Sunday, July 25, 2010

TEST TINGKAT KESADARAN

REFLEKSI SENIN KE-30
26 Juli 2010

Hidup yang tidak disadari tidak layak dijalani
(Socrates)
**********
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku.
(Mzm. 139:23)


Sebuah mobil membutuhkan pedal gas untuk bisa maju dan pedal rem untuk tidak melaju. Ia juga membutuhkan kemudi untuk memandu arah. Tetapi, yang paling penting pengemudi harus mengetahui jalan yang harus ditempuh dan sadar betul kapan menekan pedal gas dan kapan menekan pedal rem.

Dengan segala keterbatasannya, ini dapat menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Tidak ada keraguan akan pentingnya mengenal dan memahami ‘tingkat kesadaran’ diri sendiri. Wyne Dyer mengelompokkan tiga tingkat kesadaran mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi yakni: tingkat kesadaran ego, kesadaran kelompok dan kesadaran mistis. Pengelompokan ini tetap digunakan disini dengan menyertakan refleksi terhadap setiap tingkat kesadaran tersebut.

1. Tingkat Kesadaran Ego

Dalam kesadaran ego, penekanan seseorang adalah pada kepribadian dan tubuhnya. Orang yang berada dalam tingkat kesadaran ini banyak menghabiskan waktunya untuk mengukur kesuksesannya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Kalau ia memiliki lebih banyak daripada orang lain, ia merasa lebih enak tentang diri sendiri. Ia sangat peduli dengan piagam penghargaan dan gengsi. Untuk ini ia bersaing dan selalu membandingkan. Ia berusaha memberi kesan kepada orang lain. Tetapi, justru di sinilah masalah muncul. Di sinilah kedamaian batin tidak mungkin terjadi, sebab ia harus selalu berjuang untuk berada di posisi lain, ia selalu berlari lebih kencang untuk selalu ‘lebih’ dari orang lain.

Perasaan putus asa, marah benci, pahit, tertekan dan depresi berakar dari kecemasan ego dan sikap berkeras mencapai target yang ia tetapkan sendiri. Ego akan jarang membiarkannya beristirahat dan terus menuntut karena takut disaingi dan takut disebut tidak sukses.

Di samping itu, ia sangat peka dan amat cepat bereaksi terhadap pendapat orang lain. Jika orang lain memujinya (meskipun niat mereka hanya untuk menjilat dan memanfaatkan), ia merasa lebih enak. Ia pun mengobral pujian kepada orang lain, yang sebenarnya hanya mencerminkan keinginannya untuk dipuji dan disanjung. Sebaliknya, kalau ada yang mengkritiknya, ia merasa sakit hati yang sering disertai dengan pembelaan diri sambil balik menyerang.

Bagaimana kehidupannya bergereja? Secara ‘formal’ bisa saja tidak ada masalah. Artinya, ia selalu hadir pada kebaktian Minggu, menghadiri Persekutuan Pemahaman Alkitab (PA), memberi persembahan secara rutin, menyumbang ke gereja dan sebagainya. Hanya saja, semua ini menjadi sebuah alat untuk memenuhi keinginan sang ego.

Itu sebabnya ketika menghadapi suatu penderitaan seperti penyakit misalnya, ia bertanya setengah protes kepada Tuhan dan orang lain, “mengapa saya menderita seperti ini, padahal saya sudah membangun gereja dan rajin dalam semua kegiatan gereja?”

Di samping itu, ibadah biasanya dibelokkan sedemikian rupa untuk memenuhi selera dan keinginan. Mereka mengukur ibadah dengan istilah ‘enak’ atau ‘tidak enak’, ‘semarak’ atau ‘dingin dan sepi’. Jadinya, ibadah tidak ubahnya seperti shopping: memilih sesuai dengan selera. Betapa sedihnya! Sumbangan mereka kepada gereja bisa saja banyak. Untuk memenuhi selera, mereka menyumbangkan perangkat musik band. Mereka bisa mendapat ‘keuntungan’ dalam bentuk yang lain dari situ seperti: (1) Merasa enak karena menganggap sudah ‘menolong’ Tuhan, (2) Merasa enak mendengar musik band, (3) Lebih enak perasaan karena ia diketahui orang lain menyumbang ke gereja dan sekaligus mempunyai “SIM” untuk mengkritik orang yang pelit.

Doa-doanya biasanya menyamarkan inti kehidupan bergereja dan sikap hidup kristiani. Doa menjadi pameran kemampuan merangkai kata-kata; doa menjadi tumpukan proposal untuk disahkan oleh Tuhan; doa menjadi alat penymuman keberhasilan diri sekaligus mengkritik orang lain, doa menggantikan kepedulian dan pertolongan nyata. Yang lebih menyesatkan lagi, ada pula yang berdoa agar menang dalam berjudi atau lotere dan akan membaginya 50% kepada Tuhan yang akan disalurkan melalui gereja.

Di dalam doa tertentu kita memang menggunakan kata-kata dan sebaiknya kita ungkapkan dengan baik. Bermohon kepada Tuhan melalui doa adalah bagian dari doa. Mendoakan orang lain juga tugas orang Kristen. Bedanya, doa-doa yang muncul dari ‘tingkat kesadaran ego’ hanyalah memperalat Tuhan dan orang lain untuk kepuasan diri sendiri.

‘Penampilan’ di gereja, mulai dari tempat berkoor (di tempat duduk atau ke depan), isi warta jemaat (apakah mewartakan pelayanan atau si pelayan sendiri), cara memegang uang persembahan ketika memasukkannya ke kantong persembahan (warna uangnya kelihatan atau digenggam rapat) sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat kesadaran. Ketika tingkat kesadaran ego yang mendominasi, semua penampilan akhirnya mengarahkan perhatian kepada yang tampil itu sendiri.

Orang dalam tingkat kesadaran ini termasuk orang bermasalah dan juga menimbulkan masalah, yang membutuhkan jamahan Tuhan.

2. Tingkat Kesadaran Kelompok

Ini ada kemiripan dengan kesadaran ego. Bedanya, ego perorangan ditekan dan masuk dalam ego kelompok. Keanggotaan seseorang didasarkan pada keluarga, warisan, latar belakang rasial, suku, agama, bahasa, pertalian politik dan seterusnya. Di sini orang-orang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompoknya, berjuang sesuai dengan harapan kelompoknya bahkan ada yang sampai ikut berperang.

Kesadaran ego bisa lebih ‘nyaman’ dalam kesadaran kelompok. Sebab, kesalahan kelompok bukan kesalahan saya dan kesalahan saya adalah kesalahan kelompok.

Dalam konteks yang lebih sempit kita bisa lihat dalam kehidupan orang-orang Batak yang masih terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Bahkan, yang satu marga pun masih memiliki kelompok yang berbeda bahkan bermusuhan hingga generasi yang ke-17.

Ciri yang amat kentara dalam kesadaran ini adalah ‘fanatisme sempit’. Artinya, kelompokku paling benar, kelompok lain lebih rendah; kelompok lain sedapat-dapatnya dimanfaatkan untuk kepentingan kelompokku. Kita bisa melihat tewasnya ribuan orang pada persitiwa hancurnya gedung kembar WTC, 11 September dan invasi Amerika ke Irak dalam konteks ini. Sekelompok orang membenci sekelompok orang Amerika, yang korban adalah orang-orang yang kebetulan berada di gedung WTC yang belum tentu satu pun dikenal oleh pelaku penyerangan itu. Sebagian orang Amerika membenci kelompok tertentu di Irak, yang korban adalah juga orang-orang yang tidak bersalah.

Jangankan marga, masyarakat, atau negara, gereja-gerejapun masih banyak yang bercokol dalam tingkat kesadaran ini. Sangat menyedihkan memang. Banyak perselisihan yang terjadi di tengah dan di antara gereja-gereja hanya karena ego kelompok. Dalam hal ini gereja-gereja selalu membutuhkan pengampunan.

3. Tingkat Kesadaran Mistis

Kata mistis perlu diperjelas lebih awal, karena sering kata ‘mistik’ digunakan berkaitan dengan perdukunan dan guna-guna. Kata mistis disini menunjukkan keterhubungan dengan Tuhan, dengan setiap dan semua orang, dan dengan setiap makhluk. Kesadaran mistis tidak melenyapkan sepenuhnya kesadaran ego dan kesadaran kelompok, tetapi memberinya tempat yang wajar. Perasaan senang dan perasaan bangga yang terkandung dalam ego dalam batas-batas tertentu sah-sah saja sejauh ia tidak tergelincir pada pengutamaan kesenangan diri sendiri dan kesombongan. Kelompok juga dibutuhkan, bukan sebagai tembok tetapi sebagai pintu menuju persahabatan sejati dengan semua orang.

Merasa terhubung berarti Anda benar-benar merasa bahwa kita semua satu, dan bahwa kekerasan yang ditujukan kepada orang lain sebenarnya adalah kekerasan yang ditujukan kepada diri kita sendiri. Di sini, kerjasama menggantikan persaingan, kebencian dimusnahkan oleh kasih, dan kesedihan dihapus dengan sukacita. Pada tingkat ini Anda adalah anggota ras manusia, bukan kelompok yang lebih kecil. Karenanya, penganut agama Islam seharusnya merasa sedih tatkala orang-orang di WTC itu dibom. Orang-orang Kristen menolak invasi Amerika ke Irak yang memakan begitu banyak korban. Mengapa? Kita melihat manusia bukan berdasarkan agamanya, melainkan kemanusiaannya sebagai yang berharga bagi Tuhan.

Dalam tingkat kesadaran ini, Anda tidak akan menjadi apa yang Anda miliki, apa yang Anda capai, atau yang orang lain pikir tentang Anda. Di sini, doa-doa kita lebih merupakan pengakuan, penyerahan diri dengan mengatakaan “bukan kehendakku, tetapi kehendakMulah yang jadi”. Ibadah bukan lagi menyangkut apakah berkenan di hati saya tetapi apakah berkenan kepada Tuhan; bukan apakah itu menyenangkan hati saya, melainkan apakah itu menyukakan hati Tuhan. Kehidupan bergereja kita, pertolongan kita kepada yang lain, persahabatan kita adalah wujud kasih kita kepada Tuhan, sesama manusia, diri kita sendiri dan seluruh ciptaan Tuhan. Kebahagiaan sejati hanya ada disitu. Para rahib sering disebut sebagai mistikus karena mereka tidak melekat pada milik, pencapaian dan pendapat orang terhadap mereka.

Mungkin Anda bertanya, “Jika demikian, bukankah hidup ini jadinya monoton dan membosankan?” Untuk menjawabnya adalah sebuah pertanyaan juga, yaitu, “Anda membandingkan dengan apa? Bukankah pertanyaan itu lahir dari tingkat kesadaran ego?”

Dari miliaran orang Kristen di bumi ini, berapa orang yang memiliki tingkat kesadaran mistis? Tidak ada yang tahu. Lagi pula, dalam hitungan hari seseorang bisa saja berpindah dari tingkat kesadaran yang satu ke yang lain. Yang jelas, Anda dan saya dapat ‘mendaftarkan’ diri dan masuk dalam tingkat kesadaran ini. Syaratnya sangat sederhana: hanya kesediaan kita. Allah senantiasa bersedia menyambut kita bersatu dengan-Nya dan di dalam Dia kita bersatu dengan semua orang, tanpa meniadakan persekutuan kita sebagai jemaat. Firman Tuhan dalam Lukas 2:14 ini pun akan terwujud dalam kehidupan kita: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi….”

Selamat memasuki ‘tingkatan’ baru: ‘tingkat kesadaran mistis’.

Sumber:
Victor Tinambunan, Apa Yang Kamu Cari?
Pematangsiantar: L-SAPA, 2008

Wednesday, July 21, 2010

ANAK: TITIPAN SANG PENCIPTA

Refleksi Senin Ke-29
19 Juli 2010

Ketika berusia lima tahun, anak saya, William, ingin menjadi sapi. Dia pun bertanya, “Apakah bapak tetap menyayangiku kalau aku menjadi sapi?” Tanpa berpikir panjang saya menjawab, “Tidak!” “Tapi aku ‘kan’ tetap anak bapak? Bapak tidak adil!”, protesnya sambil menangis.

