Sunday, June 14, 2009

A I R


REFLEKSI SENIN KE-24

16/6/2009


Ketersediaan air tawar dunia semakin terbatas dan pendistribusiannya juga tidak merata. Sekitar satu miliar penduduk dunia saat ini mengalami kekurangan air minum yang bersih. Masih ada air, tapi tidak bersih. The International Water Management Institute memperkirakan bahwa sekitar satu miliar penduduk akan benar-benar mengalami kekurangan air pada tahun 2025. Yang kurang bersih pun tidak tersedia! Bahkan ada yang memperkirakan 3 miliar akan menghadapi ketegangan berkaitan dengan ketersediaan air pada tahun 2025. PBB memperingatkan kemungkinan perang pada tahun 2032 untuk memperebutkan sungai sebagai sumber air.[1] Banyak yang memperkirakan bahwa perang ke depan bukan terutama memperebutkan minyak, tetapi justru memperebutkan air. Kemungkinan ini sangat terbuka khususnya di Timur Tengah.[2]

Mengapa pasokan air bersih berkurang? (1) Karena penggundulan hutan yang sudah melampaui batas, baik karena ulah mereka-mereka yang kaya dan berkuasa, maupun karena pembukaan lahan baru dengan menebang dan membakar hutan oleh para peladang berpindah. (2) Banyak sumber air yang tercemar oleh limbah dari berbagai industri. (3) Dengan mencairnya es di kutub bumi (karena pemanasan global), maka air laut pun naik yang dapat mengganggu ketersediaan air tawar.

Persentase penggunaan air dalam tingkat dunia adalah: untuk rumah tangga 8%; industri 22%, dan pertanian 70%.[3] Masalah kelangkaan air sudah semakin meningkat di 26 negara yang total penduduknya sekitar 200-300 juta . (Kekurangan air diartikan: kurang dari 1000 m3/ orang/ tahun.) Sejak awal tahun 2000, sepertiga dari total penduduk Afrika berada dalam keadaan kekurangan air. Air bersih sudah semkain menurun juga di China, India, Mexico, bagian Timur AS, Afrika Utara dan Timur Tengah. Seiring dengan berkurangnya pasokan air, hasil pertanian juga akan menurun sebagaimana sudah terjadi di sebagian besar Afrika.[4]

Dalam hal ini ada beberapa hal yang kiranya perlu kita sikapi, hindari dan lakukan dengan sepenuh hati:
  1. Air adalah pemberian Tuhan untuk kehidupan seluruh ciptaan-Nya. Seringkali kita kurang memberi perhatian pada pemberian yang sangat berharga ini. Mungkin karena kita sudah terbiasa setiap hari menggunakan air, apakah kita beli atau tidak, seolah-olah kita tidak perlu mensyukurinya, menggunakannya sebaik-baiknya, dan menjaga kelangsungannya, baik dari segi kecukupan maupun kebersihannya.

  2. Sudah saatnya kita melakukan penghematan air. Memang, sebagian dari kita yang ekonomi pas-pasan mungkin kontrol yang kita lakukan terhadap kran-kran air di rumah lebih ketat. Berbeda dengan mereka yang tidak mempersoalkan pembayaran air karena cukup uang (atau --yang lebih celaka-- mereka-mereka yang tinggal di rumah dinas, yang airnya ditanggung kantor) air banyak yang terbuang.

  3. Kita perlu memperhatikan konsumsi kita, baik makanan maupun barang-barang yang kita gunakan. “Kecerdasan Ekologi” yang disebutkan oleh Daniel Golemann (2009) hendaknya menjadi salah satu panduan kita yang hidup pada zaman ini. Kecerdasan Ekologi juga menyangkut bagaimana kita memilih makanan yanag kita konsumsi dan barang-barang yang kita gunakan. Mengurangi konsumsi daging, dapat menghemat air. Karena untuk memelihara sapi misalnya, hutan berkurang dan air yang dibutuhkan juga sangat banyak untuk menghasilkan 1 kg daging sapi saja. Lemari dan kursi kayu yang berlebihan, pakaian dsb. pasti akan menghabiskan hutan, yang ujung-ujungnya berdampak kepada berkurangnya air tawar.

  4. Yesus adalah air hidup. Tuhan juga meberikan air untuk kehidupan kita di dunia ini. Menghemat air tidak berarti bahwa kita harus mengurangi minum air. Untuk kebutuhan minum, air pasti cukup untuk kita semua. Karena itu, minumlah air sesuai anjuran pakar kesehatan untuk membuat tubuh kita sehat. Di samping mensyukurinya setiap kali kita meminumnya, kita juga hendaknya tergerak untuk menjaga ketersediaannya dan kebersihannya.




[1] Colin Mason, The 2030 Spike: Countdown to Global Catastrophe (London: EarthScan, 2003), 44-45
[2] Edward Brown, Our Father’s World. Mobilizing the Church to Care for Creation, (South Hadley: Doorlight Publications, 2006), 27
[3] I. John Mohan Razu, “Water for People, Water for Life: An Ethical (Christian) Response”, in Sam P. Mathew and Chandran Paul Martin (eds.), Waters of Life and Death. Ethical and Theological Responses to Contemporary Water Crisis, (Kashmere Gate, India: UELCI/ ISPCK, 2005), 24.
[4] Karolyn M. King, Habitat of Grace: Biology, Christianity and the Global Environmental Crisis, (Adelaide: Australian Theological Forum, 2002), 4.

Friday, June 12, 2009

NOVI DAN FINA TINAMBUNAN


Nofi Tinambunan dan Fina Tinambunan, putri kembar St. Amry T. Tinambunan/ R br Sihotang (Duri).
*********
NOFI GLORIA TINAMBUNAN (kakak) dan FINA KARISMA TINAMBUNAN (adek), lahir 10 Desember 2008. Saat ini sudah berumur 6 bulan lebih . Pertumbuhan keseharian sangat baik. Keduanya suka tertawa, sudah mengenal orang tuanya, mengeti dan mengetahui jika mau dikasih minum dan makan, suka minum air putih dari gelas bukan dari dot, tahu jika dipanggil namanya. Lebih suka dibaringkan di tempat tidur daripada digendong.

Saturday, June 6, 2009

PERSEMBAHAN DI HKBP: PERPULUHAN ATAU PERSERATUSAN?

REFLEKSI SENIN KE-23 2009
08 Juni
Perbedaan-perbedaan sebutan dan pelaksanaan penyerahan persembahan dalam kekristenan barangkali masih relevan untuk dikaji dan diuji. Kita sering mendengar sebutan persembahan minggu, persembahan bulanan, persembahan perpuluhan, persembahan syukur dan sebagainya, yang dapat saja memunculkan pertanyaan, “berapa macam bentuk persembahan dan berapa seharusnya jumlah persembahan?”

Sebenarnya, Alkitab tidak menempatkan persembahan sebagai sesuatu yang terpenting. Hal ini dapat kita mengerti, karena Tuhan tidak kekurangan apapun termasuk uang. Segala sesuatu adalah milikNya. Pada hakikatnya, pemberian persembahan merupakan bukti penyerahan diri kita kepada Tuhan, bukan bersandar pada milik kita. Itu adalah juga bagian dari kerelaan kita melayani dengan apa yang kita miliki untuk kebaikan sesama.

Sehubungan dengan itu, kita dapat melihat beberapa hal menyangkut persembahan perpuluhan di dalam Alkitab, di antaranya:

1. Persembahan perpuluhan berawal dari nazar Yakub (Kej. 28:20-22), bukan perintah Allah. Jadi, kalau mau memberi persembahan perpuluhan boleh dan baik, tetapi bukan kewajiban dari Allah, melainkan kerinduan kita.

Ada yang merujuk pada Abraham sebagai awal pemberian persembahan perpuluhan. Memang dalam Kej 14:17-20 dikatakan bahwa Abram memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari harta benda yang berhasial ‘diselamatkan’ dari musuh. Tetapi agaknya hal ini tidak dapat dijadikan sebagai dasar alkitabiah pemberian persembahan. Selengkapnya Kej. 14:17-20 berbunyi demikian:

Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.

2. Dalam kitab Ulangan kita menemukan dua jenis perpuluhan. Pertama, dalam Ulangan 12:6-9 dikatakan bahwa masing-masing keluarga membawa perpuluhan dan persembahan yang lain ke bait suci. Mereka bersama-sama makan dengan para imam dengan sukaria. Kedua, setiap akhir tahun ketiga, persembahan juga dibawa kepada orang-orang miskin --bukan mau menyembah orang miskin, tetapi agar mereka beroleh makanan (ayat 26-27). Hal ini bisa kita bandingan dengan Ulangan 26:12: “Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang.” Jadi, menolong orang miskin adalah bagian dari persembahan.

Dalam kaitan ini, ada satu peringatan penting dari Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 6:2:

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.

3. Dalam Maleaki 3:10 juga disebut tentang perpuluhan, yang tujuannya adalah untuk persediaan makanan di bait suci. ‘Curahan berkat’ yang disebutkan di situ bukan akibat dari perpuluhan itu, tetapi justru sebaliknya: seseorang dapat memberi perpuluhan karena sudah menerimanya dari Tuhan dan Ia akan terus menerus mencurahkan berkatnya yang tidak tergantung pada permintaan dan perbuatan manusia. Dengan kata lain, persembahan adalah “persembahan karena” bukan “persembahan supaya”. Kita memeberi persembahan karena kita bersyukur atas pemberian Tuhan bukan supaya Allah memberi berkat-Nya atau supaya dipuji orang seperti disebut dalam Matius 6:2 tadi.

4. Dalam Mzm. 51:19 dikatakan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk....” Artinya, Allah lebih melihat hati dan jiwa yang sepenuhnya berserah kepada Tuhan daripada segala bentuk persembahan bahkan dengan jumlah yang sangat besar sekalipun.

5. Yesus sendiri sangat tegas menolak segala bentuk persembahan yang tidak disertai keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Selengkapnya dalam Matius 23:23 dikatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Hal yang sama sudah diperingatkan oleh Nabi Amos (lihat Amos 5:22 yang menyatakan bahwa Allah tidak menyukai persembahan tanpa keadilan).

6. Rasul Paulus menasihatkan demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Persembahan di sini melampaui yang sifatnya materi, tetapi hidup itu sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, persembahan tidak saja perpuluhan (10 persen dari pendapatan) tetapi perseratusan (seluruhnya diri dan kepunyaan kita). Semuanya adalah milik-Nya: hidup kita dan apa yang kita miliki. Inilah semuanya yang kita persembahkan kepadaNya. Hal ini jelas terungkap dalam nyanyian doa persembahan dalam tata ibadah HKBP yang berbunyi, “Tuhan, karuniaMu, roh dan jiwaku semua, nyawa juga hidupku, harta milikku semua, kuserahkan padaMu untuk selama-lamanya.”

