Sunday, January 16, 2011

TEDUH DAN TEGUH MENGHADAPI MUSUH

RENUNGAN MINGGU KE-3
16-22 Januari 2011

(Baca terlebih dahulu Lukas 6:27-37)


Kita sudah biasa menerapkan ‘pemberian berbasalan setimpal’ dalam kehidupan sehari-hari. Kalau orang lain memberi hadiah ulang tahun kepada kita, kita merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah pada ulang tahunnya. Hadiahnya pun bisa saja diusahakan agar harganya kurang lebih sama. Kalau orang yang kita undang tidak menghadiri pesta kita, kita tidak merasa apa-apa kalau kita tidak menghadiri pestanya di kemudian hari. Bahkan, hal yang sama bisa merembes ke dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang hadir pada saat PA di rumah kita, kita akan datang ke rumahnya pada saat PA diadakan di rumahnya. Itulah ‘hukum pemberian berbalasan”. Itu pula yang sudah lama terjadi bahkan pernah dihadapi oleh Yesus dalam pelayananNya.

Melihat kenyataan seperti itu, Yesus menantang pendengarnya dulu dan menyapa kita pada saat ini bahwa sikap demikian sebenarnya tidak ada istimewanya. Sebab, orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat lebih jelas:
  • Tidak ada istimewanya mengasihi orang yang mengasihi kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 32)
  • Tidak ada istimewanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 33)
  • Tidak ada istimewanya meminjamkan sesuatu kepada orang dengan berharap bahwa kita akan menerima sesuatu dari padanya, karena orang berdosa pun berbuat demikian (ay 34)
Sebagai pengikut Tuhan, kita seharusnya menunjukkan sesuatu yang lain, melampaui kebiasaan umat maanusia. Dikatakan dalam ayat 35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu......” Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit dari dulu hingga hari ini. Buktinya? Orang yang mengasihi kita saja terkadang kita tidak sungguh-sungguh mengasihinya. Kita terkadang tergoda ‘memanfaatkan’ mereka. Apalagi mengasihi musuh. Amat berat! Pada zaman Yesus, untuk mengatakan mengasihi musuh saja sangat sulit, apalagi melakukannya. Pada waktu itu, orang-orang menghendaki agar musuh-musuh mereka mendapat celaka. Kalau musuh mendapat celaka mereka mungkin berkata, “tahankan biar tahu rasa kau!” “Itu belum setimpal dengan kesalahanmu”. “Kok tidak mati saja dia sekalian!” dan sebaginya.

Bagaimana dengan sekarang? Pengalaman kita menunjukkan, bahwa apa yang terjadi pada zaman Yesus masih merupakan penyakit yang sama hingga hari ini. Itu sebabnya perang terjadi di mana-mana, dari perang urat saraf hingga perang dengan pedang dan senapan. Yesus dengan tegas mengamanatkan, “kasihilah musuhmu...” Amat berat, memang. Tetapi tugas panggilan kita adalah untuk menjadi berkat dan sahabat bagi semua orang. Kemauan dan kemampuan kita mengasihi musuh akan dapat melahirkan perdamaian di dunia ini.

Sedikitnya ada tiga hal penting berkaitan dengan mengasihi musuh. Pertama, kebahagiaan untuk diri kita sendiri karena hati kita tidak diracuni oleh permusuhan. Orang yang menyimpan kebencian, sakit hati dan kemarahan tidak mungkin berbahagia. Kedua, menjadi kesaksian bagi orang lain yang dapat menolong mereka untuk bertobat dan berbalik bersahabat dengan kita. Dalam hal ini, mengabarkan Injil bukanlah terutama melalui pengajaran atau pemberitaan dengan kata-kata, melainkan pertama dan terutama melalui keteladanan hidup. Ketiga, Allah kita dimuliakan karena kita anak-anakNya hidup dalam perdamaian dan saling mengasihi. Lagipula, ketika kita bermurah hati kepada orang lain bahkan kepada musuh, sesungguhnya kita telah terlebih dahulu menerima kemurahan hati Allah (ayat 36). Artinya, kemurahan hati bukanlah dari diri kita sendiri tetapi kita terima dari Tuhan dan kita teruskan kepada orang lain.



Sunday, January 9, 2011

PELAKU UTAMA

RENUNGAN MINGGU KE-2
09-15 Januari 2011

(Baca terlebih dahulu Lukas 10:12-17)

Ada satu pernyataan para murid yang diutus sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 10:17-20 yang mudah terluput dari perhatian kita. Mari kita perhatikan isi ‘laporan’ mereka kepada Yesus. Para murid itu berkata, "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Kata-kata: “takluk kepada kami demi nama-Mu” telah menggeser pelaku utama dari Yesus menjadi murid-murid. Mereka merasa berhasil ‘memakai’ nama Yesus. Mereka bergembira mengagumi keberhasilan mereka.

Yang indah dan meneguhkan dari cara Yesus ialah bahwa Ia tidak membiarkan mereka menjadi sombong. Yesus tidak membiarkan mereka fokus pada diri dan keberhasilan mereka. Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh dari langit”. Artinya: Yesus ada di situ. Ia tahu dan melihat persis apa yang terjadi. Dan, yang paling penting, yang melakukannya bukan murid-murid itu, tetapi Yesus sendiri. Dari pernyataan Yesus tersebut sudah seharusnya murid-murid itu mengubah pernyataan mereka menjadi, “juga setan-setan tunduk kepada-Mu”. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Sebab, Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis takut dan takluk kepada Kristus yang diam dalam diri orang percaya.

Selanjutnya, Yesus mengarahkan para murid dan kita juga kepada yang bernilai kekal, bukan kegembiraan yang bersifat sementara saja. Murid-murid gembira karena keberhasilan mereka. Ini adalah semacam perasaan senang yang tidak bernilai kekal. Dalam hal ini Yesus mengatakan, “bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga" (ayat 21). Yesus menawarkan sukacita yang bernilai sorgawi atau bernilai kekal. Bukankah sesuatu pemberian yang luar biasa berharga bahwa kita satu kewargaan dengan Kritus sendiri? Kita hidup, bekerja dan melayani di dunia sebagai warga sorga. Anugerah yang luar biasa!

‘Status’ kita sebagai warga kerajaan sorga mengubah hidup kita, mengubah pemahaman kita akan pekerjaan dan pelayanan, mengubah cara kita memperlakukan dan menghadapi orang lain. Salah satu di antaranya adalah kuasa untuk “menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kita”. Ini adalah gambaran. Jangan kita coba-coba memegang kalajengking atau ular dan sejenisnya. (Ular dan kalajengking yang mau menggigit tidak pernah lebih dulu bertanya apakah seseorang itu Kristen atau bukan!). Ular dan kalajengking menggambarkan berbagai godaan licik dan bahaya-bahaya yang ditabur dan ditebarkan oleh Iblis dan orang-orang yang menyerahkan dirinya pada pekerjaan Iblis.

Hidup kita tidak lagi ditentukan oleh faktor-faktor luar, baik yang kelihatan seolah-olah baik dan menjanjikan seperti pujian, pengakuan, kesuksesan menurut ukuran dunia dan lain-lain maupun yang jelas-jelas menyesatkan seperti menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Reaksi kita juga akan berbeda. Kita tidak begitu gampang tersulut amarah, tidak cepat menghakimi, tidak memendam dendam, tidak gampang bersungut-sungut, tidak suka mengeluh. Mengapa? Kerajaan sorga tidak memiliki itu semua. Karena itu, sebagai warga sorga kita hidup dan bekerja dalam sukacita sorgawi.

Sebagai warga kerajaan sorga kita akan memasuki kehidupan kita: pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari. Mari kita resapkan dalam hati kita:

(1) Tuhan sudah lebih dulu ada di tempat di mana kita berada. Bukan kita membawa Kristus atau membawa kuasaNya. KuasaNya lebih besar dari kita. Karenanya, kita tidak pergi ‘membawa’ kuasa Yesus, tetapi kita pergi, melayani, menjadi saksi oleh kuasaNya.

(2) Kita tidak menggunakan Tuhan untuk rencana-rencana kita, meskipun kelihatan sangat ‘rohani’. Tuhanlah yang memakai kita untuk pekerjaan-Nya. Tanpa kita pun sebenarnya kerajaan dan pekerjaan-Nya dapat berjalan terus. Dengan kerendahan hati kita bersyukur karena kita diiuktsertakan dalam pekerjaan-Nya.

(3) Setiap kali Tuhan mengutus Ia selalu menyertai. Ia yang mengutus kita menjadi saksi-Nya, Ia juga yang menyertai kita.

(4) Kita harus melepaskan ketergantungan kita pada indikator atau tolok ukur keberhasilan dengan prestasi yang kita capai. Tuhan lebih melihat kasih yang mendorong tindakan kita ketimbang ‘keberhasilan’ yang kita capai.

