Thursday, April 3, 2008

LATIHAN DOA KONTEMPLATIF


Pendahuluan

Berikut ini disarankan beberapa penekanan doa yang kita lakukan setiap hari, kalau boleh dua kali sehari, masing-masing minimal 20 menit. Dalam keterbukaan akan Allah, dalam suasana rahmat, kita boleh memilih penekanan doa ini setiap hari, satu sehari atau dua setiap hari, sehinga pada akhirnya, kita menyadari bahwa bukan aktivitas rohani kita yang menghadirkan Allah bagi kita, tetapi kita menjadi terbuka akan bimbingan Allah yang mengajarkan kepada kita rahasia ketergantungan sejati.
Adapun penekanan-penekanan yang dimaksud adalah sebagai berikut, yang sebaiknya mengikuti nomor urut.

1. Menyadari kehadiran Allah

Duduklah dengan tenang, mulailah menenangkan tubuh melalui penyadaran akan nafas. Lalu bukalah diri akan kehadiran Allah.
…Ia hadir dalam rohku, Ia memperatikan kesadaranku
…Ia diam dalam pusat diriku yang terdalam…dalam lubuk hatiku…
…Sekarang aku berusaha mendapatkan kesadaran ini…
…tetapi pada suatu saat Ia akan memberi aku kesadaran ini dengan cuma-cuma…
…Ia lbih dekat dengan diriku, daripada aku sendiri dekat dengan diriku…
…Ia mengenal diriku lebih baik daripada aku sendiri mengenal diriku…
…Ia mengasihi diriku lebih daripada aku sendiri mengasihi diriku…
…Bila aku ternyata mampu mengasihi, itu adalah karena aku telah menerima kasihNya…
…Bila aku mencari kesadaran akan Dia, sebaliknyalah yang terjadi, karena Dialah yang membuat aku terbangun, sadar akan kehadiranNya dalam, dan melalui dan bersama Yesus…
…Dalam, melalui dan bersama Yesus, Ia mencurahkan mencurahkan RohNya, sehingga aku berseru kepadaNya “Abba”, Bapa…
…Ia memenuhi aku dengan syukur dan pujian atas kehadiranNya yang mengagumkan…

Carilah ayat-ayat Alkitab melalui konkordansi kalau agak sulit, yang berhubungan dengan kehadiran Allah, untuk dilakukan dalam lectio, meditatio, dan oratio. Misalnya Ulangan 32:10-12; Yeremia 31:2-3, dll.
Nanti akan menjadi nyata, bahwa Allah-lah yang membiarkan diriNya disadari, bukan kita yang mencari Dia. Dengan demikian, kita mampu melihat Allah dalam hidup ini, dan berjalan bersama dengan Allah. Lalu, kitapun mampu untuk hidup bersama dengan “saudara-saudara Yesus yang hina itu”, yang tertindas, tersisih, terluka secara fisik dan sosial.

2. Penyerahan diri

Di hadapan wajahNya, dan sadar akan kehadiranNya,
Aku menyerahkan seiap segi kehidupanku,
Kuserahkan diriku kembali kepadaNya.
Aku melepaskan nafsu bermilik yang menguasai aku.
Aku minta supaya Dia sajalah yang menguasai aku
Karena Dia penebusku
Dengan demikian, aku bukan lagi milik cita-citaku
Aku menjadi milik rencana Allah
Menjadi milik masa depan
Asal aku sedia, menyerahkan diriku, hidupku…
Kuserahkan segala tanggungan, kegelisahan, dan ketakutanku kepadaNya. Ia akan mengurusnya. Ia akan menyelesaikannya bagiku
Di dalam, melalui dan bersama Kristus….
Mulai sekarang ini aku membiarkan diriku dibimbing oleh Dia, setapak demi setapak…
Kasihku, cintaku, juga menjadi milikNya
Kuserahkan seluruh pribadiku
Melampaui batas-batas rasa,
Melampaui batas-batas akal budi dan keterampilanku…
Aku meraba-raba maju melampaui semuanya itu
Hingga aku tiba pada kenyataan,
Bahwa Dia sendirilah yang datang kepadaku
Sehingga aku berani berserah padaNya
Akhirnya, pujian semata keluar dari hidupku.

Terhadap semua ini carilah ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kita orang percaya adalah milik Kristus, bahwa hidup kita berada dalam rancanganNya.

Dengan demikian, kita lebih peka terhadap lingkungan kita, tidak dibatasi keinginan, harapan dan cita-cita, yang sering menghalangi kepekaan kita. Kita pasrah pada rencana Tuhan dan inilah membuat hidup kita lebih aktif melebihi keaktifan orang yang bergerak didorong oleh cita-cita.

Keaktifan yang mantap, dan tenang dimungkinkan, kalau yang mendorongnya adalah tindakan Allah yang selalu datang dari depan. Orientasi hidup jadinya adalah keterbukaan akan masa depan. Jadi, pelayanan kita pada msyarakat yang terluka menjadi lebih nyata.

3. Menerima keadan

Banyak reaksi-reaksi kita yang spontan mengungkapkan sikap tidak menerima, memberontak, melarikan diri dari kenyataan untuk menekan sesuatu. Amarah kita meluap. Ketidaksabaran kita merasuki kita. Rasa tak senang dan dendam membuat hati kita keras. Hati kita terluka oleh campur tangan orang lain. Jadinya kita tidak menerima orang tertentu, kejadian tetentu, bahkan diri kita sendiri. Kekecewaan menguasai sikap, pikiran dan tingkah laku kita.

Apakah tidak ada kehendak Tuhan yang tersembunyi di balik semua itu? Sehingga bila itu ditolak, jadinya kita menolak kehendak Allah?

Atau mungkin ada ketakutan, bila hal itu diterima, bisa membuat hidup tidak aktif dan membiarkan saja hal itu dipertahankan (mempertahankan status quo)? Tidak mungkin, bila manusia meemukan kehendak Allah, dalam situasi yang tia dia ingini, aktivitasnya terarah, bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah yang memang sedang menjalankan rencanaNya.

Di dalam doa,
Aku menjadi sadar akan penghalang buah sikap tidak menerima…
Kuamati penghalang itu satu demi satu
Dan secara sadar kuterima kehendak Allah terhadapnya
Kutarik kembali sikap mau mengadili
Kutarik kembali kesenanganku mengeritik
Kusadari jadinya bahwa aku tidak mungkin lagi mempengaruhi keadaan atau orang lain dengan paksa…
Kusadari bahwa kuasa kasih dan pengampunan, jalan penderitaan, penerimaan dan ucapan syukur, itu sajalah yang boleh mempengaruhi keadaan…
Aku menjadi mutlak masuk dalam kehendak Allah,
Dengan demikian aku menerima bimbingaNya,
Setapak demi setapak,
Melalui keadaan konkret sepanjang hidupku,
Hingga masuk ke dalam kerajaanNya…

Pilihlah ayat-ayat yang berhubungan dengan pokok di atas untuk lectio, meditatio, dan oratio. Dengan rahmat Allah, yang akhirnya menyadarkan kita bahwa penyerahan kita didorong oleh Dia, kita terbuka pada karya Allah, yang mendatangkan kebebasan bagi orang tertindas, orang miskin, orang buta, terluka, dan berduka. Dengan sendirinya kita, dalam kasih dan iman, masuk ke dalam karya Allah. Tidak ada lagi penghalang. Kita menjadi “kawan sekerjaNya.”

4. Menyesal dan Mohon Ampun

Dosa dan kesalahan kita sering menghalangi kita berdoa. Bila ini selalu disadaro, dan dosa selalu dibawakan kepada Kristus yang telah menebus dosa, maka pengampunan menjadi suatu kekuatan nyata dalam hidup kita. Kita digerakkan oleh pengampunan. Kita disadarkan, bahwa pengampunan membuat kita bebas berdoa.

Ada kalanya, di mana sebaiknya kita tidak terlalu merinci dosa, dan tidak membuat analisa. Jenisnya juga tidak perlu dipersoalkan, seperti dosa besar dan dosa kecil. Dosa tetap dosa. Sekecil apa pun dosa, tetap memisahkan kita dari Allah dan membuat kedamaian menjadi mustahil.

Rasakan dosa sebagai keseluruhan, bagaikan sebuah gumpalan. Sadarilah bahwa Andalah semuanya itu. Lalu berteriaklah terus-menerus dalam pribadimu yang paling dalam. Berteriaklah pada Allah, dan Allah sendirilah yang membuat kita menyadari dosa-dosa dan kelemahan kita.

Menyerahkan dosa kepada Allah malah membuat kita sadar, betapa Allah mengasihi kita, di dalam, melalui dan bersama Kristus.
Kuasa pengampunan, mengerakkan kita untuk mampu mengampuni. Kuasa pengampunan menjadi suatu kekuatan tersendiri karena darah Kristus. Dengan demikian, kita menjadi terbuka terhadap sesama, tanpa menyembunyikan apa pun.
Mata kita tercelik melihat Allah berkarya dalam derita, tingal bersama manusia yang tertindas, tersisih, buta, terluka, dan berduka…
Dan hati kita tidak mungkin diam lagi, tetapi terus berlari turut besertaNya di dalam kenyataan itu, di dalam karya itu. Pengampunan mendorong aktivitas kita, aktivitas bersama Allah.

5. Menerima Jawaban Allah

Allah selalu menjawab.
Ia tidak menolah orang yang datang dengan iman dan kasih
Perkataan “carilah, maka kamu akan menemukan” terjadi karena “Carilah, karena engkau telah lebih dahulu ditemukan”. Allah sudah mencari kita sebelum kita mencariNya. Ia menjawab, Ia berpaling kepadaku, Ia menguasai kehidupanku yang terdalam.
Aku berlindung aman daalam kehangatan kasihNya
Aku merasakan pandanganNya menatap aku dalam kasih…

Tertolonglah kita untuk bergerak dalam dunia.
Allah menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang dunia ini.
Berarti dunia kita ini mampu kita pahami. Jelaslah langkah kita. Dan terlihatlah Allah ada bersama kita, dan Ia juga bergerak dan berkarya di tengah-tengah masyarakat yang menderita. Lalu kitapun mampu masuk sebagai kawan sekerjaNya di sana. Jawaban Allah memberikan kuasa untuk mewartakan, bergerak, mengabarkan Injil.
Kita tentu bisa menemukan nas Alkitab yang menolong kita memahami pokok di atas.

6. Tahap Mendoakan Sesama

Mengapa sesama harus kita doakan juga/
Kristus terus mendoakan kita,
agar iman kita tidak gugur.
Mungkin ini di luar kesadarn kita.
Bahkan sebenarnya kita tidak “ahli” dalam doa,
Semua doa tetap tidak sempurna.
Itulah sebabnya, Roh berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak tedengar.

Kita meneladani itu,
Sebagai orang yang sudah mengalami bahwa Ia mendoakan kita,
Kita tidak mungkin diam,
Doa Yesus bagi kita dan Roh Kudus untuk kita, mendorong kita untuk bergerak pada sesama,
Tidak berpusat lagi pada diri kita…

Lalu dunia pun terbukalah bagi kita. Terlihatlah manusia dengan penderitaan dan luka-lukanya. Terlihatlah bahwa ternyata Allah sudah tinggal di situ, dan kita pun terpana, lalu tak terelak lagi, kita langsung ikut dalam karya itu, di tengah masyarakat yang terluka, terindas, tersisih.

7. Tahap Bersyukur dan Memuji

Apakah lagi yang keluar dari mulut orang yang berdoa, setelah mengalami semuanya itu, kecuali syukur dan pujian kepada Tuhan?
Dia tidak lagi mempertimbangkan suasana sakit atau senang, gembira atau duka, mudah atau sulit. Di situ Allah bergerak dan berkarya dengan rahmatNya. Jadinya syukur memenuhi setiap hati kita. Kuasa syukur mengantar kita ke dunia, menuju masyarakat yang terluka, tertindas dan tersisih.
(Disarikan dari James Borst, Latihan Doa Kontemplatif, (Yogyakarta: Kanisius, 1981)

TINJAUAN KRITIS TATA GEREJA HKBP


MODEL GEREJA HKBP

Avery Dulles menguraikan lima model Gereja (yang dapat kita temukan dalam gereja Katolik maupun Protestan sekarang ini),[2] yang dapat menolong mengenali model gereja HKBP.

