Friday, September 7, 2007

SPIRITUALITAS DAN EKOLOGI 3


TUGAS PANGGILAN MEHARGAI CIPTAAN TUHAN[1]


Firman Tuhan terpadu dalam dua volume, yaitu
dalam alam ciptaan dan dalam Kitab Suci
Thomas Aquinas (1225-1274)

Allah menuliskan firmanNya tidak saja di dalam Alkitab,
Tetapi juga pada pohon, bunga, awan dan bintang-bintang

Martin Luther (1483-1546)

I. DI MANA KITA BERADA?

Masalah krisis ekologi merupakan salah satu masalah terbesar dunia masakini. Akan tetapi, penanggulangan yang konkret masih jauh dari yang dibutuhkan. Memang, dalam tataran wacana boleh dikatakan agak memadai dengan munculnya berbagai persidangan dari tingkat nasional hingga internasional, berbagai seminar dan terbitan buku-buku (termasuk di bidang teologi) berkaitan dengan masalah krisis ekologis dan upaya penanggulangannya.

Fakta-fakta krisis ekologis dewasa ini sangat kasat mata. Misanya, hutan Indonesia rusak sekitar 2,8-3 juta hektare setiap tahun. Sedangkan hutan dunia mengalami kerusahan seluas ¾ wilayah korea setiap tahun. Akibatnya amat kentara dengan terjadinya berbagai peristiwa banjir, tanah longsor, permanasan global dan sebagainya. Khusus mengenai yang terakhir ini dapat disebutkan bahwa suhu kota Medan misalnya, saat ini terkadang sudah mencapai 33° C, yang 15-20 thn silam paling tinggi 31° C. Jadi, warming global bukan lagi sekadar wacana, ia sudah persis di depan mata.

Apa dampak warming global? Para pakar sudah dengan gamblang menjelaskan bahwa pemanasan global akan berdampak pada naiknya permukaan laut karena es di kutub bumi mencair. Sudah ada penelitian bahwa luas es di kutub utara dan selatan semakin berkurang. Dalam kaitan ini, sudah ada sinyal bahwa akan ada saatnya Jakarta Utara akan hilang ditelan laut karena naiknya permukaan laut ditambah dengan turunnya permukaan tanah karena bangunan dan penyedotan air tanah berlebihan.

Kita juga menghadapi masalah kelangkaan berbagai spesis (buaya air berkurang, buaya yang lain bertambah; burung yang terbang berkurang, burung yang hinggap bertambah –seperti patung buaya dan burung yang terbuat dari batu, semen, kayu atau gambar-gambar di buku)

Disamping itu, Jakarta ‘meraih’ Juara III sedunia di bidang polusi udara (dan juara VI terkorupsi di dunia): sebuah ‘prestasi’ yang mencengangkan. Tingginya tingkat korupsi juga menambah penderitaan alam.

II. PENYEBAB UTAMA KRISIS EKOLOGI

1. Sejak masa pencerahan, manusia mandang alam ini sebagai objek semata dan alam kehilangan ‘sakralitasnya’. Hal ini berbarengan dengan lahir dan berkembangnya industri komersial dengan mengeksploitasi alam.


2. Masalah ketamakan manusia. Gandhi dengan amat bijak mengatakan, “Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup menyediakan untuk ketamakan setiap orang.” Konsumerisme dan pola hidup serba instant memberi andil besar terhadap kerusakan alam. Sebagai gambaran dapat diambil contoh kehidupan orang Amerika. Dengan 5% penduduk dunia, AS menghabiskan 40% sumber daya alam di pasar dunia setiap tahun. Kalau seluruh penduduk dunia mau hidup pada taraf kemakmuran di Amerika, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin: mengurangi jumlah penduduk global sebanyak 87,5% atau menemukan delapan bumi baru’.[2]

Memang masih banyak orang Amerika yang tergabung dalam suatu gerakan baru yang disebut dengan minimalis. Yaitu orang-orang yang menentukan untuk hidup dengan uang sedikit. Mereka membeli lebih sedikit, menghabiskan lebih sedikit, membuat lebih sedikit, dan memiliki lebih sedikit barang.[3] Celakanya, justru orang Indonesia sendiri sudah banyak ketularan gaya hidup negara maju dengan maraknya makanan dan minuman dengan kemasan disposal, padahal teknologi daur ulang kita belum mampu mengatasinya.


3. Titik berat pembangunan yang keliru. Salah satu contoh nampak melalui alokasi dana negara-negara di dunia dalam jumlah yang sangat besar untuk membiayai militer dan persenjataan yang mematikan, ketimbang sarana dan prasarana yang menopang kehidupan, seperti penghijauan, peningkatan mutu pendidikan, penanganan sampah dan limbah, sarana pemeliharaan kesehatan dan lain-lain. (Kung menyebut bahwa setiap menit negara-negara di dunia menghabiskan uang 1,8 juta US$ untuk perlengkapan tentara)[4]. Untuk konteks Indonesia perlu penelitianyang lebih komprehensif. Yang jelas, alokasi dana untuk sektor pendidikan dan kesehatan dalam APBN masih relatif rendah. Hal ini diperparah lagi karena kedua departemen ini masuh dalam peringkat atas dalam bidang korupsi.

III. TEOLOGI IKUT BERSALAH?

Lynn White Jr., seorang sejarahwan Amerika, mengatakan adanya kesalahan yang dibuat di dalam sistem ajaran Kristen mengenai manusia dan dunia, sehingga menyebabkan terangsangnya orang Kristen di masa lalu untuk mengeksploitasi dunia ini sehabis-habisnya “demi nama Tuhan”.[5]

1. Pemahaman anthroposentrik, yang menganggap manusia sebagai pusat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dipahami hanya demi dan untuk manusia. Penciptaan segala sesuatunya sebelum penciptaan manusia pada hari keenam misalnya, dipahami bahwa Allah sudah terlebih dahulu menyiapkan semuanya itu untuk manusia. Di samping itu, penafsiran akan amanat Allah kepada manusia untuk ‘menaklukkan’ (דר) dan ‘berkuasa’ (שבכ) sering dipahami sebagai hak istimewa, yang menempatkan manusia sebagai subjek dan makhluk lain sebagai objek semata.

2. Semangat Triumphalis. Misalnya, untuk memperkenalkan kuasa Kristus yang melampaui kuasa yang ada di dunia ini didemonstrasikan dengan menebang pohon yang diyakini masyarakat tradisional memiliki ‘penghuni’ dan dianggap ‘angker’. Masalahnya, pohon menjadi korban, sementara Setan terus gentayangan.

3. Liturgi gereja kurang berpihak pada kelestarian alam. Artinya, tata ibadah gereja-gereja kita masih bercorak anthroposentrik. Di samping itu, banyak nyanyian gereja yang lebih menekankan bahwa dunia ini tempat sementara, ‘lembah ratapan’, tidak tempat menetap dsb.
4. Umumnya, gereja-gereja di Indonesia belum bergerak dari diakonia karitatif dan reformatif ke diakonia transformatif, yang di dalamnya semestinya tercakup tugas panggilan dalam menghormati dan memelihara alam ciptaan Tuhan.

Apa yang disuguhkan oleh Dr Geoffrey dengan mengangkat contoh pemahaman dan perlakuan suku Aborigin (Australia) dan Suku Indian (Amerika) terhadap tanah amat relevan. Artinya, kita terpanggil untuk menghargai ‘kearifan lokal’, tanpa harus meromantisasi tradisi masa lalu.

Buku Dr Geoffrey merupakan sumbangan positif untuk berteologi dalam konteks Indonesia. Hampir semua kelompok etnis di Indonesia memiliki ‘kearifan lokal’ khususnya menyangkut penghormatan dan pemeliharaan alam. Masyarakat Batak tradisional pun sebernarnya punya kearifan berkaitan dengan alam. Sebelum misionaris datang, orang tidak boleh sembarangan bicara (cakap kotor) di Danau Toba, apalagi buang air kecil atau buang air besar sangat tabu, karena ‘penghuninya’ bisa marah. Sesudah kekristenan masuk ke tanah Batak, jangankan buang air besar, ‘buang air besar-besaran’ pun (=limbah) ke danau seolah tidak ada masalah.

Menyebut contoh lain, pada era Suharto, pernah sekelompok suku Dayak akan direlokasi atas nama pembangunan. Penduduk setempat berkata, “kami tidak tinggal di hutan, kami adalah hutan”. Ini menunjukkan pemahaman dan sikap kedekatan bahkan kesatuan mereka dengan alam.

IV. REKOMENDASI

1. Kepada Gereja dan Masyarakat

(1) Gereja-gereja perlu didorong ke arah pelayanan yang berorientasi ‘sadar lingkungan’ melalui kurikulum sidi, seminar, khotbah, dan keterlibatan langsung menghijaukan komplek gereja, komplek hunian warga jemaat dan sebagainya.

(2) Warga jemaat dan masyarakat perlu mengembangkan pola hidup atas dasar ‘kebutuhan’ bukan ‘keinginan’. Yang menggembirakan dalam hal ini adalah sudah banyaknya orang yang mengembangkan ‘pola hidup minimalis’ (modest life style) dengan rumah kecil, sederhana, sedikit barang-barang dan sebagainya. Tetapi, masih ada juga yang berlomba membangun rumah yang besar-besar padahal penghuninya sangat sedikit.

2. Kepada Perguruan Teologi

STT kiranya mau dan mampu mengembangkan dan merumuskan teologi yang sungguh-sungguh berpihak pada penghargaan dan penghormatan kepada alam ciptaan Tuhan. Idealnya, dibutuhkan satu mata kuliah “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan”, sebagaimana sejak lama digumuli oleh DGD. Sambil menunggu kemungkinan itu, dapat disebut beberapa hal yang perlu mendapat perhatian beberapa bidang studi untuk dibahas dalam perkuliahan dan (jika memungkinkan) dalam bentuk tulisan sehingga dapat diterbitkan.

Perjanjian Lama

(1) Menjernihkan pengertian ‘rada’ dan ‘kabasy’ (Kej. 1). Salah satu pertimbangan yang ditawarkan oleh Singgih dalam hal ini adalah menyangkut konteksnya dimana manusia masih vegetarian.[6]
(2) Keberadaan manusia sebagai Imago Dei (yang hanya dimiliki oleh manusia) lebih merupakan tanggung jawab istimewa ketimbang hak istimewa. Manusia sebagai gambar Allah terpanggil seirama dengan Allah yang mengasihi dan memelihara ciptaanNya.
(3) Perlu ditekankan kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya (Mzm 24:1).
(4) Dibutuhkan suatu kajian berkaitan dengan ‘ketanahan’ manusia (dan mungkin juga ‘kemanusiaan’ tanah). Sebab, manusia diciptakan dari tanah. Dapatkah disebutkan bahwa tanah adalah ‘ibu’ manusia? Jika demikian, masakan manusia berlaku sewenang-wenang terhadap ‘ibunya’ sendiri.

Perjanjian Baru

(1) Apa yang dimaksud dengan ‘begitu besar kasih Allah akan dunia ini? Apakah Allah menyelamatkan bukan saja manusia tetapi juga ciptaanNya?
(2) Apa yang dimaksud dengan amanat Yesus ‘Beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk (Mrk. 16:15)
(3) Apa yang implikasi teologis bagian doa Bapa kami “berikanlah kami kepada pada hari ini makanan kami yang secukupnya” terhadap pemeliharaan alam ciptaan? (Studi yang pernah saya lakukan terhadap bagian ini, terjemahan yang lebih tepat dari bahasa Yunani adalah “berilakanlah kepada kami yang kami butuhkan untuk kehidupan’.[7]

Historika dan Teologi Sistematika

(1) Melihat warisan Lutheran sebagaimana terdapat dalam Buku Konkord. Di antaranya, Luther melihat implikasi ekologis dari hukum keempat terhadap pemeliharaan alam ciptaan.
(2) Membahas hasil-hasil pergumulan dan perumusan DGD, LWF, CCA, ELCA, PGI tentang masalah ekologi dalam berbagai sidangnya dalam kuliah-kuliah historika dan teologi sistematika.
(3) Melakukan penelitian terhadap ‘kearifan lokal’, belajar dari apa yang dikemukakan oleh Dr Geoffrey.
(4) Menggunakan hasil-hasil penelitian lembaga-lembaga pemerhati lingkungan sebagai bahan dalam merumuskan ajaran etika ekologis kristiani (Majalah Tempo, dala setiap edisi memuat satu kolom khusus tentang ‘Lingkungan Hidup’).

