Sunday, November 30, 2008

SURAT YANG MENYEMBUHKAN

Mungkin Anda pernah merasa disakiti karena kata-kata atau perbuatan orang lain yang menyebabkan Anda terdorong untuk menumpahkan amarah melalui surat atau email. Ketika Anda mengalami hal demikian, nasihat Henri J. Nouwen untuk menunda mengirimkannya, membacanya berulang-ulang dan menulis surat yang baru, merupakan nasihat yang sangat tepat dan bermanfaat.

Jika Anda menulis sebuah surat atau email yang bernada sangat marah kepada seorang teman yang begitu amat dalam menyakiti hati Anda, jangan kirim surat itu. Biarkan surat itu 'berbaring' di meja atau di dalam komputer Anda sebagai draft untuk beberapa hari dan baca kembali berulangkali. Kemudian, tanyakan diri Anda, “Apakah surat atau email ini membawa kebaikan bagi saya dan teman saya itu? Apakah surat ini membawa kesembuhan dan menjadi berkat?" Anda tidak perlu mengabaikan kenyataan bahwa Anda benar-benar merasa disakiti. Anda tidak perlu menyembunyikan perasaan terluka yang Anda rasakan karena perbuatan teman Anda. Tetapi Anda dapat merespon dengan suatu cara yang dapat membawa penyembuhan dan pengampunan serta membuka jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Setelah itu, tuliskanlah surat yang baru menggantikan yang pertama jika Anda merasa bahwa surat yang baru itu akan meneguhkan dan menjadi berkat. Krimkanlah itu disertai doa. Dengan demikian, Anda telah menambahkan kebaikan dalam dunia yang dicemari perselisihan ini. Anda pun akan lebih lega dan berbahagia dengan cara demikian.

Monday, November 24, 2008

FOKUS PADA SANG PEMBERI, BUKAN PEMBERIAN

Kehidupan Yakub masih relevan kita renungkan saat ini. Kita hidup di tengah zaman di mana begitu banyak orang yang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diingankannya tanpa peduli pada kebenaran dan kehendak Tuhan.

Sejak lahir, sudah ada sesuatu yang ganjil dari kehidupan Yakub, yaitu bahwa ia memegang tumit Esau ketika lahir (Kej 25:26). Itu juga mencerminkan kehidupannya yang selalu meraih atau menarik sesuatu dari orang lain untuk dirinya sendiri. Ia mengambil hak kesulungan dari Esau dan kemudian mengambil berkat dari ayahnya. Ia mengambil Rahel dari ayahnya dan kemudian ia mengambil harta milik Laban juga.

Ketika ia menginginkan berkat dari ayahnya, ia berusaha meraihnya dengan kebohongan, bahkan dengan menggunakan nama Allah. Ketika Ishak, ayahnya, meragukan kehadirannya yang begitu cepat, Yakub menjawab: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." (Kej 27:20). Ia sama sekali tidak takut akan Allah, yang penting keinginannya tercapai.

Tuhan sudah menyatakan diri kepada Yakub di Bethel dan memberikan janji seperti yang dijanjikan kepada Abraham. Allah (1) Memberikan tanah tempat mereka berdiam (2) memberikan keturunan yang banyak (3) Membuat mereka menjadi berkat. Tetapi, Yakub malah berpikir seolah dia yang akan ‘memberi’ kepada Tuhan berupa persepuluhan dari pemberian Tuhan (Kej. 28:13-22). Yakub lebih fokus pada pemberian Tuhan dari pada Tuhan sang Pemberi. Nazarnya untuk memberi sepersepuluh dari pemberian Tuhan hanyalah untuk mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Sikap seperti ini tidak jarang kita temukan dalam kehidupan kekristenan sekarang: memberi supaya menerima. Padahal, kita memberi adalah karena kita sadar akan pemberian Tuhan bukan supaya Tuhan memberikan lebih banyak lagi kepada kita.

Sesudah peristiwa di Bethel ini, di mana Yakub tidak bergerak seirama dengan janji Tuhan, tetapi menempuh jalannya sendiri, ia mengalami berbagai peristiwa yang membuatnya merasa terancam. Salah satu di antaranya adalah kedatangan Esau dan pasukannya untuk menyerangnya. Dalam suasana ketakutan ia kembali mengingat janji Tuhan dan ia berdoa memohon kelepasan (32:9-10). Tetapi, ia tidak saja berdoa. Ia juga merancang strategi untuk ‘menjinakkan’ kegeraman Esau. Ia mempersiapkan segala macam pemberian yang akan dipersembahkan kepada Esau sebagai sarana melunakkan hati Esau. Dalam situasi seperti itu, Yakub pasti merasa lelah. Itulah juga yang terjadi dalam hidup ini ketika kita merasa tidak aman dan selalu berjuang dengan cara-cara kita sendiri untuk medapatkan apa yang kita inginkan. Tidak ada ketenangan dan kedamaian.

Berkat yang sesungguhnya ternyata bukan datang dari Ishak, ayahnya. Yakub mendapat berkat yang sesungguhnya dari Allah setelah Yakub berubah. Ia tidak lagi menipu dan berusaha menggenggam atau meraih yang duniawi, tetapi ia ‘bergumul’ dengan Tuhan. Artinya, ia memusatkan perhatian pada Tuhan Sang Pemberi hidup. Ia tidak mau melepaskan Tuhan dalam hidupnya. Yakub melihat Allah dan nyawanya tertolong (ayat 30). Ketika kita melihat atau memusatkan perhatian pada apa yang ada di dunia ini, semuanya itu tidak dapat menolong kita. Tetapi, ketika kita melihat dan berpegang pada Tuhan serta menerima dengan sukacita segala pemberianNya, kita akan mengalami kedamaian meskipun tantangan terkadang masih menghadang. Jika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu yang Ia kehendaki. Sebaliknya, meskipun kita memiliki segala sesuatu tetapi tidak memiliki Allah, semuanya tidak punya arti apa-apa.

Friday, November 21, 2008

BUKAN KITA, TAPI DIA*)

Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis takut dan takluk kepada Kristus yang diam dalam diri orang percaya.


Ada satu pernyataan para murid yang diutus sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 10:17-20 yang mudah terluput dari perhatian kita. Mari kita perhatikan isi ‘laporan’ mereka kepada Yesus. Para murid itu berkata, "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Kata-kata: “takluk kepada kami demi nama-Mu” telah menggeser pelaku utama dari Yesus menjadi murid-murid. Mereka merasa berhasil ‘memakai’ nama Yesus. Mereka bergembira mengagumi keberhasilan mereka.

Yang indah dan meneguhkan dari cara Yesus ialah bahwa Ia tidak membiarkan mereka menjadi sombong. Yesus tidak membiarkan mereka fokus pada diri dan keberhasilan mereka. Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh dari langit”. Artinya: Yesus ada di situ. Ia tahu dan melihat persis apa yang terjadi. Dan, yang paling penting, yang melakukannya bukan murid-murid itu, tetapi Yesus sendiri. Dari pernyataan Yesus tersebut sudah seharusnya murid-murid itu mengubah pernyataan mereka menjadi, “juga setan-setan tunduk kepada-Mu”. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Sebab, Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis takut dan takluk kepada Kristus yang diam dalam diri orang percaya.

Selanjutnya, Yesus mengarahkan para murid dan kita juga kepada yang bernilai kekal, bukan kegembiraan yang bersifat sementara saja. Murid-murid gembira karena keberhasilan mereka. Ini adalah semacam perasaan senang yang tidak bernilai kekal. Dalam hal ini Yesus mengatakan, “bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga" (ayat 21). Yesus menawarkan sukacita yang bernilai sorgawi atau bernilai kekal. Bukankah sesuatu pemberian yang luar biasa berharga bahwa kita satu kewargaan dengan Kritus sendiri? Kita hidup, bekerja dan melayani di dunia sebagai warga sorga. Anugerah yang luar biasa!

‘Status’ kita sebagai warga kerajaan sorga mengubah hidup kita, mengubah pemahaman kita akan pekerjaan dan pelayanan, mengubah cara kita memperlakukan dan menghadapi orang lain. Salah satu di antaranya adalah kuasa untuk “menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kita”. Ini adalah gambaran. Jangan kita coba-coba memegang kalajengking atau ular dan sejenisnya. (Ular dan kalajengking yang mau menggigit tidak pernah lebih dulu bertanya apakah seseorang itu Kristen atau bukan!). Ular dan kalajengking menggambarkan berbagai godaan licik dan bahaya-bahaya yang ditabur dan ditebarkan oleh Iblis dan orang-orang yang menyerahkan dirinya pada pekerjaan Iblis.
.
Hidup kita tidak lagi ditentukan oleh faktor-faktor luar, baik yang kelihatan seolah-olah baik dan menjanjikan seperti pujian, pengakuan, kesuksesan menurut ukuran dunia dan lain-lain maupun yang jelas-jelas menyesatkan seperti menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Rekasi kita juga akan berbeda. Kita tidak begitu gampang tersulut amarah, tidak cepat menghakimi, tidak memendam dendam, tidak gampang bersungut-sungut, tidak suka mengeluh. Mengapa? Kerajaan sorga tidak memiliki itu semua. Karena itu, sebagai warga sorga kita hidup dan bekerja dalam sukacita sorgawi.

Sebagai warga kerajaan sorga kita akan memasuki kehidupan kita: pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari. Mari kita resapkan dalam hati kita:

(1) Tuhan sudah lebih dulu ada di tempat di mana kita berada. Bukan kita membawa Kristus atau membawa kuasaNya. KuasaNya lebih besar dari kita. Karenanya, kita tidak pergi ‘membawa’ kuasa Yesus, tetapi kita pergi, melayani, menjadi saksi oleh kuasaNya.
.
(2) Kita tidak menggunakan Tuhan untuk rencana-rencana kita, meskipun kelihatan sangat ‘rohani’. Tuhanlah yang memakai kita untuk pekerjaan-Nya. Tanpa kita pun sebenarnya kerajaan dan pekerjaan-Nya dapat berjalan terus. Dengan kerendahan hati kita bersyukur karena kita diiuktsertakan dalam pekerjaan-Nya.
.
(3) Setiap kali Tuhan mengutus Ia selalu menyertai. Ia yang mengutus kita menjadi saksi-Nya, Ia juga yang menyertai kita.
.
(4) Kita harus melepaskan ketergantungan kita pada indikator atau tolok ukur keberhasilan dengan prestasi yang kita capai.
.
(5) Yang memenuhi visi kita bukanlah talenta, bakat, ketrampilan, kemampuan, materi, atau pemberian-Nya melainkan Kristus sang Pemberi itu. Zac Poonen benar ketika ia mengatakan, “Ketika sang Pemberi memenuhi hati kita dan visi kita, maka kita akan dapat menggunakan talenta, bakat dan milik kita dengan baik. Jika tidak, kita akan menyalahgunakannya untuk untuk pementingan dan pengagungan diri”.
.
*) Rangkuman renungan yang saya sampaikan pada Penutupan Seminar Haggai Institute, Singapore, 15 Nopember 2008

Sunday, November 16, 2008

ADA KEKUATAN DALAM KELEMAHLEMBUTAN

Satu di antara sekian banyak pemberian yang sangat berharga yang dapat kita berikan dalam hidup ini tanpa mengeluarkan biaya adalah 'kelemahlembutan'. Ia hanya membuthukan 'modal' kerelaan.

Kelemahlembutan kepada orang lain

Kita menemukan beberapa kali dalam Kejadian 1 yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan Allah itu baik. Puncaknya, setelah semua diciptakan Allah, dikatakan dalam
Kej. 1:31: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Dengan kelemahlembutan kita mengalami kembali betapa baiknya ciptaan dan rancangan Allah itu. Dunia ini menjadi kacau seiring dengan hilangnya kelemahlembutan dan digantikan dengan kekasaran dan kekerasan. Dunia ini akan kembali kepada keadaan ‘baik’ sebagaimana dikehendaki Allah sejak penciptaan ketika kelemahlembutan mewarnai kehidupan keseharian.

