Monday, July 23, 2007

SPIRITUAL CHECK UP


Hidup yang tidak disadari
Tidak layak dijalani.

Healthy growth needs strong root.

Medical check-up itu biasa dilakukan orang. Mengapa? Karena ia dibutuhkan untuk mengetahui kondisi kesehatan. Dengan melakukan medical check-up kita dapat menerima pengobatan yang tepat, melakukan pencegahan melalui penataan makanan yang sesuai, melakukan exercise yang tepat, menghindari pantangan tertentu dan sebagainya. Dokter yang bijaksana biasanya menyarankan setiap orang untuk secara rutin melakukan medical check-up seiring dengan pertambahan usia. Jadi, biarlah dokter kesehatan yang memberi penjelasan lengkap soal ini.

Bagaimana dengan spiritual check-up? Barangkali amat jarang dilakukan orang. Mungkin masalahanya karena tidak ada “laboratorium” dan “dokter umum” apalagi “dokter spesialis” untuk ini. Tapi, meski tidak ada laboratorium dan praktek dokter berizin seperti layaknya untuk medical check-up, ada Dokter Agung yang menolong kita melakukannya. Kita tidak perlu terlebih dahulu membuat appointment dan gratis pula.

Sebenarnya, spiritual check-up sudah lama dipraktekkan. Kesediaan Pemazmur mengatakan kepada Tuhan, “ujilah aku” merupakan kesediaan melakukan spiritual check-up. Hal yang sama juga dilakukan oleh mereka yang sungguh-sungguh menyerahkan hidup dan kehidupannya kepada Tuhan seperti dapat kita temukan di dalam sejarah perjalanan gereja dan orang kudus.

Tuhan yang disapa oleh Pemazmur adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita hingga detik ini, yang kiranya kita juga terbuka di hadapan Tuhan agar Ia memperkenalkan diri kita kepada diri kita sendiri, sebab Dia mengenal kita jauh lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Lebih dari itu, Tuhan menganugerahkan kepada kita kemampuan menjalani kehidupan dengan hidup spiritual yang sehat.

Di antara sekian banyak item yang dapat diperiksa dalam “darah spiritual” orang Kristen, berikut ini dapat disebut empat hal:

1. KEMAMPUAN “MENGUJI ROH”

Firman Tuhan mengatakan: “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah: sebab banyak nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yohanes 4 : 1)

Kita sedang hidup pada era yang hiruk pikuk dengan aneka ragam roh. Semuanya hadir dengan penampilannya yang semenarik mungkin dan berusaha memikat dan mengikat hati kita.

Menguji roh memang bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana. Tidak ada alat detector atau komputer penguji, yang begitu keyboard-nya ditekan, segera dapat muncul di layar monitor mana yang dari Tuhan dan mana yang dari Iblis. Seacrh engine google pun tidak bisa menolong dalam hal ini. Kita seringkali berada pada posisi sulit membedakan yang ‘tampaknya baik’ dengan yang ‘sungguh-sungguh baik’.

Sesuai dengan 1 Yohanes 4:1, roh yang dimaksud merupakan sesuatu yang buruk, yang mesti kita lawan dengan kesungguhan dan keteguhan iman. Ini adalah roh yang jahat, yang palsu, yang tidak berasal dari Allah.

Kemampuan menguji roh-roh zaman harus bertolak dan bersumber dari Allah sendiri. Kriterianya juga harus Allah sendiri. Tetapi, sedikitnya dapat kita katakana bahwa criteria utamanya adalah untuk kemuliaan Allah dan damai sejahatera di bumi. Beberapa contoh dan penjelasan lebih rinci silahkan melihat artikel “Menguji Roh-roh Zaman” dalam blogspot ini.

2. BUAH-BUAH ROH

Ini tidak membutuhkan banyak penjelasan. Spiritualitas Kristen yang sehat Nampak dengan adanya dalam diri seseorang buah-buah Roh sebagaimana disebutkan dalam Galatia 5:22-23, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Saya percaya, semuanya ini mesti diberlakukan terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri.

Spiritual check-up:
Apakah saya melihat pekerjaan Tuhan melalui pekerjaan baik sesama? Jika hasil check-up “ya”, ia salah satu indikasi spiritualitas yang sehat. Kita selalu lebih banyak melihat dan memikirkan kebaikan orang lain. Kita dapat memebenci sikap dan tindakan buruk seseorang tetapi tetap mengasihi orangnya.

Spiritual check-up:
Apakah saya mengakui karya Tuhan dalam hidup saya, dan karenanya saya sabar dan lemah lembut terhadap diri saya? Hasil check-up ‘ya’? Ini juga tanda-tanda hidup kerohanian yang sehat. Untuk memeliharanya, mari kita berdoa bersama Padovano:

Ya Tuhan,
Jadikanlah hati kami lemah lembut
supaya kami dapat menjadi kuat
[1]

3. DOA

Tidak diragukan bahwa doa amat penting dalam kehidupan orang Kristen. Orang-orang Kristen perlu memelihara kehidupan doa. Namun, perlu ditegaskan bahwa orang-orang Kristen tidak diharapkan memandang doa dengan bersungguh-sungguh melebihi memandang Allah dengan bersungguh-sungguh. Jika kita mengasihi Allah, kita belajar cara berdoa…. Jika hubungan kita benar, biasanya kita mengetahui apa yang akan atau perlu dikatakan dalam hubungan itu.[2]

Doa bukan sarana memberi informasi kepada Allah dan untuk mengubah pendirian-Nya. Jika terkadang kita tidak merasa enak kalau “Tuhan tidak mengetahui masalah ini dari saya”, ini adalah indikasi kehidupan spiritual yang kurang sehat. Allah mengetahui dan Allah lebih peduli dari kita. Kita berdoa dari kedalaman hati kita: Jadilah kehendak-Mu. Sebab, “permohonan” adalah sebagian kecil dari doa. Doa tidak dimaksudkan untuk mengingatkan Allah akan apa yang perlu Ia lakukan, malahan lebih mengingatkan kita akan pentingnya penyerahan diri kita kepada-Nya dan mengingatkan akan apa yang seharusnya kita lakukan dan tidak perlu lakukan. Pemazmur malah menganggap “doa” sebagai persembahan (Mzm 141:2).

Thomas Merton memberitahu kita bahwa pusat perhatian yang sempit menjadikan kita berlaku terhadap diri kita dengan kekerasan; pengaturan yang ketat-kaku atas keberadaan kita merusakkan spontanitas dan kegembiraan. Semuanya ini mempengaruhi doa kita. Bila diri kita terkurung atau terkungkung, kita menghukum diri kita dan juga orang lain. Kita mungkin banyak berdoa, tetapi karena bukan doa yang sungguh-sungguh doa, kita tampak pahit, marah, menghakimi, kejam.[3] Orang yang memandang Allah dengan sungguh-sungguh, tidak akan pernah menghakimi orang yang tidak ‘berdisiplin’ berdoa.

Thomas Merton juga memperingatkan bahwa doa tidak boleh digunakan untuk menguasai orang-orang lain dan mengendalikan mereka.[4] Kadang-kadang doa menjadi sesuatu yang bersifat takhayul dan mengelak dari tangung jawab manusiawi. Doa dapat digunakan untuk terus menindas orang-orang yang tertindas dan untuk membenarkan orang-orang yang mendapat hak istimewa dan memperkuat kedudukan para tiran dan inkuisitor. Akan tetapi, ini bukan doa, hanya topeng yang dikenakan oleh para pengeruk dan pemeras apabila maksud tujuan mereka tidak dapat tahan terhadap terang “matahari”[5] Kebenaran.

Dengan demikian disiplin yang benar sedikitnya mencirikan:

- Tidak tergerak oleh kewajiban –ini rawan pada sungut-sungut. Doa merupakan sebuah panggilan dan kerinduan.
- Tidak digerakkan oleh pemenuhan keinginan –janganlah kita memperalat Allah. Di dalam doa kita memohon agar Tuhan menunjukkan apa yang Ia inginkana dari kita.
- Tidak digerakkan oleh rasa takut akan hukuman Tuhan –kita akan kehilangan sukacita, tetapi akan dipenuhi ketegangan yang tidak perlu. Doa merupakan pengakuan dan ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan.
- Tidak digerakkan rasa takut dicela orang bahwa kita tidak pendoa yang sungguh-sungguh. Pikiran orang lain perlu, tetapi hidup kita biar Tuhan yang mengendalikan, bukan orang lain. Tuhan tidak terutama ‘menghitung’ berapa kali kita berdoa, tetapi apakah doa kita benar.

Kata discipline memiliki akar kata yang sama dengan disciple (murid). Disiplin seorang murid Tuhan mengalir dari hubungan yang baik dengan Tuhan –dan hubungan baik itu dimulai dari pihak Tuhan sendiri. Karenanya, di sini ada kerelaan yang benar-benar mengandung sukacita bukan ketat-kaku yang bisa saja dengan gampang terjatuh kepada mentalitas Farisi, yang suka pamer kesalehan sambil menganggap diri yang paling benar.

Di samping itu doa tidak terutama berorientasi “hasil” –menurut target kita yang harus Tuhan penuhi. Doa Bapa Kami adalah contoh yang amat baik dalam hal ini. Ia merupakan pengakauan akan kedaulatan Allah, merupakan sikap, gaya hidup dan tanggung jawab orang Kristen, merupakan penyerahan diri secara total pada penyelenggaraan Allah.

4. KEBAJIKAN

Kebajikan –kualitas pikiran dan perbuatan baik yang sesuai dengan kehendak Tuhan—tidak dapat dipisahkan dari kehidupan doa.

Jesus did not say, “When you pray, say these words.” He said, “When you pray, this is how you do it!” or, “Pray this way –have these attitudes in your mind and heart when you become aware of your relationship with God, your Father.”[6]

Doa mencakup cara hidup, memadukan kata dan perbuatan. Kehidupan spiritual yang sehat adalah melakukan yang terbaik dalam hidup ini terhadap sesama dan terhadap ciptaan Allah. Sekali lagi, semuanya itu dilakukan atas dasar ‘sukacita sorgawi’, tidak karena terpaksa atau dipaksa, tidak demi kemuliaan diri melainkan hanya untuk kemuliaan Allah.

Jika hasil test spiritual check-up kita menunjukkan beberapa yang “positif” (mengidap sesuatu penyakit), atas nama penerimaan diri, mensyukuri keberadaan diri, kesabaran dan kelemahlembutan kepada diri sendiri, Sang Dokter Agung, yaitu Tuhan kita dengan lembut menunggu penyerahan diri kita untuk dijamah dan disembuhkan.

Salam sejahtera, dalam rahmat Tuhan.
Victor Tinambunan

[1] Anthony T. Padovano, Thomas Merton: Menjadi Diri Sendiri (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p. 84.
[2] Ibid, 114.
[3] Ibid, 85
[4] Ibid
[5] Ibid, 77
[6] Isaias Powers, Quiet Places With Jesus: 40 Guided Imagery Meditations for Personal Prayer, (Mystic, Connecticut: Twenty-Third Publications, 1987), 22.

Tuesday, July 10, 2007

MENGUJI ROH-ROH ZAMAN

(Tulisan ini dimuat dalam buku Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat)

“Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah: sebab banyak nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”
(1 Yohanes 4 : 1)

Kita sedang hidup pada era yang hiruk pikuk dengan aneka ragam roh. Semuanya hadir dengan penampilannya yang semenarik mungkin dan berusaha memikat dan mengikat hati kita.

Menguji roh memang bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana. Tidak ada alat detector atau komputer penguji, yang begitu keyboard-nya ditekan, segera dapat muncul di layar monitor mana yang dari Tuhan dan mana yang dari Iblis. Kita seringkali berada pada posisi sulit membedakan yang ‘tampaknya baik’ dengan yang ‘sungguh-sungguh baik’.

Sesuai dengan 1 Yohanes 4:1, roh yang dimaksud merupakan sesuatu yang buruk, yang mesti kita lawan dengan kesungguhan dan keteguhan iman. Ini adalah roh yang jahat, yang palsu, yang tidak berasal dari Allah.

Kemampuan menguji roh-roh zaman harus bertolak dan bersumber dari Allah sendiri. Kriterianya juga harus Allah sendiri. Berikut ini dapat disebut beberapa contoh untuk menjelaskannya.

1. Kita percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Esa (Yesaya 46 : 9). Ia adalah Bapa dari semua, pencipta segala sesuatu yang baik. Ini berarti bahwa setiap orang yang mengangkat diri dan bertindak seperti “allah” kecil bagi sesamanya, bukan berasal dari Allah. Tindakan yang memecah-belah persekutuan dan persaudaraan umat manusia, sebagai ciptaan dari satu Pencipta, bukan dari Allah. Setiap orang yang merampas kehormatan dan kemuliaan untuk dirinya sendiri (yang seharusnya milik Allah, bukan dari Allah (bnd. Mzm. 115:1; Luk. 2:14).
2. Allah yang kita percayai dan sembah adalah Allah yang Tritunggal. Allah yang Tritunggal itu adalah Allah yang memperkenalkan diri sebagai Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, sebagai Allah Anak yang menebus dan menyelamatkan segala sesuatu, dan sebagai Allah Roh Kudus yang membebaskan dan sekaligus mengarahkan segala sesuatu kepada Allah. Roh Kudus yang menyatakan bahwa kita berdosa, sekaligus menyatakan bahwa pengampunan dosa terbuka. Hal ini mau menegaskan bahwa segala sesuatu yang memperilah atau merusak alam ciptaan Allah, segala sesuatu yang membelenggu kebebasan manusia atau mengarahkan kebebasan itu kepada yang lain kecuali Allah, setiap tindakan yang memperlakukan manusia hanya sekedar “mesin produksi” dalam lingkungan kerja dan pertumbuhan ekonomi belaka adalah roh yang tidak berasal dari Allah.
3. Kita percaya kepada Yesus Kristus, yang walaupun setara dengan Allah, telah “mengosongkan diriNya menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2 : 1 – 11)

Dalam hal ini, roh yang mempertuhankan manusia dan karyanya, roh yang demi keuntungan dan keselamatan diri sendiri mengorbankan sesamanya, roh yang menghancurkan kesetiakawanan manusia, roh yang mengagung-agungkan kenikmatan, kesenangan hidup serta kedudukan, tidak berasal dari Allah.

4. Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Itu berarti bahwa ketika orang-orang sibuk mencari kursi dan posisi sebagai tempat yang aman untuk korupsi, kolusi dan bahkan menghabisi nyawa orang tak bersalah dan bukan melayani – pasti, ya pasti, tidak berasal dari Allah.

5. Kita percaya bahwa Roh Kudus bekerja hingga saat ini di dunia ini bahkan di luar Gereja sekalipun. Roh Kudus menganugerahkan kekuatan dan penghiburan. Itu berarti bahwa setiap orang yang memperlemah sesamanya, menghambat sesamanya untuk bertumbuh, mengakibatkan duka bagi sesamanya, bukan berasal dari Roh Tuhan.

