Seorang pendeta yang sudah ditempatkan di kota selama 15 tahun mengunjungi temannya pendeta di sebuah desa terpencil. Mereka satu kelas ketika kuliah di Pendidikan Teologi dulu. Ia amat heran dan prihatin menyaksikan temannya makan singkong sebagai andalan karena sulitnya mendapat nasi. Padahal, di kota ia makan keju dan berlebihan makanan berkalori tinggi.
Menyakasikan kenyataan pahit itu, ia memberi ‘nasihat’ kepada temannya, “Sekiranya engkau mau menjilat kepada Pimpinan, engkau tidak perlu tinggal terus di desa ini dan mengkonsumsi singkong terus-menerus”.
Setelah diam sejenak, temannya itu menjawab, “sekiranya engkau membiasakan diri bersahabat dengan orang desa dan makan singkong, engkau tidak perlu menjilat kepada pimpinan”.
Barang siapa bertelinga hendaklah ia mendengar.
Thursday, June 19, 2008
Friday, June 6, 2008
TAMBAH USIA TANPA GELISAH

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:4)
Saya mengajak kita untuk berhitung sejenak. Begini: Kita umpamakan satu hari sama dengan 10 tahun. Jadi orang yang berumur 10 tahun berarti ia berada pada hari Senin; 20 tahun – Selasa; 30 tahun – Rabu; 40 tahun – Kamis; 50 tahun – Jumat ; 60 tahun – Sabtu (makin dekat ke hari ‘perhentian’!); 70 tahun – Minggu. Bagaimana dengan yang berusia 80 tahun? Mereka berada pada Hari Senin (Minggu II). Ini adalah ‘bonus’.
Anda tahu sudah pada hari apa berada sekarang bukan? Nah, kemudian lihat sebuah gelas yang berisi air setengah. Apa yang Anda katakan melihat gelas berisi air setengah itu? Mungkin ada yang mengatakan, “Wah airnya sudah habis setengah”. Yang dipikirkan justru yang sudah habis. Mudah-mudahan kita mau melihat dari sudut pandang yang lain dengan mengatakan, “Masih ada air setengah gelas lagi”. Kalau kita memusatkan perhatian pada “yang sudah habis setengah” kita akan kehilangan kegembiraan. Mungkin yang lebih mengemuka adalah kekuatiran, ketakutan, kesedihan dan sebagainya. Tetapi kalau kita memusatkan perhatian pada apa yang masih ada, “masih ada air setengah gelas lagi” hidup kita akan berbeda. Kita masih memiliki pengharapan, sukacita, semangat pelayanan sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.
Kalau Anda misalnya sekarang berada pada hari Kamis atau Jumat, jangan katakan, “Aduh, sudah lewat hari Senin sampai Rabu. Tetapi katakanlah dengan penuh harapan, “Masih ada hari Sabtu, Minggu dan Senin Minggu II. Atau, jangan pusatkan perhatian pada hari-hari hidup yang sudah berlalu 40-50 tahun. Katakan dalam iman, “Saya bersyukur kepada Tuhan, Dia memberi ‘hari’ ini untuk saya jalani dimana saya bisa melayaniNya”.
Perlu kita sadari betul bahwa usia tua adalah pemberian Tuhan. Oleh karena itu, masa tua bukanlah untuk ditakuti, melainkan untuk disyukuri dan dijalani dengan sukacita. Semua pemberian Tuhan adalah baik dan semua rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Tidak ada yang ditakutkan dalam segala pekerjaan dan pemberian Tuhan.
Ada yang menghitung bahwa di dalam Alkitab terdapat sedikitnya 365 kali seruan “jangan takut”. Seolah-olah setiap hari, pada saat kita bangun pagi, kita diingatkan, “Jangan takut!” Memang tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung mengatakan “jangan takut menjadi tua”. Hanya saja, semakin kita takut semakin membuat kita lebih cepat tua dari yang sudah dirancangkan oleh Tuhan. Sebab, rasa takut akan membuat kita lemah, sakit dan lebih cepat menjadi tua.
Kalau tahun bertambah, pasti usia kita juga bertambah. Kalau usia kita bertambah, di satu segi akan banyak pula yang berkurang dari kita.
YANG BERKURANG:
Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Memang ada orang yang pura-pura kenal padahal sebenarnya dia tidak mengenal. Seorang nenek dengan yakin berkata, “Jeni kamu banyak berubah. Dulu kamu gendut, sekarang langsing seperti botol coca-cola. Sekarang kulitmu putih, padahal dulu warna kulitmu sawo setengah matang. Dulu rambutmu keriting sekarang lurus, bukan karena direbonding ‘kan?, katanya. “Aku Lia nek, bukan Jeni”, kata si gadis itu memberitahu yang sebenarnya. Si nenek itu malah bilang, “Wah namamu sudah berubah juga ya”.
Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan disantap tanpa banyak pertimbangan. Sesudah makin berumur, banyak pantangan. Kolestrol dan gula darah perlu dijaga. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.
Sayang sekali banyak dari ‘yang palsu’ itu tidak dapat berfungsi optimal. Ada seorang kakek yang dengan sangat bangga memperkenalkan kepada temannya alat bantu pendengaran yang baru saja dia beli. Berselang beberapa saat, temannya itu bertanya, “Jam berapa sekarang?” Dia jawab, “1200 dollar!” Sehebat apa pun alat pendengaran palsu itu, ternyata ada keterbatasannya.
Yang jelas, banyak yang berkurang. Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.
Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.
YANG BERTAMBAH:
(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.
Ada seorang ibu yang datang ke sahabatnya mengeluh. “Saya pusing nih. Anak saya yang pertama tidak mau ke gereja; menantu saya perempuan kerjanya cuman bergaya, tidak bisa ngurus anak dan suaminya. Anak saya yang kedua pacaran dengan perempuan beragama lain, saya khawatir dia akan meninggalkan gereja nantinya. Suami saya tidak lama di rumah, dan itupun kerjanya marah terus. Rasanya kepala ini mau pecah, pusiiiiiiing.” Demikianlah si ibu itu berbicara hampir satu jam menyampaikan keluhannya. Setelah berdiam sejenak, sahabatnya itu bertanya dengan lembut, “Sekarang bagaimana perasaanmu?”. Si ibu itu menjawab, “Wah, saya merasa lega, rasa pusing saya hilang”. Sang sahabat mengatakan setengah oyong, “Tapi sekarang kepala saya yang pusing ”. Pusing kepala berpindah dari kepala yang satu ke kepala yang lain.
(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu.
Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh. Idealnya, pertumbuhan iman seirama dengan pertambahan usia. Tetapi, daripada sibuk dengan hal-hal yang membuat kita kehilangan kebahagiaan, baik karena apa yang berkurang atau godaan untuk bertambah dalam hal-hal yang tidak membangun, marilah kita pusatkan perhatian kita pada firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Yes. 46:4: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Allah yang mengasihi umatNya ribuan tahun yang silam adalah Allah yang memelihara kehidupan kita anak-anakNya hingga hari ini. Mari kita perhatikan apa yang Allah perbuat kepada kita:
Mengendong:
Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua. Di hadapan Tuhan, manusia bagaikan bayi yang mendapat kenyamanan dan keamanan dari Tuhan sendiri.
Menanggung:
Menyediakan kebutuhan kita. Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Semua itu memang perlu, tetapi bukan jaminan kehidupan kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.
Memikul dan Menyelamatkan:
Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak dapat memikul dosa-dosa kita yang begitu banyak. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita. Hanya karena rahmat dan anaugerah Tuhan semata, kita diselamatkan –dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.
Sehubungan dengan itu, sedikitnya ada tiga hal yang kiranya perlu kita renungkan. Pertama, kita hendaknya menerima pemberian Tuhan, yaitu pertambahan usia, dengan ucapan syukur dan sukacita. Banyak orang yang sudah tua tidak menghendaki hal-hal yang baru terjadi. Mereka menjadi lebih sinis terhadap segala sesuatu, lebih asyk dengan diri sendiri saja, atau merasa bosan. Perubahan adalah pemberian Tuhan, yang hendaknya akita sambut dengan hati terbuka dan gembira. Kedua, seiring dengan bertambahnya usia, hendaknya yang buruk semakin berkurang (yang buruk dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan) tetapi yang baik semakin bertambah (keteguhan iman bertambah, hikmat bertambah dan berbagai hal yang baik bertambah). Singkatnya, buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23) semakin mewujud dalam hidup kita. Dalam Pkh. 4:13 dikatakan, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.”
Ketiga, hendaknyalah kita menjalani hidup ini dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan melalui pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari sampai usia tua. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan, “Pada waktu muda aku mengagumi orang sukses dan pintar. Tetapi ketika aku semakin tua aku mengagumi orang-orang yang baik hati.” Idealnya, tidak saja mengagumi orang yang baik hati tetapi juga menjadi orang yang benar-benar baik hati.
Rasul Paulus menasihatkan:
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor 15:58).
Saya mengajak kita untuk berhitung sejenak. Begini: Kita umpamakan satu hari sama dengan 10 tahun. Jadi orang yang berumur 10 tahun berarti ia berada pada hari Senin; 20 tahun – Selasa; 30 tahun – Rabu; 40 tahun – Kamis; 50 tahun – Jumat ; 60 tahun – Sabtu (makin dekat ke hari ‘perhentian’!); 70 tahun – Minggu. Bagaimana dengan yang berusia 80 tahun? Mereka berada pada Hari Senin (Minggu II). Ini adalah ‘bonus’.
Anda tahu sudah pada hari apa berada sekarang bukan? Nah, kemudian lihat sebuah gelas yang berisi air setengah. Apa yang Anda katakan melihat gelas berisi air setengah itu? Mungkin ada yang mengatakan, “Wah airnya sudah habis setengah”. Yang dipikirkan justru yang sudah habis. Mudah-mudahan kita mau melihat dari sudut pandang yang lain dengan mengatakan, “Masih ada air setengah gelas lagi”. Kalau kita memusatkan perhatian pada “yang sudah habis setengah” kita akan kehilangan kegembiraan. Mungkin yang lebih mengemuka adalah kekuatiran, ketakutan, kesedihan dan sebagainya. Tetapi kalau kita memusatkan perhatian pada apa yang masih ada, “masih ada air setengah gelas lagi” hidup kita akan berbeda. Kita masih memiliki pengharapan, sukacita, semangat pelayanan sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.
Kalau Anda misalnya sekarang berada pada hari Kamis atau Jumat, jangan katakan, “Aduh, sudah lewat hari Senin sampai Rabu. Tetapi katakanlah dengan penuh harapan, “Masih ada hari Sabtu, Minggu dan Senin Minggu II. Atau, jangan pusatkan perhatian pada hari-hari hidup yang sudah berlalu 40-50 tahun. Katakan dalam iman, “Saya bersyukur kepada Tuhan, Dia memberi ‘hari’ ini untuk saya jalani dimana saya bisa melayaniNya”.
Perlu kita sadari betul bahwa usia tua adalah pemberian Tuhan. Oleh karena itu, masa tua bukanlah untuk ditakuti, melainkan untuk disyukuri dan dijalani dengan sukacita. Semua pemberian Tuhan adalah baik dan semua rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Tidak ada yang ditakutkan dalam segala pekerjaan dan pemberian Tuhan.
Ada yang menghitung bahwa di dalam Alkitab terdapat sedikitnya 365 kali seruan “jangan takut”. Seolah-olah setiap hari, pada saat kita bangun pagi, kita diingatkan, “Jangan takut!” Memang tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung mengatakan “jangan takut menjadi tua”. Hanya saja, semakin kita takut semakin membuat kita lebih cepat tua dari yang sudah dirancangkan oleh Tuhan. Sebab, rasa takut akan membuat kita lemah, sakit dan lebih cepat menjadi tua.
Kalau tahun bertambah, pasti usia kita juga bertambah. Kalau usia kita bertambah, di satu segi akan banyak pula yang berkurang dari kita.
YANG BERKURANG:
Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Memang ada orang yang pura-pura kenal padahal sebenarnya dia tidak mengenal. Seorang nenek dengan yakin berkata, “Jeni kamu banyak berubah. Dulu kamu gendut, sekarang langsing seperti botol coca-cola. Sekarang kulitmu putih, padahal dulu warna kulitmu sawo setengah matang. Dulu rambutmu keriting sekarang lurus, bukan karena direbonding ‘kan?, katanya. “Aku Lia nek, bukan Jeni”, kata si gadis itu memberitahu yang sebenarnya. Si nenek itu malah bilang, “Wah namamu sudah berubah juga ya”.
Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan disantap tanpa banyak pertimbangan. Sesudah makin berumur, banyak pantangan. Kolestrol dan gula darah perlu dijaga. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.
Sayang sekali banyak dari ‘yang palsu’ itu tidak dapat berfungsi optimal. Ada seorang kakek yang dengan sangat bangga memperkenalkan kepada temannya alat bantu pendengaran yang baru saja dia beli. Berselang beberapa saat, temannya itu bertanya, “Jam berapa sekarang?” Dia jawab, “1200 dollar!” Sehebat apa pun alat pendengaran palsu itu, ternyata ada keterbatasannya.
Yang jelas, banyak yang berkurang. Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.
Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.
YANG BERTAMBAH:
(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.
Ada seorang ibu yang datang ke sahabatnya mengeluh. “Saya pusing nih. Anak saya yang pertama tidak mau ke gereja; menantu saya perempuan kerjanya cuman bergaya, tidak bisa ngurus anak dan suaminya. Anak saya yang kedua pacaran dengan perempuan beragama lain, saya khawatir dia akan meninggalkan gereja nantinya. Suami saya tidak lama di rumah, dan itupun kerjanya marah terus. Rasanya kepala ini mau pecah, pusiiiiiiing.” Demikianlah si ibu itu berbicara hampir satu jam menyampaikan keluhannya. Setelah berdiam sejenak, sahabatnya itu bertanya dengan lembut, “Sekarang bagaimana perasaanmu?”. Si ibu itu menjawab, “Wah, saya merasa lega, rasa pusing saya hilang”. Sang sahabat mengatakan setengah oyong, “Tapi sekarang kepala saya yang pusing ”. Pusing kepala berpindah dari kepala yang satu ke kepala yang lain.
(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu.
Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh. Idealnya, pertumbuhan iman seirama dengan pertambahan usia. Tetapi, daripada sibuk dengan hal-hal yang membuat kita kehilangan kebahagiaan, baik karena apa yang berkurang atau godaan untuk bertambah dalam hal-hal yang tidak membangun, marilah kita pusatkan perhatian kita pada firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Yes. 46:4: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Allah yang mengasihi umatNya ribuan tahun yang silam adalah Allah yang memelihara kehidupan kita anak-anakNya hingga hari ini. Mari kita perhatikan apa yang Allah perbuat kepada kita:
Mengendong:
Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua. Di hadapan Tuhan, manusia bagaikan bayi yang mendapat kenyamanan dan keamanan dari Tuhan sendiri.
Menanggung:
Menyediakan kebutuhan kita. Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Semua itu memang perlu, tetapi bukan jaminan kehidupan kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.
Memikul dan Menyelamatkan:
Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak dapat memikul dosa-dosa kita yang begitu banyak. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita. Hanya karena rahmat dan anaugerah Tuhan semata, kita diselamatkan –dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.
Sehubungan dengan itu, sedikitnya ada tiga hal yang kiranya perlu kita renungkan. Pertama, kita hendaknya menerima pemberian Tuhan, yaitu pertambahan usia, dengan ucapan syukur dan sukacita. Banyak orang yang sudah tua tidak menghendaki hal-hal yang baru terjadi. Mereka menjadi lebih sinis terhadap segala sesuatu, lebih asyk dengan diri sendiri saja, atau merasa bosan. Perubahan adalah pemberian Tuhan, yang hendaknya akita sambut dengan hati terbuka dan gembira. Kedua, seiring dengan bertambahnya usia, hendaknya yang buruk semakin berkurang (yang buruk dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan) tetapi yang baik semakin bertambah (keteguhan iman bertambah, hikmat bertambah dan berbagai hal yang baik bertambah). Singkatnya, buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23) semakin mewujud dalam hidup kita. Dalam Pkh. 4:13 dikatakan, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.”
Ketiga, hendaknyalah kita menjalani hidup ini dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan melalui pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari sampai usia tua. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan, “Pada waktu muda aku mengagumi orang sukses dan pintar. Tetapi ketika aku semakin tua aku mengagumi orang-orang yang baik hati.” Idealnya, tidak saja mengagumi orang yang baik hati tetapi juga menjadi orang yang benar-benar baik hati.
Rasul Paulus menasihatkan:
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor 15:58).
Monday, May 19, 2008
POSISI BERDOA tapi OTAK TERNODA
Sebuah sekolah pendidikan teologi mewajibkan seluruh mahasiswanya yang tinggal di asrama untuk bangun setiap jam 5 pagi. Mereka semuanya harus mengikuti senam kesegaran jasmani (SKJ) secara bersama-sama yang selalu dihadiri oleh Rektor perguruan itu. Sang Rektor dikenal sangat 'disiplin' dan tidak sungkan memukul mahasiswa yang tertidur dengan tongkatnya yang selalu ia bawa setiap pagi.
Pada suatu pagi yang agak dingin, ia memasuki kamar para mahasiswa untuk memeriksa apakah ada yang masih tertidur. Ternyata ada seorang mahasiswa yang agak malas bangun karena dinginnya suhu udara (teman-temannya biasa menjulukinya 'ratu tidur'). Si mahasiswa itu sudah mendengar suara langkah Pak Rektor itu menuju kamarnya. Dia sangat ketakutan. Dengan cepat ia duduk dengan posisi berdoa di atas tempat tidurnya. Tetapi sesungguhnya ia tidak berdoa. Ia berkata dalam hati, "aduuuuuuh, sakitnya pukulan tongkat ini nantinya". Pikirannya sepenuhnya tertuju pada pukulan tongkat sang Pemimpin. Melihat keadaan 'doa' yang khusuk itu, Rektor keluar dari kamar itu. Beberapa saat kemudian, setelah si mahasiswa melirik bahwa Rektornya sudah tidak ada lagi di kamar, ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil berkata dalam hati, "amaaaaan.....". Padahal, Rektor masih berada di luar, menunggu si mahasiswa selesai berdoa.
Menganggap 'doa' itu sudah terlalu lama, si Rektor kembali ke kamar dan melihat si mahasiswa berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba tongkat pun mendarat di kaki si mahasiswa. Ia merasa sakit dua kali lipat karena (1) Kaget, dan (2) pukulan itu benar-benar sakit.
Bagaimana dengan doa-doa Anda?
Bagaimana kepemimpinan Anda? Yang suka pakai 'tongkat' silahkan bertobat!
Pada suatu pagi yang agak dingin, ia memasuki kamar para mahasiswa untuk memeriksa apakah ada yang masih tertidur. Ternyata ada seorang mahasiswa yang agak malas bangun karena dinginnya suhu udara (teman-temannya biasa menjulukinya 'ratu tidur'). Si mahasiswa itu sudah mendengar suara langkah Pak Rektor itu menuju kamarnya. Dia sangat ketakutan. Dengan cepat ia duduk dengan posisi berdoa di atas tempat tidurnya. Tetapi sesungguhnya ia tidak berdoa. Ia berkata dalam hati, "aduuuuuuh, sakitnya pukulan tongkat ini nantinya". Pikirannya sepenuhnya tertuju pada pukulan tongkat sang Pemimpin. Melihat keadaan 'doa' yang khusuk itu, Rektor keluar dari kamar itu. Beberapa saat kemudian, setelah si mahasiswa melirik bahwa Rektornya sudah tidak ada lagi di kamar, ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil berkata dalam hati, "amaaaaan.....". Padahal, Rektor masih berada di luar, menunggu si mahasiswa selesai berdoa.