Model 1: Gereja sebagai institusi, dengan ciri-ciri (1) Gereja dipahami terutama dalam struktur-struktur yang kelihatan khususnya hak dan kekuasaan para pejabat Gereja. (2) Gereja dipahami sebagai suatu perkumpulan yang berporos pada struktur hirarki yang berfungsi terutama untuk mengajar, menguduskan dan memimpin. (3) Tujuan utama adalah memberi jaminan kehidupan kekal kepada anggota-anggotanya, dan anggota-anggotanya harus taat kepada institusi.

Model 2: Gereja sebagai persekutuan, yang (1) menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus dan gereja sebagai umat Allah. (2) Menekankan a) pentingnya pribadi dan hubungan antarpribadi, dan b) kesatuan satu sama lain di dalam Kristus.

Model 3: Gereja sebagai sakramen. Model ini memandang peranan gereja sangat menentukan, karena Gereja dipahami sebagai alat yang nyata menunjukkan kehadiran Kristus di bumi.

Model 4: Gereja sebagai pewarta (Menurut Dulles, model ini terutama dianut oleh Protestan). Model ini dicirikan tiga hal: (1) Tujuan Gereja adalah memberitakan Injil, dalam arti menghadirkan kuasa Kristus di dunia. (2) Orientasi model ini mengacu pada perhatian Reformasi yaitu memberitakan Injil secara murni. (Lihat misalnya Konfesi HKBP yang secara explisit mencatat bahwa “ciri gereja yang benar adalah kalau Injil diberitakan secara murni). (3) Kurang mementingkan struktur gereja. (Mengacu pada model ini, barangkali HKBP kurang tepat sebagai Protestan)

Keempat model ini mempunyai dua ciri yang sama. Pertama, Gereja dilihat sebagai subjek yang aktif, sedangkan dunia adalah objek, yang terhadapnya Gereja harus berbuat sesuatu dan memberi pengaruh. Kedua, Gereja dilihat sebagai pengantara Allah dengan manusia. Allah datang ke dunia melalui Gereja, manusia datang kepada Allah melalui Gereja, kalau manusia percaya kepada Gereja, mengikuti ajarannya dan terlibat dalam kegiatan Gereja.

Model 5: Gereja sebagai hamba,[3] yang mencirikan:
1. Mengutamakan Kristus sebagai hamba. Kristus datang untuk melayani, mendamaikan, dan membalut yang terluka.
2. Model ini juga menggunakan istilah “Tubuh Kristus”, tetapi dipahami berhubungan dengan “tubuh hamba yang menderita demi pelayananNya”. (Istilah “tubuh Kristus” ditekankan juga oleh model 2 “Gereja sebagai persekutuan”, tetapi “tubuh” dipahami terutama dalam hubungannya dengan “kesatuan”.
3. Tugas Gereja adalah mewartakan datangnya Kerajaan Allah, tidak hanya dalam kata-kata melalui khotbah, Pekabaran Injil tetapi teristimewa melalui pelayanan, sebagaimana pelayanan Kristus: mendamaikan orang yang bermusuhan, menyembuhkan orang yang terluka secara fisik dan sosial.
4. Sebagaimana manusia adalah “manusia bagi sesamaNya” maka (a) Gereja harus merupakan “persekutuan bagi sesamanya, dan (b) manusia menjadi manusia bagi sesamanya.
5. Tugas Panggilan Gereja mencakup: mendamaikan, meringankan beban penderitaan, menghapus rasialisme, dan menyatukan gereja-gereja.

Sangat jelas bahwa tidak mungkin menempatkan HKBP dalam salah satu model, tetapi nampaknya model gereja sebagai institusi lebih mengental dalam HKBP. Kalaupun kelihatannya ia masuk dalam model “pewarta” dan “hamba” sebenarnya masih dalam rangka membesarkan institusi.


DASAR TEOLOGIS TATA GEREJA HKBP

Konfesi HKBP (1951, psl 11 dan 1996, psl 10) mengacu pada 1 Kor 14:33[4] sebagai dasar alkitabiah Tata Gereja (TG). Sedangkan TG 1994 mengutip 1 Kor 14:12 sebagai dasar teologisnya. Kedua nas tersebut sebenarnya berbicara dalam konteks peranan ‘karunia roh’ dalam membangun jemaat. Artinya nas tersebut merupakan ‘peraturan’ liturgi atau kehidupan ibadah, bukan struktur gereja. Hal ini ditegaskan lagi dalam ayat 40 “segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur”. Ini juga dalam konteks ibadah.

TG 1962 sampai 1994 lebih mengatur organisasi atau struktur gereja, bukan tata ibadah dan kehidupan bergereja, berbeda dengan TG sebelumnya yang mengatur kehidupan bergereja, yang meliputi ibadah, sidi, Perjamuan Kudus, pernikahan kristiani dsb. Salah satu dasar Alkitabiah TG 1881 (Gereja Mission Injili di Tanah Batak) adalah Ef 4:11-12 “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus”. Dasar Alkitabiah tersebut sesuai dengan isi TG 1881 yang banyak mengatur kehidupan bergereja.

TG HKBP: DARI YANG BERCORAK ‘PENGGEMBALAAN’ MENJADI ‘KEPEMIMPINAN’

Sampai sekarang HKBP telah menggunakan 12 Aturan tertulis (1866, 1881, 1907, 1912, 1930, 1940, 1950, 1962, 1972, 1982, 1994, 2004). Perubahan yang paling menonjol dari TG terdahulu sampai yang sekarang adalah pergeseran dari tata gereja yang mengatur kehidupan bergereja menjadi tata gereja yang mengatur kehidupan berorganisasi gereja, dan dari corak ‘penggembalaan’ menjadi ‘kepemimpinan’ (Bnd. Juga istilah yang digunakan dalam AP 1972 dan 1982: Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (sebagaimana layaknya sebuah organisasi atau yayasan).

Menyangkut pergeseran ini, Dr. J.R. Hutauruk merumuskannya sebagai berikut:[5]

Pada awalnya Tata Gereja HKBP berperan untuk menggembalakan kehidupan warga jemaat. TG tidak terpisahkan dengan kehidupan bergeraja, seperti Ibadah Minggu, pengajaran, dsb. Berdasarkan usia dan berbagai pengalaman HKBP yang semakin bertambah dan bertambahnya jumlah angota jemaat, unsur penggembalaan itu bergeser oleh unsur lain, yaitu unsur ‘kepemimpinan’. Tetapi unsur itu hanya sekadar bergeser karena tidak lagi tercantum dalam TG, namun unsur penggembalaan itu tertulis dalam Hukum Siasat Gereja, “Agenda Huria”, dan yang terakhir (tahun 1951) dalam Konfesi HKBP.

Pergeseran tersebut dapat juga dilihat dari kekhasan beberapa TG berikut ini.

· TG 1866 yang disebut dengan “Peraturan Jemaat dan Tata Ibadah” a.l. mengatur (1) perkawinan, (2) kewajiban setiap orang Kristen Batak mengaku dirinya Kristen (3) Tata Ibadah, mencakup: nyanyian, liturgi (perintah-perintah), Pengakuan Iman dan doa, nyanyian, kotbah dan doa, nyanyian, berkat, menyanyikan haleluya 9 kali dan amin 6 kali. Kemudian, doa hening dan jemaat bubar. (4) Perjamuan Kudus dilakukan sekali dalam 3 bulan. (JRH 52).
· TG 1881 yang disebut “Peraturan Jemaat, Gereja dan Sinode untuk Gereja Mission di Tanah Batak”, masih melanjutkan TG 1866. Tetapi dalam TG ini sudah diatur syarat untuk menjadi satu jemaat minimal 10 keluarga. Dalam arti tertentu TG ini sudah menunjukkan peranan ‘struktur’ seperti bunyi pasal 20:

Seluruh jemaat Kristen yang berada di tanah Batak yang terdiri dari beberapa ressort, distrik disatukan menjadi Gereja Mission di tanah Batak yang dipimpin oleh seorang Ephorus.

· TG 1907 yang disebut “Aturan ni Ruhut di angka huria na di tongatonga ni Halak Batak”, antara lain mengatur Ibadah, baptisan, Perjamuan Kudus, sidi, pernikahan, pemakaman. Tentang kotbah, dalam TG tersebut dicatat: “Setiap kotbah haruslah disusun sedemikian, hingga di dalamnya dengan ringkas dan gamblang diberitahu jalan keselamatan. (JRH 59-61).

Di samping itu, TG 1907 juga menyinggung ‘struktur’ gereja. Dengan bertambahnya jumlah warga jemaat, J. Warneck (‘arsitek’ TG 1907) memandang perlu menyusun dan menyelenggarakan seluruh aparat suatu jemaat yang berukuran besar. Karena itu ia sangat mementingkan bakat organisasi dan kepemimpinan pada saat itu. (JRH 65). Berdasarkan penilaian (negatif) Warneck terhadap ‘pendeta Batak’, ia melihat pentingnya diadakan ‘hierarki’ yang membedakan kedudukan para misionaris dan para pendeta pribumi. (JRH 58). Karena itu, TG yang disusun oleh Warneck dianggap terlalu banyak menampakkan rasa superioritas orang Eropa. Dalam waktu yang sama sedang marak perjuangan HKB untuk menjadi gereja yang ‘merdeka’.
· TG 1950: Istilah ephorus digunakan kembali (menggantikan Voorzitter yang sempat digunakan ketika misionaris Jerman di tanah Batak dipenjarakan oleh kolonial Belanda), dan TG yang sama mulai mencantumkan jabatan “Sekretaris Jenderal”. Artinya, ‘struktur’ kian menguat dalam kurun waktu itu
· AP 1962 mempunyai kekhasan: (1) Pertama sekali dicantumkan Peraturan (Anggaran Rumah Tangga), (2) perububahan Kerkbestur menjadi Parhalado Pusat, (3) Kasbestur ditiadakan (4) Sinode Distrik ditiadakan, (5) Syarat menjadi penatua adalah ‘laki-laki’[6], dsb. Pertanyaannya, apakah ada hubungan perubahan-perubahan itu dengan berbagai gejolak dan skisma periode 1960-an, perlu pengkajian lebih lanjut.
· AP 1972, 1982, menunjukkan struktur yang semakin ketat. Khususnya dalam AP 1994 sangat menonjol pentingnya administrasi seperti buku daftar warga, buku tamu dll di jemat, ressort, distrik. Selain itu, syarat-syarat untuk menjadi ephorus dan sekjend pun semakin ketat, seperti pembatasan usia antara 45 – 59 tahun (yang belum pernah muncul dalam TG sebelumnya). Dalam hal ini memang sangat terbuka kemungkinan perumusan AP sebagai reaksi atau bahkan koreksi terhadap figur pimpinan tertentu atau semacam antisipasi ‘mencocokkan’ AP kepada figur yang sedang dibayangkan (baca: diperjuangkan) menjadi pimpinan HKBP.

STRUKTUR

Pada awal kekristenan di tanah Batak, ‘struktur’ diciptakan lebih merupakan ‘unit kecil’ dari misi (=struktur dalam rangka misi). Berbeda dengan yang ada sekarang: misi menjadi ‘unit kecil’ dari struktur (=misi melayani struktur).

Dalam arti tertentu HKBP menerapkan sistem ‘demokrasi’, meskipun istilah itu pernah ‘diharamkan’ dalam Konfesi HKBP 1951 yang dengan tegas menyatakan “ndang demokrasi na mangarajai huria, alai “Kristokrasi” do. Juga ditolak pandangan yang mengatakan “organisasi sambing huria i”.[7] (Pasal 8. A.2 dan 3). Pernyataan ini tidak disebut lagi dalam Konfesi 1996. Penghapusan pernyataan itu dalam Konfesi 1996, bisa saja merupakan indikasi pengesahan ‘demokrasi’ dalam kehidupan ber (organisasi)gereja.

