Wednesday, March 26, 2008

PEMBAHARUAN:


MULAI DARI BATIN HINGGA KE MASYARAKAT[1]

“… pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh pemandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,…”
(Titus 3:5)

PAULUS, TITUS DAN KITA

Surat Paulus kepada Titus disampaikan pada saat penginjilan baru saja dimulai dan gereja mau bertumbuh di daerah Kreta. Firman ini digemakan kembali pada saat ini kepada kita para pelayan dan warga gereja ketika gereja-Nya di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun. Barangkali Paulus tidak pernah membayangkan bahwa para pelayan gereja-gereja di Indonesia membaca suratnya ini. Akan tetapi, justru di sinilah nyata bahwa Allah dapat berbuat melampaui apa yang pernah dibayangkan oleh manusia. Indonesia tidak terjangkau Paulus, tetapi Tuhan sudah di sana sejak penciptaan hingga hari ini.

Dalam suratnya, Paulus tidak berbicara terutama sebagai kajian ilmiah teologis tentang Tuhan dan keselamatan, tetapi tentang peristiwa nyata yang terjadi melalui Yesus Kristus. Kita tahu bahwa Paulus tidak mengenal Yesus dari buku atau dokumen tertulis, tetapi dari suatu pengalaman nyata melalui perjumpaannya dengan Kristus. Dalam kaitan itu, Paulus tidak saja berbicara tentang Tuhan tetapi pertama dan terutama berbicara dengan atau kepada Tuhan. Dengan demikian kata-katanya pun mengalir dari kedalaman hatinya, hati yang mengenal dan mengimani Tuhan.

Paulus menasihatkan Titus supaya menjadi teladan (1:7-8). Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan struktur “atasan-bawahan” atau “senior-junior”. Paulus tidak saja menasihatkannya tetapi sungguh-sungguh menunjukkan keteladanan dalam iman, kasih dan pengharapan. Sebab, seribu kata nasihat tidak punya makna apa-apa tanpa sebuah keteladanan.

Paulus sungguh-sungguh percaya dan memperlakukan Gereja sebagai tubuh Kristus. Karena itu pelayan gereja hendaknya memiliki spiritualitas yang tangguh dan lebih mengedepankan fungsinya sebagai pemimpin spiritual, pastoral dan liturgis ketimbang kepemimpinan hirarkis, struktural, manajerial –meskipun semuanya itu dibutuhkan.

MERAYAKAN BAPTISAN (KELAHIRAN KEMBALI)

Berdasarkan pasal 1:1 jelas bahwa surat ini dimaksudkan untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah. Ia menasihatkan agar umat sehat dalam iman (1:13). Paulus memperingatkan bahwa “bagi orang najis dan bagi orang yang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis” (1:15). Ajaran sesat biasanya diikuti oleh perbuatan bejat tetapi iman yang sehat membuat hidup berbuah lebat.

Sehubungan dengan itu, secara khusus dalam pasal 3 Paulus menegaskan ulang dan meyakinkan Titus dan orang percaya bahwa kemurahan Allah sudah nyata. Keselamatan telah terjadi karena rahmat Allah oleh pemandian kelahiran kembali (baptisan) dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ayat 4-5).

Keselamatan oleh kemurahan Allah itu diterima melalui ‘pemandian kelahiran kembali’, yaitu baptisan; bukan sebagai tambahan, lanjutan, pelengkap atau baptisan ulang. Baptisan juga melambangkan dikuburkannya manusia lama dan bangkitnya manusia baru bersama-sama dengan Kristus (Rm 6:3-9).

Gereja reformasi menekankan makna baptisan sebagai masuknya yang dibaptis itu menjadi anggota ‘keluarga Allah’. Karenanya, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagaimana mungkin orang yang terbujur dalam lumpur dosa masuk menjadi anggota keluarga Allah? Justru di situlah rahmat dan kasih Allah itu nyata. Kekudusan Allah lebih besar dari dosa manusia.

Sebagai anggota keluarga Allah, Ia menaruh kita di dalam hati-Nya dan Tuhan menjadi intim dengan kita bahkan –seperti dikatakan Agustinus– “lebih intim daripada aku dengan diriku sendiri”. Yang perlu mendapat perhatian dalam kaitan keberadaan kita yang sudah dibaptis dan menjadi anggota keluarga Allah adalah:
- Kita diundang oleh Allah. Artinya, Allah yang mengambil prakarsa.
- Kita dilayakkan oleh anugerahNya
- Kita hendaknya menyesuaikan diri kepada kehendak Allah, tidak sebaliknya Allah yang menyesuaikan diri dengan rencana dan keinginan kita.

Melihat semuanya itu, peristiwa pembaptisan adalah peristiwa sukacita besar yang selayaknya disambut dengan rasa syukur.

Bagi Gereja masakini baptisan seharusnya tetap merupakan peristiwa liturgis yang lebih menekankan sukacita sorgawi karena rahmat penyelamatan Allah. Kiranya gereja dan orang Kristen terbebas dari penyimpangan yang menempatkan baptisan terutama menjadi masalah nasi dan administrasi. ‘Nasi’ menunjuk pada penekanan acara makan yang berkaitan dengan acara adat yang dilakukan sesudah ibadah gereja. Di berbagai jemaat praktek ini terkesan mendapat tempat yang lebih penting. Orangtua anak yang hendak dibaptis secara fisik duduk dengan pakaian rapi di gereja, tetapi pikirannya terkonsentrasi pada persiapan makanan di rumah. (Atik na masak indahan manang naung mosok do; apakah nasi sudah masak atau malah sudah gosong). ‘Administrasi’ berkaitan dengan ‘blanko baptis’ dan pelunasan segala tunggakan iuran ke gereja. Mudah-mudahan tidak ada warga jemaat yang batal dibaptiskan hanya karena orangtuanya belum melunasi iuran ke gereja.[2]

Bukan berarti bahwa nasi dan administrasi tidak penting. Keduanya boleh dan penting tetapi bukan yang terpenting. Janganlah kiranya kita berdosa karena mengesampingkan yang utama dan mengutamakan yang ‘sampingan’. Ada banyak yang perlu dipersiapkan sebelum pembaptisan, seperti persiapan khusus pelayan yang akan melayankan baptisan[3], persiapan air baptisan, memperlengkapi para orangtua dengan pemahaman yang benar tentang baptisan, dan sebagainya.

PEMBAHARUAN YANG DIKERJAKAN OLEH ROH KUDUS
DAN SAMBUTAN KITA

Dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk ‘baru’ yakni neos (‘baru’ menurut batasan waktu) dan kainos (‘baru’ menurut sifat dan hakekatnya). Sebuah gedung gereja baru (sudah direhab) adalah neos tetapi orang yang dahulu berdosa dan sekarang berada dalam jalan kesucian hidup adalah kainos (orangnya tetap, hidupnya berubah atau menjadi baru). [Catatan: Yang menjadi masalah ialah, jika orang beribadah dalam (gedung) gereja baru tetapi kehidupannya tetap pada pola hidup lama tanpa pembaharuan].

‘Pembaharuan’ yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ayat 5) berkaitan dengan kainos. Roh Kudus bekerja membaharui orang percaya. Orang yang sudah menerima pemandian kelahiran kembali (baptisan) itu perlu dibaharui oleh Roh Kudus agar dapat bertumbuh dalam iman dan pada usia dewasa mau dan mampu meninggalkan hidup yang lama dan menjalani hidup secara baru. Dakam hal ini kita dapat menggumuli pembaharuan sedikitnya dalam tiga hal sebagai berikut.

1. Pembaharuan Kehidupan Pribadi

Gampang, mudah dan enak! Begitu kira-kira kesan sepintas membaca Titus 3:4-5. Betapa tidak! Seolah-olah Tuhan yang melakukan semuanya dan manusia bisa tinggal diam dan ‘terima siap’. Kita perhatikan misalnya dari kata-kata yang terdapat dalam ayat tersebut: kemurahan Allah, kasihNya, menyelamatkan kita, rahmatNya, pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus. Semuanya sudah lengkap, semuanya sudah dilakukan Allah. Apalagi, dengan menyebut ‘bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan ‘(ayat 5). Seolah-olah perbuatan baik tidak penting dan bermakna.

Untuk menjelaskan hal ini marilah kita simak apa yang dikatakan dalam ayat 8, yakni “ … agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik”. Untuk apa lagi? Bukankah semuanya sudah dikerjakan oleh Allah? Manusia bukanlah robot yang dilengkapi dengan remote control yang diformat tanpa kehendak bebas.

Pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus tidak menggantikan usaha orang percaya dalam pekerjaan yang baik. Hanya saja, nilai pekerjaan baik orang yang sudah menerima keselamatan dari Allah berbeda dengan pekerjaan baik menurut ukuran dan kebiasaan dunia.

Ada banyak ‘kebaikan’ di dunia ini yang berakar pada ego manusia. Ketika ego manusia yang mengemuka dalam diri seseorang, maka ia akan mengatakan, “Saya adalah (1) Apa yang saya miliki, (2) Apa yang saya lakukan dan prestasi yang saya capai, (3) Apa kata orang tentang saya.

Dalam kenyataan demikian ‘kebaikan’ hanyalah ungkapan cinta diri karena didasari atas pertimbangan berbuat baik demi pemenuhan ego. Tetapi, orang percaya melakukan pekerjaan baik merupakan buah iman kepada Allah. Bagi orang percaya pekerjaan dan perbuatan baik lahir dan hadir atas kesadaran dan iman akan kebaikan Allah. Pekerjaan baik karena kebaikan Allah, bukan berbuat baik supaya Allah baik.

Secara khusus, saat ini adalah waktu rahmat Tuhan menyapa kita yang dipercayakanNya untuk melayani. Sebuah hasil penelitian yang dilakukan dalam salah satu gereja di Indonesia menunjukkan bahwa pelayan yang memiliki spiritualitas memadai hanya 15%. Dapat dibayangkan bagaimana pelayanan yang berlangsung tanpa spiritualitas pelayan yang kokoh.

Ketangguhan spiritualitas para pelayan akan secara serta merta membawa pembaharuan dalam semua ranah kehidupan, termasuk dalam karakter pribadi. Misalnya, dari pemarah menjadi peramah, dari ketamakan menuju rasa cukup, dari kebencian dan dendam kepada pengampunan dan persahabatan sejati, dari kebiasaan bersungut-sungut kepada sikap menerima dan lebih toleran, dari tukang kritik menjadi sumber inspirasi dan rujukan dalam berpikir, berucap dan bertindak.