Sampai hari ini, pertanyaan itu terus mengunjungi benak saya. Memang, menjadi manusia atau menjadi sapi bukan sebuah pilihan melainkan ketetapan Sang Pencipta. Akan tetapi, keinginan dan pertanyaan itu berkembang. Pertama, bagaimana jika William bermental sapi? Ia hanya merumput dan tidur.Tidak belajar, tidak mengikuti perkembangan iptek, tidak menggunakan internet, tidak masuk dalam persekutuan sosial dan agama. Apakah saya tetap menyayanginya? Kini pertanyaan William mendorong saya di satu segi berusaha sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya agar kelak dia terhindar dari pola hidup sapi. Di segi lain, saya perlu terus menerus melatih diri untuk menerima dan mengasihinya sebagai anak meskipun terkadang hidupnya tidak sepenuhnya berpadanan dengan keinginan saya.

Kedua, keinginan William menjadi ‘sapi’, mengingatkan saya menghindari diri dari keinginan menjadikannya menjadi ‘sapi’: sekadar untuk menghasilkan susu dan daging. Mengharapkannya untuk memenuhi kepentingan dan selera saya. Kata-kata penulis James Dobson berikut amat mencerahkan nurani, “while the baby is on the way, we profess only to want a child who is normal. But from birth on, we want a super-kid! We want for him either the life we didn’t have or a replay of the life we did have. Somehow, their grades, their friends, their style are never good enough. We focus on what they need to improve, seldom on what they have achieved.”

Saya masih terus dalam proses belajar bagaimana mendampingi dan mendidik William. Hanya saja, tugas saya semakin jelas: membuatnya bahagia tanpa memanjakan dan memaksa. Dengan begitu saya dapat memiliki rasa takjub dan syukur kepada Sang Pencipta yang menitipkannya. Dan saya bahagia William menjadi dirinya sendiri seturut rancangan Sang Khalik.

Sumber: Indoconnex Edisi Juli 2010
Penulis: Victor Tinambunan

Sunday, July 11, 2010

GAGAL KAYA BERHASIL BAHAGIA

REFLEKSI SENIN KE-28
12 JULI 2010

Kebahagiaan membuat orang miskin merasa kaya,
dan ketidakbahagiaan membuat orang kaya merasa miskin.
(Benjamin Franklin)

**********
Allah tidak menghendaki kita semuanya untuk
menjadi kaya atau berkuasa atau ternama,
Tetapi Ia menghendaki kita semuanya bersahabat.
(Ralph Waldo Emerson)


Judul di atas berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Gede Prama, “berhasil kaya gagal bahagia” dalam bukunya: Jalan-jalan Penuh Keindahan: Dari Kejernihan untuk Kepemimpinan Kehidupan. “Gagal kaya berhasil bahagia” mau menegaskan bahwa gagal menjadi kaya tidak mesti menjadi gagal bahagia, malahan keadaan itu dapat menjadi sarana untuk tetap berbahagia.

1. Mencermati ‘Posisi’ Kita

Ada yang mengelompokkan manusia menurut keberadaan ekonominya berkaitan dengan soal ‘makan’ sebagai berikut:

Kelompok 1 : Besok apa makan?

Mereka ini adalah yang ragu apakah akan mendapat makanan untuk besok, karena mereka tidak mempunyai persediaan makanan. Mereka miskin secara materi.

Kelompok 2 : Besok makan apa?

Makanan untuk besok sudah ada. Tinggal memilih, apakah ayam goreng, capcai goreng, sangsang B2 atau B1 (cincang daging babi dan anjing). Tetapi, makannya tetap di rumah, yang dimasak oleh si ibu atau mbak Iyem. Mereka ini bisa dikatakan berkecukupan.

Kelompok 3 : Besok makan di mana?

Pilihan untuk kelompok ini makin terbuka seiring dengan keadaan keuangan yang lebih memadai. Mereka tinggal pilih: makan di restoran mewah di pinggir pantai atau di hotel berbintang. Jika perlu, sarapan di Singapura makan siang di Hongkong makan malam di Tokyo. Credit Card selalu terselip di dompet. Barangkali mereka dapat disebut “kaya”.

Kelompok 4 : Besok makan siapa?

Mereka adalah pemilik modal dan perusahaan raksasa yang tidak berperikemanusiaan yang bisa dengan gampang membuat perusahaan lain gulung tikar. Mereka ini mungkin dapat disebut “kaya raya”.

Barangkali pengelompokan ini terlalu sederhana dan tidak dapat mencerminkan kenyataan yang dialami setiap orang. Namun pengelompokan ini sedikitnya dapat menolong kita memahami keadaan kaya dan miskin secara ekonomi tanpa mendefinisikan kemiskinan dan kekayaan.

Pengelompokan di atas tidak bisa menjadi pengelompokan tingkat kebahagiaan. Tidak menjadi jaminan bahwa kelompok “besok makan dimana” lebih bahagia dibandingkan dengan kelompok “besok apa makan”. Di samping itu kelompok “besok makan siapa” pastilah bukan orang-orang yang berbahagia secara kristiani.

2. Pesan Alkitabiah

Alkitab tidak memberi definisi “kaya” dan “miskin”, tetapi di dalam Alkitab kita dapat menemukan beberapa contoh orang miskin dan kaya. Contoh itupun sebenarnya tidak dapat disejajarkan dengan kenyataan sekarang. Misalnya, kalau dulu seseorang disebut kaya karena ia punya kereta kuda, sekarang ia mungkin masuk dalam kategori miskin jika dibandingkan dengan orang yang memiliki pesawat jet pribadi. Tetapi yang jelas, orang-orang miskin adalah mereka yang tidak mendapatkan kebutuhan sehari-hari, baik karena kesalahan mereka sendiri (misalnya karena malas) maupun karena diperlakukan orang lain secara tidak adil (tidak mendapat upah yang pantas, diperbudak, dirampas, dan sebagainya).

Yang mengejutkan bagi saya ialah, bahwa Alkitab tidak mengidealkan kekayaan atau kemiskinan. Mari kita simak sebuah doa berikut:

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. (Ams. 30:8b-9).

Berdasarkan ayat Alkitab ini, sedikitnya ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian kita: (1) Yang terpenting adalah menerima dan menikmati apa yang diperuntukkan oleh Tuhan. Hal ini mengingatkan kita kepada suatu yang lebih ideal, yakni “kecukupan”. Yesus sendiri mengajar kita berdoa “Berikanlah kepada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. (2) Kekayaan bisa menjadi ilah, membuat orang tidak peduli pada Allah dan menjadi sombong. Ada yang mengibaratkan harta dunia ini seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Rasul Paulus menasihatkan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan….karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (1Tim. 6:8-10). Memang kita membutuhkan uang, tetapi kita tidak boleh “cinta uang” –yang adalah akar segala kejahatan. (3) Kemiskinan juga bisa menjadi godaan bagi seseorang untuk mencuri, khususnya kemiskinan yang dikarenakan oleh kemalasan.

Apakah menjadi kaya boleh menurut kekristenan? Jawabannya tergantung sedikitnya pada tiga hal. Pertama, apakah itu panggilan Tuhan untuk seseorang. Saya percaya, Tuhan tidak menghendaki semua orang menjadi kaya. Saya tidak bisa bayangkan kalau masing-masing semua yang 6 miliar penduduk dunia sekarang punya pesawat jet pribadi, mobil pribadi, rumah pribadi dan ‘kepribadian’ yang lain. Tetapi, Tuhan menghendaki semua manusia hidup berkecukupan. Kedua, bagaimana kekayaan itu diperoleh. Ketiga, bagaimana kekayaan itu digunakan. Jika jawaban ketiganya berdasarkan kehendak Tuhan, maka kekayaan seperti itu adalah “berkat Tuhan” dan si kaya juga dapat “menjadi berkat” bagi sesama. Inilah orang kaya yang berbahagia. Orang kaya seperti itu pasti terhindar dari apa yang disebut dalam bahasa Batak: Mardasar mardosor tutungon porapora. Na sala i gabe sintong molo hata ni na mora. (Yang salah menjadi benar kalau yang mengatakannya orang kaya). Gereja juga hendaknya tidak akan pernah terinfeksi oleh virus seperti itu.

Apakah miskin itu dosa? Tunggu dulu! Seperti disebut di atas, kalau kemiskinan itu terjadi karena kemalasan, itu adalah dosa dan akan melahirkan dosa-dosa baru: mencuri, dengki, iri, bersungut-sungut bahkan membunuh. Tetapi, ada yang disebut dengan “kemiskinan sukarela” seperti mereka-mereka yang hidup di biara dan mereka yang mengabdikan diri untuk pelayanan sesama. Ada juga orang yang meskipun secara ekonomi mampu membeli lebih banyak, tetapi mereka memilih untuk hidup sederhana. Dengan demikian mereka bisa menolong orang miskin.

3. Yang Miskin Yang Berbahagia

Terry Hampton dan Ronnie Harper benar ketika mereka mengatakan:

"Kadang-kadang hal-hal yang kita pikirkan, mungkin termasuk impian-impian kita, sesungguhnya sekadar rasa iri kita terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Beberapa hal yang kelihatannya memikat kita hanyalah karena hal tersebut milik orang lain dan kita tidak mampu memilikinya….Orang sering kali membuat diri mereka sendiri tidak bahagia dengan melihat milik orang lain, padahal kebahagiaan itu harus dimulai dengan berpuas dan bersyukur untuk segala sesuatu yang kita miliki saat ini."

Tuhan Yesus mengajarkan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Mat. 5:3). Apa yang dikatakan oleh Yesus sulit diterima oleh pikiran manusia, apalagi di tengah zaman ini yang ditandai dengan pengejaran kesenangan dan kenikmatan belaka dengan berbagai cara. Kita perlu memahami pengajaran Yesus ini sebaik-baiknya.

Miskin di hadapan Allah adalah menyangkut kesederhanaan hidup dengan membiarkan diri kehilangan berbagai hal yang kelihatan perlu seperti gengsi, prestasi dan lain-lain. Ini adalah menyangkut sikap hidup yang tidak menggantungkan diri pada apa dan siapapun kecuali kepada Allah. Orang yang berbahagia dalam konteks ini adalah yang tidak menumpuk harta karena kuatir akan masa depan.

Apa yang dikatakan Yesus sama sekali bukan orang yang tidak mendapat makan, tidak punya pakaian atau kebutuhan pokok lainnya yang berbahagia. Orang yang berbahagia seperti ini adalah kita yang menerima Tuhan dan segala kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita serta dengan sukacita mewujudkan kehendak Tuhan dalam hidup kita yang di antaranya menolong orang-orang miskin.

Untuk mengakhirinya, cerita berikut amat baik menjadi renungan bagi orang kaya dan yang ingin kaya:

Aku punya kenalan.
Hidup ekonominya semakin kuat.
Menu makanan tinggal pilih.
Rumah dan perabotnya besar dan lengkap.
Lapangan dan bidang bisnisnya semakin luas.
Pegawainya juga tambah banyak.
Tersedia kendaraan sesuai bidang kebutuhan.
Rekening uang di bank bertambah.
Bersamaan dengan itu pengaruhnya meningkat.
Tetangganya bertambah hormat dan taat.
Orang semakin yakin Tuhan memberkatinya.
Pikiran dan perasaan kenalanku lain.
Sekarang yang dituntut dariku bertambah, keluhnya.
Aku harus hati-hati memilih makanan.
Aku perlu menghindari lemak dan gula.
Aku harus membuat pagar kuat demi keamanan.
Aku khawatir para pegawaiku mogok kena hasut.
Aku perlu garasi besar dan perawat kendaraan.
Aku perlu cepat tanggap bila bank kalah kliring.
Aku harus mempertahankan nama baik perusahaanku.
Aku khawatir orang datang minta sumbangan.
Aku semakin takut situasi akan berubah.

Kalau begitu,
Serahkan semuanya pada saudaramu
Biar engkau bebas dari beban, kataku menasihati.
Tak mungkin, keluhnya.
Roda sudah terlanjur berputar.

Sumber:
Victor Tinambunan, Apa Yang Kamu Cari?,
Pematangsiantar, L-SAPA, 2008.

Sunday, July 4, 2010

PENJARA MEMORI

REFLEKSI SENIN KE-27
05 Juli 2010

Seorang bekas tahanan di kamp konsentrasi Nazi mengunjungi seorang kawan yang juga mengalami malapetaka itu bersamanya.
“Apakah engkau sudah melupakan orang-orang Nazi?” tanya kawannya.

