Wednesday, October 29, 2008
TEGUH MENGHADAPI MUSUH
Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengarnya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas (Luk. 6:32-36):
· Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32)
· Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33)
· Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34)
Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat manusia. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......” Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka, apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!” “Itu belum setimpal dengan kesalahanmu”. “Kok tidak mati saja dia sekalian!” dan sebaginya.
Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...” Amat berat, tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan sahabat bagi semua orang. Kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan melahirkan perdamaian di dunia ini dan itu akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan.
Sedikitnya ada tiga hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Orang yang menyimpan kebencian, sakit hati dan kemarahan tidak mungkin berbahagia. Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita. Dalam hal ini, mengabarkan Injil bukanlah terutama melalui pengajaran atau pemberitaan dengan kata-kata, melainkan pertama dan terutama melalui keteladanan hidup. Ketiga, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah (Luk. 6: 36). Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.
Thursday, October 23, 2008
HATI-HATI DENGAN 'KESUKSESAN'

Ketika dosanya mulai tersingkap (karena Batsyeba mengandung), Daud mulai merasa tidak aman. Dosanya akan merusak reputasinya sebagai orang terhormat. Ia pun berusaha memoles diri dengan menutupinya melalui strategi yang terbilang amat ‘rapi’ walaupun amat rapuh.
Strategi 1
Uria disuruh pulang dari medan perang (ayat 6-11). Mengapa? Daud mau menciptakan kesan kepada orang bahwa kehamilan Batsyeba adalah hasil hubungannya dengan suaminya, Uria. Tetapi, Uria tidak pulang ke rumah, ia tinggal di istana. Mungkin ia merasa tugasnya lebih penting daripada urusan keluarga. Strategi pertama gagal.
Stategi 2
Daud membuat Uria mabuk dengan harapan, ia akan pulang menemui istrinya. Uria tidak pergi juga kepada istrinya (ayat 12-13). Strategi kedua gagal juga.
Strategi 3
Daud memasuki strategi kekejaman. Ia menyuruh Uria kembali ke medan perang dan berpesan agar ia ditempatkan pada barisan terdepan. Uria pun terbunuh. Daud merasa senang, tetapi Allah tidak senang. Sebab, perbuatan Daud jahat di mata Tuhan (ayat 27). Untuk sementara Daud merasa ‘aman’. Rasa aman yang semu. Ia dapat memoles dirinya seolah tidak bersalah apa-apa.
Rasa aman semu ini tidak bertahan lama. Tuhan mengutus nabi Natan menegur Daud. Tugas nabi Natan ini bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, raja punya kuasa dan dapat dengan mudah membunuh Natan. Natan menyampaikan cerita tentang perlakuan tidak adil seorang kaya terhadap si miskin (2 Sam 12: 2-4). Mendengar itu Daud sangat marah dan berkata, “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati” (ayat 5). Kemudian, Natan berkata kepada Daud, “Engkaulah orang itu!”
Kita bisa bayangkan bagaimana Daud mendengar perkataan Natan itu. Mungkin rasanya seperti disambar petir. Dugaan Daud, apa yang dikatakan Natan adalah fakta yang terjadi di lingkungan kerajaannya, sehingga ia mengatakan bahwa pelakunya harus dibunuh. Hukuman kepada orang lain boleh berjalan, kesalahan sendiri boleh ditutupi! Ternyata, pelakunya adalah Daud sendiri. Tetapi akhirnya Daud mengaku, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” (12:13). Ini adalah pengakuan yang bisa saja berat tetapi ia adalah bagaikan obat. Rasa aman yang sempurna hanya dapat kita peroleh dari kebaikan dan pengampunan Tuhan.
Mungkin ada pertanyaan yang mengemuka, “Bukankah Batsyeba juga bersalah? Mengapa ia tidak menjaga diri ketika mandi supaya tidak dilihat orang lain? Mengapa ia mau memenuhi keinginan Daud? Hal-hal senada sering muncul selama ini secara khusus untuk mengalihkan persoalan atau sedikitnya mengurangi rasa bersalah para pemerkosa. Memang perempuan juga perlu menjaga diri supapa tidak menimbulkan pencobaan kepada laki-laki.Tetapi, dalam kasus Daud, inti masalahnya adalah penyalahgunaan kekuasaan. Daud harus bertanggungjawab atas dosanya. Dan ternyata, Daud sendiri tidak melempar kesalahan. Ia sadar atas dosanya.
Ketika kita jatuh ke dalam dosa, yang bentuknya bisa saja beragam mulai dari yang amat halus seperti kecemburuan dan iri hati, hingga yang amat kentara seperti pembalasan dendam dan sebagainya, kita mesti mengatasinya dengan sikap kristiani. Ketika kita terjatuh memperlakukan orang secara tidak adil dalam pikiran, kata dan perbuatan, kita tidak akan merasa aman jika kita terus berusaha dengan strategi-strategi licik untuk menutupi kelemahan kita bahkan hingga mengorbankan orang lain. Ketika kita jatuh, Tuhan terbuka menerima kita kembali jika kita dengan tulus mengaku dosa dan pengampunan Tuhan mendorong serta menguatkan kita untuk hidup lebih berkenan kepada-Nya.
Monday, October 20, 2008
NATAL: KEMBALI KE MAKNA AWAL

DI MANA KITA BERADA?
Perayaan natal di Indonesia barangkali memiliki kekhususan dibandingkan dengan yang terjadi di negara lain di dunia ini. Misalnya, natal sudah dirayakan sejak awal bulan Desember yang sebenarnya masih masa minggu-minggu Advent. Bagi orang Kristen Batak, mungkin banyak di antara mereka yang mengikuti ibadah natal lebih dari sepuluh kali mulai natal kumpulan marga, kantor atau lingkungan kerja, lingkungan domisili, dan di gereja mulai natal anak-anak sekolah Minggu sampai perayaan natal tanggal 26 Desember. Karena banyaknya, bahkan ada yang merayakannya pagi atau siang hari. Di sini nyanyian ‘malam kudus’ atau dalam bahasa Batak Sonang ni bornginna i juga dinyanyikan sambil mematikan lampu dan menyalakan lilin tetapi tetap terang benderang karena di siang bolong.
Di samping itu, tidak rahasia lagi bahwa bagi sebagian orang perayaan natal tidak bisa dipisahkan dengan menu istimewa. Itu sebabnya ada yang meplesetkannya dalam bahasa Batak, yang inti dalam natal adalah sukacita karena tubu Tuhanta (kelahiran Tuhan) menjadi tu butuhanta (urusan perut). Bagi sebagian orang, Natal tidak lengkap tanpa binda (potong-memotong ternak secara bersama). Kenyataan-kenyataan demikian dapat mengakibatkan perayaan natal hanya menyisakan sedikitnya empat hal yang tidak perlu, yakni:
(1) Sampah, baik sisa dan bungkus makanan maupun bahan dekorasi. Sisa-sisa ini menambah pekerjaan petugas kebersihan kota dan (terutama) menambah kehancuran alam semesta.
(2) Penyakit. Sebab, sejak masa latihan dan perayaan yang begitu banyak diikuti bisa membuat tubuh menjadi lelah, masuk angin (apalagi karena Desember umumnya musim hujan), dan kelebihan kolestrol. Belum lagi, bagi sebagian ibu-ibu yang karena lama menunggu di salon terpaksa malam harinya tidur telungkup supaya riasan rambutnya tidak rusak dan bisa dipakai untuk perayaan natal yang lain besok harinya. Maklumlah, di samping agak mahal biayanya juga terlalu lama menunggu di salon. Kalau tiga malam telungkup, apa tidak menyebabkan penyakit? Ada pula kaum perempuan yang mengubah rambutnya. Yang keriting diluruskan alias direbonding (untuk itu butuh lima jam). Yang rambutnya lurus dikeritingkan. Yang ubanan dicat atau disemir hitam. Yang hitam diubah menjadi warna abu-abu atau merah jambu bahkan ada juga yang berbelang-belang. Agak repot memang.
(3) Hutang.
Baik hutang Panitia yang mungkin tidak berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan, maupun hutang keluarga-keluarga karena pengeluarannya yang membengkak. Saya mengamati bahwa Dinas Pegadaian di beberapa tempat lebih ramai dikunjungi orang pada bulan Desember. Banyak orang menggadaikan barang-barangnya untuk biaya yang berkaitan dengan perayaan natal. Sebenarnya tidak ada hubungan perayaan natal dengan kursi atau gordin jendela baru. Tetapi bagi sebagian orang, saat natal merupakan waktu untuk membeli semua itu. Tidak salah memang, asal jangan sampai orang Kristen kehilangan sukacita dan damai pada saat perayaan ini, hanya karena faktor-faktor lahiriah.
(4) Perselisihan.
Mengapa? Orang yang lelah biasanya gampang tersinggung dan marah. Perselisihan bisa terjadi di dalam tubuh kepanitiaan Natal, di tengah keluarga dan lain-lain. Amat menyedihkan jika hal-hal inilah yang tersisa, sehingga inti natal sebagai’ sukacita dan damai sejahtera’ menjadi sirna. Agar perayaan natal yang kita lakukan sungguh-sungguh menjadi kemuliaan Tuhan dan sukacita serta damai sejahtera bagi kita, kita perlu berpaling sejenak pada sejarah natal, bagaimana perayaan gerejawi seharusnya dilakukan, dan bagaimana merayakan natal yang bermakna.