Lemah lembut tidak sama dengan ‘lembek’. Malahan, kelemahlembutan adalah merupakan kekuatan. Itu sebabnya Padovano dengan tepat berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah hati kami lemah lembut supaya kami dapat menjadi kuat.” Hanya dengan kelemahlembutan kita dapat memberi yang terbaik bagai orang lain. Bukan terutama melalui tekanan suara (walaupun itu penting) tetapi yang paling penting adalah kelemahlembutan ‘dari dalam’ –hati nurani yang murni. Lemah-lembut berarti kita tidak pernah memaksa orang lain termasuk pada hal-hal yang kelihatan mulia menurut ukuran kita sendiri. Kelemah-lembutan yang dimaksud di sini bukanlah terutama masalah ‘teknis’ atau ‘faktor luar’ (yang dapat dipelajari) seperti biasanya diterapkan oleh mereka-mereka yang mempromosikan produk tertentu yang hanya bertujuan untuk menjual produknya. Kelemahlembutan kristiani mengalir dari dalam hati, hati yang didiami oleh Roh Tuhan, yang ditujukan kepada semua orang dengan tulus.

Kelemahlembutan terhadap diri sendiri

Kelemahlembutan nampak melalui hidup yang bebas dari kekerasan (pikiran, perkataan dan perbuatan), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan baru, meskipun kita mempunyai kesempatan dan kemampuan melakukan pembalasan. Kelemahlembutan adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal. 5:22-23).

Lemah lembut terhadap diri sendiri dapat juga kita artikan ‘ramah terhadap diri sendiri’.
Ada kesan bahwa pada umumnya budaya dan ajaran kekristenan lebih banyak menekankan keramahan kepada orang lain. Jarang sekali kita dengar nasihat untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri. Ramah terhadap diri sendiri tidak sama dengan ’cinta diri’ atau 'pementingan diri'. Ramah terhadap diri sendiri adalah bagian dari ’mengasihi diri’. Bagi orang Kristen, ’mengasihi diri’ bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah self-pity (rasa kasihan terhadap diri sendiri, yang nampak misalnya dengan banyak mengeluh dan bersungut-sungut), selfishness (pementingan diri sendiri). Allah sendiri mengasihi kita, karenanya kita harus mengasihi apa yang Tuhan kasihi.

Keramahan terhadap diri sendiri mewujud dalam sikap menerima diri dengan segala keberadaannya, tidak memaksa diri menjadi seperti orang lain (karena kita akan stress dan bahkan frustrasi), mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada orang lain; tidak cemburu pada keberhasilan orang, tidak memendam dendam dalam hati. Jadi, ketika kita menerima segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan di dunia ini dan bersikap serta berbuat sebagaimana Tuhan kehendaki dalam kehidupan keseharian, di situlah terjadi kebahagiaan sejati. Kebahagiaan seperti itu dapat kita peroleh saat ini juga dengan pertolongan Tuhan.

Monday, November 10, 2008

MENGAPA ANDA KE GEREJA?

Ada kisah tentang seekor anjing yang ‘religius’. Preta, seekor anjing di Portugal, sanggup berjalan menempuh jarak 26 kilometer setiap minggu untuk bisa mengikuti ibadah. Setiap hari Minggu Preta pergi meninggalkan rumah tuannya pada jam lima pagi. Bekas anjing jalanan ini berjalan sendirian menuju ke sebuah gereja untuk mengikuti ibadah pada pukul 07.30 dan berada di tempat favoritnya di dalam gereja yakni di samping altar. Pada saat jemaat berdiri atau duduk, Preta juga melakukan hal yang serupa. Ketika ibadah usai, biasanya ia kembali berjalan kaki, namun kadangkala ia menumpang naik mobil orang-orang yang dikenalnya. Jumlah jemaat gereja tersebut meningkat karena banyak orang yang ingin melihat kehadiran anjing tersebut (Dikutip oleh Yustinus Sumantri dari Harian Surabaya Post Rabu, 11 Juli 2001).

Mengapa orang-orang Kristen datang ke gereja pada hari Minggu? Nampaknya, masing-masing punya alasan tersendiri. Ada yang mau melihat sesuatu yang menarik, ada yang mungkin merasa takut dihukum Tuhan, ada yang merasa malu jika orang lain tahu ia tidak pergi ke gereja, ada yang mau bertemu dengan teman-teman, bahkan bisa saja ada yang hanya sekadar kebiasaan saja tanpa mengerti makannya (seperti Preta).

Hukum Taurat berbunyi, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.” (Kel 20:8). Kata sabat berasal dari kata Ibrani ‘Sabbath’ yang artinya: istrirahat, yaitu istirahat dari pekerjaan sekaligus beribadah kepada Tuhan. Perubahan waktu istirahat dan ibadah dari hari Sabtu menjadi hari Minggu, dimulai oleh jemaat mula-mula, terutama mengacu pada hari kebangkitan Tuhan Yesus dan karena faktor kebijakan pemerintahan Romawi yang membuat hari Minggu menjadi hari libur resmi dalam wilayah kekuasaannya. Perubahan ini tidak menjadi masalah, karena yang penting adalah ‘isinya’ yaitu mengkhususkan hari untuk istirahat dan beribadah secara khusus. Dalam hal ini sedikitnya ada empat hal yang perlu kita renungkan berkaitan dengan hari Sabat (Minggu).

Pertama, bersekutu secara khusus dan khusuk dengan Tuhan melalui pujian, doa dan terutama mendengarkan firmanNya. Inilah waktu untuk memuliakan Tuhan yang akan berlanjut pada hari Senin sampai Sabtu untuk tidak menyembah dan mengabdi kepada Mamon atau ilah materialisme yang banyak dipuja oleh orang pada zaman konsumerisme ini. Pada hari Minggu, kita merayakan keselamatan kita oleh penebusan Tuhan Yesus yang sudah mengalahkan maut melalui kebangkitanNya.

Kedua, beristirahat secara fisik, intelektual, dan emosional. Sabat mengingatkan kita untuk tidak mengandalkan pikiran kita dengan berbagai rencana dan cara kita mencapai keinginan-keinginan kita tetapi sepenuhnya mengandalkan Allah. Sabat adalah juga kesempatan untuk istirahat memikirkan pekerjaan. Sayangnya, ada orang Kristen yang mendambakan untuk beribadah di gereja pada saat dia bekerja, tetapi membayangkan pekerjaannya ketika dia berada di gereja. Sabat hendaknya memberi kedamaian hati dan pikiran dengan membuang segala macam yang mengganggu pikiran, ambisi, dan aneka keinginan.

Ketiga, bersekutu dengan sesama umat percaya. Dalam berbagai jemaat hal ini sangat sulit karena banyak orang yang tidak saling mengenal. Orang datang, duduk, dan pulang tanpa saling menyapa dengan yang lain. Jemaat-jemaat masakini hendaknya berusaha mempererat persaudaraan di antara sesama anggota jemaat.

Keempat, memberi kesempatan kepada ciptaan atau makhluk lain merayakan hidupnya. Dulu, banyak ternak dipekerjakan dalam pertanian dan pada hari Sabat mereka juga diberi kesempatan beristirahat. Saat ini makhluk ciptaan Tuhan banyak yang terganggu oleh aktivitas manusia dan deru suara berbagai peralatannya yang memekakkan telinga. Sabat dapat juga sebagai sarana menerapkan pola hidup sederhana dengan tidak melahap makanan berlebihan dan memboroskan enerji dan benda-benda yang merusak lingkungan.

Singkatnya, dengan istirahat dan beribadah pada hari Minggu dapat membawa kedamaian di dalam hati kita secara pribadi, damai dengan sesama umat dan damai dengan makhluk dan alam ciptaan Tuhan. Sebab, Tuhan telah mendamaikan diri-Nya dengan kita.

Perlu ditambahkan bahwa kita harus menjaga agar Sabat tidak dibelokkan menjadi alasan ketidakpedulian terhadap sesama. Hal ini terjadi dalam kehidupan orang-orang Yahudi, yang membuat peraturan dengan sangat kaku hingga mereka menganggap bersalah melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Itu sebabnya Yesus dengan tegas menolak pandangan itu dengan mengatakan, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Markus 2:27-28).

Sunday, November 2, 2008

HILANG DI RUMAH SENDIRI

Agaknya kita jarang memberi perhatian pada sikap anak sulung dan sikap bapa terhadap anak sulung seperti terdapat dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15). Biasanya kita fokus pada kasih bapa kepada anak bungsu yang besikap dan berperilaku bobrok dan pertobatannya. Mungkin kita merasa tidak seperti anak yang bungsu. Baik, tentu. Kiranya kita tidak ‘hilang’ juga seperti anak yang sulung.

Zac Poonen menganalogikan anak sulung itu sebagai orang-orang Kristen yang aktif dalam kehidupan bergereja. Jika si bapa di dalam perumpamaan ini menggambarkan Allah, anak yang lebih tua ini dapat digambarkan sebagai seorang Kristen. Dalam perumpamaan ini disebutkan bahwa ia pulang ke rumah sesudah bekerja di ladang ayahnya. Ia bukan seorang anak muda yang malas, yang duduk di rumah ayahnya dan menikmati kekayaan bapanya. Ia adalah seorang yang bekerja keras untuk bapanya. Ia kelihatan lebih mengasihi bapanya dan kelihatan lebih saleh ketimbang adiknya. Tetapi sesungguhnya ia sama saja dengan adiknya dalam hal ‘pementingan diri’. Anak yang sulung ini menggambarkan orang-orang percaya yang aktif dalam pekerjaan Tuhan dan kelihatannya mengabdi kepada Tuhan, tetapi masih berpusat kepada dirinya sendiri tidak berpusat kepada Bapa.

Berdasarkan sikap anak yang sulung ini, kita bisa melihat sedikitnya empat ciri-ciri orang yang 'terinfeksi virus' pementingan dan pengagungan diri.

(1) Kecemburuan. Anak sulung ini cemburu kepada saudaranya yang bungsu dan kecemburuannya membuatnya marah. Saat adiknya pulang, ia merasa posisinya di dalam rumah terancam. Ia merasa adiknya sudah menjadi pusat perhatian di rumah. Orang yang ‘cinta diri’ senang mendapat perhatian dan pujian orang lain. Orang yang ‘cinta diri’ sangat mudah merasa sedih, mengeluh dan marah.

(2) Kesombongan. Anak sulung itu mengatakan: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku (ayat 29). Ia menyombongkan kesetiaannya kepada bapanya. Kesombongan seseorang muncul, bukan saja karena kebaikan-kebaikan dan keberhasilannya, melainkan juga karena seseorang itu merasa orang-orang di sekitarnya tidak sebaik dirinya. Kesombongan selalu merupakan akibat dari pembandingan diri sendiri dengan orang lain. Jika anak yang bungsu ini lebih baik melayani bapanya, yang sulung tidak akan merasa sombong.

Kesombongan jugalah penyakit orang Farisi yang berdoa “Terima kasih Tuhan karena aku tidak seperti orang lain....... “ Terkadang dalam bentuknya yang lebih halus bisa juga guru sekolah Minggu terjatuh pada kesombongan yang sama dengan berdoa, “Terima kasih Tuhan, karena kami tidak seperti orang Farisi”. Bahkan kita pun bisa saja terjatuh dalam kesombongan kalau dalam hati kita berkata, “Terima kasih Tuhan karena kami tidak seperti guru sekolah Minggu itu”.