6. Kita percaya bahwa Allah menghendaki keadilan melebihi ibadah, koor dan persembahan (Amos 5 : 21-24). Karena itu, ketika seseorang rajin beribadah, mampu mengumandangkan koor yang memukau, serta rela menyetor sejumlah uang ke Gereja, tetapi sama rajinnya melakukan ketidakadilan dan pemerkosaan hak azasi manusia; ketika seseorang begitu aktif dalam persekutuan kristiani tetapi tidak kalah aktifnya melakukan korupsi, berjudi dan tindakan penipuan lainnya, bukan dari Allah.

Ini hanya menyebut beberapa contoh saja. Kita boleh mengembangkannya dan menguji roh-roh zaman yang dominan di dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan di dalam praktek-praktek kehidupan beragama dan bergereja. Yang terakhir ini (dalam kehidupan bergereja) justru sangat perlu mengingat tugasnya untuk menguji roh di luar gereja harus pertama-tama menguji roh dalam dirinya sendiri.

Janganlah kita berambisi untuk membenahi dan menobatkan dunia ini, sementara kita sendiri belum bertobat dan di dalam tubuh kita sendiri masih begitu banyak borok-borok dengan aroma yang sangat menyengat! Justru ini yang memicu dan memacu sikap permusuhan dari sesama kita umat beragama lain terhadap orang-orang Kristen. Ini yang menghambat kesaksian Gereja dan mewujudkan keberadaannya sebagai garam dan terang dunia.

Sejarah memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa seringkali orang-orang menyebut-nyebut nama Yesus dan dengan fasih mengutip ayat-ayat Alkitab, tetapi hatinya sangat jauh dari Tuhan. Peringatan kepada kita adalah, jangan percaya begitu saja kepada seseorang yang menyebut nama Yesus, atau mengutip ayat-ayat Alkitab yang mungkin saja amat fasih, atau mengajak berdoa, bahwa ia pasti datang dari Allah. Alkitab sudah memperingatkan bahwa ada banyak “nabi palsu”, lagaknya dan bahasanya persis nabi, tetapi palsu.

Yang sulitnya, nabi palsu biasanya jauh lebih menarik dan jauh lebih populer daripada yang asli. Nabi Hanaya yang palsu, jauh lebih berhasil memikat massa ketimbang Nabi Yeremia yang asli (baca Yeremia 27-28).

Apa sebabnya? Nabi palsu lebih ahli meramu yang cocok dengan selera banyak orang. Mereka dapat mengatakan apa yang enak di telinga dan yang klop di hati. Tentang inipun Alkitab telah bersaksi: “…Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran, dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4: 3-4). Karena itu, janganlah kita gampang saja percaya hanya karena seseorang itu amat populer, berhasil memikat dan mengikat banyak penganut, serta kata-katanya enak di telinga dan cocok dengan selera. Menyebarnya Gereja Setan[2] adalah salah satu contoh dalam hal ini.

Gereja Setan berciri materialistis, hedonistis dan merendahkan seks sebagai sesuatu yang dikaruniakan Allah bagi manusia menjadi sekadar permainan dan pemuasan seksual belaka. Hal itu juga merupakan ciri masyarakat modern yang sekular. Masyarakat modern yang sekular dicirikan oleh sikap dan gaya hidup individualisme (dalam kekristenan hal ini sangat bertentangan dengan prinsip “koinonia” = persekutuan), konsumerisme (gaya hidup yang tidak pernah merasa cukup: lebih banyak pakaian, lebih banyak sepatu, lebih banyak melahap makanan dan sebagainya), dan materialisme (yang menempatkan pemilikan “materi” di atas segala-galanya).

Sikap dan gaya hidup demikian telah begitu dalamnya merasuk dan merusak kehidupan banyak orang dewasa ini. Untuk mencapai semua ini tidak sedikit orang yang memiliki ketegaan ekstra melahap masa kini dan masa depan sesamanya.

Tugas kita tidak ringan. Paulus berpesan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (Efesus 4 : 11). Namun yang harus kita sadari adalah, ketika kita mengatakan bahwa kita harus menguji roh-roh zaman itu tidak hanya berada di luar kita. Roh-roh itu juga berada di dalam diri kita, meresapi dan merasuki kehidupan kita.

Dalam konteks ini kita perlu dengan rendah hati mengaku keadaan serba keterbatasan kita, serta menuntut pertobatan kita. Menguji roh-roh zaman juga mencakupi kemauan dan kemampuan kita untuk menguji diri kita sendiri, mengalami sakitnya menyingkapkan roh-roh dan kekuatan-kekuatan yang menghancurkan dan mendukakan hati Tuhan yang ternyata ikut menguasai diri kita.

Menguji roh-roh zaman memang mengandung tantangan tersendiri, apalagi kalau yang kita uji adalah diri kita. Sebab, dalam upaya ini kita bisa saja kehilangan sesuatu. Kehilangan “selera”, misalnya. Tetapi, lebih bermakna kita mengorbankan sesuatu supaya tidak kehilangan segala sesuatu yaitu: Tuhan kita.

[1] Pernah dimuat dalam Majalah Immanuel, HKBP. Penulis sangat berhutang pada Pdt. Eka Darmaputera dalam kehadiran tulisan ini.
[2] Gereja Setan didirikan tahun 1896 di San Francisco oleh Anton Szandos La Vey. Gereja Setan dengan pengikut yang makin bertambah di Amerika dengan hadirnya berbagai nama, antara lain: The Brotherhood, The Sister of Light, dan sebagainya.

Thursday, June 28, 2007

Hepeng

ARTA DOHOT PELEAN

Jumolo ma tangkas tatangihon hata ni Tuhanta na tarsurat di
1 Timoteus 6:6-10a:

Pangomoan godang do tutu hadaulaton, anggo mardongan sabam ni roha. Ai ndang adong taboan tu hasiangan on, jala ndang tarboan hita agia aha laho ruar. Alai molo adong di hita sipanganon dohot parabiton, tahasabamhon ma i. Ia angka na naeng gabe mamora, madabu do tu bagasan pangunjunan dohot sambil dohot lan hahisapon haotoon, angka na mangago, na mangalononghon jolma i tubagasan jea dohot hamagoan. Ai urat ni nasa ahajahaton do roha na holongan di hepeng…”

Haporseaon maradophon Hepeng

Hira ganup ari do hita sai ingkon ‘pajumpang’ dohot hepeng. Sambolus idaon hira adong ora-ora gabe mamora manang marhepeng di turpuk na tajaha ondeng. Alai sasintongna ndang sala molo mamora di arta sasahalak. Na gabe mantak dosa hombar tu turpuk on i ma ‘na holongan di hepeng’ (cinta akan uang).

Dipangke Jesus dohot angka siseanNa do hepeng. Dipangke si Paulus do hepeng. Hita pe tapangke do hepeng. Alai laos dipaingot Jesus do mara ni na holong roha di hepeng. Mangihut tusi ma nang pangajaran ni si Paulus.

Na boi do tahilala panarihonon ni Debata marhite arta, manang marhite hamoraon pe i. Ai didok, “pasu-pasu ni Jahowa do mambahen mamora, jala ndang mardongan hangaluton dibahen.” Di tingki tahop sipata na mohop di ngolu on, boi do damor panghilalaan molo adong sipatupaon manuhor angka na ringkot i. Alai tutu laos boi do mago boti sihol ni roha tu Debata ala sai lohot manang tarborot di arta roha manang lohot roha di hepeng. Dohot pandohan na nasing, na boi do arta mangorui na sorat alai laos boi do arta i pasorathon ngolu, tarlumobi molo dirajai i roha nang sude ngolu. Sipata gabe so adong hasiatan ni dongan jolma di roha i. Ai paralealeon pe gabe nirahut ni hepeng nama. Apala na dumangol i ma na dipangke halak hepeng laho manuhor hageduhon isara ni papeol uhum, manuhor jabatan dohot na asing. Jala laos torop do di jaman on na baranipulut manuhor hamatean ni donganna jolma marhite na ‘manggaji’ parjahat laho mamunu hinasogohonna. Lan dope na asing na taadopi di partingkian on na suman tusi.
Jotjot masa do di pengalaman ni ngolunta, na diukur hajolmaon ni sasahalak marhite godang ni sinadonganna, molo parhepeng rupani, ndada marhite ‘kesetaraan’ ni jolma songon na tinompa ni Debata jala na rampak arga di Debata. Patut do adong pandohan: mardasar mardosor tutungon pora-pora. Na sala i gabe sintong molo hata ni na mora (nang pe di tonga ni huria).

Molo didok dison “Ai ndang adong taboan tu hasiangan on, jala ndang tarboan hita agia aha laho ruar” na mangondolhon ketergantunganta tu Tuhanta do i. Di ayat 8 didok: “Alai molo adong di hita sipanganon dohot parabiton, tahasabamhon ma i”. ‘Rasa cukup’ do ianggo tinudu ni on. Sadalan ma i songon na nidokna di Poda 30:8: “hapogoson manang hamoraon unang lehon tu ahu; sai loas ma panganonku bohal tinurpukhonMi tu ahu”.

Ihut tusi di ayat 10 didok “Ai urat ni nasa hajahaton do roha na holongan di hepeng (cinta uang).” Dipabotohon do tu hita di Bibel i hinajorbut panghorhon ni suap na merajalela sian na robi. Taida sian i na dipangke jolma hepeng manubut siparjehe dohot manghuntam pamangan ni angka saksi palsu. Masa do i andorang so diparsilangkon Jesus, masa do nang dung hehe Jesus di na manjalo suap angka parjaga i.

Ia arta portibi on somal do digombarhon ‘songon na minuk aek laut lam diinum lam tu uasna’. Ai adong do jolma menempatkan kenikmatan ni ngolu marhite na papungupunguhon, ndada las ni roha mamangke tu nasa na hasea. Jadi tudos ma i songon na nidok ni Anthony de Mello tu halak na botak na mansai loja mandiori jala papungu-pungu suri (sisir) hape so na laho pangkeonna nanggo sada sian i. Jala na dumangol i ma molo marmokmok puro alai marpempeng haporseaon.

Di sada ‘kalender meja’ taon 2001 tarsurat do untaian kata-kata songon na di toru on, na tagamon marlapatan rimangan di ngolu on:
Dengan uang dapat dibeli:
Buku BUKAN hikmat
Rumah bagus BUKAN rumah tangga bahagia
Tempat tidur BUKAN tidur nyenyak
Hiburan BUKAN kebahagiaan
Posisi BUKAN harga diri
Obat BUKAN kesehatan
Hiasan salib BUKAN Juruselamat
Bangku gereja BUKAN sorga
Apa yang tidak dapat dibeli dengan uang Allah dapat memberi dengan cuma-cuma.

Dison ma hinaringkot ni pangauhononta di hata ni endenta i na mandok: “Sere, arta, hepeng pe, buat ma di Ho sude; tondi nang pamatangki ingkon Ho oloan ni i”. (470:6). Rajumonta do ende on songon penyerahan diri tu Tuhanta, asa unang tarambat hita mamelehon diri ala ni sere, arta manang hepeng. Ia moru pe pandaraman alai dang tarambat pardalanan mangihuthon Tuhanta.

Dipatangkas apostel Paulus do di udut ni 1 Tim 6 i mandok “rodihon ma tu angka na mora di hasiangan on, unang ginjang rohanasida, unang dihaposi hamoraon na so mian i. Ihut tusi diondolhon asa naeng ma mamora di ulaon na denggan nasida (ay 17-18). Alai tagan so dirodihon si Timoteus i, tontu na dihirim si Paulus do na jumolo hangoluhonon ni si Timoteus na songon i. Di bindu 3 nunga dipaandar syarat ni na gabe parhalado. Sada sian i, i ma “na so impolan di perak” (bukan hamba uang). Tarurupan Tuhanta do hita asa unang sanga martumbur na songon i di roha ni hita parhaladoNa. Jala panghangoluhonon na songon i marharoroan do i holan sian na paloashon Tuhan i, mangolu dibagasan hita.

Hadaulaton (Ibadah) dohot Sabam ni Roha

Hira tardok mehet do di tonga-tonganta pandohan “time is money” lapatanna “hepeng do tingki”. Mansai torop do jolma manjalo pandohan on songon hasintongan. Tutu diondolhon do di Bibel i joujou tu naporsea laho marhaseanghon tingki, alai ndada na mandok na ‘hepeng do tingki’ disi. Ai molo nunga sude tingki dihepenghon, i ma singkam mabarbar ni hajahaton dohot na mangait na bernit tu diri songon na nidokna di turpuk on. Na masa disi i ma mamangke tingki na diukur mahite paretongan pangomoan hepeng. Jadi adong do kecenderungan ni portibi on songon na nidok ni Tissa Balasurya songon on: Uang diperilah dan yang ilahi diuangkan (Dipardebata hepeng, jala Debata dihepenghon). Huria pe naeng ma mansai manat dison, unang sanga madabu tu pangunjunan na songon i.

Ala pertimbangan pangomoan na nidok ondeng, sipata ndang apala diharonsothon torop jolma be ngolu parhuriaon isara ni ‘ibadah’ rupani. Ai dihilala rohana ma i songon na memboroskan tingki, jala sarupa ma i dihilala tu na mambolongkon hepeng. Jala sipata molo pe diharingkothon parmingguan manang partangiangan dohot na asing, ianggo tujuanna i ma asa ro paruntungan sian i. Tardok ngolu na “matahepengon” tu Debata ma i. Gabe hira dalan manubut roha ni Debata ma angka ibadah i. Ngolu na songon on ma na tagoari ngolu na beribadah asa. Beribadah, asa tiur pansarian, asa berhasil dakdanak, asa sehat, asa jumpang na jinalahan dapot na niluluan…. Molo on do na masa nunga mansai dao bergeser sintuhu ni ibadah i. Na uli do sintasinta jumpangan pandaraman na denggan, keberhasilan ni angka ianakhon, hahipason, dohot na asing. Alai molo beribadah asa jumpang sudena i, gabe tardok ‘memperalat’ Debata do hita manggohi sinta-sinta ni rohanta.

Torang do diondolhon si Paulus: pangomoan godang do tutu hadaulaton (ibadah), anggo mardongan sabam ni roha. I do tutu sintongna: siduasadaihot so tarsirang do haporseaon dohot sabam ni roha. Nunga tibu i diajarhon Tuhanta Jesus dibagasan tangiang na niajarhonNa: “Lehon ma tu hami sadari on hangoluan siapari”.

Asa ingkon mulak do songon tu pangauhonon ni si Paulus “Kristus do na mangolu dibagasan ahu”. Asa Ibana na marhuraja disi. Tuk do Tuhanta menguras dohot paimbaruhon sihol ni roha ni hita jolma, asa gabe roha na uasan i di hataNa sipanogu tu hangoluan.

Pelean

Di ngolu parhuriaonta somal do tapasahat pelean marrumanghon hepeng tu huria. Ra sai adong be do angka parasinganna di angka huria-huria di ruhut-ruhut ni na pasahat pelean. Alai angka na somal i ma marhite pelean di parminguon manang ari pesta, pelean taon, pelean hamauliateon (marhite na paboahon goar manang marrumang NN (so pola dipaboa goar).