SEJARAH PERAYAAN NATAL
1. Tradisi Timur
Perayaan natal pertama dirayakan di Mesir (abad ke-3) dan menyusul di Galilea (tahun 360). Keduanya merayakannya pada tanggal 6 Januari. Ketika itu, pada tanggal yang sama masyarakat sekitar merayakan hari lahir Aion, dewa Yunani yang mewakili ‘waktu yang kekal’. Penekanan makna natal ketika itu ialah “kelahiran yang kekal dari Logos (Bahasa Yunani yang artinya "Firman yang menjadi manusia"). Kemudian, menyusul lagi dirayakan di Konstantinopel (379), Antiokia (386), dan Yerusalem (abad ke-6 atau ke-7). Penekanan perayaan natal pada waktu itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba. Jadi, 'kesederhanaan' sangat penting dalam hal ini.
2. Tradisi Barat
Di Barat, Natal pertama sekali dirayakan di Roma (akhir abad ke-4), yang dirayakan pada 25 Desember. Pada waktu yang sama juga ada perayaan non-kristen yaitu Pesta Sol Invictus, perayaan kelahiran ‘Dewa matahari yang tidak terkalah-kan’. Penekanan perayaan Natal ketika itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba. Menghubungkannya dengan 'kandang domba' seperti tradisi Timur juga menekankan unsur 'kesederhanaan'.
MAKNA AWAL PERAYAAN NATAL
Pada awalnya, perayaan natal dirayakan sedikitnya berkaitan dengan tiga hal penting sebagai berikut.
(1) Sarana Kesaksian
Seperti sudah disinggung, pada mulanya perayaan natal berlangsung bersamaan waktunya dengan perayaan non-Kristen Dengan demikian perayaan natal berperan sebagai sarana kesaksian kepada dunia tentang kebenaran sejarah kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini, sekaligus mengajak mereka yang belum percaya dalam persekutuan Kristen. Sebab, Yesus yang lahir itu adalah Juruselamat dunia.
(2) Peristiwa Liturgis
Perayaan natal tersebut menekankan peranan ibadah dan penghayatan pentingnya kedatangan Tuhan. Hal ini mengacu pada suasana seperti dalam Injil Lukas: (1) dunia dengan egoismenya; (2) Kesederhanaan kandang domba; (3) Gerak hidup yang dipimpin oleh terang cahaya bintang, yang menekankan pimpinan Tuhan dalam kehidupan.
(3) Sarana Penggembalaan
Perayaan natal dimaksudkan agar warga jemaat tidak campur atau terlibat dalam perayaan yang dilaksanakan oleh orang-orang non-Kristen. Orang Kristen merayakan suatu peristiwa yang jauh lebih besar dari perayaan-perayaan non-Kristen. Mereka merayakan natal di gereja. (Ironisnya, sekarang ini yang lebih merayakan Natal justru 'pasar' atau yang berkaitan dengan bisnis.)
PERAYAAN NATAL YANG BERMAKNA
Menurut Konfesi Augsburg (pengakuan Iman Lutheran), pasal XV, perayaan gerejawi yang dapat dipelihara adalah: · Yang dapat dilaksanakan tanpa berdosa · Yang menciptakan damai dan ketertiban dalam gereja · Bukan alat demi keselamatan · Bukan mengambil hati Allah untuk memperoleh anugerah Bertolak dari makna natal sebagaimana dalam awal sejarahnya dan makna perayaan gerejawi (termasuk perayaan natal) sebagaimana disebut dalam Konfesi Augsburg tadi, berikut ini ada beberapa hal yang menurut hemat saya perlu sungguh-sungguh mendapat perhatian kita, yakni:
1. Hendaknyalah perayaan natal dilakukan sejak 24 Desember dan bisa dilanjutkan hingga minggu pertama Januari. Jika perayaan dilakukan sebelum natal, alangkah baiknya kalau yang dirayakan adalah ‘perayaan penyambutan natal’ atau perayaan ‘Advent’.
2. Yang menjadi penekanan adalah ibadah, perenunungan, kesederhanaan dan aksi konkret, tidak terutama kemeriahan fisik dan ‘pesta makan’. Secara khusus jemaat-jemaat yang menerima berkat lebih banyak, perayaan natal inilah kesempatan membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan. Pengeluaran perayaan natal ribuan dollar atau jutaan rupiah hanya untuk diri sendiri (makan, hadiah, dekorasi dsb) sudah menyimpang dari hakekat perayaan natal. Kita perlu mendidik anak-anak untuk ‘memberi’ pada masa natal, bukan hanya menerima hadiah-hadiah.
3. Acara perayaan hendaknya disusun sedemikian rupa, bukan menjadi ajang pamer diri tetapi mengajak semua peserta ibadah merenungkaan makna natal. Tidak terlalu panjang atau bertele-tele, sehingga tidak ada lagi perhatian yang tersisa untuk mendengarkan kotbah atau pemberitaan firman.
4. Toko-toko dan pusat-pusat perbelanjaan di beberapa kota di dunia sudah sibuk dengan berbagai 'simbol-simbolnya' sendiri untuk menarik minat konsumer. Mereka seolah satu bahasa mengatakan "inilah jalan menuju kebahagiaan masa natal: beli....beli.....beli...." . Lebih baik mendekorasi hati kita (dengan kegembiraan, bebas polusi amarah dan kebencian); sinarnya akan lebih menerangi ketimbang ribuan watt lampu natal. Ciuman di kening suami/ istri dan anak-anak dengan ucapan tulus: 'aku sangat mengasihimu' lebih bermakna ketimbang 'hadiah-hadiah natal' semahal apa pun. Karena, sesungguhnya KASIH Allah itulah yang kita rayakan.
5. Kelahiran Yesus adalah dalam rangka ‘Imanuel’ (Allah beserta kita) dan demi damai sejahtera. Karenanya, perayaan natal kiranya menolong kita semua menghayati kasihNya yang begitu besar dan kita sungguh-sungguh memiliki ‘damai sejahtera’ jauh dari ketegangan apalagi perselisihan pada masa-masa perayaan Natal dan selama hidup kita.
6. Khusus untuk tahun 2008 ini hendaknya gereja-gereja mengacu pada Tema Natal Bersama KWI dan PGI 2008 yakni: “Hiduplah Dalam Perdamaian dengan Semua Orang" (Bdk. Roma 12:18). Meski tema ini dimaksudkan mengarah pada pengembangan sikap inklusif dan antikekerasan khususnya dalam menghadapi Pemilu 2009, orang-orang Kristen Indonesia dapat menghubungkannya secara khusus dalam kehidupan bergereja.
Saturday, October 18, 2008
BERKAT, MUJIZAT DAN RAHMAT
Saya percaya bahwa kelahiran dan kehadiran seseorang ke dunia ini, bukanlah secara kebetulan. Allah pasti mempunyai rencana yang baik bagi anak-anakNya. Tempat dan keadaan kelahiran kita berbeda-beda. Pola asuh kita berbeda. Pengalaman hidup kita berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama: kita menerima kehidupan dari Tuhan sang Pemberi kehidupan.
Untuk menggambarkan perjalanan hidup saya, ketiga kata 'berkat', ‘mujizat’ dan ‘rahamat’ menggambarkan semuanya.
1. Tenaga Kerja Bayi
Ketika saya masih dalam kandungan, saya sudah bekerja di sawah. Memang tidak memegang cangkul, tetapi saya ikut terjun ke sawah. Saya berada di rahim ibu saya ketika dia bekerja di sawah saat saya dalam kandungannya. Ibu saya juga berkisah, ia amat bergumul karena beratnya kehidupan yang ia hadapi. Ia terpisah dengan ayah saya. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Apakah ia pernah ke bidan memeriksa kandungannya? Sama sekali tidak. Ia hanya menunggu belas kasihan Tuhan. Apakah ia melahirkan dengan bantuan perawat atau bidan? Sama sekali tidak. Saya lahir di balik pintu rumah. Ini adalah mujizat.
2. Gizi Kelinci
Masih di kandungan saja sudah bekerja, apalagi sesudah bisa berjalan. Saya sangat cepat ‘dijadikan dewasa’. Usia 6 tahun sudah harus ikut bekerja di ladang, untuk menjaga padi agar tidak dilahap burung pipit. Bagaimana dengan giji? Menurut teori ahli gizi sekarang, yang saya konsumsi tidak layaknya manusia. Menu sudah dibakukan: pagi dengan singkong, nasi, ikan asin; siang: singkong, daun singkong, ikan asin dan nasi, malam ikan asin, nasi dan singkong dan daunnya. Kekecualian makan daging ayam dalam dua kemungkinan (1) Kalau ada anggota keluarga yang sakit; (2) Kalau ayam itu sendiri yang sakit, sayang dibuang. Bagaimana bisa bertahan hidup dengan pola makan seperti itu? Itu adalah ‘mujizat’ juga.
3. Kekerasan Berlapis
Ayah saya seorang yang memiliki temperamen yang cepat memanas. Ia tidak saja keras, tetapi terkadang kasar dan bahkan ada kalanya kejam kepada anak-anaknya, baik melalui kata-kata maupun dengan pukulan telaknya. Ia tidak sungkan memukul dengan begitu keras anaknya yang masih kecil, termasuk saya sendiri. Padahal, ia sangat tekun berdoa dan membaca Alkitab. Setiap malam kami berdoa sebelum makan dan berdoa, bernyanyi dan membaca Alkitab setiap malam. Lama sekali perbuatannya membekas dalam hati saya. Baru empat tahun lalu saya memutus rantai kebencian saya kepadanya dan syukur kepada Tuhan hubungan kami jauh lebih hangat saat ini. Mengapa ayah saya kasar dan terkadang melampaui batas memukul anaknya padahal ia rajin berdoa dan membaca Alkitab? Sekiranya ia tidak rajin berdoa dan membaca Alkitab, mungkin saja dia kalap dan membunuh saya waktu kecil. Berpikir seperti ini lebih tepat dan menyembuhkan. Lagi pula, ayah saya memiliki banyak kebaikan. Fokus pada kebaikan Tuhan melalui hidupnya dan bukan pada kekurangannya merupakan sikap kristiani yang selayaknya.