Menganggap 'doa' itu sudah terlalu lama, si Rektor kembali ke kamar dan melihat si mahasiswa berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba tongkat pun mendarat di kaki si mahasiswa. Ia merasa sakit dua kali lipat karena (1) Kaget, dan (2) pukulan itu benar-benar sakit.
Bagaimana dengan doa-doa Anda?
Bagaimana kepemimpinan Anda? Yang suka pakai 'tongkat' silahkan bertobat!
Sunday, May 18, 2008
TIDUR DAN IBADAH
Sebuah asrama seminari Kristen menjadwalkan doa bersama pagi dan malam kepada semua mahasiswa penghuni asrama tersebut. Kepala asrama amat ketat mengawasi kehadiran para penghuni asrama mengikuti ibadah.
Seorang mahasiswa yang amat lelah setelah melakukan perjalanan panjang sehari penuh memilih untuk tidur lebih awal tanpa mengikuti ibadah malam bersama.
Keesokan harinya, Pemimpin asrama dengan suara sedikit meninggi bertanya kepada mahasiswa, "Kamu tidak mengikuti ibadah tadi malam bukan?"
"Tidak Pak," sahut si mahasiswa dengan nada datar dan sedikit gemetar.
"Masakan seorang penghuni asrama seminari tidak mengikuti ibadah. Coba bayangkan, apa kira-kira yang Tuhan katakan kepadamu dengan ketidakhadiranmu dalam ibadah", desak si pemimpin asrama.
"Tuhan mengatakan, 'engkau sudah sangat capek anakKu, tidurlah dengan dengan tenang. Lupakan segala sesuatu kecuali mengingat bahwa Aku tidak tertidur dan tidak melupakanmu'."
Ibadah bukanlah sebuah kewajiban, apalagi yang ketat-kaku. Ibadah adalah sebuah panggilan yang hendaknya dilakukan dengan sukacita untuk kemuliaan Tuhan bukan menyengkan pemimpin atau institusi.
Seorang mahasiswa yang amat lelah setelah melakukan perjalanan panjang sehari penuh memilih untuk tidur lebih awal tanpa mengikuti ibadah malam bersama.
Keesokan harinya, Pemimpin asrama dengan suara sedikit meninggi bertanya kepada mahasiswa, "Kamu tidak mengikuti ibadah tadi malam bukan?"
"Tidak Pak," sahut si mahasiswa dengan nada datar dan sedikit gemetar.
"Masakan seorang penghuni asrama seminari tidak mengikuti ibadah. Coba bayangkan, apa kira-kira yang Tuhan katakan kepadamu dengan ketidakhadiranmu dalam ibadah", desak si pemimpin asrama.
"Tuhan mengatakan, 'engkau sudah sangat capek anakKu, tidurlah dengan dengan tenang. Lupakan segala sesuatu kecuali mengingat bahwa Aku tidak tertidur dan tidak melupakanmu'."
Ibadah bukanlah sebuah kewajiban, apalagi yang ketat-kaku. Ibadah adalah sebuah panggilan yang hendaknya dilakukan dengan sukacita untuk kemuliaan Tuhan bukan menyengkan pemimpin atau institusi.
Monday, May 5, 2008
TATA IBADAH HKBP
I. PENGANTAR
Rasul Paulus menasihatkan, “Latihlah dirimu beribadah”. Tujuannya jelas yaitu bahwa ibadah teranyam ketat dengan keteladanan hidup dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian (baca 1 Tim 4:7, 12). Mengacu pada nasihat ini, ibadah sangat menentukan totalitas kehidupan umat percaya. Karena itu, tata ibadah perlu mendapat perhatian khusus dan serius.
Tata ibadah HKBP telah dipakai oleh Tuhan untuk menyapa dan membangun warga HKBP dalam rentang sejarah yang cukup panjang. Banyak warga jemaat yang sudah merasa at home (‘betah’) dengan tata ibadah itu. Jika demikian, apa yang perlu dikritisi? Untuk menghindari salah paham, perlu dikemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “kritis” di sini adalah “menguji dalam terang Firman Tuhan”. Tata ibadah dan kehidupan beribadah dapat diuji dalam terang firman Tuhan setiap saat.
Akhir-akhir ini seruan pembaharuan tata ibadah HKBP kian deras mengalir. Seruan demikian harus disambut baik dengan dua alasa utama. Pertama, tata ibadah merupakan post biblical development (perkembangan dari zaman Alkitab) yang kita warisi dari umat percaya dalam sejarah perjalanan Gereja. Ia berbeda pada zaman dan tempat yang berbeda. Karena itu, tata ibadah tidak pernah (dan tidak perlu) dibakukan atau dimutlakkan. Dengan kata lain, tata ibadah tidak dikanonkan sejajar dengan Alkitab. Kedua, tata ibadah adalah salah satu wahana atau “alat” dan bukan “tujuan”. Walaupun harus diakui bahwa sebagai alat, ia juga sangat berperan dalam mencapai tujuan.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah akademis tetapi lebih merupakan uraian teologis praktis, yang difokuskan pada ibadah HKBP.
II. MENUJU TATA IBADAH KONTEKSTUAL
Alkitab tidak mencatat tata ibadah baku yang berlaku bagi semua gereja sepanjang zaman. Tata ibadah yang baku dan kaku bisa menghalangi karya Roh bekerja dalam kehidupan umat beriman. Tidak ada yang dapat mengklaim satu tata ibadah sebagai yang terbaik bagi semua. Juga, tidak mungkin mengambil suatu kesimpulan bahwa tata ibadah tertentu lebih disukai Tuhan, membuat orang lebih baik, atau tata ibadah tertentu lebih berjasa menyumbangkan yang terbaik bagi gereja dan masyarakat.
Satu pertanyaan yang perlu direspon adalah, “apakah dimungkinkan keragaman tata ibadah dalam satu gereja?” Menurut hemat saya secara teologis keragaman tata ibadah sah sejauh hal-hal yang sangat esensial tetap dipelihara yaitu bahwa ibadah berpusat pada Allah. Kita bisa saja memuji Tuhan yang sama dengan tata ibadah yang berbeda, dan jangan memuji “tuhan” yang berbeda, dengan tata ibadah yang sama.
Dalam lingkungan gereja-gereja Lutheran, misalnya, keragaman tata ibadah lebih dipahami sebagai kekayaan dan bukan pertentangan. Lathrop (seorang teolog Lutheran bidang liturgi) mencatat sebagai berikut:
Gereja-gereja Lutheran tidak memiliki tata ibadah Lutheran internasional resmi. Lutheran mewarisi kekayaan ibadah Kristen dalam perjalanan sejarah. Lutheran menyambut baik konsensus ekumenis tentang dasar-dasar tata ibadah yang paling mendasar dan secara sadar mengakui bahwa tata ibadah yang ada sangat dipengaruhi oleh berbagai budaya. Kita membutuhkan tata ibadah yang kontekstual.[2]
Keabsahan keragaman tata ibadah sebagai kekayaan juga didasari suatu keyakinan bahwa orang Kristen tidak diselamatkan oleh ‘suatu tata ibadah yang dibakukan’. Karena itu kita tidak dapat “mempertuhan tata Ibadah”, tetapi kita menyembah Tuhan dalam ibadah. Ibadah adalah perayaan atas keselamatan kita dan kesempatan mempertanggungjawabkan keselamatan kita melalui penyerahan hidup kita seturut dengan kehendak Tuhan.
Tata ibadah HKBP pun (sebagaimana tertuang dalam Agenda HKBP) dirumuskan sedemikian rupa dalam semangat pengkontekstualisasian tata ibadah. Artinya, tata ibadah HKBP dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya. Itu sebabnya tidak semua rumusan-rumusan di dalamnya relevan dengan konteks HKBP kontemporer. Salah satu contoh, dalam Agenda HKBP tercantum doa berikut: “Sai gomgomi jala parentai ma huriaM di tano Batak on, asa lam rarat jala monang huriaMi.”[3] (Bimbinglah gerejaMu di tanah Batak ini agar semakin berkembang dan menang). Rumusan ini harus dipahami dalam kerangka konteks historis yang tentu tidak relevan bagi HKBP yang ada di luar tanah Batak seperti Bali, Singapura dan lain-lain.
Di samping itu, urgensi perubahan tata ibadah merupakan wujud nyata penerimaan kita terhadap upaya lembaga-lembaga gerejawi pada aras nasional hingga internasional seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD).[4]
Tetapi dalam usaha pembaharuan tata ibadah perlu adanya konservasi (mempertahankan warisan pendahulu-pendahulu kita yang relevan dalam konteks bergereja masakini. Artinya, kontinuitas, terutama hal-hal esensial, harus dipelihara. Perubahan tata ibadah hendaknya tidak mengubah hakekat ibadah itu sendiri. Sebab, ibadah adalah “permanen” tetapi “tata ibadah” adalah kondisional.
Dalam perubahan tersebut perlu dijaga agar ibadah tidak direduksi pada level “selera”. Jika ada warga jemaat merasa lebih at home dengan tata ibadah yang lain, janganlah menganggap tata ibadah HKBP sebagai yang tidak berguna lagi. Sebaliknya, warga jemaat yang sudah merasa kerasan dengan tata ibadah HKBP, sangat bijaksana kalau menghargai keragaman tata ibadah lain.
Perlu dikemukakan bahwa penyusunan tata ibadah sedemikian rupa tidak dimotivasi niat keliru seolah-olah Tuhan lebih mudah ‘dibujuk’ atau ‘dipengaruhi’ melalui tata ibadah tertentu. Tata ibadah justru membantu kita untuk dapat lebih menghayati iman kita dan menggerakkan totalitas kehidupan kita menjadi persembahan yang kudus kepadaNya. Ibadah merangkum seluruh tugas panggilan gereja di antaranya: edukasi, persekutuan, kesaksian, dan pelayanan kasih.
1. Ibadah sebagai Proses Edukasi
Murid-murid Yesus mendapat pengajaran dalam suasana ibadah dan seluruh gerak hidup mereka bersama Yesus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ibadah adalah suatu proses belajar dari Kristus sang guru agung itu, proses belajar dari sesama warga jemaat, dan proses belajar dari sesama manusia. Ibadah dapat menjadi proses “belajar menerima” dan “belajar memberi”. Belajar menerima dimaksudkan menerima atau menyambut kehadiran Tuhan dengan segala anugerah dan perintahNya; belajar memberi dimaksudkan memberi hidup sebagai persembahan kepada Tuhan melalui pelayanan terhadap sesama. Semuanya ini dilakukan dalam pemahaman yang benar dan kesadaran yang sungguh-sunguh.
Idealnya ibadah membekali warga jemaat memahami konfesi (pengakuan iman), etika, aturan, siasat gereja, tugas panggilan gereja dan sebagainya. Dalam hal ini terangkum sikap kristiani berhubungan dengan berbagai bidang kehidupan seperti masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, agama-agama dan sebagainya. Seiring dengan ini ibadah mestinya berperan untuk mempertajam visi, menumbuhkan sikap kritis, menumbuhkan komitmen, dan mengarahkan hidup kita kepada kebutuhan sesama. Kita juga dimungkinkan untuk senantiasa terjaga dan mampu menguji roh-roh jaman seperti individualisme, konsumerisme, materialisme, hedonisme dan lain-lain yang tengah merasuk dan merusak kehidupan umat. Di sini ibadah menjadi wahana untuk mengasah sensitivitas kita terhadap sapaan dan kehendak Allah
Tujuan beribadah tidak dimaksudkan untuk ‘mengajar’ dan mengingatkan Tuhan pada tanggung jawabNya, melainkan mengajar dan mengingatkan umat percaya akan tanggung jawabnya. Dengan kata lain proses “pemuridan” yang sesungguhya terjadi dalam suasana ibadah. Tuhan senantiasa memperlengkapi para muridNya (dalam hal ini semua pelayan dan warga jemaat adalah murid-murid Kristus seumur hidup).
Singkatnya, dalam ibadah kita memperhatikan dan mendengar apa yang diperhatikan dan didengar oleh Allah (lihat misalnya Kel 3:7) dan merasakan apa yang dirasakan Kristus (Ef 2:5). Hanya dengan demikian kita dimungkinkan bertindak seturut dengan tindakan Allah.
2. Ibadah dan Persekutuan Ekumenis.
Persekutuan merupakan salah satu esensi ibadah. Di dalam ibadah umat percaya secara bersama-sama dibaharui oleh Allah dengan anugerahNya. Ibadah juga menjadi momen berharga untuk menyegarkan umat percaya akan panggilannya sebagai persekutuan yang diikat kuat oleh kasih Allah. T.S. Eliot menyatakan hal ini dengan sangat baik sebagai berikut.[5]
Apakah arti kehidupan Anda jika tidak dalam persekutuan?
Tidak ada hidup tanpa hidup dalam persekutuan
Tidak ada persekutuan yang hidup tanpa kasih Allah
Tidak ada persekutuan yang bermakna tanpa pujian kepada Allah
Dalam konteks ini, “persekutuan”, di samping persekutuan umat beriman, harus kita pahami melintas tembok gedung-gedung gereja. Kata oikumene harus dipahami secara baru sebagai yang merangkum dan merangkul semua orang. Dalam hal ini persekutuan dapat dilihat dalam dua dimensi, di satu sisi kekokohan dan keutuhan persekutuan jemaat, di pihak lain mengarahkan hidup kepada persekutuan yang lebih luas dengan membuka sekat-sekat penghalang persaudaraan sejati kepada semua dan setiap orang.
Persaudaraan sejati sangat sulit mewujud karena roh individualisme telah merambah ke setiap ranah kehidupan. Dalam konteks masyarakat yang semakin individualistis, orang-orang Kristen bisa saja menikmati hadirat Tuhan secara eksklusif saja berdasarkan kesamaan status sosial, kesamaan ‘selera’, kesamaan kecemasan dan sebagainya. Di sini, ibadah --jika ia masih diminati-- cenderung dibelokan menjadi sekadar sarana pemenuhan kepentingan diri sendiri. Yang terjadi di sini adalah pemanfaatan persekutuan demi pemenuhan kepentingan diri. Konsekwensinya, persekutuan yang sesungguhnya menjadi mustahil.
Salah satu dampak perkembangan teknologi dewasa ini adalah kenyataan bahwa “ibadah” sudah dengan mudah “diantar” ke rumah-rumah hunian kita melalui TV, di mana kita tidak saja berperan sebagai ‘pemirsa’ tetapi bisa terlibat langsung berdoa, bernyanyi dan sebagainya. Perkembangan ini mestinya kita sambut sebagai ‘suplemen’ terhadap pertumbuhan persekutuan kita bukan menggantikan persekutuan jemaat.
Ibadah yang ‘dingin’ lebih disebabkan oleh persaudaraan yang dingin dan sambutan ‘dingin’ atas kehadiran Tuhan dalam ibadah dan seluruh kehidupan. Tetapi persekutuan kita akan hangat dan bersahabat jika dibangun atas dasar kebersamaan yang dirahmati dan didiami RohNya.
3. Ibadah dan Kesaksian
Sebenarnya kita lebih lama bertemu dengan Tuhan di luar ibadah. Karena itu, di luar ibadah yang sudah diformat sedemikian rupa, Allah tetap bisa disembah. Kita tidak dapat membentengi ruang lingkup kerja Allah hanya dalam ibadah, seolah-olah kita dapat meninggalkanNya sendirian di gedung gereja sementara kita melakukan aktivitas sehari-hari dan kemudian kita menemuiNya kembali pada hari Minggu berikutnya. Padahal, sesungguhnya kita berhadapan dan bersama-sama dengan Allah dalam seluruh kehidupan kita. Kita juga dapat mendengar kebenaran Tuhan dari sesama melalui pengakuan iman dan praksis kehidupan beriman umat percaya di masa lalu dan masa kini.
Karya dan kehendak Allah yang dialami di luar ibadah dapat direnungkan dalam ibadah; karya dan kehendak Allah yang terungkap dalam ibadah dapat ‘ditangkap’ dan dialami di luar ibadah formal. Itu sebabnya “suara kenabian” menjadi keharusan ketika di dalam dan di luar ibadah kita sunguh-sunguh bertemu dengan Tuhan yang menolak segala bentuk ketidakadilan. Di dalam ibadah kita bertemu dengan Allah yang mencintai kebenaran dan keadilan, di dalam kehidupan sehari-hari kita terpangil untuk menyatakan kebenaran dan keadilan. Ketika suara kenabian diredam di tengah situasi maraknya ketidakadilan --meskipun ibadah tetap semarak-- sebenarnya peribadahan itu telah bergeser menjadi persekutuan oposisi kepada Allah.
Ibadah tidak dimaksudkan sebagai tindakan “mengambil hati Allah” atau membujuknya untuk mencocokkan keputusan dan pemberianNya sesuai dengan keinginan kita, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk menyaksikan secara jernih karya Allah yang sudah nyata. Kesaksian demikian seharusnya diikuti dengan penegasan komitmen umat percaya seturut dengan kehendakNya. Nasihat “latihlah dirimu beribadah”, juga kita mengerti sebagai nasihat untuk melatih diri menyaksikan kehadiran dan karya Allah dan memahami kehendakNya dalam segala situasi kehidupan, baik dalam situasi teduh maupun dalam situasi gemuruhnya dunia ini. Tugas panggilan untuk bersaksi atau pemberitaan Injil yang benar hanya dimungkinkan jika kita mampu menyaksikan kehendak dan rencana Tuhan dalam situasi konkret perjalanan dunia ini.
4. Ibadah dan Solidaritas
Allah menghendaki ibadah yang berpadanan dengan kehidupan konkret, terutama dalam penegakan kebenaran dan keadilan. Allah menolak ibadah yang semarak tanpa disertai dengan gerak hidup yang seturut gerak Allah di dunia ini, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan (Amos 5).
Kita belajar dari sikap Yesus yang lebih mencintai manusia ketimbang Sabat. Yesus tidak terlambat dan terhambat menolong manusia bermartabat melintas ‘rambu-rambu’ Sabat. Artinya, ibadah adalah demi manusia, bukan manusia dikorbankan demi ibadah. Yang disebut terakhir ini klop dengan ibadah kepada tahyul. Ketika orang terhalang mengasihi sesamanya atas nama ibadah, maka ibadah menjadi tidak bermakna.
Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa kehidupan beragama (termasuk bergereja) di Indonesia masih semarak atau bahkan sedang berada pada kemuncak-kemuncaknya, namun dalam waktu yang sama terjadi keruntuhan moral dan etika.[6] Panggilan kita ialah agar melalui ibadah kita semakin peka terhadap sapaan Tuhan dan semakin peka akan kebutuhan sesama. Ibadah tidak menggantikan tanggung jawab, atau cicilan pembayaran sanksi pelanggaran dan dosa kita, tetapi dalam rangka mewujudkan peran kita sebagai garam dan terang dunia.
Yang perlu mendapat perhatian kita secara khusus ialah, agar pergumulan hidup masyarakat mendapat tempat dalam ibadah. Kita memerlukan renungan situasional, menyelami dan memahami kenyataan secara kritis atas pertolongan Tuhan. Dengan demikian ibadah dapat menumbuhkan kepekaan sosial dan solidaritas sejati.
Ibadah adalah ‘doa syafaat’ yang menyatu dengan tindakan konkret. Kita tidak berjasa apapun jika doa syafaat yang kita ucapkan menggantikan tangung jawab kita menolong mereka yang terindas dan dalam kesusahan. Ibadah menjadi bermakna jika umat tergerak dan bertindak dengan motivasi yang benar. Reed merumuskannya dengan sangat tepat sebagai berikut.[7]
Ibadah adalah doa syafaat, teriakan atas nama dunia sepanjang masa. Berdoa kepada Allah dan mengingat sesama manusia berarti mengakui bahwa Allah mengingat kita semua. Karena itu, menaikkan doa syafaat tidak terpisahkan dengan solidaritas nyata dengan semua korban dalam masyarakat kita.
