
Jalan menuju neraka begitu lebar dan arahnya pun jelas.
Berhentilah sejenak. Di jalan mana Anda sedang berada.
Pilih dan jalanilah jalan kehidupan,
bersama Tuhan yang tetap hidup dan bekerja hingga hari ini.
Tuhan hadir di sini. Saat ini juga. Kehidupan Anda dan saya saat ini adalah bukti kasih dan penyertan-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda; jangan tinggalkan Dia.

Apakah Anda sedang merasa penat dan merasa tidak berdaya? Mungkin Anda kelelahan karena beban kerja fisik. Mungkin enerji Anda terkuras deras oleh pikiran Anda: karena memikirkan masalah anak-anak, keluarga, tuntutan lingkungan pekerjaan, tagihan yang melampaui kemampuan, sikap orang yang tidak menyenangkan, perlakuan sesama yang tidak fair, cita-cita yang tidak tercapai, bingung ‘menempatkan’ uang Anda, atau apa saja yang membuat leher Anda tegang, nafas Anda tidak normal dan tidak alami, dan reaksi Anda tidak bersahabat dengan orang lain.
Satu hal yang amat menyedihkan dalam kehidupan ini adalah semakin banyaknya perpecahan dan permusuhan yang terjadi mulai dari hubungan persahabatan perorangan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, bahkan (ironisnya) termasuk dalam kehidupan bergereja. Ada apa di balik semua ketidakrukunan dan perselisihan ini? Salah satu penyebab utama adalah: keegoisan manusia. Jadi, karena pada dasarnya kita manusia ini cenderung ‘mementingkan diri’, maka kita harus mendisplinkan diri dan mendidik diri kita sendiri dalam kebaikan terhadap orang lain. Rasa persaudaraan dan persahabatan yang sehat tidak berkembang secara alami. Ia harus dipupuk dengan sungguh-sungguh dan dirawat dengan hati-hati sama seperti memelihara tanaman.
Hidup rukun dengan orang lain, sebenarnya harus dimulai dengan ‘rukun terhadap diri sendiri’. Artinya, menerima diri sendiri sebagaimana Tuhan kehendaki; tidak benci diri dan tidak pula melebihkan diri. Pemazmur dengan indah mengatakan begini: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku“ (Mzm 131:2). Hanya ketika kita tenang dan damai dalam perlindungan Tuhan, kita dapat memberi ketenangan dan kedamaian kepada orang lain, sebagai bagian tidak terpisahkan dari kerukunan. Ketika hati kita dipenuhi oleh kebencian dan kepahitan, itu juga akan menular kepada sesama kita dan sekaligus menghancurkan kerukunan.
Berbicara tentang dampak buruk kebencian, kepahitan dan sakit hati, McMillen dengan sangat tepat mengatakan demikian:
Pada saat saya mulai membenci seseorang, saya menjadi budaknya. Saya tidak dapat menikmati pekerjaan saya lagi, sebab ia juga menguasai pikiran saya. Sakit hati saya menghasilkan begitu banyak ketegangan dalam tubuh saya dan saya menjadi sakit kepala sesudah bekerja beberapa jam saja. Pekerjaan yang tadinya saya nikmati berubah menjadi sesuatu yang membosankan dan melelahkan. Bahkan, hari libur atau waktu luang saja pun tidak lagi memberi ketenangan dan kesenangan kepada saya. Orang yang saya benci itu seolah-olah terus mengikuti atau ‘mengejar’ saya ke mana pun saya pergi. Saya tidak dapat lepas dari cengekeraman penjajahannya.
Sakit hati dan kepahitan yang tersembunyi telah menghancurkan kemampuan berbuat baik bahkan merusak kesehatan begitu banyak orang dari dulu hingga saat ini. Di tengah keadaan demikian, Yesus memanggil kita agar dalam segala situasi kita ‘menyangkal diri’, membuang kesombongan, membuang sakit hati dan mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Memang ada kalanya kita seolah mengalami kebuntuan. Kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan perdamaiaan dengan orang lain tetapi sesama kita mengeraskan hati dan sulit berdamai. Dalam situasi seperti itu kita jangan tawar hati dan menyerah. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, selebihnya kita harus serahkan segalanya kepada Tuhan.
