Thursday, September 4, 2008

MEMBERI TANPA MEMPERMISKIN DIRI

Di antara beberapa pasfoto siswa yang membutuhkan
bantuan beasiswa
Update Penerimaan dan Penyaluran beasiswa klik di sini:
Sekiranya ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan kita tanpa membuat kita jatuh miskin, apakah kita bersedia menolong? Konkritnya begini. Banyak di antara kita yang tidak akan jatuh miskin jika kita menyumbangkan Rp. 100.000 rupiah perbulan. Padahal, dengan Rp. 50.000 seorang siswa dapat melanjutkan sekolahnya. Saat ini ada 100 siswa yang membutuhkan pertolongan kita sesuai data dari dua kepala sekolah dan Pendeta HKBP Ressort Parlilitan. Terima kasih yang tulus kepada Bapak dan Ibu yang sudah membantu:

1. Anthon Simangunsong (Singapore) untuk 10 orang -Mulai Ags 08
2. John Sihotang (New York).............. untuk 1 orang - Mulai Ags 08
3. NN (Singapore) ................................ untuk 1 orang -Mulai Ags 08
4. NN (Solo-Jawa Tengah).................. untuk 2 orang - Mulai Sept 08
5. Kel Ramses Butarbutar (S'pore).... untuk 6 orang - Mulai Okt 2008
6. NS (Singapore)................................. untuk 5 orang - Mulai Okt 2008
Masih ada 73 orang lagi yang membutuhkan bantuan
Mohon partisipasi Bapak/Ibu/Sdr untuk ikut membantu

Gambaran Umum Kehidupan Para Siswa

Parlilitan adalah kecamatan yang sangat terpencil sekitar 80 Km dari Siborongborong. Beberapa dari desa-desanya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari ibu kota kecamatan.

Semua orangtua ke-100 siswa ini adalah petani yang rata-rata penghasilan dibawah Rp. 200.000/ bulan. Banyak juga di antara mereka yang sudah tidak punya ayah. Sedihnya, walaupun orangtua mereka petani, tetapi mereka masih harus membeli beras karena produksi padi mereka tidak memenuhi kebutuhan mereka selama setahun. Umumnya mereka masih memakan singkong sebelum makan sedikit nasi pada siang dan malam hari.

Beberapa dari siswa yang lebih dari 100 orang ini datang dari desa-desa kecamatan Parlilitan yang terpaksa kost di Parlilitan dan ada pula yang harus menempuh 8-12 km berjalan kaki pulang pergi ke sekolah tiap hari. Mereka yang kost biasanya hanya memberikan beras kepada tempat kost mereka dengan catatan mereka harus bekerja sesudah jam sekolah membantu pemilik rumah, seperti mencangkul di ladang atau mencari kayu bakar.

Tujuan

Yesus menghendaki semua pengikutNya saling mengasihi. Firman Tuhan juga berkata, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat.25:40). Pemberian beasiswa ini adalah merupakan salah satu wujud kehidupan yang saling mengasihi.

Dengan Rp. 50.000 per orang/ bulan, memang belum bisa menyelesaikan persoalan mereka. Tetapi, bantuan ini setidaknya dapat meringankan beban mereka, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Pengorganisasian:

Daftar nama ini dibuat atas kerjasama Pendeta dan Majelis HKBP Ressort Parlilitan dengan kedua kepala sekolah SMP Negeri 1 Parlilitan dan SMA Negeri 1 Parlilitan. Mereka memilih dari antara siswa yang paling membutuhkan bantuan.

Pengelolaan:

Program ini digagasi dan dimulai oleh Bapak Sahat Gultom dan sudah berlangsung 1 tahun 6 bulan untuk kelompok I. Yang 100 siswa ini adalah tahap II, yang karena kesibukan Bapak Gultom, pengirimannya dilakukan oleh Tima Warni Pangaribuan dengan internet banking ke rekening Tober Stanley Ritonga-Medan untuk diteruskan ke rekening Sekolah/ penyalur beasiswa (yang belum dapat menerima transfer internet banking).

Pihak Sekolah mengirimkan bukti penyerahan beasiswa kepada Tim dan akan diteruskan kepada setiap donatur secara berkala.

Donatur dapat mentransfer bantuannya ke rekening berikut (dengan memberi tahu nama pengirim ke tinambunanvt@yahoo.com ):

TIMA WARNI PANGARIBUAN
BCA Cabang Pematangsiantar
No. Rek. 8200082541

Atau ke

VICTOR TINAMBUNAN
OCBC Bukit Timah Branch - Singapore
Acc. No. 518-1-034926

Tuesday, September 2, 2008

FINISHING WELL


Dr. David Wong dalam bukunya “FINISHING WELL” menguraikan secara gamblang bahwa para tokoh di dalam Alkitab dan tokoh dalam sejarah peradaban manusia lebih banyak yang mengakhiri tugas panggilannya dengan tidak baik. Banyak dari antara mereka yang memulainya dengan baik, mengemban tugasnya dengan baik, tetapi mengakhirinya dengan tidak baik.

Tiga godaan terbesar yang membuat seorang pemipin tidak mengakhiri jabatannya dengan baik adalah:

1. Power (kekuasaan). Pemimpin merasa tidak perlu memberi pertanggungjawaban, menjadi sombong karena pencapaiannya, menggunakan kuasanya ‘menekan’ oang lain dan sebagainya.
2. Sex. Banyak yang terjatuh dalam dosa seksual. Mengapa? Menurut Wong, salah satu penyebabnya adalah karena hidup sudah lebih senang, keadaan ekonomi lebih mapan, lebih banyak mendelegasikan tugas, sehingga waktu luangnya terisi memikirkan yang bukan-bukan. Contoh yang ia ambil adalah Daud.
3. Uang. Banyak pemimpin yang tidak bersih dari korupsi, mulai dari hal-hal kecil, seperti penggunaan fasilitas lembaga untuk urusan pribadi (prangko, kertas, telepon, mobil dsb milik lembaga dipakai untuk kepentingan pribadi), hingga korupsi uang besar-besaran.

Dalam ceramahnya tgl 29 Agustus 2008 dalam sebuah Seminar yang diprakarsai oleh Haggai Institute, Wong mengatakan bahwa intinya adalah soal ‘integritas’ –menyatunya kata dan perbuatan.

Kita semua adalah pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan. Apakah kita dapat mengakhiri tugas kepemimpinan kita dengan baik? Masih ada kesempatan. Mulai dari hal-hal kecil. Mulai sekarang. Kiranya semua keluarga finishing well, tidak kandas di tengah jalan. Semua perkumpulan gerejawi finishing well, tidak timbul percekcokan. Semua proyek kemanusiaan yang kita emban finishing well, tidak macet karena faktor kedirian.

Saya merekomendasikan buku tersebut di atas dibaca oleh setiap orang, tidak terkecuali para pemimpin dan pelayan Gereja.

Monday, September 1, 2008

SEMINAR HAGGAI INSTITUTE

Peserta, Faculty dan Panitia Seminar
Haggai Institute, 28-30 Agustus 2008
di YMCA Singapore

Haggai Institute menyelenggarakan seminar selama tiga hari (28-30 Agustus 2008) bertempat di YMCA Singapore. Tema-tema yang dibicarakan adalah Penginjilan melalui kata, sikap dan keteladanan, Integritas, 'goal setting' yang disampaikan oleh para faculty: Maimunah Natasha, Benny Siswanto, Dr David Wong. Ketua panitia seminar, Bapak Christov Wiloto, mengungkapkan kesan positifnya melihat seluruh peserta begitu bersemangat dalam mengiktui seluruh rangkaian seminar. Para peserta juga merasakan betul manfaat seminar ini meneguhkan komitmen mengemban amanat Tuhan Yesus.

Di antara peserta adalah 3 orang pendeta HKBP (Pdt Jerry Aruan, Pdt Gidion Siahaan dan Pdt Victor Tinambunan), seorang pendeta GKPS (Pdt Paul Ulrich Munthe); hadir juga St Sabar Butarbutar (HKBP Singapura) dan teman-teman seiman dari gereja lain.

Silahkan Bapak/Ibu/Sdr luangkan waktu mengikuti seminar serupa yang diadakan oleh "Hagagai Institute" pada tgl 10-15 Nopember di Singapura. Materi seminarnya adalah:

1. Kewajiban, Urgensi & Metode Penginjilan

2. Effective Leadership

3. Leaders & Family

4. Integrity

5. Stewardship

6. Communications

7. Majority

8. Goal Setting

Monday, August 25, 2008

JABATAN GEREJAWI

JABATAN GEREJAWI:
Pelayan bukan Pegawai Agama

(Acuan: Matius 9:35:38)

(1) Melihat, Merasakan dan Melayani Bersama Tuhan

Sejak dulu, Allah menyatakan kepedulian-Nya pada hidup umat manusia. Allah berfirman, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir,…Aku tahu penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka…” (Kel 3:7-8).

Kita mengaku bahwa Allah tidak bergerak sesudah kita bergerak. Ia sudah mendahului. Tugas kita adalah melibatkan diri dalam pekerjaan-Nya. Itupun adalah karena anugerah-Nya yang melayakakan kita.

Yesus juga telah menyatakan kepedulianNya pada umat manusia dengan mengelilingi kota dan desa. Kini, dari tempat kita berada sekarang, di mana kita juga dalam penyertaan Yesus, hati kita dapat melihat keadaan dunia yang sedang mengalami kegalauan, penderitaan, penindasan, ketidakadilan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (ayat 36), tetapi orang sering tidak menyadari bahwa Yesus menghendaki agar mereka selamat dan lepas dari segala yang membelenggu mereka.

Rencana penyelamatan Yesus masih tetap berlangsung, tetapi Ia membutuhkan keterlibatan kita. Ia membutuhkan kita untuk membuat pekerjaan-Nya nyata melalui tindakan dan pelayanan kita. Ini adalah anugerah yang sangat berharga bagi kita. Karya nyata kita menolong mereka yang mendapat perhatian-Nya dengan kasih dan kepedulian adalah wujud perluasan kerajaan-Nya di dunia ini.

Kita percaya bahwa Yesus juga mengelilingi kota dan desa hingga hari ini. Mereka yang merindukan pelayan yang baik dan setia, juga mereka yang sudah jauh dari kawanan domba oleh karena bermacam penggoda. Ke tengah-tengah mereka kita diutus. Akan tetapi, Dia sudah lebih dulu di sana. Dia yang mengutus, Dia juga yang menantikan kita di sana, sekaligus Dia yang memimpin perjalanan kita ke sana. Yesus bersama kita. Dia sendiri yang memimpin. Setiap kali Ia mengutus, Ia selalu menyertai. Ia memberi jaminan, “ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

(2) Bersama Yesus Mengalahkan Pencobaan

Pekerja-pekerja untuk tuaian itu (ay at 38) adalah yang hidup oleh, dalam, dan dari Tuhan, sang Pemilik tuaian itu. Pelayan yang hidup oleh dan dalam Injil! Hidup dari Injil saja, membuat kita tidak lebih dari sekadar pegawai-pegawai agama yang mencari nafkah dari tugas pelayanan kita. Tetapi kita terpanggil hidup oleh dan dalam Injil, dimana hidup kita tergantung sepenuhnya dan berpadanan dengan kehendak Tuhan.

Kesetiaan kita akan panggilan mewujud dalam rasa haus kita untuk bersahabat dengan firman Tuhan. Kita akan membaca dan menggunakan Kitab Suci dengan niat yang suci pula. Sebab, tidak sedikit orang menyalahgunakan ayat-ayat Alkitab untuk mempermulus pemenuhan keinginan kedagingannya dan target rancangan sendiri.

Hidup itu sebenarnya sederhana dan mudah, serta penuh dengan kegembiraan. Hidup terasa sulit jika hanya dikuasai oleh ilusi, ambisi, cinta diri, gengsi, keserakahan, dan keliaran pikiran. Semuanya ini membuat kita kelelahan dalam berpikir dan bergerak. Tetapi keletihan seperti itu, yang serta merta diikuti dengan pudarnya semangat dan depresi bukanlah tanda-tanda bahwa kita melaksanakan kehendak Allah. Kehendak Allah terjadi dalam hidup kita ketika kita hidup dalam suasana kegembiraan rohani dan membuahkan buah-buah Roh.