Di Laporan “Pardalanan ni Organisasi” pinasahat ni Sekjend Ds. K. Sitompul di sada Sinode Godang HKBP, ditariashon nasida do sada na mansai ringkot parrohahonon taringot tu “pangantusion na sala” songon on:

….Punguan ni jolma do huria, margugu do; hape ndang koperasi huria i…. Marsilehonlehon do di huria dohot tu huria, alai ndang dipatuduhon i mangido mulak. I ma na ummaol lopok dope di roha ni deba ruas ni huria jala sian urat i ma tubu godang parsalisian di huria.[1]

Nasa na margoar pelean tu Tuhanta somalna digoari do i pelean ala ndada pelean asa. Pelean ala i ma ‘ala’ manghilala jala tahaporseai tung ala ni basa ni Tuhan i do umbahen adong tarpasahat hita gabe pelean di tonga ni huriaNa. Lapatanna, pasahat pelean ala naung manjalo basa-basa ni Debata. Ai sian dia ma tutu hita boi pasahathon pelean anggo so tajalo sian Tuhan i? Jadi, ndada pelean asa, lapatanna nilehon pelean ‘asa’ dilehon Debata pasupasuNa. Ndang i. Ai ianggo songon i hira sisip (sogok) na ma i atehe. Asa dohonon ma ia pelean na sintong i ma songon parbue ni panandaion na bagas dohot pandaion na tangkas di basa ni Debata. Molo i do ojahan, pasti do sian las dohot bulus ni roha halak Kristen pasahathon peleanna, ndada ala ni na tarpaksa manang sian roha na so tarjua.

Angkup ni i, mansai ringkot do ondolhonon, ia di Debata ndada pelean arta manang hepeng na rumingkot, nang pe ringkot do i tutu. Molo tangkas tajaha di Amos 5:21-24, disi gariada dihasogohon Debata do pelean. Boasa? Ala ndang saurdot ngolu ni bangso i tu lomo ni roha ni Debata. Ai na rumingkot disi didok i ma hatigoran dohot hasintongan. Jadi sadia pe pelean dipasahat, anggo so diulahon do hatigoran dohot hasintongan ndada marnidok anggo pelean i. Laos torang do i diondolhon Jesus paboa na rumingkot sian pelean i ma hatigoran, parasinirohaon dohot haburjuon (Mateus 23:23).

Sadia godang pelean na tama lehonon tu Debata? Di deba huria ditotophon do ‘parpuluan’. Pandok nasida marojahan do i tu Bibel i. Alai sasintongna lobi sian parpuluan do pelean, parsaratusan do tahe. Lapatanna sude do ngolu nang artaniba gabe pelean. I do umbahen di tangiang pelean di parmingguon i didok, “nasa na nilehonMi tondi rodi patangku, hosa dohot gogongki ro di saluhut artangku, hupasahat i tu Ho, na so unsatonku do. Tapamanat ma hata ‘nasa na nilehonMi’ dohot ‘saluhut artangku’, nda parsaratusan do i? Lapatan ni i, tapasahat manang tatiop artanta i naeng gabe pasupasu i, naeng gabe tau hasangapon di Debata luhutna i.

Antong boha do taringot tu parpuluan na didok di Bibel i? Taida ma jolo manang piga na ringkot marpartalian tusi:

(1) Molo taida di 1 Musa 28:22 ia mula ni parpuluan i, nazar manang padan ni si Jakob do i, ndada parenta ni Debata.
(2) Di buku 5 Musa jumpang hita do disi dua rumang ni parpuluan. Parjolo (5 Musa12:6-9) pabotohon ia parpuluan i na rampak manganhon do angka ripe dohot malim sian hasil ni na niula siganup taon. Paduahon, ganup di ujung ni patolutaonhon diboan be ma angka parpuluan i tu angka na so marama so marina (ay 26-27; patudos tu 26:12-15. Jadi, dang diboan parpuluan i tu bagas joro, alai langsung do i dipasahat tu angka na dangol. Jadi rajumon do angka pangurupion na tapasahat secara langsung tu angka na hurangan i songon pelean.
(3) Di Maleaki 3:10 ditaringoti do nang parpuluan. Ia tujuanna i ma asa adong persediaan makanan di bagas joro ni Debata. Jadi ia pasupasu na nidokna disi ndada na ro i ala ni parpuluan i, sabalikna do, ala naung manjalo pasupasu sian Debata, patut antong pasahat pelean.
(4) Mansai tangkas do diondolhon di Psalmen 51:18-19 paboa na rumingkot do di Debata roha na magopu sian pelean. Songon on didok disi, “Ai ndang dihalomohon roham pelean situtungon….Angka pelean tu Debata i ma tondi na magopu, tongon do roha na magopu dohot na bojok, dang ditulak roham, ale Debata.
(5) Apostel Paulus pe diondolhon do, “Pasahat hamu ma dagingmuna bahen pelean na mangolu, na badia, na hinalomohon ni Debata; i ma hadaulaton ni na marroha (Rom 2:1)

Marhite angka i, dohononta ma tung saluhut ngolu dohot na adong di hita do gabe pelean tu Debata. Asa ia talehon pe deba sian hepeng manang artanta tu huria tardok ‘simbol’ pamelehonon dirinta do i tu ulaon parsuru ni Tuhanta.

[1] Ida Notulen Sinode Godang HKBP Ari 28-30 Nopember 1951, hlm. 14-15

Sunday, May 20, 2007

AKAL BUDI

(Tulisan berikut diambil dari buku: Victor Tinambunan, Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat)

PEMBARUAN BUDI DALAM RANGKA
PEMBAHARUAN GEREJA DAN MASYARAKAT
[1]

Berubahlah oleh pembaharuan budimu.
(Roma 12:2b)


PENGANTAR

Di tengah suasana bangsa yang dirundung duka amat dalam ini (baik karena bencana yang silih berganti maupun karena kondisi perekonomian nasional), sesungguhnya porsi kata-kata dan ‘uluran hati’ (berupa ucapan turut berduka) lebih sedikit dibutuhkan ketimbang uluran tangan. Bukan berarti bahwa kata-kata tidak dibutuhkan. Yang perlu ialah kata yang mengalir dari pembaharuan budi. Sebab, tanpa pembaharuan budi, kata-kata yang kita ungkapkan pun hanyalah sedalam kemanusiaan kita yang ringkih dan tindakan kita hanyalah digerakkan oleh keinginan dangkal.

Alangkah indah, damai dan sejahteranya kehidupan di dunia ini jika yang paling dibutuhkan cukup tersedia. Akan tetapi, pengalaman kita menunjukkan bahwa yang paling kita butuhkan justru yang paling langka dalam kehidupan ini. Acapkali manusia memberi perhatian amat serius pada hal sepele tetapi menyepelekan hal yang amat penting. Kondisi demikian menuntut perubahan yang mengakar pada pembaharuan budi.

DIBAHARUI UNTUK BERUBAH DAN BERBUAH[2]

Di sini, pembaharuan budi adalah sebuah anugerah Tuhan. Ia sendiri yang melakukannya, bukan manusia. Karenanya, pembaharuan, yang dituntut dari manusia hanya dimungkinkan beranjak dari anugerah pembaharuan budi. Dengan demikian, kemauan dan kemampuan berubah pun adalah juga bagian dari pertolongan Tuhan. Artinya, dari dirinya sendiri budi manusia tidak dapat dibarui dan manusia tidak dapat berubah. Semuanya ini adalah anugerah dan pertolongan Tuhan yang mesti disambut dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Pasal 12 diawali dengan nasihat mempersembahkan tubuh kepada Allah. Hal ini sepadan dengan keberadaan tubuh sebagai milik Allah. Karenanya, apa yang dilakukan tubuh – berpikir atau bekerja sebagai pejabat, buruh pabrik, bupati, tukang pangkas, politisi, pegawai kantor Sinode Gereja, penarik beca, menteri, pendeta dan lain-lain, merupakan persembahan kepada Allah.

Penekanan pentingnya ibadah orang Kristen, bukanlah berarti melakukan upacara-upacara kultus di tempat-tempat suci. Kata latreia (ay 1) berarti ‘yang kepadanya seorang mengabdikan seluruh hidupnya’, tidak kepada manusia, tetapi ibadah kepada Allah. Ibadah orang Kristen yang sejati berarti "mempersembahkan tubuh", yakni seluruh eksistensi manusia dalam kehidupan sehari-hari, di tengah kondisi dunia ini. Orang Kristen hendaknya beribadah dengan pelayanan keseharian sambil menaati dan memenuhi kehendak Allah. Tetapi pelayanan yang mengacu kepada dunia ini tidak berarti "menjadi serupa dengan dunia ini", menyesuaikan diri kepada situasi dan kondisi atau malah terlebur di dalamnya. Eksistensi orang Kristen dipersembahkan kepada Allah secara "badaniah" sebagai korban di tengah-tengah kondisi dunia ini, mengacu kepada dunia baru yang sudah mulai oleh Kristus yang bangkit sembari menjadi suatu kesaksian kepada dunia yang fana ini.

Pada kesempatan lain Paulus menegaskan bahwa, “segala sesuatu dari Dia…” (Rm. 11:36). Hal ini perlu ditegaskan mengingat keberadaan kota Roma sebagai kota terbesar dunia pada zaman itu. Kemegahan, prestasi, kemampuan manusia menjadi amat penting pada saat itu (tidak ubahnya dengan apa yang diminati dan dikejar banyak orang pada zaman ini). Pembaharuan (anakainosis), lebih tepat diartikan: “kelahiran kembali memungkinkan mengenal kehendak Allah sebagai pedoman untuk menjalani hidup dengan tulus”.

Untuk kata ‘berubah’ di sini Paulus menggunakan kata meta-morphoomai (bukan alasso) yang berakar sama dengan kata meta-morfosis, sebuah istilah biologi yang berarti perubahan wujud. Contoh proses metamorfosis adalah berubahnya jenis batuan tertentu menjadi pualam, kristal atau intan yang berkilau akibat suhu dan tekanan tinggi. Contoh lain adalah berubahnya ulat menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu.[3] Hal inilah yang menurut Andar Ismail bahwa Paulus mau menekankan agar kita berkembang dan berubah wujud ke tahap yangyang lebih tinggi, yaitu agar pola pikir kita berkembang ke tahap-tahap yang lebih luhur dan lebih matang; dari pola berpikir Yudas menjadi pola berpikir Kristus.[4]

Berubahnya eksistensi manusia melalui ‘kelahiran kembali’ terarah kepada suatu pembaharuan akal budi (kebalikannya kita baca dalam 1:21). Budi (nous) dalam filsafat Yunani berkaitan dengan orang yang bijaksana, orang yang berpotensi intelektual dan dapat berarti juga eksistensi rohaniah yang biasanya tersembunyi kepada orang lain.

Tetapi dalam ayat ini nous berarti kemampuan untuk menilai situasi secara kritis. Konkritnya, "membedakan manakah kehendak Allah." Dokumazein yang digunakan oleh Paulus di sini dekat sekali misalnya dengan 1Tes. 5:21: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik", atau Flp. 1:10: "sehingga kamu dapat memilih yang baik", dan "ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan" (Ef. 5:10). Jadi, orang yang lahir kembali (indikatif) hendaknya (imperatif) berubah, bukan hanya dalam eksistensi diri manusia melainkan secara khusus dalam apa yang menyangkut nous. Budi manusia membutuhkan satu norma atau satu patokan yaitu kehendak Allah yang digambarkan dengan tiga kata sifat: "baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Kehendak Allah harus digumuli setiap kali secara baru dan diberlakukan dalam satu situasi yang konkrit dan tertentu. Yang baik, yang berkenan kepada Allah, yang sempurna hanyalah kehendak Allah sendiri; bisa sesuai dengan kemauan dan cita-cita manusia, tapi bisa pula menentangnya. Manusia mendapat akal budi dari Allah sang Pencipta untuk mendengar dan mendalami tuntutan-tuntutan etika sambil menguji mana yang patut dituruti.

Sesuai dengan 1Kor. 14, iman tidak meniadakan akal budi. Pembaharuan seluruh eksistensi manusia (yang.terjadi melalui anugerah pembaptisan), harus nyata secara khusus dalam pembaharuan budinya. Itu bukan hanya mencakup karakter atau pendirian orang Kristen yang bersedia memenuhi pola-pola etika umum tetapi dengan senantiasa mengasihi sesama sebagai ukuran (Mat. 22:39). Paulus dengan lebih tajam melihat dan meyakini bahwa pelayanan kepada dunia ini tidak boleh berarti hidup dan beraksi setara dengan dunia ini. Artinya, budi kristiani tidak mungkin selalu berorientasi kepada pola-pola atau pedoman-pedoman dunia ini atau masyarakat umum. Boleh jadi, bahwa apa yang berkenan kepada Allah setara dengan kehendak dan perbuatan dunia ini. Tapi apa yang berkenan kepada Allah boleh juga amat berbeda, sehingga keputusan dan perbuatan etis dapat dan harus menentang pola-pola dunia, melihat kondisi dan saat-saat tertentu. Dalam hal ini, pembaruan budi memungkinkan orang percaya untuk cermat memahami rahmat, waspada terhadap penggoda dan bertahan pada pencobaan.

Dengan demikian boleh disimpulkan bahwa orang Kristen yang sudah "dipindahkan" ke dalam dunia baru sering lebih sanggup menentukan tindakan yang tepat dan berkenan kepada Allah daripada orang yang hanya menguji "apa yang baik" menurut pedoman duniawi, dunia yang lama. Dengan kesanggupan tersebut, orang Kristen, atas nama kehendak Allah, dapat saja tidak setuju bahkan menentang niat-niat dan tujuan-tujuan dunia ini sambil berbuat apa yang nampaknya tidak bijaksana, tidak tepat, tidak masuk akal dan sikap itu memantulkan tindakan Allah yang menyerahkan AnakNya sampai mati di kayu salib (bnd. 1Kor. 1:18 dst.) Satu kebodohan untuk dunia, satu hikmat bagi mereka yang mengimani Kristus yang tersalib dan bangkit.

BAHAYA MENYESUAIKAN DIRI

Dunia diwarnai oleh perkembangan sains dan teknologi yang amat cepat melesat (dan terkadang meleset). Bahkan, perkembangan itu jauh lebih kencang melaju ketimbang kemampuan kita mengikutinya. Banyak ahli yang berpendapat bahwa yang lebih sulit bukan melanjutkan perkembangan sains dan teknologi, tetapi justru menghentikannya. Masalahnya ialah, bahwa keterampilan dan pengetahuan teknik manusia memadai tetapi yang kurang adalah hikmat dan kearifan.

Kita telah lumayan lama hidup dalam era remote control menggantikan sistem manual peralatan-peralatan. Celakanya, pada zaman ini juga begitu banyak orang yang dikendalikan oleh sebuah remote control entah oleh manusia, entah oleh produk tertentu, keinginan dan lain-lain yang menggerakkan manusia yang tidak memiliki pendirian teguh. Padahal, tidak puas dengan diri sendiri, secara psikologis (juga teologis) adalah sumber kejahatan.