(3) Menghakimi. Yang sulung berkata bahwa adiknya telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur (ayat 30). Ia lebih senang mengungkapakan kekurangan adiknya ketimbang menutupinya. Padahal, ia sendiri tidak mengetahui secara pasti apakah adiknya benar-benar seperti itu. Apakah kita mengetahui kesalahan-kesalahan orang lain? Apakah secara tersembunyi kita senang melihat kajatuhan orang lain, khususnya mereka yang tidak kita sukai? Ketika kita membenci seseorang, kita sangat senang mengatakan kekurangan orang lain. Dan ini tidak sehat.

4. Ketidakpedulian. Orang yang cinta diri tidak memiliki kasih yang murni kepada orang lain. Inilah akar dari sikap tidak bersahabat bahkan kebencian terhadap orang lain. Yang sulung ini tidak pernah berusaha secaraa sukarela mencari adiknya ini, padahal sudah bertahun-tahun meninggalkan rumah. Ia tidak peduli apakah adiknya hidup atau mati. Bagaimana sikap kita terhadap orang yang meninggalkan kita, keluarga kita, gereja kita? Lebih mudah mempersalahkan bahkan menghukumnya. Lebih sulit mengasihi dan menolong mereka.

Kasih Bapa

Kini saatnya kita mengalihkan perhatiaan dari perumpamaan ini kepada Allah, Bapa kita, dan diri kita sendiri. Dalam perumpamaan ini kita lihat bahwa bapa itu memiliki kasih yang sama kepada kedua anaknya. Ia menyambut anaknya yang bungsu. Ia juga keluar mendapatkan anaknya yang sulung. Perumpamaan ini menyatakan kepada kita betapa besarnya kasih Allah. Ia mengasihi kita. Ia menghendaki kita memiliki milikNya, tetapi Ia harus membebaskan kita pertama-tama dari sikap ‘pementingan dan pengagungan diri’. Kita pun akan kembali ke ‘rumah’ yaitu kembali menjadi bagian dari keluarga Allah.

Wednesday, October 29, 2008

TEGUH MENGHADAPI MUSUH

Kita sudah biasa menerapkan ‘pemberian berbasalan setimpal’ dalam kehidupan sehari-hari. Kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Hadiahnya pun bisa saja diusahakan agar harganya kurang lebih sama. Kalau orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa kalau kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA berikutnya diadakan di rumahnya dan sebaliknya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”. Itu pula yang sudah lama terjadi bahkan dihadapi oleh Yesus dalam pelayananNya.

Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengarnya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas (Luk. 6:32-36):
· Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32)
· Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33)
· Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34)

Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat manusia. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......” Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka, apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!” “Itu belum setimpal dengan kesalahanmu”. “Kok tidak mati saja dia sekalian!” dan sebaginya.

Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...” Amat berat, tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan sahabat bagi semua orang. Kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan melahirkan perdamaian di dunia ini dan itu akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Sedikitnya ada tiga hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Orang yang menyimpan kebencian, sakit hati dan kemarahan tidak mungkin berbahagia. Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita. Dalam hal ini, mengabarkan Injil bukanlah terutama melalui pengajaran atau pemberitaan dengan kata-kata, melainkan pertama dan terutama melalui keteladanan hidup. Ketiga, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah (Luk. 6: 36). Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.

Thursday, October 23, 2008

HATI-HATI DENGAN 'KESUKSESAN'


Seringkali orang kehilangan akal sehat ketika keinginan begitu membara di dada. Baru kemudian, sesudah nasi terlanjur menjadi bubur, muncullah perasaan tidak aman. Takut reputasi terpuruk jika perbuatan buruk tersingkap. Kita bisa belajar dari kasus Daud. Ia bekerja sebagai gembala sebelum menjadi raja. Melalui 2 Samuel 11 kita bisa tahu bahwa Daud sudah berada pada puncak ‘karir’. Sekarang hidupnya sukses. Ia juga terkenal. Ia tidak maju lagi berperang. Ia cukup memerintahkan para jenderalnya dan pasukannya maju berperang. Ia pun banyak waktu luang. Dalam ayat 1-2 dikatakan bahwa ia berjalan berkeliling istana dan saat itulah ia melihat Batsyeba dan akhirnya membawa dia jatuh ke dalam dosa. Ia jatuh ke dalam dosa sesudah ‘sukses’. (Hati-hatilah dengan kesuksesan dan kekuasaan duniawi! Dan tidak ada salahnya juga hati-hati terhadap orang yang sukses dan punya kuasa).

Ketika dosanya mulai tersingkap (karena Batsyeba mengandung), Daud mulai merasa tidak aman. Dosanya akan merusak reputasinya sebagai orang terhormat. Ia pun berusaha memoles diri dengan menutupinya melalui strategi yang terbilang amat ‘rapi’ walaupun amat rapuh.

Strategi 1
Uria disuruh pulang dari medan perang (ayat 6-11). Mengapa? Daud mau menciptakan kesan kepada orang bahwa kehamilan Batsyeba adalah hasil hubungannya dengan suaminya, Uria. Tetapi, Uria tidak pulang ke rumah, ia tinggal di istana. Mungkin ia merasa tugasnya lebih penting daripada urusan keluarga. Strategi pertama gagal.

Stategi 2
Daud membuat Uria mabuk dengan harapan, ia akan pulang menemui istrinya. Uria tidak pergi juga kepada istrinya (ayat 12-13). Strategi kedua gagal juga.

Strategi 3
Daud memasuki strategi kekejaman. Ia menyuruh Uria kembali ke medan perang dan berpesan agar ia ditempatkan pada barisan terdepan. Uria pun terbunuh. Daud merasa senang, tetapi Allah tidak senang. Sebab, perbuatan Daud jahat di mata Tuhan (ayat 27). Untuk sementara Daud merasa ‘aman’. Rasa aman yang semu. Ia dapat memoles dirinya seolah tidak bersalah apa-apa.

Rasa aman semu ini tidak bertahan lama. Tuhan mengutus nabi Natan menegur Daud. Tugas nabi Natan ini bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, raja punya kuasa dan dapat dengan mudah membunuh Natan. Natan menyampaikan cerita tentang perlakuan tidak adil seorang kaya terhadap si miskin (2 Sam 12: 2-4). Mendengar itu Daud sangat marah dan berkata, “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati” (ayat 5). Kemudian, Natan berkata kepada Daud, “Engkaulah orang itu!”

Kita bisa bayangkan bagaimana Daud mendengar perkataan Natan itu. Mungkin rasanya seperti disambar petir. Dugaan Daud, apa yang dikatakan Natan adalah fakta yang terjadi di lingkungan kerajaannya, sehingga ia mengatakan bahwa pelakunya harus dibunuh. Hukuman kepada orang lain boleh berjalan, kesalahan sendiri boleh ditutupi! Ternyata, pelakunya adalah Daud sendiri. Tetapi akhirnya Daud mengaku, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” (12:13). Ini adalah pengakuan yang bisa saja berat tetapi ia adalah bagaikan obat. Rasa aman yang sempurna hanya dapat kita peroleh dari kebaikan dan pengampunan Tuhan.

Mungkin ada pertanyaan yang mengemuka, “Bukankah Batsyeba juga bersalah? Mengapa ia tidak menjaga diri ketika mandi supaya tidak dilihat orang lain? Mengapa ia mau memenuhi keinginan Daud? Hal-hal senada sering muncul selama ini secara khusus untuk mengalihkan persoalan atau sedikitnya mengurangi rasa bersalah para pemerkosa. Memang perempuan juga perlu menjaga diri supapa tidak menimbulkan pencobaan kepada laki-laki.Tetapi, dalam kasus Daud, inti masalahnya adalah penyalahgunaan kekuasaan. Daud harus bertanggungjawab atas dosanya. Dan ternyata, Daud sendiri tidak melempar kesalahan. Ia sadar atas dosanya.

Ketika kita jatuh ke dalam dosa, yang bentuknya bisa saja beragam mulai dari yang amat halus seperti kecemburuan dan iri hati, hingga yang amat kentara seperti pembalasan dendam dan sebagainya, kita mesti mengatasinya dengan sikap kristiani. Ketika kita terjatuh memperlakukan orang secara tidak adil dalam pikiran, kata dan perbuatan, kita tidak akan merasa aman jika kita terus berusaha dengan strategi-strategi licik untuk menutupi kelemahan kita bahkan hingga mengorbankan orang lain. Ketika kita jatuh, Tuhan terbuka menerima kita kembali jika kita dengan tulus mengaku dosa dan pengampunan Tuhan mendorong serta menguatkan kita untuk hidup lebih berkenan kepada-Nya.

Monday, October 20, 2008

NATAL: KEMBALI KE MAKNA AWAL


Domba-domba lebih memahami peristiwa Natal pertama ketimbang para imam di Yerusalem. Hal yang sama juga terjadi sekarang.
(Thomas Merton)
********************
Perayaan Natal membakar semangat konsumerisme. Jajaran produksi dan pusat-pusat perbelanjaan sedang menanti tibanya saat Natal. Mereka berusaha menjual lebih banyak dan meraup untung lebih banyak pada Natal tahun ini dibanding tahun lalu. Natal menyuburkan konsumerisme dan konsumersime mengakibatkan pemanasan global

DI MANA KITA BERADA?

Perayaan natal di Indonesia barangkali memiliki kekhususan dibandingkan dengan yang terjadi di negara lain di dunia ini. Misalnya, natal sudah dirayakan sejak awal bulan Desember yang sebenarnya masih masa minggu-minggu Advent. Bagi orang Kristen Batak, mungkin banyak di antara mereka yang mengikuti ibadah natal lebih dari sepuluh kali mulai natal kumpulan marga, kantor atau lingkungan kerja, lingkungan domisili, dan di gereja mulai natal anak-anak sekolah Minggu sampai perayaan natal tanggal 26 Desember. Karena banyaknya, bahkan ada yang merayakannya pagi atau siang hari. Di sini nyanyian ‘malam kudus’ atau dalam bahasa Batak Sonang ni bornginna i juga dinyanyikan sambil mematikan lampu dan menyalakan lilin tetapi tetap terang benderang karena di siang bolong.

Di samping itu, tidak rahasia lagi bahwa bagi sebagian orang perayaan natal tidak bisa dipisahkan dengan menu istimewa. Itu sebabnya ada yang meplesetkannya dalam bahasa Batak, yang inti dalam natal adalah sukacita karena tubu Tuhanta (kelahiran Tuhan) menjadi tu butuhanta (urusan perut). Bagi sebagian orang, Natal tidak lengkap tanpa binda (potong-memotong ternak secara bersama). Kenyataan-kenyataan demikian dapat mengakibatkan perayaan natal hanya menyisakan sedikitnya empat hal yang tidak perlu, yakni:

(1) Sampah, baik sisa dan bungkus makanan maupun bahan dekorasi. Sisa-sisa ini menambah pekerjaan petugas kebersihan kota dan (terutama) menambah kehancuran alam semesta.

(2) Penyakit. Sebab, sejak masa latihan dan perayaan yang begitu banyak diikuti bisa membuat tubuh menjadi lelah, masuk angin (apalagi karena Desember umumnya musim hujan), dan kelebihan kolestrol. Belum lagi, bagi sebagian ibu-ibu yang karena lama menunggu di salon terpaksa malam harinya tidur telungkup supaya riasan rambutnya tidak rusak dan bisa dipakai untuk perayaan natal yang lain besok harinya. Maklumlah, di samping agak mahal biayanya juga terlalu lama menunggu di salon. Kalau tiga malam telungkup, apa tidak menyebabkan penyakit? Ada pula kaum perempuan yang mengubah rambutnya. Yang keriting diluruskan alias direbonding (untuk itu butuh lima jam). Yang rambutnya lurus dikeritingkan. Yang ubanan dicat atau disemir hitam. Yang hitam diubah menjadi warna abu-abu atau merah jambu bahkan ada juga yang berbelang-belang. Agak repot memang.

(3) Hutang.