Persembahan di HKBP

Dua tahun belakangan ini, di dalam Almanak HKBP dicantumkan mengenai pemberlakuan pengumpulan dan penatalayanan persembahan di HKBP, merujuk pada keputusan Sinode Agung HKBP 1970. Pada waktu itu hampir semua jemaat HKBP mengumpulkan dua kali persembahan setiap ibadah Minggu (sebelum dan sesudah khotbah berlangsung). Kemudian, bertambah menjadi 3 kali pengumpulan persembahan yang disebut dengan pesesembahan IA, IB dan persembahan II. Persembahan II seharusnya diserahkan ke kantor Pusat HKBP untuk keperluan pelayanan di lingkungan kantor pusat HKBP, Kantor distrik-distrik HKBP (termasuk para praeses), lembaga pendidikan STT HKBP, Sekolah Guru Huria, Pendidikan Diakones, Sekolah Bibelvrouw, Diakoni Sosial dan sebagainya. Biaya untuk pelayanan ini tergolong amat besar.

Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa jemaat mengambil ‘kebijakan’ masing-masing. Tidak ada data akurat berapa jemaat yang masih menyerahkan seluruh persembahan II ke kantor pusat. Yang jelas ada beberapa jemaat HKBP yang tetap mengumpulkan tiga kali persembahan Minggu tetapi tidak sepenuhnya menyerahkan ke kantor pusat. Itu sebabnya di beberapa jemaat kita mendengar warta jemaat yang mengatakan misalnya Persembahan I Rp. 600.000, persembahan II, Rp. 51.000. Jumlah ini sebenarnya sudah ‘disesuaikan’ oleh parhalado jemaat setempat. Di salah satu jemaat HKBP di luar negeri misalnya, persembahan Minggu tetap dilakukan 3 kali. Tetapi keadaan keuangan 2008, dari sekitar 18% persembahan II –yang seharusnya diserahkan ke kantor pusat—yang diserahkan tidak sampai 2%. Keadaan ini sudah berjalan sejak lama.

HKBP ke Depan:

1. HKBP belum merumuskan dengan baik ‘teologi persembahan’ atau ‘teologi uang’. Rumusan seperti ini dibutuhkan agar jemaat-jemaat dan warga HKBP memahaminya dan memberikan persembahan sebagaimana Tuhan kehendaki. Intinya, HKBP menganut ajaran persembahan ‘perseratusan’. Artinya hidup dan semua milik orang percaya dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau HKBP mau menekankan lagi soal perpuluhan, itu seolah-olah HKBP memberi diskon 90%. Yang penting sekarang adalah bagaimana warga jemaat melakukan yang terbaik atas dasar iman dan kasihnya kepada Tuhan. Juga, bagaiamana Gereja ‘mengelola’ persembahan itu sesuai kehendak Tuhan.

2. Sebaiknya pengumpulan persembahan dalam ibadah Minggu, hari raya gerejawi dan di ‘partangiangan’ (persekutuan PA) dilakukan sekali saja. Pengumpulan persembahan lebih baik di tempat duduk, tidak harus ke depan. Dengan sekali pengumpulan persembahan dan tidak ke depan, diharapkan jalannya ibadah akan lebih khusuk dan setiap warga jemaat memberikan persembahan terutama dengan prinsip ‘antara aku dan Dia (Tuhan)’. Tidak ada kesan unsur ‘pemaksaan’ halus. Seingat saya ada satu jemaat GKJ di Yogyakarta yang mengubah 3 kali pengumpulan persembahan menjadi sekali saja, ternyata jumlah persembahan malah lebih banyak. Perubahan 3 kali menjadi sekali, tidak dimaksudkan ‘supaya’ persembahan lebih banyak (walaupun hal itu tidak salah), tetapi agaknya sekali pengumpulan persembahan lebih praktis dan teologis.

3. Pelaksanaan lelang dalam rangka penggalangan dana seharusnya ditiadakan di dalam gereja. Dana yang terkumpul mungkin saja lebih banyak dengan cara ini, tetapi jelas sekali ada hal-hal yang tidak sehat dan tidak membangun dalam praktek lelang di gereja. Di beberapa jemaat sudah ada yang menerapkan ‘janji iman’, yang perlu dikaji dan diteladani jemaat-jemaat yang lain.

4. Ressort-ressort seharusnya mengirimkan tanggungjawabnya ke pusat. Jika persembahan Minggu hanya sekali saja, maka perlu ditetapkan berapa persen yang dikirimkan ke kantor pusat, tergantung pada kebutuhan pelayanan pusat dan keadaan jemaat-jemaat HKBP. Ada yang mengatakan bahwa persembahana tidak dikirimkan ke pusat karena pusat tidak menggunakan dengan baik atau pusat tidak berbuat apa-apa kepada jemaat. Tentu, kita berharap bahwa kantor pusat HKBP akan tetap berkomitmen sebagai ‘kantor pusat’ pelayanan, bukan tahta kekuasaan duniawi. Tetapi menahan atau tidak menerahkan persembahan yang seharusnya dikirimkan ke kantor pusat tidak dapat dibenarkan. Biarkan Pusat bertanggung jawab kepada Tuhan dan kepada Sinode Agung. Tentu kita semua berharap dan berdoa agar uang persembahan itu digunakan sesuai kehendak Tuhan.

5. Sebagian besar ressort-ressort yang mendapat berkat Tuhan lebih banyak terkesan memikirkan ressort/ jemaat sendiri. Para pelayan juga ada yang terlalu kenyang makan dan ada yang agak lapar. Ada yang berhasil deposito tapi banyak yang selalu defisit. Yang terjadi sekarang adalah: Ressort/ Jemaat A misalnya 300 KK, tetapi disitu 2 atau 3 pendeta. Mengapa? Mereka punya uang lebih banyak. Ressort/Jemaat B, 700 KK, pendeta hanya satu. Mengapa? Jemaat ‘tidak mampu’ membiayai. Kalau HKBP benar-benar satu, Ressort/jemaat A yang mempunyai lebih banyak uang sepantasnya membiayai belanja satu pendeta di ressort/ jemaat B. Ressort/ jemaat mana yang mau memulai? Di Parlilitan ada 26 jemaat pagaran, dengan anggota jemaaat sekitar 1000 KK dilayani hanya satu orang Pendeta. Mengapa? Itu tadi: Parlilitan terlilit kemiskinan. Sudah saatnya jemaat-jemaat benar-benar mempraktekkan bahwa HKBP adalah satu, termasuk dalam penatalayanan keuangan. Jemaat-jemaat yang memegang lebih banyak uang Tuhan (persembahan) dapat membiayai belanja dua orang pendeta, misalnya, di Ressort Parlilitan dan di ressort-ressort lain.

Lebih dari semua itu, uang adalah sebuah sarana, bukan tuan dan tujuan.

Sunday, May 31, 2009

YANG UTAMA DAN YANG SAMPINGAN


REFLEKSI SENIN KE-22, 2009: 01/06


Berikut sebuah gambaran menyangkut ‘filsafat kehidupan’. [1]

Bayangkan sebuah bejana kosong yang agak besar. Anda mengisinya dengan bola-bola tennis, sampai ‘penuh’. Kemudian ambil beberapa kotak kelereng, dan tuangkan ke dalam bejana itu. Dengan menggoyang-goyangkan bejana itu perhatikan kelereng-kelereng itu menyelusup di antara bola-bola tennis. Apakah bejana ‘penuh’? Ya. Baik, tuangkan pasir ke dalam bejana dan menggoyang-goyangkannya. Apakah pasir masih bisa masuk? Pasti! Ia sudah penuh? Mungkin kelihatannya sudah ‘penuh’. Tetapi coba tuangkan 2 gelas teh. Pasti masih bisa masuk.
.
Bejana ini menggambarkan kehidupan kita. Bola-bola tennis adalah hal-hal yang penting, iman, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman-teman, tugas panggilan. Semuanya itu akan membuat hidup Anda menjadi penuh, meskipun tidak ada hal-hal yang lain. Kelereng-kelereng menggambarkan hal-hal lain, pekerjaan, rumah, mobil, sepeda motor. Pasir adalah adalah barang yang kecil, tetapi jika Anda mengisinya di awal, maka tidak akan ada ruang untuk kelereng atau untuk bola-bola tennis.
.
Begitu juga di dalam hidup Anda, jika Anda menghabiskan waktu dan energi Anda untuk hal-hal yang remeh, maka Anda tidak akan punya ruang untuk hal-hal yang penting. Taruhlah perhatian Anda kepada hal-hal yang paling penting bagi damai sejahtera Anda. Bermainlah dengan anak-anak Anda, lakukanlah medical checkup. Pergilah keluar dengan pasangan Anda, luangkanlah waktu sendirian dengan Tuhan, sebab selalu ada waktu untuk pekerjaan-perkerjaan penting (yang bukan terpenting) lainnya. Isilah bejana Anda dengan bola-bola tennis terlebih dahulu, yaitu hal-hal yang sangat penting. Buatlah prioritas, sisanya hanya pasir, dan jika kita membangun rumah kita di atas pasir, maka risikonya akan terlalu besar.

Perkataan Yesus dalam Matius 7:24-27 berikut kiranya menjadi lebih mudah kita pahami, terima dan wujudkan dalam kehidupan kita:

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Bagi kita yang sibuk ‘membangun’ (bekerja, memprogram, melakukan perjalanan panjang dll) sepanjang hari ini, perlu kita pastikan bahwa semuanya adalah bagian dari ‘bola-bola tennis’ --bagian dari yang terutama. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi ‘orang yang sibuk’ tetapi tetap bersukacita, berlelah tetapi tidak gampang tersulut amarah dan hidup kita menjadi berkat.


[1] Daidaptasi dari http://www.dci.org.uk/indonesian/ind-surat.htm, akses 18/5/09

Thursday, May 28, 2009

BUKU: BERKOMUNIKASI DENGAN HATI


Dengan mengucap syukur kepada Tuhan saya dengan gembira memperkenalkan buku sederhana yang baru saja terbit (Mei 2009) Berkomunikasi Dengan Hati: Kumpulan Refleksi Seputar Diri Sendiri, Motivasi dan Komunikasi. Buku ini berisi 33 kumpulan tulisan yang disertai kata pengantar dari Pdt Ayub Yahya.


