaku kita, membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Sunday, February 21, 2010

YANG BENAR TAPI TAK BAIK?

REFLEKSI SENIN KE-8
22 Pebruari 2010

Di jalan raya, seorang pengendara sepeda motor berada pada posisi yang benar: berkendara di sebelah kiri jalan. Dari depan sebuah mobil datang menghampiri. Pengemudi mobil jelas salah. Pengemudi sepeda motor bertahan dalam ‘kebenarannya’. Ia tidak mau menyingkir. Padahal, masih ada peluang untuk lepas dari celaka. Ia pun tewas tergilas. Tergilas dalam ‘kebenarannya’ sendiri. Ia benar tetapi tidak baik.
******
Seorang warga jemaat menumpahkan isi hatinya, termasuk rahasia peribadi kepada gembala jemaatnya, dengan harapan mendapat jalan keluar dari beban hidup yang sedang menghimpitnya. Gembala jemaat tidak dapat memberi jalan keluar, tetapi ia mendoakannya pada saat itu. Hari Minggu berikutnya, dalam kotbahnya, gembala jemaat memberitahukan seluruh percakapannya itu. Warga jemaat tadi merasa dikhianati dan dipermainkan. Hatinya terluka. Memang gembala jemaat itu tidak menyebut namanya. Ia juga tidak meminta sebelumnya kepada yang bersangkutan agar pergumulannya itu dapat disebut di dalam kotbahnya. Apa yang diungkapkan oleh gembala jemaat itu ‘benar’ tetapi ‘tidak baik’.
******
Satu pasangan suami istri dan seorang anak mereka berusia 12 tahun mengunjungi teman mereka yang sudah lama tidak bertemu. Setelah berbincang-bincang agak lama, tibalah saatnya membicarakan anak-anak. Setelah memperhatikan dengan seksama wajah dan postur tubuh anak temannya itu, sang tamu melihat tidak ada sama sekali kemiripannya dengan kedua orangtuanya. Ia pun berkata kepada temannya, “Anakmu kok beda sekali dengan kalian berdua. Sedikit pun tidak ada miripnya”. Wajah pasangan suami istri itu secara spontan menunjukkan perasaan tidak enak dan cepat-cepat mengalihkan topik percakapan, walaupun mereka tahu persis bahwa anak itu 100% anak mereka. Sekali lagi, “benar” tetapi tidak “baik”.
********
Dalam sebuah rapat, seorang pimpinan jemaat dengan suara agak meninggi mengatakan, “saya pimpinan di sini, saya berhak………………” Ia benar. Semua orang tahu. Tapi, menunjukkan ‘berhak’ tidak baik. Lebih baik menunjukkan diri sebagai pimpinan melalui keteladanan, kualitas kehidupan dan visi yang jelas, maka yang dipimpin akan menyadari fungsi dan tugas masing-masing.
********
Seorang warga jemaat ‘pendiri’ sebuah jemaat berkata dengan nada marah, “kami dulu yang mendirikan gereja ini, kalian yang baru anggota jemaat di sini tinggal menerima yang enaknya saja. Jangan ‘macam-macam’ kalian di sini”. Fakta membuktikan, ia ‘benar’ ikut menggagasi dan membangun gedung gereja, tetapi perkataannya dan nada suaranya ‘tidak baik’ untuk pertumbuhan spiritualitas yang sehat dan membangun kehidupan.
********
Kita dapat membuat daftar panjang “yang benar” tetapi “tidak baik”.

Apakah kita berada dalam posisi ‘yang benar’ dan ingin menyatakannya? Kita perlu memadukannya dengan “yang baik” juga. Bahkan, ada kalanya ‘yang baik’ lebih berguna dari ‘yang benar’. Lebih ‘baik’ lepas dari kecelakaan ketimbang tewas mengenaskan mempertahankan yang benar di jalan raya. Lebih baik menyimpan dalam hati sambil berdoa atas suatu pergumulan orang lain, ketimbang memberitahukannya dan menimbulkan pergumulan baru.

Persoalan seringkali timbul dalam hubungan antar-sesama dan dalam sebuah persekutuan ketika ‘yang benar’ tidak dipadukan dengan ‘yang baik’. Salah satu cara memastikan ‘apa’ yang kita lakukan atau katakan itu ‘benar’ dan ‘baik’ adalah dengan menjawab ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ kita mengatakan atau melakukan sesuatu.

Pertanyaan 'mengapa’ bertalian dengan motivasi –yang menggerakkan dari dalam diri kita. Jika motivasi kita jelas-jelas berisi kasih, maka kata-kata dan tindakan kita akan membangun dan meneguhkan. Dalam hal ini kita perlu memeriksa terlebih dahulu suasana hati kita, kecenderungan-kecenderungan kita, harapan-harapan kita. Semua ini dapat menjelaskan ‘mengapa’ kita mengatakan atau berbuat sesuatu. Sedangkan pertanyaan ‘bagaimana’ bekaitan dengan ‘cara’ yang kita tempuh mengatakan atau melakukan sesuatu. Jika motivasi jernih (motivasi kasih), cara-cara yang kita tempuh pun akan memancarkan kasih juga.

Dunia ini, jemaat, keluarga, hubungan antar sesama dapat lebih baik ke depan ini jika kita senantiasa memadukan yang benar dan baik.

Saturday, February 20, 2010

GURU SEKOLAH MINGGU PENUH WAKTU

Bicara tentang anggapan perlunya pelayanan kepada anak-anak Sekolah Minggu dan langkah-langkah konret yang ditempuh oleh jemaat-jemaat dapat terlihat dari ‘percakapan’ berikut:

Majelis Jemaat: Pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu, harus diprioritaskan. Bukan yang sampingan dalam pelayanaan.
Warga jemaat: Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Majelis Jemaat: Terima kasih. Terima kasih.
Warga Jemaat: “Anggaran untuk pelayanan anak-anak sekolah Minggu harus ditingkatkan menjadi 30% dari total anggaran tahunan”
Majelis Jemaat: Tunggu dulu……. sabar, sabar. Tahun ini kita banyak pengeluaran: akan ada retreat, kunjungan jemaat, pemasangan AC baru, untuk sewa rumah dan pengeluaran rutin gembala jemaat.
Warga Jemaat: Kualitas guru-guru sekolah Minggu harus terus ditingkatkan.
Majelis Jemaat: Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Sekolah Minggu: Kami butuh guru sekolah Minggu yang penuh waktu, yang disekolahkan secara khusus, yang bertumbuh dalam iman dan mengasihi kami anak-anak.
Majelis Gereja + Warga Jemaat: Ssssssssssssssssssstttt, anak-anak jangan ‘berisik’, ini urusan orang tua!

Gereja-gereja kita aneh. Tak ada masalah soal kesepahaman dalam prioritas pelayanan anak-anak Sekolah Minggu. Tidak ada perdebatan soal pentingnya kualitas guru-guru sekolah Minggu. Sama sekali tidak ada keraguan bahwa pendidikan anak-anak Sekolah Minggu sekarang amat menentukan kualitas kekristenan mereka di masa depan. Tetapi, ketika tiba pada upaya konkrit, ada yang diam, ada yang berpikir panjang, ada menolak dengan tegas.

Jika gereja sungguh-sungguh memberi perhatian pada pelayanan anak-anak SM, maka sebagian besar jemaat (yang memiliki warga 200 KK ke atas, misalnya), sudah seharusnya memiliki guru sekolah Minggu penuh waktu. Bagaimana caranya?

1. Untuk sementara ini, para lulusan S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK) dapat dipersiapkan secara khusus. Misalnya, kursus selama 6 bulan mendalami metodologi pendidikan anak.

2. Untuk jangka panjang dan dilakukan secara kontinu, membuka salah satu jurusan di STT khusus untuk guru-guru sekolah Minggu. Entash D3, atau apa pun nama dan programnya. Mungkin selama 3 tahun perkuliahan sebagaimana layaknya kuliah-kuliah di STT dan 1 tahun khusus mendalami metode pengajaran Sekolah Minggu dan pendampingan pastoral kepada anak-anak. Mereka ditahbiskan menjadi guru sekolah Minggu dan ditempatkan sebagai pelayan penuh waktu.