Di samping kekerasan di dalam keluarga, beberapa kali saya kurang beruntung dari sebagian guru saya mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Hari pertama saya di kelas satu SD, guru memukul kening saya (akhirnya saya berhenti sekolah dan baru melanjutkannya satu tahun kemudian, sesudah berusia 7 tahun). Di kelas 1 SMP guru biologi dengan keras membenturkan kepala saya ke papan tulis karena saya mengetik sendiri lembaran kerja, tidak membeli dari guru ybs. Di SMA guru fisika dengan keras menendang saya dari belakang karena saya memijak tanaman.
Yang lebih mengherankan, di gereja juga saya pernah dilibas oleh dirijen koor. Rumah, sekolah, gereja menjadi arena kekerasan. Itulah yang terjadi jika yang terpenting dalam koor adalah performance (penampilan), menarik perhatian orang bukan terutama pujian untuk Tuhan. Apalah artinya koor mengguncang panggung dan mengundang terpuk tangan riuh tetapi mengerdilkan iman?
Membaca kisah-kisah penjahat yang meringkuk di penjara-penjara Barat, hampir semuanya mereka adalah orang-orang yang mendapat tindak kekerasan di tengah keluarga. Kalau fakta ini dapat menjadi patokan, saya sebenarnya lebih berpotensi menjadi penjahat ulung. Sebab, saya tidak saja menerima kekerasan di rumah tetapi juga di sekolah dan –celakanya—di gereja pula. Tapi inilah saya, dengan segala keberadaan yang disertai keterbatasan dan kelemahan, walaupun agaknya tidak masuk dalam kategori penjahat ulung. Saya tidak melihat keadaan saya sekarang sebagai prestasi saya, tetapi kembali ke ‘mujizat’ yang datangnya dari Tuhan.
4. Tangan Tuhan
Sedikitnya ada tiga peristiwa yang secara khusus mengingatkan saya akan pertolongan Tuhan yang datang tepat waktu melepaskan saya dari maut. Pertama, saya pernah hampir hanyut terbawa arus sungai besar, yang dalam hitungan detik sudah mendekati air terjun. Seorang teman berhasil meraih tangan saya dan selamat. Sampai hari ini, saya tidak mengetahui di mana teman saya ini berada. Dia adalah tangan Tuhan menyelamatkan saya. Kedua, saya pernah mengalami kecelakaan lalulintas. Kabaikan hati supir dan kernet bus yang kebetulan lewatlah yang membawa saya ke rumah sakit. Sampai hari ini saya tidak pernah tahu siapa mereka yang menolong saya. Mereka adalah tangan Tuhan menyelamatkan saya. Ketiga, sudah selama 38 tahun saya lebih lama tidak fit secara fisik. Ketika berusia 6 tahun saya pernah jatuh dan bagian belakang saya membentur pada sebatang kayu. Tidak jelas, apakah rasa sakit yang saya tanggung berawal dari situ, tetapi hingga hari ini saya lebih lama menanggung rasa sakit. Tetapi, saya lebih fokus pada Tuhan dan apa yang bisa saya lakukan dalam hidup ini, sehingga meskipun rasa sakit ada, saya tidak menderita.
5. Pelayanan
Setelah menyelesaikan studi teologi 1989, saya menjalani masa vicar selama dua tahun (di Kantor Pusat HKBP Tarutung, di Kantor HKBP Distrik Medn Aceh dan di HKBP Ressort Sei Agul Medan). 26 Desember 1991 saya menerima tahbisan pendeta. Bukan karena saya layak, tetapi karena dilayakkan. Di sini rahmat Tuhanlah berkerja bukan karena talenta dan bakat saya hebat. Saya diutus melayani sebagai Pendeta HKBP Ressort Sihorbo (1992-1994). Kemudian melanjutkan studi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta (1994-1996), The Lutheran Theological College at Philadelphia, USA (1996-1998). Tahun 1999-2001 menjadi dosen di STT HKBP Pematangsiantar. Selanjutnya menjadi dosen di STT BNKP Gunungsitoli atas kerjasama HKBP, VEM dan BNKP (2001-2005). Bulan Juni 2005 kembali menjadi dosen STT HKBP dan sejak 2006 mengikuti studi lanjut sampai sekarang.
Pilihan pada beberapa serpihan kepahitan dalam perjalanan hidup ini sengaja diangkat untuk mengkontraskannya dengan kebesaran dan pemeliharaan Tuhan:
Peristiwa-peristiwa keseharian adalah MUJIZAT yang dikerjakan oleh Tuhan
Kesalahan, dosa dan ketidaklayakan dihapus oleh RAHMAT Tuhan.
Tuhan, terima kasih karana Engkau menciptakaan saya ke dunia ini. Saya percaya, segala rencanaMu indah dan baik. Kiranya hambaMu ini berjalan dalam rencanaMu dan pimpinanMu yang indah dan baik itu sebagai garam dan terang dunia, demi kemuliaanMu dan syalom bagi dunia. Amin.
Thursday, October 16, 2008
KETIKA ANDA DISALAH-MENGERTI

Bagaimana rasanya disalahmengerti? Tergantung pada keadaan dan karakter kita. Yang jelas, disalahmengerti bukanlah perasaan yang menyenangkan. Kesalahpengertian bisa menguras tenaga, mengganggu tidur dan menghambat kreativitas, hingga memicu perselisihan. Karena itu, kita perlu mengetahui penyebabnya dan berusaha mengindarinya.
Penyebab
Di antara sekian kemungkinan penyebab kesalahpengertian, di sini dapat disebut tiga penyebab. Pertama, kesalahan pada si komunikator (pemberi pesan). Si komunikator salah mengirim ‘sinyal’. Niat hatinya baik, tetapi penyampaiannya kurang tepat. Si pemberi pesan mungkin tidak sepenuhnya memeperhatikan suasana dan cara penyampaian pesan.
Kedua, kesalahan si penerima pesan. Si penerima pesan menafsirkan pesan terutama berdasarkan suasana hatinya. Ia tidak berusaha memahami isi pesan berdasarkan sudut pandang si komunikator. Misalnya, ada orang yang menulis SMS atau email sangat singkat. Ada pula yang menuliskannya agak panjang disertai ungkapan salam, apresiasi, dan pesan yang lebih rinci. Bisa saja yang terbiasa dengan cara yang terakhir ini menganggap orang yang menulis SMS dan email yang singkat sebagai sesuatu yang kurang sopan. Padahal, si pengirim SMS dan email hanyalah mempertimbanagkan efisiensi waktu.
Ketiga, masalah media atau pembawa pesan. Informasi mengalami distorsi atau gangguan pada media atau pembawa pesan. Bayangkan Anda berada dalam kelompok beranggotakan duabelas orang. Bisikkan satu kalimat kepada satu orang dan ia membisikkannya kepada yang lain. Demikian seterusnya hingga pesan itu sampai kepada orang yang terakhir. Lihatlah hasilnya: orang yang ke-12 yang mendengar pesan itu bisa saja sudah mengatakan yang amat berbeda dari kalimat pertama atau aslinya. Pada awalnya kalimat yang disampaikan adalah: Saya dan istri saya pergi mengunjungi keluarga yang bertengkar. Di ujung sana, orang yang ke-12 menangkap pesan: Saya dan istri bertengkar, ia pergi ke keluarganya. Sekiranya diteruskan, maka orang yang kelimapuluh akan menangkap pesan "Keluarga istri saya yang bikin gara-gara sehingga saya dan istri selalu bertengkar."
Menyikapi salah pengertian
Yang paling penting adalah: periksa hubungan Anda. Jika hubungan Anda baik, tentu akan lebih mudah menjernihkannya. Anda tidak punya kendala untuk menemuinya dan tidak ada beban apa-apa untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Dengan santai Anda dapat mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Saling pengertian amat mudah tercipta dalam keadaan seperti ini.
Berbeda dengan keadaan di mana hubungan Anda dengan seseorang itu kurang baik. Dalam keadaan seperti ini, biasanya penjelasan lebih lanjut tidak akan menolong banyak, malah bisa mengeruhkan suasana. Yang penting dalam situasi seperti ini bukan terutama klarifikasi isi pesan, tetapi mengusahakan rekonsiliasi. Hanya ketika hubungan Anda dengan yang salah mengerti terhadap Anda lebih baik, klarifikasi informasi dapat bermanfaat. Dalam keadaan seperti ini, ketika Anda disalahmengerti tenangkan diri Anda. Jangan terburu-buru balik bereaksi. Usahakanlah rekonsiliasi dengan mengambil prakarsa memulainya.
Di dalam semuanya itu, kita perlu senantiasa memohon pimpinan Tuhan dalam menyampaikan sesuatu agar terhindar dari kesalahan memberi pesan dan memohon pimpinan Tuhan bagimana bersikap bijaksana menyelesaikan masalah kesalahpengertian. Tuhan Yesus pun disalahmengerti banyak dari dulu hingga hari ini, tetapi Ia mengasihi semua dan setiap orang --termasuk yang salah mengerti akan Dia.