Kata Pengantar
Ayub Yahya

“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih.
Suci lahir dan di dalam batin.
Tengoklah ke dalam sebelum bicara.
Singkirkan debu yang masih melekat.”
(Ebiet G. Ade)

Zaman ini adalah “zaman mata dan telinga”; orang cenderung mengutamakan apa yang “terlihat” dan “terdengar”. Lalu abai terhadap kedalaman hati. Tidak heran kalau kemudian orang lebih peduli dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Lebih peduli dengan kemasan. Mereka lupa, bahwa apa yang “terlihat” dan “terdengar” itu berawal dari hati. Dari hati yang “jernih dan bening” akan terlihat dan terdengar hal-hal yang jernih dan bening. Sebaliknya dari hati yang “buram dan kusam”, akan terlihat dan terdengar pula hal-hal yang buram dan kusam.

Maka, sebetulnya untuk menata agar apa yang kita perlihatkan dan perdengarkan itu bukan saja “enak disimak”, tetapi juga “baik dan benar”, terlebih dahulu kita harus menata hati. Begini saja. Bayangkan sebuah rumah yang megah dan mewah, terletak di pemukiman elite, tetapi kotor; debu dimana-mana, sampah ber-serakan. Pasti akan menimbulkan ketidak-nyamanan, bahkan penyakit. Sebaliknya sebuah rumah yang sederhana, tidak luas, terletak di pemukiman biasa, tetapi ber-sih dan asri; tetanaman tertata apik, dan halaman terawat ba-ik. Pasti akan membuat kita merasa tentram dan nyaman. Lebih dari itu menyehatkan.

Seperti itulah hati kita. Dari hati yang bersih dari segala debu kotoran –dengki, iri hati, kepalsuan, dendam, prasangka busuk-- akan bermunculan hal-hal yang indah dan memba-ngun. Sebaliknya dari hati yang dipenuhi oleh segala debu ko-toran itu, akan bermunculan hal-hal yang buruk dan merusak.

Realitas inilah yang hendak disampaikan penulis melalui bukunya, “Berkomunikasi dengan Hati”. Melalui keseder-hanaannya bertutur, secara jernih ia menyampaikan pesan demi pesannya, tanpa kesan mengkhotbahi atau menggurui. Karenanya buku ini enak dibaca dan asyik disimak. Bagai kita tengah menikmati perjalanan panjang dengan teman yang cerdas dan menyenangkan. Tidak terasa, tahu-tahu kita sudah sampai di tempat tujuan. Sungguh, saya merasa terhormat mendapat kesempatan memberi sedikit kata pengantar di sini. Selamat membaca.


Ayub Yahya
Bukit Batok, Sabtu Sunyi 2009

---------------------------------------------------


DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Ayub Yahya...............................................................
Prawacana: Tiga Pilar Komunikasi...........................

Bagian 1
Merawat Hati Menata Hidup

1. Krisis Tanpa Tangis
2. Mengalami Waktu
3. Temperamen ‘Plus’
4. Hati-hati Dengan Hati
5. Hikmat
6. Ketika Jalan Hidup Tak Lurus dan Mulus
7. Kala Tertunda di Kauda
8. Melepas Kelekatan
9. Memilih Penghuni Pikiran
10. Menghalau Kekuatiran
11. Memilah dan Memilih dengan Bijaksana
12. Mengutamakan Yang Tuhan Utamakan
13. Bejana Tanah Liat, bukan Selebriti
14. Bebas Narsis Spiritual
15. Tambah Usia Tanpa Gelisah
16. Kesuksesan Yang Gagal

Bagian 2
Komunikasi Yang Mengalir dari Hati Damai

17. Antara Dia dan Aku
18. Cara
19. Harga Manusia: Tidak Pernah Diskon
20. Khasiat Senyum dan Tawa
21. Kritik, Yes! Tukang Kritik, No!
22. Seni Mendengarkan
23. Bereaksi Dengan Cerdas
24. Mengatakan ‘Tidak’
25. Sekali Lagi Tentang Memadamkan Amarah
26. Mengatakan Keburukan Orang Lain, Boleh?
27. Masalah Memberi Kesan
28. Menabur Kesabaran Menuai Kedamaian
29. Pengampunan
30. Menyikapi Kesalahpengertian
31. Surat Yang Menyembuhkan
32. Masalah Triangulation dalam Komunikasi
33. Menghindari Polusi Televisi

Sekiranya Anda membutuhkan buku ini, silahkan menghubungi Ibu Warni di warni.pangaribuan@gmail.com

SEMINAR ANGKATAN IV

Hari ini, 28 Mei 2009, Seminar Kepemimpinan yang diselenggarakan Haggai Institute dimulai. Peserta berjumlah 11 orang. Ada dua pendeta HKBP yang mengikutinya kali ini: Pdt Timbul Hutahaean (HKBP Ressort Parlilitan) dan Pdt Sanggam Siahaan (Pendeta NHKBP Ressort Batam). Seminar diawali dengan Ibadah Pembukaan dengan renungan dari Mat. 28:16-20 yang disampaikan oleh Pdt Petrus (FES Singapura). Seminar ini berlangsung selama 3 hari.

Seminar angkatan ke-5 akan berlangsung akhir Agustus 2009 nanti. Anda yang merasa terpanggil mengikuti seminar ini silahkan mengubungi kami di victor.tinambunan@gmail.com

Saturday, May 23, 2009

MEMBERI 'KARENA' BUKAN 'SUPAYA'


REFLEKSI SENIN KE-21 2009; 25/05


‘Hukum pemberian berbalasan setimpal’ tidak asing dalam kehidupan kita keseharian. Misalnya, kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Bagi sebagian orang mungkin hadiahnya pun diusahakan agar harganya kurang lebih sama dengan yang pernah diterima. Jika orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa jika kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA berikutnya diadakan di rumahnya. Kalau tidak, kita juga tidak datang mengikuti PA di rumahnya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”.

Selain itu, ada pula ‘pemberian berbalasan’ yang berbeda bentuknya. Misalnya, suatu pemberian dalam bentuk materi tidak harus dibalas dengan materi, tetapi dengan ucapan terima kasih, pengakuan, pujian, atau ‘suara’ dalam suatu pemilihan. Celakanya, ada pula yang berprinsip: “Jika gereja ‘memberi’ pelayanan yang baik (khotbah yang enak, tata ibadah yang semarak) ia memberi persembahan.” Jika demikian, apa bedanya gereja dengan bioskop dan restoran? Pemberian-pemberian yang bersifat duniawi biasanya selalu menggunakan perhitungan untung-rugi.

Yang sangat perlu kita kaji dan uji dalam memberi adalah ‘motivasi’ –yang menggerakkan dari dalam diri kita. Memberi secara kristiani adalah memberi karena bukan memberi supaya. Memberi ‘supaya’ adalah memberi dengan motivasi mengharapkan basalan mulai dari yang amat halus (seperti ucapan terima kasih atau memoles nama baik) hingga yang amat kentara seperti menuntut balasan setara atau malah lebih banyak dari apa yang diberikan. Memberi ‘karena’ adalah memberi karena kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita miliki bersumber dari Allah. Memberi, ‘karena’ itu baik menurut kehendak Tuhan.

Alkitab bersaksi bahwa Allah memberikan segala sesuatu yang baik yang kita butuhkan dalam hidup ini. Di antaranya: Tuhan ‘memberi makanan’ (Mat. 14 :16); ‘memberikan hikmat’ (Ams. 2:6); memberi kelegaan (Mat.11:28); ‘memberi kuasa’ dalam mengemban tugas panggilan (Mat. 10:1); bahkan Ia ‘memberikan’ nyawa-Nya untuk keselamatan dunia (Mat. 20:28). Jadi, sesungguhnya tidak ada yang kita miliki yang tidak kita terima. Hanya dengan kesadaran seperti itulah kita dapat ‘memberi’ dengan tulus.

Di antara sekian banyak yang baik yang dapat kita berikan kepada orang lain (seperti waktu, tenaga, nasihat, pertolongan), dalam Mat 6:1-4 kita menemukan perintah Yesus khusus tentang ‘memberi sedekah’. Yesus dengan tegas memperingatkan agar dalam memberi sedekah janganlah supaya dilihat orang (ay. 1) dan jangan supaya dipuji orang (ayat 2). Yesus mengatakan agar apa yang diberikan tangan kanan tidak diketahui tangan kiri. Artinya adalah seperti yang disebutkan dalam ayat 4: ‘tersembunyi’. Ini adalah pemberian yang terutama ‘antara kita dengan Tuhan’. Ini juga mengingatkan kita bahwa pemberian kepada orang yang berkekurangan adalah memberikan kepada Tuhan. Pada kesempatan lain Yesus berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kata ‘kamu lakukan’ di sini adalah memberikan pertolongan kepada mereka yang disebut Yesus sebagai saudara-saudara-Nya yang paling hina, yaitu orang yang kekurangan makanan, kekurangan pakaian, yang sakit, yang terpenjara (karena kebenaran).

Itu jugalah yang dihidupi oleh Rasul Paulus serta menasihatkannya kepada orang percaya: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kis. 20:35). Dunia ini mengajarkan bahwa kebahagiaan diperoleh dengan menambahkan semakin banyak untuk diri sendiri. Semangat dunia berbeda dengan firman Tuhan ini. Ada kebahagiaan dalam memberi.

Akhirnya, hendaklah kita senantiasa fokus pada Sang Pemberi, bukan pada pemberian-Nya. Ketika kita fokus pada ‘pemberian’, kita akan sulit memberi dengan tulus. Tetapi ketika kita fokus pada Allah, Sang Pemberi, segala pemberian kita akan menjadi berkat bagi orang lain, kebahagiaan bagi kita sendiri, dan kesukaan bagi Allah.

Sunday, May 17, 2009

A F F L U E N Z A


REFLEKSI SENIN KE-21 2009; 18/05
.
Obat penawar (penyakit) kerakusan adalah rasa puas dan kerelaan berbagi
(Peter Kreeft )

Penyakit yang satu ini, affluenza, berbeda dengan influenza, yang relatif mudah ditangani oleh dokter pada saat ini. Affluenza adalah ‘penyakit kerakusan’. Ia adalah sikap hidup materialistis yang menekankan bahwa “tujuan utama hidup ini adalah mendapatkan lebih banyak uang dan harta milik”. Kita tahu bahwa penyakit ini sudah merasuki dan merusak hampir semua sendi-sendi kehidupan di seantero bumi ini.

Joshua Harris pernah mengatakan bahwa “rintangan terbesar dalam pertumbuhan spiritual adalah kekayaan material dan pencobaan-pencobaan yang menyertainya.” Salah satu pencobaan terbesar adalah pengagungan ‘pertumbuhan’ ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu ukuran tertinggi keberhasilan sebuah negara. Padahal, pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri adalah ‘tumor ganas’. Mengapa? Untuk mengejar kekayaan material, bumi dan seluruh isinya justru semakin menderita. ‘Harga’ manusia pun ditakar berdasarkan apa yang ia produksi.