Sunday, January 2, 2011

PENILAIAN TUHAN DAN PENILAIAN MANUSIA

RENUNGAN MINGGU PERTAMA
02-08 Januari 2010

(Baca terlebih dahulu Bilangan 12:1-6)

Banyak orang Kristen yang tidak melupakan kenyataan bahwa Musa tidak memasuki tanah Kanaan, tetapi melupakan bahwa Musa memiliki kualitas kehidupan yang teruji di hadapan Tuhan. Dalam Bilangan 12 ini kita menemukan sedikitnya tiga hal penting menyangkut kualitas kehidupan dimaksud, sekaligus menjadi perenungan bagi kita dalam menjalani kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Pertama, Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya (ayat 3). Peranan ‘hati’ memang sangat menentukan dalam setiap gerak hidup kita. Dalam Amsal 4:23 misalnya, dikatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Kita perlu mengembangkan sikap kelemah-lembutan. Hal ini sejalan dengan ‘ucapan bahagia’: 'berbahagi-alah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki Bumi’ (Matius 5) dan salah satu buah Roh sebagaimana disebutkan dalam Gal 5:22-23. Kelemah-lembutan penting sekali, karena itu dibutuhkan dalam hubungan dengan Tuhan dan se-sama manusia. Ada sebuah doa indah yang berbunyi, “Ya Tuhan jadikanlah hati kami lemah lembut supaya kami dapat menjadi kuat”. Kelemahlembutan bukanlah kelemahan. (Meekness is not a weakness). Kelemahlembutan adalah kekuatan yang mampu mengubah.

Kedua, Musa adalah hamba Allah yang setia (ayat 7). Kesetiaan kepada Allah ditandai dengan kehidupan yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, mendengar dan mengikuti kehendakNya serta mengutamakan yang Ia utamakan. Ketika kita lemah lembut dan setia kepada Tuhan, yang terpenting bagi kita adalah 'penilaian' Tuhan, bukan pujian atau celaan manusia. Manusia sering memberi penilaian sesuai dengan suasana hati dan kepentingannya. Mengembangkan kesetiaan kepada Tuhan dapat dimulai dari perkara kecil. Dalam hal ini amat penting meluangkan waktu mendengar Tuhan melalui doa dan merenungkan firmanNya. Kita tidak perlu membela diri, karena Tuhan sendiri yang membela kita.

Ketiga, Tuhan berhadap-hadapan dengan Musa berbicara, bukan melalui penglihatan atau mimpi (ayat 8). Kenyataan ini mau menegaskan bahwa pengalaman perjumpaan Musa dengan Allah sangat konkret, karenanya tidak pantas digugat.

Berdasarkan ketiga hal tersebut, sebenarnya Harun dan Miryam tidak pantas 'mengata-ngatai' Musa. Musa benar di hadapan Tuhan. Apa yang Harun dan Miryam katakan memang ada benarnya, yaitu: Tuhan tidak saja berfirman melalui Musa (ayat 2). Tuhan juga berfirman melalui mereka dan orang lain. Tuhan juga berfirman kepada kita. Tetapi, bukti bahwa kita menerima firman Tuhan adalah dengan menghargai orang lain dan tidak menganggap diri paling benar. Kita tidak gampang mempersalah-kan orang lain.

Akhirnya, Harun mengakui kesalahannya (ayat 11). Ia tidak berkeras dalam kesalahannya. Kita juga perlu senantiasa terbuka memeriksa diri dan mengakui kesalahan kepada Tuhan dan sesama. Ada kalanya kita jatuh mulai dari kesalahan-kesalahan yang nampaknya kecil seperti ‘mengata-ngatai orang’. Seolah orang lain itu salah, padahal justru kesalahan ada dalam diri kita sendiri. Kalau kita melihat langit mendung, kita perlu memastikan apakah kita tidak memakai kaca mata hitam. Sebab, bisa saja langit terlihat mendung, bukan karena mau hujan tetapi karena kita belum membuka sunglasses kita.

Kita kembali melihat kelemahlembutan Musa. Ia memohon agar Tuhan menyembuhkan penyakit kusta Miryam. Meskipun Miryam bersalah terhadap Musa, tetapi Musa mengasihinya. Musa tidak mengatakan, “syukurlah kau mendapat penyakit itu. Tahankanlah, biar tahu rasa kau!” Musa menghendaki kesembuhan Miryam. Barangkali inilah salah satu yang sangat sulit dalam kehidupan kita. Kita bisa saja tergoda untuk bergembira kalau yang membenci kita menderita atau mendapat celaka Tetapi firman Tuhan ini mengingatkan kita agar kita tetap mengasihi orang lain, meskipun mereka berbuat yang tidak kita sukai. Hidup ini pun akan lebih indah, damai dan bahagia.



Ulangan 12:1-6

12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.


12:2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.

12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.

12:4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.

12:5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.

12:6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.



Tuesday, December 28, 2010

NASI GOSONG DAN KEMESRAAN

REFLEKSI SENIN KE-52
27  Desember 2010

Untuk Senin ke-52, Senin terakhir di 2010 ini, saya ingin membagikan sebuan cerita yang saya terima baru-baru ini. Konteksnya memang Barat, tapi terbilang sarat makna yang dapat menginspirasi seluruh lapisan masyarakat.
Ketika saya masih kecil, ibu saya suka membuat makanan yang layaknya sarapan untuk makan malam. Saya ingat pada suatu malam ketika dia membuat makan malam setelah hari yang melelahkan bagi ayah. Ibu saya menyajikan telur, sosis dan roti gosong di depan ayahku. Saya menunggu untuk melihat apakah yang bakal terjadi. Namun ayah saya meraih roti gosongnya, tersenyum pada ibu saya dan menanyakan bagaimana keadaan saya di sekolah hari itu. Saya tidak ingat apa yang saya katakan malam itu. Yang saya ingat adalah bagaimana ayah saya mengolesi roti gosong itu dengan selai dan tampak menikmatinya.
Ketika saya bangkit dari meja malam itu, saya ingat bahwa ibu saya meminta maaf kepada ayah atas gosongnya roti itu. Dan saya tidak akan pernah melupakan apa yang ayah katakan: "Sayang, saya menyukai roti gosong."
Sebelum tidur malam itu, ketika saya pergi mencium ayah, saya bertanya apakah dia benar-benar menyukai roti gosong. Dia mendekap saya dalam pelukannya dan berkata, "Ibumu melakukan banyak pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari ini. Lagi pula, sepotong roti gosong tidak dapat menyakiti siapa pun. Kau tahu, anakku, hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang tidak sempurna. Ayah juga bukan pemasak yang sempurna”.
Penulis cerita ini memaknai cerita tersebut sebagai berikut.

Apa yang saya pelajari selama bertahun-tahun adalah bahwa belajar menerima kesalahan-kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan masing-masing adalah kunci terpenting untuk menciptakan hubungan yang sehat, bertumbuh, dan bertahan lama.
Dan itu jugalah doa saya untuk Anda hari ini. Bahwa Anda akan belajar untuk mengambil yang baik, yang buruk, dan bagian-bagian jelek dari kehidupan Anda dan meletakkannya di kaki Tuhan. Karena pada akhirnya, hanya Dialah satu-satunya yang dapat memberikan suatu hubungan di mana roti bakar tidak mampu menjadi perusak suasana.
Dengan berakhirnya tahun 2010 ini, berbagai hal bertambah dalam hidup kita. Pilihan kitalah yang menentukan apa yang kita bawa memasuki dan menjalani 2011 dengan konsekuensinya masing-masing. Kesalahan orang kepada kita pada 2010 ini kemungkinan besar( bahkan pasti) ada. Menjalani 2011 pun kita masih akan menghadapi ‘nasi gosong’ dengan berbagai bentuknya. Tugas kita ada tiga. (1) Menikmati yang ada, sejauh tidak membahayakan tubuh, roh dan jiwa demi terciptanya hubungan yang sehat, bertumbuh dan bertahan lama. (2) Melupakan masalah-masalah sepele demi yang terutama. Nasi gosong adalah masalah sepele. Istri jauh lebih berharga ketimbang sesuap nasi gosong. Manusia jauh lebih berharga ketimbang benda apa pun. Lagi pula, marah-marah karena nasi gosong membuat nasi semakin terasa lebih gosong dan sakit tenggorokan. (3) Sedapat-dapatnya, ketika kita menjalankan tugas atau pekerjaan, kita melakukannya sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Sebab dengan demikian kita mengurangi celah di mana Iblis merusak suasana dan merusak hubungan baik.



Sunday, December 19, 2010

KEMBALI KE MAKNA AWAL NATAL

REFLEKSI SENIN KE-51
20 Desember 2010

Domba-domba lebih memahami peristiwa Natal pertama ketimbang para imam di Yerusalem. Hal yang sama juga terjadi sekarang.
(Thomas Merton)



DI MANA KITA BERADA?

Perayaan natal di Indonesia barangkali memiliki kekhususan dibandingkan dengan yang terjadi di seantero dunia ini. Misalnya, natal sudah dirayakan sejak awal bulan Desember yang sebenarnya masih masa minggu-minggu Advent. Bagi orang Kristen Batak, mungkin banyak di antara mereka yang mengikuti ibadah natal lebih dari sepuluh kali mulai natal kumpulan marga, kantor atau lingkungan kerja, lingkungan domisili, dan di gereja mulai natal anak-anak sekolah Minggu sampai perayaan natal tanggal 26 Desember. Karena banyaknya, bahkan ada yang merayakannya pagi atau siang hari. Di sini nyanyian ‘malam kudus’ atau dalam bahasa Batak Sonang ni bornginna i juga dinyanyikan sambil mematikan lampu dan menyalakan lilin tetapi tetap terang benderang karena di siang bolong.