III. PENGHAYATAN IBADAH
HKBP telah sejak lama menekankan perlunya kehidmatan dan keteduhan beribadah. Dalam GBKPP HKBP misalnya diamanatkan: “Kehidmatan dan keteduhan kebaktian merupakan suatu faktor penting dalam usaha menimbulkan perasaan dan pemahaman serta penghayatan yang lebih mendalam tentang firman Allah…Untuk ini tata cara kebaktian hendaklah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga jemaat dapat turut merasakan dan menghayatinya secara mendalam…”[8]
Memang, kehidmatan dan keteduhan kita seringkali dijarah baik oleh gaya hidup workalholic (terlalu sibuk bekerja) maupun gaya hidup yang terlalu santai. Tetapi kita dapat meraih kembali kehidmatan dan keteduhan ini dengan prasyarat kuci yakni: penghayatan. Untuk itu dibutuhkan persiapan diri pelayan dan warga jemaat. Nampaknya para pelayan dan warga gereja-gereja Protestan (termasuk HKBP) sudah banyak yang lupa akan warisan spiritual berharga seperti meditasi, puasa, saat teduh dan sebagainya. Martin Luther sendiri menganjurkan doa dan perenungan pribadi dengan membaca bagian kitab Mazmur, membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab tertentu, mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, dan diakhiri dengan Doa Bapa Kami. Warisan berharga seperti ini hendaknya tetap dipelihara sehingga ibadah dapat terbangun dalam suasana rahmat.
Berikut ini ada tiga ‘elemen’ ibadah formal yang kiranya perlu mendapat perhatian dan persiapan kita secara khusus.
1. Liturgi
Pencobaan bisa saja dihadapi oleh Paragenda (pemimpin liturgi) yang sudah dan belum ‘biasa’ memimpin ibadah. Mereka yang sudah biasa tergoda merasa tidak membutuhkan persiapan khusus dan penyerahan diri. Bagian demi bagian tata ibadah mungkin saja berjalan ‘lancar’ tetapi seringkali tanpa penghayatan, apalagi kalau ia hanya menggantungkan diri pada intonasi suara yang ‘dipaksakan’ atau dibuat-buat. Pemimimpin ibadah yang belum biasa, seringkali menjadi amat kaku karena seluruh perhatian terkonsentrasi pada susunan acara dan membolak-balik Agenda (buku tata ibadah). Pemimpin ibadah jadinya merasa lebih banyak “berhadapan” dengan Agenda dan tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri dan umatNya.
Maka yang terjadi adalah “membaca” votum, bukan mengaku bahwa Allah hadir dalam ibadah, membaca doa bukan berdoa, membaca Alkitab bukan memperdengarkan firman Tuhan, mengucapkan rumusan Pengakuan Iman Rasuli (yang sudah dihafal), bukan mengaku percaya secara baru, dan sebagainya. Keadaan ini menyuburkan kebosanan dalam ibadah. Mestinya pusat perhatian adalah Allah yang hadir dalam ibadah itu sendiri, yang memberi hukum, pengampunan, berfirman, memberi berkat, mengutus, dan sebaginya, sehingga ibadah dapat menyentuh hati yang terdalam peserta ibadah.
Pemimpin ibadah dapat keluar dari belenggu hambatan seperti itu dengan sungguh-sungguh menikmati perkataan-perkataan Tuhan setiap kali bertemu denganNya (Yer 15:16). Sebab, kasih setia dan rahmat Tuhan selalu baru tiap saat (Rat 3:22). Dalam hal ini para pelayan ibadah perlu mempersiapkan diri secara rohani dan jasmani. Setiap pelayan yang bertugas seharusnya mempersiapkan diri secara khusus dalam suasana keheningan dan doa untuk menerima pimpinan dan hikmat dari Tuhan.
2. Kotbah[9]
Kotbah merupakan salah satu bagian terpenting dalam ibadah. Dalam GBKPP HKBP dicatat: “Dalam setiap kebaktian, khotbah memegang peranan yang sangat penting”. [10] Perlu disadari bahwa krisis tidak terutama terjadi pada para pendengar khotbah, tetapi pada para pengkotbah. Umumnya warga jemaat masih merindukan kotbah. Justru para Pengkotbahlah yang barangkali sedang dirundung kejenuhan karena terpasung rutinitas. Jika semua hal sudah pernah dikotbahkan, para pengkotbah cenderung hanya menggantungkan diri pada intonasi kata-kata, gerak-gerik dan sebagainya. Konsekuensinya, pemberitaan pun menjadi ‘gersang’.
Sebuah doa dalam Agenda HKBP berbunyi: “Sai songgopi ma angka parjamita marhitehite TondiM asa marhiras ni roha nasida jala asa mabaor sian pamangannasida HataM na sintong i songon hababaor ni aek sian mual na denggan, na pasabam roha ni jolma na loja jala na sorat”[11] (Curahkanlah RohMu kepada para pengkotbah agar mereka senantiasa dalam sukacita dan kebenaran firmanMu mengalir melalui mulut mereka seperti air segar yang menyejukkan, menhibur hati orang-orang yang menanggung beban). Doa ini mestinya juga merupakan panggilan kepada para pelayan Firman Tuhan untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri, termasuk menjernihkan motivasinya.
Pertanyaan yang perlu dijawab seorang pengkotbah sebelum berkotbah adalah, “Apakah saya berkotbah karena I have to say something (Saya “harus” mengatakan sesuatu) atau I have something to say (“Ada” sesuatu yang akan saya katakan). Yang disebut pertama berkotbah karena ‘terpaksa’ (karena jadwal, menggantikan pengkotbah, dan sebagainya). Godaan terbesar dengan motivasi seperti ini adalah usaha keras memeras benak mencari “apa yang cocok saya katakan atas dasar ayat Alkitab ini”, bukan (yang pertama dan terutama!) “apa yang Tuhan katakan kepada saya dan umatNya melalui ayat Alkitab ini”. Motivasi I have something to say bertolak dari kesediaan mendengar sapaan Tuhan dan menyadari panggilanNya untuk memberitakan FirmanNya. Ini hanya dapat terbangun melalui persiapan diri dalam keheningan batin sehingga Firman Tuhan yang disampaikan menyejukkan, menyentuh hati yang terdalam, membangkitkan iman, meneguhkan ketetapan hati mengikut Kristus dalam kebenaran dan kasih. Karena itu, pendidikan homiletik tidak terutama terletak pada pendidikan teologi formal, tetapi seluruh kehidupan adalah medan di mana Tuhan mendidik para hambaNya. Pengkotbah yang layak didengar, adalah pengkotbah yang bersedia mendengarkan Tuhan dalam hidupnya!
3. Nyanyian
Salah satu ciri jemaat Kristen perdana adalah “jemaat yang bernyanyi”. Ciri ini juga merupakan ciri ibadah Kristen sepanjang sejarah. Reformator Martin Luther dengan tepat pernah mengatakan ”Iblis akan enyah ketika mendengar nyanyian Kristen”. Hal ini dapat kita pahami karena ketika hati kita terpaut pada Tuhan, maka Iblis pun akan undur.
Ada tiga hal dapat dikemukakan di sini seputar nyanyian gereja. Pertama, kedudukan koor dalam ibadah. Pada umumnya jemaat-jemaat HKBP memberi tempat khusus pada koor dalam ibadah minggu dan perayaan gerejawi HKBP. Sejauh ini agaknya belum terdengar seruan penghapusan koor dari ibadah, tetapi memang gencar diserukan pengurangan jumlah koor (misalnya dari 8-9 menjadi 2-3 koor) dalam setiap ibadah. Dalam hal ini ada baiknya dilakukan dialog terbuka di jemaat-jemaat untuk mempercakapkannya. Yang perlu dipikirkan ialah agar koor itu membangun seluruh peserta ibadah.
Kedua, penggunaan nyanyian di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Penggunaan nyanyian gerejawi di luar Buku Ende HKBP banyak diminati dan diserukan oleh pemuda HKBP, terutama karena irama dan iringan musik yang diangap lebih ‘pas’. Menurut hemat saya, hal ini perlu ditanggapi secara positif. Para pemuda seharusnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan kegembiraan, harapan, pujian, dan pergumulannya, serta penyerahan dirinya kepada Tuhan dengan nyanyian demikian. Sebab, secara teologis, Allah dapat disembah melalui lagu-lagu di luar Buku Ende (koor-koor itu pun sebetulnya di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat).[12] Pelaksanaan ibadah seperti itu baiklah dilakukan secara khusus tetapi ibadah Minggu HKBP –paling tidak sampai saat ini-- hendaknya tetap menggunakan Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Yang penting ialah bahwa HKBP harus terbuka pada segala sesuatu yang membangun kehidupan bergereja.
Ketiga, Pemazmur mengajak “nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan” (Mzm 96:1). Syair nyanyian dalam Buku Ende HKBP memang sudah lama, bahkan banyak di antaranya yang sudah kita hapal mati. Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan bisa juga dengan “nyanyian lama” dengan penghayatan baru. Yang lebih utama adalah kata demi kata nyanyian itu sungguh-sunguh meresapi akal budi dan hati kita yang terdalam.
IV. PENUTUP
Tuhan menjumpai kita di dalam dan di luar ibadah. Firman Tuhan yang berbunyi “Carilah Tuhan” (Amos 5:6a) kita pahami dalam arti bahwa “Tuhan telah terlebih dahulu menemukan kita”. Ibadah bukanlah upaya supaya mendapat hak khusus lebih dekat dengan Tuhan dan hak khusus untuk meminta kepada Tuhan. Ibadah adalah proses perubahan dan penyerahan hidup dan bahkan bagian integral hidup kita. Dengan demikian, dalam iman dan suasana penuh rahmat kita boleh hidup dengan pengakuan dan komitmen sebagai berikut:[13]
Tuhan, Engkau telah memberikan diriMu
Kini kami memempersembahkan hidup kami kepadaMu melalui pelayanan terhadap sesama
KasihMu telah menjadikan kami manusia baru
Sebagai umat yang Kaukasihi, kami akan melayani Engkau dengan sukacita
KemuliaanMu telah memenuhi hati kami
Tolong kami memuliakan Engkau dalam segala hal. Amin.
[2] Gordon W. Lathrop, “The Shape of the Liturgy: A Framework for Contextualization”, dalam S. Anita Stauffer (ed.), Christian Worship: Unity in Cultural Diversity, Geneva: LWF, 1996.
[3] Bagian doa perayaan peringatan kenaikan Tuhan Yesus. Lihat Agenda HKBP, halaman 96. Dalam edisi Bahasa Indonesia kata di tano Batak on (di tanah Batak ini) diganti menjadi: “Bimbinglah gerejaMu di seluruh dunia ini, agar semakin kuat dan berkembang. Rumusan edisi bahasa Indonesia ini sebenarnya sudah merupakan usaha kontekstualisasi tata ibadah.
[4] Salah satu contoh adalah tata ibadah Perjamuan Kudus yang dirumuskan oleh DGD di Lima, Peru, yang sangat relevan digunakan dalam ibadah Perjamuan Kudus.
[5] Sebagaimana dikutip oleh Don E. Saliers, Worship as Theology. Foretaste of Glory Divine, Nashville: Abingdon Press, 1994, hal. 30
[6] Eka Darmaputera, “Kebangkitan Agama dan Keruntuhan Etika”, dalam Tim Balitbang PGI (Peny.), Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia, jakarta: BPK, 1999
[7] Don Saliers, The Lutheran Liturgy, Philadelphia: Muhlenberg Press, 1947, hal. 31
[8] HKBP, Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan HKBP, Pearaja Tarung: HKBP, 1989, hal. 36 (Selanjutnya disebut GBKPP HKBP).
[9] Henri J. Nouwen menguraikan topik ini dengan sangat mengesankan dalam bukunya Pelayanan Yang Kreatif, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hal. 43-62
[10] GBKPP HKBP, hal. 36
[11] Doa Pesta Reformasi. Lihat Agenda HKBP, hal. 99
[12] Menjadi catatan, di samping peranan ibadah (melalui nyanyian gembira) dapat menghalau kesedihan, beban berat dan aneka penderitaan, seharusnya kesediaan menerima dengan tabah salib yang dipikulkan oleh Tuhan.
[13] Lihat William H. Willimon, The Service of God. How Worship and Ethics are Related, Nashville: Abingdon Press, 1983, p. 131
[14] Sebagian jemaat HKBP berdoa setelah warta jemaat, dan sebagian lagi tidak. Umumnya pemimpin liturgi (paragenda) berdiri di depan altar, tetapi ada juga yang berdiri di podium khotbah. Pengadaan kebaktian Minggu pada sore atau malam hari pun merupkan perkembangan kemudian, sesuai dengan keperluannya.
Rasul Paulus menasihatkan, “Latihlah dirimu beribadah”. Tujuannya jelas yaitu bahwa ibadah teranyam ketat dengan keteladanan hidup dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian (baca 1 Tim 4:7, 12). Mengacu pada nasihat ini, ibadah sangat menentukan totalitas kehidupan umat percaya. Karena itu, tata ibadah perlu mendapat perhatian khusus dan serius.
Tata ibadah HKBP telah dipakai oleh Tuhan untuk menyapa dan membangun warga HKBP dalam rentang sejarah yang cukup panjang. Banyak warga jemaat yang sudah merasa at home (‘betah’) dengan tata ibadah itu. Jika demikian, apa yang perlu dikritisi? Untuk menghindari salah paham, perlu dikemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “kritis” di sini adalah “menguji dalam terang Firman Tuhan”. Tata ibadah dan kehidupan beribadah dapat diuji dalam terang firman Tuhan setiap saat.
Akhir-akhir ini seruan pembaharuan tata ibadah HKBP kian deras mengalir. Seruan demikian harus disambut baik dengan dua alasa utama. Pertama, tata ibadah merupakan post biblical development (perkembangan dari zaman Alkitab) yang kita warisi dari umat percaya dalam sejarah perjalanan Gereja. Ia berbeda pada zaman dan tempat yang berbeda. Karena itu, tata ibadah tidak pernah (dan tidak perlu) dibakukan atau dimutlakkan. Dengan kata lain, tata ibadah tidak dikanonkan sejajar dengan Alkitab. Kedua, tata ibadah adalah salah satu wahana atau “alat” dan bukan “tujuan”. Walaupun harus diakui bahwa sebagai alat, ia juga sangat berperan dalam mencapai tujuan.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah akademis tetapi lebih merupakan uraian teologis praktis, yang difokuskan pada ibadah HKBP.
II. MENUJU TATA IBADAH KONTEKSTUAL
Alkitab tidak mencatat tata ibadah baku yang berlaku bagi semua gereja sepanjang zaman. Tata ibadah yang baku dan kaku bisa menghalangi karya Roh bekerja dalam kehidupan umat beriman. Tidak ada yang dapat mengklaim satu tata ibadah sebagai yang terbaik bagi semua. Juga, tidak mungkin mengambil suatu kesimpulan bahwa tata ibadah tertentu lebih disukai Tuhan, membuat orang lebih baik, atau tata ibadah tertentu lebih berjasa menyumbangkan yang terbaik bagi gereja dan masyarakat.
Satu pertanyaan yang perlu direspon adalah, “apakah dimungkinkan keragaman tata ibadah dalam satu gereja?” Menurut hemat saya secara teologis keragaman tata ibadah sah sejauh hal-hal yang sangat esensial tetap dipelihara yaitu bahwa ibadah berpusat pada Allah. Kita bisa saja memuji Tuhan yang sama dengan tata ibadah yang berbeda, dan jangan memuji “tuhan” yang berbeda, dengan tata ibadah yang sama.
Dalam lingkungan gereja-gereja Lutheran, misalnya, keragaman tata ibadah lebih dipahami sebagai kekayaan dan bukan pertentangan. Lathrop (seorang teolog Lutheran bidang liturgi) mencatat sebagai berikut:
Gereja-gereja Lutheran tidak memiliki tata ibadah Lutheran internasional resmi. Lutheran mewarisi kekayaan ibadah Kristen dalam perjalanan sejarah. Lutheran menyambut baik konsensus ekumenis tentang dasar-dasar tata ibadah yang paling mendasar dan secara sadar mengakui bahwa tata ibadah yang ada sangat dipengaruhi oleh berbagai budaya. Kita membutuhkan tata ibadah yang kontekstual.[2]
Keabsahan keragaman tata ibadah sebagai kekayaan juga didasari suatu keyakinan bahwa orang Kristen tidak diselamatkan oleh ‘suatu tata ibadah yang dibakukan’. Karena itu kita tidak dapat “mempertuhan tata Ibadah”, tetapi kita menyembah Tuhan dalam ibadah. Ibadah adalah perayaan atas keselamatan kita dan kesempatan mempertanggungjawabkan keselamatan kita melalui penyerahan hidup kita seturut dengan kehendak Tuhan.
Tata ibadah HKBP pun (sebagaimana tertuang dalam Agenda HKBP) dirumuskan sedemikian rupa dalam semangat pengkontekstualisasian tata ibadah. Artinya, tata ibadah HKBP dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya. Itu sebabnya tidak semua rumusan-rumusan di dalamnya relevan dengan konteks HKBP kontemporer. Salah satu contoh, dalam Agenda HKBP tercantum doa berikut: “Sai gomgomi jala parentai ma huriaM di tano Batak on, asa lam rarat jala monang huriaMi.”[3] (Bimbinglah gerejaMu di tanah Batak ini agar semakin berkembang dan menang). Rumusan ini harus dipahami dalam kerangka konteks historis yang tentu tidak relevan bagi HKBP yang ada di luar tanah Batak seperti Bali, Singapura dan lain-lain.
Di samping itu, urgensi perubahan tata ibadah merupakan wujud nyata penerimaan kita terhadap upaya lembaga-lembaga gerejawi pada aras nasional hingga internasional seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD).[4]
Tetapi dalam usaha pembaharuan tata ibadah perlu adanya konservasi (mempertahankan warisan pendahulu-pendahulu kita yang relevan dalam konteks bergereja masakini. Artinya, kontinuitas, terutama hal-hal esensial, harus dipelihara. Perubahan tata ibadah hendaknya tidak mengubah hakekat ibadah itu sendiri. Sebab, ibadah adalah “permanen” tetapi “tata ibadah” adalah kondisional.
Dalam perubahan tersebut perlu dijaga agar ibadah tidak direduksi pada level “selera”. Jika ada warga jemaat merasa lebih at home dengan tata ibadah yang lain, janganlah menganggap tata ibadah HKBP sebagai yang tidak berguna lagi. Sebaliknya, warga jemaat yang sudah merasa kerasan dengan tata ibadah HKBP, sangat bijaksana kalau menghargai keragaman tata ibadah lain.
Perlu dikemukakan bahwa penyusunan tata ibadah sedemikian rupa tidak dimotivasi niat keliru seolah-olah Tuhan lebih mudah ‘dibujuk’ atau ‘dipengaruhi’ melalui tata ibadah tertentu. Tata ibadah justru membantu kita untuk dapat lebih menghayati iman kita dan menggerakkan totalitas kehidupan kita menjadi persembahan yang kudus kepadaNya. Ibadah merangkum seluruh tugas panggilan gereja di antaranya: edukasi, persekutuan, kesaksian, dan pelayanan kasih.
1. Ibadah sebagai Proses Edukasi
Murid-murid Yesus mendapat pengajaran dalam suasana ibadah dan seluruh gerak hidup mereka bersama Yesus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ibadah adalah suatu proses belajar dari Kristus sang guru agung itu, proses belajar dari sesama warga jemaat, dan proses belajar dari sesama manusia. Ibadah dapat menjadi proses “belajar menerima” dan “belajar memberi”. Belajar menerima dimaksudkan menerima atau menyambut kehadiran Tuhan dengan segala anugerah dan perintahNya; belajar memberi dimaksudkan memberi hidup sebagai persembahan kepada Tuhan melalui pelayanan terhadap sesama. Semuanya ini dilakukan dalam pemahaman yang benar dan kesadaran yang sungguh-sunguh.