“Ya, sudah.”
“Saya belum. Saya masih dikuasai rasa benci terhadap mereka.”
“Kalau begitu,” kata kawan itu dengan tenang, “mereka masih memenjara dirimu.”
…..(musuh kita bukanlah mereka yang membenci kita tetapi mereka yang kita benci)…
(Anthony de Mello)


Tidak ada orang berpikiran normal ingin meringkuk di penjara. Bukan saja karena label ‘sampah masyarakat’ yang kerap ditempelkan ke identitas mereka tetapi juga karena berbagai kekangan. Itu sebabnya penghuni penjara selalu dengan segala usaha untuk keluar, melalui usaha halal bahkan penyogokan hingga melarikan diri.

Berbeda dengan pemenjaraan pikiran. Sebenarnya, manusia sepenuhnya punya pilihan untuk terpenjara atau bebas. Tetapi sadar atau tidak seringkali manusia lebih memilih terpenjara oleh olahan memorinya sendiri. Sebutlah sebuah pengalaman peristiwa pahit atau kata-kata orang lain yang menggores hati. Tidak sedikit orang yang begitu kuat dipengaruhi oleh pengalaman pahit di masa lalu dalam berpikir, bersikap dan bertindak hari ini. Bukan saja mempengaruhi sikap kepada pelakunya sendiri, tetapi –sedihnya—juga terhadap orang-orang yang berhubungan dengan pelakunya, bahkan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan si pelaku. Bukankah rasa gundah kita karena perlakuan orang lain mempengaruhi raut wajah kita yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain?

Di samping itu, ada pula pemenjaraan oleh pinjaman memori orang lain. Ketika tim Belanda bemain sepak bola beberapa waktu lalu, muncul berbagai komentar bernada tidak mendukung tim Belanda karena melabeli mereka sebagai ‘penjajah’. Padahal, yang mengalami langsung penjajahan Belanda di Indonesia sudah hampir tidak ada lagi. Para pemain sebak bola Belanda pasti tidak ikut menjajah Indonesia. Ketidaksenangan kepada tim Belanda merupakan buah dari pemenjaraan pinjaman memori --suatu penghalang menikmati pertandingan sepak bola.

Yang lebih memprihatinkan adalah pemenjaraan oleh suntikan fitnahan orang lain. Si A tidak suka si B. Kemudian A menyebarkan fitnahan tentang B kepada C. Sebenarnya C tidak ada masalah apa-apa dengan B. Tetapi, celakanya, C percaya pada A dan merelakan diri terpenjara oleh pikirannya hingga menutup pintu hatinya ke B.

Apa pun penyebab dan bentuknya, setiap pemenjaraan menghalangi pertumbuhan emosional dan spiritual seseorang. Pemenjaraan pikiran menghalangi kita bergerak mewujudkan keberadaan kita, membelokkan arah perjalanan hidup kita, meredupkan rasa takjub kita, hingga melumpuhkan kehidupan itu sendiri. Kata-kata “rasa benci kita kepada musuh lebih melukai kebahagiaan kita ketimbang mereka” mengandung kebenaran yang tidak membutuhkan perdebatan.

Monday, June 28, 2010

PENCERAHAN DAN KESEGARAN DARI LIBURAN

REFLEKSI SENIN KE-26
28 JUNI 2010

Menurut James W. More tiga pembunuh terbesar saat ini adalah: jam, kalender dan telepon. Salah satu antidotenya adalah liburan –yang menyegarkan dan mencerahkan, bukan jadi beban pikiran.

Tidak jarang orang mempersiapkan liburan berbulan-bulan, tetapi saat liburan ia hanya sibuk mengambil foto-foto untuk ditunjukkan kepada orang lain. Ia gagal menangkap misteri dan inspirasi dari tempat dan peristiwa yang dialami. Agar liburan sungguh-sungguh bermanfaat, beberapa hal perlu dipertimbangkan.

Bagaimanakah kita menetapkan tujuan? penetapan tujuan. Proses penetapan tempat liburan tidak selalu berjalan mulus. Kadang, liburan keluarga bisa diawali dengan perang mulut karena perbedaan selera masing-masing anggotanya. Selaraskan dulu inti tujuan berlibur, yaitu “apa yang diharapkan terjadi dalam hidup ini melalui liburan”.

Sudahkah kita melepas beban yang tidak perlu? Ada orang yang pada saat ia bekerja selalu membayangkan betapa menyenangkan liburan, tetapi saat liburan pikirannya justru digempur oleh beban pekerjaan. Khusus liburan ke luar negeri beban kian sarat oleh kalkulator saat belanja. Belum lagi perasaan sial dan kecewa berat jika yang dibeli justru produk negeri sendiri. Ini bisa dihindari dengan fokus pada ‘perayaan’ liburan itu sendiri tanpa dikendalikan oleh kalkulator, handphone, laptop, dan kamera.

Liburan merupakan peluang emas untuk mengamati diri sendiri dari kejauhan. Seseorang dapat melihat bagaimana hidup keseharian dijalani. Bagaimana aksi dan reaksi berlangsung. Bagaimana keputusan diambil. Bagaimana hubungan dibangun. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui mana yang perlu dikembangkan, mana yang harus ditanggalkan dan ditinggalkan. Pencerahan baru akan terjadi saat liburan.

Akhirnya, apakah liburan kita bersahabat dengan alam? Kita perlu mempertimbangkan carbon footprint (total karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan oleh suatu produk atau jasa) aktivitas dan gaya hidup kita. Pesawat yang kita tumpangi, barang-barang yang kita beli semuanya punya carbon footprint. Bumi sedang menderita demam. Liburan kita hendaknya tidak memperparah masalah.



Sumber: INDOCONNEX edisi Juni 2010
Publisher: Wanhope Vista Media, Singapore
www.indoconnex.com
Penulis: Victor Tinambunan

Sunday, June 20, 2010

MENGASAH KECERDASAN INTERAKSI

REFLEKSI SENIN KE-25
21 JUNI 2010

Pelangi

Perpaduan aneka warna yang menyajikan keindahan. Tugas kitalah merajut perbedaan di antara kita untuk saling membangun dan saling meneguhkan.

Pohon gugur daun

Mengingatkan kita pada dua hal. Pertama, terkadang kita mengalami kehilangan yang bisa saja menyakitkan. Tetapi, kita membutuhkannya untuk suatu kehidupan yang baru. Kedua, banyak pohon yang terbunuh setiap hari karena kerakusan manusia yang mengakibatkan aneka bencana. Kita bertanggungjawab memelihara alam ciptaan Tuhan.

Jalan

Hidup ini adalah perjalanan. Jalan tersedia meskipun tidak selalu lurus dan mulus. Dalam perjalanan hidup ini, kita tidak saja menikmati ‘tujuan’ tetapi juga perjalanan itu sendiri dengan berbagai tantangan dan keindahannya.

Pelangi, pohon gugur daun, dan jalan mencerminkan isi buku:
MENGASAH KECERDASAN INTERAKSI
oleh
Victor Tinambunan
Yang baru saja terbit
(Juni 2010)

Pemesanan 10 ex atau lebih, silahkan email ke Logisto Ritonga logian_stick@yahoo.com atau ke Ibu Warni warni.pangaribuan@gmail.com

Sunday, June 13, 2010

T I M

REFLELSI SENIN KE-24
14 June 2010

Towers Watson, konsultan sumber daya manusia, yang melakukan jajak pendapat kepada 20.000 pekerja di 22 negara dari Nopember 2009 hingga Januari 2010, menemukan bahwa 2/3 responden menempatkan ‘kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain’ sebagai karakter yang paling diinginkan dari seorang pimpinan. Menyusul sesudahnya sifat dapat dipercaya, mendorong pengembangan bakat. Hasil survey yang sama juga menunjukkan bahwa di Singapura, misalnya, banyak penekanan pada kemampuan individual, yang membuat orang sangat kompetitif secara individual tetapi mengalami kesulitan dalam kerja tim dan bekerjasama dengan unit-unit kerja yang lain (Straits Times 24 April 2010).

Kerjasama dalam sebuah tim bukan hanya merupakan tuntutan masyarakat atau lingkungan kerja tetapi sesuatu yang amat hakiki dalam iman dan tugas panggilan orang Kristen. Sayang sekali, kehidupan dan kerjasama sebuah tim sering mengalami aneka benturan hingga perseteruan. Penyebabnya? Di antara sekian banyak penyebab macetnya kerjasama suatu tim terkait dengan masih tingginya tingkat kadar kekanak-kanakan anggota tim. Dan seberapa kental kadar kekanak-kanakan dalam diri orang seorang dewasa sangat tergantung pada kesediaan seseorang itu melihat sedikitnya dua pembentukan sejak masa kecil.

Pertama, mental juara. Agaknya keinginan menjadi juara terbentuk sedemikian rupa melalui pengaruh hampir semua bidang kehidupan seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Akibatnya? Berikut sebuah contoh faktual. Ada seorang anak yang berhasil tenjadi juara di sekolahnya. Sayang sekali, kemampuannya berelasi dengan sesamanya amat rendah. Suatu ketika dia main game dengan teman-temannnya. Setelah beberapa kali kalah, dia marah dan berkata, “Aku tidak mau main lagi dengan kalian. Ini adalah permainan bodoh”. Inilah yang terjadi jika ‘mental juara’ begitu mendominasi. Ada keinginan untuk menjadi juara dalam segala hal. Jika tidak tercapai menjadi menarik diri sambil mengkambinghitamkan orang lain atau kegiatan itu sendiri.

Dalam peristiwa dan bentuknya yang berbeda, hal yang sama tidak jarang terjadi dalam kelompok orang-orang dewasa. Gagal menguasai, beralih ke marah, menarik diri dan mengkambinghitamkan.

Kedua, pemanjaan. Thubten Chodron mengatakan, “Menyayangi anak tidak berarti Anda membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau atau memberikan semua yang mereka inginkan. Perlakuan seperti ini merusak anak-anak. Kebiasaan seperti itu secara serta merta mengembangkan kebiasaan buruk membuat mereka mengalami kesulitan menjalin hubungan sehat dengan orang lain. Salah satu keahlian yang paling perlu dimiliki oleh orang tua adalah mengajar anak mereka menghadapi rasa frustrasi karena tidak mendapat apa yang merekeka inginkan. Jika keinginan-keinginan anak-anak tidak dipenuhi dan mereka tidak belajar bahagia ketika keinginannya tidak dikabulkan, mereka akan mengalami kesulitan membangun berhubungan dengan orang lain saat mereka dewasa. Tentu, orangtua juga perlu memberi contoh dengan sikap mereka sendiri pada saat keinginan mereka tidak terpenuhi.”

Mengapa orangtua memberikan semua keinginan anak? Sedikitnya ada tiga keungkinan. Satu, orangtua mampu memberikannya. Apalagi, hal ini dipadu dengan tujuan untuk ‘menjinakkan’ anak yang aktif dan mengganggu pekerjaan. Dua, sebagai kompensasi kebersamaan yang hilang. Tiga, menunjukkan nilai ‘lebih’ kepada anak-anak orang lain. Hal ini nampak khususnya orangtua yang sangat tanggap melihat apa yang dimiliki anak-anak orang lain atau bahkan mencari apa yang belum dimiliki oleh anak orang lain. Semua langkah ini merupakan proses ‘pemanjaan’ anak, yang dapat menjadi penghalang pembentukan kemampuan menjalin hubungan sehat dengan sesama.

Perasaan tidak kekurangan apa-apa dapat menumbuh-kembangkan sikap ketidakpedulian bahkan anti-sosial. Perasaan aman dengan apa dan siapa yang dimiliki bisa saja membawa seseorang menikmati dirinya dan miliknya sendiri.

Bagaimana mengembangkan kemampuan menjalin hubungan yang sehat dan bekerjasama dengan orang lain? Memutus mata rantai kekanak-kanakan dan memulai sesuatu yang baru! Bertambah usia dan bertambah tua tidak terhindarkan. Tetapi, bertumbuh dewasa (dalam berpikir, bersikap, berperilaku) sepenuhnya pilihan dan kemauan kita.