3. Untuk gereja-gereja partner UEM, bisa juga di antara para pendeta atau bibelvrouw, yang memiliki talenta khusus untuk mendampingi dan mengajar anak-anak, dipersiapkan secara khusus melalui sebuah pelatihan. Mungkin masalahnya adalah: mereka tetap melakukan pelayanan lainnya, tidak fokus sepenuhnya pada pelayanan anak-anak. Tetapi, hal ini bisa diatasi kalau ada saling pengertian dalam sebuah jemaat.

4. Tugas mereka adalah mengajar sekolah Minggu, memperlengkapi guru-guru sekolah Minggu yang tidak penuh waktu, memberi mimbingan pastoral kepada anak-anak sekolah Minggu.

5. Mungkin jemaat-jemaat yang di kota bisa memulainya.


Jika demikian, percakapan akan berubah menjadi begini:

Sekolah Minggu: “Kami butuh guru sekolah Minggu yang penuh waktu, yang disekolahkan secara khusus, yang menolong kami bertumbuh dalam iman dan mengasihi kami anak-anak!”

Majelis Gereja + Warga Jemaat: “Benar, benar, anak-anak. Kita akan mulai!”

----------
Kepada jutaan guru-guru sekolah Minggu sukarela di seluruh dunia, terima kasih atas atas dedikasi Anda semua. Kiranya Tuhan mencurahkan berkatnya melimpah dalam hidup Anda semuanya.

Tuesday, February 16, 2010

CALON PENDETA HKBP: Dari STh Menjadi MDiv

Sekitar delapan tahun yang lalu, saya pernah mengusulkan melalui sebuah artikel di Majalah Immanuel HKBP, agar syarat menjadi mahasiswa STT bukan lagi lulusan SMU tetapi dari sarjana. Sebelumnya memang sudah ada program Master of Divinity (MDiv), tetapi jumlahnya masih relatif kecil dan ada pula yang meragukan kualitas kesarjanaan mereka. Dalam rangka peningkatan kualitas lulusan STT, sudah saatnya program MDiv menggantikan program Sarjana Theologia (STh) dan mahasiswa mendapat beasiswa penuh selama kuliah. Beberapa pertimbangan adalah sebagai berikut.

1. Sedikitnya ada dua hal yang sangat menolong dalam mempersiapkan/ memperlengkapi mahasiswa lulusan sarjana. Pertama, lulusan sarjana sudah lebih dewasa dari segi usia dan lebih matang secara psikologis. Keadaan selama ini, STT masih banyak mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian mahasiswa. Hal ini dapat dimengerti, karena usia mereka baru beranjak dari remaja. Tidak realistis memaksa mereka menjadi 'dewasa'. Kedua, mereka lebih mudah mengikuti perkuliahan dengan pengalaman perkuliahan mereka sebelumnya.

2. Dulu, syarat untuk menjadi siswa Sekolah Guru Jemaat dan Sekolah Bibelvrouw adalah lulusan SMP. Sekarang, syarat untuk memasuki kedua pendidikan teologi ini adalah dari SMU, sama dengan STT. Jadi, kalau syarat untuk memasuki Pendidikan Guru Jemaat, Bibelvrouw dan Diakones ditingkatkan dari SMP menjadi SMU, maka sudah saatnya juga syarat untuk diterima menjadi mahasiswa STT ditingkatkan juga dari SMU menjadi lulusan Perguruan Tinggi. Tingkat pendidikan warga jemaat juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

3. Jangka waktu perkuliahan di STT dapat diselesaikan dalam 4 tahun (selama ini biasanya rata-rata 5 tahun). Hal ini dimungkinkan karena Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) tidak perlu dipelajari lagi, dan mata kuliah wajib di STT sudah lebih mudah diikuti berdasarkan pengalaman perkuliahan di Perguruan Tinggi sebelumnya. Bagaimana kalau mereka mau menikah semasa kuliah? STT dapat mengaturnya. Yang penting, jangan dihalangi. Mereka harus diberi kesempatan menikah, entah memberi cuti setengah tahun, atau melangsungkan pada awal libur semester supaya ada kesempatan mengawali pernikahannya selama dua bulan sebelum melanjutkan perkuliahan.

4. Saat ini sudah banyak anak-anak warga HKBP yang sarjana, baik yang bekerja tetapi bisa saja terpanggil untuk menjadi pendeta, maupun yang belum bekerja dan bersedia memenuhi panggilan untuk menjadi pendeta.

5. Seluruh mahasiswa hendaknya mendapat beasiswa penuh (paling tidak uang asrama, uang kuliah). Beasiswa kepada mereka bisa dari jemaat, dari pribadi-pribadi warga jemaat yang terbeban dengan tugas pelayanan ini, atau bisa diorganisir oleh distrik-distrik HKBP. Jemaat HKBP yang begini besar harusnya mampu melakukannya. Mengapa mereka menerima beasiswa penuh? Pertama, mereka sudah pasti mengeluarkan banyak uang untuk kuliah sebelumnya. Kedua, agar para amahasiswa lebih fokus pada perkuliahan dan pengembangan spiritual tanpa diganggu oleh masalah dana. Ketiga, para pendeta tidak dipersiapkan untuk menjadi kaya, mereka dipersiapkan untuk melayani. Kecuali, ada mahasiswa yang tidak bersedia menerima beasiswa, keputusan mereka harus dihargai dan diberi kesempatan membayar uang kuliah dan uang asramanya sebagai bagian dari persembahannya.

6. Seminari-seminari di Amerika Serikat dan Theological College di Singapura sudah melakukan hal seperti ini. Tidak berarti HKBP harus meniru dari gereja-gereja di Negara lain, tetapi berdasarkan kebutuhan jemaat-jemaat kita yang tingkat pendidikan warganya juga semakin meningkat.

Sebagai tambahan, ada pernyataan baik dan menarik dari Darrel L. Bock soal ‘kematangan’ seorang pelayan gereja sebagai berikut.

Since Jesus’ ministry was build around his teaching and since he showed that God’s will was not what the religious culture was delivering, then how careful should we be to make sure that our communities are well instructed and grounded in God’s truth! Such instruction means careful pastoral preparation of messages, including giving the pastor enough time to do it as well as developing training institutions that focus on substance. Encouragement should be given to underwrite students who seek to train for ministry, not by seeing how quickly the can complete their training, but how deeply grounded they will be when they emerge to enter ministry. A colleague of mine has asked how many of us would be proud and comforted to hear from a heart surgeon before we are wheeled into the operating theater that he got his degree in a year or two! How much more for those who minister to the soul! If teaching is central to effective ministry of the church, then solid training should be at the top of the list.[1]


[1] Darrel L. Bock, Luk. The NIV Application Commentary: From Biblical Text to Contemporary Life, Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1996, p 141.

Sunday, February 14, 2010

BERPIKIR DENGAN HATI

REFLEKSI SENIN KE-7
15 Pebruari 2010

Pikiran kita bagaikan air yang amat mudah dan cepat mengalir ke mana-mana. Tetapi, sama seperti air yang dapat kita salurkan, pikiran juga dapat kita alirkan agar ia teratur, terarah dan berguna. Atau, pikiran juga digambarkan seperti monyet liar yang cepat melompat ke sana ke mari. Berbeda dengan monyet yang sudah dijinakkan, ia relatif lebih tenang. Pikiran juga bisa liar, tetapi kita 'berkuasa' menjinakkannya.

Biasanya, pikiran kita mengarlir atau terpencar sedikitnya ke tiga tempat (1) masa lalu, (2) masa depan, (3) angan-angan atau ilusi. Dengan demikian, sebenarnya kita jarang ‘hidup’ pada ‘saat ini’. Hidup kita terpaut pada masa lalu, masa depan, dan ilusi-ilusi kita. Tiga tempat atau keadaan itu pun masih dapat dibedakan antara yang baik (seperti yang menyenangkan, mengembirakan dan meneguhkan) dan yang buruk (seperti yang menakutkan, mengecewakan, menggeramkan dan menenggelamkan).

Pikiran itu sendiri adalah baik dan sangat bermanfaat. Jadi kata-kata “jangan gunakan otakmu dalam hal-hal yang berhubungan dengan iman” adalah nasihat menyesatkan. Tuhan menganugerahkan pikiran untuk kita gunakan menimbang kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tugas kita adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap menjadi sumber ‘air tawar’ yang menyejukkan dan menghidupkan.

