Saturday, September 6, 2008

B U R U N G


Pagi ini saya memberi perhatian khusus pada kicauan puluhan burung yang hinggap di pohon-pohon persis di belakang tempat kost saya di Trinity College-Singapura. Sebenarnya burung-burung seperti ini sudah sejak dua tahun melakukan aktivitas yang sama di tempat yang sama. Bedanya, selama ini saya tidak memberi perhatian khusus kepada mereka. (Salah satu di antara keunikan orang-orang Singapura adalah ‘peri-kemakhlukan’ mereka yang terbilang tinggi --mudah-mudahan seimbang dengan ‘perikemanusiaan' mereka :-).

Perhatian khusus saya tertuju pada burung-burung ini bersamaan dengan bacaan firman Tuhan tentang ‘masalah kekuatiran’ sebagaimana dalam Matius 6:25 dst. Ayat Alkitab ini pun sudah lama sekali Anda dan saya dengar. Tetapi kali ini ia punya makna tersendiri. Yesus mengatakan “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh bapaMu di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Perhatikan bahwa perkataan Yesus ini ada dalam konteks masalah "mengumpulkan harta”. Ini adalah soal ‘prioritas’ dalam hidup. Pesan ini sama sekali bukan berisi larangan mencari makanan dengan bekerja. Manusia memang harus bekerja. Yang menjadi masalah adalah semangat dan usaha 'mengumpul' yang bisa membuat hati menjadi tumpul --semangat mengumpul yang membuat manusia tidak peduli pada Tuhan dan sesama manusia. Semangat seperti ini biasanya mengakibatkan manusia memanfaatkan Tuhan dan orang lain untuk diri sendiri, bukan memberi diri menjadi berkat bagi orang lain.

Ketika kita percayakan hidup kita kepada Tuhan, Ia akan memberikan yang terbaik bagi kita. Ketika kita mempercayakan hidup kita pada apa yang kita kumpulkan secara materi, ia akan menekan hidup kita. Sekadar memeriksa kecenderungan kita, coba kita perhatikan doa-doa kita selama ini. Penuh dengan permintaan bukan? Kesehatan, kebutuhan hidup, keberhasilan anak-anak, perlindungan dalam kerja dan sebagainya memenuhi doa-doa kita. Apakah itu salah? Tidak! Masalahnya, kita cenderung lebih peduli pada ‘pemberian’ bukan pada Sang Pemberi, yaitu Tuhan kita. Kita lebih menginginkan pemberian Tuhan bukan Tuhan sendiri.

Saatnya kita ubah sekarang: kita lebih menginginkan hubungan kita dengan Tuhan terpelihara baik, hidup kita terpelihara olehNya.

THE NEW LEADERSHIP OF THE HKBP


(Info untuk teman-teman yang belum bisa berbahasa Indonesia)
Rev. Bonar Napitupulu has been reelected, defeating Willem with 682 votes against 585 in the second round. In the first round BN got 602, Willem got 474, and Jamilin 192 votes.

Ramlan Hutahaean MTh was elected as General Secretary,>defeating Rambio J. Hutagaol, with 739 against 372, 6 invalid. Ramlan was the packet of BN, and Rambio of WTPS.

Dr Jamilin Sirait has been elected as Kepala Department Koinonia, defeating BM Siagian the closest ally of BN, in the second round, with 660 votes against 520. In the first round Welman Tampubolon was on the third.

Dr Binsar Nainggolan has been elected as Kepala Department Marturia defeating Siter Hutasoit and JAU Doloksaribu, with 442 against 190 and 151 votes.

Nelson Siregar has been reelected as Kepala Department Koinonia, defeating Plaston Simanjuntak DMin, with 609 votes against 511 votes.

Friday, September 5, 2008

PIMPINAN HKBP 2008-2012

Jarang sekali --kalau tidak mau dikatakan tidak pernah-- ada orang yang kualitas kejernihannya meningkat ketika duduk
di singgasana kekuasaan
(Gede Prama)
Doa dan harapan kita, apa yang dikatakan oleh Gede Prama tidak terjadi di dalam gereja, sebab di gereja tidak ada singgasana kekuasaan manusia; Kristuslah kepala Gereja
*******
Sinode Godang (Sinode Agung) HKBP September 2008 telah memilih
Pimpinan HKBP sebagai berikut:

Ephorus:
Pdt Dr Bonar Napitupulu

Sekretarais Jenderal:
Pdt Ramlan Hutahaean, MTh

Kepada Departemen Koinonia:
Pdt Dr Jamilin Sirait

Kepala Departemen Marturia:
Pdt Dr Binsar Nainggolan

Kepala Departemen Diakonia:
Pdt Nelson Flores Siregar, STh.

Kita doakan kiranya Tuhan memperlengkapi dan menguatkan mereka mengemban tugas panggilan yang dipercayakan kepada mereka. Kiranya mereka bersatu hati dalam kasih Kristus mengutamakan yang Tuhan utamakan. Kiranya mereka dengan kerelaan bersedia dipimpin oleh Tuhan dalam memimpin HKBP --yang adalah milik -Nya.

Di samping mendoakan, kita semua dapat memberi dukungan, sumbangan pikiran, bantuan bekal kehidupan, bahkan kritik membangun agar mereka dapat menjalankan pelayanan dengan takut akan Tuhan sehingga mereka tidak saja menjalankan tugas dengan baik tetapi juga finishing well.

Sekali lagi, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan.
**************************
Berikut ini adalah nama-nama calon Praeses HKBP Periode 2008 - 2012 yang disahkan Sinode Godang HKBP ke-59 untuk dipilih 26 orang dari antara mereka (dikutip dari http://www.hkbp.or.id/index.php#, diakses tgl 06-9-2008; 20.50 Singapore Time)

1. Pdt.Midian K.H. Sirait ; 2. Pdt.Tigor.P.Panggabean; 3. Pdt.Esron Tampubolon ; 4. Pdt.Marolop Sinaga ; 5. Pdt.Rich.Janson.Simamora ; 6. Pdt.Debora br Sinaga ; 7. Pdt. Diapari Simangunsong ; 8. Pdt.Piter Hutapea ; 9. Pdt.Rahman Tua Munthe; 10. Pdt.Monang Silaban ; 11. Pdt.Untung Manurung ; 12. Pdt. Rafles Lumbanraja ; 13. Pdt.Sabam.M.P Marpaung ; 14. Pdt. Efendi Purba ; 15. Pdt.Pasu Nainggolan 16. Pdt .Piter M.P. Simanungkalit ; 17. Pdt.Patar Soaduon Napitupulu ; 18. Pdt.Bonar Nababan DPS ; 19. Pdt. Mori Sihombing ; 20. Pdt.Darwin Humala Sitorus ; 21. Pdt. Parulian Sibarani ; 22. Pdt.Armada Sitorus ; 23. Pdt.Elieser Siregar ; 24. Pdt. Tendens Simanjuntak; 25. Pdt. Sahat Simamora ; 26. Pdt.Makmur.G.H. Tampubolon ; 27. Pdt.Dr.Lukman Panjaitan ; 28. Pdt. Tionggar Nababan ; 29. Pdt Bihelman D.F.Sidabutar ; 30. Pdt.Edi D.R Hutauruk ; 31. Pdt. Games Purba ; 32. Pdt.Balosan Rajagukguk ; 33. Pdt.Togar M. Hasugian ; 34. Pdt.Charles Tambunan ; 35. Pdt.Sondang Hutahaean ; 36. Pdt Hahotan Simanjuntak ; 37. Pdt.Eben Ezer Siringoringo ; 38. Pdt.Juaksa Simangunsong ; 39. Pdt.Dr.Martongo Sitinjak ; 40. Pdt.Naser Silalahi ; 41. Pdt. Rusman Harianja ; 42. Pdt.Fritz Henry Hutapea ; 43. Pdt.Sahat Manogari Silitonga ; 44. Pdt.Sabar Hutabarat ; 45. Pdt.Marudur Tampubolon ; 46. Pdt.Romola Butarbutar ; 47. Pdt.Peterson Purba ; 48. Pdt.Antonius Simanjuntak ; 49. Pdt.Victor Sihotang ; 50. Pdt.Sintong Manalu ; 51. Pdt.David Sibuea ; 52. Pdt.Saur Simanjuntak
***************************
Yang terpilih adalah:
1. Pdt. David Sibuea MTh, 2. Pdt. Esron Tampubolon MTh,
3. Pdt. Mori Sihombing MTh, 4. Pdt. Dr Lukman Panjaitan,
5. Pdt. Debora Purada Sinaga MTh, 6. Pdt. Piter Hutapea MTh,
7. Pdt. Tendens Simanjuntak, 8. Pdt. Bihelman Sidabutar,
9. Pdt. RT Munthe MTh, 10. Pdt. Marolop Sinaga MTh,
11. Pdt. Effendy Purba, 12. Pdt. RJ Simamora,
13. Pdt. Diapari Simangunsong, 14. Pdt. Viktor Sihotang,
15 Pdt. BH Nababan DPS, 16. Pdt. Parulian Sibarani,
17. Pdt. Rafles Lumbanraja MMin, 18. Pdt. Tionggar P. Nababan,
19. Pdt. Sabam M. Marpaung, 20. Pdt. Elieser Siregar,
21. Pdt. Armada Sitorus, 22. Pdt. Pasu Nainggolan,
23. Pdt. Marudur Tampubolon, 24. Pdt. Togar M. Hasugian,
25. Pdt. Saur L. Simanjuntak, 26. Pdt. Sabam Manogari Silitonga.
-----------------
Pdt Dr Robinson Butarbutar mengatakan, "Pdt Debora P. Sinaga MTh, satu-satunya praeses dari kalangan perempuan berhasil masuk tanpa 'mengemis', tetapi berargumentasi dengan Ephorus terpilih bahwa dirinya berhak, capable dan pantas menjadi calon praeses. Akhirnya para sinodisten mempercayainya karena kemampuannya semata. Kita doakan agar seorang hamba perempuan dengan nama Alkitabiah ini dapat membawa keadilan di tengah-tengah HKBP, sedikitnya, memulainya, istimewa keadilan terhadap perempuan, secara khusus para pelayan perempuan yang banyak dilecehkan oleh para pelayan laki-laki. Banyak harapan diletakkan dibahunya. Karena itu, mari tidak lupa mendoakan Debora dan menasehatinya dengan kasih dan insights."

PENGKOTBAH DAN KOTBAH YANG BAGAIMANA


Seorang pengkotbah harus menghidupi kotbahnya kalau ia mau kotbahnya hidup

Kotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap sangat sulit dibayangkan bisa meresap


PENGANTAR

Kotbah merupakan salah satu bagian terpenting dalam ibadah sepanjang sejarah gereja. Karena itu, usaha untuk mempersiapkan dan menyampaikan kotbah yang baik dan benar merupakan sebuah keharusan.