Agaknya melihat kenyataan demikianlah Anthoni de Mello berkata, “Anda dan saya sudah begitu terlatih untuk merasa tidak puas dengan diri sendiri. Keadaan seperti itu secara psikologis merupakan sumber kejahatan. Kita selalu merasa tidak puas, kita selalu berusaha untuk memaksa”. Harga yang harus kita bayar amat mahal jika semakin banyak orang terinfeksi affluenza ini. Untuk sementara ini, dari 6,7 miliar penduduk planet ini banyak yang terabaikan dan menderita untuk kesenangan sekelompok kecil orang. Tetapi pada akhirnya, jika tidak terjadi perubahan hidup, kehidupan di bumi ini akan punah sebelum waktunya. Yang menderita affluenza dan korban-korban mereka akan sama-sama mengalami nasib tragis. Perhitungan-perhitungan para ahli menunjukkan bahwa kalau China, misalnya, terus berjuang dan mencapai tingkat ‘kemakmuran’ Amerika (yang paling banyak terserang affluenza ini), maka bahan bakar dunia akan habis selama 34 tahun ke depan. Hutan habis. Air minum menjadi langka (bahkan bisa memicu perang). Suhu bumi kian mendidih. Malapetaka akan tidak terhindarkan.

Keberdosaan kita membuat kita merasa tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa puas. Hal yang sama menggiring kita kepada pementingan diri dan kerakusan.
Edward Brown benar ketika ia mengatakan, “Keberdosaan adalah virus yang mengakibatkan ‘penyakit affluenza’ yang merasuki hidup kita dengan perasaan yang terus-menerus tidak terpuaskan. Itu juga yang membuat orang-orang memenuhi pusat perbelanjaan meskipun mereka sudah memiliki lebih dari yang mereka perlukan dan gunakan dan juga mereka yang membeli lebih dari apa yang dapat mereka bayar.”

Gaya hidup konsumersime dan semua dukungan terhadapnya adalah dosa. Gaya konsumerisme mengakibatkan sumber-sumber alam terkuras deras dan menyisakan sampah yang kian merusak kehidupan. Pabrik-pabrik juga meracuni udara karena tidak peduli pada penanganan limbah atas nama keuntungan. Akibat dari semuanya itu, kehidupan umat manusia dan makhluk ciptaan Tuhan di planet ini menderita dan terancam punah.

Sesungguhnya ‘kerakusan’ berbohong kepada kita, yang mengatakan bahwa hidup ini diukur berdasarkan seberapa banyak yang kita miliki. Kerakusan membutakan kita untuk melihat apa yang terpenting dalam hidup, yakni ketergantungan pada Tuhan. Kerakusan juga membutkan kita akan kebutuhan orang lain. Dan, peringatan yang perlu kita dengarkan adalah bahwa “kerakusan pada akhirnya akan menghancurkan kita”.

Kita sudah berulangkali mendengar bahkan memperdengarkan peristiwa tentang perjumpaan Yesus dengan pemuda yang kaya. Yang masalah di sini, bukanlah ‘kekayaan’ itu sendiri, melainkan justru cinta akan kekayaan dan uang itulah yang menjadi akar persoalan. Itu juga yang Rasul Paulus kemukakan dalam 1 Tim. 6:10, “Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang”. Masalah yang sesungguhnya adalah ‘kerakusan’.

Menurut Bishop Solomon ada dua macam kerakusan: kerakusan untuk mendapatkan apa yang tidak kita miliki dan kerakusan untuk mempertahankan (tanpa kerelaan berbagi) apa yang kita punya. Kerakusan membuat manusia berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuatu dan setelah mendapatkannya berjuang mati-matian mempertahankannya tidak perduli apakah orang lain sekarat bahkan mati.

Yesus sangat menekankan pola hidup kecukupan. Salah satu bagian dari doa yang Ia ajarkan berbunyi, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Terjemahan yang lebih tepat adalah: “berikanlah kepada kami yang kami butuhkan dalam kehidupan sehari-hari”. Kebutuhan mesti mengalahkan keinginan. Kita pun dapat melanjutkan doa kita dengan berkata dan bertekad, “Ya Tuhan, berikanlah kepada kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. Apabila Engkau memberi lebih dari cukup, ajarlah kami untuk berbagi dengan yang berkekurangan.”

Sunday, May 10, 2009

K E H A D I R A N

REFLEKSI SENIN KE-20 2009: 11/05

Setiap kita ditempatkan oleh Tuhan di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita adalah bagian dari sebuah keluarga, gereja dan masyarakat. Sedikitnya ada tiga suasana yang berbeda bagaimana suatu kelompok atau persekutuan menyikapi kehadiran seseorang. Ketiga suasana yang berbeda ini tidak sepenuhnya karena keberadaan (baik atau buruk) seseorang yang hadir, melainkan juga keadaan kelompok atau persekutuan yang menerima ‘kehadiran’ itu sendiri.

1. Kehadiran yang Dirindukan

Kehadiran seseorang amat diharapkan. Terasa ada yang hilang jika ia tidak ada. Kerinduan kehadiran ini umumnya karena seseorang itu memberi sumbangan yang sangat berarti, seperti perlindungan, sumbangan finansial, membuat humor, penghangat suasana, ide-ide cemerlang untuk solusi suatu masalah dan sebagainya. Artinya, karena sebuah kelompok atau persekutuan ‘mengharapkan’ sesuatu dari seseorang untuk kepentingan kelompok atau pribadi-pribadi dalam kelompok itu. Tidak sepenuhnya salah. Tetapi, jika hanya dengan motif demikian, kelompok sesungguhnya hanya memanfaatkan seseorang untuk kepentingan diri sendiri. Mungkin karena keadaan seperti inilah beberapa calon legislatif mengeluh pasca pemilu April 2009. Mereka merasa kehadiran mereka dirindukan, massa berkumpul dan mendengar ‘visi dan misi’ mereka, tetapi jumlah suara yang mereka peroleh jauh dari yang mereka harapkan.

Bagaimana pun juga, keadaan hati kita bisa mempengaruhi suasana di mana dan dengan siapa kita berada. Kasih kita yang mendalam kepada semua dan setiap orang merupakan jembatan penghubung persaudaraan. Kalau kasih kita murni, kehadiran kita di mana pun akan dapat memberi makna. Tetapi kalau kita cenderung menguasai, cenderung menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, sulit dibayangkan orang lain merindukan kehadiran kita.

2. Kehadiran Tanpa Makna

Ada atau tidak ada, sama saja. Begitu kira-kira. Sebagai contoh, saya teringat pada istilah ‘panthom father’ yang disebutkan oleh Les T. Csorba dalam bukunya Trust: The One Thing that takes or Breaks a Leader, untuk menjelaskan kehadiran seorang ayah di tengah keluarga. Setelah kesibukan bekerja keseharian, si ayah memang secara fisik hadir di rumah, tetapi sama saja suasananya tanpa kehadirannya. Anak-anaknya tidak merasakan kehangatan belaian kasihnya.

Ini juga yang bisa terjadi dalam rapat-rapat, yang kehadiran hanya untuk memenuhi ‘quorum’ tetapi sama saja hadir atau tidak. Tetapi, seperti disebutkan di atas, keadaan ini bisa saja tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab seseorang itu, melainkan pemimpin yang perlu mendalami seni kepemimpinan untuk melibatkan semua orang. Atau, bisa juga sebuaha kelompok yang tidak berusaha mendorong seseorang itu memaksimalkan makna kehadiannya.

3. Kehadiran yang Tidak Diharapkan

Sedikitnya ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, seperti disebut di atas, kalau karena seseorang cenderung menguasai, menuntut, selalu mengkritik, selalu mengeluh, tidak bisa mengendalikan kemarahan, orang cenderung tidak mengharapkan kehadirannya di tengah keluarga atau sebuah persekutuan.

Kedua, kelemahan suatu kelompok atau persekutuan. Para nabi sebagaimana diberitakan di Perjanjian Lama dan murid-murid Yesus, terkadang tidak diharapkan kehadiran mereka, bukan karena kelemahan mereka tetapi karena orang-orang yang mereka temui tidak tahan akan ‘terang kebenaran’ yang dirasa mengganggu kesenangan duniawi mereka. Bahkan, Yesus sendiri pun ditolak di beberapa tempat, padahal Yesus mengasihi setiap dan semua orang.

Jadi, kalau kehadiran kita tidak diharapkan, kita perlu mengenali penyebabnya. Jika karena kelemahan dan sifat-sifat buruk pribadi kita, kita dapat mengubah diri sendiri. Tetapi, jika kehadiran kita tidak diharapkan hanya karena dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap kepentingan pribadi dan kelompok itu sendiri, mereka merasa cemburu dan iri hati, kita menerima kenyataan ini dengan kerendahan hati, kesabaran dan pengampunan. Jika Anda dikucilkan bukan karena kesalahan Anda, tidak perlu berkabung walau tidak dapat bergabung dengan orang lain. Lebih baik sendiri atas nama kebenaran dari pada berada dalam sebuah perkumpulan yang buruk.

Mark Twain benar ketika ia mengatakan, “Lebih baik layak menerima penghormatan dan tidak mendapatnya, ketimbang mendapat kehormatan padahal kita tidak layak menerima-nya.”

Sunday, May 3, 2009

EVALUASI KEHIDUPAN


REFLEKSI SENIN KE-19, 2009: 04/5

Mengevaluasi dan mempercakapkan kehidupan orang lain (khususnya kesalahan-kesalahan mereka) terkesan lebih mudah dan lebih ‘enak’ bagi banyak orang. Tetapi, jika kita mau bertumbuh secara sehat kita membutuhkan ‘evaluasi kehidupan’ diri sendiri. Amat menyedihkan jika usia kita bertambah tetapi kita berhenti bertumbuh.

Marjorie J. Thompson, dalam bukunya Soul Feast: An Invitation to the Christian Spiritual Life, menjelaskan dengan amat baik bagaimana ‘evaluasi kehidupan’ dapat mengubah kehidupan seseorang ke arah yang lebih baik. Ia menganjurkan perlunya seseorang meluangkan waktu khusus untuk memeriksa secara rinci apa saja yang perlu dievaluasi seperti: ketakutan-ketakutan, sakit hati, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah penerimaan sosial, seksualitas, dan iman. Untuk mengevaluasi dengan baik, kita harus fokus mengevaluasi satu hal dalam waktu tertentu.