Ketidaksediaan orang lain mewujudkan kerukunan jangan sampai membawa kita terjerumus pada perangkap Iblis. Rasul Paulus menegaskan, bahwa kita perlu mengampuni “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11). Dalam kaitan ini, Sigurd Bratlie dengan amat mengesankan pernah berkata, “Firman Tuhan menasihatkan agar kita tidak dikalahkan oleh kejahatan tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21). Ketika seseorang memperlakukan kita secara tidak adil atau berbuat yang tidak baik kepada kita, ia sedang melayani dalam kerjaraan Setan. Jika kita membalas yang jahat dengan yang jahat dan tetap memelihara sakit hati atau tidak mau mengampuni, pada saat itu kita sudah mulai melayani kerajaan Setan juga”.
Betapa bodohnya kita jika kita mau dipekerjakan dalam kerajaan Setan oleh karena perbuatan buruk orang lain. Baiklah kita ingat bahwa pada saat orang banyak mengutuk dan mengolok-olok Yesus di kayu salib, mereka sedang melayani Setan. Tetapi Yesus melayani Bapa, sehingga Ia dapat berdoa, “Bapa, ampunilah mereka”. Jadi, ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak bersedia mewujudkan kerukunan, itu tidak berarti bahwa “karena kita benar maka sikap pahit kita kepada orang lain adalah benar juga.” Yang sangat perlu kita pikirkan adalah: siapa yang akan kita layani: Setan atau Allah. Layanilah Allah.
Kita amat sering dalam keadaan bahaya pada saat-saat di mana kita tahu bahwa kita benar dan pihak lain salah. Sebab, dalam situasi-situasi seperti itu kita dapat dengan mudah membenarkan diri a la Farisi (yang menganggap diri paling benar sambil menghakimi orang lain). Mungkin saja kita benar dalam hal permasalahan yang sedang mengemuka, tetapi salah dalam bersikap –melayani kerajaan Setan ketimbang kerajaan Tuhan-- dengan kesombongan bukan dengan kerendahan hati.
Perlu ditegaskan bahwa demi memelihara kerukunan bukanlah terutama menyangkut faktor lahiriah di mana orang saling berbasa-basi dalam menyapa satu-sama lain. Itu adalah 'kerukunan semu. Kerukunan kristiani adalah kerukunan yang dilandasi kebenaran. Kerukunan semu terjadi ketika kita hanya mengandalkan 'pendekatan psikologis' untuk menyenangkan (ego) orang sambil mengorbankan kebenaran. Dalam kekristenan, jika harus memilih antara 'kerukunan semu' dengan 'kebenaran', kita harus tegas memilih 'kebenaran', yang bisa saja mengandung konflik. Artinya, ada kalanya kita harus mengorbankan ‘kerukukan' jika kerukunan sudah tergelincir pada kerajaan Setan. Sebab dalam kerajaan setan pun ada juga ‘persahabatan’, yakni: persahabatan yang siap membabat bukan menjadi berkat.
Dalam persekutuan Gereja, mengapa perselisihan terjadi? Kata-kata Zac Poonen berikut ini kiranya boleh mengubah hidup kita:
Satu hal yang pasti, karena ‘keakuan’ masih bertahta dalam hidup kita. Kita menganggap diri kita begitu penting dan kita merasa bahwa orang lain harus menghargai kita dan selalu meminta pendapat atau nasihat kita. Kita merasa bahwa yang lain harus berperilaku dan berbuat sebagaimana kita inginkan. Kita mengharapkan orang lain bersikap baik, berhati-hati kepada kita, memperhitungkan jasa atau prestasi kita dan memuji kita. Perasaan-perasaan dan harapan-harapan seperti itu adalah bukti nyata bahwa kita tidak memahami dan menghidupi salib. Hidup kita sepenuhnya berpusat pada diri kita dan masih didominasi oleh pementingan diri.