Idealnya ibadah membekali warga jemaat memahami konfesi (pengakuan iman), etika, aturan, siasat gereja, tugas panggilan gereja dan sebagainya. Dalam hal ini terangkum sikap kristiani berhubungan dengan berbagai bidang kehidupan seperti masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, agama-agama dan sebagainya. Seiring dengan ini ibadah mestinya berperan untuk mempertajam visi, menumbuhkan sikap kritis, menumbuhkan komitmen, dan mengarahkan hidup kita kepada kebutuhan sesama. Kita juga dimungkinkan untuk senantiasa terjaga dan mampu menguji roh-roh jaman seperti individualisme, konsumerisme, materialisme, hedonisme dan lain-lain yang tengah merasuk dan merusak kehidupan umat. Di sini ibadah menjadi wahana untuk mengasah sensitivitas kita terhadap sapaan dan kehendak Allah
Tujuan beribadah tidak dimaksudkan untuk ‘mengajar’ dan mengingatkan Tuhan pada tanggung jawabNya, melainkan mengajar dan mengingatkan umat percaya akan tanggung jawabnya. Dengan kata lain proses “pemuridan” yang sesungguhya terjadi dalam suasana ibadah. Tuhan senantiasa memperlengkapi para muridNya (dalam hal ini semua pelayan dan warga jemaat adalah murid-murid Kristus seumur hidup).
Singkatnya, dalam ibadah kita memperhatikan dan mendengar apa yang diperhatikan dan didengar oleh Allah (lihat misalnya Kel 3:7) dan merasakan apa yang dirasakan Kristus (Ef 2:5). Hanya dengan demikian kita dimungkinkan bertindak seturut dengan tindakan Allah.
2. Ibadah dan Persekutuan Ekumenis.
Persekutuan merupakan salah satu esensi ibadah. Di dalam ibadah umat percaya secara bersama-sama dibaharui oleh Allah dengan anugerahNya. Ibadah juga menjadi momen berharga untuk menyegarkan umat percaya akan panggilannya sebagai persekutuan yang diikat kuat oleh kasih Allah. T.S. Eliot menyatakan hal ini dengan sangat baik sebagai berikut.[5]
Apakah arti kehidupan Anda jika tidak dalam persekutuan?
Tidak ada hidup tanpa hidup dalam persekutuan
Tidak ada persekutuan yang hidup tanpa kasih Allah
Tidak ada persekutuan yang bermakna tanpa pujian kepada Allah
Dalam konteks ini, “persekutuan”, di samping persekutuan umat beriman, harus kita pahami melintas tembok gedung-gedung gereja. Kata oikumene harus dipahami secara baru sebagai yang merangkum dan merangkul semua orang. Dalam hal ini persekutuan dapat dilihat dalam dua dimensi, di satu sisi kekokohan dan keutuhan persekutuan jemaat, di pihak lain mengarahkan hidup kepada persekutuan yang lebih luas dengan membuka sekat-sekat penghalang persaudaraan sejati kepada semua dan setiap orang.
Persaudaraan sejati sangat sulit mewujud karena roh individualisme telah merambah ke setiap ranah kehidupan. Dalam konteks masyarakat yang semakin individualistis, orang-orang Kristen bisa saja menikmati hadirat Tuhan secara eksklusif saja berdasarkan kesamaan status sosial, kesamaan ‘selera’, kesamaan kecemasan dan sebagainya. Di sini, ibadah --jika ia masih diminati-- cenderung dibelokan menjadi sekadar sarana pemenuhan kepentingan diri sendiri. Yang terjadi di sini adalah pemanfaatan persekutuan demi pemenuhan kepentingan diri. Konsekwensinya, persekutuan yang sesungguhnya menjadi mustahil.
Salah satu dampak perkembangan teknologi dewasa ini adalah kenyataan bahwa “ibadah” sudah dengan mudah “diantar” ke rumah-rumah hunian kita melalui TV, di mana kita tidak saja berperan sebagai ‘pemirsa’ tetapi bisa terlibat langsung berdoa, bernyanyi dan sebagainya. Perkembangan ini mestinya kita sambut sebagai ‘suplemen’ terhadap pertumbuhan persekutuan kita bukan menggantikan persekutuan jemaat.
Ibadah yang ‘dingin’ lebih disebabkan oleh persaudaraan yang dingin dan sambutan ‘dingin’ atas kehadiran Tuhan dalam ibadah dan seluruh kehidupan. Tetapi persekutuan kita akan hangat dan bersahabat jika dibangun atas dasar kebersamaan yang dirahmati dan didiami RohNya.
3. Ibadah dan Kesaksian
Sebenarnya kita lebih lama bertemu dengan Tuhan di luar ibadah. Karena itu, di luar ibadah yang sudah diformat sedemikian rupa, Allah tetap bisa disembah. Kita tidak dapat membentengi ruang lingkup kerja Allah hanya dalam ibadah, seolah-olah kita dapat meninggalkanNya sendirian di gedung gereja sementara kita melakukan aktivitas sehari-hari dan kemudian kita menemuiNya kembali pada hari Minggu berikutnya. Padahal, sesungguhnya kita berhadapan dan bersama-sama dengan Allah dalam seluruh kehidupan kita. Kita juga dapat mendengar kebenaran Tuhan dari sesama melalui pengakuan iman dan praksis kehidupan beriman umat percaya di masa lalu dan masa kini.
Karya dan kehendak Allah yang dialami di luar ibadah dapat direnungkan dalam ibadah; karya dan kehendak Allah yang terungkap dalam ibadah dapat ‘ditangkap’ dan dialami di luar ibadah formal. Itu sebabnya “suara kenabian” menjadi keharusan ketika di dalam dan di luar ibadah kita sunguh-sunguh bertemu dengan Tuhan yang menolak segala bentuk ketidakadilan. Di dalam ibadah kita bertemu dengan Allah yang mencintai kebenaran dan keadilan, di dalam kehidupan sehari-hari kita terpangil untuk menyatakan kebenaran dan keadilan. Ketika suara kenabian diredam di tengah situasi maraknya ketidakadilan --meskipun ibadah tetap semarak-- sebenarnya peribadahan itu telah bergeser menjadi persekutuan oposisi kepada Allah.
Ibadah tidak dimaksudkan sebagai tindakan “mengambil hati Allah” atau membujuknya untuk mencocokkan keputusan dan pemberianNya sesuai dengan keinginan kita, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk menyaksikan secara jernih karya Allah yang sudah nyata. Kesaksian demikian seharusnya diikuti dengan penegasan komitmen umat percaya seturut dengan kehendakNya. Nasihat “latihlah dirimu beribadah”, juga kita mengerti sebagai nasihat untuk melatih diri menyaksikan kehadiran dan karya Allah dan memahami kehendakNya dalam segala situasi kehidupan, baik dalam situasi teduh maupun dalam situasi gemuruhnya dunia ini. Tugas panggilan untuk bersaksi atau pemberitaan Injil yang benar hanya dimungkinkan jika kita mampu menyaksikan kehendak dan rencana Tuhan dalam situasi konkret perjalanan dunia ini.
4. Ibadah dan Solidaritas
Allah menghendaki ibadah yang berpadanan dengan kehidupan konkret, terutama dalam penegakan kebenaran dan keadilan. Allah menolak ibadah yang semarak tanpa disertai dengan gerak hidup yang seturut gerak Allah di dunia ini, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan (Amos 5).
Kita belajar dari sikap Yesus yang lebih mencintai manusia ketimbang Sabat. Yesus tidak terlambat dan terhambat menolong manusia bermartabat melintas ‘rambu-rambu’ Sabat. Artinya, ibadah adalah demi manusia, bukan manusia dikorbankan demi ibadah. Yang disebut terakhir ini klop dengan ibadah kepada tahyul. Ketika orang terhalang mengasihi sesamanya atas nama ibadah, maka ibadah menjadi tidak bermakna.
Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa kehidupan beragama (termasuk bergereja) di Indonesia masih semarak atau bahkan sedang berada pada kemuncak-kemuncaknya, namun dalam waktu yang sama terjadi keruntuhan moral dan etika.[6] Panggilan kita ialah agar melalui ibadah kita semakin peka terhadap sapaan Tuhan dan semakin peka akan kebutuhan sesama. Ibadah tidak menggantikan tanggung jawab, atau cicilan pembayaran sanksi pelanggaran dan dosa kita, tetapi dalam rangka mewujudkan peran kita sebagai garam dan terang dunia.
Yang perlu mendapat perhatian kita secara khusus ialah, agar pergumulan hidup masyarakat mendapat tempat dalam ibadah. Kita memerlukan renungan situasional, menyelami dan memahami kenyataan secara kritis atas pertolongan Tuhan. Dengan demikian ibadah dapat menumbuhkan kepekaan sosial dan solidaritas sejati.
Ibadah adalah ‘doa syafaat’ yang menyatu dengan tindakan konkret. Kita tidak berjasa apapun jika doa syafaat yang kita ucapkan menggantikan tangung jawab kita menolong mereka yang terindas dan dalam kesusahan. Ibadah menjadi bermakna jika umat tergerak dan bertindak dengan motivasi yang benar. Reed merumuskannya dengan sangat tepat sebagai berikut.[7]
Ibadah adalah doa syafaat, teriakan atas nama dunia sepanjang masa. Berdoa kepada Allah dan mengingat sesama manusia berarti mengakui bahwa Allah mengingat kita semua. Karena itu, menaikkan doa syafaat tidak terpisahkan dengan solidaritas nyata dengan semua korban dalam masyarakat kita.
III. PENGHAYATAN IBADAH
HKBP telah sejak lama menekankan perlunya kehidmatan dan keteduhan beribadah. Dalam GBKPP HKBP misalnya diamanatkan: “Kehidmatan dan keteduhan kebaktian merupakan suatu faktor penting dalam usaha menimbulkan perasaan dan pemahaman serta penghayatan yang lebih mendalam tentang firman Allah…Untuk ini tata cara kebaktian hendaklah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga jemaat dapat turut merasakan dan menghayatinya secara mendalam…”[8]
Memang, kehidmatan dan keteduhan kita seringkali dijarah baik oleh gaya hidup workalholic (terlalu sibuk bekerja) maupun gaya hidup yang terlalu santai. Tetapi kita dapat meraih kembali kehidmatan dan keteduhan ini dengan prasyarat kuci yakni: penghayatan. Untuk itu dibutuhkan persiapan diri pelayan dan warga jemaat. Nampaknya para pelayan dan warga gereja-gereja Protestan (termasuk HKBP) sudah banyak yang lupa akan warisan spiritual berharga seperti meditasi, puasa, saat teduh dan sebagainya. Martin Luther sendiri menganjurkan doa dan perenungan pribadi dengan membaca bagian kitab Mazmur, membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab tertentu, mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, dan diakhiri dengan Doa Bapa Kami. Warisan berharga seperti ini hendaknya tetap dipelihara sehingga ibadah dapat terbangun dalam suasana rahmat.
Berikut ini ada tiga ‘elemen’ ibadah formal yang kiranya perlu mendapat perhatian dan persiapan kita secara khusus.
1. Liturgi
Pencobaan bisa saja dihadapi oleh Paragenda (pemimpin liturgi) yang sudah dan belum ‘biasa’ memimpin ibadah. Mereka yang sudah biasa tergoda merasa tidak membutuhkan persiapan khusus dan penyerahan diri. Bagian demi bagian tata ibadah mungkin saja berjalan ‘lancar’ tetapi seringkali tanpa penghayatan, apalagi kalau ia hanya menggantungkan diri pada intonasi suara yang ‘dipaksakan’ atau dibuat-buat. Pemimimpin ibadah yang belum biasa, seringkali menjadi amat kaku karena seluruh perhatian terkonsentrasi pada susunan acara dan membolak-balik Agenda (buku tata ibadah). Pemimpin ibadah jadinya merasa lebih banyak “berhadapan” dengan Agenda dan tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri dan umatNya.
Maka yang terjadi adalah “membaca” votum, bukan mengaku bahwa Allah hadir dalam ibadah, membaca doa bukan berdoa, membaca Alkitab bukan memperdengarkan firman Tuhan, mengucapkan rumusan Pengakuan Iman Rasuli (yang sudah dihafal), bukan mengaku percaya secara baru, dan sebagainya. Keadaan ini menyuburkan kebosanan dalam ibadah. Mestinya pusat perhatian adalah Allah yang hadir dalam ibadah itu sendiri, yang memberi hukum, pengampunan, berfirman, memberi berkat, mengutus, dan sebaginya, sehingga ibadah dapat menyentuh hati yang terdalam peserta ibadah.
Pemimpin ibadah dapat keluar dari belenggu hambatan seperti itu dengan sungguh-sungguh menikmati perkataan-perkataan Tuhan setiap kali bertemu denganNya (Yer 15:16). Sebab, kasih setia dan rahmat Tuhan selalu baru tiap saat (Rat 3:22). Dalam hal ini para pelayan ibadah perlu mempersiapkan diri secara rohani dan jasmani. Setiap pelayan yang bertugas seharusnya mempersiapkan diri secara khusus dalam suasana keheningan dan doa untuk menerima pimpinan dan hikmat dari Tuhan.
2. Kotbah[9]
Kotbah merupakan salah satu bagian terpenting dalam ibadah. Dalam GBKPP HKBP dicatat: “Dalam setiap kebaktian, khotbah memegang peranan yang sangat penting”. [10] Perlu disadari bahwa krisis tidak terutama terjadi pada para pendengar khotbah, tetapi pada para pengkotbah. Umumnya warga jemaat masih merindukan kotbah. Justru para Pengkotbahlah yang barangkali sedang dirundung kejenuhan karena terpasung rutinitas. Jika semua hal sudah pernah dikotbahkan, para pengkotbah cenderung hanya menggantungkan diri pada intonasi kata-kata, gerak-gerik dan sebagainya. Konsekuensinya, pemberitaan pun menjadi ‘gersang’.
Sebuah doa dalam Agenda HKBP berbunyi: “Sai songgopi ma angka parjamita marhitehite TondiM asa marhiras ni roha nasida jala asa mabaor sian pamangannasida HataM na sintong i songon hababaor ni aek sian mual na denggan, na pasabam roha ni jolma na loja jala na sorat”[11] (Curahkanlah RohMu kepada para pengkotbah agar mereka senantiasa dalam sukacita dan kebenaran firmanMu mengalir melalui mulut mereka seperti air segar yang menyejukkan, menhibur hati orang-orang yang menanggung beban). Doa ini mestinya juga merupakan panggilan kepada para pelayan Firman Tuhan untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri, termasuk menjernihkan motivasinya.
Pertanyaan yang perlu dijawab seorang pengkotbah sebelum berkotbah adalah, “Apakah saya berkotbah karena I have to say something (Saya “harus” mengatakan sesuatu) atau I have something to say (“Ada” sesuatu yang akan saya katakan). Yang disebut pertama berkotbah karena ‘terpaksa’ (karena jadwal, menggantikan pengkotbah, dan sebagainya). Godaan terbesar dengan motivasi seperti ini adalah usaha keras memeras benak mencari “apa yang cocok saya katakan atas dasar ayat Alkitab ini”, bukan (yang pertama dan terutama!) “apa yang Tuhan katakan kepada saya dan umatNya melalui ayat Alkitab ini”. Motivasi I have something to say bertolak dari kesediaan mendengar sapaan Tuhan dan menyadari panggilanNya untuk memberitakan FirmanNya. Ini hanya dapat terbangun melalui persiapan diri dalam keheningan batin sehingga Firman Tuhan yang disampaikan menyejukkan, menyentuh hati yang terdalam, membangkitkan iman, meneguhkan ketetapan hati mengikut Kristus dalam kebenaran dan kasih. Karena itu, pendidikan homiletik tidak terutama terletak pada pendidikan teologi formal, tetapi seluruh kehidupan adalah medan di mana Tuhan mendidik para hambaNya. Pengkotbah yang layak didengar, adalah pengkotbah yang bersedia mendengarkan Tuhan dalam hidupnya!
3. Nyanyian
Salah satu ciri jemaat Kristen perdana adalah “jemaat yang bernyanyi”. Ciri ini juga merupakan ciri ibadah Kristen sepanjang sejarah. Reformator Martin Luther dengan tepat pernah mengatakan ”Iblis akan enyah ketika mendengar nyanyian Kristen”. Hal ini dapat kita pahami karena ketika hati kita terpaut pada Tuhan, maka Iblis pun akan undur.
Ada tiga hal dapat dikemukakan di sini seputar nyanyian gereja. Pertama, kedudukan koor dalam ibadah. Pada umumnya jemaat-jemaat HKBP memberi tempat khusus pada koor dalam ibadah minggu dan perayaan gerejawi HKBP. Sejauh ini agaknya belum terdengar seruan penghapusan koor dari ibadah, tetapi memang gencar diserukan pengurangan jumlah koor (misalnya dari 8-9 menjadi 2-3 koor) dalam setiap ibadah. Dalam hal ini ada baiknya dilakukan dialog terbuka di jemaat-jemaat untuk mempercakapkannya. Yang perlu dipikirkan ialah agar koor itu membangun seluruh peserta ibadah.
Kedua, penggunaan nyanyian di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Penggunaan nyanyian gerejawi di luar Buku Ende HKBP banyak diminati dan diserukan oleh pemuda HKBP, terutama karena irama dan iringan musik yang diangap lebih ‘pas’. Menurut hemat saya, hal ini perlu ditanggapi secara positif. Para pemuda seharusnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan kegembiraan, harapan, pujian, dan pergumulannya, serta penyerahan dirinya kepada Tuhan dengan nyanyian demikian. Sebab, secara teologis, Allah dapat disembah melalui lagu-lagu di luar Buku Ende (koor-koor itu pun sebetulnya di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat).[12] Pelaksanaan ibadah seperti itu baiklah dilakukan secara khusus tetapi ibadah Minggu HKBP –paling tidak sampai saat ini-- hendaknya tetap menggunakan Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Yang penting ialah bahwa HKBP harus terbuka pada segala sesuatu yang membangun kehidupan bergereja.
Ketiga, Pemazmur mengajak “nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan” (Mzm 96:1). Syair nyanyian dalam Buku Ende HKBP memang sudah lama, bahkan banyak di antaranya yang sudah kita hapal mati. Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan bisa juga dengan “nyanyian lama” dengan penghayatan baru. Yang lebih utama adalah kata demi kata nyanyian itu sungguh-sunguh meresapi akal budi dan hati kita yang terdalam.
IV. PENUTUP
Tuhan menjumpai kita di dalam dan di luar ibadah. Firman Tuhan yang berbunyi “Carilah Tuhan” (Amos 5:6a) kita pahami dalam arti bahwa “Tuhan telah terlebih dahulu menemukan kita”. Ibadah bukanlah upaya supaya mendapat hak khusus lebih dekat dengan Tuhan dan hak khusus untuk meminta kepada Tuhan. Ibadah adalah proses perubahan dan penyerahan hidup dan bahkan bagian integral hidup kita. Dengan demikian, dalam iman dan suasana penuh rahmat kita boleh hidup dengan pengakuan dan komitmen sebagai berikut:[13]
Tuhan, Engkau telah memberikan diriMu
Kini kami memempersembahkan hidup kami kepadaMu melalui pelayanan terhadap sesama
KasihMu telah menjadikan kami manusia baru
Sebagai umat yang Kaukasihi, kami akan melayani Engkau dengan sukacita
KemuliaanMu telah memenuhi hati kami
Tolong kami memuliakan Engkau dalam segala hal. Amin.