Seringkali kita mengejar keinginan atau hasrat tertentu, padahal pada saat itu juga Allah mempunyai rencana yang sama sekali berbeda dari rencana kita. Kita dapat menyebut dua frustrasi utama yang mungkin terjadi dalam pelayanan, yakni: ‘waktu’ dan ‘tempat’. Barangkali ada saatnya dimana seorang pelayan merasa terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Mungkin juga seorang pelayan merasa mendapat (yang diinginkan) terlalu sedikit dalam waktu yang terlalu lama. Frustrasi ‘tempat’, misalnya, seorang pelayan terus menerus membayangkan berada di tempat lain ketika ia berada pada suatu tempat pelayanan. Atau, ketika seorang pelayan begitu senang dan betah pada suatu tempat tertentu, sehingga tidak mengharapkan berada di tempat lain. Berada di tempat lain, mungkin dianggap sebagai suatu kehilangan; dan bagi banyak orang, kehilangan bisa diangap sebagai suatu “kematian kecil”.

Dalam keadaan demikian, kita bisa tergoda mempersalahkan orang dan situasi. Padahal, selama kita masih percaya bahwa tindakan orang lain merupakan penyebab kesulitan kita saat ini, kita tidak akan berdaya untuk berubah. Dengan berusaha untuk tidak menyalahkan orang, kita bertanggungjawab terhadap hidup dan diri kita sendiri. Kita juga dapat menyerahkan rasa sakit hati kita pada sebuah altar dan memasrahkannya kepada Tuhan, sehingga diri kita dan orang lain bebas dalam rahmat Tuhan.

Bersama dengan Dia kita akan mampu menyisihkan keinginan hanya untuk sesuatu yang lebih tinggi nilainya. Dalam hal ini kita benar-benar membutuhkan pimpinan Tuhan.

(3) Pertolongan Tuhan dalam Ketidaklayakan Kita

Menanggapi panggilan Tuhan, Yeremia mengatakan, “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara”. Tetapi, Allah berfirman kepada Yeremia, “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:6,9)

Bukankah ini sebuah rahmat yang amat berharga? Jadinya, bukan keahlian kita berbicara yang menjadi andalan. Tetapi oleh pengurapan Tuhan, mulut kita yang sangat manusiawi dan terbatas ini dipakai sebagai alat pemberitaan firman-Nya.

Dengan demikian, andalan kita bukan ijazah kesarjanaan, pemahaman teologi, kemampuan analisis sosial (meski semua kita butuhkan) tetapi yang terpenting adalah iman, kasih, pengharapan yang mewujud dalam komitmen, penyerahan diri dan kesucian hidup.

Mungkin saja kita melihat diri amat kerdil berhadapan dengan tugas raksasa yang terbentang di depan dan tantangan yang mungkin saja menghadang. Kita bisa menjadi amat getir dan tawar hati ketika dihantui rasa khawatir akan penerimaan orang lain, khawatir akan menghadapi 'orang-orang sulit', mengeluh soal jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan, bekal jasmani yang mungkin tidak tercukupi, dan sebagainya. Kita perlu menyadari dan mengakuinya dan tidak menekan perasaan tentang semua itu. Sebab, hidup yang tidak disadari tidak layak dijalani. Yang jauh lebih penting adalah meletakkannya di altar sebagai persembahan kita kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan melihatnya, bahkan Ia mengetahuinya jauh lebih baik daripada kita, sebab Ia sudah lama berada di tempat di mana kita melayani.

Tuhan jauh lebih besar dan dahsyat dari segala kekuatan yang ada. Hanya saja, Iblis tidak takut kepada orang percaya. Iblis tidak takut kepada kita. Iblis takut dan takluk pada Kristus yang rela tinggal di dalam diri kita.

(4) Hubungan Pelayan dan Umat: Sesama Milik Tuhan

Kebajikan akan hadir sejauh kita menyertakan kepekaan kita akan kehadiran Tuhan dan kehendak-Nya untuk menilai apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Bila ini yang mendasarinya, maka di sana ada ketaatan sejati dalam mengemban tugas pelayanan kita. Dan semangat pelayanan yang sejati itu akan terungkap dalam kehangatan, keterbukaan dan keterlibatan hidup. Sedangkan kelobaan mendatangkan kebosanan, sinisme, isolasi dan cinta diri.

Kita adalah pelayan umat, tetapi mereka bukanlah tuan kita. Kita tidak terpanggil pertama-tama menuruti dan menyenangkan hati jemaat tetapi pertama dan terutama berbuat yang berkenan kepada Tuhan. Kepada kita dipercayakan melayani domba-domba gembalaan Tuhan, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan orangtua; yang sehat, lemah bahkan sakit; yang miskin dan yang kaya; dan dengan seluruh keberadaannya. Kepada kita dipercayakan tugas menyaksikan Injil dalam kata dan kehidupan konkret. Jika kotbah kita mau hidup, kita mesti menghidupi apa yang kita kotbahkan. Biarlah melalui hidup dan pelayanan kita Allah dipermuliakan dan umat diselamatkan. Kita menjalaninya dengan iman yang teguh bahwa Tuhan dekat.

Sunday, August 10, 2008

KARAKTER PELAYAN

Siapa pelayan itu jauh lebih penting daripada apa yang dapat dia lakukan. Sebab, siapa dia memberi kekuatan kepada apa yang ia lakukan. Dalam hal ini, ‘karakter’ adalah salah satu dari beberapa hal penting bagi setiap orang yang terlibat dalam pelayanan gereja. Pelayanan tanpa karakter hanyalah ‘aktivitas keagamaan’ atau malah ‘bisnis religius’.

Pendeta, misalnya, membutuhkan sikap seorang pelayan tetapi ia harus selalu ingat bahwa ia melayani Kristus melalalui pelayanan Gereja. Jika ia tidak melayani Kristus, ia akan menyakiti sebagian warga jemaat dan menyenangkan hati sebagian lagi --khususnya mereka yang memenuhi keinginannya.

Bagaimana pendeta meningkatkan hidup spiritualnya? Warren W. Wiersbe and David W. Wiersbe menawarkan yang berikut ini:

  1. Pendeta perlu mengembangkan keheningan (apa saja pun namanya seperti meditasi, kontemplasi, saat teduh dan lain-lain). Kehidupan ibadah merupakan bagian penting dalam pembangunan karakter.

  2. Terhubung dengan suatu tradisi yang baik seperti Benedictus, Franciskus Asisi, Spiritualitas Lutheran dan sebagainya.

  3. Menguji kehidupan spiritualitasnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan penting, misalnya:
  • Apakah saya melayani dengan iman atau saya menentukan sendiri apa yang harus dicapai?
  • Apakah ibadah pribadi saya sungguh-sungguh hidup dan penuh sukacita, atau hanya sesuatu yang rutin saja?
  • Apakah keluarga saya menerima dan mendukung pelayanan atau apakah ada ketegangan. Apakah saya memberi gambaran negatif tentang keadaan pelayanan? Apakah mereka melihat saya bergembira atau betah dalam pelayanan?





Wednesday, July 30, 2008

ALLAH DAN INDONESIA


Renungan 63 Tahun Republik Indonesia
Agustus 1945-Agustus 2008


Kata ‘dan’ dalam judul di atas perlu mendapat perhatian kita secara khusus. Ada kalanya kata ‘dan’ berfungsi untuk menyatakan sesuatu yang amat bertolak belakang seperti madu dan racun. Ia juga menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain seperti iman dan pekerjaan baik, suami dan istri, dan sebagainya.

Allah dan Indonesia menunjukkan sesuatu yang tidak terpisahkan sedikitnya dengan tiga alasan utama dalam terang iman kristiani. Pertama, ketika Allah menciptakan langit dan bumi (seperti disebut dalam Kej. 1) bumi Indonesia termasuk di dalamnya. Meskipun Indonesia terbilang ‘tertinggal’ dalam berbagai hal, itu tidak berarti bahwa Allah menciptakannya di kemudian hari atau terpisah dari belahan bumi yang lain. Kedua, orang-orang Indonesia adalah ciptaan Allah juga. Setiap warga bangsa Indonesia –terlepas dari perbedaan suku bangsa, ras, agama, partai politik-- berasal dari nenek moyang yang sama: Adam dan Hawa, yang diciptakan oleh Allah. Itu berarti bahwa tidak ada alasan pembenaran rasa superioritas yang satu terhadap yang lain. Sesungguhnya kita semua adalah satu keluarga dan sesama saudara di dalam Allah, Pencipta dan Bapa kita. Ketiga, pemeliharaan Allah tidak pernah berhenti sejak penciptaan. Kehidupan yang ada di bumi Indonesia dan kehidupan setiap warga bangsa Indonesia adalah bukti nyata bahwa pemeliharaan Allah masih terus berlangsung hingga hari ini. “Bumi dan segala isinya adalah milik Allah” (Mzm. 24:1).

Dengan demikian, ‘Allah dan Indonesia’ mengandung pesan: ingat Indonesia, ingat penciptaan, pemeliharaan dan pemilikan Allah atas Indonesia. Dengan kesadaran demikian, sebagai orang yang percaya kepada Allah kita hendaknya seirama dengan gerak Allah yang mengasihi dan memelihara kehidupan bangsa Indonesia dengan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita.

Pertanyaan yang mungkin mengemuka ialah, “Kalau Allah adalah pemilik Indonesia dan Ia mahakuasa, mengapa Ia membiarkan penderitaan dan aneka persoalan kehidupan silih berganti menerpa Indonesia?” Pertanyaan yang salah! Yang benar adalah jawaban kita atas pertanyaan Allah kepada kita semua, “Mengapa persoalan kehidupan melilit bangsa Indonesia, padahal Aku telah menganugerahkan pengetahuan, kemampuan dan berkat melimpah untuk Indonesia?” Artinya, daripada ‘menggugat’ Allah, mestinya kita dengan rendah hati memeriksa hidup kita.

Yang merusak, yang menghujat, yang menyakiti, yang mengkambinghitamkan Indonesia sudah lumayan banyak. Kita tidak perlu menambahnya lagi. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak yang memberi harapan, dukungan dan pertolongan nyata. Dengan pertolongan Tuhan, mari kita lakukan sesuatu memberi uluran hati dan uluran tangan dengan apa yang kita miliki, seperti waktu (mendoakan, melakukan studi, mengunjungi), bakat atau talenta (menjadi tenaga sukarela, menyumbangkan tulisan-tulisan yang mencerahkan), memberi bantuan materi (beasiswa kepada mereka yang terancam putus sekolah, yang menderita kelaparan). Singkatnya, bagaimana agar hidup kita secara pribadi maupun persekutuan jemaat menjadi garam dan terang bagi bangsa Indonesia.

Saat ini, di hadapan Tuhan, mohonlah pimpinanNya untuk mengetahui pelayanan apa yang hendaknya Saudara lakukan sebagai wujud pemberitaan Injil khususnya untuk bangsa Indonesia. Mohon pastikan juga bahwa itu bukan ambisi, sekadar hobbi atau keinginan ego kita untuk memamerkan kesalehan dan kedermawanan, tetapi benar-benar merupakan panggilan Tuhan. Marilah kita nyatakan janji kita di hadapanNya untuk melakukannya demi kebaikan sesama dan demi kemuliaanNya. Semua itu kita lakukan dengan sukacita. Sebab, kita percaya bahwa Tuhan yang mengutus kita untuk melayani, Ia juga yang tetap menyertai kita bahkan sampai akhir zaman. Amin.

Wednesday, July 23, 2008

PIMPINAN HKBP 2008-2012

Keteladanan bukanlah salah satu syarat menjadi pemimpin,
tetapi satu-satunya syarat


************
Leaders in the church must not only be good managers,
but more importantly good followers of Christ
who have a good understanding of the biblical perspective.
Sound management and sound theology must go together
(Robert M. Solomon, Bishop Gereja Methodist Singapura)




HKBP akan melangsungkan Sinode Agung September 2008 mendatang. Salah satu agenda sinode adalah memilih Pimpinan HKBP yang baru. Memang, masa depan HKBP tidak sepenuhnya tergantung pada siapa pimpinan HKBP 2008-2012. Seluruh pelayan dan warga jemaat HKBP hendaknya dengan rendah hati tunduk di kaki salib Kristus memohon pengampunanNya, bertobat dan siap sedia dipimpin oleh Tuhan.