Struktur HKBP terkesan sangat dekat dengan struktur Negara RI. Ephorus berperan sebagai ‘mandataris’ Sinode Godang, yang menurut AP Sinode Godang adalah rapat tertinggi di HKBP. (Bedanya, MPR mempunyai ketua, sedangkan Sinode dipimpin oleh ‘mandataris’ SG). Kalau Ephorus berhalangan, Sekretaris Jenderal menjalankan tugas keephorusan (bnd. Kedudukan wakil presiden). Kebijakan-kebijakan dalam selang waktu sinode diambil oleh Majelis Pusat. Anggota Sinode Agung adalah para utusan ressort, praeses, direktur lembaga dan departemen dan sebagainya (utusan daerah dan golongan). Dalam sidang, warna ‘demokrasi’ sangat dominan seperti dalam pemilihan, pengambilan keputusan dengan voting pun bisa dilakukan.

Di samping itu, sudah sejak lama HKBP menerapkan semacam ‘Otonomi Daerah’, khususnya ressort-ressort. Yang menjadai ‘kewenangan Pusat’, antara lain adalah: hubungan ‘dalam dan luar negeri’, ‘kurikulum’: tata ibadah, Aturan, Konfesi, Siasat Gereja, pengajaran sidi dan sebagainya. Perimbangan keuangan Pusat dan daerah juga diterapkan. Para pelayan dilengkapi dengan Surat Ketetapan (SK) yang memuat ruang/ golongan, masa kerja, jumlah gaji dan tunjangan dsb. SK terkesan tidak berpesan teologis.Ciri lain gereja model institusi adalah menempatkan kaum klerus menjadi profesional dan warga tetap menjadi pasien, mulai dari rawat jalan, rawat inap, hingga operasi besar (dengan atau tanpa tarif).

Berkaitan dengan struktur HKBP ada beberapa ‘elemen’ yang perlu mendapat perhatian, di antaranya:

1. Sinode Godang dan Rapat.

Dengan ditetapkannya pelaksanaan Sinode Agung sekali dua tahun dalam AP, sebenarnya HKBP berhadapan dengan dua kemungkinan. Kemungkinan 1: HKBP harus ‘men-sinode-kan’ sesuatu (sesuatu ini bisa dicari atau dicari-cari) karena sudah diatur dalam AP. Kemungkinan 2: Ada sesuatu yang harus disinodekan. Hal ini mengasumsikan bahwa sinode dilakukan sesuai dengan kebutuhan, tidak atas dasar keharusan AP (sekali dua tahun).

Akhir-akhir ini berkembang wacana seputar pencegahan ‘pemborosan’ pelaksanaan sinode. Hal ini dapat dimengerti, kalau sinode dilakukan atas dasar kemungkinan 1 tadi. Model gereja sebagai institusi, memang lebih memboroskan daya dan dana untuk struktur (rapat, gaji dan biaya perjalanan pekerja, pengadaan harta bergerak dan tidak bergerak dsb.) ketimbang pelayanan atau misi gereja itu sendiri. Misi Departemen yang ada pun lebih banyak mengeluarkan dana operasional kantor ketimbang pelayanan di ‘lapangan’.

Akan tetapi kalau pelaksanaan sinode bertolak dari kemungkinan 2 “ada sesuatu yang akan disinodekan” dan SG itu dilakukan dalam suasana ibadah kepada Pemilik gereja itu, ini adalah sebuah panggilan dan keharusan. Dengan demikian penegasan AP bahwa (1) sidang-sidang dalam sinode harus diawali dan diakhiri dengan doa dan (2) ditutup dengan Perjamuan Kudus, serta (3) didoakan oleh seluruh jemaat akan sungguh-sungguh punya makna. (Mungkin perlu juga dipertimbangkan: bahwa Perjamuan Kudus sebaiknya dilakukan pada pembukaan Sinode Godang. Melalui itu, para peserta dapat mengawali Sinode Godang setelah masuk dalam misteri Kristus itu sendiri).

Dapat dicatat juga bahwa AP 1982 menekankan pentingnya rapat dalam jemaat, Ressort, Distrik dan Pusat. Dalam AP 1982 sedikitnya ada 17 jenis rapat (bnd. juga lebih dari 330 kata ‘rapat’ dan ‘sinode’ yang terdapat dalam AP 1982). Angka ini ‘membengkak’ menjadi sekitar 30 jenis rapat dalam AP 1994. Kalau Pdt Dr Sormin pernah mengatakan bahwa HKBP merupakan huria rapot (mengacu pada AP 1982), maka AP 1994 mungkin mencirikan huria yang terlalu repot rapat. Sebab, semangat demikian sangat klop dengan gereja model institusi.

2. Ephorus

Pada awalnya jabatan ephorus (disebut dengan voorzitter) merupakan ‘tugas tambahan’ kepada tugas utama dalam misi, pelayanan spiritual dan liturgis. Tetapi, sekarang ‘misi’ menjadi salah satu tugas jabatan ephorus. Terbalik! Dalam Agenda HKBP, misalnya, tidak dicantumkan Tata Ibadah pengukuhan Ephorus.[8]

Struktur HKBP yang ada sekarang ‘merelakan’ seorang ephorus menguras tenaga dan perhatian mengurus organisasi, struktur, harta dan sebagainya ketimbang memberi ruang sebagai seorang gembala spiritual dan liturgis. Di dalam Sinode Ephorus menyampaikan ‘pertanggungjawaban’ tugasnya kepada Sinode (AP 1982) atau “menyampaikan laporan tentang kehidupan HKBP” (AP 1994). Mengapa bukan Pesan Pastoral atau Teologis melalui ‘ceramah thema’, misalnya? Jawabannya kembali ke ‘struktur’ HKBP yang menempatkan seorang ephorus lebih memusatkan diri pada struktur/ organisasi.

Dalam AP sekarang ephorus bertugas ‘manguluhon sandok HKBP’. Itu berarti lebih bercorak pemimpin struktur organisasi. Hal ini dipertegas lagi dengan berbagai pengaturan persyaratan (yang membutuhkan tinjauan teologis). Syarat untuk menjadi Ephorus mencerminkan ‘profesionalisme’ yang identik dengan syarat-syarat jenjang kepangkatan pegawai negeri atau swasta: (1) 20 taon mangulahon hapanditaon (AP 1994 atau 20 taon dung Pandita (AP 1982), (2) Sudah pernah 5 tahun sebagai Pandita Ressort (AP 1994); 3 tahun (AP 1982). (3) Usia 45-59 (AP 1994 (4) Periopodenya pun dibatasi sangat ketat: 1 periode (AP 1994); 2 periode (AP 1982). Singkatnya, pengalaman stuktural sangat dominan, seolah-olah Timotius tidak pernah disebut dalam Alkitab.

3. Sekretaris Jenderal

Jabatan Sekretaris Jenderal mulai berlaku pada tahun 1950. Tata Ibadah pengkuhan Sekjend (sama seperti pengukuhan ephorus) tidak terdapat dalam Agenda HKBP. Ibadah pengukuhan tersebut (termasuk tata ibadah pengukuhan ephorus) disusun sedemikian rupa yang terutama berisikan ikrar kesediaan melakukan tugas sebagaimana tercantum dalam AP. (Lihat Notulen SG 1998).

Dalam AP 1972 dikatakan bahwa Ephorus dan Sekjend mempimpin HKBP dengan pelayanan bukan dengan kuasa. Isi AP ini implisit menempatkan Ephorus dan Sekjend sebagai ‘Pucuk Pimpinan’ HKBP, meskipun istilah itu tidak pernah tertera hingga AP 1982. Istilah itu baru muncul dalam AP 1994, yang menyatakan bahwa “pucuk Pimpinan’ hanya berlaku pada Ephorus.

AP 1994 juga menggariskan tugas seorang Sekretaris Jenderal terutama di bidang administrasi. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada tugas ‘gereja’[9], kecuali pada saat menggantikan ephorus. Mencermati uraian tugas tersebut, jabatan Sekretaris Jenderal bisa saja diemban oleh seorang non-pendeta. AP 1994 pasal 107 berbunyi: “Sekretaris Jenderal HKBP i ma na manguluhon nasa ulaon administrasi di hatopan dohot patupa kordinasi di ulaon ni biro, departemen, lembaga, yayasan dohot komisi ni HKBP na martanggungjawab tu Ephorus”. Di sini tidak disebut “siradotanna do ulaon i hombar tu Konfesi, Aturan Huria dohot Ruhut Parmahanion paminsangon ni HKBP dibagasan pangoloion tu Raja ni Huria i”, sebagaimana dicantumkan dalam fungsi ephorus).

HURIA DAN HARTA MILIK

Pengaturan tentang “parartaon” semakin penting sejak TG 1930, yang menggariskan hak milik gereja khususnya karena pengalaman perpecahan gereja pertama, pada tahun 1927 (HChB, Mission Batak) dimana para warga jemaat saling berebut harta milik gereja. Ketentuan “kalau warga jemaat pindah gereja secara keseluruhan, harta gereja dikelola oleh Pusat”, sudah berlaku sejak 1929 (JRH 110) dan berlanjut terus hingga AP 1982: 20-21; 1994 : 20-21.

Berikut ini beberapa petunjuk berdasarkan AP yang menyatakan keberadaan ‘ruas’ dan jemaat untuk membesarkan struktur dan pentingnya posisi harta dalam gereja.

· Syarat utama menjadi ressort didasarkan atas kemampuan finansial (1) mampu menanggung biaya ressort dan membangun rumah pendeta Ressort tanpa mengambil uang Pusat (2) Harus ada 500 ripe sigarar guguan na gok. Syarat utama menjadi distrik, antara lain: mampu menanggung biaya dan menyediakan rumah Praeses tanpa harus mengambil uang Pusat.
· Kewajiban warga jemaat: mempersembahkan harta milik dan tenaga untuk gereja. Malahan apa yang disebut hak (dalam AP 1982) juga dalam rangka kewajiban. Dapat ditambahkan bahwa: mansohot do haruason ni sahalak ruas na so manggohi/ mangoloi aturan ni huria.
· Sipagandaon ni huria do arta ni huria marhite angka ulaon na tupa laho pahembanghon angka panghobasionna”. (1994: psl 20). Usaha ini dipertegas lagi dalam konsep yang diajukan Komisi AP yang baru di antaranya disebutkan: “Di tingkat Pusat perlu dibentuk Badan Usaha Pusat HKBP untuk mengembangkan dan meningkatkan Sumber Dana Tetap untuk kegiatan dan pelayanan HKBP”.

Persoalan yang sangat serius di sini adalah bahwa kehidupan bergereja seringkali ‘ditaklukkan’ untuk mencapai target finansial. Dengan kata lain, misi membesarkan struktur. Misalnya, perayaan Jubileum, menjadi sebuah ajang mencari dana, Partangiangan sektor, yang tadinya mengumpulkan ‘persembahan’ satu kali, sudah banyak jemaat yang mengumpulkan persembahan dua kali (satu untuk huria, satu untuk pembangunan –yang bedanya tidak jelas); dalam kebaktian gereja diedarkan 3 kantong persembahan[10], iuran dipatok, lelang disahkan, amplop khusus dijalankan dsb. Gereja model institusi biasanya “menakar sukses seturut dengan pertambahan aset” dan “siapa mempunyai uang, pendidikan, kuasa, ia mempunyai misi”.

POKOK-POKOK DISKUSI

1. Minat mempercakapkan AP terkesan lebih marak beberapa tahun belakangan ini. Komisi Aturan pun jauh lebih menyita waktu, daya dan dana dibandingkan dengan semua Komisi yang ada di HKBP seperti Komisi Teologi, Liturgi, Konfesi dll. Namun, ‘minat’ ini terkesan lebih terfokus pada muatan atau detil-detil AP. Mungkinkah forum ini memberi perhatian pada dasar teologis AP, atau bahkan perlu tidaknya AP? Kalau perlu, apakah itu harus terpisah dengan Konfesi dan RPP, atau sebaiknya satu kesatuan?