Homiletika berasal dari bahasa Yunani homilia artinya persekutuan, dan bentuk kata kerja homileo artinya berbicara. Umumnya homiletika diartikan sebagai ilmu berkotbah. Akan tetapi, di sini homiletika kita pahami lebih dari sekadar ilmu. Sebab, ilmu biasanya sesuatu yang diteruskan kepada orang lain, yang bisa saja tidak diterima atau dihidupi oleh yang menyampaikannya. Homiletika dimaksudkan sebagai upaya membangun persekutuan umat percaya melalui penyampaian firman Allah, yang antara lain seturut dengan fungsi Alkitab (mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran, bnd. 2 Timotius 3:16). Disamping itu kotbah berperan untuk menghibur dan meneguhkan orang untuk setia mengikut Tuhan.

Dengan demikian, pertanyaan yang pertama dan terutama bukanlah ‘kotbah yang bagaimana’ melainkan ‘bagaimana pengkotbah’. ‘bagaimana pengkotbah’ mencakup: Spiritualitas: hubungan yang terpelihara baik dengan Tuhan. Kecerdasan emosional; Kecerdasan intelektual; Kecerdasan interaksi; Kesehatan dan kebugaran tubuh. Sedangkan ‘kotbah yang bagaimana’ mencakup kotbah yang ‘benar’ (berakar pada firman Tuhan; ‘baik’ (memperhatikan peristiwa dan situasi tertentu seperti: tahun liturgi, konteks duka, sukacita, perayaan; ‘jelas’ (sistematis dan cara penyampaian yang komunikatif; ‘menarik’ (untuk membantu pendengar mengingat dan menghidupinya).

BAGAIMANA PENGKOTBAH

Berkotbah adalah salah satu tugas pelayanan yang paling sering dilakukan oleh kebanyakan pelayan gereja. Bagi banyak pelayan, barangkali ini juga yang paling sering menekan atau membebani kehidupan. Mereka yang merasa sangat terbeban dan menolak berkotbah biasanya pertama-tama mengajukan pertanyaan ,’apa yang akan saya katakan?’. Itu sebabnya sering kita dengar keluhan bahwa seseorang sudah ‘putus kamus’. Sebab, semua hal sudah pernah dikotbahkan (dan terkadang harus mengatakan ‘seperti yang sudah pernah saya kotbahkan dulu’).

Alkitab menegaskan bahwa Allah berfirman melalui manusia. Karenanya, tugas berkotbah adalah sebuah anugerah. Sebab, mulut pengkotbah menjadi saluran penyampaian firman Allah. Di sini bukan peranan manusia yang terutama melainkan peranan Tuhan sendiri. Itu sebabnya seorang pengkotbah yang benar tidak pernah ‘putus kamus’, sebab Allah terus menerus menyatakan diri dan memperdengarkan suaraNya.

Semakin jelas bahwa pertanyaanya bukan terutama “kotbah yang bagaimana” melainkan “bagaimana pengkotbah”. Jika kita mulai dengan ‘kotbah yang bagaimana’ biasanya setelah membaca ayat Alkitab sesuai perikopen kita mulai dengan mencari “apa yang cocok saya katakan atas dasar ayat Alkitab ini”. Padahal, yang pertama dan terutama, mestinya adalah “apa yang Tuhan katakan dan nyatakan kepada saya dan umatNya melalui ayat Alkitab ini”. Inilah yang dimaksudkan dengan ‘bagaimana pengkotbah’. Di samping itu, tentu kehidupan sehari-hari seorang pengkotbah sangat menentukan juga. Bagaimana kehidupan doanya, emosinya, keteladanannya dan sebagainya.

Semuanya ini hanya dapat terbangun melalui ibadah pribadi dan persiapan diri dalam perenungan yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, kotbah dapat menyejukkan, menyentuh hati yang terdalam, membangkitkan iman, meneguhkan ketetapan hati mengikut Kristus dalam kebenaran dan kasih. Pendidikan homiletika tidak terutama bersumber dari buku-buku, penataran dan sebagainya tetapi terutama dalam seluruh kehidupan kita. Di situ Tuhan menuntun dan memperlengkapi kita.

Dapat dicatat pula bahwa kotbah lebih dari waktu persiapan sebelum berkotbah, tetapi merupakan hasil dari seluruh hidup pengkotbah: hidup spiritual, keyakinan moral, pengembangan intelektual melalui bacaan dan refleksi, kesehatan atau kebugaran fisik, bahkan masalah makanan yang dimakan dan minuman yang dimunum. Khusus yang disebut terakhir ini perlu mendapat perhatian karena kalau pengkotbah makan terlalu kenyang, itu mengakibatkan darah lebih aktif bekerja di perut yang seharusnya bekerja di otak dalam mempersiapkan kotbah. Atau kalau seseorang harus minum sedikit alkohol supaya ‘berani’ bediri di mimbar, mungkin saja ia berani tetapi kotbah yang disampaikan pun sulit dibayangkan bisa membangun iman. Tambahan lagi, kotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit dibayangkan dapat meresap.

Untuk itu seorang pengkotbah sedikitnya perlu melakukan persiapan:

1. Kehidupan doa. Kehidupan doa yang dimaksudkan di sini tidak saja berdoa pada waktu mempersiapkan kotbah saja, melainkan seorang pengkotbah adalah seorang yang memberi waktu setiap hari untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Doa pribadi sangat penting bagi seorang pengkotbah, dimana pengkotbah bersyukur, memohon ampun serta memohon hikmat kepada Tuhan. Kita memohon agar Tuhan menguduskan hati kita, agar dari situ terpancar kehidupan. Kita berdoa agar Tuhan berkenan menguduskan jalan pikiran kita, sehingga setiap pemikiran dan penjelasan yang keluar darinya sungguh-sungguh mencerminkan pikiran Tuhan. Kita memohon agar Tuhan menyucikan mulut dan bibir kita, agar kata-kata yang keluar dari situ benar-benar kata-kata yang penuh urapan. Kita ingat misalnya, bagaimana Allah menjamah mulut Yeremia sebelum mewartakan firman Tuhan.

2. Persiapan khusus. Pengkotbah sendiri sebaiknya melakukan persiapan diri dan persiapan kotbah dengan sungguh-sungguh. Pengkotbah perlu membaca dan merenungkan nats kotbah berulang-ulang sambil terus menerus memohon hikmat dari Tuhan. Apa yang Tuhan katakana kepada saya? Apa yang Tuhan kehendaki?

3. Setiap Pengkotbah seharusnya membaca dan merenungkan nats kotbah sedikitnya satu minggu sebelumnya, walaupun ia tidak berkotbah. Setiap pelayan juga berdoa agar pengkotbah setiap minggunya sungguh-sungguh diperlengkapi oleh Tuhan. Dalam hal ini sangat baik kalau ada ‘sermon’ (persiapan kotbah) bersama para pelayan untuk saling berbagi perenungannya kepada sesama pengkotbah.

4. Dalam membaca Alkitab, kita tidak saja belajar tentang Tuhan, melainkan, yang terutama kita sedang berhadapan dan berbicara dengan Tuhan sendiri. Ia berbicara kepada kita. Karena itu dalam persiapan kotbah, Tuhanlah yang seharusnya terlebih dahulu berbicara kepada kita, dan pikiran, analisa, tafsiran kita dibelakangkan. Dalam kaitan itu, kita tidak saja mengetahui tentang Tuhan tetapi juga (dan yang terpenting) kita percaya kepada Tuhan.

PERSIAPAN MATERI KOTBAH

Bertolak dari persiapan pribadi seperti disebut di atas, pengkotbah dapat menyusun materi kotbah sebaik mungkin. Jadinya, kotbah merupakan hasil perenungan dan penghayatan si pengkotbah. Secara sederhana berikut ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian seorang pengkotbah dalam mempersiapkan kotbah.

1. Mulai dari yang dimengerti

Dalam membaca nats Alkitab mungkin saja ada yang sulit kita pahami atau bahkan membingungkan kita. Untuk itu mulailah dari yang mudah dipahami. Langkah ini mungkin saja menolong kita memahami yang sulit. Sebaliknya, kalau yang sulit dimengerti kita tonjolkan, maka yang mudah dipahami pun bisa saja menjadi terabaikan.
Untuk menolong kita dalam hal ini kita boleh mengajukan pertanyaan dan menjawab berdasarkan fakta-fakta ayang ada dalam nats Alkitab, seperti:

Siapa: Misalnya, Allah. Apa yang dilakukan Allah? mengasihi, menyertai, memelihara, memperingatkan, menghukum dan lain-lain. Atau mungkin, tentang seseorang ‘tokoh’ yang setia kepada Tuhan, seperti Abraham, Musa, Nabi-nabi, dan sebagainya. Bagaimana hidup, keberimanan dan pekerjaan mereka?

Apa: Tentang apa yang disebut dalan nats? Misalnya: gereja, keluarga, persekutuan, ibadah, persembahan, kehidupan yang kekal, kehidupan pribadi, akhir zazaman, kematian, kebangkitan, dsb.

Sikap hidup kristiani yang bagaimana: pengampun, pengasih, penuh kesabaran, bertahan melawan pencobaan, kesetiaan, keteguhan iman, memberi secara Kristen,

2. Sapaan Tuhan kepada kita sekarang

Kotbah hendaknya menyentuh kehidupan dan pengalaman kita sekarang. Memang, Allah yang berfirman di dalam Alkitab, adalah Allah yang sama yang berfirman kepada kita sekarang. Akan tetapi situasi yang dihadapi oleh orang-orang dulu berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi sekarang. Karena itu, kita merenungkan, apa yang Tuhan katakan kepada kita melalui firmanNya yang terdapat di dalam Alkitab.

Kita mengalami banyak hal dalam kehidupan kita baik sukacita maupun berbagai beban kehidupan. Pengalaman-pengalaman kita itu perlu diangkat ke permukaan untuk melihat kehendak Allah yang terkandung di dalamnya, menyadari kecenderungan sikap berpaling dari Allah dan sebagainya. Karena itu, semua masalah kehidupan dapat disinggung dalam kotbah. Dalam hal ini sedapat-dapatnya kita perlu mendengar banyak dari orang, mendengar berita dari sumber-sumber yang ada, bahkan sedapat-dapatnya kita dapat membaca beberapa buku yang berguna.

3. Kotbah yang Benar dan Menarik

Keduanya memang penting, tetapi pusat perhatian utama kita dalam kotbah ialah bahwa isi kotbah itu benar sesuai dengan firman Tuhan. Bicara tentang ‘benar dan menarik’ seumpama dengan ‘isi dan bungkus’. Yang paling penting, tentunya adalah isi bukan bungkus. Apa artinya kalau bungkusnya baik tetapi isinya tidak baik? Lebih baik kalau bungkusnya sederhana, tetapi isinya sangat berharga. Paling baik, adalah baik isi dan bungkusnya baik.