2. Pembaharuan Kehidupan Bergereja

Orang yang dibaharui oleh Roh Kudus juga terpanggil melakukan pembaharuan seirama dengan pembaharuan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Dalam hal ini Gereja perlu dengan sungguh-sungguh berpaling kepada Tuhan dan siap sedia dibaharui oleh Roh Kudus. Apa yang membedakan Yesus dengan Gereja masakini? Yesus berpihak pada orang kecil, Gereja sering (malah mungkin biasanya) berpihak pada orang besar. Yesus hadir bagi mereka yang membutuhkan dengan perpotongan Nya yang tepat; gereja cenderung menghadirkan siapa yang dibutuhkannya. Yesus terbuka bagi setiap dan semua orang, gereja terkesan asyik dengan dirinya sendiri dengan tembok eksklusivitasnya. Yesus memberi diriNya untuk orang lain; Gereja cenderung hidup untuk dirinya, dan pada saat-saat tertentu bahkan tergoda memanfaatkan yang lain untuk diri sendiri.

Kita jangan lengah apalagi pongah seolah setan tidak dapat masuk ke dalam gereja. Gereja (termasuk forum rapat-rapatnya, pelayannya dan warganya) bisa saja dirasuk oleh setan. Jika demikian di dalamnya tidak terjadi pembaharuan tetapi justru pembusukan. Beberapa hal dapat disebut berkaitan dengan hal ini:

· Ketika yang terpenting dalam gereja adalah mamon (Sebastian Kappen menyebutnya sebagai ‘gereja yang mata duitan kepada Tuhan’), kuasa manusia, struktur gereja yang amat ketat, kaku dan berliku yang menghalangi gereja ikut dalam misi Kristus, maka gereja sedang dirasuki oleh roh zaman. Seharusnya, yang terpenting adalah sang Pemberi yaitu Allah, bukan pemberian-Nya.
· Gereja, (termasuk pelayan dan warga jemaat) perlu menjawab pertanyaan, “Apakah semua kepunyaan gereja benar-benar berasal dari dan milik Allah?” Gereja dan pelayan hendaknya tidak begitu saja menerima segala sesuatu cukup dengan memberi label bagi semua pemasukan gereja sebagai ‘berkat Tuhan’, padahal justru hasil korupsi atau hasil kejahatan. Gereja perlu memohon pengampunan dan membuka diri dibaharui Roh Kudus di tengah merajalelanya roh-roh zaman yang dapat menyeret gereja menyimpang dari kebenaran.
· Ketika para pelayan menempatkan diri sebagai “pegawai-pegawai agama” belaka yang dilengkapi dengan SK yang terutama berisi konsideransi aturan dan peraturan tetapi hampir mengesampingkan pesan Injil, membuka peluang bagi seorang pelayan untuk takut dan takluk pada manusia lebih dari ketaatan kepada Tuhan.

Pembaharuan yang kita lakukan hanya punya makna ketika berada dalam pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Itu juga berarti bahwa gereja dan orang-orang percaya menghasilkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23), yang terkesan agak langka (kalau tidak hampir punah) pada zaman ini.

3. Pembaharuan Kehidupan Bermasyarakat

Benar bahwa penyelamatan Allah adalah sebagai peristiwa yang nyata dalam sejarah hingga pada hari yang kita jalani ini dan menuju kesempurnaan pada akhir zaman. Tetapi orang-orang yang sudah diselamatkan oleh anugerah Allah terpanggil melakukan pekerjaan baik yang melintas tembok gereja. Dikatakan dalam ayat 8 “itulah yang baik bagi manusia’. Sebutan ‘manusia’ menunjuk pada semua dan setiap orang tanpa memandang latarbelakang. Itu berarti pembaharuan mesti dilakukan dalam semua ranah kehidupan. Tugas panggilan ini terutama kita emban di tengah aneka persoalan dan pergumulan dunia, antara lain:

ð Makin banyaknya orang yang dirasuk dan dirusak oleh roh-roh zaman, seperti kecanduan dan kelekatan pada narkoba, materi, dan nafsu duniawi. Dalam konteks ini, keheningan tergusur oleh kebisingan, terutama kebisingan karena keliaran pikiran oleh aneka keinginan dan kelekatan pada materi.
ð Terlalu banyak orang yang hidup hanya dengan kepalanya saja (ada pula yang tidak menggunakan kepala sama sekali). Dalam kehidupan keseharian kita ada banyak beredar nasehat menyesatkan, misalnya dengan mengatakan supaya ‘pintar-pintar’ yang sebenarnya merupakan pengabsahan menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan, tetapi menyimpang dari kehendak Tuhan.
ð Manusia senang menyantap apa yang disodorkan oleh berbagai media yang berisi mimpi, provokasi dan penyubur cinta diri. Padahal, bagi orang beriman kenikmatan dan kegirangan yang sehat adalah firman Tuhan, sama seperti Yeremia yang mengaku, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu, maka aku menikmatinya; firmanMu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku …” (15:16)
ð Banyak warga masyarakat yang terkapar karena lapar. Kalau kita sunguh-sungguh berdoa tidak bisa tidak kita akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai persoalan-persoalan besar yang digumuli oleh dunia serta memelopori pembaharuan.

Di tengah keadaan dunia seperti itu, kita perlu mengembangkan daya pengenal karya Tuhan, menghidupkan rasa kagum akan karya Allah serta memberi jalan demi suburnya firman Tuhan bertumbuh dan berbuah lebat dalam kehidupan jemaat dan masyarakat. Kita perlu mengembangkan daya pengenal pembaharuan Roh Kudus dan bergerak seturut pembaharuan-Nya. Daya pengenal tersebut dapat tumbuh dan berkembang melalui doa keheningan. Hikmat akan hadir sejauh kita menyertakan kepekaan kita akan kehadiran Tuhan dan kehendakNya untuk menilai apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Gereja dan orang percaya yang sudah dibaharui oleh Roh Kudus terpanggil menyatakan pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus itu dalam berbagai tindakan konkret dalam merawat kehidupan. Gereja harus berjuang melawan roh kerakusan, hedonisme, materialisme, konsumerisme yang sering (bahkan biasanya) berbarengan dengan sadisme dan ketidakadilan. Dalam perjuangan seperti ini tidak ada jalan yang mulus dan lurus saja. Dalam sejarah kita temukan begitu banyak para saksi kebenaran yang menanggung siksa. Itu berarti bahwa Gereja dan orang percaya harus siap memikul salib.

RENUNGAN LEBIH LANJUT

Hanya kalau kita dapat berdialog secara mendalam dengan Tuhan dalam doa, dan menghadapkan diri kita terbuka dihadapan Tuhan, polos apa adanya, maka kita akan dapat membicarakan sesuatu yang bermakna dan membaharui. Kalau tidak, sumber percakapan kita hanyalah sedalam diri kita yang amat manusiawi ini dan yang terjadi adalah keliaran pikiran dan percakapan tanpa makna. Kiranya percakapan dan perenungan kita pada kesempatan ini mengalir dari kedalaman hati kita.

1. Apakah bapak dan ibu pernah mengalami dalam kehidupan ini seolah-olah rahmat Allah tidak terjadi di dunia ini?
2. Apakah tanda bahwa rahmat Allah masih sedang berlangsung saat ini.
3. Pernahkah terjadi, bahwa bapak dan ibu begitu bergairah dan bersemangat menyuarakan atau melakukan pembaharuan tetapi jauh dari pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus? 4. Ketika kita terbuka pada pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus, secara serta merta kita menerima karunia Roh (bnd. 1 Kor 12)


---------------
Gereja mencari dan melaksanakan berbagai upaya sumber dana dan asset untuk dipergunakan melayani dirinya sendiri serta mengembangkan kehidupan warga dan pelayan jemaat, kesejahteraan para pensiunan di HKBP dan masyarakat melalui pengumpulan persembahan pada kebaktian Minggu maupun pada kebaktian-kebaktian doa yang dilaksanakan oleh jemaat, iuran, sumbangan, hibah, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh Badan Usaha HKBP, yayasan, koperasi, dan lain sebagainya yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan.

Pembinaan dan Pengembangan HKBP dilaksanakan untuk mewujudkan jemaat yang dewasa iman dan pengetahuannya akan kasih Allah Bapa, anugerah anakNya Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus (Eph 4:13-16). Jemaat yang demikian adalah jemaat yang memenuhi tri tugas panggilannya dan sadar akan perlunya membina dan mengembangkan seluruh ciptaan Tuhan secara terpadu dan pengupayakan agar selalu berada dalam kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan kehidupan yang seimbang, selaras dan serasi (Mrk 16:15; Gen. 1:28).

Keseimbangan, keutuhan dan keterpaduan seluruh ciptaan Allah harus terus dijaga dan dipelihara. Karena itu, dalam usaha-usaha pembinaan dan pengembangan, pemeliharaan keindahan, kesegaran, kebersihan, kesehatan, kesuburan, kelestarian dan produktivitas lingkungan harus terus ditingkatkan dan dimantapkan.
-----------------------


[1] Sebelumnya pernah disampaikan pada Rapat Pendeta HKBP, Agustus 2005 di Seminarium Sipoholon, Tarutung.
[2] Belakangan ini di lingkungan HKBP muncul masalah siapa yang seharusnya menandatangani akte baptis, sebelumnya Pendeta Ressort dan Guru Jemaat, sekarang hanya Pendeta Ressort.
[3] Dalam Didache disebutkan bahwa yang akan melayankan baptisan harus terlebih dahulu melakukan puasa. Tidak dimaksudkan pendeta HKBP harus berpuasa dulu (walaupun jika memungkinkan alangkah baiknya), tetapi yang jelas perlu ada persiapan yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaannya.

Tuesday, February 26, 2008

KESEDERHANAAN DAN SOLIDARITAS


Belajar dari Komunitas Taize[1]

Kumunitas Taize adalah sebuah ‘biara’ antar denominasi di sebuah desa, bernama Taize, di Prancis. Komunitas ini memadukan sedemikian rupa kehidupan meditasi, kontemplasi dan aksi nyata. Para bruder dengan setia dan teratur mengadakan doa bersama setiap hari dan mereka bekerja untuk kehidupan mereka dengan dasar ‘kecukupan’ bukan kemewahan.

Dengan pendirian Komunitas Taize, Bruder Roger telah berupaya menyembuhkan perpecahan di antara umat Kristen. Bruder Roger tiba di Taize pada 1940 dan memulai komunitas ini seorang diri. Kemudian, secara berangsur ia bergabung dengan beberapa bruder lain. Pada 1949 mereka memutuskan komitmen mereka untuk hidup bersama dalam komunitas dengan selibat dan hidup sederhana.

Peraturan dan kehidupan komunitas Taize dapat memberi ‘pencerahan’ kepada setiap orang yang menyerahkan diri kepada pekerjaan Tuhan, dengan atau atau tanpa selibat. Barangkali itulah sebabnya mengapa banyak orang dari penjuru dunia yang telah menimba pengalaman dari komunitas ini, termasuk dari Indonesia sendiri.
Berikut ini beberapa hal dapat dikemukakan mengacu pada peraturan Taize.