Persekutuan Kristen yang benar tidak akan pernah dialami di antara orang percaya jika kasih salib itu tidak dijadikan sebagai dasar sikap dan perbuatan dalam hubungan mereka. ‘Persekutuan’ apa pun yang ada di dalam gereja yang terpisah dari kasih salib itu, yang ada hanyalah paguyuban sosial dan bukan persekutuan tubuh Kristus yang benar. Paguyuban sosial seperti itu juga dapat kita temukan dalam klub-klub duniawi juga. Sedihnya, banyak jemaat-jemaat dan kelompok-kelompok Kristen yang tidak lebih baik dari klub-klub duniawi.
Hidup dalam dan dengan kasih salib mewujud melalui kehidupan yang berpusat pada Kristus, kehidupan yang menyangkal diri (membuang kesombongan dan pementingan diri sendiri). Dalam kaitan dengan gembala atau pemimpin jemaat dengan anggota jemaat, secara konkret dapat disebutkan dua hal. Pertama, para pelayan gereja hendaknya tidak terutama menggunakan pendekatan psikologis kepada warga jemaatnya hanya untuk sama-sama menyenangkan. Misalnya, pelayan gereja memberi tugas memainkan musik dalam ibadah kepada orang yang sebenarnya kurang mampu memainkan musik dengan baik, padahal ada orang yang benar-benar mampu memainkan musik dengan baik. Janganlah seorang gembala atau pimpinan jemaat memberi tugas pelayanan ini hanya untuk 'mengambil hati' warga jemaat dengan mengorbankan ibadah. Contoh lain, memberi tugas berkhotbah atau memimpin kelompok Pemahaman Alkitab atau tugas pelayanan lain tertentu kepada warga jemaat hanya untuk 'mengambil hati'. Janganlah kita korbankan kehidupan bergereja hanya untuk menjalin persahabatan semu. Sebelum mendelegasikan tugas kepada warga jemaat, berilah waktu sejenak menjawab pertanyaan, "apakah pendelegasian tugas ini suara Tuhan dan demi pelayanan itu sendiri, atau untuk kepentingan diri sendiri (mengalihkan tanggung jawab, supaya yang ditugasi ini menjadi 'kawan' --bukan lawan, dan sebagainya). Gembala atau pelayan jemaat perlu melakukan 'motivation check-up'.
Kedua, semua warga jemaat hendaknya melaksanakan tugas panggilannya di dalam kehidupan bergereja sesuai dengan talenta, milik dan keberadaannya dalam keteraturan. Ya, 'dalam keteratuan'. Artinya, setiap gereja memiliki tradisi dan tata gereja masing-masing. Pelayanan ini bukanlah sekadar sarana menyalurkan hobbi atau bakat atau menampilkan diri melainkan pelayanan untuk kemuliaan Tuhan dan damai sejahtera di bumi. Ketika kita diminta untuk melakukan tugas tertentu oleh pihak gereja, beri waktu Anda bertanya 'ke dalam', apakah itu suruhan Tuhan atau hanyalah sekadar 'alat' memanfaatkan Anda untuk kepentingan yang amat dangkal.
Untuk itulah kita perlu merelakan hati kita didiami oleh Roh Tuhan, agar Ia bertahta di sana. Roh itu jugalah yang menuntun kita untuk bersikap, berkata, bertindak, menggantikan apa yang mungkin sudah kita format (terformat tanpa sadar) dan secara otomatis keluar dari dalam diri kita tanpa pertimbangan apakah itu membuahkan kebaikan atau justru menghancurkan. Sesungguhnya, Roh Tuhan senantiasa siap sedia berdiam dalam diri kita. Kini saatnya, kita sambut kehadiran-Nya. Ia sanggup mengubah hidup kita untuk kebaikan kita sendiri, jemaat dan dunia ini. Tuhan sendiri yang menebas akar keegoisan yang merasuk dan merusak kerukunan yang benar di dalam persekutuana jemaat; jika kita merelakan diri dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung
Jika Anda menikmati penuturan seseorang akan kekurangan-kekurangan orang lain atas kebencian, ingat: itu akan menyuburkan kebiasaannya menjadi sebuah 'hobbi' yang pada gilirannya, kekurangan-kekurangan Anda sendiri yang akan ia sebar-luaskan dalam 'iklan' yang ia disain sendiriApakah boleh mengatakan keburukan orang lain? Jawabannya: Ya dan Tidak.