Untuk memudahkan, pengkotbah dapat memberi ilustrasi atau perumpamaan. Tetapi perlu diperhatikan agar ilustrasi atau perumpamaan hanya merupakan ‘alat’ untuk memahami inti kotbah. Janganlah warga jemaat pulang dari gereja hanya mengingat cerita itu saja, tetapi benar-benar memahami dan menghayati firman Tuhan sebagai inti kotbah.

4. Beberapa hal yang perlu dijaga

(1) Hendaknya kotbah tidak disalahgunakan menjadi sarana melampiaskan emosi/ amarah atau menyindir kepada seseorang yang tidak disukai atau dibenci dalam jemaat. Mimbar gereja bukanlah tempat pelampiasan amarah, melainkan tempat menyampaikan firman Tuhan dalam kasih.

(2) Tidak menggunakan kotbah sebagai penonjolan pribadi melalui contoh-contoh keberhasilan diri sendiri. Peran pengkotbah adalah bagaikan sebuah jari yang menunjuk kepada Tuhan. Sebab, hanya Tuhanlah yang layak dimuliakan. Mimbar tempat berkotbah memang lebih tinggi, tetapi peran firman Tuhan itulah yang tinggi.

(3) Penggunaan waktu yang tepat supaya tidak terlalu bertele-tele sehingga yang mendengarkan kehilangan perhatian. Lebih baik menekankan beberapa pokok penting dengan penjelasan secukupnya.

(4) Pada saat menyampaikan kotbah, kita harus tetap dalam hubungan dengan Tuhan. Kita tidak sendirian di situ. Allah ada di situ. Karena itu, dalam berkotbah, bukan kita yang terutama menyapa warga jemaat, tetapi kita semua –termasuk pengkotbah—sedang disapa oleh Tuhan.

(5) Setelah selesai berkotbah, kita perlu hati-hati dengan dua godaan. Pertama, merasa tegang atau tertekan karena merasa gagal menarik perhatian umat. Kedua, menjadi sombong karena merasa kotbah yang disampaikan bagus, hebat, dikagumi orang dan sebagainya. Hendaklah kita bersyukur sambil menghayati firman Tuhan yang kita sampaikan.

Thursday, September 4, 2008

EPHORUS HKBP 2008-2012

Ompui Ephorus Dr. Ingwer Ludwig Nommensen:
Iman yang teguh, integritas, pengabdian, kasih agape

Harapan kita para Ephorus sesudah era Nommensen
dengan tulus hati meneladaninya

Dua orang teman saya pendeta baru saja (04/9/2008) mengirim SMS dari ruang Sinode Agung (Seminarium Sipoholon-Tarutung) mengatakan bahwa setelah putaran kedua pemilihan ephorus, Pdt Dr. Bonar Napitupulu mendapat 682 suara dan Pdt Willem TP Simarmata mendapat 585 suara. Dengan demikian Pdt Dr Bonar Napitupulu terpilih menjadi ephorus HKBP 2008-2012.

Beberapa bulan terakhir ini saya mendapat lumayan banyak email, sms dan penuturan langsung dari berbagai pihak yang mengatakan kelemahan dan kekurangan Ephorus Dr Bonar Napitupulu yang tidak perlu disebutkan di sini. Dengan terpilihnya beliau dalam Sinode Godang 2008, seluruh pelayan dan warga jemaat HKBP hendaknya mengedepankan kehendak Tuhan yang menghendaki gerejaNya HKBP hidup dalam damai dan menjalankan misi yang diembankanNya kepada kita. Mari kita dukung dalam doa dan berbagai cara yang lain kepemimpinan Ompui Ephorus Napitupulu.

Harapan kita, sekiranya apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang kelemahan, kekurangan bahkan dosa beliau itu benar, ke depan ini tidak akan terulang lagi. Sekiranya tidak benar, beliau tidak perlu tawar hati dan membalas. Semuanya jelas di hadapan Tuhan, meskipun kita manusia terkadang terluput dari pengetahuan dan penglihatan sesama. Doa dan harapan kita pimpinan HKBP yang terpilih dalam sinode ini diperlengkapi oleh Tuhan dan bersedia senantiasa dipimpin oleh Tuhan, sehingga mereka adalah pimpinan yang memiliki: spiritualitas yang tangguh, moralitas yang teruji, emosi yang sehat, kecerdasan intelektual dan kecerdasan interaksi, serta memiliki kasih agape. Kiranya semua kita, termasuk para pimpinan gereja dapat mengakhiri tugas yang dipercayakan dengan baik (bagaimana mengakhiri kepemimpinan dengan baik, silahkan baca topik finishing well dalam blogspot ini).
Tiga tugas utama seorang Ephorus adalah: (1) Pemimpin spiritual, (2) Pemimpin Pastoral, (3) Pemimpin Liturgis.
***************
Catatan:
Hasil polling pengunjung blogspot ini selama 1 bulan dengan pertanyan: Beberapa syarat kelayakan menjadi pimpinan Gereja adalah ketangguhan spiritualitas, kesehatan emosional, moralitas, kecerdasan intelektual dan kecerdasan interaksi. Sekiranya Saudara ikut memilih Ephorus HKBP saat ini, siapa pilihan Saudara?
Pilihan responden adalah sebagai berikut:
Pdt Dr. Bonar Napitupulu : 11%
Pdt Dr Jamilin Sirait : 04%
Pdt WTP Simarmata, MA : 27%
Yang lain............. : 56%
Terima kasih banyak kepada Anda yang sudah berpartisipasi mengisi polling tersebut.

MEMBERI TANPA MEMPERMISKIN DIRI

Di antara beberapa pasfoto siswa yang membutuhkan
bantuan beasiswa
Update Penerimaan dan Penyaluran beasiswa klik di sini:
Sekiranya ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan kita tanpa membuat kita jatuh miskin, apakah kita bersedia menolong? Konkritnya begini. Banyak di antara kita yang tidak akan jatuh miskin jika kita menyumbangkan Rp. 100.000 rupiah perbulan. Padahal, dengan Rp. 50.000 seorang siswa dapat melanjutkan sekolahnya. Saat ini ada 100 siswa yang membutuhkan pertolongan kita sesuai data dari dua kepala sekolah dan Pendeta HKBP Ressort Parlilitan. Terima kasih yang tulus kepada Bapak dan Ibu yang sudah membantu:

1. Anthon Simangunsong (Singapore) untuk 10 orang -Mulai Ags 08
2. John Sihotang (New York).............. untuk 1 orang - Mulai Ags 08
3. NN (Singapore) ................................ untuk 1 orang -Mulai Ags 08
4. NN (Solo-Jawa Tengah).................. untuk 2 orang - Mulai Sept 08
5. Kel Ramses Butarbutar (S'pore).... untuk 6 orang - Mulai Okt 2008
6. NS (Singapore)................................. untuk 5 orang - Mulai Okt 2008
Masih ada 73 orang lagi yang membutuhkan bantuan
Mohon partisipasi Bapak/Ibu/Sdr untuk ikut membantu

Gambaran Umum Kehidupan Para Siswa

Parlilitan adalah kecamatan yang sangat terpencil sekitar 80 Km dari Siborongborong. Beberapa dari desa-desanya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari ibu kota kecamatan.

Semua orangtua ke-100 siswa ini adalah petani yang rata-rata penghasilan dibawah Rp. 200.000/ bulan. Banyak juga di antara mereka yang sudah tidak punya ayah. Sedihnya, walaupun orangtua mereka petani, tetapi mereka masih harus membeli beras karena produksi padi mereka tidak memenuhi kebutuhan mereka selama setahun. Umumnya mereka masih memakan singkong sebelum makan sedikit nasi pada siang dan malam hari.

Beberapa dari siswa yang lebih dari 100 orang ini datang dari desa-desa kecamatan Parlilitan yang terpaksa kost di Parlilitan dan ada pula yang harus menempuh 8-12 km berjalan kaki pulang pergi ke sekolah tiap hari. Mereka yang kost biasanya hanya memberikan beras kepada tempat kost mereka dengan catatan mereka harus bekerja sesudah jam sekolah membantu pemilik rumah, seperti mencangkul di ladang atau mencari kayu bakar.

Tujuan

Yesus menghendaki semua pengikutNya saling mengasihi. Firman Tuhan juga berkata, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat.25:40). Pemberian beasiswa ini adalah merupakan salah satu wujud kehidupan yang saling mengasihi.

Dengan Rp. 50.000 per orang/ bulan, memang belum bisa menyelesaikan persoalan mereka. Tetapi, bantuan ini setidaknya dapat meringankan beban mereka, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Pengorganisasian:

Daftar nama ini dibuat atas kerjasama Pendeta dan Majelis HKBP Ressort Parlilitan dengan kedua kepala sekolah SMP Negeri 1 Parlilitan dan SMA Negeri 1 Parlilitan. Mereka memilih dari antara siswa yang paling membutuhkan bantuan.

Pengelolaan:

Program ini digagasi dan dimulai oleh Bapak Sahat Gultom dan sudah berlangsung 1 tahun 6 bulan untuk kelompok I. Yang 100 siswa ini adalah tahap II, yang karena kesibukan Bapak Gultom, pengirimannya dilakukan oleh Tima Warni Pangaribuan dengan internet banking ke rekening Tober Stanley Ritonga-Medan untuk diteruskan ke rekening Sekolah/ penyalur beasiswa (yang belum dapat menerima transfer internet banking).

Pihak Sekolah mengirimkan bukti penyerahan beasiswa kepada Tim dan akan diteruskan kepada setiap donatur secara berkala.

Donatur dapat mentransfer bantuannya ke rekening berikut (dengan memberi tahu nama pengirim ke tinambunanvt@yahoo.com ):

TIMA WARNI PANGARIBUAN
BCA Cabang Pematangsiantar
No. Rek. 8200082541

Atau ke

VICTOR TINAMBUNAN
OCBC Bukit Timah Branch - Singapore
Acc. No. 518-1-034926

Tuesday, September 2, 2008

FINISHING WELL


Dr. David Wong dalam bukunya “FINISHING WELL” menguraikan secara gamblang bahwa para tokoh di dalam Alkitab dan tokoh dalam sejarah peradaban manusia lebih banyak yang mengakhiri tugas panggilannya dengan tidak baik. Banyak dari antara mereka yang memulainya dengan baik, mengemban tugasnya dengan baik, tetapi mengakhirinya dengan tidak baik.

Tiga godaan terbesar yang membuat seorang pemipin tidak mengakhiri jabatannya dengan baik adalah:

1. Power (kekuasaan). Pemimpin merasa tidak perlu memberi pertanggungjawaban, menjadi sombong karena pencapaiannya, menggunakan kuasanya ‘menekan’ oang lain dan sebagainya.
2. Sex. Banyak yang terjatuh dalam dosa seksual. Mengapa? Menurut Wong, salah satu penyebabnya adalah karena hidup sudah lebih senang, keadaan ekonomi lebih mapan, lebih banyak mendelegasikan tugas, sehingga waktu luangnya terisi memikirkan yang bukan-bukan. Contoh yang ia ambil adalah Daud.
3. Uang. Banyak pemimpin yang tidak bersih dari korupsi, mulai dari hal-hal kecil, seperti penggunaan fasilitas lembaga untuk urusan pribadi (prangko, kertas, telepon, mobil dsb milik lembaga dipakai untuk kepentingan pribadi), hingga korupsi uang besar-besaran.