HIDUP KONTEMPLATIF

Roger menekankan bahwa “jika imam (=pastor atau pendeta) tidak kontemplatif, maka kepala mereka akan kosong dan uluran tangannya akan hampa”. Ia percaya bahwa kasih kita terhadap sesama sangat ditentukan oleh hidup kontemplasi kita yang benar. Dengan indahnya ia mengatakan “bukalah hidupmu kepada orang lain, maka hasrat untuk menyelamatkan diri sendiri dari penderitaan dunia ini akan lenyap dari hatimu”.

Salah satu godaan terbesar dalam era di mana “budaya sibuk” tengah menggempur dunia ini, dengan motto “waktu adalah uang”, adalah terbuangnya peluang berdoa dan waktu kontemplasi. Godaan yang sama juga bisa menimpa orang yang sedang dibius mental terlalu santai. Dalam konteks ini seruan Roger sangat bermanfaat, yakni “keseimbangan dalam hidup kita ditentukan oleh perhatian kita terhadap ibadah, (baik secara pribadi maupun dalam persekutuan) dan pekerjaan baik”.

Berkaitan dengan ini ada beberapa “tanda” kehidupan kontemplatif, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Kesederhanaan

Roger sangat menekankan urgensi kesederhanaan, tidak dengan memaksa diri melainkan karena iman. Berikut ini satu petikan pendapat (dan pola hidup) Roger:

Anda tidak membutuhkan begitu banyak hal untuk hidup. Anda tidak memerlukan begitu banyak untuk menyambut orang lain. Ketika Anda membuka rumah Anda bagi orang lain, dan di dalamnya terlalu banyak barang-barang milik Anda, maka hal itu lebih merupakan penghalang ketimbang sebuah jembatan penghubung persaudaraan.

Ini berarti bahwa seseorang tidak harus mendapatkan semua yang mampu ia raih dalam hidup ini. Malah, dalam suasana doa seseorang dapat dengan tulus memohon: “Ya Tuhan, ambillah dari padaku segala sesuatu (harta milik, gengsi, popularitas dan sebagainya) yang memisahkan aku dari padaMu, tetapi anugerahkanlah kepadaku segala sesuatu yang menolong aku mengikut Engkau”.

Dewasa ini, kita perlu dengan sungguh-sungguh berpaling pada kesederhanaan di tengah kegandrungan warga masyarakat terhadap kemewahan dan pemborosan. Kesederhanaan adalah menggunakan segala sesuatu seperlunya, sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan apalagi ketamakan. Kesederhanaan membuka pintu persaudaraan dan persahabatan.

b. Doa dan Pekerjaan Baik

Peraturan Taize menekanakan bahwa doa tidak dapat dipisahkan dari kerja. Dalam kata-kata lain bahwa tidak ada “spesialis doa”. Berikut ini ada beberapa pernyataan penting dari Peraturan Taize:

-“Penyerahan diri kita kepada Kristus tidak bermakna kecuali dengan menyerahkan diri dalam pekerjaan Allah melalui kemampuan nalar, bibir dan kerja nyata”
- “Pujian kepada Kristus yang menggema dalam ibadah hanya bermakna ketika serta merta diwujudkan dalam tindakan nyata dengan kerendahan hati”.
- “Carilah kehendak Allah dalam kehidupan doa dan meditasi Anda, dan lakukan segera, tanpa menunda-nunda. Karena itu, dengan membaca sedikit, merenungkannya, kemudian melakukannya. Agar doa Anda menjadi kenyataan, kehidupan Anda harus berpadanan dengan permohonan itu, yaitu dengan bekerja”.

Di sini, nilai kerja amat dalam maknanya, karena ia berakar pada pada doa dan penghayatan iman. Kelelehan fisik dalam konteks ini menjadi bermakna pula karena emosi seseorang tetap terpelihara sehat.

c. Pelaku Perdamaian Dunia dan Kesatuan Gereja

Tidak diragukan bahwa keprihatinan Roger sungguh mendalam atas keterpecahan umat manusia. Ia melihat bahwa individualisme yang tengah merambah ke pejuru dunia membajak persekutuan umat manusia. Itu sebabnya ia memandang perlunya perwujudan perdamaian dunia yang bisa dimulai dalam diri setiap individu. Ia mengatakan, “karena tidak ada kesatuan tanpa perdamaian, marilah kita mendamaikan hati dan pikiran kita masing-masing”.
Dalam kaitan itu, Roger mengatakan bahwa tidak ada persahabatan tanpa penderitaan murni. Tidak ada kasih terhadap sesama tanpa kerelaan menanggung salib. “Jika kita ingin menyerukan kepada dunia agar terwujud kedamaian yang nyata, demikian Roger berpendapat, marilah kita mulai dari dalam diri kita sendiri mewujudkan keutuhan dan kesatuan di dalam dan di antara diri kita sendiri”.

Bagi Roger, kasih, dalam arti yang sangat luas, justru melintas batas denominasi dan agama. “Kasihilah sesamamu, tanpa memandang perbedaan latar belakang politik atau keyakinan agama”, demikian nasihat Roger. Dari sudut pandang Alkitabiah, pandangan Roger ini sebenarnya mengacu sedikitnya pada dua hal. Pertama, manusia (tanpa memandang perbedaan latar belakang) adalah gambar Allah. Kedua, dalam Injil Matius (5:13-15) diamanatkan “kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia”. Sama sekali tidak dikatakan, “kamu adalah garam gereja. Kamu adalah terang gereja”.

d. Agen Keadilan

Roger sangat sering berbicara tentang “keadilan”. Ia sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus mempunyai perhatian khusus kepada orang-orang yang diabaikan, mereka-mereka yang diperlakukan secara tidak adil, mereka yang merindukan keadilan. Karena itu, mengikut Kristus berarti mengasihi orang-orang yang hidup dalam kenyataan demikian. Ia mengamanatkan:

Di mana pun Anda berada, jangan takut memperjuangkan orang-orang tertindas, apakah mereka orang percaya (kepada Kristus) atau tidak. Panggilan untuk mewujudkan keadilan harus mewujud dalam solidaritas nyata dengan mereka yang paling hina….dengan kata-kata saja hanya akan menjadi opium.

Memahami kiprah dan kehidupan Bruder Roger dan Komunitas Taize sama sekali tidak dimaksudkan agar kita menjadi “Roger kecil”, sama halnya bahwa kita tidak diminta oleh Tuhan menjadi “Paulus kecil” atau ‘Amos kecil’, dan alain-lain. Tetapi, Tuhan menghendaki kita menjadi diri kita sendiri sebagaimana Tuhan menghendakinya. Hanya saja, kita masih berhadapan dengan persoalan kehidupan yang menjadi keprihatinan Roger. Di sini, kita mempunyai panggilan yang sama.
[1] Uraian ini terutama mengacu pada Peraturan Komunitas Taize (The Rule of Taize; yang sekarang sudah diubah) dan refleksi pengalaman keterlibatan penulis di Taize-Prancis.

Thursday, January 3, 2008

BUKU TERBITAN 2008 (1)

Buku "Apa Yang Kamu Cari?" terbit pada awal 2008. Berisikan renungan dan refleksi iman dalam menjalani kehidupan keseharian (selengkapnya lihat daftar isi di bawah).

DAFTAR ISI

Kata Pengantar:
Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D...
Prakata.......................................................

1. Kiat Menjalani Hari Ini ......................
2. Dari Perjumpaan ke Kesatuan ..............
3. Spiritual Check-Up ...............................
4. Test Tingkat Kesadaran .................
5. Kunci Kebahagiaan .............................
6. Keberanian ...........................................
7. Motivasi ................................................
8. Apa Yang Kamu Cari? ..........................
9. Gagal Kaya Berhasil Bahagia ...............
10. Keputusan Tanpa Keputusasaan (1) ...
11. Keputusan Tanpa Keputusasaan (2) ...
12. Pemadam Kebakaran Amarah ............
13. Pengampunan ......................................
14. Perut: 60 Ton ........................................
15. Taurat Dalam Masyarakat Sekarat ......
16. Doa Melampaui Kata ..........................
17. Meditasi Kristen .................................


Kata Pengantar
Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D.

Dengan senang hati saya memberi pengantar untuk kumpulan karangan Pdt. Victor Tinambunan, MST. Saya mengenal saudara Victor ketika dia mengikuti kuliah-kuliah pascasarjana di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, dan kesan saya dia adalah seorang yang tenang, bahkan agak serius di dalam menjalani kehidupan. Waktu itu saya belum tahu bahwa saudara Victor juga senang menuliskan renungan-renungan yang bersifat meditatif. Tetapi setelah membaca tulisan-tulisannya, saya yakin bahwa semuanya merupakan hasil dari perenungan yang mendalam dan mengacu pada keheningan.

Hal ini membuat saya berpikir: sebenarnya amat jarang saya mengenal orang Batak yang “berenang” dalam keheningan. Saya mengenal orang-orang Batak Kristen sebagai orang yang bersuara, juga ketika mereka merenungkan Firman Tuhan di dalam Kitab Suci. Saudara Victor merupakan kekecualian. Mungkin dia bisa memberi kesadaran pada sekitarnya bahwa keheningan merupakan sesuatu yang berharga bagi kita semua. Tentu saja kita harus menjaga diri pula agar kita tidak memutlakkan keheningan, lalu meremehkan suara. Pada waktunya kita perlu bersuara. Kita perlu mengusahakan sebuah spiritualitas yang seimbang di antara spiritualitas hening dan spiritualitas suara.

Selamat kepada saudara Victor atas karangan-karangannya yang merupakan mutiara-mutiara kecil, dan semoga semua pembaca menemukan jawaban dari pertanyaan: “apa yang kamu cari?”


22 Nopember 2007
Wisma “Labuang Baji”, Bener,
Yogyakarta


=========================================


Buku-buku Pdt Victor Tinambunan yang lain yang sudah terbit:

1. Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia (2001)
2. Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2003)
3. Menjadi Gereja Pro-Kehidupan (2004).
4. Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat (2006).
5. Bohal ni Parhalado Dohot Ruas ni Huria (2006).
6. Engkel Sipature Na Sega (2008).
7. Berkomunikasi Dengan Hati (2009)

BUKU TERBITAN 2008 (2)

Buku "Engkel Sipature Nasega" berisikan cerita-cerita yang membuat Anda yang mengerti bahasa Batak tertawa --dan semoga juga dapat mengubah kehidupan.

SALAH SATU CONTOH ISI BUKU INI:

MALUA SIAN 7 J

Dung marpungu angka situan natorop i, dipungka sahalak pandebisuk ma paingothon nasida. “Adong 7 J sipasidingonta, asa dame roha, ripe, huria dohot masyarakat”, ninna. Tarpaima do situan natorop umbege aha do na 7 J na nidokna i.

Parjolo, Jogal.
Ia halak na jogal, i ma na so siat hata. Tung manang ise mandok hata ndang ditangihon: hula-hula, pangituai, nang pangula ni huria pe. Tarsongon jagal rupani, nunga 3 jom dilompa sai tong songon ban ni motor ndang tarharat.