[2] Gordon W. Lathrop, “The Shape of the Liturgy: A Framework for Contextualization”, dalam S. Anita Stauffer (ed.), Christian Worship: Unity in Cultural Diversity, Geneva: LWF, 1996.
[3] Bagian doa perayaan peringatan kenaikan Tuhan Yesus. Lihat Agenda HKBP, halaman 96. Dalam edisi Bahasa Indonesia kata di tano Batak on (di tanah Batak ini) diganti menjadi: “Bimbinglah gerejaMu di seluruh dunia ini, agar semakin kuat dan berkembang. Rumusan edisi bahasa Indonesia ini sebenarnya sudah merupakan usaha kontekstualisasi tata ibadah.
[4] Salah satu contoh adalah tata ibadah Perjamuan Kudus yang dirumuskan oleh DGD di Lima, Peru, yang sangat relevan digunakan dalam ibadah Perjamuan Kudus.
[5] Sebagaimana dikutip oleh Don E. Saliers, Worship as Theology. Foretaste of Glory Divine, Nashville: Abingdon Press, 1994, hal. 30
[6] Eka Darmaputera, “Kebangkitan Agama dan Keruntuhan Etika”, dalam Tim Balitbang PGI (Peny.), Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia, jakarta: BPK, 1999
[7] Don Saliers, The Lutheran Liturgy, Philadelphia: Muhlenberg Press, 1947, hal. 31
[8] HKBP, Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan HKBP, Pearaja Tarung: HKBP, 1989, hal. 36 (Selanjutnya disebut GBKPP HKBP).
[9] Henri J. Nouwen menguraikan topik ini dengan sangat mengesankan dalam bukunya Pelayanan Yang Kreatif, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hal. 43-62
[10] GBKPP HKBP, hal. 36
[11] Doa Pesta Reformasi. Lihat Agenda HKBP, hal. 99
[12] Menjadi catatan, di samping peranan ibadah (melalui nyanyian gembira) dapat menghalau kesedihan, beban berat dan aneka penderitaan, seharusnya kesediaan menerima dengan tabah salib yang dipikulkan oleh Tuhan.
[13] Lihat William H. Willimon, The Service of God. How Worship and Ethics are Related, Nashville: Abingdon Press, 1983, p. 131
[14] Sebagian jemaat HKBP berdoa setelah warta jemaat, dan sebagian lagi tidak. Umumnya pemimpin liturgi (paragenda) berdiri di depan altar, tetapi ada juga yang berdiri di podium khotbah. Pengadaan kebaktian Minggu pada sore atau malam hari pun merupkan perkembangan kemudian, sesuai dengan keperluannya.
KEL JONNI TINAMBUNAN
Banyak hal yang tidak kita mengerti dalam perjalanan hidup ini. Saya teringat dengan Bpk Jonni Tinambunan ini yang mengikuti testing masuk ke STT HKBP tahun 1984. Tetapi Tuhan berkata lain dengan memberi sekolah yang lain dan memberi pekerjaan dan tugas pelayanan di Papua. Jauh memang dari tempat kelahirannya. Tetapi begitulah, Tuhan ada di mana-mana termasuk di Papua. Selamat menjalani kehidupan, pekerjaan dan pelayanan di tempat nan jauh di sana untuk Bapak Jonni Tinambunan sekeluarga.
(Foto ini diambil ketika beliau mengunjungi Sidikalang, Dairi - Sumatera Utara).
Selengkapnya:
JONNI TINAMBUNAN, SE.MM
Tempat Tgl Lahir : Barus, 05 Juni 1964
Bekerja sebagai Kabag Program pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Papua
Pendidikan: SD Negeri Onan Ganjang Tahun 1977, SMP Neg. II Tarutung, Tahun 1980, SMA Neg. Tarutung, Tahun 1984; STIE Ottow & Geissler Jayapura-Papua, Tahun 1995; S2 Magister Manajemen (Konsentrasi Bidang SDM) UNHAS Tahun 2005
Isteri: Ny. H. Sihotang (kelahiran Manado)
Anak: 1. Feryanto Paska Tinambunan ( SD Kls VI); 2. Martauli Tinambunan ( SD Kls 1); 3. Kristian Tinambunan ( T K ); 4. Kenzia Dame Tinambunan ( 2 Tahun)
Tuesday, April 22, 2008
BERSAHABAT DENGAN POHON
Mzm 150:6 berkata, "Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan". Pengetahuan saya tentang biologi memang sangat terbatas. Tetapi guru biologi saya dulu memberitahu bahwa pohon juga 'bernafas'.
Bersama dengan berbagai kalangan yang peduli pada alam semesta ini, saya juga memberi sedikit kontribusi khususnya dalam penanaman dan pemeliharaan pohon. Sejak tahun 1986 saya sudah menanam lebih dari 3000 pohon (pinus, mahoni dan jati). Sampai sekarang hampir semuanya masih ada di Desa Siringoringo, kecamatan Parlilitan (Sumatera Utara) dan di Pematangsiantar. (Beberapa di antaranya seperti terlihat dalam foto-foto ini).
Mari Saudara yang kekasih, kita menghormati Allah melalui tanggung jawab kita merawat alam ciptaanNya ini antara lain dengan: menanam pohon (jika tidak memungkinkan paling tidak jangan merusak pohon), menggunakan segala sesuatu sesuai kebutuhan, mengindari diri dari racun konsumerisme.
Salam sejahatera.
Thursday, April 17, 2008
HUBUNGAN EMOSI DENGAN KESEHATAN

90% penyakit yang biasa diderita oleh orang pada zaman sekarang ini,
ada kaitannya dengan gangguan emosional.
(Sejumlah dokter terkemuka)
Dalam pola hidup yang diwarnai oleh keadaan terburu-buru,
saat-saat menunggu menjadi sangat menyebalkan.
Tetapi dalam pola hidup sederhana, kita dapat melakukan sesuatu yang bermakna
pada masa menunggu lima atau tiga puluh menit.
(Jose Hobday)
Kesibukan, kebisingan, kemacetan, kepengapan dan sebagainya merupakan pemandangan dan pengalaman keseharian penduduk kota-kota dunia. Kenyataan kehidupan demikian, jika tidak dihadapi dengan iman dan emosi positif akan amat mudah menghanyutkan seseorang ke dalam depresi, kecemasan dan persoalan kehidupan lainnya. Namun, di balik kenyataan itu, saya percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dan karena itu setiap pelayan dan orang percaya punya alasan yang lebih kuat untuk melakukan pelayanan dalam suasana sukacita sorgawi, hikmat dan kekuatan yang dari pada-Nya.
ADA APA DENGAN EMOSI?
Dalam percakapan keseharian kata ’emosi’ sering diidentikkan dengan ’marah’. Ungkapan seperti ’dia langsung emosi’ untuk mengatakan ’dia langsung marah’. Sebenarnya ’emosi’ tidak sama dengan ’marah’.
Sampai sekarang ada puluhan definisi ‘emosi’. Tetapi secara sederhana dapat disebut bahwa emosi merupakan reaksi menyeluruh terhadap orang, peristiwa atau kenyataan kehidupan baik yang menggembirakan atau menyenangkan maupun yang menyakitkan, yang menjengkelkan dan sebagainya. Ed Hindson secara sederhana merumuskannya sebagai berikut:
Emosi adalah berbagai perasaan yang ’menyulut’ reaksi kita terhadap tantangan-tantangan kehidupan. Emosi dapat membuat kita menggapai puncak kegembiraan atau menenggelamkan kita ke dalam keputusasaan yang mendalam. Kadang-kadang emosi kita melukai kita sendiri dan kadang-kadang bisa juga mengejutkan kita secara positif.
Emosi-emosi yang menyenangkan atau yang sering juga disebut emosi positif seperti gembira, penuh harapan, damai, kasih sayang, dan lain sebagainya tidak terlalu banyak memberikan rangsangan dan juga tidak terlalu sedikit, sehingga dapat menjaga keseimbangan yang membuat organ-organ tubuh berfungsi dengan baik. Sedangkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan atau juga disebut emosi negatif seperti marah, cemas, gelisah, sedih, takut, benci, dendam, putus asa, dan lain sebagainya, memberikan rangsangan yang berlebihan pada berbagai organ tubuh, sehingga organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi secara normal, daya tahan tubuh terhadap infeksi diperlemah, dan timbullah berbagai macam penyakit.
Florence Wedge dengan tepat mengatakan bahwa emosi yang tidak menyenangkan dapat menyebabkan banyak penyakit fisik yang kelihatannya benar-benar disebabkan oleh penyakit organik, seperti gangguan pada lambung, hati, usus, jantung, kulit dan otot. Emosi tersebut juga dapat menyebabkan rasa nyeri pada tulang, persendian, dan kepala. Maka tidak mengherankan, masih menurut Wedge, kalau sejumlah dokter terkemuka menyatakan bahwa 90% penyakit yang biasa diderita oleh orang pada zaman sekarang ini, ada kaitannya dengan gangguan emosional. Hal ini dapat dimengerti karena emosi yang kuat lebih melelahkan organisme tubuh daripada pekerjaan berat dari otot atau otak. Maka orang yang secara emosional stabil, tidak akan membiarkan masalah sepele menjadi besar.
Benar bahwa tidak ada alur tunggal yang selalu dimulai dari ’emosi negatif’ ke ’penyakit’. Ada kalanya penderitaan karena suatu penyakit (yang bukan akibat emosi negatif) menimbulkan emosi negatif bagi seseorang. Hal ini nampak dari banyak yang menderita sakit yang mudah tersinggung, gampang marah, sedih, putus asa dan sebagainya. Namun, karena keterbatasan ruang, tulisan ini dimaksudkan untuk menawarkan pentingnya memelihara dan mengembangkan emosi positif yang sekaligus menghalau kegalauan dan menghindari penyakit atau penderitaan yang bukan merupakan salib.
Perlu ditekankan bahwa emosi positif dan emosi negatif adalah merupakan pilihan kita. Artinya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita mau memiliki emosi positif atau negatif, bukan orang lain. Kata-kata Wayne Dyer berikut ini dapat menjelaskannya dengan baik:
Saat seseorang memeras Anda, dengan cara tertentu menekan Anda, atau mengatakan sesuatu yang merendahkan atau mengkritik; dan dari dalam diri Anda keluar kemarahan, kebencian, kepahitan, ketegangan, depresi, atau kekhawatiran, itu karena inilah yang ada di dalam. Ironinya adalah bahwa Anda tidak dapat memberikan yang tidak Anda miliki karena Anda selalu memberikan apa yang Anda miliki.
Sehubungan dengan itu, berikut ini dapat disebut dua emosi positif (sukacita dan penuh harapan) untuk mengalahkan emosi negatif (depresi dan kecemasan).
SUKACITA MENGUSIR DEPRESI
Depresi merupakan salah satu dari berbagai jenis gangguan mood (suasana perasaan) yang mengakibatkan penderitaan dan disfungsi dalam menjalani kehidupan, menjalankan aktivitas sehari-hari, peran dalam keluarga dan masyarakat, hingga menurunkan derajat kesehatan fisik penderita.
Pada umumnya gejala utama depresi nampak dalam afek yang depresif, kehilangan minat/ kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas. Di samping itu, penderita depresi biasanya mengalami beberapa atau semua hal berikut:
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri (baik yang bersifat ’kredit’ dengan merokok, mengkonsumsi alkohol dan narkoba, maupun yang ’dibayar kontan dengan bunuh diri).
- Nafsu makan berkurang
Menurut Dharmayati Utoyo Lubis, penyebab depresi sedikitnya ada tiga. Pertama, faktor psikologis. Untuk para remaja hal ini disebabkan oleh perpisahan dan penolakan. Sedangkan untuk dewasa lebih banyak karena urusan pekerjaan dan tanggungan hidup. Kedua, faktor biologis atau faktor keturunan. Ketiga, ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. (Dalam otak terdapat banyak sekali zat-zat kimiawi yang mempengaruhi emosi).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi yang serta merta diikuti dengan perasaan putus asa, marah, benci, pahit, tertekan (kumpulan emosi negatif) berakar dari kecemasan ego dan sikap berkeras untuk mencapai standar eksternal. ”Ego akan jarang membiarkan Anda beristirahat, dan terus menuntut lebih karena takut Anda disebut gagal”
Sedihnya, orang yang ditimpa depresi tidak saja merusak dirinya tetapi biasanya merusak kehidupan orang lain juga, mulai dari sikap ketidakpeduliannya, kesinisannya, kemarahannya hingga kekerasan yang mungkin dilakukannya.
Biasanya, therapy untuk mereka yang dihinggapi depresi adalah: (1) Farmakoterapi, yakni pemberian obat-obatan yang di antaranya memulihkan ketidakseimbangan kimiawi penyebab depresi. (2) Psikoterapi, dengan berbagai jenisnya seperti: Cognitive Behavior Therapy, logotherapy, supportive psychoterapy; (3) Psikososial: informasi, edukasi keluarga, familytherapy, social support group; (4) Electro Convulsive Therapy (ECT).
Semua therapy di atas dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis dan yang berkompeten untuk itu. Bagi orang Kristen, therapy ini dapat diterima secara teologis. Perlu dihindari perasaan negatif seolah-olah hanya orang gila yang perlu ke psikiater, yang kelihatannya masih agak mengental dalam benak banyak orang sekarang ini. Hanya saja perlu dikenali psikiater dan psikolog dengan berbagai ’aliran’ sesuai dengan kebutuhan penderita. Misalnya, ada psikiater yang hanya mengandalkan obat penenang tanpa sungguh-sungguh mengenali permasalahan atau pergumulan si penderita. Ada pula yang menekankan pentingnya ’percakapan’ yang dilengkapi dengan obat-obatan dan sebagainya.
Dalam waktu yang sama, penderita depresi sebaiknya meminta pertolongan pelayan Tuhan yang diperlengkapi secara khusus untuk melakukan pendampingan pastoral. Berbagai kasus yang ditemukan, ada juga depresi yang diakibatkan oleh keterikatan pada okultisme (kuasa kegelapan) baik yang aktif (melakukan perdukunan untuk kekebalan, pelaris dagangan, supaya disegani untuk naik jabatan dan sebagainya) maupun yang ’pasif’ (misalnya, sewaktu kecil dibawa orangtuanya berobat kepada dukun). Untuk kasus-kasus seperti ini harus dilakukan pelepasan dari kuasa kegelapan.
Di samping pengobatan medis dan pelayanan pastoral, penderita depresi atau untuk menghindari depresi seseorang perlu melakukan meditasi secara teratur. Mengenai hal ini akan diuraikan secara singkat di bagian akhir tulisan ini.
PENGHARAPAN MENGUSIR KECEMASAN
Cemas adalah perasaan khawatir atau takut yang dirasakan terhadap sesuatu atau keadaan yang tidak jelas objeknya. Cemas sering disertai oleh tanda-tanda fisik akibat hiperaktivitas sistem saraf otonom, seperti: berkeringat dingin, ketegangan otot, jantung berdebar-debar, nafas pendek, mudah terkejut dan lain -lain.
Tanda-tanda gangguan cemas secara psikis antara lain adalah fobia (rasa takut berlebihan), panik, kekhawatiran terhadap berbagai hal, takut mati, merasa menderita sesuatu penyakit. Sedangkan tanda-tanda secara fisik antara lain adalah: gemetar, keringat dingin, nyeri dada, jantung berdebar-debar, gangguan pencernaan, pusing kepala dan sebagainya.
Kecemasan mempunyai potensi untuk mendominasi kehidupan. Alkitab berkata, “Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang” (Amsal 12:25). Mengapa orang yang cemas selalu letih? Energi untuk bekerja dan menikmati hidup terbuang percuma oleh rasa cemas. Terus menerus mempedulikan pelbagai masalah emosional yang tidak akan berakhir melemahkan tubuh. Pada waktu menanggapi kekhawatiran, tubuh bekerja keras –otot-otot menegang, denyut jantung bertambah cepat, dan perut sesak. Dalam kondisi sistem tubuh bekerja keras, efisiensi kerja otak berkurang dan pikiran yang menakutkan mengganggu konsentrasi.
Kecemasan tidak menguntungkan pula bagi penampilan lahiriah kita. Kerisauan mempercepat proses ketuaan, menggoreskan jejaknya di wajah. Di bawah beban tuntutan kecemasan, sifat-sifat kita pun terpengaruh. Kejengkelan dan ketegangan meliputi suasana, menyentuh siapa pun yang berhubungan dengan kita.
Teraphy untuk masalah kecemasan ini hendaknya juga mengikuti teraphy sebagaimana disebutkan dalam masalah depresi di atas. Hanya saja, perlu mendapat perhatian kita secara serius bahwa Tuhan sama sekali tidak menghendaki kita untuk hidup cemas. Yesus memperingatkan kita agar kehidupan kita jangan sampai dikuasai oleh rasa cemas: Jangan cemas akan hidupmu...dan jangan cemas akan tubuhmu...jangan cemas akan hari esok...” (bnd. Mat. 6:25).
Hal yang sama juga ditekankan oleh Rasul Paulus yang menegaskan, ”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:), atau seperti yang ditegaskan dalam Amsal Salomo, ”hati yang gembira adalah obat”.
Pengharapan di dalam Tuhan menghalau segala bentuk kecemasan dan kekuatiran. Yang penting adalah keterbukaan kita untuk senantiasa terhubung dengan Sang sumber sukacita kita, yaitu Tuhan sendiri. Ia telah memberi undangan istimewa kepada kita, ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu...” (Yoh 15:4). Hanya dengan demikianlah hidup ini tetap berada dalam sukacita dan sekaligus dapat mewujudkan keberadaannya sesuai dengan tugas panggilan kita masing-masing.
SIKAP RAMAH TERHADAP DIRI SENDIRI
Ada kesan bahwa pada umumnya budaya dan ajaran kekristenan lebih banyak menekankan keramahan kepada orang lain. Hal ini terdengar dari nasihat orangtua, khotbah di gereja, tulisan-tulisan kristiani dan sebagainya. Jarang sekali kita dengar nasihat untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri.
Ramah terhadap diri sendiri bukanlah ungkapan ’cinta diri’, tetapi bagian dari ’mengasihi diri’. Bagi orang Kristen, ’mengasihi diri’ bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah self-pity (rasa kasihan terhadap diri sendiri), selfishness (pementingan diri sendiri). Allah sendiri mengasihi kita, karenanya kita harus mengasihi apa yang Tuhan kasihi.
Keramahan terhadap diri sendiri mewujud dalam sikap menerima diri dengan segala keberadaannya, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada orang lain. Secara negatif dapat dikatakan bahwa keramahan terhadap diri sendiri nampak dengan tidak memaksa diri, tidak cemburu pada keberhasilan orang, tidak memendam dendam dalam hati. Dengan kata lain, keramahan terhadap diri sendiri juga berkaitan dengan menerapkan emosi positif dan menghindari emosi negatif. Hal-hal demikian amat menentukan dalam kesehatan fisik seseorang.
Benar bahwa kesehatan bukanlah segalanya. Rasul Paulus sendiri menderita suatu penyakit yang menurutnya sudah berulangkali dia mohon supaya Tuhan mengambilnya, tetapi ternyata Tuhan berkata lain. Namun, kita tidak perlu menanggung penderitaan atau penyakit yang bukan salib. Itu sebabnya, sebagai orang Kristen kita terpanggil sedapat mungkin merawat kesehatan seirama dengan Tuhan yang merawat dan memelihara tubuh kita juga.
Sehubungan dengan itu, kepanjangan kata SEHAT berikut ini kiranya dapat menolong kita mengingat hal-hal yang perlu kita hidupi:
S = Saat Teduh (Serahkan diri pada Tuhan)
E = Enyahkan asap rokok (aktif atau pasif).
H = Hindari stress.
A = Awasi tekanan darah.
T = Tetap dan teratur berolahraga.