Dalam ceramahnya tgl 29 Agustus 2008 dalam sebuah Seminar yang diprakarsai oleh Haggai Institute, Wong mengatakan bahwa intinya adalah soal ‘integritas’ –menyatunya kata dan perbuatan.

Kita semua adalah pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan. Apakah kita dapat mengakhiri tugas kepemimpinan kita dengan baik? Masih ada kesempatan. Mulai dari hal-hal kecil. Mulai sekarang. Kiranya semua keluarga finishing well, tidak kandas di tengah jalan. Semua perkumpulan gerejawi finishing well, tidak timbul percekcokan. Semua proyek kemanusiaan yang kita emban finishing well, tidak macet karena faktor kedirian.

Saya merekomendasikan buku tersebut di atas dibaca oleh setiap orang, tidak terkecuali para pemimpin dan pelayan Gereja.

Monday, September 1, 2008

SEMINAR HAGGAI INSTITUTE

Peserta, Faculty dan Panitia Seminar
Haggai Institute, 28-30 Agustus 2008
di YMCA Singapore

Haggai Institute menyelenggarakan seminar selama tiga hari (28-30 Agustus 2008) bertempat di YMCA Singapore. Tema-tema yang dibicarakan adalah Penginjilan melalui kata, sikap dan keteladanan, Integritas, 'goal setting' yang disampaikan oleh para faculty: Maimunah Natasha, Benny Siswanto, Dr David Wong. Ketua panitia seminar, Bapak Christov Wiloto, mengungkapkan kesan positifnya melihat seluruh peserta begitu bersemangat dalam mengiktui seluruh rangkaian seminar. Para peserta juga merasakan betul manfaat seminar ini meneguhkan komitmen mengemban amanat Tuhan Yesus.

Di antara peserta adalah 3 orang pendeta HKBP (Pdt Jerry Aruan, Pdt Gidion Siahaan dan Pdt Victor Tinambunan), seorang pendeta GKPS (Pdt Paul Ulrich Munthe); hadir juga St Sabar Butarbutar (HKBP Singapura) dan teman-teman seiman dari gereja lain.

Silahkan Bapak/Ibu/Sdr luangkan waktu mengikuti seminar serupa yang diadakan oleh "Hagagai Institute" pada tgl 10-15 Nopember di Singapura. Materi seminarnya adalah:

1. Kewajiban, Urgensi & Metode Penginjilan

2. Effective Leadership

3. Leaders & Family

4. Integrity

5. Stewardship

6. Communications

7. Majority

8. Goal Setting

Monday, August 25, 2008

JABATAN GEREJAWI

JABATAN GEREJAWI:
Pelayan bukan Pegawai Agama

(Acuan: Matius 9:35:38)

(1) Melihat, Merasakan dan Melayani Bersama Tuhan

Sejak dulu, Allah menyatakan kepedulian-Nya pada hidup umat manusia. Allah berfirman, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir,…Aku tahu penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka…” (Kel 3:7-8).

Kita mengaku bahwa Allah tidak bergerak sesudah kita bergerak. Ia sudah mendahului. Tugas kita adalah melibatkan diri dalam pekerjaan-Nya. Itupun adalah karena anugerah-Nya yang melayakakan kita.

Yesus juga telah menyatakan kepedulianNya pada umat manusia dengan mengelilingi kota dan desa. Kini, dari tempat kita berada sekarang, di mana kita juga dalam penyertaan Yesus, hati kita dapat melihat keadaan dunia yang sedang mengalami kegalauan, penderitaan, penindasan, ketidakadilan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (ayat 36), tetapi orang sering tidak menyadari bahwa Yesus menghendaki agar mereka selamat dan lepas dari segala yang membelenggu mereka.

Rencana penyelamatan Yesus masih tetap berlangsung, tetapi Ia membutuhkan keterlibatan kita. Ia membutuhkan kita untuk membuat pekerjaan-Nya nyata melalui tindakan dan pelayanan kita. Ini adalah anugerah yang sangat berharga bagi kita. Karya nyata kita menolong mereka yang mendapat perhatian-Nya dengan kasih dan kepedulian adalah wujud perluasan kerajaan-Nya di dunia ini.

Kita percaya bahwa Yesus juga mengelilingi kota dan desa hingga hari ini. Mereka yang merindukan pelayan yang baik dan setia, juga mereka yang sudah jauh dari kawanan domba oleh karena bermacam penggoda. Ke tengah-tengah mereka kita diutus. Akan tetapi, Dia sudah lebih dulu di sana. Dia yang mengutus, Dia juga yang menantikan kita di sana, sekaligus Dia yang memimpin perjalanan kita ke sana. Yesus bersama kita. Dia sendiri yang memimpin. Setiap kali Ia mengutus, Ia selalu menyertai. Ia memberi jaminan, “ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

(2) Bersama Yesus Mengalahkan Pencobaan

Pekerja-pekerja untuk tuaian itu (ay at 38) adalah yang hidup oleh, dalam, dan dari Tuhan, sang Pemilik tuaian itu. Pelayan yang hidup oleh dan dalam Injil! Hidup dari Injil saja, membuat kita tidak lebih dari sekadar pegawai-pegawai agama yang mencari nafkah dari tugas pelayanan kita. Tetapi kita terpanggil hidup oleh dan dalam Injil, dimana hidup kita tergantung sepenuhnya dan berpadanan dengan kehendak Tuhan.

Kesetiaan kita akan panggilan mewujud dalam rasa haus kita untuk bersahabat dengan firman Tuhan. Kita akan membaca dan menggunakan Kitab Suci dengan niat yang suci pula. Sebab, tidak sedikit orang menyalahgunakan ayat-ayat Alkitab untuk mempermulus pemenuhan keinginan kedagingannya dan target rancangan sendiri.

Hidup itu sebenarnya sederhana dan mudah, serta penuh dengan kegembiraan. Hidup terasa sulit jika hanya dikuasai oleh ilusi, ambisi, cinta diri, gengsi, keserakahan, dan keliaran pikiran. Semuanya ini membuat kita kelelahan dalam berpikir dan bergerak. Tetapi keletihan seperti itu, yang serta merta diikuti dengan pudarnya semangat dan depresi bukanlah tanda-tanda bahwa kita melaksanakan kehendak Allah. Kehendak Allah terjadi dalam hidup kita ketika kita hidup dalam suasana kegembiraan rohani dan membuahkan buah-buah Roh.

Seringkali kita mengejar keinginan atau hasrat tertentu, padahal pada saat itu juga Allah mempunyai rencana yang sama sekali berbeda dari rencana kita. Kita dapat menyebut dua frustrasi utama yang mungkin terjadi dalam pelayanan, yakni: ‘waktu’ dan ‘tempat’. Barangkali ada saatnya dimana seorang pelayan merasa terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Mungkin juga seorang pelayan merasa mendapat (yang diinginkan) terlalu sedikit dalam waktu yang terlalu lama. Frustrasi ‘tempat’, misalnya, seorang pelayan terus menerus membayangkan berada di tempat lain ketika ia berada pada suatu tempat pelayanan. Atau, ketika seorang pelayan begitu senang dan betah pada suatu tempat tertentu, sehingga tidak mengharapkan berada di tempat lain. Berada di tempat lain, mungkin dianggap sebagai suatu kehilangan; dan bagi banyak orang, kehilangan bisa diangap sebagai suatu “kematian kecil”.

Dalam keadaan demikian, kita bisa tergoda mempersalahkan orang dan situasi. Padahal, selama kita masih percaya bahwa tindakan orang lain merupakan penyebab kesulitan kita saat ini, kita tidak akan berdaya untuk berubah. Dengan berusaha untuk tidak menyalahkan orang, kita bertanggungjawab terhadap hidup dan diri kita sendiri. Kita juga dapat menyerahkan rasa sakit hati kita pada sebuah altar dan memasrahkannya kepada Tuhan, sehingga diri kita dan orang lain bebas dalam rahmat Tuhan.

Bersama dengan Dia kita akan mampu menyisihkan keinginan hanya untuk sesuatu yang lebih tinggi nilainya. Dalam hal ini kita benar-benar membutuhkan pimpinan Tuhan.

(3) Pertolongan Tuhan dalam Ketidaklayakan Kita

Menanggapi panggilan Tuhan, Yeremia mengatakan, “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara”. Tetapi, Allah berfirman kepada Yeremia, “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:6,9)

Bukankah ini sebuah rahmat yang amat berharga? Jadinya, bukan keahlian kita berbicara yang menjadi andalan. Tetapi oleh pengurapan Tuhan, mulut kita yang sangat manusiawi dan terbatas ini dipakai sebagai alat pemberitaan firman-Nya.

Dengan demikian, andalan kita bukan ijazah kesarjanaan, pemahaman teologi, kemampuan analisis sosial (meski semua kita butuhkan) tetapi yang terpenting adalah iman, kasih, pengharapan yang mewujud dalam komitmen, penyerahan diri dan kesucian hidup.

Mungkin saja kita melihat diri amat kerdil berhadapan dengan tugas raksasa yang terbentang di depan dan tantangan yang mungkin saja menghadang. Kita bisa menjadi amat getir dan tawar hati ketika dihantui rasa khawatir akan penerimaan orang lain, khawatir akan menghadapi 'orang-orang sulit', mengeluh soal jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan, bekal jasmani yang mungkin tidak tercukupi, dan sebagainya. Kita perlu menyadari dan mengakuinya dan tidak menekan perasaan tentang semua itu. Sebab, hidup yang tidak disadari tidak layak dijalani. Yang jauh lebih penting adalah meletakkannya di altar sebagai persembahan kita kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan melihatnya, bahkan Ia mengetahuinya jauh lebih baik daripada kita, sebab Ia sudah lama berada di tempat di mana kita melayani.

Tuhan jauh lebih besar dan dahsyat dari segala kekuatan yang ada. Hanya saja, Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis tidak takut kepada kita. Iblis takut dan takluk pada Kristus yang rela tinggal di dalam diri kita.

(4) Hubungan Pelayan dan Umat: Sesama Milik Tuhan

Kebajikan akan hadir sejauh kita menyertakan kepekaan kita akan kehadiran Tuhan dan kehendak-Nya untuk menilai apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Bila ini yang mendasarinya, maka di sana ada ketaatan sejati dalam mengemban tugas pelayanan kita. Dan semangat pelayanan yang sejati itu akan terungkap dalam kehangatan, keterbukaan dan keterlibatan hidup. Sedangkan kelobaan mendatangkan kebosanan, sinisme, isolasi dan cinta diri.