Dua, Jugul.
Halak na jugul, ndang taroraan. Sai dituntun lomona nang pe naeng tu hamagoan. Unang sai tuhori hamu togel i, parmaraan do sian i ningon, alai sai didatdati. Tu gareja pe ibana marminggu sai tu togel rohana. Diida nomor ni ende godang nomor 2, anggo rohana mandok, “songon na godang angka 2 di ende on, kode alam do ra on”, i do dohonon ni i.

Tolu, Jungkat.

I ma halak na so las rohana marnida na denggan. Sai segaan ni i do i. Denggan bangku ni gareja dohot dinding, sai disurati jala digorgai ma i. Diida suan-suanan ni halak ramos marparbue, dangguranna ma i.

Opat, Jumarojor.
Tung manang aha dijama, sega. Tolu piring dibasu, 2 maropuk. Dipinjam sepeda motor, tingki diboan denggan dope, alai dung mulak dionjar-onjar nama so boi be mangolu masinna.

Lima, Jungking.
Na maol do pangkulingan na songon on. “Horas amang boru,” ningon rupani huhut tarserom iba ala burju ni roha mamanghulingi. “Sian dia dalanna amangborum ahu, ndang hea hualap namborum,” manigor songon i do dohonon ni i songon na bais panghulingna.

Onom, Jorngang.
Ia na jorngang, sai holan hata baraksi do hata ni on. Maol do begeon hata na denggan sian i mamungka sian ari Senen tu ari Sabtu. Ari Minggu mansohot ma hajorngangonna, ndang ala na tu gareja ibana, ala na modom do ibana sadarina i. Ra, nipi ni i pe tong do jorngang .

Pitu, Jengjeng.
On ma halak na sai lomo rohana manggorgori roha ni donganna. Sai manjungkiti ma hata ni i. Diida rupani mamolus motor bus ni par-Doloksanggul, “Ei, siallang hoda,” ninna i ma rupani. Di angka rapot pe sai songon i do i mamingkasi parsalisian. Molo dung muruk donganna, mansai las ma rohana, ai dietong nunga marhasil ibana.

“Sada J pe sian na pitu on masa di tonga ni jabu, punguan manang huria, nunga mansai borat panghorhon ni i, lamu boha ma molo marpungu na pitu i. Ro ma J na paualuhon, i ma JEA”, ninna pande bisuk i paingothon.

Molo hita siihuthon Tuhanta, ia J na pamalum na 7 J i ma JESUS. Tangkas ma taoloi nuaeng joujou ni Tuhanta i tu hita be na mandok, “Sai mian dibagasan Ahu ma hamu, songon Ahu mian dibagasan hamu! Songon ranting i, na so tarbahen marparbue anggo sian dirina, anggo so mian di hau anggur i; laos songon i hamu, anggo so mian dibagasan Ahu hamu” (Joh. 15:4).

Catatan:
Setelah membaca kamus Bahasa Batak, ada satu J lagi yakni: Jubajabi = besar mulut, sigodang hata.


=============================

Buku-buku Pdt Victor Tinambunan yang lain yang sudah terbit:

1. Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia (2001)
2. Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2003)
3. Menjadi Gereja Pro-Kehidupan (2004).
4. Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat (2006).
5. Bohal ni Parhalado Dohot Ruas ni Huria (2006).
6. Apa Yang Kamu Cari? (2008).
7. Harta Benda: Berkat Atau Beban (bersama Dr D.L. Baker)
8. Berkomunikasi dengan Hati (2009)

Friday, November 16, 2007

DAFTAR ISI

Untuk mempermudah Anda menemukan topik yang Anda minati, berikut ini adalah topik-topik yang ada dalam blog ini berdasarkan kategorinya:

RENUNGAN MENJALANI 2009

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/AA-MENJALANI%20TAHUN%202009

Sekali lagi tentang "Memadamkan Amarah"
Yang Istimiwe dari Orang Percaya
Memecah keraguan akan Tuhan
Usia 40-an: usia krisis?
Melepas kelekatan
Hubungan kehidupan bergereja dan kehidupan sehari-hari
Memenangkan ujian hidup
Berbahagia di tahun Tuhan- Sebuah Renungan Menjalani 2009


CERITA CERMINAN HIDUP
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/CERITA%20CERMINAN%20HIDUP

Kucing atau Ibu Mertua?
Berkat, Mujizat dan Rahmat
Ketika perubahan terjadi
Singkong dan Keju Pendeta
Posisi Berdoa Tapi Otak Ternoda
Tidur dan Ibadah

EKOLOGI
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/EKOLOGI


Minyak habis 34 tahun lagi?

Air
Bersahabat dengan pohon
Tugas Panggilan Menghargai Ciptaan Tuhan
Eco-spirituality dalam konteks Asia
Kepemilikan Allah atas bumi & tanggung jawab manusia

HKBP

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/Huria%20Kristen%20Batak%20Protestan%20%28HKBP%29

Persembahan: Perpuluhan atau Perseratusan?
HKBP: Berpusat di Sorga, Berkantor di Pearaja
The New Leadership of the HKBP
Pimpinan HKBP 2008-2012
Ephorus HKBP 2008-2012
Menanti Pimpinan HKBP 2008-2012
Pemimpin
Sapaan Tuhan Melalui Sahabat
Tata Ibadah HKBP
Tinjauan Kritis Tata Gereja HKBP
Pembaharan: mulai dari batin hingga ke masyarakat
Mewujudkan HKBP Yang Terbuka dan Dialogis

KECERDASAN EMOSIONAL

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KECERDASAN%20EMOSIONAL

Perasaan
Sukses dan Rasa Malu
Evaluasi Kehidupan
Surat Yang Menyembuhkan
Hati-hati dengan Hati
Mengatakan Keburuan orang lain, boleh?
Masalah Memberi Kesan
Menjadi Berkat, Bukan menjadi hebat
Test Tingkat Kesadaran
Tambah Usia Tanpa Gelisah
Hubungan Emosi dengan Kesehatan

KELUARGA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/Keluarga


1. Pengampunan yang menyembuhkan
2. Orangtua dan Anak: Kuasa atau Kasih?
3. Masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

4. Membuat bahagia tanpa Memanjakan

KEPEDULIAN SOSIAL

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KEPEDULIAN%20SOSIAL

Dari 'Melayat Politik' Hingga 'Kebaktian Politik'
Pemilu Indonesia di Singapura
Dukungan untuk Para Buruh di Batam
Mengenali dan Mengatasi Kekerasan
Kesederhanaan dan Solidaritas
Menghadapi Kekuasaan Yang Lalim
Coram Deo – Di hadapan Allah
Memoria
Pembaruan budi dalam rangka pembaharuan gereja dan masyarakat

KOMUNIKASI

Kehadiran
Tiga Tipe 'Problem Solver'
Reaksi
Masalah Triangulation dalam Komunikasi
Seni Mendengarkan

KOTBAH DAN PENGKOTBAH:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KHOTBAH%20DAN%20PENGKHOTBAH

Pengkotbah dan kotbah yang bagaimana
Kotbah Yang Hidup
Pengkotbah

KUNCI KEBAHAGIAAN:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/KUNCI%20KEBAHAGIAAN

Perasaan

Memecah Keraguan
Apa yang kamu cari?
Keputusan Tanpa Keputusasaan (1)
Keputusan Tanpa Keputusasaan (2)

MEDITASI KRISTEN
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/MEDITASI%20KRISTEN

Meditasi Kristen
Cuti 10 Menit

MOTIVASI JERNIH

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/MOTIVASI%20JERNIH

1. Bertanya
2. Kasih: jarak pendek dan jarak jauh
3. Motivasi

OBAT STRESS

http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/OBAT%20STRESS

Ketabahan Dalam Segala Keadaan
Khasiat Senyum dan Tawa
Cuti 10 Menit

PA (PEMAHAMAN ALKITAB)
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PA

Memberi 'karena' bukan 'supaya'
Menanti Dengan Hati Damai
Lidah Ibadah dan Lidah Limbah
Fokus Pada Pemberi, bukan Pemberian
Hilang di rumah sendiri
Teguh Menghadapi Musuh

PELAYAN GEREJA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PELAYAN%20GEREJA

Transformational Leadership
Menebas Akar Perselisihan dalam Jemaat
Finishing Well
Seminar Haggai Institute
Jabatan Gerejawi
Karakter Pelayan

PERILAKU MANUSIA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/PERILAKU%20MANUSIA

Affluenza
Angka
Memutus Mata Rantai Sakit hati Menahun
Lidah Ibadah dan Lidah Limbah
Tobat = Obat
Ketika Anda disalahmengerti
Rokok
Memberi Kesan
Menjadi Berkat Bukan Menjadi Hebat
Memilih: Sulit atau kita persulit?

SPIRITUALITAS:
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/SPIRITUALITAS

Memaknai Kehidupan
Evaluasi Kehidupan
Yang Pokok dan Yang Sampingan
Menyikapi Krisis Ekonomi
Hati-hati dengan hati
Memecah Keraguan
Yang Terutama
Burung
Khasiat Pengampunan
Prayer Therapy
Latihan Doa Kontemplatif
Mensyukuri Hari Pemberian Tuhan
Memaknai Perjumpaan Dengan Tuhan
Spiritual Check Up
Menguji Roh-Roh Zaman

TEOLOGI JEMAAT
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/TEOLOGI%20JEMAAT

Persembahan: Perpuluhan atau Perseratusan?
Mengapa Anda ke Gereja?:
Natal: Kembali ke Makna Awal
Menebas Akar Perselisihan dalam Jemaat
Allah dan Indonesia
Hepeng

TINAMBUNAN-MARGA
http://victor-tinambunan.blogspot.com/search/label/TINAMBUNAN-MARGA
































Tuesday, November 13, 2007

KASIH: Jarak Pendek & Jarak Jauh

“Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”
(Ibrani 10:24)


Berbicara tentang hubungan kehidupan bergereja dengan kehidupan sehari-hari, sedikitnya ada lima kelompok orang:

(1) Orang yang tidak perduli terhadap kehidupan bergereja (tidak hadir dalam ibadah Minggu dan PA, tidak mau membaca Alkitab dan berdoa) dan hidupnya sehari-hari pun penuh dengan kebiasaan buruk bahkan tidak bermoral.


(2) Orang yang rajin ke gereja, tidak pernah absen di perkumpulan PA, berdoa setiap kali mau makan, tetapi seolah-olah tidak ada pengaruhnya yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Karakter buruk tetap melekat, seperti suka marah bahkan berang, memendam dendam, melakukan korupsi, pergi kepada dukun dan lain-lain.


(3) Tidak rajin ke gereja dan tidak banyak tahu tentang isi Alkitab, tetapi dalam hidup sehari-hari ia hidup baik, jujur, ramah, bekerja dengan sungguh-sungguh, suka menolong sesama manusia.