Saturday, October 11, 2008
LUTHERAN THEOLOGICAL STUDENTS IN SINGAPORE
It was a wonderful fellowship and unforgettable memory for some of the Lutheran Theological Students who gathering at the Head office of The Lutheran Church in Singapore on Saturday, 11 October 2008. We were so impressed with the hospitality of the LCS Bishop, The Rt Rev John Tan, and The Rev. Lu Guan Hoe (Chairman Education Committee-Lutheran Church in Singapore). The fellowship opened with Bible reading from Psalm, sing some songs followed by a word of prayer by Mr Jimmy, a MMin TTC student. Rev Hoe gave opportunity for Lutheran students to introduce themselves and to share their stories, struggling, hopes as well as their witnesses. The Rt Rev John Tan shared his ministry experiences and told a brief history of Lutheran Church in Singapore.
The meeting was followed by a very wonderful lunch in a restaurant with very delicious foods. Most of the foods were the first time I ever eat.
Friday, October 10, 2008
ARAH MANA YANG AKAN KUTEMPUH?
Monday, October 6, 2008
HATI-HATI DENGAN HATI

Yang menyejukkan hati kita adalah kenyataan bahwa kita ada di dalam hati Yesus. Injil Matius beberapa kali memperdengarkan kepada kita bahwa ‘hati Yesus tergerak oleh belas kasihan’ (Di antaranya lihat Matius 9:36; 14:14; 15:32; 20:34). Oh, alangkah meneguhkannya berita sukacita ini. Hidup Anda dan saya detik ini adalah bukti belas kasihan Tuhan yang mengalir dari hati-Nya”.
Dengan ‘hati’ yang mengenal dan mensyukuri belas kasihanNya itu pula, marilah kita memperhatikan sedikitnya lima hal berkaitan dengan ‘hati’ kita.
1. Dengan ‘ hati’ kita percaya kepada Tuhan. Dalam Roma 10:10 dikatakan, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Hal ini juga mengingatkan kita kepada perumpamaan Tuhan Yesus tentang jenis tanah yang ketiga tempat jatuhnya benih yang ditaburkan itu. “Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan” (Matius 13:19). Tuhan menghendaki hati kita bagaikan tanah yang baik, yang subur, tempat bertumbuh dan berbuahnya firman-Nya.
2. Hati: penggerak sikap dan tindakan. Pengajaran Tuhan Yesus sangat banyak berkaitan dengan hati. Perbuatan dosa juga berawal dari hati: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19). Pada kesempatan lain Yesus menegaskan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Jika Kerajaan Allah merupakan harta kita yang terutama, maka hati kita pun akan di sana. Dan jika hati kita berada dalam Kerajaan Allah, maka buahnya juga adalah keadaan Kerajaan Allah itu sendiri yakni kasih, sukacita sorgawi, kebenaran, keadilan, kemurahan dan segala sesuatu yang baik.
3. Peranan hati dalam hubungan dengan orang lain. Keadaan hati kita menentukan hubungan kita dengan orang lain. Hati yang dipenuhi oleh kemarahan, permusuhan, sakit hati, kebencian, kecemburuan, kecurigaan, kesombongan dan sebagainya akan secara serta merta merusak hubungan kita dengan orang lain. Itu sebabnya ditegaskan agar hati perlu dijaga (Amsal 4:23). Artinya, membuang segala sesuatu yang merusak yang tinggal di dalam hati itu sendiri. Membersihkannya bukan dengan pentungan atau tongkat pemukul, tetapi dengan menyambut Roh Tuhan berdiam di dalamnya. Menjaga hati berarti memberi ‘gizi’ yang sehat kepadanya seperti kelemah-lembutan, kedamaian, kejernihan, dan sukacita di dalam Tuhan. Kualitas-kualitas kehidupan seperti ini merupakan dasar yang kokoh dalam hubungan yang sehat dengan sesama manusia.
Dalam kaitan kerukunan kehidupan berjemaat Rasul Paulus menasihatkan, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.....” (Roma 12:16). Sejarah perjalanan gereja telah menunjukkan betapa ketidaksehatian telah merobek persekutuan. Kini saatnya, gereja-gereja membutuhkan perubahan hati.
4. Kebugaran dan kesehatan tubuh. Amsal 14:3 dan 17:22 berkata, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Berkaitan dengan itu, dalam Pengkhotbah 11:10 juga dikatakan, “Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu”. Para ahli kedokteran dan kejiwaan telah menemukan adanya hubungan langsung suasana hati manusia dengan kesehatan tubuh. Tidak berarti bahwa semua penyakit disebabkan oleh karena suasana hati. Yang jelas, susana hati yang damai, tenang dan sukacita memberi sumbangan yang tidak sedikit terhadap kesehatan jasmani atau kesegaran tubuh. Daripada menghabiskan uang untuk membayar dokter dan membeli obat lebih baik menjaga hati agar tetap jernih, bening, damai, dan bahagia.
5. Daya gerak atau semangat dalam melakukan tugas panggilan di dunia ini. Amsal 15:13 berkata, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” Untuk meninggalkan kemuraman di wajah harus dimulai dari hati. Hal ini secara khusus amat bermanfaat dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Secara fisik kita mungkin saja lelah dalam melakukan tugas-tugas yang diembankan kepada kita, tetapi dengan hati yang gembira kita tidak terutama memusatkan perhatian lagi kepada kelelahan itu sendiri, melainkan kepada apa yang bisa kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan bagi sesama manusia. Kita juga dapat hubungkan dengan masalah kepedulian dengan sesama yang menderita. Firman Tuhan berkata, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Kita bersyukur bahwa Tuhan tidak pernah menutup pintu hati-Nya kepada kita. Itulah kiranya mendorong kita untuk membuka hati bagi sesama.
Thursday, October 2, 2008
CUTI 10 MENIT
Apakah Anda sedang merasa penat dan merasa tidak berdaya? Mungkin Anda kelelahan karena beban kerja fisik. Mungkin enerji Anda terkuras deras oleh pikiran Anda: karena memikirkan masalah anak-anak, keluarga, tuntutan lingkungan pekerjaan, tagihan yang melampaui kemampuan, sikap orang yang tidak menyenangkan, perlakuan sesama yang tidak fair, cita-cita yang tidak tercapai, bingung ‘menempatkan’ uang Anda, atau apa saja yang membuat leher Anda tegang, nafas Anda tidak normal dan tidak alami, dan reaksi Anda tidak bersahabat dengan orang lain.Hadiahilah diri Anda dengan ‘cuti’ sepuluh menit. Mungkin bukan kebutuhan Anda saat ini, tetapi bisa saja nanti, besok atau kapan saja. Cuti ini (1) Tidak perlu mengajukan permohonan ijin ke tempat kerja; (2) Tidak perlu mencari-cari tempat; (3) Tidak perlu mengemasi barang-barang; dan (4) Tidak perlu mengeluarkan biaya. Cuti ini Anda lakukan kini dan di sini. Isilah cuti itu dengan:
1. Percaya dan sadar bahwa Tuhan ada di sini. Ia melihat Anda. Ia mengetahui keadaan Anda (bahkan lebih baik mengetahuinya dari pada Anda sendiri). Ia menghendaki Anda bahagia dan bersukacita saat ini. Tidak perlu bertanya, “mana buktinya Allah di sini?” Hidup Anda detik ini sudah membuktikannya. Tidak ada kehidupan tanpa Allah.
2. Tariklah nafas anda dengan dalam dan keluarkan dengan perlahan. Anda boleh sambil mengatakan kata doa “Tuhan kasihanilah” pada saat menghirup dan mengeluarkan nafas. Katakan “Tuhan” sambil mengirup udara dalam-dalam dan katakan “kasihanilah” pada saat mengeluarkan udara melalui mulut secara perlahan. Bayangkan ketika Anda menghirup udara, Anda sedang menghirup pemberian Tuhan yang menyegarkan, menguatkan dan menyehatkan dan bayangkan ketika mengelurkan nafas Anda mengeluarkan yang berat, yang membuat ketegangan dan segala sesuatu yang tidak baik dari dalam tubuh. Ulangi tarik nafas ini 6-7 kali. Rilekskan otot-otot Anda.
3. Mungkin Anda lebih rileks dan segar sekarang. Itu adalah pemberian Tuhan. Selanjutnya, katakan dalam doa Anda: "Tuhan, inilah Aku anak-Mu, kuserahkan hidup dan pergumulanku kepadaMu”. Hidupilah doa Anda: berusaha sebaik-baiknya tanpa pernah memaksa diri. Jadilah lebih lembut terhadap diri Anda sendiri dan kepada orang lain. Kelemah-lembutan membuat kita kuat.
4. Jika Anda mengalami suatu penyakit, ini bukan menggantikan usaha pengobatan. Anda perlu menjalani pengobatan. Dokter dan paramedis adalah alat di tanagan Tuhan memberikan kesembuhan. Tetapi dengan cuti 10 menit ini, paling tidak pandangan Anda terhadap rasa sakit menjadi berbeda. “Rasa sakit” mungkin saja tetap ada tetapi Anda tidak “menderita” seperti sebelumnya. Penderitaan Anda berkurang meski rasa sakit tidak berkurang!
5. Ini bukan ‘mantra’ yang bersifat magis. Ini hanyalah wahana. Karenanya, jangan terikat kepadanya secara teknis. Anda bebas menemukan dan menciptakan cara yang tepat bagi Anda. Yang paling penting adalah: Allah tidak pernah meninggalkan Anda; jangan tinggalkan Dia.