Kita adalah pelayan umat, tetapi mereka bukanlah tuan kita. Kita tidak terpanggil pertama-tama menuruti dan menyenangkan hati jemaat tetapi pertama dan terutama berbuat yang berkenan kepada Tuhan. Kepada kita dipercayakan melayani domba-domba gembalaan Tuhan, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan orangtua; yang sehat, lemah bahkan sakit; yang miskin dan yang kaya; dan dengan seluruh keberadaannya. Kepada kita dipercayakan tugas menyaksikan Injil dalam kata dan kehidupan konkret. Jika kotbah kita mau hidup, kita mesti menghidupi apa yang kita kotbahkan. Biarlah melalui hidup dan pelayanan kita Allah dipermuliakan dan umat diselamatkan. Kita menjalaninya dengan iman yang teguh bahwa Tuhan dekat.

Sunday, August 10, 2008

KARAKTER PELAYAN

Siapa pelayan itu jauh lebih penting daripada apa yang dapat dia lakukan. Sebab, siapa dia memberi kekuatan kepada apa yang ia lakukan. Dalam hal ini, ‘karakter’ adalah salah satu dari beberapa hal penting bagi setiap orang yang terlibat dalam pelayanan gereja. Pelayanan tanpa karakter hanyalah ‘aktivitas keagamaan’ atau malah ‘bisnis religius’.

Pendeta, misalnya, membutuhkan sikap seorang pelayan tetapi ia harus selalu ingat bahwa ia melayani Kristus melalalui pelayanan Gereja. Jika ia tidak melayani Kristus, ia akan menyakiti sebagian warga jemaat dan menyenangkan hati sebagian lagi --khususnya mereka yang memenuhi keinginannya.

Bagaimana pendeta meningkatkan hidup spiritualnya? Warren W. Wiersbe and David W. Wiersbe menawarkan yang berikut ini:

  1. Pendeta perlu mengembangkan keheningan (apa saja pun namanya seperti meditasi, kontemplasi, saat teduh dan lain-lain). Kehidupan ibadah merupakan bagian penting dalam pembangunan karakter.

  2. Terhubung dengan suatu tradisi yang baik seperti Benedictus, Franciskus Asisi, Spiritualitas Lutheran dan sebagainya.

  3. Menguji kehidupan spiritualitasnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan penting, misalnya:
  • Apakah saya melayani dengan iman atau saya menentukan sendiri apa yang harus dicapai?
  • Apakah ibadah pribadi saya sungguh-sungguh hidup dan penuh sukacita, atau hanya sesuatu yang rutin saja?
  • Apakah keluarga saya menerima dan mendukung pelayanan atau apakah ada ketegangan. Apakah saya memberi gambaran negatif tentang keadaan pelayanan? Apakah mereka melihat saya bergembira atau betah dalam pelayanan?





Wednesday, July 30, 2008

ALLAH DAN INDONESIA


Renungan 63 Tahun Republik Indonesia
Agustus 1945-Agustus 2008


Kata ‘dan’ dalam judul di atas perlu mendapat perhatian kita secara khusus. Ada kalanya kata ‘dan’ berfungsi untuk menyatakan sesuatu yang amat bertolak belakang seperti madu dan racun. Ia juga menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain seperti iman dan pekerjaan baik, suami dan istri, dan sebagainya.

Allah dan Indonesia menunjukkan sesuatu yang tidak terpisahkan sedikitnya dengan tiga alasan utama dalam terang iman kristiani. Pertama, ketika Allah menciptakan langit dan bumi (seperti disebut dalam Kej. 1) bumi Indonesia termasuk di dalamnya. Meskipun Indonesia terbilang ‘tertinggal’ dalam berbagai hal, itu tidak berarti bahwa Allah menciptakannya di kemudian hari atau terpisah dari belahan bumi yang lain. Kedua, orang-orang Indonesia adalah ciptaan Allah juga. Setiap warga bangsa Indonesia –terlepas dari perbedaan suku bangsa, ras, agama, partai politik-- berasal dari nenek moyang yang sama: Adam dan Hawa, yang diciptakan oleh Allah. Itu berarti bahwa tidak ada alasan pembenaran rasa superioritas yang satu terhadap yang lain. Sesungguhnya kita semua adalah satu keluarga dan sesama saudara di dalam Allah, Pencipta dan Bapa kita. Ketiga, pemeliharaan Allah tidak pernah berhenti sejak penciptaan. Kehidupan yang ada di bumi Indonesia dan kehidupan setiap warga bangsa Indonesia adalah bukti nyata bahwa pemeliharaan Allah masih terus berlangsung hingga hari ini. “Bumi dan segala isinya adalah milik Allah” (Mzm. 24:1).

Dengan demikian, ‘Allah dan Indonesia’ mengandung pesan: ingat Indonesia, ingat penciptaan, pemeliharaan dan pemilikan Allah atas Indonesia. Dengan kesadaran demikian, sebagai orang yang percaya kepada Allah kita hendaknya seirama dengan gerak Allah yang mengasihi dan memelihara kehidupan bangsa Indonesia dengan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita.

Pertanyaan yang mungkin mengemuka ialah, “Kalau Allah adalah pemilik Indonesia dan Ia mahakuasa, mengapa Ia membiarkan penderitaan dan aneka persoalan kehidupan silih berganti menerpa Indonesia?” Pertanyaan yang salah! Yang benar adalah jawaban kita atas pertanyaan Allah kepada kita semua, “Mengapa persoalan kehidupan melilit bangsa Indonesia, padahal Aku telah menganugerahkan pengetahuan, kemampuan dan berkat melimpah untuk Indonesia?” Artinya, daripada ‘menggugat’ Allah, mestinya kita dengan rendah hati memeriksa hidup kita.

Yang merusak, yang menghujat, yang menyakiti, yang mengkambinghitamkan Indonesia sudah lumayan banyak. Kita tidak perlu menambahnya lagi. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak yang memberi harapan, dukungan dan pertolongan nyata. Dengan pertolongan Tuhan, mari kita lakukan sesuatu memberi uluran hati dan uluran tangan dengan apa yang kita miliki, seperti waktu (mendoakan, melakukan studi, mengunjungi), bakat atau talenta (menjadi tenaga sukarela, menyumbangkan tulisan-tulisan yang mencerahkan), memberi bantuan materi (beasiswa kepada mereka yang terancam putus sekolah, yang menderita kelaparan). Singkatnya, bagaimana agar hidup kita secara pribadi maupun persekutuan jemaat menjadi garam dan terang bagi bangsa Indonesia.

Saat ini, di hadapan Tuhan, mohonlah pimpinanNya untuk mengetahui pelayanan apa yang hendaknya Saudara lakukan sebagai wujud pemberitaan Injil khususnya untuk bangsa Indonesia. Mohon pastikan juga bahwa itu bukan ambisi, sekadar hobbi atau keinginan ego kita untuk memamerkan kesalehan dan kedermawanan, tetapi benar-benar merupakan panggilan Tuhan. Marilah kita nyatakan janji kita di hadapanNya untuk melakukannya demi kebaikan sesama dan demi kemuliaanNya. Semua itu kita lakukan dengan sukacita. Sebab, kita percaya bahwa Tuhan yang mengutus kita untuk melayani, Ia juga yang tetap menyertai kita bahkan sampai akhir zaman. Amin.

Wednesday, July 23, 2008

PIMPINAN HKBP 2008-2012

Keteladanan bukanlah salah satu syarat menjadi pemimpin,
tetapi satu-satunya syarat


************
Leaders in the church must not only be good managers,
but more importantly good followers of Christ
who have a good understanding of the biblical perspective.
Sound management and sound theology must go together
(Robert M. Solomon, Bishop Gereja Methodist Singapura)




HKBP akan melangsungkan Sinode Agung September 2008 mendatang. Salah satu agenda sinode adalah memilih Pimpinan HKBP yang baru. Memang, masa depan HKBP tidak sepenuhnya tergantung pada siapa pimpinan HKBP 2008-2012. Seluruh pelayan dan warga jemaat HKBP hendaknya dengan rendah hati tunduk di kaki salib Kristus memohon pengampunanNya, bertobat dan siap sedia dipimpin oleh Tuhan.

Sudah lama saya mengusulkan agar cara pemilihan pimpinan HKBP dilakukan dalam suasana ibadah --agak mirip dengan pemilihan Paus. Pendeta tidak perlu berkampanye atau membentuk tim sukses seperti yang sudah agak membudaya saat ini. Tetapi, kita perlu kesabaran. Semoga ada saatnya tata cara pemilihan pimpinan HKBP lebih bercorak gerejawi tidak seperti cara-cara 'pilkada' yang marak saat ini. Jadi, untuk saat ini kita perlu realistis dalam artian menjalani sistem yang sudah dianut oleh HKBP. Khusus mengenai pemilihan pimpinan HKBP pada sinode mendatang, perkenankanlah saya mengungkapkan beberapa harapan berikut ini.

1. Seluruh jemaat HKBP (baik dalam persekutuan maupun perorangan) dan saudara-saudara seiman yang bukan HKBP, kiranya berkenan mendoakan peristiwa gerejawi penting ini. Kiranya kehendak Tuhan menjadi kehendak kita semua. Memang ada yang pesimis terhadap calon-calon yang ada. Tetapi, sebagai orang percaya kita hendaknya selalu berpengharapan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki cukup kemampuan melakukan kehendak Tuhan. Sebagai umat beriman, kita percaya dan berpengharapan akan karya Tuhan. Di samping mendoakan, kita semua dapat memberi gagasan dan terutama keteladanan dalam rangka memperbaiki HKBP.

2. Kiranya Tuhan sendiri yang sungguh-sungguh menjadi tempat bertanya pertama dan terutama bagi para utusan sinode -yang dipercayakan untuk mengemban tugas panggilan ini-- dalam seluruh proses persiapan, pengambilan keputusan dan penutupan Sinode tersebut. Sama seperti para rasul dalam pengambilan keputusan dengan prinsip "Sebab, adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami...." (Kis. 15:28), menjadi prinsip seluruh peserta sinode juga.

3. Kiranya para calon pimpinan yang sudah dipilih di distrik-distrik mendapat hikmat, kekuatan dan kesehatan dari Tuhan. Dengan hikmat dari Tuhan itu, mereka boleh lebih mengutamakan yang Tuhan utamakan. Dalam kehidupan keseharian, ada kalanya orang lebih siap 'menang' ketimbang siap untuk 'kalah'. Yang indah dalam kehidupan bergereja ialah bahwa gereja bukanlah arena perlombaan atau pertandingan berkaitan 'kalah' dan 'menang'. Gereja adalah persekutuan umat yang dimenangkan oleh Tuhan hanya oleh anugerahNya. Semua memang berlomba berbuat baik, tidak untuk sebuah medali dan tropi melainkan karena bagian integral dari iman.