(4) Sesekali pergi ke gereja dan hidup biasa-biasa saja, tidak terlalu jahat dan tidak baik sekali. Sungkan menghujat Allah tetapi kehidupannya tidak sepenuhnya berpadanan dengan kehendak Tuhan. Tidak mau mengganggu orang lain, tetapi juga tidak bersedia menolong sesama.


(5) Rajin dan terlibat aktif dalam seluruh kehidupan bergereja, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama-sama dan itu juga terpancar dalam hidupnya sehari-hari dalam berbagai perbuatan baik.

Kita boleh melihat di kelompok mana kita dan keluarga kita masing-masing berada. Yang ideal memang adalah nomor 5 ini.

Ibrani 10:24 berbicara tentang hubungan iman dan ibadah dengan kehidupan keseharian. Ayat ini mesti dilihat sebagai satu kesatuan mulai dari ayat 19 yang menegaskan bahwa Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam tempat kudusNya, menjadi anggota keluarga Allah.

Bertolak dari karya Kristus yang begitu besar dan menentukan, menyusul tiga ajakan ‘marilah’ kepada umat percaya, yakni:

(1) Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh. Oleh karena hati kita telah dibersihkan…. (ay 22)
(2) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia (ay 23)
(3) Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (ay 24).

Oleh karena itu, pusat perhatian kita yang pertama dan terutama adalah ‘pekerjaan Kristus di antara kita’. Ketiga ajakan seperti disebut di atas merupakan buah dari sambutan umat percaya kepada karya Kristus itu sendiri.

Dalam hal ini kita diajak kepada hal-hal yang konkret dan praktis tentang sikap dan gerak hidup sebagai orang percaya. Dengan kata lain, firman Tuhan ini mau menegaskan keterkaitan antara iman, ibadah dan kehidupan yang berbuah.

1. Rintangan Saling Memperhatikan

Saling memperhatikan dalam kasih merupakan sesuatu yang terbilang langka pada zaman ini. Kalaupun ada, ia lebih merupakan ‘pertukaran kepentingan’. Saya menjaga kepentingan Anda, sejauh Anda menjaga kepentingan saya. Saya akan datang ke pesta Anda, kalau Anda datang menghadiri pesta saya. Saya akan datang mengikuti PA di rumah Anda, kalau Anda hadir ketika PA diadakan di rumah saya. Di sini, persahabatan dibelokkan sebagai alat pemenuhan pementingan diri. Bahkan, agama pun bisa saja diperlakukan sebagai alat pemenuhan kepentingan.

Di samping membawa berbagai hal yang baik, salah satu sisi kelam dari era globalisasi ini ialah kecenderungan manusia yang kian dicengkeram individualisme (karena itu menjadi kurang dalam saling memperhatikan) dan materialisme (sehingga yang dipuja adalah Mamon hingga mengorbankan orang lain).

Kehidupan yang serba individualisme dan materialisme sangat mudah membuat orang merasa kuatir dan cemas, yang dapat menekan kehidupan. Bahkan, yang lebih buruk, akan mengakibatkan berbagai penderitaan fisik. Sebab, pikiran dan suasana hati menyalurkan kecemasannya kepada tubuh. Banyak ahli yang berkesimpulan bahwa gangguan fisik seperti pusing kepala, gangguan saluran pernafasan, sakit perut, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan sebagainya diakibatkan oleh tekanan terhadap rasa dan emosi.

Masih dalam hubungan itu, ambisi, menyimpan amarah, dengki, rasa benci, takut, kecewa menimbulkan stress (ketegangan) pada tubuh. Stress seperti itu dapat menyebabkan pernafasan dan detak jantung kita menjadi tidak normal. Kalau pasokan oksigen berkurang dalam tubuh, maka aliran darah juga akan terganggu. Dengan demikian, stress dapat menciptakan ketidakseimbangan kimia yang mengakibatkan kesalahan fungsi kelenjar dan organ-organ lain. Tubuh menjadi tidak mampu memberi perlawanan terhadap kuman-kuman yang biasanya dapat dikendalikan. Selanjutnya akan menimbulkan berbagai gangguan fisik.

Gangguan-gangguan semacam itu semakin membuat perhatian seseorang tertuju dan terpusat pada diri sendiri, cenderung lebih memikirkan keadaan diri sendiri dan amat kurang memberi perhatian terhadap sesama. Untuk itu perlu kita cermati berbagai gangguan kepribadian yang menghambat terciptanya kehidupan yang saling memperhatikan.

- Orang yang terlalu memikirkan diri sendiri kurang memiliki kesempatan memikirkan orang lain.

- Orang yang terlalu memperhatikan diri sendiri tidak mempunyai kesempatan memperhatikan orang lain
- Orang yang mengutamakan kenikmatan diri, akan cenderung merampas hak dan kebahagiaan orang lain.

2. Kasih Yang Melintas Batas

Bagi kita, ‘hukum yang terutama’ yang diamanatkan oleh Yesus, bukanlah sesuatu yang asing. Pengajaran dan kehidupan Yesus berpusat pada kasih. Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Tidak disebut ‘kasihilah sesamamu segereja atau sesamamu sekeluarga’. Untuk lebih memperjelas ini kita dapat menghubungkannya dengan perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Pada waktu itu, bagi orang Israel, orang Samaria adalah kafir dan dianggap sebagai musuh. Tetapi, dalam perumpamaan itu, justru orang seperti itulah yang mendapat pujian dari Yesus karena dialah yang melakukan kasih. Imam dan orang Lewi yang lewat itu adalah orang-orang yang mengetahui tentang kasih tetapi tidak mempraktekkan kasih.

Rasul Paulus pun dengan sangat jelas memaparkan ‘apa itu kasih’ (1 Kor 13) dan ‘bagaimana mengasihi’ (Rm 12). Kasih merupakan yang inti dalam kehidupan kristiani. Bahkan, pengorbanan sekalipun jika tanpa kasih, ia tidak punya makna apa-apa.

Dewasa ini, kasih cenderung diamputasi dan menjadi sekadar ‘kasih jarak pendek’ (bahkan ‘jarak pendek’ ini pun sudah semakin lebih pendek lagi). Sejarah perjalanan dunia ini sudah membuktikan hal itu. Banyak orang yang mengasihi dan peduli pada anak-anaknya tetapi sangat kejam terhadap anak-anak orang lain. Hal itu juga terjadi misalnya dalam lingkungan industri atau di lingkungan perburuhan dimana para buruh dibebani dengan begitu banyak tanggung jawab tetapi hanya sedikit hak.

Selanjutnya, kita terpanggil untuk dengan tulus menghormati perbedaan, khususnya dalam kehidupan kita di Indonesia yang sangat beragam latar belakang etnis, budaya, partai politik, dan agama. Kita sudah mengalami sejarah hitam pekat, dimana ribuan orang terlah korban nyawa atas nama agama seperti kasus Ambon dan di berbagai tempat lain. Kasih seharusnya menjangkau semua dan setiap orang. Apalah artinya agama kalau bukan untuk kehidupan yang damai dan bermakna? Alkitab bersaksi, bukan manusia untuk Sabat, melainkan Sabat untuk manusia. Sejalan dengan itu, bukan manusia untuk agama melainkan agama untuk manusia.

3. ‘Baik’ Tetapi Belum Cukup

Iman merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan baik. “Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (Yak. 2:20; bnd. Ay. 18). Itu sebabnya seluruh kehidupan adalah merupakan ibadah kepada Tuhan, Jadi, ‘pekerjaan baik’ yang dimaksudkan adalah berdasar dan mengakar pada pekerjaan Tuhan sendiri.

Bagi orang Kristen, menghindari perbuatan tercela dan jahat adalah baik, namun belum cukup. Gandhi, misalnya, mengajarkan ahimsa yaitu menolak keinginan untuk membunuh, tidak membahayakan orang, tidak menyakiti hati sesama, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan memperalat dan mengorbankan orang lain. (Semuanya ini, menurut Gandhi, berakar pada egoisme manusia).

Sambil menghindari perbuatan buruk, orang percaya juga sekaligus terpanggil untuk aktif berbuat kebaikan demi terwujudnya damai sejahtera, antara lain:

· Tidak membunuh sekaligus mencintai dan membangun kehidupan bersama
· Tidak membenci sekaligus mengasihi dan membawa damai bagi semua dan setiap orang
· Tidak membahayakan orang, sekaligus memberikan pertolongan yang terbaik bagi sesama, terutama mereka yang terabaikan, tertindas dan tersingkir.
· Tidak menyakiti hati orang lain sekaligus berusaha membuat orang bersukacita
· Tidak membuat orang marah sekaligus menghormati dan membuat orang tersenyum bahagia
· Tidak mencari keuntungan diri sendiri sekaligus memberi kesempatan kepada orang untuk mendapat keuntungan yang baik.

Berkaitan dengan itu, berikut ini dapat disebut beberapa hal yang lebih konkret:

(1) Pekerjaan atau profesi seseorang mestinya bukanlah hanya sekadar ‘mata pencaharian’ tetapi merupakan bagian dari pelayanan dan kesaksian. Sekadar catatan, dewasa ini berkembang sebuah pameo yang mengatakan bahwa untuk mendapat penghasilan yang haram saja sudah sangat sulit, apalagi mencari yang halal. Umat beriman terpanggil menjadi garam dan terang, tidak larut dalam kecenderungan dunia.
(2) Perkumpulan atau kelompok dalam jemaat, seperti kumpulan PA sektor atau lingkungan misalnya, dapat berperan sebagai kelompok aksi nyata bersama di samping mengadakan PA. Kelompok ini dapat mengemban tugas panggilan gereja sebagai jemaat misioner melalui program-program tertentu seperti pendampingan anak, pemberdayaan ekonomi, advokasi, proyek pelestarian lingkungan dan sebagainya. Untuk itu program-program dalam aras jemaat perlu dirumuskan dan dilaksanakan dengan baik.
(3) Gereja, sebagai pribadi, kelompok dan lembaga terpanggil untuk memberi perhatian yang sungguh-sungguh terhadap masalah-masalah yang cenderung menghancurkan kehidupan. Gereja terpanggil mengatasi segala bentuk kekerasan terhadap manusia dan ciptaan Tuhan. Sebab, dunia dan segala yang diam di dalamnya adalah milik Tuhan (Mzm 24:1).

Penutup

Anthoni de Mello dengan amat tepat mengatakan bahwa ‘hidup itu sebenarnya sederhana dan mudah, serta penuh dengan kegembiraan. Hidup terasa sulit jika hanya dikuasai oleh ilusi, ambisi dan keserakahan. Karenanya, hidup menjadi kaya makna dan menjadi berkat ketika dijalani bersama dengan Tuhan, Sang Pengasih yang sempurna itu.