Baik hutang Panitia yang mungkin tidak berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan, maupun hutang keluarga-keluarga karena pengeluarannya yang membengkak. Saya mengamati bahwa Dinas Pegadaian di beberapa tempat lebih ramai dikunjungi orang pada bulan Desember. Banyak orang menggadaikan barang-barangnya untuk biaya yang berkaitan dengan perayaan natal. Sebenarnya tidak ada hubungan perayaan natal dengan kursi atau gordin jendela baru. Tetapi bagi sebagian orang, saat natal merupakan waktu untuk membeli semua itu. Tidak salah memang, asal jangan sampai orang Kristen kehilangan sukacita dan damai pada saat perayaan ini, hanya karena faktor-faktor lahiriah.

(4) Perselisihan.

Mengapa? Orang yang lelah biasanya gampang tersinggung dan marah. Perselisihan bisa terjadi di dalam tubuh kepanitiaan Natal, di tengah keluarga dan lain-lain. Amat menyedihkan jika hal-hal inilah yang tersisa, sehingga inti natal sebagai’ sukacita dan damai sejahtera’ menjadi sirna. Agar perayaan natal yang kita lakukan sungguh-sungguh menjadi kemuliaan Tuhan dan sukacita serta damai sejahtera bagi kita, kita perlu berpaling sejenak pada sejarah natal, bagaimana perayaan gerejawi seharusnya dilakukan, dan bagaimana merayakan natal yang bermakna.

SEJARAH PERAYAAN NATAL

1. Tradisi Timur

Perayaan natal pertama dirayakan di Mesir (abad ke-3) dan menyusul di Galilea (tahun 360). Keduanya merayakannya pada tanggal 6 Januari. Ketika itu, pada tanggal yang sama masyarakat sekitar merayakan hari lahir Aion, dewa Yunani yang mewakili ‘waktu yang kekal’. Penekanan makna natal ketika itu ialah “kelahiran yang kekal dari Logos (Bahasa Yunani yang artinya "Firman yang menjadi manusia"). Kemudian, menyusul lagi dirayakan di Konstantinopel (379), Antiokia (386), dan Yerusalem (abad ke-6 atau ke-7). Penekanan perayaan natal pada waktu itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba. Jadi, 'kesederhanaan' sangat penting dalam hal ini.

2. Tradisi Barat

Di Barat, Natal pertama sekali dirayakan di Roma (akhir abad ke-4), yang dirayakan pada 25 Desember. Pada waktu yang sama juga ada perayaan non-kristen yaitu Pesta Sol Invictus, perayaan kelahiran ‘Dewa matahari yang tidak terkalah-kan’. Penekanan perayaan Natal ketika itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba. Menghubungkannya dengan 'kandang domba' seperti tradisi Timur juga menekankan unsur 'kesederhanaan'.

MAKNA AWAL PERAYAAN NATAL

Pada awalnya, perayaan natal dirayakan sedikitnya berkaitan dengan tiga hal penting sebagai berikut.

(1) Sarana Kesaksian

Seperti sudah disinggung, pada mulanya perayaan natal berlangsung bersamaan waktunya dengan perayaan non-Kristen Dengan demikian perayaan natal berperan sebagai sarana kesaksian kepada dunia tentang kebenaran sejarah kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini, sekaligus mengajak mereka yang belum percaya dalam persekutuan Kristen. Sebab, Yesus yang lahir itu adalah Juruselamat dunia.

(2) Peristiwa Liturgis

Perayaan natal tersebut menekankan peranan ibadah dan penghayatan pentingnya kedatangan Tuhan. Hal ini mengacu pada suasana seperti dalam Injil Lukas: (1) dunia dengan egoismenya; (2) Kesederhanaan kandang domba; (3) Gerak hidup yang dipimpin oleh terang cahaya bintang, yang menekankan pimpinan Tuhan dalam kehidupan.

(3) Sarana Penggembalaan

Perayaan natal dimaksudkan agar warga jemaat tidak campur atau terlibat dalam perayaan yang dilaksanakan oleh orang-orang non-Kristen. Orang Kristen merayakan suatu peristiwa yang jauh lebih besar dari perayaan-perayaan non-Kristen. Mereka merayakan natal di gereja. (Ironisnya, sekarang ini yang lebih merayakan Natal justru 'pasar' atau yang berkaitan dengan bisnis.)

PERAYAAN NATAL YANG BERMAKNA

Menurut Konfesi Augsburg (pengakuan Iman Lutheran), pasal XV, perayaan gerejawi yang dapat dipelihara adalah: · Yang dapat dilaksanakan tanpa berdosa · Yang menciptakan damai dan ketertiban dalam gereja · Bukan alat demi keselamatan · Bukan mengambil hati Allah untuk memperoleh anugerah Bertolak dari makna natal sebagaimana dalam awal sejarahnya dan makna perayaan gerejawi (termasuk perayaan natal) sebagaimana disebut dalam Konfesi Augsburg tadi, berikut ini ada beberapa hal yang menurut hemat saya perlu sungguh-sungguh mendapat perhatian kita, yakni:

1. Hendaknyalah perayaan natal dilakukan sejak 24 Desember dan bisa dilanjutkan hingga minggu pertama Januari. Jika perayaan dilakukan sebelum natal, alangkah baiknya kalau yang dirayakan adalah ‘perayaan penyambutan natal’ atau perayaan ‘Advent’.

2. Yang menjadi penekanan adalah ibadah, perenunungan, kesederhanaan dan aksi konkret, tidak terutama kemeriahan fisik dan ‘pesta makan’. Secara khusus jemaat-jemaat yang menerima berkat lebih banyak, perayaan natal inilah kesempatan membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan. Pengeluaran perayaan natal ribuan dollar atau jutaan rupiah hanya untuk diri sendiri (makan, hadiah, dekorasi dsb) sudah menyimpang dari hakekat perayaan natal. Kita perlu mendidik anak-anak untuk ‘memberi’ pada masa natal, bukan hanya menerima hadiah-hadiah.

3. Acara perayaan hendaknya disusun sedemikian rupa, bukan menjadi ajang pamer diri tetapi mengajak semua peserta ibadah merenungkaan makna natal. Tidak terlalu panjang atau bertele-tele, sehingga tidak ada lagi perhatian yang tersisa untuk mendengarkan kotbah atau pemberitaan firman.

4. Toko-toko dan pusat-pusat perbelanjaan di beberapa kota di dunia sudah sibuk dengan berbagai 'simbol-simbolnya' sendiri untuk menarik minat konsumer. Mereka seolah satu bahasa mengatakan "inilah jalan menuju kebahagiaan masa natal: beli....beli.....beli...." . Lebih baik mendekorasi hati kita (dengan kegembiraan, bebas polusi amarah dan kebencian); sinarnya akan lebih menerangi ketimbang ribuan watt lampu natal. Ciuman di kening suami/ istri dan anak-anak dengan ucapan tulus: 'aku sangat mengasihimu' lebih bermakna ketimbang 'hadiah-hadiah natal' semahal apa pun. Karena, sesungguhnya KASIH Allah itulah yang kita rayakan.

5. Kelahiran Yesus adalah dalam rangka ‘Imanuel’ (Allah beserta kita) dan demi damai sejahtera. Karenanya, perayaan natal kiranya menolong kita semua menghayati kasihNya yang begitu besar dan kita sungguh-sungguh memiliki ‘damai sejahtera’ jauh dari ketegangan apalagi perselisihan pada masa-masa perayaan Natal dan selama hidup kita.

6. Khusus untuk tahun 2008 ini hendaknya gereja-gereja mengacu pada Tema Natal Bersama KWI dan PGI 2008 yakni: “Hiduplah Dalam Perdamaian dengan Semua Orang" (Bdk. Roma 12:18). Meski tema ini dimaksudkan mengarah pada pengembangan sikap inklusif dan antikekerasan khususnya dalam menghadapi Pemilu 2009, orang-orang Kristen Indonesia dapat menghubungkannya secara khusus dalam kehidupan bergereja.

Saturday, October 18, 2008

BERKAT, MUJIZAT DAN RAHMAT

Refleksi 44 Tahun Victor Tinambunan
Menurut informasi yang saya terima, saya lahir 44 tahun yang lalu, persisnya pada hari Minggu tanggal 18 Oktober 1964. Saya tidak tahu perisnya bagaimana dan kapan saya lahir. Maklum, saya belum ‘berpikir’ pada saat itu. Ada pula yang mengatakan saya lahir tanggal 18 Nopember 1964 seperti tertera pada semua dokumen-dokumen resmi seperti Ijazah, KTP, dan Paspor. Tetapi saya lebih percaya pada ibu saya yang mengatakan kelahiran saya 18 Oktober. Waktu itu memang tanggal lahir tidak terlalu penting di desa kelahiran saya, yang lebih penting adalah anak yang lahir itu. Belakangan saya tahu, ayah saya mengubahnya menjadi tanggal 18 Nopember sebagai ‘tempat persembunyiannya’. Maksudnya? Ayah saya bekerja sebagai guru agama di Sibolga ketika saya lahir. Dia permisi pulang (yang waktu itu membutuhkan perjalanan panjang) dengan alasan untuk berada bersama keluarga menanti kelahiran saya. Setelah saya lahir, mestinya dia harus kembali ke Sibolga. Tetapi, dia masih memperpanjang liburnya lebih dari satu bulan lagi. Dengan melaporkan kelahiran saya 18 Nopember, keterlambatannya masuk kerja dapat dimaklumi. Jadi, proses pergantian tanggal lahir ini bukan masuk dalam rangkaian mujizat, tetapi sebuat siasat, yang menurut saya sebuah kesalahan. Tapi, tidak ada gunanya lagi membahasnya, ayah saya sudah pensiun dan tidak akan pernah berbohong lagi dalam hal yang sama karena ibu saya sudah 68 tahun dan menurut perhitungan manusia tidak akan melahirkan anak lagi.

Saya percaya bahwa kelahiran dan kehadiran seseorang ke dunia ini, bukanlah secara kebetulan. Allah pasti mempunyai rencana yang baik bagi anak-anakNya. Tempat dan keadaan kelahiran kita berbeda-beda. Pola asuh kita berbeda. Pengalaman hidup kita berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama: kita menerima kehidupan dari Tuhan sang Pemberi kehidupan.

Untuk menggambarkan perjalanan hidup saya, ketiga kata 'berkat', ‘mujizat’ dan ‘rahamat’ menggambarkan semuanya.

1. Tenaga Kerja Bayi

Ketika saya masih dalam kandungan, saya sudah bekerja di sawah. Memang tidak memegang cangkul, tetapi saya ikut terjun ke sawah. Saya berada di rahim ibu saya ketika dia bekerja di sawah saat saya dalam kandungannya. Ibu saya juga berkisah, ia amat bergumul karena beratnya kehidupan yang ia hadapi. Ia terpisah dengan ayah saya. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Apakah ia pernah ke bidan memeriksa kandungannya? Sama sekali tidak. Ia hanya menunggu belas kasihan Tuhan. Apakah ia melahirkan dengan bantuan perawat atau bidan? Sama sekali tidak. Saya lahir di balik pintu rumah. Ini adalah mujizat.

2. Gizi Kelinci

Masih di kandungan saja sudah bekerja, apalagi sesudah bisa berjalan. Saya sangat cepat ‘dijadikan dewasa’. Usia 6 tahun sudah harus ikut bekerja di ladang, untuk menjaga padi agar tidak dilahap burung pipit. Bagaimana dengan giji? Menurut teori ahli gizi sekarang, yang saya konsumsi tidak layaknya manusia. Menu sudah dibakukan: pagi dengan singkong, nasi, ikan asin; siang: singkong, daun singkong, ikan asin dan nasi, malam ikan asin, nasi dan singkong dan daunnya. Kekecualian makan daging ayam dalam dua kemungkinan (1) Kalau ada anggota keluarga yang sakit; (2) Kalau ayam itu sendiri yang sakit, sayang dibuang. Bagaimana bisa bertahan hidup dengan pola makan seperti itu? Itu adalah ‘mujizat’ juga.