Di samping itu, tidak rahasia lagi bahwa bagi sebagian orang perayaan natal tidak bisa dipisahkan dengan menu istimewa. Itu sebabnya ada yang meplesetkannya dalam bahasa Batak, yang inti dalam natal adalah sukacita karena tubu Tuhanta (kelahiran Tuhan) menjadi tu butuhanta (urusan perut). Bagi sebagian orang, Natal tidak lengkap tanpa binda (potong-memotong ternak secara bersama).

Kenyataan-kenyataan demikian dapat mengakibatkan perayaan natal hanya menyisakan sedikitnya empat hal yang tidak perlu, yakni:

(1) Sampah, baik sisa dan bungkus makanan maupun bahan dekorasi. Sisa-sisa ini menambah pekerjaan petugas kebersihan kota dan (terutama) menambah kehancuran alam semesta.

(2) Penyakit. Sebab, sejak masa latihan dan perayaan yang begitu banyak diikuti bisa membuat tubuh menjadi lelah, masuk angin (apalagi karena Desember umumnya musim hujan), dan kelebihan kolestrol. Belum lagi, bagi sebagian ibu-ibu yang karena lama menunggu di salon terpaksa malam harinya tidur telungkup supaya riasan rambutnya tidak rusak dan bisa dipakai untuk perayaan natal yang lain besok harinya. Maklumlah, di samping agak mahal biayanya juga terlalu lama menunggu di salon. Kalau tiga malam telungkup, apa tidak menyebabkan penyakit? Ada pula kaum perempuan yang mengubah rambutnya. Yang keriting diluruskan alias direbonding (untuk itu butuh lima jam). Yang rambutnya lurus dikeritingkan. Yang ubanan dicat atau disemir hitam. Yang hitam diubah menjadi warna abu-abu atau merah jambu bahkan ada juga yang berbelang-belang. Agak repot memang.

(3) Hutang. Baik hutang Panitia yang mungkin tidak berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan, maupun hutang keluarga-keluarga karena pengeluarannya yang membengkak. Saya mengamati bahwa Dinas Pegadaian di beberapa tempat lebih ramai dikunjungi orang pada bulan Desember. Banyak orang menggadaikan barang-barangnya untuk biaya yang berkaitan dengan perayaan natal. Sebenarnya tidak ada hubungan perayaan natal dengan kursi atau gordin jendela baru. Tetapi bagi sebagian orang, saat natal merupakan waktu untuk membeli semua itu. Tidak salah memang, asal jangan sampai orang Kristen kehilangan sukacita dan damai pada saat perayaan ini, hanya karena faktor-faktor lahiriah.

(4) Perselisihan. Mengapa? Orang yang lelah biasanya gampang tersinggung dan marah. Perselisihan bisa terjadi di dalam tubuh kepanitiaan Natal, di tengah keluarga dan lain-lain. Amat menyedihkan jika hal-hal inilah yang tersisa, sehingga inti natal sebagai’ sukacita dan damai sejahtera’ menjadi sirna.

Agar perayaan natal yang kita lakukan sungguh-sungguh menjadi kemuliaan Tuhan dan sukacita serta damai sejahtera bagi kita, kita perlu berpaling sejenak pada sejarah natal, bagaimana perayaan gerejawi seharusnya dilakukan, dan bagaimana merayakan natal yang bermakna.

SEJARAH PERAYAAN NATAL

Di sini perlu dilihat tradisi Timur dan tradisi Barat yang dalam kedua tradisi ini perayaan natal pada kedua tradisi ini dilaksanakan pada waktu yang sama dengan perayaan kafir pada zamannya. Juga, ada perbedaan penekanan inti atau tema perayaan sebagai berikut.

1. Tradisi Timur

Perayaan natal pertama dirayakan di Mesir (abad ke-3) dan menyusul di Galilea (tahun 360). Keduanya merayakannya pada tanggal 6 Januari. Ketika itu, pada tanggal yang sama masyarakat sekitar merayakan hari lahir Aion, dewa Yunani yang mewakili ‘waktu yang kekal’. Penekanan makna natal ketika itu ialah “kelahiran yang kekal dari Logos (Firman yang menjadi manusia).

Kemudian, menyusul lagi dirayakan di Konstantinopel (379), Antiokia (386), Mesir (430) dan Yerusalem (abad ke-6 atau ke-7). Penekanan perayaan natal pada waktu itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba.

2. Tradisi Barat

Di Barat, Natal pertama sekali dirayakan di Roma (akhir abad ke-4), yang dirayakan pada 25 Desember. Pada waktu yang sama juga ada perayaan non-kristen yaitu Pesta Sol Invictus, perayaan kelahiran ‘Dewa matahari yang tdk terkalah-kan’. Penekanan perayaan Natal ketika itu ialah Kelahiran historis Yesus dalam kandang domba.

Satu hal yang dapat kita garisbawahi dalam hal ini ialah persamaan waktu perayaan natal dengan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Orang-orang Kristen mau menyaksikan bahwa seorang Raja dan Tuhan yang melampaui semua raja dan tuan sudah lahir.

MAKNA AWAL PERAYAAN NATAL

Pada awalnya, perayaan natal dirayakan sedikitnya berkaitan dengan tiga hal penting sebagai berikut.

(1) Sarana Kesaksian

Seperti sudah disinggung, pada mulanya perayaan natal berlangsung bersamaan waktunya dengan perayaan kafir. Dengan demikian perayaan natal berperan sebagai sarana kesaksian kepada dunia tentang kebenaran sejarah kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini, sekaligus mengajak kafir dalam persekutuan Kristen. Sebab, Yesus yang lahir itu adalah Juruselamat dunia.

(2) Peristiwa Liturgis

Perayaan natal tersebut menekankan peranan ibadah dan penghayatan pentingnya kedatangan Tuhan. Hal ini mengacu pada suasana seperti dalam Injil Lukas: (1) dunia dengan egoismenya; (2) Kesederhanaan kandang domba; (3) Gerak hidup yang dipimpin oleh terang cahaya bintang, yang menekankan pimpinan Tuhan dalam kehidupan.

(3) Sarana Penggembalaan

Perayaan natal dimaksudkan agar warga jemaat tidak campur atau terlibat dalam perayaan yang dilaksanakan oleh orang-orang kafir. Orang Kristen merayakan suatu peristiwa yang jauh lebih besar dari perayaan-perayaan kafir itu di gereja.

PERAYAAN NATAL YANG BERMAKNA

Menurut Konfesi Augsburg (pengakuan Iman Lutheran), pasal XV, perayaan gerejawi yang dapat dipelihara adalah:

• Yang dapat dilaksanakan tanpa berdosa
• Yang menciptakan damai dan ketertiban dalam gereja
• Bukan alat demi keselamatan
• Bukan mengambil hati Allah untuk memperoleh anugerah

Bertolak dari makna natal sebagaimana dalam awal sejarahnya dan makna perayaan gerejawi (termasuk perayaan natal) sebagaimana disebut dalam Konfesi Augsburg tadi, berikut ini ada beberapa hal yang menurut hemat saya perlu sungguh-sungguh mendapat perhatian kita, yakni:

1. Hendaknyalah perayaan natal dilakukan sejak 24 Desember dan bisa dilanjutkan hingga minggu pertama Januari. Jika perayaan dilakukan sebelum natal, alangkah baiknya kalau yang dirayakan adalah ‘perayaan penyambutan natal’ atau perayaan ‘Advent’.

2. Yang menjadi penekanan adalah ibadah, perenunungan, kesederhanaan dan aksi konkret, tidak terutama kemeriahan fisik dan ‘pesta makan’. Secara khusus jemaat-jemaat yang memiliki uang banyak, perayaan natal inilah kesempatan membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan. Pengeluaran perayaan natal ribuan dollar atau jutaan rupiah hanya untuk diri sendiri (makan, hadiah, dekorasi dsb) sudah menyimpang dari hakekat perayaan natal. Kita perlu mendidik anak-anak untuk ‘memberi’ pada masa natal, bukan malah menerima hadiah-hadiah.

3. Acara perayaan hendaknya disusun sedemikian rupa, bukan menjadi ajang pamer diri tetapi mengajak semua peserta ibadah merenungkaan makna natal. Tidak terlalu panjang atau bertele-tele, sehingga tidak ada lagi perhatian yang tersisa untuk mendengarkan kotbah atau pemberitaan firman.

4. Kelahiran Yesus adalah dalam rangka ‘Imanuel’ (Allah beserta kita) dan demi damai sejahtera. Karenanya, perayaan natal kiranya menolong kita semua menghayati kasihNya yang begitu besar dan kita sungguh-sungguh memiliki ‘damai sejahtera’ jauh dari ketegangan apalagi perselisihan pada masa-masa perayaan Natal.