2. Para rasul secara sungguh-sungguh merespon persoalan-persoalan yang dihadapi oleh jemaat mula-mula. Satu pernyataan para rasul, dalam konteks pengambilan suatu keputusan, sebagaimana tertulis dalam Kis 15:28 berbunyi, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami..” Dapatkan Sinode dan rapat yang ada di HKBP menyerukan hal yang sama? Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada hakekat dan mekanisme Sinode atau rapat itu sendiri.

3. Ephorus dan Sekjend dipilih secara ‘demokratis’. Apa yang terjadi dalam HKBP akhir-akhir ini dalam hal pemilihan adalah: “orang yang mencari Sinode” bukan “Sinode yang mencari dan menemukan orang”. Padahal, ada model pemilihan pemimpin gereja yang dilakukan dalam suasana ‘ibadah’ yang dapat dijadikan sebagai mode pemilihan di HKBP.

Dalam kaitan itu, ada baiknya kalau tawaran Komisi Aturan yang baru untuk menciptakan 3 wakil ephorus dipertimbangkan urgensinya dan dasar teologisnya. (Pdt Balosan Rajagukguk menyebut struktur seperti ini sebagai ‘organisasi balga ulu’).

4. Ke depan HKBP akan mampu berbuat lebih banyak untuk menambah asetnya. Misalnya dengan mendirikan bank, surat abar, galon minyak, hotel dan usaha lainnya. Akan tetapi sejauh ini HKBP belum merumuskan secara jernih teologi uang, yang sebaiknya tercantum dalam TG. Sebab, dalam kondisi sekarang, HKBP bisa digiring menjadi sebuah gereja yang (meminjam istilah Sebastian Kappen) ‘mata duitan kepada Allah’. Malah, demikian Kappen, ‘uang diperilah yang ilahi diuangkan’.

[2] Selengkapnya lihat Avery Dulles, Model-model Gereja, Ende: Nusa Indah, 1990. Uraian ringkas lihat “Bergereja dalam Konteks Indonesia”, dalam Immanuel, edisi Mei 2000, hal 40dst.
[3] Model ini mendasari banyak pernyataan gereja resmi sejak tahun 1966. Salah satu di antaranya sangat jelas dalam Laporan Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia (DGD) di Upsala, 1968.
[4] “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan tetapi damai sejahtera”.
[5] Terjemahan bebas penulis dari J.R. Hutauruk, “Angka Aturan/ Peraturan Naung Adong di HKBP. Motifna dohot Sasaranna”, makalah disampaikan di Lumbansoit, Juni 1980.
[6] Dalam TG 1950 disebut ‘halak’ (orang). Kemudian, dalam AP 1972 disebut ‘ruas’ (yang terbuka bagi laki-laki dan perempuan).
[7] Senada dengan itu Pdt Dr Justin Sihombing pernah mengatakan, “ndang mangolu huria marhite organisasi sambing, alai huria na mangolu do na marorganisasi”.
[8] Agenda HKBP edisi I terbit pada 1904 dan edisi II pada 1918), kurun waktu dimana ephorus dipilih oleh RMG.
[9] AP 1994 Bindu 101 tentang fungsi Ephorus disebut: “Siradotanna do ulaon i hombar tu Konfesi, Aturan dohot RPP HKBP dibagasan pangoloion tu Raja ni huria i.” Pernyataan ini tidak disebut dalam penjelasan fungsi Sekjend.
[10] Sekedar perbandingan, GKJ Gondokusuman Yogyakarta baru-baru ini mengubah 3 kantong menjadi satu kantong persembahan. Jumlah persembahan malah meningkat.

Wednesday, April 2, 2008

TUMBUR TINAMBUNAN




Singapura 02 Agustus 2009











































Foto-foto di atas adalah Foto Keluarga Tumbur Tinambunan, SE, MSi./ Rosna A.W. Sihotang. Sebelumnya, Bpk Tumbur Tinambunan adalah Deputi Manajer Akuntansi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta. Sejak April 2008 menjadi Manajer Keuangan dan Niaga Pembangkitan Muara Tawar.



Anak-anaknya:




1. Shintauli Sionparli Widya Chritianti Tinambunan (20 th/Pr) Mahasiswa Fak.Ekonomi Jurusan Akuntansi SM VI Universitas Diponegoro



2. Dame Anastasya Tinambunan ( 16 th/Pr) Siswa Kls II SMA Katolik Don Bosco Semarang



3. Joshua Parlindungan Tinambunan ( 14/Lk) Siswa Kls II SMP Katolik Maria Goretty



4. Semarang Hanna Tiurma Tinambunan ( 12 /Pr) Siswa Kls I SMP Katolik Maria Goretty Semarang



Keluarga ini adalah keluarga yang berbahagia, penuh ceria dan amat bersahabat dengan semua orang.

Tuesday, April 1, 2008

TINAMBUNAN


Marga Tinambunan

"Marga Tinambunan masuk apa? Apakah itu masuk Tambunan?" Begitu pertanyaan yang sering muncul ketika marga Tinambunan berkenalan. Wajar saja, sebab marga Tinambunan setahu saya tidak ada yang namanya 'public figure' seperti artis, pengacara kondang, apalagi presiden Indonesia.

Marga Tinambunan adalah bagian dari Pomparan Raja Naiambaton (Parna). Marga Batak yang paling banyak (67 marga) dan tetap sisada anak sisada boru --tidak boleh menikahi sesama Parna. Marga Tinambunan berasal dari Simbolon.


Marga Simbolon adalah anak tertua dari si Raja Naiambaton yang lazim disebut "PARNA" Anak-anaknya meneruskan nama kakeknya Simbolon, kecuali Marga yang termasuk dalam 'Sionomhudon' yang merupakan keturunan dari Simbolon Tuan (Tuan Nahoda Raja) membawa marga sendiri Tinambunan, Tumanggor, Turutan, Pinayungan, Maharaja, Nahampun yang lazim disebut “SIONOM HUDON” Kumunitas marga ini umumnya berdomisili di Kecamatan Parlilitan Tapanuli Utara (sekarang Humbang Hasundutan) dan sebagian Dairi (Pakpak) dan Aceh Tenggara.

Wednesday, March 26, 2008

PEMBAHARUAN:


MULAI DARI BATIN HINGGA KE MASYARAKAT[1]

“… pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh pemandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,…”
(Titus 3:5)

PAULUS, TITUS DAN KITA

Surat Paulus kepada Titus disampaikan pada saat penginjilan baru saja dimulai dan gereja mau bertumbuh di daerah Kreta. Firman ini digemakan kembali pada saat ini kepada kita para pelayan dan warga gereja ketika gereja-Nya di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun. Barangkali Paulus tidak pernah membayangkan bahwa para pelayan gereja-gereja di Indonesia membaca suratnya ini. Akan tetapi, justru di sinilah nyata bahwa Allah dapat berbuat melampaui apa yang pernah dibayangkan oleh manusia. Indonesia tidak terjangkau Paulus, tetapi Tuhan sudah di sana sejak penciptaan hingga hari ini.

Dalam suratnya, Paulus tidak berbicara terutama sebagai kajian ilmiah teologis tentang Tuhan dan keselamatan, tetapi tentang peristiwa nyata yang terjadi melalui Yesus Kristus. Kita tahu bahwa Paulus tidak mengenal Yesus dari buku atau dokumen tertulis, tetapi dari suatu pengalaman nyata melalui perjumpaannya dengan Kristus. Dalam kaitan itu, Paulus tidak saja berbicara tentang Tuhan tetapi pertama dan terutama berbicara dengan atau kepada Tuhan. Dengan demikian kata-katanya pun mengalir dari kedalaman hatinya, hati yang mengenal dan mengimani Tuhan.

Paulus menasihatkan Titus supaya menjadi teladan (1:7-8). Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan struktur “atasan-bawahan” atau “senior-junior”. Paulus tidak saja menasihatkannya tetapi sungguh-sungguh menunjukkan keteladanan dalam iman, kasih dan pengharapan. Sebab, seribu kata nasihat tidak punya makna apa-apa tanpa sebuah keteladanan.

Paulus sungguh-sungguh percaya dan memperlakukan Gereja sebagai tubuh Kristus. Karena itu pelayan gereja hendaknya memiliki spiritualitas yang tangguh dan lebih mengedepankan fungsinya sebagai pemimpin spiritual, pastoral dan liturgis ketimbang kepemimpinan hirarkis, struktural, manajerial –meskipun semuanya itu dibutuhkan.

MERAYAKAN BAPTISAN (KELAHIRAN KEMBALI)

Berdasarkan pasal 1:1 jelas bahwa surat ini dimaksudkan untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah. Ia menasihatkan agar umat sehat dalam iman (1:13). Paulus memperingatkan bahwa “bagi orang najis dan bagi orang yang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis” (1:15). Ajaran sesat biasanya diikuti oleh perbuatan bejat tetapi iman yang sehat membuat hidup berbuah lebat.

Sehubungan dengan itu, secara khusus dalam pasal 3 Paulus menegaskan ulang dan meyakinkan Titus dan orang percaya bahwa kemurahan Allah sudah nyata. Keselamatan telah terjadi karena rahmat Allah oleh pemandian kelahiran kembali (baptisan) dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ayat 4-5).

Keselamatan oleh kemurahan Allah itu diterima melalui ‘pemandian kelahiran kembali’, yaitu baptisan; bukan sebagai tambahan, lanjutan, pelengkap atau baptisan ulang. Baptisan juga melambangkan dikuburkannya manusia lama dan bangkitnya manusia baru bersama-sama dengan Kristus (Rm 6:3-9).

Gereja reformasi menekankan makna baptisan sebagai masuknya yang dibaptis itu menjadi anggota ‘keluarga Allah’. Karenanya, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagaimana mungkin orang yang terbujur dalam lumpur dosa masuk menjadi anggota keluarga Allah? Justru di situlah rahmat dan kasih Allah itu nyata. Kekudusan Allah lebih besar dari dosa manusia.

Sebagai anggota keluarga Allah, Ia menaruh kita di dalam hati-Nya dan Tuhan menjadi intim dengan kita bahkan –seperti dikatakan Agustinus– “lebih intim daripada aku dengan diriku sendiri”. Yang perlu mendapat perhatian dalam kaitan keberadaan kita yang sudah dibaptis dan menjadi anggota keluarga Allah adalah:
- Kita diundang oleh Allah. Artinya, Allah yang mengambil prakarsa.
- Kita dilayakkan oleh anugerahNya
- Kita hendaknya menyesuaikan diri kepada kehendak Allah, tidak sebaliknya Allah yang menyesuaikan diri dengan rencana dan keinginan kita.

Melihat semuanya itu, peristiwa pembaptisan adalah peristiwa sukacita besar yang selayaknya disambut dengan rasa syukur.

Bagi Gereja masakini baptisan seharusnya tetap merupakan peristiwa liturgis yang lebih menekankan sukacita sorgawi karena rahmat penyelamatan Allah. Kiranya gereja dan orang Kristen terbebas dari penyimpangan yang menempatkan baptisan terutama menjadi masalah nasi dan administrasi. ‘Nasi’ menunjuk pada penekanan acara makan yang berkaitan dengan acara adat yang dilakukan sesudah ibadah gereja. Di berbagai jemaat praktek ini terkesan mendapat tempat yang lebih penting. Orangtua anak yang hendak dibaptis secara fisik duduk dengan pakaian rapi di gereja, tetapi pikirannya terkonsentrasi pada persiapan makanan di rumah. (Atik na masak indahan manang naung mosok do; apakah nasi sudah masak atau malah sudah gosong). ‘Administrasi’ berkaitan dengan ‘blanko baptis’ dan pelunasan segala tunggakan iuran ke gereja. Mudah-mudahan tidak ada warga jemaat yang batal dibaptiskan hanya karena orangtuanya belum melunasi iuran ke gereja.[2]

Bukan berarti bahwa nasi dan administrasi tidak penting. Keduanya boleh dan penting tetapi bukan yang terpenting. Janganlah kiranya kita berdosa karena mengesampingkan yang utama dan mengutamakan yang ‘sampingan’. Ada banyak yang perlu dipersiapkan sebelum pembaptisan, seperti persiapan khusus pelayan yang akan melayankan baptisan[3], persiapan air baptisan, memperlengkapi para orangtua dengan pemahaman yang benar tentang baptisan, dan sebagainya.