Teologi Praksis

(1) Mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh C.S. Song[8] yang mendasarkan ‘misi’ tidak saja dari Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat 28) tetapi dari Penciptaan (Kej. 1). Kalau Allah memelihara ciptaanNya, maka misi Gereja seharusnya juga memelihara ciptaan.

(2) Perlunya dalam mata kuliah Seminar Praksis mahasiswa menulis misalnya tentang “Program Gereja dalam Pemeliharaan Lingkungan”.

Ilmu Agama

Penganut agama manakah di dunia ini yang paling santun terhadap alam? Hal ini perlu, agar penganut agama yang satu dapat belajar dari penganut agama lain.

Di samping perkuliahan, aktivitas berkampus hendaknya ‘pro pelestarian alam’. Menyebut dua contoh kecil dalam proses perkuliahan di STT HKBP. Pertama, tugas kuliah mahasiswa tanpa sampul plastik. Kalau 400 mahasiswa dengan masing-masing satu tugas kuliah untuk 9 mata kuliah semester menggunakan sampul plastik dengan harga masing-masing Rp. 2000, maka dalam satu semester mahasiswa STT telah membuang Rp. 7.200.000 hanya untuk sampul tugas kuliah –yang akan menjadi sampah. Biaya mahal untuk menambah sampah! Kedua, daftar hadir kuliah tanpa tanda tangan mahasiswa. Semester ini ada 130 kelas dengan dua lembar setiap pertemuan dikali 15 tatap muka = 3900 lembar kertas terbuang. Padahal, kalau daftar hadir dipanggil dosen ybs. kertas yang terpakai hanya 130 lembar dan tugas pegawai di kantor lebih ringan. Yang lainnya, masih dapat dihitung dan dipertimbangkan. Hal yang sama dapat dipertimbangkan oleh perguruan teologi di Indonesia.

V. PENUTUP

Secara ateologis, ‘akhir zaman’ adalah sesuatu yang dinantikan oleh umat manusia. Akan tetapi, mencermati kecenderungan yang ada, bisa saja ‘akhir zaman’ tiba sebelum waktunya karena ‘dirampas’ oleh manusia sebagai akibat dari pengrusakan alam ciptaan Tuhan. Gereja dan orang Kristen serta seluruh umat manusia terpanggil merawat ciptaan Tuhan.

[1] Disampaikan sebagai bandingan ceramah Dr Geoffrey R. Lilburne dalam ‘diskusi teologi’ Dosen STT HKBP, Pematangsiantar, 02 Desember 2005
[2] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah
[3] David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 294
[4] hans Kung, Global Responsibility. In Search of a New World Ethic, New York: Croassroad
[5] Dikutip oleh E.G. Singgih, “Dasar Teologis dari Pemahaman Mengenai Keutuhan Ciptaan:, dalam Th. Sumartana dkk (Peny.), Terbit Sepucuk Taruk. Teologi Kehidupan 60 tahun Dr. Liem Khiem Yang, Jakarta:P3M STTJ dan balitbang PGI, hlm.245. Hal yang sama juga disebut oleh Geoffrey R. Lilburne, A Sense of Place. A Christian Theology of the Land, Nashville: Abindgon Press, 1989, hlm. 24
[6] Penjelasan selengkapnya lihat Ibid.
[7] Dalam tulisan yang diminta oleh Panitia Buku Ulang tahun Lothar Schreiner.
[8] Dikutip oleh David J. Bosch, Transforming Mission. Paradigm Shift in Theology of Mission, Maryknoll: Orbis dan juga Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner Dalam Konteks Indonesia, Yogyakarta: Kanisius

Thursday, September 6, 2007

SPIRITUALITAS DAN EKOLOGI 2




ECO-SPIRITUALITY DALAM KONTEKS ASIA



Ketika Allah menciptakan manusia pertama,Ia membawa mereka mengelilingi Taman Eden dan berkata,“Lihatlah ciptaan-Ku! Lihatlah betapa baiknya semuanya! …Jangan rusak dunia milik-Ku; sebab jika kamu merusaknya tidak akan ada yang memperbaikinya.”


(Midrash Ecclesiastes Rabbah )

AKHIR ZAMAN SUDAH DEKAT?

Akhir-akhir ini hampir semua media massa (cetak dan elektronik) dipenuhi dengan berita dan ulasan seputar bahaya dampak global warming (pemanasan global) yang amat mengancam dan mencekam kehidupan di planet ini. Salah satu dampak naiknya suhu bumi adalah semakin berkurangnya luas dan ketebalan es di kutub bumi (dan ini sudah terjadi). Konsekuensi logisnya adalah naiknya permukaan laut. Para pakar memperkirakan dalam beberpa puluh tahun ke depan akan banyak daerah pantai yang akan berubah menjadi laut.

Jika semua warga bumi ini tidak dengan sungguh-sungguh mengubah pola berpikir, pola hidup dan pola bertindak khususnya terhadap alam ini, maka akhir zaman bukan lagi sebagai sesuatu yang kita nantikan sebagai pemberian Tuhan melainkan karena ‘rampasan’ manausia yang merusak alam dan segala isinya.

Meski diakui bahwa penyebab kerusakan alam ini tidak sederhana, namun dapat disebut beberapa di antaranya sebagai penyebab utama sebagai berikut:

(1) Gaya Hidup Hiper-Konsumserisme

Kondisi alam ini kian memburuk karena konsumsi berlebihan sebagian manusia. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Negara-negara Eropa, dan Jepang disebut-sebut sebagai pelahap terbesar sumber daya alam. Amerika Serikat saja, yang penduduknya hanya 5% dari populasi dunia, mengontrol 60% kekayaan dunia[1] dan melahap 40% sumber daya dunia setiap tahunnya.Lebih rinci, berikut ini adalah laporan PBB bidang Human Development (1998) yang memperkirakan:[2]·
  • Total biaya pendidikan dasar untuk tingkat dunia US$6 miliar per tahun (sementara di Amerika Serikat saja US$8 miliar dibelanjakan hanya untuk kosmetik setiap tahunnya).·

  • Biaya instalasi air dan sanitas sejumlah $9 miliar ($11 miliar dibelanjakan untuk es krim di Eropah).

  • Biaya kesehatan dan gizi dasar sebesar $13 miliar ($17 miliar per tahun dibelanjakan untuk makanan binatang peliharaan di Eropah dan Amerika; $50 miliar untuk rokok di Eropah; $105 miliar untuk minum alkohol di Eropah; $400 miliar untuk narkotika di seluruh dunia dan $780 miliar untuk persenjataan.
Meski angka-angka di atas sebagai estimasi, namun angka-angka tersebut dapat menunjukkan (1) Manusia hidup dalam era hiper-konsumer, (2) Manusia membelanjakan uangnya dengan jumlah raksasa untuk hal-hal yang merusak dan mematikan, (3)Perikemakhlukan secara keliru menggeser perikemanusiaan. Sebab, bagaimana mungkin seseorang begitu teganya mengeluarkan biaya untuk kebutuhan binatang peliharaannya, sementara begitu banyak orang yang tidak memperoleh makanan? (4) Yang lebih menanggung penderitaan adalah alam semesta ini. Karena untuk memenuhi hasrat dan keinginan seperti itu tidak ada pilihan lain kecuali mengeksploitasi alam.

(2) Perusakan Hutan Secara Masif

Para pakar dengan gamblang menjelaskan mengapa global warming terjadi dan apa dampaknya bagi kehidupan. Pemanasan global juga terkait dengan penebangan dan perusakan hutan secara besar-besaran. Setiap tahunnya hutan dunia ditebang dan dirusak mengalami seluas dua pertiga wilayah Korea Selatan. Setengah dari hutan dunia sudah rusak.[3] (Uraian dan data-data lebih rinci tentang kondisi hutan dalam konteks Asia dibahas dalam bagian “Agama-agama Asia vs Kepentingan Ekonomi” dalam tulisan ini).

(3) Limbah Industri dan Kendaraan Bermotor

Amerika Serikat dan China adalah dua negara penyebab utama rusaknya ekosistem, karena kedua negara inilah yang paling banyak melepas karbondioksida yang mengakibatkan rusaknya lapisan ozon dan memperparah pemanasan global. Tujuh atau lebih dari sepuluh kota terpolusi di dunia terdapat di China. Di antara semua bangsa, Amerika Serikat bertanggungjawab atas emisi karbondioksida sekitar 25% dari total green house (rumah kaca) yang berasal dari kenderaan bermotor, industri, system pemanas dan pendingin dan sebagainya.[4] Namun tidak adil kalau hanya meletakkan kesalahan ini pada Amerika dan China. Kota Jakarta pun termasuk “tiga besar” kota terpolusi di dunia.

(4) Pertambahan Penduduk

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2005, penduduk dunia berjumlah 6.453.628. Dari jumlah ini, 3.917.508 adalah penduduk Asia.[5] (Penduduk Asia Tenggara berjumlah sekitar 500 juta.[6]) Diperkirakan, pada tahun 2050 penduduk Asia akan berjumlah 5 miliar.[7] Itu berarti bahwa sampai sekarang lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di Asia.Van Dyke mengajukan pertanyaan sederhana tetapi amat menantang untuk dijawab tentang mandat alkitabiah untuk memenuhi bumi, “Bagaimana kita mengetahui kapan bumi penuh?” Dalam kaitan itu ia menegaskan bahwa Alkitab tidak berbicara tentang masalah-masalah pertumbuhan penduduk dan ukuran maksimal penduduk bumi. Tidak diberitahukan kepada kita kapan alam ini penuh. Yang ditekankan Alkitab adalah agar kita memiliki hikmat.[8] Salah satu makna ‘berhikmat’ di sini adalah mendukung pelaksanaan Keluarga Berencana (KB).

AJARAN AGAMA-AGAMA ASIA versus KEPENTINGAN EKONOMI

Pada 29 Septeber 1986 diadakan suatu pertemuan antar-iman di Franciscan Basilica, Italia, yang menegaskan hubungana esensial antara agama dan alam. Inilah pertama kali dalam sejarah dimana lima agama secara bersama-sama mendeklarasikan tanggung jawab etis manusia terhadap alam[9]Pada dasarnya wilayah Asia memiliki tradisi kegamaan dan kearifan-kearifan lokal yang menekankan penghormatan terhadap alam ciptaan Tuhan. Tetapi, sayangnya, semuanya kurang memiliki pengaruh signifikan. Beberapa contoh dapat disebut sebagai berikut:

(1) Filipina, yang merupakan berpenduduk mayoritas Kristen, sedang mengalami kerusakan alam dan akan menjadi gurun permanen jika tidak ada usaha-usaha bersama oleh berbagai institusi, khususnya pemerintah.[10] Pada tahun 1900, 70% wilayah Filipina adalah hutan dan yang tersisa sekarang hanya 16%.[11]

(2) Thailand yang tadinya kaya sumber alam seperti hutan, air, dan tanah subur, tetapi sudah diambang kepunahan.[12] Padahal 90 % penduduk Thailand menganut agama Buddha –agama yang sangat menekankan penghargaan alam semesta.