Sunday, June 6, 2010

MERAYAKAN KEBERSAMAAN

REFLEKSI SENIN KE-23
07 Juni 2010

Berikut ini adalah sebuah ‘kisah’ dari penulis anonim yang saya temukan dalam selipan warta jemaat sebuah gereja baru-baru ini:

Ketika saya masih kecil, ibu saya sering menyajikan makanan yang seharusnya sarapan menjadi makan malam. Saya ingat pada suatu malam ketika dia membuat makan malam setelah hari yang melelahkan. Pada malam itu, ibu saya menyediakan telur, sosis dan roti bakar gosong di hadapan ayah. Saya menunggu untuk melihat apa yang bakal terjadi. Namun, apa yang ayah saya lakukan adalah meraih roti bakar gosong itu, tersenyum pada ibu saya dan menanyakan bagaimana sekolah saya hari itu. Saya tidak ingat apa yang saya katakan malam itu, tapi ingat persis bahwa dia mengolesi roti gosong itu dengan mentega dan selai dan nampak bahwa ia menikmatinya.

Ketika saya hendak beranjak dari meja makan, ibu saya meminta maaf kepada ayah atas roti bakar yang gosong itu. Dan saya tidak akan pernah melupakan apa yang ayah katakan, "Sayang, aku suka roti bakar gosong."

Sebelum tidur malam itu, saya pergi mencium ayah dan saya bertanya apakah dia benar-benar menyukai roti gosong. Dia meraihku ke dalam pelukannya dan berkata, "Ibumu sangat lelah bekerja hari ini. Lagi pula, sepotong roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun!"

Dari kisah ini, penulis menyimpulkan pesannya sebagai berikut:

Anda tahu, hidup ini penuh dengan hal-hal tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna juga. Apa yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun adalah bahwa belajar saling menerima dan memilih untuk merayakan perbedaan masing-masing adalah salah satu hal yang paling penting untuk menciptakan hubungan yang bertumbuh sehat dan langgeng.

Dan itu harapan dan doa saya untuk Anda hari ini. Bahwa Anda akan belajar untuk mengambil yang baik, yang buruk, dan bagian-bagian jelek dari kehidupan Anda dan meletakkannya di kaki Tuhan. Karena pada akhirnya, hanya Dialah satu-satunya yang dapat memberikan suatu hubungan di mana roti gosong tidak mampu menjadi perusak suasana dan hubungan baik.

Kisah ini bertolak belakang dengan sikap Robert dalam film 70x07. Ketika anaknya yang masih kecil minta disuap (yang bisa saja tanda kerinduan dan kasihnya kepada ayahnya), Robert malah membanting meja makan dan meninggalkannya dengan marah. Istrinya, Naomi, sudah mempersiapkan makanan dengan baik sambil menjaga dua anaknya yang masih kecil. Sedangkan Robert asyik dengan dunianya di bar dan berselingkuh pula.

Dalam kisah pertama di atas: istri lelah bekerja, mempersiapkan roti gosong, suami tidak marah. Sedangkan kisah 70x07: istri capek bekerja, mempersiapkan makanan dengan baik, suami marah.

Dua kisah di atas tidak saja menggambarkan kehidupan keluarga. Ia juga dapat menggambarkan kehidupan suatu persekutuan jemaat. ‘Roti gosong’ dalam sebuah persekutuan bisa terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Seseorang yang bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu dalam sebuah persekutuan jemaat bisa saja tidak menjalankan tugasnya dengan sempurna. Ada kekurangan yang bisa dimengerti penyebabnya. Memang, ada juga orang yang sulit menerima kenyataan seperti itu, dan terus mengomentari, apalagi dengan marah-marah pula, kekurangan yang hanya sepele itu. Tidak jarang sebuah persekutuan menjadi rusak, hanya gara-gara sedikit kesalahan. Dengan kerelaan memahami keadaan sesama dan fokus ke yang baik yang dilakukan orang (karena telur dan sosis tidak gosong), maka ‘roti gosong’ tidak akan merusak kehidupan jemaat.

Yang lebih sulit dan rumit adalah ketika sebuah persekutuan jemat diterpa mirip kasus Robert: yang melakukan yang baik dan lelah menjadi sasaran amarah dan yang bersalah malah marah-marah pula. Amat menyedihkan jika hal seperti ini justru terjadi dalam sebuah jemaat. Marah-marah karena sudah merasa melakukan yang baik saja pun di gereja tidak dibenarkan. Apalagi, yang marah-marah justru hanya menyembunyikan ketidaksetiaanya pada tugas panggilannya. Marah-marah untuk menyembunyikan kesalahan.

Naomi meminta maaf kepada Robert dalam film 70x07. Beberapa penonton protes keras. “Masakan Robert, yang mengkhianati pernikahannya, justru Naomi yang meminta maaf?”, demikian dasar pertimbangan mereka. Dalam hal ini, perlu diperhatikan lebih seksama apa yang Naomi katakan. Naomi tidak mengatakan bahwa “sayalah yang bersalah dan Robert tidak salah”. Naomi tahu persis bahwa Robert salah. Naomi juga tidak meminta Robert untuk meminta maaf. Yang Naomi katakan adalah kira-kira begini, “maafkan aku kalau aku kurang memperhatikanmu….”. Artinya, Naomi terbuka pada kemungkinan adanya kelemahannya. Jadi, ia ‘mengurusi’ yang menjadi bagiannya.

Dalam sebuah persekutuan jemaat yang terancam retak ada kalanya mereka yang menjadi sumber utama masalah tidak mau meminta maaf, malah menutupi kekurangannya dengan marah-marah sambil melempar kesalahan atau mengkambinghitamkan orang lain dan bahkan menebar kebohongan. Tidak jarang orang, atas nama gengsi, ingin tampil bersih, dan jaga image (secara keliru) sama sekali tidak mau mengaku bersalah. Dalam merajut kembali keutuhan persekutuan, ‘yang korban’ dapat juga memohon ampun “kalau saja” ada dari diri mereka yang membuat keadaan memburuk. Kita tahu bahwa melakukan ini berat. Malahan, mungkin amat berat. Tetapi, dengan memilih langkah bijak ini, kita tidak terhalang menerima berkat, yaitu: damai sejahtera.

Sunday, May 30, 2010

MEMINTA DAN MENERIMA MAAF

REFLEKSI SENIN KE-22
31 Mei 2010

Pengalaman menunjukkan bahwa manusia sulit meminta maaf. Mengapa? Sedikitnya ada tiga kemungkinan. (1) Seseorang benar-benar bersalah tetapi ‘merasa’ tidak bersalah. Dalam hal ini seseorang perlu lebih sadar diri baik melalui usaha sendiri maupun dengan keterbukaan pada orang lain. (2) Merasa bersalah tetapi mengganggap tidak terlalu masalah. Mungkin ada perasaan bahwa kesalahan yang sama dilakukan oleh orang lain. Bahkan, orang lain yang mempunyai kesalahan jauh lebih besar dan tidak meminta maaf. (3) Sadar bersalah tetapi sengaja tidak mengaku bersalah dan tidak mau meminta maaf.

Apa pun di balik ketidaksediaan meminta maaf, yang jelas semuanya tidak dapat dibenarkan. Permohonan maaf atas suatu kesalahan merupakan keharusan. Agaknya, rasa ‘harga diri’ yang keliru merupakan penghalang besar untuk meminta maaf atas suatu kesalahan. Ada semacam sikap alamiah bagi banyak orang bahwa mengaku bersalah dan meminta maaf itu menurunkan harga diri. Apalagi bagi seseorang yang terpandang menurut ukuran dunia seperti karena kedudukan atau jabatan, kekayaan dan sebagainya. Sekadar contoh, ada satu ungkapan dalam bahasa Batak: Mardasar mardosor, tutungon porapora. Na sala i gabe sintong, molo hata ni na mora. (Yang salah menjadi benar, jika yang mengatakannya orang kaya).

Cara yang paling umum bagi orang yang mengagungkan ‘harga diri’ untuk menutupi kesalahan dan menolak meminta maaf adalah: mencari kesalahan orang dan mencari kambing hitam. Hal ini bukan pengalaman yang asing bagi kita di lingkungan masyarakat, pemerintahan, bahkan –sedihnya—di lingkungan agama juga. Padahal, kebesaran seseorang nampak saat ia menyadari kekurangan dan kelemahannya yang disertai dengan usaha perbaikan diri secara terus-menerus.

Meminta maaf atas suatu kesalahan adalah sebuah keharusan. Caranya bisa secara langsung atau melalui orang lain (karena kondisi tertentu). Selain itu, meskipun kurang sempurna, permintaan maaf tanpa kata juga dapat dilakukan, yaitu dengan memperbaiki kesalahan dan menunjukkan perbaikan diri. Meski kata maaf tidak terucap, tetapi perubahan hidup seseorang telah mencerminkan permintaan maaf. Cara ini jauh lebih baik ketimbang kata maaf yang terlontar yang hanya memenuhi persyaratan tertentu atau karena desakan dari luar tanpa disertai perubahan hidup.

Memang, usaha permintaan maaf tidak selalu mulus, meskipun bertolak dari hati yang tulus. Bisa saja korban atau sasaran suatu kesalahan menolak memaafkan atau bahkan menjadi mengeras. Tetapi, di samping kita sudah menunaikan tanggung jawab, kita juga harus memaafkan orang-orang yang tidak menerima permohonan maaf kita. Lebih dari itu, ada kalanya kita menanggung akibat sebuah kesalahan.

Bagaimana sikap menerima permintaan maaf? Sedikitnya ada dua sikap yang salah. Pertama, menolak. Alasannya bisa beragam. Ada yang membenarkan penolakan memberi maaf karena kesalahan seseorang itu terlalu menyakitkan. Tetapi, jika dirunut hingga ke akarnya, penolakan memberi maaf bisa juga karena ada perasaan cemburu, iri hati, semangat pembalasan dendam atau motif negatif lain. Dalam keadaan seperti ini, kesalahan orang lain menjadi sebuah ‘kebutuhan’ untuk merendahkan orang lain sambil mendongkrak harga diri.

Kedua, memberi syarat. Kata-kata, “saya akan memaafkanmu jika……” menunjukkan hal ini. Kata “jika” biasanya diisi dengan syarat seperti menuntut perubahan terlebih dahulu, kompensasi tertentu, melakukan sesuatu terlebih dahulu (seperti mengumumkan secara publik) dan lain-lain. Ada faktor ‘menguasai’ dalam hal ini, yang tidak sehat dalam membangun hubungan.

Bagaimana seharusnya? Memberi maaf, diminta atau tidak diminta. Ketika kita berada pada posisi korban kesalahan orang lain, pengampunan adalah keharusan bagi kita. Kita harus mengampuni yang bersalah apakah ia minta maaf atau tidak. Dari perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15) kita dapat mengetahui bahwa pengampunan sudah terjadi sebelum anak yang hilang itu kembali. Zakheus berubah setelah ia tahu bahwa Yesus menolak dosanya tetapi menerima dirinya (Lihat Lukas 19). Apa yang Tuhan berlakukan dan lakukan kepada kita, itu juga yang seharusnya kita hidupi.

“Wah ini sulit. Kita masih di dunia!”, Anda berkata. Benar, ini sulit. Bahkan, sangat sulit. Tetapi tidak mustahil. Benar juga bahwa kita masih di dunia. Tetapi, pengampunan hanya berlaku di dunia nyata ini. Di sorga manusia tidak berdosa lagi dan tidak perlu meminta atau memberi maaf lagi. Di dunia ini sudah terlalu banyak kebencian, kita tidak perlu menambahnya lagi.

Sunday, May 23, 2010

R E M

REFLEKSI SENIN KE-21
24 Mei 2010

Sebuah mobil membutuhkan pedal gas untuk bisa maju dan pedal rem untuk tidak melaju. Pengendara mobil yang hanya menginjak pedal gas sepanjang perjalanan akan berakhir dengan nasib tragis. Mencelakakan si pengemudi dan penumpang mobil, menghancurkan mobil itu sendiri, dan mencelakakan siapa saja yang mungkin tertabrak. Begitu juga hidup ini. Kita membutuhkan ‘rem’ agar kita tidak mencelakakan diri sendiri, orang-orang yang bersama dengan kita, lingkungan di mana kita hidup dan orang lain yang kita temui sepanjang perjalanan kita, baik yang kita kenal maupun yang tidak tidak.