Sudah lama saya mengusulkan agar cara pemilihan pimpinan HKBP dilakukan dalam suasana ibadah --agak mirip dengan pemilihan Paus. Pendeta tidak perlu berkampanye atau membentuk tim sukses seperti yang sudah agak membudaya saat ini. Tetapi, kita perlu kesabaran. Semoga ada saatnya tata cara pemilihan pimpinan HKBP lebih bercorak gerejawi tidak seperti cara-cara 'pilkada' yang marak saat ini. Jadi, untuk saat ini kita perlu realistis dalam artian menjalani sistem yang sudah dianut oleh HKBP. Khusus mengenai pemilihan pimpinan HKBP pada sinode mendatang, perkenankanlah saya mengungkapkan beberapa harapan berikut ini.

1. Seluruh jemaat HKBP (baik dalam persekutuan maupun perorangan) dan saudara-saudara seiman yang bukan HKBP, kiranya berkenan mendoakan peristiwa gerejawi penting ini. Kiranya kehendak Tuhan menjadi kehendak kita semua. Memang ada yang pesimis terhadap calon-calon yang ada. Tetapi, sebagai orang percaya kita hendaknya selalu berpengharapan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki cukup kemampuan melakukan kehendak Tuhan. Sebagai umat beriman, kita percaya dan berpengharapan akan karya Tuhan. Di samping mendoakan, kita semua dapat memberi gagasan dan terutama keteladanan dalam rangka memperbaiki HKBP.

2. Kiranya Tuhan sendiri yang sungguh-sungguh menjadi tempat bertanya pertama dan terutama bagi para utusan sinode -yang dipercayakan untuk mengemban tugas panggilan ini-- dalam seluruh proses persiapan, pengambilan keputusan dan penutupan Sinode tersebut. Sama seperti para rasul dalam pengambilan keputusan dengan prinsip "Sebab, adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami...." (Kis. 15:28), menjadi prinsip seluruh peserta sinode juga.

3. Kiranya para calon pimpinan yang sudah dipilih di distrik-distrik mendapat hikmat, kekuatan dan kesehatan dari Tuhan. Dengan hikmat dari Tuhan itu, mereka boleh lebih mengutamakan yang Tuhan utamakan. Dalam kehidupan keseharian, ada kalanya orang lebih siap 'menang' ketimbang siap untuk 'kalah'. Yang indah dalam kehidupan bergereja ialah bahwa gereja bukanlah arena perlombaan atau pertandingan berkaitan 'kalah' dan 'menang'. Gereja adalah persekutuan umat yang dimenangkan oleh Tuhan hanya oleh anugerahNya. Semua memang berlomba berbuat baik, tidak untuk sebuah medali dan tropi melainkan karena bagian integral dari iman.

4. Semoga calon Ephorus dan calon Sekretaris Jendederal dapat dan berkenan bertemu dan berdoa secara bersama-sama. Kalau tidak memungkinkan berkali-kali, paling tidak sekali saja sebelum pemilihan. Lebih baik juga jika ada yang memfasilitasi dan mendampingi seperti beberapa pendeta dan warga jemaat. Di sana mungkin tidak perlu ada penyampaian visi dan misi masing-masing calon, tidak ada khotbah, tidak ada kata sambutan dan sebagainya. Yang ada hanyalah nyanyi, baca Alkitab dan doa. Dan semuanya calon memiliki satu komitmen, bahwa dalam proses persiapan sampai akhir sinode mereka akan megedepankan kehendak Tuhan dan menjaga keutuhan HKBP.

"Ya Tuhan, Engkaulah yang mendirikan dan memiliki HKBP. Engkau mengasihi gerejaMu dan umatMu. Kami mengucap syukur atas semuanya ini. Rasa syukur ini akan kami nyatakan melalui kehidupan kami yang selalu mengedepankan kehendakMu". Amin

Wednesday, July 16, 2008

PEMIMPIN

Seorang raja yang usianya sudah menjelang ‘senja’ mengumumkan akan berlangsungnya pemilihan pengganti raja. Setelah semua para kandidat berkumpul, raja mengumumkan prosedur pemilihan dan penetapan pemenang, yakni: kepada siapa kupu-kupu --yang dipersiapkan secara khusus—hinggap, maka dialah yang akan menggantikan raja. Kupu-kupu dilepas dan terbang di sekeliling para kandidat. Ada beberapa kandidat yang menjulurkan kepalanya agar kupu-kupu berkenan berpihak kepadanya dan mau hinggap kepadanya. Bahkan ada yang lebih agresif dengan mengejar kupu-kupu sambil mengulurkan tangan kepada kupu-kupu. Akan tetapi, makin didekati, makin menawarkan diri, justru kupu-kupu itu makin menjauh. Di antara keramaian kandidat dan pengunjung, ada seorang sederhana yang duduk dengan tenang, yang terluput dari perhatian khalayak. Kupu-kupu itu hinggap persis di kepalanya. Ia pun ditetapkan menjadi raja.

Cerita di atas terbuka untuk ditafasir dan diambil maknanya. Yang jelas, sekarang ini kita tidak dapat meminta bantuan kupu-kupu untuk memilih seorang pemimpin. Setiap lembaga, organisasi dan kelompok masyarakat memiliki tata cara pemilihan dan penetapan pemimpinnya masing-masing.

Dewasa ini banyak jabatan kepemimpinan yang menjadi ajang perebutan yang tidak jarang berujung pada keributan. Mengapa? Barangkali jabatan kepemimpinan dianggap sebagai kendaraan menuju sebuah cita-cita pribadi. Untuk mencapainya para calon pemimpin dengan teganya menghalalkan semua cara dan saling menjatuhkan. Para pengikut pun juga ikut-ikutan. Sebenarnya, semangat untuk menempati sebuah jabatan kepemimpinan tidak salah pada dirinya. Yang penting ialah motivasi yang benar dan komitmen yang teguh.

Dalam konteks kepemimpinan gerejawi, ujian pertama yang perlu dijawab setiap orang yang ingin menjadi pemimpin ialah, apakah itu suatu panggilan Tuhan atau sekadar desakan pemenuhan keinginan pribadi. Kepemimpinan atas dasar panggilan akan terawat dan menjadi berkat, kepemimpinan yang digerakkan ambisi pribadi sifatnya keropos dan boros.

Bagi kita yang dipercayakan dan diutus ikut dalam pengambilan keputusan, mohon ijinkan suara Tuhan memandu untuk menentukan pilihan.

Tuhan, Engkau telah memberikan diriMu
Kini kami memempersembahkan hidup kami kepadaMu melalui pelayanan terhadap sesama
KasihMu telah menjadikan kami manusia baru
Sebagai umat yang Kaukasihi, kami akan melayani Engkau dengan sukacita
KemuliaanMu telah memenuhi hati kami
Tolong kami memuliakan Engkau dalam segala hal. Amin.


Soli Deo Gloria - Kemuliaan hanya bagi Allah.
Victor Tinambunan

"Remember that it is far better to follow well than to lead indifferently. ~ John G. Vance"

Thursday, July 10, 2008

KETIKA PERUBAHAN TERJADI....


Berikut ini adalah dialog antara seorang istri yang memandangi wajahnya di cermin dengan suaminya yang membaca buku renungan harian.


Istri : Pa, sudah ada bercak-bercak hitam di wajahku
Suami : Yang penting wajahmu masih ada Sayang........
Istri : Aduuuh Pa, bukan hanya itu, ubanku sudah mulai
banyak.
Suami : Masih lebih baik kan Ma, masih ada yang bisa dicat.... bagaimana kalau botak?
Istri : Papa ‘gak ngerti. Malu kan? Muka ini ditaruh di mana?
Suami : Lho, selama ini mama taruh di mana?
Ma, yang penting hatimu dan wajahmu masih ada.....
Papa tidak mencintai wajahmu dan rambutmu, tapi
mencintai dirimu.


Wednesday, July 9, 2008

KHASIAT PENGAMPUNAN

Rasa benci kita terhadap musuh lebih banyak
melukai kebahagiaan kita daripada kebahagiaan mereka.

Kasihiliah musuhmu, sebab mereka menyatakan
Kelemahan-kelemahanmu.
(Benjamin Franklin)


Dari pengalaman kita ketahui begitu banyaknya orang yang amat sulit mengampuni, apalagi kalau kesalahan orang lain lebih dari sekali atau lebih lagi kalau sudah berkali-kali. Untuk membenarkan diri ada orang yang mengatakan, “saya ini manusia, kesabaran ada batasnya!” Hal ini tercermin dari sebuah lagu yang kata-katanya kurang lebih seperti ini: “Satu kali kau sakiti hati ini masih kumaafkan. Dua kali kau sakiti hati ini juga kumaafkan. Tapi jangan kau coba tiga kali…” Kata “masih kumaafkan” untuk dua kali pertama makin menegaskan bahwa kesalahan ketiga kali tidak ada maaf lagi.

Akan tetapi, Yesus menegaskan bahwa mengampuni bukan hanya tujuh kali tetapi tujuh kali tujuhpuluh kali (Mat 18:22). Dua hal penting dapat disebutkan berdasarkan firman Tuhan ini. Pertama, ini tidak terutama menyangkut jumlah angka 490, tetapi tujuh kali tujuh puluh kali berarti bahwa mengampuni itu tidak ada batasnya. Kedua, ini ditujukan kepada manusia –termasuk kita sendiri. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa memang ‘pengampunan’ adalah salah satu pengajaran dan tindakan yang paling sulit dalam kekristenan, tetapi mengandalkan rahmat Tuhan, hal itu dapat kita lakukan.

Meskipun demikian sulit, namun hendaknyalah pusat perhatian bukan pada tingkat kesulitannya melainkan pada Kristus yang sudah melakukannya. Sesungguhnya, dosa-dosa kita tidak terhitung jumlahnya baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Jika kita menghendaki Tuhan mengampuni kita, mestinya kita juga dengan tulus hati bersedia mengampuni orang lain. Hal ini jelas sekali dalam doa yang diajarkan oleh Yesus di antaranya, “ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.

Pada kesempatan lain Tuhan Yesus berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka” (Matius 7:12). Itu juga berarti, jika kita mengharapkan orang lain mengampuni kita, kita hendaknya juga bersedia mengampuni orang lain. Dalam hal ini La Rochefoucauld benar ketika ia mengatakan, “Jika kita tidak mempunyai kesalahan-kesalahan, kita tidak akan merasa senang memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain”.

Perlu kita sadari bahwa sudah ada begitu banyak kebencian di dunia ini, oleh karenanya kita tidak perlu menambahkannya lagi. Ini perlu untuk terciptanya damai sejahtera di bumi dan termasuk untuk kebaikan diri kita sendiri juga. Sebab, rasa benci kita terhadap musuh lebih banyak melukai kebahagiaan kita daripada kebahagiaan mereka.[1] Celakanya, ada pula yang kita benci itu malah sudah meninggal dunia, tetapi kebencian kita tidak kunjung mati.