Tuesday, September 30, 2008
MENEBAS AKAR PERSELISIHAN DALAM JEMAAT

Kebanyakan persoalan di dunia ini disebabkan oleh keinginan manusia menjadi 'orang penting'.
Satu hal yang amat menyedihkan dalam kehidupan ini adalah semakin banyaknya perpecahan dan permusuhan yang terjadi mulai dari hubungan persahabatan perorangan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, bahkan (ironisnya) termasuk dalam kehidupan bergereja. Ada apa di balik semua ketidakrukunan dan perselisihan ini? Salah satu penyebab utama adalah: keegoisan manusia. Jadi, karena pada dasarnya kita manusia ini cenderung ‘mementingkan diri’, maka kita harus mendisplinkan diri dan mendidik diri kita sendiri dalam kebaikan terhadap orang lain. Rasa persaudaraan dan persahabatan yang sehat tidak berkembang secara alami. Ia harus dipupuk dengan sungguh-sungguh dan dirawat dengan hati-hati sama seperti memelihara tanaman.
Hidup rukun dengan orang lain, sebenarnya harus dimulai dengan ‘rukun terhadap diri sendiri’. Artinya, menerima diri sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki; tidak benci diri dan tidak pula melebihkan diri. Pemazmur dengan indah mengatakan begini: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku“ (Mzm 131:2). Hanya ketika kita tenang dan damai dalam perlindungan Tuhan, kita dapat memberi ketenangan dan kedamaian kepada orang lain, sebagai bagian tidak terpisahkan dari kerukunan. Ketika hati kita dipenuhi oleh kebencian dan kepahitan, itu juga akan menular kepada sesama kita dan sekaligus menghancurkan kerukunan.
Berbicara tentang dampak buruk kebencian, kepahitan dan sakit hati, McMillen dengan sangat tepat mengatakan demikian:
Pada saat saya mulai membenci seseorang, saya menjadi budaknya. Saya tidak dapat menikmati pekerjaan saya lagi, sebab ia juga menguasai pikiran saya. Sakit hati saya menghasilkan begitu banyak ketegangan dalam tubuh saya dan saya menjadi sakit kepala sesudah bekerja beberapa jam saja. Pekerjaan yang tadinya saya nikmati berubah menjadi sesuatu yang membosankan dan melelahkan. Bahkan, hari libur atau waktu luang saja pun tidak lagi memberi ketenangan dan kesenangan kepada saya. Orang yang saya benci itu seolah-olah terus mengikuti atau ‘mengejar’ saya ke mana pun saya pergi. Saya tidak dapat lepas dari cengekeraman penjajahannya.
Sakit hati dan kepahitan yang tersembunyi telah menghancurkan kemampuan berbuat baik bahkan merusak kesehatan begitu banyak orang dari dulu hingga saat ini. Di tengah keadaan demikian, Yesus memanggil kita agar dalam segala situasi kita ‘menyangkal diri’, membuang kesombongan, membuang sakit hati dan mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Memang ada kalanya kita seolah mengalami kebuntuan. Kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan perdamaiaan dengan orang lain tetapi sesama kita mengeraskan hati dan sulit berdamai. Dalam situasi seperti itu kita jangan tawar hati dan menyerah. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, selebihnya kita harus serahkan segalanya kepada Tuhan.
Ketidaksediaan orang lain mewujudkan kerukunan jangan sampai membawa kita terjerumus pada perangkap Iblis. Rasul Paulus menegaskan, bahwa kita perlu mengampuni “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11). Dalam kaitan ini, Sigurd Bratlie dengan amat mengesankan pernah berkata, “Firman Tuhan menasihatkan agar kita tidak dikalahkan oleh kejahatan tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21). Ketika seseorang memperlakukan kita secara tidak adil atau berbuat yang tidak baik kepada kita, ia sedang melayani dalam kerjaraan Setan. Jika kita membalas yang jahat dengan yang jahat dan tetap memelihara sakit hati atau tidak mau mengampuni, pada saat itu kita sudah mulai melayani kerajaan Setan juga”.
Betapa bodohnya kita jika kita mau dipekerjakan dalam kerajaan Setan oleh karena perbuatan buruk orang lain. Baiklah kita ingat bahwa pada saat orang banyak mengutuk dan mengolok-olok Yesus di kayu salib, mereka sedang melayani Setan. Tetapi Yesus melayani Bapa, sehingga Ia dapat berdoa, “Bapa, ampunilah mereka”. Jadi, ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak bersedia mewujudkan kerukunan, itu tidak berarti bahwa “karena kita benar maka sikap pahit kita kepada orang lain adalah benar juga.” Yang sangat perlu kita pikirkan adalah: siapa yang akan kita layani: Setan atau Allah. Layanilah Allah.
Kita amat sering dalam keadaan bahaya pada saat-saat di mana kita tahu bahwa kita benar dan pihak lain salah. Sebab, dalam situasi-situasi seperti itu kita dapat dengan mudah membenarkan diri a la Farisi (yang menganggap diri paling benar sambil menghakimi orang lain). Mungkin saja kita benar dalam hal permasalahan yang sedang mengemuka, tetapi salah dalam bersikap –melayani kerajaan Setan ketimbang kerajaan Tuhan-- dengan kesombongan bukan dengan kerendahan hati.
Perlu ditegaskan bahwa demi memelihara kerukunan bukanlah terutama menyangkut faktor lahiriah di mana orang saling berbasa-basi dalam menyapa satu-sama lain. Itu adalah 'kerukunan semu. Kerukunan kristiani adalah kerukunan yang dilandasi kebenaran. Kerukunan semu terjadi ketika kita hanya mengandalkan 'pendekatan psikologis' untuk menyenangkan (ego) orang sambil mengorbankan kebenaran. Dalam kekristenan, jika harus memilih antara 'kerukunan semu' dengan 'kebenaran', kita harus tegas memilih 'kebenaran', yang bisa saja mengandung konflik. Artinya, ada kalanya kita harus mengorbankan ‘kerukukan' jika kerukunan sudah tergelincir pada kerajaan Setan. Sebab dalam kerajaan setan pun ada juga ‘persahabatan’, yakni: persahabatan yang siap membabat bukan menjadi berkat.
Dalam persekutuan Gereja, mengapa perselisihan terjadi? Kata-kata Zac Poonen berikut ini kiranya boleh mengubah hidup kita:
Satu hal yang pasti, karena ‘keakuan’ masih bertahta dalam hidup kita. Kita menganggap diri kita begitu penting dan kita merasa bahwa orang lain harus menghargai kita dan selalu meminta pendapat atau nasihat kita. Kita merasa bahwa yang lain harus berperilaku dan berbuat sebagaimana kita inginkan. Kita mengharapkan orang lain bersikap baik, berhati-hati kepada kita, memperhitungkan jasa atau prestasi kita dan memuji kita. Perasaan-perasaan dan harapan-harapan seperti itu adalah bukti nyata bahwa kita tidak memahami dan menghidupi salib. Hidup kita sepenuhnya berpusat pada diri kita dan masih didominasi oleh pementingan diri.
Persekutuan Kristen yang benar tidak akan pernah dialami di antara orang percaya jika kasih salib itu tidak dijadikan sebagai dasar sikap dan perbuatan dalam hubungan mereka. ‘Persekutuan’ apa pun yang ada di dalam gereja yang terpisah dari kasih salib itu, yang ada hanyalah paguyuban sosial dan bukan persekutuan tubuh Kristus yang benar. Paguyuban sosial seperti itu juga dapat kita temukan dalam klub-klub duniawi juga. Sedihnya, banyak jemaat-jemaat dan kelompok-kelompok Kristen yang tidak lebih baik dari klub-klub duniawi.
Hidup dalam dan dengan kasih salib mewujud melalui kehidupan yang berpusat pada Kristus, kehidupan yang menyangkal diri (membuang kesombongan dan pementingan diri sendiri). Dalam kaitan dengan gembala atau pemimpin jemaat dengan anggota jemaat, secara konkret dapat disebutkan dua hal. Pertama, para pelayan gereja hendaknya tidak terutama menggunakan pendekatan psikologis kepada warga jemaatnya hanya untuk sama-sama menyenangkan. Misalnya, pelayan gereja memberi tugas memainkan musik dalam ibadah kepada orang yang sebenarnya kurang mampu memainkan musik dengan baik, padahal ada orang yang benar-benar mampu memainkan musik dengan baik. Janganlah seorang gembala atau pimpinan jemaat memberi tugas pelayanan ini hanya untuk 'mengambil hati' warga jemaat dengan mengorbankan ibadah. Contoh lain, memberi tugas berkhotbah atau memimpin kelompok Pemahaman Alkitab atau tugas pelayanan lain tertentu kepada warga jemaat hanya untuk 'mengambil hati'. Janganlah kita korbankan kehidupan bergereja hanya untuk menjalin persahabatan semu. Sebelum mendelegasikan tugas kepada warga jemaat, berilah waktu sejenak menjawab pertanyaan, "apakah pendelegasian tugas ini suara Tuhan dan demi pelayanan itu sendiri, atau untuk kepentingan diri sendiri (mengalihkan tanggung jawab, supaya yang ditugasi ini menjadi 'kawan' --bukan lawan, dan sebagainya). Gembala atau pelayan jemaat perlu melakukan 'motivation check-up'.