Bagi manusia era globalisasi yang penting bukan pengembangan jati diri untuk semakin berkepribadian tetapi pengembangan gaya hidup yang semakin bergengsi, yang hanya mengejar nilai material bukan nilai kepribadian, manusia berjuang demi ‘harga diri’ bukan ‘makni diri’. Harga diri biasanya diukur berdasarkan suskses duniawi dengan kepemilikan harta, pengaruh, gelar akademis dan lain-lain; sedangkan ‘makna diri’ diuji berdasarkan kehadirannya untuk menjadi berkat, rujukan dalam kata-kata, pola berpikir, bersikap dan bertindak.

Menyesuaikan diri dapat menjadi satu bahaya besar. Dunia ini, (termasuk di dalamnya pemerintah, pembesar, pelayan gereja, tua-tua adat dll.) ingin dan bertekad agar kita menuruti pola-pola mereka. Padahal, Tuhan menghendaki kita membudayakan satu budi yang kritis.
Gereja juga terpanggil untuk kembali berpaling kepada Tuhan. Apa yang membedakan Yesus dengan Gereja? Yesus berpihak pada orang kecil, Gereja sering (malah mungkin biasanya) berpihak pada orang besar. Yesus hadir bagi mereka yang membutuhkan dengan pertolongan yang tepat; gereja cenderung menghadirkan siapa yang dibutuhkannya. Yesus terbuka bagi setiap dan semua orang, gereja asik dengan dirinya sendiri dengan tembok eksklusivitasnya. Yesus memberi diriNya untuk orang lain; Gereja cenderung hidup untuk dirinya, dan pada saat-saat tertentu bahkan tergoda memanfaatkan yang lain untuk diri sendiri. Beberpa hal untuk menjelaskan hal ini sebagai bahan refleksi.

  • Gereja-gereja dan orang Kristen Jerman tidak banyak yang menentang rezim diktator Adolf Hitler dan tidak berani membela hak azasi orang Yahudi-Jerman. Rezim Hitler membunuh sekitar 6 juta orang. Dewasa inipun Ada pula yang mengangkat diri atau kelompok yang bertindak sebagai ‘seksi kemalangan’ yang terus berkeliaran berupaya memangsa sesamanya melalui teror dan tindak kekerasan lainnya yang mengusik ketenangan dan kedamaian umat manusia.
    ¨
  • Begitu nyata di depan mata, bahwa bukan gereja dengan suara nabiahnya yang turut melengserkan diktator Suharto. Malah, mantan Ketua Umum PGI, pada waktu kursi kepresidenan sudah goyang, masih mengantar emas kepada presiden. Ada begitu banyak orang Indonesia menganggap dirinya sebagai korban pembangunan, korban globalisasi, korban koruptor sambil pasrah kepada nasib yang dianggap tidak dapat diubah.
    ¨
  • Konsumerisme a la Barat sudah merajalela di mana-mana. Dunia ini amat cekatan menyediakan dan menawarkan segala sesuatu untuk memenuhi selera dan keinginan dangkal manusia. Pikiran manusia berkeliaran di sekitar sukses duniawi, harta, kenikmatan, gengsi. Bersediakah orang Kristen untuk hidup secara alternatif?
    ¨
  • Wabah Korupsi, Kolusi, Kekerasan dan Nepotisme (K3N) sudah merasuk kian dalam dan luas di tengah masyarakat bahkan sudah merembes ke dalam kalangan gereja juga. Amat memprihatinkan dan menyedihkan, bahwa bantuan-bantuan kepada korban bencana pun tidak sampai pada sasaran di tengah mewabahnya JPS (Jangan Pegangnya Saja), bantuan pun dikomisi, dikorupsi bahkan dihabisi.¨
  • Adat (perkawinan, kematian, dll) yang cenderung menyengsarakan masih terus berlangsung. Yang menggembirakan ialah kenyataan bahwa Allah terus menerus memberi ruang dan peluang bagi gereja dan orang-orang Kristen untuk mengubah kebudayaan dan kebiasaan yang merugikan.
  • Bagi beberapa gereja, acara pembaptisan lebih merupakan peristiwa adat ketimbang perayaan gerejawi; upacara kematian seorang orangtua hampir ‘mematikan’ orang yang hidup karena di beberapa daerah biayanya sangat ‘mencekik leher’. Hanya dengan perubahan budi yang memungkinkan perubahan dalam masalah-masalah tersebut.
MEMBEDAKAN APA KEHENDAK ALLAH


Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, manusia terus bertarung dengan Allah tentang siapa yang memegang kendali. Berbudi baru berarti memilih Allah sebagai pemimpin dan pengendali ketimbang diri kita yang meragukan.

Berbudi baru menyanggupkan kita mengerti dan memberlakukan kehendak Allah. Kita sering menghadapi situasi yang kurang jelas atau samar. Akan tetapi, kehendak Allah tidak pernah samar. Semakin matang kekristenan seseorang, ia akan semakin sanggup mendalami kehendak Allah dan memahami apa yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan. Dalam kaitan ini, orang percaya mesti menanggalkan dan meninggalkan sikap mengandalkan pikiran sendiri, dan ‘mengenakan’ pikiran Kristus.

Banyak orang Kristen masa kini ingin mendapat "pengalaman rohani yang istimewa" sebagai manifestasi kehadiran dan tindakan Allah dalam kehidupan mereka. Tetapi Allah tidak hanya menyatakan diriNya melalui peristiwa ‘istimewa’ menurut pengalaman kita saja. Allah datang kepada kita dalam kehendakNya. Dalam setiap situasi yang rumit, kita perlu bertanya: apa Firman dan Kehendak Tuhan yang kita dengar, yang dapat kita terapkan, terhadap sesama, atasan, pemerintah, alam ciptaan dan lain-lain. Ini bukan hanya masalah pilihan konseptual tetapi juga (bahkan terutama) masalah pilihan pola hidup.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian serius dan tulus ialah kecenderungan terkutupnya gereja pada dua ekstrim, yakni institusionalisme di satu segi dan ritualisme di segi lain. Model institusionalisme nampak dari hidup dan gerak gereja yang terutama membenahi struktur yang agak ketat bahkan kaku dan berliku. Jadinya, pelayanan dijadikan sebagai alat menguatkan struktur, yang seharusnya ‘struktur’ gereja menjadi alat pelayanan. Corak institusionalisme menempatkan para pelayan gereja kurang lebih seperti ‘pegawai-pegawai agama’ dengan SK yang berisikan konsederansi hukum dan peratauran lengkap dengan tabel gaji beserta tunjangannya dan kurang menampakkan pesan Injil dalam SK dan ibadah penempatan pelayan gereja.

Sebaliknya, ritualisme memberi perhatian istimewa pada ibadah yang semarak dengan musik modern beserta penyanyi ‘kondang’ serta pengkotbah yang berapi-api dibarengi humor yang membuat para peserta merasa ‘enak’. Ibadah direduksi menjadi sebuah selera manusia. Di sini institusi tidak terlalu penting, verifikasi keuangan tidak masuk daftar utama, karena hamba Tuhan dipercayakan mengelola uang Tuhan. Sangat disayangkan, meski KKR begitu semarak namun KKN tidak kalah semarak juga.

Aliran kharismatik (yang ada juga kebaikannya) menurut Ulrich Beyer kurang memakai budi dan cara berpikir yang cerdas-kritis. Padahal, yang perlu ialah membudayakan pembaharuan manusia seutuhnya, badannya, jiwanya, otaknya, untuk melayani jemaat dan non-jemaat. Panggilan orang Kristen di Indonesia adalah mewujudkan keberadaanya sebagai garam dan terang dengan berbudi baru sebagai suatu sumbangan yang bermakna untuk membangun bangsa yang lebih bermartabat.

Di sinilah letak urgensi kesediaan gereja-gereja kita untuk dengan rendah hati mengadakan ‘telaah posisi’ dengan merenung, berefleksi, mengevaluasi keberadaannya. Gereja dan orang-orang Kristen tidak mulai dari dirinya sendiri, tetapi berpijak pada anugerah pembaharuan yang Tuhan telah lakukan. Gereja perlu menghindari diri menjadi sekadar obat bius atau obat penenang. Ia juga perlu amat hati-hati untuk tidak terjerumus berupaya hanya untuk disegani, diperhitungkan atau disalahgunakan menjadi sebuah kendaraan kepentingan seperti kepentingan politik dan lain-lain.

PENUTUP

Panggilan orang beriman ialah berubah atas anugerah pembaharuan Kristus atas diri manusia. Hal ini dapat dan mestinya dimulai dari diri sendiri. A. de Mello memaparkan suatu anekdot sebagai sentilan terhadap sikap ‘revolusioner’:[5]

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini:
Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa:
“Tuhan berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia”

Ketika aku sudah setengah baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: “Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas”.
Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat ajal sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: “Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri”.
Seandainya sejak semula aku berdoa demikian, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku.
------------------------------------------
[1] Sebelumnya pernah disampaikan sebagai Ceramah Tema pada Sidang MPL PGI Wilayah Sumatera Utara, Gunungsitoli, 11 Pebruari 2005
[2] Hermeneutik Roma 12 ini terutama mengacu pada uraian Prof. Dr. Ulrich Beyer dalam suratnya secara pribadi kepada Penulis bulan Oktober 2004.
[3] Andar Ismail, Selamat Panjang Umur, Jakarta: BPK, 1995, hlm. 30.
[4] Ibid, hlm 31.
[5] Anthoni de Mello, Burung Berkicau, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1986, hlm. 187

Saturday, May 19, 2007

Pengampunan yang menyembuhkan

(Tulisan berikut diambil dari buku: Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat)

Pengampunan yang Menyembuhkan[1]
(Bacaan: Kejadian 50:15-21)

Perang kepentingan telah meletus ribuan tahun silam dan “gencatan” senjata tak kunjung tiba. Dampaknya amat kentara di tengah-tengah kita: Bangsa ini telah berulangkali dirundung duka! Setidaknya kalau kita sadar bahwa belum lama ini ribuan orang telah mati tragis dalam perang antar agama di berbagai wilayah di tanah air. (Jadi, tidak tepat kalau disebut hanya konflik antar etnis!). Yang terjadi adalah pertumpahan darah. Persatuan kian terancam menjadi persatean, dimana manusia seolah kesetanan saling bunuh.

Para pelaku kejahatan barangkali masih menganggap dirinya sebagai manusia, namun sesungguhnya mereka telah memerankan dan memamerkan kebinatangbuasannya. Kersajama dan hidup bersama yang sudah pernah mulai tumbuh berulangkali pula layu oleh panasnya geram berbagai pihak. Ini amat memilukan hati dan juga sangat memalukan. Bangsa yang tadinya terkenal santun berubah menjadi sangar dan kasar.

Dalam lingkup global kita juga berhadapan dengan aneka derita yang menerpa umat manusia. Di banyak tempat, penghargaan terhadap hak asasi manusia menciut dan alam pun turut menanggung sengsara yang tidak tangung-tanggung. Berbagai roh zaman kian mencengkram dan mencabik-cabik kehidupan. Berbagai penyakit sosial telah menjangkit ke seantero bumi.

Satu hal yang kiranya menyejukkan hati serta memberi pengharapan kepada kita di tengah suasana seperti ini adalah kenyataan bahwa: Allah yang menyapa dan menolong Yusuf ribuan tahun yang lalu adalah Allah yang hidup, menyapa, berkarya dan menolong kita sampai detik ini –sampai pada saat Anda membaca renungan ini. Sekiranya pengakuan demikian amat sulit bagi kita, marilah kita mohon kiranya Tuhan menumbuhkan kesadaran demikian dalam hati kita.
Barangkali pertanyaan kita (dan mungkin merupakan pertanyaan banyak orang ) dewasa ini adalah: jika Ia adalah Allah yang berkuasa mengapa Ia tidak mengubah keadaan ini, padahal Ia mampu berbuat sesuatu? Saat ini kiranya kita bersedia mengubah pertanyaannya menjadi demikian, “Mengapa manusia membiarkan permusuhan, kesadisan dan peperangan terjadi, padahal Tuhan telah menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk mengubah situasi? Artinya, daripada meragukan kuasa Allah lebih baik menggugat diri kita sendiri dan menggugat tindak kekejaman anak-anak zaman ini.

Saudara-saudara Yusuf tiba pada suasana penyesalan berbaur rasa takut. Rasa takut ini bersumber pada asumsi mereka bahwa Yusuf membenci mereka dan ingin membalas dendam. Nampak jelas di sini bahwa kebencian mereka terhadap Yusuf ketika mereka menjualnya sangat nyata, tetapi “kebencian” Yusuf kepada mereka hanyalah angan-angan mereka saja.

Inilah pertama kali saudara-saudara Yusuf menyadari kesalahan mereka. Sepintas lalu nampaknya mereka menyesal hanya karena terpaksa dan terdesak. Namun yang terpenting kita simak adalah kenyataan bahwa mereka (1) mau mengaku bersalah (2) mau menyesali perbuatannya (3) mengusahakan rekonsiliasi (perdamaian).

Yusuf bertindak dengan sangat bijaksana. Ingatlah juga bahwa ia telah melewati dua pencobaan besar dengan gemilang, yang tidak semua orang berhasil menghadapi godaan serupa. Pertama, menolak godaan istri Potifar. Kedua, menolak penyalahgunaan kuasa. Hal ini akan lebih jelas bagi kita dengan memahami bagaimana Yusuf berhadapan dengan tiga “masa”:

(1) Masa silam: kejahatan saudara-saudaranya yang mungkin saja menggores hatinya. Tetapi, di samping itu, ia juga melihat karya Allah dalam setiap peristiwa masa lalu, yang menuntun hidupnya ke arah yang baik. Artinya, perbuatan Tuhan terukir indah dalam sanubarinya. Ketika luka lama (berupa sakit hati, amarah terpendam rasa dendam, dan sebagainya yang menguasai kehidupan, maka hidup pun akan macet dan tidak akan berbuah. Tetapi ketika luka lama sembuh oleh kesabaran, pengampunan dan semangat persaudaraan sejati maka kebahagiaan pun dengan segala buah-buah yang baik akan menjadi bahagian dari kehidupan.
(2) Masa kini: Ia berhadapan dengan saudara-saudaranya secara langsung, yang datang dengan rasa takut. Tetapi Yusuf adalah orang yang takut akan Allah dan ia sedang berhadapan denganNya. Orang yang takut akan Allah tidak perlu ditakuti! “Allahkah aku?”, kata Yusuf. Ia tidak mau mengambil alih hak khusus Allah, yakni: pembalasan. Sebab, pembalasan hanya hak ‘prerogatif’ Allah.
(3) Masa depan: Ia mengatakan, “Aku akan menanggung makananmu dan makanan anak-anakmu” (ay 2). Yang tadinya ditodong, kini berperan sebagai penolong! Hal ini harus kita lihat dalam rangkaian kesadarannya akan pertolongan Allah, bukan atas kekuasaannya pribadi. Dengan demikian, Allah tetap menjadi pusat perhatiannya dalam menghadapi apa dan siapa pun.