Di tengah zaman ini dengan segala hiruk-pikuknya, kita membutuhkan rem pakem khususnya dalam tiga hal.

Pertama, rem kata. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”, demikian diregaskan dalam Yakobus 1:26. Firman Tuhan ini dapat kita kaitkan dengan kata-kata bijak dari Jean Pierre Camus: "Hikmat mengandung pengetahuan kapan dan bagaimana berbicara serta kapan dan di mana berdiam diri.”

Rem kata ini secara khusus kita butuhkan dalam hal: (1) Jumlah kata. Terlalu banyak kata-kata biasanya menjadi penghalang bagi orang lain menangkap inti pesannya. (2) Arah kata. Semakin banyak seseorang berbicara tentang dirinya, semakin kurang berminat dia mendengarkan orang lain berbicara. Jadi, rem kata dibutuhkan untuk membatasi kata-kata tentang diri sendiri dan ‘gas’ untuk berbicara yang membangun tentang orang lain. (3) Suasana hati sebelum kata. Apa yang kita katakan kepada orang lain hari ini bisa saja membekas dalam hatinya seumur hidup. Karenanya, di samping kita perlu memikirkan dengan matang kata-kata, kita juga perlu memeriksa suasana hati kita. Ketika kita dalam keadaan gundah, curiga, kecewa berat, marah, bad mood, kita perlu menunda mengeluarkan pernyataan. Sebab, kata-kata kita sangat dipengaruhi apa yang ada di dalam hati kita. Jika yang di dalam hati adalah damai dan kesejukan, maka damai dan kesejukan pula kata-kata kita.

Kedua, rem kerja. Memang, bekerja adalah suatu tugas panggilan. Ia adalah suatu keharusan. Rasul Paulus memperingatkan, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10). Yang menjadi masalah adalah kecenderungan banyak orang yang ‘gila kerja’ pada zaman ini. Pepatah Denmark "Membakar sebuah lilin dari kedua ujungnya, membuatnya tidak dapat bertahan lama", sangat cocok menggambarkan keadaan saat ini. Banyak orang yang mengorbankan kesehatannya demi kekayaan yang kemudian mencoba mengorbankan kekayaannya untuk kesehatan, yang belum tentu berhasil. Banyak orang beranggapan bahwa kesibukannya bekerja adalah demi keluarga, padahal keluarganya terlantar karena tidak ada waktu bersama.

Rem kerja ini perlu ditekan khususnya di tengah teknologi yang kian melaju. Agaknya, saat ini lebih sulit memperlambat ketimbang melesatkannya. Laju perkembangan teknologi saat ini bagaikan kuda yang menuntun dan menentukan tujuan penunggangnya: teknologi menunggang manusia, bukan sebaliknya.

Rem kerja atau istirahat adalah perintah Tuhan juga. Jadi, hidup seimbang itu perlu, dengan lima "si": meditasi, kreasi, aksi, rekreasi, dan refleksi.

Ketiga, rem konsumsi. Kita hidup di tengah kondisi bumi yang menderita demam alias pemanasan global. Akar masalahnya adalah manusia, khususnya karena konsumsi berlebihan. Rem konsumsi atau penguasaan diri atas keinginan kita butuhkan secara khusus di tengah gempuran konsumerisme yang merasuki dan merusak kehidupan kita dan alam ciptaan Allah. Manusia cenderung membelanjakan uangnya pada hal-hal yang kurang berguna bahkan merusak kehidupan itu sendiri ketimbang yang membangun kehidupan. Sekadar untuk mencelikkan kita, sebuah laporan PBB bidang Human Development belum lama ini mencatat:

• Total biaya pendidikan dasar untuk tingkat dunia US$6 miliar per tahun (sementara di Amerika Serikat saja US$8 miliar dibelanjakan hanya untuk kosmetik setiap tahunnya).
• Biaya instalasi air dan sanitas sejumlah $9 miliar ($11 miliar dibelanjakan untuk es krim di Eropah).
• Biaya kesehatan dan gizi dasar sebesar $13 miliar ($50 miliar untuk rokok di Eropah; $105 miliar untuk minum alkohol di Eropah; $400 miliar untuk narkotika di seluruh dunia dan $780 miliar untuk persenjataan

Manusia cenderung ‘kehilangan rasa’. Akibatnya, banyak orang yang berusaha mencari ‘rasa’ pada makanan. Mereka mengkonsumsi makanan selahap-lahapnya hingga kelebihan berat badan. Kemudian, mereka mengikuti klub fitness atau membeli alat treadmill untuk membakar kalori. Mengapa? Agar mereka kembali dapat melahap makanan lebih banyak agi. Demikian berputar-putar. ‘Siklus’ ini seirama dengan iklan-iklan di berbagai media. Misalnya, di sampul belakang majalah ditawarkan jenis makanan lezat dan di belakangnya dipromosikan obat-obatan atau peralatan pelangsing tubuh.

Ada pula yang berusaha meraih keglamouran sebagai upaya mendongkrak harga diri. Ada orang yang mengidentifikasi dirinya dengan apa yang dimilikinya. Dalam hal ini, Erich Fromm benar ketika ia berkata, “Jika aku adalah apa yang kumiliki, siapakah aku kalau yang kumiliki hilang?” Mungkin keglamouran enak dipandang mata (ada juga memang yang menyilaukan), tetapi kesederhanaan jauh lebih indah, tidak layu oleh terpaan sinar matahari, dan tidak lapuk oleh guyuran hujan.

Sesungguhnya, rem tersebut di atas kita butuhkan demi kebaikan hidup kita sendiri, demi merawat hubungan sehat dengan sesama, dan demi lestarinya alam ciptaan Tuhan. Salah satu dari buah-buah Roh adalah ‘penguasaan diri’ (Gal 5”23). Ini salah satu yang sangat sulit tetapi suatu keharusan bagi orang percaya. Mengandalkan kuat kuasa Roh Tuhan, kita dapat menguasai diri. Membiarkan diri sepenuhnya dikuasai oleh Roh Tuhan. Jadinya, penguasaan diri lebih merupakan pekerjaan Roh Tuhan dalam hidup kita ketimbang sebagai prestasi yang kita raih.

Sunday, May 16, 2010

MEMIMPIN DAN DIPIMPIN DENGAN HATI

Reflkesi Senin ke-20
17 Mei 2010

Semua kita terkait dengan kepemimpinan. Ada kalanya kita memimpin (seperti dalam sebuah kelompok kecil hingga organisasi besar) dan selama hidup kita berada di bawah kepemimpinan orang lain. Uraian berikut menjawab dua pertanyaan yaitu, “pemimpin yang bagaimana” dan “pengikut yang bagaimana”.

Berkaitan dengan ‘pemimpin yang bagaimana’, ada dua kelebihan utama seorang pemimpin: (1) Karakter dan integritasnya lebih tinggi dari bakat atau keahlian memimpin. (2) Karakter dan integritas atau kualitas hidupnya lebih tinggi dari kehidupan rata-rata yang dipimpin.

Kebanyakan kekacauan sebuah organisasi terjadi karena yang ada adalah kebalikan dari kedua kelebihan seeorang pemimpin tersebut di atas.

1. Karakter dan integritas lebih tinggi dari bakat atau keahlian memimpin

Ada yang mengatakan bahwa ikan, yang pertama busuk adalah kepalanya. Kemudian, menjalar ke badannya. Bagaimana dengan sebuah organisasi duniawi dan gereja? Ada kalanya hal yang sama terjadi. Pemimpin yang busuk membuat organisasi dan yang dipimpin menjadi busuk.

Karakter adalah cerminan dari ‘siapa kita di tempat tersembunyi atau tidak terpantau orang lain’. Integritas berarti ‘menyatunya kata dan perbuatan’. Jadi, karakter dan integritas merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin yang mengajarkan disiplin adalah yang berdisiplin juga, dilihat atau tidak dilihat orang lain. Pemimpin yang mengajarkan dan menganjurkan kejujuran adalah yang jujur juga, di semua tempat dan di semua waktu. Pemimpin yang mengagungkan kasih dalam perkataan-perkataannya adalah yang mengasihi juga. Singkatnya, kepemimpinan adalah masalah keteladanan. Sebab, karakter dan integritas seorang pemimpin akan secara langsung menentukan pengaruhnya.

Dengan demikian, kepemimpinan bukanlah terutama masalah teknik. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Tidak sedikit pemimpimpin yang benar-benar memiliki bakat dan kemampuan luar biasa dalam memimpin yang gagal karena tidak memberi keteladanan. Albert Schweitzer mengatakannya begini, “Keteladanan bukanlah syarat utama dalam mempengaruhi orang lain --ia adalah satu-satunya.”

Bayangkan seorang bapak berkata kepada anak-anaknya, "lakukan apa yang saya katakan", bukan "lakukan apa yang saya teladankan". Anaknya mungkin 'patuh', bukan karena wibawa ayahnya tapi karena kuasanya. Dalam hal ini, seorang bapak dihormati dan ditakuti karena kuasanya, bukan karena wibawa dan kualitas pribadinya.

Hal yang sama bisa juga terjadi dalam suatu persekutuan. Pemimpin yang ditakuti biasanya dikelilingi oleh orang-orang munafik dan penjilat. Pemimpin seperti ini mungkin masih dihormati, tetapi ia dihormati karena jabatannya, bukan karena kualitas hidupnya. Padahal, lebih baik berhak mendapat kehormatan dan tidak memilikinya, ketimbang memiliki kehormatan tetapi tidak layak memilikinya (Mark Twain). Pemimpin sejati adalah pemimpin yang dihormati bukan karena jabatan atau posisinya, melainkan karena kualitas hidup, karakter dan inegritasnya.

Bukan berarti keahlian memimpin tidak penting. Hanya saja ia tidak menempati tempat utama. Justru karena penempatan keahlian memimpin inilah pada tempat terpenting, persoalan timbul dalam sebuah organisasi. Saat ini banyak yang dengan mudah dapat menjadi ‘ahli dalam teknik memimpin’. Kini buku-buku bertemakan ‘teknik’ kepemimpinan membanjir.

Tetapi, yang lebih dibutuhkan adalah pembangunan karakter. Pohon yang tumbuh tinggi punya akar yang dalam. Ketinggian tanpa kedalaman besar berbahaya. Para pemimpin besar dunia ini seperti St Fransiskus, Gandhi, dan Martin Luther King, Jr, - semua orang yang hidup dengan ketenaran publik, pengaruh, dan kekuasaan dalam sebuah cara yang sederhana karena akar spiritual mereka yang mendalam. Tanpa akar yang dalam dan kuat dengan mudah kita membiarkan orang lain menentukan siapa kita. Ketika kita berakar dalam kasih Allah, hidup kita dan kepemimpinan kita akan dipimpin oleh Allah.

2. Kualitas hidup lebih tinggi dari kehidupan rata-rata yang dipimpin

Kualitas hidup seorang pemimpin nampak sedikitnya dalam empat hal. Pertama, kerendahan hati. “Semakin dewasa seorang pemimpin, semakin rendah hati pula mereka”, demikian kata-kata dari Maxwell. Kerendahan hati ini mewujud dari kemauan dan kemampuan seorang pemimpin mengekang dirinya dari godaan menempatan diri, pengalaman dan pencapaiannya sebagai yang paling istimewa sambil merendahkan orang lain. Salah satu alat ukurnya adalah menyikapi pujian tanpa melekat pada pujian itu sendiri. Kerendahan hati juga nampak dari rasa hormatnya kepada semua dan setiap orang terlepas dari kemampuan dan latarbelakangnya.

Kedua, kata-katanya yang membangun dan meneguhkan. Seorang pemimpin tidak saja dilihat tetapi didengarkan. Kata-katanya sering menjadi acuan dalam berpikir, berskap dan bertindak. Lisa Kirk pernah berkata, “Seorang penggossip adalah ia yang berbicara padamu tentang orang lain. Seorang pembual adalah ia yang berbicara padamu tentang dirinya sendiri. Seorang pembicara handal adalah ia yang berbicara padamu tentang dirimu.” Hal ini perlu direnungkan oleh seorang pemimpin agar ia terhindar dari kebiasaan mengedarkan gossip dan membual, tetapi mengatakan kebenaran dengan cara-cara yang benar pula.