(3) India juga mengalami masalah kerusakan alam yang parah. (Kota Mumbay, misalnya, termasuk salah satu kota terpolusi di dunia). Mayoritas penduduk India adalah beragama Hindu, yang juga sangat menekankan penghormatan terhadap makhluk dan alam semesta. Mahatma Gandhi, misalnya, dengan sangat tepat mengatakan, “Bumi cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup menyediakan untuk ketamakan setiap orang.”[13]

(4) Indonesia sudah sejak lama mengalami kerusakan alam yang amat parah. Negara ini merupakan Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dr Abdullah Oma Nassaf, Sekretaris Jenderal Muslim World League pernah mengatakan:

“Esensi ajaran Islam adalah bahwa seleuruh alam semesta adalah ciptaan Allah. Bagi Muslim, peran manusia di bumi adalah sebagai seorang khalifa. Kita adalah penatalayan dan agen perubahan di bumi ini. Bumi ini bukanlah milik kita dan melakukan apa yang kita inginkan. Kesatuan, kepenatalayanan dan pertanggungjawaban adalah tiga konsep dasar etika lingkungan hidup Islam.”[14] Nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan, “Bumi ini hijau dan indah dan Allah telah mengangkat engkau untuk merawatnya. [15]

Bersama-sama dengan muslim, penganut agama lain pun hidup di Indonesia, yang secara doktrin juga mengakui tanggung jawab manusia untuk merawat ciptaan Allah. Di samping itu ada begitu banyak ‘kearifan lokal’ yang sangat santun pada alam seperti terdapat dalam budaya tradisional Dayak, Papua, Jawa, Batak dan sebagainya.

Akan tetapi faktanya alam Indonesia telah mengalami kerusakan berat. Hutan tropis Indonesia yang merupakan 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa juga sudah mengalami tingkat perusakan tertinggi di dunia dengan penebangan atau perusakan sekitar 3,8 juta hektar setiap tahun –80% di antaranya merupakan penebangan ilegal (dikutip dari South China Morning Post, 5 Pebruari 2004).[16]

(5) Malaysia (yang juga berpenduduk mayoritas Islam) mengalami kerusakan hutan. Hampir semua hutan Sabah atau Malaysia Timur telah berubah menjadi perabot orang-orang kaya di Negara-negara seperti Jepang, China, Hongkong, Eropah dan Amerika Serikat dalam 20 tahun terakhir ini.[17]

Uraian di atas menyatakan bahwa ajaran agama dan kearifan lokal yang benar-benar menghargai alam ciptaan Tuhan tidak menjamin terawatnya bumi ini, terutama karena kepentingan ekonomi telah mendominasi seluruh dunia. Kenyataan ini hendaknya tidak membuat orang-orang Kristen berputus asa dan menyerah. Keadaan seperti itu tidak memberi jalan keluar, malahan akan memperparah keadaan yang sudah begitu buruk. Gereja dan orang-orang Kristen bersama-sama dengan saudara-saudaranya penganut agama dan kepercayaan lain tetap dapat berbuat sesuatu dalam iman dan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan yang terus menerus dalam alam ciptaan dan milik-Nya ini.

ECO-SPIRITUALITY

Istilah "eco-spirituality" membawa perhatian pada kosmos sebagai suatu tempat di mana Allah menyatakan diri-Nya. Eco-spirituality berbicara tentang hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan kosmos dalam totalitasnya.[18] Dalam hal ini orang-orang Kristen perlu mengkaji ulang pemahamannya akan hubungan manausia dengan ciptaan Tuhan.

Benar bahwa manausia memiliki keistimewaan dibandingan seluruh ciptaan Allah. Dalam Alkitab, disebut bahwa manusia adalah gambar Allah. Dalam perjalanan sejarah gereja, keberadaan manusia sebagai gambar Allah sering dipahami sebagai “hak Istimewa”, yang bahkan disalahgunakan untuk mengeksploitasi alam secara berlebihan. Secara teologis, keberadaan manusia sebagai gambar Allah bukanlah terutama sebagai “hak istimewa” melainkan lebih merupakan “tanggung jawab istimewa” sebagaimana Allah percayakan kepada manusia untuk merawat ciptaan-Nya.

Dorr memahami adanya kaitan erat antara spiritualitas dengan ekologi.[19] Itu berarti bahwa spiritualitas Kristen bukanlah hanya masalah interior life tetapi mencakup seluruh kehidupan jasmani dan rohani dan menyangkut hubungan dengan ciptaan Tuhan. Secara teologis manusia dan makhluk hidup memiliki beberapa persamaan, di antaranya:

(1) Mereka adalah sama-sama ciptaan Allah (Kej. 1).
(2) Segala sesuatu yang bernafas memuji Tuhan (Mzm.150:6).
(3) Mereka sama-sama milik Allah dan menerima kehidupan dari Allah yang sama (Kol 1:16-17).

Manusia bukanlah pusat dan pemilik ciptaan. Kita adalah bagian dari ciptaan Allah. Bryan Sirshio dengan indah mengungkapkan “Kita lebih merupakan milik bumi ketimbang kita sebagai pemilik bumi.”[20] Allah mengajar manusia melalui alam dan bahkan makhluk hidup (bnd. Ayb 12:7-10).

Eco-spirituality bukan hanya masalah percakapan intelektual tetapi juga (dan terutama) masalah aksi konkret. Salah satu contoh yang sangat baik untuk ini adalah kehidupan Santo Fransiskus dari Asisi. Kita tidak mendapat tulisan pembahasan teologis atau reflekti teologis yang mendalam dari Santo Fransiskus tentang alam. Hal itu bukanlah pusat perhatiannya. Tetapi, sebagai a man of action, Fransiskus menghargai ciptaan Allah dalam kehidupan konkretnya setiap hari. Bagi Fransiskus alam dan segala isinya adalah tanda kasih dan kemurahan Allah. Kaena itu, semua ciptaan sangat istimewa baginya.[21]

Manusia mesti memahami dirinya sebagai “keluarga” komunitas makhluk hidup ciptaan Allah. Hal ini sama sekali tidak dimaksudkan pengabaian perikemanusiaan atas nama perikemakhlukan. Beberapa waktu lalu harian Strait Times Singapura memuat Berita Turut Berukacita atas meninggalnya seorang anggota keluarga. Yang ganjil (inilah pertama kali saya membaca hal demikian) adalah nama binatang peliharaannya pun dituliskan di bawah nama-nama keluarga yang meninggal tersebut sebagai yang turut berduka. Banyak orang dewasa ini yang mengeluarkan biaya untuk memelihara anjing dan kucing padahal begitu banyaknya manusia yang mati karena kurang makanan dan kurang gizi.

Secara konkret, berikut ini ada tiga hal yang dapat dilakukan oleh Gereja dan orang-orang Kristen sebagai bagian integral dari eco-spirituality:

1. Tempat Ciptaan Allah dalam Hidup Bergereja

Apakah ciptaan Allah mendapat tempat dalam ibadah-ibadah gereja? Sejauh ini, sayangnya, mereka belum mendapat tempat. Memang CCA sudah mencanangkan merayakan Mingggu Ekologi setiap tahun pada bulan Juni, namun setahu saya belum ada gereja yang melakukannya.

Gereja-gereja, khususnya anggota CCA, membutuhkan a new way of seeing, thinking, worshipping, and acting dalam menghadapi dan mengatasi aneka persoalan ekologis dewasa ini. Hal ini dapat diwujudkan melalui seluruh kehidupan bergereja, di antaranya:

(1) Dirumuskannya sikap teologis dan tugas panggilan gereja secara eksplisit dalam pengakuan Iman (Konfessi) Gereja untuk merawat ciptaan Tuhan.
(2) Dimasukkannya tema ekologi dalam kurikulum pengajaran Sekolah Minggu, pengajaran sidi dan dalam kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab (PA).
(3) Mengkhotbahkan tanggung jawab memelihara alam dalam ibadah pada peristiwa-peristiwa tertentu, atau ketika nats kotbah berbicara tentang hal itu.
(4) Perlunya lagu-lagu gerejawi yang mengandung penghargaan terhadap ciptaan Tuhan.
(5) Arsitektur dan penataan gedung gereja yang ‘bersahabat’ dengan alam.
(6) Mengagendakan pembahasan tentang tema ekologi dalam persidangan resmi gereja.
(7) Bekerjasama dengan gereja, agama lain, lembaga swadaya masyarakat dalam rangka memelihara alam.(
8) Menyajikan mata kuliah “Etika Ekologi” dalam sekolah-sekolah pendidikan Teologi.
(9) Menyampaikan masukan dan seruan kepada pemerintah dan pemilik industri untuk bertindak bijaksana dalam usaha-usaha pembangunan ekonomi.

2. Meditasi

Dari sekian banyak bentuk doa, Laurence Freeman mengelompokkannya menjadi tiga, yakni: berkata-kata, mendengarkan, dan berada (being).[22] Dalam ketiga bentuk doa ini, alam ciptaan Tuhan layak mendapat tempat. Doa dengan berkata-kata, misalnya, adalah dalam bentuk pujian kepada Tuhan atas ciptaan-Nya yang baik. Doa ini juga dapat merupakan permohonan akan perlindungan Tuhan atas seluruh ciptaan-Nya. Dalam bentuk “doa mendengarkan”, menurut Freeman, kita harus mendengarkan Tuhan melalui Alkitab, melalui hidup orang-orang, dalam kemiskinan dan penderitaan. Selanjutnya, ia mengatakan,

“We must be able to see God in the present concern about the integrity of the earth, in the face of the destruction of the ecology that our generation is perpetrating.”[23]

Dalam hal ini kita tidak saja berdoa untuk bumi dan segala isinya, tetapi kita berdoa dengan mendengar Tuhan melalui berbagai cara yang Ia lakukan, termasuk melalui ciptaan-Nya.

Berbeda dengan kedua bentuk doa seperti disebut di atas, meditasi yang dimaksudkan di sini tidak terutama dengan suara atau mendengarkan, tetapi hanya dengan “berada” (being). Aktivitas tubuh dan pikiran beralih ke aktivitas “hati”. Tidak ada permohonan, tidak memikirkan rencana ke depan, tidak melakukan evaluasi masa lalu, tetapi duduk dengan tenang di hadapan Tuhan. Dari sejarah kita ketahui bahwa orang-orang Kristen yang melakukan meditasi yang sesungguhnya[24] secara teratur, mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar menghargai ciptaan Tuhan dalam berbagai bentuknya. Sebab, kedamaian hati seseorang (yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari meditasi) amat menentukan hidup dan perilakunya terhadap sesama manusia dan ciptaan Tuhan.

Sayang sekali gereja-gereja di Asia sudah kurang memelihara (kalau tidak sama sekali meninggalkan) meditasi. Manusia sudah begitu terkontaminasi dengan slogan menyesatkan time is money. Bagi kebanyakan orang, meditasi merupakan tindakan membuang-buang waktu dan dengan demikian membuang uang. Sudah saatnya orang-orang Kristen menghidupkan kembali tradisi meditasi yang akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap pemeliharaan alam ciptaan Tuhan.

3. Kebahagiaan dalam Hidup Sederhana

Seperti sudah disinggung, salah satu penyebab utama kehancuran alam ini adalah karena konsumsi berlebihan sebagian manusia. Banyak orang yang berlomba untuk mengumpulkan harta dan barang-barang sebanyak-banyaknya, membangun rumah-rumah besar dan mewah, memiliki lebih dari satu mobil, megemas makanan dan minuman dalam wadah sekali pakai dan sebagaianya. Kalau sekitar 20% saja penduduk bumi ini hidup dengan gaya hidup seperti ini sudah mengancam kehidupan bumi ini, maka dapat dibayangkan kalau 6,5 miliar manusia sekarang ini dengan keinginan dan gaya hidup seperti itu, dunia ini akan berakhir sebelum waktunya. Kita belum berbicara bagaimana seratus tahun ke depan.

Secara kristiani, kebahagiaan di sini tidak berarti ‘pemenuhan keinginan’, yang biasanya tidak pernah ada putus-putusnya. Bisakah gereja-gereja menawarkan pola hidup alternatif? Seharusnsya, ya! Kita memiliki landasan yang amat kokoh secara Alkitabiah untuk hidup sederhana. Yesus sendiri mengajarkan Doa Bapa Kami dimana permohonan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” dan “berikanlah kami pada hari ini yang kami butuhkan untuk kehidupan”[25] juga mengandung sikap etis dan gaya hidup kristiani. Hal senada kita temukan dalam Amsal 30:7-9 di antaranya mengatakan “biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku…” (tidak melahap bagian orang lain yang hidup sekarang dan bahkan yang menjadi bagian generasi yang akan datang).