Dulu, saudara-saudara Yusuf mengukur kemanusiaan Yusuf sekadar barang “komoditi” yang dapat dijual untuk mendapatkan uang. Tetapi, sekarang Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya sebagai manusia yang berharkat. Ia tidak memendam dendam mentang-mentang ia berkuasa. Memang kesempatan untuk membalas dendam sangat terbuka dan mudah baginya. Ia punya kuasa, harta, dan senjata. Hal ini mengingatkan kita bahwa ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kuasa yang dimilikinya bersumber dari Tuhan, ia akan menjalankannya atas dasar takut akan Tuhan. Yusuf menempatkan diri pada jalan Allah. Kalau Allah mau mengampuni, apakah hak kita memendam dendam? Rasa dendam menghancurkan tetapi pengampunan menyembuhkan dan merawat kehidupan.

Pengampunan Yusuf kepada saudara-saudaranya nampaknya tidak tergerak terutama karena hubungan darah selaku anak-anak Yakub, dan bukan pula atas rumusan kata-kata penyesalan saudara-saudaranya, melainkan terutama, ya terutama, karena kesetiannya kepada Allah. Pengampunan itu bahkan sudah terjadi sebelum saudara-saudaranya memintanya.

Sapaan Yusuf sangat meneguhkan hati, “jangan takut!”. Sapaan yang sangat tepat waktu di kala saudara-saudaranya disesah rasa bersalah dan dibelenggu rasa malu dan takut. Ia bahkan sudah mengatakan hal yang sama sebelumnya (Baca Kej 43:23). Yusuf menunjukkan sikap sebagai sahabat dan bukan sebagai musuh yang siap membabat. Saudara-saudara Yusuf siap akan kemungkinan mendapat hukuman, sebaliknya Yusuf siap dengan perdamaian.

Perhatikan bahwa ia tidak mengatakan, “jangan minta!” atau “jangan katakan kamu bersalah!” –seolah-olah Allah membenarkan dan memakai kejahatan saudara-saudaranya itu untuk tujuan baik. Allah dapat saja mengangkat Yusuf menjadi pengurus kerajaan tanpa tindakan jahat saudara-saudaranya. Tetapi, mereka benar-benar telah bersalah! Yusuf sama sekali tidak membenarkan tindakan itu. Kesalahan harus diakui sebagai kesalahan! Perkataan “jangan takut” berarti, “kamu memang bersalah, tetapi saya tidak akan membalaskannya!” Mengapa? Yusuf tidak sama dengan Allah. Pembalasan hanya ada pada Allah (Ul 32:35). Allah juga beberapa kali berfirman, “jangan takut!” (Lihat 15:1; 21:7; 26:24; 46:3). Yusuf hanya sebagai alat Allah dan tidak pernah menjadi pengganti Allah. Karena itu, percaya kepada Allah berarti hidup seturut dengan kehendakNya.

Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan merupakan keteladanan yang sangat berharga dari Yusuf. Ia akan menyediakan kebutuhan saudara-saudaranya. Yusuf betul-betul menggantikan ketakutan mereka menjadi kecukupan dan kegembiraan. Ini terkait erat dengan iman Yusuf kepada Allah. Jaminan ini tidak mengemuka berdasarkan kemampuannya sendiri, melainkan atas keyakinan akan pemeliharaan Allah.

Dalam dunia yang penuh kelaliman hal ini di luar kelaziman. Sejarah amat sarat dengan peristiwa di mana para penguasa secara leluasa memangsa setiap orang yang dianggap “saingan”. Kita mendengar bahkan menyaksikan orang yang mabuk kuasa yang tidak saja memangsa musuh-musuhnya tetapi juga menghabisi orang-orang lemah yang berjuang hanya untuk sesuap nasi. Untuk meraih kekuasaan seringkali calon penguasa begitu menghormati masyarakat melalui kata-kata manis tetapi setelah mendapat kursi dan posisi, akhirnya korupsi dan kolusi menjadi prioritas utama. Anggota masyarakat yang tadinya dihormati dengan kata-kata manis berubah menjadi sekedar “barang dagangan”.

Belajar dari firman Tuhan ini kiranya pantas kita simak bahwa ketika Allah mengisi dan menguasai hati kita –sama seperti Yusuf-- maka pengampunan akan mengalir seperti air yang menyejukkan dan menghidupkan. Ini perlu mendapat perhatian kita secara khusus karena perdamaian dan persaudaraan sejati hanya dapat terbangun atas dasar “pengampunan yang aktif”. Pengampunan yang aktif dimaksudkan sebagai pengampunan yang tidak membenarkan apalagi membiarkan segala tindak kejahatan. Tetapi juga merupakan tanggung jawab kita untuk memberi tempat bertumbuhnya kesadaran dan persaudaraan. Kebencian membunuh kreativitas, memandulkan rasa persaudaraan dan menghambat pertobatan.

Peristiwa ini sama sekali tidak mengabsahkan berbagai tindakan “menjual” sesama pada zaman ini dengan harapan bahwa Tuhan akan memakai kesempatan itu sebagai proses pelatihan seseorang menjadi pemimpin yang tangguh. Juga, tidak menganjurkan agar kita merelakan diri dijual, dengan harapan bahwa pada akhirnya toh kita akan mempunyai tahta dan harta. Malah kita harus menentang setiap praktek memperjual-belikan sesama manusia dengan tujuan apa pun.
Sekarang dan di masa depan peran kita akan amat beragam. Perlu kiranya disadari bahwa masa depan hanya dapat terbangun melalui ketaatan total kepada Allah. Karena itu, setiap saat mestinya merupakan kesempatan yang penuh rahmat bagi kita untuk memperlengkapi diri kita dengan memperteguh iman, mempertajam kepekaan sosial, dan berjuang dengan sungguh-sungguh.

REFLEKSI PRIBADI ATAU DISKUSI BERSAMA

1. Setelah mengamati kenyataan kehidupan di sekitar kita:
? Sebutkanlah bentuk-bentuk penghianatan dan praktek “penjualan” sesama yang terjadi dalam masyarakat kita?
? Dalam situasi konkret yang kita hadapi, apa saja yang memberi pengharapan kepada kita berdasarkan iman dan kesadaran kita bahwa Allah sedang melakukan sesuatu untuk mendatangkan kebaikan?
? Pengampunan Yusuf kepada saudara-saudaranya menyembuhkan dan memulihkan persaudaraan. Dalam keadaan masyarakat kita yang sedang menderita penyakit sosial yang sangat parah (karena permusuhan dan peperangan), bagaimana pengampunan kita pahami dan terapkan secara konkret?
2. Dalam kondisi masyarakat kita yang diwarnai oleh berbagai ketidakadilan, ada beberapa kemungkinan posisi kita, di antaranya adalah: (1) Korban ketidakadilan, dimana hak-hak kita diabaikan, ada yang berjuang atetapi ada juga yang pasrah; (2) Pelaku langsung ketidakadilan: pelaku Korupsi, Kolusi, Kekerasan dan Nepotisme (K3N), menjual sesama, dan sebagainya. (3) Pelaku tidak langsung ketidakadilan, tetapi dibesarkan oleh hasil ketidakadilan, misalnya orangtua kita pelaku K3N, menindas dan ‘menjual’ orang lain. (4) Bukan korban dan bukan pelaku ketidakadilan, tetapi tidak perduli terhadap masalah ketidakdilan, atau hanya sebatas penonton yang setia. (5) Bukan korban dan bukan pelaku ketidakadilan serta terlibat dalam usaha-usaha advokasi.
Dengan pertolongan Tuhan, temukan dan renungkanlah posisi Anda, kemudian diskusikan bagaimana peran kita melawan ketidakadilan.
[1] Pernah disampaikan pada Pemahaman Alkitab Konferensi Pemuda HKBP (2000) di Sidikalang

Comment:
Ferdinand Nainggolan said:

Amang Pdt. Victor Tinambunan, PhD ( Candidate ) Yth. Sepakat penghinaan dan penindasan menghancurkan perasaan, tetapi pengampunan menyejukkan hati. Tuhan memakai Amang melalui tulisan dan pemberitaan firman Tuhan. Tuhan memberkati
August 8, 2007 11:30 PM

Terima kasih amang Dr Nainggolan atas comment, dorongan dan doanya. Salam

Orangtua dan Anak


Orangtua dan Anak:
Kuasa atau Kasih?
[1]

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)

Kelahiran dan kehadiran seorang anak dalam keluarga merupakan salah satu peristiwa dimana Allah menyatakan kehadiran dan karyaNya yang masih sedang berlangsung. (Tidak berarti bahwa Allah tidak bekerja di tengah keluarga yang tidak atau belum memiliki anak.) Karena itu, menyambut seorang anak adalah menyambut anugerah Tuhan dengan sukacita dan ucapan syukur. Sebagai anugerah, mereka harus dibesarkan dalam keramahan dan bukan kemarahan.

Sekilas pandang, ada yang aneh di sini. Mengapa Paulus berbicara tentang hubungan orangtua dan anak? Jelas, tidak menjadi soal apakah Paulus mempunyai pengalaman mendidik anak atau tidak. Yang paling penting adalah bahwa Paulus mengingat anak-anak yang tidak dilupakan oleh Kristus. Paulus peduli kepada anak-anak karena Kristus peduli kepada mereka. Paulus benar-benar mengikut Kristus dan karena itu ia sungguh-sungguh bergerak seirama dengan gerak Kristus. Tuhan Yesus telah dan sedang menunjukkan kepedulian dan kasihNya kepada anak-anak. RangkulanNya yang begitu hangat dan bersahabat memungkinkan anak-anak bertumbuh dalam suasana rahmat. Dalam hal ini, anak-anak tidak terutama dilihat dari segi “kepemilikan” orangtuanya tetapi dari kepemilikan Kristus; tidak terutama dilihat sebagai tanggungan orangtua tetapi tanggungan dan pemeliharaan Kristus.

Dalam kaitan itu, keluarga merupakan persekutuan iman dengan segala perwujudannya. Artinya, keluarga merupakan jemaat; dan jemaat –sebagaimana disebut oleh Paulus—merupakan satu tubuh dan Kristus adalah kepala. Ketika Kristus menjanjikan dan menjamin: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, itu berlaku juga untuk keluarga; sampai pada hari ini!

PANGGILAN ORANGTUA: TERBUKA KEPADA KRISTUS

Ayat 4 dimulai dengan “jangan membangkitkan amarah…”, tidak dimulai dengan pernyataan positif “didiklah mereka”. Berbeda dengan ayat sebelum dan sesudahnya, yang dimulai dengan pernyataan: “hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan” (ay 1); hai hamba-hamba, taatilah tuanmu…” (ay 5) ”. Perlakuan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak seperti itu mungkin sedang menggejala atau bahkan merajalela ketika itu, sehingga seruan “jangan” lebih mengemuka.

Kepemimpinan seorang bapak yang otoriter biasanya ditandai dengan dua pasal “undang-undang dasar” yang berlaku dalam keluarga.

Pasal 1: Bapak tidak pernah salah.
Pasal 2: Jika bapak salah, berlakukan
pasal 1: bapak tidak pernah salah.

Itu sebabnya ada orangtua yang tidak pernah bersedia meminta maaf kepada anaknya. Tidak heran juga, jika ada anak-anak yang lebih bergembira dan merasa bebas kalau mereka berpisah dengan orangtuanya untuk sementara waktu. Ini merupakan salah satu pertanda pudarnya keakraban di tengah keluarga.

Generasi muda yang memendam amarah dan kebencian dalam hatinya --dan karena itu hidupnya dikendalikan oleh amarah dan kebencian-- menjadikan mereka tertutup kepada Allah, tertutup kepada kebenaran, dan –celakanya—tertutup terhadap kehidupan itu sendiri. Mereka akan cenderung mencari “keakraban” di luar rumah seiring dengan lenyapnya keakraban di dalam keluarga. “Keakraban” di luar rumah ini sering mewujud dengan mengkonsumsi narkotik dan obat terlarang. Ini merupakan semacam “bunuh diri kredit” (angsuran kematian) yang menghancurkan masa depan mereka.

“Jangan membangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu”! Mengapa? Bisa saja anak-anak tidak mengungkapkan kemarahannya tetapi menyimpannya dalam hatinya yang pada gilirannya berkembang menjadi kebencian dan penolakan kepada orangtuanya. Jika kemarahan bersarang dalam hati anak-anak, maka kepatuhan mereka terhadap orangtuanya pun tidak akan tergerak oleh kesadaran dan ketulusan. Mereka berhadapan dengan orangtua yang ‘ditakuti’ karena ‘kuasa’ bukan orangtua yang disegani dan dihormati karena wibawa: yaitu wibawa karena meneladani Kristus dalam kasih dan kepedulianNya kepada anak-anak.

Keluar an 20:12 yang berbunyi, “hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu”, merupakan “standar sosial” umat Israel. Bedanya, pada zaman Paulus, peranan kasih orangtua sangat ditekankan. Sebab, sangat sulit (kalau tidak mustahil) ‘menuntut’ anak-anak menghormati orangtuanya, jika ia tidak mendapat kasih sayang orangtuanya. Orangtua, sebagaimana dinasihatkan disini, adalah orangtua yang tidak terutama menuntut rasa hormat dari anak-anak tetapi menuntut diri sendiri untuk mengasihi dan memberi teladan kepada anak-anaknya.

Salah satu godaan yang bisa saja menghinggapi orangtua adalah menuntut anak-anak dengan mengatakan “lakukan seperti yang saya katakan!” bukan “lakukan seperti yang saya lakukan!” (teladani apa yang saya lakukan!). Kepatuhan yang tulus dari seorang anak kepada orangtuanya dimungkinkan dalam suasana penuh kasih antara orangtua dan anaknya.

Nasihat yang segar hanya dapat mengalir dari hati yang tenteram dan sejuk. Dalam hal ini, orangtua perlu memohon agar Tuhan menganugerahkan “lidah seorang murid” (Yes 50:4). Menyampaikan nasihat memang sulit, tetapi dengan ‘lidah seorang murid’ orangtua dapat mengkomunikasikan sesuatu dengan baik kepada anak-anaknya. Yang jauh lebih sulit adalah memberikan keteladanan. Sebab, seribu nasihat bisa saja tidak bermakna apa-apa tanpa satu keteladanan. Artinya, nasihat tidak terbatas pada kata-kata saja tetapi hidup yang meneladani Kristus, yakni: meneladani Kristus yang lemah lembut dan ramah (2 Kor 10:1), mengasihi, mengampuni, memberi perhatian kepada orang-orang kecil; memberi hidup, dan juga bersikap tegas dan keras menentang kemunafikan dan ketidakadilan.

Orangtua yang tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak adalah orangtua yang membuka hatinya untuk ditenteramkan oleh Tuhan; hati yang diisi dengan hukum kasih yang dari Tuhan; orangtua yang meneduhkan dirinya dalam perlindungan Tuhan. Dalam hal ini posisi anak dan orangtua sama, yakni: sama-sama sebagai anak dan murid Tuhan Yesus. Karena itu, semua orang pantas dihargai dan dihormati.

Mendidik “dalam ajaran dan nasihat Tuhan”, juga berarti “bersama-sama dengan Tuhan”. Tuhan tetap pemilik anak. Tuhan tetap berperan sebagai pemelihara anak. Disini, orangtua berperan sebagai “rekan sekerja Tuhan”.