Sunday, December 12, 2010

MACET TANPA GELISAH DAN GUNDAH


REFLEKSI SENIN KE-50
13 Desember 2010

Yang menanti gelisah, sementara yang dalam perjalanan merasa susah dan gundah. Itulah biasanya yang terjadi di saat kemacetan lalu lintas. Itulah yang tergambar dari wajah dan terdengar dalam percakapan melalui telpon teman-teman seperjalanan saya Sabtu lalu dari Siantar menuju Medan dengan taksi. Ada yang harus terbang ke Jakarta. Ada yang harus mengikuti pertemuan. Tapi, apa daya kemacetan lalu lintas membuat perjalanan hamapir empat jam. Padahal, perjalanan Siantar-Medan biasanya dapat ditempuh dua setengah jam dengan mobil pribadi atau taksi. Berbeda dengan dua tiga terakhir ini yang terkadang ditempuh tiga setengah sampai empat jam pada jam tertentu. Pasalnya, ada perbaikan jalan. Bukan jembatan. Yang diperbaiki sebenarnya kurang dari seratus meter. Tetapi entahlah, waktu pengerjaannya begitu lama.

Kemacetan lalu lintas tidak saja terjadi antara Siantar-Medan. Bagi penduduk kota-kota di Indonesia, ‘macet’ di jalanan sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Jakarta, misalnya, sudah puluhan tahun masalah ini tidak bisa diatasi. Jalan tol pun macet. Begitu juga kota Medan, yang jalan-jalan utamanya sudah hampir seperti kondisi Jakarta. Bahkan, kota kecil seperti Siantar pun, yang lima tahun lalu masih sangat lancar di dua jalan utama (Jln Sutomo dan Jln Merdeka), belakangan ini sudah sangat padat. Hal yang sama terjadi di jalan-jalan antar kota.

Dari pengamatan sementara sedikitnya ada tujuh faktor penyebab macetnya lalu lintas di Indonesia:

Pertama, pertambahan atau perluasan jalan yang tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan. Mobil dan sepeda motor bertambah tiap hari, sementara ruas jalan relatif sama dari tahun ke tahun.

Kedua, angkutan kota (angkot) yang di satu segi terlalu banyak dan di segi lain perilaku para pengemudinya yang hampir semuanya tidak peduli pada pengendara lain. Para supir harus mengejar setoran. Kota Bogor, Medan, Siantar dipenuhi oleh angkutan kota.

Ketiga, perilaku para pengguna jalan yang hanya mementingkan diri sendiri dan sangat sering melanggar ketentuan berlalu-lintas yang semakin memperparah kemacetan.

Keempat, perjalanan yang tidak perlu. Mereka-mereka yang baru membeli mobil atau sepeda motor sering melakukan perjalanan yang tidak terlalu perlu tetapi hanya karena ingin mengendarai mobil atau sepeda motornya yang baru dibeli.

Kelima, penggunaan ruas jalan tertentu menjadi tempat pesta atau karena kemalangan. Anehnya (lebih tepat: sedihnya) ada yang sudah menutup jalan jauh sebelum hajatan berlangsung dan lama pula sesudahnya jalan baru dibuka kembali.

Keenam, pengaturan dan pengawasan polisi laluntas yang tidak maksimal.

Ketujuh, kurangnya perawatan jalan dan kurang cepatnya perbaikan jalan yang rusak. Jalan yang berlobang sering dibiarkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Padahal, jika diperbaiki lebih cepat, pengerjaannya lebih mudah dan biayanya lebih murah.

Ketujuh penyebab utama ini menunjukkan bahwa banyak pihak yang terlibat langsung menciptakan kemacetan lalu lintas. Mungkin Anda sendiri termasuk dalam salah satu atau lebih dari penyebab tersebut. Ketika setiap orang memperhatikan tanggung jawabnya, kemacetan dapat diatasi.

Ada tiga kerugian terbesar dalam kemacetan lalu lintas adalah kebocoran enerji, penumpahan emisi, dan pengeruh emosi.

Bahan bakar jauh lebih boros ketika kendaraan melambat. Bahan bakar yang habis dalam satu jam berada kemacetan yang hanya dapat menempuh satu atau dua kilometer sudah bisa digunakan menempuh enampuluh kilometer atau lebih. Dengan kata lain, kemacetan lalu lintas memperparah krisis enerji atau bahan bakar.

Akibat pemborosan bahan bakar ini adalah penambahan polusi dan emisi. Udara menjadi tercemar oleh asap kenderaan yang mengganggu kesehatan dan termasuk ikut menyumbang terhadap terjadinya pemanasan global.

Secara emosional, ada orang yang tidak bijaksana menghadapi kemacetan: mulai dari yang merasa gundah, jengkel, mengutuki, berang dan sebagainya. Padahal, reaksi-reaksi demikian biasanya tidak menolong. Malahan, reaksi negatif akan menimbulkan persoalan baru. Dapat kita bayangkan kalau seorang pengemudi mobil melampiaskan amarahnya dengan menabrak pengendara sepeda motor yang menyalip. Manusia menjadi korban, kendaraan hancur, dan jalan semakin macet.

Sambil semua pihak bergerak menjalankan tanggung jawabnya mengatasi kemacetan, ketika kita sedang mengalaminya, kita tidak perlu gundah, berang atau mengutuki. Pikiran dapat dialirkan kepada hal-hal yang baik. Membaca, merencanakan dan berdoa dalam kemacetan bukan sesuatu yang terlalu suci untuk dilakukan. Apalagi, jalan ke hati, ke buku dan ke sorga tidak macet.

Sunday, December 5, 2010

KRISTEN-MUSLIM

REFLEKSI SENIN KE-49
06 Desember 2010

Saya sangat gembira ketika menerima undangan Bapak Suyanto dan Ibu Suana untuk menghadiri acara pernikahan anaknya, Bambang Prasetya. Rasa gembira ini saya wujudkan dengan menghadirinya kemarin, 05 Desember 2010, bersama istri dan kedua anak saya. Kami dapat melihat dan mengalami bagaimana rasa sukacita Bapak Suyanto dan Ibu Suana menyambut kami. Sambil menikmati hidangan yang lezat kami sempat berbincang-bincang di sela-sela kesibukan mereka menyambut para tamu.

Kami mengenal keluarga ini delapan tahun lalu. Sejak itu kami bersahabat dan beberapa kali saling mengunjungi. Beliau tahu bahwa saya seorang Kristen dan seorang pendeta. Saya juga mengetahui beliau seorang muslim. Sejujurnya, saya tidak pernah dan tidak akan pernah mempengaruhi keluarga ini untuk menjadi Kristen. Tentu, saya tidak keberatan malah senang, jika beliau menjadi Kristen atas pilihan sendiri. Saya juga yakin, beliau tidak ada niat mempengaruhi saya untuk menjadi muslim.

Persahabatan kami terbanagun karena kami (1) Mengakui dan menghargai perbedaan agama. (2) Tidak ada agenda terselubung untuk mempengaruhi satu sama lain khususnya untuk menarik ke agama sendiri. (3) Menekankan bahwa kami adalah “sesama manusia”: yang sama-sama berharkat, sama-sama mempunyai tugas panggilan untuk membanagun persahabatan, sama-sama merindukan kedamaian, mempunyai tanggung jawab saling menolong. Jadi, ketika kami bersalaman, yang bertemu bukan terutama tangan Kristen dan tangan Muslim, tetapi tangan sesama manusia; sesama manusia yang adalah sama-sama ciptaan Allah yang sama.

Atas dasar itu pulalah persahabatan saya terbangun dengan beberapa penganut agama Islam lainnya, seperti Keluarga Pak Sardoyo dan Ibu Iyah di Yogyakarta, Keluarga Pak Sanimin di Medan, Keluarga Pak Suryono di Pematangsiantar dan lain-lain. Persahabatan sebagai ‘sesama manusia’ tanpa dipisahkan oleh perbedaan.

Sebagai seorang Kristen dan pendeta, hubungan seperti ini bukanlah mengingkari tugas panggilan saya di bidang missi Kristen. Sebab, tugas panggilan Kristen bukan ‘mengkristenkan’ orang lain, melainkan terutama untuk ‘mengasihi’ sesama manusia. Memberitakan Injil, bukan terutama melalui kata-kata, apalagi hanya menjelaskan isi Alkitab, melainkan melalui perbuatan dan tingkah laku yang mengalir dari kasih Kristus. Tugas seorang Kristen bukan pula menetapkan seseorang masuk sorga atau tidak. Itu adalah sepenuhnya hak Tuhan Yesus. Memang, menjadi tugas panggilan Kristen juga untuk menyambut penganut agama lain menjadi Kristen, jika itu pilihan sadar mereka. Yang jelas, tidak ada unsur pemaksaan dan tanpa iming-iming duniawi.

Kehadiran sahabat-sahabat muslim ini, tidak menggantikan sahabat-sahabat yang Kristen, melainkan 'perluasan'. Perluasan yang melintas tembok sempit ras, etnis, agama, dan sebagainya.Ungkapan 'seribu sahabat terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak' benar adanya. Memang menyedihkan karena terkadang persahabatan dengan penganut agama lain justru lebih baik ketimbang sesama Kristen. Hanya saja, jika kita sudah berbuat sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya, tapi ada saja orang yang memusihi kita, dari kita tidak akan dituntut apa-apa.

Rindu melihat dunia yang lebih damai dan toleransi umat beragama tidak hanya tertulis dalam dokumen dan bergema dalam ruang seminar, tetapi terbukti tumbuh mekar di seantero bumi.