Kedua, semua warga jemaat hendaknya melaksanakan tugas panggilannya di dalam kehidupan bergereja sesuai dengan talenta, milik dan keberadaannya dalam keteraturan. Ya, 'dalam keteratuan'. Artinya, setiap gereja memiliki tradisi dan tata gereja masing-masing. Pelayanan ini bukanlah sekadar sarana menyalurkan hobbi atau bakat atau menampilkan diri melainkan pelayanan untuk kemuliaan Tuhan dan damai sejahtera di bumi. Ketika kita diminta untuk melakukan tugas tertentu oleh pihak gereja, beri waktu Anda bertanya 'ke dalam', apakah itu suruhan Tuhan atau hanyalah sekadar 'alat' memanfaatkan Anda untuk kepentingan yang amat dangkal.
Untuk itulah kita perlu merelakan hati kita didiami oleh Roh Tuhan, agar Ia bertahta di sana. Roh itu jugalah yang menuntun kita untuk bersikap, berkata, bertindak, menggantikan apa yang mungkin sudah kita format (terformat tanpa sadar) dan secara otomatis keluar dari dalam diri kita tanpa pertimbangan apakah itu membuahkan kebaikan atau justru menghancurkan. Sesungguhnya, Roh Tuhan senantiasa siap sedia berdiam dalam diri kita. Kini saatnya, kita sambut kehadiran-Nya. Ia sanggup mengubah hidup kita untuk kebaikan kita sendiri, jemaat dan dunia ini. Tuhan sendiri yang menebas akar keegoisan yang merasuk dan merusak kerukunan yang benar di dalam persekutuana jemaat; jika kita merelakan diri dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung Monday, September 29, 2008
MEMBUAT BAHAGIA TANPA MEMANJAKAN
Christi yang kami kasihi, engkau adalah anak kami, tetapi engkau bukanlah milik kami. Victor Tinambunan memang bapakmu dan Tima Warni adalah ibumu. Tetapi ada satu persamaan mendasar dalam diri kita, yakni: kita adalah sama-sama anak Allah. Kita sama-sama milik-Nya. Dia memelihara hidup kita sama seperti seorang ibu memelihara anaknya.
Dalam ulang tahunmu ini, kami tidak terutama mengingat bagaimana perilakumu yang lumayan banyak juga yang tidak menyenangkan orangtua. Semuanya itu bukan kesalahanmu saja, ada juga karena keterbatasan dan kelemahan orangtuamu. Ada kalanya kami terlalu menuntutmu bertingkah sebagaimana layaknya orang dewasa, padahal engkau masih anak-anak. Hari ini kami lebih memusatkan perhatian pada apa yang Tuhan anugerahakan dan bagaimana Ia dengan kasihNya yang besar terus menuntun engkau hingga hari ini. Mari kita jalani hari-hari pemberian Tuhan ke depan ini dengan lebih baik lagi dengan tetap bersandar pada pimpinan-Nya.
Jadilah dirimu sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Jangan memaksa diri menjadi seperti orang lain yang pasti akan membawa ketegangan. Banyak yang mengasihi kita yang amat berharap agar Christi berbeda atau lebih baik dari anak-anak yang lain, karena --kata mereka-- Christi adalah ‘anak pendeta’. Tetapi saya baru sadar bahwa sesungguhnya, engkau bukan ‘anak pendeta’ karena pendeta tidak punya anak, sama seperti presiden, ephorus dan lain lain tidak punya anak. Engkau adalah anak Victor Tinambunan dan Tima Warni Pangaribuan. Memang bapakmu seorang pendeta, tetapi engkau lahir bukan karena bapakmu pendeta. Jadi, jadilah anak yang baik, bukan karena engkau anak pendeta, tetapi karena engkau adalah anak Tuhan. Jangan menjadi baik supaya 'berbeda' dengan anak-anak lain, tetapi jadilah baik karena itu dorongan suara Tuhan dari dalam dirimu. Kami mengharapkan engkau anak yang baik, bukan supaya kami dipuji orang sebagai yang 'berhasil' mendidik anak, tetapi supaya setiap orang memuji Tuhan Sang Pemberi hidup.
Dorothy Christi Lois yang kami kasihi di dalam Tuhan, mari kita syukuri bersama ulang tahunmu pemberian Tuhan ini dan kita memohon kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan dan panjang umur buat Christi.
Dari yang mengasihimu: Bapak, Mama dan William
Sunday, September 28, 2008
MENGATAKAN KEBURUKAN ORANG, BOLEH?
Jika Anda menikmati penuturan seseorang akan kekurangan-kekurangan orang lain atas kebencian, ingat: itu akan menyuburkan kebiasaannya menjadi sebuah 'hobbi' yang pada gilirannya, kekurangan-kekurangan Anda sendiri yang akan ia sebar-luaskan dalam 'iklan' yang ia disain sendiriApakah boleh mengatakan keburukan orang lain? Jawabannya: Ya dan Tidak.
Jangan mengatakan keburukan orang lain jika:
1. Hanya demi kekurangan itu
2. Untuk merendahkan dan mempermalukan.
3. Memberi ‘cap’ seolah-olah kekurangan itulah yang dominan dalam diri orang lain, padahal banyak kebaikannya.
4. Membuktikan bahwa kita yang terbaik di dunia atau sedikitnya dari orang itu.
5. Karena kita cemburu dan iri hati
6. Mengajak orang berpihak kepada kita atau kelompok kita
7. Mencegah orang lain bersahabat dengannya
Boleh mengatakan keburukan orang:
- Sebagai pelajaran bagimana dampak sesuatu keburukan dalam kehidupan sekaligus mendorong komitmen kita untuk bebas dari keburukan serupa.
- Mendoakan yang bersangkutan dan berusaha dengan pimpinan Tuhan membantu untuk perubahannya.
- Mencegah agar kekurangan yang bersangkutan tidak menular dan berakibat lebih buruk kepada yang lain, secara pribadi atau persekutuan yang lebih luas.
- Menolak bahkan membenci kekurangan atau perbuatan buruk orang lain, tetapi dengan setulus hati mengasihi orangnya dan menghormati keberadaannya sebagai sesama manusia.
Bagaimana sikap menghadapi orang yang mengatakan keburukan Anda?
Jika apa yang mereka katakan benar, maka:
- Terima dengan lapang dada dan ucapan syukur. Mungkin pahit rasanya, tetapi banyak obat yang rasanya pahit. Ketika seseorang memuji dan menyanjung Anda dan Anda dengan bangga menerimanya, ingat ia bagaikan memberi gula kepada yang berpenyakit gula: rasanya enak tetapi mencelakakan.
- Tidak perlu persoalkan apa motivasi orang lain mengungkapkan keburukan Anda. Karenanya, tetap perlakukan sebagai sahabat.
- Jangan mencari alasan (apalagi alasan asalan) untuk merasionalisasi atau membenarkan diri.
- Jangan mengalihkan persoalan dengan menuduh orang lain 'memburuk-burukkan' Anda, padahal ia hanya mengatakan keburukan Anda yang sebenarnya.
- Tidurlah dengan nyenyak pada waktunya, tidak perlu larut dalam kesedihan dan benci diri.
Jika yang mereka katakan tidak benar, maka:
1. Tidak perlu marah atau pusing kepala. Yang memburukkan Anda perlu ditolong, ia punya masalah dalam dirinya.
2. Boleh membela diri dengan argumen tanpa menyerang orang yang memburukkan kita.
Dengan sikap di atas, kita akan menolong diri kita sendiri dan orang lain untuk hidup dalam kedamaian, kegembiraan sorgawi dan saling meneguhkan dengan sesama.
Monday, September 22, 2008
R O K O K
MATIKAN ROKOK SEBELUM IA MEMATIKAN ANDASuatu ketika, suaminya sedang keluar. Istrinya memasak makanan di rumah. Karena tiba-tiba ia dipanggil oleh temannya untuk membicarakan gossip yang sedang beredar, ia pun keluar meninggalkan rumahnya. Sayang sekali, ia lupa mematikan kompor. Kompor itu pun meledak dan dalam sekejap rumahnya habis dilahap sijago merah. Ia benar-benar frustrasi. Bukan saja karena rumahnya habis, tetapi juga memikirkan reaksi suaminya terhadap kejadian itu. Ia tahu bahwa suaminya seorang pemberang, yang emosinya lebih cepat memanas dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Dalam keadaan pilu dan takut itu suaminya datang. Tapi, mengherankan, kali ini ia tenang. Tidak ada nada marah atau wajah memerah. Istrinya heran tidak kepalang. Sebelum istrinya menjelaskan duduk persoalannya, si suami langsung berkata, “Tidak apalah Ma, kita sama-sama punya kesalahan”. Bedanya, saya membakar Rp. 72.000.000 dalam tempo dua puluh tahun, Mama membakarnya dalam tempo dua puluh menit.
Pesan dari cerita di atas bukanlah soal kesabaran seorang perokok ketika menghadapi musibah sebagai kompensasi kesalahannya tetapi kiranya mendorong kesadaran kita bahwa sesungguhnya rokok benar menghancurkan paru-paru dan ‘merobek kantong’ juga. Cerita itu juga menyingkapkan kenyataan betapa sulitnya seseorang berhenti merokok dengan berbagai alasan. Berikut ini adalah berbagai alasan (‘asalan’) para perokok yang sangat umum dan apa respon singkat terhadap setiap alasan tersebut.
--
RESPON:
ALASAN:
ALASAN:
ALASAN:
ALASAN:
ALASAN:
ALASAN:
ALASAN:
Masih ada alasan lain? Mungkin masih banyak, tetapi semuanya pasti alasan 'asalan' juga. Yang jelas, fakta-fakta sudah menunjukkan bahwa merokok menimbulkan berbagai penyakit. Bagaimana caranya berhenti merokok? Sangat mudah. Prinsip dasar: kasihilah diri Anda. Dengan demikian, jangan beli rokok dan sama sekali jangan pegang. Dan yang terpenting: karena Allah mengasihi Anda semua yang merokok, sambutlah kasihNya dengan mematikan rokok sebelum semuanya amat terlambat.