Tugas panggilan orangtua tidak hanya sekadar mengajar “tentang” Kristus kepada anak-anak, tetapi (dan terutama) bersama-sama datang kepada Kristus. Orangtua dan anak-anak bersama-sama terbuka kepada Kristus! Hanya dengan demikian orangtua dapat menasihati dari kedalaman hati: hati yang disentuh dan didiami oleh Kristus. Sebab, sesungguhnya orangtua yang layak didengar adalah orangtua yang mau dan mampu mendengar Kristus dalam hidupnya. Yang layak ditaati adalah orangtua yang taat kepada Allah.

Nasihat “didiklah” (tidak dikatakan “ajarlah!”), juga berarti “bawa atau arahkan meneladani Kristus”. Dan nasihat ini terkait erat dengan disiplin, baik dalam “kata” maupun “perbuatan”. Disiplin (ada hubungannya dengan disciple) artinya: hidup sebagai seorang murid, yang dalam hal ini sebagai seorang murid Kristus. Sosok orangtua yang layak mendidik anaknya, sebagaimana digambarkan Paulus di sini, adalah orangtua yang berdisiplin, yang bertindak sebagai murid Kristus juga. Jadi, didikan orangtua tidak sebatas agar anak berdisiplin soal waktu, tahu tata krama dsb, tetapi terutama menyangkut iman dan ketaatannya kepada Tuhan. Jika demikian, anak-anak pun akan terbimbing untuk melihat dan memperlakukan orangtuanya sebagai “tangan” Allah. Kepatuhannya juga akan senantiasa digerakkan oleh kepatuhan kepada Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru peranan “pendidik” (paedagogos) umumnya berperan mendampingi seorang anak ke sekolah, menjaga agar terhindar dari bahaya, mengawasi tingkah lakunya di sekolah, di jalan, mengajar soal moral dan sebaginya. Paedagogos yang baik adalah perpaduan fungsi seorang perawat, pendamping dan pembimbing. Inilah salah satu tugas utama orangtua seirama dengan karya Kristus yang merawat, mendampingi dan membimbing anak-anak.

Hal ini mengingatkan kita kepada salah satu pertanyaan yang harus dijawab orangtua ketika membawa anaknya untuk dibaptiskan yang berbunyi: “Apakah saudara-saudara bersedia membimbing anak-anak ini agar mereka mengetahui dan melakukan firman Allah?” Orangtua menjawab, “ya saya bersedia”. “Mengetahui” dalam konteks ini, juga dimaksudkan agar anak-anak “merasakan karya Allah melalui seluruh kehidupan orangtuanya”. Anak-anak merasakan kasih Kristus melalui kasih orangtuanya.

PENDIDIKAN: MENELADANI KRISTUS

Ajaran dan nasihat Tuhan sebenarnya menyatu dalam “kasih”. Kasih di sini tidak saja sebatas hubungan interpersonal “aku-engkau”, tetapi kasih yang menjangkau setiap dan semua manusia. Dapat kita catat bahwa Hitler, yang sadis itu, misalnya sangat ‘mengasihi’ keluarganya. Ia bahkan berdoa dan membaca Alkitab secara rutin bersama keluarganya. Tetapi ia begitu sadis hingga membunuh banyak orang. Inilah bentuk “kasih” yang tidak menjangkau orang lain. Orang yang terbuka kepada Kristus selalu anti terhadap segala sesuatu yang merusak kehidupan. Orang yang terbuka kepada Kristus, selalu terbuka kepada sesama manusia yang di tengah-tengah mereka Kristus berkarya.

Mendidik dalam ajaran dan nasihat Tuhan, mencakup pendidikan kepekaan anak terhadap karya Kristus menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini. Dalam kerangka kepedulian ini juga dibutuhkan sikap “kritis” yaitu menguji segala sesuatu dalam terang kehendak Kristus.

Pertanyaannya adalah, “apakah gerak keluarga kita memang sesuai dengan gerak pembebasan Kristus?” Pengakuan keluarga akan tindakan Kristus yang adil, mejadi dasar bagi kemampuan keluarga memihak kepada keadilan dan kebenaran. Jika satu keluarga sungguh-sungguh berhadapan dengan Kristus yang memberi diriNya bagi kehidupan manusia, maka keluarga itu juga akan bertindak seturut dengan pembebasan Kristus di dunia ini.

Dari keseluruhan perenungan di atas, yang kita pahami bersama Rasul Paulus adalah bahwa didikan kita mesti bertolak dari keterbukaan akan Kristus. Keterbukaan ini, akan nyata dalam kesediaan orangtua memperlakukan anak-anak sebagaimana Kristus memperlakukan mereka. Di situlah seluruh kehidupan keluarga bergerak dan punya arti!

Akhirnya, ijinkanlah saya mengajak pembaca yang budiman untuk berbicara dalam keterbukaan akan Kristus, merenungkan di hadapanNya beberapa pertanyaan ini.

1. Apakah dalam hidup bapak dan ibu pernah mengalami seolah-olah peristiwa pendidikan Tuhan tidak terjadi dalam keluarga kita? Mengapa!
2. Pernahkan terjadi, bahwa bapak dan ibu begitu bergairah atau bersemangat menasihati anak-anak atau generasi muda, tetapi jauh dari Kristus?
3. Apakah ada gerak dalam keluarga kita yang menyuburkan sikap di mana kita tidak terlibat dalam gerak Kristus yang peduli terhadap kehidupan sesama kita?
4. Apakah kita terbuka pada penyegaran kembali akan kasih, nasihat dan ajaran Kristus? Bila demikian, penyegaran ini akan kita temukan di saat kita mengasihi anak-anak dan generasi muda.
[1] Sebelumnya pernah disajikan sebagai pengantar Pemahaman Alkitab pada Sinode Agung HKBP (2000)

Masalah Kekerasan

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)
Ditinjau dari Ajaran Martin Luther
[1]


Jika setiap keluarga menyapu halaman rumahnya,
Maka seluruh kota akan bersih.

(Pepatah Jerman)

PENGANTAR

Reformator Luther amat prihatin terhadap masalah para orangtua dan kaum muda pada zamannya, yang ia sebut tidak terkendalikan. Luther berkata, “Orangtua juga tak banyak gunanya. Orang tolol justru mendidik orang tolol. Anak-anak mereka hidup sama seperti orangtuanya”[2] Berkaitan dengan keprihatinan itu Luther berusaha mengajak para orangtua dan anak-anak untuk sungguh-sungguh berpaling pada Allah dan menghayati firmanNya dengan benar.
Luther tidak saja mengajak atau menasihatkan, tetapi ia menghidupi apa yang ia imani dan melakukan apa yang ia katakan. Ia berdoa setiap pagi dan setiap ada kesempatan, dengan Doa Bapa kami, Kesepuluh Firman, Pengakuan Iman Rasuli, membaca mazmur, bahkan membaca katekismus juga.

PERNIKAHAN

Akhir-akhir ini tidak sedikit keluarga yang kandas pada perceraian. Kenyataan ini lebih parah di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan lain-lain yang tingkat perceraiannya sangat tinggi. Di negara-negara tersebut terdapat banyak single parent yang berdampak buruk pada perkembangan dan kepribadian anak-anak di tengah keluarga. Pengalaman serupa sudah mulai melanda Indonesia, terutama di kota-kota termasuk di dalamnya keluarga-keluarga Kristen.

Dalam sebuah ‘kotbah pernikahan’ yang disampaikan oleh Luther, ia menekankan ‘kasih’ sebagai nilai dan pengikat tertinggi sebuah pernikahan. Pernikahan adalah sebuah perjanjian kesetiaan.[3] Luther menekankan perlunya pendampingan pra-nikah, baik dari orangtua maupun dari Gereja. “Janganlah seseorang buru-buru menikah sebelum memahami hukum Tuhan dan sebelum dapat berdoa dengan baik.”[4]

Seperti sudah disinggung sebelumnya, bahwa seluruh uraian Luther tentang pernikahan mencerminkan bahwa ia menjungjung tinggi kesetaraan. Hal ini terlihat misalnya dengan kata kunci saling. Di antaranya:

- “Sungguh penting suami dan istri hidup bersama-sama dalam kasih dan kerukunan, sehingga mereka saling memperhatikan dengan sepenuh hati dan benar-benar setia satu sama lain (saling setia)”[5]
- Luther menegaskan bahwa “Paulus terus menerus mengingatkan para suami dan istri untuk saling mengasihi dan menghormati”.[6]

Apa yang diungkapkan oleh Luther perlu mendapat perhatian khusus keluarga Kristen dewasa ini. Data-data menunjukkan bahwa tingkat perceraian keluarga Kristen meningkat dari tahun ke tahun (terutama di kota-kota).

ORANGTUA TERHADAP ANAK

Tidak diragukan bahwa Martin Luther sangat memberi perhatian pada anak-anak. Ia menyusun Katekismus untuk mengajar anak-anak dan orang awam agar bertumbuh dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan.

(1) Tugas Orangtua

Usaha utama para orangtua adalah menasihati dan membina anak-anak untuk menjunjung tinggi Firman Tuhan. Tugas ini sudah ditegaskan secara khusus ketika orangtua membawa anaknya untuk dibaptiskan.

Luther menegaskan, hendaknya orangtua tidak mempersiapkan anak-anaknya hanya untuk menyenangkan dunia dan menjadi kaya, tetapi sejak dini harus dipersiapkan menjadi seorang Kristen yang baik.[7] Penegasan Luther ini perlu mendapat perhatian khusus para orangtua dewasa ini di tengah kecenderungan banyak orangtua yang lebih memikirkan pendidikan anaknya supaya kelak mendapat pekerjaan, jabatan dan menjadi kaya, tetapi kurang menekankan pendidikan karakter dan nurani. Hal ini amat kentara dengan hilangnya persekutuan doa di keluarga dan kurangnya keaktifan kaum muda dalam mengikuti ibadah di gereja.

Dengan tegas Luther mengatakan, “Setiap kepala keluarga harus mengingat bahwa oleh pesan dan perintah Allah mereka wajib mengajar dan mengusahakan agar anak-anak mereka mempelajari apa yang seharusnya mereka ketahui. Mereka hendaknya aktif dalam perayaan Perjamuan Kudus.[8]

Para orangtua juga hendaknya mengharuskan anak-anak dan pemuda untuk aktif dalam ibadah Minggu. Sebab, hari Minggu dimaksudkan juga untuk memberitakan firman Allah kepada kaum muda dan orang banyak (Penjelasan Hukum Taurat IV). Seruan Luther tidak mendapat tempat sepantasnya pada orang-orang Jerman hingga hari ini, terbukti dengan kehadiran peserta kebaktian di gereja-gereja Jerman yang sangat sedikit jumlahnya. Kenyataan ini hendaknya tidak terjadi pada gereja-gereja di Indonesia.

Sebuah hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa rata-rata Kecerdasan Intelektual (IQ) generasi sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan satu generasi sebelumnya, tetapi Kecerdasan Emosional (EQ) generasi sebelumnya lebih baik ketimbang generasi sekarang. Hal ini dapat dimengerti mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan fasilitas generasi sekarang lebih baik seperti adanya komputer, internet dan sebagainya yang sebelumnya umumnya tidak digunakan oleh orangtua mereka. Tetapi perbaikan berbagai fasilitas yang ada itu tidak serta merta diimbangi dengan pendidikan karakter generasi muda. Itu sebabnya ada kesan bahwa anak-anak atau pemuda sekarang lebih tidak peduli, memiliki tata krama yang rendah dan sebagainya dibandingkan dengan orangtua mereka.

(2) Metode Pendidikan Anak

Ada begitu banyak kasus kekerasan terhadap anak, walaupun terkadang dikemas dalam slogan demi pendidikan anak. Tidak sedikit anak yang mengalami tindak kekerasan di tengah keluarga, mengalami kekerasan juga di lingkungan sekolah oleh guru, bahkan –ironisnya—ada pula anak-anak sekolah Minggu yang dipukul oleh guru Sekolah Minggu supaya diam dan tenteram. Di manakah tempat yang aman bagi seorang anak yang mengalami hal demikian setiap hari?

Luther menekankan bahwa cara pendidikan anak-anak dan kaum muda hendaknyalah dengan cara sederhana, ramah, gembira dan bergurau (Lihat uraian Luther tentang Hukum Taurat II). Itu artinya menghindari segala bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik (memukul, menjewer dan sebagainya) dan kekerasan psikologis: mengancam, menakut-nakuti, menghina, merendahkan dan sebagainya).

Luther menganjurkan agar setiap kepala keluarga wajib menanya anak-anaknya sekurang-kurangnya sekali seminggu untuk melihat apakah mereka telah mempelajari katekismus dan sejauh mana mereka mengetahuinya. Orangtua perlu melatih anak-anak untuk mengulangi setiap hari, ketika mereka bangun tidur, ketika mereka hendak makan dan ketika mereka hendak tidur malam.[9] Luther sendiri menerapkannya kepada anaknya.[10]

Sebagai tambahan, orangtua dapat mengajar anak-anak dengan mazmur dan kidung pujian yang didasarkan pada Katekismus, untuk meresapkan apa yang telah mereka pelajari, supaya kaum muda dituntun kepada Kitab Suci dan makin berkembang setiap hari.

Jika orangtua gagal mendidik anaknya, Luther menganjurkan agar orangtua meminta pertolongan orang lain. Semua usaha perlu ditempuh karena, seperti Luther katakan, ‘anak-anakmu adalah gereja, mimbar, dan perjanjian”.[11]

Apa yang dikemukakan oleh Luther secara tidak langsung berpadanan dengan kerinduan Mahatma Gandhi yang dengan amat mengesankan mengatakan sebagai berikut.

Kalau kita berusaha untuk menciptakan damai di dunia ini, kita harus mulai dengan anak-anak. Dan kalau mereka bertumbuh dalam keluguan alaminya, kita akan memperoleh buah-buah yang dicita-citakan dan kita akan hidup dengan memiliki semangat kasih agar mampu menjadi mengasihi dan memiliki semangat damai sehingga mampu menjadi pencipta perdamaian, hingga akhirnya semua sudut penjuru dunia diliputi oleh perdamaian dan kasih, yang entah disadari atau tidak disadari merupakan kehausan seluruh jagat raya ini.[12]

Dapat ditambahkan bahwa keberadaan anak di tengah keluarga, bukanlah sebagai aset atau sebuah alat pencapaian cita-cita orangtua semata. Sebagai yang demikian, segala unsur pemaksaan ‘memformat’ anak sepenuhnya menurut kehendak orangtua (biasanya disebut dengan mental pigmalion) mesti dihapus dari kamus keluarga.

Seorang pakar dan pemerhati pendidikan terkemuka di Indonesia, D. Drost, SJ., misalnya menyebut beberapa kesalahan yang cukup sering dibuat orangtua, yakni:[13]
¨ Menuntut Sekolah TK mengajarkan berhitung dan membaca, dan menuntut SD mengajarkan bahasa Inggris.
¨ Menyuruh anak SD yang peringkatnya biasa-biasa saja mengikuti bimbingan belajar dan mencarikan guru les untuk meningkatkan peringkatnya.
¨ Memaksa anak TK dan SD masuk les musik dan tari, padahal anak tidak berbakat.
¨ Mencarikan anak SLTP guru-guru les supaya peringkatnya tinggi.
¨ Memaksa anak SLTP masuk SLTA yang terlalu berat.