Kata resentment (sakit hati) berasal dari bahasa Latin resentir –yaitu merasakan berulangkali. Dengan merasakan kebencian masa lampau berulangkali, kita akan tersiksa sendiri. Setiap kali kita memikirkan mereka yang tidak kita ampuni, kita kehilangan enerji. Peneliti Jerman RG Hamer (sejak 1979) mengumpulkan data lebih dari 10.000 pasien penderita kanker. Ia menemukan bahwa kanker biasanya dipacu oleh sebuah konflik atau shock, dipadu dengan ketidakmampuan mengungkapkannya atau tidak ada orang yang bersedia mendengarkan (Dr Lai Chiu Nan). Dalam hal ini Bloch dengan tepat menasihatkan, “Serahkan rasa sakit hati Anda pada sebuah altar dan pasrahkan kepada Tuhan. Biarkan diri Anda dan orang lain bebas.”[2]

Mengasihi diri, bukanlah dosa. Mengasihi diri berbeda dengan selfish (mementingkan diri sendiri). Salah satu bagian dari ‘mengasihi diri’ adalah mengampuni. Sebab, mengampuni adalah untuk kebaikan diri kita sendiri dan orang lain. Karena itu, jangan kita biarkan hal-hal buruk termasuk perbuatan orang lain menghancurkan hidup kita. Biarkan peristiwa menyakitkan yang kita alami kian memperdalam hikmat dalam hati kita. Sesungguhnya, pengampunan menyembuhkan memori kita sekaligus membebaskan kita dari belenggu permusuhan. Singkatnya, “kesabaran” terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri perlu kita terapkan setiap hari. Kesabaran adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal 5:22-23).
[1] Terry Hampton dan Ronnie Harper, 99 Cara untuk Makin Bahagia Setiap Hari (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 114
[2] Douglas Bloch, Mendengarkan Suara Hati (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 87

Friday, July 4, 2008

TEST TINGKAT KESADARAN

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku.
(Mazmur 139:23)

Sebuah mobil membutuhkan pedal gas untuk bisa maju dan pedal rem untuk tidak melaju. Ia juga membutuhkan kemudi untuk memandu arah. Tetapi, yang paling penting pengemudi harus mengetahui jalan yang harus ditempuh dan sadar betul kapan menekan pedal gas dan kapan menekan pedal rem. Dengan segala keterbatasannya, ini dapat menggambarkan perjalanan kehidupan manusia. Tidak ada keraguan akan pentingnya mengenal dan memahami ‘tingkat kesadaran’ diri sendiri. Wyne Dyer mengelompokkan tiga tingkat kesadaran mulai dari yang terendah hingga tertinggi yakni: tingkat kesadaran ego, kesadaran kelompok dan kesadaran mistis.[1] Pengelompokan ini tetap digunakan disini dengan menyertakan refleksi terhadap setiap tingkat kesadaran itu.

1. Tingkat Kesadaran Ego

Dalam kesadaran ego, penekanan seseorang adalah pada kepribadian dan tubuhnya. Orang yang berada dalam tingkat kesadaran ini banyak menghabiskan waktunya untuk mengukur kesuksesannya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Kalau ia memiliki lebih banyak daripada orang lain, ia merasa lebih enak tentang diri sendiri. Ia sangat peduli dengan piagam penghargaan dan gengsi. Untuk ini ia bersaing dan selalu membandingkan. Ia berusaha memberi kesan kepada orang lain. Tetapi, justru disinilah masalah muncul. Di sinilah kedamaian batin tidak mungkin terjadi, sebab ia harus selalu berjuang untuk berada di posisi lain, ia selalu berlari lebih kencang untuk selalu ‘lebih’ dari orang lain.

Perasaan putus asa, marah benci, pahit, tertekan dan depresi berakar dari kecemasan ego dan sikap berkeras mencapai target yang ia tetapkan sendiri. Ego akan jarang membiarkannya beristirahat dan terus menuntut karena takut disaingi dan takut disebut tidak sukses.

Di samping itu, ia sangat peka dan amat cepat bereaksi terhadap pendapat orang lain. Jika orang lain memujinya (meskipun niat mereka hanya untuk menjilat dan memanfaatkan), ia merasa lebih enak. Ia pun mengobral pujian kepada orang lain, yang sebenarnya hanya mencerminkan keinginannya untuk dipuji dan disanjung. Sebaliknya, kalau ada yang mengkritiknya, ia merasa sakit hati yang sering disertai dengan pembelaan diri sambil balik menyerang.

Bagaimana kehidupannya bergereja? Secara ‘formal’ bisa saja tidak ada masalah. Artinya, ia selalu hadir pada kebaktian Minggu, menghadiri kelompok Pemahaman Alkitab (PA), memberi persembahan secara rutin, menyumbang ke gereja dan sebagainya. Hanya saja, semua ini menjadi sebuah alat untuk memenuhi keinginan sang ego. Ibadah dibelokkan sedemikian rupa untuk memenuhi selera dan keinginan. Mereka mengukur ibadah dengan istilah ‘enak’ atau ‘tidak enak’, ‘semarak’ atau ‘dingin dan sepi’. Jadinya, ibadah tidak ubahnya seperti shopping: memilih sesuai dengaan selera. Betapa sedihnya! Sumbangan mereka kepada gereja bisa saja banyak. Untuk memenuhi selera, mereka menyumbangkan perangkat musik band. Mereka bisa mendapat ‘keuntungan’ dalam bentuk yang lain dari situ seperti: (1) Merasa enak karena sudah merasa ‘menolong’ Tuhan, (2) Merasa enak mendengar musik band, (3) Lebih enak perasaan diketahui orang lain menyumbang ke gereja dan sekaligus mempunyai “SIM” untuk mengkritik orang yang pelit.

Doa-doanya biasanya menyamarkan inti kehidupan bergereja dan sikap hidup kristiani. Doa menjadi pameran kemampuan merangkai kata-kata; doa menjadi tumpukan proposal untuk disahkan oleh Tuhan; doa menggantikan kepedulian dan pertolongan nyata. Berdoa memang menggunakan kata-kata dan sebaiknya diungkapkan dengan baik. Bermohon kepada Tuhan melalui doa adalah bagian dari doa. Mendoakan orang lain juga tugas orang Kristen. Bedanya, doa-doa yang muncul dari ‘tingkat kesadaran ego’ hanyalah memperalat Tuhan dan orang lain untuk kepuasan diri sendiri.

‘Penampilan’ di gereja, mulai dari tempat berkoor (di tempat duduk atau ke depan), isi warta jemaat (apakah mewartakan pelayanan atau si pelayan sendiri), cara memegang uang persembahan ketika memasukkannya ke kantong persembahan (warna uangnya nampak banyak, atau digenggam rapat) sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat kesadaran. Ketika tingkat kesadaran ego yang mendominasi, semua penampilan akhirnya mengarahkan perhatian kepada yang tampil itu sendiri.

Orang dalam tingkat kesadaran ini termasuk orang bermasalah dan juga menimbulkan masalah. Ketika menghadapi suatu penderitaan seperti penyakit misalnya, ia bertanya setengah protes, “mengapa saya menderita seperti ini, padahal saya sudah membangun gereja dan rajin dalam semua kegiatan gereja?”

2. Tingkat Kesadaran Kelompok

Ini ada kemiripan dengan kesadaran ego. Bedanya, ego perorangan ditekan dan masuk dalam ego kelompok. Keanggotaan seseorang didasarkan pada keluarga, warisan, latar belakang rasial, suku, agama, bahasa, pertalian politik dan seterusnya. Di sini orang-orang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompoknya, berjuang sesuai dengan harapan kelompoknya bahkan ada yang sampai berperang. Dalam konteks yang lebih sempit kita bisa lihat dalam kehidupan orang-orang Batak yang masih terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Bahkan, yang satu marga pun masih memiliki kelompok yang berbeda bahkan bermusuhan hingga generasi yang ke-17.

Ciri yang amat kentara dalam kesadaran ini adalah ‘fanatisme sempit’. Artinya, kelompokku paling benar, kelompok lain lebih rendah; kelompok lain sedapat-dapatnya dimanfaatkan untuk kepentingan kelompokku. Kesadaran ego bisa lebih ‘nyaman’ dalam kesadaran kelompok. Sebab, kesalahan kelompok bukan kesalahan saya dan kesalahan saya adalah kesalahan kelompok. Kita bisa melihat peristiwa hancurnya gedung kembar WTC, 11 September dan invasi Amerika ke Irak dalam konteks ini. Sekelompok orang membenci sekelompok orang Amerika, yang korban adalah orang-orang yang kebetulan berada di gedung WTC yang belum tentu satu pun dikenal oleh pelaku penyerangan itu. Sebagian orang Amerika membenci kelompok tertentu di Irak, yang korban adalah juga orang-orang yang tidak bersalah.

Jangankan marga, masyarakat, atau negara, gereja-gerejapun masih banyak yang bercokol dalam tingkat kesadaran ini. Sangat menyedihkan memang. Dalam hal ini gereja-gereja selalu membutuhkan pengampunan. Banyak perselisihan yang terjadi di tengah dan di antara gereja-gereja hanya karena ego kelompok.

3. Tingkat Kesadaran Mistis

Kata mistis perlu diperjelas lebih awal, karena sering kata ‘mistik’ digunakan berkaitan dengan perdukunan dan guna-guna. Kata mistis disini menunjukkan keterhubungan dengan Tuhan, setiap dan semua orang, dan setiap makhluk. Kesadaran mistis tidak melenyapkan kesadaran ego dan kesadaran kelompok, tetapi memberinya tempat yang wajar. Perasaan senang dan perasaan bangga yang terkandung dalam ego dalam batas-batas tertentu sah-sah saja sejauh ia tidak tergelincir pada pengutamaan kesenangan diri sendiri dan kesombongan. Kelompok juga dibutuhkan, bukan sebagai tembok tetapi sebagai pintu menuju persahabatan sejati dengan semua orang.

Merasa terhubung berarti Anda benar-benar merasa bahwa kita semua satu, dan bahwa kekerasan yang ditujukan kepada orang lain sebenarnya adalah kekerasan yang ditujukan kepada diri kita sendiri. Di sini, kerjasama menggantikan persaingan, kebencian dimusnahkan oleh kasih, dan kesedihan dihapus dengan sukacita. Pada tingkat ini Anda adalah anggota ras manusia, bukan kelompok yang lebih kecil. Karenanya, penganut agama Islam seharusnya merasa sedih tatkala orang-orang di WTC itu dibom. Orang-orang Kristen menolak invasi Amerika ke Irak yang memakan begitu banyak korban. Mengapa? Kita melihat manusia bukan berdasarkan agamanya, melainkan kemanusiaannya sebagai yang berharga bagi Tuhan.

Dalam tingkat kesadaran ini, Anda tidak akan menjadi apa yang Anda miliki, apa yang Anda capai, atau yang orang lain pikir tentang Anda. Di sini, doa-doa kita lebih merupakan pengakuan, penyerahan diri dengan mengatakaan “bukan kehendakku, tetapi kehendakMulah yang jadi”. Ibadah bukan lagi menyangkut apakah berkenan di hati saya tetapi apakah berkenan kepada Tuhan; bukan apakah itu menyenangkan hati hati, melainkan apakah itu menyukakan hati Tuhan. Kehidupan bergereja kita, pertolongan kita kepada yang lain, persahabatan kita adalah wujud kasih kita kepada Tuhan, sesama manusia, diri kita sendiri dan seluruh ciptaan Tuhan. Kebahagiaan sejati hanya ada disitu. Para rahib sering disebut sebagai mistikus karena mereka tidak melekat pada milik, pencapaian dan pendapat orang terhadap mereka.

Mungkin Anda bertanya, “Jika demikian, bukankah hidup ini jadinya monoton dan membosankan?” Untuk menjawabnya adalah pertanyaan juga, yaitu, “Anda membandingkan dengan apa? Bukankah pertanyaan itu lahir dari tingkat kesadaran ego?”

Dari dua miliar lebih orang Kristen di bumi ini, berapa orang yang memiliki tingkat kesadaran seperti ini? Tidak ada yang tahu. Lagi pula, dalah hitungan hari seseorang bisa saja berpindah dari tingkat kesadaran yang satu ke yang lain. Yang jelas, Anda dan saya dapat ‘mendaftarkan’ diri dan masuk dalam tingkat kesadaran ini. Syaratnya sangat sederhana: hanya kesediaan kita –tidak perlu IC/KTP, tidak perlu rekomendasi dari pimpinan gereja dan tanpa uang pendaftaran. Allah senantiasa bersedia menyambut kita bersatu dengan-Nya dan di dalam Dia kita bersatu dengan semua orang. Firman Tuhan ini pun akan terwujud dalam kehidupan kita:

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi….”
(Lukas 2:14)

Selamat memasuki ‘tingkatan’ baru: ‘tingkat kesadaran mistis’.

[1] Wayne Dyer, 10 Secrets for Success and Inner Peace, terj. (Jakarta: Gramedia, 2005), 86-92.