4. Semoga calon Ephorus dan calon Sekretaris Jendederal dapat dan berkenan bertemu dan berdoa secara bersama-sama. Kalau tidak memungkinkan berkali-kali, paling tidak sekali saja sebelum pemilihan. Lebih baik juga jika ada yang memfasilitasi dan mendampingi seperti beberapa pendeta dan warga jemaat. Di sana mungkin tidak perlu ada penyampaian visi dan misi masing-masing calon, tidak ada khotbah, tidak ada kata sambutan dan sebagainya. Yang ada hanyalah nyanyi, baca Alkitab dan doa. Dan semuanya calon memiliki satu komitmen, bahwa dalam proses persiapan sampai akhir sinode mereka akan megedepankan kehendak Tuhan dan menjaga keutuhan HKBP.

"Ya Tuhan, Engkaulah yang mendirikan dan memiliki HKBP. Engkau mengasihi gerejaMu dan umatMu. Kami mengucap syukur atas semuanya ini. Rasa syukur ini akan kami nyatakan melalui kehidupan kami yang selalu mengedepankan kehendakMu". Amin

Wednesday, July 16, 2008

PEMIMPIN

Seorang raja yang usianya sudah menjelang ‘senja’ mengumumkan akan berlangsungnya pemilihan pengganti raja. Setelah semua para kandidat berkumpul, raja mengumumkan prosedur pemilihan dan penetapan pemenang, yakni: kepada siapa kupu-kupu --yang dipersiapkan secara khusus—hinggap, maka dialah yang akan menggantikan raja. Kupu-kupu dilepas dan terbang di sekeliling para kandidat. Ada beberapa kandidat yang menjulurkan kepalanya agar kupu-kupu berkenan berpihak kepadanya dan mau hinggap kepadanya. Bahkan ada yang lebih agresif dengan mengejar kupu-kupu sambil mengulurkan tangan kepada kupu-kupu. Akan tetapi, makin didekati, makin menawarkan diri, justru kupu-kupu itu makin menjauh. Di antara keramaian kandidat dan pengunjung, ada seorang sederhana yang duduk dengan tenang, yang terluput dari perhatian khalayak. Kupu-kupu itu hinggap persis di kepalanya. Ia pun ditetapkan menjadi raja.

Cerita di atas terbuka untuk ditafasir dan diambil maknanya. Yang jelas, sekarang ini kita tidak dapat meminta bantuan kupu-kupu untuk memilih seorang pemimpin. Setiap lembaga, organisasi dan kelompok masyarakat memiliki tata cara pemilihan dan penetapan pemimpinnya masing-masing.

Dewasa ini banyak jabatan kepemimpinan yang menjadi ajang perebutan yang tidak jarang berujung pada keributan. Mengapa? Barangkali jabatan kepemimpinan dianggap sebagai kendaraan menuju sebuah cita-cita pribadi. Untuk mencapainya para calon pemimpin dengan teganya menghalalkan semua cara dan saling menjatuhkan. Para pengikut pun juga ikut-ikutan. Sebenarnya, semangat untuk menempati sebuah jabatan kepemimpinan tidak salah pada dirinya. Yang penting ialah motivasi yang benar dan komitmen yang teguh.

Dalam konteks kepemimpinan gerejawi, ujian pertama yang perlu dijawab setiap orang yang ingin menjadi pemimpin ialah, apakah itu suatu panggilan Tuhan atau sekadar desakan pemenuhan keinginan pribadi. Kepemimpinan atas dasar panggilan akan terawat dan menjadi berkat, kepemimpinan yang digerakkan ambisi pribadi sifatnya keropos dan boros.

Bagi kita yang dipercayakan dan diutus ikut dalam pengambilan keputusan, mohon ijinkan suara Tuhan memandu untuk menentukan pilihan.

Tuhan, Engkau telah memberikan diriMu
Kini kami memempersembahkan hidup kami kepadaMu melalui pelayanan terhadap sesama
KasihMu telah menjadikan kami manusia baru
Sebagai umat yang Kaukasihi, kami akan melayani Engkau dengan sukacita
KemuliaanMu telah memenuhi hati kami
Tolong kami memuliakan Engkau dalam segala hal. Amin.


Soli Deo Gloria - Kemuliaan hanya bagi Allah.
Victor Tinambunan

"Remember that it is far better to follow well than to lead indifferently. ~ John G. Vance"

Thursday, July 10, 2008

KETIKA PERUBAHAN TERJADI....


Berikut ini adalah dialog antara seorang istri yang memandangi wajahnya di cermin dengan suaminya yang membaca buku renungan harian.


Istri : Pa, sudah ada bercak-bercak hitam di wajahku
Suami : Yang penting wajahmu masih ada Sayang........
Istri : Aduuuh Pa, bukan hanya itu, ubanku sudah mulai
banyak.
Suami : Masih lebih baik kan Ma, masih ada yang bisa dicat.... bagaimana kalau botak?
Istri : Papa ‘gak ngerti. Malu kan? Muka ini ditaruh di mana?
Suami : Lho, selama ini mama taruh di mana?
Ma, yang penting hatimu dan wajahmu masih ada.....
Papa tidak mencintai wajahmu dan rambutmu, tapi
mencintai dirimu.


Wednesday, July 9, 2008

KHASIAT PENGAMPUNAN

Rasa benci kita terhadap musuh lebih banyak
melukai kebahagiaan kita daripada kebahagiaan mereka.

Kasihiliah musuhmu, sebab mereka menyatakan
Kelemahan-kelemahanmu.
(Benjamin Franklin)


Dari pengalaman kita ketahui begitu banyaknya orang yang amat sulit mengampuni, apalagi kalau kesalahan orang lain lebih dari sekali atau lebih lagi kalau sudah berkali-kali. Untuk membenarkan diri ada orang yang mengatakan, “saya ini manusia, kesabaran ada batasnya!” Hal ini tercermin dari sebuah lagu yang kata-katanya kurang lebih seperti ini: “Satu kali kau sakiti hati ini masih kumaafkan. Dua kali kau sakiti hati ini juga kumaafkan. Tapi jangan kau coba tiga kali…” Kata “masih kumaafkan” untuk dua kali pertama makin menegaskan bahwa kesalahan ketiga kali tidak ada maaf lagi.

Akan tetapi, Yesus menegaskan bahwa mengampuni bukan hanya tujuh kali tetapi tujuh kali tujuhpuluh kali (Mat 18:22). Dua hal penting dapat disebutkan berdasarkan firman Tuhan ini. Pertama, ini tidak terutama menyangkut jumlah angka 490, tetapi tujuh kali tujuh puluh kali berarti bahwa mengampuni itu tidak ada batasnya. Kedua, ini ditujukan kepada manusia –termasuk kita sendiri. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa memang ‘pengampunan’ adalah salah satu pengajaran dan tindakan yang paling sulit dalam kekristenan, tetapi mengandalkan rahmat Tuhan, hal itu dapat kita lakukan.

Meskipun demikian sulit, namun hendaknyalah pusat perhatian bukan pada tingkat kesulitannya melainkan pada Kristus yang sudah melakukannya. Sesungguhnya, dosa-dosa kita tidak terhitung jumlahnya baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Jika kita menghendaki Tuhan mengampuni kita, mestinya kita juga dengan tulus hati bersedia mengampuni orang lain. Hal ini jelas sekali dalam doa yang diajarkan oleh Yesus di antaranya, “ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.

Pada kesempatan lain Tuhan Yesus berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka” (Matius 7:12). Itu juga berarti, jika kita mengharapkan orang lain mengampuni kita, kita hendaknya juga bersedia mengampuni orang lain. Dalam hal ini La Rochefoucauld benar ketika ia mengatakan, “Jika kita tidak mempunyai kesalahan-kesalahan, kita tidak akan merasa senang memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain”.

Perlu kita sadari bahwa sudah ada begitu banyak kebencian di dunia ini, oleh karenanya kita tidak perlu menambahkannya lagi. Ini perlu untuk terciptanya damai sejahtera di bumi dan termasuk untuk kebaikan diri kita sendiri juga. Sebab, rasa benci kita terhadap musuh lebih banyak melukai kebahagiaan kita daripada kebahagiaan mereka.[1] Celakanya, ada pula yang kita benci itu malah sudah meninggal dunia, tetapi kebencian kita tidak kunjung mati.

Kata resentment (sakit hati) berasal dari bahasa Latin resentir –yaitu merasakan berulangkali. Dengan merasakan kebencian masa lampau berulangkali, kita akan tersiksa sendiri. Setiap kali kita memikirkan mereka yang tidak kita ampuni, kita kehilangan enerji. Peneliti Jerman RG Hamer (sejak 1979) mengumpulkan data lebih dari 10.000 pasien penderita kanker. Ia menemukan bahwa kanker biasanya dipacu oleh sebuah konflik atau shock, dipadu dengan ketidakmampuan mengungkapkannya atau tidak ada orang yang bersedia mendengarkan (Dr Lai Chiu Nan). Dalam hal ini Bloch dengan tepat menasihatkan, “Serahkan rasa sakit hati Anda pada sebuah altar dan pasrahkan kepada Tuhan. Biarkan diri Anda dan orang lain bebas.”[2]

Mengasihi diri, bukanlah dosa. Mengasihi diri berbeda dengan selfish (mementingkan diri sendiri). Salah satu bagian dari ‘mengasihi diri’ adalah mengampuni. Sebab, mengampuni adalah untuk kebaikan diri kita sendiri dan orang lain. Karena itu, jangan kita biarkan hal-hal buruk termasuk perbuatan orang lain menghancurkan hidup kita. Biarkan peristiwa menyakitkan yang kita alami kian memperdalam hikmat dalam hati kita. Sesungguhnya, pengampunan menyembuhkan memori kita sekaligus membebaskan kita dari belenggu permusuhan. Singkatnya, “kesabaran” terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri perlu kita terapkan setiap hari. Kesabaran adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal 5:22-23).
[1] Terry Hampton dan Ronnie Harper, 99 Cara untuk Makin Bahagia Setiap Hari (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 114
[2] Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 87

Friday, July 4, 2008

TEST TINGKAT KESADARAN

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku.
(Mazmur 139:23)

Sebuah mobil membutuhkan pedal gas untuk bisa maju dan pedal rem untuk tidak melaju. Ia juga membutuhkan kemudi untuk memandu arah. Tetapi, yang paling penting pengemudi harus mengetahui jalan yang harus ditempuh dan sadar betul kapan menekan pedal gas dan kapan menekan pedal rem. Dengan segala keterbatasannya, ini dapat menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Tidak ada keraguan akan pentingnya mengenal dan memahami ‘tingkat kesadaran’ diri sendiri. Wyne Dyer mengelompokkan tiga tingkat kesadaran mulai dari yang terendah hingga tertinggi yakni: tingkat kesadaran ego, kesadaran kelompok dan kesadaran mistis.[1] Pengelompokan ini tetap digunakan disini dengan menyertakan refleksi terhadap setiap tingkat kesadaran itu.