Begini caranya. Pilihlah bagian tertentu dari kehidupan Anda untuk dievaluasi. Kemudian, lihatlah ke masa silam sejauh yang bisa Anda ingat. Misalnya, pikirkanlah rasa sakit hati Anda (kepada orang, situasi dunia sekitar, lembaga atau institusi), mulai dari masa kecil hingga hari ini. Tugas Anda yang paling perlu di sini adalah menuliskan dengan rinci (1) akibat-akibatnya yang Anda rasakan, dan (2) kontribusi Anda terhadap munculnya masalah tersebut. Gunakan kata “Saya” (seperti 'saya merasa', bukan 'mereka melakukan ini kepada saya....") sehingga Anda lebih jelas menggambarkan ‘perasaan’ dan ‘pengalaman’ Anda, bukan ‘mempersalahkan orang lain’. Bagian ini sangat penting. Jadi jangan sampai hal ini terlewatkan.

Sedikitnya ada tiga tahap yang perlu kita lalui dalam evaluasi kehidupan yang kiranya dapat membebaskan kita dan orang lain dari beban yang tidak perlu.

1. Pengenalan akan Masalah dan Kontribusi Kita

Untuk lebih konkret kita dapat mengambil contoh masa anak-anak atau remaja. Ini tidak dimaksudkan hanya sekadar mengungkit masa lalu, tetapi terutama untuk melihat pengaruhnya dalam hidup kita hari ini. Sebab, jika kita tidak berhasil memutus mata rantai kebiasaan masa silam, maka ia bisa juga tetap melekat dalam kita hingga sekarang bahkan hingga usia tua. Artinya, pola berpikir, bersikap dan bereaksi kita bisa saja merupakan kelanjutan dari masa anak-anak. Jadi, kita perlu menuliskan secara rinci pada sehelai kertas setiap detil bidang yang kita evaluasi. Kita dapat mengambil sebuah contoh konkrit berhubungan dengan masalah ‘sakit hati’ berikut ini.

Sakit hati:
Saya merasa sakit hati dan benci kepada teman-teman se-masa SMP dulu.

Penyebab:
Saya merasa tidak diterima dalam pergaulan mulai dari kelas I-III. Saya merasa dikucilkan dalam percakapan dan dalam permainan. (Perhatikan, Anda tidak mengatakan, “mereka tidak menerima saya” atau “mereka mengucilkan saya”. Kata-kata ini bernada mempersalahkan orang lain). Apa yang telah orang lain lakukan terhadap Anda adalah tanggung jawab mereka, bukan tanggung jawab Anda saat ini. Memang ada saatnya kita dapat melihat dan mempercakapkan kekurangan orang lain, dengan motivasi dan tujuan yang baik (di antaranya baca topik “Mengatakan Kesalahan orang lain, Boleh?” dan “Masalah Triangulation dalam Komunikasi Antar Pribadi” dalam blog ini, di bawah topik "Kecerdasan Emosional" dan "Komunikasi").

Akibatnya:
Perasaan terluka, tersisih, hilang percaya diri, mempertahankan diri, benci, menyembunyikan perasaan, berusaha membuktikan diri atau menampilkan diri, mencari perhatian, takut penolakan, kasihan terhadap diri sendiri, dan sebagainya (daftar ini bisa lebih panjang lagi).

Kontribusi (sumbangan) saya:
Saya tidak mengambil prakarsa mencari teman-teman, berharap orang lain lebih dulu bergerak, dan secara umum saya membiarkan diri sendiri menjadi ‘korban’.

Untuk bagian yang terakhir ini biasanya jauh lebih sulit. Ada ungkapan yang mengatakan “Kata-kata yang paling berat dan sulit dalam semua bahasa adalah “Saya sudah bersalah”. Tetapi, demi penyembuhan hidup kita, kita mesti melihat dengan jernih apa yang kita bawa dalam suatu masalah tertentu. Bukan untuk menangisi masa lalu dan membenci diri, tetapi untuk memulai sesuatu yang baru, yang lebih baik.

Kita dapat juga melihat bagaimana keadaan tersebut terbentuk dalam diri kita, khususnya dari lingkungan keluarga. Biasanya pengalaman anak-anak sehari-hari di lingkungan keluarga amat mempengaruhi sikap dan perilakunya berhadapan dengan sesamanya. Seorang anak yang tidak diberi kesempatan mengungkapakan perasaannya dan selalu dicela biasanya akan mengalami hambatan dalam menjalin persahabatan dengan orang lain. Demikian juga anak yang terlalu dimanja sebagai ‘anak mama’, yang selalu menerima apa saja yang dimintanya dari orangtuanya, ia cenderung ‘menguasai’ teman-temannya yang membuat orang lain menjaga jarak. Sekali lagi, pola ini bisa berlanjut hingga usia tua. Kalau Anda cenderung menguasai orang lain dalam percakapan atau sebaliknya terlalu menyembunyikan perasaan padahal Anda sudah merasa benci setengah mati, hal itu mungkin sudah terbentuk sejak lama.

2. Mengenal karunia dan kekuatan kita

Kita tidak berhenti pada pengenalan akan permasalahan dan sumbangan negatif kita terhadap terjadinya masalah. Dengan pimpinan Tuhan, kita juga perlu dengan jernih mengenal karunia dan kekuatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Kita perlu melihat sumbangan positif apa yang kita bawa dalam situasi itu. Bukankah sesuatu yang baik bahwa kita tidak bertindak di luar kendali melampiaskan kebencian kita? Kita punya kesempatan dan kemampuan melakukan kekerasan, tetapi kita tidak melakukannya. Ini merupakan kontribusi positif yang sangat berharga.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa itu? Kita dapat lebih memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain. Kita jadinya menyadari betapa berharganya saling mengasihi dan saling menghargai dengan sesama. Bahkan, kita bisa menolong orang lain yang terhimpit oleh masalah yang relatif sama, yang mereka tidak sadari.

3. Pengakuan dan Penyerahan diri

Setelah semua itu kita lalui dan kita dapat melihat dengan jernih segi positif dan negatif diri kita, kita dapat mengungkapkan pengakuan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang sekaligus berisi komitmen pembaharuan kehidupan kita.

Kita dapat ungkapkan dalam doa, “Ya Allah, hal-hal inilah yang kulihat dalam diriku. Inilah diriku yang kukenal. Inilah pola bagaimana aku bertindak dulu dan sekarang. Tetapi, Engkau mengenal aku lebih baik ketimbang aku mengenal diriku. Pimpinlah aku kepada penglihatan dan pengenalan yang lebih baik akan diriku. Biarlah semua kebenaran yang saya butuhkan Engkau penuhi, setiap luka dan respon menyakitkan Engkau sembuhkan. Terima kasih atas waktu pemberian-Mu ini untuk belajar akan bagian hidupku. Kuatkanlah dan tolonglah aku untuk bertumbuh dan berbuah baik serta membagikannya dengan orang lain.”

Apa yang diuraikan di atas dapat menjadi acuan kita untuk mengevaluasi bagian lain dalam hidup kita pada waktu yang berbeda (seperti yang sudah disebutkan di atas: ketakutan-ketakutan, perasaan tidak aman secara emosi, perasaan tidak aman secara material, masalah seksualitas, dan iman). Atas pertolongan Tuhan, kita akan menjadi pribadi sebagaimana Tuhan telah rancang sebelum menghadirkan kita ke dunia ini.

Hanya dengan demikian pula kita dapat mengemban tugas pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita di tengah keluarga, lingkungan kerja, gereja dan masyarakat luas. Bersama Tuhan dan untuk keagungan nama-Nya.

Sunday, April 26, 2009

A N G K A


REFLEKSI SENIN KE-18 2009: 27/4

‘Angka’ berperan penting dalam kehidupan manusia. Tidak ada keraguan dalam hal ini. Dapat kita bayangkan betapa kacaunya penanggalan waktu, perekonomian, sistem komunikasi, sistem transportasi, bahkan kehidupan bergereja tanpa ‘angka’. Khusus dalam lingkungan gereja, ‘angka’ dibutuhkan untuk mengorganisasi ayat-ayat Alkitab dan nyanyian, jumlah warga jemaat dan jumlah saldo atau defisit keuangan.

Seiring dengan perkembangan zaman, ada kesan bahwa ‘angka’ kian mendominasi kehidupan umat manusia. Bagi sebagian orang ‘PIN” (Personal Identity Number) sudah merupakan kebutuhan mutlak untuk ATM, email, kunci gerbang, kunci koper dan sebagainya.
.
Kita perlu memikirkan angka dan angka mestinya membuat kita berpikir. Misalnya, dengan statistik jumlah penduduk dunia yang lebih dari 6 miliar (angka yang luar biasa!), mestinya membuat kita ‘berpikir’ bagaimana seharusnya gaya hidup kita agar bumi ini tidak kiamat sebelum waktu yang ditentukan oleh Tuhan. Ada kecenderungan bahwa seluruh penduduk dunia ingin mencapai gaya hidup orang-orang Amerika. Mari kita pikirkan angka-angka ini: Dengan 5% penduduk dunia, AS menghabiskan 40% sumber daya alam di pasar dunia setiap tahun. Kalau seluruh penduduk dunia mau hidup pada taraf kemakmuran di Amerika, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin: mengurangi jumlah penduduk global sebanyak 87,5% atau menemukan delapan bumi baru’.[1] ‘Angka seharusnya membuat kita berpikir –berpikir ulang akan gaya hidup dan cita-cita kita.

Di samping kebutuhan, kita juga menghadapi persoalan seputar angka, mulai dari manipulasi jumlah suara para calon legislatif hingga keyakinan ‘angka keramat’ dan ‘angka keberuntungan’. Banyak orang yang meyakini angka 13 sebagai angka sial. Itu sebabnya di beberapa bagunan bertingkat tidak digunakan angka 13 untuk lantai 13. Penggantinya dibuat angka 12b atau langsung angka 14. Demikian juga kamar hotel-hotel yang tidak membuat kamar 13. Orang-orang Kristen seharusnya melepaskan diri dari keyakinan-keyakinan demikian.

Yang menyesatkan dan paling menyedihkan berkaitan dengan 'angka' sedikitnya ada tiga.

Pertama, angka menggantikan nama manusia. Lihatlah penjara-penjara, kuli pelabuhan atau airport atau antrian. Mereka punya nama, tetapi mereka sering diperlakukan sebagai sekadar angka-angka.