3. Kekerasan Berlapis

Ayah saya seorang yang memiliki temperamen yang cepat memanas. Ia tidak saja keras, tetapi terkadang kasar dan bahkan ada kalanya kejam kepada anak-anaknya, baik melalui kata-kata maupun dengan pukulan telaknya. Ia tidak sungkan memukul dengan begitu keras anaknya yang masih kecil, termasuk saya sendiri. Padahal, ia sangat tekun berdoa dan membaca Alkitab. Setiap malam kami berdoa sebelum makan dan berdoa, bernyanyi dan membaca Alkitab setiap malam. Lama sekali perbuatannya membekas dalam hati saya. Baru empat tahun lalu saya memutus rantai kebencian saya kepadanya dan syukur kepada Tuhan hubungan kami jauh lebih hangat saat ini. Mengapa ayah saya kasar dan terkadang melampaui batas memukul anaknya padahal ia rajin berdoa dan membaca Alkitab? Sekiranya ia tidak rajin berdoa dan membaca Alkitab, mungkin saja dia kalap dan membunuh saya waktu kecil. Berpikir seperti ini lebih tepat dan menyembuhkan. Lagi pula, ayah saya memiliki banyak kebaikan. Fokus pada kebaikan Tuhan melalui hidupnya dan bukan pada kekurangannya merupakan sikap kristiani yang selayaknya.

Di samping kekerasan di dalam keluarga, beberapa kali saya kurang beruntung dari sebagian guru saya mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Hari pertama saya di kelas satu SD, guru memukul kening saya (akhirnya saya berhenti sekolah dan baru melanjutkannya satu tahun kemudian, sesudah berusia 7 tahun). Di kelas 1 SMP guru biologi dengan keras membenturkan kepala saya ke papan tulis karena saya mengetik sendiri lembaran kerja, tidak membeli dari guru ybs. Di SMA guru fisika dengan keras menendang saya dari belakang karena saya memijak tanaman.

Yang lebih mengherankan, di gereja juga saya pernah dilibas oleh dirijen koor. Rumah, sekolah, gereja menjadi arena kekerasan. Itulah yang terjadi jika yang terpenting dalam koor adalah performance (penampilan), menarik perhatian orang bukan terutama pujian untuk Tuhan. Apalah artinya koor mengguncang panggung dan mengundang terpuk tangan riuh tetapi mengerdilkan iman?

Membaca kisah-kisah penjahat yang meringkuk di penjara-penjara Barat, hampir semuanya mereka adalah orang-orang yang mendapat tindak kekerasan di tengah keluarga. Kalau fakta ini dapat menjadi patokan, saya sebenarnya lebih berpotensi menjadi penjahat ulung. Sebab, saya tidak saja menerima kekerasan di rumah tetapi juga di sekolah dan –celakanya—di gereja pula. Tapi inilah saya, dengan segala keberadaan yang disertai keterbatasan dan kelemahan, walaupun agaknya tidak masuk dalam kategori penjahat ulung. Saya tidak melihat keadaan saya sekarang sebagai prestasi saya, tetapi kembali ke ‘mujizat’ yang datangnya dari Tuhan.

4. Tangan Tuhan

Sedikitnya ada tiga peristiwa yang secara khusus mengingatkan saya akan pertolongan Tuhan yang datang tepat waktu melepaskan saya dari maut. Pertama, saya pernah hampir hanyut terbawa arus sungai besar, yang dalam hitungan detik sudah mendekati air terjun. Seorang teman berhasil meraih tangan saya dan selamat. Sampai hari ini, saya tidak mengetahui di mana teman saya ini berada. Dia adalah tangan Tuhan menyelamatkan saya. Kedua, saya pernah mengalami kecelakaan lalulintas. Kabaikan hati supir dan kernet bus yang kebetulan lewatlah yang membawa saya ke rumah sakit. Sampai hari ini saya tidak pernah tahu siapa mereka yang menolong saya. Mereka adalah tangan Tuhan menyelamatkan saya. Ketiga, sudah selama 38 tahun saya lebih lama tidak fit secara fisik. Ketika berusia 6 tahun saya pernah jatuh dan bagian belakang saya membentur pada sebatang kayu. Tidak jelas, apakah rasa sakit yang saya tanggung berawal dari situ, tetapi hingga hari ini saya lebih lama menanggung rasa sakit. Tetapi, saya lebih fokus pada Tuhan dan apa yang bisa saya lakukan dalam hidup ini, sehingga meskipun rasa sakit ada, saya tidak menderita.

5. Pelayanan

Setelah menyelesaikan studi teologi 1989, saya menjalani masa vicar selama dua tahun (di Kantor Pusat HKBP Tarutung, di Kantor HKBP Distrik Medn Aceh dan di HKBP Ressort Sei Agul Medan). 26 Desember 1991 saya menerima tahbisan pendeta. Bukan karena saya layak, tetapi karena dilayakkan. Di sini rahmat Tuhanlah berkerja bukan karena talenta dan bakat saya hebat. Saya diutus melayani sebagai Pendeta HKBP Ressort Sihorbo (1992-1994). Kemudian melanjutkan studi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta (1994-1996), The Lutheran Theological College at Philadelphia, USA (1996-1998). Tahun 1999-2001 menjadi dosen di STT HKBP Pematangsiantar. Selanjutnya menjadi dosen di STT BNKP Gunungsitoli atas kerjasama HKBP, VEM dan BNKP (2001-2005). Bulan Juni 2005 kembali menjadi dosen STT HKBP dan sejak 2006 mengikuti studi lanjut sampai sekarang.

Pilihan pada beberapa serpihan kepahitan dalam perjalanan hidup ini sengaja diangkat untuk mengkontraskannya dengan kebesaran dan pemeliharaan Tuhan:

Kehidupan ini adalah BERKAT dari Tuhan,
Peristiwa-peristiwa keseharian adalah MUJIZAT yang dikerjakan oleh Tuhan
Kesalahan, dosa dan ketidaklayakan dihapus oleh RAHMAT Tuhan.
.
Ijinkanlah saya menawarkan yang ini kepada Anda: jika Anda merasa kehidupan Anda berat, jangan tawar hati. Lihat dan rasakan tangan pemeliharaan Tuhan. Fokus pada Tuhan bukan pada beban hidup! Jika kehidupan Anda serba enak, jangan takabur dan lupa diri tetapi bersykurlah sambil memberi yang terbaik untuk Tuhan melalui pertolongan nyata kepada sesama.

Tuhan, terima kasih karana Engkau menciptakaan saya ke dunia ini. Saya percaya, segala rencanaMu indah dan baik. Kiranya hambaMu ini berjalan dalam rencanaMu dan pimpinanMu yang indah dan baik itu sebagai garam dan terang dunia, demi kemuliaanMu dan syalom bagi dunia. Amin.

Thursday, October 16, 2008

KETIKA ANDA DISALAH-MENGERTI


Pernahkan Anda disalahmenegerti? Jika ya, Anda adalah manusia 'normal'. Anda sebenarnya bermaksud 'ini' tetapi orang lain menangkapnya 'itu'. Keadaan bisa bertambah rumit ketika seseorang itu langsung bereaksi berdasarkan kesimpulannya yang keliru. Keadaan semakin rumit lagi ketika Anda berusaha mengklarifikasi tetapi malah semakin membawa Anda mendekati frustrasi.

Bagaimana rasanya disalahmengerti? Tergantung pada keadaan dan karakter kita. Yang jelas, disalahmengerti bukanlah perasaan yang menyenangkan. Kesalahpengertian bisa menguras tenaga, mengganggu tidur dan menghambat kreativitas, hingga memicu perselisihan. Karena itu, kita perlu mengetahui penyebabnya dan berusaha mengindarinya.

Penyebab

Di antara sekian kemungkinan penyebab kesalahpengertian, di sini dapat disebut tiga penyebab. Pertama, kesalahan pada si komunikator (pemberi pesan). Si komunikator salah mengirim ‘sinyal’. Niat hatinya baik, tetapi penyampaiannya kurang tepat. Si pemberi pesan mungkin tidak sepenuhnya memeperhatikan suasana dan cara penyampaian pesan.

Kedua, kesalahan si penerima pesan. Si penerima pesan menafsirkan pesan terutama berdasarkan suasana hatinya. Ia tidak berusaha memahami isi pesan berdasarkan sudut pandang si komunikator. Misalnya, ada orang yang menulis SMS atau email sangat singkat. Ada pula yang menuliskannya agak panjang disertai ungkapan salam, apresiasi, dan pesan yang lebih rinci. Bisa saja yang terbiasa dengan cara yang terakhir ini menganggap orang yang menulis SMS dan email yang singkat sebagai sesuatu yang kurang sopan. Padahal, si pengirim SMS dan email hanyalah mempertimbanagkan efisiensi waktu.

Ketiga, masalah media atau pembawa pesan. Informasi mengalami distorsi atau gangguan pada media atau pembawa pesan. Bayangkan Anda berada dalam kelompok beranggotakan duabelas orang. Bisikkan satu kalimat kepada satu orang dan ia membisikkannya kepada yang lain. Demikian seterusnya hingga pesan itu sampai kepada orang yang terakhir. Lihatlah hasilnya: orang yang ke-12 yang mendengar pesan itu bisa saja sudah mengatakan yang amat berbeda dari kalimat pertama atau aslinya. Pada awalnya kalimat yang disampaikan adalah: Saya dan istri saya pergi mengunjungi keluarga yang bertengkar. Di ujung sana, orang yang ke-12 menangkap pesan: Saya dan istri bertengkar, ia pergi ke keluarganya. Sekiranya diteruskan, maka orang yang kelimapuluh akan menangkap pesan "Keluarga istri saya yang bikin gara-gara sehingga saya dan istri selalu bertengkar."

Menyikapi salah pengertian

Yang paling penting adalah: periksa hubungan Anda. Jika hubungan Anda baik, tentu akan lebih mudah menjernihkannya. Anda tidak punya kendala untuk menemuinya dan tidak ada beban apa-apa untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Dengan santai Anda dapat mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Saling pengertian amat mudah tercipta dalam keadaan seperti ini.

Berbeda dengan keadaan di mana hubungan Anda dengan seseorang itu kurang baik. Dalam keadaan seperti ini, biasanya penjelasan lebih lanjut tidak akan menolong banyak, malah bisa mengeruhkan suasana. Yang penting dalam situasi seperti ini bukan terutama klarifikasi isi pesan, tetapi mengusahakan rekonsiliasi. Hanya ketika hubungan Anda dengan yang salah mengerti terhadap Anda lebih baik, klarifikasi informasi dapat bermanfaat. Dalam keadaan seperti ini, ketika Anda disalahmengerti tenangkan diri Anda. Jangan terburu-buru balik bereaksi. Usahakanlah rekonsiliasi dengan mengambil prakarsa memulainya.

Di dalam semuanya itu, kita perlu senantiasa memohon pimpinan Tuhan dalam menyampaikan sesuatu agar terhindar dari kesalahan memberi pesan dan memohon pimpinan Tuhan bagimana bersikap bijaksana menyelesaikan masalah kesalahpengertian. Tuhan Yesus pun disalahmengerti banyak dari dulu hingga hari ini, tetapi Ia mengasihi semua dan setiap orang --termasuk yang salah mengerti akan Dia.