Ketiga, menghargai perbedaan. Jika kita mengharapkan kebersamaan hanya dengan orang-orang yang kita sukai, kita harus berada di 'planet' lain, bukan di bumi ini. Seorang pemimpin, bahkan kita semua, tidak akan pernah berhenti belajar bagaimana membangun 'jembatan'. Yang menyedihkan adalah hadirnya para pemimpin yang justru menciptakan jurang atau tembok pemisah di antara yang dipimpinnya. Hal ini biasanya terjadi demi kepentingan pribadi si pemimpin.

Keempat, moralitas. Bagaimana mungkin seorang pembohong, tukang korupsi, pelaku pelecehan seksual dan sebagainya layak memimpin? William Makepeace Thackeray benar sekali ketika ia berkata, “orang-orang berkelakuan buruk bagaikan jendela kaca yang kotor, mereka menghalangi cahaya matahari bersinar ke dalam ruangan.” Dunia membutuhkan para pemimpin dengan moralitas teruji.

Benar, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Tidak ada pula pemimpin yang sempurna. Keadaan ini hendaknya tidak menjadi alasan pembenaran diri, tetapi menjadi pengingat bagi seorang pemimpin untuk tetap rendah hati dan membaharui diri agar kepemimpinan seseorang itu layak dijalani.

Memimpin pemimpin

Bagaimana kalau kita sedang dipimpin oleh seorang pemimpin yang karakter, integritas dan kualitas hidupnya rendah? Kita terpanggil untuk ‘memimpin sang pemimpin’, tidak dengan mengambil alih kepemimpinan dengan halus maupaun dengan ‘kudeta’, melainkan dengan karakter, integritas dan kualitas hidup teruji pula. Sebab, jika kata-kata, sikap dan kehidupan Anda memberi inspirasi kepada orang lain untuk berbuat yang terbaik, Anda adalah pemimpin sejati meskipun Anda tidak punya jabatan. Jadi dalam hal ini, yang terpenting bukan seberapa tinggi posisi yang kita tempati (dan komisi yang kita kantongi!), melainkan seberapa dalam kasih kita kepada Pencipta dan ciptaanNya yang dipercayakan kepada kita.

Dengan karakter, integritas dan kualitas hidup yang teruji itu pula kita dapat memberi masukan bahkan kritik membangun kepada seorang pemimpin, baik secara langsung maupun dengan cara yang lain yang lebih sesuai.

Sunday, May 9, 2010

HARGA DIRI

REFLEKSI SENIN KE-19
10 Mei 2010

Yoh. Rohmadi Mulyono mencatat cerita yang sarat makna berikut:

……temanku mati digigit ular.
Sebenarnya temanku itu pawang ular.
Terkenal kebal oleh bisa ular.
Tak tahulah mengapa hari naas itu datang padanya.
Ia digigit ular berbisa peliharaannya.
Kepercayaan dan harga diri membuatnya enggan ke dokter
Semakin hari tubuhnya semakin tak berdaya.
Dan akhirnya dia wafat.

Aku teringat kata para leluhur:
Sehebat-hebatnya akal dan kekuatan manusia,
Pada suatu saat manusia itu mengalami lemah juga.

Dari cerita ini sedikitnya ada dua hal yang dapat kita tarik maknanya. Pertama, yang digigit ular. Cerita ini memberitahu sang pawang –karena kepercayaan dan harga dirinya-- enggan ke dokter. Akhirnya dia wafat. Dalam bentuknya yang lain, rasa percaya diri dan pemahaman ‘harga diri’ yang keliru membuat banyak orang ‘tewas’. Demi gengsi, supaya kelihatan kren dan ngetrend, keuangan keluarga ‘tewas’. Itulah yang terjadi jika penghasilan yang pas-pasan --yang seharusnya untuk kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi dan biaya pendidikan anak-anak-- dibelokkan untuk membeli perhiasan, pakaian dan aksesori bermerk, perabot rumah yang mahal dan sebagainya. Atau, untuk menampilkan diri sebagai pemikir, ada orang yang bicara tentang semua hal dari pembuatan nuklir hingga politikus yang dianulir. Kemampuaan mengenali dan mengembangkan diri pun ‘tewas’. Merasa diri ahli, menewaskan minat belajar dan kemauan bertanya kepada orang lain.

Salah satu ciri yang paling kentara dari gengsi adalah kecenderungan menampilkan diri berbeda atau melampui kemampuan. Ada unsur memaksa diri di dalamnya. Padahal, setiap yang ‘dipaksa’ tidak baik akibatnya (kecuali paku dan tiang penyangga bangunan). Mungkin pada awalnya kelihatan menawan. Tetapi, karena dibangun di atas dasar yang keropos hasilnya tidak akan bertahan lama. Bayangkan seorang pemuda pengangguran dan baru kena penggusuran dari “Ruli Permai” alias rumah liar, yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Untuk menarik perhatian sang gadis, si pemuda meminjam uang untuk membeli pakaian mahal, Nokia seri terakhir, merental mobil agar kelihatan seperti seorang eksekutif muda. Celakanya, si gadis langsung terpesona dan jatuh cinta pula. Bukan pada orangnya, tetapi pada mobilnya. (Mungkin tipe ini yang disebut dengan cewek matre). Jika mobilnya ditarik perusahaan rental mobil, apakah si gadis tertarik kepada si pria ‘bergengsi’ itu?

Dalam hidup ini, kita membutuhkan kejujuran dan kebersahajaan. Yang paling penting bukan penampilan luarnya, tetapi isi di dalamnya: inti kemanusiaan kita. Hati nurani kita. Hati tempat bertahtanya Roh Tuhan. Tidak ada yang melampaui keindahan yang mengalir dari dalam hati. Tidak berlu terpaku pada gengsi. Tidak perlu melebihkan diri. Tidak perlu memaksa diri. Hidup pun akan berlangsung dengan segala keindahannya.

Kedua, ular itu sendiri. Dalam tubuh ular berbisa pasti ada bisa atau racun mematikan. Tetapi, mengapa ular itu tidak mati oleh bisanya sendiri? Sulit menjawabnya. Yang jelas, ia ‘kebal’ dengan bisanya sendiri, sedangkan manusia dan binatang lain, bisa tewas oleh bisanya.

Terus terang, saya tidak suka ular. Hanya saja, saya percaya Allah menciptakannya pasti Ia punya tujuan. Bisa ular itu sendiri pun adalah ciptaan Tuhan. Satu paket dengan penciptaan ular itu! Jadi, pertanyaan kita bukan ‘mengapa Tuhan menciptakan ular berbisa?’ melainkan tugas kita adalah ‘bersyukur bahwa Allah tidak menciptakannya sebesar batang kelapa.’ Jika demikian, habislah kita semua!

Berbeda dengan manusia. Allah menciptakan manusia bebas dari bisa atau racun mematikan. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Artinya, ada kualitas ke-Allahan dalam diri kita ini: kemampuan mengasihi, kemampuan berpikri jernih, kemampuan berbuah lebat dan menjadi berkat. Namun, pengalaman empiris kita menunjukkan adanya orang-orang yang mengalirkan bisa berbahaya kepada orang lain, tetapi mereka sendiri kelihatan tidak merasa apa-apa. Mereka kebal dengan bisa yang ada dalam dirinya sendiri. Kita menyaksikan sendiri sesama kita yang menderita karena perlakuan orang lain dan pelakunya terkesan tidak merasa apa-apa. Mereka kebal dengan bisa yang ada dalam diri mereka sendiri.

Bagaimana seharusnya sikap kita dalam keadaan seperti ini? Di satu segi, kita harus memastikan diri bahwa kita bebas dari ‘bisa mematikan’. Caranya? Kita hendaknya hari demi hari menempatkan diri diperiksa oleh Tuhan. Kita merelakan diri dideteksi, apakah kita berbisa. Kemudian, kita memohon dan bersedia dimurnikan oleh Roh Tuhan. Jangan sampai hidup kita, kata-kata kita, tindakan kita menghancurkan kehidupan orang lain. Di segi lain, kita mesti kuat bertahan terhadap segala bentuk ‘bisa’ yang dialirkan ke dalam hidup kita. Mungkin ada kalanya kita menjadi sasaran amarah, fitnah, ajaran sesat dan sebagainya. Kita harus menerima ‘penawar bisa’ dari Tuhan agar kita bertahan menghadapi segala macam yang menyesatkan. Itulah antara lain cakupan dari amanat firman Tuhan untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Selengkapnya dalam Efesus 6:11-18 berbunyi:

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.

Mengapa Tuhan memperlengkapi kita dengan semua ini? Kita berharga di mata-Nya. Mari kita hargai hidup ini, tidak dengan ‘harga diri’ menurut ukuran dan definisi dunia, melainkan atas dasar kepemilikan Allah atas hidup kita.

Sunday, May 2, 2010

ADA KEKUATAN DI DALAM AIR MATA

REFLEKSI SENIN KE-18 2010
03 Mei 2010

Tetesan bahkan deraian air mata sudah biasa terjadi di depan mata kita. Penyebabnya beragam. Ada yang tidak terhindari karena rasa sakit (sakit gigi, jari terjepit pintu), perpisahan yang menyakitkan dan sebagainya. Ada pula air mata yang sebenarnya tidak perlu, yang hanya sekadar senjata untuk menggolkan keinginan. Hal ini tidak saja dilakukan oleh anak-anak ketika sangat menginginkan sesuatu (yang tidak perlu) dari orangtuanya, tetapi juga dari kalangan orang dewasa. Itu sebabnya ada istilah ‘air mata buaya’ –air mata kepura-puraan. Air mata tempat bersembunyi.

Ada yang mengatakan bahwa kaum perempuan lebih mudah mencucurkan air mata ketimbang kaum laki-laki. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa dua senjata perempuan utama adalah ‘kosmetik’ dan ‘air mata’. Jika ada laki-laki yang gampang menangis ia dianggap memiliki ‘keibuan’. Tetapi, seandainya pun dapat dibuktikan bahwa umumnya perempuan lebih mudah menangis dibandingkan dengan laki-laki, itu bukan suatu pertanda bahwa perempuan lebih lemah ketimbang laki-laki. Tidak selamanya air mata itu tanda kelemahan. Tuhan sendiri tidak menolak tangisan atau air mata. Hanya saja Ia menghendaki penggerak dan tujuan yang benar. Misalnya, dalam perjanalanNya ke Golgata menuju penyalibanNya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia (Luk 23:27). Bagaimana Yesus menyaksikan tangisan mereka? Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai putri-putri Yerusalem,janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” Menganisi diri dan anak-anak mereka! (ayat 28).

Salah menangis? Tidak! Masalahnya adalah bahwa tangisan para perempuan itu salah alamat. Yesus tidak perlu ditangisi. Yesus tidak perlu dihibur atau ditopang. Mereka tidak berjasa kepada Tuhan melalui deraian air mata mereka. Yang perlu mereka tangisi ada dua: diri mereka sendiri dan anak-anak mereka. Mengapa? Peristiwa penyaliban itu sendiri adalah karena dosa-dosa mereka dan anak-anak mereka. Dengan demikian tangisan mereka mestinya berisi suatu pengenalan diri, pengakuan dosa disertai komitmen pembaharuan hidup pribadi, keluarga dan masyarakat.

Tangisan demikian kita butuhkan saat ini. Tangisan laki-laki dan perempuan! Jika kita jujur, sesungguhnya kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita telah mendukakan Roh Tuhan. Kita lihat bagaimana kehidupan kita bergereja di mana keakuan dan pementingan diri begitu kuat merasuki dan merusak kebersamaan kita. Gereja-gereja kita dipenuhi oleh intrik-intrik duniawi untuk mencari hormat dan keuntungan, baik dengan cara yang amat halus, hingga yang sangat kasat mata. Beberapa gereja digerakkan oleh orang-orang yang menempatkan diri sebagai tuhan-tuhan kecil bahkan melampaui wewenang Tuhan, sang Pemilik Gereja. Tanda-tandanya? Kata-kata yang tersembunyi maupun terlontar adalah, “Saya pemimpin di sini!” “Kami yang menentukan di sini!” “Kalau terima silahkan, tidak menerima silahkan angkat kaki!” Sikap demikian juga terkadang sampai mengabsahkan berbagai kebohongan. Keadaan ini diperkeruh dengan munculnya orang-orang yang ‘doyan’ penampilan alias pamer diri. Padahal, gereja bukanlah panggung tempat pamer diri. T.S. Eliot benar ketika ia berkata, “Kebanyakan persoalan di dunia ini disebabkan oleh keinginan manusia menjadi orang penting.” Seharusnya, Gereja adalah alat di tangan Tuhan untuk mewujudkan keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera, bukan alat pencapaian pribadi dan kelompok atau sarana pamer dan penonjolan diri.