Dalam Yakobus 3:11-12 dikatakan “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?.... Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar”. Jika pikiran kita terpelihara dengan baik, bebas dari segala macam polusi yang merusak kehidupan, keadaan itu akan memancarkan keindahan dan segala buah-buah yang baik. Sebaliknya, jika pikiran kita terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk, itu pula yang akan memperkeruh kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Paus Yohanes XXII benar ketika ia berkata, “Kebiasaan berpikiran buruk kepada segala sesuatu dan setiap orang amat melelahkan diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.”

Berkaitan dengan itu, George Ong pernah mengatakan, “Banyak persoalan di dunia ini disebabkan oleh perpaduan “pikiran sempit” dengan “mulut lebar dan bocor”. Tidak jarang kita bertemu dengan yang mengatakan lebih banyak dari yang diketahuinya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang selalu punya ‘keahlian’ tentang apa saja topik pembicaraan, mulai dari politik luar negeri hingga soal-soal luar angkasa, jenis mobil, gempa bumi, psikologi dan lain-lain. Bukan karena ia benar-benar mengetahuinya, tapi ia ingin tampil sebagai seorang yang serba-tahu. Idealnya, kita mengetahui lebih banyak dari apa yang kita katakan. Jadi, satu di antara sekian cara mengurangi masalah di dunia ini adalah perpaduan “pikiran luas” dan “mulut proporsional”.

Allah, dalam rancanganNya yang agung, menempatkan otak lebih tinggi dari mulut kita. Salah satu makna yang dapat kita petik dari rancangan ini adalah keharusan kita memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Ironisnya, banyak sekali kata-kata yang beredar di dunia ini yang bukan hasil pemikiran matang. Lebih celaka lagi, kata-kata yang sudah sempat berkeliaran tanpa hasil olah pikir dibiarkan begitu saja dan tidak ada kemauan untuk memikirkan ulang walaupun sudah jelas-jelas berakibat buruk terhadap sesama. Dalam hal ini firman Tuhan bernar adanya, "setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata" (Yak 1:19).

Untuk itulah kita mesti berpikir dengan hati. Artinya, pikiran harus bertemu dengan hati sebelum segala keputusan diambil, baik keputusan untuk berkata-kata, berdiam, bereaksi, berbuat, beristirahat dan sebagainya. "Hikmat mengandung pengetahuan kapan dan bagaimana berbicara serta kapan dan di mana berdiam diri" (Jean Pierre Camus).

Sunday, February 7, 2010

KETIKA HATI TERLUKA

REFLEKSI SENIN KE-6
08 Pebruari 2010
.
Jika kita dekat dengan Tuhan, tidak akan ada orang yang mampu menyakiti hati kita; dan kita tidak akan mau --meskipun mampu-- dengan sengaja menyakiti hati sesama.
.
Tidak ada orang (normal) yang girang merasa senang dioperasi. Mereka selalu bertanya apakah masih ada kemungkinan lain. Operasi selalu ditempuh sebagai jalan terakhir yang tidak bisa dihindari. Mengapa orang tidak mempersoalkan sayatan pisau operasi dokter yang ‘menyakiti’ dan dengan bayaran mahal, bahkan hingga meminjam uang untuk operasi? Rasa enak dan uang simpanan harus dikorbankan untuk sementara demi kesembuhan.

Bagaimana dengan operasi ‘penyakit karakter', seperti kesombongan, kerakusan, pementingan diri, dan kejahatan? Jika masih dalam ‘stadium 1’ penyakit-penyakit ini masih bisa diatasi dengan ‘obat-obatan’ seperti nasihat lembut dan cerita-cerita anekdot. Tetapi, jika penyakit itu sudah berada pada tahap ‘stadium 3’, ia membutuhkan operasi dan kemoterapi: untuk mengangkat sel-sel tumor dan membasmi akar-akarnya. Operasi dan kemoterapinya memang bisa antara si pasien dan Sang Dokter Agung, Tuhan sendiri. Tetapi, rasa sakit pasti ada di situ. Apalagi, kalau operasi dilakukan oleh orang lain –yang bisa saja dilakukan tanpa obat bius—pasti jauh lebih sakit.

Dalam hal ini sedikitnya ada tiga kemungkinan 'posisi' kita yang kiranya kita sikapi sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Sebagai yang membutuhkan operasi

Jika kita benar-benar sebagai pasien penderita aneka penyakit karakter yang harus dioperasi, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Tidak perlu menolak apalagi memberontak. Mengapa kalau operasi ke dokter seorang pasien rela menanggung rasa sakit dan membayar pula, sementara menerima ‘operasi’ penyakit karakter yang gratis tidak diterima dengan lapang dada? Masalah yang mungkin mengganjal kerelaan kita adalah: bertakhtanya keakuan. Hal ini secara serta merta membawa perasaan harga diri ambruk. Berhadapan dengan kekurangan diri sendiri itu terkadang menyakitkan. Celakanya, ada orang yang baru saja mengalami ‘operasi’ dengan teganya mencari ‘obat penenang’ dengan menyakiti si tukang operasinya sendiri dengan melukainya dengan menebar fitnah dan menabur kebencian.

Sebagai tukang operasi

Jika kita merasa terpanggil menyembuhkan penyakit sesama, kita hendaknya datang sebagai ‘dokter’ bukan buldoser. Kita harus memastikan bahwa kita menanganinya dengan baik. Jika ternyata kita salah melakukan operasi, dengan rendah hati kita mesti mengakuinya. Kita harus senantiasa terhubung dengan Tuhan dalam melakukan tugas panggilan kita. Hal ini perlu, tidak untuk mempersoalkan dan terikat ke masa lalu sambil mengutuki bahkan menghukum diri sendiri tetapi untuk menjadi pelajaran dan tekad perbaikan di masa datang.

Sebagai korban malpraktek

Bayangkan kalau ada orang yang menyatakan diri sudah mendiagnosa penyakit Anda dan ia cepat-cepat melakukan ‘operasi’. Padahal, ia salah mendiagnosa. Ia menuduhkan yang tidak benar tentang Anda dan mengumumkannya kepada orang lain atas dasar kebencian. Luka bisa saja terjadi dalam sanubari Anda dan dalam hati sahabat-sahabat Anda. Dalam keadaan seperti ini perlu kita renungkan apa yang dikatakan oleh Augustinus, "Jika Anda menderita karena perlakuan tidak adil seseorang yang jahat, ampunilah dia, kalau tidak, akan ada dua orang yang jahat".

Barangkali, hal ini masuk dalam salah satu kategori paling sulit dalam kehidupan. Lebih sulit lagi, ketika orang lain ikut-ikutan pula menekan dan mempersalahkan kita. Semua bisa semakin memperparah luka hati. Lihatlah bagaimana reaksi orang menghadapi kenyataan seperti ini, mulai dari yang mendiamkannya tetapi tetap membiarkannya membara di dada, sampai memakai jasa orang lain untuk membalas, hingga menghadapi dengan gagah berari hingga titik darah penghabisan. Untuk pembenarannya mungkin dilabeli dengan “Mereka harus diberi pelajaran”. Semua ini tidak menyembuhkan. Malahan, justru membuat orang semakin banyak terluka.Tidak berarti bahwa kita tidak boleh ‘membela diri’ dengan memberi klarifikasi. Itu malah sebuah kebutuhan. Yang penting jangan terlarut mempersoalkannya hingga menimbulkan persoalan baru.

Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang terluka, kita tidak perlu menambahkannya. Dalam situasi ketika kita mengalami korban malpraktek, Mzm 31:10 kiranya menjadi mazmur kita juga:

Kasihanilah aku, ya Tuhan,
Sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku,
meranalah jiwa dan tubuhku.

Sunday, January 31, 2010

JALAN MANA YANG AKAN KUTEMPUH?

REFLEKSI SENIN KE-5
01 Pebruari 2010


Seorang turis berdiri di sebuah persimpangan jalan di Samosir dan bertanya kepada seorang warga setempat.

Turis: Jalan mana sebaiknya saya tempuh?
Warga: Anda mau ke mana?
Turis: Saya tidak tahu. Saya hanya mau jalan saja.
Warga: Kalau begitu, jalani yang mana saja.