Jangan mengatakan keburukan orang lain jika:
1. Hanya demi kekurangan itu
2. Untuk merendahkan dan mempermalukan.
3. Memberi ‘cap’ seolah-olah kekurangan itulah yang dominan dalam diri orang lain, padahal banyak kebaikannya.
4. Membuktikan bahwa kita yang terbaik di dunia atau sedikitnya dari orang itu.
5. Karena kita cemburu dan iri hati
6. Mengajak orang berpihak kepada kita atau kelompok kita
7. Mencegah orang lain bersahabat dengannya
Boleh mengatakan keburukan orang:
Bagaimana sikap menghadapi orang yang mengatakan keburukan Anda?
Jika apa yang mereka katakan benar, maka:
Jika yang mereka katakan tidak benar, maka:
1. Tidak perlu marah atau pusing kepala. Yang memburukkan Anda perlu ditolong, ia punya masalah dalam dirinya.
2. Boleh membela diri dengan argumen tanpa menyerang orang yang memburukkan kita.
Dengan sikap di atas, kita akan menolong diri kita sendiri dan orang lain untuk hidup dalam kedamaian, kegembiraan sorgawi dan saling meneguhkan dengan sesama.
MATIKAN ROKOK SEBELUM IA MEMATIKAN ANDA
Ada saja yang terasa agak aneh dalam kehidupan keseharian kita. Sebut saja soal ‘kehebatan’ dan ‘kejagoan’ yang terkadang diidentikkan dengan ‘keberanian’ melawan tatanan kehidupan yang baik atau aturan yang berlaku. Di beberapa kota di Indonesia, mereka yang ‘berani’ naik sepeda motor tanpa menggunakan helm pengaman sambil bonceng tiga dan menerobos lampu merah pula, justru dianggap orang atau menganggap diri sendiri ‘hebat’ atau ‘jago’. Saya jadi teringat ‘cerita’ Ayub Yahya tentang seseorang yang menerobos lampu merah di jalan raya. Ketika polisi menghentikan dan bertanya, “Mengapa Anda menerobos lampu merah? Anda tahu apa artinya merah?” Dengan entengnya si pengendara sepeda motor menjawab, “Tahu Pak Polisi. Merah artinya “berani”.




Sinode Godang (Sinode Agung) HKBP September 2008 telah memilih 
Kotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap sangat sulit dibayangkan bisa meresap
PENGANTAR
Kotbah merupakan salah satu bagian terpenting dalam ibadah sepanjang sejarah gereja. Karena itu, usaha untuk mempersiapkan dan menyampaikan kotbah yang baik dan benar merupakan sebuah keharusan.
Homiletika berasal dari bahasa Yunani homilia artinya persekutuan, dan bentuk kata kerja homileo artinya berbicara. Umumnya homiletika diartikan sebagai ilmu berkotbah. Akan tetapi, di sini homiletika kita pahami lebih dari sekadar ilmu. Sebab, ilmu biasanya sesuatu yang diteruskan kepada orang lain, yang bisa saja tidak diterima atau dihidupi oleh yang menyampaikannya. Homiletika dimaksudkan sebagai upaya membangun persekutuan umat percaya melalui penyampaian firman Allah, yang antara lain seturut dengan fungsi Alkitab (mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran, bnd. 2 Timotius 3:16). Disamping itu kotbah berperan untuk menghibur dan meneguhkan orang untuk setia mengikut Tuhan.