Sunday, November 28, 2010

T E M P A T

REFLEKSI SENIN KE-48
29 Nopember 2010

Seorang sahabat menuturkan betapa indahnya pengalamannya dua puluh tahun lalu semasih kuliah. Ia mengaku kampusnya begitu indah, teman-temannya sangat baik, dosen-dosennya berkualitas. Padahal, dulu ketika ia menjalani perkuliahannya, kampus itu dirasa bagai penjara yang kalau bisa sesegera mungkin ditinggalkan dan memulai suatu suasana kehidupan yang baru.

Agaknya sahabat saya ini tidak sendirian. Mungkin setiap orang pernah merasa jenuh bahkan membenci suatu tempat atau keadaan dan berusaha keluar dari tempat tersebut tetapi justru berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih tidak mengenakkan. Sering kali suatu keadaan yang kita bayangkan jauh lebih indah pada saat diidam-idamkan dibandingkan dengan ketika mencapai atau menemukannya.

Yang jelas, setiap tempat dan keadaan yang tidak kita sukai adalah penjara bagi kita. Ada dua cara utama untuk keluar dari penjara seperti itu. Pertama, keluar secara fisik. Tanggalkan dan tinggalkan! Langkah ini dapat diambil jika masalahnya terutama pada orang sekitar atau lingkungan itu sendiri. Langkah ini memang tidak selalu mudah, tetapi butuh keberanian dan usaha gigih. Misalkan Anda menyewa rumah atau kost di lingkungan yang terpolusi s atau tempat-tempat mangkalnya para pemabuk, penjudi, pencuri. Memang yang paling ideal adalah kalau kita tidak terkontaminasi oleh lingkungan sekaligus bisa mengubah keadaan. Tetapi, jika keadaan tidak berubah bahkan kita cenderung terkontaminasi oleh lingkungan maka lebih baik meninggalkannya. Rasul Paulus pernah menegaskan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Jika ini yang terjadi, maka keadaan masa lalu bukanlah sesuatu yang kita rinddukan.

Kedua, mengubah sikap dan cara pandang kita terhadap tempat dan keadaan itu. Langkah ini dapat ditempuh terutama jika masalahnya terutama ada dalam diri kita. Mungkin harapan, gengsi, standard kita terlalu tinggi, kita kurang kesabaran dan toleransi dan sebagainya. Maka, mengubah sikap dan cara pandang kita menjadi sebuah keharusan. Orang yang benar-benar meringkuk dalam penjara pun dapat mempunyai sikap yang berbeda satu sama lain. “Dua orang meringkuk dalam penjara yang sama melihat ke luar dari jendela kecil. Yang satu melihat ke lumpur di jalanan, yang lainnya melihat indahnya bintang-bintang di langit”. Jadi, kalau orang yang meringkuk dalam penjara sungguhan pun dapat memaknai keadaan dan pengalamannya, apalagi kita yang bebas melakukan pilihan-pilihan baik kita.

Bercermin pada yang kedua ini, maka kita tidak akan buru-buru angkat kaki meninggalkan pekerjaan, pindah rumah, memisahkan diri dari suatu persekutuan, seperti membuka gereja baru, kelompok baru dan sebagainya. Sebab, dengan menempuh langkah ini mungkin saja kita sedang menciptakan penjara bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Menguji dan mengkaji segala sesuatu dengan hikmat merupakan bagian integral dari iman.

Sunday, November 21, 2010

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

REFLEKSI SENIN KE-47
22 Nopember 2010

Saya pernah menerima yang berikut melalui email, yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Seorang laki-laki akan membayar Rp. 20.000 –yang biasanya hanya seharga Rp. 10.000 (sungkan menawar, ‘gengsi dong!”)-- suatu barang yang dia butuhkan.
Seorang perempuan akan membayar Rp. 10.000 –yang biasanya seharga Rp. 20.000 (mungkin sangat pintar menawar)—suatu barang yang tidak dibutuhkannya.

Seorang perempuan cemas akan masa depan hingga ia menemukan seorang suami.
Seorang laki-laki tidak pernah cemas akan masa depan; ia cemas ketika ia sudah mendapat seorang istri.

Seorang laki-laki sukses adalah yang menghasilkan uang lebih dari yang dapat dibelanjakan isterinya.
Seorang perempuan sukses adalah yang berhasil mendapatkan laki-laki seperti itu.

Untuk dapat hidup bahagia dengan seorang laki-laki: mengerti dia banyak dan cintai dia sedikit.
Untuk dapat hidup bahagia dengan seorang perempuan: Anda harus mencintainya lebih banyak dan mengerti lebih sedikit.

Setiap laki-laki yang menikah harus melupakan kesalahan-kesalahannya; tidak perlu dua orang meningat hal yang sama (artinya: istri akan tetap mengingatnya dengan baik!)

Seorang perempuan menikah dengan seorang laki-laki dengan harapan si laki-laki akan berubah, tetapi ternyata tidak berubah.
Seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan dengan harapan si perempuan tidak berubah, tetapy si perempuan justru berubah.

Daftar ini bisa lebih panjang lagi. Tapi, tidak bijaksana melakukan stereotyping. Malah bisa menimbulkan masalah. Apalagi, selama ini perempuan seringkali diperlakukan secara tidak adil dalam banyak hal. Bahkan, ada pula yang menyelewengkan ayat-ayat Alkitab untuk menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Misalnya dengan mengatakan bahwa (1) Perempuan diciptakan sesudah laki-laki (2) Perempuan diciptakan sebagai penolong laki-laki (3) Perempuanlah yang menggoda laki-laki sehingga jatuh ke dalam dosa, dan seterusnya. Padahal, kalau mau memperbandingkan dari urutan penciptaan, justru ‘kualitas’ perempuanlah lebih baik. Sebab, laki-laki diciptakan dari debu tanah sementara perempuan dari tulang manusia.

Bagi orang Kristen, keberadaan dan hubungan laki-laki dan perempuan mesti dilihat dari persamaan dan perbedaannya sebagaimana Tuhan menghendakinya. Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama ciptaan Allah. Hal ini juga mau menegaskan bahwa keberadaan laki-laki dan perempuan harus dilihat dari segi ‘kepemilikan’ Allah atas laki-laki dan perempuan. Perempuan dan laki-laki memang berbeda tetapi keduanya adalah sederajat (Kejadian 1:26-27). Kodrat perempuan (yang sampai hari ini belum berubah) mengandung, melahirkan dan menyusui anak, tidak dapat digunakan sebagai pembenaran menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Di samping itu, perempuan dan laki-laki adalah sama-sama Imago Dei ‘gambar Allah’. Tidak ada dikatakan di dalam Alkitab bahwa laki-laki adalah Imago Dei dan perempuan adalah Imago Satanas (gambar setan). Sebagai sesama gambar Allah, laki-laki dan perempuan mewarisi sifat-sifat Allah yang mampu mengasihi, berbuat baik, bertanggung jawab dan sebagainya. Yang perlu sekarang adalah pemberlakuannya dalam hidup keseharian.

Sunday, November 14, 2010

BERBEDA, BOLEH?

REFLEKSI SENIN KE-46
15 Nopember 2010

Mobil suami-sitri Bapak dan Ibu Sipahutar terhenti sejenak. Seekor ular berwarna-warni melintas di tengah jalan pada malam itu. Sambil menyaksikan ular itu melintas Pak Sipahutar berkata kagum “Wah, cantik sekali”. Sedangkan ibu Sipahutar berkata, “Ah, menjijikkan dan mengerikan”. Dua kesan yang sangat berbeda terhadap suatu objek. Tetapi, mereka tetap menikmati perjalanan dan hidup damai meski berbeda. Si ular juga hidup dengan damai dalam dunianya.

Dua pendapat di atas sebenarnya berpotensi menjadi perdebatan sengit hingga pertengkaran Bapak dan Ibu Sipahutar. Bayangkan jika Ibu Sipahutar mulai mengembangkannya ke topik percakapan lain dengan mengatakan, “Papa kejam sekali, masakan papa bilang ular yang menjijikkan dan menyeramkan itu ‘cantik’, padahal kita sudah menikah 30 tahun satu kali pun papa tidak pernah bilang mama ini cantik”. Apalagi kalau Pak Sipahutar berkata begini, “Lha, mama baru tahu bahwa ular lebih cantik dari mama? Ini seius ma!” Kalau Ibu Sipahutar semakin tak terkendali, bisa-bisa ia berkata, “turunkan saya di sini, nikah sama ular aja kamu!” Pak Sipahutar dan Ibu Sipahutar bisa bertengkar dan ular sudah tenang dalam belukar.

Perbedaan pendapat akan selalu ada. Tetapi perbedaan tidak harus berujung pada pertengkaran. Hal ini bisa terjadi jika setiap orang yang memiliki sebuah pendapat berusaha sebaik-baiknya dan sejernih-jernihnya memahami sudut pandang orang lain. Misalnya, mengapa Pak Sipahutar mengatakan ular itu cantik dan mengapa Ibu Sipahutar mengatakannya menjijikkan dan mengerikan. Dengan mengetahui alasan di balik pernyataan sesama, seseorang paling tidak dapat memahami, meskipun tidak harus menerima atau sependapat dengan mitra bicaranyha.