1. Tingkat Kesadaran Ego

Dalam kesadaran ego, penekanan seseorang adalah pada kepribadian dan tubuhnya. Orang yang berada dalam tingkat kesadaran ini banyak menghabiskan waktunya untuk mengukur kesuksesannya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Kalau ia memiliki lebih banyak daripada orang lain, ia merasa lebih enak tentang diri sendiri. Ia sangat peduli dengan piagam penghargaan dan gengsi. Untuk ini ia bersaing dan selalu membandingkan. Ia berusaha memberi kesan kepada orang lain. Tetapi, justru disinilah masalah muncul. Di sinilah kedamaian batin tidak mungkin terjadi, sebab ia harus selalu berjuang untuk berada di posisi lain, ia selalu berlari lebih kencang untuk selalu ‘lebih’ dari orang lain.

Perasaan putus asa, marah benci, pahit, tertekan dan depresi berakar dari kecemasan ego dan sikap berkeras mencapai target yang ia tetapkan sendiri. Ego akan jarang membiarkannya beristirahat dan terus menuntut karena takut disaingi dan takut disebut tidak sukses.

Di samping itu, ia sangat peka dan amat cepat bereaksi terhadap pendapat orang lain. Jika orang lain memujinya (meskipun niat mereka hanya untuk menjilat dan memanfaatkan), ia merasa lebih enak. Ia pun mengobral pujian kepada orang lain, yang sebenarnya hanya mencerminkan keinginannya untuk dipuji dan disanjung. Sebaliknya, kalau ada yang mengkritiknya, ia merasa sakit hati yang sering disertai dengan pembelaan diri sambil balik menyerang.

Bagaimana kehidupannya bergereja? Secara ‘formal’ bisa saja tidak ada masalah. Artinya, ia selalu hadir pada kebaktian Minggu, menghadiri kelompok Pemahaman Alkitab (PA), memberi persembahan secara rutin, menyumbang ke gereja dan sebagainya. Hanya saja, semua ini menjadi sebuah alat untuk memenuhi keinginan sang ego. Ibadah dibelokkan sedemikian rupa untuk memenuhi selera dan keinginan. Mereka mengukur ibadah dengan istilah ‘enak’ atau ‘tidak enak’, ‘semarak’ atau ‘dingin dan sepi’. Jadinya, ibadah tidak ubahnya seperti shopping: memilih sesuai dengaan selera. Betapa sedihnya! Sumbangan mereka kepada gereja bisa saja banyak. Untuk memenuhi selera, mereka menyumbangkan perangkat musik band. Mereka bisa mendapat ‘keuntungan’ dalam bentuk yang lain dari situ seperti: (1) Merasa enak karena sudah merasa ‘menolong’ Tuhan, (2) Merasa enak mendengar musik band, (3) Lebih enak perasaan diketahui orang lain menyumbang ke gereja dan sekaligus mempunyai “SIM” untuk mengkritik orang yang pelit.

Doa-doanya biasanya menyamarkan inti kehidupan bergereja dan sikap hidup kristiani. Doa menjadi pameran kemampuan merangkai kata-kata; doa menjadi tumpukan proposal untuk disahkan oleh Tuhan; doa menggantikan kepedulian dan pertolongan nyata. Berdoa memang menggunakan kata-kata dan sebaiknya diungkapkan dengan baik. Bermohon kepada Tuhan melalui doa adalah bagian dari doa. Mendoakan orang lain juga tugas orang Kristen. Bedanya, doa-doa yang muncul dari ‘tingkat kesadaran ego’ hanyalah memperalat Tuhan dan orang lain untuk kepuasan diri sendiri.

‘Penampilan’ di gereja, mulai dari tempat berkoor (di tempat duduk atau ke depan), isi warta jemaat (apakah mewartakan pelayanan atau si pelayan sendiri), cara memegang uang persembahan ketika memasukkannya ke kantong persembahan (warna uangnya nampak banyak, atau digenggam rapat) sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat kesadaran. Ketika tingkat kesadaran ego yang mendominasi, semua penampilan akhirnya mengarahkan perhatian kepada yang tampil itu sendiri.

Orang dalam tingkat kesadaran ini termasuk orang bermasalah dan juga menimbulkan masalah. Ketika menghadapi suatu penderitaan seperti penyakit misalnya, ia bertanya setengah protes, “mengapa saya menderita seperti ini, padahal saya sudah membangun gereja dan rajin dalam semua kegiatan gereja?”

2. Tingkat Kesadaran Kelompok

Ini ada kemiripan dengan kesadaran ego. Bedanya, ego perorangan ditekan dan masuk dalam ego kelompok. Keanggotaan seseorang didasarkan pada keluarga, warisan, latar belakang rasial, suku, agama, bahasa, pertalian politik dan seterusnya. Di sini orang-orang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompoknya, berjuang sesuai dengan harapan kelompoknya bahkan ada yang sampai berperang. Dalam konteks yang lebih sempit kita bisa lihat dalam kehidupan orang-orang Batak yang masih terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Bahkan, yang satu marga pun masih memiliki kelompok yang berbeda bahkan bermusuhan hingga generasi yang ke-17.

Ciri yang amat kentara dalam kesadaran ini adalah ‘fanatisme sempit’. Artinya, kelompokku paling benar, kelompok lain lebih rendah; kelompok lain sedapat-dapatnya dimanfaatkan untuk kepentingan kelompokku. Kesadaran ego bisa lebih ‘nyaman’ dalam kesadaran kelompok. Sebab, kesalahan kelompok bukan kesalahan saya dan kesalahan saya adalah kesalahan kelompok. Kita bisa melihat peristiwa hancurnya gedung kembar WTC, 11 September dan invasi Amerika ke Irak dalam konteks ini. Sekelompok orang membenci sekelompok orang Amerika, yang korban adalah orang-orang yang kebetulan berada di gedung WTC yang belum tentu satu pun dikenal oleh pelaku penyerangan itu. Sebagian orang Amerika membenci kelompok tertentu di Irak, yang korban adalah juga orang-orang yang tidak bersalah.

Jangankan marga, masyarakat, atau negara, gereja-gerejapun masih banyak yang bercokol dalam tingkat kesadaran ini. Sangat menyedihkan memang. Dalam hal ini gereja-gereja selalu membutuhkan pengampunan. Banyak perselisihan yang terjadi di tengah dan di antara gereja-gereja hanya karena ego kelompok.

3. Tingkat Kesadaran Mistis

Kata mistis perlu diperjelas lebih awal, karena sering kata ‘mistik’ digunakan berkaitan dengan perdukunan dan guna-guna. Kata mistis disini menunjukkan keterhubungan dengan Tuhan, setiap dan semua orang, dan setiap makhluk. Kesadaran mistis tidak melenyapkan kesadaran ego dan kesadaran kelompok, tetapi memberinya tempat yang wajar. Perasaan senang dan perasaan bangga yang terkandung dalam ego dalam batas-batas tertentu sah-sah saja sejauh ia tidak tergelincir pada pengutamaan kesenangan diri sendiri dan kesombongan. Kelompok juga dibutuhkan, bukan sebagai tembok tetapi sebagai pintu menuju persahabatan sejati dengan semua orang.

Merasa terhubung berarti Anda benar-benar merasa bahwa kita semua satu, dan bahwa kekerasan yang ditujukan kepada orang lain sebenarnya adalah kekerasan yang ditujukan kepada diri kita sendiri. Di sini, kerjasama menggantikan persaingan, kebencian dimusnahkan oleh kasih, dan kesedihan dihapus dengan sukacita. Pada tingkat ini Anda adalah anggota ras manusia, bukan kelompok yang lebih kecil. Karenanya, penganut agama Islam seharusnya merasa sedih tatkala orang-orang di WTC itu dibom. Orang-orang Kristen menolak invasi Amerika ke Irak yang memakan begitu banyak korban. Mengapa? Kita melihat manusia bukan berdasarkan agamanya, melainkan kemanusiaannya sebagai yang berharga bagi Tuhan.

Dalam tingkat kesadaran ini, Anda tidak akan menjadi apa yang Anda miliki, apa yang Anda capai, atau yang orang lain pikir tentang Anda. Di sini, doa-doa kita lebih merupakan pengakuan, penyerahan diri dengan mengatakaan “bukan kehendakku, tetapi kehendakMulah yang jadi”. Ibadah bukan lagi menyangkut apakah berkenan di hati saya tetapi apakah berkenan kepada Tuhan; bukan apakah itu menyenangkan hati hati, melainkan apakah itu menyukakan hati Tuhan. Kehidupan bergereja kita, pertolongan kita kepada yang lain, persahabatan kita adalah wujud kasih kita kepada Tuhan, sesama manusia, diri kita sendiri dan seluruh ciptaan Tuhan. Kebahagiaan sejati hanya ada disitu. Para rahib sering disebut sebagai mistikus karena mereka tidak melekat pada milik, pencapaian dan pendapat orang terhadap mereka.

Mungkin Anda bertanya, “Jika demikian, bukankah hidup ini jadinya monoton dan membosankan?” Untuk menjawabnya adalah pertanyaan juga, yaitu, “Anda membandingkan dengan apa? Bukankah pertanyaan itu lahir dari tingkat kesadaran ego?”

Dari dua miliar lebih orang Kristen di bumi ini, berapa orang yang memiliki tingkat kesadaran seperti ini? Tidak ada yang tahu. Lagi pula, dalah hitungan hari seseorang bisa saja berpindah dari tingkat kesadaran yang satu ke yang lain. Yang jelas, Anda dan saya dapat ‘mendaftarkan’ diri dan masuk dalam tingkat kesadaran ini. Syaratnya sangat sederhana: hanya kesediaan kita –tidak perlu IC/KTP, tidak perlu rekomendasi dari pimpinan gereja dan tanpa uang pendaftaran. Allah senantiasa bersedia menyambut kita bersatu dengan-Nya dan di dalam Dia kita bersatu dengan semua orang. Firman Tuhan ini pun akan terwujud dalam kehidupan kita:

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi….”
(Lukas 2:14)

Selamat memasuki ‘tingkatan’ baru: ‘tingkat kesadaran mistis’.

[1] Wayne Dyer, 10 Secrets for Success and Inner Peace, terj. (Jakarta: Gramedia, 2005), 86-92.

KEL. DRS. ANTHONI TINAMBUNAN




Keluarga Drs Anthoni Tinambunan/ Nermi br Simanungkalit, tinggal di Pekanbaru-Riau bersama anak-anak Nevi, Si Kembar: Edo dan Edi.