“Simple Living” (mungkin satu-satunya website di Internet) yang dengan sangat mengesankan menyajikan renungan setiap hari sepanjang tahun akan pentingnya pola hidup sederhana yang dapat dijemaatkan sebagai perenungan gereja dan warga jemaat di dalam keluarga atau perenungan pribadi.[26]

PENUTUP

Mungkin saja ada orang yang tergoda mengatakan, “Seberapa besar dampaknya kepada alam ini kalau saya boros, kalau sampah saya setengah kilogram sehari? Pasti tidak berdampak banyak!” Masalahnya adalah kalau semua yang 6 miliar lebih warga bumi ini yang mengatakan dan melakukan hal yang sama, maka bumi ini akan di ambang kehancuran. Tanggung jawab gereja-gereja Asia dan orang-orang Kristen bersama-sama dengan semua umat manusia amat dibutuhkan untuk penyembuhan bumi yang sudah mengerang kesakitan ini.

1] Jim Wall, Faith at Works: Lessons on Spirituality and Social Action (London: SPCK, 2002), h. 58
[2] Ibid, h. 58-59
[3] Per Larson, Your Will Be Done on Earth: Ecological Theology for Asia. An Ecumenical Textbook for Theological School, (Hong Kong: CCA, 2004), h. 16
[4] Ibid., h. 16-17
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/World_populationDiakses 13/2/2007
[6] Roland Chia, Hope for the World: The Christian Vision (Leicester: IVP, 2006), h. 12
[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Asian_Century, Diakses 13/2/2007
[8] Fred van Dyke, Redeeming Creation. The Biblical Basis for Environmental Stewardship (Downess Grove, Illinois: Intervarsity Press, 1996), h. 103
[9] R.F. Fuggle, “Convergence between religion and conservation: A Review of the Asisi celebration” dalam W.S. Vorster (ed.), Are We Killing God’s Earth? Ecology and Theology (Pretoria: University of South Africa, 1987), h. 4
[10] Nathan and Martha Knol, eds., Church, Environment and Development in Asia: A Report of the Workshop on Environment and Development: Church Response to Environment in Asia (Shatin, Hongkong: CCA, 1995), h. 30
[11] Per Larson, op.cit., h. 13
[12] Natan and Martha Knol, op.cit., h. 17
[13] Victor Tinambunan, Gereja & Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat di Tengah Krisis Multi Wajah (Pematangsiantar: L-SAPA STT HKBP, 2006), h. 54
[14] Natan and Martha Knol, op.cit., h. 34
[15] Stephen Bede Scharper and Hilary Cunningham, The Green Bible (New York: Lantern Books, 2002), p. 88
[16] Per Larson, op.cit., h. 13
[17] Ibid
[18] Charles Cummings, “Exploring Eco-Spirituality,” http://www.spiritualitytoday.org/spir2day/894113cummings.html, Diakses 7/2/2007
[19] Ibid.[20] http://www.eco-spirit.org/Index.html, Diakses 01/2/2007
[21] Ken Gnanakan, God’s World: A Theology of the Environment (London: SPCK, 1999), h. 92[22] Laurence Freeman, “Ways of Prayer”, audio dalamhttp://www.wccm.org/splash.asp?pagestyle=default, Diakses 25/1/2007
[23] Ibid
[24] Disebut sebagai “meditasi yang sesungguhnya” karena sekarang ini ada berbagai bentuk meditasi yang sudah diperjualbelikan sebagai obat stress dan alat rileksasi.
[25] Terjemahan yang lebih tepat dalam bahasa Indonesia dari bahasa Yunani adalah: Berikanlah kami pada hari ini yang kami butuhkan untuk kehidupan”.
[26] Lihat http://www.simpleliving.org/, diakses 11/1/2007

SPIRITUALITAS DAN EKOLOGI 1


Kepemilikan Allah Atas Bumi& Tanggung Jawab Manusia[1]


Acuan: Mzm 24:1 dan Kej. 1:26-28)


Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya,

dan dunia serta yang diam di dalamnya

(Mzm 24:1)

IBADAH DAN GERAK KEHIDUPAN

Sepanjang sejarah ibadah Israel dan Gereja, Kitab Mazmur memainkan peran penting. Sejak semula tidak ada ibadah tanpa Mazmur, entah ibadah harian atau ibadah jemaat. Mzm 24 ini merupakan bagian mazmur dalam konteks ibadah di Bait Suci.Mazmur ini mengandung pengakuan iman dan pujian kepada Tuhan. Dialah Tuhan yang menciptakan dan memiliki bumi bukan allah bangsa-bangsa lain. Dia adalah Tuhan segenap bumi, karena Dialah yang memiliki (juga Mzm 50:12; 89:12; 97:5)Kepemilikan Allah dan pemeliharaanNya yang bersinambungan atas bumi dan segala isinya berulang-ulang ditegaskan dalam Alkitab.

Memang kita menemukan dalam Alkitab bahwa Allah memberikan bumi kepada manusia. Misalnya, dalam Mzm 115:16 dikatakan “Langit itu langit kepunyaan Tuhan, dan bumi itu telah diberikanNya kepada anak-anak manusia”.Tetapi harus ditegaskan bahwa Allah tidak pernah melakukan serah terima kepada manusia. Ia tidak memberikannya kepada kita sedemikian tuntas sehingga Ia sama sekali tidak punya hak dan tidak punya kontrol lagi atasnya, melainkan memberikannya kepada manusia yang adalah rekan sekerjaNya.

Dalam kotbah di Bukit Yesus mengembangkan pendominasian ilahi itu lebih luas lagi –dari makhluk yang terbesar hingga yang terkecil. Di satu pihak, Allah menerbitkan matahari (yang Ia adalah pemiliknya), dan di lain pihak Ia memberi makan kepada burung-burung, pakaian kepada bunga bakung dan mendandani rumput di padang (Mat 5:45; 6:26, 28, 30). Jadi, Ia memelihara seluruh cuiptaanNya; dengan menyerahkannya kepada kita, Ia bukannya menanggalkan kepemilikan dan tanggung jawab-Nya atasnya.

MENAKLUKKAN DAN MENGUASAI DENGAN CARA ALLAH(Kej 1:26-28)

Kita dapat memahami mandat ‘memnguasai dan menaklukkan’ sebagaimana dalam Kej 1:26-28 dengan memperhadapkannya dengan kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya seperti disebut dalam Mzm 24. Tidak jarang, bahwa mandat menguasai dan menaklukkan dalam Kej 1 ini dipahami secara keliru sebagai ‘hak istimewa’ manusia memperlakukan alam sesuai dengan keinginan manusia.

Dalam hal ini dapat disebut sedikitnya dua hal, yakni:

(1) Menguasai sebagai Gambar AllahKeberadaan manusia sebagai gambar Allah sedikitnya mengandung pengertian bahwa: 1) Manusia diberi karunia memiliki sifat-sifat Allah yang mengasihi, mencintai yang baik, mencintai kehidupan. Itu berarti bahwa dalam menaklukkan dan menguasai, manusia melakukannya atas nama Allah dan seperti cara Allah memperlakukan ciptaan-Nya. 2) Manusia dianuagerahi kemampuan untuk mempertahankan ciptaan itu tetap baik sebagaimana Tuhan menciptakan dan melihatnya baik. Dalam hal ini, menguasai berarti memperlakukan ciptaanNya sedemikian rupa agar ia tetap baik sebagaimana Tuhan menghendakinya. Sebab, kalau Tuhan membenci dan menolak ibadah dan koor umat karena ketidakadilan (Amos 5), Ia tetap menerima pujian dari segala yang bernafas (Mzm 150:6). 3) Keberadaan manusia sebagai gambar Allah lebih merupakan ‘tanggung jawab” istimewa bukan “hak istimewa”. Menguasai tidak dalam artian mengeksploitasi dan merusak. 4) Menguasai juga berarti agar manusia jangan menyembahnya, sebab hanya Allah yang patut disembah.Dengan adanya pengakuan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan raja yang menguasai seluruh ciptaanNya, maka tugas manusia ‘menguasai’ dan ‘mengusahai’ bumi adalah seperti cara Allah menguasainya yaitu dengan merawat dan memeliharanya.

(2) Kebutuhan ManusiaSeperti sudah disinggung, bahwa dalam Kej. 1:26 bahwa yang pertama disebut adalah manusia sebagai gambar Allah. Kemudian, diberi mandat ‘menguasai”. Urutan ini mengandung makna bahwa manusia menguasai seperti cara Allah menguasai ciptaanNya.

Memang kata-kata yang digunakan dalam bahasa Ibrani untuk “berkuasa” di sini adalah juga berarti ‘menginjak’. Misalnya, menginjak buah anggur untuk memeras sarinya. Kata ‘taklukkanlah’ juga berarti menaklukkan dalam perang. Akan tetapi amanat ‘taklukkanlah’ di sini tidak sama dengan perang terhadap alam. Sebab, tidak boleh hanya etimologi yang menjadi pertimbangan kita tetapi cara penggunaan kata-kata itu dalam konteksnya. Kekuasaan yang diserahkan Allah kepada manusia adalah bersifat pemberian yang menuntut tanggung jawab.

Salah satu yang perlu diperhatikan untuk memahami ‘menaklukkan’ dan ‘menguasai’ dalam Kej 1 ini adalah makanan manusia. Dalam ay 29: makanan adalah tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji”, tidak dalamkonteks manusia sebagai pemakan daging. Jadi, kata taklukkanlah di sini tidak dapat disamakan saja dengan konteks dunia sekarang dimana manusia memakan daging, yang malah sudah kian tanpa batas. Misalnya sudah banyak orang makan ular, anjing, kucing dan tikus. Catatan: Untung saja apa yang kita makan tidak mempengaruhi perilaku kita. Sebab jika apa yang dimakan oleh manusia mempengaruhi perilakunya , maka orang Batak dan orang Nias pasti akan mengalami masalah yang amat serius. Sebab babi dan anjing saja (yang amat sering dilahap), sudah amat tak tertahankan dampaknya bagi kehidupan, yang satu (babi): tukang makan, tidur dan teriak saja dan yang lain (anjing) menggonggong dan menggigit –dan berbisa pula --yang pasti akan merusak kehidupan.

MASALAH KEPEMILIKAN BUMI MASAKINI

Di tengah maraknya gaya hidup konsumerisme dewasa ini, apa yang dikatakan Gandhi sangat penting dihayati, yakni “bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang”.

Krisis lingkungan hidup merupakah salah satu dari sederet persoalan yang paling serius dewasa ini, dari tingkat nasional hingga ke tingkat global. Disebut-sebut bahwa setiap tahun hutan dunia rusak seluas wilayah Korea. Indonesia sendiri kehilangan hutannya sekitar 2,8 juta hektar setiap tahun. Sudah banyak makhluk hidup yang punah, yang diperkirakan satu spesis punah setiap hari. Masalah lebih rumit lagi karena kota Jakarta misalnya, meraih juara III sedunia di bidang pengotoran udara. (kota-kota lain seperti Medan, Surabaya dan lain-lain kurang lebih sama dengan kondisi Jakarta).

Masyarakat Indonesia banyak yang sudah menanggung derita akibat berbagai bencana yang sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya hutan dan terjadinya polusi udara, air dan tanah. Kondisi hutan yang memprihatinkan ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat, karena kemiskinan, dan lebih banyak karena ketamakan para penguasa dan pengusaha kayu.

Mencermati kecenderungan yang menggejala, jika tidak ada perubahan sikap dan perilaku manusia, maka akhir zaman yang disebut di dalam Alkitab bisa saja bukan sesuatu yang kita nantikan lagi dengan sukacita, tetapi menjadi sesuatu yang menakutkan karena dirampas oleh manusia dengan gaya hidup dan tindakannya yang menghancurkan alam.