1. Saat Teduh
Saat-saat hening di hadapan Tuhan merupakan kebutuhan kita yang sangat mendasar. Kita ditolong oleh Tuhan melihat kehidupan ini dari sudut Tuhan sendiri. Doa dalam hal ini tidak sekadar daftar permohonan, tetapi benar-benar menyadari dan mengimani kehadiran Tuhan serta penyertaanNya masih sedang berlangsung. Ini juga mengasah kepekaan untuk melihat dengan jernih karya Tuhan melalui orang lain dan kejadian sehari-hari. Kejernihan pikiran, kebeningan hati, dan gerak hidup yang bermakna dapat mengalir dari keheningan perjumpaan dengan Tuhan dalam meditasi.
Kita membutuhkan kedamaian yang murni. Yesus sendiri mengetahui yang terbaik bagi kita sehingga ia menganugerahkan damaiNya kepada kita. Ia menjamin, “damai sejahtera Kutinggalkan bagimu”. (Yoh 14:27). Akan tetapi, pemberian yang berharga itu hanya berlaku ketika kita menyambutnya. Sekali lagi, Dyer mengungkapkannya dengan amat mengesankan:
Perasaan kedamaian batin Anda bergantung pada menghabiskan sejumlah energi hidup Anda dalam keheningan untuk mengisi ulang baterai Anda, menyingkirkan ketegangan dan kekhawatiran, berkenalan kembali dengan sukacita mengenal Tuhan, dan merasa lebih dekat dengan semua manusia.
2. Enyahkan Asap Rokok (aktif atau pasif)
Rokok merupakan salah satu pembunuh terbesar di dunia. Memang, dari segi ekonomi industri rokok merupakan salah satu penyangga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Indonesia, misalnya, mendapat devisa sekitar 10 triliun dari industri dan perdagangan rokok setiap tahun. Rokok adalah devisa bagi pemerintah tetapi menyisakan penyakit berbisa bagi masyarkat.
Mengapa justru di negara miskin seperti Indonesia jumlah perokok jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan Singapura? Untuk menjawab pertanyaan ini masih dibutuhkan pengkajian lebih lanjut. Tetapi barangkali ada baiknya negara kita mempertimbangakn kebijakan Singapore yang mencantumkan foto-foto penyakit ‘menyeramkan’ akibat rokok pada kemasan rokok sebagai wahana memberi pemahaman yang lebih konkret kepada para perokok. Sebab, alangkah bijaksananya kalau uang yang Tuhan anugerahkan itu kita gunakan untuk hal-hal yang menopang kehidupan bukan untuk ’membeli penyakit bahkan kematian’.
3. Hindari Stress
Mengapa orang stress? Jawabannya bisa beragam. Saya dibesarkan di lingkungan pedesaan yang secara ekonomi sangat miskin. Saya mengamati para pekerja keras dengan makanan seadanya seperti ikan asin bakar, nasi dan sayur daun singkong. Tetapi mereka dapat dengan mudah tidur terlelap di bawah pohon tanpa kasur dan bantal empuk. Sekarang ini saya tahu tidak sedikit orang kota yang menu makanannya amat beragam yang dihidangkan di meja makan yang mahal serta memiliki tempat tidur spring bed berharga puluhan juta, tetapi sangat sulit tidur (kecuali kalau duduk dalam kebaktian di gereja!). Apa yang terjadi? Banyak orang stress, bukan karena tidak memiliki kecukupan, tetapi terlalu fokus pada apa yang belum dia miliki. Orang terlalu perduli dengan sukses ukuran dunia, haus akan harta dan tahta. Akibatnya, ’persaingan’ digunakan sebagai kendaraan meraih sukses tanpa menyadari bahwa dengan kendaraan seperti itu amat rawan akan kecelakaan atau sedikitnya ketegangan atau stress.
Rasul Paulus sudah mengingatkan agar orang percaya tidak memikirkan hal-hal yang di luar kemampuannya. Bahkan, Yesus sendiri dengan amat jelas dan tegas menekankan pentingnya ’rasa cukup’ sebagaimana tercermin dalam ’Doa Bapa Kami’ dan dalam amanatnya untuk tidak kuatir. Ketika seseorang sungguh-sungguh menerima diri sendiri sebagai yang berharga di hadapan Tuhan, menerima keberadaan yang tidak dapat diubah, mematahkan mata rantai beban masa lalunya, maka ia akan sungguh-sungguh merdeka. Hidup tanpa beban yang tidak perlu! Ini dapat terwujud ketika seseoang lebih banyak memikirkan apa yang Tuhan sudah perbuat bukan pada apa yang belum dimiliki.
Pernyataan di atas sama sekali tidak berarti mengharamkan kekayaan atau jabatan. Kekayaan dan jabatan sah-sah saja sejauh datangnya dan penggunaannya selalu terhubung dengan Tuhan. Dengan demikian seseorang akan terhindar dari apa yang Gede Prama prihatinkan, ”berhasil kaya gagal bahagia” yang menghinggapi banyak manusia pada zaman ini.
4. Awasi Tekanan Darah
Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran kita perlu melakukan medical check up secara teratur. Hal ini sekaligus mengingatkan perlunya menerapkan ’pola makan’ sehat dengan mengkonsumsi cukup kalori, sayur, buah-buahan dan air murni dan sedapat mungkin menghindari makanan dan minuman instan yang menggunakan zat pengawet dan pewarna. Kebiasaan pola makan khas Batak yang melahap sangsang B1dan B2 –cincang daging babi dan anjing-- (dan di berbagai tempat kucing, tikus dan ular juga sudah menjadi korban!) tanpa diimbangi dengan sayur dan buah-buahan tidaklah pro-kesehatan.
5. Tetap dan Teratur Berolahraga.
Untuk melakukannya, kita tidak harus masuk ke club mewah seperti yang tersedia di kota-kota. Tuhan menyediakan alam yang segar (yang perlu tetap dipelihara) di mana kita dapat berjalan kaki setengah jam setiap hari (jangan hanya 20 menit, karena itu hanya akan menambah selera makan dan pengantar tidur!). Olahraga juga tidak bisa ’dirappel’ berjalan kaki satu hari sekaligus dalam satu bulan. Bagi para petani dan pekerja fisik sehari-hari, olahraga sudah termasuk di dalamnya (saran dokter juga dibutuhkan olahraga mana yang tepat bagi seseorang). Yang jelas, aktivitas di sekitar rumah seperti memelihara tanaman di pekarangan, merapikan rumah juga termasuk olah raga yang sah lagi murah meriah. Ia berfungsi ganda: olah raga dan wahana untuk ramah terhadap diri sendiri.
Selamat menikmati hidup bahagia, bugar dan bermakna di dalam Tuhan!
ada kaitannya dengan gangguan emosional.
(Sejumlah dokter terkemuka)
Dalam pola hidup yang diwarnai oleh keadaan terburu-buru,
saat-saat menunggu menjadi sangat menyebalkan.
Tetapi dalam pola hidup sederhana, kita dapat melakukan sesuatu yang bermakna
pada masa menunggu lima atau tiga puluh menit.
(Jose Hobday)
Kesibukan, kebisingan, kemacetan, kepengapan dan sebagainya merupakan pemandangan dan pengalaman keseharian penduduk kota-kota dunia. Kenyataan kehidupan demikian, jika tidak dihadapi dengan iman dan emosi positif akan amat mudah menghanyutkan seseorang ke dalam depresi, kecemasan dan persoalan kehidupan lainnya. Namun, di balik kenyataan itu, saya percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dan karena itu setiap pelayan dan orang percaya punya alasan yang lebih kuat untuk melakukan pelayanan dalam suasana sukacita sorgawi, hikmat dan kekuatan yang dari pada-Nya.
ADA APA DENGAN EMOSI?
Dalam percakapan keseharian kata ’emosi’ sering diidentikkan dengan ’marah’. Ungkapan seperti ’dia langsung emosi’ untuk mengatakan ’dia langsung marah’. Sebenarnya ’emosi’ tidak sama dengan ’marah’.
Sampai sekarang ada puluhan definisi ‘emosi’. Tetapi secara sederhana dapat disebut bahwa emosi merupakan reaksi menyeluruh terhadap orang, peristiwa atau kenyataan kehidupan baik yang menggembirakan atau menyenangkan maupun yang menyakitkan, yang menjengkelkan dan sebagainya. Ed Hindson secara sederhana merumuskannya sebagai berikut:
Emosi adalah berbagai perasaan yang ’menyulut’ reaksi kita terhadap tantangan-tantangan kehidupan. Emosi dapat membuat kita menggapai puncak kegembiraan atau menenggelamkan kita ke dalam keputusasaan yang mendalam. Kadang-kadang emosi kita melukai kita sendiri dan kadang-kadang bisa juga mengejutkan kita secara positif.
Emosi-emosi yang menyenangkan atau yang sering juga disebut emosi positif seperti gembira, penuh harapan, damai, kasih sayang, dan lain sebagainya tidak terlalu banyak memberikan rangsangan dan juga tidak terlalu sedikit, sehingga dapat menjaga keseimbangan yang membuat organ-organ tubuh berfungsi dengan baik. Sedangkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan atau juga disebut emosi negatif seperti marah, cemas, gelisah, sedih, takut, benci, dendam, putus asa, dan lain sebagainya, memberikan rangsangan yang berlebihan pada berbagai organ tubuh, sehingga organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi secara normal, daya tahan tubuh terhadap infeksi diperlemah, dan timbullah berbagai macam penyakit.
Florence Wedge dengan tepat mengatakan bahwa emosi yang tidak menyenangkan dapat menyebabkan banyak penyakit fisik yang kelihatannya benar-benar disebabkan oleh penyakit organik, seperti gangguan pada lambung, hati, usus, jantung, kulit dan otot. Emosi tersebut juga dapat menyebabkan rasa nyeri pada tulang, persendian, dan kepala. Maka tidak mengherankan, masih menurut Wedge, kalau sejumlah dokter terkemuka menyatakan bahwa 90% penyakit yang biasa diderita oleh orang pada zaman sekarang ini, ada kaitannya dengan gangguan emosional. Hal ini dapat dimengerti karena emosi yang kuat lebih melelahkan organisme tubuh daripada pekerjaan berat dari otot atau otak. Maka orang yang secara emosional stabil, tidak akan membiarkan masalah sepele menjadi besar.
Benar bahwa tidak ada alur tunggal yang selalu dimulai dari ’emosi negatif’ ke ’penyakit’. Ada kalanya penderitaan karena suatu penyakit (yang bukan akibat emosi negatif) menimbulkan emosi negatif bagi seseorang. Hal ini nampak dari banyak yang menderita sakit yang mudah tersinggung, gampang marah, sedih, putus asa dan sebagainya. Namun, karena keterbatasan ruang, tulisan ini dimaksudkan untuk menawarkan pentingnya memelihara dan mengembangkan emosi positif yang sekaligus menghalau kegalauan dan menghindari penyakit atau penderitaan yang bukan merupakan salib.
Perlu ditekankan bahwa emosi positif dan emosi negatif adalah merupakan pilihan kita. Artinya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita mau memiliki emosi positif atau negatif, bukan orang lain. Kata-kata Wayne Dyer berikut ini dapat menjelaskannya dengan baik:
Saat seseorang memeras Anda, dengan cara tertentu menekan Anda, atau mengatakan sesuatu yang merendahkan atau mengkritik; dan dari dalam diri Anda keluar kemarahan, kebencian, kepahitan, ketegangan, depresi, atau kekhawatiran, itu karena inilah yang ada di dalam. Ironinya adalah bahwa Anda tidak dapat memberikan yang tidak Anda miliki karena Anda selalu memberikan apa yang Anda miliki.
Sehubungan dengan itu, berikut ini dapat disebut dua emosi positif (sukacita dan penuh harapan) untuk mengalahkan emosi negatif (depresi dan kecemasan).
SUKACITA MENGUSIR DEPRESI
Depresi merupakan salah satu dari berbagai jenis gangguan mood (suasana perasaan) yang mengakibatkan penderitaan dan disfungsi dalam menjalani kehidupan, menjalankan aktivitas sehari-hari, peran dalam keluarga dan masyarakat, hingga menurunkan derajat kesehatan fisik penderita.
Pada umumnya gejala utama depresi nampak dalam afek yang depresif, kehilangan minat/ kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas. Di samping itu, penderita depresi biasanya mengalami beberapa atau semua hal berikut:
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri (baik yang bersifat ’kredit’ dengan merokok, mengkonsumsi alkohol dan narkoba, maupun yang ’dibayar kontan dengan bunuh diri).
- Nafsu makan berkurang
Menurut Dharmayati Utoyo Lubis, penyebab depresi sedikitnya ada tiga. Pertama, faktor psikologis. Untuk para remaja hal ini disebabkan oleh perpisahan dan penolakan. Sedangkan untuk dewasa lebih banyak karena urusan pekerjaan dan tanggungan hidup. Kedua, faktor biologis atau faktor keturunan. Ketiga, ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. (Dalam otak terdapat banyak sekali zat-zat kimiawi yang mempengaruhi emosi).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi yang serta merta diikuti dengan perasaan putus asa, marah, benci, pahit, tertekan (kumpulan emosi negatif) berakar dari kecemasan ego dan sikap berkeras untuk mencapai standar eksternal. ”Ego akan jarang membiarkan Anda beristirahat, dan terus menuntut lebih karena takut Anda disebut gagal”
Sedihnya, orang yang ditimpa depresi tidak saja merusak dirinya tetapi biasanya merusak kehidupan orang lain juga, mulai dari sikap ketidakpeduliannya, kesinisannya, kemarahannya hingga kekerasan yang mungkin dilakukannya.
Biasanya, therapy untuk mereka yang dihinggapi depresi adalah: (1) Farmakoterapi, yakni pemberian obat-obatan yang di antaranya memulihkan ketidakseimbangan kimiawi penyebab depresi. (2) Psikoterapi, dengan berbagai jenisnya seperti: Cognitive Behavior Therapy, logotherapy, supportive psychoterapy; (3) Psikososial: informasi, edukasi keluarga, familytherapy, social support group; (4) Electro Convulsive Therapy (ECT).
Semua therapy di atas dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis dan yang berkompeten untuk itu. Bagi orang Kristen, therapy ini dapat diterima secara teologis. Perlu dihindari perasaan negatif seolah-olah hanya orang gila yang perlu ke psikiater, yang kelihatannya masih agak mengental dalam benak banyak orang sekarang ini. Hanya saja perlu dikenali psikiater dan psikolog dengan berbagai ’aliran’ sesuai dengan kebutuhan penderita. Misalnya, ada psikiater yang hanya mengandalkan obat penenang tanpa sungguh-sungguh mengenali permasalahan atau pergumulan si penderita. Ada pula yang menekankan pentingnya ’percakapan’ yang dilengkapi dengan obat-obatan dan sebagainya.
Dalam waktu yang sama, penderita depresi sebaiknya meminta pertolongan pelayan Tuhan yang diperlengkapi secara khusus untuk melakukan pendampingan pastoral. Berbagai kasus yang ditemukan, ada juga depresi yang diakibatkan oleh keterikatan pada okultisme (kuasa kegelapan) baik yang aktif (melakukan perdukunan untuk kekebalan, pelaris dagangan, supaya disegani untuk naik jabatan dan sebagainya) maupun yang ’pasif’ (misalnya, sewaktu kecil dibawa orangtuanya berobat kepada dukun). Untuk kasus-kasus seperti ini harus dilakukan pelepasan dari kuasa kegelapan.
Di samping pengobatan medis dan pelayanan pastoral, penderita depresi atau untuk menghindari depresi seseorang perlu melakukan meditasi secara teratur. Mengenai hal ini akan diuraikan secara singkat di bagian akhir tulisan ini.
PENGHARAPAN MENGUSIR KECEMASAN
Cemas adalah perasaan khawatir atau takut yang dirasakan terhadap sesuatu atau keadaan yang tidak jelas objeknya. Cemas sering disertai oleh tanda-tanda fisik akibat hiperaktivitas sistem saraf otonom, seperti: berkeringat dingin, ketegangan otot, jantung berdebar-debar, nafas pendek, mudah terkejut dan lain -lain.
Tanda-tanda gangguan cemas secara psikis antara lain adalah fobia (rasa takut berlebihan), panik, kekhawatiran terhadap berbagai hal, takut mati, merasa menderita sesuatu penyakit. Sedangkan tanda-tanda secara fisik antara lain adalah: gemetar, keringat dingin, nyeri dada, jantung berdebar-debar, gangguan pencernaan, pusing kepala dan sebagainya.
Kecemasan mempunyai potensi untuk mendominasi kehidupan. Alkitab berkata, “Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang” (Amsal 12:25). Mengapa orang yang cemas selalu letih? Energi untuk bekerja dan menikmati hidup terbuang percuma oleh rasa cemas. Terus menerus mempedulikan pelbagai masalah emosional yang tidak akan berakhir melemahkan tubuh. Pada waktu menanggapi kekhawatiran, tubuh bekerja keras –otot-otot menegang, denyut jantung bertambah cepat, dan perut sesak. Dalam kondisi sistem tubuh bekerja keras, efisiensi kerja otak berkurang dan pikiran yang menakutkan mengganggu konsentrasi.
Kecemasan tidak menguntungkan pula bagi penampilan lahiriah kita. Kerisauan mempercepat proses ketuaan, menggoreskan jejaknya di wajah. Di bawah beban tuntutan kecemasan, sifat-sifat kita pun terpengaruh. Kejengkelan dan ketegangan meliputi suasana, menyentuh siapa pun yang berhubungan dengan kita.
Teraphy untuk masalah kecemasan ini hendaknya juga mengikuti teraphy sebagaimana disebutkan dalam masalah depresi di atas. Hanya saja, perlu mendapat perhatian kita secara serius bahwa Tuhan sama sekali tidak menghendaki kita untuk hidup cemas. Yesus memperingatkan kita agar kehidupan kita jangan sampai dikuasai oleh rasa cemas: Jangan cemas akan hidupmu...dan jangan cemas akan tubuhmu...jangan cemas akan hari esok...” (bnd. Mat. 6:25).
Hal yang sama juga ditekankan oleh Rasul Paulus yang menegaskan, ”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:), atau seperti yang ditegaskan dalam Amsal Salomo, ”hati yang gembira adalah obat”.
Pengharapan di dalam Tuhan menghalau segala bentuk kecemasan dan kekuatiran. Yang penting adalah keterbukaan kita untuk senantiasa terhubung dengan Sang sumber sukacita kita, yaitu Tuhan sendiri. Ia telah memberi undangan istimewa kepada kita, ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu...” (Yoh 15:4). Hanya dengan demikianlah hidup ini tetap berada dalam sukacita dan sekaligus dapat mewujudkan keberadaannya sesuai dengan tugas panggilan kita masing-masing.
SIKAP RAMAH TERHADAP DIRI SENDIRI
Ada kesan bahwa pada umumnya budaya dan ajaran kekristenan lebih banyak menekankan keramahan kepada orang lain. Hal ini terdengar dari nasihat orangtua, khotbah di gereja, tulisan-tulisan kristiani dan sebagainya. Jarang sekali kita dengar nasihat untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri.
Ramah terhadap diri sendiri bukanlah ungkapan ’cinta diri’, tetapi bagian dari ’mengasihi diri’. Bagi orang Kristen, ’mengasihi diri’ bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah self-pity (rasa kasihan terhadap diri sendiri), selfishness (pementingan diri sendiri). Allah sendiri mengasihi kita, karenanya kita harus mengasihi apa yang Tuhan kasihi.