KEL. DRS. ANTHONI TINAMBUNAN




Keluarga Drs Anthoni Tinambunan/ Nermi br Simanungkalit, tinggal di Pekanbaru-Riau bersama anak-anak Nevi, Si Kembar: Edo dan Edi.

Foto-foto ini diambil selama perjalanan mereka ke Malaysia dan Singapura awal Juli 2008.
Anthoni Tinambunan sejak masuk SD hingga mau memasuki SMA 'berjanji' akan memasuki Sekolah Tingga Theologia. Tetapi sesudah tamat SMA dia 'hijrah' ke fakultas Sosial Politik. Setelah melewati berbagai usaha akhirnya menekuni bidang kontraktor dan real estate. Tetapi nampaknya ada percikan 'kependetaan' dalam kehidupannya.

PRAYER THERAPY

Prayer Therapy[1]

1. Payer begins in a restless heart. Listen to its strings.
2. Prayer is a yearning for one’s true home. Follow its lead.
3. Prayer is like a garden. Tend it and it will be fruitful.
4. Don’t worry about words or formulas. Prayer is a listening.
5. Prayer has many methods. Do it your own way.
6. Pray Always, but schedule special times too. The spirit, like the body, needs formal exercise.
7. Let your prayer be short. Love needs few words.
8. Pray where you are. God is everywhere.
9. If you need something, pray for it. God desires your good.
10. If you wants something, ask yourself, “Do I want what God wants?” God wants your true good.
11. Remember: your work and struggles are not unholy. Pray and God will come to you just as you are.
12. When your praying becomes dry and routine, keep at it. Parched (dry) earth welcomes the rain.
13.Bring your anger to prayer. Hot metal can be molded.
14. When God seems far away, keep praying. Light can be blinding.
15. When you sin and continue to fail, pray anyway. God keeps on loving you.
16. Pray when you are worried. Prayer puts everything in perspective.
17. If, for any reason, you cannot pray, relax. The desire to pray is already a prayer.
18. When prayer invites you to take risks, have courage. God will uphold you.
19. When you feel sad or sorry, weep. Tears are a prayer of the heart.
20. If you don’t like somebody, pray for them. Prayer reveals the hidden God.
[1] Keith McClellan, Prayer Therapy (St. Meinrad, Indiana: St. Meinrad Archabbey, 1990) – A Benedictine monk – Indiana. Buku2 yg lain; dpt dipesan Abbey Press Press Publication, St Meinrad, IN 47577

Thursday, June 19, 2008

SINGKONG DAN KEJU PENDETA

Seorang pendeta yang sudah ditempatkan di kota selama 15 tahun mengunjungi temannya pendeta di sebuah desa terpencil. Mereka satu kelas ketika kuliah di Pendidikan Teologi dulu. Ia amat heran dan prihatin menyaksikan temannya makan singkong sebagai andalan karena sulitnya mendapat nasi. Padahal, di kota ia makan keju dan berlebihan makanan berkalori tinggi.

Menyakasikan kenyataan pahit itu, ia memberi ‘nasihat’ kepada temannya, “Sekiranya engkau mau menjilat kepada Pimpinan, engkau tidak perlu tinggal terus di desa ini dan mengkonsumsi singkong terus-menerus”.

Setelah diam sejenak, temannya itu menjawab, “sekiranya engkau membiasakan diri bersahabat dengan orang desa dan makan singkong, engkau tidak perlu menjilat kepada pimpinan”.

Barang siapa bertelinga hendaklah ia mendengar.

Friday, June 6, 2008

TAMBAH USIA TANPA GELISAH


Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:4)


Saya mengajak kita untuk berhitung sejenak. Begini: Kita umpamakan satu hari sama dengan 10 tahun. Jadi orang yang berumur 10 tahun berarti ia berada pada hari Senin; 20 tahun – Selasa; 30 tahun – Rabu; 40 tahun – Kamis; 50 tahun – Jumat ; 60 tahun – Sabtu (makin dekat ke hari ‘perhentian’!); 70 tahun – Minggu. Bagaimana dengan yang berusia 80 tahun? Mereka berada pada Hari Senin (Minggu II). Ini adalah ‘bonus’.

Anda tahu sudah pada hari apa berada sekarang bukan? Nah, kemudian lihat sebuah gelas yang berisi air setengah. Apa yang Anda katakan melihat gelas berisi air setengah itu? Mungkin ada yang mengatakan, “Wah airnya sudah habis setengah”. Yang dipikirkan justru yang sudah habis. Mudah-mudahan kita mau melihat dari sudut pandang yang lain dengan mengatakan, “Masih ada air setengah gelas lagi”. Kalau kita memusatkan perhatian pada “yang sudah habis setengah” kita akan kehilangan kegembiraan. Mungkin yang lebih mengemuka adalah kekuatiran, ketakutan, kesedihan dan sebagainya. Tetapi kalau kita memusatkan perhatian pada apa yang masih ada, “masih ada air setengah gelas lagi” hidup kita akan berbeda. Kita masih memiliki pengharapan, sukacita, semangat pelayanan sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.

Kalau Anda misalnya sekarang berada pada hari Kamis atau Jumat, jangan katakan, “Aduh, sudah lewat hari Senin sampai Rabu. Tetapi katakanlah dengan penuh harapan, “Masih ada hari Sabtu, Minggu dan Senin Minggu II. Atau, jangan pusatkan perhatian pada hari-hari hidup yang sudah berlalu 40-50 tahun. Katakan dalam iman, “Saya bersyukur kepada Tuhan, Dia memberi ‘hari’ ini untuk saya jalani dimana saya bisa melayaniNya”.

Perlu kita sadari betul bahwa usia tua adalah pemberian Tuhan. Oleh karena itu, masa tua bukanlah untuk ditakuti, melainkan untuk disyukuri dan dijalani dengan sukacita. Semua pemberian Tuhan adalah baik dan semua rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Tidak ada yang ditakutkan dalam segala pekerjaan dan pemberian Tuhan.

Ada yang menghitung bahwa di dalam Alkitab terdapat sedikitnya 365 kali seruan “jangan takut”. Seolah-olah setiap hari, pada saat kita bangun pagi, kita diingatkan, “Jangan takut!” Memang tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung mengatakan “jangan takut menjadi tua”. Hanya saja, semakin kita takut semakin membuat kita lebih cepat tua dari yang sudah dirancangkan oleh Tuhan. Sebab, rasa takut akan membuat kita lemah, sakit dan lebih cepat menjadi tua.

Kalau tahun bertambah, pasti usia kita juga bertambah. Kalau usia kita bertambah, di satu segi akan banyak pula yang berkurang dari kita.

YANG BERKURANG:

Ingatan berkurang. Mengingat nama orang makin susah. Baru bertemu, sudah tidak ingat namanya. Memang ada orang yang pura-pura kenal padahal sebenarnya dia tidak mengenal. Seorang nenek dengan yakin berkata, “Jeni kamu banyak berubah. Dulu kamu gendut, sekarang langsing seperti botol coca-cola. Sekarang kulitmu putih, padahal dulu warna kulitmu sawo setengah matang. Dulu rambutmu keriting sekarang lurus, bukan karena direbonding ‘kan?, katanya. “Aku Lia nek, bukan Jeni”, kata si gadis itu memberitahu yang sebenarnya. Si nenek itu malah bilang, “Wah namamu sudah berubah juga ya”.

Kesehatan berkurang. Waktu muda, segala macam makanan disantap tanpa banyak pertimbangan. Sesudah makin berumur, banyak pantangan. Kolestrol dan gula darah perlu dijaga. Kalau sudah tua, mau tidur semua kaki pegal, waktu bangun pagi punggung yang pegal. Singkatnya, banyak yang berkurang. Penglihatan berkurang, pendengaran berkurang dan sebagainya. Sebagian yang kurang ini bisa digantikan dengan yang palsu: warna rambut palsu, mata palsu (kaca mata), gigi palsu, alis mata palsu, bahkan ada yang memakai hidung palsu dengan operasi plastik.

Sayang sekali banyak dari ‘yang palsu’ itu tidak dapat berfungsi optimal. Ada seorang kakek yang dengan sangat bangga memperkenalkan kepada temannya alat bantu pendengaran yang baru saja dia beli. Berselang beberapa saat, temannya itu bertanya, “Jam berapa sekarang?” Dia jawab, “1200 dollar!” Sehebat apa pun alat pendengaran palsu itu, ternyata ada keterbatasannya.

Yang jelas, banyak yang berkurang. Tetapi satu hal yang tidak akan berkurang (dan itu yang paling penting) adalah: kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan. Artinya, dalam hal-hal tertentu kita berubah tetapi Allah tidak berubah: kasih dan pemeliharaanNya tetap. Itu cukup bagi kita.

Di segi lain, kalau usia bertambah, ada juga yang ikut bertambah. Mudah-mudahan yang bertambah bukan yang tidak baik, tetapi biarlah yang baik yang bertambah.

YANG BERTAMBAH:

(1) Bertambah keluhan: bisa karena perilaku anak-anak, suami, mertua; keadaan masyarakat, gereja dan lain-lain. Keriput dan bercak hitam di wajah, dan uban bertambah pula. Mohon diingat, mengeluhkan semua ini akan mempercepat pertambahan keriput wajah dan uban.

Ada seorang ibu yang datang ke sahabatnya mengeluh. “Saya pusing nih. Anak saya yang pertama tidak mau ke gereja; menantu saya perempuan kerjanya cuman bergaya, tidak bisa ngurus anak dan suaminya. Anak saya yang kedua pacaran dengan perempuan beragama lain, saya khawatir dia akan meninggalkan gereja nantinya. Suami saya tidak lama di rumah, dan itupun kerjanya marah terus. Rasanya kepala ini mau pecah, pusiiiiiiing.” Demikianlah si ibu itu berbicara hampir satu jam menyampaikan keluhannya. Setelah berdiam sejenak, sahabatnya itu bertanya dengan lembut, “Sekarang bagaimana perasaanmu?”. Si ibu itu menjawab, “Wah, saya merasa lega, rasa pusing saya hilang”. Sang sahabat mengatakan setengah oyong, “Tapi sekarang kepala saya yang pusing ”. Pusing kepala berpindah dari kepala yang satu ke kepala yang lain.

(2) Bertambah gampang tersinggung dan marah. Mohon diingat bahwa ketika marah wajah kita jelek lho! Perempuan yang sangat cantik sekali pun, jika marah tidak enak dipandang mata. Makanya jarang orang yang mau berkaca kalau ia lagi marah. Kalau mau, Anda bisa coba bawa cermin kecil ke mana-mana dan berkaca pada saat Anda marah. Mudah-mudahan dengan melihat wajah kita yang ‘semrawut’ itu kita tidak akan marah-marah lagi di lain waktu.

Itulah antara lain yang terjadi jika usia bertambah namun iman tindak bertumbuh. Idealnya, pertumbuhan iman seirama dengan pertambahan usia. Tetapi, daripada sibuk dengan hal-hal yang membuat kita kehilangan kebahagiaan, baik karena apa yang berkurang atau godaan untuk bertambah dalam hal-hal yang tidak membangun, marilah kita pusatkan perhatian kita pada firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam Yes. 46:4: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Allah yang mengasihi umatNya ribuan tahun yang silam adalah Allah yang memelihara kehidupan kita anak-anakNya hingga hari ini. Mari kita perhatikan apa yang Allah perbuat kepada kita:

Mengendong:
Allah tetap memelihara dan melindungi anak-anakNya hingga tua. Di hadapan Tuhan, manusia bagaikan bayi yang mendapat kenyamanan dan keamanan dari Tuhan sendiri.

Menanggung:
Menyediakan kebutuhan kita. Bukan tabungan kita, bukan yang kita bangun yang menjadi sandaran kita. Semua itu memang perlu, tetapi bukan jaminan kehidupan kita. Kita sepenuhnya tetap tergantung pada kemurahan dan pemberian Allah.

Memikul dan Menyelamatkan:
Allah menebus kita dengan mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak dapat memikul dosa-dosa kita yang begitu banyak. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita. Hanya karena rahmat dan anaugerah Tuhan semata, kita diselamatkan –dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan yang kekal.