Saturday, October 11, 2008

LUTHERAN THEOLOGICAL STUDENTS IN SINGAPORE

From left: Victor Tinambunan (Indonesia), Paul Munthe (Indonesia), Bishop The Rt Rev John Tan, Rev. Lu Guan Hoe (LCS), Jimmy (Singapore), Fu Kiong (Singapore), Jennie (ELCA-USA)

It was a wonderful fellowship and unforgettable memory for some of the Lutheran Theological Students who gathering at the Head office of The Lutheran Church in Singapore on Saturday, 11 October 2008. We were so impressed with the hospitality of the LCS Bishop, The Rt Rev John Tan, and The Rev. Lu Guan Hoe (Chairman Education Committee-Lutheran Church in Singapore). The fellowship opened with Bible reading from Psalm, sing some songs followed by a word of prayer by Mr Jimmy, a MMin TTC student. Rev Hoe gave opportunity for Lutheran students to introduce themselves and to share their stories, struggling, hopes as well as their witnesses. The Rt Rev John Tan shared his ministry experiences and told a brief history of Lutheran Church in Singapore.
.
The meeting was followed by a very wonderful lunch in a restaurant with very delicious foods. Most of the foods were the first time I ever eat.

As a theological student, I would like to recommend for each of us to read an insightful book edited by Philip Duce and Daniel Strange, Keeping Your Balance. Approaching theological and religious studies (TTC Library catalog no: BV 4022.K44). I promise you, this excellent book will change your way in dealing with your studies. Find the book here http://ivpbooks.com/9780851114828 and if it is possible please order one for me:-)


Friday, October 10, 2008

ARAH MANA YANG AKAN KUTEMPUH?


Jalan menuju neraka begitu lebar dan arahnya pun jelas.

Berhentilah sejenak. Di jalan mana Anda sedang berada.

Pilih dan jalanilah jalan kehidupan,

bersama Tuhan yang tetap hidup dan bekerja hingga hari ini.





Monday, October 6, 2008

HATI-HATI DENGAN HATI


Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,
karena dari situlah terpancar kehidupan.
(Amsal 4:23)

‘Hati’ adalah pemberian Tuhan yang amat berharga bagi kita anak-anak-Nya. Sebagai yang amat berharga, kita hendaknya menerima nasihat sehat sebagaimana tertulis dalam Amsal 4:23 di atas. Tidak bisa disangkal bahwa keadaan hati kita menentukan kehidupan kita. Betapa pun lihainya seseorang menyembunyikan isi hatinya, tetapi keadaan hati menentukan kata-kata, sikap, raut wajah dan tindakan manusia.

Yang menyejukkan hati kita adalah kenyataan bahwa kita ada di dalam hati Yesus. Injil Matius beberapa kali memperdengarkan kepada kita bahwa ‘hati Yesus tergerak oleh belas kasihan’ (Di antaranya lihat Matius 9:36; 14:14; 15:32; 20:34). Oh, alangkah meneguhkannya berita sukacita ini. Hidup Anda dan saya detik ini adalah bukti belas kasihan Tuhan yang mengalir dari hati-Nya”.

Dengan ‘hati’ yang mengenal dan mensyukuri belas kasihanNya itu pula, marilah kita memperhatikan sedikitnya lima hal berkaitan dengan ‘hati’ kita.

1. Dengan ‘ hati’ kita percaya kepada Tuhan. Dalam Roma 10:10 dikatakan, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Hal ini juga mengingatkan kita kepada perumpamaan Tuhan Yesus tentang jenis tanah yang ketiga tempat jatuhnya benih yang ditaburkan itu. “Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan” (Matius 13:19). Tuhan menghendaki hati kita bagaikan tanah yang baik, yang subur, tempat bertumbuh dan berbuahnya firman-Nya.

2. Hati: penggerak sikap dan tindakan. Pengajaran Tuhan Yesus sangat banyak berkaitan dengan hati. Perbuatan dosa juga berawal dari hati: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19). Pada kesempatan lain Yesus menegaskan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Jika Kerajaan Allah merupakan harta kita yang terutama, maka hati kita pun akan di sana. Dan jika hati kita berada dalam Kerajaan Allah, maka buahnya juga adalah keadaan Kerajaan Allah itu sendiri yakni kasih, sukacita sorgawi, kebenaran, keadilan, kemurahan dan segala sesuatu yang baik.

3. Peranan hati dalam hubungan dengan orang lain. Keadaan hati kita menentukan hubungan kita dengan orang lain. Hati yang dipenuhi oleh kemarahan, permusuhan, sakit hati, kebencian, kecemburuan, kecurigaan, kesombongan dan sebagainya akan secara serta merta merusak hubungan kita dengan orang lain. Itu sebabnya ditegaskan agar hati perlu dijaga (Amsal 4:23). Artinya, membuang segala sesuatu yang merusak yang tinggal di dalam hati itu sendiri. Membersihkannya bukan dengan pentungan atau tongkat pemukul, tetapi dengan menyambut Roh Tuhan berdiam di dalamnya. Menjaga hati berarti memberi ‘gizi’ yang sehat kepadanya seperti kelemah-lembutan, kedamaian, kejernihan, dan sukacita di dalam Tuhan. Kualitas-kualitas kehidupan seperti ini merupakan dasar yang kokoh dalam hubungan yang sehat dengan sesama manusia.

Dalam kaitan kerukunan kehidupan berjemaat Rasul Paulus menasihatkan, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.....” (Roma 12:16). Sejarah perjalanan gereja telah menunjukkan betapa ketidaksehatian telah merobek persekutuan. Kini saatnya, gereja-gereja membutuhkan perubahan hati.

4. Kebugaran dan kesehatan tubuh. Amsal 14:3 dan 17:22 berkata, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Berkaitan dengan itu, dalam Pengkhotbah 11:10 juga dikatakan, “Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu”. Para ahli kedokteran dan kejiwaan telah menemukan adanya hubungan langsung suasana hati manusia dengan kesehatan tubuh. Tidak berarti bahwa semua penyakit disebabkan oleh karena suasana hati. Yang jelas, susana hati yang damai, tenang dan sukacita memberi sumbangan yang tidak sedikit terhadap kesehatan jasmani atau kesegaran tubuh. Daripada menghabiskan uang untuk membayar dokter dan membeli obat lebih baik menjaga hati agar tetap jernih, bening, damai, dan bahagia.

5. Daya gerak atau semangat dalam melakukan tugas panggilan di dunia ini. Amsal 15:13 berkata, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” Untuk meninggalkan kemuraman di wajah harus dimulai dari hati. Hal ini secara khusus amat bermanfaat dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Secara fisik kita mungkin saja lelah dalam melakukan tugas-tugas yang diembankan kepada kita, tetapi dengan hati yang gembira kita tidak terutama memusatkan perhatian lagi kepada kelelahan itu sendiri, melainkan kepada apa yang bisa kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan bagi sesama manusia. Kita juga dapat hubungkan dengan masalah kepedulian dengan sesama yang menderita. Firman Tuhan berkata, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Kita bersyukur bahwa Tuhan tidak pernah menutup pintu hati-Nya kepada kita. Itulah kiranya mendorong kita untuk membuka hati bagi sesama.

Thursday, October 2, 2008

CUTI 10 MENIT

Apakah Anda sedang merasa penat dan merasa tidak berdaya? Mungkin Anda kelelahan karena beban kerja fisik. Mungkin enerji Anda terkuras deras oleh pikiran Anda: karena memikirkan masalah anak-anak, keluarga, tuntutan lingkungan pekerjaan, tagihan yang melampaui kemampuan, sikap orang yang tidak menyenangkan, perlakuan sesama yang tidak fair, cita-cita yang tidak tercapai, bingung ‘menempatkan’ uang Anda, atau apa saja yang membuat leher Anda tegang, nafas Anda tidak normal dan tidak alami, dan reaksi Anda tidak bersahabat dengan orang lain.

Hadiahilah diri Anda dengan ‘cuti’ sepuluh menit. Mungkin bukan kebutuhan Anda saat ini, tetapi bisa saja nanti, besok atau kapan saja. Cuti ini (1) Tidak perlu mengajukan permohonan ijin ke tempat kerja; (2) Tidak perlu mencari-cari tempat; (3) Tidak perlu mengemasi barang-barang; dan (4) Tidak perlu mengeluarkan biaya. Cuti ini Anda lakukan kini dan di sini. Isilah cuti itu dengan:

1. Percaya dan sadar bahwa Tuhan ada di sini. Ia melihat Anda. Ia mengetahui keadaan Anda (bahkan lebih baik mengetahuinya dari pada Anda sendiri). Ia menghendaki Anda bahagia dan bersukacita saat ini. Tidak perlu bertanya, “mana buktinya Allah di sini?” Hidup Anda detik ini sudah membuktikannya. Tidak ada kehidupan tanpa Allah.

2. Tariklah nafas anda dengan dalam dan keluarkan dengan perlahan. Anda boleh sambil mengatakan kata doa “Tuhan kasihanilah” pada saat menghirup dan mengeluarkan nafas. Katakan “Tuhan” sambil mengirup udara dalam-dalam dan katakan “kasihanilah” pada saat mengeluarkan udara melalui mulut secara perlahan. Bayangkan ketika Anda menghirup udara, Anda sedang menghirup pemberian Tuhan yang menyegarkan, menguatkan dan menyehatkan dan bayangkan ketika mengelurkan nafas Anda mengeluarkan yang berat, yang membuat ketegangan dan segala sesuatu yang tidak baik dari dalam tubuh. Ulangi tarik nafas ini 6-7 kali. Rilekskan otot-otot Anda.

3. Mungkin Anda lebih rileks dan segar sekarang. Itu adalah pemberian Tuhan. Selanjutnya, katakan dalam doa Anda: "Tuhan, inilah Aku anak-Mu, kuserahkan hidup dan pergumulanku kepadaMu”. Hidupilah doa Anda: berusaha sebaik-baiknya tanpa pernah memaksa diri. Jadilah lebih lembut terhadap diri Anda sendiri dan kepada orang lain. Kelemah-lembutan membuat kita kuat.

4. Jika Anda mengalami suatu penyakit, ini bukan menggantikan usaha pengobatan. Anda perlu menjalani pengobatan. Dokter dan paramedis adalah alat di tanagan Tuhan memberikan kesembuhan. Tetapi dengan cuti 10 menit ini, paling tidak pandangan Anda terhadap rasa sakit menjadi berbeda. “Rasa sakit” mungkin saja tetap ada tetapi Anda tidak “menderita” seperti sebelumnya. Penderitaan Anda berkurang meski rasa sakit tidak berkurang!

5. Ini bukan ‘mantra’ yang bersifat magis. Ini hanyalah wahana. Karenanya, jangan terikat kepadanya secara teknis. Anda bebas menemukan dan menciptakan cara yang tepat bagi Anda. Yang paling penting adalah: Allah tidak pernah meninggalkan Anda; jangan tinggalkan Dia.

SELAMAT MENIKMATI CUTI

Tuesday, September 30, 2008

MENEBAS AKAR PERSELISIHAN DALAM JEMAAT




Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya,
apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
(Mazmur 133:1)

Kebanyakan persoalan di dunia ini disebabkan oleh keinginan manusia menjadi 'orang penting'.
(T.S. Eliot)



Satu hal yang amat menyedihkan dalam kehidupan ini adalah semakin banyaknya perpecahan dan permusuhan yang terjadi mulai dari hubungan persahabatan perorangan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, bahkan (ironisnya) termasuk dalam kehidupan bergereja. Ada apa di balik semua ketidakrukunan dan perselisihan ini? Salah satu penyebab utama adalah: keegoisan manusia. Jadi, karena pada dasarnya kita manusia ini cenderung ‘mementingkan diri’, maka kita harus mendisplinkan diri dan mendidik diri kita sendiri dalam kebaikan terhadap orang lain. Rasa persaudaraan dan persahabatan yang sehat tidak berkembang secara alami. Ia harus dipupuk dengan sungguh-sungguh dan dirawat dengan hati-hati sama seperti memelihara tanaman.

Hidup rukun dengan orang lain, sebenarnya harus dimulai dengan ‘rukun terhadap diri sendiri’. Artinya, menerima diri sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki; tidak benci diri dan tidak pula melebihkan diri. Pemazmur dengan indah mengatakan begini: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku“ (Mzm 131:2). Hanya ketika kita tenang dan damai dalam perlindungan Tuhan, kita dapat memberi ketenangan dan kedamaian kepada orang lain, sebagai bagian tidak terpisahkan dari kerukunan. Ketika hati kita dipenuhi oleh kebencian dan kepahitan, itu juga akan menular kepada sesama kita dan sekaligus menghancurkan kerukunan.