PEMBAHARUAN YANG DIKERJAKAN OLEH ROH KUDUS
DAN SAMBUTAN KITA

Dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk ‘baru’ yakni neos (‘baru’ menurut batasan waktu) dan kainos (‘baru’ menurut sifat dan hakekatnya). Sebuah gedung gereja baru (sudah direhab) adalah neos tetapi orang yang dahulu berdosa dan sekarang berada dalam jalan kesucian hidup adalah kainos (orangnya tetap, hidupnya berubah atau menjadi baru). [Catatan: Yang menjadi masalah ialah, jika orang beribadah dalam (gedung) gereja baru tetapi kehidupannya tetap pada pola hidup lama tanpa pembaharuan].

‘Pembaharuan’ yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ayat 5) berkaitan dengan kainos. Roh Kudus bekerja membaharui orang percaya. Orang yang sudah menerima pemandian kelahiran kembali (baptisan) itu perlu dibaharui oleh Roh Kudus agar dapat bertumbuh dalam iman dan pada usia dewasa mau dan mampu meninggalkan hidup yang lama dan menjalani hidup secara baru. Dakam hal ini kita dapat menggumuli pembaharuan sedikitnya dalam tiga hal sebagai berikut.

1. Pembaharuan Kehidupan Pribadi

Gampang, mudah dan enak! Begitu kira-kira kesan sepintas membaca Titus 3:4-5. Betapa tidak! Seolah-olah Tuhan yang melakukan semuanya dan manusia bisa tinggal diam dan ‘terima siap’. Kita perhatikan misalnya dari kata-kata yang terdapat dalam ayat tersebut: kemurahan Allah, kasihNya, menyelamatkan kita, rahmatNya, pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus. Semuanya sudah lengkap, semuanya sudah dilakukan Allah. Apalagi, dengan menyebut ‘bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan ‘(ayat 5). Seolah-olah perbuatan baik tidak penting dan bermakna.

Untuk menjelaskan hal ini marilah kita simak apa yang dikatakan dalam ayat 8, yakni “ … agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik”. Untuk apa lagi? Bukankah semuanya sudah dikerjakan oleh Allah? Manusia bukanlah robot yang dilengkapi dengan remote control yang diformat tanpa kehendak bebas.

Pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus tidak menggantikan usaha orang percaya dalam pekerjaan yang baik. Hanya saja, nilai pekerjaan baik orang yang sudah menerima keselamatan dari Allah berbeda dengan pekerjaan baik menurut ukuran dan kebiasaan dunia.

Ada banyak ‘kebaikan’ di dunia ini yang berakar pada ego manusia. Ketika ego manusia yang mengemuka dalam diri seseorang, maka ia akan mengatakan, “Saya adalah (1) Apa yang saya miliki, (2) Apa yang saya lakukan dan prestasi yang saya capai, (3) Apa kata orang tentang saya.

Dalam kenyataan demikian ‘kebaikan’ hanyalah ungkapan cinta diri karena didasari atas pertimbangan berbuat baik demi pemenuhan ego. Tetapi, orang percaya melakukan pekerjaan baik merupakan buah iman kepada Allah. Bagi orang percaya pekerjaan dan perbuatan baik lahir dan hadir atas kesadaran dan iman akan kebaikan Allah. Pekerjaan baik karena kebaikan Allah, bukan berbuat baik supaya Allah baik.

Secara khusus, saat ini adalah waktu rahmat Tuhan menyapa kita yang dipercayakanNya untuk melayani. Sebuah hasil penelitian yang dilakukan dalam salah satu gereja di Indonesia menunjukkan bahwa pelayan yang memiliki spiritualitas memadai hanya 15%. Dapat dibayangkan bagaimana pelayanan yang berlangsung tanpa spiritualitas pelayan yang kokoh.

Ketangguhan spiritualitas para pelayan akan secara serta merta membawa pembaharuan dalam semua ranah kehidupan, termasuk dalam karakter pribadi. Misalnya, dari pemarah menjadi peramah, dari ketamakan menuju rasa cukup, dari kebencian dan dendam kepada pengampunan dan persahabatan sejati, dari kebiasaan bersungut-sungut kepada sikap menerima dan lebih toleran, dari tukang kritik menjadi sumber inspirasi dan rujukan dalam berpikir, berucap dan bertindak.

2. Pembaharuan Kehidupan Bergereja

Orang yang dibaharui oleh Roh Kudus juga terpanggil melakukan pembaharuan seirama dengan pembaharuan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Dalam hal ini Gereja perlu dengan sungguh-sungguh berpaling kepada Tuhan dan siap sedia dibaharui oleh Roh Kudus. Apa yang membedakan Yesus dengan Gereja masakini? Yesus berpihak pada orang kecil, Gereja sering (malah mungkin biasanya) berpihak pada orang besar. Yesus hadir bagi mereka yang membutuhkan dengan perpotongan Nya yang tepat; gereja cenderung menghadirkan siapa yang dibutuhkannya. Yesus terbuka bagi setiap dan semua orang, gereja terkesan asyik dengan dirinya sendiri dengan tembok eksklusivitasnya. Yesus memberi diriNya untuk orang lain; Gereja cenderung hidup untuk dirinya, dan pada saat-saat tertentu bahkan tergoda memanfaatkan yang lain untuk diri sendiri.

Kita jangan lengah apalagi pongah seolah setan tidak dapat masuk ke dalam gereja. Gereja (termasuk forum rapat-rapatnya, pelayannya dan warganya) bisa saja dirasuk oleh setan. Jika demikian di dalamnya tidak terjadi pembaharuan tetapi justru pembusukan. Beberapa hal dapat disebut berkaitan dengan hal ini:

· Ketika yang terpenting dalam gereja adalah mamon (Sebastian Kappen menyebutnya sebagai ‘gereja yang mata duitan kepada Tuhan’), kuasa manusia, struktur gereja yang amat ketat, kaku dan berliku yang menghalangi gereja ikut dalam misi Kristus, maka gereja sedang dirasuki oleh roh zaman. Seharusnya, yang terpenting adalah sang Pemberi yaitu Allah, bukan pemberian-Nya.
· Gereja, (termasuk pelayan dan warga jemaat) perlu menjawab pertanyaan, “Apakah semua kepunyaan gereja benar-benar berasal dari dan milik Allah?” Gereja dan pelayan hendaknya tidak begitu saja menerima segala sesuatu cukup dengan memberi label bagi semua pemasukan gereja sebagai ‘berkat Tuhan’, padahal justru hasil korupsi atau hasil kejahatan. Gereja perlu memohon pengampunan dan membuka diri dibaharui Roh Kudus di tengah merajalelanya roh-roh zaman yang dapat menyeret gereja menyimpang dari kebenaran.
· Ketika para pelayan menempatkan diri sebagai “pegawai-pegawai agama” belaka yang dilengkapi dengan SK yang terutama berisi konsideransi aturan dan peraturan tetapi hampir mengesampingkan pesan Injil, membuka peluang bagi seorang pelayan untuk takut dan takluk pada manusia lebih dari ketaatan kepada Tuhan.

Pembaharuan yang kita lakukan hanya punya makna ketika berada dalam pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Itu juga berarti bahwa gereja dan orang-orang percaya menghasilkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23), yang terkesan agak langka (kalau tidak hampir punah) pada zaman ini.

3. Pembaharuan Kehidupan Bermasyarakat

Benar bahwa penyelamatan Allah adalah sebagai peristiwa yang nyata dalam sejarah hingga pada hari yang kita jalani ini dan menuju kesempurnaan pada akhir zaman. Tetapi orang-orang yang sudah diselamatkan oleh anugerah Allah terpanggil melakukan pekerjaan baik yang melintas tembok gereja. Dikatakan dalam ayat 8 “itulah yang baik bagi manusia’. Sebutan ‘manusia’ menunjuk pada semua dan setiap orang tanpa memandang latarbelakang. Itu berarti pembaharuan mesti dilakukan dalam semua ranah kehidupan. Tugas panggilan ini terutama kita emban di tengah aneka persoalan dan pergumulan dunia, antara lain:

ð Makin banyaknya orang yang dirasuk dan dirusak oleh roh-roh zaman, seperti kecanduan dan kelekatan pada narkoba, materi, dan nafsu duniawi. Dalam konteks ini, keheningan tergusur oleh kebisingan, terutama kebisingan karena keliaran pikiran oleh aneka keinginan dan kelekatan pada materi.
ð Terlalu banyak orang yang hidup hanya dengan kepalanya saja (ada pula yang tidak menggunakan kepala sama sekali). Dalam kehidupan keseharian kita ada banyak beredar nasehat menyesatkan, misalnya dengan mengatakan supaya ‘pintar-pintar’ yang sebenarnya merupakan pengabsahan menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan, tetapi menyimpang dari kehendak Tuhan.
ð Manusia senang menyantap apa yang disodorkan oleh berbagai media yang berisi mimpi, provokasi dan penyubur cinta diri. Padahal, bagi orang beriman kenikmatan dan kegirangan yang sehat adalah firman Tuhan, sama seperti Yeremia yang mengaku, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu, maka aku menikmatinya; firmanMu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku …” (15:16)
ð Banyak warga masyarakat yang terkapar karena lapar. Kalau kita sunguh-sungguh berdoa tidak bisa tidak kita akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai persoalan-persoalan besar yang digumuli oleh dunia serta memelopori pembaharuan.

Di tengah keadaan dunia seperti itu, kita perlu mengembangkan daya pengenal karya Tuhan, menghidupkan rasa kagum akan karya Allah serta memberi jalan demi suburnya firman Tuhan bertumbuh dan berbuah lebat dalam kehidupan jemaat dan masyarakat. Kita perlu mengembangkan daya pengenal pembaharuan Roh Kudus dan bergerak seturut pembaharuan-Nya. Daya pengenal tersebut dapat tumbuh dan berkembang melalui doa keheningan. Hikmat akan hadir sejauh kita menyertakan kepekaan kita akan kehadiran Tuhan dan kehendakNya untuk menilai apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Gereja dan orang percaya yang sudah dibaharui oleh Roh Kudus terpanggil menyatakan pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus itu dalam berbagai tindakan konkret dalam merawat kehidupan. Gereja harus berjuang melawan roh kerakusan, hedonisme, materialisme, konsumerisme yang sering (bahkan biasanya) berbarengan dengan sadisme dan ketidakadilan. Dalam perjuangan seperti ini tidak ada jalan yang mulus dan lurus saja. Dalam sejarah kita temukan begitu banyak para saksi kebenaran yang menanggung siksa. Itu berarti bahwa Gereja dan orang percaya harus siap memikul salib.

RENUNGAN LEBIH LANJUT

Hanya kalau kita dapat berdialog secara mendalam dengan Tuhan dalam doa, dan menghadapkan diri kita terbuka dihadapan Tuhan, polos apa adanya, maka kita akan dapat membicarakan sesuatu yang bermakna dan membaharui. Kalau tidak, sumber percakapan kita hanyalah sedalam diri kita yang amat manusiawi ini dan yang terjadi adalah keliaran pikiran dan percakapan tanpa makna. Kiranya percakapan dan perenungan kita pada kesempatan ini mengalir dari kedalaman hati kita.