Di samping itu, perbedaan pendapat harus disikapi dengan argumentasi bukan dengan emosi negatif, apalagi mengaitkannya dengan masalah lain yang tidak relevan. Misalnya, dalam kasus di atas, pernyataan suami bahwa ‘ular itu cantik’ dan tidak pernah mengatakan istrinya cantik itu sama sekali tidak bisa disamakan bahwa suami melihat ular lebih cantik dari istrinya. Persoalan muncul ketika si istri menafsirkan bahkan menyimpulkannya seperti itu. Jadi, perlu menanggapi suatu pendapat atau kesan berdasarkan sudut pandang yang memberi pendapat atau kesan bukan berdasarkan rekaan atau penilaian yang mendengarkannya saja.

Yang paling penting dari semua itu, hubungan antar pribadi sangat menentukan kualitas percakapan. Jika ada saling menerima dan saling mengasihi, percakapan akan mengalir dengan baik. Sebaliknya, kalau hubungan antar pribadi kurang harmonis, kata-kata yang baik pun bisa ditanggapi secara negatif. Maka terapi hubungan diperlukan setiap saat. Hubungan baik itulah yang membuat Bapak dan Ibu Sipahutar menikmati perjalanan dan hidup damai meskipun ada perbedaan pendapat mereka.

Sunday, November 7, 2010

ANTI BOCOR

REFLEKSI SENIN KE-45
08 Nopember 2010

Sudah hampir sebulan pipa air bocor di pinggir jalan. Terjadi pemborosan. Jalan juga menjadi rusak. Satu hal yang pasti: pipa air ini tidak mungkin pulih tanpa diperbaiki. Demikian juga kebocoran yang lain. Di sini dapat disebutkan tiga bidang kebocoran yang perlu disumbat.

Satu, bocor kata-kata (dalam Amsal 20:19 disebut dengan “bocor mulut”). Tidak sulit menemukan orang yang terlalu boros kata-kata yang biasanya banyak di antaranya yang tidak berguna atau bahkan merusak. Langkah terbaik mengontrol kran kata-kata ini adalah si pemilik kran itu sendiri. Hal ini termasuk orang-orang yang didaulat memberi kata sambutan, supaya benar-benar hanya 'menyambut' tidak malah berpidato atau berceramah. Demikian juga kepada mereka yang berdoa dalam ibadah Minggu yang lumayan banyak sangat bertele-tele, seolah-olah Tuhan baru mengetahui sesuatu yang terjadi di bumi ini setelah si pendoa memberitahukannya. Tidak baik kalau sampai orang lain menyumbat mulut seseorang dalam rangka menghemat kata-kata atau melakukan interupsi saat berdoa. (Dua kali Minggu berturut-turut saya mengikuti ibadah di sebuah gereja, doa syafatnya hampir sama dengan lama kotbah!)

Dua, bocor pikiran. Lai Chiu Nan pernah mengatakan bahwa pikiran adalah salah satu tempat terbesar bocornya enerji. Pikiran memang harus 'dipakai', tapi menjadi masalah kalau terlalu banyak apalagi saling tabrak dalam benak. Dalam hal ini Rasul Paulus menasihatkan, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3).

Tiga, kebocoran juga sering terjadi dalam bidang anggaran atau keuangan. Beberapa waktu lalu istri saya membeli mesin cuci pesanan mertuanya. Ketika istri saya meminta kwitansi, si penjual bertanya, “kwitansinya ditulis berapa, Bu?” Suatu pertanyaan yang aneh. Rupanya, sudah hal yang biasa para pembeli barang meminta kwitansi pembelian di atas harga yang sebenarnya. Hal ini terjadi dalam pembelian barang-barang untuk kantor pemerintah maupun swasta (dan celakanya dalam lingkungan agama juga). Bagaimana cara menutupi kebocoran seperti ini? Pertama dan terutama adalah integritas pribadi-pribadi yang terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan. Kemudian, perlu pengawasan yang lebih ketat dari semua pihak yang terkait. Misalnya, untuk pengadaan barang-barang atau pembangunan yang dilakukan sebuah lembaga dibutuhkan transparansi dengan melakukan perbandingan harga, tim pengadaan bahan, dan pengawasan yang baik.

Saat ini, lubang-lubang kebocoran bertebaran di mana-mana, bahkan ada kalanya lubang kebocoran lebih besar dari aliran utama. Ada kalanya “pipa” lama yang perlu disumbat kebocorannya. Tapi, mungkin juga justru “pipa” baru yang dibutuhkan khususnsya jika lubang kebocoran sudah terlalu banyak atau terlalu lebar.

Sunday, October 31, 2010

K E T U A

REFLEKSI SENIN KE-44
1 Nopember 2010

Seorang anak kelas dua SD dengan amat ceria berlari menghampiri ibunya sepulang sekolah. “Mama, aku tinggal kelas, tapi ibu guruku bilang nanti aku jadi ketua kelas.” Nampaknya, baginya ketua kelas di kelas dua lebih baik dan lebih menggembirakan ketimbang naik ke kelas tiga yang belum tentu jadi ketua kelas. Berbeda dengan ibunya yang tidak terlalu peduli apakah dia menjadi ketua kelas atau tidak. Yang penting anaknya naik kelas. Lagi pula, menjadi ketua kelas belumlah suatu posisi bergengsi, apalagi tidak akan ada tunjangan atau diskon uang sekolah.

Agaknya, di luar sekolah dasar dan kelompok usia yang jauh lebih senior dari murid SD hal serupa sering terjadi. Menjadi ketua atau pemimpin suatu kelompok atau organisasi diminati begitu banyak orang. Tentu, suatu hal yang baik kalau masih ada yang bersedia menjadi pemimpin. Jika tidak, sebuah organisasi tidak dapat berjalan dengan baik mengemban misinya. Masalahnya ialah, kalau kualitas dan kelayakan seorang pemimpin lebih rendah dari jabatan yang yang disandang. Lebih bermasalah lagi, kualitas kehidupan seorang pemimpin lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata yang dipimpin. Pemimpin seperti itu biasanya dihormati hanya karena jabatannya, bukan pada wibawa dan kualitas hidupnya. Bayangkan seorang pemimpin jemaat misalnya, yang sifat pemarahnya saja tidak dapat diatasinya, bagaimana mungkin dia memimpin jemaat dengan baik. Atau, seorang calon hamba Tuhan yang orangtua atau mertuanya saja tidak dihargainya, bagaimana mungkin dia menghargai warga jemaat?

Dalam hal ini John Maxwell benar ketika ia berkata bahwa kualitas hidup seorang pemimpin seharusnya di atas rata-rata orang yang dipimpin. Bagi orang Kristen hal inibukan masalah baru. Rasul Paulus sendiri dengan tegas menasihatkan agar mereka yang menjadi penilik jemaat bukanlah pemarah tetapi peramah, sopan, dapat menahan diri, bukan yang baru bertobat, yang terkenal baik di dalam dan di luar jemaat, yang dapat memimpin keluarganya dengan baik, bukan peminum, bukan hamba uang dan seterusnya (Selengkapnya lihat 1 Tim 3:1-7).

Bagaimana kalau kita berhadapan dengan seorang pemimpin yang tidak sesuai dengan firman Tuhan di atas? Mendoakannya, mengingatkannya, mengusulkannya mundur kalau tidak mau berubah, menggantinya sesuai prosedur jika sama sekali tidak ada perubahan.

Sunday, October 24, 2010

PELAJARAN DARI HUJAN

REFLEKSI SENIN KE-43
25 Oktober 2010

Sudah seminggu lebih hujan tak turun. Debu jalanan mulai berterbangan. Tanaman yang tadinya mekar tampak tak segar. Suhu meningkat dan keringat pun bercucuran. Akhirnya, hujan deras pun turun seperti air ditumpahkan dari langit. Orang-orang berhamburan: menyelamatkan jemuran, menutup dagangan, dan mencari perteduhan. Terlihat ada yang merasa kesal dan sial. Rasa kesal dan sial ini tidak berdasarkan kelompok profesi, tetapi berdasarkan ‘suasana hati yang menyikapinya’. Ada pedagang es dan rujak yang merasa sial karena terpaksa harus pulang berhubung penurunan minat pembeli. Tapi, ada juga pedagang es dan rujak yang lain yang menerima tanpa perubahan raut wajah, karena sudah bersiap untuk menghadapinya dan tidak dapat berbuat apa-apa mencegah hujan. Di sudut yang lain tampak anak-anak telanjang dada berhamburan mandi hujan dengan teriak keceriaan. Berbeda dengan orangtua mereka yang suaranya meninggi menghardik anak-anak mereka untuk masuk ke rumah dan mandi. Beberapa orang dewasa lainnya yang sehari-hari menyiram depan rumahnya yang berdebu merasa lega karena curahan hujan mengambil alih tugas mereka. Lain pula sekelompok orang korban banjir bandang yang keluarga mereka beberapa waktu lalu terhanyut banjir. Kehadiran hujan kali ini membuka kembali memori duka.