Berbicara tentang dampak buruk kebencian, kepahitan dan sakit hati, McMillen dengan sangat tepat mengatakan demikian:

Pada saat saya mulai membenci seseorang, saya menjadi budaknya. Saya tidak dapat menikmati pekerjaan saya lagi, sebab ia juga menguasai pikiran saya. Sakit hati saya menghasilkan begitu banyak ketegangan dalam tubuh saya dan saya menjadi sakit kepala sesudah bekerja beberapa jam saja. Pekerjaan yang tadinya saya nikmati berubah menjadi sesuatu yang membosankan dan melelahkan. Bahkan, hari libur atau waktu luang saja pun tidak lagi memberi ketenangan dan kesenangan kepada saya. Orang yang saya benci itu seolah-olah terus mengikuti atau ‘mengejar’ saya ke mana pun saya pergi. Saya tidak dapat lepas dari cengekeraman penjajahannya.

Sakit hati dan kepahitan yang tersembunyi telah menghancurkan kemampuan berbuat baik bahkan merusak kesehatan begitu banyak orang dari dulu hingga saat ini. Di tengah keadaan demikian, Yesus memanggil kita agar dalam segala situasi kita ‘menyangkal diri’, membuang kesombongan, membuang sakit hati dan mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Memang ada kalanya kita seolah mengalami kebuntuan. Kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan perdamaiaan dengan orang lain tetapi sesama kita mengeraskan hati dan sulit berdamai. Dalam situasi seperti itu kita jangan tawar hati dan menyerah. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, selebihnya kita harus serahkan segalanya kepada Tuhan.

Ketidaksediaan orang lain mewujudkan kerukunan jangan sampai membawa kita terjerumus pada perangkap Iblis. Rasul Paulus menegaskan, bahwa kita perlu mengampuni “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11). Dalam kaitan ini, Sigurd Bratlie dengan amat mengesankan pernah berkata, “Firman Tuhan menasihatkan agar kita tidak dikalahkan oleh kejahatan tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21). Ketika seseorang memperlakukan kita secara tidak adil atau berbuat yang tidak baik kepada kita, ia sedang melayani dalam kerjaraan Setan. Jika kita membalas yang jahat dengan yang jahat dan tetap memelihara sakit hati atau tidak mau mengampuni, pada saat itu kita sudah mulai melayani kerajaan Setan juga”.

Betapa bodohnya kita jika kita mau dipekerjakan dalam kerajaan Setan oleh karena perbuatan buruk orang lain. Baiklah kita ingat bahwa pada saat orang banyak mengutuk dan mengolok-olok Yesus di kayu salib, mereka sedang melayani Setan. Tetapi Yesus melayani Bapa, sehingga Ia dapat berdoa, “Bapa, ampunilah mereka”. Jadi, ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak bersedia mewujudkan kerukunan, itu tidak berarti bahwa “karena kita benar maka sikap pahit kita kepada orang lain adalah benar juga.” Yang sangat perlu kita pikirkan adalah: siapa yang akan kita layani: Setan atau Allah. Layanilah Allah.

Kita amat sering dalam keadaan bahaya pada saat-saat di mana kita tahu bahwa kita benar dan pihak lain salah. Sebab, dalam situasi-situasi seperti itu kita dapat dengan mudah membenarkan diri a la Farisi (yang menganggap diri paling benar sambil menghakimi orang lain). Mungkin saja kita benar dalam hal permasalahan yang sedang mengemuka, tetapi salah dalam bersikap –melayani kerajaan Setan ketimbang kerajaan Tuhan-- dengan kesombongan bukan dengan kerendahan hati.

Perlu ditegaskan bahwa demi memelihara kerukunan bukanlah terutama menyangkut faktor lahiriah di mana orang saling berbasa-basi dalam menyapa satu-sama lain. Itu adalah 'kerukunan semu. Kerukunan kristiani adalah kerukunan yang dilandasi kebenaran. Kerukunan semu terjadi ketika kita hanya mengandalkan 'pendekatan psikologis' untuk menyenangkan (ego) orang sambil mengorbankan kebenaran. Dalam kekristenan, jika harus memilih antara 'kerukunan semu' dengan 'kebenaran', kita harus tegas memilih 'kebenaran', yang bisa saja mengandung konflik. Artinya, ada kalanya kita harus mengorbankan ‘kerukukan' jika kerukunan sudah tergelincir pada kerajaan Setan. Sebab dalam kerajaan setan pun ada juga ‘persahabatan’, yakni: persahabatan yang siap membabat bukan menjadi berkat.

Dalam persekutuan Gereja, mengapa perselisihan terjadi? Kata-kata Zac Poonen berikut ini kiranya boleh mengubah hidup kita:

Satu hal yang pasti, karena ‘keakuan’ masih bertahta dalam hidup kita. Kita menganggap diri kita begitu penting dan kita merasa bahwa orang lain harus menghargai kita dan selalu meminta pendapat atau nasihat kita. Kita merasa bahwa yang lain harus berperilaku dan berbuat sebagaimana kita inginkan. Kita mengharapkan orang lain bersikap baik, berhati-hati kepada kita, memperhitungkan jasa atau prestasi kita dan memuji kita. Perasaan-perasaan dan harapan-harapan seperti itu adalah bukti nyata bahwa kita tidak memahami dan menghidupi salib. Hidup kita sepenuhnya berpusat pada diri kita dan masih didominasi oleh pementingan diri.

Persekutuan Kristen yang benar tidak akan pernah dialami di antara orang percaya jika kasih salib itu tidak dijadikan sebagai dasar sikap dan perbuatan dalam hubungan mereka. ‘Persekutuan’ apa pun yang ada di dalam gereja yang terpisah dari kasih salib itu, yang ada hanyalah paguyuban sosial dan bukan persekutuan tubuh Kristus yang benar. Paguyuban sosial seperti itu juga dapat kita temukan dalam klub-klub duniawi juga. Sedihnya, banyak jemaat-jemaat dan kelompok-kelompok Kristen yang tidak lebih baik dari klub-klub duniawi.

Hidup dalam dan dengan kasih salib mewujud melalui kehidupan yang berpusat pada Kristus, kehidupan yang menyangkal diri (membuang kesombongan dan pementingan diri sendiri). Dalam kaitan dengan gembala atau pemimpin jemaat dengan anggota jemaat, secara konkret dapat disebutkan dua hal. Pertama, para pelayan gereja hendaknya tidak terutama menggunakan pendekatan psikologis kepada warga jemaatnya hanya untuk sama-sama menyenangkan. Misalnya, pelayan gereja memberi tugas memainkan musik dalam ibadah kepada orang yang sebenarnya kurang mampu memainkan musik dengan baik, padahal ada orang yang benar-benar mampu memainkan musik dengan baik. Janganlah seorang gembala atau pimpinan jemaat memberi tugas pelayanan ini hanya untuk 'mengambil hati' warga jemaat dengan mengorbankan ibadah. Contoh lain, memberi tugas berkhotbah atau memimpin kelompok Pemahaman Alkitab atau tugas pelayanan lain tertentu kepada warga jemaat hanya untuk 'mengambil hati'. Janganlah kita korbankan kehidupan bergereja hanya untuk menjalin persahabatan semu. Sebelum mendelegasikan tugas kepada warga jemaat, berilah waktu sejenak menjawab pertanyaan, "apakah pendelegasian tugas ini suara Tuhan dan demi pelayanan itu sendiri, atau untuk kepentingan diri sendiri (mengalihkan tanggung jawab, supaya yang ditugasi ini menjadi 'kawan' --bukan lawan, dan sebagainya). Gembala atau pelayan jemaat perlu melakukan 'motivation check-up'.

Kedua, semua warga jemaat hendaknya melaksanakan tugas panggilannya di dalam kehidupan bergereja sesuai dengan talenta, milik dan keberadaannya dalam keteraturan. Ya, 'dalam keteratuan'. Artinya, setiap gereja memiliki tradisi dan tata gereja masing-masing. Pelayanan ini bukanlah sekadar sarana menyalurkan hobbi atau bakat atau menampilkan diri melainkan pelayanan untuk kemuliaan Tuhan dan damai sejahtera di bumi. Ketika kita diminta untuk melakukan tugas tertentu oleh pihak gereja, beri waktu Anda bertanya 'ke dalam', apakah itu suruhan Tuhan atau hanyalah sekadar 'alat' memanfaatkan Anda untuk kepentingan yang amat dangkal.

Untuk itulah kita perlu merelakan hati kita didiami oleh Roh Tuhan, agar Ia bertahta di sana. Roh itu jugalah yang menuntun kita untuk bersikap, berkata, bertindak, menggantikan apa yang mungkin sudah kita format (terformat tanpa sadar) dan secara otomatis keluar dari dalam diri kita tanpa pertimbangan apakah itu membuahkan kebaikan atau justru menghancurkan. Sesungguhnya, Roh Tuhan senantiasa siap sedia berdiam dalam diri kita. Kini saatnya, kita sambut kehadiran-Nya. Ia sanggup mengubah hidup kita untuk kebaikan kita sendiri, jemaat dan dunia ini. Tuhan sendiri yang menebas akar keegoisan yang merasuk dan merusak kerukunan yang benar di dalam persekutuana jemaat; jika kita merelakan diri dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.

Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung

Monday, September 29, 2008

MEMBUAT BAHAGIA TANPA MEMANJAKAN


Di bawah ini adalah ungkapan hati kami kepada putri kami Dorothy Christi Lois pada ulang tahunnya yang kedelapan. Semoga ada manfaatnya bagi Anda.
***************************
Christi yang baik,
Hari ini 30 September 2008, kami mengingat dan mensyukuri peristiwa yang amat bersejarah dalam hidup kami orangtuamu. Delapan tahun yang lalu, engkau lahir ke dunia ini, oleh kasih dan rahmat Tuhan. Ibumu mengandung engkau selama sembilan bulan. Dr. Silitonga adalah tangan Tuhan untuk membantu engkau lahir di Pematangsiantar.

Christi yang kami kasihi, engkau adalah anak kami, tetapi engkau bukanlah milik kami. Victor Tinambunan memang bapakmu dan Tima Warni adalah ibumu. Tetapi ada satu persamaan mendasar dalam diri kita, yakni: kita adalah sama-sama anak Allah. Kita sama-sama milik-Nya. Dia memelihara hidup kita sama seperti seorang ibu memelihara anaknya.

Dalam ulang tahunmu ini, kami tidak terutama mengingat bagaimana perilakumu yang lumayan banyak juga yang tidak menyenangkan orangtua. Semuanya itu bukan kesalahanmu saja, ada juga karena keterbatasan dan kelemahan orangtuamu. Ada kalanya kami terlalu menuntutmu bertingkah sebagaimana layaknya orang dewasa, padahal engkau masih anak-anak. Hari ini kami lebih memusatkan perhatian pada apa yang Tuhan anugerahakan dan bagaimana Ia dengan kasihNya yang besar terus menuntun engkau hingga hari ini. Mari kita jalani hari-hari pemberian Tuhan ke depan ini dengan lebih baik lagi dengan tetap bersandar pada pimpinan-Nya.