Semuanya itu, masih menurut Drost, memperlihatkan bahwa orangtua tidak menerima anak apa adanya. Anak bukan anak itu lagi, tetapi rekaan orangtua. Tidak lagi demi kebahagiaan anak, tetapi demi kepuasan orangtua. Itu bukan bimbingan, melainkan penggiringan.
Dapat dibayangkan bagaimana seorang anak akan merasa tertekan bahkan frustrasi dengan penggiringan demikian. Konsekuensinya, anak akan bertumbuh dalam suasana tertekan dan kehilangan kegembiraan sebagai salah satu penghambat pertumbuhan kepribadian dan karakter yang sehat.

Dapat ditambahkan bahwa apa yang diungkapkan oleh Dorothy Nolte berikut dapat menjadi pertimbangan bagi para orangtua dalam pendidikan anak:[14]
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dalam permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.
Jika anak diajarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,
Ia belajar menemukan cinta dan keadilan.

Yang hendak dikemukakan di sini ialah pentingnya orangtua memohon hikmat dari Tuhan untuk memampukan mereka mendidik dan mengasihi anak-anak sebagaimana Tuhan sangat mengasihi anak-anak.[15]

(3) Masalah Kekerasan Terhadap Anak

Amat tegas dan jelas bahwa Luther anti-kekerasan terhadap anak. Ia mengatakan, “kalau kita harus memaksa mereka dengan rotan dan tamparan, kita tidak akan membuat mereka menjadi orang yang berbudi; paling-paling mereka baik selama mereka diancam dengan rotan. Pendidikan yang saya maksudkan berakar dalam hati dan melatih anak-anak dan kaum muda untuk menghormati Allah, bukan rotan dan pentung.”

Luther berpendapat bahwa sesuatu yang baik akan berakar, bertumbuh dan berbuah dan akan berkembang menjadi orang-orang yang dapat memberi kegembiraan dan kesukaan bagi seluruh negeri.

Karena itu, masih menurut Luther, hendaknya kita menghimbau dan mendorong anak-anak untuk menghormati nama Allah serta terus menggunakannya dalam hal apa pun yang terjadi atas mereka atau apa pun yang mereka perhatikan. (Lihat Penjelasan tentang Hukum Taurat II)

Dapat ditambahkan bahwa Luther dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak dapat memaksa seseorang untuk beriman (termasuk orang tua tidak dapat memaksa anak-anaknya untuk beriman), (Pengantar Katekismus Kecil). Kata ‘memaksa’ di sini identik dengan kekerasan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak dalam bentuk kekerasan psikologis (mengancam, menakut-nakuti, merendahkan, menghina dll.), kekerasan fisik (memukul, melukai, memaksa bekerja melampaui kemampuan anak dsb) serta kekerasan non-fisik (seperti pengabaian dengan tidak memberikan pengobatan jika anak sakit) harus dihindari.

ANAK TERHADAP ORANGTUA

Dalam berbagai kesempatan, Luther menekankan sikap baik anak terhadap orangtua seperti mengasihi, menghormati, memperhatikan kebutuhan mereka ketika mereka tua atau sakit dan sebagainya.

(1) Sikap Anak terhadap Orangtua

Luther menekankan bahwa Allah tidak hanya menyuruh kita ‘mengasihi’ orangtua tetapi juga menghormatinya.[16] Hal ini dapat dimengerti karena anak-anak mendapat kasih Allah melalui kasih orang tua. Pemeliharaan Allah nyata melalui pemeliharaan orangtua terhadap anak. “Mereka (anak-anak) memperoleh tubuh dan hidup dari orangtuanya, serta dipelihara dan diasuh oleh mereka. Jika tidak, tentu sudah ratusan kali mereka mati lemas dalam kotorannya sendiri”.[17]

Karena itu, menurut Luther, anak-anak harus mengasihi dan menghormati orangtuanya yang mewujud dalam sikap sopan, rendah hati, berbicara kepada mereka dengan penuh kasih dan kelembutan, tidak menghardik. Luther menambahkan, anak harus mengormati orangtua mereka kendatipun mereka sangat hina, miskin, lemah dan aneh, mereka tetaplah ayah dan ibu yang diberikan Allah.[18]
[1] Merupakan pengembangan dari ceramah yang disampaikan pada Lokakarya Theologia bagi Warga Gereja, Toledo Inn, Ambarita-Samosir, 11 Nopember 2005
[2] Martin Luther, 1996, hlm. 56
[3] Timothy F. Lull (Ed.), Op.Cit., hlm. 633
[4] Ibid., hlm. 635
[5] Martin Luther, 1996, hlm. 82
[6] Ibid., hlm 83
[7] Timothy F. Lull, op.cit., hlm. .636
[8] Martin Luther, 1996, hlm. 227-228
[9] Martin Luther, 1996, hlm 9
[10] John Bidel Pasaribu (Penerj.), Katekismus Dr Martin Luther, Jakarta: Yayasan Borbor, 2004, hlm. 30.
[11] Timothy F. Lull, Op.Cit., hlm. 637
[12] Dikutip oleh Paskalis Bruno Syukur, “Pendidikan dan Sekolah Berwawasan Ekologis dalam Terang Pemikiran Bonaventura”, dalam Eddy Kristiyanto, (Ed.), Spiritualitas dan Masalah Sosial, Jakarta: Obor, 2005, hlm. 139
[13] J. Drost, Dari KBK sampai MBS. Esai-esai Pendidikan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005, hlm. 103
[14] Sebagaimana dikutip oleh Agustinus Alibata, “Anak-anak Korban Pola Asuh Orangtua” dalam KOMPAS, edisi Minggu, 7 April 2002, hlm. 27
[15] Uraian lebih rinci tentang hal ini lihat Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat, Gunungsitoli: STT BNKP, 2004, khususnya bagian “Orangtua dan Anak: Kuasa atau kasih”, hlm. 79
[16] Martin Luther, 1996, hlm. 51
[17] Ibid., hlm. 58
[18] Ibid., hlm. 51

Ekologi 1

(Tulisan berikut diambil dari buku: Victor Tinambunan, Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat)

TUGAS PANGGILAN
MENGHARGAI CIPTAAN ALLAH
[1]

Firman Tuhan terpadu dalam dua volume, yaitu
dalam alam ciptaan dan dalam Kitab Suci.
Thomas Aquinas (1225-1274)

Allah menuliskan firmanNya tidak saja di dalam Alkitab,
Tetapi juga pada pohon, bunga, awan dan bintang-bintang.
Martin Luther (1483-1546)


DI MANA KITA BERADA?

Dalam hal masalah lingkungan hidup, kita tidak sedang berada di persimpangan jalan di mana kita bisa sejenak beristirahat dan membuat pilihan sederhana antara dua jalan: yang satu jalan kehidupan dan yang lain jalan menuju kematian. Kita sudah menempuh jarak yang jauh dalam jalan menuju kepunahan karena penghancuran lingkungan hidup.[2]

Masalah krisis ekologi merupakan salah satu masalah terbesar dunia masakini. Akan tetapi, penanggulangan yang konkret masih jauh dari yang dibutuhkan. Memang, dalam tataran wacana boleh dikatakan agak memadai dengan munculnya berbagai persidangan dari tingkat nasional hingga internasional, berbagai seminar dan terbitan buku-buku (termasuk di bidang teologi) berkaitan dengan masalah krisis ekologis dan upaya penanggulangannya.

Fakta-fakta krisis ekologis dewasa ini sangat kasat mata. Misalnya, hutan Indonesia mengalami kerusakan sekitar 2,8-3 juta hektare setiap tahun. Sedangkan hutan dunia mengalami kerusakan seluas ¾ wilayah Korea setiap tahun. Akibatnya amat kentara dengan terjadinya berbagai peristiwa banjir, tanah longsor, pemanasan global dan sebagainya. Khusus mengenai yang terakhir ini dapat disebutkan bahwa suhu kota Medan misalnya, saat ini terkadang sudah mencapai 33° C, yang 15-20 tahun silam suhu paling tinggi mencapai 31° C. Jadi, warming global (pemanasan global) bukan lagi sekadar wacana, ia sudah persis di depan mata.

Apa dampak warming global? Para pakar sudah dengan gamblang menjelaskan bahwa pemanasan global akan berdampak pada naiknya permukaan laut karena es di daerah kutub bumi mencair. Sudah ada penelitian bahwa luas es di kutub bumi sudah semakin berkurang. Konsekuensinya, wilayah-wilayah yang rendah di atas permukaan laut akan terancam tenggelam. Misalnya, sudah ada sinyal bahwa akan ada saatnya Jakarta Utara akan hilang ditelan laut karena naiknya permukaan laut ditambah dengan turunnya permukaan tanah karena bangunan dan penyedotan air tanah yang berlebihan.

Kita juga menghadapi masalah kelangkaan berbagai spesis (buaya air berkurang, buaya yang lain bertambah; burung yang terbang berkurang, burung yang hinggap bertambah –seperti patung buaya dan burung yang terbuat dari batu, semen, kayu atau gambar-gambar di buku)

Disamping itu, ibu kota Indonesia, Jakarta, ‘meraih’ Juara III sedunia di bidang polusi udara (dan juara VI terkorupsi di dunia): sebuah ‘prestasi’ yang mencengangkan. Kedua hal ini merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Tingginya tingkat korupsi juga menambah penderitaan alam, karena untuk membayar hutang luar negeri (yang angkanya semakin ‘ngeri’) sumber daya alam terus dieksploitasi secara besar-besaran.

PENYEBAB UTAMA KRISIS EKOLOGI

1. Sejak masa pencerahan, manusia memandang alam ini sebagai objek semata dan alam kehilangan ‘sakralitasnya’. Hal ini berbarengan dengan lahir dan berkembangnya industri komersial dengan mengeksploitasi alam.
2. Masalah ketamakan manusia. Gandhi dengan amat bijak mengatakan, “Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup menyediakan untuk ketamakan setiap orang.” Konsumerisme dan pola hidup serba instant memberi andil besar terhadap kerusakan alam. Sebagai gambaran dapat diambil contoh kehidupan orang Amerika. Dengan 5% penduduk dunia, AS menghabiskan 40% sumber daya alam di pasar dunia setiap tahun. Kalau seluruh penduduk dunia mau hidup pada taraf kemakmuran di Amerika, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin: mengurangi jumlah penduduk global sebanyak 87,5% atau menemukan delapan bumi baru.[3]

Memang masih banyak orang Amerika yang tergabung dalam suatu gerakan baru yang disebut dengan minimalis. Yaitu orang-orang yang menentukan untuk hidup dengan uang sedikit. Mereka membeli lebih sedikit, menghabiskan lebih sedikit, membuat lebih sedikit, dan memiliki lebih sedikit barang.[4] Celakanya, justru orang Indonesia sendiri sudah banyak ketularan gaya hidup negara maju dengan maraknya makanan dan minuman dengan kemasan disposal (sekali pakai), padahal teknologi daur ulang kita belum mampu mengatasinya.
3. Titik berat pembangunan yang keliru. Salah satu contoh nampak melalui alokasi dana negara-negara di dunia dalam jumlah yang sangat besar untuk membiayai militer dan persenjataan yang mematikan, ketimbang sarana dan prasarana yang menopang kehidupan, seperti penghijauan, peningkatan mutu pendidikan, penanganan sampah dan limbah, sarana pemeliharaan kesehatan dan lain-lain. (Küng menyebut bahwa setiap menit negara-negara di dunia menghabiskan uang 1,8 juta US$ untuk perlengkapan tentara)[5]. Untuk konteks Indonesia perlu penelitian yang lebih komprehensif. Yang jelas, alokasi dana untuk sektor pendidikan dan kesehatan dalam APBN masih relatif rendah. Hal ini diperparah lagi karena kedua departemen ini termasuk peringkat atas dalam bidang korupsi di antara departemen-departemen yang ada di Indonesia.

TEOLOGI IKUT BERSALAH?

Lynn White Jr., seorang sejarahwan Amerika mengatakan adanya kesalahan yang dibuat di dalam sistem ajaran Kristen mengenai manusia dan dunia, sehingga menyebabkan terangsangnya orang Kristen di masa lalu untuk mengeksploitasi dunia ini sehabis-habisnya “demi nama Tuhan”.[6]

Apa yang diungkapkan oleh Lynn White dapat terlihat sedikitnya dalam empat hal berikut.

Hidup dan berkembangnya pemahaman anthroposentrik, yang menganggap manusia sebagai pusat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dipahami hanya demi dan untuk manusia. Penciptaan segala sesuatunya sebelum penciptaan manusia pada hari keenam misalnya, dipahami bahwa Allah sudah terlebih dahulu menyiapkan semuanya itu untuk manusia. Di samping itu, penafsiran akan amanat Allah kepada manusia untuk ‘menaklukkan’ (דר, rada) dan ‘berkuasa’ (שבכ, kabasy) sering dipahami sebagai hak istimewa, yang menempatkan manusia sebagai subjek dan makhluk lain sebagai objek semata.
Mengemukanya semangat triumphalis khususnya dalam sejarah misi atau penginjilan. Misalnya, untuk memperkenalkan kuasa Kristus yang melampaui kuasa yang ada di dunia ini didemonstrasikan dengan menebang pohon yang diyakini masyarakat tradisional memiliki ‘penghuni’ dan dianggap ‘angker’. Masalahnya, pohon menjadi korban, sementara Setan terus gentayangan.
Liturgi gereja kurang berpihak pada kelestarian alam. Artinya, tata ibadah gereja-gereja kita masih bercorak anthroposentrik. Di samping itu, banyak nyanyian gereja yang lebih menekankan bahwa dunia ini tempat sementara, ‘lembah ratapan’, tidak tempat menetap dsb.
Umumnya, gereja-gereja sangat terobsesi membangun gedung-gedung mewah dan berusaha aset keuangan gereja sebanyak-banyaknya, yang semuanya secara tidak langsung mengabsahkan pengurasan sumber daya alam. Di samping itu, banyak gereja yang tidak memelihara lingkungan gedung gereja agar tetap hijau dan segar.



MEWUJUDKAN ECO-THEOLOGY KONTEKSTUAL

Gereja dan orang-orang Kristen memiliki dasar Alkitabiah yang amat jelas dan tegas serta warisan tradisi gereja berkaitan dengan keberadaan ciptaan Allah dan tanggung jawab manusia di dunia ini. Dalam hal ini secara singkat dan sederhana dapat disebut beberapa hal pokok sebagai berikut.