Satu peristiwa turunnya hujan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Di sini, masalahnya bukan hujan melainkan keadaan orang-orang yang menerima curahan hujan. Keadaan ini menggambarkan hampir semua peristiwa kehidupuan. Reaksi-reaksi manusia amat teranyam ketat dengan kondisi (emosional) masing-masing. Karenanya, ketika kita bereaksi terhadap sesuatu kita tidak saja memperhatikan peristiwa ‘luar’ yang terjadi tetapi juga (dan terutama) memeriksa ‘ke dalam’, keberadaan, suasana hati atau kondisi emosional kita. Kita bisa saja kecewa, marah, mengutuki, padahal masalahnya bukan terutama suatu peristiwa yang terjadi, melainkan keadaan kita: ingin cepat mencapai sesuatu, merasa agenda pribadi kita terganggu, penghasilan kita menurun, orang lain untung dan kita merasa rugi, dan lain-lain.

Tetapi, kembali kepada hujan, ada yang berbeda sekarang ini. Hujan bukan semuanya lagi ‘alami’ tetapi sering terjadi ketidakteraturan dan curah hujan berlebihan atau malah sangat kurang untuk daerah tertentu karena perubahan iklim global; dan perubahan iklim global disebabkan oleh kerusakan alam ciptaan Tuhan ini. Kerusakan alam terutrama disebabkan oleh kerakusan manusia. Hujan juga sudah tercemar atau terpolusi. Jadi, menyaksikan hujan turun sekarang ini, kita tidak hanya menerimanya sebagai sesuatu yang alamai dan mensyukurinya sebagai pemberian Tuhan, tetapi juga berbuat secara konkrit merawat alam ciptaan Tuhan ini sebaik dan sebijaksana mungkin. Usaha konkrit yang dimaksudkan anatara lain: menghindari diri dari pola hidup konsumerisme, tidak atau sedikitnya sangat membatasi diri menggunakan barang-barang sekali pakai (kemasan minuman, manakan dll), menanam pohon, menggunakan kendaraan hemat bahan bakar dan sebagainya. Jangan sampai bumi ini kiamat sebelum waktu yang Tuhan tentukan.



Monday, October 18, 2010

DOA DAN PENDERITAAN

REFLEKSI SENIN KE-42
18 Oktober 2010

Adik perempuan saya, Bibelvrouw Nurmala Tinambunan, pergi untuk selamanya memasuki kumpulan yang dimenangkan dan ditebus oleh Tuhan pada Selasa, 14 Oktober lalu pada usianya yang ke-42. Sangat muda menurut ukuran rata-rata harapan hidup orang Indonesia. Memang sudah beberapa tahun ia menderita suatu penyakit. Karena pengobatan belum membawa kesembuhan, ia berobat ke Penang. Ia pun keracunan obat, yang membuat sekujur tubuhnya seperti terbakar. Empat hari dirawat di RS Horas Insani, Pematangsiantar yang kemudian, atas rujukan dokter, dipindahkan ke RS Herna, Medan. Sepuluh hari menahan beratnya derita di RS, ia pun pergi untuk selamanya.


Banyak yang berdoa memohon kesembuhan. Usaha sudah dilakukan sesuai dengan kemampuan keluarga. Di tengah duka seperti ini pertanyaan pun mengemuka: “Mengapa Tuhan tidak mendengarkan doa?” Tetapi sesungguhnya, Tuhan menjawab semua doa. Ada kalanya Tuhan memberi jauh melampaui apa yang kita harapkan. Terkadang kita menerima persis seperti apa yang kita dambakan. Tetapi ada kalanya kita menerima tidak seperti yang kita inginkan. Yang pasti, rancangan Tuhan selalu rancangan yang baik kepada anak-anakNya.

Di tengah duka karena kehilangan seperti ini, kesadaran seperti itulah yang menguatkan hati saya menerima kenyataan ini di dalam Tuhan. Hati saya terhibur juga mendengar banyak ungkapan turut berduka dan doa teman-teman dan banyak sahabat. Secara khusus, kotbah yang disampaikan Praeses Pdt B. Sidabutar dalam acara pemberangkatan jenazah di HKBP Parsaoran yang mengatakan, “Tuhan lebih mengasihi kedua anak Bvr Nurmala Tinambunan, Cintya dan Sahat Martua, daripada orangtuanya dan kita semua”. Ya, Tuhan lebih mengasihi Bvr Nurmala Tinambunan, Tuhan lebih mengasihi suaminya Charles Simanjuntak, Tuhan lebih mengasihi kedua anak mereka.

Kini, kami menjadi alat perpanjangan tangan Tuhan menyatakan kasihNya merawat dan membantu Cintya dan Sahat Martua menjalani hidup dan sekolahnya. Bvr Nurmala Tinambunan telah meninggalkan mereka, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda.



Sunday, October 10, 2010

PERTUMBUHAN DI LUAR KESADARAN

REFLEKSI SENIN KE-41
11 Oktober 2010

Belum lama ini, seorang teman meneruskan cerita berikut kepada saya melalui email.

Seorang Katolik menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggu. Tulisnya, "saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu --demikian pun para pastor itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu." Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Saya tidak bisa mengingat semua jenis masakan itu. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal." Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.
Saya percaya bahwa cerita ini sama sekali tidak menganjurkan agar kita melupakan saja semua kotbah yang kita dengar. Cerita ini juga sama sekali tidak membenarkan para pengkotbah yang tidak sungguh-sungguh mempersiapkan dan menyampaikan kotbah. Kotbah harus dipersiapkan dengan hati dan harus diterima dengan hati.

Yang mau ditekankan adalah “tidak mengingat kotbah” tidak sama dengan “memboroskan waktu”. Sebab, ada yang terjadi dalam diri ini di luar kesadaran. Bayangkan sebuah tanaman yang kita lihat suatu sore yang sudah berbeda keesokan harinya, meskipun nampaknya sama saja. Hal seperti itu pula yang mau disampaikan seorang pemberi komentar terhadap keluhan pendengar kotbah dalam cerita di atas dengan mengangkat contoh jenis makanan selama tiga puluh tahun.

Kesediaan atau keterbukaan hati mendengarkan kotbah, nasihat, saran yang baik, tulisan yang mencerahkan bagaikan mempersiapkan lahan yang baik dan subur untuk sebuah tanaman. Jadi, mungkin kita tidak mengingat semua kotbah, nasihat, saran baik yang pernah kita dengar, tetapi tanpa mendengarnya sebelumnya hidup kita jauh lebih buruk dari keadaan sekarang.



Monday, October 4, 2010

SIAPA DI BALIK APA

REFLEKSI SENIN KE-40
04 Oktober 2010

Teringat pengalaman kuliah ketika masih duduk di semester 5. Karena kehidupan ekonomi yang masih di bawah pas-pasan, bersama dengan tiga orang teman seangkatan saya menerima pekerjaan mencat bangunan kampus [Agaknya upah yang kami terima masih di bawah UMR]. Mahasiswa baru sedang melakukan Kursus Intensif Bahasa Inggris (KIBI) sebelum memulai perkuliahan baru. Para mahasiswa mengira kami sebagai ‘pekerja tukang cat’ sungguhan. Hal ini tercermin dari ekspresi dan kata-kata mereka. Salah seorang di antara mereka pernah ‘menugaskan’ saya untuk membeli anti nyamuk bakar. Karena saya juga ketika itu kurang rela diketahui sebagai seorang mahasiswa merangkap ‘buruh kasar harian’, saya pergi juga membelinya. Ketika menyerahkan anti-nyamuk beserta dengan uang kembaliannya Rp. 500 (sekitar 10 sen dollar Singapura) si mahasiswa berkata, “kembaliannya sama abang aja!”. Kata ‘abang’ yang digunakan, bukan kepada seorang mahasiswa yang lebih senior (yang waktu itu sesuai ‘tradisi’ agak disegani bahkan ditakuti, tetapi kepada seorang tukang cat yang perlu disubsidi.

Peristiwa yang hampir sama dengan versi dan orang yang berbeda terjadi ketika saya baru saja ditugaskan menjadi dosen di perguruan yang sama pada 1999. Meskipun tinggal dalam satu rumah, tetapi karena belum berkeluarga saya sering sarapan di warung. Suatu pagi saya sama-sama sarapan di warung yang sama dengan seorang mahasiswa semester 7. Percakapan pun berlangsung. Entah bagaimana, si mahasiswa sampai pada satu pertanyaan, “Abang mau masuk S2 di kampus ini?” Jawaban ‘diplomatis’ saya waktu itu adalah, “Mungkin saya tidak diterima”. Tiga puluh menit kemudian, kami bertemu di ruang kuliah. Saya bisa lihat ekpresi wajahnya yang agak kaku mengingat kata-kata ‘abang’ yang dikatakannya setengah jam yang lalu harus berubah menjadi ‘bapak’ di ruang kuliah. [Catatan: yang jelas, tidak ada pengaruh peristiwa itu dengan nilai kuliah yang saya berikan kepada mahasiswa ybs, apalagi dia termasuk seorang mahasiswa yang cerdas]

Agaknya hampir semua orang pernah mengalami salah mengenal dan ‘disalah-kenal’. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana kita bersikap dan berkata-kata kepada orang lain, biasanya ditentukan oleh ‘siapa’ orang lain itu menurut pengenalan atau asumsi kita. Pengenalan yang dimaksudkan adalah berdasarkan label-label yang kita tempelkan pada orang lain yang umumnya amat dipengaruhi oleh pekerjaan, usia, penampilan seseorang itu, baik berdasarkan fakta maupun prasangka kita.