Roh materialisme (memperilah materi) dan konsumerisme (perasaan tidak pernah merasa cukup) telah memacu kehancuran alam ciptaan Tuhan diperparah dengan ketidakpedulian terhadap kualitas lingkungan.

Sebagai Gereja dan orang Kristen, kita perlu berpaling kembali kepada kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya. Penerimaan demikian dapat terwujud dengan dihidupkannya penghayatan akan Mazmur ini dalam ibadah-ibadah kita. Hal ini dapat dimulai dari ibadah atau perenungan pribadi, keluarga dan persekutuan jemaat.

Tidak berhenti di situ, yang terpenting ialah bagaimana kehidupan setiap dan semua orang mencerminkan kehidupan yang menghargai ciptaan Tuhan antara lain melalui:

1) Hidup dengan dasar kecukupan (bukan ketamakan) sebagaimana Tuhan menghendakinya (bnd. Bagian doa Bapa kami, “berikanlah kepada kami pada hari makanan kami yang secukupnya). Dengan demikian, menghindari diri dari materialisme dan konsumerisme.

2) Menangani limbah rumah tangga dan sampah secara baik (belanja dengan keranjang, bukan menghabiskan plastik; penggunaan kertas di kantor, kampus, pelatihan, lokakarya sehemat mungkin).

3) Menjaga keadaan sungai, danau, laut agar tetap baik dan bersih.

4) Menanam dan merawat pohon di pekarangan rumah, pinggir jalan umum, kompleks gereja dan lain-lain.

5) Mengkonsumsi makanan secukupnya dan sehat (tidak hanya yang enak), dan lain-lain

6) Menggunakan kendaraan yang layak pakai (tidak mengeluarkan polusi melewati ambang batas) dan seperlunya.

7) Dalam tingkat nasional dan global: semua negara hendaknya sungguh-sungguh memperhatikan keseimbangan ekologi dan ekonomi.

RENUNGAN DAN DISKUSI

(1) Apa sajakah tindakan manusia pada zaman ini yang mencerminkan pengakuan bahwa Allah pemilik bumi dan segala isinya dan mana yang menunjukkan pengabaian kepemilikan Allah atas bumi dan isinya?

(2) Upaya-upaya konkret apa yang dapat dilakukan oleh Gereja dan orang-orang Kristen merawat alam ciptaan dan milik Tuhan?


[1] Sebelumnya pernah disampaikan sebagai Pengantar Pemahaman Alkitab (PA) pada “Pelatihan Pelatih Penanganan Bencana”, kerjasama PGI dan PGI Daerah Nias.

Thursday, August 16, 2007

MEMAKNAI PERJUMPAAN DENGAN TUHAN


Dalam pengalaman keseharian kita, sedikitnya ada tiga suasana perjumpaan yang berbeda.

1. Perjumpaan yang ‘berkobar-kobar’ atau yang dipenuhi oleh kegembiraan.

Bayangkan bagaimana suasana ketika seorang ibu di Bonapasogit bertemu putri yang dikasihinya yang bekerja di Singapura dan sudah beberapa tahun tidak bertemu. Di situ ada kegembiraan yang meluap-luap, bukan? Meskipun air mata berderai, ia adalah air mata kegembiraan. ‘Ngobrol’ sampai jam tiga pagi tidak terasa.

2. Perjumpaan yang ‘suam-suam kuku’ atau malah dingin.

Ada banyak orang yang sudah bertetangga puluhan tahun tetapi tidak saling mengenal dan tidak terlalu sering saling menyapa. Mungkin sesekali mereka saling melempar senyum ketika berpapasan di lift (malah ada yang sama sekali tidak saling menyapa). Memang mereka tidak saling mengganggu atau bermusuhan, tetapi mereka juga tidak terlalu peduli satu sama lain. Pada zaman ini, ada yang punya begitu banyak kenalan, tetapi memiliki hanya sedikit sahabat. Malah, yang lebih parah, kenalan pun tidak punya.

3. Perjumpaan yang menghancurkan.

Ini bisa terjadi dalam lingkungan yang saling mengenal dan tidak mengenal. Ia bahkan bisa terjadi dalam sebuah persekutuan gerejawi. Setiap kali ada pertemuan, ada saja orang yang selalu saling menyindir, perang urat saraf, perang mulut bahkan, ironinya, hingga saling memukul.

Orang-orang Batak yang pernah duduk di Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) mungkin masih mengingat sebuah cerita dalam buku bacaan sekolah yang berjudul “Hambing Na Tangkang” (Kambing yang jahat). Ada sebuah jembatan kecil dan dua kambing bertemu di tengahnya. Mereka tidak bisa saling berpapasan karena jembatannya sempit. Tidak ada satupun di antara keduanya yang mau mengalah dan mundur. Akhirnya mereka beradu tabrak dan saling tanduk di tengah jembatan itu. Apa yang terjadi? Ooooh betapa malangnya mereka. Keduanya jatuh ke sungai dan tewas ‘tanpa tanda jasa’. Perjumpaan yang menghancurkan, bukan? Kambing buntung, ikan sungai beruntung.

Bagaimana perjumpaan kita dengan Tuhan? Dari pihak Tuhan sendiri tidak ada masalah. Ia datang menjumpai kita dengan kasih. Yang perlu adalah sambutan kita. Apakah kita menyambutnya dengan kasih dan sukacita atau tidak peduli.

Dari pemberitaan Alkitab kita belajar, bahwa setiap orang yang berjumpa dengan Tuhan dan menyambut-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, hati mereka berkobar-kobar dan mereka selalu bergerak memberitakannya kepada orang lain. Menyebut beberapa contoh:

- Perempuan Samaria dan orang banyak sebagaimana diberitakan dalam Yohanes 4 berjumpa dalam suasana kekaguman dan kegembiraan. Perempuan Samaria ini heran dan bergembira ketika Yesus mengenalnya dan menerima keberadaannya tanpa sebuah ancaman. Perempuan Samaria ini pergi memberitakannya kepada orang lain.


- Para perempuan yang berjumpa dengan Yesus pada peristiwa kebangkitan itu, mereka bergegas memberitakannya (Matius 28:1-10).

- Dua orang yang berjumpa dengan Yesus di jalan ke Emaus sesudah kebangkitan-Nya, hati mereka berkobar-kobar dan pergi memberitakannya (Lukas 24:13-35)

- Rasul Paulus berjumpa dengan Tuhan sebelum pertobatannya, ia bertobat dan bergerak terus melakukan kehendak Tuhan.

Ada satu kebenaran yang sangat perlu kita renungkan dan hidupi berdasarkan pengakuan orang banyak seperti Yoh 4:42 yang mengatakan: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Orang banyak itu tidak mengabaikan peranan perempuan Samaria itu yang memberitakan Yesus kepada mereka. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah perjumpaan mereka secara langsung kepada Yesus yang akhirnya membuat mereka mengaku, “Dialah benar-benar Juruselamat”.

Tidak menjadi soal dari siapa kita pertama kali mendengar tentang Yesus dan tidak menjadi soal bagaiamana awal perjumpaan kita dengan Tuhan. Mungkin awalnya melalui orangtua, teman, Penginjil, bacaan dan lain-lain. Mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menyapa kita –yang mengawali perjumpaan kita secara langsung dengan Tuhan.

Perlu ditegaskan disini bahwa peristiwa perjumpaan kita dengan Tuhan lebih merupakan sarana dan bukan tujuan. Perjumpaan kita dengan Tuhan mesti berlanjut dengan:

(1) Pengakuan iman percaya kita kepada-Nya, “Dialah juruselamat dunia”. Dia yang memelihara dan menyelamatkan dunia ini dan segala isinya sekarang hingga ke masa kehidupan yang kekal.

(2) Kita bersatu dengan-Nya sesuai dengan undangan-Nya kepada kita: “tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Rasul Paulus juga berulangkali menggunakan kata en to Christo (Bahasa Yunani yang berarti: di dalam Kristus). Paulus hidup dan bekerja di dalam Tuhan dan ia menasihatkan orang-orang Kristen untuk mengikuti teladannya. “Hendaklah hidupmu tetap di dalam Tuhan” (Kolose 2:6).

(3) Melakukan kehendak-Nya. Jadinya, seluruh gerak hidup kita seirama dengan gerak Tuhan, sambil tetap siuman bahwa kita adalah pengikut Tuhan dan bukan tuhan kecil. “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya….Barang siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh. 2:6)

Dalam kaitan itu, sekiranya kita memiliki pengalaman khusus dalam hal perjumpaan dengan Tuhan, kita dapat saja mengenangnya sambil bergerak kepada yang lebih penting yakni: kita di dalam Tuhan (bersatu dengan Tuhan) dan melakukan kehendak-Nya. “Saya berjumpa dengan Tuhan dalam suatu KKR di Korea,” kata seseorang misalnya kepada teman-temannya. Sebelum mengungkapkan hal seperti ini, seseorang perlu terlebih dulu memeriksa niat hatinya. Apakah ‘kesaksian’ seperti ini menolong diri sendiri untuk bertumbuh dan meneguhkan sesama untuk mengikut Tuhan? Jangan sampai kata “berjumpa dengan Tuhan” yang sangat indah ini disalahgunakan sebagai ‘pengumuman’ bahwa ia pernah ke Korea. Akibatnya bisa lebih panjang dari yang kita bayangkan. Misalnya, ia beranggapan bahwa hanya di suatu tempat tertentu boleh berjumpa dengan Tuhan; ia akan berusaha kembali ke tempat itu, walaupun dengan harga yang mahal; orang lain bisa mengganggap bahwa ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Tuhan karena dia tidak mampu membiayai perjalanannya ke luar negeri.

Contoh lain, “Kami semua dipenuhi Roh Kudus, ketika kami berdoa bersama dengan menangis kepada Tuhan,” kata anggota-anggota kelompok doa misalnya. Mengenang peristiwa dimana seseorang meyakini dipenuhi Roh Kudus memang baik. Tetapi, menunjukkan bahwa seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus melalui buah-buah Roh (Gal 5:22-23) jauh lebih baik ketimbang asyik menceritakan peristiwa kepenuhan Roh itu sendiri. Perjumpaan dengan Tuhan hanya bermakna jika disertai dengan buahnya.

Saya ingin mengakhirinya dengan nasihat indah dari James W. More sebagai berikut:[1]
(Katakan) aku adalah anak Allah. Allah bersama denganku. Aku adalah rekan sekerja Allah. Aku bekerja bersama dengan Allah dan untuk Allah, dan Ia bekerja melalui Aku. Pengakuan seperti itu akan:
Mengubah caramu bekerja
Mengubah caramu berbicara
Mengubah tekanan suaramu
Mengubah caramu berhubungan dengan yang lain.
Mengubah tingkat enerjimu
Mengubah penampilanmu
Mengubah perilakumu.
……….dan hidupmu akan lebih baik.

[1] James W. More, You can Get Bitter or Better, (Nashville: Dimension for Living, 2006).

Thursday, August 9, 2007

KEPUTUSAN TANPA KEPUTUSASAAN (1)

Membeli

Dari bangun pagi hingga istirahat malam kita harus mengambil aneka keputusan. Ada kalanya keputusan kita tidak membutuhkan terlalu banyak pertimbangan seperti apakah kita sarapan roti panggang atau mihun goreng. (Mohon diingat juga masih banyak yang tidak punya pilihan selain 'singkong'). Memang ada juga orang yang mempersulit pengambilan keputusan padahal sebenarnya masalahnya cukup sederhana. Misalnya, seseorang berdiri di depan lemari pakaian dan baru satu jam kemudian sesudah membolak-balik semua pakaiannya dapat memutuskan yang hendak dipakai. Orang seperti itu barangkali mengalami sedikit masalah kepribadian dan perlu ditolong. Mungkin ia sangat tergantung pada pikiran orang terhadapnya.

Keputusan apa yang paling sering kita buat? Mungkin bisa beragam. Satu di antara sekian banyak adalah keputusan dalam hal membeli sesuatu. Sebagian manusia hidup di tengah apa yang disebut dengan Triple C’s (Cash, Convenient, Consumerism), yang disuburkan oleh belanja on-line yang sedang nge-trend. Bagaimana memutuskan untuk membeli sesuatu? Tidak mudah. Dan, secara jujur saya tidak ahli dalam hal ini. Di antara sekian banyak hal yang perlu kita pertimbangkan saya hanya menawarkan beberapa hal sebagai berikut.