Tuesday, October 30, 2007

MENGHADAPI KEKUASAAN YANG LALIM


Belajar dari Sikap Sadrakh, Mesakh dan Abednego[1]
(Bacaan: Daniel 3:13-23)

NEBUKADNEZAR DAN PARA PENGUASA ZAMAN INI

Kekuasaan seringkali diidentikkan dengan “hak istimewa” dan bahkan dimerosotkan ke dalam kesewenang-wenangan. Hal ini amat jelas dalam sikap Raja Nebukadnezar, yang dalam berbagai segi mencerminkan perilaku penguasa bangsa-bangsa hingga pada awal abad ke-21 ini.

Berikut ini adalah sikap Nebukadnezar yang menempatkan kuasanya di atas segala-galanya dan bagaimana hal itu mewarnai perilaku penguasa hingga awal milenium ke-3 ini :

(1) Memerintah dengan Marah dan Geram

Sosok raja yang tampil di sini adalah seorang raja yang ditakuti, bukan yang disegani. Raja tampil sebagai monster haus darah yang menyeramkan, bukan raja yang penuh hikmat dan wibawa yang mengayomi dan yang pantas dihormati. Padahal dunia ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang disegani, bukan yang ditakuti. Disegani, karena wibawa, ketulusan, bersih dari segala kecurangan, dan yang sungguh-sungguh mengusahakan keadilan dan damai sejahtera bagi setiap dan semua orang.

Yang amat menyedihkan ialah bahwa kemarahan dan kegeraman para penguasa tidak selalu tampak melalui raut wajah yang menyeramkan. Justru seringkali kemarahan dan kegeraman dibungkus rapi dengan senyuman yang sangat menawan, tetapi dengan berbagai cara melumpuhkan yang mengkritiknya dan melenyapkan orang-orang yang tidak disukainya.

(2) Menghakimi Menurut Kemauan Sendiri

Di sini Nebukadnezar bertindak sebagai jaksa dan hakim sekaligus. Keputusan mutlak ada di tangan raja, tanpa membutuhkan alasan, pembelaan atau nasihat orang lain. Raja menjadi pusat segala sesuatu keputusan.

Dalam dunia modern ini memang pengadilan berlangsung melalui lembaga peradilan. Tetapi lembaga tersebut seringkali bekerja berdasarkan skenario yang sudah digariskan oleh sang “sutradara” yang berada di balik pengadilan itu. Dalam pengadilan seperti itu biasanyan keputusan sudah tersedia sebelum proses pengadilan berlangsung. Keputusan yang menguntungkan mereka yang berkuasa dan mengorbankan orang-orang lemah!

Dunia ini akan jauh lebih indah dan layak huni kalaua manusia berhasil memenangkan perang terhadap egoisme (pementingan diri sendiri) dan menghormati kemanusiaan sesama manusia sebagai yang berharkat dan berharga di hadapan Allah.

(3) Menghabisi Nyawa Manusia yang Menolak Perintah Raja

Di hadapan raja hanya ada dua kelompok manusia: kawan atau lawan. Kawan adalah mereka yang taat, yang harus tunduk dan menuruti semua titah raja. Untuk kelompok ini biasanya raja memberi hadiah (Contohnya, lihat Daniel 2 : 48). Sama seperti banyak penguasa pada zaman ini, yang tidak segan mengobral “berbagai piagam penghargaan” atau medali kepada mereka yang tunduk, membeo, dan menjilat. Tetapi tidak sungkan melenyapkan dan menghabisi nyawa mereka yang berbeda pendapat dengan penguasa. Pelenyapan tersebut bahkan seringkali dilakukan terorganisasi secara rapi tanpa bekas. Yang dianggap membangkang dilenyapkan baik secara sadis dan tragis – terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.
KETIDAKTAATAN YANG BERTANGGUNGJAWAB

Hukuman kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sudah jelas: akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Hukuman yang bukan main dan bukan main-main! Tetapi mari kita simak apa yang mereka katakan: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay 17 – 18).


Raja membuat keputusan atas dasar kuasanya sendiri, sedangkan ketiga orang ini membuat keputusan atas kepasrahan dan ketaatan kepada Allah. Hanya dengan demikian mereka tidak terjerumus ke dalam tindakan bodoh dan ceroboh dengan menuruti perintah raja yang sombong dan kejam itu.

Ketaatan kepada Allah dan menolak raja yang lalim memang mengandung dan mengundang risiko yang tidak ringan. Nyawa dipertaruhkan di sini! Tetapi lebih baik mati “terhormat” dalam kesetian kepada Tuhan daripada hidup menuruti kemauan raja yang sesat.

Kalau para murid Yesus mengatakan “kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah 5 : 29), hal itu sudah dilakukan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego jauh sebelumnya.

Baik ketiga orang ini dan para murid Yesus menunjukkan sikap “ketidaktaatan yang bertanggungjawab.” Tidak taat kepada kekuasaan yang lalim karena ketaatan dan tanggung jawab kepada Allah. Ketidaktaatan yang bertanggung jawab mesti kita lakukan ketika penguasa atau siapa pun juga di dunia ini memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Tetapi perlu kita ingat dan teladani bahwa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak mencari-cari “hukuman” tetapi ketika menghadapinya harus siap dengan iman dan kesetiaan kepada Allah. Jangan mentang-mentang kita percaya kepada Allah yang Mahakuasa, lantas kita dengan pongah mencari lawan dengan keyakinan bahwa Allah akan melakukan mujizat asal kita percaya. Ini bukan kesetiaan kepada Allah melainkan kesesatan dan tindakan “mencobai” Tuhan. Pencobaan seperti inilah yang dihadapi dan dikalahkan oleh Yesus ketika Ia dicobai di padang gurun.

Alkitab menyaksikan bahwa “salib” harus kita pikul dalam mengikut Yesus. Salib sebagai simbol penderitaan karena kebenaran dan yang mengantar kita kepada kemenangan.




[1] Pernah dimuat dalam Majalah Berita Oikumene, PGI, Jakarta

Sunday, October 21, 2007

CORAM DEO




(Di hadapan Allah)[1]

Bangsa Indonesia seolah tak henti-hentinya digempur berbagai gelombang kehidupan. Dampak langsung beberapa kali kenaikan harga kebutuhan pokok pasti akan disusul oleh aneka permasalahan sosial. Harga sembako kian melangit, dan orang-orang miskin makin terjepit dan menjerit.

Memang pantas disyukuri karena masih ada orang kaya yang memiliki kepedulian terhadap sesama yang menderita dan berkekurangan. Tetapi tidak sedikit di antara mereka yang berpunya yang makin pelit dan suka berkelit. Makin pelit, karena mungkin kuatir akan krisis susulan yang mungkin manjamah atau bahkan menjarah rekening bank mereka. Karena itu, atas nama “penghematan” kepedulian terhadap sesama jadinya terabaikan. Sebagian orang berkelit, dengan anggapan (keliru) bahwa semua bentuk kemiskinan adalah karena kemalasan. “Orang miskin tidak perlu diberi hati, sebab mereka miskin karena kemalasan mereka!”, demikian mereka berdalih. Padahal, kemiskinan lebih sering disebabkan oleh faktor ketidakadilan dan ketiadaan kesempatan.


Pertanyaan pun menyambar benak, “di manakah Allah?” Anda mempunyai pertanyaan yang sama? Anda tentu tidak sendirian. Tetapi baiklah kita terlebih dulu melihat dengan jernih konteks di mana kita sedang hidup. Kemudian, dengan nurani yang jernih pula serta dengan rahmat pengasihan Allah, kita boleh mengimani dan merasakan kehadiran-Nya.

Amat jelas bahwa di satu pihak kita hidup di tengah aneka kemajuan, tetapi di pihak lain kita juga hidup di tengah berbagai kemunduran. Kita menyaksikan begitu pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang membawa berbagai kemudahan. Hasil teknologi telah memperpendek jarak tempuh satu wilayah ke wilayah lain melalui transportasi dan teknologi komunikasi ultra canggih. Sampai di sini, ia membawa berkat.

Tetapi perlu dicatat dan direnungkan bahwa ia juga membawa berbagai kesulitan. Hasil penemuan-penemuan baru di bidang iptek tidak mampu menghidupkan dan memanusiakan orang-orang yang sudah terlanjur gugur tergilas oleh dampak buruk iptek itu sendiri. Teknologi tidak mampu menyembuhkan luka-luka batin banyak orang yang terluka parah oleh “efek samping” dan “efek dalam” (inheren) iptek tersebut. Iptek juga tidak mampu menyembuhkan penderitaan alam yang tersiksa oleh polusi dan tindakan destruktif manusia.

Sikap destruktif (merusak) terhadap sesama manusia dan alam semesta sebenarnya mempunyai akar yang amat kuat pada egoisme manusia. Lihatlah sekeliling kita: persaingan telah merasuk dan merobek persekutuan umat manusia. Kehidupan kita kesehariannya dipenuhi oleh begitu banyak kisah tanpa kasih persaudaraan.

Kita hidup di tengah hiruk-pikuk pengilahan harta dan tahta. Memang, kenyataannya harta dapat menjadi tiket merebut tahta dan mereka yang bertahta amat mudahnya dapat meraup harta yang bukan miliknya. Ungkapan yang mengatakan bahwa “mendapat harta di dunia ini ibarat minum air laut; semakin diminum akan semakin harus”, mendapat lahan yang amat suburnya di planet bumi ini. Yang menyedihkan ialah, bahwa rasa tidak puas seringkali diikuti oleh sikap buas. Buas terhadap sesama dan buas terhadap mahluk dan alam ciptaan Tuhan. Sejarah telah bersaksi kepada kepada kita bahwa bangsa-bangsa seringkali memangsa sesamanya. Para pengurus negara acap berubah menjadi penguras harta negara.

Daftar keprihatinan yang melanda dunia dewasa ini masih sangat panjang. Masalahnya adalah, begitu banyaknya orang yang bertindak sebagai ‘tuhan’ kecil terhadap sesamanya dan terhadap bumi milik Allah ini. Yang terjadi adalah kebebasan tanpa tanggung jawab. Konsekuensinya: merajalelanya pola hidup liar bernafaskan hukum rimba the survival of the fittest (siapa kuat, ia menang).

Di manakah Allah? Mengajukan pertanyaan seperti ini tidak salah. Ia adalah pertanyaan yang sah, apalagi kalau ia lahir dari kerinduan akan Allah, yakni: kerinduan untuk melihat pintu rahmat Tuhan di tengah segala macam pergumulan hidup ini. Kita belajar dari Alkitab bahwa para tokoh Alkitab juga tidak jarang mengajukan pertanyaan senada. Elia, misalnya, pernah merasa sendirian di tengah tantangan yang membentang di hadapannya. Ia tidak melihat rahmat Allah yang jauh melampaui nalarnya. Elia berkata kepada Tuhan, “hanya aku seorang dirilah yang masih hidup…” Tetapi Allah berkata, “Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia’ (selengkapnya, baca 1Raj 19;9-18). Satu perbandingan angka yang sangat signifikan bukan? Allah berkarya di luar perhitungan dan pengetahuan kita!