Kedua, segala macam perjudian dengan taruhan. Ketika togel (toto gelap) masih merajalela di berbagai daerah di Indonesia, ‘mimpi’ menjadi sangat penting yang semuanya dianggap sebagai ‘kode alam’ atau petunjuk ke nomor tertentu. Yang mengherankan, ada pula orang yang beribadah di gereja justru pikirannya tertuju pada angka-angka. Melihat banyak 'angka 2' di dalam Tata Ibadah, seseorang menganggapnya sebagai ‘kode alam’ juga. Entah berkelakar atau tidak, pernah ada orang yang mengatakan bahwa dia mendoakan 'angka' tertentu kepada Tuhan agar kiranya Ia memberi kesempatan kepadanya menang undian, dan sebagian hasilnya akan diserahkan ke gereja. Untunglah dia tidak menang, kalau menang mungkin Ia berpikir bahwa Allah juga mengijinkan judi. (Di Singapur, toto atau undian ini legal. Diminati sangat banyak orang. Semoga orang-orang Kristen tidak menyalahgunakan ‘angka’ untuk hal-hal demikian.)

Ketiga, menyuburkan keinginan hingga mengalahkan kebutuhan. Kita bisa perhatikan bagaimana pusat-pusat perbelanjaan menarik perhatian para pembeli. Di Singapaura, misalnya, tidak asing bagi pemandangan kita promosi-promosi sebagai berikut:
  • Up to 70% off (diskon hingga 70%). Angka ini membuat orang tergiur. Padahal, yang menentukan harga sebelum dan sesudah diskon adalah pemilik toko juga. Bisa saja mereka naikkan dulu 70% lalu mereka turunkan sendiri 70%.
  • Last day offer: Only $49.99; UP $100 (Penjualan hari terakhir, hanya $49,00; Usual Price –harga biasanya-- $100. Orang yang tidak berpikir kritis, merasa bahwa itu sudah murah, padahal yang menentukan UP adalah si penjual juga. Angka-angka itu hanyalah untuk menarik perhatian.
  • Buy 3 get 1 free (beli 3 dapat satu gratis). Angka-angka ini juga pasti sekadar mempermainkan pembeli. Harga 4 sudah dimasukkan ke dalam 3. Buy 3 get 1 free, hanya sekadar akal-akalan.

Justru karena banyaknya orang yang terkecoh dengan angka-angka inilah salah satu penyebab begitu banyak barang-barang yang ada beberapa di rumah yang tidak dibutuhkan. Padahal, gaya hidup konsumerisme seperti itu amat mahal konsekuensinya terutama terhadap kerusakan alam yang sudah sangat parah saat ini.

Jadi, dari pada menyalahgunakan angka atau tertipu oleh angka-angka, lebih baik kita gunakan untuk hal-hal yang membangun iman kita dengan ‘menghitung’ segala berkat Tuhan dan menghitung hari-hari hidup kita sebagaimana dilakukan oleh Pemazmur. Tuhan mengetahui jumlah (dengan angka) rambut kita tapi tidak memperhitungkan dosa kita, asal kita mengaku, memohon pengampunan dan bertobat.





[1] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah

Wednesday, April 22, 2009

DARI ‘MELAYAT POLITIK’ HINGGA ‘KEBAKTIAN POLITIK’

Sebelum pemilu legislatif yang baru saja berlalu, tanpa direncanakan saya pernah berbincang-bincang dengan calon legislatif untuk satu Propinsi. (Saya mendengar beliau masuk menjadi anggota legislatif). Meskipun beliau seorang calon legislatif, dia sendiri amat prihatin melihat keanehan-keanehan para calon legislatif memperkenalkan diri dan menarik perhatian masyarakat pemilih. Dia mengatakan berkembangnya program “melayat politik”, “kebaktian politik” dan “makan politik”

‘Melayat Poltik’, adalah mereka yang mengirimkan ‘bunga papan’ kepada keluarga yang berkabung dengan menulis nama, caleg partai mana, lengkap dengan nomor urut berapa. Anehnya, ada pula di antara yang mengirim papan bunga tersebut yang sama sekali tidak ada pertalian kekeluargaan atau hubungan dekat apa pun dengan orang yang meninggal tersebut.

“Kebaktian Poltik”, adalah pihak partai atau caleg yang gencar mengunjungi gereja-gereja dengan mengikuti kebaktian dan memberi sumbangan (yang di antaranya juga menyebutkan nama partainya). Mereka diberi kesempatan berbicara di sela-sela ibadah, lengkap dengan 'Jaket Partai'. Dan ada ‘pesan sponsor’ supaya calon tersebut didoakan dalam doa syafaat.

“Makan Politik”, adalah mereka yang memberi makan warga masyarakat, baik secara langsung mapun membagi-bagi sembako yang kemudian sang caleg diberi kesempatan berpidato.

Setelah pemilu usai, berbagai komentar bermunculan dari hampir semua kalangan masyarakat seperti tukang ojek, tukang pangkas, pengunjung tetap warung kopi hingga kantor-kantor pemerintah bahkan konsistori gereja. Tentu, sudah pasti komentar-komentar seru dari para caleg yang menang, apalagi yang kalah.

Seorang teman mengirimkan email kepada saya yang berisikan keluhan seorang calon legislatif sebagai berikut:

“Saya juga punya pengalaman yang menyedihkan melihat para pemilih, rakyat Indonesia yang miskin ini. Mereka menerima semua orang, bahkan mengundang untuk datang ke kampungnya, minta ini dan itu, dengan janji akan memberi suara untuk kita. Saya mengunjungi lebihdari 60-70 komunitas untuk memperkenalkan diri, memperkenalkan visi dan misi. Tetapi ternyata mereka banyak yang membohongi saya, dan memilih orang lain yang memberi uang belakangan dan lebih banyak. Termasuk gereja-gereja meminta-minta uang dari banyak calon legislatif (caleg), tapi juga tidak memilihnya. Keadaan Indonesia telah kacau, tidak bermoral lagi, mungkin oleh budaya kemiskinan. Penghitungan suara belum selesai, tapi saya pessimis bisa duduk di DPRD....... Biarlah, saya serahkan saja pada Tuhan.”

Biarlah ini menjadi pelajaran pendewasaan bagi seluruh rakyat Indonesia, para calon legislatif dan lembaga keagamaan.

(1) Calon legislatif hendaknya lebih mengedepankan kualitas diri dan komitmen untuk perbaikan bangsa. Seorang teman mengatakan kepada saya perlunya setiap pribadi ‘berkaca diri’ sebelum mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif, bupati, gubernur dan lain-lain.
(2) Kepada gereja-gereja: Gereja tidak hidup karena uang tetapi Gereja yang hidup pasti punya uang yang cukup untuk pelayanan. Karena itu, Gereja seharusnya tidak menyelewengkan keberadaannya sebagai lembaga gerejawi tidak menjadi ajang politik praktis.
(3) Masyarakat pemilih hendaknya “memilih dengan hati dan secara hati-hati”. Pilihan masyarakat ikut menentukan masa depan bangsa.

Sunday, April 19, 2009

TIGA TIPE 'PROBLEM SOLVER'



REFLEKSI SENIN KE-17 2009: 20/4

Selama hidup di dunia ini ‘masalah’ (khususnya karena kelemahan dan keterbatasan manusia) kelihatannya akan selalu menyertai perjalanan hidup umat manusia. Jadi, pertanyaannya bukanlah terutama, “Bagaimana menyelesaikan masalah?”, melainkan, “Apakah mungkin semua masalah diselesaikan?” Pengalaman empiris kita menunjukkan tidak semua masalah dapat diselesaikan. Yang jelas 'setiap masalah' dapat membuat kita lebih berkembang dan lebih dewasa atau jatuh terkulai, tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.

Agaknya tipe kepribadian dan karakter seseorang serta tingkat kesulitan masalah yang ada turut mempengaruhi bagaimana seseorang itu mendekati atau menangani masalah yang dihadapi. Secara umum dikenal tiga tipe orang dalam penyelesaian masalah sebagai berikut.

1. Assertif

Orang tipe assertif mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya. Jika masalah ini berkaitan dengan ‘hubungan’ dengan orang lain, ia mengambil prakarsa untuk membicarakannya. Tipe ini boleh dikatakan lebih aktif untuk mencari solusi sesegera mungkin, tanpa menunggu.

2. Meditatif

Tipe ini adalah orang yang duduk dan memikirkan terlebih dahulu dengan seksama dan sejernih mungkin masalahnya. Kadang-kadang jawaban datang kepadanya melalui proses ini. Ia tidak mengambil tindakan dengan segera apalagi tergesa-gesa.

3. Kooperatif

Tipe orang kooperatif percaya bahwa cara termudah untuk menyelesaikan masalah sulit adalah dengan meminta pertolongan orang lain. Pendapat orang lain dapat menolongnya ketika ia tidak menemukan solusi.

Karena masing-masing tipe ini memiliki kekuatan dan kelemahan jika ia berdiri sendiri, maka seseorang tidak perlu masuk dalam satu tipe pendekatan saja secara ketat-kaku. Kita dapat menerapkan ketiganya tergantung pada situasi dan keadaan masalah yang kita hadapi.

Yang lebih terpenting kita miliki adalah ‘hikmat’ dari Tuhan dalam menghadapi setiap masalah kehidupan. Itulah yang dimiliki orang-orang yang menyerahakan diri kepada pimpinan Tuhan sebagaimana kita temukan dalam diri tokoh-tokoh Alkitab dan sejarah gereja sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan dan menerima keadaan yang tidak dapat mereka ubah tanpa masalah.

William E. Hulme memahami bagian nyanyian “Ya Tuhan tiap jam ‘ku memerlukan-Mu” demikian:
Aku terus-menerus memohon:
  • hikmat dalam pengambilan keputusan;
  • kedewasaan dalam berhadapan dengan orang lain
  • kesadaran akan kehadiran Allah ketika aku cenderung hanya memikirkan diriku sendiri.

Pemahaman demikian telah berhasil melewati keinginan ‘memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan diri’ menjadi ‘memberi diri dipakai oleh Tuhan sesuai rancangan dan rencana-Nya.

Friday, April 17, 2009

ALKITAB TULISAN TANGAN



St. Tangsiun Tinambunan (67) menyalin "Bibel Padan Naimbaru" (Alkitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Batak) dengan tulisan tangan khas tempoe doeloe'. Sebelumnya beliau sudah membaca seluruh bagian Alkitab. Beliau dapat menulisnya berhubung beberapa tahun belakangan ini tidak dapat berjalan dengan baik karena dua kali mengalami patah tulang di bagian kaki. 'Masalah' membuatnya berkembang dan lebih kreatif.
.
Jika Anda membutuhkan info lebih lanjut atau mempunyai saran untuk penempatan/ penggunaan naskah ini, mohon kesediaannya menyampaikannya kepada kami.
.