Sehubungan dengan itu, sedikitnya ada tiga hal yang kiranya perlu kita renungkan. Pertama, kita hendaknya menerima pemberian Tuhan, yaitu pertambahan usia, dengan ucapan syukur dan sukacita. Banyak orang yang sudah tua tidak menghendaki hal-hal yang baru terjadi. Mereka menjadi lebih sinis terhadap segala sesuatu, lebih asyk dengan diri sendiri saja, atau merasa bosan. Perubahan adalah pemberian Tuhan, yang hendaknya akita sambut dengan hati terbuka dan gembira. Kedua, seiring dengan bertambahnya usia, hendaknya yang buruk semakin berkurang (yang buruk dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan) tetapi yang baik semakin bertambah (keteguhan iman bertambah, hikmat bertambah dan berbagai hal yang baik bertambah). Singkatnya, buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23) semakin mewujud dalam hidup kita. Dalam Pkh. 4:13 dikatakan, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.”

Ketiga, hendaknyalah kita menjalani hidup ini dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan melalui pekerjaan dan pelayanan kita sehari-hari sampai usia tua. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan, “Pada waktu muda aku mengagumi orang sukses dan pintar. Tetapi ketika aku semakin tua aku mengagumi orang-orang yang baik hati.” Idealnya, tidak saja mengagumi orang yang baik hati tetapi juga menjadi orang yang benar-benar baik hati.

Rasul Paulus menasihatkan:

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor 15:58).

Monday, May 19, 2008

POSISI BERDOA tapi OTAK TERNODA

Sebuah sekolah pendidikan teologi mewajibkan seluruh mahasiswanya yang tinggal di asrama untuk bangun setiap jam 5 pagi. Mereka semuanya harus mengikuti senam kesegaran jasmani (SKJ) secara bersama-sama yang selalu dihadiri oleh Rektor perguruan itu. Sang Rektor dikenal sangat 'disiplin' dan tidak sungkan memukul mahasiswa yang tertidur dengan tongkatnya yang selalu ia bawa setiap pagi.

Pada suatu pagi yang agak dingin, ia memasuki kamar para mahasiswa untuk memeriksa apakah ada yang masih tertidur. Ternyata ada seorang mahasiswa yang agak malas bangun karena dinginnya suhu udara (teman-temannya biasa menjulukinya 'ratu tidur'). Si mahasiswa itu sudah mendengar suara langkah Pak Rektor itu menuju kamarnya. Dia sangat ketakutan. Dengan cepat ia duduk dengan posisi berdoa di atas tempat tidurnya. Tetapi sesungguhnya ia tidak berdoa. Ia berkata dalam hati, "aduuuuuuh, sakitnya pukulan tongkat ini nantinya". Pikirannya sepenuhnya tertuju pada pukulan tongkat sang Pemimpin. Melihat keadaan 'doa' yang khusuk itu, Rektor keluar dari kamar itu. Beberapa saat kemudian, setelah si mahasiswa melirik bahwa Rektornya sudah tidak ada lagi di kamar, ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil berkata dalam hati, "amaaaaan.....". Padahal, Rektor masih berada di luar, menunggu si mahasiswa selesai berdoa.

Menganggap 'doa' itu sudah terlalu lama, si Rektor kembali ke kamar dan melihat si mahasiswa berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba tongkat pun mendarat di kaki si mahasiswa. Ia merasa sakit dua kali lipat karena (1) Kaget, dan (2) pukulan itu benar-benar sakit.

Bagaimana dengan doa-doa Anda?
Bagaimana kepemimpinan Anda? Yang suka pakai 'tongkat' silahkan bertobat!

Sunday, May 18, 2008

TIDUR DAN IBADAH

Sebuah asrama seminari Kristen menjadwalkan doa bersama pagi dan malam kepada semua mahasiswa penghuni asrama tersebut. Kepala asrama amat ketat mengawasi kehadiran para penghuni asrama mengikuti ibadah.

Seorang mahasiswa yang amat lelah setelah melakukan perjalanan panjang sehari penuh memilih untuk tidur lebih awal tanpa mengikuti ibadah malam bersama.

Keesokan harinya, Pemimpin asrama dengan suara sedikit meninggi bertanya kepada mahasiswa, "Kamu tidak mengikuti ibadah tadi malam bukan?"

"Tidak Pak," sahut si mahasiswa dengan nada datar dan sedikit gemetar.

"Masakan seorang penghuni asrama seminari tidak mengikuti ibadah. Coba bayangkan, apa kira-kira yang Tuhan katakan kepadamu dengan ketidakhadiranmu dalam ibadah", desak si pemimpin asrama.

"Tuhan mengatakan, 'engkau sudah sangat capek anakKu, tidurlah dengan dengan tenang. Lupakan segala sesuatu kecuali mengingat bahwa Aku tidak tertidur dan tidak melupakanmu'."

Ibadah bukanlah sebuah kewajiban, apalagi yang ketat-kaku. Ibadah adalah sebuah panggilan yang hendaknya dilakukan dengan sukacita untuk kemuliaan Tuhan bukan menyengkan pemimpin atau institusi.

Monday, May 5, 2008

TATA IBADAH HKBP

(Foto: Gereja HKBP Parapat - Sumaatera Utara; Desember 2007)
I. PENGANTAR

Rasul Paulus menasihatkan, “Latihlah dirimu beribadah”. Tujuannya jelas yaitu bahwa ibadah teranyam ketat dengan keteladanan hidup dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian (baca 1 Tim 4:7, 12). Mengacu pada nasihat ini, ibadah sangat menentukan totalitas kehidupan umat percaya. Karena itu, tata ibadah perlu mendapat perhatian khusus dan serius.

Tata ibadah HKBP telah dipakai oleh Tuhan untuk menyapa dan membangun warga HKBP dalam rentang sejarah yang cukup panjang. Banyak warga jemaat yang sudah merasa at home (‘betah’) dengan tata ibadah itu. Jika demikian, apa yang perlu dikritisi? Untuk menghindari salah paham, perlu dikemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “kritis” di sini adalah “menguji dalam terang Firman Tuhan”. Tata ibadah dan kehidupan beribadah dapat diuji dalam terang firman Tuhan setiap saat.

Akhir-akhir ini seruan pembaharuan tata ibadah HKBP kian deras mengalir. Seruan demikian harus disambut baik dengan dua alasa utama. Pertama, tata ibadah merupakan post biblical development (perkembangan dari zaman Alkitab) yang kita warisi dari umat percaya dalam sejarah perjalanan Gereja. Ia berbeda pada zaman dan tempat yang berbeda. Karena itu, tata ibadah tidak pernah (dan tidak perlu) dibakukan atau dimutlakkan. Dengan kata lain, tata ibadah tidak dikanonkan sejajar dengan Alkitab. Kedua, tata ibadah adalah salah satu wahana atau “alat” dan bukan “tujuan”. Walaupun harus diakui bahwa sebagai alat, ia juga sangat berperan dalam mencapai tujuan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah akademis tetapi lebih merupakan uraian teologis praktis, yang difokuskan pada ibadah HKBP.

II. MENUJU TATA IBADAH KONTEKSTUAL

Alkitab tidak mencatat tata ibadah baku yang berlaku bagi semua gereja sepanjang zaman. Tata ibadah yang baku dan kaku bisa menghalangi karya Roh bekerja dalam kehidupan umat beriman. Tidak ada yang dapat mengklaim satu tata ibadah sebagai yang terbaik bagi semua. Juga, tidak mungkin mengambil suatu kesimpulan bahwa tata ibadah tertentu lebih disukai Tuhan, membuat orang lebih baik, atau tata ibadah tertentu lebih berjasa menyumbangkan yang terbaik bagi gereja dan masyarakat.

Satu pertanyaan yang perlu direspon adalah, “apakah dimungkinkan keragaman tata ibadah dalam satu gereja?” Menurut hemat saya secara teologis keragaman tata ibadah sah sejauh hal-hal yang sangat esensial tetap dipelihara yaitu bahwa ibadah berpusat pada Allah. Kita bisa saja memuji Tuhan yang sama dengan tata ibadah yang berbeda, dan jangan memuji “tuhan” yang berbeda, dengan tata ibadah yang sama.

Dalam lingkungan gereja-gereja Lutheran, misalnya, keragaman tata ibadah lebih dipahami sebagai kekayaan dan bukan pertentangan. Lathrop (seorang teolog Lutheran bidang liturgi) mencatat sebagai berikut:

Gereja-gereja Lutheran tidak memiliki tata ibadah Lutheran internasional resmi. Lutheran mewarisi kekayaan ibadah Kristen dalam perjalanan sejarah. Lutheran menyambut baik konsensus ekumenis tentang dasar-dasar tata ibadah yang paling mendasar dan secara sadar mengakui bahwa tata ibadah yang ada sangat dipengaruhi oleh berbagai budaya. Kita membutuhkan tata ibadah yang kontekstual.[2]

Keabsahan keragaman tata ibadah sebagai kekayaan juga didasari suatu keyakinan bahwa orang Kristen tidak diselamatkan oleh ‘suatu tata ibadah yang dibakukan’. Karena itu kita tidak dapat “mempertuhan tata Ibadah”, tetapi kita menyembah Tuhan dalam ibadah. Ibadah adalah perayaan atas keselamatan kita dan kesempatan mempertanggungjawabkan keselamatan kita melalui penyerahan hidup kita seturut dengan kehendak Tuhan.

Tata ibadah HKBP pun (sebagaimana tertuang dalam Agenda HKBP) dirumuskan sedemikian rupa dalam semangat pengkontekstualisasian tata ibadah. Artinya, tata ibadah HKBP dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya. Itu sebabnya tidak semua rumusan-rumusan di dalamnya relevan dengan konteks HKBP kontemporer. Salah satu contoh, dalam Agenda HKBP tercantum doa berikut: “Sai gomgomi jala parentai ma huriaM di tano Batak on, asa lam rarat jala monang huriaMi.”[3] (Bimbinglah gerejaMu di tanah Batak ini agar semakin berkembang dan menang). Rumusan ini harus dipahami dalam kerangka konteks historis yang tentu tidak relevan bagi HKBP yang ada di luar tanah Batak seperti Bali, Singapura dan lain-lain.

Di samping itu, urgensi perubahan tata ibadah merupakan wujud nyata penerimaan kita terhadap upaya lembaga-lembaga gerejawi pada aras nasional hingga internasional seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD).[4]

Tetapi dalam usaha pembaharuan tata ibadah perlu adanya konservasi (mempertahankan warisan pendahulu-pendahulu kita yang relevan dalam konteks bergereja masakini. Artinya, kontinuitas, terutama hal-hal esensial, harus dipelihara. Perubahan tata ibadah hendaknya tidak mengubah hakekat ibadah itu sendiri. Sebab, ibadah adalah “permanen” tetapi “tata ibadah” adalah kondisional.

Dalam perubahan tersebut perlu dijaga agar ibadah tidak direduksi pada level “selera”. Jika ada warga jemaat merasa lebih at home dengan tata ibadah yang lain, janganlah menganggap tata ibadah HKBP sebagai yang tidak berguna lagi. Sebaliknya, warga jemaat yang sudah merasa kerasan dengan tata ibadah HKBP, sangat bijaksana kalau menghargai keragaman tata ibadah lain.

Perlu dikemukakan bahwa penyusunan tata ibadah sedemikian rupa tidak dimotivasi niat keliru seolah-olah Tuhan lebih mudah ‘dibujuk’ atau ‘dipengaruhi’ melalui tata ibadah tertentu. Tata ibadah justru membantu kita untuk dapat lebih menghayati iman kita dan menggerakkan totalitas kehidupan kita menjadi persembahan yang kudus kepadaNya. Ibadah merangkum seluruh tugas panggilan gereja di antaranya: edukasi, persekutuan, kesaksian, dan pelayanan kasih.