Keadaan semakin runyam dengan adanya kecenderungan yang sangat memprihatinkan saat ini dengan munculnya orang-orang yang dengan bebas atau sesuka hati mengatakan “apa saja”, tentang “siapa saja”, “di mana saja”, “kepada siapa saja.” Pantaslah sampai ada perintah untuk tidak bergaul dengan orang yang “bocor mulut” (Amsal 20:19). Terkadang kita sulit menemukan mana yang membedakan sebuah gereja dengan organisasi duniawi lainnya. Yang menyedihkan ialah, justru organisasi profan jauh lebih baik dalam artian tertentu dibandingkan dengan beberapa jemaat.

Keprihatinan yang sama terjadi dalam kehidupan kita bermasyarakat, di mana sebagian warga masyarakat memiliki ketegaan ekstra memangsa sesamanya. Rakyat kecil semakin terpuruk, sementara yang kaya dan berkuasa semakin leluasa dan kelihatan kian jaya. Pencuri ayam masuk penjara sementara koruptor miliaran bebas berkeliaran, atau paling digajar bulanan. Bumi Indonesia sangat kaya, tetapi kebanyakan rakyatnya miskin. Hutang luar negeri semakin mengerikan dan tak terperikan. Orang yang belum lahir pun sudah ikut menanggung hutang luar negeri. Untuk membayarnya, pasti dengan mengeksploitasi alam secara besar-besaran yang pada akhirnya akan menciptakan kesengsaraan.

Menyakasikan keadaan kehidupan bergereja dan bermasyarakat seperti itu, jika kemanusiaan kita ‘normal’ dan punya hati, kita patut menangis: dengan atau tanpa air mata. Yang kita tangisi ada dua. Pertama, diri kita sendiri. Dengan kemanusiaan kita yang terbatas ini, sadar atau tidak, kita ikut menyumbang terhadap keadaan gereja-gereja, bangsa dan masyarakat kita. Hidup kita belum sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tangisan dan air mata kita dapat merupakan bagian dari pengenalan kita atas diri kita dan hendaknya berisi tekad pembaharuan hidup. Dalam niat yang baik pun ada kalanya kita justru melukai orang lain dan menimbulkan perselisihan, apalagi jika sikap dan perilaku kita nyata-nyata menjadi sumber permasalahan. Karena air mata dapat mempimpin kita kepada pengenalan diri yang lebih baik dan semangat perubahan hidup di masa datang, tangisan kita dapat memberi buah yang sangat berharga. Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh dunia, tetapi kita dapat mengubah diri sendiri, yang pada akhirnya dapat mengubah dunia di sekitar kita. Daripada menambah masalah dengan aneka tingkah dan ulah serakah, lebih baik mengaku salah, berubah dan memulai langkah baru. Damai pun akan bersemi kembali.

Kedua, menangisi anak-anak jaman ini, termasuk yang dekat dengan kita maupun yang tidak kita kenal, yang karena sikap dan perilaku mereka keadaan gereja dan masyarakat kita kian memburuk dan terpuruk. Tangisan seperti ini sekaligus berisi komitmen kita untuk memberi keteladanan, sikap menerima setiap orang meskipun kita menolak bahkan membenci perilakunya, serta menegur mereka berdasarkan kemampuan dan kesempatan yang kita punyai. Dengan sikap demikian, kita tidak menarik diri atau mengasingkan diri. Tangisan ini juga berisi doa, “Ya Tuhan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat. Jika mereka mengetahuinya dan sengaja melakukannya, kehendakMulah yang jadi”. Pembalasan bukan tugas kita!

Sunday, April 25, 2010

TALI GITAR

REFLEKSI SENIN KE-17
26 April 2010

Dalam batas-batas tertentu, ‘tali gitar’ dapat menggambarkan irama kehidupan yang terlalu sibuk dan terlalu santai. Jika stelan tali gitar terlalu kencang, ia terancam putus. Orang yang bernyanyi pun dengan iringan gitar dengan tali terlalu kencang akan kewalahan karena tingginya suara. Demikian juga orang yang ‘terlalu sibuk’, yang tidak menjaga keseimbangan dalam hidup. Mereka teranacam ‘putus’ sebelum waktunya. Kehilang keceriaan, kehilang kesehatan, bahkan kehilangan kehidupan itu sendiri.

Dulu, orang sibuk demi sesuap nasi. Kelihatannya saat ini banyak orang yang sibuk demi sesuap nasi plus secangkir emas dan sepiring berlian. Keglamouran menjadi tujuan utama kehidupan. Padahal, keglamouran mungkin saja enak dipandang mata (ada juga memang yang menyilaukan), tetapi kesederhanaan jauh lebih indah, tidak layu oleh terpaan sinar matahari, dan tidak lapuk oleh guyuran hujan. Dan, kesederhanaan tidak perlu dicapai dengan gaya hidup supersibuk.

Yang lebih memprihatinkan, orang sibuk demi kesibukan itu sendiri. Tidak ada tujuan yang jelas. Saat ini, tidak sedikit orang beranggapan bahwa sibuk adalah sebuah simbol status. Semakin sibuk seseorang, semakin sulit dihubungi, semakin sulit ditemui, semakin sulit menentukan jadwal pertemuan, semakin bergengsi pula dia.

Apa pun motor penggerak hidup yang terlalu sibuk, yang jelas setiap penghalang laju pergerakan itu akan dianggap sebagai ‘rintangan murni’ yang harus disingkirkan. Kita tidak sadar bahwa apa yang kita anggap sebagai "halangan" di saat kita ingin maju dan melaju dalam jadwal atau program kita, itu bisa saja suatu 'interupsi' dari sorga agar kita berpaling pada yang lebih baik bagi kita, sesame dan alam ciptaan Tuhan. Masalahnya, justru orang-orang yang terlalu sibuklah yang sering melakukan ‘interupsi ke sorga’: kehendakku jadilah! Tetapi justru karena melakukan 'interupsi ke sorgalah' yang membuat banyak orang mengeluh, mempersalahkan, mengutuki, tegang, frustrasi dan sejenisnya.

Hidup seperti tali gitar yang terlalu kencang tidak saja berbahaya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Orang yang disekitar mereka akan diperlakukan hanya sekadar alat pencapaian. Mereka tidak tahan melihat orang bersantai sejenak. Pimpinan sebuah lingkungan kerja dengan stelan tali gitar terlalu kencang akan memperlakukan bawahannya sekadar mesin alat produksi. Jika bawahan sakit, yang mejadi pusat keprihatinanya adalah ‘terganggunya produksi’ bukan penderitaan sesamanya manusia.

Beda lagi dengan tali gitar yang terlalu kendor. Ada suaranya (atau persisnya ‘bunyi yang tidak teratur’), tetapi tidak bisa memberi nada yang harmonis. Fals! Demikian halnya orang yang terlalu santai, yang sama sekali tidak berpikir ke depan. Makan enak, tidur enak, jalan-jalan enak, ngobrol enak! Tidak banyak yang diharapkan dari orang-orang yang terlalu santai. Untuk hidup mandiri saja, tanpa tergantung pada orang lain, sudah sangat sulit.

Dalam hal ini ada tiga yang sangat mendasar kita resapkan dalam hati. Pertama, bagi orang Kristen, Time is not money . Waktu bukanlah uang dan waktu tidak bisa diuangkan. Time is grace (waktu adalah anugerah). Waktu bukan sesuatu yang kita produksi. Ia adalah pemberian Tuhan. Waktu memang berharga. Tetapi, ‘harga waktu’ tidak diukur dengan uang, melainkan kualitas peristiwa perjumpaan kita dengan Tuhan dan sesama manusia.

Kedua, dalam perjalanan hidup ini kita tidak saja mau menikmati tujuan, tetapi juga memaknai dan menikmati perjalanan itu sendiri. Kedatangan Yesus ke dunia ini menyatakan bahwa Kerjaraan Allah sudah datang. Artinya, dalam hidup nyata di dunia nyata ini, kita berada dalam ‘waktu Kerajaan Allah’ itu sendiri. Karena itu, kita mesti menjalani hidup ini seirama dengan gerak waktu Kerajaan Allah itu, yang segala sesuatu ada waktunya: berdoa, bekerja, beristirahat, berekreasi, berefleksi dalam kehendak Tuhan. Hidup yang demikianlah yang menjadi kemuliaan bagi Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan kebahagiaan bagi diri sendiri.

Ketiga, prinsip hidup dan gerak hidup kita mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia dan ciptaan Allah. Hidup yang terlalu sibuk menumpuk harta cenderung mengabaikan bahkan melukai sesama manusia dan merusak alam ciptaan Tuhan. Sebab, kemewahan harus dibayar oleh alam ini sekaligus mengorbankan manusia. Sebaliknya, hidup yang terlalu santai akan menjadi beban bagi orang lain yang juga menambah masalah dalam kehidupan. Karena itu, sebagai tanda kita menghormati Tuhan Sang Pencipta, kita hendaknya menghormati ciptaanNya: manusia dan alam semesta.

Selamat menyetel tali gitar Anda hari ini.

Sunday, April 18, 2010

MENATA KEMBALI PERSEKUTUAN YANG 'FALS'

REFLEKSI SENIN KE-16
19 April 2010


“Jangan hanya mengkritik, tetapi beri solusi!” Kalimat yang biasa kita dengar, bukan? Masalahnya adalah, “Apakah kita dapat memberi solusi terhadap seluruh masalah?” Tidak mungkin! Seringkali kita bisa merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dalam hidup ini, tetapi kita tidak tahu letak masalahnya dan tidak ada solusi langsung yang dapat kita tawarkan. Yang dibutuhkan dalam hal ini adalah orang yang mengetahui sumber masalah dan mau memberitahukannya demi penyelesaian yang baik.

Bayangkan sebuah koor sedang dikumandangkan. Semua kita dapat merasakan jika koor itu fals, tetapi tidak semua kita tahu di mana masalahnya. Tidak tahu di grup suara mana (tenor, alto, bariton, bas) atau, lebih spesifiknya lagi, suara siapa yang tidak pas dan membuat fals. Bahkan, anggota paduan suara itu sendiri tidak semua tahu suara siapa yang fals. Yang jelas, koor itu tidak pas alias fals. Mengandaikan masalahnya bukan pada lagu itu sendiri, sedikitnya ada dua cara untuk bisa memperbaikinya. Pertama, orang yang suaranya fals itu sendiri tahu bahwa suaranya yang membuat fals. Ia bisa langsung belajar untuk memperbaiki. Jika ini terjadi, maka proses perbaikan pun akan lebih cepat. Sebab, tidak membutuhkan ‘campur tangan’ pelatih dan anggota paduan suara lainnya. Kedua, pelatih paduan suara sendiri mengetahui mana yang perlu diperbaiki. Dengan caranya sendiri, sang pelatih dapat memberitahukan dan memperbaikinya.

Akan tetapi, koor fals seperti itu tidak akan pernah dapat menjadi baik jika (1) Yang fals tidak tahu bahwa suaranya atau suara kelompoknya yang fals dan tidak mau pula diberitahu bahwa suaranya membuat fals. Yang lebih repot adalah jika yang bersuara fals ngotot bahwa mereka benar dan sumber masalah ada pada suara orang lain. (2) Masalahnya justru adalah si Pelatih sendiri. Pelatih tidak tahu suara mana yang belum benar. Atau, pelatih tahu mana yang fals, tetapi justru mereka yang sudah benar yang terus dilatih, sedangkan yang membutuhkan bantuan diabaikan. Yang lebih parah si pelatih mengajarkan yang salah atau suara pelatih sendiri yang fals. Repot!