Cerita yang kurang lebih sama dicatat oleh Anthoni de Mello kira-kira begini.
Seorang penunggang kuda sedang melewati sebuah desa. Seseorang bertanya kepadanya, “Anda mau ke mana?” “Saya tidak tahu, tanyakanlah kepada kuda saya!”, demikian si penunggang kuda menjawabnya.

Kedua cerita di atas sedikit banyak mencerminkan keadaan masyarakat dunia saat ini. Banyak orang kehilangan ‘tujuan’ hidup. Atau, menyerahkan tujuan hidupnya ditentukan oleh orang lain. Keadaan ini dicirakan oleh dua sikap hidup dalam hal kerja. Pertama, orang-orang yang luar biasa santai. Begitu dalam studi, begitu juga dalam bekerja, apalagi dalam hidup bergereja. Hidup mengalir begitu saja sesuai kecenderungan hati tanpa sebuah perencanaan. Kedua, orang-orang yang super-sibuk baik dalam pikiran maupun dalam pergerakan fisik. Kalander penuh dengan agenda kegiatan dan pertemuan. Mereka duduk di gereja, namun pikiran mereka berkeliaran ke perusahaan. Mereka mendengar khotbah sambil mengutak-atik handphone. Mereka berlibur bersama keluarga, tapi otak mereka tertancap di pekerjaan. Orang-orang seperti ini dapat digambarkan dengan lilin yang dibakar di kedua ujungnya. Padahal, "membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama", demikian sebuah pepatah Denmark.

Kehilangan ‘tujuan hidup’, biasanya seiring dengan kehilangan jejak ‘awal hidup’. Firman Tuhan dalam Efesus 1:4-5 menyatakan bahwa “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” dan “dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya.” Artinya kita ada di sini bukan secara kebetulan atau karena kecelakaan sejarah. Kita ada dan hadir di bumi ini dengan sengaja. Sesuai rencana Allah. Dan pekerjaan Tuhan belum selesai atas diri kita.

Karena itu hendaknyalah kita menjalani hidup tidak sekadar ‘asal-asalan’ saja: asal hidup, asal bekerja, asal menabung, asal menikah, asal punya anak, asal bergereja, asal melayani. Asal….asal…... Kita hendaknya menjalani hidup seturut dengan kehendak Bapa kita. Ini tidak berarti bahwa Allah sudah ‘menetapkan’ kita untuk menjadi ‘apa’ dalam hal pekerjaan atau profesi: tukang pangkas, notaris, pilot, programmer komputer, tukang jahit, guru dan sebagainya. Ia memberi ‘kebebasan’ kepada anak-anakNya untuk memilih, sesuai dengan kemampuan atau bakat dan talenta yang Ia anugerahkan dipadu dengan kesediaan kita mengembangkan dan menekuninya. Yang penting adalah bagaimana kita hidup dan menjalankan pekerjaan kita: untuk kemuliaanNya, untuk kebaikan sesama, dan demi kebaikan kita. Pekerjaan kita bukan hanya sekadar lahan ‘cari makan’ tetapi sekaligus sebagai ladang pelayanan di mana kita menjadi murid dan saksi-Nya. Jika Anda penjahit, jadilah penjahit yang baik, bukan penjahit merangkap penjahat.

Agar kita dapat mewujudkan keberadaan kita sebagai anak-anak Allah, kita membutuhkan discernment, yaitu: kemauan dan kemampuan memahami kehendak Allah dalam kenyataan kehidupan termasuk pilihan-pilihan yang tersedia. Discernment dapat juga berarti proses di mana kita membedakan mana suasana hati, emosi, kecenderungan-kecenderungan kita dan kejadian keseharian yang “mendekatkan diri kita kepada Allah” dan mana “yang membawa kita jauh dari pada-Nya” (Joan Mueller). Jadi, discernment adalah sebuah karunia atau pemberian Tuhan. Kita tidak dapat meproduksinya dari diri kita. Namun, kita dapat bertumbuh dalam karunia discernment dengan menjadikannya sebagai sebuah “pola hidup” melalui kesetiaan dalam refleksi pribadi dan doa. Di sinilah kita berjumpa dengan Tuhan yang memberi diri kita dan memberi tujuan hidup kita.

Sunday, January 24, 2010

RASA DI BALIK KATA

REFLEKSI SENIN KE-4
25 Januari 2010


Kata-kata punya power, konstruktif atau destruktif. Tergantung pada yang mengatakannya atau yang meresponinya. Kata-kata bisa membuat hati berbunga-bunga, tetapi bisa juga membuat hati terluka amat dalam. Bisa membuat orang bangkit dari keterpurukan, tetapi bisa menjatuhkan semangat. Bisa membuat tidur nyenyak dengan mimpi indah, tetapi bisa juga sampai membuat orang tak bisa tidur hingga bunuh diri. (Ingat kisah seorang remaja di Jakarta yang bunuh diri hanya gara-gara temannya mengalamatkan kata-kata sebuah iklan “hari gini gak punya henpon?” kepadanya).

Tidak asing dalam pengalaman keseharian kita adanya orang-orang yang mulai hari Senin hingga Sabtu, kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk dalam kategori 3K :keras, kasar, kotor. Senin sampai Jumat mulai dari perjalanan menuju hingga di tempat kerja kata-kata yang keluar adalah ‘brengsek kamu’, ‘dasar begu elo’, ‘kampungan banget kamu’, ‘kurang ajar kau’, ‘gila/ sinting/ edan elo’, 'biar disambar gledek aja kamu sekalian', dan semua jenis makhluk yang ada di kebun binatang atau binatang peliharaan bahkan yang ada di toilet. Pada hari Sabtu, mereka tidak bekerja, tetapi kata-kata yang sama ditujukan kepada anggota keluarganya di rumah. Seorang ayah misalnya berkata kepada anaknya, “dasar anak setan!” (Lha, siapa dulu dong, bapaknya?). Baru hari Minggu kata-kata 3K-nya berhenti. Bukan karena beribadah di gereja, tapi karena tidur seharian. Mungkin mimpinya masuk 3K juga.

Orang-orang seperti itu juga sangat bermasalah dalam bereaksi terhadap suatu kejadian. Bayangkan seseorang menerima telpon salah sambung. (Mudah-mudahan Anda bebas dari 'kasus' seperti ini). Ketika telpon berdering dan ternyata salah sambung ia sudah mulai marah. Hal ini kedengaran dari nada suaranya yang ketus: ‘salah sambung!’ Ketika telpon birdering keduakalinya, pikirannya masih ke telepon sebelumnya. Jika ternyata masih salah sambung (apakah orang yang sama atau orang yang berbeda) amarahnya semakin meninggi, “Salah sambung!”, sambil membantingkan gagang telpon. Celakanya, kalau berselang beberapa saat lagi telpon berdering ketiga kalinya, ia sudah memvonis bahwa itu tetap salah sambung dari orang yang sama. Ia tidak berpikir panjang dan langsung merespon dengan kata-kata keras dan kasar, “Sekali lagi kau telpon, kucari kau sampai ke ujung dunia dan kuhajar kau!” Bayangkan kalau di ujung sana si penelpon berkata, “jangan main hajar gitu dong Pak?” saya hanya mau mengucapkan ‘selamat ulang tahun’. Ketika hatinya mulai melunak bercampur malu ia bertanya (walau sudah sangat terlambat), “Dengan siapa ini Pak?”. “Saya Pendeta Nonhajar, Pak!”. Bayangkanlah percakapan selanjutnya.

Manusia cenderung memiliki ‘otomatisasi reaksi’. Reaksi sudah terformat sedemikian rupa untuk setiap kejadian. Jika seseorang berbuat begini, reaksinya begini. Jika seorang mengatakan seperti ini, balasannya seperti ini. Reaksi-reaksi ini sebenarnya selalu ditentukan oleh apa yang ada ‘di dalam’, di pusat diri kita yang terdalam. Sama seperti jeruk yang diperas, yang keluar pastilah air jeruk, tidak mungkin jus apel. Sia pun memerasnya, di mana pun diperas, kapan pun diperas, dengan alat apa pun diperas, yang keluar sama: air jeruk. Kata-kata manusia juga seperti itu. Jika kata-kata keras, kasar, kotor yang keluar, itulah yang ada di dalam. Kata-kata kita mencerminkan keberadaan kita.