Jadilah dirimu sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Jangan memaksa diri menjadi seperti orang lain yang pasti akan membawa ketegangan. Banyak yang mengasihi kita yang amat berharap agar Christi berbeda atau lebih baik dari anak-anak yang lain, karena --kata mereka-- Christi adalah ‘anak pendeta’. Tetapi saya baru sadar bahwa sesungguhnya, engkau bukan ‘anak pendeta’ karena pendeta tidak punya anak, sama seperti presiden, ephorus dan lain lain tidak punya anak. Engkau adalah anak Victor Tinambunan dan Tima Warni Pangaribuan. Memang bapakmu seorang pendeta, tetapi engkau lahir bukan karena bapakmu pendeta. Jadi, jadilah anak yang baik, bukan karena engkau anak pendeta, tetapi karena engkau adalah anak Tuhan. Jangan menjadi baik supaya 'berbeda' dengan anak-anak lain, tetapi jadilah baik karena itu dorongan suara Tuhan dari dalam dirimu. Kami mengharapkan engkau anak yang baik, bukan supaya kami dipuji orang sebagai yang 'berhasil' mendidik anak, tetapi supaya setiap orang memuji Tuhan Sang Pemberi hidup.

Dorothy Christi Lois yang kami kasihi di dalam Tuhan, mari kita syukuri bersama ulang tahunmu pemberian Tuhan ini dan kita memohon kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan dan panjang umur buat Christi.

Dari yang mengasihimu: Bapak, Mama dan William

Christi di depan Rumah Keluarga Amang dr Silalahi/ br Sihombing
Perum Duta Mas-Batam (awal 2008)



Sunday, September 28, 2008

MENGATAKAN KEBURUKAN ORANG, BOLEH?

Jika Anda menikmati penuturan seseorang akan kekurangan-kekurangan orang lain atas kebencian, ingat: itu akan menyuburkan kebiasaannya menjadi sebuah 'hobbi' yang pada gilirannya, kekurangan-kekurangan Anda sendiri yang akan ia sebar-luaskan dalam 'iklan' yang ia disain sendiri

Apakah boleh mengatakan keburukan orang lain? Jawabannya: Ya dan Tidak.

Jangan mengatakan keburukan orang lain jika:

1. Hanya demi kekurangan itu
2. Untuk merendahkan dan mempermalukan.
3. Memberi ‘cap’ seolah-olah kekurangan itulah yang dominan dalam diri orang lain, padahal banyak kebaikannya.
4. Membuktikan bahwa kita yang terbaik di dunia atau sedikitnya dari orang itu.
5. Karena kita cemburu dan iri hati
6. Mengajak orang berpihak kepada kita atau kelompok kita
7. Mencegah orang lain bersahabat dengannya

Boleh mengatakan keburukan orang:

  1. Sebagai pelajaran bagimana dampak sesuatu keburukan dalam kehidupan sekaligus mendorong komitmen kita untuk bebas dari keburukan serupa.
  2. Mendoakan yang bersangkutan dan berusaha dengan pimpinan Tuhan membantu untuk perubahannya.
  3. Mencegah agar kekurangan yang bersangkutan tidak menular dan berakibat lebih buruk kepada yang lain, secara pribadi atau persekutuan yang lebih luas.
  4. Menolak bahkan membenci kekurangan atau perbuatan buruk orang lain, tetapi dengan setulus hati mengasihi orangnya dan menghormati keberadaannya sebagai sesama manusia.

Bagaimana sikap menghadapi orang yang mengatakan keburukan Anda?

Jika apa yang mereka katakan benar, maka:

  1. Terima dengan lapang dada dan ucapan syukur. Mungkin pahit rasanya, tetapi banyak obat yang rasanya pahit. Ketika seseorang memuji dan menyanjung Anda dan Anda dengan bangga menerimanya, ingat ia bagaikan memberi gula kepada yang berpenyakit gula: rasanya enak tetapi mencelakakan.
  2. Tidak perlu persoalkan apa motivasi orang lain mengungkapkan keburukan Anda. Karenanya, tetap perlakukan sebagai sahabat.
  3. Jangan mencari alasan (apalagi alasan asalan) untuk merasionalisasi atau membenarkan diri.
  4. Jangan mengalihkan persoalan dengan menuduh orang lain 'memburuk-burukkan' Anda, padahal ia hanya mengatakan keburukan Anda yang sebenarnya.
  5. Tidurlah dengan nyenyak pada waktunya, tidak perlu larut dalam kesedihan dan benci diri.

Jika yang mereka katakan tidak benar, maka:

1. Tidak perlu marah atau pusing kepala. Yang memburukkan Anda perlu ditolong, ia punya masalah dalam dirinya.
2. Boleh membela diri dengan argumen tanpa menyerang orang yang memburukkan kita.

Dengan sikap di atas, kita akan menolong diri kita sendiri dan orang lain untuk hidup dalam kedamaian, kegembiraan sorgawi dan saling meneguhkan dengan sesama.

Monday, September 22, 2008

R O K O K

MATIKAN ROKOK SEBELUM IA MEMATIKAN ANDA
Sekiranya Tuhan menghendaki manusia ciptaan-Nya itu menjadi perokok, maka Ia pasti menciptakan lubang hidungnya mengarah ke atas seperti cerobong pabrik

****************
Ada kisah menarik soal kalkulasi biaya membeli rokok. Seorang istri sudah dua puluh tahun bergumul dan berusaha dengan segala cara agar suaminya berhenti merokok. Sayang sekali, ia selalu gagal. Terakhir, dia mengambil kalkulator dan menghitung. Rp. 10.000/ hari x 30 = Rp. 300.000/ bulan x 12 = Rp. 3.600.000/ tahun x 20 = Rp. 72.000.000 dalam waktu 20 tahun. “Bapak membakar uang Rp. 72.000.000 selama 20 tahun. Lebih mahal dari rumah kita ini”, kata istrinya menyadarkan suaminya.

Suatu ketika, suaminya sedang keluar. Istrinya memasak makanan di rumah. Karena tiba-tiba ia dipanggil oleh temannya untuk membicarakan gossip yang sedang beredar, ia pun keluar meninggalkan rumahnya. Sayang sekali, ia lupa mematikan kompor. Kompor itu pun meledak dan dalam sekejap rumahnya habis dilahap sijago merah. Ia benar-benar frustrasi. Bukan saja karena rumahnya habis, tetapi juga memikirkan reaksi suaminya terhadap kejadian itu. Ia tahu bahwa suaminya seorang pemberang, yang emosinya lebih cepat memanas dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Dalam keadaan pilu dan takut itu suaminya datang. Tapi, mengherankan, kali ini ia tenang. Tidak ada nada marah atau wajah memerah. Istrinya heran tidak kepalang. Sebelum istrinya menjelaskan duduk persoalannya, si suami langsung berkata, “Tidak apalah Ma, kita sama-sama punya kesalahan”. Bedanya, saya membakar Rp. 72.000.000 dalam tempo dua puluh tahun, Mama membakarnya dalam tempo dua puluh menit.

Pesan dari cerita di atas bukanlah soal kesabaran seorang perokok ketika menghadapi musibah sebagai kompensasi kesalahannya tetapi kiranya mendorong kesadaran kita bahwa sesungguhnya rokok benar menghancurkan paru-paru dan ‘merobek kantong’ juga. Cerita itu juga menyingkapkan kenyataan betapa sulitnya seseorang berhenti merokok dengan berbagai alasan. Berikut ini adalah berbagai alasan (‘asalan’) para perokok yang sangat umum dan apa respon singkat terhadap setiap alasan tersebut.
--
ALASAN:
Tidak ada di dalam Alkitab larangan merokok. (Ini salah satu alasan ‘asalan’ yang paling sering saya dengar).
RESPON:
Alkitab juga tidak ada menganjurkan merokok, bukan? Alkitab sangat menegaskan pentingnya manjaga kesehatan tubuh dan kesehatan ‘kantong’. HKBP telah secara eksplisit mencatumkan dalam Konfesinya (pasal 14) agar warga HKBP tidak dikuasai oleh rokok. Itu sebabnya, kepada para pengkotbah sering saya katakan, “Khotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit meresap”.

ALASAN:
Rokok perlu untuk pergaulan
RESPON:
Pertanyaan, “apakah sahabat perokok jauh lebih banyak dan berkualitas dengan yang mereka yang tidak merokok? Mengapa persahabatan dibangun dengan hal yang menghancurkan kehidupan. Buatlah persahabatan dengan minum jus bersama dan sebagainya.

ALASAN:
Tidak bisa konsentrasi dan mendapat inspirasi tanpa rokok.
RESPON:
Inilah masalahnya, kalau orang sudah kecanduan, orang akan menggantungkan diri pada perusaknya sendiri. Konsentrasi adalah masalah pilihan kita sendiri. Inspirasi (yang bisa diterjemahkan: dimasuki atau didiami Roh Tuhan) justru terhalang karena dihadang oleh asap rokok.

ALASAN:
Takut berat badan naik kalau berhenti merokok.
RESPON:
Bukankah ada begitu banyak cara mempertahankan berat badan dengan cara yang sehat dan hemat?

ALASAN:
Ah, orang tidak perokok pun mati juga, ada perokok yang umurnya panjang sedangkan yang tidak merokok umurnya pendek.
RESPON:
Mengapa membandingkan diri dengan orang lain? Perokok seharusnya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain berkaitan dengan kesehatan dan usia. Ia harus membandingkan dirinya dengan harapan hidupnya sendiri. Andaikan Tuhan mengehendaki Anda hidup 100 tahun. Karena rokok, Anda memangkas sendiri menjadi 60 tahun, itupun sesudah batuk-batuk, berdahak pula.

ALASAN:
Tutup saja pabrik rokok.
RESPON:
Mana lebih mudah: berhenti merokok sehingga pabrik rokok tutup, atau tutup pabrik rokok supaya orang berhenti merokok? Kalau kita lebih memikirkan tanggung jawab kita sendiri, maka langkah yang kita tempuh adalah berhenti merokok, industri rokok akan gulung tikar sendiri.

ALASAN:
Dengan merokok, kita membantu banyak orang yang bekerja mulai dari petani tembakau, pekerja pabrik, pedagang rokok, pemasang iklan dan semua orang yang terkait dengan industri rokok.
RESPON:
Anda terkesan sangat penderma. Tetapi, jika Anda benar-benar penderma, Anda tidak perlu menyalurkannya melalui bisnis rokok, bantulah melalui Gereja, LSM, Panti Asuhan dan sebagainya.

ALASAN:
Devisa negara amat besar dari industri rokok –penting untuk menjalankan roda pemerintahan.
RESPON:
Di samping devisa ada penyakit berbisa akibat rokok. Benar, negara berhasil menarik devisa triliunan rupiah dari industri rokok, tetapi sayangnya banyak anggota masyarakat yang sengsara akibat rokok, bukan hanya si perokok itu sendiri tetapi juga mereka-mereka yang dijajah oleh si perokok seperti anggota keluarga di rumah-rumah, penumpang angkutan umum, bahkan di gereja dan ruang konsistori. Kita harus sadar bahwa ada begitu banyak orang yang tersiksa pada saat naik angkutan umum di Indonesia di mana para perokok sama sekali tidak peduli dengan terus mengepulkan asap rokoknya. Memang Permen 225 sudah menetapkan di areal mana saja seseorang boleh dan tidak boleh merokok, tetapi peraturan nampaknya ada sekadar untuk dilanggar. Walaupun hampir setengah juta manusia mati per tahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok[1]. , kita masih terus mendukung insdutri tembakau dan rokok. Amat menyedihkan memang.

Masih ada alasan lain? Mungkin masih banyak, tetapi semuanya pasti alasan 'asalan' juga. Yang jelas, fakta-fakta sudah menunjukkan bahwa merokok menimbulkan berbagai penyakit. Bagaimana caranya berhenti merokok? Sangat mudah. Prinsip dasar: kasihilah diri Anda. Dengan demikian, jangan beli rokok dan sama sekali jangan pegang. Dan yang terpenting: karena Allah mengasihi Anda semua yang merokok, sambutlah kasihNya dengan mematikan rokok sebelum semuanya amat terlambat.



[1] John F. Kavanaugh, Following Christ in a Consumer Society (Maryknoll: Orbis Books, 2006), 19

ShoutMix chat widget