Dengan menggunakan paduan suara ini sebagai contoh, maka kita tidak bisa mengatakan, “Anda jangan hanya mengkritik, tetapi berilah solusi!” Kita tidak selamanya tahu suara siapa yang fals dalam suatu paduan suara. Yang dapat kita katakan bahwa sesuai pendengaran kita paduan suara itu fals. Dan kita dapat memastikan bahwa masalah bukan di telinga kita.

Dalam hidup sebuah persekutuan, kita bisa merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Kurang harmoni. Kurang kehangatan. Hilang keceriaan. Singkatnya, sebuah persekutuan itu ‘fals’. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa dalam kebersamaan hidup di dunia ini kita selalu membutuhkan perbaikan. Kita tinggal bersama dengan orang-orang sulit. Kita berhadapan dengan orang-orang yang memaksakan keinginan, dan sebagainya.

Stanley Hauerwas dan Jean Vanier pernah berkata, “persekutuan terbentuk dengan adanya kehidupan saling memperhatikan dan adanya kelemah-lembutan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Di situ terdapat gerak-gerik yang bersahabat, pelayanan dan pengorbanan. Di situ terungkap kata-kata “Saya mengasihi Anda dan saya bahagia bersama Anda”. Yang terjadi di sini adalah membiarkan orang lain di depan Anda, tidak berusaha membuktikan bahwa Anda yang paling benar dalam sebuah diskusi. Persekutuan yang indah adalah di mana seorang mengangkat beban orang lain”.

Jika persdekutuan kita terasa fals, sedikitnya tiga hal yang secara mendasar perlu kita perhatikan. Pertama, memeriksa diri sendiri. Apakah saya memberi andil dalam keadaan ini? Mungkin bukan hanya kita sendiri, tetapi yang paling penting kita dengan jujur dan rendah hati melihat dengan jernih keberadaan kita. Jika memang ternyata kita menemukan diri masuk dalam kategori ‘sumber masalah’, kita dapat memperbaiki diri. Jika orang lain yang menemukan bahwa tindakan kita atau kata-kata kita menjadi sumber masalah, kita mesti menerimanya secara dewasa tanpa disesah rasa bersalah. Kita tidak perlu membela diri. Kita juga tidak perlu menghukum diri sendiri hingga tidak bisa tidur. Kita bisa belajar dari pengalaman itu untuk lebih baik di masa depan. Singkatnya, kita tidak perlu larut berkata dengan hati terluka, “kok saya begitu ya, aduh....” tetapi dengan hati terbuka berkata, “saya akan begini (yang lebih baik) ke depan ini.”

Kedua, jika kita bukan sumber masalah dan tidak mengetahui tindakan siapa yang mengakibatkan suatu permasalahan, kita dapat mengungkapkan apa yang kita rasakan. Kita katakan saja ada yang tidak beres, seperti yang disebut tadi: kurang adanya harmoni, kurang kehangatan, hilang keceriaan, persekutuan kita dalam keadaan ‘fals’. Tetapi, jika kita mengetahui sumber masalahnya, kita dapat menyampaikannya dan memberi masukan untuk perbaikannya. Yang paling penting di sini, agar kita tetap dalam semangat kasih dan ‘orisentasi solusi’. Di sini, kita tidak menyerang orang tetapi memperbaiki kesalahan. Tujuan kita bukan untuk larut di masa lalu, tetapi bergerak ke depan dengan lebih baik. Misalnya, kita menghindari kata-kata, “Gara-gara kau! Dasar tak tahu diri, goblok!”. Itu tidak memberi solusi tetapi malah dapat memperparah masalah. Kita bisa berkata, “menurut saya Anda harus menghentikan kata-kata ini atau perbuatan ini demi kebaikan kita bersama”.

Ketiga, membiarkan pemimpin mengambil tindakan: memberi penilaian dan langkah yang perlu ditempuh. Pemimpin sudah dipercayakan untuk melakukan yang terbaik dalam sebuah persekutuan. Memang, menjadi masalah besar jika justru ‘suara pemimpin sendiri yang fals’, atau si pemimpin mengajarkan yang salah. Ada yang mengatakan bahwa ikan, yang pertama busuk adalah kepalanya. Kemudian, menjalar ke badannya. Hal yang sama sering terjadi dalam sebuah persekutuan. Dalam hal ini para pemimpin mesti memelihara kehidupan spiritualitas yang nampak dalam karakter dan integritasnya. Jika pemimpin ‘fals’, apakah anggota bisa menegurnya? Suatu tugas panggilan! Suatu keharusan!

Satu hal yang sangat penting diperhatikan adalah: proses. Kecenderungan dunia ini adalah menekankan ‘hasil’ yang kerap dibungkus dengan berbagai penyelewengan hingga kekerasan. Yang kita kagumi adalah kemegahan candi Borobudur. Jarang kita bertanya, adakah orang-orang yang dikorbankan untuk kemegahan seperti itu? Untuk bisa tampil hebat dalam koor, dalam kemajuan organisasi, dalam pembangunan suatu proyek, ada saja orang yang ditindas, dihina, disepelekan, diejek, direndahkan, dibunuh. Itulah tujuan yang mengabaikan proses. Jadi, proses itu sangat penting. Dalam pencapaian apa pun, kita harus menghargai manusia sebagai manusia yang berharkat sejak perencanaan hingga penyelesaian suatu program.

Sunday, April 11, 2010

HUBUNGAN RASA SYUKUR DENGAN KESEHATAN

REFLEKSI SENIN KE-15
12 APRIL 2010



Beberapa tahun terakhir para peneliti telah mencoba melihat hubungan rasa syukur dengan kesehatan manusia. Dr. DeSteno, (Northwestern Universitity) berkata, "rasa syukur membuat orang berbuat kebajikan, tidak mementingkan diri sendiri dan mendukung kehidupan sosial yang baik, yang berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan kesehatan psikologis”. Dr. Robert Emmon, profesor psikologi di Universitas California mengatakan bahwa mereka yang memiliki rasa syukur mengurangi tingkat iri hati, rasa kesal, dan kebencian. Mereka dapat tidur lebih baik, berolah raga lebih banyak (catatan: di Parlilitan dan Cililitan olah raga termasuk dalam bekerja di ladang dan tempat dagang) dan membuat tekanan darah normal. Senada dengan itu Dr Brenda Shoshanna, seorang psikolog New York mengatakan, “Anda tidak dapat depresi dan bersyukur pada saat yang sama". (Strait Times, 27 November 2009).

Meskipun penelitian ini dilakukan dalam konteks Barat, apa yang disingkapkan para peneliti di atas dapat menjadi pegangan kita: rasa syukur mendukung kesehatan tubuh dan emosi kita. Namun kita tidak dapat berkata bahwa orang yang sakit itu sudah pasti karena kurang bersyukur. Itu tindakan menghakimi. Juga bukan suatu kepastian bahwa orang yang sehat adalah orang-orang yang bersyukur. Banyak faktor yang membuat seseorang sakit. Banyak pula orang yang sehat yang tidak bersyukur.

Bagaimana rasa syukur memberi sumbangan terhadap kesehatan emosi dan tubuh? Sedikitnya empat hal dapat disebutkan di sini.

Pertama, rasa syukur satu paket dengan ‘sukacita’. Dalam hal ini kita dapat mengaminkan Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” Dan 15:13 “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” Para pasien penderita kanker biasanya selalu dinasihatkan supaya mereka ‘beremangat’ (yang unsur ‘sukacita’ ada di dalamnya) yang mendapat porsi 50% dalam memberi kesembuhan.

Kedua, orang yang memiliki rasa syukur tidak akan terbelenggu oleh ketegangan yang tidak perlu. Orang yang bersyukur dapat menjalani hidup apa adanya –tanpa menangisi masa lalu atau menguatirkan masa depan-- dengan kesadaran bahwa penyelenggaraan Allah masih tetap berjalan. Hidup yang bebas dari ketegangan yang tidak perlu atau stress berlebihan sangat mendukung kesehatan tubuh.

Rasul Paulus menasihatkan: “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing (Roma 12:3). Memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kita pikirkan dapat menjadi sumber ketegangan yang tidak perlu, yang pada akhirnya dapat memperburuk kesehatan emosi dan tubuh kita.

Ketiga, orang yang bersyukur beribadah dengan benar. Kehidupan doanya terpelihara. Mereka bersahabat dengan firman Tuhan melalui disiplin membaca Alkitab. Semua ini dilakukan tanpa dipaksa atau terpaksa. Setiap aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan kerelaan, bebas dari paksaan, memberi sumbangan yang sangat bersar terhadap kualitas kehidupan.

Keempat, bertemu dengan orang yang dipenuhi rasa syukur sungguh memberi keteduhan. Kita tidak merasa terancam. Sebab, orang yang memiliki rasa syukur tidak mungkin menyombongkan diri dan tidak mungkin menonjolkan diri. Orang yang bersyukur tidak hadir sebagai ancaman kepada orang lain dan tidak memperlakukan orang lain sebagai ancaman terhadap dirinya. Dengan demikian tercipta suatu hubungan yang sehat; dan hubungan yang sehat juga menentukan kesehatan emosi dan tubuh.

Apa penghalang ‘rasa syukur?’ Yang utama adalah rasa tidak puas atau keinginan tanpa batas. Perlu kita sadari bahwa seringkali kita tidak bersyukur bukan karena kita tidak memiliki cukup tetapi karena orang lain memiliki lebih banyak. Kita dapat melihat korupsi dan yang sejenisnya dari keadaan seperti ini. Orang yang dikuasai rasa tidak puas akan memperlakukan Allah dan sesama hanya sebagai alat untuk mencapai keinginannya. Ia memaksa. Memaksa diri sendiri, memaksa orang lain dan juga memaksa Tuhan. Kita tahu bahwa semua ‘dipaksa’ berdampak buruk terhadap kehidupan (menjadi kekecualian paku dan tiang penyangga bangunan).

Dengan mengetahui penghalang rasa syukur dan dampak buruknya terhadap kehidupan, kiranya kita dapat melangkah dalam sikap dan cara yang baru. Melangkah dengan pengucapan syukur; pengucapan syukur yang lahir dari pengakuan iman bahwa ketika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu yang Ia kehendaki demi kebaikan kita.

Sunday, April 4, 2010

SARINGAN

REFLEKSI SENIN KE-14
05 APRIL 2010

Di jaman Yunani kuno Dr.Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi. Cerita mencerahkan berikut dituturkan oleh K. Suheimi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul" lanjut Dr.Socrates. "Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?"

"Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan
ingin memberitahukannya kepada anda."

"Baiklah," kata Socrates. "Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar
atau tidak. Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu: KEBAIKAN. Apakah
yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang
baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk"

"Jadi," lanjut Socrates, "anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang
buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin
masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN. “Apakah yang anda
ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat
saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Dr.Socrates, "jika apa yang anda ingin beritahukan
kepada saya: tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya,
kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

Untuk kasus seperti itu, memang tidak membangun. Tetapi bagaimana kalau 'saringan' pertama BENAR, saringan kedua YANG BURUK, saringan ketiga BERGUNA? Keadaan seperti ini tidak jarang kita alami. Misalnya: Teman Anda seorang yang homoseksual. Anda sendiri tidak mengetahuinya. Saringan pertama sudah pasti BENAR. Saringan kedua: HAL YANG BURUK. Saringan Ketiga: BERGUNA. Anda bisa mencegah adanya korban. Contoh lain: Bawahan Anda pecandu narkoba; di luar pengetahuan Anda. Padahal Anda ingin mengangkatnya menduduki suatu jabatan penting di lingkungan pekerjaan Anda. Seseorang memberitahukannya kepada Anda. Anda memberi Ujian Saringan Tiga Kali. Hasilnya? Saringan pertama: BENAR. Saringan kedua: HAL YANG BURUK. Ia pecandu narkoba. Saringan ketiga: BERGUNA. Anda memilih the right person for the right position.

Yang perlu dihindari dalam hal ini adalah ‘memburuk-burukkan’ orang lain. Itu berbeda dengan ‘mengatakan tentang keburukan’ orang lain. Mengatakan keburukan orang lain demi perbaikan dan kebaikan adalah bagian dari kasih. Memburuk-burukkan orang lain adalah fitnah.

Uraian lebih rinci tentang boleh tidaknya mengatakan ‘keburukan orang lain’ silahkan klik di sini: http://victor-tinambunan.blogspot.com/2008/09/mengatakan-keburukan-orang-boleh.html


ShoutMix chat widget