Keramahan terhadap diri sendiri mewujud dalam sikap menerima diri dengan segala keberadaannya, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan, mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan kepada orang lain. Secara negatif dapat dikatakan bahwa keramahan terhadap diri sendiri nampak dengan tidak memaksa diri, tidak cemburu pada keberhasilan orang, tidak memendam dendam dalam hati. Dengan kata lain, keramahan terhadap diri sendiri juga berkaitan dengan menerapkan emosi positif dan menghindari emosi negatif. Hal-hal demikian amat menentukan dalam kesehatan fisik seseorang.
Benar bahwa kesehatan bukanlah segalanya. Rasul Paulus sendiri menderita suatu penyakit yang menurutnya sudah berulangkali dia mohon supaya Tuhan mengambilnya, tetapi ternyata Tuhan berkata lain. Namun, kita tidak perlu menanggung penderitaan atau penyakit yang bukan salib. Itu sebabnya, sebagai orang Kristen kita terpanggil sedapat mungkin merawat kesehatan seirama dengan Tuhan yang merawat dan memelihara tubuh kita juga.
Sehubungan dengan itu, kepanjangan kata SEHAT berikut ini kiranya dapat menolong kita mengingat hal-hal yang perlu kita hidupi:
S = Saat Teduh (Serahkan diri pada Tuhan)
E = Enyahkan asap rokok (aktif atau pasif).
H = Hindari stress.
A = Awasi tekanan darah.
T = Tetap dan teratur berolahraga.
1. Saat Teduh
Saat-saat hening di hadapan Tuhan merupakan kebutuhan kita yang sangat mendasar. Kita ditolong oleh Tuhan melihat kehidupan ini dari sudut Tuhan sendiri. Doa dalam hal ini tidak sekadar daftar permohonan, tetapi benar-benar menyadari dan mengimani kehadiran Tuhan serta penyertaanNya masih sedang berlangsung. Ini juga mengasah kepekaan untuk melihat dengan jernih karya Tuhan melalui orang lain dan kejadian sehari-hari. Kejernihan pikiran, kebeningan hati, dan gerak hidup yang bermakna dapat mengalir dari keheningan perjumpaan dengan Tuhan dalam meditasi.
Kita membutuhkan kedamaian yang murni. Yesus sendiri mengetahui yang terbaik bagi kita sehingga ia menganugerahkan damaiNya kepada kita. Ia menjamin, “damai sejahtera Kutinggalkan bagimu”. (Yoh 14:27). Akan tetapi, pemberian yang berharga itu hanya berlaku ketika kita menyambutnya. Sekali lagi, Dyer mengungkapkannya dengan amat mengesankan:
Perasaan kedamaian batin Anda bergantung pada menghabiskan sejumlah energi hidup Anda dalam keheningan untuk mengisi ulang baterai Anda, menyingkirkan ketegangan dan kekhawatiran, berkenalan kembali dengan sukacita mengenal Tuhan, dan merasa lebih dekat dengan semua manusia.
2. Enyahkan Asap Rokok (aktif atau pasif)
Rokok merupakan salah satu pembunuh terbesar di dunia. Memang, dari segi ekonomi industri rokok merupakan salah satu penyangga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Indonesia, misalnya, mendapat devisa sekitar 10 triliun dari industri dan perdagangan rokok setiap tahun. Rokok adalah devisa bagi pemerintah tetapi menyisakan penyakit berbisa bagi masyarkat.
Mengapa justru di negara miskin seperti Indonesia jumlah perokok jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan Singapura? Untuk menjawab pertanyaan ini masih dibutuhkan pengkajian lebih lanjut. Tetapi barangkali ada baiknya negara kita mempertimbangakn kebijakan Singapore yang mencantumkan foto-foto penyakit ‘menyeramkan’ akibat rokok pada kemasan rokok sebagai wahana memberi pemahaman yang lebih konkret kepada para perokok. Sebab, alangkah bijaksananya kalau uang yang Tuhan anugerahkan itu kita gunakan untuk hal-hal yang menopang kehidupan bukan untuk ’membeli penyakit bahkan kematian’.
3. Hindari Stress
Mengapa orang stress? Jawabannya bisa beragam. Saya dibesarkan di lingkungan pedesaan yang secara ekonomi sangat miskin. Saya mengamati para pekerja keras dengan makanan seadanya seperti ikan asin bakar, nasi dan sayur daun singkong. Tetapi mereka dapat dengan mudah tidur terlelap di bawah pohon tanpa kasur dan bantal empuk. Sekarang ini saya tahu tidak sedikit orang kota yang menu makanannya amat beragam yang dihidangkan di meja makan yang mahal serta memiliki tempat tidur spring bed berharga puluhan juta, tetapi sangat sulit tidur (kecuali kalau duduk dalam kebaktian di gereja!). Apa yang terjadi? Banyak orang stress, bukan karena tidak memiliki kecukupan, tetapi terlalu fokus pada apa yang belum dia miliki. Orang terlalu perduli dengan sukses ukuran dunia, haus akan harta dan tahta. Akibatnya, ’persaingan’ digunakan sebagai kendaraan meraih sukses tanpa menyadari bahwa dengan kendaraan seperti itu amat rawan akan kecelakaan atau sedikitnya ketegangan atau stress.
Rasul Paulus sudah mengingatkan agar orang percaya tidak memikirkan hal-hal yang di luar kemampuannya. Bahkan, Yesus sendiri dengan amat jelas dan tegas menekankan pentingnya ’rasa cukup’ sebagaimana tercermin dalam ’Doa Bapa Kami’ dan dalam amanatnya untuk tidak kuatir. Ketika seseorang sungguh-sungguh menerima diri sendiri sebagai yang berharga di hadapan Tuhan, menerima keberadaan yang tidak dapat diubah, mematahkan mata rantai beban masa lalunya, maka ia akan sungguh-sungguh merdeka. Hidup tanpa beban yang tidak perlu! Ini dapat terwujud ketika seseoang lebih banyak memikirkan apa yang Tuhan sudah perbuat bukan pada apa yang belum dimiliki.
Pernyataan di atas sama sekali tidak berarti mengharamkan kekayaan atau jabatan. Kekayaan dan jabatan sah-sah saja sejauh datangnya dan penggunaannya selalu terhubung dengan Tuhan. Dengan demikian seseorang akan terhindar dari apa yang Gede Prama prihatinkan, ”berhasil kaya gagal bahagia” yang menghinggapi banyak manusia pada zaman ini.
4. Awasi Tekanan Darah
Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran kita perlu melakukan medical check up secara teratur. Hal ini sekaligus mengingatkan perlunya menerapkan ’pola makan’ sehat dengan mengkonsumsi cukup kalori, sayur, buah-buahan dan air murni dan sedapat mungkin menghindari makanan dan minuman instan yang menggunakan zat pengawet dan pewarna. Kebiasaan pola makan khas Batak yang melahap sangsang B1dan B2 –cincang daging babi dan anjing-- (dan di berbagai tempat kucing, tikus dan ular juga sudah menjadi korban!) tanpa diimbangi dengan sayur dan buah-buahan tidaklah pro-kesehatan.
5. Tetap dan Teratur Berolahraga.
Untuk melakukannya, kita tidak harus masuk ke club mewah seperti yang tersedia di kota-kota. Tuhan menyediakan alam yang segar (yang perlu tetap dipelihara) di mana kita dapat berjalan kaki setengah jam setiap hari (jangan hanya 20 menit, karena itu hanya akan menambah selera makan dan pengantar tidur!). Olahraga juga tidak bisa ’dirappel’ berjalan kaki satu hari sekaligus dalam satu bulan. Bagi para petani dan pekerja fisik sehari-hari, olahraga sudah termasuk di dalamnya (saran dokter juga dibutuhkan olahraga mana yang tepat bagi seseorang). Yang jelas, aktivitas di sekitar rumah seperti memelihara tanaman di pekarangan, merapikan rumah juga termasuk olah raga yang sah lagi murah meriah. Ia berfungsi ganda: olah raga dan wahana untuk ramah terhadap diri sendiri.
Selamat menikmati hidup bahagia, bugar dan bermakna di dalam Tuhan!
Friday, April 11, 2008
MENGENALI DAN MENGATASI KEKERASAN
PRAWACANAKekerasan sudah setua manusia. Kini kekerasan juga hadir di mana-mana: di tengah masyarakat luas, di kantor-kantor, di lingkungan industri, di tengah-tengah keluarga, di jalan, dan ironisnya juga terkadang (bahkan mungkin biasanya) terdapat di lingkungan agama dan kebudayaan. Bentuknya pun amat beragam, mulai dari yang sangat halus, tidak kasat mata hingga yang terang-terangan di depan mata. Ia dilakukan oleh yang berpendidikan rendah maupun berpendidikan tinggi, orang miskin atau kaya, orang kota atau orang desa, orang beragama aktif atau ‘beragama KTP’ (sekadar tertulis dalam Kartu Tanda Penduduk).
Menyikapi kenyataan kekerasan yang kian mencengkream, tidak sedikit diskusi, seminar, lokakarya, persidangan yang dilakukan serta doa syafaat yang dipanjatkan dari tingkat lokal hingga mondial demi kehidupan dunia yang damai dan layak dihuni. Tidak terhingga pula dana yang habis untuk keperluan berbagai forum dimaksud untuk fotokopi materi dan konsumsi peserta (yang dalam arti tertentu merupakan kekerasan juga). Namun, kekerasan tidak kunjung teratasi. Malahan bagi banyak orang kepekaan pun hampir lenyap. Banyak orang yang tidak merasa ngeri lagi mendengar adanya ratusan korban pemboman atau kecelakaan. Ternyata, kekerasan menciptakan semacam ‘pembiasaan’ atau ‘pembiusan’. Tidak sedikit pula yang lalu begitu pesimis dan sinis menyikapi realitas.
Menyadari kenyataan demikian, sebetulnya cukup beralasan jika ada keengganan membahas tema di atas. Namun, umat percaya tetap berpengharapan dan terpanggil untuk berbuat sesuatu. Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD), misalnya, dalam Sidang Raya ke-8 di Harare (1998) melihat bahwa abad ke-20 yang sudah dilalui merupakan abad yang paling penuh kekerasan dalam sejarah dunia. (Indonesia, dalam hal ini rezim Soeharto, disebut-sebut sebagai rezim peringkat satu dunia di bidang tindak kekerasan atau rezim yang paling kejam pada abad ke-20).
Belajar dari abad yang penuh kekerasan itu dan demi kehidupan dunia yang lebih damai, dalam Sidang Raya tersebut, DGD menetapkan dasawarsa ini sebagai Decade to Overcome Violence (Dasawarsa untuk Mengatasi Kekerasan: Gereja-gereja Mencari Rekonsiliasi dan Damai)
Sebagai warga bangsa Indonesia, di satu segi dapat berbesar hati dengan dicanangkannya tahun 2003 oleh Presiden Megawati sebagai tahun perdamaian dan tanpa kekerasan. Akan tetapi di segi lain, dalam waktu yang sama terjadi kekerasan ekonomi melalui kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL) dan tarif telepon dan kekerasan demi kekerasan masih terjadi dalam berbagai segi kehidupoan hingga saat ini.
Mencermati semua itu, sebenarnya apa yang disajikan berikut ini amat jauh dari standar penulisan ilmiah. Ia dengan sengaja disajikan tanpa mengandalkan catatan kaki, melainkan lebih mengungkapkan catatan hati –hati yang merindukan kehidupan tanpa kekerasan.
AKAR KEKERASAN
Kekerasan berakar pada keberdosaan manusia. Keberdosaan ini pada gilirannya begitu akrab dengan egoisme (pementingan diri sendiri) dan/ atau sikap penolakan diri (benci diri). Egoisme dan penolakan diri manusia sangat tipis jaraknya dengan aneka kejahatan dan kekerasan. Sebab, egoisme biasanya menyatu sedemikian rupa dengan iri hati, kedengkian, rasa takut berlebihan, kekuatiran dan dendam yang berujung pada kekerasan (lihat Yak 4:2)
Demikian halnya dengan sikap benci diri dapat berujung pada kekerasan, baik terhadap diri sendri maupun terhadap orang lain. Secara negatif dapat dikatakan bahwa kekerasan adalah anak kandung ketidakbahagiaan. Sebaliknya, bahagia dengan diri sendiri merupakan obat manjur melawan iri hati, dengki dan kekerasan.
Dalam kaitan itu, Thomas Hobbes (abad ke-17) tidak keliru mengungkap kenyataan zamannya dimana yang terjadi ialah homo homini lupus (manusia merupakan serigala bagi sesamanya), karena manusia memiliki sifat-sifat competitio (berlomba mengatasi orang lain atas rasa takut), defentia (mempertahankan diri) dan gloria (keinginan untuk dihotmati dan dipuji).
MENGENALI KEKERASAN
Kekerasan mencakup kekerasan fisik dan non-fisik dalam berpikir, berucap, bersikap dan bertindak -- mulai dari yang paling halus, tidak kasat mata hingga yang terang-terangan. (1) Kekerasan berpikir antara lain: menghendaki (malah mendoakan) malapetaka bagi orang lain, merancang kekerasan bagi orang lain. (2) Kekerasan berucap dan bersikap yang juga berkaitan dengan kekerasan non-fisik antara lain: kata-kata atau gerak-gerik yang melecehkan, menggoda (secara seksual), menghina, mengancam, menakut-nakuti, memaksakan pendapat yang melukai perasaan orang lain. (3) Kekerasan dalam bertindak, terutama berkaitan dengan kekerasan fisik baik secara langsung maupun tidak langsung. Langsung, misalnya: pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, penculikan, pemukulan, penyiksaan dsb.); dan tidak langsung misalnya, perusakan dan pencemaran alam, penciptaan struktur ekonomi dan sistem politik yang tidak adil. Kekerasan fisik dan non-fisik ini terjadi hampir di semua bidang kehidupan, antara lain:
1. Kekerasan Individual
Kekerasan individual dapat terjadi terhadap diri sendiri, orang (-orang) lain, dan alam. Khusus yang disebut pertama, (kekerasan terhadap diri sendiri), misalnya melalui upaya memaksa diri untuk mencapai ‘ideal diri’ menurut ‘gambar’ diri sendiri atau ‘gambar’ orang lain, demi ‘sukses’ menurut ukuran dunia. Di samping itu, kekerasan terhadap diri sendiri terjadi ketika seseorang merusak diri sendiri dengan mengkonsumsi narkoba, minuman keras berlebihan, menyiksa diri dan sebagainya. Semuanya ini merupakan ‘angsuran kematian’ atau ‘bunuh diri kredit’.
Lebih keras dari itu adalah ‘bunuh diri’ secara langsung. Kemajuan zaman dan tingkat perolehan materi yang semakin banyak ternyata tidak menjamin kebahagiaan banyak orang. Hal ini terbukti dari tingkat bunuh diri yang cukup tinggi di negara maju, seperti di Jepang dan negara maju lainnya.
Kekerasan individual terhadap orang lain merupakan peristiwa keseharian dalam kuantitas dan kualitas yang kian meningkat, seperti:
- Pembunuhan (di Indonesia sebagai peringkat atas),
- Pemerkosaan (menempati peringkat kedua, yang terjadi sekali dalam 6 jam
- Maraknya ‘Pedagang kematian’ (meminjam istilah Paus Paulus II) yang menjajakan narkotika dan obat-obat terlarang yang menghancurkan banyak orang dan meningkatnya kekerasan di tengah masyarakat.
- Peredaran atau penjualan produk makanan yang mengandung zat berbahaya atau makanan kadaluarsa yang mencelakakan kesehatan konsumen.
- Pembuangan limbah rumah tangga atau perorangan yang mengganggu khalayak
- Merokok di rumah dan tempat-tempat umum: kantor, ruang pertemuan (bahkan di gereja) di bus dan sebagainya, yang merusak kenyamanan dan kesehatan orang lain.
- Menunda bahkan mengabaikan pengobatan orang sakit hanya demi uang. (Jadinya, emas gemuk tetapi orangnya kurus dan batuk-batuk).
- Ancaman teror, intimidasi, dan sebagainya.
2. Kekerasan dalam Lingkungan Keluarga
Sadar atau tidak, sebenarnya kekerasan sangat sering terjadi di lingkungan keluarga. Di antaranya banyak yang terungkap, tetapi bisa saja lebih banyak lagi yang tidak tersingkap ke permukaan.
(1) Orangtua terhadap anak, yang terjadi dalam berbagai bentuk, di antaranya:
Kata-kata yang memperlemah semangat (apalagi disertai dengan nada suara dan raut wajah marah), seperti: “Belum pernah ada yang saya tahu anak sejahat engkau di dunia ini”.
· Membentak dan menakut-nakuti anak kecil, mengejek yang melemahkan semangat hidup anak.
· Diskriminasi kesempatan mendapat pendidikan dengan mengesampingkan perempuan hanya karena dia perempuan, yang dianggap akan menjadi ‘milik’ orang lain.
· Pemberian beban kerja berlebihan, yang merupakan tindakan merampas masa depan si anak.
· Pemerkosaan. Tidak sedikit jumlah anak yang diperkosa (terutama) oleh ayah kepada putrinya.
· Pemukulan bahkan penganiayaan atau penyiksaan secara langsung maupun tidak langsung (misalnya, menunda atau malah mengabaikan pengobatan yang layak bagi anak yang sakit).
· Pigmalion: Orangtua berusaha ‘membentuk anak-anak sesuai dengan gambaran dan keinginannya sendiri’.
(2) Hubungan suami-istri. Dalam konteks masyarakat paternalistik, kekerasan sering bersumber dari suami kepada istri, misalnya: suami menuntut istri untuk tunduk kepada suami sebagai kepala keluarga yang menganggap sudah ‘membeli’ istrinya dengan jujuran tinggi; suami memperkosa istri (kedengarannya aneh, tetapi hal ini sering terjadi); suami membiarkan istri bekerja keras sementara ia memboroskan waktu dan uang duduk di warung meneguk alkohol sambil ‘ngobrol’ dan main kartu domino (berjudi). Sebaliknya, kekerasan istri terhadap suami, misalnya: istri memaksa suami bekerja di luar kemampuan hanya demi uang; mendukung suami bertindak tidak adil (korupsi, menindas ‘bawahan’).
Bagi sebagian suami-istri yang tidak dikaruniai anak, mungkin merupakan keadaan yang sangat rawan kekerasan yang bisa saja berujung pada perceraian. Dalam hal ini perlu disadari bahwa sebuah keluarga bukanlah sebuah industri yang tujuan satu-satunya untuk memproduksi anak, kalau tidak ‘berproduksi’ keluarga ‘gulung tikar’. Secara teologis dapat dikatakan berkat Tuhan bisa saja melalui kehadiran atau kelahiran anak dan juga tanpa kelahiran anak dalam sebuah keluarga.
(3) Hubungan anak dengan anak. Terjadinya persaingan tidak sehat, kecemburuan, iri hati di antara sesama anak, yang seringkali diikuti dengan tindak kekerasan. Alkitab bersaksi tentang hal-hal seperti itu. Kain membunuh Habel karena ketidaksenangan dan kecemburuan. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya karena kecemburuan. Dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang ‘anak yang hilang, kita juga melihat bagaimana anak sulung itu marah terhadap ayahnya atas sambutannya pada adiknya sendiri. Ini hanya sebagian dari contoh yang dapat ditemukan dalam Alkitab.
(4) Anak terhadap orangtua. Anak-anak pun tidak jarang melakukan tindak kekerasan kepada orangtuanya, mulai dari kekerasan psikis hingga kekerasan fisik (bahkan hingga membunuh), baik secara langsung maupun tidak langsung (anak yang sudah dewasa misalnya menelantarkan, tidak mengusahakan pengobatan ketika orangtuanya sakit). Banyak orangtua yang menderita secara fisik dan psikis karena tindakan anak-anaknya yang durhaka.
3. Kekerasan Institusional
Kekerasan institusional merupakan kekerasan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan di tengah masyarakat, baik yang mendapat legitimasi dari institusi terkait maupun karena pelanggaran pribadi yang menjadi bagian dari sebuah institusi. Berikut ini beberapa bidang kehidupan tempat berlangsungnya kekerasan.