1. Apakah bapak dan ibu pernah mengalami dalam kehidupan ini seolah-olah rahmat Allah tidak terjadi di dunia ini?
2. Apakah tanda bahwa rahmat Allah masih sedang berlangsung saat ini.
3. Pernahkah terjadi, bahwa bapak dan ibu begitu bergairah dan bersemangat menyuarakan atau melakukan pembaharuan tetapi jauh dari pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus? 4. Ketika kita terbuka pada pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus, secara serta merta kita menerima karunia Roh (bnd. 1 Kor 12)


---------------
Gereja mencari dan melaksanakan berbagai upaya sumber dana dan asset untuk dipergunakan melayani dirinya sendiri serta mengembangkan kehidupan warga dan pelayan jemaat, kesejahteraan para pensiunan di HKBP dan masyarakat melalui pengumpulan persembahan pada kebaktian Minggu maupun pada kebaktian-kebaktian doa yang dilaksanakan oleh jemaat, iuran, sumbangan, hibah, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh Badan Usaha HKBP, yayasan, koperasi, dan lain sebagainya yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan.

Pembinaan dan Pengembangan HKBP dilaksanakan untuk mewujudkan jemaat yang dewasa iman dan pengetahuannya akan kasih Allah Bapa, anugerah anakNya Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus (Eph 4:13-16). Jemaat yang demikian adalah jemaat yang memenuhi tri tugas panggilannya dan sadar akan perlunya membina dan mengembangkan seluruh ciptaan Tuhan secara terpadu dan pengupayakan agar selalu berada dalam kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan kehidupan yang seimbang, selaras dan serasi (Mrk 16:15; Gen. 1:28).

Keseimbangan, keutuhan dan keterpaduan seluruh ciptaan Allah harus terus dijaga dan dipelihara. Karena itu, dalam usaha-usaha pembinaan dan pengembangan, pemeliharaan keindahan, kesegaran, kebersihan, kesehatan, kesuburan, kelestarian dan produktivitas lingkungan harus terus ditingkatkan dan dimantapkan.
-----------------------


[1] Sebelumnya pernah disampaikan pada Rapat Pendeta HKBP, Agustus 2005 di Seminarium Sipoholon, Tarutung.
[2] Belakangan ini di lingkungan HKBP muncul masalah siapa yang seharusnya menandatangani akte baptis, sebelumnya Pendeta Ressort dan Guru Jemaat, sekarang hanya Pendeta Ressort.
[3] Dalam Didache disebutkan bahwa yang akan melayankan baptisan harus terlebih dahulu melakukan puasa. Tidak dimaksudkan pendeta HKBP harus berpuasa dulu (walaupun jika memungkinkan alangkah baiknya), tetapi yang jelas perlu ada persiapan yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaannya.

Tuesday, February 26, 2008

KESEDERHANAAN DAN SOLIDARITAS


Belajar dari Komunitas Taize[1]

Kumunitas Taize adalah sebuah ‘biara’ antar denominasi di sebuah desa, bernama Taize, di Prancis. Komunitas ini memadukan sedemikian rupa kehidupan meditasi, kontemplasi dan aksi nyata. Para bruder dengan setia dan teratur mengadakan doa bersama setiap hari dan mereka bekerja untuk kehidupan mereka dengan dasar ‘kecukupan’ bukan kemewahan.

Dengan pendirian Komunitas Taize, Bruder Roger telah berupaya menyembuhkan perpecahan di antara umat Kristen. Bruder Roger tiba di Taize pada 1940 dan memulai komunitas ini seorang diri. Kemudian, secara berangsur ia bergabung dengan beberapa bruder lain. Pada 1949 mereka memutuskan komitmen mereka untuk hidup bersama dalam komunitas dengan selibat dan hidup sederhana.

Peraturan dan kehidupan komunitas Taize dapat memberi ‘pencerahan’ kepada setiap orang yang menyerahkan diri kepada pekerjaan Tuhan, dengan atau atau tanpa selibat. Barangkali itulah sebabnya mengapa banyak orang dari penjuru dunia yang telah menimba pengalaman dari komunitas ini, termasuk dari Indonesia sendiri.
Berikut ini beberapa hal dapat dikemukakan mengacu pada peraturan Taize.

HIDUP KONTEMPLATIF

Roger menekankan bahwa “jika imam (=pastor atau pendeta) tidak kontemplatif, maka kepala mereka akan kosong dan uluran tangannya akan hampa”. Ia percaya bahwa kasih kita terhadap sesama sangat ditentukan oleh hidup kontemplasi kita yang benar. Dengan indahnya ia mengatakan “bukalah hidupmu kepada orang lain, maka hasrat untuk menyelamatkan diri sendiri dari penderitaan dunia ini akan lenyap dari hatimu”.

Salah satu godaan terbesar dalam era di mana “budaya sibuk” tengah menggempur dunia ini, dengan motto “waktu adalah uang”, adalah terbuangnya peluang berdoa dan waktu kontemplasi. Godaan yang sama juga bisa menimpa orang yang sedang dibius mental terlalu santai. Dalam konteks ini seruan Roger sangat bermanfaat, yakni “keseimbangan dalam hidup kita ditentukan oleh perhatian kita terhadap ibadah, (baik secara pribadi maupun dalam persekutuan) dan pekerjaan baik”.

Berkaitan dengan ini ada beberapa “tanda” kehidupan kontemplatif, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Kesederhanaan

Roger sangat menekankan urgensi kesederhanaan, tidak dengan memaksa diri melainkan karena iman. Berikut ini satu petikan pendapat (dan pola hidup) Roger:

Anda tidak membutuhkan begitu banyak hal untuk hidup. Anda tidak memerlukan begitu banyak untuk menyambut orang lain. Ketika Anda membuka rumah Anda bagi orang lain, dan di dalamnya terlalu banyak barang-barang milik Anda, maka hal itu lebih merupakan penghalang ketimbang sebuah jembatan penghubung persaudaraan.

Ini berarti bahwa seseorang tidak harus mendapatkan semua yang mampu ia raih dalam hidup ini. Malah, dalam suasana doa seseorang dapat dengan tulus memohon: “Ya Tuhan, ambillah dari padaku segala sesuatu (harta milik, gengsi, popularitas dan sebagainya) yang memisahkan aku dari padaMu, tetapi anugerahkanlah kepadaku segala sesuatu yang menolong aku mengikut Engkau”.

Dewasa ini, kita perlu dengan sungguh-sungguh berpaling pada kesederhanaan di tengah kegandrungan warga masyarakat terhadap kemewahan dan pemborosan. Kesederhanaan adalah menggunakan segala sesuatu seperlunya, sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan apalagi ketamakan. Kesederhanaan membuka pintu persaudaraan dan persahabatan.

b. Doa dan Pekerjaan Baik

Peraturan Taize menekanakan bahwa doa tidak dapat dipisahkan dari kerja. Dalam kata-kata lain bahwa tidak ada “spesialis doa”. Berikut ini ada beberapa pernyataan penting dari Peraturan Taize:

-“Penyerahan diri kita kepada Kristus tidak bermakna kecuali dengan menyerahkan diri dalam pekerjaan Allah melalui kemampuan nalar, bibir dan kerja nyata”
- “Pujian kepada Kristus yang menggema dalam ibadah hanya bermakna ketika serta merta diwujudkan dalam tindakan nyata dengan kerendahan hati”.
- “Carilah kehendak Allah dalam kehidupan doa dan meditasi Anda, dan lakukan segera, tanpa menunda-nunda. Karena itu, dengan membaca sedikit, merenungkannya, kemudian melakukannya. Agar doa Anda menjadi kenyataan, kehidupan Anda harus berpadanan dengan permohonan itu, yaitu dengan bekerja”.

Di sini, nilai kerja amat dalam maknanya, karena ia berakar pada pada doa dan penghayatan iman. Kelelehan fisik dalam konteks ini menjadi bermakna pula karena emosi seseorang tetap terpelihara sehat.

c. Pelaku Perdamaian Dunia dan Kesatuan Gereja

Tidak diragukan bahwa keprihatinan Roger sungguh mendalam atas keterpecahan umat manusia. Ia melihat bahwa individualisme yang tengah merambah ke pejuru dunia membajak persekutuan umat manusia. Itu sebabnya ia memandang perlunya perwujudan perdamaian dunia yang bisa dimulai dalam diri setiap individu. Ia mengatakan, “karena tidak ada kesatuan tanpa perdamaian, marilah kita mendamaikan hati dan pikiran kita masing-masing”.
Dalam kaitan itu, Roger mengatakan bahwa tidak ada persahabatan tanpa penderitaan murni. Tidak ada kasih terhadap sesama tanpa kerelaan menanggung salib. “Jika kita ingin menyerukan kepada dunia agar terwujud kedamaian yang nyata, demikian Roger berpendapat, marilah kita mulai dari dalam diri kita sendiri mewujudkan keutuhan dan kesatuan di dalam dan di antara diri kita sendiri”.

Bagi Roger, kasih, dalam arti yang sangat luas, justru melintas batas denominasi dan agama. “Kasihilah sesamamu, tanpa memandang perbedaan latar belakang politik atau keyakinan agama”, demikian nasihat Roger. Dari sudut pandang Alkitabiah, pandangan Roger ini sebenarnya mengacu sedikitnya pada dua hal. Pertama, manusia (tanpa memandang perbedaan latar belakang) adalah gambar Allah. Kedua, dalam Injil Matius (5:13-15) diamanatkan “kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia”. Sama sekali tidak dikatakan, “kamu adalah garam gereja. Kamu adalah terang gereja”.

d. Agen Keadilan

Roger sangat sering berbicara tentang “keadilan”. Ia sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus mempunyai perhatian khusus kepada orang-orang yang diabaikan, mereka-mereka yang diperlakukan secara tidak adil, mereka yang merindukan keadilan. Karena itu, mengikut Kristus berarti mengasihi orang-orang yang hidup dalam kenyataan demikian. Ia mengamanatkan:

Di mana pun Anda berada, jangan takut memperjuangkan orang-orang tertindas, apakah mereka orang percaya (kepada Kristus) atau tidak. Panggilan untuk mewujudkan keadilan harus mewujud dalam solidaritas nyata dengan mereka yang paling hina….dengan kata-kata saja hanya akan menjadi opium.

Memahami kiprah dan kehidupan Bruder Roger dan Komunitas Taize sama sekali tidak dimaksudkan agar kita menjadi “Roger kecil”, sama halnya bahwa kita tidak diminta oleh Tuhan menjadi “Paulus kecil” atau ‘Amos kecil’, dan alain-lain. Tetapi, Tuhan menghendaki kita menjadi diri kita sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Hanya saja, kita masih berhadapan dengan persoalan kehidupan yang menjadi keprihatinan Roger. Di sini, kita mempunyai panggilan yang sama.
[1] Uraian ini terutama mengacu pada Peraturan Komunitas Taize (The Rule of Taize; yang sekarang sudah diubah) dan refleksi pengalaman keterlibatan penulis di Taize-Prancis.

Thursday, January 3, 2008

BUKU TERBITAN 2008 (1)

Buku "Apa Yang Kamu Cari?" terbit pada awal 2008. Berisikan renungan dan refleksi iman dalam menjalani kehidupan keseharian (selengkapnya lihat daftar isi di bawah).

DAFTAR ISI

Kata Pengantar:
Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D...
Prakata.......................................................

1. Kiat Menjalani Hari Ini ......................
2. Dari Perjumpaan ke Kesatuan ..............
3. Spiritual Check-Up ...............................
4. Test Tingkat Kesadaran .................
5. Kunci Kebahagiaan .............................
6. Keberanian ...........................................
7. Motivasi ................................................
8. Apa Yang Kamu Cari? ..........................
9. Gagal Kaya Berhasil Bahagia ...............
10. Keputusan Tanpa Keputusasaan (1) ...
11. Keputusan Tanpa Keputusasaan (2) ...
12. Pemadam Kebakaran Amarah ............
13. Pengampunan ......................................
14. Perut: 60 Ton ........................................
15. Taurat Dalam Masyarakat Sekarat ......
16. Doa Melampaui Kata ..........................
17. Meditasi Kristen .................................


Kata Pengantar
Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D.