Dengan demikian, pertanyaan yang pertama dan terutama bukanlah ‘kotbah yang bagaimana’ melainkan ‘bagaimana pengkotbah’. ‘bagaimana pengkotbah’ mencakup: Spiritualitas: hubungan yang terpelihara baik dengan Tuhan. Kecerdasan emosional; Kecerdasan intelektual; Kecerdasan interaksi; Kesehatan dan kebugaran tubuh. Sedangkan ‘kotbah yang bagaimana’ mencakup kotbah yang ‘benar’ (berakar pada firman Tuhan; ‘baik’ (memperhatikan peristiwa dan situasi tertentu seperti: tahun liturgi, konteks duka, sukacita, perayaan; ‘jelas’ (sistematis dan cara penyampaian yang komunikatif; ‘menarik’ (untuk membantu pendengar mengingat dan menghidupinya).
BAGAIMANA PENGKOTBAH
Berkotbah adalah salah satu tugas pelayanan yang paling sering dilakukan oleh kebanyakan pelayan gereja. Bagi banyak pelayan, barangkali ini juga yang paling sering menekan atau membebani kehidupan. Mereka yang merasa sangat terbeban dan menolak berkotbah biasanya pertama-tama mengajukan pertanyaan ,’apa yang akan saya katakan?’. Itu sebabnya sering kita dengar keluhan bahwa seseorang sudah ‘putus kamus’. Sebab, semua hal sudah pernah dikotbahkan (dan terkadang harus mengatakan ‘seperti yang sudah pernah saya kotbahkan dulu’).
Alkitab menegaskan bahwa Allah berfirman melalui manusia. Karenanya, tugas berkotbah adalah sebuah anugerah. Sebab, mulut pengkotbah menjadi saluran penyampaian firman Allah. Di sini bukan peranan manusia yang terutama melainkan peranan Tuhan sendiri. Itu sebabnya seorang pengkotbah yang benar tidak pernah ‘putus kamus’, sebab Allah terus menerus menyatakan diri dan memperdengarkan suaraNya.
Semakin jelas bahwa pertanyaanya bukan terutama “kotbah yang bagaimana” melainkan “bagaimana pengkotbah”. Jika kita mulai dengan ‘kotbah yang bagaimana’ biasanya setelah membaca ayat Alkitab sesuai perikopen kita mulai dengan mencari “apa yang cocok saya katakan atas dasar ayat Alkitab ini”. Padahal, yang pertama dan terutama, mestinya adalah “apa yang Tuhan katakan dan nyatakan kepada saya dan umatNya melalui ayat Alkitab ini”. Inilah yang dimaksudkan dengan ‘bagaimana pengkotbah’. Di samping itu, tentu kehidupan sehari-hari seorang pengkotbah sangat menentukan juga. Bagaimana kehidupan doanya, emosinya, keteladanannya dan sebagainya.
Semuanya ini hanya dapat terbangun melalui ibadah pribadi dan persiapan diri dalam perenungan yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, kotbah dapat menyejukkan, menyentuh hati yang terdalam, membangkitkan iman, meneguhkan ketetapan hati mengikut Kristus dalam kebenaran dan kasih. Pendidikan homiletika tidak terutama bersumber dari buku-buku, penataran dan sebagainya tetapi terutama dalam seluruh kehidupan kita. Di situ Tuhan menuntun dan memperlengkapi kita.
Dapat dicatat pula bahwa kotbah lebih dari waktu persiapan sebelum berkotbah, tetapi merupakan hasil dari seluruh hidup pengkotbah: hidup spiritual, keyakinan moral, pengembangan intelektual melalui bacaan dan refleksi, kesehatan atau kebugaran fisik, bahkan masalah makanan yang dimakan dan minuman yang dimunum. Khusus yang disebut terakhir ini perlu mendapat perhatian karena kalau pengkotbah makan terlalu kenyang, itu mengakibatkan darah lebih aktif bekerja di perut yang seharusnya bekerja di otak dalam mempersiapkan kotbah. Atau kalau seseorang harus minum sedikit alkohol supaya ‘berani’ bediri di mimbar, mungkin saja ia berani tetapi kotbah yang disampaikan pun sulit dibayangkan bisa membangun iman. Tambahan lagi, kotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit dibayangkan dapat meresap.