[1] John F. Kavanaugh, Following Christ in a Consumer Society (Maryknoll: Orbis Books, 2006), 19
Sunday, September 21, 2008
MASALAH 'MEMBERI KESAN'

Ketika kita melihat ke dalam diri kita untuk mengetahui siapakah diri kita, seringkali yang pertama kita temukan adalah ‘kecurigaan’ yang akhirnya menimbulkan aneka pertanyaan. Kita menemukan bahwa motivasi kita sering tidak semurni yang kita harapkan.Apakah saya penderma? Saya memberi bantuan ke panti asuhan, kepada panitia pembangunan gereja dan sebagainya. Tetapi, apakah saya memberinya sebagaimana adanya, atau apakah saya memberinya supaya mereka yang memintanya tidak mengganggu saya? Apakah saya memberi sebanyak yang saya mampu dan seharusnya, atau apakah saya memberikannya untuk memberi kesan dan memoles reputasi saya? Apakah saya memberi lebih banyak kali ini karena saya ingin meningkatkan reputasi saya di mata orang lain dan saya dapat berbicara dengan orang lain untuk memberi kesan positif tentang diri saya?Kehidupan bergereja kita juga perlu kita periksa dengan seksama. Apakah saya rajin bergereja terutama untuk menjaga citra saya terhadap sesama warga gereja? Kita takut Tuhan tidak akan memenuhi permintaan saya kalau tidak rajin beribadah? Kita merasa tidak enak kalau orang lain mencap kita bukan warga gereja yang baik? Apakah saya terus berkeliling mencari gereja yang menyediakan nyanyian, tata ibadah, khotbah dan sebagainya yang cocok dengan selera saya atau saya bergereja di sini karena saya percaya Tuhan menepatkan saya di sini tidak terutama untuk kepentingan saya tetapi untuk menjadi saksi-Nya?
Dari pengalaman kita bisa belajar bahwa intropeksi terhadap motivasi yang ada di balik sikap dan tindakan-tindakan kita memberi lebih banyak ketidakpastian ketimbang kepastian. Kita selalu dapat bertanya terhadap diri sendiri, tetapi kita tidak akan dapat yakin apakah kita sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri.
Jadi, kalau orang lain memuji Anda katakanlah dalam hati, "orang ini memuji saya sesuai dengan suasana hatinya." Ketika orang lain memuji kita, kita seharusnya lebih menikmati persahabatan kita ketimbang pujian itu sendiri. Sebaliknya, kalau orang lain mengkritik atau mencela Anda, lihat ke dalam diri sendiri. Kalau kritik itu benar, syukurilah karena itu merupakan obat bagi Anda meskipun rasanya pahit. Jika celaan orang itu hanyalah mengungkapkan keadaan diri mereka yang serba negatif atau karena cemburu, iri hati, sombong dan sebagainya, merekalah yang mempunyai masalah. Karenanya, jangan bereaksi berlebihan, apalagi menjadi berang sambil membalas. Perlu kita sadari bahwa emas yang dilemparkan ke dalam kotoran sapi pun, tidak akan berubah kadar keemasannya. Janan peduli dengan 'nama baik' menurut ukuran dunia ini, yang seringkali mengutamakan pemolesan dari luar. Hidup kita pun akan bebas dan apa adanya. Kita tidak dikendalikan oleh orang lain, tetapi digerakkan oleh Roh Tuhan yang mendiami inti kemanusiaan kita.
Thursday, September 18, 2008
MENJADI BERKAT BUKAN MENJADI HEBAT
Ada saja yang terasa agak aneh dalam kehidupan keseharian kita. Sebut saja soal ‘kehebatan’ dan ‘kejagoan’ yang terkadang diidentikkan dengan ‘keberanian’ melawan tatanan kehidupan yang baik atau aturan yang berlaku. Di beberapa kota di Indonesia, mereka yang ‘berani’ naik sepeda motor tanpa menggunakan helm pengaman sambil bonceng tiga dan menerobos lampu merah pula, justru dianggap orang atau menganggap diri sendiri ‘hebat’ atau ‘jago’. Saya jadi teringat ‘cerita’ Ayub Yahya tentang seseorang yang menerobos lampu merah di jalan raya. Ketika polisi menghentikan dan bertanya, “Mengapa Anda menerobos lampu merah? Anda tahu apa artinya merah?” Dengan entengnya si pengendara sepeda motor menjawab, “Tahu Pak Polisi. Merah artinya “berani”.Kita juga dapat melihat bagaimana keanehan serupa terjadi dalam hubungan jabatan dan kekayaan. Jarang sekali --kalau tidak mau dikatakan sama sekali tidak ada-- pejabat negara yang kaya di Indonesia yang menjadi kaya kalau bukan karena korupsi. Tetapi, anehnya (lebih tepat celakanya) justru mereka itu yang dianggap hebat dan berhasil. Mereka pun disambut meriah, didaulat sebagai orang terhormat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Tidak heran mengapa banyak orang yang ingin seperti mereka. Tetapi jangan kita membenci mereka. Kita boleh membenci perilaku buruk atau kekurangan orang lain, tetapi kita mesti tetap mengasihi dan menghormati orangnya. Kita perlu membantu mereka dengan mendoakan, menegur dengan cara hormat dan bersahabat.
Selain dalam konteks kehidupan masyarakat dan bernegara, baik juga kalau kita melihat diri sendiri sebagai gereja. Kecenderungan serupa juga bukan pengalaman asing dalam kehidupan bergereja. Sepanjang sejarah gereja kita menemukan orang-orang yang membelokkan ayat-ayat Alkitab untuk mengabsahkan konsep, sikap dan perbuatan tertentu yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tidak sedikit orang yang membusungkan dada tatkala berhasil melanggar tata gereja tanpa merasa risih apalagi bersalah. Kita tidak perlu menguras tenaga membahas itu semua. Cukup bagi kita melihat fakta-fakta itu tanpa mengingkarinya sambil melangkah dalam menapaki kehidupan, menekuni pekerjaan dan pelayanan keseharian dalam pimpinan Tuhan dan dalam semangat pertobatan. Ketika kita disebut berhasil dalam melakukan yang baik pun kita bukanlah orang hebat, apalagi kalau ‘keberhasilan’ kita justru mengaburkan dan menguburkan kebenaran demi pengejaran kepentingan kita. Sesungguhnya, Tuhanlah yang hebat, kita dipanggil untuk menjadi berkat.
Tuesday, September 16, 2008
MEMILIH: SULIT ATAU KITA PERSULIT?
2. Pilihan yang berkaitan langsung dengan konsekuensi keberadaan kita. Yesus sendiri sudah menyatakan dengan jelas bahwa kita adalah “garam dan terang dunia”. Kita tinggal memilih mewujudkannya atau tidak. Akibatnya jelas. Dalam Matius 7:24 dan 26 dikatakan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Apakah kita selama ini memilih membangun di atas batu atau di atas pasir? Sekiranya di atas pasir, saat inilah waktu yang tepat memulai “memilih” membangun di atas batu.
3. Pilihan yang tidak membutuhkan ‘pemikiran atau pertimbangan’ mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya sudah jelas. Yang masalah adalah untuk memilih yang kelihatan ‘aman’ tetapi bertentangan dengan kebenaran, atau memilih menerima sebuah keadaan yang mungkin tidak menyenangkan bahkan penderitaan karena berpegang pada kebenaran. Contoh yang baik dalam hal ini adalah Yosua dalam pilihannya yang tegas dengan mengatakan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah ....... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15) Kita juga mengetahui keputusan Sadrakh, Mesak dan Abednego yang memilih tetap setia menyembah Allah dan tidak memilih menyembah Nebukadnezar. Pilihan serupa juga ditempuh oleh para martir sepanjang perjalanan sejarah gereja. Bagaimana jika Anda ditawari dua pilihan dalam lingkungan kerja: (1) Meninggalkan Agama Kristen dan tidak naik jabatan, atau (2) Pindah agama, tinggalkan Tuhan Yesus dan akan mendapat jabatan lebih tinggi, bergengsi dan mengantongi gaji yang lebih besar?
4. Pilihan yang membutuhkan pertimbangan matang dengan menggunakan nalar sehat dan hati jernih. Misalnya untuk memilih pemimpin, baik dalam kehidupan berbangsa maupun bergereja. Memilih partai politik dan calon legislatif, memilih presiden, gubernur dan sebagainya, membutuhkan pemikirkan yang lebih matang, tidak terutama didasari sentimen dan kepentingan sesaat dan kepentingan kelompok. Hal yang sama juga berlaku di gereja. Misalnya, baru saja HKBP melaksanakan pemilihan Pimpinan HKBP. Cara-cara yang berlangsung terkesan seperti pola-pola Pilkada, yang di dalamnya sedikit banyak menumpang kepentingan pribadi, kelompok (termasuk kelompok marga). Masalahnya tidak saja pada para pendeta tetapi juga sebagian warga jemaat khususnya mereka yang memiliki uang dan pengaruh. Mereka menggunakan pengaruh dan uangnya mengongkosi peserta sinode untuk memilih calon tertentu. Kita harapkan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi ke depan ini.