Memang ada sedikit kekecualian. Ada kalanya kata-kata ‘manis’ yang keluar dari hati yang pahit. Tetapi pada saatnya yang tepat akan terasa juga aslinya. Pasangan suami-istri menghadiri suatu jamuan makan. Hidangan lezat, bergizi, berlemak, mengandung banyak kolerstrol. Si istri dengan lembut menyapa suaminya yang sedang makan agak lahap, “Honey, Sweety!”, sambil melambaikan tangan. Wajah sang suami memerah dan mengungkapkan kata-kata amarah kepada istrinya. Yang menyaksikan kejadian itu heran dan berkata, “kok bapak marah? Kata-kata itu ‘kan ungkapan cinta dan rasa hormat seorang istri kepada suami?” Si suami berkata, “Bukan begitu. Saya menderita penyakit diabetes dan harus membatasi makanan. Ia tidak mengatakan ‘sweety’ sebagai bahasa cinta, tetapi menyindir!”. Tapi yang ini hanyalah ‘kasus’ langka. Yang jelas, isi hati menentukan kata-kata: membangun atau merusak.

Saat ini sudah banyak tersedia buku, kursus bahkan jurusan di perguruan tinggi yang mengkhuskan diri dalam hal ‘berkata-kata’. Secara teknis, hal itu dapat menolong. Di berbagai studio televisi tersedia salon khusus untuk para pembicara yang diundang ke studio. Laki-laki juga diberi pewarna bibir atau lipstick warna alami. Sayangnya lipstik tak menolong agar terhindar dari salah bicara. Tetap saja ada yang ngawur. Sebab, di dalam memang ngawur.

Untuk itulah kita membutuhkan jamahan Tuhan. Ketika hati dan mulut kita dimurnikan oleh Tuhan, reaksi kita terhadap segala situasi selalu dalam pimpinan Tuhan. Kata-kata kita menjadi lain. Body language kita beda. Semuanya meneguhkan dan membangun. Awasi kata-kata Anda mulai hari ini dan sikapi kata-kata yang ditujukan kepada Anda dengan hati bijaksana.

Sunday, January 17, 2010

ANTI-VIRUS HUBUNGAN TERINFEKSI

REFLEKSI SENIN KE-3
18 Januari 2010


Berikut ini adalah kisah seorang yang merasa menanggung 'beban ganda'.

“Seorang teman meminjam uangku lebih dari setahun. Pada saat mau meminjam ia datang setengah ‘menyembah’ dan dengan alasan yang benar-benar masuk akal untuk meminjam. Ia juga dengan kata-kata yang sangat meyakinkan berjanji janji untuk mengembalikannya paling lama tiga bulan. Bulan dan tahun pun telah berlalu, tetapi pinjaman tak kunjung kembali. Kini aku tidak hanya terbeban karena uang saja tetapi juga terbeban dengan ‘body language’ dan sikapnya yang tidak bersahabat. Padahal, hampir setiap hari saya harus bertemu dengan dia karena berada dalam satu kantor. Aku kehilangan uangku dan kehilangan pertemananku dan sekaligus kehilangan ketenangan batinku”.

Dalam kisah di atas kita melihat bahwa ‘hubungan’ pertemanan sedang menuju pada ke suatu bahaya. Proses peminjaman yang didasarkaan pada trust (rasa percaya) mulai memudar ketika penangguhan bahkan tanda-tanda pembatalan janji sedang terjadi. Akal sehat kita berkata bahwa si peminjam mengalami ‘pengorbanan ganda’, uangnya dan ketengan jiwanya. Hubungan terganggu seiring dengan pudarnya rasa percaya.

Di samping itu, hubungan juga bisa terancam oleh perbedaan pendapat. Padahal, dalam perjalanan hidup ini, kita pasti pernah berbeda pendapat dengan orang lain. Masalahnya, ada orang yang menyamakan saja perbedaan pendapat dengan pertengkaran. Padahal, tidak harus demikian. Perbedaan merupakan yang wajar-wajar saja dalam kehidupan ini. Terganggunya hubungan baik hanya karena perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak sehat. Lebih celaka lagi, perbedaan yang berujung pada perselisihan itu merembes dan merambat ke mana-mana. Bayangkan Anda berbeda pendapat dengan seseorang, dan seseorang itu menanggapinya secara negatif hingga memicu permusuhan hingga teman dekatnya pun memusuhi Anda. Padahal Anda tidak ada masalah sama sekali dengan yang bersangkutan.

Ada begitu banyak virus yang menggerogoti hubungan sehat dengan sesama. Kita tidak mampu memproduksi anti-virus ampuh mengatasinya. Hal-hal berikut kiranya dapat menjadi acuan kita:

1. Kesediaan kita terhubung dengan Tuhan. Sebab, semakin kita terhubung dengan Tuhan, semakin terhubung pula kita dengan orang lain. Semakin kita terhubung dengan orang lain semakin sehat pula emosi dan fisik kita.

2. Sebuah keharusan untuk ‘memahami diri kita sendiri’ dan ‘memahami orang lain’. Lihatlah bagaimana Anda berhubungan dengan orang lain. Misalnya, kita perlu mengenali apakah kita lebih ektrovert atau introvert. Sebuah masalah hubungan biasanya dimulai dari yang ekstrovert dan menjadi langgeng karena ‘reaksi’ mereka yang introvert. Yang ektrovert “memulai” dan yang introvert “menyambut dan melanjutkannya”. Yang lebih menderita biasanya adalah yang introvert. Sebab, yang ekstrovert cenderung memiliki dua kekurangan. Di satu segi kurang peduli apakah kata-kata dan tindakannya melukai atau menyakiti orang lain dan di segi lain kurang peduli terhadap kesalahan atau kekurangannya sendiri. Mereka bisa tidur nyenyak meskipun ia tahu sendiri dia bersalah. Yang introvert bisanya menderita dua ‘luka’: (1) Merasa terluka karena sikap, kata-kata dan tindakan orang lain dan (2) Merasa terbeban dengan reaksinya sendiri. Dalam hal ini, bertumbuhlah dari kesalahan-kesalahan, apakah Anda seorang ekstrovert (yang biasanya memulai masalah) atau apakah Anda seorang introvert (yang biasanya lebih merasa tersiksa dan bereaksi kurang sehat). Ketika Anda secara perlahan membuka hati, pertumbuhan dimulai seperti suatu sumber mata air yang baru.

3. Kita perlu mengembangkan sikap menerima perbedaan tanpa berujung pada parbadaan (Bahasa Batak yang berarti “Pertengkaran”). Caranya, kita harus membedakan antara ‘pendapat’ dan ‘si pemberi pendapat’. Kalau pendapatnya tidak kita terima, bahkan kita tolak, kita tetap dapat menerima ‘orangnya’. Membenci ide-ide buruknya, tetapi menerima dan mengasihi orangnya. Hal ini memang sulit, tetapi dengan proses pembiasaan semuanya bisa terjadi.

4. Indikator yang paling baik menunjukkan kepribadian dan kemampuan kita membangun hubungan yang sehat secara kristiani adalah buah-buah Roh (KSD 5KP): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23).



Hubungan yang sehat tercipta
seiring dengan berkembangnya kedamaian hati

Sunday, January 10, 2010

S T A T U S

REFLEKSI SENIN KE-2
12 januari 2010


Poles-memoles sudah menjadi hal yang sangat biasa dalam kehidupan ini. Mobil tua dipoles dengan cat metalik. Jadilah, mobil yang eksteriornya mengkilat, tapi interior dan mesinnya keropos. Nama juga dipoles dengan penempatan aneka gelar di depan dan di belakang nama. Dan, tentu, wajah dan penampilan juga tidak ketinggalan. Operasi plastik masih terus diminati orang saat ini, walaupun harganya amat mahal. Bukan hanya dengan nilai uangnya, tetapi juga menjadi taruhan nyawa. (Minggu lalu seorang CEO meninggal karena operasi plastik, belum lama berselang seorang artis usia belia meninggal karena kasus yang sama).

Mengapa semua ini diminati banyak orang? Pemolesan ini dianggap sebagai bagian usaha naik kelas status. Biasanya status seseorang diukur berdasarkan jadwal sibuk, label, kartu dan koneksi.