(1) Kebutuhan, bukan keinginan. Ini ada hubungannya dengan motivasi. Kalau bertolak dari ‘kebutuhan’ itu merupakan suara dari dalam –dari hati nurani. Jika ia keinginan, biasanya ia pengaruh dari luar. Mungkin karena ditawarkan di TV, internet, dipajang di mall, terlihat di rumah orang atau dipakai orang di angkutan umum. Saya pernah diberitahu, bahwa di pedalaman Nias pernah ada orang yang membeli kulkas sesudah melihat kehebatan kulkas itu dari rumah keluarga dekatnya di kota. Sayang sekali kulkas itu berubah menjadi lemari pakaian karena kampungnya belum tersambung dengan listrik. Saya juga menyaksikan begitu banyak rumah tepas beratap rumbia sepanjang jalan Sibolga menuju Padang Sidempuan dan di pedalaman Nias dilengkapi TV dengan antene parabola. Bahkan di sebuah Koran terbitan Medan pernah dimuat: Parabola yang ‘paro bala’. (antene parabola yang mendatangkan bala). Itulah yang terjadi ketika keinginan mengalahkan kebutuhan.

(2) Waspada terhadap ilah-ilah baru. Mungkin kita tidak menyembah allah lain, seperti roh nenek moyang atau bal seperti disebut di dalam Alkitab. Tetapi, ketika kita mendewakan merek tertentu dan mengabdikan seluruh hidup kita untuk mendapatkannya, sebenarnya kita sedang menyembah ilah baru.

(3) Kesaksian tanpa siksaan. Beli kalung emas? Itu tidak dosa. Malahan bisa menjadi kesaksian ketika simbol salib tergantung pada kalung emas. Yang perlu ialah jangan sampai emas gemuk tetapi badan remuk dan kurus kekurangan gizi. Lagi pula, janganlah perhiasan sampai terlalu mencolok atau terlalu menyilaukan yang bisa mengundang kata orang “seperti toko mas berjalan”.

(4) Jangan sampai menyita seluruh perhatian, meskipun secara ekonomi kita mampu. Ibu-bu mau sofa? Perlu kesiapan terhadap kemungkinan ternoda oleh anak-anak tamu yang datang. “Ah, tak pa-apa ‘bu, namanya saja anak-anak,” katanya kalau anak-anak main-main di sofanya. Padahal, selama satu jam non-stop hatinya berkata, “brengsek ini anak, tidak tahu harga sofa saya Rp. 55 juta”. Aduuuuuh, kapan tamu ini pulang?”

(5) Fungsi bukan gengsi. Terkadang ada produk yang sama dengan harga yang berbeda di tempat penjualan yang berbeda. Kemasan dengan nama toko atau mall tidak menentukan isi, karenanya yang penting dalah fungsi bukan gengsi. Dengan penghematan seperti itu kita bisa menolong orang lain yang sangat membutuhkan uluran tangan. (Catatan: membeli barang curian, meskipun harganya lebih murah, itu dosa).

(6) Membawa keteduhan bagi yang lain. Mari kita ambil soal pakaian. Ada orang yang terlalu menekankan ‘kebebasan’ dan ‘hak asasi’ untuk memutuskan memakai jenis dan model pakaian. Mungkin ada benarnya. Tetapi ‘yang benar’ juga perlu dipadukan dengan ‘yang baik’. Janganlah kiranya cara berpakaian kita menjadi batu sandungan bagi yang lain. Saya terkadang bingung, atau justru beberapa perempuan yang bingung tidak bisa membedakan mana pakaian renang dan mana pakaian kerja atau ke gereja. Terus terang, saya tidak menemukan model pakaian yang pas menurut Alkitab, tetapi Alkitab berbicara tentang kehidupan orang Kristen sebagai garam dan terang dunia, bukan sebaliknya digarami dan dipengaruhi oleh TV. Contoh lain: Umumnya kota-kota di manapun sudah bising dan terpolusi. Sedihnya, banyak orang yang mengganti knalpot sepeda motor atau mobilnya dengan suara yang sangat memekakkan telinga. Mungkin itu juga dianggap hak asasi. Tetapi mohon diingat juga bahwa adalah hak asasi orang yang lain untuk merasa nyaman dan teduh. Ketika mau memutuskan mengganti knalpot, sertakanlah suara dan harapan masyarakat luas. Lagi-lagi, jangan sampai keputusan kita menjadikan keputusasaan bagi yang lain.

(7) Menolong kita untuk tetap damai dan mewujudkan tugas panggilan kita: tidak menimbulkan kekuatiran dan ketakutan; tidak membuat kita terhalang melakukan pelayanan hanya karena terlalu terpikat dan terikat dengan apa yang kita miliki. Kualitas perjumpaan dengan sesama perlu tetap terpelihara.

(8) Hindari mentalitas just in case. Ada orang yang suka menumpuk barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kemudian, ia mengeluarkan biaya lagi untuk memperbesar lemari atau gudang. Bisa saja ia makin putus asa untuk merawat barang-barangnya. Ini saatnya mencek barang-barang di rumah kita. Jika tidak terlalu kita butuhkan, berbahagialah kita yang dengan rela hati memberikannya kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Biarkan diri kita dan orang lain bebas. Kita bebas dari beban yang tidak perlu menyimpan dan merawat barang yang kita tidak butuhkan; orang lain bebas dari beban karena mereka dapat memiliki barang yang mereka butuhkan.

(9) Jangan kita biarkan hati kita rusak kalau barang yang kita beli rusak. Ada bahaya yang harus diwaspadai jika kita terlalu mencintai sesuatu barang, khususnya ketika ia rusak. Kita bisa saja tergoda untuk mengutuki penjual, mengutuki produser, mengutuki orang yang tidak sengaja membuatnya rusak. Kita menjadi kehilangan semuanya: barang kita dan kedamaian hati sekaligus. Dalam keadaan seperti itu ada orang yang mengambil keputusan baru untuk membeli yang baru, yang dianggap lebih baik dan lebih mahal. Kekuatiran akan kemungkinan rusaknya barang itu semakin kuat pula. Jadinya, hidup senantiasa diambang keputusasaan. Sebelum memutuskan untuk membeli, pikirkan bahwa apa yang kita beli mungkin saja rusak atau mungkin saja tidak seperti kehebatan saat dipromosikan.

(10) Bersahabat dengan alam ciptaan dan milik Tuhan. Kita sudah memasuki keadaan lingkungan hidup yang amat kritis, yang salah satu penyebabnya adalah gaya hidup sebagian orang yang hyper-consumerism. Setiap produk yang kita beli itu ditanggung oleh bumi ini. Memustuskan membeli tissue atau sapu tangan? Membeli tissue memang praktis tetapi bisa saja itu sebagai tindakan sadis. Sebab, kertas tissue akan menghabiskan lebih banyak pohon dan menambah jumlah limbah dan sampah. Sedapat mungkin kita menggunakan sedikit kertas tissue dan lebih sering menggunakan sapu tangan dan lap tangan kain.

Saya yakin masih banyak hal yang dapat kita katakan dalam hal ini (silahkan mencantumkannya dalam comment).

Yang sangat inti dalam pengambilan keputusan apa pun termasuk dalam hal ‘membeli’ adalah hati nurani yang terlatih –yang mampu mengenali mana kehendak Allah dan mana keinginan ego yang amat rewel itu. Karenanya, kita perlu selalu bertanya “ke dalam” –yaitu hati nurani yang didiami oleh Roh Tuhan. Hidup ini sebenarnya sederhana dan penuh kegembiraan. Ia menjadi sarat dengan ketegangan bahkan menuju keputusasaan karena dikendalikan oleh keinginan dangkal.

Wednesday, August 1, 2007

MOTIVASI

Tanpa kasih, semua pekerjaan tidak bernilai; tetapi sekecil apapun yang dilakukan atas dasar kasih, ia akan berbuah lebat. Sebab, Allah lebih memperhatikan besarnya kasih yang mendorong seseorang ketimbang apa yang ia capai.
(Thomas a Kempis)


Romo Mulyono mencatat perbedaan motivasi dalam sebuah tindakan yang sama sebagai berikut:

Sama-sama menolong,
Satu menolong karena belas kasih,
Yang lain menolong karena pamrih.

Sama-sama memuji,
Satu memuji untuk meneguhkan,
Yang lain memuji untuk menjilat.

Sama-sama datang,
Satu datang untuk mendengarkan,
Yang lain datang untuk mengkritik.

Apa yang didaftar oleh Romo Mulyono masih dapat kita lanjutkan, misalnya:

Sama-sama rajin,
Satu rajin untuk mewujudkan panggilan dengan iklas
Yang lain rajin sebagai senjata marah dan bersungut-sungut

Sama-sama bersungguh-sungguh belajar,
Satu belajar untuk melayani,
Yang lain belajar untuk mengalahkan dan menguasai.

Sama-sama merendah,
Satu merendah dari lembah atau tempat rendah,
Yang lain merendah dari puncak gunung.

Sama-sama berhasil membangun,
Satu berhasil membangun dengan menunjuk ke atas,
Yang lain berhasil membangun dengan menunjuk ke dada sendiri.

Sama-sama berlomba,
Satu berlomba untuk kegembiraan,
Yang lain berlomba untuk piala dan sertifikat.

Sama-sama ‘melukai’,
Satu melukai untuk menyembuhkan,
Yang lain melukai untuk menyakiti. Titik.

Sama-sama datang beribadah,
Satu datang dengan kerinduan dan sukacita,
Yang lain datang karena kewajiban dan rasa takut.

Sama-sama memberi persembahan,
Satu memberi persembahan karena mengakui berkat Tuhan
Yang lain memberi persembahan supaya menerima berkat lebih banyak.

Sama-sama mengajak melayani,
Satu mengajak melayani untuk mewujudkan tugas panggilan bersama,
Yang lain mengajak melayani untuk memanfaatkan.

Daftar ini mungkin masih dapat lebih panjang lagi (mohon daftarkan dalam comment di bawah), jika kita perhadapkan dengan kehidupan keluarga, perkumpulan, lingkungan kerja, gereja dan lain-lain. Kualitas sikap dan tindakan maanusia teranyam ketat dengan ‘motivasi’.

Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan sikap dan tindakan yang berasal dari kedalaman diri kita. Ia adalah suara Tuhan yang terkadang begitu lembut yang hanya bisa didengar ketika kita bersedia menenteramkan pikiran dan hati kita. Sayangnya, suara lembut itu terkadang dihalau oleh ego manusia yang sarat dengan pementingan dan kesenangan diri, ambisi, hasrat untuk populer, semangat bersaing dan mengalahkan dan sebagainya.

Marilah kita kembangkan tiga dari contoh di atas.

(1) Andaikan ada satu perlombaan menyanyi dimana anak kita ikut di dalamnya, siapa yang Anda inginkan untuk menang? Nampaknya masuk akal jika kita ingin anak kita yang menang. Masalahnya, jika anak kita menang, kita senang; jika anak kita tidak menang kita mengerang dan tidak senang. Tetapi ketika kita berhasil melampaui ego kita dan motivasi berlomba jernih, kita akan menghendaki yang paling baik menjadi pemenang. Kita akan lihat betapa bahagianya kita dengan motivasi yang jernih. Sebab, kita akan merasa senang ketika yang terbaik, yang paling pantas, menang –apakah dia kita kenal atau tidak. Oh, alangkah indahnya dunia ini dan kehidupan ini dengan motivasi jernih.

(2) Andaikan ada orang yang tidak pernah terlambat datang beribadah ke gereja. Bagus, tentu. Ia punya kesempatan berdoa sambil menunggu yang lain. Tetapi jika kedisiplinannya itu digunakan sebagai senjata untuk memarahi orang yang terlambat, maka kualitas ‘kedisiplinannya’ amat rapuh. (tetapi, mohonlah hal ini jangan disalahgunakan membenarkan diri untuk terus terlambat datang ke gereja, terutama kalau sedang bertugas melayani).