Masih dalam kaitan pertimbangan matang, memilih’ calon suami atau istri juga masuk dalam kategori ini. Masalahnya, untuk yang satu ini tidak bisa ‘coba-coba’. Coba saja dulu menikah dengan si anu, kalau cocok jalan terus, kalau tidak ya putus! Sikap seperti ini amat sangat berbahaya. Dewasa ini, ada begitu banyak keluarga yang kandas pada ‘perceraian penuh’ dan “semi-cerai”. Perceraian penuh adalah keluarga yang benar-benar berpisah baik yang menikah dengan yang lain maupun yang tinggal menjanda atau menduda. Yang termasuk dalam ‘Semi-bercerai’ adalah yang masih tinggal satu rumah –yang secara formal dan legal tidak bercerai—tetapi selalu berada dalam pertengkaran, penyelewengan seksual, dan sebagainya. Bukankah mengherankan dan tidak dibenarkan mengatakan dalam hati, “jangan-jangan suami atau istri saya ini bukan jodoh saya”. Kata-kata seperti ini seharusnya tidak muncul dalam benak setiap orang yang sudah berkeluarga. Juga, tidak ada alasan membenarkan diri dengan mengatakan, “ah dulu dia bukan pilihan saya, saya mau menikahinya hanya untuk menyenangkan orangtua saja”. Itu sama sekali tidak benar. Mungkin orang tua ‘memilih’ calon, tetapi keputusan akhir memilih suami atau istri adalah si suami atau si istri sendiri.
Wednesday, September 10, 2008
YANG TERUTAMA

Untuk yang terakhir ini, ada sebuah cerita. Seorang perempuan membeli sepasang anting-anting seharga Rp. 12.000. Ia memberikan uang pecahan Rp. 20.000. Tetapi, si penjual memberi uang kembalian Rp. 82.000. Perempuan ini tahu persis bahwa ia menerima lebih dari yang semestinya, tetapi ia mendiamkannya. Dengan wajah amat ceria penuh tawa ia menemui temannya dan berkata, “Puji Tuhan, doa saya dikabulkan Tuhan, mujizat baru saja terjadi!” katanya dengan amat bersemangat. “Mujizat apa?” tanya temannya. Saya membutuhkan uang untuk isi pulsa HP-ku dan sudah tiga hari saya berdoa agar Tuhan buka jalan, eh tadi ketika aku beli sesuatu saya bayar dengan uang Rp. 20.000, penjualnya memberi kembaliannya Rp.82.000! Tuhan menutup mata si penjual itu.” Apakah itu berkat Tuhan? Apakah itu jawaban sebuah doa? Pasti tidak! Ini bukti ketidaksetiaan pada perkara kecil (penjelasan tambahan tentang hal ini masih dijelaskan di bawah).
Dalam Matius 6:5-8 Yesus mengajarkan murid-muridNya dan kita juga ‘bagaimana’ berdoa, bukan terutama memberitahu ‘apa’ saja yang perlu kita minta. Di situ kita temukan “dua jangan” dalam berdoa. Jangan pertama: Jangan seperti orang munafik (ayat 5). Jangan kedua: Jangan bertele-tele (ayat 7). Seruan “jangan seperti orang munafik” bertalian dengan: supaya dilihat orang, pamer kesalehan, unjuk kemamampuan merangkai kata-kata. Sedangkan “jangan bertele-tele" mau menekankan bahwa ‘jawaban’ atas doa bukanlah tergantung pada kata-kata kita. Sebab, Allah mengerti keadaan kita. Seorang teman pernah mengalami sakit diare dan mencret-mencret selama tiga hari. Dia berdoa agar diarenya berhenti. Diarenya pun sembuh, tetapi sesudah itu, ia selama tiga hari tidak bisa buang air besar. Ia berkesimpulan bahwa kata-kata dalam doanya tidak lengkap, karena (menurut dia) ia hanya meminta diarenya berhenti dan Tuhan pun hanya mengabulkan doanya sesuai dengan rumusan kata-katanya itu. Ia perlu berdoa khusus lagi untuk meminta agar ia bisa buang air besar secara normal. Ini adalah sebuah kekeliruan pemahaman. Bukan karena kata-kata dalam doanya yang mengakibatkan penyakitnya. Bayangkan kalau semua kita jelaskan dalam doa kepada Tuhan soal diare yang kita derita: mulai dari dokter mana yang harus menangani, obat apa yang pasti bisa menyembuhkan, naik kendaraan apa ke Rumah Sakit, bagaimana cara duduk atau berdiri menunggu giliran di dokter dan sebagainya, dan seterusnya, kita mungkin membutuhkan satu hari untuk menjelaskannya atau menanyakannya dalam doa. Diare kita bisa saja akan lebih parah.
Tuhan Yesus tidak saja menyebut “dua jangan” tadi, tetapi juga memberitahukan sedikitnya “dua sikap dasar” dalam berdoa. Sikap dasar pertama: Menutup pintu kamar. Ini juga (dan terutama) menutup ‘pintu hati’ dari aneka gangguan atau aneka keliaran pikiran. Sikap dasar kedua: Percaya bahwa Bapa mengetahui yang kita perlukan sebelum kita memintanya.
Dalam Matius 7:7 dikatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Kita mesti memahami ini dengan benar. Janganlah kita dengan mudah mengatakan bahwa semua yang kita terima itu merupakan jawaban Tuhan atas doa kita. Janganlah kita dengan enteng mengatakan bahwa yang kita alami itu mujizat padahal tipu muslihat; kita mengatakannya ‘berkat’ padahal akan mendatangkan laknat. Perempuan di dalam cerita di atas memang berdoa menyampaikan pergumulannya kepada Tuhan, tetapi uang kembalian yang lebih itu bukanlah jawaban Tuhan atas doanya, melainkan sebuah pelanggaran hukum kasih. Sesungguhnya, perempuan itu termasuk ‘pencuri’. Dari peristiwa seperti ini kita dapat lebih mudah memahami apa yang Yesus katakan dalam Mat 7:12: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Jika si perempuan itu menempatkan dirinya sebagai si pedagang, apakah ia menghendaki dirinya rugi? Pasti tidak! Jadi, jika kita menghendaki mendapat untung yang wajar dari usaha dagang kita, hendaklah kita memperlakukan orang lain seperti kita mengharapkan terjadi pada diri kita. Ini juga berlaku dalam hal-hal yang lain.
Di sini Yesus menegaskan, “Bapamu yang di sorga akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya”. Sebelumnya, Yesus sudah dua kali mengatakan bahwa Allah, Bapa kita, mengetahui apa yang kita perlukan (lihat Matius 6:8 dan 32). Jadi, sebenarnya Tuhan menjawab semua doa kita walaupun tidak semua yang kita minta kepada Allah akan diberikan kepada kita. Allah akan memberikan apa saja yang baik menurut-Nya untuk kebaikan kita anak-anakNya.
Jika demikian, apakah kita masih perlu meminta kepada Tuhan dalam doa-doa kita? Kalau Allah sudah mengetahuinya, mengapa kita harus berdoa lagi? Jawabannya, kita tetap berdoa dan meminta kepada Tuhan
- bukan memberi tahu Tuhan apa yang harus Ia lakukan kepada kita
- bukan mengingatkan Tuhan seolah-olah Ia lupa kepada kita atau keperluan kita
- bukan meyakinkan Tuhan dengan alasan-alasan di balik permintaan kita
- bukan memberi tahu Tuhan bahwa kita akan kecewa kalau Tuhan tidak memberi
Tetapi, kita berdoa kepada Tuhan karena kita percaya bahwa Allah mengetahui yang terbaik bagi kita dan kita percaya bahwa Allah mampu memberi segala sesuatu yang Ia anggap baik untuk kita. Dalam hal ini doa-doa kita juga:
- Mengingatkan bahwa kita perlu melakukan sesuatu, bukan berpangku tangan menunggu
- Menempatkan kehendak kita selaras dengan kehendak Tuhan
- Melatih kita untuk bersabar menanti pemberian Tuhan sesuai dengan waktu-Nya
- Mengungkapkan sukacita dan pujian kepada Tuhan, apa pun jawaban-Nya atas doa kita.
Jadi, kalau malaikat Tuhan muncul sekarang, dan berkata, “Minta apa yang kaukehendaki, Tuhan akan memberikannya!” Dua hal yang perlu. Pertama, menghendaki kejelasan apakah yang bertanya itu Malaikat Tuhan atau bayangan kita sendiri. Sebab, Allah tidak pernah dan tidak akan pernah memberikan semua yang kita kehendaki. Kedua, mintalah Allah itu sendiri, jangan yang lebih kecil dari Allah seperti sepeda, kesembuhan penyakit, komputer, mobil, rumah, ijazah S3 dan seterusnya. Semua itu mungkin kita butuhkan, tetapi semua itu tidak ada artinya tanap Tuhan. Jika kita memiliki Tuhan, kita memiliki segala-galanya; tetapi walaupun kita memiliki segala-galanya yang ada di dunia ini tanpa memiliki Tuhan, semuanya tidak punya arti apa-apa. Baiklah kita resapkan kebenaran ini dalm hati kita yang terdalam:
Allah tidak dapat memberi
kebahagiaan dan kedamaian terpisah dari diri-Nya sendiri –
Semuanya itu menyatu dalam diri-Nya
Tuhan selalu mempunyai:
Waktu untuk menyambut kita
Pengetahuan sempurna memahami kita dan kebutuhan kita
Pendengaran yang tajam mendengarkan kita
Segala sesuatu untuk kebaikan kita; bahkan diri-Nya sendiri untuk kehidupan dan keselamatan kita