(1) Pertahanan keamanan. Sudah sejak lama negara-negara di dunia secara tidak bijaksana menetapkan prioritas kebijakannya dengan pemborosan dana membangun persenjataan pemusnah kehidupan. Belum lama ini Hans Kung menyebutkan bahwa setiap menit dunia memboroskan sekitar 2 juta USD untuk biaya persenjataan tentara di seluruh dunia. Hal ini mengakibatkan berbagai dampak buruk, di anataranya: (i) Terganggunya pengadaan sarana dan pra-sarana yang membangun kehidupan (penyediaan kebutuhan primer, pelayanan pendidikan, kesehatan dan sebagainya). (ii) Mengakibatkan masyarakat dunia hidup dalam ketakutan akan ancaman persenjataan tersebut. Diyakini, jika semua senjata nuklir dan biologi yang ada sekarang dilepas, semuanya cukup menghancurkan kehidupan di bumi ini. (iii) Begitu banyaknya korban perang dan akibat lanjutan sebuah perang.
(2) Ekonomi. Di bidang ekonomi kekerasan mewujud dalam aneka bentuk, baik yang langsung mapun tidak langsung. Ekonomi terutama berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan bahwa pertumbuhan itu justru terjadi melalui pertumpahan keringat bahkan pertumpahan darah.
Masyarakat menghadapi sistem perekonomian dunia yang tidak adil yang diperparah struktur perekonomian domestik yang juga tidak adil, semakin meminggirkan masyarakat lemah. Saat ini diperkirakan sedikitnya 1,2 miliar manusia di dunia ini hidup dalam kemiskinan absolut. Hal ini antara lain mengakibatkan kesenjangan ‘harapan hidup’ antara negara-negara makmur dan negara-negara miskin. Kesenjangan harapan hidup demikian merupakan kekerasan juga.[2]
Di dalam negeri, hal itu diperparah dengan praktek monopoli (pengadaan barang tertentu dikuasai oleh orang tertentu), oligopoli (produsen hanya dikuasai orang tertentu sehingga dapat menentukan harga) dan kartel (organisasi perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi barang sejenis) yang semakin memperbesar perusahaan raksasa dan menghancurkan usaha kecil. Hal ini semakin buruk karena praktek K3N, sehingga meski perekonomian Indonesia melorot, yang melarat adalah rakyat kecil bukan para konglomerat, penguasa dan pengusaha.
Di samping itu, kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat sebagai kompensasi ketidakmauan dan ketidakmampuan memberantas korupsi harus dilihat sebagai tindak kekerasan. Lihat saja, koruptor miliaran bebas berkeliaran sementara pencuri sepeda mini meringkuk di penjara.
Dengan mata telanjang dapat diamati bahwa sekelompok kecil masyarakat menikmati devisa dan yang tersisa adalah penyakit berbisa bagi banyak orang. Sangat ironis memang, bagaimana mungkin Indonesia yang alamnya kaya raya tetapi mayoritas rakyatnya miskin raya. Banyak sekali warga masyarakat kita yang diperlakukan tidak ubahnya seperti sepasang mur dan baut dalam mesin produksi, yang hanya memiliki tanggung jawab tanpa menerima haknya secara adil.
Yang lebih memprihatinkan ialah kerusakan alam yang amat parah saat ini sebagai konsekuensi logis dari ekonomi tanpa pertimbangan ekologi. Perlu dicatat bahwa dunia kehilangan hutan tropis setiap tahunnya seluas wilayah Korea. Indonesia sendiri mengalami kerusakan hutan seluas hampir 2 juta hektare setiap tahun. Karena kekerasan manusia, satu spesies punah setiap hari, yang tetap tersisa ialah sikap kebinatangan manusia yang kian menjadi-jadi. Hutan rimba hampir habis ditebas, seang yang tersisa ialah hukum rimba yang kian merajalela.
Kekerasan terhadap alam atau penghancuran hutan dan makhluk lain pada gilirannya merupakan kekerasan terhadap manusia juga:
- Polusi udara merusak saluran pernafasan manusia. Di samping itu, hasil penelitian telah membuktikan bahwa polusi udara juga merontokkan tingkat kecerdasan manusia, khususnya anak-anak. Kita perlu menghindari hadirnya generasi yang bodoh dan loyo.
- Limbah berbahaya (terutama merkuri atau logam berat) dari industri atau tambang yang dialirkan ke laut di mana ikan tanpa sadar memakannya, dan manusia tanpa sadar pula mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi zat beracun.
- Polusi suara dan kenaikan temperatur sangat mempengaruhi emosi manusia dan memicu tindak kekerasan.
(3) Politik. Kekerasan dalam bidang politik terjadi ketika penguasa menindas warga negara, melalui berbagai pembatasan dan pembatalan hak, penangkapan yang sewenang-wenang, penculikan, bahkan pembunuhan lawan-lawan politik.
Juga merupakan kekerasan kalau rakyat tidak terwakili dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Era reformasi ini sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meskipun hingga hari ini belum pernah ada perwakilan rakyat yang sebenarnya. Yang ada masih sebatas perwakilan partai. Hanya keberuntungan saja memiliki beberapa orang anggota dewan yang sungguh-sungguh memihak dan memperjuangkan rakyat.
(4) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang sudah membawa begitu banyak berkat. Akan tetapi ia juga memiliki sisi negatif, dimana manusia terkadang diperlakukan sebagai objek atau ‘kelinci percobaan’. Sungguh memprihatinkan teknologi sudah memangsa tuannya sendiri. Selain itu, teknologi tidak mampu memulihkan kerusakan dan penderitaan yang ditimbulkannya.
(5) Perhubungan. Kekerasan terjadi melalui pengoperasian armada transportasi darat, laut dan udara yang jelas-jelas tidak layak jalan atau tindakan sengaja menampung penumpang melebihi kapasitas armada angkutan demi meraup keuntungan sehingga mencelakakan banyak orang.
Juga, tindakan sengaja membiarkan bagian ruas jalan yang berlobang atau membiarkan trotoar menganga yang bisa menjebak dan mencelakakan pengguna jalan.
(6) Media komunikasi. Kekerasan terjadi misalnya melalui siaran televisi yang mengeksploitasi khalayak melalui tayangan film kekerasan dan iklan yang menyesatkan. Bagi dunia pers, kekerasan malah dapat merupakan ‘mesin penghasil uang’ atas pemberitaannya tentang peristiwa kekerasan. Kekerasan yang menggemparkan dunia, meningkatkan minat masyarakat berpaling kepada media massa. Semakin media massa diminati, semakin terbuka peluang meraup untung melalui iklan-iklan. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa tayangan film-film yang berbau kekerasan memicu tindak kekerasan bagi pemirsa yang antara lain dalam bentuk (a) Peniruan langsung seperti yang terjadi di TV (b) Memacu tindak kekerasan yang sebenarnya masih bisa dicegah (c) Menghilangkan kepekaan terhadap tindak kekerasan. Artinya, orang tidak merasa terganggu menyaksikan aneka kekerasan yang terjadi.
(7) Pendidikan. Secara struktural, institusi pendidikan –ironisnya- ternyata tidak terbebas dari tindak kekerasan dalam berbagai modusnya. Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan, meski akhir-akhir ini sudah menunjukkan perbaikan, masih tergolong dianaktirikan dalam APBN (mungkin juga dalam APBD). Sudah sejak lama tingkat kesejahteraan guru sangat memprihatinkan yang memaksa para guru untuk mencari nafkah tambahan yang pasti menyita perhatiannya meningkatkan kualitas pendidikan.
Kondisi demikian dikeruhkan melalui hubungan-hubungan dalam dunia pendidikan yang sering diwarnai oleh kekerasan, mulai dari kekerasan psikologis hingga kekerasan fisik baik dari pendidik kepada peserta didik dan sebaliknya dari peserta didik dan anggota keluarganya terhadap pendidik. Beberapa kasus yang terungkap menunjukkan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik, baik kekerasan psikis maupun fisik. Sebaliknya, tidak sedikit pula guru yang mendapat perlakuan kekerasan mulai dari ancaman hingga siksaan dari peserta didik atau angota keluarga siswa.
Di samping itu dapat dicatat beberapa bentuk kekerasan dalam lingkungan institusi pendidikan, a.l.:
- Guru atau dosen yang mengacungkan pena yang disertai ancaman kepada peserta didik, ‘hidup-matimu berada di ujung pena saya’. Kita pun mendengar berbagai kasus di mana nilai akademis mahasiswa harus dikompensasi dengan uang, ‘kerja paksa’ bahkan hubungan seksual.
- Guru atau dosen yang terlalu banyak jam mengajar (bentuk kekerasan terhadap diri sendiri dan keluarga, yang bisa saja berlanjut pada kekerasan terhadap peserta didik).
- Mahasiswa mengontrak mata kuliah terlalu banyak dan di luar kemampuan, dll.
(8) Kebudayaan. Dalam lingkup kebudayaan, sistem paternalistik sangat rawan kekerasan, khususnya kekerasan terhadap perempuan. Merupakan kekerasan juga jika pernikahan harus dibatalkan hanya karena ketidakmampuan membayar jujuran yang terlalu tinggi, yang mendapat legitimasi dari kebudayaan.
(9) Agama. Yang amat memilukan dan sungguh memalukan ialah kenyataan bahwa lembaga agama dan umat beragama tidak sepenuhnya terbebas dari sikap dan tindak kekerasan. Kekerasan terjadi dari lembaga agama kepada warga, seperti diskriminasi atas dasar gender, kewajiban (atas nama ayat kitab suci) membangun sarana dan prasarana meski di luar kemampuan warga dan sebagainya.
Kekerasan juga mengemuka dalam hubungan antar umat beragama. Bangsa Indonesia telah mengalami sejarah pahit dengan terjadinya berbagai perang (bukan hanya konflik) antar umat beragama di tanah air. Di antaranya ada yang mengabsahkannya melalui penafsiran kitab suci (contoh konkrit lihat topik “Reformasi Kemandirian Gereja” dalam Victor Tinambunan, Menjadi Gereja Pro-Kehidupan). Ironis! Manusia dengan mudah memperkosa ayat-ayat Alkitab untuk mengabsahkan tindakan kekerasan. Karena itu, ini juga merupakan kekerasan dalam hermeneutik (tafsiran) Alkitab.
Selain itu, pertanyaan yang pantas juga diajukan dan direspon ialah, ‘Apa perbedaan mendasar antara Yesus dan Gereja?’ Yesus berpihak pada orang miskin dan tersisih (korban kekerasan), sementara gereja biasanya lebih berpihak pada orang kaya dan berjasa. Secara jujur harus diakui bahwa gereja sering terjatuh pada kenyataan bahwa: uang diperilah dan yang ilahi diuangkan (demikian Sebastian Kappen menggambarkan kehidupan gereja akhir-akhir ini). Padahal Alkitab bersaksi, akar segala kejahatan adalah cinta akan uang.
MENGIKUT YESUS MENGATASI KEKERASAN DENGAN DAMAI
Acuan utama orang Kristen dalam mengatasi kekerasan ialah pengajaran dan kehidupan Yesus. Panggilan gereja tidak hanya sekadar mengatasi kekerasan seperti cara yang dilakukan oleh Yesus, seolah-olah Ia tidak melakukannya lagi sekarang. Akan tetapi, setiap orang mengatasi bersama kekerasan dengan dan seperti cara Yesus yang masih tetap melakukannya sampai hari ini.
1. Mengatasi Kekerasan Struktural
Yesus adalah korban kekerasan. Orang-orang yang dikasihiNya sejak dulu hingga hari ini juga banyak yang menjadi korban kekerasan. Yesus bukan tidak sanggup melenyapkan pelaku kekerasan dengan kekerasan yang lebih dahsyat, tetapi Ia mengatasi kekerasan dengan damai (bnd. Mat 5:44-45).
Yesus mewartakan bahwa kekuasaan Allah akan segera ditegakkan dan Ia mengajak umat untuk bertobat (Mrk 1:15 dst; Luk 10:9, 11). Akan tetapi, kejahatan di dunia ini tidak pertama-tama berakar pada keadaan sosial dan politik, melainkan dalam hati masing-masing orang jahat. Oleh karena itu tegaknya Kerajaan Allah tidak dilandaskan pada perubahan struktur politik dan ekonomi tertentu secara revolusioner. Kerajaan Allah menuntut pertobatan orang-orang jahat. Dengan demikian, struktur politik dan ekonomi akan berubah ke arah yang baik. Yesus mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah yang memerdekakan (menentang Romawi) tetapi menolak hukum pembalasan dan kekerasan. Yesus datang mengubah hati keras menjadi hati lembut.
Yesus menekankan hukum kasih bukan sikap keras yang dilandaskan pada rasa benci. Hanya pengalaman kasih Allah yang dapat mengubah hati manusia yang seperti batu, membebaskan manusia dari perhambaan dan membuatnya mampu untuk melepaskan diri dari struktur-struktur yang beku. Dengan demikian Ia mengambil sikap yang tegas melawan pandangan umum yang berlaku pada waktu itu. Inilah unsur yang benar-benar baru dan khas dalam pewartaan Yesus. Hanya hati yang sudah diubah mampu membangun komunitas manusiawi yang baru, mampu melakukan yang baik.
Dalam konteks ini dapat dipahami penegasan Yesus “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Ucapan bahagia ini merupakan satu kesatuan dengan ucapan ‘berbahagialah’ seperti dalam Matius 5:3-11. Di sini bukan sembilan macam orang yang dimaksudkan, melainkan sembilan segi dari orang yang sama, yang salah satu di antaranya adalah pembawa damai.
Dalam dunia yang dipenuhi oleh perselisihan, anak-anak Allah hendaknya berperan sebagai pelaku-pelaku damai. Pengikut Kristus yang membawa damai, disebut anak-anak Allah. Sebab seorang anak mempunyai kesamaan dengan bapaknya. Allah menghendaki perdamaian dan orang yang berusaha menciptakan perdamaian, memperlihatkan kesamaannya dengan Bapanya di sorga.
Kebahagiaan yang sejati hanya dimungkinkan kalau ada hubungan yang benar dengan Tuhan: Menerima Tuhan dan kedaulatanNya dalam kehidupan; menerima pemberian Tuhan kepada kita dengan rasa syukur; mengimani akan rancangan Allah yang sempurna dalam hidup. Singkatnya, penerimaan Allah dan diri sendiri serta kepasrahan yang aktif kepada penyelenggaraan Allah.
Atas dasar ini, ‘damai’ tidak merupakan syarat kebahagiaan. Artinya, orang akan merasa bahagia karena ada damai. Melainkan, orang-orang yang berbahagia yang dapat mewujudkan damai. Dengan kata-kata lain, yang benar adalah: karena saya orang yang berbahagia (karena Tuhan), maka saya dimungkinkan membawa damai; bukan: saya menjadi berbahagia hanya karena ada damai.
Jelas bahwa ‘kebahagiaan’, damai dan keberadaan sebagai anak-anak Allah adalah anugerah Allah. Tidak satu pun bersumber dari diri sendiri. Damai berasal dari Allah (Rm 15:33, 2 Kor. 13:11; Gal 1:3; Ef 1:2; Why 1:4). Damai disebut juga sebagai pemberian Kristus (Yoh 14:27).
2. Pribadi Pembawa Damai: Mengatasi Egoisme
Menyadari bahwa kekerasan terutama bermula dari kehidupan pribadi yang merambat ke dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan komunitas dunia, maka upaya mengatasi kekerasan pun seharusnya bermula dari kehidupan pribadi.
Orang yang berbahagia karena Tuhan akan secara serta merta dapat menjaga hati (bnd. Ams 3:14), kata-kata dan tindakan yang membangun kehidupan. Orang yang berbahagia mampu mengembangkan ‘bahasa kelembutan dan menanggalkan bahasa iri hati dan bahasa kekerasan. Jadinya, hidup menjadi alat perdamaian.
Tugas panggilan orang percaya tidak saja bersih dari tindak kerasan tetapi juga terpanggil menjadi pembawa damai. Sebab, suasana damai tidak hanya hidup tanpa kekerasan atau perang, tetapi di mana syalom diwujudkan. Ini adalah bagian dari keberadaan orang percaya sebagai garam dan terang dunia dalam rangka merawat kehidupan. Karena itu, orang percaya terpanggil memberitakan Injil kepada semua makhluk, merawat dan memelihara ciptaan.
Dalam hal ini setiap individu membutuhkan spiritualitas yang tangguh. Spiritualitas merupakan sikap dan gerak hidup yang berpadanan dengan iman kepada Tuhan. Artinya, menyatunya kehidupan ibadah dengan perilaku sehari-hari. Spiritualitas mestinya menjadi bagian integral bagi profesi dan fungsi seseorang, sebagai guru, pelayan Rumah Sakit, pelayan perhubungan, pegawai pemerintah, pelayan gereja, politisi, kontraktor, penguasaha, tukang bangunan, tukang becak, suami, istri, anak dan lain-lain.
Dunia terberkati melalui kehidupan dan perjuangan banyak orang yang mengatasi kekerasan dengan budaya damai. Menyebut beberapa contoh saja antara lain, Martin Luther King Jr, Ibu Theresa, Nelson Mandela, juga orang yang menerapkan ajaran Yesus meskipun tidak pernah dibaptis menjadi Kristen seperti Gandhi dan yang semuanya dapat menjadi acuan berpikir, berucap, bersikap dan bertindak damai dalam mengatasi kekerasan.
3. Keluarga Pembawa Damai
Kehidupan keluarga yang baik dan damai memang tidak menjamin kehidupan terciptanya masyarakat yang baik dan damai. (Hitler yang sadis dan membunuh sekitar 6 juta Yahudi, adalah orang yang mengasihi keluarganya, ia berdoa dan membaca Alkitab di rumahnya. Tetapi ia amat sadis di luar rumah). Akan tetapi kehidupan keluarga-keluarga yang dipenuhi dengan kekerasan hampir menjamin kehidupan masyarakat yang penuh dengan kekerasan. Kasih semacam ini dapat disebut kasih ‘jarak pendek’.
4. Gereja Pembawa Damai
Kekerasan kian merajalela seiring dengan memudarnya kehidupan ibadah dalam arti yang sesungguhnya. Yesus menuntut ibadah yang menyatu dengan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Mat 23:23). Karena itu, secara konkret Gereja terpanggil untuk berbuat sesuatu, di antaranya:
· Sungguh-sungguh belajar kebenaran firman Tuhan sehingga Gereja dapat memberi sumbangan yang bernilai di tengah masyakat melalui pelayanan dan kesaksian gereja secara kelembagaan dan oleh para warganya sendiri.
· Gereja-gereja seharusnya terbebas dari segala bentuk kekerasan. Dalam kaitan itu, Gereja terpanggil menyatakan perilaku kenabian dan suara kenabian. Suara kenabian saja tidak cukup, tetapi gereja sungguh-sungguh pelaku kebenaran dan keadilan dan bebas dari tindak kekerasan.
AKHIRULKALAM
Tidak ada jalan mudah dan mulus menuju perdamaian. Ia menuntut kesungguhan bahkan pengorbanan (tanpa kekerasan). Ini semakin meyakinkan bahwa hanya bersama Tuhan, yang sudah mengalahkan kekerasan itu dengan cinta kasih, setiap orang layak menjadi pembawa-pembawa damai di setiap waktu dan tempat, mulai dari kesediaan mengembangkan bahasa kelembutan, membiasakan gerak-gerik persahabatan hingga membudayakan perdamaian dan tindakan pro-kehidupan.
[2] Penjelasan lebih lanjut lihat UEM, It’s time to talk about it!” Violence agaisnt women in culture, society and the church, Geneva: UEM, 2000, p. 56
Subscribe to:
Posts (Atom)