Reaksi kita menangapi persoalan-persoalan dunia ini bisa beraneka ragam. Mungkin ada yang menempuh jalur mencari kambing hitam. Mereka begitu tajam melihat sumber persoalan pada orang lain. Ada juga yang lebih senang dengan merasionalisasi dengan prinsip bahwa semuanya itu “wajar-wajar saja”, karena kita masih manusia (bukan malaikat) dan kita masih di dunia. Atau, ada orang yang meledakkan amarah dalam tindakan destruktif. Sikap-sikap demikian lebih merupakan pintu gerbang menuju persoalan dan penderitaan yang lebih parah ketimbang jalan keluar dari persoalan.

Coram Deo, artinya “di hadapan Allah.” Allah mengambil inisiatif menghidupkan kesadaran kita, menyentuh bagian hidup kita yang terdalam (inner life). Ia menyegarkan kesadaran kita akan kehadiran-Nya melalui pelayanan, penderitaan dan kemenangan Kristus. Proses penyelematan dan pemeliharaan Tuhan itu masih sedang dan akan berlangsung. Hal ini dapat terjadi melalui pelayanan orang-orang yang mengikut Kristus, atau mereka yang tidak percaya pun. Hanya dengan pengakuan dan kesadaran seperti inilah yang memungkinkan kita beranjak dari rasa frustrasi kepada kehidupan yang berpengharapan.


Coram Deo! Kita berhadapan dengan Allah yang pengasih dan pengampun. Bukankah menjadi murid Kristus berarti menjadi pengasih dan pengampun? Ketika amarah menghajar dan melumpuhkan kesabaran, semangat kasih dan pengampunan akan mampu meredam dendam dan sekaligus menyuburkan rasa persaudaraan. Ketika sikap pesimis dan sinis memborgol kemauan kita, karya dan keteladanan Kristus menyemangati perjuangan kita.

Apakah Anda merasa amat ‘kecil’ menghadapi mega permasalahan dunia ini? Perasaan demikian memang ada baiknya sejauh berperan sebagai rem untuk mencegah diri dari kepongahan atau kesombongan, bahwa segala sesuatu ada di bawah kendali kita. Tetapi perasaan seperti itu akan melumpuhkan inisiatif dan aksi kasih kalau ia mendapat dorongan dari rasa frustrasi berbaur pesimisme. Satu hal yang pasti adalah ini: Allah jauh lebih besar dari segala permasalahan dunia ini. Allah selalu dapat menjangkau kita di manapun kita berada. Perkataan, “carilah dan kamu akan menemukan” (Yer 31:3) harus kita pahami bahwa kita sudah terlebih dahulu ditemukan oleh Allah. Persoalannya ialah, apakah kita bersedia untuk selalu berada di mana Allah menghendaki kita seharusnya berada?

Juga, kiranya tidak terluput dari kesadaran kita bahwa Tuhan memberikan yang terbaik tepat waktu. Simaklah misalnya yang dikemukakan Yesus dalam Mat 7:9-11, “Adakah seorang daripadamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Karena itu, sungguh tidak tepat kalau para pemimpin negara-negara di dunia ini memberi pidato ketika masyarakat dunia meminta sembako. Sebab, pidato tidak penah mengenyangkan perut yang lapar. Dunia haus akan keadilan, perdamaian dan kesejahteraan yang dapat dinikmati jika para penguasa bertindak adil.

Coram Deo mengimplikasikan tanggung jawab umat beriman untuk menanggapi panggilan Allah menjadi teman sekerjaNya. Singkatnya begini, di dalam doa kita bertemu dengan Kristus yang menanggung penderitaan dunia ini dan di dalam kehidupan dan pelayanan kita bertemu dengan orang-orang yang di tengah-tengah mereka Kristus hadir. Tuhan memimpin perjalanan hidup kita dan perjalanan dunia ini pada milenium ini.

[1] Pernah dimuat dalam Majalah Immanuel, HKBP.

Friday, October 19, 2007

APA YANG KAMU CARI?

Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup.
(Amos 5:6).

Tanyakan diri Anda: “Berapa banyak waktu yang saya gunakan mengagumi ciptaan Allah; dan berapa banyak waktu yang saya habiskan mengagumi harta milik saya?”
(J. Matthew Sleeth[1])
*********************************

Ini bukan pertanyaan saya kepada Anda, melainkan pertanyaan Yesus kepada saya dan Anda saat ini. "Apakah yang kamu cari?" (Yoh 1:38). Kita mesti dengan jernih mengenali apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini. Sebab, apa yang kita cari amat mempengaruhi seluruh gerak hidup kita.

Jika yang kita cari dan perjuangkan adalah apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, pasti kita akan menjalani hidup ini dengan hati damai, penuh ceria dan bebas dari ketegangan yang tidak perlu. Tetapi jika kita berusaha mengejar cita-cita yang kita ciptakan sendiri atau yang orang lain ‘paksakan’ kepada kita, maka ‘sukses’ (kalau itu ada) akan dibarengi rasa tidak damai dan tanpa kegembiraan bagi diri kita dan orang lain. Keadaan ini terjadi karena untuk mencapai target yang kita kejar kita mungkin saja terjatuh menghalalkan segala cara, melawan kebenaran, berlomba tidak sehat, bekerja ekstra keras, memaksa diri lembur malam. Hidup kita pun menjadi tegang, gampang tersulut amarah, bermusuhan, curiga, tidak peduli pada orang dan sebagainya.[2]

Fakta menunjukkan bahwa “kesuksesan” sering membelenggu banyak orang saat ini. Kita ambil Amerika sebagai contoh, karena tidak sedikit orang di dunia ini yang ingin mencapai kemakmuran ekonomi setingkat orang-orang Amerika.

84% pebisnis di AS bekerja lebih dari 45 jam/ minggu. 81% mengalami stress, 48% stress setiap hari. 89% membawa pekerjaan ke rumah mereka. 65% tetap bekerja lebih dari satu weekend setiap bulan. 42% tidak memberi waktu membaca kepada anak-anak. 53% meluangkan waktu kurang dari 2 jam seminggu bersama anaknya. Pasangan mereka bertanya, “mengapa tidak ada waktu bersama untuk kita?” Mereka menjawab, “Masalahnya bukan engkau sayang, masalahnya adalah saya yang sendiri sudah tidak tahu bagaimana tidak bekerja.”

Berbagai persoalan kehidupan lainnya sedang menimpa banyak rakyat Amerika. Misalnya, diperkirakan ada 19 juta pil tidur yang diminum orang setiap malamnya di sana.[3] Begitu banyak orang yang menderita insomnia. Harga tempat tidur mereka ribuan dollar, tetapi tidak ‘sanggup’ memberi tidur nyenyak, karena berbagai pikiran berarak dan saling tabrak dalam benak. Di samping itu, sekitar 50% keluarga Amerika bercerai.[4] Orang tidak sedikitpun merasa malu mengatakan bahwa status mereka bercerai.

Saya tidak mengatakan bahwa Amerika sudah berubah menjadi ‘neraka’ kecil. Banyak orang di sana yang masih setia kepada Tuhan, berpikiran jernih, mempertahankan moral kristiani, peduli pada sesama yang menderita dan lain-lain. (Harapan kita bahw saudara-saudara kita warga HKBP di AS masuk dalam kelompok yang jernih ini). Tetapi kita tidak bisa mengabaikan kenyataan yang membelenggu sebagian saudara-saudara kita di sana. Dapat ditambahkan di sini bahwa antara 1958 dan 2005 orang-orang Amerika membelanjakan uangnya 27% untuk perawatan kesehatan[5] --yang merupakan jenis pengeluaran tertinggi sesudah rumah dan transportasi. Orang Amerika sendiri mengakui persoalan yang mereka hadapi seperti terungkap dalam pernyataan berikut:

“Jika kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam kepemilikan barang-barang dan dalam kemampuan memanjakan diri dengan memiliki apa saja yang kita inginkan, mengapa kebanyakan dari kita di Amerika kehilangan kegembiraan dan kebahagiaan yang amat parah? Orang-orang yang sudah memiliki banyak terus berusaha untuk mendapat lebih banyak lagi. Angka perceraian, bunuh diri, depresi, kekerasan terhadap anak amat tinggi dan berbagai persoalan pribadi dan sosial yang begitu banyak jumlahnya. Semuanya ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam kepemilikan semua yang kita inginkan dan dalam kemampuan kita untuk mendapatkan lebih banyak lagi”.[6]

Mencermati kenyataan seperti itu, jika kita berkeinginan dan berjuang untuk mencapai kemakmuran setingkat orang-orang Amerika, kita perlu memikirkan ulang niat kita. Kita akan capek mencapainya dan kita bisa sengsara karena terpenjara oleh pencapaian kita sendiri dan sekaligus menyengsarakan saudara-saudara dan keluarga kita.

Ada satu ironi yang menggejala dan mengganjal pada zaman ini. Penemuan-penemuan yang memudahkan pekerjaan manusia memang sudah banyak tersedia, akan tetapi aneka kesulitan tetap melilit hidup umat manusia. Bagi sebagian orang timba sumur sudah diganti pompa air listrik dan mesin cuci listrik. Pekerjaan gigi mengunyah makanan dibantu oleh blender dan juicer. Kendaraan tanpa roda dua (jalan kaki) diganti sepeda motor dan mobil. Mesin ketik diganti komputer. Kurir berita diganti layanan surat express, telepon seluler dan internet. Mesin-mesin makin banyak, tetapi manusia jadi ikut-ikutan seperti mesin. Mana lebih sibuk dan lebih capek orang dulu dan orang sekarang? Siapakah yang lebih ceria?

Sedikitnya dua hal penting yang kiranya perlu mendapat perhatian kita secara serius dalam menapaki perjalanan hidup kita dalam era hyper-konsumerisme ini, yakni menyangkut ‘nilai kebersamaan’ dan ‘nilai waktu’.

1. Kebersamaan versus Mainan dan ‘Voucher’

Banyak orang yang sudah menggantikan hubungan dengan sesama manusia dengan mobil, komputer, VCD dan rekening bank.[7] Untuk anak-anak misalnya, para orangtua memberi banyak mainan sebagai ganti ‘kasih’ dan ‘kebersamaan’. Anak-anak lebih akrab dengan mainannya ketimbang orangtuanya. Apalagi, mainannya kebanyakan yang berbau kekerasan seperti pesawat tempur, pistol, senjata laras panjang, spiderman, pasukan baja hitam dan sebagainya, yang semuanya ini bisa saja mempengaruhi kepribadiannya sejak kecil. Ketika ayahnya pulang kerja, ia disambut anaknya dengan dor…dor… sambil menodongkan ‘pistolnnya’. Suami memberikan ‘voucher’ belanja ke mall kepada istrinya sebagai kompensasi kebersamaan dan kemesraan.