(1) Penggunaan kata rada (menaklukkan) dan kabasy (berkuasan(Kej. 1), sebagaimana disebutkan oleh Singgih, harus dilihat dalam hubungannya dengan konteksnya dimana manusia masih vegetarian.[7]
(2) Keberadaan manusia sebagai Imago Dei (yang hanya dimiliki oleh manusia) lebih merupakan tanggung jawab istimewa ketimbang hak istimewa. Manusia sebagai gambar Allah terpanggil untuk seirama dengan Allah mengasihi dan memelihara ciptaanNya.
(3) Perlu ditekankan kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya, yang beberapa kali ditegaskan di dalam Alkitab (salah satu di antaranya lihat Mzm. 24:1).
(4) Dibutuhkan suatu kajian berkaitan dengan ‘ketanahan’ manusia (dan mungkin juga ‘kemanusiaan’ tanah). Sebab, manusia diciptakan dari tanah. Dalam artian tertentu, tanah adalah ‘ibu’ manusia. Jika demikian, masakan manusia berlaku sewenang-wenang terhadap ibunya, malah memperkosa ‘ibunya’ sendiri?
(5) Penegasan bahwa ‘begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yoh. 3:16)—tidak disebut hanya manusia saja, menyatakan bahwa Allah juga mengasihi dunia ciptaanNya. Dalam konteks ini, mengikut Allah berarti mengasihi apa yang ia kasihi, termasuk ciptaanNya.
(6) Tuhan Yesus mengamanatkan, ‘Beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk (Mrk. 16:15). Amanat ini tidak berarti bahwa manusia berkhotbah kepada binatang atau membaptis mereka menjadi warga Gereja, tetapi berkaitan dengan tugas panggilan menghargai dan memelihara mereka. Ini juga tidak berarti bahwa manusia tidak boleh mengkonsumsi ternak, sejauh dalam koridor kebutuhan, bukan ketamakan.
(7) Bagian Doa Bapa Kami “berikanlah kami kepada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, juga mempunyai implikasi etis dan tugas pemeliharaan alam ciptaan Tuhan. (Studi yang pernah saya lakukan terhadap bagian ini menyimpulkan bahwa terjemahan yang lebih tepat dari bahasa Yunani adalah “berikanlah kepada kami yang kami butuhkan untuk kehidupan’[8]).
(8) Reformator Martin Luther melihat implikasi ekologis dari hukum keempat “ingat dan kuduskanlah hari Sabat” terhadap pemeliharaan alam ciptaan. Dia menekankan bahwa pada Sabat itulah kesempatan bagi ciptaan Tuhan untuk merayakan hidupnya. (Lihat penjelasannya dalam Katekismus Besar dan Katekismus Kecil). Fakta ini menunjukkan kekeliruan Lonning yang mengatakan bahwa para reformator juga dipersalahkan karena ajaran mereka dianggap penyebab timbulnya krisis ekologi khususnya karena ajaran mereka dianggap terfokus pada keselamatan sebagai hubungan personal manusia kepada Allah.[9] Ajaran Martin Luther mewarnai isi Buku Konkord (Inti Pengakuan Iman dan ajaran Gereja Lutheran) yang amat jelas menekankan perlunya sense of enoughness (rasa cukup) dan simplicity life-style (pola hidup sederhana).
(9) Lembaga Gerejawi dari tingkat lokal hingga internasional telah lama dan banyak menggumuli dan berjuang untuk memperdulikan kelestarian alam ciptaan Tuhan. Misalnya, DGD, LWF, CCA, ELCA, PGI dan lain-lain dalam berbagai Sidang Rayanya atau komisi-komisi yang dibentuk sudah banyak merumuskan analisis dan refleksi teologis sekitar tema eco-theology.
(10) C.S. Song[10] yang mendasarkan ‘misi’ tidak saja dari Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20) tetapi juga dari berita penciptaan (Kej. 1). Kalau Allah memelihara ciptaanNya, maka misi Gereja seharusnya juga memelihara ciptaan Tuhan.
(11) Paus Paulus II dalam berbagai kesempatan mengungkapkan gagasannya yang amat mencerahkan menyangkut keberadaan alam ciptaan di hadapan Allah dan bagaimana manusia memperlakukannya. Salah satu di antaranya, ia mengatakan:

Kuasa yang diberikan oleh sang Pencipta kepada manusia, bukanlah kuasa absolut….Sejak awal sang Pencipta sudah menetapkan pembatasan yang secara simbolik dinyatakan melalui larangan memakan buah pohon (tertentu di taman Eden) yang menunjukkan dengan amat jelas bahwa kita tidak saja mengacu pada hukum-hukum biologis tetapi juga pada hukum moral, yang tidak dapat dicemari dengan kebebasan.

Untuk merancang bangun eco-theology kontekstual dibutuhkan kerelaan gereja dan orang Kristen untuk menghargai pemahaman dan sikap budaya tertentu atau penganut agama lain, yang juga memiliki kepedulian akan perdamaian di antara manusia dan perdamaian terhadap alam.

Meskipun bukan seorang teolog, namun pernyataan mantan Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros-Ghali terkesan amat sarat dengan muatan teologis.

We have been told that we are to love our neighbors as ourselves, and it is true. But now we are learning that we must also love the earth. For thousands of years ancient cultures believed that the earth had a soul, that we live in a spiritual relationship with the world. And today we must restore that sense, in order to build a new ethical and political context to live and act with earth.[11]

Dalam konteks Indonesia, hampir semua kelompok etnis yang ada di negeri ini memiliki semacam ‘kearifan lokal’ dalam bersikap dan bertindak terhadap alam yang memperlakukan makhluk bahkan tumbuhan sebagai ‘subjek’ bukan ‘objek’ semata. Hal ini memang benar secara teologis. Mazmur 150: 6, misalnya, berbunyi, “biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan”. Dalam studi biologi jelas bahwa tumbuhan pun bernafas. Setahu saya, teolog Indonesia yang pertama sekali memunculkan dan menekankan ‘kesubjekan’ makhluk dan tumbuhan adalah Dr. A.A. Yewangoe. Ia menegaskan bahwa semuanya itu juga diperdamaikan dengan Allah.[12]

Kembali ke masalah ‘kearifan lokal, apa yang disuguhkan oleh Dr. Geoffrey Lilburn dengan mengangkat contoh pemahaman dan perlakuan suku Aborigin (Australia) dan Suku Indian (Amerika) terhadap tanah amat relevan. Artinya, kita terpanggil untuk menghargai ‘kearifan lokal’, tanpa harus meromantisasi[13] tradisi masa lalu.

Dapat ditambahkan kepada apa yang dikemukakan oleh Geoffrey yakni kearifan kelompok Amish di Amerika Serikat yang sampai sekarang meskipun dalam jumlah yang relatif kecil tetapi masih eksis. Sebuah ‘amsal’ Amish berbunyi, “Kita tidak mewarisi tanah dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak-anak kita”.[14]

Masyarakat Batak tradisional pun sebenarnya punya kearifan berkaitan dengan alam. Sebagai contoh, sebelum misionaris datang, orang tidak boleh sembarangan bicara (bicara tidak senonoh) di Danau Toba, apalagi buang air kecil atau buang air besar sangat tabu, karena ‘penghuninya’ bisa marah. Sesudah kekristenan masuk ke tanah Batak, jangankan buang air besar, ‘buang air besar-besaran’ pun (=limbah) ke danau seolah tidak ada masalah dan orang tidak merasa bersalah.

Menyebut contoh lain, pada era Soeharto, pernah sekelompok suku Dayak akan direlokasi atas nama pembangunan. Penduduk setempat menolak dan berkata, “kami tidak tinggal di hutan, kami adalah hutan”. Ini menunjukkan pemahaman dan sikap kedekatan bahkan kesatuan mereka dengan alam.

Di samping itu, dapat dipastikan bahwa agama-agama dunia dan aliran-alairan kepercayaan yang masih hidup sekarang ini pada dasarnya mengajarkan dan menganjurkan sikap santun dan hormat terhadap alam ciptaan Tuhan.

REKOMENDASI

1. Kepada Gereja dan Masyarakat

(1) Gereja-gereja perlu didorong ke arah pelayanan yang berorientasi ‘sadar keutuhan ciptaan’ melalui kurikulum sekolah sidi, seminar, khotbah, tulisan-tulisan di dalam media massa dan majalah gerejawi dan keterlibatan langsung menghijaukan komplek gereja, komplek hunian warga jemaat dan sebagainya.

(2) Warga jemaat dan masyarakat perlu mengembangkan pola hidup atas dasar ‘kebutuhan’ bukan ‘keinginan’. Sudah saatnya warga masyarakat mengembangkan modest life-style (gaya hidup minimalis) dengan rumah kecil, sederhana, sedikit barang-barang dan sebagainya. Sebab, pembangunan rumah-rumah hunian yang besar (padahal penghuninya sangat sedikit) juga akan mengorbankan alam.

2. Kepada Lembaga-lembaga Pendidikan

Sudah saatnya kurikulum pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi dirancang sedemikian rupa agar ‘ramah lingkungan’. Hal ini disertai dengan penciptaan lingkungan sekolah yang hijau serta penanganan sampah dan sumber polutan lainnya dengan baik.

Khusus untuk universitas-universitas, alangkah baiknya jika dibentuk fakultas Ekologi. Dalam hal ini, mudah-mudahan Universitas HKBP Nommensen dapat memulainya. Isi kurikulum dapat dirumuskan secara bersama-sama oleh berbagai kalangan. Mungkin di antaranya berkaitan dengan ekosistem, masalah sampah rumah tangga, limbah industri, AMDAL, lapisan ozon, penanganan polusi, penghijauan, pupuk, pestisida, manajemen lingkungan, air sehat, dan lain-lain.

Kepada fakultas-fakultas di Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi dan sebagainya perlu ditawarkan mata kuliah ‘ekologi’. Untuk Sekolah-sekolah Tinggi Teologi di Indonesia, misalnya dibutuhkan mata kuliah “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” (KPKC), sebagaimana sejak lama digumuli oleh DGD. Sebagai contoh yang baik dalam hal ini adalah The Lutheran Theological Seminary at Philadelphia, USA), yang menawarkan mata kuliah Environtmental Ethic (Etika Lingkungan Hidup).

Di samping itu, lingkungan kampus juga hendaknya benar-benar ‘ramah lingkungan’ dengan terciptanya kampus yang hijau, penghematan penggunaan kertas dan sampul plastik. Mengambil sebuah contoh sederhana, kalau 400 mahasiswa dengan masing-masing satu tugas kuliah untuk 9 mata kuliah semester menggunakan sampul plastik dengan harga masing-masing Rp. 2000, maka dalam satu semester mahasiswa STT HKBP telah membuang Rp. 7.200.000 hanya untuk sampul tugas kuliah –yang akan menjadi sampah. Jadi, mahasiswa menghabiskan jutaan rupiah untuk menambah sampah, bukan menangani sampah. Hal yang sama bisa dihitung di semua Perguruan Tinggi di Indonesia, yang mungkin angkanya akan sangat mencengangkan.

3. Kepada Pemerintah

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah yang terutama berorientasi pada pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu penyebab utama krisis ekologi saat ini. Membengkaknya hutang luar negeri (yang sebagian di antaranya habis dikorupsi) juga harus dibayar dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Mengambil satu contoh, adalah dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM baru-baru ini. Presiden Yudoyono mengatakan bahwa kebijakan tersebut (meskipun pahit) diambil demi kebaikan ekonomi Indonesia di masa depan. Hal senada juga dikatakan oleh seorang pakar ekonomi yang bekerja di Bank Indonesia, Dr. Tarmidin Sitorus, dalam ceramahnya di STT HKBP Pematangsiantar, 19 Januari 2006. Pandangan ini perlu dengan sungguh-sungguh ditelaah dengan jernih. Yang jelas, setelah naiknya harga BBM banyak warga desa yang tadinya sudah menggunakan kompor minyak tanah untuk memasak, terpaksa kembali menebangi pohon untuk dijadikan kayu bakar. Tindakan ini akan semakin memperparah kerusakan alam. Bagaimana masa depan Indonesia jika hal ini terus berlanjut? Dalam hal ini, pemerintah perlu dengan sangat serius menempatkan ekonomi dan ekologi secara bersama-sama.

PENUTUP

Secara teologis, ‘akhir zaman’ adalah sesuatu yang dinantikan oleh umat manusia. Akan tetapi, mencermati kecenderungan yang ada, bisa saja ‘akhir zaman’ tiba sebelum waktunya karena ‘dirampas’ oleh manusia sebagai akibat dari pengrusakan alam ciptaan Tuhan. Gereja dan orang Kristen serta seluruh umat manusia terpanggil merawat ciptaan Tuhan.

Weizsäcker (yang sumber atau nama bukunya terlupakan) dengan amat mengesankan mengatakan:
No peace without justice
No justice without peace
No justice without freedom
No freedom without justice
No peace among the people without peace with nature
No peace with the nature without peace among people
Peace is not the absence of trouble but the presence of God

































[1] Merupakan pengembangan dari materi yang pernah disampaikan sebagai bandingan ceramah Dr Geoffrey R. Lilburne dalam ‘diskusi teologi’ Dosen STT HKBP, Pematangsiantar, 02 Desember 2005
[2] John Hart sebagaimana dikutip Geoffrey R. Lilburne, A Sense of Palace. A Christian Theology of the Land, Nashville: Abingdon Press, 1989, hlm. 90
[3] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (Eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah, 1994, hlm. 22
[4] David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 294
[5] Hans Küng, Global Responsibility. In Search of a New World Ethic, New York: Croassroad, 1991, hlm. 2
[6] Dikutip oleh E.G. Singgih, “Dasar Teologis dari Pemahaman Mengenai Keutuhan Ciptaan, dalam Th. Sumartana dkk. (Peny.), Terbit Sepucuk Taruk. Teologi Kehidupan 60 tahun Dr. Liem Khiem Yang, Jakarta: P3M STTJ dan Balitbang PGI, hlm. 245. Hal yang sama juga disebut oleh Geoffrey R. Lilburne, A Sense of Place. A Christian Theology of the Land, Nashville: Abingdon Press, 1989, hlm. 24
[7] Penjelasan selengkapnya lihat Ibid.
[8] Sebuah tulisan yang pernah diminta oleh Panitia Buku Ulang Tahun Dr. Lothar Schreiner (belum jelas apakah buku dimaksud sudah terbit).
[9] Per Lonning, Creation – An Ecumenical Challenge?, Macon: Mercer University Press, 1982, hlm. 24.
[10] Dikutip oleh David J. Bosch, Transforming Mission. Paradigm Shift in Theology of Mission, Maryknoll: Orbis Books, 1991, dan juga Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner Dalam Konteks Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 1997
[11] Wesley Granberg-Michaelson, Redeeming the Creation. The Rio Earth Summit: Challenge for the Churches, Geneva: WCC, 1992, hlm.25
[12] Lihat A.A. Yewangoe, Pendamaian. Suatu Studi tentang Pemulihan Relasi Antara Allah, Manusia dan Alam Semesta, Jakarta: BPK.
[13] Yang dimaksud dengan ‘meromantisasi’ masa lalu di sini, adalah anggapan bahwa kita harus sepenuhnya kembali seperti masa silam.
[14] Fred van Dyhe, (dkk.), Redeeming Creation. The Biblical Basis for Environtmental Stewardship, Downess Grove, Illinois: Intervarsity Press, 1996, hlm. 71

ShoutMix chat widget