Dengan senang hati saya memberi pengantar untuk kumpulan karangan Pdt. Victor Tinambunan, MST. Saya mengenal saudara Victor ketika dia mengikuti kuliah-kuliah pascasarjana di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, dan kesan saya dia adalah seorang yang tenang, bahkan agak serius di dalam menjalani kehidupan. Waktu itu saya belum tahu bahwa saudara Victor juga senang menuliskan renungan-renungan yang bersifat meditatif. Tetapi setelah membaca tulisan-tulisannya, saya yakin bahwa semuanya merupakan hasil dari perenungan yang mendalam dan mengacu pada keheningan.

Hal ini membuat saya berpikir: sebenarnya amat jarang saya mengenal orang Batak yang “berenang” dalam keheningan. Saya mengenal orang-orang Batak Kristen sebagai orang yang bersuara, juga ketika mereka merenungkan Firman Tuhan di dalam Kitab Suci. Saudara Victor merupakan kekecualian. Mungkin dia bisa memberi kesadaran pada sekitarnya bahwa keheningan merupakan sesuatu yang berharga bagi kita semua. Tentu saja kita harus menjaga diri pula agar kita tidak memutlakkan keheningan, lalu meremehkan suara. Pada waktunya kita perlu bersuara. Kita perlu mengusahakan sebuah spiritualitas yang seimbang di antara spiritualitas hening dan spiritualitas suara.

Selamat kepada saudara Victor atas karangan-karangannya yang merupakan mutiara-mutiara kecil, dan semoga semua pembaca menemukan jawaban dari pertanyaan: “apa yang kamu cari?”


22 Nopember 2007
Wisma “Labuang Baji”, Bener,
Yogyakarta


=========================================


Buku-buku Pdt Victor Tinambunan yang lain yang sudah terbit:

1. Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia (2001)
2. Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2003)
3. Menjadi Gereja Pro-Kehidupan (2004).
4. Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat (2006).
5. Bohal ni Parhalado Dohot Ruas ni Huria (2006).
6. Engkel Sipature Na Sega (2008).
7. Berkomunikasi Dengan Hati (2009)

BUKU TERBITAN 2008 (2)

Buku "Engkel Sipature Nasega" berisikan cerita-cerita yang membuat Anda yang mengerti bahasa Batak tertawa --dan semoga juga dapat mengubah kehidupan.

SALAH SATU CONTOH ISI BUKU INI:

MALUA SIAN 7 J

Dung marpungu angka situan natorop i, dipungka sahalak pandebisuk ma paingothon nasida. “Adong 7 J sipasidingonta, asa dame roha, ripe, huria dohot masyarakat”, ninna. Tarpaima do situan natorop umbege aha do na 7 J na nidokna i.

Parjolo, Jogal.
Ia halak na jogal, i ma na so siat hata. Tung manang ise mandok hata ndang ditangihon: hula-hula, pangituai, nang pangula ni huria pe. Tarsongon jagal rupani, nunga 3 jom dilompa sai tong songon ban ni motor ndang tarharat.

Dua, Jugul.
Halak na jugul, ndang taroraan. Sai dituntun lomona nang pe naeng tu hamagoan. Unang sai tuhori hamu togel i, parmaraan do sian i ningon, alai sai didatdati. Tu gareja pe ibana marminggu sai tu togel rohana. Diida nomor ni ende godang nomor 2, anggo rohana mandok, “songon na godang angka 2 di ende on, kode alam do ra on”, i do dohonon ni i.

Tolu, Jungkat.

I ma halak na so las rohana marnida na denggan. Sai segaan ni i do i. Denggan bangku ni gareja dohot dinding, sai disurati jala digorgai ma i. Diida suan-suanan ni halak ramos marparbue, dangguranna ma i.

Opat, Jumarojor.
Tung manang aha dijama, sega. Tolu piring dibasu, 2 maropuk. Dipinjam sepeda motor, tingki diboan denggan dope, alai dung mulak dionjar-onjar nama so boi be mangolu masinna.

Lima, Jungking.
Na maol do pangkulingan na songon on. “Horas amang boru,” ningon rupani huhut tarserom iba ala burju ni roha mamanghulingi. “Sian dia dalanna amangborum ahu, ndang hea hualap namborum,” manigor songon i do dohonon ni i songon na bais panghulingna.

Onom, Jorngang.
Ia na jorngang, sai holan hata baraksi do hata ni on. Maol do begeon hata na denggan sian i mamungka sian ari Senen tu ari Sabtu. Ari Minggu mansohot ma hajorngangonna, ndang ala na tu gareja ibana, ala na modom do ibana sadarina i. Ra, nipi ni i pe tong do jorngang .

Pitu, Jengjeng.
On ma halak na sai lomo rohana manggorgori roha ni donganna. Sai manjungkiti ma hata ni i. Diida rupani mamolus motor bus ni par-Doloksanggul, “Ei, siallang hoda,” ninna i ma rupani. Di angka rapot pe sai songon i do i mamingkasi parsalisian. Molo dung muruk donganna, mansai las ma rohana, ai dietong nunga marhasil ibana.

“Sada J pe sian na pitu on masa di tonga ni jabu, punguan manang huria, nunga mansai borat panghorhon ni i, lamu boha ma molo marpungu na pitu i. Ro ma J na paualuhon, i ma JEA”, ninna pande bisuk i paingothon.

Molo hita siihuthon Tuhanta, ia J na pamalum na 7 J i ma JESUS. Tangkas ma taoloi nuaeng joujou ni Tuhanta i tu hita be na mandok, “Sai mian dibagasan Ahu ma hamu, songon Ahu mian dibagasan hamu! Songon ranting i, na so tarbahen marparbue anggo sian dirina, anggo so mian di hau anggur i; laos songon i hamu, anggo so mian dibagasan Ahu hamu” (Joh. 15:4).

Catatan:
Setelah membaca kamus Bahasa Batak, ada satu J lagi yakni: Jubajabi = besar mulut, sigodang hata.


=============================

Buku-buku Pdt Victor Tinambunan yang lain yang sudah terbit:

1. Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia (2001)
2. Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2003)
3. Menjadi Gereja Pro-Kehidupan (2004).
4. Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat (2006).
5. Bohal ni Parhalado Dohot Ruas ni Huria (2006).
6. Apa Yang Kamu Cari? (2008).
7. Harta Benda: Berkat Atau Beban (bersama Dr D.L. Baker)
8. Berkomunikasi dengan Hati (2009)

Friday, November 16, 2007

DAFTAR ISI

Untuk mempermudah Anda menemukan topik yang Anda minati, berikut ini adalah topik-topik yang ada dalam blog ini berdasarkan kategorinya:

RENUNGAN MENJALANI 2009

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/AA-MENJALANI%20TAHUN%202009

Sekali lagi tentang "Memadamkan Amarah"
Yang Istimiwe dari Orang Percaya
Memecah keraguan akan Tuhan
Usia 40-an: usia krisis?
Melepas kelekatan
Hubungan kehidupan bergereja dan kehidupan sehari-hari
Memenangkan ujian hidup
Berbahagia di tahun Tuhan- Sebuah Renungan Menjalani 2009


CERITA CERMINAN HIDUP
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/CERITA%20CERMINAN%20HIDUP

Kucing atau Ibu Mertua?
Berkat, Mujizat dan Rahmat
Ketika perubahan terjadi
Singkong dan Keju Pendeta
Posisi Berdoa Tapi Otak Ternoda
Tidur dan Ibadah

EKOLOGI
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/EKOLOGI


Minyak habis 34 tahun lagi?

Air
Bersahabat dengan pohon
Tugas Panggilan Menghargai Ciptaan Tuhan
Eco-spirituality dalam konteks Asia
Kepemilikan Allah atas bumi & tanggung jawab manusia

HKBP

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/Huria%20Kristen%20Batak%20Protestan%20%28HKBP%29

Persembahan: Perpuluhan atau Perseratusan?
HKBP: Berpusat di Sorga, Berkantor di Pearaja
The New Leadership of the HKBP
Pimpinan HKBP 2008-2012
Ephorus HKBP 2008-2012
Menanti Pimpinan HKBP 2008-2012
Pemimpin
Sapaan Tuhan Melalui Sahabat
Tata Ibadah HKBP
Tinjauan Kritis Tata Gereja HKBP
Pembaharan: mulai dari batin hingga ke masyarakat
Mewujudkan HKBP Yang Terbuka dan Dialogis

KECERDASAN EMOSIONAL

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KECERDASAN%20EMOSIONAL

Perasaan
Sukses dan Rasa Malu
Evaluasi Kehidupan
Surat Yang Menyembuhkan
Hati-hati dengan Hati
Mengatakan Keburuan orang lain, boleh?
Masalah Memberi Kesan
Menjadi Berkat, Bukan menjadi hebat
Test Tingkat Kesadaran
Tambah Usia Tanpa Gelisah
Hubungan Emosi dengan Kesehatan

KELUARGA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/Keluarga


1. Pengampunan yang menyembuhkan
2. Orangtua dan Anak: Kuasa atau Kasih?
3. Masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

4. Membuat bahagia tanpa Memanjakan

KEPEDULIAN SOSIAL

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KEPEDULIAN%20SOSIAL

Dari 'Melayat Politik' Hingga 'Kebaktian Politik'
Pemilu Indonesia di Singapura
Dukungan untuk Para Buruh di Batam
Mengenali dan Mengatasi Kekerasan
Kesederhanaan dan Solidaritas
Menghadapi Kekuasaan Yang Lalim
Coram Deo – Di hadapan Allah
Memoria
Pembaruan budi dalam rangka pembaharuan gereja dan masyarakat

KOMUNIKASI

Kehadiran
Tiga Tipe 'Problem Solver'
Reaksi
Masalah Triangulation dalam Komunikasi
Seni Mendengarkan

KOTBAH DAN PENGKOTBAH:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KHOTBAH%20DAN%20PENGKHOTBAH

Pengkotbah dan kotbah yang bagaimana
Kotbah Yang Hidup
Pengkotbah

KUNCI KEBAHAGIAAN:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KUNCI%20KEBAHAGIAAN

Perasaan

Memecah Keraguan
Apa yang kamu cari?
Keputusan Tanpa Keputusasaan (1)
Keputusan Tanpa Keputusasaan (2)

MEDITASI KRISTEN
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/MEDITASI%20KRISTEN

Meditasi Kristen
Cuti 10 Menit

MOTIVASI JERNIH

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/MOTIVASI%20JERNIH

1. Bertanya
2. Kasih: jarak pendek dan jarak jauh
3. Motivasi

OBAT STRESS

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/OBAT%20STRESS

Ketabahan Dalam Segala Keadaan
Khasiat Senyum dan Tawa
Cuti 10 Menit

PA (PEMAHAMAN ALKITAB)
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PA

Memberi 'karena' bukan 'supaya'
Menanti Dengan Hati Damai
Lidah Ibadah dan Lidah Limbah
Fokus Pada Pemberi, bukan Pemberian
Hilang di rumah sendiri
Teguh Menghadapi Musuh

PELAYAN GEREJA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PELAYAN%20GEREJA

Transformational Leadership
Menebas Akar Perselisihan dalam Jemaat
Finishing Well
Seminar Haggai Institute
Jabatan Gerejawi
Karakter Pelayan

PERILAKU MANUSIA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PERILAKU%20MANUSIA

Affluenza
Angka
Memutus Mata Rantai Sakit hati Menahun
Lidah Ibadah dan Lidah Limbah
Tobat = Obat
Ketika Anda disalahmengerti
Rokok
Memberi Kesan
Menjadi Berkat Bukan Menjadi Hebat
Memilih: Sulit atau kita persulit?