Sunday, April 12, 2009

MEMUTUS MATA RANTAI SAKIT HATI MENAHUN


REFLKESI SENIN KE-16 2009: 13/4

Adakah orang yang menyakiti hati Anda teramat dalam selama ini? Pikirkan sejenak sejak masa kecil hingga kemarin sore. Mungkin orangtua Anda sendiri, mungkin keluarga dekat, mungkin rekan sekerja, tetangga atau yang sama sekali tidak Anda kenal. Saya tidak bermaksud mengungkitnya untuk menambah rasa sakit yang Anda rasakan. Saya hanya ingin menawarkan sebuah anjuran untuk melepaskan akar kepahitan itu agar Anda dapat menjalani hidup ini dengan segala keindahannya tanpa beban non-salib. “Bagaimana mungkin saya melupakannya? Tindakannya begitu amat dalam menggores hati saya?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Masalahnya adalah, “Apakah Anda mau bebas dari kepahitan?” Itu sepenuhnya pilihan Anda.

Mungkin lebih baik langsung saja kita bicarakan bagaimana menebas akar kepahitan itu. Ingatlah orang yang menyakiti Anda apa adanya (orangtua, teman, keluarga dekat, guru, pelayan gereja atau siapa saja). Jangan pikirkan semuanya sekaligus. Pikirkan satu orang saja dulu dan lanjutkan kepada orang yang lain nanti atau besok. Ini yang kiranya perlu Anda pertimbangkan:

1. Memahami dengan empati

Sikap dan perilaku seseorang biasanya merupakan hasil dari berbagai ‘pembentukan’ mulai dari masa kecil. Orang yang diperlakukan tidak adil, penuh kekerasan, tidak dihargai, selalu dicela biasanya akan masuk dalam barisan ‘orang-orang sulit’, jika tidak memutus akar kepahitan. (Itu sebabnya kita perlu memutus akar kepahitan ini, supaya kita tidak terjebak dalam perangkap Iblis dengan melakukan dan mewariskan apa yang justru tidak kita sukai). Jadi, kalau ada orang yang menyakiti Anda, berusahalah memahami keberadaan orang itu. Kemingkinan besar ia perlu ditolong. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya. Dengan memahami keberadaan orang yang menyakiti kita, kita akan lebih mudah mengampuninya apakah dia minta maaf atau tidak.

2. Melihat kebaikan

Sejelek-jeleknya manusia, ‘pasti’ ada kebaikannya. Dengan fokus pada kebaikan orang rasa tidak senang bahkan rasa benci akan berkurang jika tidak sirna secara keseluruhan. Kita tidak sempat (mungkin lebih tepat ‘tidak rela’) melihat kebaikan orang karena hati kita begitu kuat dicengkeram kebencian. Dalam keadaan demikian, malah kita ‘membutuhkan’ keburukan orang lain agar dapat kita daftarkan dan sebarkan kepada orang lain sebagai ‘bukti pendukung’ betapa orang itu kejam dan menonjolkan sikap kebinatangbuasannya. Sekali lagi, kali ini lihat dengan jernih kebaikan-kebaikannya. Apalagi kalau orang yang menyakiti Anda adalah orangtua sendiri, Anda tentu lebih mudah melihat kebaikan-kebaikannya meskipun dia memperlakukan Anda dengan keras bahkan kasar di masa lalu dan hingga hari ini setelah Anda berkeluarga masih dianggap anak-anak.

3. Tolak sikap dan perilaku buruknya, terima dan kasihi orangnya

Sulit? Tentu! Bahkan, mungkin salah satu yang paling sulit dalam merawat hubungan baik dengan sesama. Tetapi tidak ada jalan lain. Kita ingat bahwa perubahan Zakheus bukan karena dibenci oleh orang-orang disekitarnya, melainkan karena dikasihi oleh Yesus. Kasihi mengubah orang lain. Sifat pemarah, tidak peduli, pelit, pemfitnah, pembohong, penipu harus kita benci, tetapi orangnya tetap kita terima sebagai manusia dan mengasihinya dengan kasih Tuhan. Dalam hubungan dengan orangtua yang menyakiti kita misalnya, kita tetap “menghormati mereka” tanpa ‘menghormati perlakuan buruk mereka”.
..
4. Renungkan kontribusi Anda

Mungkin Anda tidak suka yang satu ini. Tetapi ia merupakan bagian tidak terpisahkan. Sudah sifat alami kita untuk lebih banyak melihat masalah pada orang lain. Dari kepahitan yang kita alami, kita perlu meneliti hidup kita sejauh mana kita memberi ‘sumbangan’ terhadap kepahitan itu sendiri. Ini tidak dimaksudkan agar kita menyalahkan diri sendiri bahkan benci diri. Sedikitnya dua hal penting di sini. Pertama, dengan melihat ‘kontribusi’ kita pada masalah yang kita hadapi, kita lebih toleran kepada orang lain. Kedua, kita bisa mengubah diri mulai saat ini dalam bersikap dan bertindak.
.
5. Mengingat tanpa memikirkan

Kita tidak berkuasa melupakan sesuatu. Sebab, ketika kita berusaha melupakan sesuatu, justru pada saat yang sama kita mengingatnya. Sama halnya dengan perbuatan orang lain yang menyakiti kita, mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin kita lupakan. Tidak apa-apa! Yang penting ialah, jangan ‘pikirkan lebih jauh’. Jangan ulas secara rinci apalagi menambahkan bumbu ke dalamnya sehingga semakin enak dan asyik memikirkannya. Iblis pasti bertepuk tangan jika Anda mengolahnya terus dalam benak Anda. Ketika Anda mengingat sesuatu yang menyakiti Anda, pikirkan yang lebih bermanfaat. Anda punya ‘kuasa’ untuk memilih mana yang Anda pikirkan. Jangan mau menjadi budak masa lalu Anda. Itu akan melumpuhkan kehidupan Anda hari ini dan mengaburkan masa depan.

6. Melayani Tuhan tidak mungkin mengikuti ego

Pikirkan hal ini secara mendalam. Anda mungkin mengklaim diri sebagai pelayan Tuhan. (Sesuai dengan Ef 4:11-12, semua orang percaya terpanggil mengemban tugas pelayanan gereja. Fungsi pelayanan memang berbeda, tetapi semua adalah pelayan). Bagaimana mungkin Anda ‘melayani’ Tuhan dalam waktu yang sama Anda ‘mengikut’ ego sendiri. Pelayan Tuhan mestilah pengikut Tuhan. Agar pelayanan kita berbuah sebagaimana diharapkan oleh Sang Pemilik pelayanan itu, marilah kita minta pertolonganNya untuk ‘menjinakkan’ ego kita yang rewel itu.

7. Nafas pengampunan

Secara teknis, Anda boleh melakukan latihan pernafasan pelepas asap kebencian dan kemarahan. Sadarilah pernafasan Anda. Hirup udara secara perlahan melalui hidung. Rasakan betapa sejuknya pemberian Tuhan yang masih gratis ini (Mudah-mudahan tidak akan pernah kita bayar seperti layaknya listrik dan air). Anda menghirup kebaikan Tuhan yang menghidupkan. Resapkan hal ini dalam hati. Keluarkan udara melalui mulut. Rasanya hangat. Bayangkan yang keluar itu seperti ‘asap’ --asap kebencian, kemarahan dan kepahitan. Dan yang paling penting, mari kita undang Roh Kudus diam dan bertakhta dalam hati kita. Segala kepahitan pun akan dengan sendirinya tidak tahan mendekati kuasa Roh yang berkuasa dan bertahta dalam hidup kita.

Wednesday, April 8, 2009

PEMILU INDONESIA DI SINGAPURA


Pagi ini, 09 April 2009, orang-orang Indonesia (kalau tidak salah total orang Indonesia yang tinggal di Singapura sekitar 165.000) mendatangi Tempat Pemungutan Suara di kompleks Kedutaan RI di Singapaura. Sangat ramai. Ini menunjukkan antusias warga bangsa Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik. Memakan waktu sekitar 45 menit antri hingga memasuki bilik suara. Pagi hari lebih ramai. Ada juga yang hanya 35 menit antri. Kecuali jam 2 siang ke atas, pemilih tidak perlu antri.

Pelaksanaan pemilu di Singapur sangat tertata rapi. Para petugas terkesan melakukan persiapan dengan sangat matang, dibantu dengan penggunaan teknologi canggih. Kita pantas mengacungkan jempol kepada para petugas pemilu. Terima kasih banyak kepada bapak/ibu/sdr yang sudah berlelah. Harapan semua rakyat pemilu ini jujur.

Ada yang sedikit ganjil. Dua orang kenalan yang saya tanya secara terpisah apakah sudah punya pilihan, keduanya menjawab, “SBY lagilah!”. “Tapi sekarang belum pemilihan presiden, bukan?” saya balik bertanya. “Jadi?”, kata mereka. “Setahu saya kita masih memilih anggota DPR”, jawab saya.

Mungkin sosialisasi pemilu tidak sampai ke orang-orang Indonesia. Maklumlah, karena kesibukan masing-masing, mungkin tidak sempat mendapat penjelasan seperlunya.

Bagi wakil-wakil rakyat yang terpilih hari ini, ‘Selamat!’ Tuhan menguatkan dan memperlengkapi Anda semua mengemban tugas yang berat ini untuk kebaikan bangsa Indonesia. Jangan lupa pada janji-janji Anda ketika kampanye.
Bagi Anda yang belum terpilih, “Selamat!” Anda akan menemukan yang terbaik. Tidak perlu stress berlebihan apalagi putus asa. Keluarga dan sahabat-sahabat Anda membutuhkan kehadiran Anda. Anda juga tetap dapat berbuat sesuatu untuk kebaikan bangsa Indonesia dari kursi Anda sendiri tanpa harus dari kursi di parlemen.


Ada Felix Hutabarat yang
bekerja keras mensukseskan pemilu


































DOA UNTUK BANGSA




Ya Allah, Bapa dan Pencipta kami.
Engkau adalah Pencipta dan Pemilik Indonesia.
Engkau adalah Pencipta dan Pemilik semua orang Indonesia.
Kami bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan
telah anugerahkan dan kerjakan untuk bangsa Indonesia.
Sesungguhnya Engkau memberikan cukup untuk kebutuhan kami, cukup untuk setiap orang untuk hidup sejahtera dan bahagia.

Terima kasih karena Engkau menganugerahkan kemerdekaan politik kepada bangsa Indonesia setelah ratusan tahun terjajah.
Terima kasih karena Engkau menyelamatkan bangsa ini dari berbagai bencana yang silih berganti.

Ya Tuhan, peliharalah bangsa ini seturut kemurahanMu
Kuatkanlah setiap komponen bangsa untuk mengedepankan kebaikan bersama, sebagaimana Engkau menghendaki kebaikan bagi umat manusia ciptaan dan milikMu.

Secara khusus dalam pemilihan 9 April 2009, kiranya pemilu ini boleh menjadi alat di tangan Tuhan mewujudkan keadilan, kebenaran, kesejahteraan dan rasa persaudaraan bagi bangsa Indonesia.