Sibuk
Ada sebuah pemahaman keliru yang kian merambah dalam era posmo ini, yakni: “Semakin sibuk seseorang semakin bergengsi dia.” Kata-kata “Saya tahu Anda sibuk” biasanya orang telan sebagai sebuah pengakuan kekaguman. Padahal, ketika pusat perhatian hanyalah pada ‘kesibukan’, bukan pada apa dan bagaimana kualitas hasil ‘kesibukan’ itu sendiri, maka kesibukan hanyalah sebuah kekerasan: terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesibukan yang tidak sehat sering menjadi pembenaran pengabaian kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Kesibukan juga disalahgunakan menjadi sebuah SIM (Surat Izin Marah). Kita ingat cerita Marta yang menyalahkan Maria yang duduk mendengarkan Yesus. Marta malah mencari pembenaran dan pembelaan dari Yesus.

Hadirnya alat-alat seperti komputer, telepon, kendaraan dll seharusnya membantu manusia untuk tidak menguras tenaga habis-habisan. Sayang sekali bahwa kelihatannya bukan manusia yang ‘memakai’ komputer, handphone, dan berbagai alat-alat canggih itu, tetapi justru alat-alat itu yang ‘memakai’ (=menguasai) manusia. Manusia semakin sibuk dengan komputer, telepon, kendaraan, dan alat-alat canggih.

Label
'Merek' barang merupakan ilah baru yang menguasai banyak orang pada zaman ini. Labal-label (merek) pakaian, tas, sepatu, jam tangan, mobil, aksesoris biasanya ikut berperan dalam menentukan status seseorang. Foto-foto yang terpajang di ruang tamu, facebook, website bagi sebagian orang dianggap sebagai sarana menaikkan status. Ada foto liburan di pegunungan bersalju atau berlatar bangunan pencakar langit kota megapolitan. Ada pula foto bersama dengan 'orang penting' (apakah karena ada hubungan dekat atau hanya kebetulan bisa permisi berfoto bersama) dianggap bisa ‘mendongkrak’ status. Pada dirinya sendiri, sebenarnya tak ada yang salah dengan semuanya itu sejauh pengalaman-pengalaman seperti ini semakin memurnikan hati, semakin memperdalam pemahaman akan makna kehidupan, semakin membuka diri dan tangan demi kebutuhan dan kebaikan orang lain. Yang celaka adalah kalau label-label seperti itu berubah menjadi ‘senjata’ penobatan diri pada posisi superior sambil menindas orang lain melalui kata dan sikap menghakimi. Jadi, tak perlu menurunkan semua foto-foto dari ruang tamu. Yang penting adalah menurunkan semua penggerak negatifnya atau motivasi terpolusi.

Kartu
Dunia ini mengukur status dari penghuni tetap dompet: berapa jenis kartu ATM, apakah dilengkapi dengan Amex, Visa, MarterCard, kartu keanggotaan golf, dan lain-lain. Bagaimana dengan kartu nama? Orang menilai status dengan gelar di depan atau belakang nama. Alamat juga sering dianggap membedakan status. Orang yang beralamat di Jln. Sudirman No 212, amat berbeda dengan yang beralamat di Jln Sudirman Gg. Buntu No 212. Sama-sama ‘Sudirman’ tetapi Gg. Buntu ini yang membedakan status.

Koneksi
Hubungan seseorang, entah hubungan keluarga, satu RT, teman satu SD dulu, dengan seorang pejabat atau publik figur biasanya ikut mendongkrak status seseorang. Tidak heran urusannya bisa lebih mulus. Permintaannya gampang dikabulkan.

Semua yang disebutkan di atas, tidak ada yang salah pada dirinya. Kartu kredit sah-sah saja. Anda tak perlu merasa bersalah memilikinya (kesalahan biasanya ada pada menyikapi dan menggunakannya). Tidak salah berlibur (bahkan suatu kebutuhan). Tidak ada yang jelek kalau berfoto dengan publik figur. Intinya adalah ini: status kita bukan diukur berdasarkan ‘apa yang kita miliki’ tetapi terutama ‘siapa Pemilik kita’. Dalam hal ini secara singkat dapat disebut tentang ‘status kristiani seperti berikut ini.

Status Kristiani

Penggerak paling umum cita-cita dan aktivitas adalah ‘motivasi sukses’ dan ‘inspirational stories’. Misalnya, bagaimana seorang tukang sapu menjadi milioner, seorang muntir upah harian menjadi pemilik berusahaan mobil raksasa. Kita tidak sadar bahwa setiap kita unik, mendapat pemberian khusus. Artinya, ‘status’ biasanya diukur berdasarkan sukses ‘angka’ berhubungan dengan timbangan atau kalkulator.

Kita membutuhkan transformasi. Status dasar kita sebagai orang Kristen adalah: keberadaan kita sebagai anak-anak Allah, yang sudah ditebus, yang adalah rekan sekerja Allah. Karena itu, sibuk, label, kartu, dan koneksi juga menentukan ‘status’ kita. Hanya saja keempat hal itu tidak berdasarkan ukuran dunia. Kita harus ‘sibuk’, sama seperti Tuhan Yesus juga sibuk dulu hingga hari ini. Hanya saja kesibukan kita bukan mendongkrak status kita di mata dunia, tetapi agar kita semakin serupa dengan Kristus. Kita sibuk bukan memaksa diri, memaksa orang lain, memaksa sebuah kejadian. Kata-kata bijak ini mengandung kebenaran: “Siapa menjual masa mudanya untuk sebuah kekayaan, ia harus bersiap-siap menjual kekayaannya untuk kesehatan, yang belum tentu berhasil.”

Di samping itu, sebuah pepatah Denmark berbunyi, "Membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama". Gambaran hidup supersibuk memaksa diri. Lilin memang harus dibakar pada saatnya dibutuhkan, itupun hanya dari bagian atasnya. Lilin yang tidak dibakar tidak melakukan fungsinya. Jadi, hidup seimbang itu perlu, dengan lima "si": meditasi, kreasi, aksi, rekreasi, dan refleksi". Meditasi, misalnya, merupakan kebutuhan kita untuk bisa bertumbuh. Dalam meditasi kita meneduhkan diri di hadapan Tuhan. Dalam meditasi kita tidak meminta kepada Tuhan. Kita hanya menyadari bersama dengan Allah (apa dan bagaimana meditasi Kristen silahkan lihat di dalam blog ini di bagian “MEDITASI KRISTEN).

Label yang kita kenakan adalah salib Kristus. Kartu-kartu kita tidak terutama dalam bentuk kertas atau plastik, tetapi keberadaan kita sebagai garam dan terang dunia. Kartu-kartu dunia ini adalah alat akses untuk menarik sesuatu kepada diri kita sendiri. Kartu kristiani adalah kerelaan kita menjadi berkat bagi sesama.

Sehubungan dengan ini, koneksi kita dengan apa dan siapa pun selalu ditentukan oleh koneksi kita dengan Tuhan, Pemilik kita. Kita tidak menunjukkan “foto bersama” kita dengan Tuhan, tetapi bagaimana orang lain dapat melihat ‘gambar Tuhan’ melalui seluruh kehidupan kita. Sebab, kita adalah gambar Allah. Kiranya orang lain bisa melihat dan mengalami kasih Allah melalui kasih kita.

Ternyata, dengan demikian, ‘status’ kita bukan sesuatu yang kita raih melalui segala usaha kita, melainkan apa yang kita terima dari Tuhan: Tuhan sendiri dan pemberianNya. Atau, Pemberi dan pemberianNya sekaligus.

Sunday, January 3, 2010

2 0 1 0

REFLEKSI SENIN KE-1
04 Januari 2010


Kita tidak ikut merencanakan kehadiran kita di dunia ini. Kita juga tidak ikut merencanakan adanya tahun 2010. Kenyataan ini sedikitnya membuat kita sadar diri: kita hidup dan berada oleh dan di dalam Pencipta kita. Bayangkan kita sedang tinggal di rumah orang lain. Kita adalah tamu. Sebagai tamu yang tahu diri pasti kita tidak berbuat sesuka hati kita, bukan? Tuan rumah mungkin saja mengatakan “anggap seperti rumah sendiri”. Akan atetapi, sekali lagi, sebagai tamu yang tahu diri kita seharusnya menyesuaikan diri dengan tradisi tuan rumah.