1. Ibadah sebagai Proses Edukasi

Murid-murid Yesus mendapat pengajaran dalam suasana ibadah dan seluruh gerak hidup mereka bersama Yesus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ibadah adalah suatu proses belajar dari Kristus sang guru agung itu, proses belajar dari sesama warga jemaat, dan proses belajar dari sesama manusia. Ibadah dapat menjadi proses “belajar menerima” dan “belajar memberi”. Belajar menerima dimaksudkan menerima atau menyambut kehadiran Tuhan dengan segala anugerah dan perintahNya; belajar memberi dimaksudkan memberi hidup sebagai persembahan kepada Tuhan melalui pelayanan terhadap sesama. Semuanya ini dilakukan dalam pemahaman yang benar dan kesadaran yang sungguh-sunguh.

Idealnya ibadah membekali warga jemaat memahami konfesi (pengakuan iman), etika, aturan, siasat gereja, tugas panggilan gereja dan sebagainya. Dalam hal ini terangkum sikap kristiani berhubungan dengan berbagai bidang kehidupan seperti masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, agama-agama dan sebagainya. Seiring dengan ini ibadah mestinya berperan untuk mempertajam visi, menumbuhkan sikap kritis, menumbuhkan komitmen, dan mengarahkan hidup kita kepada kebutuhan sesama. Kita juga dimungkinkan untuk senantiasa terjaga dan mampu menguji roh-roh jaman seperti individualisme, konsumerisme, materialisme, hedonisme dan lain-lain yang tengah merasuk dan merusak kehidupan umat. Di sini ibadah menjadi wahana untuk mengasah sensitivitas kita terhadap sapaan dan kehendak Allah

Tujuan beribadah tidak dimaksudkan untuk ‘mengajar’ dan mengingatkan Tuhan pada tanggung jawabNya, melainkan mengajar dan mengingatkan umat percaya akan tanggung jawabnya. Dengan kata lain proses “pemuridan” yang sesungguhya terjadi dalam suasana ibadah. Tuhan senantiasa memperlengkapi para muridNya (dalam hal ini semua pelayan dan warga jemaat adalah murid-murid Kristus seumur hidup).

Singkatnya, dalam ibadah kita memperhatikan dan mendengar apa yang diperhatikan dan didengar oleh Allah (lihat misalnya Kel 3:7) dan merasakan apa yang dirasakan Kristus (Ef 2:5). Hanya dengan demikian kita dimungkinkan bertindak seturut dengan tindakan Allah.

2. Ibadah dan Persekutuan Ekumenis.

Persekutuan merupakan salah satu esensi ibadah. Di dalam ibadah umat percaya secara bersama-sama dibaharui oleh Allah dengan anugerahNya. Ibadah juga menjadi momen berharga untuk menyegarkan umat percaya akan panggilannya sebagai persekutuan yang diikat kuat oleh kasih Allah. T.S. Eliot menyatakan hal ini dengan sangat baik sebagai berikut.[5]

Apakah arti kehidupan Anda jika tidak dalam persekutuan?
Tidak ada hidup tanpa hidup dalam persekutuan
Tidak ada persekutuan yang hidup tanpa kasih Allah
Tidak ada persekutuan yang bermakna tanpa pujian kepada Allah

Dalam konteks ini, “persekutuan”, di samping persekutuan umat beriman, harus kita pahami melintas tembok gedung-gedung gereja. Kata oikumene harus dipahami secara baru sebagai yang merangkum dan merangkul semua orang. Dalam hal ini persekutuan dapat dilihat dalam dua dimensi, di satu sisi kekokohan dan keutuhan persekutuan jemaat, di pihak lain mengarahkan hidup kepada persekutuan yang lebih luas dengan membuka sekat-sekat penghalang persaudaraan sejati kepada semua dan setiap orang.

Persaudaraan sejati sangat sulit mewujud karena roh individualisme telah merambah ke setiap ranah kehidupan. Dalam konteks masyarakat yang semakin individualistis, orang-orang Kristen bisa saja menikmati hadirat Tuhan secara eksklusif saja berdasarkan kesamaan status sosial, kesamaan ‘selera’, kesamaan kecemasan dan sebagainya. Di sini, ibadah --jika ia masih diminati-- cenderung dibelokan menjadi sekadar sarana pemenuhan kepentingan diri sendiri. Yang terjadi di sini adalah pemanfaatan persekutuan demi pemenuhan kepentingan diri. Konsekwensinya, persekutuan yang sesungguhnya menjadi mustahil.

Salah satu dampak perkembangan teknologi dewasa ini adalah kenyataan bahwa “ibadah” sudah dengan mudah “diantar” ke rumah-rumah hunian kita melalui TV, di mana kita tidak saja berperan sebagai ‘pemirsa’ tetapi bisa terlibat langsung berdoa, bernyanyi dan sebagainya. Perkembangan ini mestinya kita sambut sebagai ‘suplemen’ terhadap pertumbuhan persekutuan kita bukan menggantikan persekutuan jemaat.

Ibadah yang ‘dingin’ lebih disebabkan oleh persaudaraan yang dingin dan sambutan ‘dingin’ atas kehadiran Tuhan dalam ibadah dan seluruh kehidupan. Tetapi persekutuan kita akan hangat dan bersahabat jika dibangun atas dasar kebersamaan yang dirahmati dan didiami RohNya.

3. Ibadah dan Kesaksian

Sebenarnya kita lebih lama bertemu dengan Tuhan di luar ibadah. Karena itu, di luar ibadah yang sudah diformat sedemikian rupa, Allah tetap bisa disembah. Kita tidak dapat membentengi ruang lingkup kerja Allah hanya dalam ibadah, seolah-olah kita dapat meninggalkanNya sendirian di gedung gereja sementara kita melakukan aktivitas sehari-hari dan kemudian kita menemuiNya kembali pada hari Minggu berikutnya. Padahal, sesungguhnya kita berhadapan dan bersama-sama dengan Allah dalam seluruh kehidupan kita. Kita juga dapat mendengar kebenaran Tuhan dari sesama melalui pengakuan iman dan praksis kehidupan beriman umat percaya di masa lalu dan masa kini.

Karya dan kehendak Allah yang dialami di luar ibadah dapat direnungkan dalam ibadah; karya dan kehendak Allah yang terungkap dalam ibadah dapat ‘ditangkap’ dan dialami di luar ibadah formal. Itu sebabnya “suara kenabian” menjadi keharusan ketika di dalam dan di luar ibadah kita sunguh-sunguh bertemu dengan Tuhan yang menolak segala bentuk ketidakadilan. Di dalam ibadah kita bertemu dengan Allah yang mencintai kebenaran dan keadilan, di dalam kehidupan sehari-hari kita terpangil untuk menyatakan kebenaran dan keadilan. Ketika suara kenabian diredam di tengah situasi maraknya ketidakadilan --meskipun ibadah tetap semarak-- sebenarnya peribadahan itu telah bergeser menjadi persekutuan oposisi kepada Allah.

Ibadah tidak dimaksudkan sebagai tindakan “mengambil hati Allah” atau membujuknya untuk mencocokkan keputusan dan pemberianNya sesuai dengan keinginan kita, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk menyaksikan secara jernih karya Allah yang sudah nyata. Kesaksian demikian seharusnya diikuti dengan penegasan komitmen umat percaya seturut dengan kehendakNya. Nasihat “latihlah dirimu beribadah”, juga kita mengerti sebagai nasihat untuk melatih diri menyaksikan kehadiran dan karya Allah dan memahami kehendakNya dalam segala situasi kehidupan, baik dalam situasi teduh maupun dalam situasi gemuruhnya dunia ini. Tugas panggilan untuk bersaksi atau pemberitaan Injil yang benar hanya dimungkinkan jika kita mampu menyaksikan kehendak dan rencana Tuhan dalam situasi konkret perjalanan dunia ini.

4. Ibadah dan Solidaritas

Allah menghendaki ibadah yang berpadanan dengan kehidupan konkret, terutama dalam penegakan kebenaran dan keadilan. Allah menolak ibadah yang semarak tanpa disertai dengan gerak hidup yang seturut gerak Allah di dunia ini, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan (Amos 5).

Kita belajar dari sikap Yesus yang lebih mencintai manusia ketimbang Sabat. Yesus tidak terlambat dan terhambat menolong manusia bermartabat melintas ‘rambu-rambu’ Sabat. Artinya, ibadah adalah demi manusia, bukan manusia dikorbankan demi ibadah. Yang disebut terakhir ini klop dengan ibadah kepada tahyul. Ketika orang terhalang mengasihi sesamanya atas nama ibadah, maka ibadah menjadi tidak bermakna.

Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa kehidupan beragama (termasuk bergereja) di Indonesia masih semarak atau bahkan sedang berada pada kemuncak-kemuncaknya, namun dalam waktu yang sama terjadi keruntuhan moral dan etika.[6] Panggilan kita ialah agar melalui ibadah kita semakin peka terhadap sapaan Tuhan dan semakin peka akan kebutuhan sesama. Ibadah tidak menggantikan tanggung jawab, atau cicilan pembayaran sanksi pelanggaran dan dosa kita, tetapi dalam rangka mewujudkan peran kita sebagai garam dan terang dunia.

Yang perlu mendapat perhatian kita secara khusus ialah, agar pergumulan hidup masyarakat mendapat tempat dalam ibadah. Kita memerlukan renungan situasional, menyelami dan memahami kenyataan secara kritis atas pertolongan Tuhan. Dengan demikian ibadah dapat menumbuhkan kepekaan sosial dan solidaritas sejati.

Ibadah adalah ‘doa syafaat’ yang menyatu dengan tindakan konkret. Kita tidak berjasa apapun jika doa syafaat yang kita ucapkan menggantikan tangung jawab kita menolong mereka yang terindas dan dalam kesusahan. Ibadah menjadi bermakna jika umat tergerak dan bertindak dengan motivasi yang benar. Reed merumuskannya dengan sangat tepat sebagai berikut.[7]

Ibadah adalah doa syafaat, teriakan atas nama dunia sepanjang masa. Berdoa kepada Allah dan mengingat sesama manusia berarti mengakui bahwa Allah mengingat kita semua. Karena itu, menaikkan doa syafaat tidak terpisahkan dengan solidaritas nyata dengan semua korban dalam masyarakat kita.

III. PENGHAYATAN IBADAH

HKBP telah sejak lama menekankan perlunya kehidmatan dan keteduhan beribadah. Dalam GBKPP HKBP misalnya diamanatkan: “Kehidmatan dan keteduhan kebaktian merupakan suatu faktor penting dalam usaha menimbulkan perasaan dan pemahaman serta penghayatan yang lebih mendalam tentang firman Allah…Untuk ini tata cara kebaktian hendaklah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga jemaat dapat turut merasakan dan menghayatinya secara mendalam…”[8]

Memang, kehidmatan dan keteduhan kita seringkali dijarah baik oleh gaya hidup workalholic (terlalu sibuk bekerja) maupun gaya hidup yang terlalu santai. Tetapi kita dapat meraih kembali kehidmatan dan keteduhan ini dengan prasyarat kuci yakni: penghayatan. Untuk itu dibutuhkan persiapan diri pelayan dan warga jemaat. Nampaknya para pelayan dan warga gereja-gereja Protestan (termasuk HKBP) sudah banyak yang lupa akan warisan spiritual berharga seperti meditasi, puasa, saat teduh dan sebagainya. Martin Luther sendiri menganjurkan doa dan perenungan pribadi dengan membaca bagian kitab Mazmur, membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab tertentu, mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, dan diakhiri dengan Doa Bapa Kami. Warisan berharga seperti ini hendaknya tetap dipelihara sehingga ibadah dapat terbangun dalam suasana rahmat.

Berikut ini ada tiga ‘elemen’ ibadah formal yang kiranya perlu mendapat perhatian dan persiapan kita secara khusus.

1. Liturgi

Pencobaan bisa saja dihadapi oleh Paragenda (pemimpin liturgi) yang sudah dan belum ‘biasa’ memimpin ibadah. Mereka yang sudah biasa tergoda merasa tidak membutuhkan persiapan khusus dan penyerahan diri. Bagian demi bagian tata ibadah mungkin saja berjalan ‘lancar’ tetapi seringkali tanpa penghayatan, apalagi kalau ia hanya menggantungkan diri pada intonasi suara yang ‘dipaksakan’ atau dibuat-buat. Pemimimpin ibadah yang belum biasa, seringkali menjadi amat kaku karena seluruh perhatian terkonsentrasi pada susunan acara dan membolak-balik Agenda (buku tata ibadah). Pemimpin ibadah jadinya merasa lebih banyak “berhadapan” dengan Agenda dan tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri dan umatNya.