SPIRITUALITAS:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/SPIRITUALITAS

Memaknai Kehidupan
Evaluasi Kehidupan
Yang Pokok dan Yang Sampingan
Menyikapi Krisis Ekonomi
Hati-hati dengan hati
Memecah Keraguan
Yang Terutama
Burung
Khasiat Pengampunan
Prayer Therapy
Latihan Doa Kontemplatif
Mensyukuri Hari Pemberian Tuhan
Memaknai Perjumpaan Dengan Tuhan
Spiritual Check Up
Menguji Roh-Roh Zaman

TEOLOGI JEMAAT
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/TEOLOGI%20JEMAAT

Persembahan: Perpuluhan atau Perseratusan?
Mengapa Anda ke Gereja?:
Natal: Kembali ke Makna Awal
Menebas Akar Perselisihan dalam Jemaat
Allah dan Indonesia
Hepeng

TINAMBUNAN-MARGA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/TINAMBUNAN-MARGA
































Tuesday, November 13, 2007

KASIH: Jarak Pendek & Jarak Jauh

“Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”
(Ibrani 10:24)


Berbicara tentang hubungan kehidupan bergereja dengan kehidupan sehari-hari, sedikitnya ada lima kelompok orang:

(1) Orang yang tidak perduli terhadap kehidupan bergereja (tidak hadir dalam ibadah Minggu dan PA, tidak mau membaca Alkitab dan berdoa) dan hidupnya sehari-hari pun penuh dengan kebiasaan buruk bahkan tidak bermoral.


(2) Orang yang rajin ke gereja, tidak pernah absen di perkumpulan PA, berdoa setiap kali mau makan, tetapi seolah-olah tidak ada pengaruhnya yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Karakter buruk tetap melekat, seperti suka marah bahkan berang, memendam dendam, melakukan korupsi, pergi kepada dukun dan lain-lain.


(3) Tidak rajin ke gereja dan tidak banyak tahu tentang isi Alkitab, tetapi dalam hidup sehari-hari ia hidup baik, jujur, ramah, bekerja dengan sungguh-sungguh, suka menolong sesama manusia.


(4) Sesekali pergi ke gereja dan hidup biasa-biasa saja, tidak terlalu jahat dan tidak baik sekali. Sungkan menghujat Allah tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tidak mau mengganggu orang lain, tetapi juga tidak bersedia menolong sesama.


(5) Rajin dan terlibat aktif dalam seluruh kehidupan bergereja, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama-sama dan itu juga terpancar dalam hidupnya sehari-hari dalam berbagai perbuatan baik.

Kita boleh melihat di kelompok mana kita dan keluarga kita masing-masing berada. Yang ideal memang adalah nomor 5 ini.

Ibrani 10:24 berbicara tentang hubungan iman dan ibadah dengan kehidupan keseharian. Ayat ini mesti dilihat sebagai satu kesatuan mulai dari ayat 19 yang menegaskan bahwa Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudusNya, menjadi anggota keluarga Allah.

Bertolak dari karya Kristus yang begitu besar dan menentukan, menyusul tiga ajakan ‘marilah’ kepada umat percaya, yakni:

(1) Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh. Oleh karena hati kita telah dibersihkan…. (ay 22)
(2) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia (ay 23)
(3) Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (ay 24).

Oleh karena itu, pusat perhatian kita yang pertama dan terutama adalah ‘pekerjaan Kristus di antara kita’. Ketiga ajakan seperti disebut di atas merupakan buah dari sambutan umat percaya kepada karya Kristus itu sendiri.

Dalam hal ini kita diajak kepada hal-hal yang konkret dan praktis tentang sikap dan gerak hidup sebagai orang percaya. Dengan kata lain, firman Tuhan ini mau menegaskan keterkaitan antara iman, ibadah dan kehidupan yang berbuah.

1. Rintangan Saling Memperhatikan

Saling memperhatikan dalam kasih merupakan sesuatu yang terbilang langka pada zaman ini. Kalaupun ada, ia lebih merupakan ‘pertukaran kepentingan’. Saya menjaga kepentingan Anda, sejauh Anda menjaga kepentingan saya. Saya akan datang ke pesta Anda, kalau Anda datang menghadiri pesta saya. Saya akan datang mengikuti PA di rumah Anda, kalau Anda hadir ketika PA diadakan di rumah saya. Di sini, persahabatan dibelokkan sebagai alat pemenuhan pementingan diri. Bahkan, agama pun bisa saja diperlakukan sebagai alat pemenuhan kepentingan.

Di samping membawa berbagai hal yang baik, salah satu sisi kelam dari era globalisasi ini ialah kecenderungan manusia yang kian dicengkeram individualisme (karena itu menjadi kurang dalam saling memperhatikan) dan materialisme (sehingga yang dipuja adalah Mamon hingga mengorbankan orang lain).

Kehidupan yang serba individualisme dan materialisme sangat mudah membuat orang merasa kuatir dan cemas, yang dapat menekan kehidupan. Bahkan, yang lebih buruk, akan mengakibatkan berbagai penderitaan fisik. Sebab, pikiran dan suasana hati menyalurkan kecemasannya kepada tubuh. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa gangguan fisik seperti pusing kepala, gangguan saluran pernafasan, sakit perut, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan sebagainya diakibatkan oleh tekanan terhadap rasa dan emosi.

Masih dalam hubungan itu, ambisi, menyimpan amarah, dengki, rasa benci, takut, kecewa menimbulkan stress (ketegangan) pada tubuh. Stress seperti itu dapat menyebabkan pernafasan dan detak jantung kita menjadi tidak normal. Kalau pasokan oksigen berkurang dalam tubuh, maka aliran darah juga akan terganggu. Dengan demikian, stress dapat menciptakan ketidakseimbangan kimia yang mengakibatkan kesalahan fungsi kelenjar dan organ-organ lain. Tubuh menjadi tidak mampu memberi perlawanan terhadap kuman-kuman yang biasanya dapat dikendalikan. Selanjutnya akan menimbulkan berbagai gangguan fisik.

Gangguan-gangguan semacam itu semakin membuat perhatian seseorang tertuju dan terpusat pada diri sendiri, cenderung lebih memikirkan keadaan diri sendiri dan amat kurang memberi perhatian terhadap sesama. Untuk itu perlu kita cermati berbagai gangguan kepribadian yang menghambat terciptanya kehidupan yang saling memperhatikan.

- Orang yang terlalu memikirkan diri sendiri kurang memiliki kesempatan memikirkan orang lain.

- Orang yang terlalu memperhatikan diri sendiri tidak mempunyai kesempatan memperhatikan orang lain
- Orang yang mengutamakan kenikmatan diri, akan cenderung merampas hak dan kebahagiaan orang lain.

2. Kasih Yang Melintas Batas

Bagi kita, ‘hukum yang terutama’ yang diamanatkan oleh Yesus, bukanlah sesuatu yang asing. Pengajaran dan kehidupan Yesus berpusat pada kasih. Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Tidak disebut ‘kasihilah sesamamu segereja atau sesamamu sekeluarga’. Untuk lebih memperjelas ini kita dapat menghubungkannya dengan perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Pada waktu itu, bagi orang Israel, orang Samaria adalah kafir dan dianggap sebagai musuh. Tetapi, dalam perumpamaan itu, justru orang seperti itulah yang mendapat pujian dari Yesus karena dialah yang melakukan kasih. Imam dan orang Lewi yang lewat itu adalah orang-orang yang mengetahui tentang kasih tetapi tidak mempraktekkan kasih.

Rasul Paulus pun dengan sangat jelas memaparkan ‘apa itu kasih’ (1 Kor 13) dan ‘bagaimana mengasihi’ (Rm 12). Kasih merupakan yang inti dalam kehidupan kristiani. Bahkan, pengorbanan sekalipun jika tanpa kasih, ia tidak punya makna apa-apa.

Dewasa ini, kasih cenderung diamputasi dan menjadi sekadar ‘kasih jarak pendek’ (bahkan ‘jarak pendek’ ini pun sudah semakin lebih pendek lagi). Sejarah perjalanan dunia ini sudah membuktikan hal itu. Banyak orang yang mengasihi dan peduli pada anak-anaknya tetapi sangat kejam terhadap anak-anak orang lain. Hal itu juga terjadi misalnya dalam lingkungan industri atau di lingkungan perburuhan dimana para buruh dibebani dengan begitu banyak tanggung jawab tetapi hanya sedikit hak.

Selanjutnya, kita terpanggil untuk dengan tulus menghormati perbedaan, khususnya dalam kehidupan kita di Indonesia yang sangat beragam latar belakang etnis, budaya, partai politik, dan agama. Kita sudah mengalami sejarah hitam pekat, dimana ribuan orang terlah korban nyawa atas nama agama seperti kasus Ambon dan di berbagai tempat lain. Kasih seharusnya menjangkau semua dan setiap orang. Apalah artinya agama kalau bukan untuk kehidupan yang damai dan bermakna? Alkitab bersaksi, bukan manusia untuk Sabat, melainkan Sabat untuk manusia. Sejalan dengan itu, bukan manusia untuk agama melainkan agama untuk manusia.

3. ‘Baik’ Tetapi Belum Cukup

Iman merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan baik. “Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yak. 2:20; bnd. Ay. 18). Itu sebabnya seluruh kehidupan adalah merupakan ibadah kepada Tuhan, Jadi, ‘pekerjaan baik’ yang dimaksudkan adalah berdasar dan mengakar pada pekerjaan Tuhan sendiri.

Bagi orang Kristen, menghindari perbuatan tercela dan jahat adalah baik, namun belum cukup. Gandhi, misalnya, mengajarkan ahimsa yaitu menolak keinginan untuk membunuh, tidak membahayakan orang, tidak menyakiti hati sesama, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan memperalat dan mengorbankan orang lain. (Semuanya ini, menurut Gandhi, berakar pada egoisme manusia).

Sambil menghindari perbuatan buruk, orang percaya juga sekaligus terpanggil untuk aktif berbuat kebaikan demi terwujudnya damai sejahtera, antara lain:

· Tidak membunuh sekaligus mencintai dan membangun kehidupan bersama
· Tidak membenci sekaligus mengasihi dan membawa damai bagi semua dan setiap orang
· Tidak membahayakan orang, sekaligus memberikan pertolongan yang terbaik bagi sesama, terutama mereka yang terabaikan, tertindas dan tersingkir.
· Tidak menyakiti hati orang lain sekaligus berusaha membuat orang bersukacita
· Tidak membuat orang marah sekaligus menghormati dan membuat orang tersenyum bahagia
· Tidak mencari keuntungan diri sendiri sekaligus memberi kesempatan kepada orang untuk mendapat keuntungan yang baik.

Berkaitan dengan itu, berikut ini dapat disebut beberapa hal yang lebih konkret:

(1) Pekerjaan atau profesi seseorang mestinya bukanlah hanya sekadar ‘mata pencaharian’ tetapi merupakan bagian dari pelayanan dan kesaksian. Sekadar catatan, dewasa ini berkembang sebuah pameo yang mengatakan bahwa untuk mendapat penghasilan yang haram saja sudah sangat sulit, apalagi mencari yang halal. Umat beriman terpanggil menjadi garam dan terang, tidak larut dalam kecenderungan dunia.
(2) Perkumpulan atau kelompok dalam jemaat, seperti kumpulan PA sektor atau lingkungan misalnya, dapat berperan sebagai kelompok aksi nyata bersama di samping mengadakan PA. Kelompok ini dapat mengemban tugas panggilan gereja sebagai jemaat misioner melalui program-program tertentu seperti pendampingan anak, pemberdayaan ekonomi, advokasi, proyek pelestarian lingkungan dan sebagainya. Untuk itu program-program dalam aras jemaat perlu dirumuskan dan dilaksanakan dengan baik.
(3) Gereja, sebagai pribadi, kelompok dan lembaga terpanggil untuk memberi perhatian yang sungguh-sungguh terhadap masalah-masalah yang cenderung menghancurkan kehidupan. Gereja terpanggil mengatasi segala bentuk kekerasan terhadap manusia dan ciptaan Tuhan. Sebab, dunia dan segala yang diam di dalamnya adalah milik Tuhan (Mzm 24:1).

Penutup

Anthoni de Mello dengan amat tepat mengatakan bahwa ‘hidup itu sebenarnya sederhana dan mudah, serta penuh dengan kegembiraan. Hidup terasa sulit jika hanya dikuasai oleh ilusi, ambisi dan keserakahan. Karenanya, hidup menjadi kaya makna dan menjadi berkat ketika dijalani bersama dengan Tuhan, Sang Pengasih yang sempurna itu.


ShoutMix chat widget