(3) Kembali ke contoh dari Romo Mulyono: “Sama-sama memuji, satu memuji untuk meneguhkan, yang lain memuji untuk menjilat.” Tidak sedikit orang yang terjatuh dalam soal ini. Ada orang yang suka memuji orang lain yang sebenarnya digerakkan oleh keinginan untuk dipuji atau untuk mendapatkan sesuatu. (Memang ada juga orang yang tidak mau dengan iklas mengakui keberhasilan dan kebaikan orang karena dipenuhi oleh kecemburuan). Sesungguhnya, Tuhanlah yang layak dipuji. Tetapi dengan mengakui kebaikan sesama kita sekaligus mengakui kebaikan Tuhan dan meneguhkan sesama untuk tetap melakukan yang terbaik.

Sebenarnya tidak sulit mengetahui motivasi kita untuk bersikap, untuk mengatakan dan tidak mengatakan sesuatu, serta untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Kita perlu menjawab pertanyaan, “mengapa” kita bersikap, berkata dan bertindak. Biasanya kita dapat mengetahui apakah itu motivasi yang jernih dan mengalir dari kedalaman hati –hati yang didiami oleh Roh Kudus (1 Korintus 6:19), atau dorongan ego kita yang sarat dengan pementingan diri.

Jika dasar sikap, perkataan dan tindakan kita adalah niat baik dan dilakukan dengan baik pula, selebihnya adalah pekerjaan Tuhan memberi buahnya. Salah satu contoh yang berhubungan dengan motivasi menolong orang adalah bertolak dari apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Inilah yang melayani Tuhan melalui pelayanan terhadap sesama atas dasar kasih dan dengan prinsip, Soli Deo Glori (Kemuliaan hanya bagi Allah).

Salah satu penyebab ketidakmurnian motivasi adalah perasaan insecure. Perasaan ini membuat kita melebihkan diri dan melebihkan apa yang kita buat. Kita tergoda mendaftarkan jasa-jasa dan kebaikan-kebaikan kita. Tidak cukup sampai disitu, malahan kelemahan orang lain pun menjadi ‘kebutuhan’ kita, karena kelemahan orang lain seolah membuat kita lebih baik. Padahal, untuk menjadi menang tidak harus dengan mengalahkan.
========================================================

MEDITASI (UNTUK PEMURNIAN MOTIVASI)

Meditasi 20-30 menit…. Pagi dan malam hari.

Dalam meditasi kita tidak berpikir tentang Allah atau berkata-kata kepada Allah. Kita bersama-sama dengan Allah. Duduklah dengan posisi tegak dan tenang. Tutup mata secara perlahan. Dalam suasana keheningan itu, dari kedalaman hati, katakanlah sebuah ‘kata doa’. Kami menganjurkan ‘kata doa’ Imanuel (Allah menyertai kita). Ulangilah kata doa itu terus menerus. Dengarkan kata doa itu ketika Anda mengatakannya dengan lembut dalam hati. Jangan memikirkan atau membayangkan apapun, baik yanag sifatnya spiritual atau jasmani. Memang, berbagai macam pikiran dan bayangan akan muncul silih berganti. Biarkan semuanya itu pergi. Kembali saja ke ‘kata doa’. Akhirilah meditasi dengan berdoa “Doa Bapa Kami’ dengan penuh penghayatan dan dalam kasih. (sebagaimana diajarkan oleh John Main)


Imanuel, Allah menyertai kita.
Victor Tinambunan

Monday, July 23, 2007

SPIRITUAL CHECK UP


Hidup yang tidak disadari
Tidak layak dijalani.

Healthy growth needs strong root.

Medical check-up itu biasa dilakukan orang. Mengapa? Karena ia dibutuhkan untuk mengetahui kondisi kesehatan. Dengan melakukan medical check-up kita dapat menerima pengobatan yang tepat, melakukan pencegahan melalui penataan makanan yang sesuai, melakukan exercise yang tepat, menghindari pantangan tertentu dan sebagainya. Dokter yang bijaksana biasanya menyarankan setiap orang untuk secara rutin melakukan medical check-up seiring dengan pertambahan usia. Jadi, biarlah dokter kesehatan yang memberi penjelasan lengkap soal ini.

Bagaimana dengan spiritual check-up? Barangkali amat jarang dilakukan orang. Mungkin masalahanya karena tidak ada “laboratorium” dan “dokter umum” apalagi “dokter spesialis” untuk ini. Tapi, meski tidak ada laboratorium dan praktek dokter berizin seperti layaknya untuk medical check-up, ada Dokter Agung yang menolong kita melakukannya. Kita tidak perlu terlebih dahulu membuat appointment dan gratis pula.

Sebenarnya, spiritual check-up sudah lama dipraktekkan. Kesediaan Pemazmur mengatakan kepada Tuhan, “ujilah aku” merupakan kesediaan melakukan spiritual check-up. Hal yang sama juga dilakukan oleh mereka yang sungguh-sungguh menyerahkan hidup dan kehidupannya kepada Tuhan seperti dapat kita temukan di dalam sejarah perjalanan gereja dan orang kudus.

Tuhan yang disapa oleh Pemazmur adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita hingga detik ini, yang kiranya kita juga terbuka di hadapan Tuhan agar Ia memperkenalkan diri kita kepada diri kita sendiri, sebab Dia mengenal kita jauh lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Lebih dari itu, Tuhan menganugerahkan kepada kita kemampuan menjalani kehidupan dengan hidup spiritual yang sehat.

Di antara sekian banyak item yang dapat diperiksa dalam “darah spiritual” orang Kristen, berikut ini dapat disebut empat hal:

1. KEMAMPUAN “MENGUJI ROH”

Firman Tuhan mengatakan: “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah: sebab banyak nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yohanes 4 : 1)

Kita sedang hidup pada era yang hiruk pikuk dengan aneka ragam roh. Semuanya hadir dengan penampilannya yang semenarik mungkin dan berusaha memikat dan mengikat hati kita.

Menguji roh memang bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana. Tidak ada alat detector atau komputer penguji, yang begitu keyboard-nya ditekan, segera dapat muncul di layar monitor mana yang dari Tuhan dan mana yang dari Iblis. Seacrh engine google pun tidak bisa menolong dalam hal ini. Kita seringkali berada pada posisi sulit membedakan yang ‘tampaknya baik’ dengan yang ‘sungguh-sungguh baik’.

Sesuai dengan 1 Yohanes 4:1, roh yang dimaksud merupakan sesuatu yang buruk, yang mesti kita lawan dengan kesungguhan dan keteguhan iman. Ini adalah roh yang jahat, yang palsu, yang tidak berasal dari Allah.

Kemampuan menguji roh-roh zaman harus bertolak dan bersumber dari Allah sendiri. Kriterianya juga harus Allah sendiri. Tetapi, sedikitnya dapat kita katakana bahwa criteria utamanya adalah untuk kemuliaan Allah dan damai sejahatera di bumi. Beberapa contoh dan penjelasan lebih rinci silahkan melihat artikel “Menguji Roh-roh Zaman” dalam blogspot ini.

2. BUAH-BUAH ROH

Ini tidak membutuhkan banyak penjelasan. Spiritualitas Kristen yang sehat Nampak dengan adanya dalam diri seseorang buah-buah Roh sebagaimana disebutkan dalam Galatia 5:22-23, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Saya percaya, semuanya ini mesti diberlakukan terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri.

Spiritual check-up:
Apakah saya melihat pekerjaan Tuhan melalui pekerjaan baik sesama? Jika hasil check-up “ya”, ia salah satu indikasi spiritualitas yang sehat. Kita selalu lebih banyak melihat dan memikirkan kebaikan orang lain. Kita dapat memebenci sikap dan tindakan buruk seseorang tetapi tetap mengasihi orangnya.

Spiritual check-up:
Apakah saya mengakui karya Tuhan dalam hidup saya, dan karenanya saya sabar dan lemah lembut terhadap diri saya? Hasil check-up ‘ya’? Ini juga tanda-tanda hidup kerohanian yang sehat. Untuk memeliharanya, mari kita berdoa bersama Padovano:

Ya Tuhan,
Jadikanlah hati kami lemah lembut
supaya kami dapat menjadi kuat
[1]

3. DOA

Tidak diragukan bahwa doa amat penting dalam kehidupan orang Kristen. Orang-orang Kristen perlu memelihara kehidupan doa. Namun, perlu ditegaskan bahwa orang-orang Kristen tidak diharapkan memandang doa dengan bersungguh-sungguh melebihi memandang Allah dengan bersungguh-sungguh. Jika kita mengasihi Allah, kita belajar cara berdoa…. Jika hubungan kita benar, biasanya kita mengetahui apa yang akan atau perlu dikatakan dalam hubungan itu.[2]

Doa bukan sarana memberi informasi kepada Allah dan untuk mengubah pendirian-Nya. Jika terkadang kita tidak merasa enak kalau “Tuhan tidak mengetahui masalah ini dari saya”, ini adalah indikasi kehidupan spiritual yang kurang sehat. Allah mengetahui dan Allah lebih peduli dari kita. Kita berdoa dari kedalaman hati kita: Jadilah kehendak-Mu. Sebab, “permohonan” adalah sebagian kecil dari doa. Doa tidak dimaksudkan untuk mengingatkan Allah akan apa yang perlu Ia lakukan, malahan lebih mengingatkan kita akan pentingnya penyerahan diri kita kepada-Nya dan mengingatkan akan apa yang seharusnya kita lakukan dan tidak perlu lakukan. Pemazmur malah menganggap “doa” sebagai persembahan (Mzm 141:2).

Thomas Merton memberitahu kita bahwa pusat perhatian yang sempit menjadikan kita berlaku terhadap diri kita dengan kekerasan; pengaturan yang ketat-kaku atas keberadaan kita merusakkan spontanitas dan kegembiraan. Semuanya ini mempengaruhi doa kita. Bila diri kita terkurung atau terkungkung, kita menghukum diri kita dan juga orang lain. Kita mungkin banyak berdoa, tetapi karena bukan doa yang sungguh-sungguh doa, kita tampak pahit, marah, menghakimi, kejam.[3] Orang yang memandang Allah dengan sungguh-sungguh, tidak akan pernah menghakimi orang yang tidak ‘berdisiplin’ berdoa.

Thomas Merton juga memperingatkan bahwa doa tidak boleh digunakan untuk menguasai orang-orang lain dan mengendalikan mereka.[4] Kadang-kadang doa menjadi sesuatu yang bersifat takhayul dan mengelak dari tangung jawab manusiawi. Doa dapat digunakan untuk terus menindas orang-orang yang tertindas dan untuk membenarkan orang-orang yang mendapat hak istimewa dan memperkuat kedudukan para tiran dan inkuisitor. Akan tetapi, ini bukan doa, hanya topeng yang dikenakan oleh para pengeruk dan pemeras apabila maksud tujuan mereka tidak dapat tahan terhadap terang “matahari”[5] Kebenaran.

Dengan demikian disiplin yang benar sedikitnya mencirikan:

- Tidak tergerak oleh kewajiban –ini rawan pada sungut-sungut. Doa merupakan sebuah panggilan dan kerinduan.
- Tidak digerakkan oleh pemenuhan keinginan –janganlah kita memperalat Allah. Di dalam doa kita memohon agar Tuhan menunjukkan apa yang Ia inginkana dari kita.
- Tidak digerakkan oleh rasa takut akan hukuman Tuhan –kita akan kehilangan sukacita, tetapi akan dipenuhi ketegangan yang tidak perlu. Doa merupakan pengakuan dan ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan.
- Tidak digerakkan rasa takut dicela orang bahwa kita tidak pendoa yang sungguh-sungguh. Pikiran orang lain perlu, tetapi hidup kita biar Tuhan yang mengendalikan, bukan orang lain. Tuhan tidak terutama ‘menghitung’ berapa kali kita berdoa, tetapi apakah doa kita benar.