Memang kita bukanlah tamu di hadapan Allah. Ia adalah Bapa kita. Tetapi, sebagai anak yang sadar diri, kita yang menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa, bukan sebaliknya Bapa yang kita paksakan menyesuaikan diri dengan kehendak kita. Apalagi, Bapa lebih tahu yang terbaik bagi kita anak-anakNya. Dalam hal ini kita dapat dengan mudah memahami mengapa Yesus berfirman, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…..” (Yoh 10:15). Kita yang menyesuaikan diri dengan Tuhan, supaya kita dapat berbuah. Buah yang baik!

Pertanyaan yang perlu kita jawab bukan “Apa yang terjadi sepanjang tahun 2010?” melainkan "Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita agar sesuatu terjadi dan tidak terjadi?" Kita dilibatkan Tuhan untuk memungkinkan sesuatu yang baik dan benar terjadi. Tuhan juga menghendaki kita terlibat dalam pekerjaanNya agar tidak terjadi yang ia tidak kehendaki: ketidakadilan, permusuhan, peperangan, kehancuran alam ciptaanNya dan sebagainya. Tuhan memang bisa melakukan segala sesuatu. Tanpa kita! Tetapi kita dirancang bukan seperti robot. Kita diciptakan memiliki hati, pikiran, kemauan, yang hendaknya semuanya itu kita tempatkan di bawah pimpinan RohNya.

Sedikitnya ada empat yang sangat penting kita hayati sepanjang tahun 2010 ini:

Pertama, dasar bangunan. Program dan rencana kita mungkin sudah ada. Kita hendaknya mengujinya berdasarkan kehendak Tuhan. Kita tidak hidup hanya kebetulan. Kita ada dan hidup atas rancangan Allah. PekerjaanNya belum selesai atas kita. Proses masih sedang berjalan. Jadi, apakah kita menekuni pekerjaan, pelayanan, studi, bisnis kita harus mencari kehendak Tuhan dalam semua itu. Kita tidak mengukur sukses berdasarkan standar dan kalkulator dunia. Kita mengujinya sejauh mana semua itu berkenan kepada Tuhan, membawa berkat bagi kita dan orang lain, hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah. Jangan sampai pekerjaan yang memiliki kita. Jangan sampai uang yang memiliki kita. Jangan sampai jabatan yang memiliki kita. Keadaan seperti ini akan membawa ketegangan yang tidak perlu. Dan, biasanya obsesi demikian menjerusmuskan kita menghalalkan segala cara dan memaksa diri. Itu yang membuat banyak orang kehilangan kebahagiaan, sukacita dan damai sejahtera.

Kedua, mengingat tanpa memikirkan secara mendalam. Untuk beberapa hari ke depan ini, dalam menuliskan tanggal ada kalanya kita masih menulisnya dengan tahun 2009. Hal ini dapat dimengerti karena selama 12 bulan kita menggunakan angka 2009. Agak aneh kalau hingga bulan Pebruari kita masih menulis angka 2009 untuk 2010. Kenyataan ini mengingatkan kita untuk tidak mengingat yang tidak perlu yang sudah berlalu, apalagi yang merusak, di tahun yang lalu. Sekiranya peristiwa menyakitkan masa lalu singgah kembali dalam ingatan kita, kita tidak perlu mengulasnya lebih jauh. Sebab, dengan demikian kita memberi kekuatan padanya menguasai bahkan melumpukan hidup kita. Kita bisa membiarkannya berlalu atau menggantikannya dengan pikiran yang membangun. Kita adalah ‘tuan’ dari pikiran kita. Dengan tepaku pada masa lalu yang kelabu kita terhalang ‘mengalami’ hari ini dengan segala keindahannya dan tanggung jawab kita memaknainya.

Ketiga, siuman. Berjaga-jaga. Dunia ini akan semakin gencar mempromosikan diri sebagai pengganti Allah. Iklan akan tetap gencar menggoda dan menodai nurani kita. Umumnya, iklan menggiring kita untuk hanya memikirkan diri sendiri: bagaimana supaya ‘lebih’ keren, lebih sukses, lebih ganteng, lebih cantik dengan bayaran uang, tenaga, waktu yang tidak habis-habisnya. Godaan terbesar dalam zaman ini adalah keinginan untuk meng-upgrade ‘status’ di mata orang, bukan meng-upgrade iman dan kesetiaan kepada Tuhan. Di sinilah kita kehilangan jati diri sebagaimana dirancang dan dianugerahkan Tuhan. Kita ada di sini bukan untuk mengumpulkan barang-barang dan mainan dengan mempermaikan Tuhan. Kita ada di sini untuk menjalani hidup bersama dengan Allah dan mengemban misi-Nya demi damai sejahtera.

Keempat, bersiap pada yang terburuk tanpa mengutuk dan mengantuk. Tantangan pasti akan ada pada tahun 2010 ini. Di satu segi oleh kajahatan manusia (teroris, ekstrimis, konsumeris dan is is yang lain) dan di segi lain bencana alam berkaitan dengan krisis ekologi yang mungkin saja terjadi. Di dalam ancaman seperti ini, tidak sedikit orang yang ‘mengantuk’, pasrah passif. Memahaminya sebagai suratan tangan yang tidak bisa diedit (padahal kebanyakan karena ulah manusia yang harus ditolak). Ada pula yang hanya mengutuk dalam hati, perkataan dan perbuatan. Keduanya bukan solusi.

Mengandalkan Tuhan, kita dapat berbuat sesuatu: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai hari ini.

Wednesday, December 30, 2009

KEPERGIAN GUS DUR



Gus Dur telah pergi kepada pencipta dan pemiliknya (Rabu, 30 Desember 2009) pada usia 69 tahun.
Ketokohan beliau tidak diragukan. Pemikiran-pemikirannya dan kehidupannya sendiri telah memberi sumbangan yang sangat berarti dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan antar umat beragama di Indonesia.
Kiranya Tuhan menganugerahkan penghiburan kepada keluarga Bapak KH Abdurrahman Wahid dan memberi kekuatan untuk melanjutkan keteladanan beliau pada hari-hari yang akan datang.

Monday, December 28, 2009

PASRAH TANPA MENYERAH

REFLEKSI SENIN KE-52
28 DESEMBER 2009



Lebih dari seribu orang anak dibaptis tanggal 26 Desember 2009 lalu, hanya di lingkungan HKBP. Ada satu pertanyaan mengganjal: “Bagaimana keadaan bumi ini pada saat mereka menjadi pemuda 20 tahun mendatang?” Jika bumi ini masih ada, yang pasti keadaan suhu akan lebih panas. Akibatnya, keadaan cuaca akan tidak menentu; kekeringana di berbagai tempat dan banjir di tempat lain; akan lebih banyak angin puting beliung. Akibat lanjutannya adalah semakin banyaknya bencana alam.

Jika Tuhan berkenan, persis 20 tahun mendatang saya akan pensiun dari pendeta dan bersiap-siap untuk pensiun dari dunia ini. Jadi, kalau hanya memikirkan diri saya sendiri tidak terlalu masalah apakah bumi ini hancur lebur atau tidak. Tetapi sebagai bagian dari umat manusia dan ciptaan Allah, saya terbeban dengan nasib ribuan anak-anak yang dibabtis dua hari lalu dan jutaan anak-anak yang lahir beberapa hari ini di seluruh dunia, termasuk dua anak saya yang baru berusia 9 dan 6,5 tahun.

Bagaimana anak-anak tersebut memahami dan mengalami sukacita dan damai sejahtera (sebagaimana yang inti dalam perayaan natal) di tengah kondisi krisis ekologi ke depan ini? Itulah keprihatinan kita sekarang. Kegagalan negara-negara dunia mencapai kesepakatan dan komitmen nyata di Kopenhagen awal Desember 2009 amat mendukakan hati. Kesimpulan para ahli sudah meyakinkan bahwa krisis ekologi akan kian mencekam jika tidak ada langkah dan usaha konkrit dan segera. Tetapi, Kopenhagen berakhir dengan kesepakatan yang tidak meyakinkan.