Foto-foto ini diambil selama perjalanan mereka ke Malaysia dan Singapura awal Juli 2008.
Anthoni Tinambunan sejak masuk SD hingga mau memasuki SMA 'berjanji' akan memasuki Sekolah Tingga Theologia. Tetapi sesudah tamat SMA dia 'hijrah' ke fakultas Sosial Politik. Setelah melewati berbagai usaha akhirnya menekuni bidang kontraktor dan real estate. Tetapi nampaknya ada percikan 'kependetaan' dalam kehidupannya.

PRAYER THERAPY

Prayer Therapy[1]

1. Payer begins in a restless heart. Listen to its strings.
2. Prayer is a yearning for one’s true home. Follow its lead.
3. Prayer is like a garden. Tend it and it will be fruitful.
4. Don’t worry about words or formulas. Prayer is a listening.
5. Prayer has many methods. Do it your own way.
6. Pray Always, but schedule special times too. The spirit, like the body, needs formal exercise.
7. Let your prayer be short. Love needs few words.
8. Pray where you are. God is everywhere.
9. If you need something, pray for it. God desires your good.
10. If you wants something, ask yourself, “Do I want what God wants?” God wants your true good.
11. Remember: your work and struggles are not unholy. Pray and God will come to you just as you are.
12. When your praying becomes dry and routine, keep at it. Parched (dry) earth welcomes the rain.
13.Bring your anger to prayer. Hot metal can be molded.
14. When God seems far away, keep praying. Light can be blinding.
15. When you sin and continue to fail, pray anyway. God keeps on loving you.
16. Pray when you are worried. Prayer puts everything in perspective.
17. If, for any reason, you cannot pray, relax. The desire to pray is already a prayer.
18. When prayer invites you to take risks, have courage. God will uphold you.
19. When you feel sad or sorry, weep. Tears are a prayer of the heart.
20. If you don’t like somebody, pray for them. Prayer reveals the hidden God.
[1] Keith McClellan, Prayer Therapy (St. Meinrad, Indiana: St. Meinrad Archabbey, 1990) – A Benedictine monk – Indiana. Buku2 yg lain; dpt dipesan Abbey Press Press Publication, St Meinrad, IN 47577

Thursday, June 19, 2008

SINGKONG DAN KEJU PENDETA

Seorang pendeta yang sudah ditempatkan di kota selama 15 tahun mengunjungi temannya pendeta di sebuah desa terpencil. Mereka satu kelas ketika kuliah di Pendidikan Teologi dulu. Ia amat heran dan prihatin menyaksikan temannya makan singkong sebagai andalan karena sulitnya mendapat nasi. Padahal, di kota ia makan keju dan berlebihan makanan berkalori tinggi.

Menyakasikan kenyataan pahit itu, ia memberi ‘nasihat’ kepada temannya, “Sekiranya engkau mau menjilat kepada Pimpinan, engkau tidak perlu tinggal terus di desa ini dan mengkonsumsi singkong terus-menerus”.

Setelah diam sejenak, temannya itu menjawab, “sekiranya engkau membiasakan diri bersahabat dengan orang desa dan makan singkong, engkau tidak perlu menjilat kepada pimpinan”.

Barang siapa bertelinga hendaklah ia mendengar.

Friday, June 6, 2008

TAMBAH USIA TANPA GELISAH


Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:4)


Saya mengajak kita untuk berhitung sejenak. Begini: Kita umpamakan satu hari sama dengan 10 tahun. Jadi orang yang berumur 10 tahun berarti ia berada pada hari Senin; 20 tahun – Selasa; 30 tahun – Rabu; 40 tahun – Kamis; 50 tahun – Jumat ; 60 tahun – Sabtu (makin dekat ke hari ‘perhentian’!); 70 tahun – Minggu. Bagaimana dengan yang berusia 80 tahun? Mereka berada pada Hari Senin (Minggu II). Ini adalah ‘bonus’.

Anda tahu sudah pada hari apa berada sekarang bukan? Nah, kemudian lihat sebuah gelas yang berisi air setengah. Apa yang Anda katakan melihat gelas berisi air setengah itu? Mungkin ada yang mengatakan, “Wah airnya sudah habis setengah”. Yang dipikirkan justru yang sudah habis. Mudah-mudahan kita mau melihat dari sudut pandang yang lain dengan mengatakan, “Masih ada air setengah gelas lagi”. Kalau kita memusatkan perhatian pada “yang sudah habis setengah” kita akan kehilangan kegembiraan. Mungkin yang lebih mengemuka adalah kekuatiran, ketakutan, kesedihan dan sebagainya. Tetapi kalau kita memusatkan perhatian pada apa yang masih ada, “masih ada air setengah gelas lagi” hidup kita akan berbeda. Kita masih memiliki pengharapan, sukacita, semangat pelayanan sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.

Kalau Anda misalnya sekarang berada pada hari Kamis atau Jumat, jangan katakan, “Aduh, sudah lewat hari Senin sampai Rabu. Tetapi katakanlah dengan penuh harapan, “Masih ada hari Sabtu, Minggu dan Senin Minggu II. Atau, jangan pusatkan perhatian pada hari-hari hidup yang sudah berlalu 40-50 tahun. Katakan dalam iman, “Saya bersyukur kepada Tuhan, Dia memberi ‘hari’ ini untuk saya jalani dimana saya bisa melayaniNya”.

Perlu kita sadari betul bahwa usia tua adalah pemberian Tuhan. Oleh karena itu, masa tua bukanlah untuk ditakuti, melainkan untuk disyukuri dan dijalani dengan sukacita. Semua pemberian Tuhan adalah baik dan semua rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Tidak ada yang ditakutkan dalam segala pekerjaan dan pemberian Tuhan.

Ada yang menghitung bahwa di dalam Alkitab terdapat sedikitnya 365 kali seruan “jangan takut”. Seolah-olah setiap hari, pada saat kita bangun pagi, kita diingatkan, “Jangan takut!” Memang tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung mengatakan “jangan takut menjadi tua”. Hanya saja, semakin kita takut semakin membuat kita lebih cepat tua dari yang sudah dirancangkan oleh Tuhan. Sebab, rasa takut akan membuat kita lemah, sakit dan lebih cepat menjadi tua.

Kalau tahun bertambah, pasti usia kita juga bertambah. Kalau usia kita bertambah, di satu segi akan banyak pula yang berkurang dari kita.

YANG BERKURANG:

Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Memang ada orang yang pura-pura kenal padahal sebenarnya dia tidak mengenal. Seorang nenek dengan yakin berkata, “Jeni kamu banyak berubah. Dulu kamu gendut, sekarang langsing seperti botol coca-cola. Sekarang kulitmu putih, padahal dulu warna kulitmu sawo setengah matang. Dulu rambutmu keriting sekarang lurus, bukan karena direbonding ‘kan?, katanya. “Aku Lia nek, bukan Jeni”, kata si gadis itu memberitahu yang sebenarnya. Si nenek itu malah bilang, “Wah namamu sudah berubah juga ya”.

Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan disantap tanpa banyak pertimbangan. Sesudah makin berumur, banyak pantangan. Kolestrol dan gula darah perlu dijaga. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.

Sayang sekali banyak dari ‘yang palsu’ itu tidak dapat berfungsi optimal. Ada seorang kakek yang dengan sangat bangga memperkenalkan kepada temannya alat bantu pendengaran yang baru saja dia beli. Berselang beberapa saat, temannya itu bertanya, “Jam berapa sekarang?” Dia jawab, “1200 dollar!” Sehebat apa pun alat pendengaran palsu itu, ternyata ada keterbatasannya.

Yang jelas, banyak yang berkurang. Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.

Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.

YANG BERTAMBAH:

(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.

Ada seorang ibu yang datang ke sahabatnya mengeluh. “Saya pusing nih. Anak saya yang pertama tidak mau ke gereja; menantu saya perempuan kerjanya cuman bergaya, tidak bisa ngurus anak dan suaminya. Anak saya yang kedua pacaran dengan perempuan beragama lain, saya khawatir dia akan meninggalkan gereja nantinya. Suami saya tidak lama di rumah, dan itupun kerjanya marah terus. Rasanya kepala ini mau pecah, pusiiiiiiing.” Demikianlah si ibu itu berbicara hampir satu jam menyampaikan keluhannya. Setelah berdiam sejenak, sahabatnya itu bertanya dengan lembut, “Sekarang bagaimana perasaanmu?”. Si ibu itu menjawab, “Wah, saya merasa lega, rasa pusing saya hilang”. Sang sahabat mengatakan setengah oyong, “Tapi sekarang kepala saya yang pusing ”. Pusing kepala berpindah dari kepala yang satu ke kepala yang lain.

(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu.

Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh. Idealnya, pertumbuhan iman seirama dengan pertambahan usia. Tetapi, daripada sibuk dengan hal-hal yang membuat kita kehilangan kebahagiaan, baik karena apa yang berkurang atau godaan untuk bertambah dalam hal-hal yang tidak membangun, marilah kita pusatkan perhatian kita pada firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Yes. 46:4: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Allah yang mengasihi umatNya ribuan tahun yang silam adalah Allah yang memelihara kehidupan kita anak-anakNya hingga hari ini. Mari kita perhatikan apa yang Allah perbuat kepada kita:

Mengendong:
Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua. Di hadapan Tuhan, manusia bagaikan bayi yang mendapat kenyamanan dan keamanan dari Tuhan sendiri.

Menanggung:
Menyediakan kebutuhan kita. Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Semua itu memang perlu, tetapi bukan jaminan kehidupan kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.

Memikul dan Menyelamatkan:
Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak dapat memikul dosa-dosa kita yang begitu banyak. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita. Hanya karena rahmat dan anaugerah Tuhan semata, kita diselamatkan –dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.

Sehubungan dengan itu, sedikitnya ada tiga hal yang kiranya perlu kita renungkan. Pertama, kita hendaknya menerima pemberian Tuhan, yaitu pertambahan usia, dengan ucapan syukur dan sukacita. Banyak orang yang sudah tua tidak menghendaki hal-hal yang baru terjadi. Mereka menjadi lebih sinis terhadap segala sesuatu, lebih asyk dengan diri sendiri saja, atau merasa bosan. Perubahan adalah pemberian Tuhan, yang hendaknya akita sambut dengan hati terbuka dan gembira. Kedua, seiring dengan bertambahnya usia, hendaknya yang buruk semakin berkurang (yang buruk dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan) tetapi yang baik semakin bertambah (keteguhan iman bertambah, hikmat bertambah dan berbagai hal yang baik bertambah). Singkatnya, buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23) semakin mewujud dalam hidup kita. Dalam Pkh. 4:13 dikatakan, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.”

Ketiga, hendaknyalah kita menjalani hidup ini dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan melalui pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari sampai usia tua. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan, “Pada waktu muda aku mengagumi orang sukses dan pintar. Tetapi ketika aku semakin tua aku mengagumi orang-orang yang baik hati.” Idealnya, tidak saja mengagumi orang yang baik hati tetapi juga menjadi orang yang benar-benar baik hati.

Rasul Paulus menasihatkan:

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor 15:58).

ShoutMix chat widget