Kata discipline memiliki akar kata yang sama dengan disciple (murid). Disiplin seorang murid Tuhan mengalir dari hubungan yang baik dengan Tuhan –dan hubungan baik itu dimulai dari pihak Tuhan sendiri. Karenanya, di sini ada kerelaan yang benar-benar mengandung sukacita bukan ketat-kaku yang bisa saja dengan gampang terjatuh kepada mentalitas Farisi, yang suka pamer kesalehan sambil menganggap diri yang paling benar.

Di samping itu doa tidak terutama berorientasi “hasil” –menurut target kita yang harus Tuhan penuhi. Doa Bapa Kami adalah contoh yang amat baik dalam hal ini. Ia merupakan pengakauan akan kedaulatan Allah, merupakan sikap, gaya hidup dan tanggung jawab orang Kristen, merupakan penyerahan diri secara total pada penyelenggaraan Allah.

4. KEBAJIKAN

Kebajikan –kualitas pikiran dan perbuatan baik yang sesuai dengan kehendak Tuhan—tidak dapat dipisahkan dari kehidupan doa.

Jesus did not say, “When you pray, say these words.” He said, “When you pray, this is how you do it!” or, “Pray this way –have these attitudes in your mind and heart when you become aware of your relationship with God, your Father.”[6]

Doa mencakup cara hidup, memadukan kata dan perbuatan. Kehidupan spiritual yang sehat adalah melakukan yang terbaik dalam hidup ini terhadap sesama dan terhadap ciptaan Allah. Sekali lagi, semuanya itu dilakukan atas dasar ‘sukacita sorgawi’, tidak karena terpaksa atau dipaksa, tidak demi kemuliaan diri melainkan hanya untuk kemuliaan Allah.

Jika hasil test spiritual check-up kita menunjukkan beberapa yang “positif” (mengidap sesuatu penyakit), atas nama penerimaan diri, mensyukuri keberadaan diri, kesabaran dan kelemahlembutan kepada diri sendiri, Sang Dokter Agung, yaitu Tuhan kita dengan lembut menunggu penyerahan diri kita untuk dijamah dan disembuhkan.

Salam sejahtera, dalam rahmat Tuhan.
Victor Tinambunan

[1] Anthony T. Padovano, Thomas Merton: Menjadi Diri Sendiri (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p. 84.
[2] Ibid, 114.
[3] Ibid, 85
[4] Ibid
[5] Ibid, 77
[6] Isaias Powers, Quiet Places With Jesus: 40 Guided Imagery Meditations for Personal Prayer, (Mystic, Connecticut: Twenty-Third Publications, 1987), 22.

Tuesday, July 10, 2007

MENGUJI ROH-ROH ZAMAN

(Tulisan ini dimuat dalam buku Victor Tinambunan, Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat)

“Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah: sebab banyak nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”
(1 Yohanes 4 : 1)

Kita sedang hidup pada era yang hiruk pikuk dengan aneka ragam roh. Semuanya hadir dengan penampilannya yang semenarik mungkin dan berusaha memikat dan mengikat hati kita.

Menguji roh memang bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana. Tidak ada alat detector atau komputer penguji, yang begitu keyboard-nya ditekan, segera dapat muncul di layar monitor mana yang dari Tuhan dan mana yang dari Iblis. Kita seringkali berada pada posisi sulit membedakan yang ‘tampaknya baik’ dengan yang ‘sungguh-sungguh baik’.

Sesuai dengan 1 Yohanes 4:1, roh yang dimaksud merupakan sesuatu yang buruk, yang mesti kita lawan dengan kesungguhan dan keteguhan iman. Ini adalah roh yang jahat, yang palsu, yang tidak berasal dari Allah.

Kemampuan menguji roh-roh zaman harus bertolak dan bersumber dari Allah sendiri. Kriterianya juga harus Allah sendiri. Berikut ini dapat disebut beberapa contoh untuk menjelaskannya.

1. Kita percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Esa (Yesaya 46 : 9). Ia adalah Bapa dari semua, pencipta segala sesuatu yang baik. Ini berarti bahwa setiap orang yang mengangkat diri dan bertindak seperti “allah” kecil bagi sesamanya, bukan berasal dari Allah. Tindakan yang memecah-belah persekutuan dan persaudaraan umat manusia, sebagai ciptaan dari satu Pencipta, bukan dari Allah. Setiap orang yang merampas kehormatan dan kemuliaan untuk dirinya sendiri (yang seharusnya milik Allah, bukan dari Allah (bnd. Mzm. 115:1; Luk. 2:14).
2. Allah yang kita percayai dan sembah adalah Allah yang Tritunggal. Allah yang Tritunggal itu adalah Allah yang memperkenalkan diri sebagai Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, sebagai Allah Anak yang menebus dan menyelamatkan segala sesuatu, dan sebagai Allah Roh Kudus yang membebaskan dan sekaligus mengarahkan segala sesuatu kepada Allah. Roh Kudus yang menyatakan bahwa kita berdosa, sekaligus menyatakan bahwa pengampunan dosa terbuka. Hal ini mau menegaskan bahwa segala sesuatu yang memperilah atau merusak alam ciptaan Allah, segala sesuatu yang membelenggu kebebasan manusia atau mengarahkan kebebasan itu kepada yang lain kecuali Allah, setiap tindakan yang memperlakukan manusia hanya sekedar “mesin produksi” dalam lingkungan kerja dan pertumbuhan ekonomi belaka adalah roh yang tidak berasal dari Allah.
3. Kita percaya kepada Yesus Kristus, yang walaupun setara dengan Allah, telah “mengosongkan diriNya menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2 : 1 – 11)

Dalam hal ini, roh yang mempertuhankan manusia dan karyanya, roh yang demi keuntungan dan keselamatan diri sendiri mengorbankan sesamanya, roh yang menghancurkan kesetiakawanan manusia, roh yang mengagung-agungkan kenikmatan, kesenangan hidup serta kedudukan, tidak berasal dari Allah.

4. Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Itu berarti bahwa ketika orang-orang sibuk mencari kursi dan posisi sebagai tempat yang aman untuk korupsi, kolusi dan bahkan menghabisi nyawa orang tak bersalah dan bukan melayani – pasti, ya pasti, tidak berasal dari Allah.

5. Kita percaya bahwa Roh Kudus bekerja hingga saat ini di dunia ini bahkan di luar Gereja sekalipun. Roh Kudus menganugerahkan kekuatan dan penghiburan. Itu berarti bahwa setiap orang yang memperlemah sesamanya, menghambat sesamanya untuk bertumbuh, mengakibatkan duka bagi sesamanya, bukan berasal dari Roh Tuhan.

6. Kita percaya bahwa Allah menghendaki keadilan melebihi ibadah, koor dan persembahan (Amos 5 : 21-24). Karena itu, ketika seseorang rajin beribadah, mampu mengumandangkan koor yang memukau, serta rela menyetor sejumlah uang ke Gereja, tetapi sama rajinnya melakukan ketidakadilan dan pemerkosaan hak azasi manusia; ketika seseorang begitu aktif dalam persekutuan kristiani tetapi tidak kalah aktifnya melakukan korupsi, berjudi dan tindakan penipuan lainnya, bukan dari Allah.

Ini hanya menyebut beberapa contoh saja. Kita boleh mengembangkannya dan menguji roh-roh zaman yang dominan di dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan di dalam praktek-praktek kehidupan beragama dan bergereja. Yang terakhir ini (dalam kehidupan bergereja) justru sangat perlu mengingat tugasnya untuk menguji roh di luar gereja harus pertama-tama menguji roh dalam dirinya sendiri.

Janganlah kita berambisi untuk membenahi dan menobatkan dunia ini, sementara kita sendiri belum bertobat dan di dalam tubuh kita sendiri masih begitu banyak borok-borok dengan aroma yang sangat menyengat! Justru ini yang memicu dan memacu sikap permusuhan dari sesama kita umat beragama lain terhadap orang-orang Kristen. Ini yang menghambat kesaksian Gereja dan mewujudkan keberadaannya sebagai garam dan terang dunia.

Sejarah memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa seringkali orang-orang menyebut-nyebut nama Yesus dan dengan fasih mengutip ayat-ayat Alkitab, tetapi hatinya sangat jauh dari Tuhan. Peringatan kepada kita adalah, jangan percaya begitu saja kepada seseorang yang menyebut nama Yesus, atau mengutip ayat-ayat Alkitab yang mungkin saja amat fasih, atau mengajak berdoa, bahwa ia pasti datang dari Allah. Alkitab sudah memperingatkan bahwa ada banyak “nabi palsu”, lagaknya dan bahasanya persis nabi, tetapi palsu.

Yang sulitnya, nabi palsu biasanya jauh lebih menarik dan jauh lebih populer daripada yang asli. Nabi Hanaya yang palsu, jauh lebih berhasil memikat massa ketimbang Nabi Yeremia yang asli (baca Yeremia 27-28).

Apa sebabnya? Nabi palsu lebih ahli meramu yang cocok dengan selera banyak orang. Mereka dapat mengatakan apa yang enak di telinga dan yang klop di hati. Tentang inipun Alkitab telah bersaksi: “…Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran, dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4: 3-4). Karena itu, janganlah kita gampang saja percaya hanya karena seseorang itu amat populer, berhasil memikat dan mengikat banyak penganut, serta kata-katanya enak di telinga dan cocok dengan selera. Menyebarnya Gereja Setan[2] adalah salah satu contoh dalam hal ini.

Gereja Setan berciri materialistis, hedonistis dan merendahkan seks sebagai sesuatu yang dikaruniakan Allah bagi manusia menjadi sekadar permainan dan pemuasan seksual belaka. Hal itu juga merupakan ciri masyarakat modern yang sekular. Masyarakat modern yang sekular dicirikan oleh sikap dan gaya hidup individualisme (dalam kekristenan hal ini sangat bertentangan dengan prinsip “koinonia” = persekutuan), konsumerisme (gaya hidup yang tidak pernah merasa cukup: lebih banyak pakaian, lebih banyak sepatu, lebih banyak melahap makanan dan sebagainya), dan materialisme (yang menempatkan pemilikan “materi” di atas segala-galanya).

Sikap dan gaya hidup demikian telah begitu dalamnya merasuk dan merusak kehidupan banyak orang dewasa ini. Untuk mencapai semua ini tidak sedikit orang yang memiliki ketegaan ekstra melahap masa kini dan masa depan sesamanya.

Tugas kita tidak ringan. Paulus berpesan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (Efesus 4 : 11). Namun yang harus kita sadari adalah, ketika kita mengatakan bahwa kita harus menguji roh-roh zaman itu tidak hanya berada di luar kita. Roh-roh itu juga berada di dalam diri kita, meresapi dan merasuki kehidupan kita.

Dalam konteks ini kita perlu dengan rendah hati mengaku keadaan serba keterbatasan kita, serta menuntut pertobatan kita. Menguji roh-roh zaman juga mencakupi kemauan dan kemampuan kita untuk menguji diri kita sendiri, mengalami sakitnya menyingkapkan roh-roh dan kekuatan-kekuatan yang menghancurkan dan mendukakan hati Tuhan yang ternyata ikut menguasai diri kita.

Menguji roh-roh zaman memang mengandung tantangan tersendiri, apalagi kalau yang kita uji adalah diri kita. Sebab, dalam upaya ini kita bisa saja kehilangan sesuatu. Kehilangan “selera”, misalnya. Tetapi, lebih bermakna kita mengorbankan sesuatu supaya tidak kehilangan segala sesuatu yaitu: Tuhan kita.

[1] Pernah dimuat dalam Majalah Immanuel, HKBP. Penulis sangat berhutang pada Pdt. Eka Darmaputera dalam kehadiran tulisan ini.
[2] Gereja Setan didirikan tahun 1896 di San Francisco oleh Anton Szandos La Vey. Gereja Setan dengan pengikut yang makin bertambah di Amerika dengan hadirnya berbagai nama, antara lain: The Brotherhood, The Sister of Light, dan sebagainya.

ShoutMix chat widget