Untuk itu seorang pengkotbah sedikitnya perlu melakukan persiapan:
1. Kehidupan doa. Kehidupan doa yang dimaksudkan di sini tidak saja berdoa pada waktu mempersiapkan kotbah saja, melainkan seorang pengkotbah adalah seorang yang memberi waktu setiap hari untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Doa pribadi sangat penting bagi seorang pengkotbah, dimana pengkotbah bersyukur, memohon ampun serta memohon hikmat kepada Tuhan. Kita memohon agar Tuhan menguduskan hati kita, agar dari situ terpancar kehidupan. Kita berdoa agar Tuhan berkenan menguduskan jalan pikiran kita, sehingga setiap pemikiran dan penjelasan yang keluar darinya sungguh-sungguh mencerminkan pikiran Tuhan. Kita memohon agar Tuhan menyucikan mulut dan bibir kita, agar kata-kata yang keluar dari situ benar-benar kata-kata yang penuh urapan. Kita ingat misalnya, bagaimana Allah menjamah mulut Yeremia sebelum mewartakan firman Tuhan.
2. Persiapan khusus. Pengkotbah sendiri sebaiknya melakukan persiapan diri dan persiapan kotbah dengan sungguh-sungguh. Pengkotbah perlu membaca dan merenungkan nats kotbah berulang-ulang sambil terus menerus memohon hikmat dari Tuhan. Apa yang Tuhan katakana kepada saya? Apa yang Tuhan kehendaki?
3. Setiap Pengkotbah seharusnya membaca dan merenungkan nats kotbah sedikitnya satu minggu sebelumnya, walaupun ia tidak berkotbah. Setiap pelayan juga berdoa agar pengkotbah setiap minggunya sungguh-sungguh diperlengkapi oleh Tuhan. Dalam hal ini sangat baik kalau ada ‘sermon’ (persiapan kotbah) bersama para pelayan untuk saling berbagi perenungannya kepada sesama pengkotbah.
4. Dalam membaca Alkitab, kita tidak saja belajar tentang Tuhan, melainkan, yang terutama kita sedang berhadapan dan berbicara dengan Tuhan sendiri. Ia berbicara kepada kita. Karena itu dalam persiapan kotbah, Tuhanlah yang seharusnya terlebih dahulu berbicara kepada kita, dan pikiran, analisa, tafsiran kita dibelakangkan. Dalam kaitan itu, kita tidak saja mengetahui tentang Tuhan tetapi juga (dan yang terpenting) kita percaya kepada Tuhan.
PERSIAPAN MATERI KOTBAH
Bertolak dari persiapan pribadi seperti disebut di atas, pengkotbah dapat menyusun materi kotbah sebaik mungkin. Jadinya, kotbah merupakan hasil perenungan dan penghayatan si pengkotbah. Secara sederhana berikut ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian seorang pengkotbah dalam mempersiapkan kotbah.
1. Mulai dari yang dimengerti
Dalam membaca nats Alkitab mungkin saja ada yang sulit kita pahami atau bahkan membingungkan kita. Untuk itu mulailah dari yang mudah dipahami. Langkah ini mungkin saja menolong kita memahami yang sulit. Sebaliknya, kalau yang sulit dimengerti kita tonjolkan, maka yang mudah dipahami pun bisa saja menjadi terabaikan.
Untuk menolong kita dalam hal ini kita boleh mengajukan pertanyaan dan menjawab berdasarkan fakta-fakta ayang ada dalam nats Alkitab, seperti:
Siapa: Misalnya, Allah. Apa yang dilakukan Allah? mengasihi, menyertai, memelihara, memperingatkan, menghukum dan lain-lain. Atau mungkin, tentang seseorang ‘tokoh’ yang setia kepada Tuhan, seperti Abraham, Musa, Nabi-nabi, dan sebagainya. Bagaimana hidup, keberimanan dan pekerjaan mereka?
Apa: Tentang apa yang disebut dalan nats? Misalnya: gereja, keluarga, persekutuan, ibadah, persembahan, kehidupan yang kekal, kehidupan pribadi, akhir zazaman, kematian, kebangkitan, dsb.