Kami tidak tahu motivasi para calon legislatif.
Kami tidak tahu apakah mereka menjalankan kampanye dengan adil dan jujur
Kami tidak tahu semurni apa komitmen mereka
Kami tidak mengenal mereka semuanya.
Tetapi kami percaya Engkau mengenal mereka dengan sangat baik, bahkan Engkau mengenal mereka lebih baik ketimbang mereka mengenal diri mereka sendiri.
Engkau mengetahui dengan jelas motivasi, komitmen dan kekurangan mereka.
Tetapi Engkau adalah Pengasih dan Penyayang, ampuni mereka ya Tuhan.
Murnikan motivasi mereka jika ada yang ternoda dan tergoda untuk pementingan diri.
Perlengkapilah mereka dengan hikmat dan pengetahuan sorgawi.
Kuatkanlah mereka mengemban tugas pelayanan merawat bangsa ini seturut kehendakMu.

Dan, Engkaulah kiranya menghibur dan memberi yang terbaik bagi mereka yang tidak terpilih untuk tidak jemu-jemunya memperjuangkan kebenaran dan keadilan meski mereka hanya duduk di kursi sendiri bukan di kursi parlemen.

Berilah hati yang bijaksana kepada seluruh pemilih untuk memilih dengan hati nurani yang bersih. Sebab, hanya dengan nurani bersihlah kami dapat membersihkan borok-borok bangsa ini untuk kesembuhannya.

Allah yang baik, Engkau tidak akan meninggalkan Indonesia.
Kami berjanji, tidak akan meninggalkan Engkau.
Engkau senantiasa merawat Indonesia. Kuatkanlah kami untuk seirama dengan Tuhan merawat Indonesia dengan segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada kami.

Amin.

Tema serupa “Allah dan Indonesia, silahkan klik di sini: http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/07/allah-dan-indonesia.html

Tuesday, April 7, 2009

SEBUAH ULAH DALAM ACARA ULTAH

Klik tanda panah untuk play video.

Matius 19:14: Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Yang Yesus maksudkan adalah 'ketergantungan orang percaya sepenuhnya kepada Allah, sama seperti ketergantungan anak kepada orangtua". Jadi, bukan sikap kekanak-kanakan: selalu campur atas urusan orang lain, tidak bisa membedakan antara 'keinginan' dan 'kebutuhan'; menangis kalau keinginan tidak terpenuhi dengan caranya sendiri dan waktu yang ditetapkan sendiri".

Lihatlah peristiwa dalam video di atas. Yang ulangtahun sebenarnya adalah Dorothy Christi Lois. Ketika itu, baru tiga bulan di Singapura pada 30 September 2006. Belum tahu di mana mencari lilin. Jadilah lilin raksasa ini dengan menempelkan kertas bertuliskan angka 6 pertanda ultah ke-6.

Ada masalah serius. William merasa dirinya yang berulangtahun. Ketika lilin ditiup oleh kakaknya, William protes dan menangis. Diambillah 'win-win solution'. Lilin akan dinyalakan kembali dan yang akan meniup adalah William. Masalahnya, korek api tidak ada. Ibunya mengambil secarik kertas bekas dan mengambil api dari kompor. Sayang, apinya sudah tewas dalam perjalanan dari dapur sebelum menjangkau lilin. Kali ini justru lilin yang bertemu dengan kompor di dapur. Akhirnya lilin menyala juga. Jadilah William meniup lilinnya.

Apa yang William ambil dan santap dari bawah lilin? Entahlah.....

Saturday, April 4, 2009

R E A K S I


REFLEKSI SENIN KE-15, 2009: 6/4

Jangan relakan diri Anda menjadi mangsa dari keadaan dunia sekitar, jadilah tuan atas situasi (S.I. McMillen)

Ingat “prinsip 90/10” dari Stephen Covey? Prinsip ini mau mengatakan bahwa 10% adalah apa yang terjadi dalam hidup kita dan 90% adalah keputusan kita bagaimana bereaksi atau menyikapi. Kita tidak dapat mengontrol yang 10% --apa yang terjadi kepada kita. Kita tidak dapat menghentikan hujan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa pada tetangga yang ribut berteriak-teriak, kita tidak dapat menghentikan mesin cuci, sterika, kompor gas dari kerusakan, kita tidak dapat mengontrol lampu merah di jalan raya. Kita tidak punya kuasa menghindari PHK. Berbeda dengan yang 90% lagi. Kita yang menentukannya: melalui reaksi kita.

Celakanya, ada orang yang reaksi negatifnya sudah otomatis untuk setiap kenyataan yang dihadapinya, tanpa pernah mengubahnya. Misalnya:

  • Anak menangis – reaksi: berteriak dan memukul
  • Majikan cerewet – reaksi: diam, wajah cemberut dan langsung sakit perut
  • Pengendara sepeda motor menyalip di jalan –reakasi: mengumpat
  • Orang yang dibenci muncul di layar TV –reaksi: taruh kaki di layar TV, persis di mulut orangnya.
  • Orang terlambat datang –reaksi: diam dan menunjukkan rasa sebal melalui raut wajah.
  • Jalan macet dan banyak berhenti di lampu merah –reaksi: ‘aahhhh’, sambil gelisah!
  • Hujan turun, --reaksi: mengatakan, ‘sial!
  • Guru matematika masuk ruang kelas –rekasi: mengutuki dalam hati dan langsung pusing kepala.

Meyer menyebutnya sebagai adiksi emosional: reaksi seseorang yang sudah terformat atau tidak berpikir lagi untuk merespon sesuatu. Sekiranya ‘otomatisasi reaksi’ ini bersifat positif, tentu masih ada harapan akan keadaan yang lebih baik. Misalnya:

  • Reaksi saat seorang anak menangis: “Ada yang bisa saya bantu?”
  • Reaksi kepada majikan yang cerewet: “Saya lebih tenang bekerja kalau ibu mengatakan sesuatu dengan ramah”.
  • Reaksi ketika pengendara sepeda motor menyalip di jalan: Mengatakan dalam hati “Semoga engkau selamat sampai di rumah”.
  • Reaksi ketika melihat seseorang muncul di layar TV yang perilaku dan janji-janjinya tidak kita sukai: mengatakan dalam hati, “Saya akan berusaha memperbaiki diri dan menepati janji”. Daripada marah dan menyalahkan orang, lebih baik membaharui komitmen pribadi.
  • Reaksi saat jalan macet dan banyak berhenti di lampu merah: tenang dan menggunakan waktu untuk ‘meditasi’ singkat.
  • Saat hujan turun tiba-tiba, “bersyukur atas pemberian Tuhan”.
  • Menyambut guru atau pengkotbah yang pengajarannya dan kata-katanya sulit kita mengerti, ‘lebih konsentrasi’.

Dengan reaksi seperti ini, Anda lebih menikmati kedamaian dan juga akan mampu membagikan keteduhan di mana pun Anda berada.

Dalam Amsal 15:1 dikatakan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”. Firman Tuhan ini secara khusus berkaitan dengan ‘reaksi’ melalui kata-kata. Di sini dikontraskan reaksi yang ‘lemah lebut’ dengan yang ‘pedas’. Tidak sulit kita mengertinya. Kelemah-lembutan memang sangat penting dalam kehidupan ini. Jika seseorang mengatakan yang tidak mengenakkan atau yang mungkin melukai perasaan kita, itu masuk dalam yang 10%. Kita tidak dapat mengontrolnya, karena sudah terjadi. Yang paling penting adalah pilihan ‘reakasi’ kita. Apakah kita balik memaki dan menyakiti? Atau, kita diam tetapi mengutuki di dalam hati? Orang yang disakiti cenderung bereaksi dari luka hati mereka ketimbang bertindak sesuai dengan hikmat dan firman Tuhan. Kalau kita marah atau mengutuki, hari kita akan kelam sepanjang hari meski matahari bersinar terang. Kita akan murung sepanjang hari bahkan hingga terbawa tidur. Tidak ada gairah. Berjumpa dengan orang lain pun kita menjadi berbeda. Mereka kena imbasnya. Singkatnya, kita kehilangan sukacita.

Akan tetapi, jika kita menyikapi dengan pikiran jernih, hati damai dan kata-kata lembut, kita akan tetap menjalani hidup tanpa gangguan emosional. Kalaupun yang menyakiti kita tidak berubah, paling tidak kita tetap tenang dan bebas dari beban yang tidak perlu. Hal yang sama juga berlaku pada saat-saat menghadapi berbagai kesulitan atau hal-hal yang tidak kita inginkan dan tidak dapat kita kontrol. Tetapi ‘reaksi’ kita yang selalu bertolak dari hubungan yang baik dengan Tuhan akan memungkinkan kita tidak kehilangan kedamaian dan kegembiraan.








Wednesday, April 1, 2009

MENGHADAPI ORANG-ORANG SULIT

Untuk sementara, saya berharap Anda memikirkan masalah ini lebih dahulu. Terus terang saya masih bergumul dalam soal yang satu ini. Yang dimaksud dengan 'orang-orang sulit' pun saya belum begitu jelas. Saya memang sudah pernah mendengarnya. Bahkan, kalau tidak salah, ada buku khusus membahas masalah ini. Intinya, 'orang-orang sulit' merupakan sebuah label 'negatif', yang sulit dihadapi, sulit diajak bersepakat, sulit berubah, sulit dipercaya dan sebagainya.

Sekiranya Anda mempunyai pemikiran seputar masalah ini, atau Anda mengetahui sumber yang dapat digali untuk memahami dan mengatasi masalah ini, mohonlah kesediaan Anda memberi masukan. Sampai ketemu minggu depan.

===========
Hari ini, Rabu, 8 April 2009 'topik sulit' ini belum bisa saya masuki. Untunglah ada masukan dari Pdt Wissel Siregar dari Duri yang mengatakan seperti ini:

Judulnya saja menghadapi orang sulit. Karena itu menjelaskannya juga sangat sulit. Tidak mudah melakukan survey tentang topik ini karena menemui orang-orang seperti ini juga sangat sulit. Pokoknya serba sulit deh semuanya. Jadi daripada susah karena orang-orang ini lebih baik kita mengalah saja kepada orang sulit. Dan tidak usah memperpanjang lebar membicarakan mereka. Karena biasanya orang-orang sulit juga sangat mudah tersinggung.

Masih ada pendapat yang lain? Sambil menunggu pendapat Anda, cobalah pikirkan:
- Apa ciri-ciri orang sulit?
- Bagaimana menghadapi orang sulit?
- Jangan-jangan kita termasuk orang sulit!

ShoutMix chat widget