Di tengah keadaan seperti ini dan ancaman kehidupan yang bakal terjadi, sedikitnya ada tiga yang perlu kita persiapkan. Pertama, bersiap menderita karena bencana. Dalam penderitaan yang bakal terjadi, perlu ditekankan bahwa itu bukan berasal dari Allah. Bukan hukuman dari Allah. Bencana yang mengancam kehidupan ini adalah karena kerakusan dan kekerasan hati umat manusia.

Kedua, bersiap menolong orang yang menderita. Tingkat keparahan bencana dan musibah mungkin berbeda berdasarkan lokasi dan keadaan usia dan fisik masing-masing orang. Yang tidak (atau lebih tepat “belum”) mengalami musibah hendaknya bersiap untuk memberi bantuan.

Ketiga, tetap melakukan sesuatu. Kita pasrah menerima segala kemungkinan, tetapi kita tidak boleh menyerah. Reformator Martin Luther pernah berkata, “Meskipun besok aku kembali kepada Bapa, aku tetap menanam apel hari ini”. Benar sekali bukan? Mangga dan durian yang kita makan sekarang berasal dari pohon yang ditanam oleh mereka yang sudah tidak bersama kita lagi. Jadi, kita bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu menurut keberadaan dan kemampuan kita masing-masing: menanam dan memelihara pohon; menjaga kebersihan tanah, air dan udara; menghemat bahan bakar, air, kertas, plastik; mengurangi sampah dan menangani sampah yang sudah terlanjur ada dan sebagainya. Intinya: menerapkan pola hidup sederhana dan bersahabat dengan alam ciptaan Tuhan. Setiap tindakan kita mempunyai konsekuensi langsung terhadap ekologi. Gandhi benar sekali ketika ia aberkata, “Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang”.

Bagaimana caranya? Jangan percaya iklan dan berbagai promosi produk yang kian gencar menggoda kita saat ini. Mereka satu bahasa mengatakan, “Jalan kebahagiaan dan kunci jaminan PD adalah dengan membeli dan memiliki barang ini!” Mereka berbohong! Kebahagiaan tidak terutama datang dari luar diri kita. Kedbahagiaan tidak terjadi terutama dengan menambah banyak hal atau barang-barang ke dalam kehidupan ini. Malahan, kebahagiaan bisa terjadi jika kita membuang banyak hal dari hidup ini: membuang kebencian, sakit hati, dedndam, amarah, kekuatiran, kesombongan, iri hati. Sebab, kebahagiaan sudah ditempatkan Tuhan di hati kita. Kita hanya perlu menyadari dan menerimanya. Dapat dicatat, bahwa tingkat kebahagiaan orang yang memiliki HP seri terakhir dengan harga tinggi pula tidak jaminan menjadi lebih bahagia dari orang yang memiliki HP murah dan sederhana. “Siapa memiliki Tuhan, ia memiliki segala sesuatu yang membuatnya berbahagia dan hidup dalam damai sejahtera. Tetapi siapa memiliki segala sesuatu tanpa memiliki Tuhan, semuanya tidak punya arti apa-apa”.

Tuhan adalah Pemilik kita; jangan kita memberi diri menjadi milik apalagi budak barang-barang dan gengsi, yang adalah akar dari kerusakan alam ciptaan dan milik Tuhan.

Tuesday, December 22, 2009

LAPORAN PEAYANAN TAHUNAN GEREJA YANG BAGAIMANA?

Beberapa gereja mentradisikan penyampaian Laporan Pelayanan Tahunan atau Berita Pelayanan Tahunan pada akhir tahun. Masing-masing gembala jemaat kelihatannya punya kekhasan masing-masing dalam hal isi dan durasi. Tetapi, umumnya lebih merupakan ‘daftar kegiatan’ yang disertai dengan tanggal pelaksanaannya. Dengan kata lain, penyusun Laporan atau Berita Pelayanan Tahunan terutama merujuk pada agenda pelayan atau warta jemaat. Di antara rumusan kata-kata laporan biasanya berbunyi, “Pelaksanaan kegitanan ini…. berlangsung dengan baik pada tanggal…..”. Terkadang distempel dengan kalimat “Syukur kepada Tuhan”.

Waktu dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh gereja sebenarnya sah-sah saja masuk dalam laporan pelayanan. Namun, keduanya merupakan pendukung terhadap berita pelayanan, bukan yang inti. Apalagi, kita terkadang mendapat kesan bahwa laporan pelayanan lebih merupakan (1) Upaya memebuktikan bahwa pelayan atau gembala jemaat ‘bekerja’. (2) Menunjukkan bahwa pelayan/ gembala jemaat mampu membuat sebuah naskah laporan yang lengkap dan sistematis. (3) Membuktikan bahwa jemaat ‘sukses’ secara organisasi. Atau membela diri: kalau ada orang yang mengatakan jemaat ini gagal mengemban misinya sebagai gereja, itu diragukan kebenarannya.

Agar Berita Pelayanan terhindar dari pengagungan, prmosi dan pembelaan diri secara pribadi maupun secara persekutuan jemaat, tetapi sungguh-sungguh membangun jemaat dalam artian mensyukuri apa yang Tuhan lakukan dan membaharui diri dalam hal-hal yang belum berpadanan dengan kehendakNya dalam pelayanan, berikut ini sedikitnya ada empat hal yang kiranya menjadi acuan dalam penyusunan dan penyampaian Berita Pelayanan Tahunan jemaat.

1. Penyusun Berita Pelayanan perlu mempersiapkannya dalam suasana ibadah. Ia tidak saja mencari file-file (catatan pribadi, warta jemaat, notulen rapat dan sebagainya –meskipun semua itu dibutuhkan), tetapi pertama dan terutama “mencari kehendak Tuhan”. Melihat peristiwa satu tahun yang berlalu dengan penglihatan Tuhan sendiri. Dalam hal ini, sedapat-dapatnya, pelayan/ gembala jemaat melakukan retreat pribadi. Menghadirkan diri di hadapan Tuhan. Dengan demikian, ia akan terhindar dari godaan seperti disebutkan di atas: membuktikan diri. Sebab, seorang pelayan yang setia tidak perlu membuktikan diri, tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Maxwell benar sekali ketika ia berkata, “The more leader mature, the more humble they are”.

2. Berpaling pada sumber penting untuk mengevaluasi kehidupan bergereja, yaitu firman Tuhan. Di tengah semua aktivitas pelayan dan kehidupan bergereja adakah terdapat buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri? (Galatia 5:22-23). Sesibuk apa pun gereja, sebanyak apa pun yang dia hasilkan secara material, dan sesukses apa pun dia menurut ukuran dunia, tanpa adanya buah-buah Roh, semuanya tidak punya arti apa-apa. Jadi, dalam berita pelayanan perlu dirumuskan dengan jelas bagaimana buah-buah Roh ini nampak dalam kehidupan berjemaat. Dengan demikian, jemaat mengetahui karena apa dia bersykur dan dalam hal apa dia membutuhkan pertobatan, dan pembaharuan komitmen.

3. Bagaimana keputusan diambil? Setiap jemaat memiliki kebijakan masing-masing bagaimana pengambilan keputusan dilakukan dalam kehidupan berjemaat. Tidak rahasia, bahwa di hampir semua jemaat ada saja perbedaan pendapat bahkan pertentangan dalam sidang-sidangnya. Karena pengambilan keputusan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan gereja, maka ‘proses’ dan ‘isi’ keputusan seharusnya dirumuskan sedemikian rupa dalam laporan atau berita pelayanan. Dalam pengambilan suatu keputusan para Rasul pernah mengatakan, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…..” (Kis. 15:28). Keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…… Oh, indahnya kehidupan gereja yang seperti itu.

4. Bagaimana penatalayanan keuangan? Keadaan keuangan gereja sedikit banyak dapat menjelaskan keberadaan gereja tersebut. Jadi, laporan keadaan keuangan dalam Berita Pelayanan sebaiknya bukan hanya jumlah pemasukan dan pengeluaran yang akhirnya menunjukkan saldo atau defisit, tetapi bagaimana dan dengan dasar pertimbangan teologis apa penggunaan keuangan gereja. Gereja seharusnya menggunakan uangnya ‘bersama’ dan ‘di dalam’ Allah, sang Pemilik Gereja dan yang ada di dalamnya.


Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).

ShoutMix chat widget