Maka yang terjadi adalah “membaca” votum, bukan mengaku bahwa Allah hadir dalam ibadah, membaca doa bukan berdoa, membaca Alkitab bukan memperdengarkan firman Tuhan, mengucapkan rumusan Pengakuan Iman Rasuli (yang sudah dihafal), bukan mengaku percaya secara baru, dan sebagainya. Keadaan ini menyuburkan kebosanan dalam ibadah. Mestinya pusat perhatian adalah Allah yang hadir dalam ibadah itu sendiri, yang memberi hukum, pengampunan, berfirman, memberi berkat, mengutus, dan sebaginya, sehingga ibadah dapat menyentuh hati yang terdalam peserta ibadah.

Pemimpin ibadah dapat keluar dari belenggu hambatan seperti itu dengan sungguh-sungguh menikmati perkataan-perkataan Tuhan setiap kali bertemu denganNya (Yer 15:16). Sebab, kasih setia dan rahmat Tuhan selalu baru tiap saat (Rat 3:22). Dalam hal ini para pelayan ibadah perlu mempersiapkan diri secara rohani dan jasmani. Setiap pelayan yang bertugas seharusnya mempersiapkan diri secara khusus dalam suasana keheningan dan doa untuk menerima pimpinan dan hikmat dari Tuhan.

2. Kotbah[9]

Kotbah merupakan salah satu bagian terpenting dalam ibadah. Dalam GBKPP HKBP dicatat: “Dalam setiap kebaktian, khotbah memegang peranan yang sangat penting”. [10] Perlu disadari bahwa krisis tidak terutama terjadi pada para pendengar khotbah, tetapi pada para pengkotbah. Umumnya warga jemaat masih merindukan kotbah. Justru para Pengkotbahlah yang barangkali sedang dirundung kejenuhan karena terpasung rutinitas. Jika semua hal sudah pernah dikotbahkan, para pengkotbah cenderung hanya menggantungkan diri pada intonasi kata-kata, gerak-gerik dan sebagainya. Konsekuensinya, pemberitaan pun menjadi ‘gersang’.

Sebuah doa dalam Agenda HKBP berbunyi: “Sai songgopi ma angka parjamita marhitehite TondiM asa marhiras ni roha nasida jala asa mabaor sian pamangannasida HataM na sintong i songon hababaor ni aek sian mual na denggan, na pasabam roha ni jolma na loja jala na sorat”[11] (Curahkanlah RohMu kepada para pengkotbah agar mereka senantiasa dalam sukacita dan kebenaran firmanMu mengalir melalui mulut mereka seperti air segar yang menyejukkan, menhibur hati orang-orang yang menanggung beban). Doa ini mestinya juga merupakan panggilan kepada para pelayan Firman Tuhan untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri, termasuk menjernihkan motivasinya.

Pertanyaan yang perlu dijawab seorang pengkotbah sebelum berkotbah adalah, “Apakah saya berkotbah karena I have to say something (Saya “harus” mengatakan sesuatu) atau I have something to say (“Ada” sesuatu yang akan saya katakan). Yang disebut pertama berkotbah karena ‘terpaksa’ (karena jadwal, menggantikan pengkotbah, dan sebagainya). Godaan terbesar dengan motivasi seperti ini adalah usaha keras memeras benak mencari “apa yang cocok saya katakan atas dasar ayat Alkitab ini”, bukan (yang pertama dan terutama!) “apa yang Tuhan katakan kepada saya dan umatNya melalui ayat Alkitab ini”. Motivasi I have something to say bertolak dari kesediaan mendengar sapaan Tuhan dan menyadari panggilanNya untuk memberitakan FirmanNya. Ini hanya dapat terbangun melalui persiapan diri dalam keheningan batin sehingga Firman Tuhan yang disampaikan menyejukkan, menyentuh hati yang terdalam, membangkitkan iman, meneguhkan ketetapan hati mengikut Kristus dalam kebenaran dan kasih. Karena itu, pendidikan homiletik tidak terutama terletak pada pendidikan teologi formal, tetapi seluruh kehidupan adalah medan di mana Tuhan mendidik para hambaNya. Pengkotbah yang layak didengar, adalah pengkotbah yang bersedia mendengarkan Tuhan dalam hidupnya!

3. Nyanyian

Salah satu ciri jemaat Kristen perdana adalah “jemaat yang bernyanyi”. Ciri ini juga merupakan ciri ibadah Kristen sepanjang sejarah. Reformator Martin Luther dengan tepat pernah mengatakan ”Iblis akan enyah ketika mendengar nyanyian Kristen”. Hal ini dapat kita pahami karena ketika hati kita terpaut pada Tuhan, maka Iblis pun akan undur.

Ada tiga hal dapat dikemukakan di sini seputar nyanyian gereja. Pertama, kedudukan koor dalam ibadah. Pada umumnya jemaat-jemaat HKBP memberi tempat khusus pada koor dalam ibadah minggu dan perayaan gerejawi HKBP. Sejauh ini agaknya belum terdengar seruan penghapusan koor dari ibadah, tetapi memang gencar diserukan pengurangan jumlah koor (misalnya dari 8-9 menjadi 2-3 koor) dalam setiap ibadah. Dalam hal ini ada baiknya dilakukan dialog terbuka di jemaat-jemaat untuk mempercakapkannya. Yang perlu dipikirkan ialah agar koor itu membangun seluruh peserta ibadah.

Kedua, penggunaan nyanyian di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Penggunaan nyanyian gerejawi di luar Buku Ende HKBP banyak diminati dan diserukan oleh pemuda HKBP, terutama karena irama dan iringan musik yang diangap lebih ‘pas’. Menurut hemat saya, hal ini perlu ditanggapi secara positif. Para pemuda seharusnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan kegembiraan, harapan, pujian, dan pergumulannya, serta penyerahan dirinya kepada Tuhan dengan nyanyian demikian. Sebab, secara teologis, Allah dapat disembah melalui lagu-lagu di luar Buku Ende (koor-koor itu pun sebetulnya di luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat).[12] Pelaksanaan ibadah seperti itu baiklah dilakukan secara khusus tetapi ibadah Minggu HKBP –paling tidak sampai saat ini-- hendaknya tetap menggunakan Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat. Yang penting ialah bahwa HKBP harus terbuka pada segala sesuatu yang membangun kehidupan bergereja.

Ketiga, Pemazmur mengajak “nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan” (Mzm 96:1). Syair nyanyian dalam Buku Ende HKBP memang sudah lama, bahkan banyak di antaranya yang sudah kita hapal mati. Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan bisa juga dengan “nyanyian lama” dengan penghayatan baru. Yang lebih utama adalah kata demi kata nyanyian itu sungguh-sunguh meresapi akal budi dan hati kita yang terdalam.

IV. PENUTUP

Tuhan menjumpai kita di dalam dan di luar ibadah. Firman Tuhan yang berbunyi “Carilah Tuhan” (Amos 5:6a) kita pahami dalam arti bahwa “Tuhan telah terlebih dahulu menemukan kita”. Ibadah bukanlah upaya supaya mendapat hak khusus lebih dekat dengan Tuhan dan hak khusus untuk meminta kepada Tuhan. Ibadah adalah proses perubahan dan penyerahan hidup dan bahkan bagian integral hidup kita. Dengan demikian, dalam iman dan suasana penuh rahmat kita boleh hidup dengan pengakuan dan komitmen sebagai berikut:[13]

Tuhan, Engkau telah memberikan diriMu
Kini kami memempersembahkan hidup kami kepadaMu melalui pelayanan terhadap sesama
KasihMu telah menjadikan kami manusia baru
Sebagai umat yang Kaukasihi, kami akan melayani Engkau dengan sukacita
KemuliaanMu telah memenuhi hati kami
Tolong kami memuliakan Engkau dalam segala hal. Amin.


[2] Gordon W. Lathrop, “The Shape of the Liturgy: A Framework for Contextualization”, dalam S. Anita Stauffer (ed.), Christian Worship: Unity in Cultural Diversity, Geneva: LWF, 1996.
[3] Bagian doa perayaan peringatan kenaikan Tuhan Yesus. Lihat Agenda HKBP, halaman 96. Dalam edisi Bahasa Indonesia kata di tano Batak on (di tanah Batak ini) diganti menjadi: “Bimbinglah gerejaMu di seluruh dunia ini, agar semakin kuat dan berkembang. Rumusan edisi bahasa Indonesia ini sebenarnya sudah merupakan usaha kontekstualisasi tata ibadah.
[4] Salah satu contoh adalah tata ibadah Perjamuan Kudus yang dirumuskan oleh DGD di Lima, Peru, yang sangat relevan digunakan dalam ibadah Perjamuan Kudus.
[5] Sebagaimana dikutip oleh Don E. Saliers, Worship as Theology. Foretaste of Glory Divine, Nashville: Abingdon Press, 1994, hal. 30
[6] Eka Darmaputera, “Kebangkitan Agama dan Keruntuhan Etika”, dalam Tim Balitbang PGI (Peny.), Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia, jakarta: BPK, 1999
[7] Don Saliers, The Lutheran Liturgy, Philadelphia: Muhlenberg Press, 1947, hal. 31
[8] HKBP, Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan HKBP, Pearaja Tarung: HKBP, 1989, hal. 36 (Selanjutnya disebut GBKPP HKBP).
[9] Henri J. Nouwen menguraikan topik ini dengan sangat mengesankan dalam bukunya Pelayanan Yang Kreatif, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hal. 43-62
[10] GBKPP HKBP, hal. 36
[11] Doa Pesta Reformasi. Lihat Agenda HKBP, hal. 99
[12] Menjadi catatan, di samping peranan ibadah (melalui nyanyian gembira) dapat menghalau kesedihan, beban berat dan aneka penderitaan, seharusnya kesediaan menerima dengan tabah salib yang dipikulkan oleh Tuhan.
[13] Lihat William H. Willimon, The Service of God. How Worship and Ethics are Related, Nashville: Abingdon Press, 1983, p. 131
[14] Sebagian jemaat HKBP berdoa setelah warta jemaat, dan sebagian lagi tidak. Umumnya pemimpin liturgi (paragenda) berdiri di depan altar, tetapi ada juga yang berdiri di podium khotbah. Pengadaan kebaktian Minggu pada sore atau malam hari pun merupkan perkembangan kemudian, sesuai dengan keperluannya.

KEL JONNI TINAMBUNAN



Banyak hal yang tidak kita mengerti dalam perjalanan hidup ini. Saya teringat dengan Bpk Jonni Tinambunan ini yang mengikuti testing masuk ke STT HKBP tahun 1984. Tetapi Tuhan berkata lain dengan memberi sekolah yang lain dan memberi pekerjaan dan tugas pelayanan di Papua. Jauh memang dari tempat kelahirannya. Tetapi begitulah, Tuhan ada di mana-mana termasuk di Papua. Selamat menjalani kehidupan, pekerjaan dan pelayanan di tempat nan jauh di sana untuk Bapak Jonni Tinambunan sekeluarga.

(Foto ini diambil ketika beliau mengunjungi Sidikalang, Dairi - Sumatera Utara).

Selengkapnya:

JONNI TINAMBUNAN, SE.MM
Tempat Tgl Lahir : Barus, 05 Juni 1964
Bekerja sebagai Kabag Program pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Papua

Pendidikan: SD Negeri Onan Ganjang Tahun 1977, SMP Neg. II Tarutung, Tahun 1980, SMA Neg. Tarutung, Tahun 1984; STIE Ottow & Geissler Jayapura-Papua, Tahun 1995; S2 Magister Manajemen (Konsentrasi Bidang SDM) UNHAS Tahun 2005

Isteri: Ny. H. Sihotang (kelahiran Manado)
Anak: 1. Feryanto Paska Tinambunan ( SD Kls VI); 2. Martauli Tinambunan ( SD Kls 1); 3. Kristian Tinambunan ( T K ); 4. Kenzia Dame Tinambunan ( 2 Tahun)

ShoutMix chat widget