Sikap hidup kristiani yang bagaimana: pengampun, pengasih, penuh kesabaran, bertahan melawan pencobaan, kesetiaan, keteguhan iman, memberi secara Kristen,
2. Sapaan Tuhan kepada kita sekarang
Kotbah hendaknya menyentuh kehidupan dan pengalaman kita sekarang. Memang, Allah yang berfirman di dalam Alkitab, adalah Allah yang sama yang berfirman kepada kita sekarang. Akan tetapi situasi yang dihadapi oleh orang-orang dulu berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi sekarang. Karena itu, kita merenungkan, apa yang Tuhan katakan kepada kita melalui firmanNya yang terdapat di dalam Alkitab.
Kita mengalami banyak hal dalam kehidupan kita baik sukacita maupun berbagai beban kehidupan. Pengalaman-pengalaman kita itu perlu diangkat ke permukaan untuk melihat kehendak Allah yang terkandung di dalamnya, menyadari kecenderungan sikap berpaling dari Allah dan sebagainya. Karena itu, semua masalah kehidupan dapat disinggung dalam kotbah. Dalam hal ini sedapat-dapatnya kita perlu mendengar banyak dari orang, mendengar berita dari sumber-sumber yang ada, bahkan sedapat-dapatnya kita dapat membaca beberapa buku yang berguna.
3. Kotbah yang Benar dan Menarik
Keduanya memang penting, tetapi pusat perhatian utama kita dalam kotbah ialah bahwa isi kotbah itu benar sesuai dengan firman Tuhan. Bicara tentang ‘benar dan menarik’ seumpama dengan ‘isi dan bungkus’. Yang paling penting, tentunya adalah isi bukan bungkus. Apa artinya kalau bungkusnya baik tetapi isinya tidak baik? Lebih baik kalau bungkusnya sederhana, tetapi isinya sangat berharga. Paling baik, adalah baik isi dan bungkusnya baik.
Untuk memudahkan, pengkotbah dapat memberi ilustrasi atau perumpamaan. Tetapi perlu diperhatikan agar ilustrasi atau perumpamaan hanya merupakan ‘alat’ untuk memahami inti kotbah. Janganlah warga jemaat pulang dari gereja hanya mengingat cerita itu saja, tetapi benar-benar memahami dan menghayati firman Tuhan sebagai inti kotbah.
4. Beberapa hal yang perlu dijaga
(1) Hendaknya kotbah tidak disalahgunakan menjadi sarana melampiaskan emosi/ amarah atau menyindir kepada seseorang yang tidak disukai atau dibenci dalam jemaat. Mimbar gereja bukanlah tempat pelampiasan amarah, melainkan tempat menyampaikan firman Tuhan dalam kasih.
(2) Tidak menggunakan kotbah sebagai penonjolan pribadi melalui contoh-contoh keberhasilan diri sendiri. Peran pengkotbah adalah bagaikan sebuah jari yang menunjuk kepada Tuhan. Sebab, hanya Tuhanlah yang layak dimuliakan. Mimbar tempat berkotbah memang lebih tinggi, tetapi peran firman Tuhan itulah yang tinggi.
(3) Penggunaan waktu yang tepat supaya tidak terlalu bertele-tele sehingga yang mendengarkan kehilangan perhatian. Lebih baik menekankan beberapa pokok penting dengan penjelasan secukupnya.
(4) Pada saat menyampaikan kotbah, kita harus tetap dalam hubungan dengan Tuhan. Kita tidak sendirian di situ. Allah ada di situ. Karena itu, dalam berkotbah, bukan kita yang terutama menyapa warga jemaat, tetapi kita semua –termasuk pengkotbah—sedang disapa oleh Tuhan.
(5) Setelah selesai berkotbah, kita perlu hati-hati dengan dua godaan. Pertama, merasa tegang atau tertekan karena merasa gagal menarik perhatian umat. Kedua, menjadi sombong karena merasa kotbah yang disampaikan bagus, hebat, dikagumi orang dan sebagainya. Hendaklah kita bersyukur sambil menghayati firman Tuhan yang kita sampaikan.