Keadaan seperti ini mendorong banyak orang menganut apa yang disebut oleh Storkey sebagai Orientasi Konsumsi Kini (OKK) dan Orientasi Konsumsi Nanti (OKN).[8]

Orientasi Konsumsi Kini (OKK):
Ini dapat disebut hedonisme, yang mencari kenikmatan maksimum untuk saat ini. Model ini menarik masa depan ke masa kini. Apa yang menyenangkan saya sekarang lebih penting dari apa yang akan terjadi nanti. “Masa depan” dipinjamkan kepada “masa kini”. Konsekuensinya, ‘hutang’ menjadi pilihan utama. Hutang memberi saya ‘sekarang’ apa yang saya bayar ‘nanti’. Karena kenikmatan adalah yang utama, maka perencanaan, tujuan, pengembangan dan konsekuensi menjadi tidak penting. Makan, minum, dan beli apa yang engkau inginkan dan tidak ada perhatian pada akibatnya.

Orientasi Konsumsi Nanti (OKN):
Dalam pandangan ini, bekerja berarti untuk konsumsi masa depan. Orang menjadi gila kerja dan memaksa produksi yang dibayangkan dapat dinikmati pada masa depan. “Masa kini” dipinjamkan kepada “masa depan” Kita didorong ke depan, kepada hadiah konsumsi masa depan: rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik yang berarti gaji yang lebih tinggi, mobil yang lebih mulus, liburan yang lebih banyak, cruise, gaji pensiun yang baik, dan acara pemakaman yang lebih ‘terhormat’. Tekanan terhadap masa depan begitu kuat, sehingga tidak ada ruang yang tersedia untuk saat ini. Berkaiatan dengan ini kita bisa bandingkan dengan ungkapan Indonesia “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Masalahnya, jika terlalu ekstrim maka yang terjadi adalah “bersakit-sakit dahulu, tewas kemudian”.

Konsumerisme (mengkonsumsi dan memiliki lebih dari yang dibutuhkan) begitu kuat merasuki kehidupan umat manusia pada zaman ini. Storkey mengatakan bahwa 20% - 50% apa yang diproduksi sekarang ini hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak ada nilainya bagi hidup manusia. Hidup kita lebih baik tanpa rokok, alkohol, fast food, senjata, narkotik, mobil berkemampuan cepat tetapi lambat di jalan, iklan, kosmetik, security systems, lotere dan masih banyak produk lain yang dijual. Semuanya itu membawa dampak buruk, ketidakpedulian atau sekadar sampah yang membuat manusia menjadi miskin,[9] tidak saja secara finansial tetapi juga secara emosional dan moral.

Ternyata, kekosongan jiwa manusia tidak bisa diisi dengan segudang mainan atau voucher belanja. Itu sebabnya rasa frustrasi sering menghinggapi banyak orang meskipun mereka tidak kekurangan secara materi. Dengar apa kata O.J. Simpson tentang masalah kehidupannya dan masyarakatnya: “saya duduk di rumah saya dan kadang-kadang amat kesepian. Saya memiliki istri yang menakjubkan, anak-anak yang baik, uang dan kesehatan –dan saya kesepian dan bosan….Saya sering bertanya mengapa begitu banyak orang kaya yang bunuh diri. Uang tidak menyelesaikan segalanya”.[10]

Perlu ditegaskan di sini bahwa tidak ada yang salah jika kita makmur secara materi asal kita senantiasa hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kehendak Tuhan menjadi kehendak kita. Hendaknyalah kemakmuran makin membawa kebersamaan dan keakraban –kepada orang lain dan terhadap diri sendiri. Ada begitu banyak orang yang tidak ramah dan ‘bersahabat’ dengan dirinya sendiri karena memaksa diri untuk mencapai keinginan. Apakah artinya harta kalau itu memisahkan kita dari keluarga, sahabat, sesama manusia dan diri kita sendiri? Kerja tanpa kasih hanyalah buang-buang tenaga.

2. Time is….(Waktu adalah…)

Awalnya, jam diciptakan di biara Benedictine pada abad ke-12 dan ke-13 untuk membantu para rahib memelihara jam-jam doa secara teratur. Dengan kata lain, jam diciptakan sebagai alat atau sarana untuk memperdalam kesalehan dan berguna dalam pelaksanaan ibadah. Tetapi, sayangnya, saat ini jam tidak banyak digunakan berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan atau memperkokoh iman kita, tetapi untuk menolong kita lebih efisien dalam pekerjaan kita. Dalam berbagai hal, jam membuat manusia hidup dengan anggapan seolah-olah tidak ada Allah. Waktu sering diasosiasikan dengan pemenuhan keinginan ketimbang respon kepada Allah, sesama dan tanggung jawab kita sebagai orang Kristen.[11]

Justru karena kegagalan kitalah memahami dan menerima ‘waktu’ sebagai anugerah yang membuat orang sering menghidupkan handphone dan pagernya selama beribadah atau terus saja berbicara di teleponnya pada saat menikmati waktu bersama dengan keluarganya seperti ketika jalan-jalan ke taman atau rekreasi. Orang-orang seperti ini gagal menangkap misteri dan nilai berharga dari ‘waktu’ dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Dalam hal ini Padovano mengatakan, “Kita merasa sukar saling berbagi waktu dan kehadiran apabila hidup kita produktif dan berhasil. Betapa ironisnya!”[12]

Kita mesti memahami bagaimana kita mengalami waktu, bukan sebagai “konsumer” tetapi sebagai orang yang mengasihi Allah dan sesama. Dunia berkata time is money tetapi kita percaya: time is grace (waktu adalah anugerah) dan time is love (waktu adalah kasih) –keduanya tidak bisa diuangkan dan tidak dapat dibeli dengan uang.

Apa yang Anda cari? Firman Tuhan berkata:
“Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Amos 5:6).
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Seruan ‘carilah’ di sini berarti ‘kembalilah’. Sebab, Allah dan Kerajaan-Nya sudah ada. Ia ada di tengah-tengah kita. Itu berarti bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu kita cari. Kita hanya perlu menjalaninya. Dalam perjalanan itulah kita menemukan segala keindahan. Kita mencari Tuhan, karena Dia lebih dulu menemukan kita. Kita membutuhkan keheningan untuk bertanya dan menemukan rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Dalam hal ini kita mungkin saja perlu mengubah cara pandang dan sikap kita terhadap pekerjaan kita bahwa pekerjaan bukan hanya sekadar ‘mata pencaharian atau cari nafkah’ tetapi juga sebagai tugas panggilan dan pelayanan kita di dunia ini. Atau, yang jauh lebih berat, mungkin saja kita perlu mengubah pekerjaan itu sendiri jika itu bukan pekerjaan yang baik dan tepat bagi kita. Untuk kasus seperti ini barangkali kita membutuhkan peritimbangan dalam suasana doa yang sungguh-sungguh. Mengubah pekerjaan dengan penghasilan yang berkurang tetapi dengan kualitas hidup yang lebih baik disertai kebahagiaan adalah lebih ‘sukses’ ketimbang mendapat upah yang lebih melimpah tetapi memenjarakan hidup.

Kini, mohon luangkan waktu sejenak untuk mengikuti nasihat Padovano berikut ini:

Dengan merasakan kehadiran Allah, mohonlah penerangan dan rahmat agar dapat bertekad bulat untuk mengikuti panggilan yang diberikan oleh Allah kepada Anda untuk menjadi diri Anda sendiri. Kita perlu merenungkan bagaimana kita dapat mengalahkan atau mengatasi kelemahan dan kekurangan kita, tetapi terlebih dahulu marilah kita bersyukur kepada Allah atas apa atau siapa diri kita sebagaimana adanya.[13]




[1] J. Matthew Sleeth, Serve God, Save the Planet: A Christian Call to Action (Grand Rapids: Zondervan, 2007), 42
[2] Alkitab memberi pelajaran kepada kita dalam hal ini. Kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa, sudah membuktikan hal itu. Orang-orang membangun menara Babel untuk ‘mencari nama’ (Kej. 11:4). Perumpamaan tentang anak yang meminta warisan dari ayahnya dan hidup berfoya-foya (Luk. 15), juga menyatakan apa yang dicari orang dan bagaimana akibatnya.
[3] Florence Wedge, Mengatasi Rasa Cemas, terj. (Jakarta: Obor, 1989).
[4] http://www.divorcerate.org/, diakses 16/9/2007
[5] Robert J. Shiller, “Good News –The World is Getting Richer”, dalam The Strait Times, Singapore October 19, 2006”, 27.
[6] Michael P. Green (ed.), 1500 Illustrations for Biblical Preaching (Grand Rapids: Baker Books, 2004), 183.
[7] John F. Kavanaugh, Following Christ in a Consumer Society (Maryknoll: Orbis Books, 2006), 8
[8] Allan Storkey, “Postmodernism Is Consumption”, in Craig Bartholomew and Thorsten Moritz (eds.), Christ and Consumerism (Carlisle, Cumbria: Paternoster Press, 2000), 110
[9] Ibid., 103
[10] Michael P. Green (ed.), opcit., 249.
[11] Robert M. Solomon, Fire for the Journey: Reflection for a God-guided Life (Singapore: Genesis Book, 2002), 78
[12] Anthony T. Padovavno, Tujuh Hari Bersama Thomas Merton: Menjadi Diri Sendiri (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 34
[13] Ibid., 51.

Tuesday, October 16, 2007

KHOTBAH DAN PENGKHOTBAH (1)

PENGKHOTBAH


Setelah lama berkhotbah,
aku rindu duduk menjadi pendengar.
Awalnya agak sulit, lama-kelamaan terbiasa.
Kubuka telingaku dan kurasakan makna kata per kata.

Kuikuti sabda Tuhan dan uraiannya,
dengan hati yang pasrah tanpa prasangka.
Ternyata kedamaian mulai merasuki diriku.
Kekuatan baru mengalir, bahagia dan hidup.


Aku mulai curiga dengan khotbah-khotbahku.
Selalu kukumpulkan ilmu dan dasar-dasar teologi.
Kucari contoh-contoh selaras zaman.
Kuselipkan humor penyegar suasana.
Mereka kagum padaku, pada kehebatanku.
Arsip-arsip khotbahku diminta, bahkan direkam,
mereka terbantu oleh khotbah-khotbahku.
Namun mengapa aku menjadi lelah dan kering.
Kekaguman orang tak membuatku lebih damai.

Aku menjadi sadar,
lebih mudah berbicara tentang Tuhan,
dibanding duduk membiarkan diri mendengar Tuhan.
Berbicara tentang Tuhan menghasilkan kehampaan,
sedang mendengarkan Tuhan memberikan kedamaian.

Aku perlu menjadi pengkhotbah
yang mendengarkan.[1]



[1] Yohanes Rohmadi Mulyono, Dialog Hati:Dalam Beningnya Keheningan (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 118.

ShoutMix chat widget