Kekristenan sangat menekankan pentingnya sikap ‘tidak memandang muka’ tetapi mengasihi dan menghormati semua dan setiap orang. Hanya dengan demikian kita terhindar dari sikap semena-mena terhadap pekerja upahan dan menjilat kepada orang yang punya tahta dan harta. Hubungan pun akan terbangun terutama atas dasar ‘kesiapaan’ seseorang sebagai sesama ciptaan Allah, sesama yang memiliki harkat yang sama, bukan pada ‘status’ ciptaan manusia.

Demikian pula halnya dalam menyikapi suatu peristiwa atau pengalaman kehidupan. Mengapa kita bersungut-sungut bahakan marah ketika mengalami suatu peristiwa kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan kita? Mungkin kita tidak melihat rencana Tuhan dalam peristiwa itu untuk mendatangkan kebaikan kita. Atau, mungkin kita melihatnya sebagai pekerjaan Tuhan dan kita menganggap Ia tidak adil. Yang jelas, segala perbuatan Tuhan selalu bertujuan untuk kebaikan kita dan keadilan yang sempurna hanya ada dalam Dia. Masalahnya, bagaimana kita melihat setiap peristiwa kehidupan menentukan hubungan dan sikap kita kepada Tuhan. Dan rasa hormat kepada Tuhan memungkinkan kita berserah pada penyelenggaraanNya.







Sunday, September 26, 2010

CITRA DIRI

REFLEKSI SENIN KE-39
27 September 2010

Yang dimaksudkan dengan ‘citra diri’ di sini adalah ‘bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain’. Kita dapat membedakan tiga bentuk citra diri berdasarkan ‘penggeraknya’.

1. Menurut keinginan sendiri

Seseorang meginginkan dirinya seperti ini atau seperti itu dan sudah tampil seperti yang diinginkan walaupun belum atau bahkan tidak akan pernah mencapai seperti yang diinginkan itu. Ia pun tampil sebagai seseorang yang berbeda dengan dirinya yang sebenarnya. Ia hanya tampil ‘seolah-olah’: seolah-olah pintar, seolah-olah kaya, seolah-olah bintang film, seolah-olah penguasa. Sadar atau tidak, seseorang itu selalu mengenakan ‘topeng’. Menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang asli. Itulah sebabnya mengapa remaja atau pemuda yang baru saja menonton film ‘action’ berjalan seperti jago karate. Baru menonton balab mobil, pulang mengendarai mobilnya merasa seperti Schumacher, padahal mobilnya hanyalah Suzuki Carry. Atau, seseorang yang ingin tampil kaya membeli dompet seharga Rp.1 juta yang didalamnya diselipkan beraneka kartu-kartu “seolah-olah” ATM atau kartu credit tapi isi yanag sebenarnya tidak pernah lebih dari Rp 300.000. Citra diri menurut keinginan ini pulalah yang membuat orang meniru model dan warna rambut orang lain. Tampillah rambut BUCARI –bule cat sendiri. Ada masih banyak contoh yang dapat kita saksikan (atau mungkin kita perankan sendiri) sehari-hari. Biasanya citra diri seperti ini amat melelahkan dan terkadang bisa membawa hingga ke frustrasi.

2. Menurut pendapat orang lain

Bayangkan seorang dosen mendengar orang lain menilainya sebagai seorang jenius. Dari penilaian objektif, dia sadar betul bahwa dia bukan seorang jenius. Tetapi karena ada orang yang mengatakannya seorang jenius, ia pun meampilkan diri seperti jenius: menyampaikan ide-ide yang sulit dicerna dan membuat orang bingung, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, memberi pendapat dan argumentasi untuk semua topik percakapan, mulai dari soal pilkada, politik luar negeri, hingga masalah ruang angkasa. Orang seperti ini biasanya sulit mengatakan ‘tidak’ terhadap permintaan orang lain walaupun ia tidak sanggup melakukannya. Ia pun sering memaksa diri supaya cocok dengan ‘citra diri’ seperti yang dicitrakan orang lain. Artinya, memakai citra diri seperti ini juga amat melelahkan dan dapat menjadi sumber ketegangan berkepanjangan.

3. Menurut keadaan sebenarnya dan seharusnya

Citra diri seperti ini lahir dari pemahaman objektif dan realistis terhadap diri sendiri serta berorientasi pada dampak positif setiap gerak hidup terhadap orang lain. Jika dalam ‘citra diri menurut yang diinginkan’ (nomor 1) seseorang yang ekonominya pas-pasan tapi tampil seperti konglomerat, sebaliknya dalam citra diri menurut keadaan yang sebenarnya seorang kaya raya justru tampil bersahaja. Dengan kebersahajaannya, seseorang itu menunjukkan bahwa dirinya tidak identik dengan yang dia miliki sekaligus meruntuhkan tembok pemisah kepada orang lain. Sebab, kesederhanaan dapat merupakan jembatan persaudaraan sejati. Dengan citra diri seperti ini pula seseorang tidak akan pernah meaksa diri. Ia bebas tanpa beban mengatakan ‘tidak’ terhadap sesuatu yang tidak mampu ia lakukan dan mengatakan ‘ya’ dengan sukacita jika memang mampu dan baik melakukan sesuatu tanpa memaksa diri. Ia tidak bergerak oleh celaan, pujian, amarah, paksanaan. Di sini, hati nurani lebih banyak bicara. Mereka yang hidup dengan citra diri menurut keadaan sebenarnya dan seharusnya adalah orang-orang merdeka dan mampu memerdekakan.



Monday, September 20, 2010

MENGUBAH DIRIKU

REFLEKSI SENIN KE-38
20 September 2010

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini:

Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa:
“Tuhan berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia”

Ketika aku sudah setengah baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: “Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas”.


Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat ajal sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: “Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri”.
Seandainya sejak semula aku berdoa demikian, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku.

(Anthoni de Mello)

Dari pengalaman empiris kita dapat belajar bahwa Sufi Bayazid tidak sendirian. Ada begitu banyak orang saat ini yang berusaha memperbaiki keadaan penjara, padahal mereka sendiri juga perlu keluar dari aneka bentuk penjara. Tidak sedikit orang yang dengan suara lantang menyerukan penegakan keadilan, tetapi –sedihnya—justru pada saat yang sama menindas orang lain. Seruan ekstra kencang juga sering terdengar untuk pembaharuan dalam lingkungan agama, padahal yang paling mendesak dilakukan adalah pertobatan mereka secara pribadi, yang pada akhirnya dapat terjadi pertobatan institusional.

Berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2)





ALPA

REFLEKSI SENIN KE-37
12 September 2010

Sunday, September 5, 2010

B A R U

REFLEKSI SENIN KE-36
06 September 2010

Drg Theresa memncabut gigi kedua anak saya, Christi dan William, masing-masing dua buah. Gigi ‘asli’ mereka belum copot, sementara yang baru –yang juga ‘asli’-- sudah mulai muncul. Anak-anak saya merasa kesakitan. Mereka kelihatan lebih jelek dari biasanya. Istri saya harus membayar mahal pula. Sakit, jelek dan membayar berpadu sedemikian rupa melengkapi sebuah ‘pengorbanan’.

Mengapa pencabutan ini dilakukan? Yang pasti bukan bertujuan untuk melukai anak. Bukan memberi hukuman dengan membuat mereka kelihatan sedikit lebih jelek. Bukan pula membantu drg Theresa secara finansial (uangnya jauh lebih banyak!). Alasan dan tujuannya jelas: agar gigi mereka tumbuh normal, sehat dan kelihatan bagus.

‘Cabut-mencabut’ ini menyatakan hal-hal yang secara alami harus berlangsung dalam hidup ini yang tidak bisa ditolak jika kita mau hidup ini semakin lebih baik. Selain berkaitan dengan fisik, dalam beberapa hal ‘cabut-mencabut’ ini juga menggambarkan aneka segi kehidupan lainnya. Ada kalanya kita harus ‘mengorbankan’ sesuatu untuk keadaan yang lebih baik. Bertahan menghindari sedikit rasa sakit, tenaga maupun biaya bisa mengakibatkan penderitaan yang lebih parah dan lebih lama. Itu sebabnya, misalnya, anak sekolah rela berlelah dan orangtua tabah melangkah memperjuangkan anak-anaknya. Itu pula yang terjadi ketika operasi harus terjadi mengatasi suatu penyakit.

Di samping itu, dalam batas-batas tertentu ini juga dapat mengingatkan kita pada pergantian sebuah fungsi, jabatan atau tempat tugas seseorang. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi jika seseorang tidak mau meninggalkan tempat tugasnya padahal sudah ada yang menggantikannya. Perbedaan paling hakiki antara manusia dengan gigi adalah ‘kesadaran’. Jika gigi lama masih bertahan sementara yang baru sudah tumbuh, maka gigi lama harus dicabut. Manusia seharusnya tidak perlu ‘dicabut’ karena ia dapat melangkah –dengan kesadaran—untuk kebaikan dirinya dan kebaikan yang lebih luas.

Alm Eka Darmaputera benar ketika ia berkata, “Lebih baik kehilangan sesuatu daripada kehilangan segala sesuatu”.

ShoutMix chat widget